Permainan Terlarang
.
.
.
.
Vocaloid bukan milik saya, tetapi milik Yamaha Corporation etc.. Tapi cerita ini adalah milik saya sepenuhnya.
.
.
.
.
Chapter 4
.
.
.
.
Gumi sedang sarapan sambil menonton berita di televisi. Sebelum berangkat sekolah, itulah kebiasaanya.
"Gumi, cepat! Nanti kamu terlambat!" seru ibunya dari dapur.
"Nanti dulu ma … pas iklan, baru Gumi berangkat!" balas Gumi, sambil menyuap sarapannya—roti selai wortel.
"Kembali lagi di berita pagi. Dikabarkan dari daerah xxx …"
"Wah! Ma, itu daerah di dekat pemakaman Rin, Miku, dan Kaito!" kata Gumi. Namun ibunya tak mempedulikannya dan terus melanjutkan aktivitasnya—mencuci piring bekas makan malam kemarin.
" … bahwa kemarin ada seorang psikopat yang sedang buron beraksi kembali. Aksinya dilakukan di sebuah gedung dimana sebuah kantor sedang mengadakan sebuah pesta di sana. Psikopat itu tidak sengaja menemukan gedung itu dan masuk ke sana, kemudian membunuh beberapa orang di sana ..."
Gumi menelan ludah. Pagi-pagi begini kok beritanya serem?
" … setelah diselidiki, bahwa korban yang tewas dibunuh adalah dua orang kantoran yang mengikuti pesta tersebut, yang bernama xxx dan xxxx, kemudian korban yang terakhir adalah seorang anak umur 15-16 yang bersekolah di Crypton High School ..."
Gumi menelan ludah lagi. Itu sekolahnya! Ya ampun! Dan Gumi mulai merasa tidak enak.
" … yang bernama Len Kagamine."
.
.
.
.
Gumi berlari menuju sekolahnya. Entah kenapa air matanya terus jatuh. Bagaimana tidak jatuh? Orang yang ehm—disukai Gumi—dikabarkan tewas dibunuh oleh seorang psikopat. Bagaimana tidak sedih, coba?
Gumi terengah-engah. Dia telah sampai di gerbang sekolahnya. Dia pun ingin berlari lagi, namun tiba-tiba ada yang menepuk bahunya.
"Oi,"
"Akh! Luka?"
Oh, ternyata Luka.
"Kamu kenapa? Kayak habis dikejar setan aja." Kata Gakupo, tiba-tiba muncul di balik Luka.
"A—anoo … Len, Len … Len mati! Dibunuh!" kata Gumi sambil memegang pundak Luka. Luka kaget.
"Jangan bercanda, Gumi! Len tak mungkin mati!" kata Luka.
"Aku gak bercanda, Luka! Aku lihat beritanya tadi! Bahwa ada psikopat yang buron yang telah menghabisi tiga nyawa, termasuk Len!" kata Gumi.
"Ukh, aku tak percaya." Kata Luka, sambil berlalu meninggalkan Gumi. Gakupo ikutan juga.
"Tapi, Luka—"
"Baiklah Gumi. Ayo kita ke kelas Len, yaitu kelas X-A!"
.
.
.
.
"Hah? Len mati?" kata seorang teman Len yang bernama Piko, ketika Gumi, Luka, dan Gakupo datang ke kelas mereka untuk menanyakan apakah Len mati atau tidak.
"Iya, aku lihat beritanya di tv!" kata Gumi.
"Aku tak percaya. Kau pasti bohong!" Kata Piko.
"Aku tidak berbohong!"kata Gumi.
"Haaa! Kau pasti bohong supaya kami panik!" seletuk teman Len yang lainnya, Miki.
"Iya! Mentang-mentang kami adik kelas, kau seenaknya aja membohongi kami!" kata salah seorang yang bernama Neru.
"A-aku tidak bohong!" kata Gumi, hampir menyerah untuk meyakinkan teman-teman Len.
"Weeek! Memangnya semudah itu membohongi adik kelas?" kata Piko melet-melet ke Gumi.
"Heh! Kami kan cuma nyanya! Apa kabar itu benar atau tidak! Lagipula Len kan belum datang, jadi—" kata Gakupo membela Gumi.
BRAK!
Tiba-tiba ketua kelas Len, Yohio, masuk ke kelas dan tanpa sengaja menubruk pintu. Dia tampak tergesa-gesa.
"Hah … hah … baru saja aku mendapat kabar duka …" kata IO, yang merupakan ketua kelas Len.
Piko dan yang lainnya, serta Gumi, Gakupo dan Luka segera menoleh ke arah IO.
" … Len Kagamine … meninggal dunia!"
Piko dan yang lainnya cuma terdiam. Dan ada yang mulai menangis mendengarnya.
"Len … mati?" kata Piko, yang notabene-nya adalah sahabat Len. "Maafkan aku, Gumi-san! Ternyata kau benar!"
"Tak apa … Utatane …, tak apa …" kata Gumi sambil terisak.
Mengapa Len harus mati? Mengapa? Mengapa Len harus meninggalkan orang yang menyukainya? Mengapa—
—dan tiba-tiba Gumi teringat akan permainan terlarang itu kembali.
.
.
.
.
Beberapa hari setelah kematian Len. Semua orang telah melupakan kematiannya—lebih tepatnya mencoba melupakan kematian Len, termasuk Gumi. Tapi apa daya, Gumi terus teringat akan Len dan akibatnya dia susah tidur akhir-akhir ini. Biasanya dia tidur sekitar jam 9, namun akhir-akhir ini dia baru bisa tertidur sekitar jam 12. Itu benar-benar hal yang menyebalkan bagi Gumi. Dan dia pun memutuskan untuk membeli obat tidur di sebuah toko obat dan bahan kimia sore ini.
Dia pergi ke toko itu berjalan kaki saja, karena jaraknya cukup dekat dengan rumahnya.
"Cari apa, dik?" kata seorang pegawai toko itu.
"Ehm … obat tidur … karena akhir-akhir ini saya sulit tidur," kata Gumi.
"Baik, akan saya carikan dulu." Kata pegawai itu sambil berjalan menuju ke salah satu rak obat yang ada di sana.
Sementara itu, Gumi duduk di salah satu kursi yang disediakan di sana.
"Gumi?" kata seseorang.
"Eh? Luka? Hei …, kamu ngapain di sini?" kata Gumi, setelah tahu bahwa yang memanggilnya taid adalah Luka.
"Ibuku menyuruhku membeli obat tidur. Dia susah tidur. Dan obat tidurnya habis." Kata Luka.
"Wah, sama. Aku kan lagi susah tidur!" kata Gumi.
Luka hanya memakluminya. Dia sudah tahu penyebab mengapa Gumi susah tidur.
"Hei, bukankah itu Gakuko? Adiknya Gakupo?" kata Luka sambil menunjuk salah satu pembeli di toko itu yang sedang berbicara dengan salah satu pegawai yang ada di situ.
"Iya juga, ya!" kata Gumi, kemudian berjalan ke arah Gakuko, diikuti oleh Luka. "Hei, Gakuko!"
" … eh, Gumi-san, Luka-san! Kalian ngapain di sini?" kata Gakuko, menghentikan pembicaraannya dengan pegawai toko tersebut.
"Nyari obat tidur, kalo kamu?" kata Gumi. Luka mengangguk.
"Ehm, asam peroksida." Kata Gakuko pelan.
"Asam peroksida? Untuk apa? Bukankah asam itu bisa membunuh orang?" kata Gumi heran, mengapa Gakuko mencari asam peroksida yang berbahaya itu.
"Untuk pelajaran kimia besok … tapi pegawai toko ini tidak mempercayaiku, padahal aku tidak ingin membunuh orang!" kata Gakuko. Memang benar sih, kalau kelas X-B, kelas Gakuko, besok akan ada pelajaran kimia. Mungkin mereka akan mengadakan percobaan dengan asam peroksida.
"Betulkah? Kalau begitu, aku akan membelamu," bisik Luka. Gakuko pun terlihat senang,
"Arigatou, Luka-san!" kata Gakuko. Luka mengangguk.
"Maaf, anak ini betul-betul ingin membeli asam peroksida karena kelasnya akan mengadakan percobaan di lab kimia. Percobaannya sangat penting, kalau murid yang disuruh membeli salah satu bahan, maka dia akan dihukum! Jadi, tolonglah jual asam peroksida tersebut kepada anak ini," kata Luka. Gumi hanya tersenyum simpul. Luka memang jago kalau masalah beginian.
"Oh …, baik, baik. Saya carikan dulu," kata pegawai toko tersebut pasrah dan mencari asam tersebut di salah satu rak bahan-bahan kimia yang ada di sana.
"Wah! Luka-san hebat! Arigatou!" kata Gakuko.
"Hm." Kata Luka sambil mengangguk dan tersenyum tipis.
"Oh iya, Luka, obat tidur kita?" kata Gumi mengingatkan.
"Oh iya, ya!" kata Luka.
Gumi dan Luka pun mendatangi salah satu pegawai yang telah menyiapkan obat tidur yang akan mereka beli. Mereka pun membayarnya.
"Dah, Gakuko!" kata Gumi.
"Daaah!" kata Gakuko tersenyum simpul sambil melambai ke arah mereka berdua yang telah berjalan menjauh meninggalkannya.
Dia terus tersenyum—ah, bukan. Menyeringai.
.
.
.
.
Besoknya. Pagi yang damai. Luka dan Gumi sedang berbincang-bincang seperti biasanya, sambil menunggu si mood maker, Gakupo, datang. Tapi, sekarang sudah lima menit sebelum bel masuk—dan mereka tahu bahwa Gakupo selalu datang lima menit setelah gerbang sekolh dibuka.
"Ngomong-ngomong, mana si terong itu, ya?" kata Luka.
"Cieeee, Luka! Pake nyariin dia! Apa jangan-jangan kamu—"
"Ssshh!" Luka mendesis dengan semburat merah di pipinya—lagi-lagi ketsundereannya kumat. "Bukan begitu! Tapi rasanya aneh kalau Gakupo belum datang juga, padahal udah jam segini!"
"Iya juga ya. Kita tanya Gakuko, yuk!" kata Gumi sambil bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kelas diiringi Luka.
Sesampainya di depan kelas Gakuko, kelas X-B, mereka berdua langsung menemui Gakuko yang sedang duduk-duduk di depan kelas mereka bersama teman-temannya.
"Gakuko, mana Gakupo?" tanya Luka dingin.
"Eee— anuu—" kata Gakuko gugup. Gumi merasa ada yang aneh, begitu pula Luka.
"Di mana? Kenapa dia masih belum datang?" kata Luka.
"—dia masih tidur di rumah! Ke-kecapekan katanya!" kata Gakuko, kemudain nyengir kuda dan membuat Luka dan Gumi kesal dengan jawabannya yang aneh itu.
"Kok jawabanmu aneh, ya?" kata Gumi. "Jangan-jangan kau menyembunyikan seusatu?"
"Ti-tidak kok, Gumi-san! Sumpah!" kata Gakuko, terlihat kepanikan di wajahnya, membuat mereka berdua semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Gakuko.
Dan tiba-tiba Luka terpikir sesuatu. Asam peroksida yang dibeli Gakuko kemarin! Dia baru ingat kalau sekolah mereka mempunyai bahan-bahan kimia sendiri, termasuk asam peroksida, dan tak memperbolehkan muridnya untuk membeli bahan-bahan kimia—yang rata-rata berbahaya itu—sendiri tanpa ada izin khusus. Dan mengapa Gakuko membeli asam peroksida sedangkan sekolah sudah jelas-jelas tidak memperbolehkan muridnya membeli bahan kimia sendirian tanpa izin khusus?
"Oh iya. Gakuko, apa kamu membawa asam peroksida kemarin?" kata Luka dengan sengaja, siapa tahu Gakuko memakai asam itu untuk keperluan lain—yang mungkin berhubungan dengan ketidakhadiran Gakupo.
Gakuko terdiam sesaat. Teman-temannya bingung dan malh meninggalkan Gakuko karena nampaknya mereka berada dalam pembicaraan yang cukup serius bagi mereka bertiga; Luka, Gumi, an Gakuko sendiri.
"Tak bisa menjawab, ya? Apa jangan-jangan asam itu berhubungan dengan ketidakhadiran Gakupo?" kata Luka lagi, membuat Gakuko gugup.
"Anu— asam itu—"
"GAKUKO!" seru Kaiko, ketua kelas XI-B, membuat Gakuko menoleh ke asal suara.
"Eh, Kaiko …, ada ap—"
"Jangan pura-pura gak tahu, ya! Masa kamu enggak tahu kalau kakakmu meninggal! MENINGGAL!" seru Kaiko, membuat Luka jantungan. Gakupo? Meninggal?
Luka begitu syok, begitu pula Gumi. Kok cepat banget? Kenapa meninggalnya berdekatan dengan Len?
Tiba-tiba saja Gakuko tertawa lepas, bukannya menampakkan ekspresi kalau dia telah kehilangan seorang kakak.
"Ahahahahahaha! Ternyata aku berhasil! Asam itu bekerja dengan ba—ups," Gakuko sepertinya kelepasan. Dan membuat Luka menamparnya,
"KENAPA KAMU TERTAWA, PADAHAL KAKAKMU JELAS-JELAS MATI, HAH?!" seru Luka. Orang-orang pun beramai-ramai melihat kejadian menggemparkan; seorang perempuan yang jago fisika dan terkenal pendiam dan dingin telah menampar seorang adik kelas sambil berteriak kencang dengan nada emosi.
"Aku cuma kelepasan bicara kalau aku sudah membu—eeeeh! Maaf aku tidak bermaksud apa-apa—aku cuma ngelindur, Luka-san!" kata Gakuko. Gumi menelan ludah. Maksud Gakuko membunuh?
"Luka, sepertinya dia ingin bilang bahwa dia yang membunuh Gakupo!" bisik Gumi. Tiba-tiba Luka naik darah, diiringi jatuhnya air yang berasal dari mata Luka.
"JADI KAU MEMBUNUH GAKUPO, YA?" seru Luka.
Kemudian Gakuko mengangguk, dan semua pun gempar melihatnya, dan langsung membuat Gakuko salah tingkah. Dia sudah keceplosan beberapa kali!
Plak! Plak!
Gakuko pun mendapat dua tamparan keras dari seorang Luka yang sedang sedih bercampur marah. Gakuko sudah menghindar, tapi tetap kena.
"Hentikan, Luka! Cukup!" kata Gumi sambil menarik tangan Luka.
Kaiko pun menginterogasi Gakuko sementara Luka dan Gumi berdiskusi sambil berbisik.
"Gakuko, jadi kau yang membunuh kakakmu? Kau sangat bodoh, Gakuko!" kata Kaiko.
"Aku tidak membunuh Gakupo-nii, dia bilang dia capek lalu tidur di kamarnya! Jadi akku tidak membunuhnya! Mungkin dia mati sendiri!" kata Gakuko membela diri.
"Aku tak percaya padamu. Nah, itu para polisi sudah datang. Katakan yang sejujurnya pada mereka, ya!" kata Kaiko sambil menunjuk mobil polisi yang datang. Rupanya dia memanggil guru-gurunya dan menyuruh mereka untuk memanggil polisi, karena mereka mendengar Gakuko yang keceplosan.
Beberapa menit kemudian polisi datang dan menyeret Gakuko.
"AKU TIDAK MEMBUNUH GAKUPO-NII! AKU TIDAK MEMBUNUHNYAAA!" seru Gakuko nyaring. Dan semua hanya melihatnya dengan dingin, tanpa ekspresi.
.
.
.
.
Sore yang kelam. Mereka berdua mendatangi rumah duka, seusai pemakaman Gakupo selesai dilaksanakan. Gakupo dimakamkan disamping makam Len. Katanya, memang benar kalau Gakupo tewas keracunan oleh asam peroksida. Dan orang tua Gakupo dan Gakuko tak menyangka kalau Gakuko tega membunuh kakaknya sendiri. Katanya, alasan Gakuko membunuh Gakupo adalah karena Gakuko ingin tahu bagaimana reaksi asam peroksida terhadap manusia, lagipula dia sebal kalau harus tidur sambil mendengar nyanyian sumbang Gakupo tiap malam.
"Kami pamit dulu, Tante." Kata Gumi smbil membungkukkan badannya.
"Iya, terima kasih sudah menghadiri pemakaman Gakupo." Kata ibu Gakupo dan Gakuko.
Mereka pun pulang dalam keheningan. Di tengah perjalanan pulang, Luka pun mulai terisak, mengingat semua lelucon teman mereka, Gakupo Kamui.
.
.
.
.
To be continued …
.
.
.
.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
halooooo~ hanami-nyan muncul lagi~~
akh, tak terasa ini sudah chapter 4, ya … dan sebentar lagi sudah chapter terakhir, yaitu chapter 5 … dan gomen ya, kalau update-nya cukup bikin kesel soalnya waktu update-nya tak menentu … :'(
oh iya, saya agak enggak rela kalo Luka mati … jadi, saya adain voting aja, ya~ menurut kalian, lebih bagus kalo Luka mati ato enggak? Ingat, voting ini sangat penting! Jika kalian tidak mem-voting, maka chapter 5 akan membutuhkan aktu lama utnuk penyelesaiannya. Silahkan tulis di review. arigatou.
Dan … gomen kalau updatenya lama … dan mohon maklumi jika ada typo. Sekali lagi, arigatou.
