Permainan Terlarang

.

.

.

.

Vocaloid bukan milik saya, tetapi milik Yamaha Corporation etc.. Tapi cerita ini adalah milik saya sepenuhnya.

.

.

.

.

Bonus Chapter

.

.

.

.

Gadis berambut cokelat pendek itu menyapu pojokan kelasnya. Beberapa kali ia mengeluh karena hanya dia yang melaksanakan piket sepulang sekolah. Kedua temannya yang lain bolos begitu saja, dengan alasan sakit perut, padahal mereka ingin pergi ke Shibuya. Benar-benar menyebalkan.

Tiba-tiba, gadis bernama Meiko itu menyapu sebuah benda yang aneh. Benda itu adalah sebuah botol kecil dan ada beberapa kertas yang digulung kecil-kecil di dalam botol tersebut.

Meiko pun memungut benda tersebut dan mengamatinya dengan saksama. Kemudian dia terkekeh.

"Hahaha … benda aneh. Kenapa ada di kelas, ya?"

Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya dengan cepat, agar dia pulang lebih cepat pula.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia berjalan keluar kelas dengna cepat. Namun, tiba-tiba sebuah benda menggelinding begitu saja ke arah kakinya dan dia hampir terpeleset karena benda itu.

"Hah?!" kata Meiko, begitu menyadari bahwa benda tersebut adalah botol yang ia temukan saat menyapu ruang kelas tadi. "Kenapa tiba-tiba ada di sini?!"

Tanpa basa-basi dan dirundung rasa penasaran, Meiko segera memungut benda itu dan mengambil segulung kertas yang ada di dalamnya. Dia segera membukanya dan membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.

"Kamu bakal tewas tertabrak truk bersama kekasihmu. Tapi, sebagai gantinya tabrakan itu membuat orang-orang yang melihat jasadmu muntah-muntah saking jijiknya." Kata Meiko sambil membaca tulisan tersebut. Kemudian dia tertawa sambil meremas kertas teresbut dan membuangnya ke sembarang arah. "Ha-ha … lucu sekali. Bahkan aku tidak punya pacar. Dan tidak akan pernah."

Kemudian, Meiko meninggalkan kelas tersebut, tanpa tahu apa arti dari tulisan yang telah ia baca barusan.

.

.

.

.

Besoknya, saat jam pulang tiba, Meiko pulang seperti biasanya. Dia berjalan menuju gerbang utama sekolah dengan santai. Dia sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan karena besok adalah weekend. Apakah dia hang out dengan teman dekatnya, atau sekadar membersihkan kamarnya dari sarang laba-laba yang bertengger dimana-mana.

Saat tiba di gerbang utama, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik tangan Meiko, membuat Meiko berhenti berjalan dan menengok ke belakang dengan perasaan sedikit kesal.

Tapi, perasaan kesal Meiko segera luluh ketika melihat siapa yang menarik tangannya.

"Hai, Meiko."

Seorang lelaki berambut merah marun dan diikat ke belakang tersenyum ramah kepadanya. Badannya tegap tinggi, dan berwajah tampan.

Meiko kenal dengan lelaki ini! Dia adalah murid seangkatan mereka, dan menjadi pujaan banyak murid perempuan—tak terkecuali Meiko. Selain tampan, dia juga berbaik—baik dalam pelajaran maupun olahraga. Dan itulah alasan mengapa dia banyak dikagumi dan dipuja banyak murid perempuan. Namanya adalah Kasane Ted.

Padahal mereka berdua tidak berada di kelas yang sama, tapi kenapa Ted mengetahui namanya?

"Ha-hai! Kenapa kamu tahu na—"

Belum saja Meiko menyelesaikan kata-katanya, Ted sudah menariknya dan mengajaknya pergi ke suatu tempat. Meiko tak dapat menolak.

.

.

.

.

Ternyata Ted mnegajaknya pergi ke belakang kelas Meiko. Di sana ada sebuah taman kecil. Ted berdiri tepat di hadapan Meiko, namun mengarahkan pandangannya ke tempat lain.

"Hm … Meiko, apa kau sudah punya pacar?" tanya Ted.

Meiko menggeleng singkat. Sepertinya dia tahu arah pembicaraan ini—kalau dia boleh berbesar kepala.

"Lalu, apa kau berniat untuk berpacaran dengan seseorang?"

Meiko diam. Dia ingin saja berpacaran dengan seseorang—kalau saja ditembak. Tapi, kalau teman-temannya yang masih belum mendapat pacar marah padanya—yang sudah berpacaran? Wow, dia akan merasa bahwa kelasnya seperti neraka dengan teman-teman yang melemparkan pandangan mematikan ke arahnya setiap jam, terutama setiap pacarnya berada di dekat dirinya.

"Bagaimana, ya?" kata Meiko, dia memutar bola matanya ke arah lain. "Kalau aku ditembak, aku mau saja berpacaran. Tapi aku—"

"Kalau aku yang menembakmu, bagaima?" kata Ted. "Aku menyukaimu sejak lama, lho."

Bingo! Itulah pikiran Meiko sejak tadi. Dan dia bingung apakah dia harus menerimanya atau tidak.

Namun, Meiko segera menguatkan hatinya, apapun yang terjadi, dia akan—

"Aku menerimamu jika kamu menembakku."

menerimanya.

Seorang gadis berambut hijau pendek berdiri di balik tembok yang mengarah tepat ke kedua pasangan kekasih yang baru saja jadi tersebut. Dia menunduk sambil mendengarkan pembicaraan mereka.

"Dasar bodoh. Kalau kau menjadi korban dari permainan tersebut, jangan salahkan siapa-siapa."

Kemudian, gadis tersebut menghilang, dan terdengar sebuah bunyi yang menunjukkan bahwa ada sebuah botol yang dilempar ke tong sampah secara kasar.

.

.

.

Besoknya, Meiko dan Ted berjanji untuk bertemu di sebuah kafe yang baru saja diresmikan. Kafe tersebut berada tak jauh dari stasiun.

Meiko sudah siap dengan dress berwarna merah marun. Sambil menunggu Ted datang, dia memainkan handphone yang ia bawa. Dia sudah menunggu cukup lama. Tapi dia tetap bersabar dan menjaga perasaannya yang sedang bahagia, tentu saja karena sekarang ia telah resmi menjadi pacar dari Kasane Ted—lelaki yang jadi pujaan setiap gadis di sekolah mereka.

Tak beberapa lama, Meiko melihat seorang lelaki berambut merah marun yang sedang berdiri di seberang jalan—ingin menyebrang, namun terlihat sedang mencari-cari sesuatu. Dan Meiko segera mengenali lelaki tersebut sebagai Ted. Meiko segera berseru dari seberang jalan,

"Ted! Aku di sini!" seru Meiko. Ted segera menoleh ke arah Meiko.

Tanpa basa-basi lagi, Ted menyebrang jalan, menuju tempat Meiko berada. Namun, tiba-tiba sebuah truk melaju dari samping kiri Ted—dan Ted tidak menyadarinya. Meiko yang melihatnya secara langsung segera mengambil tindakan. Dia berlari ke tengah jalan, menerjang Ted yang masih bingung akan apa yang sedang terjadi. Mereka berdua berguling-guling di jalanan sambil terus berpelukan, dan beberapa detik kemudian truk tersebut melaju dan—

.

.

Sebuah ambulans datang membelah kerumunan yang berkumpul di tengah jalan yang ada di dekat stasiun. Para petugas ambulans segera mengangkat tandu yang bergotong royong untuk mengangkat kedua korban tabrak lari yang dikerumuni para pengguna jalan tersebut.

Kedua korban tersebut sedang berada di batas kehidupan mereka—karena mereka baru saja ditabrak oleh truk, dan dengan teganya truk tersebut menghilang begitu saja tanpa pertanggung jawaban. Luka mereka sangat parah. Salah seorang korban yang berjenis kelamin lelaki, kepalanya pecah dan tubuhnya dipenuhi oleh luka lecet. Sedangkan yang berjenis kelamin perempuan, tubuhnya remuk dan kepalanya bocor karena terlindas ban truk.

Saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, korban yang perempuan—bernama Meiko, merenungkan sesuatu yang masih saja bergentayangan di pikirannya.

Kemarin, dia membaca sebuah tulisan yang ada di kertas yang ia temukan di dalam botol misterius tersebut. Tulisan tersebut benar-benar ia alami sekarang, padahal dia tidak menyangka bahwa dia akan mendapat seorang pacar.

Dan yang ia pikirkan, jangan-jangan itu adalah sebuah benda yang terkutuk dan terlarang?

Saat Meiko ingin melanjutkan pemikirannya, sekujur tubuhnya terasa kaku dan ngilu. Ia tak bisa merasakan apa-apa selain darah yang mengalir di sekujur tubuhnya, dan rasanya ia benar-benar ingin mati.

Dan beberapa detik kemudian, Meiko tak merasakan apa-apa lagi. Dan dia mengumpat dalam hati—tepat sebelum seluruh nyawanya dicabut,

Kertas sialan.

—Dan di detik itu juga, secara resmi, seorang Meiko Sakine telah meninggal dunia dengan tenang.

.

.

.

.

-Seorang gadis berambut hijau pendek menyaksikan semuanya dari kejauhan. Di tangannya terdapat sebuket bunga lili putih yang diikat oleh pita putih pula. Dia menunduk, tanda bahwa ia turut berduka cita atas kematian dua orang 'korban baru' dari sebuah permainan terlarang yang pernah dimainkan oleh sahabat-sahabatnya.

Kemudian, gadis itu menaruh buket bunga tersebut di pinggir jalan dengan perasaan iba.

"Sudah kubilang, jangan mengumpat permainan tersebut. Sekarang, kau rasakan akibatnya—bersama orang yang kau kasihi."—

.

.

.

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Sora-kun, fanfic request dari kamu sudah selesai denga ntidak elitnya nih. dan …. Gomennasai karena tokohnya bukan Sora—kayak kata kamu, tapi Meiko. Karena kasihan si Meiko kagak muncul padahal temen-temennya muncul di sini.

Oh iya, ada yang penasaran sama siapa si gadis hijau yang suka nongol gitu aja? Dan suka banget ceramahin orang itu? Itu Gumi. Dia nguntit Meiko, lho. (kurang kerjaan banget si Gumi #dilindesGumi)

Ah, udah deh. Makin lama saya makin alay aja nih. Karena saya alay, jangan ikutan alay. Makanya, review-lah fanfic saya ini~~

Yang terakhir: ini bonus chapter dari Permainan Terlarang (karena kalau dibilang sequel, ini kependekan bung)