Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody" dari Eragon dan How to Train Your Dragon.
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.
Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Typo, Death Chara
Pair : Possibility NaruSaku as first
Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance
Author's Note :
Jumpa lagi di chapter 8, readers !
Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima.
Untuk sementara, yaitu satu chapter, saya membahas kehidupan Naruto lebih dulu setelah ditusuk tanduk Styx. Soal kelanjutan petualangan Tim Paradox, niscaya akan saya beberkan di chapter sembilan. Dan disini juga ada pendatang baru lagi, yaitu naga pengacau yang mungkin namanya sudah pernah readers dengar. Tapi bentuknya beda lho ! Dan yang request adegan gore...of course ! Para Pembantai Bersayap adalah kejam, jadi tunggu saja kekejaman mereka ! Gore mulai terlihat di chapter ini, tapi tidak hanya itu ! Puncaknya akan datang beberapa chapter kedepan, jadi terus ikuti fic ini kalau tidak mau melewatkannya –walau saya akan buat tidak terlalu detil karena ini fic rate T.
Soal Kurama...berhubung dia tidak ditusuk oleh Styx, jadi nasibnya pun akan berbeda. Kira-kira apa teka-teki yang diberikan Sphinx saat mereka sudah sampai di Gunung Phicium ? Dan bagaimanakah Tim Paradox menghadapi Zmey yang rakus dan brutal itu ?
Dan bagi yang lupa-lupa ingat soal istilah-istilah dalam fic ini, daripada repot-repot bolak-balik chapter, saya suguhkan disini saja:
-Chrysler : Tempat pengasuhan naga serupa peternakan, bentuk bangunan bebas. Silakan bayangkan seperti peternakan pada umumnya, kubah kaca, atau gedung berrongga.
-Dracovetth : Pengendara naga
-Draco P : Singkatan / sebutan bagi Paradox atau pengendaranya
-Getah Erfmyst : Getah dari Pohon Erfmyst (Bayangkan sejenis pinus) yang dapat membuat seekor naga bicara dalam bahasa manusia untuk jangka waktu tertentu (Lebih lanjut baca Chapter 1)
-Etatheon : Delapan Naga Dewa dengan kemampuan luar biasa (Lebih lanjut baca Chapter 5)
-Pembantai Bersayap : Sebutan untuk naga ganas pemakan manusia, belakangan dikaitkan dengan pesuruh Uchiha Madara
-Penunggang Angin : Sebutan untuk naga dengan kemampuan terbang yang hebat
- Othlothon : Jenis segel yang dapat melindungi bau, warna, dan rasa dan dapat bertahan hingga beberapa dekade (Lebih lanjut baca Chapter 2).
Enjoy read chap 8 !
Gurun Utara Kaze no Kuni
Kilometer 12 dari Suna
"Badai pasirnya reda lebih cepat dari yang kukira" desis Kakashi-sensei. Mereka perlahan mulai melihat lebih jelas.
"Dimana naga sialan itu ?" Gerutu Lee.
"Yang lebih penting, dimana Naruto ?!" Seru Shikamaru.
.
"Oh, bahkan dalam keadaan begini kalian masih sempat mengkhawatirkan bocah cerewet kuning itu ?" Sebuah suara menyapa mereka dengan sinis.
"STYX ! KEMBALIKAN NARUTO, SIALAN !" Bentak Kurama. "Wow, aku tidak percaya lidah dan mulutku ini melafalkan nama salah satu Etatheon" tambahnya sambil mengatup-ngatupkan rahangnya.
Styx tampak salah tingkah melihat kelakuan naga oranye yang terkesan aneh dan kekanak-kanakan itu, tapi ia berhasil menguasai diri. "Tenang saja. Aku tidak menyegel Narutomu itu kemana-mana...dia tidak berada terlalu jauh dari sini. Dia masih di Bumi, tapi tidak akan seru kalau kuberitahu dimana dia" katanya tenang.
"K-kau menyegelnya ?!" Seru Sasuke terkejut.
"Aku tidak menyebutnya menyegel..." jawab Styx enteng. "Perlu kalian ketahui, tandukku ini tidak hanya berfungsi untuk menyegel atau mematikan pancaindera, tapi juga bisa menteleportasikan seseorang atau suatu benda ke tempat manapun yang kuinginkan. Dia hanya kupindahkan. Kemana, cari sendiri" jelasnya cepat.
"Kau akan mati disini !" Seru Shikamaru. Ia berjongkok, menyatukan kedua tangannya, dan dalam sekejap bayangannya memanjang hingga berusaha mengenai bayangan naga iblis itu.
"Whooo, Kagemane no Jutsu, ya ? Kau takkan bisa membunuhku semudah itu, rambut nanas" ejek Styx.
"Rambut nanas ?!" Ulang Shikamaru kesal.
Kakashi-sensei melompat. Raikiri siap di kedua tangannya.
Tapi naga itu menghindarinya dengan mudah. "Aku tidak mau bertarung dengan kalian" katanya misterius. "Ada yang menunggu kalian dan aku akan dihajar habis-habisan kalau aku melanggar kata-kataku. Ada yang mau bertemu dengan kalian dan itu lebih penting" lanjutnya. Api kuning kelam membakar tubuhnya dan dia segera menghilang.
"Cih, dasar sialan. Apa yang harus kita lakukan sekarang ? Kita tidak tahu dimana Naruto berada" gerutu Kiba.
"Bukannya Naruto bisa Shunshin no Jutsu dengan Hiraishin Kunai, Kakashi-san ? Dia pasti bisa kembali kemari" cetus Sakura.
"Ya, itu kalau ada Hiraishin Kunai yang kusimpan" balas Kakashi-sensei kecewa.
"Maksud Anda ?"
"Lima Hiraishin Kunai yang ada, semuanya dibawa Naruto. Dan bahkan tidak ada satupun yang jatuh ke tanah ketika dia ditampar tadi".
"Jadi sekarang bagaimana ?" Tanya Ino bingung.
"Tenang. Akan kuhubungi Lima Negara Besar, terutama Suna dan Iwa, karena Styx bilang Naruto tidak jauh dari sini. Sementara itu, mungkin akan lebih baik jika kita tinggal di Sunagakure lebih dulu" Kakashi-sensei menyusun rencana.
"Kita tidak bisa menjamin apakah Styx berbohong atau tidak" tegas Hinata.
"Lagipula itu akan membuang waktu, Kakashi-san" sambung Sasuke.
"Memang. Tapi kurasa dia jujur. Ada motif tersembunyi tentang itu, ingat ? Dia bilang kita ditunggu di perjalanan. Dan lagi, kita tidak tahu dimana Naruto dan begitu pula sebaliknya. Bagaimana menurut Anda, Temari-san ?" Kakashi-sensei akhirnya meminta pendapat Temari.
"Menurut saya...mungkin akan lebih bijak jika kalian menunggu barang sehari di Suna" kata gadis berkucir empat itu. "Tim pencari Suna akan melakukan pencarian sebisa mungkin untuk menemukan Naruto. Tinggallah sehari dulu di Suna sebelum melanjutkan perjalanan yang tergantung pada ditemukannya Naruto atau tidak" lanjutnya.
"Cih, baru juga beberapa jam, kau sudah berani meninggalkanku, Naruto" gerutu Kurama.
"Ini tidak akan terjadi kalau kau melindunginya tadi, bukannya memperlakukan Styx seperti tamu terhormat" balas Sakura sinis.
"Baiklah, semuanya, putar haluan kalian. Kita kembali ke Suna satu hari" perintah Jiraya-sensei agak malas. "Yang terpenting...kuharap Naruto baik-baik saja, dimanapun dia berada".
PARADOX
Chapter Delapan :
The Ruby Queen
Seluruh tubuhku terasa nyeri. Nyeri yang sangat menyiksa. Seperti ada ratusan jarum yang menusukku sekarang. Aku berusaha mengingat-ingat.
Semuanya gelap. Atau mungkin remang-remang. Aku tidak mengerti. Seperti inikah rasanya ditusuk atau dikutuk Styx ?
Apa sekarang aku tidak bisa melihat, mendengar, mengecap, membau, dan meraba lagi ?
Apa sekarang aku tidak bisa bergerak lagi ?
Apa sekarang satu-satunya yang bisa kulakukan hanya bicara, bernafas, dan makan ?
Dimana Kurama ?
Dimana Kakashi-sensei ?
Dimana Jiraya-sensei ?
Dimana Sasuke, Lee, Hinata, Kiba, Shikamaru, Ino, Chouji, Temari...
Dimana Sakura...?
Dimana...aku...?
.
.
Kurasakan tanganku bergerak. Aku meraba. Meraba ! Aku bisa meraba ! Sesuatu yang halus...Jadi yang dilumpuhkan Styx bukan peraba.
Aku mencium bau...yang terasa seperti bau obat-obatan herbal. Jadi...jadi aku bisa mencium ! Penciumanku bukan yang dilumpuhkan !
Aku mendengar suara cicit burung. Sebentar ! Mendengar ? Aku bisa mendengar ! Kalau begitu tinggal dua indera sekarang...
Mendadak, aku merasakan pahit di lidahku. Kurasakan lagi. Ini terasa seperti...
Pasir ?
Mendadak, langsung saja aku bangun, meludah-ludah berusaha mengeluarkan pasir yang tersisa di mulutku. Sungguh rasanya tidak enak. Jadi...indera pengecapku juga tidak dilumpuhkan ? Dan aku bisa bangun, berarti aku tidak lumpuh. Kalau begitu, yang tersisa sekarang adalah...
...Pengelihatan.
Apa aku buta ? Aku mencoba membuka mataku takut-takut. Dan aku begitu lega ketika menyadari kedua mataku masih bisa melakukan tugasnya dengan sangat baik, aku masih bisa melihat ! Tapi sebentar.
Dimana aku ?
Aku berada di sebuah kasur...dengan selimut berwarna merah dan seprai berwarna merah pula. Aku berada di sebuah ruangan yang kupikir adalah kamar...yang memiliki sepasang jendela dengan mosaik kaca yang indah dan berwarna-warni. Aku mengusap mata. Dimana aku ? Ini tidak terlihat seperti di Sunagakure atau Konohagakure.
.
.
"Kau sudah sadar ?"
Suara itu mengejutkanku. Aku menoleh ke kanan-kiri mencari sumbernya. Aha. Seorang perempuan berkulit putih, dengan rambut terikat. Sebagian besar rambutnya berwarna hijau tua, tapi sebagian yang dibiarkan tergerai di sisi kanan dan kiri wajahnya berwarna oranye. Mata oranye kecoklatannya menatapku dengan tatapan bersahabat. Tubuhnya dibalut baju abu-abu gelap tanpa lengan. Sepertinya dia bukan orang jahat.
"Dari Konohagakure, ya ?" Ia kembali bicara.
Aku meraba keningku. Ikat kepalaku tidak ada. Perempuan itu mengambil sesuatu dari laci meja dekat situ.
"Aku melepasnya tadi" Ia kini memegang ikat kepala Konoha-ku. Detik berikutnya, aku mengambil dan memakainya.
"Siapa namamu ?" Dia kembali bertanya. Aku sedikit bingung. Kujawab atau tidak, ya ?
"Uzumaki Naruto" jawabku ragu. "Dimana aku ?" Aku mulai balas bertanya.
"Kau ada di Rouran" jawabnya singkat. Rouran ? Aku mengernyitkan dahi. Aku belum pernah mendengar nama itu.
"Tepatnya sering disebut Kota Besar Rouran, terletak di Gurun Barat Laut Kaze no Kuni. Hanya sepuluh kilometer dari Tsuchi no Kuni" ia menjelaskan.
Kaze no Kuni ? Tsuchi no Kuni ? Aku tidak asing dengan kata itu.
"Kenapa ? Kau ingat sesuatu, kan ? Jangan bilang kalau kau tidak ingat apapun !" Perempuan itu mulai panik. Aku menggeleng.
"Mana mungkin aku tidak ingat. Err...ngomong-ngomong...bagaimana aku bisa ada disini ?" Tanyaku bingung.
"Pasukan Pengintai Rouran menemukanmu tergeletak tepat di depan pintu gerbang kota Selatan. Kami tidak tahu siapa kau, mungkin pengembara yang kelelahan. Jadi kami membawamu kemari dan mengobatimu" ceritanya singkat. "Apa hal terakhir yang kau ingat, Naruto ?"
Aku memejamkan mata. "Seekor naga..." desisku. "Dia menyerangku...dan menusukku dengan tanduknya yang panjang dan tajam...tepat di perutku..." aku kembali bersuara. Perempuan itu mengernyit.
"Perut ?" Ulangnya. "Kami tidak menjumpai luka apapun di perutmu" lanjutnya.
Aku menyingkap bajuku. Benar, perutku samasekali tidak berdarah atau tergores, atau apapun ! Aneh, padahal aku jelas-jelas melihat Styx menusukkan tanduk tunggalnya tepat ke perutku !
"Apa kau seorang Dracovetth ?" Perempuan itu kembali bertanya. Aku langsung teringat nagaku.
"Kurama ! Kalian melihat Kurama juga ? Seekor...emm...spesies Wivere...Wivere...Wivere apalah itu, dia berwarna oranye dengan dua sayap dan empat kaki, mata merah dan garis hitam di mulut dan mata ? Kalian melihatnya juga ?" Aku bertanya bertubi-tubi. Perempuan itu menggeleng.
"Kau sendirian" katanya pendek. "Kurama pasti nagamu. Entah bagaimana juga kau bisa ada disini. Ngomong-ngomong, bisakah kau ingat atau kau ketahui, naga jenis apa yang menusukmu ?"
"Styx" aku menjawab ragu. Mata perempuan itu membesar.
"Ya ampun !" Serunya. "Kau diserang oleh seekor Styx ?! Dia pasti menusukmu dengan tanduknya !"
"Benar" jawabku jujur. "Jadi apa yang sebenarnya terjadi ? Kukira tanduk itu bisa menonaktifkan pancaindera dan melumpuhkan serta menyegel apapun yang dikenainya, kenapa sekarang aku baik-baik saja ?" Ujarku bingung.
"Ada satu kemampuan lainnya, Nak. Dia bisa memindah benda atau orang yang ditusuknya ke tempat lain dalam waktu yang sama !" Serunya.
"Jadi...aku dipindahkan ke Rouran ?" Semburku. Dia mengangguk.
"Hanya dipindahkan. Ini masih di masamu, bukan setahun ke depan, setahun yang lalu, tidak juga puluhan atau ratusan atau ribuan tahun kedepan atau yang lalu" jawabnya panjang lebar.
"Hari apa sekarang ?" Aku mulai teringat.
"Hari ini hari setelah kemarin" jawab perempuan itu enteng. "Kau pingsan hampir sehari semalam. Lebih tepatnya sekitar 20 jam".
Aku termagu. Dua puluh jam bukan waktu yang sebentar. Apa yang sedang mereka lakukan di luar sana sementara aku terbaring lemah disini ?!
"Nona, bisa kau antar aku ke Suna ? Atau siapapun, kumohon ! Aku punya urusan yang amat sangat penting disana bersama teman-teman dan nagaku !" Pintaku.
"Apa maksudmu ? Kau memang diperbolehkan pergi, tapi setidaknya lihatlah sekelilingmu sebentar. Seluruh memar di tubuhmu masih belum sembuh benar ! Kau masih akan kesakitan berjalan sejauh itu" kata perempuan itu setengah mencegah.
"Kau tidak mengerti, tapi aku harus pergi" kataku tegas. "Teman-temanku...nagaku...bahkan kurasa harus kubilang, dunia membutuhkanku" lanjutku.
Perempuan itu tersenyum kecil. "Apa tadi terlihat lucu ?" Sambarku ketus.
"Haha, tidak. Aku mulai penasaran apa efek dari tanduk Styx" katanya pura-pura serius.
Aku mulai marah dikatakan sedang dalam pengaruh segel. "Aku serius, nona ! Jika aku tidak segera pergi dari sini, entah apa yang akan terjadi ! Mereka semua pasti juga sedang mencariku !" Aku mulai berontak.
"Pertama, jangan panggil aku nona. Yahh, walau aku belum bersuami sih" sambutnya santai. "Dan kurasa ada alasan kenapa Styx sampai menusukmu dengan senjata istimewanya itu. Dia golongan Pembantai Bersayap, jadi biasanya lebih memilih menyiksa lalu memakan manusia daripada menteleportasikannya ke tempat lain" ceritanya.
"Tentu saja dia melakukan itu" kataku ketus. "Asal kau tahu saja, aku Draco P" aku akhirnya mengeluarkan serangan pamungkas. Dan itu sukses membuatnya tertegun. "Hmph, dasar. Aku memberitahukan hal serahasia ini padamu karena aku percaya kau bukan orang jahat, no..."
"Pakura" tabrak perempuan itu.
"Heh ?"
"Namaku Pakura dari Rouran. Aku lahir di Sunagakure tapi pindah kesini saat remaja" ceritanya singkat. "Uzumaki Naruto...jadi...kau seorang Draco P ?! Ini sungguh tidak bisa dipercaya..." katanya sambil garuk kepala, salah tingkah. "Tahu begini, aku berdandan lebih rapi tadi" candanya. "Maaf ya atas kelancanganku, aku benar-benar tidak tahu".
"Ah, tidak apa. Jadi...Pakura-san, bisakah kau, atau siapa saja, mengantarku kembali ke Suna secepatnya ?" Aku mulai lebih terbuka.
"Sebenarnya aku ingin saja...tapi..." Pakura mulai berpikir. "Kurasa akan sangat bagus kalau kau bertemu dia dulu" Pakura memberi penekanan pada kata 'dia'. Mataku membesar. 'Dia' yang selama ini selalu hadir dalam pikiranku ? Naga itu ?! Apa 'Dia' benar-benar ada di Rouran ?! Apa Paradox benar-benar ada disini ?!
"Siapa ? Apa Paradox benar-benar ada disini, Pakura-san ?" Serbuku tak sabar.
Dia malah terlihat bingung. "Paradox ?" Ulangnya. "Tidak, bukan itu ! Memangnya siapa yang mengetahui tempat tinggal naga itu ? Yang kumaksudkan adalah kau harus bertemu ratu Rouran ! Ratu kami !" Serunya.
Aku langsung lemas. Aduh, bisa lama urusannya kalau begini caranya. Ratu, ya ? Aku belum pernah bertemu seorang ratu selama hidupku. Hmm, tapi kenapa Pakura hanya memberitahu soal ratu ? Kenapa tidak raja atau kaisar ? Atau Rouran Kage, mungkin ? Apa kota ini hanya diperintah oleh seorang ratu ?
"Ayolah, kau pasti senang" katanya setengah menggoda. "Rapikan dulu dirimu, disana ada kamar mandi. Aku akan menunggumu dan kita akan pergi ke Menara Tertinggi. Disana dia akan menyambutmu" titahnya tanpa bisa ditawar. Aku menghela nafas berat, tapi kemudian mengambil handuk. Yahh, hitung-hitung membersihkan tubuhku dari pasir yang seharian melekat di kulitku.
Southeast Tower of Rouran
-Restricted Area-
"Siap ?"
"Kapanpun itu".
"Oke. Dobrak saat hitungan ketiga. Dan ingat. Dalam keadaan apapun, menunduklah. Jangan sampai kalian melihat matanya atau kalian berakhir".
"Mengerti !"
"Satu..."
"...dua..."
"...TIGA !"
BRAAAKKK ! ! !
"Siapkan pedang ! Panah, fokuskan ! Pertajam telinga kalian, laporlah jika mendengar sesuatu, sekecil apapun itu ! Dan ingat, tetaplah menatap ke bawah !"
"Kapten ! Suara desisan ! Anda mendengarnya ?"
"Ya, aku mendengarnya".
"Tidak kusangka dia akan muncul secepat itu..."
"Dimana ? Dari mana suara itu berasal ?!"
"Suara langkah kaki...makin dekat !"
"Tetap waspada ! Dan tetaplah menunduk ! Apapun yang terjadi, jangan lihat wajahnya jika dia datang !"
"Bayangan merah ! Ekor kuning dan sayap oranye...itu dia ! Dia berkelebat, kapten ! Dia menuju ke arah kita !"
"Hujani dengan panah !"
"Mustahil ! Dia terlalu cepat ! Kulitnya terlalu tebal !"
"Kapten ! Jejaknya menghilang !"
"Binatang sialan...dimana dia sekarang ?"
.
.
"Kau mendengar sesuatu ?"
"Huh ? Hei ! Setakut apapun kalian, jangan ada yang mengompol di celana, itu memalukan tahu !"
"Apa maksudmu ?"
"Lihat cairan kuning ini !"
"Itu bukan urine, bodoh ! Itu lebih kental...seperti...air liur.."
"Hiii, selongsong aneh apa ini ?"
"Itu bukan selongsong, kapten ! Itu potongan usus manusia korbannya yang belum sempat dimakan !"
.
"DI ATAS !"
"BODOH ! JANGAN LIHAT KE ATAS !"
.
BRUK
"Sial ! Dia melihat matanya !"
KWAAAAAAKKKK !
.
.
.
BRUK
.
BRUK
.
.
.
Center Tower of Rouran
The Queen's Residence
"Jadi...tidak ada raja ?" Tanyaku lagi. Pakura menggeleng.
"Kenapa ?" Aku masih belum puas bertanya.
"Entahlah. Kau tahu kan aku sama saja imigran. Tanyakan saja pada ratu nanti" katanya cuek.
"Itu terdengar kurang sopan" tanggapku.
"Haha, kau akan berpendapat lain begitu sudah melihatnya" tukas Pakura tak mau kalah.
"Memangnya kenapa dia ? Dia cepat akrab pada seseorang, pengertian, atau apa ?" Aku terus bertanya.
"Draco P ternyata cerewet juga, ya ?" Simpul Pakura geli. Yah, yang itu akhirnya sukses membuatku diam selama 'perjalanan' menuju puncak menara –yang harus dilewati dengan ratusan anak tangga yang membuat sendi kakiku terasa kaku bagai kekurangan minyak ! Semua bangunan di Kota Besar Rouran adalah MENARA, dan mereka bervariasi -50 meter untuk yang paling rendah, dan 250 meter untuk yang paling tinggi, alias Menara Tengah, dan semuanya dicapai dengan tangga, walau ada banyak jembatan layang yang menghubungkan satu menara dengan menara lainnya. Semua menara berwarna indah, mulai dari merah, coklat, oranye, hijau, kuning, biru, walau semuanya warna-warna 'calm' tapi membuatku tidak habis pikir, kira-kira berapa generasi yang dibutuhkan untuk mewujudkan kota seindah sekarang ini, ya ?
Aku berani bertaruh tidak makan ramen sebulan, jika diadakan lomba berjalan mendaki gunung se-Lima Negara Besar, perwakilan dari Rouran akan menyabet medali emasnya.
"Oke. Kita sampai di lantai 40, tempat singgasana ratu. Ayo, Naruto-sama. Jangan buang-buang waktu, selagi masih pagi" ajak Pakura santai.
Tidak denganku.
"Ada kursi ?" Tanyaku dengan nafas terengah-engah. Pakura geleng-geleng kepala. "Aku harus istirahat dulu. Lima menit saja. Lelah sekali" desisku terputus-putus.
"Duduk saja di lantai, telentang lima menit" perintah Pakura malas sambil mengamati arlojinya. Aku tidak melihat kursi di sekitar situ, jadi terpaksa aku telentang di lantai seperti orang kalah duel.
Lima menit berlalu.
"Ayo cepat".
Kami berjalan –ralat. Pakura yang berjalan, aku malah sedikit berlari macam jogging. Bagaimana tidak ? Mungkin tadi kami terlalu lama menaiki tangga sehingga aku tidak memperhatikan kecepatan berjalan perempuan rambut sayur itu(Hijau dan oranye itu warna sayur, kan ?).
Dia cukup cepat ! Aku harus setengah berlari untuk bisa mengimbangi kecepatan berjalan Pakura. Oke, tubuhnya yang tampak langsing itu lebih kokoh daripada yang kuperkirakan ! Ah, sudahlah. Hitung-hitung ini semacam latihan fisik untukku.
Kami menelusuri sepanjang lorong yang dindingnya ditempeli lukisan dari mosaik kaca yang benar-benar artistik. Segala jenis lengkungan bangunan dan lampu kristal yang tergantung di langit-langit benar-benar memberi kesan mewah. Beberapa vas bunga besar yang juga dihiasi tempelan mosaik yang berkilau mempersegar suasana. Baru juga kusadari, kami berjalan diatas karpet merah.
Dan akhirnya kami sampai di depan pintu besar yang sekali lagi dihiasi ornamen berwarna emas dan perak. Kedua gagang pintunya bahkan ditaburi batu rubi kecil. Pakura mendekat dan membunyikan sebuah lonceng kecil berwarna perak.
"Sara-sama, kita kedatangan tamu istimewa" katanya setengah berseru.
.
.
"Masuklah !" Sebuah seruan khas perempuan terdengar dari dalam ruangan. Aku melangkahkan kakiku malas di belakang Pakura. Kira-kira apa yang akan ditanyakan si ratu ini padaku ? Kuharap dia tidak terlalu cerewet.
.
Apa yang kau bayangkan saat mendengar kata 'ratu' ? Hmm, mungkin sosok perempuan cantik berusia diatas 30 tahun, berambut panjang (atau pendek) yang indah dan menawan karena seringnya mendapat perawatan istimewa dari pelayan-pelayannya, wajah yang berseri karena kosmetik dan bibir yang merah karena lipstik tebal, garis mata yang jelas dan alis tebal (karena pensil alis mungkin) dan mahkota bertabur batu mulia di kepala, serta sangat mungkin di lehernya tergantung kalung berukuran jumbo, cincin memenuhi jemarinya, gelang di tangan dan anting di telinga, bahkan mungkin gelang kaki, pakaian mewah yang lembut, sepatu hak tinggi, dan mungkin juga sebuah tongkat kebesaran istana.
Ya, itu penggambaran umum, apalagi mengingat Rouran cukup mewah dan indah, bisa dibayangan betapa menakjubkan pakaian atau aksesoris sang ratu.
Tapi bukan itu yang kujumpai.
Singgasana itu berupa kursi besar yang terlihat empuk dengan pegangan di sisi kiri dan kanannya, yang ternyata berlapis emas di sekitarnya, namun sandaran kursinya ternyata cukup tinggi dan besar, hingga tiga meter diatas kursi dan terlihat empuk juga. Di singgasana kehormatan itulah kami melihat sosok sang ratu.
Aku mengernyit. Ini ratu atau putri ? Pasalnya yang kulihat bukan perempuan diatas 30 tahunan (atau yang lebih tua, mungkin seumuran Jiraya-sensei), melainkan seorang perempuan muda yang usianya kira-kira sebaya denganku, dengan rambut merah panjang yang diikat ke belakang pada dua sisi telinga kiri dan kanannya, kulit putih dengan mata ungu gelap, baju kebesaran ratu yang longgar berwarna ungu, pink, dan merah, serta mahkota kain tebal berwarna biru dengan lingkaran yang terbuat dari emas dengan sepasang batu safir biru di bagian depan atasnya, plus kain putih menjuntai dari mahkota hingga melebihi bahunya –khas padang pasir, dan sebuah kalung emas dengan sebutir besar batu rubi tunggal di tengahnya.
Aku tertegun.
Dia mengingatkanku pada seseorang.
Sesorang yang tidak akan pernah aku lupakan.
Rambut merah itu.
Mata gelap itu.
Kulit putih itu.
Dia mirip sekali dengan ibuku ! Uzumaki Kushina ! Aku sempat menggosok mataku dan meyakinkan kalau aku salah lihat –atau kutukan Styx mempengaruhiku, tapi akal sehatku mengatakan aku baik-baik saja.
"Dracovetth dari Konohagakure ?" Selidik sang ratu sambil mendekat pada kami berdua.
"Ah, dia bukan sembaran Dracovetth, Sara-sama ! Dia adalah orang itu !" Pakura menjelaskan dengan semangat.
Ratu bernama Sara itu mengangkat sebelah alis, ragu. "Dia Draco P ? Lebih muda daripada yang kuperkirakan" sinisnya.
Hampir saja aku membalas kalau dia juga lebih muda dari yang kuperkirakan soal sosok seorang ratu, tapi aku berusaha menahan diri.
"Tunjukkan kalau kau memang Draco P" cetus Sara dengan nada suara kurang ramah. Aku terkejut.
"Caranya ?" Tanyaku spontan.
"Panggil 'Dia' kemari" jawab Sara enteng.
Aku meneguk ludah. "Dia siapa ?" Aku mencoba tetap tenang.
"Dia siapa ? Jangan membodohiku ! Tentu saja naga dewa kebangganmu itu ! Paradox !"
Aku bagai tersambar petir. "Aku belum menemukannya. Kami sedang mencarinya ketika aku diserang salah satu Pembantai Bersayap dan diteleportasikan kemari" jawabku setenang mungkin.
Sara menghela nafas. "Kami ?" Ulangnya curiga. "Pakura, jangan katakan kalau kau ikut mencari Dia !"
"Bukan ! Aku dan timku yang semuanya berasal dari Hi no Kuni sedang dalam perjalanan panjang mencari Dia ! Kami baru saja meninggalkan Suna dan nyaris sampai ke Tsuchi no Kuni ketika kami diserang dan aku dipindah kesini ! Jadi kuharap kau bisa mengizinkanku pergi dari sini segera atau semuanya tidak akan terwujud !" Seruku bertubi-tubi. Masa bodoh aku sedang bicara dengan seorang ratu, toh usianya masih sepantar denganku.
"Hoi, Naruto ! Sopan sedikit" desis Pakura.
Sudah kuduga.
"Jadi ? Kau bersedia mengizinkanku pergi kan ?" Selidikku, beralih pada Sara yang masih sedikit terkejut. Kurasa baru kali ini ada orang yang selancang itu padanya. Huh, terserahlah.
Sara mendengus kesal lalu memalingkan wajahnya dari kami. "Bukan urusanku" katanya ketus. "Pergilah kalau kau mau ! Lagipula kami juga tidak membutuhkanmu" lanjutnya.
Aku sedikit tersinggung mendengar kalimat terakhir, tapi karena aku diizinkan pergi, aku menyanggupi.
"Sara-sama...saya mengerti Naruto-sama sudah lancang, tapi..."
"Pakura ! Sejak kapan kau menghormat setinggi itu pada orang luar ?" Bentak Sara tiba-tiba. Pakura langsung bungkam.
Aku menghentikan langkahku. Aku mendengarnya cukup jelas. Aku melirik Pakura. Juga Sara. Cih, ratu itu ! Masih bau kencur saja sudah bertindak seperti itu. Kurasa dia memang terlalu dimanjakan oleh kemewahan dan keramahan serta penghormatan di Rouran ini. Aku mendengus kesal, tapi akhirnya pergi juga. Lagipula benar, ini bukan urusanku. Walau aku merasa kasihan juga pada Pakura.
Naruto-sama.
Lagi-lagi itu penyebabnya. Sudah kuduga aku harusnya menyuruh Pakura untuk tidak memanggilku dengan sebutan begitu.
.
.
.
"Maaf, Naruto-sama. Temperamen Sara-sama sedang tidak begitu bagus hari ini" sebuah suara mengejutkanku ketika aku sedang bersiap pergi. Tepat di dekat Gerbang Selatan Rouran.
"Seharusnya aku yang minta maaf, Pakura-san. Dan ingat, kurasa kau tidak perlu memanggilku dengan panggilan sehormat itu" desisku menyesal. Pakura tertawa kecil.
"Sara tidak berbuat apapun padamu kan ? Memecatmu dari jabatan atau semacamnya ?" Aku memastikan.
"Tentu tidak" jawab Pakura enteng. Aku mengangkat tasku yang berisi perbekalan yang diberinya tadi. "Perlu seekor naga ? Perjalananmu pasti lumayan jauh. Jangan sampai jatuh lagi karena ujung-ujungnya kau akan kembali kemari" candanya.
"Mungkin" jawabku. "Apa saja boleh, asal mudah dikendalikan. Aku belum terlalu berpengalaman mengendarai naga" lanjutku. Cih, tahu begini, begitu Kurama setuju menjadi nagaku pasti sudah kulakukan kontrak Kuchiyose dengannya agar bisa memanggilnya kapanpun dimanapun.
Pakura kembali dengan membawa seekor naga yang belum pernah kulihat sebelumnya. Jujur, agak mengerikan. Pasalnya kepala dan leher naga itu seluruhnya tampak terbakar oleh api –seolah api itu sendirilah yang membentuk wujud kepala dan lehernya yang berkobar-kobar itu. Giginya tampak nyata, dengan mata kuning yang menyala dan air liur panas yang menetes. Tubuhnya seakan terbuat dari batu dengan beberapa garis seperti bocoran aliran lava. Naga itu berkaki dua dan memiliki sepasang sayap yang juga tampak terbuat dari api, plus ekor yang kerangkanya terlihat dibalik kulit apinya juga.
"Ini aman. Pliny, nagaku. Dia spesies Burning Dragon, jangan takut dengan penampilannya, dia jinak dan mudah dikendalikan. Aku pilih ini untuk jaga-jaga jika ada pengganggu lagi" jelasnya singkat.
"Dia pasti tidak bisa dipasangi tali kekang" ujarku. Pakura tertawa.
"Tentu bisa. Tali ini diikat pada pangkal lehernya, jadi tidak terbakar oleh api leher dan kepalanya. Tapi tenang, aku akan menyuruhnya supaya apinya tidak membakarmu. Dia bisa melakukannya dengan baik" ucap Pakura membuatku sedikit tenang.
Agak ragu, tapi aku akhirnya naik ke punggung naga yang terasa hangat itu. Waduh, seperti apa rasanya pantatku nanti saat panas tubuh Pliny berpadu dengan panas iklim gurun Suna ? Kurasa aku harus berdiri beberapa detik selama perjalanan untuk menghindari agar pantatku tidak terbakar.
"Kau lupa pelananya" cetus Pakura. Oh, benar.
"Nah, siap. Pergilah, Pliny akan kembali otomatis kesini saat kau sudah sampai. Dia hafal semua rute Suna dan Kaze no Kuni, tapi jangan harap bisa ngobrol dengannya".
"Terimakasih banyak untuk semuanya, Pakura-san" ucapku. Dia mengangguk singkat.
"Maaf soal Sara-sama".
"Kan sudah kubilang tidak apa-apa".
.
Aku baru saja akan memecut tali kekang.
Pliny baru saja akan mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi.
Pakura baru saja akan melambai.
Ketika tiba-tiba sebuah ledakan terdengar dari menara dekat kami. Aku, Pakura, bahkan Pliny –ikut menoleh ke sumber suara.
Teriakan segera terdengar dari orang-orang yang panik. Sesosok bayangan tampak berkelebat diantara menara, terus menembakkan api yang berhembus secepat badai angin dari mulutnya, membakar apa saja yang dikenainya.
Naga itu...rasanya aku tidak asing !
Aku memutar otak. Walau dari jauh, aku bisa mengenalinya cukup baik karena dia lumayan besar. Aku mencoba mengingat dimana aku pernah melihatnya.
Tidak, kurasa aku tidak pernah melihatnya. Ini seperti deja vu !
Setidaknya, aku tidak pernah melihatnya HIDUP.
YA ! Dia itu. Naga yang sama dengan kerangka di ruang bawah tanah !
Venator.
Dia hidup. Dan dia disini. Naga yang tidak bisa mati kecuali dikuliti bersih-bersih itu ada di Rouran !
Entah sejak kapan aku merasakan bunyi tambur di dadaku, bertalu-talu memicu keluarnya keringat dingin. Takut-takut, aku melirik Pakura.
"Sial. Naga jenis apa itu ?" Gusarnya.
Nah, itu yang kutakutkan.
"Kau...tidak tahu apa itu ?" Desisku takut-takut. Pakura mengangguk.
"Kami pernah diserang Pembantai Bersayap, bahkan dua ekor Zechuan pernah mampir kesini. Tapi semuanya berhasil dibereskan. Tidak dengan yang ini, sepertinya dia Pembantai Bersayap golongan baru" cetus Pakura berspekulasi.
"Dia tidak baru" aku akhirnya menjelaskan. Pakura segera teralih padaku.
"Spesies Venator. Pernah meneror Konohagakure selama sebulan, kira-kira lebih dari 16 tahun yang lalu. Dia salah satu yang terbuas dan terganas, dan apa yang membuatnya begitu ditakuti adalah dia sulit sekali dibunuh" jelasku sedetil mungkin.
"Sulit dibunuh ?" Ulang Pakura. Aku mengangguk.
"Pakura-san" panggilku. Dia menoleh lagi. "Bisa antar aku ke tempat ratumu itu lagi ? Atau langsung saja ke Menteri Pertahanan disini. Ngomong-ngomong kalau aku boleh tahu, apa jabatanmu di Rouran ini ?" Aku menginterogasi macam detektif gadungan.
"Menteri Pertahanan Rouran cukup dekat dengan Sara-sama, namanya Anrokuzan. Jabatanku disini...bisa dibilang salah satu ketua prajurit senior, juga bawahan Anrokuzan" jawab Pakura.
"Kalau begitu bawa aku ke Anrokuzan itu ! Jika kau tidak tahu naga jenis apa ini, hanya ada satu orang yang tahu disini !" Seruku.
"Siapa ? Aku tidak pernah tahu Anrokuzan mengetahui naga semacam itu !"
"Bukan Anrokuzan orangnya, tapi aku !"
"Sungguh ?! Kau tahu siapa dia ?!"
"Jangan bertele-tele, dimana kantor pertahanan ?"
"Menara Barat, tepat di sebelah Barat menara tertinggi tadi !" Pekik Pakura. Segera, aku memecut tali kekang Pliny dan naga itu melesat ke arah yang kutuju. Aku harus memberitahu mereka semua sebelum terlambat. Jika tidak, habis sudah Rouran. Hanya satu naga, tapi mengingat bagaimana seriusnya Jiraya-sensei bercerita tentang kekejamannya di ruang bawah tanah rumahku, bukan tidak mungkin Dracovetth se-Rouran tidak bisa menanganinya !
Western Tower
"Anrokuzan-dono !" Seorang laki-laki berambut perak panjang sepinggang dengan postur tubuh pendek berkulit putih pucat dengan mata kemerahan menerobos pintu begitu saja.
"Sudah kubilang ketuk pintu dulu, Hiruko !" Balas Anrokuzan sambil sibuk mengunyah biskuit.
"Huh, terserah. Ini gawat, Anrokuzan-dono ! Seekor naga tak dikenal menyerang Selatan Rouran ! Dia menyemburkan api seolah menara-menara kita terbuat dari lilin dan minyak !" Seru pria bernama Hiruko itu panik.
"Naga tak dikenal ? Bagaimana bisa ? Ciri-cirinya, bahkan orang sejenius kau tidak mengenalnya ?" Gusar Anrokuzan.
Hiruko mengangguk. "Seperti naga pada umumnya, tapi dia lumayan besar dengan sepasang sayap raksasa, mulutnya sempit dengan gigi-gigi runcing kecil seperti pisau cukur. Empat kumis, tanduk semua mengarah ke belakang, ekor langsing, empat kaki bercakar. Warnanya coklat dan gerakannya gesit sekali. Dia tipe penyembur yang sangat hebat" terang pria yang kedua lengan dan lehernya dibalut perban itu.
"Kerahkan semua prajurit ! Kita harus melindungi Sara-sama apapun yang terjadi ! Ajak naga itu bicara jika dia punya kemampuan bicara. Jika tidak, habisi saja dia !" Perintah Anrokuzan.
"Sia..."
"TUNGGU !" Aku memekik dan tanpa sempat direm, Pliny menabrak sebuah jendela besar –yang ternyata pas untuk kami masuki- hingga pecah dan kami berdua pun segera berada dalam ruangan. Dengan cara yang tidak etis.
"Maaf soal jendelanya" kataku sambil menggaruk kepala.
"Ini Pliny milik Pakura-san !" Seru Hiruko. Dia melirikku curiga. "Siapa kau, Anak Muda ?! Penyusup dari Konoha-kah ?!"
"Bukan !"
SPAT ! SPAT ! SPAT ! Mendadak benang-benang chakra membelit tanganku dan mengikatnya ke belakang. Mengingatkanku pada Sasori.
"Cukup sudah penjahat" desis Anrokuzan sengit. "Kami mungkin bisa kewalahan hanya menghadapi satu naga teror di luar, aku takkan membuang waktu untuk meringkus penjahat kecil semacam dirimu !"
Mendadak, aku menemukan celah.
"Ya. Bukan hanya mungkin, Anrokuzan-dono, tapi sudah pasti" gertakku sambil memberi penekanan pada kata 'pasti'.
"Kau...jangan-jangan kau-lah yang memanggil naga tak dikenal itu, ha ?" Hiruko malah ikut menyerobot.
"Sudah kubilang bukan ! Namaku Uzumaki Naruto dari Konohagakure ! Aku ditemukan pingsan di gerbang Selatan kemarin dan aku sudah bertemu Pakura-san ! Dia meminjamkan naganya padaku ! Aku bahkan sudah bertemu Sara-sama ! Dan aku mengetahui siapa naga itu dan cara mengalahkannya ! Dia adalah Venator yang berasal dari Uzushiogakure !" Seruku bertubi-tubi. Pliny mendesis dan menggeram seolah membenarkan.
Kedua pria dengan postur berlawanan ini menatapku bingung.
Mendadak pintu terkuak. Pakura dibaliknya. "Anrokuzan-dono ! Hiruko-san ! Sekarang bukan saatnya mempertanyakan siapa bocah ini sebenarnya ! Dia akan kujelaskan begitu semua ini berakhir ! Dia tahu cara mengalahkan naga ini !" Seru Pakura sambil mengedipkan matanya padaku.
Anrokuzan akhirnya melepas ikatannya. "Baiklah. Apa rencanamu ?"
Aku meneguk ludah. "Venator hanya bisa dibunuh jika kita bisa mengulitinya cukup cepat sampai tidak ada satupun otot dan tendon yang melekat pada tulangnya. Dia harus dikuliti bersih atau dia akan hidup lagi, tidak peduli sebanyak apa kalian menyerang atau memotong-motongnya !" Aku berusaha tetap tenang.
"Untuk itu, kita butuh seorang Dracovetth dengan kemampuan yang hebat" cetus Hiruko. "Naga itu masuk kelas 15 meter, lumayan besar. Siapa yang bisa mengulitinya sedetil dan secepat itu ? Itu sama saja kita mengalahkan sesuatu yang nyaris mustahil dikalahkan !"
"Saya rasa saya bisa melakukannya".
Ketiga pasang mata ini menatapku terkejut. Aku sendiri juga terkejut menyadari apa yang barusan kukatakan.
"Dengan apa ? Kau menguasai Shunshin no Jutsu, Nak ?" Selidik Anrokuzan. Aku mengangguk.
"Bisa dibilang begitu" sambungku. "Kalian semua...mohon kerjasamanya. Saya bersumpah saya tidak berbohong tentang ini. Kalian alihkan perhatian naga itu dan serang sebisa mungkin sambil menghindar. Saya akan menggunakan Shunshin untuk mengulitinya dan berharaplah ini berhasil" kataku tegas.
Bayangan besar itu berkelebat.
"Naga itu ! Dia menuju menara tengah !" Pekik Hiruko. Menara tengah ?
Itu tempat Sara berada !
.
Cih, sialan. Kenapa aku langsung teringat begitu ?! Lamunanku tersadar begitu menyadari Pakura sudah menaiki Pliny dan Hiruko serta Anrokuzan memanggil naga mereka dan bersama prajurit lain, mereka berusaha menyerang Venator –yang memang tidak bisa dibunuh begitu saja.
Aku merogoh tasku. Lima Hiraishin Kunai, sepuluh kunai, lima kertas peledak, sebuah pedang, dan delapan shuriken. Akankah ini berhasil ?
Aku baru dua kali melakukan Shunshin dengan baik di pertempuran untuk menghabisi Zechuan. Bisakah aku melakukan sama baiknya –tidak, jauh lebih baik, untuk kali ini ? Sekarang, untuk benar-benar menguliti habis naga itu, aku harus bisa mengombinasikan pedangku dengan elemen angin. Kemudian menancapkan Hiraishin Kunai ke beberapa bagian strategis tubuhnya dan melesat bergantian di lima titik itu sambil terus menebas dan tetap fokus. Jika bisa aku juga harus menambahkan elemen api ke tebasan pedang agar hasilnya lebih meyakinkan.
Tapi, berkelebatan bolak-balik lima titik di naga sepanjang 15 meter ? Ini kedengaran seperti rencana nekat yang terlalu mendadak.
Aku butuh bantuan. Orang lain yang menguasai elemen angin cukup baik. Tapi sekarang siapa yang bisa kuandalkan ? Hanya aku yang tahu tentang naga itu. Ada saat dimana kau hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri sesulit apapun situasi itu. Dan itu menimpaku sekarang.
Mendadak aku teringat sesuatu.
Kagebunshin no Jutsu.
Itu dia ! Itu satu-satunya jutsu yang cukup tepat untuk melengkapi kekurangan rencanaku. Dengan membuat setidaknya lima sampai sepuluh bunshin, aku bisa jauh menghemat waktu dan energi. Dan karena bunshin adalah duplikatku sendiri, mereka tidak perlu kuajari ! Tapi aku kembali teringat saat latihan Kagebunshin no Jutsu malam tempo hari bersama Kakashi-sensei.
Flashback
"Baiklah, Naruto-kun. Sekarang kita memulai latihan jutsu spesial pilihanmu. Perlu kau ketahui sebelumnya tentang kelebihan dan kekurangan serta resiko penggunaan Kagebunshin no Jutsu ini".
"Apa saja kelebihan dan kekurangannya, Kakashi-sensei ?"
"Kelebihannya cukup banyak, yang terjelas adalah jumlahmu seakan bertambah. Itu adalah klon dirimu sendiri, jadi sama persis baik dari penampilan, kekuatan, kecerdasan, perilaku, sampai materi genetik, semua benar-benar sama, duplikat. Dengan menggunakan Kagebunshin, kekuatan serangmu akan meningkat drastis. Membuat satu bunshin berarti meningkat dua kali lipat. Jika kau bisa membuat seratus bunshin, kekuatan serangmu meningkat dua ratus kali lipat. Kau bisa menyerang lawan dengan banyak variasi serangan sekaligus dalam satu waktu dengan kemampuan itu".
"Dan kekurangannya adalah, karena ini hanya bunshin, maka mudah hilang. Satu lemparan kerikil yang mengenai bunshin-mu sudah cukup untuk membuatnya menghilang. Mereka tidak akan berpengaruh jika musuh bisa menghilangkan mereka semua dengan satu atau beberapa serangan saja".
"Kalau resiko...kurasa kau sudah tahu. Kagebunshin no Jutsu termasuk Kinjutsu. Jutsu terlarang".
"Kenapa disebut jutsu terlarang ?"
"Jutsu ini menguras chakra yang sangat banyak. Setara dengan keuntungannya, chakra yang dipakai tidak sedikit. Perlu kau ketahui, kalaupun aku menguasai jutsu ini, aku hanya dapat mengeluarkan maksimal 10 bunshin dan setelah itu aku akan sangat kelelahan".
"Kakashi-sensei yang sudah sehebat ini saja hanya dapat 10, bagaimana dengaku ?!"
"Haha, tidak perlu khawatir. Kau keturunan Yondaime Hokage. Terlebih, darah Uzumaki mengalir dalam dirimu. Klan Uzumaki terkenal karena mereka memiliki cadangan chakra yang sangat besar, bahkan lebih besar daripada rata-rata klan Uchiha, Hyuuga, dan Senju. Kau punya empat kali lebih banyak daripada aku".
"Wow, tidak kusangka aku memang hebat, hehe".
"Ya, begitulah. Dan itu belum semuanya, Naruto-kun. Kau masih punya potensi untuk mengembangkan chakra-mu hingga sampai sepuluh kali lebih banyak dariku".
Aku menghela nafas berat. Pada pengujung latihan itu, aku hanya mampu membuat sepuluh bunshin setelah itu terkapar tidak berdaya diatas tanah berpasir. Bisakah aku melakukan lebih baik, atau setidaknya sama baiknya, sekarang ?
Aku tidak akan tahu kalau belum mencoba. Akhirnya aku pergi keluar, memanjat menara Barat ini sampai puncak menggunakan tapak kaki chakra, dan memandang seisi Rouran. Aku menatap langit.
.
"Aku tidak tahu dimana dirimu berada..." desisku sendiri, entah pada siapa.
"Tapi aku percaya kau ada...karena sesuatu yang selalu dihormati akan selalu ada dan terus ada...dan aku turut mempercayai hal itu..."
"...Jadi...jika Kau ingin kita bertemu walau untuk waktu yang tidak kuketahui..."
"...Bisakah kau membantuku sekarang ? Untuk pembuktian bahwa kau –dan kita, adalah ada ?"
"Bisakah, Paradox-ku ?"
.
Tidak ada jawaban. Karena memang itu yang kuharapkan. Yang ada hanya hembusan mendadak dari angin sepoi-sepoi yang membelai lembut rambut kuningku berikut jaketku dan sebilah senjata warisan ayahku yang sedang kugenggam.
Dia tidak ada disini. Tapi aku bisa merasakan kehadiran sebagian dari dia. Entah bagian yang mana.
"Kau akan membantuku, dan kita akan bertemu" desisku tegas.
Aku menatap Kota Besar Rouran yang masih tampak menawan walau sedang diteror. Beberapa kepulan asap hitam membumbung ke udara disapu angin gurun. Safirku terus memindai sekitar, berusaha mengenali setiap bayangan dan gerakan, hingga...
WOOOOMMM ! ! ! Semburan bola api yang teramat besar berwarna putih dengan pinggiran oranye tampak di salah satu menara. Hanya beberapa menara dari Center Tower. Disana, Pakura menembakkan suar. "NARUTO-SAMA !" Dia memekik. Aku membungkuk, layaknya seorang sprinter yang berada di garis start. Kemudian, dengan sekali hentak, kulempar Hiraishin Kunai sekuat yang kubisa dan tepat mengenai ekor Venator yang sudah gosong itu.
WUUSS ! Dengan satu kedipan mata, aku sudah sampai di dekat Pakura, Hiruko, dan Anrokuzan yang sudah bersama beberapa prajurit elit lainnya (yang langsung terkejut melihat betapa cepat aku bisa berpindah dari jarak sejauh itu). Aku membentuk handseal secepat mungkin –walau jutsu ini hanya butuh satu bentuk. Kusilangkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri.
"影複製の術" !
Kagebunshin no Jutsu
(Jurus Seribu Bayangan)
BOOFF ! BOOFF ! BOOFF ! Lima bunshin-ku segera muncul. Mereka yang belum mengatasi keterkejutan yang pertama ditambah dengan yang kedua begitu melihat bunshin-bunshinku.
"Wow, sudah kuduga kau memang hebat !" Seru Pakura.
"Itu berlebihan" kilahku. Meski aku berharap aku cukup hebat untuk menguliti binatang ini.
Lima bunshin menyebar. Satu di kepala, satu di pangkal leher, satu di ujung ekor, satu di ujung sayap kanan, dan satu lagi menggantung di perutnya. Aku sendiri sebagai yang asli berdiri di pinggul naga ini.
"SEMUANYA ! TAHAN VENATOR SEMAMPU KALIAN !" Pekikku keras-keras. Seruan perjuangan terdengar keras.
Aku meneguk ludah lagi. Jantungku berdebar. Keringat dingin terus menetes dari dahiku.
Aku mulai.
Kelima bunshin-ku menancapkan Hiraishin Kunai-nya masing-masing. Ohya, walau aku memang hanya membawa lima Hiraishin Kunai, tapi saat melakukan handseal kagebunshin tadi aku sempat memegang satu, dan karena kagebunshin akan menyalin persis semua yang sedang melekat bersama penggunanya, kelima kunai istimewa itu ikut tersalin tanpa berubah fungsi dan kemampuan. Itulah salah satu keuntungan terbesar jutsu ini.
Naga ini meraung-raung ganas. Pasukan elit berusaha sekuat tenaga menahannya. Aku mengeluarkan pedangku dari sarungnya diikuti kelima bunshinku, memegangnya erat-erat, dan melakukan handseal sekali lagi.
"為風: 風左側の術 !"
Fuuton: Kaze Kiri no Jutsu
(Elemen Angin: Jurus Pedang Udara)
Kini, pedangku seakan bertambah panjang dan tajam berkat elemen angin yang memadat di sisi tajamnya. Aku siap !
"MULAAAAAAIIIII ! ! !" Aku berteriak keras macam orang kesetanan, dan dengan tetap memfokuskan pikiran, aku –bersama lima bunshinku dengan cepat berpindah-pindah dari satu bagian ke bagian yang lain, dengan lancar menghabisi dan memisahkan semua kulit, sisik, duri, daging, dan tendon serta organ dalam dari tulang naga malang ini.
Venator meraung-raung, menyemburkan api yang tampak seperti sapuan angin dari mulutnya ke segala arah, membuat pasukan elit pun kesulitan menahannya. Ia terus meronta sementara aku sibuk menghabisi semua yang melekat di tulangnya. Ini...tidak semudah yang kukira, walau aku memang tidak menduga ini mudah !
Anrokuzan mengencangkan tali chakranya. Pakura –dengan kemampuan aneh yang belum kuketahui, memanggang kepala Venator hingga kedua bola matanya tampak seperti nyaris mencair. Hiruko membebat kaki-kaki naga ini dengan perbannya yang sangat panjang, dibantu rantai-rantai prajurit lain.
Tapi aku baru sadar kalau sepertinya Jiraya melupakan satu hal yang justru amat penting, yang TIDAK ia ceritakan padaku di ruang bawah tanah pada senja hari itu.
Naga ini...Venator ini...
...Punya kecerdasan.
Ia menghembuskan apinya. Tapi kali ini tidak ke luar, dan tidak berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan para pasukan Rouran. Dia menyemburkan apinya yang sangat banyak itu –langsung dari tenggorokan menuju bagian dalam tubuhnya yang sudah setengah habis itu ! Bunshinku kalang kabut. Mereka berlima segera menghilang ditelan kobaran api yang membakar tubuh naga ini. Aku sebisa mungkin mencari celah diantara rusuk-rusuk Venator, hingga akhirnya kutebas tulangnya dan segera keluar dari tubuh naga itu.
Naga itu terbakar seluruhnya. Sengaja. Karena baru setengah dari tubuhnya yang terkuliti, dia perlahan pulih lagi. Menyaksikan sendiri kecerdasannya, aku ragu dia bisa termakan trik yang sama dua kali ! Aku mulai gugup. Sial, tahu begini kupaksa Jiraya-sensei membeberkan segalanya tentang Venator !
Tapi agak membingungkan, setelah semua api di tubuhnya padam bersamaan dengan luka-lukanya yang telah beregenerasi, naga itu pingsan. Dia segera tidak berdaya dan matanya tertutup. Kami semua terdiam beberapa saat.
"Dia mati ?" Selidik Anrokuzan.
"Kau bilang dia harus dikuliti bersih-bersih !" Seru Hiruko padaku.
"Memang, Hiruko-san. Saya juga tidak mengerti yang ini. Bahkan rupanya Venator punya cukup kecerdasan. Saya tidak bisa begitu yakin melanjutkan rencana ini karena saya tidak tahu sebelumnya dia punya kecerdasan" kataku jujur.
"Tidak masalah, sekarang yang harus kita lakukan adalah menguliti naga ini sekarang ! Kita semua !" Seru Pakura menyemangati. "Selagi dia masih pingsan, kita akan buat dia tidak bisa bangun lagi !" Lanjutnya.
Mereka akhirnya perlahan meletakkan naga lemas itu ke daratan, dekat Menara Tengah, dan melepas semua rantai, perban, dan benang chakra. Masing-masing bersiap dengan pisau dan pedang.
"Aku sempat berharap daging Venator setidaknya cukup lezat" desis Anrokuzan. Sempat-sempatnya dia berkata begitu di saat seperti ini.
"Bodoh, pikirkan kemenangan kita dulu, tahu. Kau tidak akan ditaksir gadis-gadis setinggi apapun pangkatmu kalau perutmu bertambah gembrot begitu" ledek Pakura. Aku jadi mempertanyakan kesopanan seorang bawahan pada atasannya, tapi sepertinya Anrokuzan yang memang bertubuh tambun itu sudah biasa diledek begitu.
Tapi aku terlalu meremehkan naga itu.
Sekali lagi, dia memang cerdas.
Begitu para prajurit mendekati dan bersiap mengulitinya, naga itu langsung bangun dan menyemburkan api ke segala arah, langsung memanggang para prajurit dan melukai sisanya, dan tanpa bisa dicegah lagi dia terbang lurus ke atas. Aku terdiam antara takjub sekaligus benci. Sungguh, aku samasekali tidak mengira itu akan terjadi ! Kupikir sekarang aku harus menambahkan Venator ke daftar naga tercerdas yang pernah kulawan. Banyak naga yang bahkan bisa bicara saja tidak secerdas itu !
"Sialan ! Dia berpura-pura pingsan agar kita melepas ikatannya lalu menunggu saat yang tepat untuk menyerang !" Seru Hiruko kesal.
"Kita sudah dikelabui oleh daging busuk itu !" Tambah Anrokuzan sambil bersiap menaiki naganya.
"Dia ke menara tengah !"
Aku bagai tersengat listrik begitu mendengar Pakura mengucapkan kata itu. Menara tengah !
.
.
"SARA !" Aku memekik keras dan langsung menghilang. Beruntung aku belum sempat mencabut Hiraishin Kunai yang masih menancap di ujung ekor naga itu. Beruntung dia tidak menyadarinya. Beruntung kecerdasannya tidak terlampau tinggi.
Venator menabrak singgasana, melempar Sara beberapa meter. Dia jelas belum tahu tentang serangan ini, dan hanya bisa membatu begitu melihat sosok tinggi besar siap menyemburkan apinya.
BAATTSS ! Segera saja kupenggal kepala naga itu sampai terpisah dari tubuhnya dengan pedang Kaze Kiri no Jutsu. Dia tercengang melihatku.
"Kau...baik-baik saja...?" Tanyaku dengan suara terputus-putus.
"N-Naruto ?"
"Terkejutnya nanti saja" aku memotong pembicaraannya. "Kau harus pergi dari sini. Ini tipe naga yang sangat sulit dibunuh" lanjutku.
"Kenapa kau menyelamatkanku ?"
Pertanyaan itu membuatku bungkam.
Benar juga.
Kenapa kau menyelamatkannya ya ? Aku mendadak jadi bingung sendiri.
"Entahlah" jawabku sekenanya. Lugu sekali dihadapan seorang ratu. "Sudahlah, cepat pergi dari sini, Sara-sama" potongku akhirnya.
Sara mengangguk. Merogoh kembali mahkotanya yang terjatuh, tapi baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, ekor Venator yang panjang dan runcing itu bergerak cepat dan menyabetku hingga aku terlempar membentur dinding. Untunglah bukan kaca –karena jika itu terjadi berarti aku akan jatuh dari menara setinggi 250 meter itu.
Aku meringis sambil memegangi punggungku. Sakit sekali. Mendadak aku mendengar suara teriakan. Sara ! Naga itu berhasil memulihkan kepalanya lebih cepat daripada yang kuperkirakan dan langsung mengambil sang ratu dengan mulutnya yang penuh berisi gigi-gigi tajam. Ia mencengkeram tengkuk Sara –yang untungnya hanya bajunya saja yang didapatkannya.
"NARUTOOO ! TOLOOONGG !" Dia memekik. Terdengar begitu klise...
Aku langsung bangkit, nyaris melakukan Kaze Kiri no Jutsu lagi tapi langsung teringat kalau-kalau aku salah sasaran. Aku mendadak memikirkan sesuatu. Ini trik yang sangat klise dan biasa tapi seharusnya cukup bermanfaat.
Pengalihan perhatian.
Aku membentuk handseal, memaksakan chakraku keluar sebanyak mungkin. Sepuluh bayangan muncul di sekitarku. Aku langsung merogoh saku secepat mungkin, mengeluarkan Hiraishin Kunai, dan langsung melemparnya ke tubuh Venator –tidak peduli mengenai bagian mana, asal bukan kepala.
Naga itu melirik kami. Aku memberi isyarat pada sepuluh klonku.
Dalam sekejap, kami semua sudah berada di punggung Venator. Aku secepat mungkin menarik pedangku, mengisinya dengan chakra udara, dan bersama sepuluh bunshinku, segera kupotong sepasang sayap kulit raksasa itu agar naga itu tidak bisa kemana-mana. Venator menggeram marah, tapi mulutnya masih tertutup sehingga Sara belum lepas. Segera setelah itu, lima bunshinku maju dan kami berenam bersamaan mengayunkan pedang secepat mungkin ke pangkal leher naga ini.
Tapi dia kembali menunjukkan kecerdasannya. Ia menundukkan kepala sampai lehernya tepat sebelum aliran udara ganas dari pedang kami menebasnya ! Angin menebas angin. Aku mendecih kesal. Mendadak, Venator mengangkat kembali kepalanya dan langsung menghentakkan rahangnya ganas.
Menelan ratu rubi itu hidup-hidup.
Aku membatu. Sara bahkan belum sempat berteriak.
Sebelum aku sempat menyadarinya, Venator sudah menghentakkan keempat kakinya, mengibaskan ekornya liar dan membakar seisi ruangan dengan apinya yang mengerikan. Panas api terasa begitu nyata di kulitku. Bukan berarti aku terbakar. Naga itu menatapku sengit lalu mengangkat ekornya dan mengibasnya. Balas dendam pada satu-satunya orang di Rouran yang mengetahui kelemahannya. Tepat mengenaiku.
Jendela mosaik itu pecah. Aku terjatuh dari menara.
Semua terlihat sama.
Seperti ketika aku melarikan diri dari Hidalgo menuju ruang bawah tanah –yang berakhir dengan kegagalan.
Aku mungkin sudah mati jika Jiraya-sensei tidak menyelamatkanku waktu itu.
Semua terasa lambat. Slow motion lagi. Naga itu memandangku puas dari atas. Cakar tengah kaki depan kirinya menusuk sesuatu.
Mahkota Sara.
.
Sara.
Secepat itu aku mengenalnya, secepat itu aku kehilangannya.
Dia mirip ibuku. Dia juga mirip Sakura.
Aku perlahan memejamkan mata.
Tidak ada yang bisa menolongku sekarang.
.
"NARUTOOO !"
Sayup-sayup teriakan memanggilku. Pakura. Anrokuzan. Hiruko. Kurasa mereka terlambat.
.
Hei, naga bodoh.
Dimana kekuatan yang kau janjikan ?
Kau pasti bercanda.
Aku pengendaramu !
Tidakkah kau sedikit punya belas kasihan untuk tidak membiarkanku begini ?
Jawab aku !
.
.
"Apapun yang paling berharga datang dari dalam dirimu sendiri".
.
Apa ?
Rasanya...aku mendengar sesuatu !
.
"Belum waktunya mengandalkanku".
.
Hei ! Tunggu !
.
Aku tersadar. Gerakan slow motion itu pecah. Hembusan deras angin mengibarkan pakaian dan rambutku. Aku masih jatuh.
Naga itu terbang dari ruangan singgasana itu. Kunai itu masih menancap di ujung ekornya, seolah mengejek bagaimana Draco P bisa kalah dari naga semacam itu. Darahku mendidih. Aku segera melakukan Shunshin. Langsung mendarat di ujung ekornya. Dia menoleh ke belakang.
"Berjuanglah, Naruto-sama !" Pakura berseru diatas Pliny dengan berdiri. Naga berkepala api itu meraung-raung semangat.
Venator menyembur api ke belakang, tepat ke ekornya. Tepat ke arahku.
Aku melakukan handseal dengan cepat, kemudian membalasnya dengan semburan api yang sangat besar. Kubuat lebih besar lagi, berusaha mengalahkan apinya. Sayapnya segera terbakar dan ia mulai menurunkan ketinggian dan kecepatan terbangnya. Bahkan memadamkan apinya.
Kesempatan.
"多重影複製の術 !"
Tajuu Kagebunshin no Jutsu
(Jurus Seribu Bayangan Berganda)
Asap putih mengepul singkat lalu menghilang. Aku terkejut sendiri. Entah berapa banyak bunshin diriku yang muncul. Yang jelas ini bahkan lebih dari 20 ! Lupakan soal itu, aku harus berkonsentrasi. Jika lima bunshin kurang cepat, kali ini tidak akan terjadi ! Aku merogoh Hiraishin Kunai-ku lagi, menancapkannya diikuti para bunshin-ku, dan langsung melakukan shunshin kesana-kemari tak tentu arah dan terus menebas dengan pedang.
"HEEAAAAA ! ! !" Aku berteriak keras-keras. Naga itu meronta tak henti-henti, menyemburkan api ke segala arah berusaha membakar semua yang ada di sekitarnya. Semburan itu hanya berlangsung tiga detik karena beberapa bunshinku langsung menebas kepalanya.
Sialnya, karena koordinasi tubuh naga terkait dengan otaknya dan otaknya berada di kepalanya, kini tubuh tanpa kepala Venator langsung jatuh ke tanah. Aku berpikir cepat, untuk menghindari guncangan, akhirnya kulempar satu Hiraishin Kunai ke tanah berlapis beton di bawah sana dan langsung kulakukan Shunshin; dalam sekejap mata, tubuh naga ini sudah berada di tanah tanpa efek guncangan sedikitpun.
Dan sekarang, aku bersama bunshin-bunshinku menguliti naga ini dengan membabi-buta. Memotong semua otot, tendon, organ dalam, jaringan, duri, kulit, sisik, dan memisahkan mereka semua dari tulangnya dibantu chakra angin dan api. Hanya ada satu bagian yang kuhindari.
Lambungnya.
Pakura, Anrokuzan, Hiruko, dan para prajurit yang tersisa segera mendekati tubuh dorman Venator –yang sebentar lagi akan menjadi bangkai abadi.
Beberapa menit kemudian, lantai beton halus itu dikotori cairan berwarna merah dan segala tetek bengek jeroan seekor naga sepanjang 15 meter. Sisik, duri, dan beberapa tendon yang tersisa semuanya ada disitu. Kepalanya sendiri terpisah 20 meter dari tubuh itu, yang juga kini sudah berubah menjadi tulang begitu bunshinku yang tersisa langsung menguliti kepala itu.
Aku sedang susah payah menggeser lambung Venator yang berukuran sebesar empat almari itu ketika Anrokuzan bertanya keras-keras.
"Dimana Sara-sama ?"
"Ah, benar ! Semoga beliau sedang tidur siang" jawab prajurit yang lain.
"Kurasa Sara-sama tidak berada di ruang singgasana saat penyerangan tadi" dukung prajurit yang lain.
Semua sibuk beragrumen yang menyatakan Sara baik-baik saja sampai Hiruko melihat sepotong kain berwarna putih diantara tulang jemari kaki kiri Venator. Ia memungutnya. Sebuah mahkota yang sudah koyak dengan lingkaran emas yang tergores.
Hiruko menelan ludah kecut. Semua perkiraan pikiran positif lenyap sekarang.
"Sara-sama..." isak Pakura.
Aku berusaha tetap tenang. Merogoh kunai (karena pedang terlalu panjang) dan segera membelah lambung naga itu.
Sang ratu ada di sana. Kuamati tubuhnya lekat-lekat. Tidak ada cedera sedikitpun, hanya pakaian yang sedikit koyak dan kusut serta tubuh, rambut, dan pakaian yang sedikit basah dan lengket terkena cairan pencernaan naga itu. Kedua matanya terpejam. Kuraba kulitnya. Lengket dan hangat. Tanganku beralih menekan lembut lehernya. Kurasakan denyut nadi yang menandakan dia masih hidup.
Masih hidup. Itu cukup membuatku lega. Tapi dia tidak bernapas.
Aku mengangkatnya dengan bridal style. Semua Rouranian –sebutan untuk warga Rouran- terkejut setengah mati begitu melihatku menggendong Sara.
Pakura berlari ke arahku. "Dia masih hidup ?" Selidiknya dengan mata berkaca-kaca.
Semua menahan napas menunggu jawabanku.
Aku tersenyum kecil. "Masih".
.
"YEAAH !"
"Syukurlah..."
"Sudah kuduga Sara-sama baik-baik saja !"
.
"Dia tidak bernapas" aku berbisik ke Pakura. Kubaringkan dia di lantai, Pakura melakukan pernapasan buatan. Wajahku sempat memerah hebat karena aku sempat teringat cara menyadarkan orang pingsan semacam itu. Untung saja aku tidak melakukan 'itu' tadi.
"Cairan asam lambung naga itu cukup panas, Naruto-sama ? Wajahmu sampai seperti habis keluar dari oven begitu" selidik Anrokuzan.
Aku hanya mengangguk.
Beberapa detik kemudian, ratu bersurai merah itu terbatuk-batuk. Mata ungu beningnya perlahan membuka, berusaha mengenali semua pemandangan di sekitarnya. Ratusan warga dari semua kalangan sudah berkumpul.
"Ka-kalian..." desisnya lemah.
"Sara-sama...syukurlah..." sambut Pakura. Hiruko menyerahkan mahkota temuannya.
"Sara-sama baik-baik saja ?" Selidik Hiruko.
Sara mengangguk. "Kurasa begitu".
Dan teriakan pujaan sang ratu kembali menggemuruh di area kecil itu. Semua bahagia melihat ratu mereka baik-baik saja. Mata Sara berkaca-kaca. Mungkin dia tidak menyangka rakyatnya sepeduli ini padanya. "Semuanya...terima...kasih..." katanya sambil mengusap airmata harunya.
Aku tersenyum kecil. Setidaknya sekarang Sara bisa mengetahui betapa cintanya rakyatnya padanya. Aku berbalik. Pliny menghadangku dan merunduk. Aku tertegun.
"Kau ini tidak sabaran, ya" kataku geli. Aku akhirnya menaiki naga itu dan bersiap memecut tali kekangnya.
Sudah cukup untuk hari ini.
.
.
"Dasar Pliny nakal !"
Seruan itu sukses membuat naga yang nyaris mengepakkan sayapnya itu terdiam. Aku menoleh ke belakang.
"Apa yang akan kau lakukan, Naruto ?" Selidik Pakura kasar. Aku bingung sendiri.
"Apa lagi ?" Aku turun dari Pliny. "Aku...pergi dari sini" desisku.
"Kenapa ?" Sergah Pakura. Semua Rouranian disitu menatap kami berdua. Aku menghela nafas.
"Sara-sama sendiri bilang aku tidak dibutuhkan disini. Lagipula dia mengizinkanku pergi" jawabku sekenanya. Sara mendekatiku. Cukup dekat, lebih dekat dari Pakura. Iris violet gelapnya menatapku tajam. Aku kikuk. Ia makin dekat, memangkas jarak diantara kami, lalu mengangkat tangan kanannya.
Aku memejamkan mata. Pasrah kalau ditampar di depan ratusan Rouranian.
Tapi tidak. Aku hanya merasakan seseorang memegang tangan kananku dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
Hening sesaat.
"HIDUP NARUTO-SAMA !"
.
Aku membuka mata. Euforia melanda Rouran. Mereka kedatangan seorang pahlawan. Dan pahlawan itu...adalah aku. Kulihat Sara berada hanya tiga senti di sebelahku, mengangkat tangan kanaku tinggi-tinggi dan semua orang yang kulihat bersorak-sorak ramai.
"HIDUP NARUTO-SAMA !"
"HIDUP DRACO P !"
"Ini kedengaran kurang etis, Naruto-sama" desis Sara sambil terkikik. "Tapi kurasa aku akan menarik ucapanku. Kau diterima di Rouran kapanpun untuk urusan apapun. Dan kurasa kau orang yang sangat dibutuhkan kali ini" lanjutnya. Kesan kasar dan dinginnya langsung meleleh di mataku.
Aku tersenyum. "Terimakasih semuanya. Terimakasih banyak !" ucapku keras-keras.
Sunagakure
"Ini sudah pukul setengah delapan malam, sensei. Apa keputusan kita ?" Desak Sasuke pada Kakashi-sensei yang masih termenung di menara hotel.
"Bisakah kita mengandalkan tim patroli Suna ?" Tanya Sasuke lagi. Pria bersurai perak itu tetap bergeming. "Kurasa tidak" Sasuke menjawab pertanyaannya sendiri.
Angin malam berhembus, mengibarkan jubah hitam Sasuke dan rambut lurus mereka berdua. Sasuke mendecih tak sabar lalu bersiap berbalik arah.
"Kita akan pergi besok" kata Kakashi-sensei tiba-tiba. Sasuke menghentikan langkahnya.
"Kau serius ?" Selidiknya. "Tanpa Naruto ?"
Kakashi-sensei berbalik, lalu mengangguk pelan. "Naruto adalah Draco P. Itu keuntungan sekaligus masalahnya. Dia akan diburu dimanapun kapanpun, mengingat musuh kita adalah Madara. Sebaliknya, dimanapun dia berada, kapanpun dia pasti mendapat perlindungan ketat, terlebih jika dia diteleportasikan ke Lima Negara Besar" jelasnya tenang.
"Jadi kalau begitu strategi Styx sudah terbaca setengah" celetuk Shikamaru yang baru datang.
"Maksudmu ?" Selidik Chouji di belakangnya –yang masih sibuk dengan roti gandum sisa makan malamnya.
"Sama seperti yang Kakashi-sensei bilang barusan. Styx adalah naga cerdas. Jika tidak, mana mungkin dia menyerang dua kali dengan perantara badai pasir agar kita sulit menyerangnya ? Dia juga tidak membunuh Naruto atau kita, karena mungkin membiarkan Madara melakukannya sendiri. Jadi bisa kita asumsikan bahwa Naruto tidak mungkin diteleportasikan ke salah satu Lima Negara Besar karena pasti akan terdeteksi dengan mudah dan bisa diambil kembali. Kemungkinan dia menteleportasikannya tidak jauh dari Kaze no Kuni seperti yang dikatakannya" jelas Shikamaru.
Sasuke dan Kakashi-sensei mengangguk pertanda mengerti.
"Apa mungkin dia diteleportasikan kembali ke perbatasan antara Kaze dan Hi ?" Sasuke mulai beragrumentasi.
Shikamaru mengangguk pelan. "Kemungkinan seperti itu selalu terjadi. Aku juga sempat berpikir begitu, tapi Styx tadi pagi mengatakan sesuatu yang ganjil, yaitu 'ada yang menunggu kalian dan aku akan dihajar habis-habisan kalau aku melanggar kata-kataku. Ada yang mau bertemu dengan kalian dan itu lebih penting' itu kan yang dia bilang ? Jadi kurasa Styx justru menteleportasikan Naruto setidaknya dekat dengan perbatasan Kaze dan Tsuchi" jelas Shikamaru.
"Kurasa itu lebih mungkin" Sakura mendadak muncul dari balik pintu. "Jika dia saja bilang akan dihajar habis-habisan, kurasa kecil kemungkinan naga itu berbohong. Justru dia ingin kita secepatnya sampai di perbatasan" lanjutnya sambil bersedekap.
"Benar" dukung Kakashi-sensei. "Kurasa memang besar kemungkinannya demikian, walau sekilas terdengar ganjil dan aneh" lanjutnya. "Kita akan tetap pergi ke perbatasan besok. Pagi buta. Saat itu Kaze no Kuni belum punya cukup panas untuk bisa membuat naga-naga Pembantai Bersayap mengejar kita. Semakin cepat gurun menerima panas, semakin cepat pula dia melepasnya. Gorongosa-ku akan membagi energi ke Wlythlea, Pomona, dan Ingenia. Sementara Bryptops berukuran cukup besar untuk tetap merasa hangat di pagi buta" jelas Kakashi-sensei.
BRAK ! Pintu balkon menara itu terbanting. Kiba muncul terengah-engah.
"Berita buruk, semuanya !" Serunya keras.
"Apa ?" Selidik Shikamaru masih tidak terlalu peduli.
"Pembantai Bersayap datang lagi ?" Sambung Chouji gusar. Kiba menggeleng.
"Kurama kabur dari Chrysler ! Dia sudah menemukan apinya ! Dia menggunakan apinya untuk melelehkan rantainya !" Seru Kiba panik.
"Menemukan api ?" Ulang Sakura bingung.
"Spesies Wivereslavia tidak bisa menyemburkan api sampai usia tertentu, dan kurasa Kurama bisa melakukannya mulai malam ini" jawab Kakashi-sensei santai. "Tidak apa-apa, Kiba. Kita tentu tahu kemana Kurama mengarah" katanya sok misterius.
"Ke tempat dimana Naruto diteleportasikan" cetus Sasuke. Semua tersadar.
"Kalau begitu kita harus ikuti dia !" Seru Chouji bersemangat.
"Tidak semudah itu, gen...". Shikamaru buru-buru menutup mulut Kiba yang nyaris keceplosan. "Ehm. Maksudku, kita tidak tahu kemana Kurama mengarah ! Bahkan hidungku dan hidung nagaku yang tajam ini pun tidak bisa mengenalinya ! Kami belum sempat menghafal bau barunya !" Jelas Kiba.
"Tidak perlu, Kiba-kun. Percayalah pada Kurama. Aku pernah punya seekor Wivereslavia...saat aku masih menjadi ANBU dan Yondaime Hokage masih memerintah desa. Spesies naga itu setianya minta ampun. Walau baru beberapa jam mengenal tuan barunya, dia akan mengejar dan menemukannya...tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka berdua kecuali kematian...".
Center Tower of Rouran
Naruto's Room
Pukul 20.00
Naruto's Room ? Kedengarannya kok mewah sekali. Haha, tidak terkejut. Sara bilang ada satu ruangan mewah kosong di menaranya tepat di sebelah kamarnya sendiri. Dia bilang dia tidak keberatan menerimaku disana. Jadi beginilah akhirnya. Aku bersikeras berusaha kembali ke Suna atau setidaknya menemui timku, tapi Hiruko dan Anrokuzan lebih keras menyuruhku tinggal disini beberapa jam, minimal. Mereka sedang mengadakan investigasi rahasia di dekat Menara Barat. Aku sendiri bingung, pasalnya Pakura mengatakan bahwa ada sesuatu yang harus kubereskan sebelum diizinkan pergi dari sini. Selagi Draco P ada disini, kurasa Rouran ingin masalah keamanan kota segera dibereskan.
"Naruto-sama !"
"Masuk !" Seruku.
"Tidak perlu. Makan malam sudah siap ! Cepat ke ruang makan !" Pakura memekik dari luar tanpa membuka pintu.
Perutku berbunyi.
"Ayo !"
"B-baiklah !" Seruku dari dalam. Aku membuka pintu dan mengikutinya ke ruang perjamuan. Beberapa prajurit kelas atas termasuk Hiruko dan Anrokuzan sudah berada disana, sibuk menikmati hidangan steak daging yang kelihatan lezat. Aku menelan air liur. Aku melirik ke meja paling utara, dimana sebuah kursi paling besar dan paling empuk yang mirip singgasana ratu bertengger disana. Pasti kursi Sara.
"Ini mejamu" Pakura mempersilakan. Oke, kurasa ini salah satu konsekuensi yang menyenangkan dari petualangan ini. Kau bisa merasakan berbagai jenis masakan dari berbagai belahan dunia secara gratis dan terhormat ! Kutusuk sepotong besar steak dengan garpu lalu membelahnya dengan pisau, berusaha mengunyah daging yang sedikit liat tapi lezat itu dengan gigi gerahamku.
"Bagaimana ? Enak tidak ?" Tanya Pakura antusias.
"Enak" jawabku pendek. "Dagingnya benar-benar berbeda dari daging apapun. Aku pernah makan daging ayam, kambing, babi, sampai sapi, tapi belum pernah merasakan daging semacam ini" kataku jujur.
Anrokuzan terkekeh. "Tentu saja ! Itu kan daging naga yang kau bunuh tadi siang" katanya enteng.
.
.
.
Aku langsung mencengkeram leherku dengan kedua tanganku, berusaha mengeluarkan daging yang terlanjur masuk ke lambungku, tapi sepertinya sia-sia saja. "Makan saja" kata Hiruko kalem. "Semua prajurit disini, termasuk Pakura, Anrokuzan dan aku juga makan daging Venator itu" jelasnya.
"Kenapa...kalian...memasak naga...?" Tanyaku tersendat dengan muka membiru.
Ankrouzan terkekeh. "Kadang untuk menghemat biaya perawatan ratusan hewan ternak di Rouran, menteri pangan dan kesejahteraan rakyat membolehkan penduduk berburu naga yang tidak berbahaya untuk makanan" jelasnya. "Dan daripada membiarkan daging Venator yang sebanyak itu membusuk sia-sia, lebih baik dimasak dan dimakan. Naga itu cukup untuk mengenyangkan lebih dari 200 orang, Naruto-sama !"
"Siapa menteri pangan dan kesejahteraan rakyat itu ?!" Sumbarku tidak terima.
"Aku" jawab seseorang dua kursi dari Hiruko.
Rambutnya cokelat, dengan gaya yang aneh. Seperti bunga yang sedang mekar. Aku beranggapan bahwa dia terlalu banyak memakai minyak rambut. Kulitnya yang kecokelatan dengan iris mata hijau tua. Berewoknya dibiarkan memanjang sepanjang sisi wajahnya tapi melengkung hingga nyaris menyatu diatas bibirnya, mirip kumis yang tak jadi.
Ia terkekeh. "Namaku Haruno Kizashi, senang bertemu denganmu, Draco P" katanya sambil menggaruk kepala. "Maaf kalau kebijakanku memberatkan Anda. Yaahh, sebenarnya tidak masalah kalau aku menyuruh juru masak menara tengah untuk memasakkan yang baru untukmu" lanjutnya.
Aku cengo. Tapi ya...sudahlah. "Tidak apa-apa, Kizashi-san. Ini daging naga pertama yang saya makan, pengalaman menakjubkan" kataku dengan senyum terpaksa. Suatu hari nanti aku harus membeli sebuah buku yang berisi kandungan daging semua naga di Bumi.
Aku mengiris satu lagi. Walau daging naga, rasanya memang cukup lezat.
Tunggu sebentar.
.
Siapa nama menteri pangan dan kesejahteraan itu ?
Haruno Kizashi ?
Haruno ?!
Apa aku tidak salah dengar ?! Aku yakin Haruno Kizashi adalah ayah dari Haruno Sakura –gadis pengembara yang kutemui saat melawan Ceberus dan sekarang ada di timku, dan yang lebih penting, Sakura sendiri bercerita bahwa ayahnya sudah meninggal diserang api seekor Wyvern !
Ini mustahil.
Kecuali...
...Sakura berbohong. Aku nyaris bertanya. Tapi kuurungkan karena pasti ada pejabat penting lain disini. Sebaiknya aku mulai merancang pembicaraan pribadi empat mata bersama Haruno Kizashi itu. Mata hijau itu, dia memang agak mirip Sakura. Walaupun sedikit sekali.
Aku melirik kursi Sara. Tidak ada penghuninya. Hanya ada sebuah piring makan yang tersusun dari kaca yang artistik, sebuah gelas berpinggang, dan masing-masing sebuah sendok, pisau kecil, dan garpu.
"Sara-sama tidak makan ?" Selidikku penasaran.
"Dia sudah makan dari tadi" jawab Hiruko.
Aku melirik piringnya lagi. Bersih sekali. Rasanya itu lebih terlihat seperti belum makan daripada sudah makan !
"Naruto-sama, memang kalau Sara-sama makan itu dia tidak menyisakan apapun kecuali peralatan makannya" jelas Pakura sambil terkekeh. "Dia orang paling bersih yang pernah kukenal. Dia akan membuat piring sama bersihnya dengan saat sebelum dituangi hidangan" lanjutnya. "Sebutir nasi atau seserat dagingpun tidak disisakannya. Itulah kenapa seluruh Rouranian mencintainya, dia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan atau sesuatupun".
Aku manggut-manggut mengerti. "Kenapa dia tidak makan bersama para pejabat ini ?" Aku terus penasaran. "Dan sekarang dimana dia ?"
Anrokuzan berdehem. Aku meliriknya. "Rasanya ada yang mengganjal tenggorokanku" kilah pria gendut itu.
"Tenggorokan itu jalur udara, Anrokuzan bodoh" koreksi Hiruko.
"Ahaha, terlalu serius jadi lupa" gurau Anrokuzan dengan tampang tidak bersalah.
"Sara-sama berada di lantai teratas menara" jawab Hiruko akhirnya. "Aku sendiri tadi melihatnya".
Aku bergegas membereskan peralatan makanku lalu berterimakasih dan segera melesat ke tempat yang diberitahukan Hiruko.
"Dasar anak muda" desis Hiruko datar.
"Kuharap mereka tidak terlalu serius. Menara puncak kan sangat tinggi. Bahaya kalau mereka jatuh" kata Kizashi sambil terkekeh.
Pakura, Hiruko, dan Anrokuzan mengernyit. "Apa hubungannya ?!"
Top of Central Tower
The Queen's Balcony
Dia disana.
Rambut merahnya berkibar diterpa angin malam. Ia tidak mengenakan baju kebesaran ratunya, melainkan hanya gaun biasa dan tanpa mahkota atau tumpukan perhiasan yang neko-neko. Berdiri di balkon tertinggi di menara tengah, bahkan mungkin di Rouran. Ia sepertinya tidak menyadari kehadiranku.
"Sara-sama" panggilku pelan, takut membuatnya terkejut.
"Kukira kau sudah pergi" Sara menanggapi datar. Aku tersenyum kecil. Dia bahkan tidak menoleh.
"Pakura bilang ada sesuatu yang harus kubereskan sebelum pergi dan bergabung dengan timku lagi" jawabku enteng. Kami berdua terdiam sejenak. "Boleh aku berdiri di sampingmu ?" Tanyaku akhirnya.
"Kenapa tanya ?" Balas Sara.
"Memastikan saja".
.
.
"Kau melakukan ini setiap malam ?" Tanyaku. Dia menggeleng.
"Hanya beberapa kali. Di saat aku butuh ketenangan. Kembali memandang Rouran dan berharap serta berusaha sekuat mungkin untuk melindunginya" jawabnya datar.
"Kau sangat hebat, kau tahu" aku memulai pembicaraan. "Aku yakin kau sepantaran denganku...tapi di usia semuda ini sudah menjadi ratu dari kota sebesar ini...aku tidak pernah membayangkannya" kataku setengah memuji.
"Dulunya ibuku adalah Ratu Rouran" cerita Sara pendek. Aku mulai tertarik.
"Ibumu ?"
Dia mengangguk. "Dia meninggal dua puluh tahun lalu. Singgasana ratu digantikan nenekku, yang sebelumnya pernah menjabat. Beliau juga meninggal dua tahun lalu. Sejak itulah aku jadi ratu menggantikannya. Tepat dua tahun lalu".
Aku terdiam. Tepat dua tahun lalu. Pantas saja Pakura bilang temperamennya sedang tidak begitu baik hari ini.
"Orangtuamu pasti sangat bangga melihat anaknya menjadi Draco P" celetuk Sara tiba-tiba. Aku tersenyum kecil. Setidaknya aku sudah menemukan tali yang menghubungkan pembicaraan kami berdua.
"Ya, kuharap mereka senang disana" aku memancing.
Sara memandangku. Aku tersenyum kecil.
"Mereka...?"
"Sudah meninggal" potongku.
"Yang mana ?"
"Dua-duanya, dalam waktu bersamaan. Waktu itu aku masih bayi" ceritaku. Ya, masih bayi. Itu yang kudengar. "Aku hidup sendirian dengan damai di Konohagakure sampai seseorang memberitahuku bahwa takdir besar sudah menunggu. Mau tak mau aku menjelajahi dunia untuk menemukan Dia" aku memberi penekanan pada kata 'Dia'.
"Paradox ?" Selidik Sara. Aku mengangguk.
"Saudara memang terkadang sangat berbeda, ya" Sara menggumam sendiri. Aku mengernyitkan dahi bingung.
"Kenapa kau berkata begitu ?" Selidikku heran.
Sara menghela nafas. "Jangan ceritakan ini pada siapa-siapa" bisiknya serius. Aku mengangguk.
.
"Ortodox membunuh ibuku".
.
Detik berikutnya aku terdiam. Ortodox ? Saudara Paradox ?!
"Jadi...?" Aku mulai mengerti kemana ini mengarah. Sara mengangguk.
"Aku pernah bertemu. Mereka berdua. Dua puluh tahun lalu. Belum basi samasekali dari ingatanku" katanya tegas.
"Seperti apa mereka, Sara-sama ?" Aku bahkan tidak sadar kalau aku sudah menambah embel-embel kehormatan di belakang namanya.
"Begitulah. Aku tidak begitu ingat seluruhnya karena waktu itu aku masih kecil, tapi Ortodox bisa dibilang...naga yang sedikit cacat" jelasnya. "Berbeda jauh dengan Paradox, dia benar-benar naga paling sempurna yang pernah kulihat. Ortodox...memiliki api berwarna antara ungu dan pink di sayap, jakun, dan ujung ekornya serta lengan belakang atasnya. Paradox ditaburi tujuh berlian berbeda warna yang tertanam di tubuhnya dan tanduk alis yang sangat indah dan besar".
Aku mengingat-ingat. Benar, Paradox ditaburi tujuh berlian di tubuhnya dan tanduknya memang indah, sama seperti di pahatan dinding di ruang rahasia rumahku.
"Aku tidak ingat kejadian detilnya. Aku hanya mengetahui ibuku tewas di tangan naga itu" ceritanya lirih.
Angin berhembus pelan, mengibarkan rambut kami berdua. Entah kenapa malam itu samasekali tidak terasa dingin padahal kami berada nyaris seperempat kilometer dari tanah. Atau itu hanya untukku saja, ya ?
Sara tertunduk. Mata ungunya berkaca-kaca. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
"Jadi kurasa kita sama" celetukku. Ia memandangku bingung masih dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Yaa...kita sama-sama tidak punya siapa-siapa lagi kecuali orang-orang yang selalu menemani dan membantu kita. Kau punya Pakura...Anrokuzan... Hiruko...dan..."
"...Kizashi...".
Aku tersenyum. Tersenyum padanya. "Kita tidak benar-benar sendirian. Lagipula mereka tetap ada. Disini" aku menunjuk dadaku.
Sara menunduk. Ia mengangguk pelan. Seulas senyum terbentuk di bibir mungilnya.
"Terimakasih..."
"...Naruto-sama..."
Suara lembutnya membuatku terhipnotis. Bulan menampakkan diri dari awan tempat persembunyiannya, memancarkan sinar yang dipantulkannya dari sang surya itu ke setengah muka Bumi. Menyinari pucuk-pucuk menara megah Rouran. Menyinari balkon ratu sepenuhnya.
Aku mendekat selangkah tanpa disadari Sara.
"Sama-sama" jawabku lirih.
.
.
"HOI ! DRACOVETTH MACAM APA KAU ?! PERGI DAN BERKELIARAN SEENAKNYA MENTANG-MENTANG KAU DRACO P, HAH ?! UNTUNG SAJA KAU KUTEMUKAN !"
Teriakan itu berasal dari puncak menara. Jantungku meloncat. Aku –dan Sara, segera menoleh ke atas.
"Kurama !" Seruku senang. Naga itu menyeringai, memamerkan deretan gigi-gigi tajamnya. Mata merah darahnya berkilau diterpa sinar bulan.
Sara beringsut mendekatiku. "Hahaha !" Kurama mendadak terkekeh. "Baru juga hilang beberapa jam di antah berantah kau sudah punya pacar, Naruto !" Godanya usil.
"Kau masih saja sama, berisik" ketusku. Kurama turun, mendarat di balkon. "Tenang, Sara. Dia nagaku, Kurama. Spesies Wiver...em..." aku menggaruk kepala bingung.
"Wivereslavia" cetus Kurama. "Jangan terbuai kesenangan, Naruto ! Ayo lekas pergi. Walau aku sedikit lelah, sih".
"Bagaimana kau bisa menemukanku ?" Tanyaku takjub.
"Entahlah. Aku terbang begitu saja. Ada sesuatu dalam diriku yang meyakinkanku bahwa kau disini" katanya asal-asalan.
BRAK ! Mendadak pintu balkon terbuka. Pakura dibaliknya. Sepertinya perempuan berambut sayur ini punya kebiasaan buruk: Ia suka sekali membuka pintu tanpa izin dengan suara yang keras, kecuali saat akan berhadapan dengan Sara tadi pagi dan di ruanganku tadi.
"Whaa ? Naga siapa ini ?!" Pakura langsung histeris. Kurama berbalik dan menatap perempuan itu dengan tatapan menyelidik. Ia melirikku.
"Ehm. Pakura, ini Kurama, nagaku. Kurama, ini Pakura, salah satu pejabat tinggi Rouran" aku memperkenalkan keduanya.
"Oh" jawab Pakura pendek. Kurama mendengus. "Naruto-sama. Aku menemukan tugas yang cocok untukmu ! Di menara sebelah tenggara. Kau akan pergi ke sana besok, segera. Setelah menyelesaikan itu, barulah kau kami izinkan pulang" cerocosnya. Aku mengernyit.
"Ada apa di menara tenggara ?" Selidikku.
"Seekor naga" desis Pakura. "Naga yang berbeda dari naga lain. Lebih tepat disebut monster naga. Dia...yang dijuluki pemilik mata maut..."
"...Basilisk...".
.
.
.
.
Bersambung...
Author's Note (2):
Chapter 8 selesai ! Fyuuuhh... hebat banget, akhirnya bisa tembus lebih dari 10.000 words, readers !
Agak-agak mirip campuran The Will of Fire dan The Lost Tower yah ? Hehe, disini Hiruko dan Anrokuzan (saya tidak memakai nama Mukade karena orangnya kerempeng, lebih bagus Anrokuzan yang gembrot) ditampilkan sebagai tokoh protagonis, bukan antagonis seperti di movie aslinya. Meski begitu, keduanya tetap memiliki kemampuan yang hebat ! Soal Pakura, saya harap readers belum lupa. Dia adalah kunoichi pengguna Shakuton dari Sunagakure yang hidup pada masa pemerintahan Yondaime Kazekage (lebih lanjut lihat Naruto Shippuden Episode 285) di canon-nya.
Pair kedua terlihat disini. Yup, NaruSara. Hehe, mohon maaf buat yang nggak suka harem ya, tapi saya usahakan Naruto tidak harem-harem amat, kok, lagian pairnya cuma dua orang. Bagi penggemar NaruHina juga nggak usah kecewa, karena Hinata masih lengket kok sama Naru !
Misteri baru muncul, terutama soal Haruno Kizashi yang diceritakan Sakura sudah mati tapi malah menjadi menteri pangan dan kesejahteraan rakyat, Sara yang pernah bertemu Dua Bersaudara, dan kira-kira bagaimana Naruto menghadapi Basilisk serta petualangan Tim Paradox ketika sampai di Gunung Phicium ? Nantikan Chapter 9 yang FULL OF FIGHT !
Oya, berhubung minggu depan sudah U-En, sementara saya hiatus dulu. Kemungkinan besar Paradox tidak rilis Sabtu depan, tapi Sabtu depannya lagi sekitar tanggal 10 atau 11 Mei. Saya harap readers sabar menunggu dan doakan saya sukses U-En-nya yaaa ! (*disembur*).
Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !
See you again in chapter 9 !
-Itami Shinjiru-
-Dragons List in Chapter Eight :
Burning Dragon (Pliny). (Naga OC, nama 'Pliny' diambil dari sekretaris Romawi terkenal yang mencatat letusan Gunung Vesuvius dan menyebarkan legenda tentang Basilisk dalam puisinya)
Strength : Tinggi
Ukuran : Panjang 9 meter, berat 1 ton
Kecepatan terbang : 50-215 km/jam
Spesial : Tubuh berapi yang suhunya dapat diatur sesuai keinginan
Tipe serangan : Menembakkan lava, bom vulkanik, dan api oranye terang dalam jarak menengah
Kategori : Kriptid
Elemen spesial : Vulkanik
Level bahaya : Gila (Jika belum dijinakkan)
Pemilik : Pakura
