Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody" dari Eragon dan How to Train Your Dragon.

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.

Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Typo

Pair : Possibility NaruSaku as first

Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance


Author's Note :

Jumpa lagi di chapter 6, readers !

Ok, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima.

Banyak yang tanya tentang penampilan fisik Paradox dan Ortodox. Plus karena mereka selalu disinggung di setiap chapter, rasa penasaran pasti makin menjadi-njadi. Well, sama dengan pair, saya akan mengupas sedikit demi sedikit rahasia tentang mereka berdua. Kira-kira di chapter berapa kedua bersaudara ini akan muncul ?

SPOILER ! Draco P mungkin akan muncul di chapter 10,11, atau 12 ! Jadi sebisa mungkin jangan lewatkan tiap chapter fic ini karena selalu mengandung misteri dan jawaban !

Soal pair kedua...mungkin akan muncul sebentar lagi. Pasalnya, Naruto punya dua pair. Biar begitu saya akan berusaha adventure dan fantasy-nya lebih menonjol daripada romance karena itu adalah dua genre utama. Naruto akan kuat sedikit demi sedikit, tenang saja. Soal penambahan anggota tim yang bersama Naruto, saya cukupkan sampai Sakura, dan setelah dia tidak ada yang bergabung dengan anggota tim lagi karena kalau kebanyakan akan terlalu mencolok tentunya.

Dan, sehubungan dengan yang nanya soal peringkat bahaya dan spesies serta pengklasifikasian naga-naga di fic ini, kali ini saya akan memulainya dengan data yang bersumber langsung dari 'Bingo Book –The Book of Dragons' :

-KATEGORI NAGA

Berdasarkan flag element:

1. Dewa (Deva)

Yang termasuk kategori ini hanya delapan naga Etatheon. Mereka semua memiliki kekuatan magis diatas nalar manusia.

2. Mirakel (Miracle)

Yang termasuk kategori ini adalah naga semi-ajaib yang dapat mengeluarkan unsur alam semacam tumbuhan, air, atau mengubah diri mereka menjadi batu atau mengendalikan angin.

3. Kriptid (Cryptid)

Dengan nama lain, misterius. Termasuk banyak naga langka yang jarang menampakkan diri dan memiliki kekuatan yang cenderung pada kegelapan. Biasanya nokturnal.

4. Perang (Wars)

Naga dengan klasifikasi ini memiliki stamina yang kuat dan tangguh, perawakan yang besar, dan serangan yang kuat sebanding dengan pertahanan.

5. Mighty

Kelompok Mighty serupa dengan kelompok Perang, hanya saja ukuran mereka biasanya lebih besar sehingga lebih sulit ditaklukkan.

6. Langit (Spaces)

Sesuai nama, naga jenis ini biasanya memiliki sayap yang lebih lebar, lebih kuat, atau lebih banyak dibanding naga lainnya sehingga menjadikan mereka sebagai penerbang yang hebat.

7. Monster (Monstrous)

Serupa dengan Mighty atau Perang, namun dengan bentuk yang lebih 'abnormal' dan mereka tinggal menyendiri, lebih memilih menghindar daripada bertarung.

-LEVEL BAHAYA :

1.) Tenang : Tidak perlu diwaspadai. Biasanya naga yang menetas di Chrysler.

2.) Rerata/Average : Jinak, namun dapat menyerang sekali-kali jika terancam.

3.) Moderat : Lebih aktif daripada rerata dan sering menggertak.

4.) Medium : Sering menggertak, kadang menyerang jika terdesak

5.) Mematikan : Kemarahannya dapat membunuh, walau kadang hanya sekedar mengancam

6.) Jauhi ! : Cukup berbahaya, biasanya tidak toleran

7.) Tinggi : Sering menyerang tanpa diprediksi

8.) Gila : Sangat buas, sulit dikendalikan, sulit diprediksi

9.) Death-see : Tidak ada kemungkinan selamat begitu melihat golongan ini. Meski begitu, death-see hanya berlaku untuk tiga naga Etatheon saja.

Enjoy read chap 6 !


PARADOX

Chapter Enam :

Under the Wings of Demons

"Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya mereka..."

"Tidak ada yang tahu dari mana mereka berasal..."

"Tidak ada yang tahu dimana mereka berada..."

"Dan tidak akan ada yang tahu sampai Mereka menemukan pengendara sejati mereka masing-masing".

Itulah yang kudengar dari Sakura ketika aku menanyakan soal dua bersaudara padanya. Dia sedikit tahu tentang para legendaris, tapi tentunya pengetahuan kami masih sangat terbatas.

"Pengendara masing-masing ?" Ulangku. "Jangan katakan kalau... Ortodox juga memiliki pengendara !" Seruku.

Sakura tertawa kecil. "Lugu sekali kau ! Semua naga ditakdirkan untuk memiliki pengendara ! Tinggal masalah mereka bertemu atau tidak ! Suatu hari nanti mungkin jika kau belum menemukan Dia juga, akan ada seekor naga yang lebih dulu jadi tungganganmu" jelas Sakura padaku.

"Memang, sulit dipercaya ada yang jadi penunggang Ortodox. Dimana ada tunggangan, disitu pasti ada pengendara" sambungnya.

"Sakura" panggilku.

"Hmm ?"

"Semua ini terasa tiba-tiba sekali" desisku. Ia mengernyitkan dahi.

"Apa maksudmu ?"

Aku menghela nafas. "Entahlah".

"Aku pergi dari Konohagakure...bersama mereka...kemudian bertemu klan Uchiha di perkampungan...lalu bertambah anggota...hingga bertemu denganmu dan sekarang kita sudah di Kaze no Kuni. Semua ini benar-benar terasa cepat dan dinamis" jelasku sekenanya.

Sakura tersenyum kecil padaku. "Kau masih belum cukup kuat kan, Naruto ?" Ledeknya. Aku mengangguk pasrah.

"Ini". Ia menyerahkan sebuah gulungan berwarna merah padaku.

"Apa ini ?" Responku klise.

Dia terkikik. "Buka dulu, bodoh".

Aku membukanya. Wow, sebuah gulungan rahasia ninjutsu ! Ada banyak keterangan ninjutsu di dalam sini, mulai dari elemen primer sampai Kekkei Genkai dan jutsu klon. Keren. Aku penasaran darimana dia mendapatkan ini.

"Jangan tanya dari mana. Itu milikmu sekarang. Gunakan itu sebagai panduan kalau kau ingin berlatih diluar jadwal Kakashi-sensei dan Jiraya-sama" katanya seakan membaca pikiranku.

Sempat terlintas di benakku Sakura mencurinya dari seseorang karena ia adalah pengembara. Namun, ada sesuatu yang lain yang benar-benar menghalangi mulutku untuk bicara seperti itu. Lagipula gulungan ini tampak sangat usang, pasti sudah berada cukup lama di dalam ranselnya, terhimpit dengan barang-barang yang lain.

"Pelajari dan kuasai satu jutsu yang menurutmu paling keren. Lima hari setelah ini, lawan aku dengan jutsu itu" tantangnya.

"Jangankan lima hari, dua hari pun aku sanggup" kataku bersemangat. Aku membaca satu persatu jutsu gulungan itu sampai aku menemukan jutsu kelas B yang kelihatannya menarik sekali.

"Hmm, Kagebunshin no Jutsu" desisku tanpa sadar.

Sakura menoleh. "Itu jutsu kelas B yang memerlukan chakra yang sangat banyak dan latihan yang tekun. Yakin bisa dua hari ?" Ledeknya sangsi. Aku mengangguk.

"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kurasa Kagebunshin no Jutsu atau jurus seribu bayangan akan sangat bermanfaat untuk orang sepertiku" kataku sambil menepuk dada.

"Hmm, yah, kau tidak perlu repot-repot membersihkan rumah lagi, cukup gunakan bunshin-bunshin-mu saja" balas Sakura. Kami tertawa kecil.

"Naruto, Sakura ?" Sebuah suara mengagetkan kami dan segera menghentikan tawa kami berdua. Rambut pantat ayam sudah bersiaga di belakang seperti seorang polisi yang menjumpai maling naga yang kabur.

"Sudah jam 8, sebaiknya kita semua istirahat. Perjalanan yang melelahkan menempuh gurun Kaze no Kuni tidak akan ringan" desisnya. Aku mengangguk. Sakura berdiri dan segera berjalan cepat ke tenda perempuan.

Sasuke menyikut bahuku. "Aku punya prasangka kurang bagus mengenai penyerangan kemarin malam" katanya tiba-tiba.

"Apa itu ?" Tanyaku antusias dengan tatapan menyelidik.

"Gigantostoma itu sebenarnya tidak buta" Sasuke menerangkan. "Aku sempat menelitinya ketika ia tergelepar hanya beberapa detik sebelum kita semua pergi meninggalkannya. Tidak ada cacat atau luka apapun di matanya, dan Sharingan-ku secara mengejutkan menunjukkan bahwa ada semacam chakra di kepalanya, lebih tepatnya, otaknya. Dan itu adalah chakra khas Sharingan Uchiha" jelasnya lebih lanjut.

"Jadi...naga itu dikendalikan oleh seseorang ?" Sumbarku. Ia mengangguk.

"Kemungkinan terbesar, Madara masih dan akan selalu mengincarmu. Dengan Sharingan-nya, ia dapat mengendalikan banyak sekali naga mulai dari Manidens yang kecil sampai naga sebesar kemarin".

"Dan" Sasuke menambahkan begitu dia sampai di pintu tenda pribadinya.

"Jaga Sakura" desisnya pelan. Ambigu. Aku mengerutkan dahi bingung. Tapi ia tidak menanggapi dan segera masuk ke tenda hitam berlambang kipas merah putih kebanggaannya itu, dan terlelap sampai pagi.


"Konfirmasi" kata Kakashi-sensei mengejutkan kami di gurun Kaze no Kuni. "Kazekage Gaara sudah menerima info bahwa kita telah berada di wilayahnya. Sebentar lagi beliau akan mengirim pengawal hingga kita bisa sampai ke Sunagakure dengan selamat" lanjutnya.

Angin berhembus kencang menerpa wajah dan pakaian kami semua. Lumayan sulit terbang secepat ini dalam keadaan menentang arah angin. Plus, kami mengambil resiko sesuatu dengan penciuman yang tajam bisa dengan mudah mengetahui jika kami ada di depannya –karena indera penciuman naga akan sangat terbantu jika ada angin yang lewat dari depan, membawa bau kami hingga jauh ke belakang.

"Jiraya-sensei" panggilku.

"Hm ?"

"Kapan aku bisa menunggangi nagaku sendiri ? Maksudku, sebaiknya aku belajar dulu, kan ? Tidak langsung tiba-tiba mengendarai Paradox, yang kurasa itu akan langsung membuatku terkejut" tanyaku lugu.

"Entahlah. Aku tidak tahu apakah ada naga yang mau menjadi tungganganmu, entah karena mereka merasa terlalu tersanjung atau bagaimana. Tapi seingatku dulu, ayahmu pernah punya seekor naga legendaris bernama Pyrus. Dia-lah tunggangan setia Yondaime Hokage sebelum bertemu Draco P" cerita Jiraya berusaha mengingat-ingat.

"Awas" Hinata mendadak bersuara. "Badai pasir pekat di depan" lanjutnya.

Kami semua memincingkan mata. Benar, dari jarak sekitar satu kilometer, tampak gumpalan awan pasir pekat yang bergerak perlahan ke arah kami karena terbawa angin.

"Kurasa kita harus merendah, kalau perlu, jalan kaki sementara badai itu berlalu. Anginnya cukup kencang di atas, jadi kurasa badai itu tidak akan memakan waktu terlalu lama untuk bisa kita lewati selagi kita berjalan di bawahnya" Kakashi-sensei menjelaskan rencana. "Semua turun" sambungnya.

Dan akhirnya kami berjalan diatas pasir yang untungnya masih belum terlalu renggang atau panas itu. Badai pasir pekat itu melayang sepuluh meter diatas tanah, sementara di bawahnya keadaan udara baik-baik saja.

Makin lama, tanah mulai makin terasa. Keras. Pasir mulai berkurang.

"Sepertinya kita sudah mulai memasuki area Hamada. Gurun gunung batu. Lihat" tuding Shikamaru. Beberapa mesa –gunung batu berpuncak datar, menjulang diatas pasir, sementara lebih banyak butte –mesa berukuran lebih kecil yang lebih mirip tiang batu berada di sekitar kami.

"Kita telah melewati Erg dan pergi ke Hamada. Setelah area ini kita akan menjumpai Reg, gurun kerikil, terbang beberapa menit lagi baru sampai ke Sunagakure" kata Sasuke.

"Kuharap badai pasir ini cepat berlalu hingga kita bisa meneruskan perjalanan lebih cepat" tambah Ino.

"Semua berhenti" Hinata mendadak bersuara lagi. "Bayangan di depan".

"Apa yang kau lihat ?" Kakashi-sensei langsung bereaksi.

"Chakra...istimewa...energi yang serupa dengan...naga dewa..." jawab Hinata terbata-bata.

"Naga dewa ?" Aku membeo. Sasuke, Sakura, Jiraya-sensei, Lee, Kiba, dan Chouji langsung mengelilingku, melindungiku dari kemungkinan buruk.

"Dia masih berpijak ke tanah" lapor Hinata. "Hanya 20 meter dari tempat kita berdiri, terhalang pasir, jadi aku tidak bisa terlalu detil" sambungnya.

"Bersahabat ?" Tanya Kakashi-sensei lagi.

"Kurasa tidak" jawab Sasuke tiba-tiba. Aku meliriknya. Sharingan-nya telah diaktifkan. "Aku kenal chakra ini. Mustahil dia berpihak pada kita" katanya seolah mengintimidasi. Keringat mengalir dari dahiku. Apa lagi yang akan kami hadapi sekarang ?

Badai pasir mereda. Awan coklat telah mulai menghilang meninggalkan sedikit bekas jejak debu. Kami mulai bisa melihat sosok yang menyambut kami cukup dekat itu.

Seekor naga.

Tubuhnya kurus, bahkan beberapa tulang rusuknya membekas. Kulitnya yang terlihat liat dan kuat berwarna merah tua redup dan nyaris tak bersisik samasekali. Keempat kakinya seperti kaki kuda, beserta ekor panjang nan kurus yang menggantung di belakangnya, ditumbuhi delapan duri berkait di ujungnya. Sepasang sayapnya memiliki pola bintang segienam (seperti bendera Israel) dan lehernya terlihat kekar.

Namun yang paling menarik perhatian kami adalah, tentu saja, tengkoraknya yang mengerikan. Kepalanya dihiasi lima pasang tanduk, yang terpendek di alisnya, dua di bagian belakang tengkorak atas, dua lagi di ujung leher atas, dua di pangkal rahang bawah, dan satu yang paling panjang berada di telinga. Tanduk telinganya cukup panjang hingga tumbuh melengkung ke bawah. Dan yang paling mencolok adalah satu tanduk lurus yang terlihat sangat halus, yang tumbuh tepat di tengah hidungnya. Dagunya mengeras membentuk semacam pelindung serupa jenggot versi tulang.

"Draco P, kita bertemu. Akhirnya" sapanya dengan suara sangar. Mata kuning lembutnya yang tak berpupil sekarang tampak berkilau. Ia menyeringai, memamerkan deretan gigi-gigi pemotong daging di mulutnya.

Aku terkejut. Cih, satu lagi naga yang bisa bicara dan mengenalku. Tapi kali ini aku ragu ia sama baiknya dengan Neve si Severin itu.

"Styx" desis Sasuke tiba-tiba, membuat perhatian naga itu teralih sebentar.

"Oho, bahkan ada satu bocah Uchiha yang juga ikut dalam perjalanan ini" tanggapnya sinis. "Membuatku sebal saja. Dimana-mana ada Uchiha. Aku bertemu banyak Uchiha dan aku sudah menyantap banyak Uchiha juga, daging mereka lebih lembut dari sikap kasar mereka dan tulang mereka lebih renyah daripada pendirian keras mereka" sambut naga itu sambil menjilat bibir.

"Tutup mulutmu, sialan !" Bentak Sasuke marah. Aku merinding mendengar cara naga itu mengucapkan sendiri rasa dari daging manusia klan Uchiha.

"Dia salah satu Pembantai Bersayap ?" Aku berbisik, memberanikan diri bertanya.

"Ya. Tapi Styx sendiri adalah salah satu Etatheon pengkhianat yang berpihak pada Madara dan Ortodox" jelas Jiraya-sensei sambil terus bersiaga.

"Cari mati kau. Kami enam belas dan kau sendiri. Kau tidak punya kesempatan untuk apapun" gertak Kakashi-sensei sambil membuka ikat kepala Konohagakure-nya.

Styx tertawa kecil ambigu. "Aku ragu" katanya misterius.

"Bryptops !" Jiraya mendadak berseru. Naga terbesar di kelompok kami langsung membuka mulut, dan menembakkan bola hitamnya tepat ke arah naga iblis itu –yang tetap berada di tempat.

Serangan itu berdebum, tapi ada yang salah. Ya, bola hitam itu terhisap perlahan sampai habis ke tanduk tunggal naga merah itu !

"Ini akan mengasyikkan" tukas Styx sambil membentangkan sayap. Ingenia Kiba mengambil langkah dan langsung menembakkan abu vulkanik. Namun api berwarna kuning pucat muncul dari dalam kepulan asap itu dan tanpa terduga berhasil menghilangkan semua abunya.

"Kalian naif" kata Styx lagi. "Apiku tidak hanya melumpuhkan organ atau pancaindera, melainkan juga kemampuan kalian. Api, air, atau tanah. Kalian-lah yang tidak punya kesempatan untuk menang" gertaknya.

Styx meraung jahat, kemudian berlari ke arah kami. Bryptops menghadangnya dan mengibaskan ekornya yang berduri, namun naga mengerikan itu cukup gesit –ia melompat tinggi dan berbalik mengaitkan duri ekornya ke kaki kanan belakang Bryptops dan membanting naga itu ke tanah. Lebih kuat dari yang kukira.

Segera setelah itu, Gorongosa menembakkan semburan air. "Badai pasir sudah reda, kita akan bisa mengalahkannya di Sunagakure ! Styx tidak akan menyia-nyiakan kesempatan semacam itu hanya untuk melawan banyak prajurit yang akan mengawal kita !" Komando Kakashi-sensei sambil melompat ke punggung naga air itu. Kami semua langsung terbang, namun Styx tidak semudah itu dikalahkan.

"Draco P ! Aku takkan membiarkanmu kabur begitu saja !" Serunya sambil mengepakkan sepasang sayap besarnya dan langsung melesat mengejar kami. Semua naga yang kami tunggangi langsung mengarah ke belakang dan menembakkan sinar dan api mereka masing-masing, namun hanya dianggap angin lalu oleh Styx karena secara menakjubkan tanduk tunggalnya benar-benar bisa diandalkan, tak peduli sekeras apapun kami menyerang.

GRAAAAAA... !

Ia membuka mulutnya lebar-lebar, menampakkan semua gusi dan akar-akar giginya yang mengerikan. Api kuning pucat terkumpul dengan cepat di dalamnya, dan segera dilepaskan ke arah kami.

BWOOOOOOMMMM... ! ! ! !

Tapi segera berhasil ditahan oleh bola api yang luar biasa besarnya dari Jiraya-sensei. Tentulah bola api itu harus cukup besar dan kuat untuk bisa bertahan sampai akhir agar tidak dinetralisir oleh api Styx. Aku sendiri kagum melihat bagaimana dia bisa menghembuskan api yang cukup banyak dari mulutnya.

Bibirnya kini berasap. "Hhh...hahh..untung saja sebelumnya aku sudah menyiapkan cukup chakra" gerutunya. Ia membentuk handseal. "Makan ini !"

BLUUPPP !

Pasir di bawah kaki Styx mendadak berubah menjadi lumpur merah tua yang lengket, yang otomatis memerangkap keempat kakinya dengan cepat.

"Rawa gelap, heh ?" Desis Styx. "Jiraya dari Myobokuzan...sudah kuduga akan ada salah satu Sannin yang mengawal Draco P..." katanya lagi.

"Masa bodoh ! Cepat pergi !" Seru Jiraya mengalihkan perhatian. Styx tertawa meremehkan, dan dengan satu tusukan tanduknya ke cairan pekat yang berusaha menenggelamkannya itu, perlahan ia mulai terbebas.

"Kalian tidak akan lolos !" Serunya sambil terbang cepat ke arah kami.

"Benar-benar keras kepala" gerutu Kakashi-sensei. Ia terpaksa melompat dari Gorongosa dan melakukan handseal ninjutsu.

"為雷:黒豹 !"

Raiton: Kuropansa

(Elemen Petir: Panther Hitam)

BZZZTTT ! ! ! Sebentuk kilat berwarna hitam berbentuk macan kumbang segera meluncur dari kedua tangan Kakashi-sensei dan berusaha mengenai target. Namun seperti yang sudah sempat kuduga, petir itu hanya bertahan dua detik sebelum tersegel total ke tanduk tunggal Styx.

"Cih...itu hanya penguluran waktu yang sia-sia. Jika begini, kita akan sulit melawannya jika tidak menghancurkan tanduk penyegel itu" gerutu Shikamaru.

Sementara, Kakashi-sensei berhasil melompat ke kepala Styx, dan ia mengeluarkan petir dari tangan kanannya. "Kau pikir aku selugu itu, naga ?"

"Itu hanya serangan pengalihan agar dia bisa menduduki kepala naga itu dan melancarkan serangan dengan lebih leluasa" simpul Kiba.

"為雷:雷剣 !"

Raiton: Raikiri

(Elemen Petir: Pedang Petir)

CRASH !

BWOM !

Sialnya, serangan itu samasekali tidak berpengaruh –justru ikut tersegel ke tanduk dan kini Styx berhasil mengenai Kakashi-sensei dengan api kuningnya ! Pomona Hinata langsung menyambar pria berambut perak itu dan terbang cepat bersama kami. Untunglah yang terbakar baru rompi seragamnya, jadi dia bisa melepasnya secepat mungkin dan tidak (atau belum) ada anggota tubuhnya yang jadi lumpuh karena api itu.

"Ketika kau berhadapan dengan naga semacam dia, satu-satunya pilihan adalah menghindar. Tidak ada cara menang melawannya kecuali kau bisa menghancurkan tanduknya. Tapi apapun yang mengenainya bisa disegel. Aku tidak heran jika dalam keadaan biasa, sebilah pisau dapur pun bisa memotong tanduk itu, tapi masalahnya tanduk itu menyegel apapun yang mengenainya kecuali Styx itu sendiri tidak menghendaki" jelas Sasuke panjang lebar.

"Dia telah menyerang Perkampungan Uchiha tiga kali dan membantai puluhan penduduk. Banyak diantara mereka bahkan dimakannya. Sisanya, tersegel entah kemana atau dimana, dengan tanduk itu" lanjutnya kesal.

Naga setan itu mendadak sudah berada di depan kami semua. Matanya yang kuning menyala seperti ingin memakan kami –atau lebih tepatnya aku- hidup-hidup. Ia menyemburkan kobaran api yang makin lama makin lebar, tidak memberi kesempatan bagi kami untuk pergi sesenti pun...

.

WUUUSSSHHH... ! ! ! !

Namun api itu dihalau oleh sebuah serangan angin yang sangat kuat, yang sampai melempar Styx hingga membentur sebuah butte. Aku membuka mata.

"Tidak baik menganggu musafir, Styx" sebuah suara yang terdengar, ehm, maskulin, tertangkap oleh indera pendengaranku. Seekor naga. Lagi.

Dia menoleh. "Kalian baik-baik saja ?" Selidiknya memastikan.

"Tidak begitu. Tapi terimakasih" Lee menjawab duluan.

Naga itu. Sedikit lebih kecil daripada Styx, dengan kaki serupa antelop. Kakinya sangat kurus, tapi terlihat kekar sekali. Sepasang tanduk serupa tanduk kambing menghiasi alisnya. Sepasang sayap raksasanya dipenuhi corak serupa mata, yang sering kujumpai di banyak spesies ngengat atau kupu-kupu untuk menakuti predator. Ekornya yang mirip ekor singa ditumbuhi rambut lebat. Naga itu sendiri berwarna putih bersih dan dia memiliki jenggot yang sangat panjang.

Sempat kukira dia adalah persilangan yang gagal antara seekor naga dengan seekor kambing.

"Namaku Beleriphon, Etatheon" katanya pada kami.

"Diam ! Jangan bertingkah sok pahlawan, dasar janggut kambing !" Hardik Styx yang telah bangun dari jatuhan batu. Beleriphon menatapnya sinis.

"Pergi kau" ancamnya pendek.

"Kalau aku tidak mau ?"

"Maka rasakan ini !"

Beleriphon membuka mulut dan menembakkan sebuah kubus sinar. Kubus yang bergerak cepat itu membesar drastis begitu mendekati Styx, makin terang hingga tampak meledak sehingga tanah di bawahnya pun membekas kubus seperti bentuk sinar itu.

"Bingo. Dia menggunakan Jinton !" Seru Lee sambil mengepalkan tangan.

"Jinton ?" Ulangku. "Salah satu elemenkah ?"

"Ya. Jinton atau elemen debu termasuk Kekkei Touta, yang bahkan lebih tinggi tingkatannya daripada Kekkei Genkai. Kekkei Touta memungkinkanmu untuk menggabungkan tiga elemen chakra sekaligus" jelas Jiraya-sensei.

"Tiga elemen chakra ?" Ulangku takjub.

"Itu hampir di luar perkiraan dan benar-benar langka. Yang kutahu dari semua Lima Negara Besar, yang bisa menggunakan Jinton hanya Nidaime dan Sandaime Tsuchikage, Muu-sama dan Onoki-sama" lanjut Shikamaru.

Setengah tubuh Styx kini binasa. Darah merah memancar dari situ, menodai pasir dan batu. Samar, tapi aku bisa melihat luka itu beregenerasi. Naga dewa pasti tidak semudah itu dibunuh.

"Kau akan membayarnya" desis Styx sengit lalu menghilang begitu saja ditelan lidah api berwarna kuning pucat.

"Akan kutunggu" balas Beleriphon. Walau kelihatannya terlambat.

"Jadi...Uzumaki Naruto, ya ? Aku tadi melihat tim pengawal Sunagakure masih berada sekitar tiga kilometer dari sini, jadi aku mendahului mereka. Benar perkiraanku kalian sedang dalam bahaya" ujarnya.

"Terimakasih banyak bantuannya, Beleriphon" ucapku tulus. Dia tersenyum.

"Tak perlulah. Kurasa dalam beberapa hari atau minggu kedepan kamilah yang akan berterimakasih padamu, Naruto-sama" balasnya hormat.

"Jangan terlalu menghormat di depanku. Aku saja masih sangat lemah" kataku tidak enak.

"Lemah ?" Ulang Beleriphon. Heran.

Aku lebih heran. "Kau pikir aku bisa apa selain melempar shuriken dan kunai ?" Balasku.

"Itu tidak lucu, Naruto-sama" kata Beleriphon, yang malah membuatku semakin bingung. Tidak hanya aku, teman-temanku juga masih belum mengerti apa yang dimaksud naga dewa ini.

"Hmm, sepertinya kau sendiri bahkan belum tahu" kata Beleriphon akhirnya, begitu merasa penjelasannya terlalu jauh. Ia berdehem.

"Kau punya kemampuan untuk Kekkei Touta".

.

.

Kurasa aku salah dengar. Apa angin gurun Kaze no Kuni begitu sakti dalam menyamarkan kata-kata ? Aku berpaling ke teman-temanku.

Sasuke melirikku. "Sakura" panggilnya.

"Ketika kau menyembuhkan luka di kaki Naruto karena serangan Ceberus, apa dia keracunan ? Merasa mual barangkali ?" Selidiknya.

"Seingatku Naruto tidak mengatakan hal semacam itu" jawab Sakura. Sasuke berpaling ke arahku.

"Benarkah itu ?"

Aku mengangguk. "Memangnya kenapa ?" Tanyaku heran.

"Hanya jika seseorang memiliki elemen api-lah, dia tidak akan keracunan api Ceberus terlalu cepat. Dracovetth dengan elemen selain api akan keracunan dalam 15 detik setelah terkena. Bahkan kau memiliki elemen angin, jadi waktunya bisa hanya 10 detik. Tapi nyatanya kau tidak keracunan" jelas Sasuke.

"Jinton menggabungkan elemen api, elemen tanah, dan elemen angin sekaligus" Beleriphon akhirnya menjelaskan. "Aku melihat ketiga unsur elemen chakra itu dalam dirimu, Naruto-kun. Kertas elemen yang barangkali kau gunakan hanya peka pada satu kecenderungan. Kau memang dominan pada elemen angin tapi kau juga memiliki kecenderungan untuk elemen api dan tanah" lanjutnya.

Mataku berbinar. Peluang bagiku untuk menjadi lebih kuat kini terbuka satu lagi. "Aku bisa mengajarimu, sekaligus dalam perjalanan" katanya kemudian.


"Ngomong-ngomong, Beleriphon" kataku setelah kami semua terbang dikawal pasukan Sunagakure. "Sebagai sesama naga dewa, apakah kau tahu dimana Dia berada ?" Tanyaku penuh harap.

Seperti ada tombol yang mengatur, sontak kepala teman-temanku ikut tertuju ke naga berjenggot panjang itu, yang tengah mempersiapkan jawaban.

.

.

Dia menggeleng. Harapan kami tampaknya terlalu tinggi.

"Tapi bagaimana bisa ?" Selidik Chouji penasaran. "Apa kalian begitu tertutup satu sama lain ?"

"Bukan begitu. Dia sebenarnya baik hati. Tapi memang itulah adanya. Bahkan aku dan teman-temanku yang sesama naga dewa tidak mengetahui dimana Dia berada sekarang ini. Kalau kau bertanya pada Styx dan jawabannya adalah tidak, bahkan aku yakin dia menjawab jujur" terang Beleriphon, yang hanya membuatku semakin tidak puas.

"Maaf" kata naga itu tiba-tiba. "Kalau saja aku tahu, aku pasti sudah memberitahukan ini padamu begitu aku mengetahuinya".

"Tidak perlu minta maaf. Kalau kau berhasil mengajariku Jinton, aku sudah sangat berterimakasih padamu" jawabku sekenanya.

"Terimakasih bantuannya, Beleriphon yang Agung" sebuah suara laki-laki mendadak mengagetkan kami. Belasan naga spesies Vereev terbang di sekeliling kami. Pengendaranya menggunakan rompi berwarna coklat dengan cadar dan penutup kepala. Pengawal dari Sunagakure !

"Itu tugasku juga, Kapten Yuura" balas Beleriphon. Naga itu lantas menoleh ke arahku. "Nah, Naruto-sama, sampai disini dulu perjumpaan kita, kurasa kau sudah lumayan aman sekarang" ujarnya.

"Kau sendiri mau kemana ?" Selidikku penasaran.

"Bersama Hermes, aku harus mengabarkan ini pada Etatheon yang lain. Pyrus dan Parthenon belum tahu jika pengendara Draco P telah kembali. Aku dan Hermes, sebagai dua naga tercepat di Bumi, harus memberitahukan ini pada mereka berdua" jelasnya.

"Tapi kau bilang akan mengajariku ?" Aku menagih janji.

"Setelah aku melaksanakan tugasku" jawab Beleriphon tegas. "Lagipula, kau pasti punya banyak pekerjaan dan harus melatih ketrampilan tiga elemenmu dulu sebelum bisa mengendalikan Jinton dengan baik, Naruto-sama" lanjutnya lalu bergeser ke sisi luar. "Aku mohon diri dari sini" pamitnya.

"Naruto-sama, Etatheon berharap padamu" lanjutnya singkat lalu terbang ke Utara dengan kecepatan yang belum pernah kulihat dari seekor naga.

"Kakashi-san ! Jiraya-sama ! Sebentar lagi kita semua akan memasuki teritorial udara Sunagakure ! Kalian bersiaplah" Kapten Yuura berseru.

"Dunia sedang menunggumu, Naruto" celetuk Sasuke. "Pastikan kau tidak mengecewakan mereka semua. Atau, kami" lanjutnya.

Aku menatap ke depan. Dari kejauhan, dinding tanah raksasa pertanda area Desa Sunagakure telah terlihat. Aku mengepalkan tangan, menggenggam butiran pasir gurun Kaze no Kuni yang terbawa angin.

Aku tahu, aku masih terlampau lemah untuk menghadapi semua ini. Tapi selalu ada mereka untukku. Aku mengandalkan teman-teman dan guru-guruku. Merekalah yang selalu melindungiku kapanpun dan dimanapun demi mencari sesuatu yang telah lama dicari.

Aku menggantungkan hidup dan matiku pada mereka.

.

.

.

Sebuah keputusan, atau kesimpulan, yang akan segera kusesali.


The Hidden Grass Village

"Jadi dia akhirnya tersingkap juga" sebuah suara terdengar dari ruang bawah tanah di tempat remang-remang yang hanya diterangi beberapa batang lilin besar. "Kira-kira berapa panjang yang dibutuhkan untuk ini agar semuanya bisa terjadi ?" Tanya suara itu polos.

"Entahlah, kupikir engkau lebih mengetahuinya" suara lain –yang merupakan suara seorang perempuan, menjawab dengan hormat walau tidak tahu.

"Menurut perkiraan otakmu ?"

"Sekitar beberapa minggu..." jawab suara perempuan itu.

Hening sesaat.

"Bisakah engkau memonitornya beberapa waktu untukku ?" Pinta lawan bicaranya.

"Sebenarnya saya tidak masalah. Tapi saya sedikit ragu, karena dia sudah dikawal oleh banyak orang. Makin lama akan makin banyak yang tahu tentangnya" suara itu menolak dengan halus.

"Baiklah. Bukan sebuah problem yang terlampau besar. Tapi ini cukup krusial, Nak. Semoga dia memang merupakan sebuah pribadi yang luhur dan baik budinya. Faktor itu akan sangat memberi kontribusi pada pertemuan perdana" jawab suara lawannya.

"Ehm, sebaiknya Anda jangan menggunakan bahasa yang terlalu rumit, ada rumor bahwa dia tidak demikian pintar. Mungkin dalam hal berbahasa juga" desis perempuan itu.

"Itu hanya rumor. Rumor. Mereka tidak selalu benar. Walau tidak selalu salah pula, tergantung bagaimana cara tiap insan untuk memandangnya dari persepektif yang berbeda pula" suara itu membela dirinya sendiri.

"Ah, terserah Anda" sahut perempuan itu sambil terkikik. Ia melangkah pergi.

"Mau kemana ?" Tanya suara lawannya.

"Menghirup udara segar" jawab perempuan itu sambil mengibaskan rambut panjangnya. Begitu tangan kanannya memegang gagang pintu kayu yang sudah mulai lapuk sebagai satu-satunya sekat pembatas antara ruangan itu dan ruangan selanjutnya yang terhubung ke dunia luar, dia mendadak menghentikan gerakannya.

"Anda seharusnya tidak diam dan tidur-tidur disini selagi dia berusaha keras di luar sana" desis perempuan itu tanpa menoleh.

"Hmm ? Kau menyuruhku keluar ?" Goda lawan bicaranya.

"M-maaf. Bukan begitu maksud saya" perempuan itu mengoreksi.

"Terserah engkaulah. Engkau satu-satunya pengkoneksiku dengan dunia luar dan apapun yang terjadi dibalik sekat kayu menyebalkan ini. Aku hanya bisa menaruh kepercayaan yang tentunya kau tahu amat sangat berharga ini pada dirimu seorang" cetus suara itu serius.

Perempuan itu menegang. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, tertahan oleh rambutnya yang panjang. Ia meneguk ludah kecut.

"Jangan terlalu terlihat menyedihkan begitu" kata suara di belakangnya. "Engkau pasti mengetahuinya, engkaulah satu-satunya di dunia ini yang bisa kupercayai. Setidaknya untuk sekarang. Hidup dan matimu telah ada di tanganku. Jangan bertindak seolah-olah aku ini makhluk paling kejam di planet ini" lanjut suara itu dengan setengah bercanda.

"Maafkan aku" kata perempuan itu singkat.

"Tidak perlu" balas suara di belakangnya cepat. "Pergilah kalau kau mau dan kembalilah kemari kalau kau mau" lanjutnya lalu menutup mata. Dengan satu helaan nafas, ia memadamkan semua lilin di ruangan itu, menyisakan sebuah ruangan besar yang gelap gulita begitu pintu itu ditutup.


Kantor Kazekage

"Sebuah kehormatan bisa menyambutmu dan timmu di Sunagakure, Naruto-sama" Kazekage Gaara menerimaku dan teman-temanku dengan resmi di Gedung Kazekage. Aku mulai terbiasa dengan embel-embel 'sama' yang entah bagaimana langsung melekat di namaku. Di sisi lain, aku risih karena aku merasa belum pantas samasekali menyandang gelar begitu.

"Kudengar Styx mengacaukan perjalanan kalian" selidik Gaara. Aku mengangguk.

"Beleriphon membantu kami. Entah apa yang terjadi jika dia tidak datang" jelasku. Gaara manggut-manggut mengerti.

"Kami, saya sebagai Kazekage mewakili seluruh rakyat Sunagakure dan kemungkinan besar Kaze no Kuni akan menjamin keselamatan kalian selama berada di wilayah kami. Tambah lagi, aku telah menyuruh Kankuro-nii untuk memperketat penjagaan Suna dan Temari-nii juga telah mengirimkan satu batalion pasukan ke delapan penjuru mata angin. Kami berusaha sekuat tenaga untuk mencari 'Dia', karena bukannya tidak mungkin Dia berada di wilayah Kaze no Kuni yang paling pelosok sekalipun" jelas sang Kazekage panjang lebar. Dibalik wajahnya yang terkesan tenang dan pendiam, rupanya dia doyan bicara juga.

.

.

Segera setelah mendapatkan tempat menginap sementara, yang tentunya berada di lokasi teraman dan paling strategis, aku langsung menagih janji.

"Kakashi-sensei, bisa ajarkan aku jutsu elemen api dan tanah ?" Pintaku penuh harap.

Ia melirikku dengan ekor mata. "Kau masih lelah, Naruto-kun" katanya halus. Itu hanya sinonim dari penolakan halus.

Aku menggeleng. "Tidak ada waktu untuk bersantai-santai ! Dunia menantikanku ! Mereka pasti mengira pengendara Draco P adalah sosok yang jenius dan kuat yang belum pernah terlahirkan sebelumnya semacam ayahku atau Shodaime Hokage, bukan bocah ingusan yang ilmu pengetahuannya dangkal dan lemah sepertiku !" Geramku.

"Yaahh, ayahmu Namikaze Minato memang bertalenta sejak awal. Dia adalah Dracovetth hebat yang terlahir sekali ke dunia dalam beberapa generasi" Kakashi-sensei menerawang ke langit. Ia menatapku. "Bawa gulungan besar milik Jiraya-sama dan kita akan belajar dulu sebuah jutsu yang mungkin akan sangat membantumu sebelum menguasai elemental dasar dan Kagebunshin" perintahnya. Aku mengerutkan dahi. Sebelum belajar Kagebunshin aku harus belajar elemental, dan sebelum belajar elemental harus menguasai jutsu lain juga ?

Ugal-ugalan, kuambil gulungan raksasa milik Jiraya-sensei di kamarnya yang biasa ia bawa di pinggangnya. Kakashi-sensei membentuk segel, lantas menempelkan tangannya ke gulungan yang telah terbuka panjang itu.

Dari asap putih, muncul lima benda serupa kunai namun terlihat...lebih modern. Tiga mata pisau sekaligus dan sebuah kertas bertuliskan huruf kanji yang tidak begitu jelas di pegangannya.

"Hiraishin Kunai, senjata khusus yang dirancang sendiri oleh ayahmu, Yondaime Hokage. Senjata inilah yang membuatnya terkenal di seantero dunia sebagai Si Kilat Kuning" jelas Kakashi-sensei cepat. Aku meraih satu senjata itu dan menimang-nimangnya. Sedikit lebih berat daripada kunai pada umumnya.

"Apa fungsinya ?" Tanyaku.

"Aku tidak begitu yakin apa kau bisa melakukannya sebaik ayahmu, tapi kita coba saja" kata Kakashi-sensei tanpa bernada menjawab. "Lemparkan Hiraishin Kunai di tanganmu itu kesana" perintahnya sambil menuding sebuah batu besar di seberang, sekitar 10 meter dari tempatku berdiri. Aku bingung, tapi tetap kulakukan. Sekarang kunai itu menancap disana.

"Sekarang fokuskan pikiranmu ke kunai itu. Alirkan chakramu ke seluruh tubuh dengan proporsional yang tepat, dan tetaplah fokus ke kunai..."

.

.

.

"Sekarang BUKA MATAMU !"

.

.

Aku cengo. Dimana ini ? Aku menoleh ke kiri-kanan dan segera kusadari aku berada persis di depan batu besar itu, tepat diatas kunai yang tadi kulempar ! Aku menoleh ke belakang dan kulihat Kakashi-sensei mengacungkan jempolnya. "Aku tidak menyangka kau bisa melakukannya sebagus dan secepat itu, Naruto-kun. Tapi baguslah" pujinya.

"Ap-apa yang terjadi barusan, Kakashi-sensei ?" Tanyaku bingung.

"Itu adalah salah satu jenis Shunshin no Jutsu atau teknik teleportasi" jelasnya singkat.

"Teleportasi ? Maksudmu..."

"Tepat. Kau berkonsentrasi ke kunai itu dan sekarang kau berpindah tempat secara otomatis ke tempat dimana kunai itu dilempar. Itulah yang disebut Shunshin no Jutsu yang menggunakan Hiraishin Kunai sebagai perantaranya dan ayahmu-lah penemunya" urainya padaku.

"J-jadi, jika aku melemparkan kunai ini ke seberang gurun pun aku bisa tiba disana dalam sekejap seperti tadi ?" Tanyaku memburu. Dia mengangguk.

"Untuk seseorang yang masih amatir dan awam, kau belajar jauh lebih cepat dari kebanyakan, Naruto-kun" puji Kakashi-sensei lagi.

"Hehe, tidak kusangka aku ini seorang jenius" kataku pede sambil menggaruk kepala. Kakashi-sensei menggeleng.

"Sepertiga jenius. Dua pertiga kemauan untuk kerja keras" koreksinya. "Kurasa darah Yondaime Hokage mengalir kental dalam dirimu dan beliau kurasa juga menitipkan sebagian chakranya sehingga kau bisa dengan mudah menguasai Hiraishin no Jutsu, Naruto-kun. Ketika kau telah menguasai Kagebunshin, elemen angin, elemen api, elemen air, dan elemen debu, kau akan merasa dirimu jauh lebih pantas untuk bertemu Dia" tambahnya.

"Oke, selagi kita melatih Hiraishin no Jutsu-mu agar timing-nya tepat, kenapa kau tidak mencoba Kagebunshin no Jutsu ?" Lanjutnya.

"Sekalian melihat-lihat jutsu apa saja yang ada di gulungan itu, barangkali aku juga bisa menambah kemampuanku" sebuah suara mengejutkan kami.

"Shikamaru ? Sejak kapan kau disitu ?" Selidikku.

"Baru satu menit. Sudahlah, langsung ke intinya saja. Ayo buka gulungan itu" perintahnya sambil menguap.

Aku lantas mengeluarkan gulungan yang sedari tadi kusimpan di tas kecilku yang kubawa kemana-mana, termasuk ke lapangan latihan Suna waktu ini. Kakashi-sensei dan Shikamaru mendadak membelalakkan mata mereka.

"Aku tidak menyangka di ruang persembunyian rahasia orangtuamu di bawah tanah mereka ternyata menyimpan ini juga" kagum Kakashi-sensei.

"Ruang rahasia ?" Tanya Shikamaru penasaran.

"Ah, aku lupa bercerita padamu" kataku sambil menggaruk kepala. "Tapi sensei, ini tidak berasal dari ruangan itu. Sakura yang memberikannya padaku kemarin malam. Ngomong-ngomong memangnya ada apa dengan gulungan ini ?" Tanyaku penasaran.

Shikamaru dan Kakashi-sensei saling berpandangan. "Naruto" ucap Shikamaru. "Kau sudah tanya darimana Sakura mendapat gulungan ini ?"

"Dia bilang tidak usah tanya dari mana" kataku sekenanya. "Memang ada apa ?"

"Dasar orang baru" gerutu Shikamaru. Aku makin bingung.

"Naruto" Kakashi-sensei bersiap menjelaskan. "Ini salinan dari Dokumen Rahasia Sandaime Hokage, Sarutobi Hiruzen" katanya. "Dokumen Rahasia berupa gulungan semacam ini hanya ada di Konohagakure, dibuat sendiri oleh Sandaime Hokage dan berisi tentang rahasia jutsu-jutsu dunia yang selama ini ada, mulai dari Ninjutsu, Taijutsu, Genjutsu, Kenjutsu, Senjutsu, Gedojutsu, sampai Kinjutsu. Pada usia senjanya, Sandaime memperbolehkan penyalinan dokumen ini namun hanya terbatas pada lima gulungan. Tiga dari lima gulungan salinan itu ada di Konohagakure. Satu ada di Perpustakaan Besar Kumo, dan yang satu lagi berada di Kuil Api Chiriku" jelas Kakashi-sensei panjang lebar.

"Sejauh ini kita tidak menerima informasi bahwa salah satu dari lima gulungan –terutama dokumen yang asli, dicuri. Tidak ada yang hilang. Jika memang demikian bagaimana bisa Sakura, yang notabenenya kita kenal sebagai pengembara, mendapat gulungan ini ?" Selidik Shikamaru. "Terakhir kali kucek di seluruh perpustakaan dan akademi Konoha, semua masih ada" lanjutnya.

Dahiku berkerut. "Kita belum tahu darimana dia berasal" aku mencoba beralasan.

"Kalau dia dari Kumogakure, aku ragu dia mampu menghadapi Yondaime Raikage yang terkenal keras hati itu untuk sekedar meminjam gulungan sepenting ini. Jikalau dia dari Kuil Api Chiriku itupun mustahil, karena semua yang ada disana adalah biksu dan kau tahu ciri khas biksu, mereka semua botak" terang Kakashi-sensei.

"Kalau dia ternyata dari Konohagakure ?" Tanyaku.

"Kemungkinan besar" jawab Shikamaru. "Tapi itu masih belum bisa dipastikan karena ketiga salinan dokumen itupun masih ada di tempat. Kemungkinan dokumen yang kau bawa ini adalah hasil salinan ilegal" sambungnya sembari memberi penekanan pada kata 'ilegal'.

Aku meneguk ludah kecut. Ah, memang terdengar sembrono merekrut seseorang yang baru kau kenal semenit untuk ikut dalam perjalanan yang menentukan nasib dunia seratus tahun mendatang. Aku baru menyadarinya.

"Dari manapun kita melihatnya, kita masih belum bisa percaya pada Sakura-chan, setidaknya sementara ini. Kita tidak, atau belum tahu, darimana dia berasal, siapa orangtuanya, latar belakang kehidupannya. Apa kau percaya gadis seperti dia memang pengembara ?" Cetus Kakashi-sensei. Aku terdiam.

"Aku akan bicara padanya sore ini" kataku tegas. Kedua laki-laki cerdas di hadapanku menoleh. "Aku tahu tindakanku ceroboh, tapi akan kupastikan memastikan semuanya sebelum terlambat" sambungku. "Bisakah sekarang kita acuhkan soal Sakura dan fokus berlatih ?"


Gurun Pasir Besar Suna, 42 kilometer Timur Laut Kaze no Kuni

Pukul 16.00

"KONTAK, KANKURO-SAN !" Sebuah teriakan mengejutkan pria berambut coklat dengan riasan 'aneh' berwarna ungu di wajahnya.

"Dari siapa ?" Sergahnya sambil masih fokus ke depan.

"Bukan dari siapa" balas pria dengan penutup kepala serupa gorden jendela yang mensejajarkan naganya dengan naga kakak Kazekage itu.

Kankuro meliriknya curiga. Pria itu mengangguk.

"Berapa banyak ?" Tanya Kankuro akhirnya.

"Lebih dari lima puluh, dan mereka semua mengarah kemari" lapor pria itu sedikit gugup.

"Lebih dari lima puluh ? Kedengarannya kurang bagus" tanggap Kankuro masih tidak terlalu peduli.

"Apa yang akan kita lakukan ? Batalion disini hanya beranggotakan 50 orang dengan 28 naga Vereev, kita belum bisa memastikan spesies apa yang akan kontak dengan kita" desis pria itu.

"Baki-san !"

"Apa ?"

"Mereka datang ! Dari arah jam sebelas ! Tapi kelihatannya tidak terlalu besar" lapor rekannya yang lain. "Bagaimana, Baki-san ? Kankuro-san ?" Lanjutnya menunggu kepastian dari dua atasannya.

"Tunggu saja, jangan buru-buru ubah haluan. Siapa tahu mereka hanya kawanan naga yang bermigrasi" perintah Kankuro santai. Tapi hanya sepuluh detik kemudian, raut wajahnya berubah total begitu mengenali siapa yang mereka hadapi. Walau mereka masih cukup jauh, jangan pernah remehkan pandangan mata Dracovetth Kaze no Kuni.

"Tidak mungkin" desis Kankuro gugup. Ia memeriksa dengan teropongnya berkali-kali.

"Zechuan" desis Baki. Kankuro mengangguk.

"Aku belum pernah melihat mereka melintasi teritorial Kaze no Kuni ! Bukankah mereka spesies yang tidak toleran pada suhu panas ? Dan lagi, tidak ada yang pernah melihat kawanan Zechuan sebanyak itu dalam satu waktu" kata Kankuro dengan suara sedikit gemetar.

"Kita harus pergi" sambungnya. "Perintahkan seluruh batalion ini untuk mengubah jalur kembali ke Sunagakure sekarang !" Serunya keras.

"KANKURO-SAN, AWAS !"

BUK ! Sayap kiri Vereev yang dikendarai Kankuro ditabrak oleh seekor Zechuan yang melesat vertikal dari atas menembus awan ke bawah. Naga berwarna merah itu kini oleng. Ia membuka mulut dan menyemburkan api jarak jauh, berusaha mengenai Zechuan yang terbang lebih gesit.

"Kankuro-san !" Seru Baki sambil memecut Vereev-nya.

Zechuan itu membuka mulut lebar-lebar ke Vereev Kankuro. Tamat sudah. Bayangkan seekor Tyrannosaurus rex dengan lengan diperbesar dan diberi cakar sabit, sepasang sayap di punggung, dan letakkanlah kerangkanya diluar tubuh (menjadi sebuah perisai tulang yang melindungi kulit), jadilah Zechuan. Mustahil api biasa bisa membunuhnya. Dan yang paling ditakuti dari naga jenis ini adalah...

Dia menyemburkan sinar gamma beradiasi tinggi ke korban, yang langsung memecah sel-sel tubuh mangsa dalam hitungan sepersekian detik, membuat korban malangnya berubah menjadi mumi.

Beruntung sekali, kali ini Kankuro berhasil menghindar dengan bersembunyi dibalik sayap naganya. Ia segera melompat ke Vereev Baki, dirinya sendiri selamat, tidak dengan naganya yang berubah menjadi tulang belulang dalam waktu lima detik.

Zechuan mengalihkan pandangan ke keduanya, dan bersiap menembak mereka lagi setelah mengangakan mulutnya, tapi...

BAATTSS ! ! !

Seorang Dracovetth dengan rambut merah pendek, berkulit putih dan berpostur agak...kecil, berhasil menebas naga eksoskeleton itu dengan pedangnya hingga kepalanya terpisah dari lehernya.

"Sasori-san !" Seru salah satu prajurit.

"Apa aku terlambat ?" Desis pria bermata coklat itu santai begitu berhasil mendarat lagi di Vereev-nya.

"Tidak, Anda tepat waktu" jawab Baki. "Terimakasih banyak".

Sasori Si Pasir Merah, Akasuna no Sasori. Dia disebut-sebut sebagai salah satu dari lima Dracovetth dan tokoh paling hebat dalam sejarah Sunagakure setelah para Kazekage. Pemburu naga dan prajurit patroli gurun yang sangat tangguh, ia menghadapi banyak naga buas seperti menyembelih ayam. Sangat dikenal karena wajah datar dan sedikit 'babyface' serta sikapnya yang tidak sabaran dan tidak suka menunggu atau ditunggu, sehingga ia selalu tepat waktu.

Dibalik semua itu, Sasori cukup...pendek...untuk seorang prajurit profesional. Oke, abaikan fakta itu, lagipula ada segudang kelebihan darinya untuk menutupinya.

"Cih, lebih dari 50 Zechuan...lebih merepotkan daripada perkiraanku" gerutunya begitu menyaksikan kedatangan naga-naga yang lain. "Apa sebenarnya tujuan mereka, Baki-san ?" Ia beralih ke atasannya.

Baki menggeleng. "Kami belum pernah lihat yang seperti ini. Bagaimanapun, karena mereka menyerang, kita harus pertahankan diri kita sebisa mungkin, walau kecil kemungkinannya" lanjutnya.

"Sasori-san, kurasa sebaiknya kita mundur dan memperingatkan desa. Aku tahu kau Dracovetth yang cukup handal dan tangguh, tapi mengingat banyaknya jumlah dan siapa mereka, kusarankan..."

"Aku sudah tahu, Baki-san" potong Sasori sebelum seniornya sempat menjelaskan lebih lanjut. "Akupun berpikir demikian. Kita akan peringatkan desa" lanjutnya. "Apa Draco P sudah ada disana ?"

"Kurasa begitu" jawab Kankuro.

"Itu buruk".


Menara Utara Hotel Pusat Suna

Pukul 17.30

Aku berdiri di depan kamar nomor 076. Sejak lima menit lalu.

Bukan tanpa alasan.

Gagang pintu akhirnya bergerak. Aku mengambil sikap.

Pintu berwarna coklat dengan desain sederhana namun elegan itu terkuak, menampakkan sosok Dracovetth berambut pink yang masih dibasahi beberapa butir air di ujungnya. Wajah dan kedua mata ermeland-nya tampak segar. Sepertinya dia baru saja mandi.

Sakura gelagapan begitu mengetahui aku berdiri persis di depan kamarnya.

"N-Naruto ? Ada perlu apa ?" Selidiknya terkejut.

"Kita harus bicara" kataku tegas. Tegas yang dibuat-buat.

Dia mengernyitkan dahi. Tumben sekali aku bicara langsung ke inti. Aku mendehem. "Di lantai atas...sekarang..." kataku memberi isyarat lalu berjalan ke tempat yang dimaksud. Sakura mengikutiku dari belakang.

.

.

"Sakura" aku akhirnya memulai pembicaraan setelah sekitar tiga menit sama-sama diam di puncak tertinggi hotel itu, dimana kami berdua bisa leluasa menyaksikan pemandangan senja Sunagakure yang indah berpadu dengan hembusan angin sepoi-sepoi khas padang pasir yang jarang kami nikmati.

Dia menoleh. "Sekarang kau adalah timku" aku memulai.

"Jadi seharusnya kau percaya aku bisa menyimpan semua rahasiamu seperti kau menyimpan semua rahasiaku. Pengendara Draco P jadi incaran banyak orang, kau tahu kan" aku memulai siasat. Sakura mengangguk.

"Kau ingin aku bercerita rahasiaku ?" Selidiknya setengah bercanda.

"Bukan begitu...maksudku ayolah ! Aku, dan kami semua samasekali tidak tahu latar belakangmu. Dari mana kau berasal ? Sejak kapan kau mengembara ? Kedua orangtuamu ? Dari mana kau belajar semua ninjutsu dan teknik pedang itu ? Dan yang terpenting..."

"...dari...mana...kau mendapatkan gulungan jutsu Sandaime Hokage itu...?" Aku mulai memberondong dengan pertanyaan. Sakura bungkam.

"Kau benar-benar ingin tahu ?" Dia balik bertanya. Aku mengangguk.

"Dan kali ini pastikan kau menjawabnya dengan benar. Aku tidak terima jawaban 'jangan tanya'" ancamku serius. Walau bisa dibilang, jika Sakura adalah seorang perampok dan aku adalah korbannya, aku pasti tidak berdaya.

Sakura menarik nafas, berusaha mempersiapkan ceritanya. Kutajamkan pendengaranku dan berusaha meyakinkan setiap kata-kata yang akan keluar dari mulutnya guna menganalisa apakah dia berdusta atau tidak.

"Ayahku Haruno Kizashi dan ibuku Haruno Mebuki. Mereka berdua dari marga Haruno, bukan klan manapun. Kami tinggal di Hi no Kuni bagian Selatan" dia memulai cerita.

"Dari lahir sampai dua tahun lalu, aku hanya anak remaja biasa. Pekerjaanku sehari-hari ya hanya itu-itu saja, membantu orangtua, menjaga kebun, mengerjakan apa saja yang bisa kukerjakan. Sampai saat aku berusia empat belas tahun, semuanya berubah" ia menerawang ke langit. Aku menahan nafas.

"Para Pembantai Bersayap..."

"...datang ke desa kecilku..."

"...mereka merusak semuanya. Kebun pohon sakura yang menghiasi sekeliling rumah kami berubah menjadi obor api yang mengerikan. Sungai kecil jernih yang membelah lembah dangkal kami berubah menjadi sungai lava dan darah. Orang-orang, mereka semua lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Mereka berebut menaiki naga desa yang tersisa dan pergi atau kabur lewat jalur bawah tanah desa".

"Tapi kebanyakan tidak seberuntung itu. Lahir di rumah kecil namun indah dan dikelilingi wajah-wajah sukacita dan penuh harapan, dan mati mengenaskan di mulut penggilas para Pembantai Bersayap dengan teriakan yang memilukan".

"...ayah dan ibuku termasuk yang itu".

Ia menghentikan ceritanya sejenak, berusaha membuang sisa-sisa kesedihan di wajahnya sekaligus mengumpulkan ingatan tentang kejadian tragis yang tidak pernah kuketahui itu.

"Aku tidak pernah bisa melupakan hari itu, malam itu, jam itu, menit itu, detik itu. Naga itu. Seekor Wyvern dari Utara mendobrak masuk dan menghancurkan rumah kami. Ayahku berusaha melindungi ibuku tapi ia segera berubah menjadi abu. Ibuku melemparku dengan paksa ke luar, hingga aku berlari secepat yang kakiku bisa entah dalam keadaan sadar atau tidak. Samar-samar aku mendengar atau melihat seorang perempuan berambut kuning yang ditelan masuk ke mulut naga ganas itu dan semuanya selesai".

"Aku sungguh menyesal. Merutuki diriku sendiri dan terus menyumpahi kenapa kehidupan yang kucintai, dimana aku tidak merasakan sedikitpun penyimpangan di dalamnya, malah hancur tak bersisa. Bandingkan dengan kehidupan para pemabuk dan pembinasa itu, mereka-mereka yang menindas orang lemah dan memperkaya diri dengan semua harta haram mereka. Kenapa tidak mereka saja yang musnah ?!" Desisnya geram. Giginya bergemeletuk.

Aku meneguk ludah. Sakura pasti sudah menyaksikan bahkan mungkin secara langsung bagaimana orang-orang tak berperasaan itu memanfaatkan apa yang telah diamanahkan pada mereka untuk sesuatu yang benar-benar tidak pantas.

"Sejak saat itu aku hidup untuk diriku sendiri. Yang ada yang kukenal hanya diriku dan diriku. Aku menemani diriku sendiri, aku adalah ayah dan ibu bagi diriku sendiri, kakak dan adik bagi diriku sendiri, teman dan musuh bagi diriku sendiri" sambungnya pelan. "Ketika aku bertemu denganmu, Naruto. Aku merasa inilah tujuanku. Mungkin ini alasan kenapa aku harus mengembara. Akhirnya bertemu dengan seseorang yang sama-sama sedang mencari jati dirinya di dunia yang masih rapuh dan labil ini, aku memutuskan untuk membantumu mencari kunci perdamaian dunia dan mengakhiri semua kekerasan ini, menyelamatkan dunia dari kegelapan dan membebaskan diri dari naungan sayap para iblis..." jelasnya panjang lebar.

Kalau sudah sampai sini, sulit bagiku menilai apakah dia jujur atau bohong. Sangat sulit.

"Soal gulungan Sandaime ?" Aku masih berusaha mengikuti jalannya rencana. Ini tidak boleh gagal.

"Aku pernah ke Konohagakure. Pernah ke perpustakaan besar di desa itu juga. Aku pernah meminjam salah satu salinan resmi gulungan itu dan menyalin semua isinya dengan persetujuan salah satu pihak perpustakaan. Itu menjadi milikku pribadi, sudah kutangguhkan tidak akan kuserahkan atau kuberitahukan pada siapapun, tapi karena kau adalah Draco P, jangankan memberitahu salinan, menunjukkan yang asli pun kupikir tak masalah" jawabnya.

"Begitu ya ?" Aku berusaha meyakinkan. Dia mengangguk.

"Kau tidak percaya padaku ?" Balasnya. Aku terdiam. "Kita semua sama-sama hidup dibawah naungan sayap para iblis, Naruto. Uchiha Madara di luar sana...akan melakukan apapun sampai ambisinya terwujud. Kita harus menghentikan itu terjadi atau semua akan berakhir. Semua" katanya tegas.

Angin berdesir pelan. Membawa debu dan pasir gurun melewati kami tanpa kami sadari. Aku menatap helaian rambut pinknya yang berkibar diterpa angin. Senja mulai surut dihiasi nuansa merah yang mengiringi matahari ke tempat peristirahatan terakhirnya untuk jadwal hari ini, membiarkan bulan menggantikannya mengawasi langit malam.

Aku menatap mata ermelandnya yang tetap bersinar teguh, melambangan kekuatan tekad yang terbungkus rapi di dalamnya.

Kurasa kami akan menemukan diri kami masing-masing di perjalanan yang panjang ini, walau aku tahu kami baru memulainya. Tidak, tidak hanya Sakura dan aku, tapi juga teman-temanku seluruhnya.

.

.

KLOTAK

.

Sebuah benda berbentuk nyaris bulat seperti bola menggelinding ke dekat kaki kami berdua.

Sebuah tengkorak.

"Baiklah, ini benar-benar mengerikan, kawan-kawan" sahutku malas. "Keluarlah !" Seruku tanpa menoleh ke belakang.

.

Tak ada jawaban. Sakura berbalik. Sedetik kemudian dia menyikutku. Aku membalikkan kepala malas.

.

.

.

Bersambung . . . . . . .


Author's Note (2):

Chapter 6 selesai ! Fuuh, akhirnya sempat update juga, khikhikhi...

Bagaimana, readers ? Terkesan dengan kemampuan Naruto-sama kita ? Sama, saya juga (*plak*). Oke, disini kita mengenal satu lagi naga dewa yaitu Beleriphon. Naruto terungkap kemampuannya dengan Jinton walau belum dia kuasai dan kita sekarang mengetahui masa lalu Sakura.

Soal percakapan misterius di desa rumput tersembunyi, mungkin baru akan terungkap pada beberapa chapter kedepan, karena masih lumayan banyak tokoh yang rencananya akan saya tampilkan, walau mereka tidak ikut dalam perjalanan Naruto dan kawan-kawan, baik itu protagonis maupun antagonis, maupun yang berkepribadian ganda ! Adakah pair lain selain Naruto ? Hmm, saya rencananya sih, mau bikin pair lain ! Siapa dan siapa, tunggu saja ! Hihi, saya terinspirasi tentang gulungan ninjutsu itu dari Naruto episode pertama animenya, dan Bingo Book of Dragons adalah 'duplikat' dari Buku Bingo yang berisi kategori shinobi berbahaya dan buronan seperti di animenya.

Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !

See you again in chapter 7 !

-Itami Shinjiru-


-Dragons List in Chapter Six :

Beleriphon (Naga OC, diambil dari nama salah satu pahlawan besar mitologi Yunani, Beleriphon)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 7,7 meter, berat 777 kg

Kecepatan terbang : 100-650 km/jam

Spesial : Dapat menyalin nyaris semua unsur dari benda yang dikehendaki, menjadi duplikat yang nyaris sempurna

Tipe serangan : Menembakkan Jinton (elemen debu), memecah target menjadi sekecil kepingan molekul

Kategori : Dewa

Elemen spesial : -

Level bahaya : Tinggi

Pemilik : Tidak ada

Vereev (Naga OC)

Strength : Medium

Ukuran : Panjang 10 meter, berat 1 ton

Kecepatan terbang : 40-90 km/jam

Spesial : Ekor panjang berduri, semburan dengan jarak sangat jauh (jarak serang hingga 100 m)

Tipe serangan : Menembakkan api yang dua kali panas api biasa

Kategori : Angkasa

Elemen spesial : -

Level bahaya : Medium

Pemilik : Naga ini adalah tunggangan umum skuad patroli udara Sunagakure (Kankuro, Baki, Sasori, Yuura, dll)

Zechuan (Naga OC)

Strength : Tinggi (Untuk setiap nyawa)

Ukuran : Bervariasi antara panjang 9 meter dan berat 1 ton hingga sepanjang 23 meter dan berat 9 ton

Kecepatan terbang : 10-165 km/jam

Spesial : Memiliki perisai tulang, cakar sabit, ekor berbentuk sabit raksasa

Tipe serangan : Menembakkan sinar gamma hijau beradiasi tinggi, mencerai-beraikan daging dan sel-sel korban

Kategori : Mirakel

Elemen spesial : Radioaktif

Level bahaya : Gila

Pemilik : Tidak diketahui