Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody" dari Eragon dan How to Train Your Dragon.
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.
Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Typo, Death Chara
Pair : Possibility NaruSaku as first
Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance
Author's Note :
Jumpa lagi di chapter 7, readers ! Maaf ya baru bisa publish sekarang, soalnya kemarin lagi error jadi gak bisa unggah dokumen (malah curhat).
Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima.
Kali ini petualangan Naruto dan timnya berlanjut di Kaze no Kuni, desa Sunagakure. Serangan mendadak dari naga-naga berkekuatan radioaktif dengan perisai tulang dari luar memaksa batalion Kankuro untuk kembali ke Suna dan mengabarkan hal tersebut pada seluruh penduduk desa, tak terkecuali, Gaara sang Kazekage dan Naruto serta timnya.
Rahasia para naga termasuk rekan Naruto yang sedikit misterius, Sakura, telah mulai terungkap, namun masih menyisakan misteri disana-sini. Oya, banyak diantara readers yang ingin mengetahui apakah Naruto punya tunggangan selain Draco P. Soal itu, AKAN TERUNGKAP DI BAB INI ! Naga jenis apakah yang dipilih (atau memilih) Naruto untuk menemani perjalanan besarnya ? Terus ikuti Paradox dan sekali lagi terimakasih atas segala review, follow, fave, dan arigato pula bagi yang mau PM saya ! Saya akan terus berusaha untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas fic ini dari bab ke bab (*hormat*).
Oya, ada yang penasaran soal kategori Strength atau kekuatan para naga ? Berikut saya tampilkan :
DRAGON STRENGTH
Based on Bingo Book, Books of Dragons
-Diukur oleh Nidaime Hokage, Senju Tobirama, dan dijadikan Sistem Internasional berdasarkan sebuah meriam khusus buatan Nidaime Hokage.
CATEGORY 1: WEAK
-Hanya perlu 10 tembakan meriam Tobirama untuk membunuhnya. Biasanya naga berukuran kecil atau sedang atau yang tidak memiliki perisai. Hanya sekitar 5 persen spesies naga berada di kategori ini.
CATEGORY 2: SEMI-MEDIUM
-Perlu 20 tembakan meriam Tobirama untuk membunuhnya. Hanya sekitar 10 persen dari seluruh naga.
CATEGORY 3: MEDIUM
-Perlu 35 tembakan meriam Tobirama untuk membunuhnya. Berlaku pada sekitar 20 persen naga.
CATEGORY 4: SEMI-HIGH
-Memerlukan 50 hingga 70 tembakan meriam Tobirama untuk membunuhnya. Berlaku pada 15 persen spesies naga.
CATEGORY 5: HIGH
-Memerlukan antara 100 sampai 120 tembakan meriam Tobirama untuk membunuhnya. Mencakup hingga 30 persen spesies naga.
CATEGORY 6: VERY HIGH
-Perlu hingga 200 sampai 300 tembakan meriam Tobirama untuk membunuhnya. Mencakup 7,9 persen spesies naga.
CATEGORY 7: EXTREME
-Bisa bertahan dengan tembakan meriam Tobirama diatas 500 kali. Beberapa mencapai lebih dari 1.000 kali. Mencakup 12 persen spesies naga termasuk Etatheon.
CATEGORY 8: ETERNAL/UNDEAD
-Tidak bisa mati hanya dengan tembakan meriam Tobirama, bertahan dari segala jenis serangan sekuat apapun. Hanya dua jenis naga yang diketahui termasuk golongan Eternal, yakni Paradox dan Ortodox.
Enjoy read chap 7 !
PARADOX
Chapter Tujuh :
Kurama
Sakura menyikutku. Aku menoleh ke belakang dengan malas.
.
.
.
Tampak olehku seorang perempuan berambut kuning dengan empat kucir, mata berwarna hijau tua kebiruan, berkulit putih, dan membawa sebuah benda dari metal berbentuk persegi panjang di punggungnya. Sepertinya dia 'petinggi' Sunagakure.
"Sudah kuduga. Lekaslah, makan malam sudah siap. Kupikir pengendara Draco P sepertimu tidak ada waktu untuk kencan dadakan dengan seorang gadis yang kau temui di perjalanan melainkan terus berlatih dan mengasah kemampuan" sindirnya. Aku mengernyitkan dahi.
"Kami tidak kencan" Sakura lebih dulu menjawab. "Apa maksudnya ini ?" Ia menuding sebuah tengkorak di dekat kakiku.
"Oh, itu" perempuan di depan kami menggaruk kepala kikuk. "Sepertinya itu properti jendela hotel. Mungkin aku tadi terlalu keras banting pintu sampai dia lepas dari tempatnya dan menggelinding ke situ" jelasnya.
"Namaku Temari, kakak Kazekage Gaara dan Komandan Kankuro" lanjutnya memperkenalkan diri.
"Sepertinya adik Anda sedang berada dalam masalah, Temari-san" celetuk Sakura tiba-tiba. Kami berdua kompak mengalihkan perhatian kepadanya.
"Darimana kau tahu ?" Selidikku curiga.
Sakura menuding langit. Di arah yang berlawanan dengan kami, dia menunjuk area udara arah Timur Laut. Tampak, walau sedikit samar, kami bisa melihat beberapa jejak asap merah.
"Itu asap merah. Kode merah" jelas Sakura singkat. Temari menelan ludah kecut.
"Sesuatu yang buruk terjadi" timpalnya. Ia melirik kami berdua. "Cepat ! Turun dan kabari semua. Aku akan menyusul" ia bersiul keras, memanggil salah satu Vereev, lalu dengan sekali gerakan ia melompat ke punggungnya dan memecut naga itu, terbang cepat ke sumber tanda.
Aku melihat dari kejauhan. Kawanan patroli itu sepertinya tinggal beberapa ratus meter dari wilayah udara inti Sunagakure. Di belakang mereka, tampak beberapa objek asing yang entah karena aku belum pernah melihatnya atau karena masih terlihat begitu jauh, aku tidak mengenali mereka.
"Ayo, Naruto" Sakura menggenggam tanganku tanpa menunggu persetujuanku lantas berlari ke hotel.
.
.
.
.
"SUNA DISERANG ! SEMUA SKUAD AMBIL POSISI BERTEMPUR ! MUSUH KITA KALI INI ADALAH KAWANAN ZECHUAN ! YANG TERPENTING, LINDUNGI KAZEKAGE DAN DRACO P !"
Itulah seruan yang terdengar berkali-kali lewat megaphone yang disampaikan para prajurit dinding dalam yang berlalu-lalang menggunakan beberapa Vereev yang tersedia.
Orang-orang lari tunggang-langgang. Mereka (terutama yang berpengalaman atau berwawasan luas soal naga) makin panik begitu mengetahui yang menyerang desa kali ini adalah sekelompok Zechuan. Melihatnya sama saja dengan melihat kematianmu sendiri !
"Naruto-sama !" Seru Gaara memanggilku. "Bawa ini" ia menyerahkan sebuah kunci padaku. "Pergilah ke kantorku dan geser cermin di sebelah meja kerjaku 90 derajat ke arah kiri, kau akan mendapati sebuah pintu terkunci di bawah kakimu. Gunakan kunci itu untuk membukanya dan bersama timmu, masuklah ke ruangan bawah tanah Kazekage ! Itu tempat teraman di seluruh desa. Tunggulah disana, atau kalau perlu pergilah dari Suna sementara kami menghabisi mereka di luar sini" perintahnya sambil melepas seragam jubah kebesaran Kazekage berikut topinya, meninggalkan sebuah rompi abu-abu dan setelan berwarna merah tua.
Ia mengambil sebuah gentong yang terlihat berat lalu memakai sepatu.
"Anda akan bertarung juga, Kazekage-sama ?" Selidik Kakashi-sensei terkejut. Gaara mengangguk.
"Kau tentu tidak akan berpikir aku akan ikut berdiam di ruang bawah tanahku sementara para prajurit di luar sini mati-matian mengorbankan nyawa, bukan ?" Balasnya.
"TIDAK !" Seruku keras-keras. Kini semua perhatian tertuju padaku.
"Aku tidak akan membiarkan kalian mati sia-sia hanya untuk orang sepertiku !" Seruku keras-keras.
"Jangan bodoh, Naruto !" Pekik Hinata sebelum aku meneruskan. "Kau adalah orang nomor satu di dunia sekarang ! Camkan itu dan berusahalah untuk lebih mengkhawatirkan keselamatan dirimu seperti kami mengkhawatirkan keselamatan dirimu !"
"Masa bodoh !" Tentangku. "Mereka menginginkanku ! Masa aku harus berada di tempat teraman di desa sedangkan kalian semua berusaha keras melindungiku, yang pada dasarnyapun tidak tahu apakah bisa bertahan hidup sampai usia dua puluh lebih atau tidak !"
"Lantas kau mau apa ? Pergi keluar dan berteriak-teriak mengumumkan keberadaanmu dan mati konyol menjadi abu ?" Desis Sasuke sarkastik.
"Aku tahu kau tidak suka orang lain mengorbankan nyawa mereka untuk nyawamu, Naruto-kun ! Tapi lihatlah kenyataanya. Orang-orang besar, orang-orang hebat, atau orang-orang yang nantinya akan menjadi orang hebat dan besar dapat bertahan hidup dengan pengorbanan orang lain, yang tentunya tidak akan sia-sia begitu saja" Lee menambahi.
Aku menghela nafas. Ledakan terdengar di luar. Mereka sudah sampai.
Gaara memegang pundakku. Mata aquamarine pucatnya menatapku datar. Aku tertunduk.
"Terserah kalian" kataku akhirnya. "Tapi Gaa-eh, Kazekage-sama, berusahalah untuk mendapatkan seminimal mungkin korban" kataku pelan.
Ia menepuk bahuku dan tersenyum. "Kau akan terkejut begitu kami selesai, Naruto-sama" balasnya.
"Kalian duluan saja. Aku harus mengambil para naga kita yang kutitipkan di Chrysler dekat sini. Aku akan menyusul" cetus Jiraya-sensei.
.
.
PERJALANAN KE KANTOR KAZEKAGE tidak semulus yang kukira, terlebih karena kami berlari di tanah. Para naga penyamun itu berhasil menerobos masuk lebih jauh dari perkiraanku.
"Untuk menghadapi Zechuan, kau wajib menguasai elemen tanah, elemen kristal, atau elemen besi dengan baik. Itu untuk membuat dinding perlindungan dari sinar radioaktifnya. Naga ini punya kelemahan di tiap serangan yang dia tembakkan. Walau sinar gamma bisa mengubah manusia utuh menjadi tulang belulang dalam waktu tiga sampai empat detik, jarak serang sinar itu hanya sampai radius maksimal 10 meter. Dan jika seekor Zechuan sudah menembakkan sinarnya, sekali tembak memerlukan waktu minimal lima detik sebelum ia bisa mengakhiri serangan pertama dan memulai yang kedua. Manfaatkanlah jeda lima detik itu untuk lari sejauh mungkin" jelas Kakashi-sensei pada kami semua.
"Kenapa tidak kita habisi saja dia dalam jeda waktu itu ? Lima detik sudah cukup kan ?" Tanya Kiba.
"Tidak. Kebanyakan peneliti naga hanya fokus pada penelitian soal serangan dan mengabaikan kemampuan lain. Zechuan punya itu. Dia memiliki tujuh nyawa. Dan dia baru bisa mati jika dipenggal kepalanya. Itu sama saja kita harus membunuhnya tujuh kali, dan tiap nyawa yang bangkit akan lebih waspada dari yang sebelumnya. Kita harus menghentikan pergerakannya dengan memotong sayap, kaki, dan ekornya jika ingin memenggalnya. Itupun kalau pedang kita tidak tumpul duluan berbenturan dengan perisai tulangnya atau isi perut kita sudah berceceran duluan ditebas sabit raksasa di ujung ekornya itu" jawab Sasuke.
"Kedengarannya menyusahkan" komentar Shikamaru.
"Lebih menyusahkan lagi karena ada satu yang mengarah ke kita" sambung Chouji.
Kami langsung berhenti. Hanya sembilan meter di depan, seekor Zechuan sudah bersiap. Ia mengangkat ekornya tinggi-tinggi, lalu menarik napas. Kakashi-sensei membentuk handseal dengan cepat. Tepat waktu ketika semburan sinar hijau itu keluar dari mulut naga itu, sebentuk dinding yang tebal muncul dari tanah dan menghalau serangan. Kakashi-sensei menghentakkan kedua tangannya, membuat dinding itu bergerak maju dengan cepat hingga menabrak si Zechuan yang masih berusaha menyembur hingga membentur sebuah bangunan.
"Cepat !" Serunya mengomando begitu naga buas itu tidak bergerak lagi. Tapi...
BUM !
Seekor lagi Zechuan –kali ini dua kali lebih besar daripada yang pertama, mendarat tepat dari langit di depan kami. Mulutnya berasap dan mengeluarkan bau yang aneh, sebelum kusadari itu adalah semacam bahasa tubuh untuk drama penembakan. Sial...kalau dari jarak sedekat ini, tidak ada yang punya cukup waktu untuk membentuk handseal !
BUUMMM ! ! ! Mendadak seekor Bryptops jatuh dari langit dan menindih Zechuan itu sebelum ia sempat menyembur. Jiraya-sensei segera melompat dari naga besar itu dan membuka gulungan raksasanya, memunculkan sebuah pedang besar dan dengan sekali ayun, ia memenggal kepala naga yang masih tidak bergerak itu.
.
.
"Sebentar ! Naga-naga kita takkan muat masuk ke ruang bawah tanah Kazekage, kan ?" Seruku setelah kami mulai dekat dengan tujuan.
"Lalu ?" Sambung Jiraya-sensei tak acuh.
"Apa kita akan meninggalkan mereka begitu saja di luar bangunan ?!" Sentakku.
"Bisa jadi" jawab Jiraya-sensei.
"Kau bercanda ! Mereka akan jadi tulang begitu kita keluar !" Seruku tak setuju.
"Lalu kau mau apa ? Aku sendiri juga bingung apa yang harus kita lakukan untuk tunggangan-tunggangan kita ini ! Kecuali Gorongosa, karena dia bisa merubah diri menjadi seliter air, dia bisa masuk, tapi aku juga bingung tentang mereka semua !" Sahut Jiraya-sensei. "Jangan kaupikir akupun tega meninggalkan mereka di luar !" Sambungnya.
Seekor Zechuan mendadak menghadang kami. Ia menyemburkan sinar gamma-nya, tapi untungnya kurang cepat sehingga kami semua bisa menghindar. Gorongosa melemparkan Shikamaru, Ino, dan Chouji ke Bryptops yang kutunggangi, sementara naga air itu segera melilit tubuh naga itu dari belakang dengan ekornya, lalu membantingnya sekeras mungkin ke tanah. Begitu keras sehingga beberapa bagian dari perisai tulangnya terlepas.
Satu berhasil disingkirkan, dua yang lain dari arah Timur terbang cepat menuju kami. Kakashi-sensei terus berusaha mengendalikan Gorongosa-nya, sibuk menghindar dari dua tembakan radioaktif naga-naga itu lalu kembali melilit salah satu Zechuan dan melemparkannya mengenai Zechuan yang lain, membuat mereka berdua jatuh berdebum ke tanah.
"KAKASHI-SENSEI, DI BELAKANG !" Pekik Ino panik.
Seekor Zechuan tanpa bisa dicegah lagi menembakkan sinar hijaunya tepat ke arah naga dan pengendaranya, yang untungnya sudah menyemburkan air yang cukup banyak, membentuk dinding air yang menghalau serangan naga berperisai itu. Di belakang, seekor lagi melesat, ekor sabitnya yang tajam langsung mengenai ekor dan kaki belakang Gorongosa, tapi naga itu baik-baik saja setelah sempat berubah menjadi air.
"Gorongosa tidak terlalu terpengaruh oleh tembakan gamma karena dia bisa berubah menjadi air, tapi Kakashi tetap harus hati-hati" cetus Jiraya. "Tembak, kawan !" Titahnya pada naga yang kunaiki ini. Sebentuk bola hitam langsung melesat dan tepat mengenai salah satu Zechuan, memberi kesempatan Kakashi-sensei untuk mengendalikan naganya untuk pergi secepatnya dari situ.
"Sialan, mereka banyak sekali" gerutu Kiba frustasi begitu menyaksikan naga-naga itu terbang lagi.
"Kurasa bukan masalah jumlah, bahkan mereka tetap merepotkan walau hanya seekor. Mereka punya tujuh nyawa, apa lagi yang lebih menyusahkan daripada seekor naga yang kuat dan cepat beserta tujuh kesempatan hidup ? Mereka akan terasa seperti seratus walau hanya sepuluh" cetus Shikamaru.
"Prioritaskan keselamatan ! Zechuan tidak terbang terlalu cepat di udara panas begini, kita menang dalam kecepatan ! Sekarang yang harus kita lakukan adalah mencapai Kantor Kazekage terlebih dahulu !" Komando Sasuke –yang entah sejak kapan jadi mirip mandor, walau akhirnya kami juga pergi dari situ dan berusaha mengabaikan kawanan naga yang mirip zombie itu.
Tapi kenyataanya mereka tidak bisa dienyahkan.
"Dasar naga aneh, rasakan ini kalian !" Seru Jiraya. Ia mengomando semua naga di pihak kami untuk menghimpun kekuatan masing-masing, dan begitu jarak kami telah dirasa cukup dekat, merekapun menembakkan semuanya. Asap panas, serbuk bunga, bom hitam raksasa, dan semburan air serta api menimbulkan kegaduhan di langit tepat diatas jantung Desa Sunagakure.
"Itu akan memberi kita cukup waktu" desis Jiraya-sensei lalu kembali mengomando semua naga untuk melesat secepat mungkin menuju Kantor Kazekage.
Tapi kepakan sayap di belakang masih saja terdengar.
Aku menoleh ke belakang. Bryptops yang kutunggangi bersama Jiraya-sensei, Sasuke, Shikamaru, Chouji, dan Ino berada pada urutan paling belakang, jadi...paling terancam.
Seekor Zechuan berukuran sedang membuka mulut lebar-lebar. Begitu lebar, hingga kedua rahangnya membuka nyaris vertikal. Cahaya hijau berpedar, bermain-main di mulutnya yang menganga seperti gua itu, tepat sebelum...
.
.
CRAK !
Sekelebat bayangan bergerak sangat cepat dari atas, dengan mudahnya memisahkan kepala naga itu dari tubuhnya yang segera jatuh ke tanah. Sosok berjubah hitam itu menapak mayat sementara Zechuan yang baru dipenggalnya (mayat sementara, karena dia akan pulih lagi) dan ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Sekejap saja, benang-benang chakra keluar dari kelima jarinya, mengaitkannya ke salah satu Zechuan dan ia segera tertarik ke atas. Mirip sebuah harpun yang ditembakkan ke tubuh paus buruan.
Begitu ia sampai di punggung naga itu, sosok berjubah hitam itu langsung berlari cepat ke ujung leher naga malang itu dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya tadi. Seekor lagi Zechuan menyeruduk, tapi satu-satunya yang ia seruduk hanya mayat sementara rekannya sebelum kepalanya ikut bernasib sama. Orang ini benar-benar hebat, ia menghabisi tiga Zechuan dalam waktu setengah menit !
Satu Zechuan yang tersisa –yang paling besar, mengamuk dan menembakkan sinar radioaktifnya dengan membabi-buta. Orang itu menyambutnya dengan santai dan dengan mudah menghindari serangan, lantas mengaitkan benang-benang chakra dari jari-jarinya tepat ke pangkal rahang bawah sebelah kiri naga itu, bergelayut di bawahnya, memperpendek jarak dengan mengurangi panjang benang chakra, mendarat di lehernya, dan...
BAATTSS !
Aku ternganga takjub. Rombongan kami berhenti begitu Hinata mengabarkan hal buruk lainnya –Menara Kazekage telah dihancurkan dan sekarang beberapa Zechuan sudah bertengger disitu menjaga ruang bawah tanah Gaara. Mustahil mendekati mereka tanpa cedera. Walhasil, kami akhirnya bertemu orang itu –bersama sepasukan pengawal Suna lain yang datang terlambat.
"Bagaimana keadaan disini, Sasori-san ?" Tanya Baki begitu ia dan timnya sampai.
"Seperti yang kau lihat, mereka sudah kuatasi. Tapi hanya masalah waktu sampai para naga kurang kerjaan ini pulih kembali dan bisa makin buas" kata Dracovetth bernama Sasori itu dengan santai. Ia mematut-matut pedangnya. "Kurasa aku bertindak terlalu kasar sampai tidak memperhatikan yang mana tulang, yang mana urat" sambungnya datar.
"Pedangku tumpul" lanjutnya.
"Tidak masalah, kami bawa persediaan yang sangat banyak" ucap Baki hormat dan tanpa disuruh ia mengambilkan sepasang pedang lagi. "Kami turut menyesal tidak bisa membawa Anda ke Menara Kazekage, Naruto-sama" katanya padaku.
"Ah tidak, jangan salahkan diri kalian" aku buru-buru menenangkan. "Sekarang yang terpenting mungkin kita harus menghabisi para naga ini, tidak ada pilihan lain" lanjutku.
Kepala-kepala yang terpenggal telah menyatu kembali. Jiwa yang hancur digantikan yang baru. Teror dimulai lagi.
"Syukurlah baru empat" desis Baki. Ia memberi isyarat. "Kita gunakan itu sekarang, Kankuro-dono ?" Katanya meminta persetujuan.
Kankuro yang sudah berada di sebelahnya mengangguk. Ia segera mengeluarkan senjata sejenis panah dari gulungan.
"Apa itu ?" Tanya Lee penasaran.
"Kami sudah tahu penyerangan semacam ini akan terjadi" jawab Sasori. Sedikit melenceng dari pertanyaan Lee.
"Apa maksudmu ?"
"Panah ini mengandung segel yang jika terkena naga, maka mulutnya tidak bisa dibuka untuk beberapa jam. Awalnya kami membuat ini tanpa ada pikiran bahwa Zechuan-lah yang akan jadi target pertama percobaan senjata ini, pasalnya naga jenis ini biasanya hanya ada di hemisfer Bumi sebelah Utara atau Selatan saja, mereka tidak pernah ada di khatulistiwa. Tapi berhubung segel ini sangat kuat, setidaknya bisa menahan Zechuan untuk tidak membuka mulut dalam waktu sekitar setengah jam" jelas Kankuro panjang lebar.
WUSH
"Mereka menyerang ! Bersiap di posisi ! Prioritas utama kita tetap melindungi Naruto-sama !" Seru Baki keras-keras. Untunglah yang kami hadapi kali ini hanya empat ekor saja.
BRAK !
Mendadak, dua Zechuan lain menerobos dari kanan dan kiri. Enam ekor sekarang ! "Kalian urusi empat yang disana ! Serahkan dua ini pada kami !" Seru Kakashi-sensei. Sakura dan Sasuke bahkan ikut maju kali ini. Aku sendiri mendecih di tengah formasi –tempat teraman di formasi, karena merasa tidak bisa melakukan sesuatu yang berguna.
Dalam waktu sebentar saja –mayoritas karena Kopral Muda Akasuna no Sasori menebas mereka semua, seluruh Zechuan dapat diatasi dalam waktu sekitar sejam. Ya, dengan kata lain, membunuh empat puluh dua jiwa dalam waktu sesingkat itu.
"Fantastis" Kiba berdecak. "Ini pengalaman bertarungku yang paling seru" lanjutnya sambil menepuk-nepuk naganya.
"Tetap fokus, bocah Inuzuka" sanggah Sasori. "Kita bertaruh nyawa disini, bukan bertarung demi hadiah jackpot" sambungnya sinis.
"Ya. Ada satu di depan, arah jam sebelas" sambung Hinata dengan Byakugan. "Ukuran sedang. Ralat, dua di depan arah jam sebelas. Bukan, maksudku tiga...sekarang jadi em, eh, lima. Dan ada tiga lagi yang mendekat dari arah jam dua. Tunggu ! Mereka juga ada, dua dari arah jam dua belas ! Mereka ada di mana-mana !" Seru Hinata mulai panik.
"Sial, sepertinya mereka sudah tahu target berada disini" gerutu Kankuro. Dari balik asap hasil mayat Zechuan yang mendidih dan menguap, dua ekor Zechuan yang lain menerobos dan membuka mulut.
"為風:空中ダンス !"
Fuuton: Bafuku Ranbu
(Elemen Angin: Dansa Udara)
Mereka berdua langsung terlempar kembali. Sosok berambut kuning itu segera menyampingkan kipas raksasanya.
"Temari-nii ! Kau bersama pasukan elit di belakang desa harusnya membantu evakuasi penduduk !" Seru Kankuro.
"Apakah masalah jika aku berada disini setelah semua dievakuasi ?" Balas Temari ketus.
Enam naga terlihat sekaligus. Terlalu banyak untuk bisa dihembus oleh elemen angin –kalaupun mereka bisa tepat waktu.
SRASSSHHH...
BRAK
CRAK
.
.
"Kazekage-sama !" Seru Baki begitu mengetahui apa yang terjadi. Gaara datang –bersama pasirnya, ia menampar semua naga itu dan menangkis semua serangan radioaktif mereka.
"Pasir tidak lebih padat dari tanah...dia hanya terdiri dari serpihan substansi yang tidak padat. Apa bisa menghalangi sinar gamma yang hanya mati langkah total oleh beton tebal atau timah hitam ?" Selidik Sasuke sangsi.
"Hmph. Setiap Kazekage punya kekhasan tersendiri dan Suna punya tiga orang dengan pertahanan terkuat sepanjang sejarah" jawab Kankuro. "Sandaime Kazekage disebut-sebut sebagai Kazekage sekaligus Dracovetth terhebat yang pernah dihasilkan Sunagakure dengan Satetsu, pasir besinya. Ayah Gaara, Yondaime Kazekage, mampu menghasilkan pasir emas dengan manipulasi Jiton, elemen magnet. Dan Gaara..."
"...memiliki pertahanan tak tertembus, Zettai Bogyo, dengan jumlah pasirnya yang tidak terbatas, dapat cukup padat untuk melebur besi di dalam pertahanannya" jelas Kankuro bersemangat.
"Biar begitu, kita perlu mengerahkan semua kemampuan yang kita miliki untuk melawan mereka" sambut Gaara dari atas.
"SUNA ! PERTAHANKAN DESA ! PERTAHANKAN MARTABAT KITA, DAN PERTAHANKAN DRACO P !" Seru Gaara keras-keras diatas awan pasirnya, disambut gemuruh teriakan para prajurit yang siap mati.
Aku melihat Sasori tidak begitu tertarik untuk ikut menyambut semangat Kazekage, ia terus maju dan menebas apapun yang berada dalam jangkauannya. Kecepatan dan kelihaiannya benar-benar tidak tertandingi, setidaknya itulah yang kulihat. Pedangnya bagai memiliki mata, tidak pernah meleset menebas apa yang ingin ditebasnya, dan kakinya bagai memiliki lem, tidak pernah tergelincir walau sisik yang dipijaknya terlihat begitu licin.
Tapi detik ini, ia lengah sedikit.
Seekor Zechuan berukuran raksasa, kelas 23 meter, muncul mendadak di belakangnya dan bersiap menembak. Tidak ada waktu bahkan untuk sekedar menarik napas terakhir...
"SASORI-SAN, AWAS !"
.
GRAAAAAAAA...! ! ! !
.
Naga itu meraung hebat. Sinar hijau itu mengenai tubuh seorang manusia, menyusup masuk dari kulitnya dan memborbardir sel-sel di tubuhnya sambil merusak semua jaringan dan organ yang ada, sambil lewat kembali di tubuh sisi lainnya. Rambutnya terurai. Kedua biji matanya meleleh. Lidah, bibir, semua kulit dan organ dalamnya tercerai berai menjadi molekul yang tidak berarti.
Dan sosok itu jatuh meninggalkan kerangka manusia yang berbalut seragam prajurit Suna.
.
.
.
"KAPTEN YUURA !" Seru Kankuro keras-keras. Teriakannya membelah langit. Tapi tidak berguna samasekali.
Kapten Yuura. Gugur demi melindungi Sasori.
"Hentikan, Kankuro" desis Sasori dingin. "Sekeras apapun kau berteriak atau namanya dipanggil, mati tetaplah mati. Tidak akan mengubah apapun" sambungnya datar. Ia menatap kerangka manusia yang telah melindunginya itu dengan tatapan biasa –setelah menebas putus kepala Zechuan raksasa itu.
"Semua ini salahmu, kapten bodoh".
Gigiku bergemeletuk. "KAU !" Seruku keras-keras. "Prajurit macam apa kau hah !? Kapten Yuura telah mengorbankan hidupnya untuk dirimu seorang, tidak bisakah kau tunjukkan sedikit penghormatan untuknya ?! Kalau bukan karena dia, yang jadi tulang belulang itu adalah kau ! Tidak peduli sehebat apapun manusia, kau tetap butuh orang lain !" Aku memekik. Tidak mempedulikan segala jenis tatapan aneh yang menghunjam ke arahku.
"Oi, oi, oi" Sasori menjawab teriakanku dengan santai. "Tidakkah orangtuamu mengajarimu sopan santun ?" Lanjutnya datar. Ia mendecih. "Aku telah melihat begitu banyak kematian. Orang mati di kiri dan kananku, depan dan belakangku, bahkan atas dan bawahku. Semua sama. Mati adalah mati. Kau berkata demikian karena kau masih terlalu lemah, bocah. Baru sedikit yang kau pelajari dari hidup" tanggapnya santai.
Kakashi-sensei memegang pundakku. Ia menggeleng. "Sasori-san. Naruto-sama. Yang terpenting sekarang adalah memikirkan cara dan berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari masalah ini, bukan saatnya beradu argumen. Lakukan apa yang kita semua bisa" lerai Gaara dari atas.
Aku menghela nafas. Sasori kembali sibuk dengan naga-naga itu.
Tapi dia memang benar juga.
Aku...
...apa aku...
.
.
...Masih terlalu lemah ?
...Masih terlalu mengandalkan orang lain ?
...Masih hidup karena pengorbanan orang lain ?
.
.
AKU DEMIKIAN SIBUK berpikir dan merenung dengan diriku sendiri sampai-sampai tidak menyadari bahwa kelompok naga eksoskeleton itu sudah habis seluruhnya. Setidaknya yang datang di situ. Sampai detik ini, Sunagakure –dan timku- telah menghabisi setidaknya tiga puluh dari lima puluh Zechuan yang ada. Masih ada 20 yang lain, dan semuanya sekarang mengarah kemari.
.
"Baki-san ! Satu tipe tak biasa mendekat dengan kecepatan tinggi, arah jam dua belas !" Seorang prajurit berteriak keras-keras.
Aku memincingkan mata. Seekor Zechuan terbang tak karuan membelah langit, rahangnya bergetar. Ia terlihat seperti sedang menggigil. "Zechuan yang itu aneh" komentarku.
"Tipe abnormal" desis Sasuke. "SEMUA WASPADA !"
Terlambat. Naga yang menggigil (yang kusimpulkan bukan karena kedinginan, tapi karena gila) itu membuka mulutnya hingga vertikal. Semua prajurit, yang kini berada di tanah, bersiap dengan elemen tanah. Namun yang ada lebih menakutkan dari kelihatannya.
Naga itu memang membuka mulut, tapi ya ampun, sinar radioaktif hijau itu keluar bagai air terjun raksasa ! Langsung dari mulut guanya, sinar hijau itu menyebar selebar sekitar 50 meter dan tinggi setengahnya, membentuk semacam dinding radiasi raksasa –yang bahkan pasir Gaara tidak bisa menghalaunya. Walhasil, puluhan prajurit dibalik dinding pasir sang Kazekage segera bernasib sama dengan Kapten Yuura. Beruntung Baki-san, Sasori, Kankuro, dan Temari terlindung karena mereka ada di dekat kami.
"Cih ! Tipe abnormal itu..." Seru Baki bersungut-sungut. Naga yang telah selesai itu langsung terbang cepat, menembus pasir Gaara dan mengarah langsung ke kami. Temari mengibaskan kipasnya, namun dia berhasil menghindar. Ia melakukannya sama baiknya saat menghindari serangan Kankuro dan Baki, bahkan Sasori kini tak bergeming –ia dibanting ke kaca sebuah bangunan dan kini naga itu meliuk mengacaukan formasi kami dengan melukai naga-naga kami dengan ekor sabitnya.
Sasuke menyemburkan bola api –yang malah membuat gerakan naga itu makin cepat, ia menghindar dari tebasan Sakura dan Ino, Jyuuken Hinata, dan tinju tangan raksasa Chouji.
Ia berada di belakangku.
.
GREP
.
"Sial".
.
"KEMBALIKAN NARUTO-KUN !" Pekik Lee dari bawah. Baju bagian tengkukku sudah masuk ke geligi Zechuan abnormal ini, dan sekarang aku diangkatnya belasan meter dari tanah ! Sial, bahasa kasarnya, aku diculik oleh seekor naga !
"Jiraya-sama ! Suruh Bryptops untuk menembak !" Seru Hinata.
"Tidak semudah itu ! Persentase untuk kena target sangat kecil sekarang, apalagi aku tidak mau melukai Naruto !"
"Sekarang apa yang akan kita lakukan ?!"
"Kita akan mengejarnya !" Seru Lee.
.
BUUMM ! ! !
"Para Zechuan yang tersisa menghalangi jalur ! Kita tidak bisa semudah itu menerobos mereka !" Seru Sakura frustasi.
Sementara, aku melihat mereka, melihat Sunagakure, makin lama makin jauh...
...Inikah akhir hidup seorang remaja 16 tahun yang KATANYA memegang kunci perdamaian dunia ? Ah, aku bahkan belum sempat samasekali bertemu Dia.
Kurasa benar.
Aku terlalu lemah.
Jadi ini akhirnya. Mati di mulut naga gila yang menggigil terus-terusan. Mana bisa aku pergi dari sini.
.
.
.
TUNGGU SEBENTAR !
Aku memutar otak. Aku ingat sesuatu ! Sesuatu !
Hiraishin Kunai ! Aku merogoh sakuku. Beruntung sekali, ada satu. Satu lagi di...
...Saku celana Kakashi-sensei.
.
.
"Kakashi-sensei ! Jiraya-sama ! Kita tidak bisa membiarkan Naruto diculik dan menghilang begitu saja !" Seru Sakura di tengah pertarungan.
"Lantas apa, kau mau mengejarnya ?!" Seru Jiraya-sensei kewalahan.
"Kita bisa, semuanya. Ada yang menangani naga-naga ini disini, beberapa mengendarai naga yang cukup cepat untuk menyusul Naruto di gurun dan menyelamatkan dia" Sasuke mulai membuat rencana. "Kita bisa melakukannya. Naruto bukan tipe orang yang..."
SWISH
.
"Bukan tipe orang yang apa, pantat ayam ?" Selidikku menantang. Ia membelalakkan matanya.
"B-bagaimana kau bisa disini secepat itu ?" Selidiknya takjub. Aku tersenyum kecil, lantas menunjukkan kunai penyelamat itu.
Kakashi-sensei merogoh saku kanan celananya dan mengeluarkan benda yang sama. "Sudah kuduga kau akan datang dengan cara itu" katanya bangga. "Makanya aku tenang-tenang saja saat mereka meminta kau diselamatkan" sambungnya.
"Ya, dengan Shunshin no Jutsu semacam ini, aku bisa lepas dari mulut naga gila itu tanpa perlawanan sedikitpun" kataku senang.
"Dan sekarang dia meminta mangsanya kembali" Shikamaru menuding langit. Naga menggigil itu sudah disana, dan ia mengumpulkan sinar hijau memuakkan itu di mulutnya yang terbuka lebar. Persis seperti tadi. Jika kami tidak menghindar atau membunuhnya sekarang juga, kami hanya akan menambah jumlah makam di Sunagakure. Zechuan yang tersisa ikut mengudara. Dahiku berkerut.
"Berikan kunai itu padaku, Kakashi-sensei" desisku. "Kankuro-san, aku butuh pelontar panah itu juga" pintaku.
"Apa yang akan kau lakukan ?" Selidik Hinata.
"Diam, lihatlah dan berdoalah semoga ini berhasil" kataku cepat. Kupasang Hiraishin Kunai itu ke pelontar. Aku mengira-ngira sasaran. Fokus dan terus berusaha untuk mendapatkan titik yang tepat. Itu dia.
Bantalan daging lunak, tempat tenggorokan luar. Pangkal leher bagian bawah, diatas dada.
Aku menarik pelatuk. Benda tajam itu melesat cepat dan langsung menancap sempurna di bagian itu. Buru-buru kupasang satu lagi di pelontar dan membidiknya...
...ke bulatan sinar hijau itu.
.
DAASSSHHH
.
Sinar itu memadat. Siap untuk ditembakkan !
.
Tapi kunai-ku mengenainya lebih dulu.
"SEMUA MERUNDUK !" Pekikku keras-keras. Zechuan itu menembakkan sinar hijaunya. Tapi segera setelah lepas dari mulutnya, sinar itu menghilang...
...dan berpindah tepat ke pangkal leher bawahnya !
Aura hijau yang kuat langsung memenuhi langit Sunagakure. Ledakan hebat. Sinar radioaktif mematikan itu mengenai penembaknya sendiri –yang ini dagingnya tercincang sampai habis. Seluruh perisai tulang menjadi tak berarti. Naga gila itu meraung hebat bersama dengan tujuh nyawanya yang langsung tandas. Ya, walau mereka punya tujuh nyawa, takkan ada artinya jika tubuh mereka terus dihujani sinar gamma.
Tidak cukup sampai disitu, ledakan itu akhirnya membentuk semacam awan plasma radiasi yang menyebar cepat di langit, mengenai semua Zechuan yang tersisa dan mereka perlahan terurai menjadi debu. Semua sudah selesai ! Dan itu terjadi hanya karena lemparan dua senjata kecil berdasarkan analisa asal-asalan dari seorang bocah ingusan berusia 16 tahun !
Dan bocah ingusan itu adalah aku, Uzumaki Naruto !
.
"Apa yang terjadi barusan ?" Selidik Ino heran.
"Mereka menghilang. Lebih tepatnya...mati" ucap Sasuke dengan Sharingan-nya. Ia menoleh padaku. "Kau yang melakukannya ?"
"Kurasa begitu" jawabku sambil tertawa kecil. Lee memukul bahuku.
"Bagus sekali, Naruto-kun ! Kau mengalahkan naga sebanyak dan sekuat itu dengan sekali serangan !" Pujinya padaku.
"Aku tidak menyangka kau bisa melakukannya dan berpikir secerdik itu" lanjut Kiba.
Dua kunai itu jatuh dari langit, tidak jauh dari tempat kami berada. Kakashi-sensei berjalan ke arah mereka dan mengambilnya, menyerahkan dua benda warisan ayahku itu pada putranya sekarang.
"Kau seperti ayahmu" katanya pendek. "Dan itu adalah pujian tertinggi" lanjutnya sambil mengedipkan mata. Aku balas tersenyum.
"Jutsu tadi...sama persis dengan jutsu teleportasi Yondaime Hokage saat bertarung untuk terakhir kalinya demi melindungi Desa Konohagakure 16 tahun yang lalu, Naruto-kun...dan kau melakukannya sama baiknya. Memindahkan bola radiasi super itu dari mulut ke dada penembaknya sendiri dan meledak hingga mencerai-beraikan naga sisanya" lanjut Kakashi-sensei.
"HIDUP NARUTO-SAMA ! HIDUP DRACO P !" Lee mendadak memekik seperti menyambut pahlawan. Sorak sorai membahana, menggemuruh ditemani hembusan angin gurun maghrib. Matahari telah kembali ke peristirahatan. Bulan mulai menggantung. Aku diangkat oleh belasan orang, dilempar-lempar ke udara macam telur dadar. Tidak, sekarang aku bukan telur dadar gosong atau setengah matang atau bentuk tak karuan, aku adalah telur dadar yang dimasak sepenuh hati oleh koki hebat dan dibumbui dengan racikan spesial berasa lezat.
Cih, bicara soal makanan, perutku mendadak berbunyi. Semua tertawa sekarang.
"Anu...bisa kita lanjutkan makan malam yang tertunda ?" Tanyaku sambil menggaruk kepala.
"Tentu" jawab Gaara senang, dan, dengan dikawal puluhan prajurit dan rakyat Suna, kami makan malam di hotel yang kusinggahi tadi. Sekilas aku melewati Baki-san.
"Aku turut berduka soal Kapten Yuura" bisikku. Ia mengangguk.
"Tidak apa, Naruto-sama. Asal Anda tahu, Kapten Yuura dari dulu memang selalu berusaha melindungi Sasori-san, tapi kopral muda berambut merah itu memang berhati dingin, walau sebenarnya dia baik hati. Masa lalunya kelam...sekelam pandangan matanya" desis Baki.
Aku memalingkan pandanganku ke pemuda tangguh yang sempat kukagumi itu –yang ternyata juga sedang memandangku.
"Dracovetth tanpa naga bukanlah Dracovetth, bocah" katanya ketus lalu menghilang diantara kerumunan orang yang mengawalku.
.
Aku termagu. Tch, kurasa aku harus mencari nagaku, kalau perlu sebelum menemukan Dia, -secepatnya !
Aku menyikut Jiraya-sensei.
"Apa ?"
"Sehabis makan, kita cari naga untukku ya, Jiraya-sensei" bujukku. Dia terkekeh.
"Hanya sedikit spesies yang aktif pada malam hari, bocah. Lagipula bukannya nagamu sudah menunggumu ? Si Paradox itu" ledeknya. Aku merengut.
"Terlalu lama kalau menunggu sampai menemukan Dia ! Aku ingin secepatnya !" Rengekku. Seakan pada kakekku sendiri.
Aku akhirnya beralih ke Kakashi-sensei begitu kami sampai di meja makan, karena Jiraya-sensei segera sibuk dengan makanannya.
"Kakashi-sensei"
"Ya ?"
"Bisa kita cari naga untukku malam ini ?"
"Tidak" jawabnya pendek. Aku mendengus kesal. "Tapi besok pagi mungkin saja" ralatnya.
Mataku berbinar. "Janji, ya ?"
Ia terkekeh. "Janji".
Uchiha Temple
"Menurut perkiraanku, bocah blonde kuning cerewet itu sudah ada di Sunagakure sekarang" sebuah suara yang terkesan bengis terdengar di ruangan sunyi itu.
"Kupikir Anda sudah mengirim satu batalion Zechuan kesana, Madara-sama" suara lain yang berasal dari tempat yang sama bertanya.
"Tentu. Tapi sejak kusuruh Styx untuk memata-matai pertempuran itu dari jauh, hasilnya lumayan mengesankan. Draco P itu bisa menghabisi hampir setengah batalion dengan satu serangan" jawab Madara dingin sambil terus mengasah pedangnya. "Aku jadi semakin tertarik untuk melihat sampai sejauh mana dia bisa bertambah kuat. Kita tidak perlu terlalu terburu-buru mengirim sepasukan Pembantai Bersayap untuk menghabisi dia dan timnya, kita hanya perlu merenggut satu persatu nyawa orang-orang yang melindunginya" lanjutnya cepat.
"Kalau bisa, kami minta diberi keleluasaan untuk membalaskan dendam kami ke gadis Haruno itu" pinta suara itu.
"Sungguh ? Aku agak sangsi pada kalian, Ceberus. Pasalnya Zmey Gorynych selalu berkeliaran dari tempat yang sudah kutetapkan. Dia nagaku yang paling sulit diatur dan yang memiliki nafsu yang bahkan lebih buas daripada berandal jalanan profesional atau pemabuk berat. Dan sekarang dia sedang memasuki tahap matangnya...dan kau tahu apa artinya itu" sindir Madara pada naga tiga kepala itu.
"Dasar Zmey. Padahal kita sama-sama berkepala tiga" gerutu kepala tengah. "Setidaknya kita lebih 'abadi' sedikit. Kalau soal Zmey, potong saja ekornya sudah beres" sambung kepala paling kiri disambut tawa mengejek dua kepala lainnya.
Gurun Utara Suna
Pukul 07.00
"Jadi...naga macam apa yang kau inginkan, Naruto-kun ?" Kakashi-sensei akhirnya buka mulut setelah setengah jam terbang dalam hening.
"Hmm, yang jelas aku tidak perlu mencari yang terlalu besar. Ukuran sedang saja sudah cukup, jadi mungkin sekitar kelas tujuh sampai dua belas meter saja" aku menimbang-nimbang.
"Kau ingin bisa bicara dengan nagamu ?" Kakashi-sensei bertanya lagi. Soal itu aku tahu, sepertiga –atau sekitar 40 jenis naga punya kemampuan untuk memahami total bahasa manusia atau bahkan bicara seperti manusia. Aku berpikir lagi.
"Tidak perlulah. Tapi kalau bisa sih, aku ingin yang bisa diajak bicara" kataku. "Naga tipe apa saja yang bisa kita temui di gurun macam ini, Kakashi-sensei ?" Tanyaku penasaran. Maklumlah aku memang tidak banyak tahu soal binatang 'sahabat terbaik manusia' ini.
"Biasanya, Kaze no Kuni dihuni oleh para Penunggang Angin. Itu sebutan untuk naga dengan kemampuan terbang jempolan, entah bisa bertahan selama berhari-hari di udara atau karena kecepatannya yang hebat atau karena kemampuan manuvernya yang sangat luar biasa. Tidak menutup kemungkinan kita juga akan bertemu penjelajah tanah yang lebih mengembangkan kaki atau ekor daripada sayap. Tapi tentu kita lebih baik cari yang diantara keduanya. Kau belum bisa disebut Dracovetth profesional, bertahan setengah jam diatas seekor Severin saja kau kewalahan, apalagi naik naga Penunggang Angin" jelas Kakashi-sensei panjang lebar.
"Naruto, kalau kita bertemu Zechuan yang jinak, apa kau mau dia jadi tungganganmu ?" Tanya Kakashi-sensei tiba-tiba.
"Tidak" jawabku malas. "Terlalu berbahaya. Apa yang terjadi kalau dia menguap sementara aku sedang di depan kepalanya ? Atau dia berbalik ketika sedang di tanah dan aku terkena ekor sabitnya ?" Lanjutku. Kakashi-sensei terkekeh.
"Bryptops ?" Tawarnya lagi.
"Tidak. Terlalu membosankan" jawabku cepat.
"Gorongosa ?"
"Sama, terlalu membosankan. Pokoknya kalau bisa jangan naga yang sudah ada di tim kita, sensei" kataku.
"Vereev ?"
"Itu sama saja ! Malah lebih membosankan" cetusku.
Sejam kami berdua berkeliling di gurun. Entah sudah berapa teguk air yang kuminum dari botol. Fyuh, tidak peduli pagi, siang, sore, atau malam sekalipun, cuaca di Kaze no Kuni selalu panas !
Kami berdua akhirnya mendarat dan berteduh di sebuah gua. Bosan memandang batu dan pasir, aku pergi sendiri tidak terlalu jauh dari situ.
Buang air kecil.
.
.
HOAAARR ! ! !
Aku menajamkan telinga. Sebuah raungan ?
.
.
GRAAAAAA... ! ! !
.
Lagi ! Aku segera mencari sumber suara. Tidak makan waktu lama, dan aku segera menemukan seekor naga berwarna oranye –yang langsung mengingatkanku pada jaket yang biasa kupakai ini. Keadaanya terlihat buruk, naga itu tertimpa reruntuhan bebatuan yang entah berasal dari mana. Ia meraung-raung dan berusaha berontak melepaskan diri, tapi itu justru membuat beberapa batu ikut runtuh dan menambah beban. Tubuhnya mulai tenggelam di pasir.
Ia memandangku. Aku juga menatap matanya. Pupil hitam vertikal seperti ular atau naga pada umumnya, tampak kontras dengan biji matanya yang berwarna merah darah. Garis hitam yang jelas tampak di sekeliling matanya dan bibirnya, membuatnya makin terlihat sangar. Aku meneguk ludah.
Naga yang bagus.
Tapi...apa dia termasuk golongan Pembantai Bersayap ? Apa dia bisa bicara ? Apa dia karnivora ganas ?
Mendadak, sisi lain dalam diriku berkata bahwa aku harus menyelamatkannya.
Apa alasannya ? Kenapa harus kuselamatkan naga yang baru beberapa menit kulihat ini ?
Entahlah. Tapi dia akan berguna.
.
Jadi aku mendekat, merogoh beberapa kunai di kantung dan mengikat kertas peledak sebanyak-banyaknya, lalu melempar mereka hingga tepat ke bebatuan yang menindih naga oranye itu.
DUUUAAARRRR ! ! !
Semua batu itu berubah menjadi kerikil dan pasir –dan naga itu segera membentangkan sayapnya dan mengibas-ngibaskan ekor dan kepalanya, membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa batu dan pasir yang masih melekat. Kulitnya memang tebal dan bersisik, tapi tetap saja aku melihat beberapa goresan di punggung dan sayapnya.
Sekarang ia memandangku tajam. Aku berusaha tetap tenang. Aku sudah membawa satu Hiraishin Kunai dan menancapkan satu lagi di gua tempat naga kami berteduh, jadi kalau ada apa-apa aku bisa langsung menghilang dari situ.
Naga itu membuka mulut, menampakkan gigi-gigi tajamnya yang mengerikan. Aku masih terdiam di tempat.
Sampai ia menghunjamkan kepalanya tepat ke arahku !
BRAKK !
Aku berlari menghindar. "Apa yang kau lakukan ?!" Seruku keras tanpa sengaja. Mana kutahu dia bisa mengerti bahasa manusia atau tidak !
"Aku lapar ! Sudah dua hari aku tak makan apapun !" Jawab naga itu dengan suara menggelegar. Aku sendiri terkejut, tapi berusaha tetap tenang.
"Kau tidak tahu balas budi ya ?! Aku sudah menyelamatkanmu !" Seruku keras.
"Siapa suruh kau menyelamatkanku ?! Kau bertindak sendiri !" Kilah naga itu keras kepala. "Lagipula jika kau memang ingin menyelamatkanku, jadilah sarapanku dan kuakui kau pahlawanku !" Lanjutnya.
"Itu konyol !"
"Tentu tidak ! Itulah kodrat, hukum alam !" Naga itu malah berdalih.
"Ini tidak benar ! Aku kemari hanya untuk mencari naga yang akan kujadikan tunggangan dan kupikir kau-lah naga itu !" Aku berusaha mencari celah.
Dan dia berhenti. "Sungguh ?" Desisnya menyelidik. Aku mengangguk tegas.
"Aku belum punya naga satupun" kataku jujur. "Dan aku ingin kau jadi naga pertamaku. Aku akan memperlakukanmu dengan baik dan kita bisa jadi tim yang hebat" lanjutku antusias.
"Kau juga akan kuberi makan sampai kenyang, asal kau mau jadi nagaku" aku mulai membujuk.
"Siapa namamu, bocah ?" Naga oranye itu bertanya.
"Uzumaki Naruto" jawabku.
"Kau pengembara ya ? Dari ikat kepalamu adalah Dracovetth Konohagakure, sedangkan disini lebih dekat ke Sunagakure" selidiknya. Aku mengangguk. "Namaku Kurama".
"Kurama" ulangku. "Kau akan jadi naga yang hebat" lanjutku sambil tersenyum. "Setidaknya sampai kita menemukan Dia" tambahku dengan penekanan pada kata 'Dia'. Kedua matanya membesar.
"Draco P ?" Selidiknya. Aku mengangguk.
Naga itu terdiam sejenak.
.
.
.
"HAHAHAHAHAHA...! ! !" Naga oranye itu tertawa terbahak-bahak sampai kedua sayapnya bergetar.
"Kau pikir aku berbohong ?!" Seruku ketus.
"Bodoh ! Baru kali ini ada Dracovetth yang mengaku bahwa dia adalah Draco P di hadapanku !" Serunya sambil terus tertawa.
"Itu karena memang hanya aku Draco P di Bumi ini !" Kilahku kesal.
Dua detik kemudian, kepalanya yang menggantung di lehernya yang kekar itu kembali membuka mulut dan...menghunjam lagi padaku !
"Apa yang kau lakukan ?!" Seruku terkejut.
"Perjanjian batal ! Aku tidak mau dikendarai oleh seorang Dracovetth remaja pembohong ! Kau pasti tukang tipu, berkelana untuk menipu orang-orang agar tetap hidup dan pergi dari satu desa ke desa lain agar jejakmu tidak terkejar !" Tuduhnya sembarangan.
"Aku bukan pembohong ! AKU BENAR-BENAR DRACO P !" Pekikku keras-keras.
Ia tidak percaya.
TRANG ! Giginya beradu dengan sebilah kunai sebelum sempat mengenaiku. Kakashi-sensei !
"Ada keributan apa ini ?" Selidiknya santai.
"Kau kenal bocah ini, Pria Bermasker ?" Desis Kurama sinis. Kakashi-sensei mengangguk.
"Dia muridku dan dia adalah Draco P" katanya tegas. Sekarang giliran Kurama yang masih berusaha mencerna kata-kata itu. Aku tersenyum puas.
"Dia adalah Hatake Kakashi, pria yang dijuluki Dracovetth Peniru dari Konohagakure dan putra dari Taring Putih Konoha, Hatake Sakumo. Apa dia masih tidak bisa dipercaya, Kurama ?" Berondongku.
"Cih" hanya itu yang keluar dari mulut Kurama. "Baiklah, aku akan ikut. Hanya untuk memastikan kau tidak berbohong, bocah. Jika tidak, kau akan berpindah ke lambungku pagi ini juga" gertaknya.
"Namaku Naruto, bukan bocah" ralatku kesal.
"Kau yakin dia yang akan jadi nagamu ?" Bisik Kakashi-sensei ragu. Aku mengangguk.
"Kenapa tidak pilih yang lain saja ? Yang ini cerewet dan aku agak ragu dia bisa menjaga rahasia, kalau diperlukan" sarannya.
"Aku tidak mau membuang waktu. Lagipula sifatnya mirip sifatku kan ?" Kataku geli.
"Aku tidak suka ada orang berbisik-bisik di hadapanku" tabrak Kurama tiba-tiba. Kami berdua segera mengunci mulut sampai Sunagakure.
Mount Phicium
Blocade of Kaze and Tsuchi
Dari jauh, gunung itu tampak angker. Para Dracovetth yang sudah ahli dan peka dapat merasakan tanda kehidupan yang jahat di sekelilingnya. Sebuah gua yang hanya beberapa meter dari puncak gunung, menyembunyikan sebuah ruangan raksasa yang berukuran sepertiga dari gunung itu sendiri. Gunung Phicium, gunung berongga yang membawa maut bagi siapapun yang mencoba melintasinya. Bukan karena jalurnya yang demikian curam, terjal, atau berbahaya, tapi karena yang tinggal disitu.
Kepakan sayap terdengar dari luar. Sosok berukuran besar dengan tanduk tunggal di tengah hidungnya diam beberapa saat di udara sebelum memutuskan masuk ke gua itu, yang menghubungkan dunia luar dengan ruangan dalam.
"Kalian berdua, tidak perlu berburu hari ini" sapanya begitu dia masuk.
"Hmph, kau masih tidak tahu sopan santun seperti biasanya" tukas sebuah suara berat pria di dalam.
"Itulah aku" jawab tamu itu cuek.
"Ngomong-ngomong kenapa ? Kau dapat mangsa atau semacamnya atau apa ?" Sebuah suara wanita turut terdengar.
"Tim itu akan lewat sini nanti sore" papar suara tamu itu. "Persentase kemungkinan 90 persen" lanjutnya sambil meneguk cairan berwarna merah.
"Sisa 10 persennya ?" Tanya sebuah suara pria.
"Entah. Tapi coba beritahu aku, jalan mana yang tercepat ke Tsuchi no Kuni dari Kaze no Kuni selain Gunung Phicium ini ?"
"Jika mereka memutar, akan memboroskan waktu. Minimal sehari. Dan sehari bagi tim pencari Draco P itu pasti amat berharga, mereka takkan menyia-nyiakan kesempatan emas menghemat sehari" desis suara wanita itu.
"Jadi persiapkanlah teka-teki sulitmu. Pastikan mereka tidak bisa menjawabnya" perintah suara tamu itu. "Ini perintah juga dari Madara-sama. Dan kau Zmey, terserah kau mau berjaga-jaga dimana" tambahnya.
"Tenang saja. Aku ada satu teka-teki yang tidak akan bisa dijawab oleh manusia manapun. Aku pernah mengajukannya pada beberapa pengembara tapi mereka tidak hidup sedetik pun setelah menjawabnya" kata suara wanita itu bangga.
"Styx" panggil Zmey.
"Hmm ?"
"Adakah perempuan yang ikut tim itu ?" Selidiknya.
"Tiga" jawab tamu yang rupanya Styx itu santai. "Dan semuanya masih muda".
"Ah, bagus" suara pria itu menanggapi. "Kami akan ambil bagian di lereng gunung. Sphinx, berjagalah di puncak" lanjutnya. "Kita cegah Pembantai Bersayap manapun yang ingin menyerang mereka, ketiganya harus kujumpai masih utuh dan segar !"
"Kendalikan dirimu, dasar rakus" ledek Sphinx. "Menurutku darah perempuan muda punya rasa yang paling lezat, jadi mengapa tidak membunuh mereka saja daripada memanfaatkan mereka untuk hal aneh begitu ?" Lanjutnya.
"Mereka tidak akan berfungsi dengan baik jika kau ambil darahnya lebih dulu, bodoh" balas Zmey.
"Aku sempat mengira diriku jadi gila begitu bekerjasama dengan dua naga aneh. Yang satu suka darah dan teka-teki, yang satu suka wanita dan rakusnya minta ampun. Memang dari naga-naga Madara-sama hanya aku yang normal" Styx menyeletuk bangga.
"Kau pikir apa yang barusan kau teguk, dasar setan ?" Balas Sphinx. "Itu darah yang kukumpulkan dari orang-orang yang mati karena teka-tekiku yang berseni itu" lanjutnya.
"Terserahlah" balas Styx tak acuh lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Mau kemana ?" Tanya Zmey.
"Mengikuti mereka. Begitu ada kesempatan, akan kuamankan salah satu dari mereka" jawab Styx misterius.
"Diamankan ?" Ulang Sphinx.
"Awas kalau kulihat wanita-wanita itu berkurang satu atau terluka !" Ancam Zmey.
"Yang kau jumpai justru mereka akan bertambah" jawab Styx masih tak acuh lalu segera terbang pergi.
"Jadi namanya Kurama ?" Selidik Jiraya-sensei dari lantai tingkat dua Chrysler Besar Suna. Aku mengangguk. Jiraya terus memperhatikan Kurama yang sedang asyik mengunyah dua ratus kilogram daging sapi mentah di lantai Chrysler. Tidak terusik samasekali dengan sebuah rantai besar yang terpasang ke lehernya. Naga itu tidak terlalu besar, panjangnya dari ujung hidung hingga ujung ekor sekitar 14 meter dan beratnya sekitar 8 ton.
"Naruto" panggil Jiraya.
"Ya ?"
"Kau tahu jenis naga apa dia ?" Tanyanya padaku. Aku menggeleng. Sial, tadi aku tidak sempat tanya !
Jiraya-sensei menyodorkan sebuah buku padaku. 'Naga Kaze no Kuni, dari A sampai Z' itu yang terlihat di sampulnya. "Buka itu dan cari" titahnya.
Sepuluh menit berlalu. Buku setebal lima puluh halaman itu kubolak-balik berkali-kali. Aku tetap tidak menemukannya. Tidak ada gambar naga berkaki empat dengan dua pasang tanduk di kepala dan sepasang sayap dengan kulit berwarna oranye dan mata merah bergaris hitam.
"Kenapa tidak ada ?" Selidikku penasaran.
"Itu karena dia bukan dari Kaze no Kuni" jawab Jiraya-sensei pelan. "Kurama adalah spesies Wivereslavia, spesies dengan hubungan fisik dan genetik terdekat dengan Wyvern" bisiknya.
Aku merasa tidak asing dengan salah satu kata itu.
Wyvern.
Ya ! Bukankah Wyvern adalah...
...naga yang membunuh kedua orangtua Sakura ?
"B-berarti...dia...Pembantai Bersayap juga...sensei...?" Aku mulai lemas.
"Entahlah" jawab Jiraya. "Sejauh ini, spesies Wivereslavia adalah salah satu yang paling langka selain Etatheon. Seratus tahun lalu, habitat mereka luas, menyebar dari sebagian Selatan Hi no Kuni hingga sebelah Barat Kaze no Kuni. Tapi lambat laun mereka diburu. Konon lambung dan usus mereka dapat memberikan semacam kekuatan yang besar dengan chakra berlimpah, karena itulah jumlah mereka menurun drastis. Enam belas tahun lalu saat ayahmu memerintah Konohagakure, dia melarang perburuan Wivereslavia untuk mencegah kepunahannya. Saat itu hanya ada sekitar 50 naga jenis ini. Tapi setelah ayahmu meninggal, spesies ini diburu lagi hingga kabar burung mengatakan bahwa Wivereslavia sudah punah" jelasnya panjang lebar.
"Naga ini dijuluki sebagai salah satu masternya elemen api" lanjutnya.
"Tapi aku belum pernah melihatnya menghembuskan api sekalipun" laporku.
"Mungkin masih juvenile. Muda. Kurama, melihat fisiknya, usianya baru sekitar 40 tahun" Jiraya-sensei mengira-ngira.
"Baru 40 tahun ? Kupikir 40 tahun bukan usia yang muda" kataku heran.
"Jangan salah ! Spesies Wivereslavia dapat bertahan hidup hingga empat kali usia itu, alias 160 tahun" jelas Jiraya membuatku tercengang.
Kami berdua terdiam sejenak, sampai suara sendawa Kurama menyadarkan kami bahwa dia sudah selesai makan.
"Bolehkah dia menjadi nagaku, Jiraya-sensei ?" Pintaku penuh harap. Pria berambut putih di depanku tampak berpikir, menimbang-nimbang antara manfaat dan kerugian. Aku perlu beberapa menit sampai dia memutuskan untuk bicara.
"Baiklah".
"Terimakasih banyak, Jiraya-sensei !" Seruku gembira.
"Tapi ada tapinya" dia meralat. "Kau harus terus mengawasinya. Dia naga pertamamu dan kurasa ini pertama kalinya Kurama bertemu pengendara. Jangan sampai bersitegang apalagi bertarung dengannya, karena kau hampir bisa kupastikan kalah" godanya. "Kalian harus rukun sama seperti satu tubuh, jika satu bagian sakit maka bagian yang lain turut merasakan. Kalian harus saling membantu dan pastikan tidak merepotkan satu sama lain. Akan butuh waktu dan proses bagimu untuk mengenal karakter Kurama yang baru kau kenal beberapa jam, Naruto. Begitu pula Kurama. Tapi setelah kalian bisa saling percaya, kalian akan jadi tim yang hebat" jelasnya bertubi-tubi.
Aku mengangguk. "Aku percaya Kurama bisa jadi partner yang hebat" lanjutku sambil menatap nagaku –yang sekarang sedang mendengkur itu.
Jiraya-sensei tersenyum. "Bangunkan dia. Kita akan langsung berangkat. Teman-temanmu sudah mengepak barang-barang mereka sejak tadi pagi. Aku akan bicara dengan pihak Chrysler dan hotel sekaligus berterimakasih lalu kita meneruskan perjalanan ke Utara, ke Tsuchi no Kuni" katanya lalu bergegas pergi.
Aku turun dan segera mendatangi Kurama, melepas rantainya tanpa basa-basi. "Kita pergi sekarang" kataku pendek.
"Kemana ?"
"Tsuchi no Kuni, bersama timku" jawabku sekenanya.
"Kuharap mereka naga-naga yang baik" cetus Kurama.
Aku berpaling ke arahnya. "Kau tidak harus selalu menuntut orang lain atau naga lain untuk berubah sikap hanya karena kau tidak suka pada sikap mereka. Sikap adalah karakter, dan kau harus tahu bahwa karakter adalah sangat sulit untuk diubah. Daripada mengubah karakter orang lain, lebih baik kau beradaptasi dengan karakter mereka tanpa melupakan dirimu sendiri, tahu" cetusku.
"Haha, kau baru beberapa jam mengenalku dan sudah menceramahiku sepanjang itu. Seolah-olah kau sama tuanya dengan Kakek Jiraya itu" canda Kurama spontan. Mau tak mau aku geli mendengar dia menyebut Jiraya-sensei dengan panggilan kakek.
"Jadi itu artinya pasukan udara dan darat Kaze no Kuni tidak menemukan Dia di wilayahnya ya ?" Ia mendadak bertanya. Cerewet memang naga ini.
"Mungkin" jawabku malas.
Kami berada di luar Chrysler, menunggu timku untuk selanjutnya berpamitan pada Gaara dan pergi dari sini.
Angin gurun kembali berhembus, mengibarkan pakaianku dan sepasang kumis panjang Kurama.
"Kurama" panggilku. Ia menoleh tanpa suara.
"Adakah sesuatu yang kau tahu tentangnya ?" Tanyaku setengah hati.
"Tentang siapa ?" Dia malah balik bertanya.
"Tentang Dia, memangnya tentang siapa lagi ?" Ketusku.
"Hmm, kalau aku tahu, aku mungkin sudah memberitahukannya padamu di gurun tadi pagi" jawab Kurama. Benar kan, dia tidak tahu.
"Haahhh..." aku menghela nafas. "Naga yang kucari benar-benar terkesan legendaris, misterius, kuat, sekaligus sombong" kataku agak kesal.
"Sombong ?" Ulang Kurama. "Hei, jaga mulutmu ! Kalau Dia tahu, Dia akan marah pada Dracovetth-nya sendiri !" Lanjutnya.
"Masa bodoh !" Seruku kesal. "Nyatanya, faktanya apa ?! Aku sudah terbang dan berjalan ratusan kilometer dari rumahku yang berharga, dari desaku, dan tidak menemukan apa-apa selain naga dan orang-orang yang menaruh harapan besar padaku dan yang terburuk, aku berjumpa orang-orang mati !" Seruku kesal.
"Dan kita akan mengubah itu semua karena sekarang kau punya aku" jawab Kurama tiba-tiba. Aku tertegun. Kurama mengatakan hal seakrab ini ?
Aku memalingkan wajahku ke arahnya. "Dari pertama melihatmu, aku sudah tahu kau membawa banyak beban dan penderitaan menggerogoti tiang pancangmu. Setidaknya dengan seekor naga, kau bisa mengurangi itu semua" lanjutnya pelan. "Kau tahu ? Aku bahkan diam-diam berharap menemui seekor lagi dari spesies Wivereslavia sepertiku berupa seekor betina yang cantik agar aku bisa mengembangkan spesiesku lagi" katanya setengah bercanda.
"Kita akan menemukannya" sebuah suara mendadak terdengar di belakangku.
"Teman-teman !"
"Ayo, ke Menara Kazekage. Gaara, Kankuro, Temari, Baki, dan Sasori sudah menunggu" kata Kakashi-sensei. Aku mengangguk dan menarik tali kekang Kurama.
"Hei, apa yang kau lakukan ?!"
"Ini tali kekang, dasar ! Kau harus terbiasa dengan ini !" Omelku.
"Aku tidak bisa terbiasa dengan tali yang membatasi pergerakanku !" Kilahnya.
"Lama-lama kau pasti terbiasa !" Balasku.
"Rasanya sangat aneh, leher dan rahangku seperti dipagari, tahu !" Dia masih menggerutu.
"Berisik ! Sudah kubilang nanti kau akan terbiasa !" Ujarku bersikeras.
.
"Apa dia tidak salah memilih naga ? Ngomong-ngomong darimana dia dapat naga secerewet itu ?" Desis Hinata di barisan depanku.
"Kurama dari gurun, bukan dari toko naga. Tidak ada yang mengajarinya etika atau sopan santun" balas Kakashi-sensei.
"Bagus, sekarang di tim kita terdapat dua makhluk berisik dengan warna serupa" gerutu Shikamaru malas.
"Bagaimanapun juga, yang terbaik untuk Naruto sekarang ya dia saja" timpal Chouji sambil sibuk mengunyah kebab yang baru dibelinya.
Sakura melempar pandangan sekilas. Mata ermeland-nya beradu dengan mata ruby Kurama untuk sepersekian detik sampai gadis berambut pink itu memalingkan pandangannya ke depan lagi.
"Jadi...kalian mau pergi sekarang ?" Selidik Gaara begitu kami sampai.
"Sangat menyenangkan tinggal lebih lama di Suna, Kazekage-sama. Tapi waktu amat penting untuk kami. Jika tim pencari Anda menemukan sesuatu yang bisa membantu kami mencari Draco P, silakan kabari kami. Kami harus melanjutkan perjalanan ke Tsuchi no Kuni" jawab Kakashi-sensei hormat.
"Aku mengerti" sahut Gaara. "Baiklah jika demikian. Temari-nii akan mengantar kalian semua sampai perbatasan Suna dengan Tsuchi. Kau keberatan, Temari-nii ?" Gaara melempar pandangan pada kakak berambut kuningnya.
"Tidak, lagipula belakangan ini aku tidak padat kegiatan di Suna" jawab Temari santai.
"Baiklah. Selamat jalan, Tim Paradox". Gaara mengantar kami sampai ke Gerbang Utara Sunagakure, dan melepas kepergian kami semua bersama Kankuro, Baki, dan...Sasori, yang dari tadi tetap teguh dengan wajah datarnya.
"PASTIKAN KALIAN MENEMUKAN DIA !" Kankuro sempat-sempatnya berteriak begitu kami pergi.
"KALIAN AKAN TERKEJUT SEBENTAR LAGI !" Balasku setengah bercanda –dengan berteriak juga.
Samasekali tidak kusadari, mereka benar-benar akan terkejut sebentar lagi.
Sebentar lagi...
.
.
.
Gurun Utara Kaze no Kuni
Kilometer 12 dari Suna
"Badai pasir lagi" gerutu Kiba.
"Kita tidak ada waktu untuk menunggu, lagipula badai pasir ini tidak terlalu kencang atau pekat, walaupun jangkauannya benar-benar luas dan tinggi. Semua pakai masker dan kacamata ! Lindungi telinga, hidung, mulut, dan mata kalian !" Seru Kakashi-sensei mengomando.
"Sebentar !" Hinata mendadak memekik keras.
"Ada apa ?" Selidik Sakura.
"Ada bentuk...seekor naga...di depan arah jam 12 ! Dia hanya berjarak beberapa puluh meter dari sini !" Serunya agak panik. "Dia sepertinya pernah bertemu kita" lanjutnya dengan suara gemetar.
Sasuke mengaktifkan Sharingan. Kiba mengendus udara.
"Benar. Aku mengingat bau ini. Dia...Si Tanduk Satu..." desis Kiba.
"Styx" kata Sasuke tiba-tiba. Tangannya mengepal.
"Naga tanduk tunggal itu lagi ?" Seru Jiraya-sensei gusar. "Sialan dia, selalu saja menyerang dibalik pasir !" Gerutunya.
"DIA DATANG !"
.
VOOOOMMMM...! ! ! Api kuning mematikan menyembur dari sebuah arah, tak bisa dihindari lagi –kaki depan kanan Wlythlea milik Lee terkena ! Sakura segera melakukan Suiton dan memadamkannya, tapi sedikit terlambat. Kaki depan kanan naga itu kini lumpuh.
"HAHAHAHA ! Bertemu lagi, kuharap kalian tidak melupakanku !" Serunya jahat. Sasuke menyambutnya dengan bola api beruntun –yang langsung disegel oleh tanduk tunggalnya.
"Jadi dia Styx ! Whoa, Naruto ! Jadi kau hampir setiap saat bertemu naga-naga menakjubkan dari berbagai belahan dunia ?! Ini pasti perjalanan yang amat sangat seru ! Tidak rugi aku ikut denganmu !" Beda denganku yang memasang wajah panik, Kurama justru menikmati saat-saat ini.
"Dia bukan bintang film, Kurama ! Dia bisa membunuh kita dengan sekali..."
"KENA KAU !"
BETTT ! ! !
"CIH !"
"NARUTOOO ! ! !"
Styx menamparku dengan kaki depannya hingga terlempar dari Kurama. Aku terjun bebas ke daratan pasir dengan baju yang berkibar diterpa angin gurun yang bercampur pasir. Samar, kulihat bayangan raksasa –yaitu Styx, terbang cepat dan menukik ke arahku dan LANGSUNG meluruskan badan, dan yang terakhir kuingat adalah,
...tanduk tunggalnya menembus perutku.
Dan semuanya terasa gelap. Tubuhku bagai sedang dipotong-potong. Nyeri tak terperi menyerang seluruh tubuh, tapi aku tidak bisa bergerak samasekali. Inikah rasanya disegel tanduk itu...atau yang lain ?!
.
"Sial, pasirnya sangat banyak, kita sudah berada dalam badai pasir !" Seru Sasuke.
"Aku tidak bisa melihat apa-apa !"
"Dimana Naruto ?! Kita harus menemukan Naruto !"
"Naruto ! Berteriaklah !"
"NARUTOOO...! ! ! !"
.
.
.
.
Bersambung...
Author's Note (2):
Chapter 7 selesai ! Oya saya ingatkan ya, readers, jadwal update Paradox adalah setiap hari Sabtu (atau Minggu).
Di chapter 7 ini akhirnya kita mengetahui kejeniusan dan kehebatan seorang Naruto ! Dan karena banyak yang request naga pertama sebelum bertemu Draco P, saya kenalkan seekor Wivereslavia bernama Kurama. Hehe, ciri-cirinya agak mirip Kyuubi di Canon-nya ya ? Biar begitu dia tetap seekor naga ! Berhubung di dunia ini tidak ada Bijuu jadi saya buat saja sebagai naga biasa yang langka. Dan Kurama itu cerewet.
Oke, Sphinx itu berasal dari legenda Yunani dan dia memang menjaga jalan setapak menuju Thebes di Gunung Phycium. Soal Zmey, cari saja di internet ! Kalau tidak salah, Wikipedia punya banyak info tentang naga berkepala tiga dari cerita rakyat Rusia ini. Mereka berdua akan beraksi di chapter delapan, jadi nantikan mereka berdua berikut kekejamannya ! (Widih...jujur, saya sempat mual dikit waktu ngetik bagian percakapan Styx, Sphinx, dan Zmey soal wanita dan darah). Apa yang akan mereka lakukan pada Tim Paradox ? Dan apa yang terjadi pada Naruto ? Tunggu chapter depan !
Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !
See you again in chapter 8 !
-Itami Shinjiru-
-Dragons List in Chapter Seven :
Sphinx (Diambil dari Mitologi Yunani, seorang wanita bertubuh singa, bersayap, dan berekor ular)
Strength : Medium
Ukuran : Panjang 2 meter, berat 100 kilogram
Kecepatan terbang : 10-65 km/jam
Spesial : Tidak bisa mati apabila orang yang ditanyai teka-tekinya belum bisa menjawab dengan benar
Tipe serangan : Menembakkan cairan racun api ke korban
Kategori : Kriptid
Elemen spesial : Racun
Level bahaya : Death-see
Pemilik : Tunduk pada Uchiha Madara
Zmey Gorynych (Diambil dari cerita rakyat Rusia, naga berkepala tiga bernafsu besar)
Strength : High
Ukuran : Panjang 15 meter, berat 9 ton
Kecepatan terbang : 40-97 km/jam
Spesial : Tidak bisa mati walau diserang di bagian manapun kecuali memotong ekornya
Tipe serangan : Serangan brutal, menggunakan apapun untuk membunuh lawan termasuk apinya sendiri
Kategori : Monstrous
Elemen spesial : -
Level bahaya : Gila
Pemilik : Tunduk pada Uchiha Madara
Wivereslavia (Naga legenda Bangsa Slavia di Eropa, Wivere. Bahasa Saxon yang berarti 'ular')
Strength : Sangat tinggi
Ukuran : Panjang maksimal 30 meter (Kurama 14 meter) dan berat maksimal 20 ton (Kurama 8 ton)
Kecepatan terbang : 10-155 km/jam
Spesial : Lambung dan ususnya mengandung chakra berjumlah dahsyat
Tipe serangan : Dapat mengubah seluruh tubuh menjadi kobaran api, menembakkan api dalam berbagai bentuk dan jangkauan serang
Kategori : Monstrous
Elemen spesial : -
Level bahaya : Mematikan
Pemilik : Uzumaki Naruto (Kurama).
