Permainan Terlarang
.
.
.
.
Vocaloid bukan milik saya, tetapi milik Yamaha Corporation etc.. Tapi cerita ini adalah milik saya sepenuhnya.
.
.
.
.
Chapter 5
.
.
.
.
Tak diasangka-sangka kematian Gakupo membuat hidup Luka berubah. Hidup Luka yang biasanya dihiasi canda tawa si terong itu, kini berubah menjadi monoton tanpa canda tawa si terong itu. Luka rasa hidupnya berkurang. Luka rasa dia tidak punya semangat hidup lagi. Luka rasa dia sudah kehilangan—
—tunggu dulu. Kenapa Luka jadi begitu? Apakah Luka punya perasaan kepada Gakupo, sehingga dia menjadi seperti itu? Bukannya Luka menyukai Kaito? Apa jangan-jangan sekarang dia tidak menyukai Kaito lagi, dan …
… sekarang Luka malah menyukai Gakupo?
.
.
.
.
"Hei Luka!" sapa Gumi sambil menaruh tasnya dikursinya. "Kok ngelamun?"
"Ah, enggak pa-pa, kok." Kata Luka terbuyar dari lamunannya.
"Jangan-jangan Luka lagi sakit?" tanya Gumi khawatir.
"Enggak! Aku cuma lagi mikirin sesuatu." Kata Luka.
"Mikirin apa? Makan siang? Kata bibi penjaga kantin kan makan siang kali ini adalah sup tofu." Kata Gumi. "Kamu enggak suka makanan itu ya?"
"Enggak, aku suka aja. Lagipula aku enggak mikirin itu." kata Luka ketus.
"Terus kamu mikirin apa?" tanya Gumi. Dia sedang kepo. "Aha! Luka pasti lagi mikirin—"
Luka deg-degan. Apakah tebakan Gumi kali ini benar? Kalau tebakan Gumi kali ini benar, habislah dia …
"—rumah makan tuna yang baru dibuka itu kan? Pasti Luka mau ke sana!" kata Gumi.
"Eh—iya sih. Aku mau ke sana," kata Luka mengiyakan.
"Tuh kan! Pikiran Luka pasti enggak jauh dari tuna! Kalau kamu ke sana, ajak aku ya!" kata Gumi. Luka hanya mengangguk sambil tersenyum. Tersenyum dipaksakan.
Fuh … setidaknya, Luka lega karena tebakan Gumi salah. Dan soal rumah makan tuna barusan itu cuma kebohongan Luka agar pikirannya tak terbaca.
.
.
.
.
Luka menghembuskan napas berat sembari menikmati pemandangan langit sore yang indah. Uh, rasanya sepi sekali. Biasanya dia, Miku, Kaito, Rin, Len, Gakupo, dan Gumi pergi ke atap sekolah untuk sekadar bersenda gurau dan melihat langit sore yang indah. Kali ini, dia pergi sendirian. Gumi sedang piket, dan yang lainnya telah tiada. Yah, Luka hanya bisa menerima nasib itu dengan ikhlas. Tapi dia masih heran, mengapa teman-temannya pergi begitu cepat dan berurutan? Mungkin hanya Tuhan-lah yang tahu.
Luka berpikir, seandainya saja Gakupo masih hidup. Biarlah yang lainnya mati—termasuk Kaito, orang yang dahulu pernah disukai Luka—asalkan Gakupo hidup, rasanya hidupnya begitu indah—walaupun dia sering sekali berkata bahwa dia membenci Gakupo. Ah, kalau sudah begini, rasanya dia menyesal telah berkata bahawa dia membenci Gakupo. Yah, inilah yang namanya 'penyesalan itu pasti datng di akhir'.
"Oi, Luka! Maaf aku lama banget." Kata Gumi. Luka menoleh, oh akhirnya dia tidak sendirian di sana.
"Gak pa-pa." kata Luka singkat.
"Ah … rasanya sepi banget ya kalo gak ada si terong jones itu." kata Gumi.
Tiba-tiba Luka meneteskan air mata, karena beberapa kali dia mengingat si terong jones itu. gumi kaget melihat Luka menangis.
"Eh? Luka nangis ya?" tanya Gumi.
"Aku—aku … aku enggak nangis! Aku cuma—mataku cuma kemasukan debu, jadinya berair begini!" kata Luka berbohong, sambil tertawa kecil. Gumi hanya menghembuskan napas pelan. Dia tahu bahwa Luka berbohong. Hanya saja Gumi diam.
"Kalau matamu masih enggak enak, kita ke UKS aja minta obat tetes mata." Kata Gumi.
"Enggak usah deh," kata Luka.
"Ya sudah … kalau gitu, kita ke rumah makan tuna itu yuk? Biar aku yang traktir." Kata Gumi menawarkan.
"Ok, ok." Kata Luka sambil tersenyum tipis.
"Nah! Ayo! Kita jalan kaki aja, kan cuma sepuluh menit dari sekolah kita!" kata Gumi sambil berlari kecil menuruni tangga. Luka hanya mengangguk kecil sambil mengikuti Gumi.
Untung saja Gumi—sahabat terbaiknya itu—tidak ikut mati, batin Luka.
.
.
.
.
Akhir-akhir ini Luka makin sering melamun. Tpai untung saja dia melamun di sat istirahat, bukan di saat pelajaran berlangsung. Hal itu membuat Gumi bingung, dan membangkitkan perasaan keponya—seperti biasa.
"Luka, kenapa akhir-akhir ini kamu suka melamun?" tanya Gumi.
"Enggak kok! Mungkin hanya perasaanmu saja." Sanggah Luka.
"Enggak mungkin! Kamu tuh sering melamun. Atau kamu mikirin sesuatu?" tanya Gumi.
"Iya, seperti biasanya." Kata Luka.
"Mikirin apa?" tanya Gumi. "Makanan dari tuna?"
"Bukan."
"Minuman yang aneh?"
"Bukan."
"Tempat wisata? Sebentar lagi kan musim panas."
"Bukan."
"Seseorang?"
Glek. Habislah Luka.
"Naaah~~ kok cuma diam? Jangan-jangan Luka memang benar-benar mikirin seseorang!" kata Gumi.
"I-iya sih." Kata Luka.
"Cewek atau cowok?"
"Cowok."
"Naaah! Jangan-jangan Luka masih mikirin Kaito?" tanya Gumi.
"Enggak kok. Aku enggak suka lagi sama dia." Kata Luka ketus.
"Eeeh? Masa? Bukannya dulu kamu suka sama Kaito?"
"Memang, tapi itu dulu. Sekarang aku tidak menyukainya lagi. Jadi, aku tidak memikirkannya."
"Wah, gara-gara Kaito mati sama Miku, ya? kamu jealous?"
"Enggak!"
"Lalu … apa jangan-jangan kamu move on ke Len?"
"Enggak. Kamu yang suka sama dia kan?" kata Luka.
"Oh iya ya! Tapi dia kan udah enggak ada … oh, aku tahu! Kamu pasti mikirin seseorang yang sedang kamu sukai, alias—"
Luka deg-degan.
"—Gakupo. Ya kan?"
Wajah Luka hanya memerah, diiringi tawa kecil Gumi.
"Akhirnya Luka jatuh cinta padanya, ya?"
.
.
.
.
Semenjak Gumi mengetahui bahwa Luka menyukai Gakupo, Gumi suka sekali menyinggung soal Gakupo.
"Oh iya, Luka." Kata Gumi.
"Apa? Gakupo lagi?" tanya Luka ketus.
"Bisa dibilang begitu … tapi, apakah kau tidak penasaran mengapa teman-teman kita mati secara berurutan oleh karena kecelakaan yang tidak disengaja—kecuali Gakupo yang dibunuh adiknya?" kata Gumi.
Luka hanya diam. Dia memang penasaran juga, tpai dia tidak ingin mengingat itu lagi, karena makin membuatnya sedih atas kepergian teman-temannya.
"Aku juga penasaran, hanya saja aku diam." Kata Luka.
"Apa kau ingat permainan yang kalian mainkan waktu itu?" tanya Gumi. Luka mengingat-ingat,
"Permainan yang mana?" tanya Luka.
"Yang itu lho … yang meramalkan cara kematian kalian." Kata Gumi.
Oh tidak! Luka ingat!
"I-iya. Aku ingat sekarang." Kata Luka. "Memangnya kenapa?"
"Aku dengar saat kalian bermain—ramalan yang diambil oleh teman-teman kita itu benar-benar terwujud." Kata Gumi. Luka terdiam, Gumi pun mulai menjelaskan. "Kai ingat? Miku dan Kaito diramalkan tewas karena kecelakaan. Ternyata itu benar. Kemudian Rin yang tewas tertimpa lemari besi dan Len yang dibunuh oleh seorang psikopat. Itu juga benar! Lalu, pembunuhan Gakupo oleh Gakuko yang menggunakan racun, itu juga benar."
Luka hanya bisa mematung. Diam seribu bahasa. Dan dia ingat kalau dialah—
"Dan kau yang menciptakan semua ramalan itu, Luka! Ingatlah!"
—sang pencipta ramalan di permainan terlarang itu.
Luka menyesal pada akhirnya. Mengapa dia menciptakan permainan mengerikan itu? mengapa? Mengapa?!
"Aku ingat, memang aku yang menciptakan permainan sialan itu! aku ingat, Gumi, aku ingat! Dan itu kesalahanku, kan?! Kesalahanku!" kata Luka, kemudian mulai jatuh air mata rasa bersalah dari kedua matanya. "Aku memang bodoh!"
"Bu-bukan maksudku untuk—ukh … berhenti menangis, Luka! Itu sudah terjadi! Kalau kau menangis, tak ada artinya juga!" kata Gumi berusaha menenangkan Luka.
"Ukh … tapi aku memang bersalah! Aku harus mati untuk menebus ini, benar kan?!" kata Luka. Gumi terkesiap. Mati? Luka ingin menebus semuanya dengan kematiannya?
"Kau tidak boleh mati, Luka!" kata Gumi.
"Aku harus mati untuk menebus itu, Gumi! Kau ingat ramalan kematianku? Aku bunuh diri!" kata Luka.
"Kau tidak boleh bunuh diri! Kau masih punya masa depan!" kata Gumi.
"Masa depan apanya? Kalau tanpa Gakupo, hidupku tak ada apa-apanya!" kata Luka.
"Oh, jadi kau tidak bisa move on, Luka? Aku saja bisa! Masa kamu enggak? Masih banyak lelaki yang bisa kamu sukai, Luka! Dan kau tak perlu mati!" kata Gumi. "Lalu, kan aku masih ada untuk menjadi sahabatmu, Luka!"
"Kau tak mengerti perasaanku, Gumi!" kata Luka sambil terus menangis, kemudian ida berlari menuruni tangga dan meninggalkan Gumi sendirian di atap sekolah.
"Luka!" kata Gumi. Namun terlambat, dia tak bisa menyusul Luka lagi.
Gumi hanya bisa pasrah sekarang.
.
.
.
.
Luka sekarang mengunci diri di kamarnya. Beberapa kali ibunya memanggilnya untuk makan, tapi dia tetap tak bergeming. Dia hanya menangis dan menangisi kesalahannya yang membuat teman-temannya mati.
Luka memandangi fotonya bersama teman-temannya. Kemudian dia menusuk-nusuk wajahnya yang ada di foto itu sampai wajahnya tak terlihat lagi.
"Aku bodoh! Aku sialan!" kata Luka kepada dirinya sendiri. Dia terus menangis. "Aku memang tak pantas menjadi orang baik … aku tak pantas hidup lagi … aku harus menebus kesalahanku …"
Kemudian Luka menangkap adanya pisau dapur yang tergeletak di atas meja belajarnya. Dia baru mengasah pisau itu sore tadi. Rupanya, dia benar-benar frustasi. Kemudian, Luka mengambil pisau tersebut.
"Dengan ini, aku akan menebus kesalahanku."
.
.
.
.
"Luka … ada Gumi-chan! Katanya dia ada keperluan!" kata ibu Luka sambil mengetuk pintu kamar putrinya.
Gumi khawatir sekarang. Dari tadi Luka tidak mengangkat teleponnya atau membalas SMS-nya, makanya Gumi memilih untuk mendatangi Luka saja.
"Hei, Luka! Ada Gumi-chan, lho!" kata ibunya. "Ya ampun … apa dia tertidur ya … tunggu sebentar ya, Gumi-chan,"
"Ya, tante." Kata Gumi datar.
"Hei Luka! Jangan bercanda ya!" kata ibu Luka mulai khawatir kaerna dari tadi Luka tidak menjawab sama sekali. "Ibu masuk ya, Luka."
Ibu Luka pun mencoba memutar grendel pintu kamar Luka. Dikunci!
"Ukh, bagaimana ini?" kata ibu Luka.
"Apa ibu punya kunci cadangan?" kata Gumi.
"Tidak punya …," kata ibu Luka dengan cemas.
"Kalau begitu, kita tidak punya pilihan lain lagi, tante. Kita harus mendobrak pintunya!" kata Gumi. Mau tidak mau, ibu Luka menurut saja pada Gumi.
"Nah, 1 … 2 … 3 …!" kata ibu Luka.
Brak!
Untunglah tenaga mereka masih ada, jadi pintu kamar Luka langsung terbuka. Mereka berdua senang, namun kesenangan mereka segera sirna ketika—
"Luka!"
—menemukan Luka yang bersimbah darah, dengan pisau dapur yang tertancap di jantungnya.
.
.
.
.
Pemakaman Luka baru saja selesai diadakan. Yang menangis paling kencang adalah Gumi. Bagaimana tidak, dia sekarang tidak punya sahabat lagi. Kini, smeua teman baiknya menghilang. Semuanya mati karena permainan terlarang tersebut.
Sekarang, tinggal Gumi yang berada di makam Luka yang berada di samping makan teman-temannya—Gakupo, Len, Rin, Kaito, dan Miku.
"Ukh … kenapa sih kalian mati sia-sia begini? Dan kenapa kalian meninggalkan aku?!" kata Gumi. "Kalian benar-benar bodoh."
Kemudian Gumi menangis lagi,
"Kalian benar-benar bodoh! Itu permainan yang terlarang, mengapa kalian berani sekali?!" kata Gumi, kemudian dia sadar kalau dia sendirian di sana. "Oh, aku seperti orang bodoh saja. Sudahlah. Ini keputusan kalian untuk mati konyol—dan aku tidak bisa mencegah kalian dan tak akan menyusul kematian kalian ini."
Kemudian Gumi menaruh bunga di makam Luka,
"Dan kau, yang menciptakan permainan terlarang itu." kata Gumi. "Sekarang kau tahu akibantya, kan?"
Kemudian, Luka berjalan menuju gerbang pemakaman, kemudian menghadap ke arah makam teman-temannya,
"Selamat tinggal. Kalian memberiku pelajaran agar tidak memainkan permainan itu." kata Gumi. "Terima kasih, semunya."
Kemudian dia keluar dari pemakaman itu, menghilang di perempatan jalan menuju rumahnya.
.
.
.
.
The End.
.
.
.
.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
tadaaaaaaaaa~~~ akhirnya selesai jugaaa~~ *tabur bunga*
gi-gimana? endingnya bagus enggak? akhirnya saya mutusin buat ngebunuh Luka *dilindas* kemudian, terima kasih yang sebesar-besarnya karena kalian sudah membaca fanfic ini dari chapter 1 sampai 5~~ kalau kalian enggak ngebaca, saya bisa bangkrut …
dan … mind to review? sekli lagi, terima kasih yang sebesar-besarnya karena kalian sudah ikhlas membaca fanfic ini dari awal sampai akhir~~ gomen kalau ada typo dan gomen kalau endingnya tak sesuai dengan harapan kalian …
