Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody" dari Eragon dan How to Train Your Dragon. Khusus di bab ini, beberapa unsur juga ada di novel Percy Jackson & The Olympians buku ketiga: The Titan's Curse

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.

Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Typo, Death Chara

Pair : NaruSaku, NaruSara (Slight ShikaTema & KakaPaku)

Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance, Mystery


Author's Note :

Jumpa lagi di chapter 10, readers !

Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima.

Oy, banyak sekali review yang masuk di chapter 9 (Sebagian besar berhubungan dengan teka-teki Sphinx). Mari kita lihat di chapter ini...benar atau salahkan tebakan readers sekalian ?! Ow, dan disini, saya menghadirkan dan sedikit menonjolkan genre yang tercantum terakhir alias paling belakang, yaitu mystery. Dan unsur misteri dan teka-teki ini tidak akan berakhir sampai beberapa chapter kedepan, karena itu ikuti terus Paradox yang akan selalu menyimpan misteri dan cerita dibalik cerita.

Dan bagi yang sudah penasaran soal Draco P...saya memberikan sedikit informasi tentang sang legenda kita di chapter ini !

NOTE : Siapkan mata Anda ! Di bawah, 12.000 words telah menanti !

Enjoy read chap 10 !


PARADOX

Chapter Sepuluh :

Mystery of the Lost Pages

Kening Shikamaru berkerut. Sekarang waktunya serius. Sangat serius. Dia harus memikirkan kemungkinan jawaban paling masuk akal dan benar atau nyawanya dan nyawa teman-teman dan gurunya akan jadi bayarannya. Sungguh sebuah beban yang berat.

'Apa yang berjalan dengan empat kaki pada pagi hari, dua kaki pada siang hari, dan tiga kaki pada malam hari, dan semakin banyak kakinya semakin lemahlah dia ?'

Kalau dipikir-pikir...sepertinya teka-teki ini memadukan beberapa unsur khas kerahasiaan bersamaan. Pagi, siang, dan malam pasti kiasan...dan jika dipikir lebih jauh, Sphinx kecil kemungkinannya membuat jawaban yang jauh dari manusia. Manusia umumnya akan mencari jawaban pada sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka...padahal sepertinya jawabannya lebih dekat dari yang mereka kira. Sama seperti kau mencari sebuah pensil kemana-mana dan tidak ditemukan, padahal pensil itu ada di saku atau diselipkan ke telingamu sendiri... Pikir Shikamaru.

Lebih dekat dari yang kau kira...

Lebih dekat...

...sebentar...

.

"Semua" Kakashi-sensei buka suara, "ikutlah berpikir. Pikirkanlah kemungkinan paling rasional. Hati-hatilah" sambungnya.

Beberapa anggota tim mengangguk sambil mencoba memaksimalkan kinerja otak mereka waktu itu.

Pintar juga, pikir Sasuke. Jika teka-teki ini muncul dalam bentuk soal diatas sehelai kertas, kurasa banyak diantara kami yang bisa menjawab, lanjutnya. Bagian tersulit disini sebenarnya bukan teka-teki, melainkan bagaimana seseorang bisa berpikir jernih dan menemukan jalur alternatif untuk menemukan jawaban DENGAN jangka waktu sesingkat ini dimana maut menghadang di ujung. Melawan rasa takut itulah yang akhirnya membuat otak sulit berpikir, pikirnya.

.

.

.

"WAKTU HABIS !" Sphinx memekik senang. Ia beralih pada Shikamaru. Matanya menatap tajam sambil mengerjap-ngerjap. Ekor ularnya mendesis nyaring siap menggigit. "Apa jawabanmu, Nara Shikamaru dari Konohagakure ?" Katanya lembut.

Shikamaru terdiam beberapa detik. Semua anggota tim menatapnya tanpa bernapas, memikirkan kemungkinan terburuk.

Ayolah Shikamaru...jangan sampai salah... batin Ino.

Shikamaru...aku sudah berteman denganmu sejak kecil...dan aku percaya kau bukan orang yang mudah mengorbankan nyawa teman ! Batin Chouji.

.

Raut wajah Shikamaru berubah. Senyum tersungging di bibirnya. Ia membuka mata dan menjawab dengan penuh keyakinan.

.

.

.

"Manusia".

.

Sphinx berdiri mematung. Ia melirik sekali lagi bocah remaja klan Nara di depannya.

"APA ?!" Teriaknya tak percaya.

"MANUSIA !" Balas Shikamaru sambil berteriak pula.

.

"CIH ! BENAR !" Pekik Sphinx dengan suara yang memilukan. "TIDAK MUNGKIN ! TIDAK PERNAH ADA MANUSIA YANG MENJAWAB TEKA-TEKIKU DENGAN BENAR ! INILAH SENI ! KALIAN TIDAK MENGERTI SENI !" Dia memekik lagi, menjambak rambutnya, menguraikan mahkota daunnya, membanting-banting ekornya dan berguling-guling kesal.

"OEDIPUS SIALAN !" Umpatnya disela-sela jeritannya.

Tidak buang waktu, Shikamaru langsung mengambil sebilah kunai dan segera menusuk pangkal leher bagian depan Sphinx yang sedang meronta seperti makhluk gila. Darah mengucur. Makhluk buas itu segera mati.

.

"Luar biasa, Shikamaru" puji Kakashi-sensei. "Kalau boleh tahu, bagaimana kau bisa berpikir sejauh itu ?" Lanjutnya penasaran.

Shikamaru tertawa kecil. "Sebenarnya, saya berpikir lebih pendek dari orang kebanyakan, Kakashi-sensei" jelasnya, membuat semua orang bingung. "Sebenarnya ini mudah saja".

"Keterangan waktu, alias pagi, siang, dan malam, itu semua hanya konotasi. Kiasan. Makna tidak sebenarnya. Pagi berarti saat muda, siang berarti saat paling prima dan optimal, malam berarti saat tua. Coba cocokkan dengan manusia. Manusia berjalan dengan empat kaki pada pagi hari, atau pada usia muda alias bayi. Yang dimaksud empat kaki itu adalah dua tangan dan dua kaki" Shikamaru menjelaskan tahap pertama.

"Merangkak, maksudmu ?" Potong Sakura. Shikamaru mengangguk.

"Manusia berjalan dengan dua kaki saat dewasa, atau saat siang hari. Kemudian ketika semakin tua, alias malam hari, manusia berjalan dengan tiga kaki, atau dua kaki ditambah sebuah tongkat yang diibaratkan kaki tambahan. Jadi semakin banyak kakinya semakin lemah. Orang dewasa yang masih sanggup berjalan diatas dua kaki adalah yang paling prima dan sehat, selanjutnya orang tua, dan kemudian bayi, empat kaki, adalah yang terlemah dari semua tahapan hidup manusia. Itu kalau tidak ada lansia yang harus menggunakan beberapa tongkat sekaligus untuk berjalan" lanjutnya santai.

"Akhirnya kau berguna juga" kata Jiraya-sensei senang. "Aku yakin otak cerdasmu itu bisa diandalkan" lanjutnya sambil terkekeh. "Kita melewati Gunung Phicium dan bertemu dua Pembantai Bersayap tanpa mendapat korban satupun, bukankah itu pencapaian yang hebat ?" Lanjutnya sedikit pongah sambil melirik Temari.

"Ya, ya, terserah Anda, Jiraya-sama" balas Sasuke malas. "Ayo terbang sekarang. Kita masih belum menemukan Naruto. Walau mungkin ada gunanya kita tidak bersama si cerewet itu sekarang, karena dia pasti bisa mengacaukan pertarungan tadi, atau saat teka-teki sekarang" lanjutnya.

"Yah, walau aku masih penasaran kira-kira dimana Naruto-kun sekarang, yaa ?" Tambah Lee sambil bergegas menuruni gunung.

.

.

.

"Sepertinya kita melewatkan sesuatu, Kurama".

.

.

"Naruto !"

"Naruto-kun !"

"NARUTO ?!"

Aku tersenyum iseng. Tepat di punggung Kurama. Tepat di belakang mereka. Mereka langsung menghambur senang ke arahku.

"Sejak kapan kau disitu ?!" Seru Kiba.

"Baru saja, kok" kataku sambil tertawa kecil. "Saat Sasuke menggosipiku, aku sudah bisa melihat kalian dari lereng gunung".

"Aku tidak menggosip" kilah Sasuke.

"Oya ? Karena kuping kiriku terasa panas" balasku iseng.

"Kau baik-baik saja, Naruto ? Apa tusukan Styx itu menyakitimu ?!" Serbu Hinata khawatir. Aku tersenyum kecil.

"Tidak terlalu jauh dari sini" jawab Kurama. "Dan dia sudah punya pacar baru yang tidak lain adalah ratu" sambungnya.

BLETAK

Langsung kuhadiahi naga oranyeku dengan sebuah jitakan keras.

"Jangankan jitak, kau menusukku dengan kunai saja aku tidak keberatan, Naruto baka !" Kurama malah menantang sambil menjulurkan lidah. Wajahku memerah semu karena malu. Apalagi di depan Sakura dan Hinata.

"Kurama baka" balasku geram.

"Benarkah itu ?" Selidik Sasuke.

"Tidak semua" jawabku. "Aku terteleportasi ke Kota Besar Rouran, masih di bagian Kaze no Kuni yang paling menjorok dengan Tsuchi no Kuni. Disana aku disembuhkan oleh Pakura dan bertemu dua menteri pertahanan terbaik mereka, Hiruko dan Anrokuzan...dan ratu mereka, Sara-sama".

Aku nyaris keceplosan menambahkan menteri pangan dan kesejahteraan rakyat...yang tak lain adalah (mungkin) ayah Sakura sendiri.

"Menyenangkankah disana ?" Selidik Hinata. "Mereka semua orang-orang baik kan ?"

"Tentu" jawabku sambil tertawa kecil. "Tanya saja pada Kurama. Dia saja langsung dapat teman disana, seekor Burning Dragon bernama Pliny, yang juga tunggangan Pakura" jelasku.

Kakashi-sensei tampak sedikit terkejut. "Kau bertemu Pakura, Naruto ?" Selidiknya padaku. Aku mengangguk kecil.

"Ada apa ?"

"Pakura adalah pengguna salah satu Kekkei Genkai paling langka, yaitu Shakuton. Elemen panas, yang didapat dengan menggabungkan elemen angin dan api. Dia Dracovetth yang hebat dan terkenal saat Perang Dunia Naga Ketiga" jelasnya akurat. "Dia sempat dikira hilang, ternyata malah di Rouran. Aku pernah mendengar nama kota itu, tapi tidak menyangka dia ada disana".

Aku bingung. "Lalu apa hubungannya denganku ?"

"Tidak. Sepertinya tidak terlalu berhubungan" jawab Kakashi-sensei datar. Agak aneh, pikirku.

"Siapa sangka juga dia punya Burning Dragon. Pliny juga lumayan cantik, menurutku" potong Kurama.

Aku bagai tersengat listrik. "Pliny seekor naga betina ?!" Ujarku terkejut.

Kurama mengangguk. "Hanya karena dia tidak bisa bicara, kau tidak tahu ?"

"Tentu tidak !"

"Darimana kau tahu dia betina ? Ada yang angkat roknya ?" Tanya Kiba jahil.

"Yang benar saja. Kami para naga tahu apakah seekor naga itu betina atau jantan hanya dengan melihatnya, sama seperti kalian para manusia bisa membedakan laki-laki atau perempuan dengan melihat wajahnya" jelas Kurama enteng.

"Oh, jadi kau tidak hanya dapat teman, tapi juga pacar" ledekku. Kesempatan akhirnya terbuka juga untuk membalas !

"Hentikan pembicaraan yang tidak perlu" potong Sasuke. "Kita semua tidak punya banyak waktu, jadi lekaslah".

Aku mengangguk.

.

Kami terbang, membubung tinggi bersama awan, kali ini daratan di bawah telah melanskap berbeda. Tsuchi no Kuni. Iwagakure, Desa Batu, hanya berjarak beberapa kilometer ke depan. Kami semakin jauh dari garis khatulistiwa, yang berarti makin lama mulai makin dingin.

Aku terus memperhatikannya dari jauh. Aku memang sengaja terbang bersama Kurama di barisan agak belakang agar bisa...mengamati Sakura lebih leluasa. Aku belum menanyakan hal ini. Haruno Kizashi...seharusnya masih hidup jika dia tidak memaksa masuk ke Menara Tenggara waktu itu.

Seharusnya dia masih di Rouran, melontarkan candaan aneh yang tidak masuk akal, dengan begitu aku bisa langsung memberondong Sakura dengan fakta yang kutemukan bahwa ayahnya dengan rambut bunga bertatanan aneh itu MASIH HIDUP.

Tapi semua sudah terlambat.

Aku bahkan sempat berpikir-pikir apakah Kizashi itu nyata atau bukan. Bisa jadi itu hanya semacam genjutsu kuat, sampai-sampai Anrokuzan, Hiruko, Sara, Pakura, dan semua penduduk Rouran bisa melihatnya juga. Tapi rasanya itu tidak mungkin.

Atau.

Atau Kizashi memang sudah mati, Pakura memang hilang, Pliny memang naga aneh, dan seluruh Rouran sebenarnya adalah GENJUTSU ?

Tapi itu tidak mungkin mengingat Kurama bisa menemukanku. Memang aku menemukan banyak hal aneh disana, tapi sulit dipercaya juga Rouran adalah genjutsu. Itu tidak mungkin.


Otogakure

Village of Sound

"Dia menggunakannya" sebuah suara yang terdengar seperti milik orang licik terdengar di ruangan sunyi itu.

"Berubah menjadi Yamata no Orochi ?" Selidik suara yang lain.

"Ya. Pasti ada keadaan darurat. Sekitar blokade Kaze dan Tsuchi".

"Itu mungkin Gunung Phicium. Hanya disana yang terdapat beberapa naga mengerikan yang siap melahap pengembara hidup-hidup, Orochimaru-sama" sahut suara kedua.

"Hmm. Kurasa kita harus ke tempat dimana dia berada juga. Emm, kurasa, mereka" simpul orang yang dipanggil Orochimaru itu.

"Ke Tsuchi no Kuni ?" Sambut suara kedua. "Itu bukan jarak yang dekat. Lagipula kenapa Anda mau kesana ? Hanya karena ingin melihat seberapa sukses percobaan Anda ?"

Orochimaru tertawa licik. Atau hanya kedengarannya saja. "Kita mencari ini sejak lama" katanya tenang sambil mengambil sebuah kain lusuh di meja dekatnya dan memberikannya pada orang di depannya.

Mata orang itu terbelalak. "Anda pikir tempat ini ada di Tsuchi no Kuni ?"

"Lantas dimana lagi ?" Balas Orochimaru. "Semua orang mengenal Perpustakaan Besar Kumogakure sebagai perpustakaan terlengkap di Lima Negara Besar. Tapi aku ragu. Kita harus menemukan tempat itu, bersama mereka kalau perlu" sambungnya.

"Itu kedengaran tidak etis" sahut suara itu.

"Ayolah, Kabuto. Apa yang lebih berharga dari itu ? Pasti ada ribuan bahkan jutaan informasi kategori top-spoiler yang tidak diketahui manusia manapun, dan kemungkinan besar, informasi tentang Etatheon dan terutama, Paradox, juga ada disana. Siapa tahu. Kita tidak boleh meremehkan kemungkinan walau hanya satu per seribu. Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Apa yang lebih hebat dari menemukan Paradox dan mendapat secuil kekuatan atas izinnya ?" Ujar Orochimaru panjang lebar.

"Orang jahat tidak seharusnya bicara begitu" jawab Kabuto malas-malasan.

"Aku orang jahat ?" Balas Orochimaru sinis. "Jahat itu relatif" lanjutnya.

"Apa bagusnya menemukan Paradox ? Pengendaranya sendiri sudah mencari ke hampir separuh dunia dan tidak ada apapun" balas Kabuto.

Orochimaru terkekeh. "Paradox ada sejak ribuan tahun lalu pada era Rikudo Sennin. Berapa lama tepatnya, hmm ? Jika aku mendapat sedikit saja kekuatannya, aku akan bisa hidup ratusan tahun ! Dengan hidup cukup lama, aku punya cukup waktu untuk mempelajari semua jutsu yang ada. Kau tahu kan, mengetahui itu tidak cukup, kau juga harus bisa mempraktekkannya...".

"Aku tidak punya tubuh yang bisa menoleransi kekuatan energi alam dari Ryuuchidou. Mungkin jika aku meminta sedikit kekuatannya, aku bisa masuk kesana dan akhirnya belajar ilmu energi alam dari Pertapa Ular Putih. Itu akan melengkapi Mode Sage-ku" tambahnya panjang lebar.

"Dengan semua rencana brilian ini, dengan tingkat keberhasilan yang masih sangat kecil, Anda memanfaatkan peluang pada pengendaranya sendiri" simpul Kabuto. "Saya tidak terpikirkan hal itu" lanjutnya setengah memuji.

Orochimaru tertawa pendek. "Siapkan perbekalan dan Manda, kita pergi sekarang. Mereka mungkin belum tahu soal tempat ini, aku akan datang tepat pada waktunya dan memberitahu mereka semua. Aku yakin mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini sama sepertiku. Terlebih bagi Naruto yang sudah ingin sekali bertemu naganya itu...khu khu khu...".


A Kilometer Before Iwa

"Sudah terlihat !" Seru Hinata mengagetkan lamunanku. "Iwagakure satu kilometer di depan !"

"Bagus, tambah kecepatan dan aku bisa segera menyelesaikan misiku. Kurasa ada bagusnya juga kita melalui Gunung Phicium karena orang-orang selanjutnya tak perlu takut lagi lewat sana" ujar Temari.

"Hmm ? Tadi siapa yang ribut minta jalur lain ?" Balas Shikamaru malas.

"Hanya karena kau menyelamatkan kami tadi, bukan berarti kau bisa seenaknya, rambut nanas" balas Temari cuek.

"Hei, jangan ada lagi yang panggil aku dengan sebutan begitu !"

"Baiklah, rambut nanas".

"Diam !"

.

.

"Ada sesuatu" sergah Sasuke, menghentikan perdebatan Shikamaru dan Temari. "Di bawah. Panjang dan berat...sepertinya seekor naga".

"Naga ?" Aku memincingkan mata ke bawah. Tidak ada apapun.

"Kau mungkin salah deteksi, teme ! Tidak ada yang kulihat, dan mana mungkin seekor naga bergerak di dalam tanah seperti cacing !" Ujarku.

"Bodoh. Diantara banyaknya spesies naga ada juga dari mereka yang tidak bersayap dan mirip cacing" jawab Sasuke. "Dia..."

BRRAAKK ! !

Tanah terbelah, dan dari dalamnya muncul seekor naga besar dengan tubuh bersegmen-segmen seperti cacing tanah. Wajahnya agak pendek dan seluruh tubuhnya dipenuhi duri keras yang mengarah ke belakang, serta lima tanduk lurus yang terlihat sangat kuat di wajahnya. Satu di dagunya, satu di pipi kiri, satu di pipi kanan, dan dua di atas hidung. Ia meraung dan menatap rombongan kami.

"Mirip dari mana ?!" Protesku. "Dia jauh lebih raksasa dari cacing !"

"Galaeana. Kulit dan sisik raksasanya kebal api" desis Sakura. "Kita harus mengincar bagian dekat rahang bawah bagian belakang. Itu yang paling lunak".

"Huh ! Kita pentalkan saja dia" sungut Jiraya-sensei. "Bryptops, tembak !" Perintahnya.

Menurutku itu kurang bijak, dan memang benar –ada terlalu banyak ruang kosong bagi Galaeana untuk menghindar dari bola hitam Bryptops. Sekarang dia menyembur.

"Minyak ?" Seru Lee terkejut.

"Ya ! Dia akan menyembur minyak sebelum menyembur api ! Dengan begitu korbannya akan lebih mudah terbakar !" Jelas Kakashi-sensei.

"Naga itu tidak bisa terbang kan !?" Seruku keras-keras. "Kita abaikan saja dia dan terus maju ke Iwagakure ! Lagipula hanya ada satu ekor !"

"Kurasa itu ide bagus" sambut Sakura sambil menatap yang lain, meminta persetujuan mereka. "Kali ini, kita akan lebih menghemat waktu. Kalaupun dia bersikeras mengejar sampai Iwa, pasukan pelindung desa mungkin akan menghabisinya dengan mudah" lanjutnya.

Jiraya-sensei dan Kakashi-sensei berpandangan sesaat, kemudian mengangguk dan memecut tali kekang naga mereka. "Abaikan dan maju dengan kecepatan penuh !" Seru Jiraya-sensei.

"Terbanglah lebih tinggi ! Galaeana tidak bisa menyembur minyak atau api dengan jarak lebih dari 10 meter !" Kakashi-sensei ikut memberi komando.

DRAAKK !

BRAKKK !

.

"Aku tidak pernah mengira mereka hidup dalam kawanan" sungut Shikamaru kesal begitu melihat ke bawah. Disana, beberapa Galaeana yang lain ikut keluar dari tanah berbatu, sibuk menyembur ke atas berusaha mengenai kami, walau sebenarnya percikan mereka sedikitpun bahkan tidak mengenai ujung terbawah naga kami.

"Usaha yang bagus, dasar cacing tanah" ejek Kiba. "Tapi kalian tampak seperti cacing raksasa karena tidak punya sayap" sambungnya.

"Kurasa mereka patuh pada Madara juga" celetuk Ino.

"Apa yang membuatmu berpikir demikian ?" Selidik Temari.

"Ingat serangan Zechuan di Suna ? Mereka datang dalam jumlah yang amat besar, padahal naga tipe itu tidak suka udara panas dan jarang terlihat berkelompok sebanyak itu. Saat itu hanya satu alasan yang bisa menjelaskannya: Mereka adalah kaki tangan Madara" Jelas Ino.

BLAAARRR ! ! ! Mendadak sebuah ledakan terlihat nyaris mengenai kaki depan kiri Bryptops.

"Apa-apaan ini ?! Galaeana bukan tipe penyembur-ledak !" Seru Jiraya-sensei terkejut.

.

"Memang bukan, pengembara ! Hmmm !"

Sebuah suara keras terdengar dari bawah. Seorang...hmm, aku tidak bisa menebak, tapi dari suaranya yang berat dia pasti laki-laki, dengan rambut panjang berwarna kuning berkucir satu ekor kuda ke belakang, dengan sebuah poni menutupi mata sebelah kiri. Ia mengenakan jubah merah gelap beserta ikat kepala Dracovetth Iwagakure dan terlihat berdiri diatas...seekor Galaeana.

"Siapa kau ?!" Aku berteriak keras-keras.

"Kau tidak perlu tahu !" Seru orang itu. "Aku tidak tahu kalian siapa, tapi aku akan menyerang tanpa basa-basi, hmm !" Ia melempar sesuatu dari tangannya.

"Hati-hati, semuanya !" Seru Kakashi-sensei memperingatkan. "Kurasa semua Galaeana ini bukan tunduk pada Madara, tapi pada orang itu".

BOOFF

"Seekor burung...dari tanah liat putih ?" Selidik Lee.

Orang itu membentuk satu handseal. Burung itu terbang makin cepat dan makin dekat ke arah Gorongosa, dan...

"KATSU !"

.

BLAAAARRRR ! ! !

"Kakashi-sensei !" Teriakku.

.

.

"Kau kuat" puji pria berambut perak itu datar. "Tapi sayangnya kau memilih target yang salah" sambungnya. Gorongosa segera berubah padat lagi. "Naga ini hanya akan mencair lalu kembali ke wujud semula tidak peduli sehebat apapun bom milikmu".

"Maaf, aku ingin bertarung sekarang, tapi ada yang lebih penting bagi kami. Kami harus ke Iwa sekarang juga, terimakasih hiburannya" sambung Jiraya-sensei.

"Hoi ! Tunggu ! Akan kuperlihatkan apa itu seni sebenarnya !" Orang itu masih berteriak.

"Kalian semua, pergilah dulu. Katakan pada penduduk Iwa aku dan Naruto akan terlambat sebentar" kata Kurama tiba-tiba. Aku mengernyit. Kami berdua ?

"Apa maksudmu ?" Serbuku.

"Kita akan memanggang mereka, Naruto" kata Kurama sambil mengedipkan mata.

Spesies Wivereslavia sangat handal dalam semburan api jarak jauh. Aku juga penasaran seperti apa kemampuan Kurama, pikir Jiraya-sensei. "Baiklah. Resiko tanggung sendiri, Naruto" candanya.

Orang itu melempar dua benda serupa yang pertama. Aku merogoh kantung dan memegang sebuah Hiraishin Kunai. Benda tadi melesat ke arah kami, kali ini bentuknya burung hantu yang lumayan besar. Pasti ledakannya lebih dahsyat juga.

"Orang ini ahli dalam serangan jarak jauh" desis Kurama. "Itu wajib karena serangan jarak dekat sama saja melukai dirinya sendiri. Dia menggunakan tanah liat yang diubah menjadi bom dengan mencampurnya dengan chakranya. Kita harus menariknya dalam pertempuran jarak dekat".

"Kau jenius juga, ya" pujiku sambil melempar Hiraishin kunai.

Dua patung bergerak itu makin dekat...

Dan...

"Sekarang, Naruto" bisik Kurama. Aku mengangguk.

"Rasakan karena telah meremehkanku, hmm !"

.

"Katsu !"

.

DUUUAAAARRRR ! ! !

.

"Hahaha, satu mangsa habis sudah...kalian lihat ! Inilah seni !"

.

"Kau mengarah siapa, hemmm ?" Sindir Kurama. Orang itu menoleh.

"HAH ?! Jadi...kau pengguna Shunshin, Dracovetth Konoha..." sungutnya kesal. Ya, kami berada hanya empat meter di belakangnya sekarang...

Kurama menarik napas dalam. Dadanya membesar. Ia bersiap melakukan serangan. Aku sendiri jadi penasaran apa yang akan...disemburkannya.

"MAKAN INI !"

.

VOOOOOOOMMMMMM...! ! ! ! !

.

Lautan api. Itulah yang bisa kukatakan untuk menggambarkan yang ini. Kurama termasuk naga berukuran sedang, tapi jangan tanya semburannya. Mungkin cukup untuk memanggang tiga Gigantostoma sekaligus ! Api keluar dari mulutnya dan langsung merambah wilayah luas sekaligus. Beberapa Galaeana langsung terbakar dan kulit mereka sampai mengelupas.

Naga dengan kulit setebal itu saja sampai begitu...apalagi orang tadi ?!

.

"Fuuhhh..." Kurama meniup asap terakhir dari mulutnya. "Selesai juga" katanya bangga. Aku ternganga takjub. Semua Galaena mati dengan kepala gosong. Semudah itu !

"Kata Sakura tadi Galaeana kebal api ?" Tanyaku bingung. "Bagaimana apimu bisa membakar mereka, bahkan membunuh hanya dengan menggosongkan kepala ? Itu terlalu mudah !" Protesku.

Kurama tersenyum misterius. "Rahasia".


Iwagakure

Kantor Tsuchikage

Tua.

Keras kepala.

Agak botak.

Hidung bengkak.

Dan pendek.

.

Itulah kesanku sampai sekarang begitu bertemu Tsuchikage –Sandaime Tsuchikage bernama Onoki alias Ryoutenbin no Onoki. Onoki si Bocah Keras Kepala. Yeah, itu sangat cocok dengan segala kepribadiannya, menurutku. Aku termagu begitu tahu Iwagakure baru sampai generasi ketiga dari Kage. Bandingkan dengan Konoha, Suna, dan Kiri yang sudah mencapai generasi kelima dan Kumo yang sudah sampai generasi keempat ! Awet hidup juga Tsuchikage ini.

"Hmm, hmm" Onoki manggut-manggut begitu selesai membaca surat dari Gaara –alias Kazekage. Ia melirik Temari yang menunduk (bukan karena alasan apapun selain Tsuchikage itu bahkan tidak sampai setinggi dadanya !). Wow. Untuk alasan yang sama, aku sempat memanggilnya Chibi-jiisan, Kakek Cebol –yang segera kuralat begitu tahu dia Tsuchikage.

"Maaf, pembawa pesan. Kami sudah lakukan sejak jauh hari yang diperintahkan oleh adikmu ini. Seluruh desa sudah kami teliti, bahkan seluruh Tsuchi no Kuni. Sampai-sampai kuajak beberapa desa dan kota kecil untuk ikut meramaikan pencarian besar-besaran ini hanya untuk menemukan seekor naga, dan hasilnya adalah negatif. Tidak ditemukan, kosong, tidak terdeteksi, tidak ada !" Serunya panjang lebar dengan sikap menyebalkan khas kakek-kakek yang kelamaan hidup di dunia.

"Kecuali kalau kau punya informasi kalau Paradox panjangnya tidak lebih dari 15 meter, baru kami lakukan pencarian ulang untuk naga kategori ukuran agak kecil seperti itu" sambungnya.

"Sebenarnya...Tsuchikage...kurasa dia memang kurang dari 15 meter panjangnya" kata Jiraya-sensei membuat wajah sang Tsuchikage berkerut lagi.

"Huh" gerutunya pendek. "Kurasa aku harus menghancurleburkan gua-gua dengan Jinton-ku untuk membantu pencarian" tambahnya.

Aku terkejut. "Chibi-jiisan kau...errr...maksudku, Kakek Tsuchikage, kau bisa menggunakan Jinton ?!" Seruku terkejut.

Dia melirikku dengan ekor mata. "Itu Kekkei Touta-ku" jawabnya pendek. "Aku satu-satunya pengguna Jinton yang masih hidup di dunia" sambungnya sedikit pongah. Jiah, belum tahu saja dia.

"Sebenarnya...saya juga memiliki Kekkei Touta Jinton, Kakek Tsu.."

"SUNGGUH ?!" Kata-kataku langsung ditabrak. Aku mengangguk terkejut.

"Tunjukkan" tantangnya. Giliranku bingung.

"Ehm. Karena itu saya bertanya. Saya belum bisa membangkitkan Jinton samasekali, baru bisa menguasai elemen angin, api, dan tanah. Tanahpun baru satu jurus dan itu yang sangat sederhana" kataku.

"Hmm, elemen tanah ya ? Kalau ada kesempatan, aku ingin mengajarimu jutsu turun-temurun petinggi Iwagakure juga. Mungkin akan berguna melawan Madara, walau ini mungkin hanya dianggap kurcaci-kurcaci kecil pembuat masalah" sambut Onoki sambil mengelus jenggot putihnya.

"Apa itu, Kek Tsuchikage ?" Tanyaku penasaran. Untung aku tidak keceplosan menyebutnya Kakek Cebol lagi.

Onoki tertawa kecil. Ia menepuk tangan kanannya beberapa kali.

Beberapa detik kemudian, pintu kantor terbuka. Menampakkan sosok yang...sedikit mengerikan.

Tingginya dua meter, alias pas-pasan setinggi kusen atas pintu. Posturnya seperti manusia, dengan dua tangan dan dua kaki yang memiliki lima jari. Kepalanya botak licin dengan tekstur mirip tanah lempung yang mengeras. Kedua mata kuning lembutnya menatap tajam dengan pupil bulat hitam kecil. Gigi-giginya tampak tumbuh langsung dari tulang rahangnya (kalau dia punya tulang) dan tidak punya gusi. Makhluk itu hanya mengenakan cawat longgar berwarna hijau, alias bertelanjang dada. Menampakkan tubuhnya yang kekar berotot, tampak padat dan kuat sekali.

Makhluk itu menggeram halus, lantas berjalan santai ke samping Tsuchikage –yang jadi tampak semakin kerdil disampingnya.

"Ini disebut Golem" jelasnya. "Mereka adalah jutsu kelas A Doton. Ada dua jenis golem, golem mati yang biasanya berukuran raksasa dan bisa dipanggil untuk membentengi diri dari serangan dahsyat, dan golem hidup semacam ini" lanjutnya.

"Mereka makin lama makin liar, sekaligus makin kuat. Jadi pastikan kau menghancurkan golem-mu sendiri setiap sebulan sekali atau dia akan tumbuh terlampau kuat dan liar sehingga malah jadi monster perusak" katanya sambil terkekeh.

"Makhluk ini terlihat sangat kuat" kata Lee. "Bagaimana cara Anda menghancurkannya ?"

"Lee ! Tsuchikage-sama punya Jinton. Apa yang tidak bisa dihancurkan dengan itu ?" Tabrak Ino. Lee manggut-manggut mengerti.

"Kalau kau membuatnya cukup banyak lalu mengurung mereka dan membiarkan mereka selama dua bulan lamanya, ketika kau berhadapan dengan Madara, lepaskan saja mereka. Dia pasti kewalahan" ujar Onoki sambil terkekeh lagi. "Tapi Madara bukan orang semacam itu" dia menyanggah leluconnya sendiri. "Baiklah, silakan pilih penginapan yang kalian suka. Akan kusuruh Kurotsuchi untuk mengomando ulang pasukan pencarian".

.

.

.

Aku mengerti kenapa desa ini disebut Iwagakure. Sebagian besar penduduknya membangun rumah mereka dari...yah, kau tahu. Batu. Kedengaran tidak etis, toh di Sunagakure orang-orang membangun rumah dari pasir, jadi disana kita serasa ada di negeri liliput mengingat betapa besar bangunan pasir itu. Disini, walau sederhana, rumah-rumah jauh lebih kokoh, terpancang langsung ke Bumi ini sendiri. Kami memilih sebuah penginapan yang terdekat dengan Kantor Tsuchikage dan menghabiskan waktu untuk mempelajari topografi desa ini sebelum bulan beranjak menggantikan matahari.

Untung seribu untung –awalnya kukira warga desa Iwagakure tidur beralaskan BATU, ternyata yang kujumpai adalah ranjang dengan kasur berbusa seperti biasa. Satu kamar berisi empat ranjang. Tidak seperti di Suna yang beriklim panas, Iwa beriklim jauh lebih sejuk karena terletak lebih jauh dari garis ekuator.

Aku memilih tidur sendirian satu kamar, tapi ditolak mentah-mentah oleh Jiraya-sensei. Walhasil Sasuke, Kiba, dan Lee sekamar denganku. Hinata, Sakura, dan Ino sekamar, sedangkan Kakashi-sensei, Jiraya-sensei, Shikamaru, dan Chouji sekamar. Kurama ? Dia mendengkur di Chrysler dekat penginapan bersama naga-naga kami yang lain.

"Sasuke" panggilku. Dia menoleh. "Apa ini pengembaraan pertamamu dari Desa Uchiha ?" Tanyaku.

Untuk beberapa detik, dia tidak menjawab.

"Ya" jawabnya pendek.

"Bagaimana kau bisa begitu yakin dengan kami ?" Ujarku sambil berbaring. Berkebalikan dari Sasuke yang bangkit dari ranjangnya disampingku.

"Kurasa kau belum pernah mendengarnya, ya ?" Dia menyelidikku. Aku mengernyit. "Mendengar apa ?"

Sasuke menghela nafas. "Sepertinya memang belum" katanya, dan dia bersiap memulai cerita. Kuharap bukan cerita pengantar tidur. Dia merendahkan suaranya menjadi semacam bisikan, "Ramalan Artemis".

Aku bangkit. "Apa itu ?"

"Dikatakan bahwa... 'Akan datang seorang pemuda dari leluhur Senju, dan bersama seorang pemuda dengan kekuatan mata, dia akan menemukan guruku dan menyatukan bangsa naga dengan umat manusia...'"

"Siapa itu Artemis ?" Aku memburu.

"Sudahlah" jawab Sasuke sambil mematikan saklar. "Tidurlah. Dalam waktu dekat ini, aku ragu kau tidak bertemu sendiri dengannya".

Aku masih bingung, bahkan bertambah bingung. Tapi satu-satunya yang kusadari adalah setelah itu aku memejamkan mata.


Aku mengenakan jubah putih dengan kerah tinggi dan lengan panjang longgar, serta kalung tali tipis bertahtakan enam bulatan magatama. Sepatuku membungkus ketat kedua kakiku sampai ke celana yang menyambungnya seperti kain parasut. Sebuah benda panjang –yang tidak kuketahui, serasa menggantung di punggungku. Rasanya seperti sebuah pedang, dan aku sedang berlari ke suatu tempat, ditarik oleh seorang gadis yang menggenggam tanganku erat.

"Cepat !" Seru sang gadis. Saat itu malam hari, dan jelas cukup gelap. Namun awan tersibak, menampakkan bulan purnama bulat yang bersinar terang ditemani jutaan bintang di luar sana. Kami melewati rerumputan tinggi, dan bau ribuan bunga membuat udara terasa memabukkan. Tanaman itu tampaknya begitu indah, tapi gadis itu memanduku cepat melintasinya, seolah nyawa kami sedang terancam.

"Aku tidak takut" Aku berusaha berkata padanya.

"Seharusnya kau takut !" Ujar sang gadis, menarikku bersamanya. Dia memiliki rambut putih panjang sepinggang yang dibiarkan tergerai, berkibar diterpa dinginnya angin malam. Jubah sutra hijaunya berkilat samar di bawah terpaan cahaya bintang-bintang.

Kami berpacu menyusuri sisi bukit. Dia menarikku ke balik semak berduri dan kami pun merebahkan diri, sama-sama kehabisan napas. Aku tak tahu mengapa gadis itu begitu ketakutan. Taman itu tampak begitu damai. Dan aku merasa kuat. Lebih kuat dari yang pernah kurasakan sebelumnya.

"Tak perlu berlari" kataku padanya. Suaraku terdengar lebih dalam, jauh lebih percaya diri. "Aku telah mengalahkan ratusan naga dengan tangan hampa".

"Bukan naga yang ini" balas sang gadis. "Deavvara terlalu kuat. Kau harus mengambil jalan memutar, ke atas gunung menuju dia. Hanya itu satu-satunya jalan".

Kepedihan suaranya mengejutkanku. Dia betul-betul khawatir, hampir seperti dia peduli padaku.

"Aku tak percaya pada dia" ujarku.

"Terserah padamu percaya atau tidak" kata sang gadis. "Tapi keputusanmu akan sangat menentukan kemana dunia ini dibawa" lanjutnya, dan saat itu aku bisa melihat matanya yang berwarna ungu muda, dengan beberapa lingkaran hitam tipis berlapis di dalamnya.

Aku terkekeh pelan. "Kalau begitu kenapa kau tidak menolongku ?"

"Aku...aku takut. Deavvara akan menghentikanku. Dia tidak punya belas kasihan. Samasekali !" Serunya panik.

"Kalau begitu memang tidak ada pilihan". Aku bangkit berdiri, menggosok kedua tanganku.

"Tunggu !" Cegah sang gadis.

Gadis itu tampak berjuang keras mengambil keputusan. Kemudian, jemarinya bergetar, dia mengangkat tangannya dan menarik sebuah syal hijau muda yang sedari tadi tersembunyi dibalik jubahnya. "Jika kau mesti bertarung, ambil ini".

"Ambillah" katanya padaku.

Aku terkekeh. "Sebuah syal ? Bagaimana mungkin aku bisa menebas Deavvara dengan ini ?"

"Mungkin memang tak bisa" dia mengakui. "Tapi hanya ini yang bisa kuberikan, jika kau tetap bersikeras".

Suara gadis itu melunakkan hatiku. Aku mengulurkan tangan dan mengambil syal hijau itu dan selagi aku mengambilnya, syal itu menggulung dan memadat, memanjang hingga membentuk sebuah benda yang rasanya entah kenapa, aku seolah pernah melihatnya. Sebuah tongkat tipis berwarna keemasan dengan ujung bulat seperti alat untuk meniup gelembung sabun dan dihiasi enam lingkaran logam menggantung di bulatan itu.

"Sangat seimbang" ujarku. "Meski aku sudah biasa menggunakan tangan kosongku. Harus kunamakan apa tongkat ini ?" Tanyaku.

"Shakujo" ujar sang gadis sedih. "Perlambangan matahari. Separuh bagian dari yang lain. Kekuatan cahaya". Dia lantas merogoh benda lain dari kantung jubahnya dan memberikannya padaku. Beberapa helai kertas yang sudah lusuh, kuning kecokelatan dimakan waktu.

"Apa ini ?" Tanyaku.

"Halaman yang hilang" desisnya singkat. "Kau akan mengetahui ini segera. Simpan baik-baik dan jangan sampai hilang".

Sebelum aku bisa berterimakasih padanya, terdengar suara injakan di rumput. Suara geraman yang mendirikan bulu kuduk, dan bunyi cakar berdencing seperti dua pedang yang berbenturan, dan sang gadis pun berkata dengan panik, "Terlambat ! Dia sudah disini !"

Aku tersentak di ranjangku. Lee mengguncang-guncang bahuku. "Naruto !" Serunya. "Bangun. Sudah pagi".


Nyatanya, begitu kami keluar penginapan seusai mandi dan sarapan, Kurama langsung menghadang. "Kita harus pergi dari sini" katanya cepat.

"Wow, wow, wow, kau trauma dengan batu atau apa ? Kita bahkan belum sehari disini !" Omelku. Dia menggeleng cepat.

"Laki-laki dengan kemampuan peledak kemarin" desisnya. "Ternyata dia belum mati. Itu hanya bunshin tanah liat".

"Dan dia kembali ?" Gusarku. Kurama menggeleng lagi.

"Tidak, kurasa tidak. Tapi ada yang lebih buruk lagi. Kurasa dia memberitahu seseorang tentang kita. Tentangku ! Tentang identitasku !" Serunya panik.

Aku mengernyit. "Identitas ?" Ulang Kakashi-sensei sama terkejutnya. Kurama mengangguk cepat.

"Memang kau ini apa ? Polisi rahasia bangsa naga atau malah teroris yang menyamar ?" Candaku. Aku memang tidak terlalu peduli soal ini.

"Dia memanggil Kakuzu dari Takigakure !" Seru Kurama akhirnya.

Kami terdiam sesaat. "Kakuzu itu siapa ?" Hinata akhirnya bicara.

"Dia pembunuh bayaran yang terkenal seantero dunia naga" jawab Sakura cepat. "Goton no Kakuzu. Kakuzu Sang Lima Elemen. Kabarnya dia dapat dengan mudah memanipulasi lima jenis chakra alam utama dan memiliki lima jantung yang didapatnya dari orang-orang kuat yang dikalahkannya. Dia hidup sangat lama berkat kemampuan itu dan harus dibunuh lima kali untuk mati" lanjutnya rinci.

"Darimana kau dengar itu ?" Selidikku penasaran sekaligus curiga.

"Hey, kau tahu latar belakangku" balas Sakura ketus. "Aku pernah ke Takigakure. Aku bahkan pernah melihatnya sekali, di bar. Orang itu tinggi besar dan berkulit gelap. Mengenakan cadar dan penutup kepala" jelasnya rinci.

"Dia pemburu bayaran ?" Ulang Jiraya-sensei. "Dia pasti memburu Kurama karena..." dia tidak melanjutkan kata-katanya.

"Kurama adalah spesies Wivereslavia yang sangat langka. Bisa dibayangkan berapa harga nagamu di pasar gelap, Naruto" desis Sasuke datar.

Aku menelan ludah kecut. "Lalu kita harus pergi sekarang ? Apa kau tidak melihat si pemburu bayaran itu menunggang naga atau tidak ?" Tanyaku pasrah pada Kurama yang gelisah.

"Tidak" ucapnya. "Dia sendirian. Sendirian saja sudah terlihat menakutkan".

"Tenang saja, Iwa tidak akan membiarkan orang semacam itu masuk begitu jauh. Mereka pasti menghadangnya di suatu tempat untuk mengulur waktu dan membasminya disana" Lee mencoba menenangkan. "Lagipula aku ragu Jinton Tsuchikage-sama tidak bisa mengubahnya menjadi debu" sambungnya.

"Sebentar. Darimana kau tahu ? Kulihat kau bangun satu menit setelah aku merenggangkan tubuh di luar, Kurama" selidik Kakashi-sensei.

Naga oranye itu terdiam sejenak. "Insting" jawabnya pendek. "Dan instingku tidak pernah salah, percaya saja".

.

.

.

"Yo, Kabuto. Kita berada di tempat yang tepat".

Aku sempat menjewer telingaku sendiri, karena tidak yakin apakah itu suara manusia, suara naga, atau...suara ular. Sepertinya pemiliknya berada diantara ketiganya. Kami serentak menoleh ke sumber suara yang terdengar unik itu.

"Cih" Jiraya-sensei yang pertama bereaksi. "Sudah lama aku tidak melihatmu sejak pengusiran oleh Sandaime Hokage..."

"...Orochimaru...".

"Orochimaru. Salah satu dari Sannin Legendaris bersama Jiraya-sama dan Tsunade-sama" Kakashi-sensei menyusul. Ia mengambil kuda-kuda. "Aku ragu kau bersekutu dengan Kakuzu dari Takigakure itu" lanjutnya sambil menghunus kunai.

Orochimaru terkekeh. Tawa yang aneh, sama anehnya dengan wajah dan seluruh tubuhnya yang berkulit putih pucat, rambut hitam panjang, mata kuning gelap dengan pupil vertikal seperti ular, dan tanda garis ungu aneh di mata bagian atas, memanjang hingga hampir menyatu di hidungnya.

"Untuk apa aku berteman dengan pemburu bayaran yang gila uang semacam itu ? Ayolah, itu kelas rendahan. Alih-alih dijual, aku lebih suka menangkap naga untuk diteliti" katanya licik. Laki-laki berambut keperakan dengan kacamata besar di sebelahnya diam dari tadi. Dia mengenakan ikat kepala Otogakure, tapi Orochimaru sendiri tidak mengenakan ikat kepala desa manapun.

"Apa tujuanmu kemari setelah lama tak jumpa ?" Selidik Jiraya santai.

"Jangan katakan kalau kau juga memburu Naruto !" Ancam Hinata tiba-tiba.

"Huh" Orochimaru menggerutu pendek. "Itu tujuan mainstream. Biasa. Lumrah. Aku selalu ada untuk yang tidak biasa" katanya sambil menjilat bibir. Aku jadi penasaran apakah dia ada dari dua orangtua berbeda, yang satu manusia yang satu ular. Kalau begitu dia harus diklasifikasikan ke kelas yang sama dengan Basilisk. Binatang (atau manusia) campuraduk.

"Namaku Yakushi Kabuto, asisten Orochimaru-sama" orang di sebelahnya akhirnya berbicara.

"Siapa yang tanya ?" Seru Kiba ketus.

"Mereka tampaknya tidak berminat, Orochimaru-sama" Kabuto merespon langsung.

Orochimaru tertawa kecil. "Teruskan saja".

"Tenang, kami kemari bukan untuk menangkap Naruto-kun" desis Kabuto. "Naruto-sama, maksudku" koreksinya. "Kami juga tidak kemari untuk memeriksa perkembangan Sasuke-kun atau untuk menangkap satu orang untuk percobaan atau semacamnya. Ini berbeda".

"Lalu ?" Desak Kakashi-sensei.

Kabuto tersenyum kecil. Tapi aku tidak melihat kelicikan dibalik senyuman itu. Ia merogoh kantung jubah ungunya, mengeluarkan segulung kain kumal yang menguning dan sobek-sobek, lalu membukanya.

Apa yang kami lihat sekarang adalah...semacam sketsa sebuah bangunan. Sebuah piramida berbentuk limas (apa ada piramida berbentuk lain ?) beralas persegi dan terlihat kuno. Sebuah sketsa piramida raksasa di sehelai kain yang kecil. Ada tangga, jembatan, dan rak-rak yang entah berisi apa, serta ruangan-ruangan rahasia dan jalan berliku.

"Tidak mungkin" desis Kakashi-sensei. Shikamaru membelalak.

.

"Perpustakaan Besar Alexandriana..."

"Darimana kalian dapatkan benda ini ?!" Sergah pemuda berambut nanas itu.

"Rahasia" jawab Orochimaru bangga. "Tapi keasliannya terjamin. Menurut penelitianku ini berasal dari seorang pengembara yang tewas di Gurun Utara yang telah berhasil memasukinya dan menggambar sketsa bangunan dan ruangannya, walau kurasa ini baru 90 persen lengkapnya" ceritanya.

"Gurun Utara ?!" Tabrak Shikamaru. "Perpustakaan Alexandriana ada di Gurun Utara ?"

"Itu berarti hanya beberapa kilometer dari batas paling Utara Desa Iwagakure" timpal Ino.

"Perpustakaan Alexandriana ?" Aku akhirnya punya kesempatan bicara. "Perpustakaan macam apa itu ? Kukira ini hanya piramida biasa".

Hampir semua mata disitu memandangku. Aku jadi malu sendiri karena pertanyaanku barusan membuatku terlihat seperti orang bodoh.

"Satu-satunya sumber ilmu yang lebih lengkap daripada Perpustakaan Besar Kumogakure. Tempat yang dicari ilmuwan dan peneliti manapun yang waras. Itu berbentuk piramida, dibangun ribuan tahun lalu hanya beberapa dekade setelah kematian Rikudo Sennin oleh putra keduanya sendiri. Dijaga oleh Oedipus, Naga Gading bersisik emas, dan Ladon, naga bersayap dengan seratus kepala. Itulah Perpustakaan Alexandriana" jelas Sasuke rinci.

"Kau bisa tahu selengkap itu ?" Selidik Sakura.

Sasuke mengangguk. "Keterangan perpustakaan itu ada di Tablet Batu Uchiha, pasal 7 paragraf 4 baris pertama" lanjutnya.

"Kalau kita bisa menemukan perpustakaan itu" sambung Orochimaru antusias, "kita bisa mengetahui jawaban semua yang kita ingin ketahui. Informasi Etatheon pasti ada disana. Siapa mereka. Apa kemampuan mereka. Apa yang mereka benci dan apa yang mereka sukai. Apa kelemahan mereka" lanjutnya.

Aku mendecih dalam hati. Bisakah perpustakaan piramida ini menjawab kenapa Haruno Kizashi masih hidup, lalu hilang lagi ? Bisakah...

Sebentar.

Bukan itu yang terpenting sekarang.

Bisakah...

Bisakah Perpustakaan Alexandriana menjawab...

.

.

Dimana Paradox berada sekarang ?

.

"Kalian mau memanfaatkan kami atau apa ?" Kakashi-sensei masih bersikap waspada walau dia sudah menurunkan kunai-nya.

"Jangan terlalu galak, Kakashi" kata Orochimaru santai. "Aku habiskan 30 tahun untuk menemukan tempat hebat ini. Sungguh. Dengar Sasuke, dia bahkan bilang ini adalah tempat yang dicari ilmuwan dan peneliti manapun yang masih waras. Aku mencarinya, berarti aku masih waras".

"Bukan tidak mungkin kau mengincar kekuatan Draco P" sanggah Jiraya-sensei.

"Tidak. Itu juga terlalu mainstream, ingat ? Aku tidak tertarik pada kekuatan Paradox. Aku lebih suka menemukan berbagai rahasia yang tersembunyi dibalik rahasia".

"Begini" Kabuto angkat bicara tepat setelah manusia ular disampingnya menutup mulut. "Kita semua akan mencari Perpustakaan Alexandriana bersama-sama, kemudian ketika kita menemukannya, aku dan Orochimaru-sama akan mencari apa yang kami cari, dan kalian semua silakan cari apa yang kalian cari" dia mencoba bernegoisasi.

"Bagaimana ?"

"Apa keuntungan kami ?" Selidik Sakura tiba-tiba.

"Kenapa tanya ?" Balas Kabuto. "Sudah jelas. Kalian pasti menemukan apa yang kalian cari".

"Ini sudah ribuan tahun umurnya" tentang Kiba. "Apa kalian bisa menjamin buku-buku disana masih ada dan layak baca ? Siapa tahu mereka sudah terurai menjadi debu".

"Ya, dan kita juga belum tentu menemukannya. Kalau perpustakaan itu benar-benar ada, pasti tempat sehebat itu sudah terkenal sejak dulu. Pasti Perpustakaan Besar Kumo hanya akan jadi yang kedua. Siapa yang bisa menjamin kalau perpustakaan ini hanya sebuah fantasi ?" Dukung Ino.

"Kurasa kita harus kesana".

.

.

Semua menatapku. Semua, bahkan Kurama. Aku mengedarkan pandangan berkeliling. "Apa tadi kau bilang ?" Selidik Lee.

"Kita harus kesana" aku berkata lagi dengan penekanan di setiap kata.

"Harus" ulangku.

"Oke, kita punya empat kemungkinan" kata Shikamaru setelah kami semua terdiam beberapa detik. "Pertama, perpustakaan itu hanya fantasi belaka".

"Hapus kemungkinan itu" tabrak Sasuke. "Semua yang ada di Tablet Batu Uchiha adalah real. Nyata" katanya dengan penekanan juga.

"Baiklah, jadi tiga. Pertama, perpustakaan itu hanya berisi buku-buku yang sudah terurai, kedua, kita tidak bisa menemukannya karena demikian sulit dicari, dan ketiga, kita menemukannya dan menemukan informasi yang kita cari dan berakhir dengan bahagia".

"Aku lebih suka yang ketiga" timpal Chouji.

"Akupun begitu" sambung Orochimaru. "Aku bisa menjamin kalian takkan kami lukai. Percayalah".

"Kalau kalian tidak mau kesana, biar aku sendiri" kataku bersikeras. "Apapun kulakukan untuk dapatkan informasi Dia".

"Dasar pelupa. Aku selalu ada bersamamu, kan ?" Kata Kurama dengan penekanan pada kata 'aku selalu ada bersamamu'. Aku mengangguk. "Baiklah. Hitung-hitung kita bisa melarikan diri dari si mata duitan itu" sambungnya.

.

.

.

.

Jadilah kami semua (minus Temari yang pulang ke Sunagakure) akhirnya minta izin pada Chibi-Jiisan no Onoki (aku sendiri yang membuat gelar itu, untungnya dia tidak pernah tahu) dan pergi ke Gurun Utara demi mencari piramida Perpustakaan Alexandriana. Aku mengendarai Kurama, Shikamaru, Chouji, dan Ino mengendarai Gorongosa, Sasuke mengendarai Bryptops, Hinata dan Sakura mengendarai Pomona, Lee dengan Wlythlea, dan Kiba bersama Ingenia. Jiraya-sensei, Kakashi-sensei, Orochimaru, dan Kabuto mengendarai naga ungu raksasa tanpa sayap dari Ryuuchidou, Manda –yang bisa bicara dan ternyata sama cerewetnya dengan Kurama.

Terbang ke wilayah Gurun Utara tidak sepanas yang kubayangkan. Angin sejuk terus menerpa kami, sementara dari kejauhan terlihat puluhan naga berkaki dua dengan sayap mereka yang mengepak, pergi ke arah Selatan, arah yang berlawanan dengan tujuan kami. Sepertinya mereka bermigrasi untuk menghindari cuaca dingin di Utara. Oh ya, sebagian besar naga merupakan makhluk berdarah dingin (dalam arti sesungguhnya) atau poikiloterm, jadi mereka bergantung pada sinar matahari untuk mengatur suhu tubuh mereka seperti reptilia pada umumnya.

Orochimaru dan Kabuto, bersama Jiraya-sensei dan Kakashi-sensei terus memeriksa peta berulang-ulang. Hinata mengaktifkan Byakugan, memeriksa setiap sisi gurun yang 'dingin' itu dengan teliti. Sasuke dengan Sharingan nanar menatap daratan.

"Piramida Perpustakaan Alexandriana berada seribu langkah tangan menulis dari Pilar-Pilar Obelisks" baca Kabuto. "Itu yang dijelaskan disini".

"Seribu langkah tangan menulis dari Pilar-Pilar Obelisks ?" Ulang Jiraya-sensei.

"Kalau begitu harus kita cari pilar-pilar itu dulu" timpal Manda dengan suara berdesis –yang sengaja dibuat pelan.

.

"Aku tahu dimana Pilar-Pilar Obelisks !" Seru Kurama –yang memang melesat cepat menjejeri Manda dan mengagetkan mereka berempat.

"Kau di barisan belakang, kan ?" Seru Kakashi-sensei terkejut. "Jiraya-sama dan Kabuto cuma berkata dan membaca dengan suara biasa. Bagaimana kau bisa dengar ?" Selidiknya penasaran.

Kurama gelagapan. "Insting, mungkin ? Kau tahu, aku merasa pendengaranku jauh lebih baik saat aku lapar. Dan sekarang aku lapar. Ingat di reruntuhan bebatuan saat kau dan Naruto berbisik ? Itu, aku dengar semua" jelas Kurama panjang lebar.

"Masuk akal" dukung Manda tiba-tiba. "Apalagi untuk spesimen langka macam kau" ledeknya. Kurama mendengus.

"Kalau begitu katakan isi bisikanku dan Naruto" tantang Kakashi-sensei.

Kurama terdiam sejenak. Aku tidak bisa membedakan apakah dia sedang mengarang alasan atau mengingat-ingat, atau menebak asal-asalan.

"Intinya, kau kurang setuju aku jadi naga Naruto. Cerewet dan sebagainya..." kata Kurama datar. Benar. Kakashi-sensei geleng-geleng kepala takjub.

"Satu lagi kehebatan Wivereslavia" pujinya. "Bisakah kita mempercayai naga ini, Orochimaru-san ?" Ia berpaling pada siluman ular itu (aku menyebutnya begitu dan satu lagi, Manda lebih mirip ular raksasa daripada naga).

"Hmm hmm". Hanya itu yang keluar dari mulut Orochimaru. "Dia timmu. Terserah kau. Tapi mungkin ada benarnya".

Dan akhirnya Kurama jadi kapten dadakan. Kami terbang paling depan, cepat dan pasti.

"ITU DIA !" Seru Kurama keras-keras begitu waktu berlalu beberapa menit. Tampak oleh mataku sepasang pilar perunggu raksasa setinggi kira-kira lima puluh meter, menjulang tinggi diantara perbukitan batu cadas. Tidak terlalu kontras dengan pemandangan sekitar, apalagi disekitar pilar-pilar itu memang terdapat butte-butte raksasa setinggi 30 meter yang menyamarkan pilar. Orang jadi sulit membedakan apakah itu pilar atau batu.

Kami makin dekat. Aku bisa melihat ukiran indah di pilar itu, yang sepertinya dibuat oleh manusia. (Oke, naga mana yang bisa memahat ?)

"Buku" cetus Kabuto. "Bagian teratas ukiran pilar ini berbentuk buku yang dibuka" lanjutnya. "Dan di paling bawah...ada rantai dengan banyak sekali bintil-bintil kecil. Kurasa itu sengaja dibuat, bukan dirusak atau tempelan kerang atau semacamnya".

"Jumlahnya mungkin seratus" simpul Orochimaru. "Melambangkan jumlah kepala Ladon".

"Lalu apa maksudnya seribu langkah tangan menulis ?" Tanya Jiraya akhirnya.

"Entahlah. Pikirkan. Semuanya" perintah Kakashi-sensei.

Kabuto sibuk mencatat sesuatu. Mendadak ia tertegun dan berteriak seperti kesetanan. "Aku tahu ! Tangan menulis itu tangan sebelah kanan ! Jadi yang dimaksud seribu langkah tangan menulis pasti seribu langkah ke arah kanan dari sini !"

"Masalahnya" Sasuke ikut nimbrung, "kanan dari mana ? Kita datang dari Selatan, jadi menurut kita kanan itu berarti arah Timur. Tapi jika dari Utara, kanan berarti arah Barat. Dari Barat, kanan itu Selatan. Dan dari Timur, kanan itu Utara. Belum Tenggara, Barat Laut, Barat Daya, dan Timur Laut" cerocosnya.

"Coba baca petunjuk selanjutnya" saran Sakura.

"Pakai saja Byakuganmu, Hinata" saranku. "Seribu langkah, jika itu ukuran manusia, tidak jauh. Hanya beberapa ratus meter. Itu masih dalam jangkauan pengelihatan Byakugan, kan ?"

"Tidak, Naruto-sama" tabrak Kabuto. "Jika dengan cara seperti itu bisa ditemukan, tentu akan mudah. Klan Hyuuga atau Uchiha bisa jadi menemukan bangunan ini sejak dulu. Piramida ini dilapisi Batu Pualam Matahari, memantulkan semua chakra bahkan Dojutsu sekalipun. Menurut mitos, hanya Mata Terakhir yang bisa melihatnya" jelasnya padaku.

"Aku yang punya jutsu deteksi saja tidak bisa menemukan benda sebesar itu" Manda mendadak ikut bicara.

"Siapa yang tanya padamu ?" Sergah Kabuto.

"Aku hanya menjelaskan. Kita bertiga dilarang menyimpan rahasia satu sama lain kan ? Tidak pada orang macam kau ini" balas Manda acuh.

"Lalu apa yang dimaksud 'Mata Terakhir' itu ?" Tanya Ino penasaran. Kabuto menggeleng.

"Akupun tidak tahu" jawab Kabuto. Ia bergegas mencari petunjuk lain di kain. "Ini dia" katanya beberapa detik kemudian. "Aku akan bacakan".

"Arah datangnya semburat kilat hijau kaki langit pada satu hari dengan beberapa teguk air kelapa".

.

.

"Oke, ini aneh" katanya sendiri setelah membaca. Ia menggaruk kepala. "Petunjuk macam apa ini ?" Gerutunya.

"Ah...air kelapa..." Chouji malah berimajinasi.

"Dasar" gerutu Kiba. "Sempat-sempatnya kau".

"Kelapa...mengingatkanku pada pantai" ucap Chouji tak peduli.

"Sebentar, Chouji !" Seru Shikamaru. Aku menoleh cepat padanya. Sepertinya dia menemukan sesuatu. "Pantai !" Serunya. Tersadar dirinya dipandangi semua mata, Shikamaru bersiap menjelaskan.

"Aku pernah baca. Semburat kilat hijau. 'Kilat' hanya satu kata sumbang yang diselipkan disitu untuk membuat pencari bingung. Kilat yang dimaksud pasti waktu. Waktu munculnya singkat, seperti kilat yang hanya terlihat sekilas. Dan aku tahu apa itu".

Oke, sekarang semua mata menatapnya penasaran.

"Matahari terbenam" celetuk Orochimaru tiba-tiba. Shikamaru dan dia saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan sambil tersenyum.

"Oh, benar" cetus Kakashi-sensei. "Matahari terbenam menimbulkan cahaya hijau singkat di cakrawala sesaat sebelum menghilang di ufuk. Dan cakrawala sering disebut-sebut di bahasa sastra sebagai kaki langit ! Dan tempat paling tepat untuk melihatnya adalah dari pantai ! Semuanya berhubungan !" Serunya. "Jadi arah yang kita cari adalah..."

"Barat !" Seru Shikamaru, Orochimaru, Sasuke, dan Sakura bersamaan.

"Arah kanan dari Barat...berarti arah Selatan" susulku. Aku tidak mau terlihat bodoh –lagi. "Kita sudah melewatinya !"

"Kita harus tentukan seribu langkah ke arah Selatan kalau mau tahu posisi persisnya" celetuk Sakura membuat semua tersadar. "Siapa yang mau ?"

"Aku saja" cetus Ino. "Program diet, kau tahu. Jalan-jalan juga olahraga kecil yang bagus" candanya.

"Kau tidak keberatan, kan ?" Tanya Sakura memastikan. Ino menggeleng.

Seribu langkah menurut perkiraanku hampir seribu meter. Lebih mirip maraton kecil-kecilan daripada semacam joging. Tapi sebentar. "Hei, kita tidak tahu ukuran berapa yang digunakan untuk ini" aku bicara. "Apakah yang dimaksud petunjuk itu seribu langkah dengan satu langkah selebar satu meter, atau 90 cm, atau setengah meter atau berapa, kita tidak tahu, kan ?" Aku mencoba beragrumentasi.

Orochimaru mengangguk. "Kita tidak tahu persisnya" katanya, "tapi kita bisa mengira-ngira dengan langkah kaki seorang manusia berukuran rata-rata. Tidak panjang tidak pendek. Lagipula Piramida Perpustakaan Alexandriana sangat besar, panjangnya dua ratus meter dengan tinggi sampai pucuk piramida dua ratus dua puluh dua meter. Kita takkan melewatkan bangunan sebesar itu walau terkubur dalam tanah, sebesar apapun selisih langkahnya" urainya panjang lebar.

"Kecuali kalau skala langkah disini adalah skala langkah naga" ucap Manda, membuat kami bingung lagi.

Walhasil, akhirnya Bryptops –sebagai perwakilan naga, berjalan kaki seribu langkah bersama Ino. Bryptops bukan tipe naga cerdas yang bisa berhitung dan dia tidak bisa bicara, sehingga alih-alih yang repot malah Jiraya-sensei. Dia harus menghitung tiap langkah naga besar itu !

Waktu berjalan lambat bagiku yang sudah tidak sabar. Aku benar-benar mulai penasaran tentang perpustakaan legendaris itu. Saat aku asyik melamun, tiba-tiba Sakura duduk di sampingku seolah tanpa sadar. Kami hanya berjarak satu meter satu sama lain di sebuah batu cadas kasar berbentuk persegi panjang besar.

Sakura mendesah pelan. Aku tersadar dari lamunanku.

"Beberapa tengkorak dan kerangka" katanya pendek. "Di sela-sela bebatuan cadas disekitar sini" sambungnya. "Kurasa mereka mati saat mencari perpustakaan ini. Beberapa diantaranya masih punya rambut dan sedikit kulit yang mengering serta jaket peneliti mereka".

Aku mendadak seperti tersetrum listrik. Ia melirikku dengan mata ermelandnya dan mengernyit. "Jangan katakan kalajengking menyengatmu" katanya ketus. Aku menggeleng pelan.

Sekarang. Sekarang saat yang tepat menanyakan soal HARUNO KIZASHI !

"Ehm, Sakura" aku berusaha tetap sabar. Dia setengah menoleh padaku. "Apa kau benar-benar yakin ayahmu, Haruno Kizashi, benar-benar telah meninggal ?" Aku bertanya dengan penekanan. Terutama pada namanya, benar-benar, dan meninggal. Sakura mengangguk pelan.

"Dia meleleh tepat didepan mataku, Naru. Tidak mungkin dia masih hidup" katanya pelan.

Aku mendadak mendapat ide. "Aku bisa menerawang pikiran orang, lho" kataku. Tentu hanya bercanda. "Aku bisa menebak seperti apa rupa ayahmu" lanjutku. Sakura mencibir.

"Ini tidak lucu, Naru" ketusnya lalu berdiri dan melenggang pergi. Ups, sejak kapan dia memanggilku 'Naru' ?

Untungnya aku masih punya senjata pamungkas. "Dia bermata hijau gelap kan ? Rambutnya cokelat dan bergaya aneh seperti bunga yang sedang mekar ! Cambang di dagunya dan kumis yang nyaris menyatu di tengah ! Dan sifatnya, dia memiliki selera humor yang aneh dan sering memaksakan diri menolong orang bahkan di saat-saat yang tidak terduga !" Aku memberondong dengan semua yang kutahu dari sosok Kizashi 'versi' Rouran.

Yes, itu sukses membuat langkah Sakura terhenti. Dia mematung di tempat selama tiga detik sebelum menoleh ke arahku dengan tatapan dingin ala malaikat maut. Jujur saja, aku langsung salah tingkah begitu mataku berhadapan dengan ermeland yang mendadak memancarkan cahaya gelap itu. Kami terdiam beberapa detik. Angin gurun yang kali ini dingin dan tak membawa sebutir pasirpun meniup rambut merah jambunya pelan, makin memberi kesan mistis dan mengerikan. Tapi mataku terhipnotis dari pandangan aslinya. Entah kenapa atau hanya perasaanku saja, Sakura tampak lebih cantik begitu rambut merah jambunya berkibar.

"Darimana kau tahu ?" Sakura akhirnya bicara. Pandangan matanya melunak.

Untuk sesaat, aku mengira akan dikuliti hidup-hidup. "Jangan cerita siapa-siapa" desisku serius. Dia mendekat. "Ayahmu ada di Kota Besar Rouran dan dia menjabat sebagai menteri pangan dan kesejahteraan rakyat. Dia kenal Anrokuzan, Hiruko, Pakura, Sara, dan semua Rouranian. Semua penduduk kota juga mengenalnya" kataku berusaha sejelas –sekaligus sepelan- mungkin. Sakura bungkam.

"Dan yang paling penting" aku memicu perhatiannya lagi.

"Dia mati saat melihat mata Basilisk tepat sebelum menebas kepalanya. Dia mati di hadapanku, Anrokuzan, dan Hiruko. Kemudian...jasadnya menghilang secara misterius begitu kami selesai menangani Basilisk dan membunuhnya" ceritaku detil.

Mata Sakura sedikit berkaca-kaca. Bahunya bergetar. Tapi ia sepertinya tidak akan menangis. Tidak di saat-saat seperti ini.

"Dia...dia...menepati janjinya..." desisnya kecil. Tapi raut wajahnya tampak lega. Aku makin penasaran.

"Dia siapa ?" Desakku. Sakura menggeleng.

"Belum waktunya kau mengetahuinya, Naru" katanya singkat sambil berlalu.

"Kalau kau mengetahui sedikit saja soal Draco P, akan kupaksa kau mengatakannya padaku, Saku !" Seruku. Aku sengaja membalas 'panggilan tidak lengkap' itu. Ampun, Naruto saja sudah nama panggilan, kenapa disingkat lagi jadi Naru ? Bisa-bisa dia malah memanggilku 'Na' !

Tapi Sakura tidak peduli.

"Tunggu !"

Sakura akhirnya menoleh kasar, secepat kilat mencengkeram kerah bajuku, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga kiriku dan berbisik.

"Ayahku kebal pada tatapan mata Basilisk".

.

.

"Semua ! Kita menemukan sesuatu !" Teriak Kakashi-sensei. Sakura melepas cengkeramannya dan segera berlari menuju sumber suara. Aku mengikutinya dengan menyisakan banyak pertanyaan. Kebal pada tatapan Basilisk ?

Ketika aku sampai di sumbernya, kurasa aku dan Sakura telah 'terjebak' dalam suasana pribadi 'kedap suara' sampai tidak mendengar bahwa Chouji meninju-ninju batu cadas di bawah bersama ledakan Bryptops dan telah membuat lubang raksasa berdiameter sepuluh meter dan lumayan dalam –tapi bukan itu yang menarik perhatianku.

Apa yang kami lihat sungguh tidak bisa dipercaya, karena dibawah sana, pucuk dari sebuah bangunan raksasa berbentuk limas mencuat keluar di sela-sela reruntuhan bebatuan cadas berwarna cokelat dan merah tua. Itu sangat kontras –karena bangunan itu sendiri berwarna emas yang berkilau menyilaukan begitu tertimpa sinar matahari siang.

"Batu Pualam Matahari" desis Orochimaru. "Sama berharganya dengan emas" lanjutnya. "Tapi aku tidak cukup bodoh untuk mengambilnya".

"Apa yang ada di dalamnya akan jauh lebih penting dan berguna" sambung Jiraya-sensei.

"Kita harus menggali sedikit lebih dalam lagi. Bagian puncak piramida yang terlihat sekarang baru empat setengah meter. Sepuluh meter dari puncaknya, ada empat jendela kaca zamrud yang mungkin bisa kita gunakan untuk jalan masuk" jelas Kabuto.

Maka dimulailah penggalian itu. Rasanya seperti alih profesi sementara dari Dracovetth penjelajah ke tim arkeolog profesional.

Sedikit demi sedikit, jendela kaca zamrud berwarna hijau jernih itu terlihat. Lebih besar dari yang kukira, tapi kurasa hanya Ingenia yang muat masuk ke dalam situ. "Ini keras" selidik Orochimaru. "Kurasa aku harus menggunakan itu".

Orochimaru membuka mulut, tapi kali ini dua kali lebih lebar dari mulut manusia manapun. Rahangnya sama seperti ular, bisa mengembang ! Dan dari sana, keluarlah seekor ular bersisik keras, yang kemudian mengeluarkan sebuah mata pedang. Terus keluar hingga mencapai gagangnya yang dihiasi batu serupa mata ular dan pengangannya bertekstur mirip sisik ular. Benar-benar serba ular orang ini.

Ino dan Hinata menutup mulut. Memang menjijikan, mengeluarkan pedang dari ular, dari mulut pula.

"Pedang Kusanagi" kata Jiraya-sensei. "Pedang penyegel...dan milik pribadi Orochimaru".

"Terimakasih" sambut Orochimaru sambil mengayunkan pedangnya ke kaca di depan kami. Segera saja, kaca itu pecah. Ia lantas mengeluarkan tali tambang bertekstur aneh, mirip sisik ular. "Ini beda dari tambang biasa. Lebih kuat dan lebih halus tapi nyaman digenggam".

"Oedipus akan marah" timpal Manda. "Kau menghancurkan kaca begitu saja, Orochimaru".

"Haha, tidak mengapa. Yang penting kita kemari untuk tujuan baik" balas Orochimaru dengan tampang tidak berdosanya yang biasa.

"Kau yakin tali ini cukup ?" Selidik Kakashi-sensei. "Piramida ini berketinggian 222 meter" ujarnya memperingatkan.

"Dengan chakra jutsu khususku pada tali, bangunan setinggi satu kilometer pun tidak masalah" balas Orochimaru. "Tenang saja".

Ia mengikat tali ini pada salah satu tiang batu cadas besar, kemudian menjulurkannya jauh ke bawah. "Siap untuk berseluncur".

Orochimaru turun pertama kali, disusul Kabuto, kemudian Kakashi-sensei, Jiraya-sensei, kemudian aku, Sasuke, Sakura, Shikamaru, dan Ino. Chouji lebih memilih menghabiskan sebungkus besar keripik jagung di luar. "Seingatku di perpustakaan ada aturan dilarang makan" belanya.

Lee tetap diluar untuk menjaga naga-naga kami, sedangkan Kiba tidak terlalu tertarik pada buku. "Aku pernah punya buku" katanya tadi. "Dan setahuku mereka biasa-biasa saja. Ceritakan saja pengalaman kalian di dalam nanti".

"Aku juga mau masuk" serobot Kurama tiba-tiba. Aku mengernyit. "Aku juga bisa membaca, lho !" Katanya bangga.

"Sayang sekali, binatang dilarang masuk ke perpustakaan" aku memberi alasan.

"Oedipus dan Ladon. Kaupikir mereka itu apa ?" Ternyata Kurama bisa berkilah.

"Jendelanya kecil, bodoh ! Kau mau aku melubangi dinding piramida lain hanya untuk jalan masuk seekor naga langka yang cerewet ?" Aku mulai kesal.

Orochimaru yang sudah tak sabar akhirnya menusuk Kurama dengan Pedang Kusanagi itu, dan dalam sekejap naga oranye itu menghilang, tersedot ke pedang. Aku ternganga, tapi tidak lama karena Orochimaru mengeluarkannya lagi dengan mengibaskan pedangnya begitu kami sampai di lantai teratas perpustakaan. Wow, hebat juga kemampuan pedang itu.

"Hadirin sekalian" kata Orochimaru takjub begitu kami sampai di bagian dalam ruangan piramida. "Kupersembahkan dengan bangga..."

.

.

"Perpustakaan Besar Alexandriana..."

.

Perpustakaan dalam piramida raksasa setinggi bukit. Kalian bisa tebak apa yang kulihat. BERJUTA-JUTA BUKU. Aku tidak bisa membedakan yang mana buku fiksi dan nonfiksi, yang membahas masalah politik, uang, cinta, dunia, geografi, sosial, makhluk hidup, dan kimiawi. Tidak bisa aku membedakan yang mana yang penuh dengan angka semisal rumus matematika, yang ditulis oleh penulis amatiran atau profesional, yang mana yang berisi puisi, dongeng, roman, balada, pantun, atau cerpen. Buku dalam berbagai ukuran dan isi, semuanya ada disini !

Tentu...itu tersusun dalam ratusan atau bahkan ribuan rak buku yang juga bervariasi isi dan ukurannya. Beberapa terlihat hanya setinggi pusar. Yang lain bahkan setinggi rumah, sehingga dibutuhkan tangga untuk mencapainya.

"Wooowww..." kagum Jiraya-sensei. Kabuto manggut-manggut. Senyum terpancar dari wajahnya. Sasuke, Kakashi-sensei, dan Sakura juga tidak bisa menyembunyikan kekaguman mereka. Shikamaru dan Ino melongo seperti manusia purba bertemu mobil.

Orochimaru tentulah jadi orang paling bahagia hari ini. "Tiga dekade aku mencari tempat ini" katanya bagai seorang veteran yang mengenang perjuangannya dikala masih muda. "Sekarang rasanya semua kerja kerasku terbayar. Rasanya aku berada di surga" ucapnya.

Walau berada bermeter-meter di bawah lapisan batu cadas yang padat dan keras, terasing dari dunia luar selama berabad-abad, ternyata perpustakaan ini lebih rapi daripada yang kukira. Dan kami bisa melihat banyak makhluk kecil serupa manusia –tapi bersayap, hilir mudik kesana kemari dengan beberapa diantara mereka memegang kemonceng. Yang lain memegang sapu, kain lap, kain pel, bahkan sekaleng cat pernis.

"Harpy" desis Kabuto. "Makhluk setinggi lutut manusia dengan sayap elang dan wajah wanita tua. Sepertinya merekalah penjaga perpustakaan ini sekaligus pesuruh yang merawatnya" katanya beragrumentasi.

Kami akhirnya sampai di lantai teratas perpustakaan. Kurama tak henti-hentinya menoleh kesana-kemari mengagumi berbagai koleksi yang ada.

"AKHIRNYAAAAA ! ! !" Mendadak Orochimaru berteriak seperti kerasukan. Membuatku –dan para Harpy itu- terkejut. Makhluk-makhluk aneh itu memandang kami dengan tatapan menyelidik, sebelum kemudian berhamburan ke suatu arah dan hilang dari pandangan.

"Kenapa mereka ?" Cetus Shikamaru penasaran.

.

.

"Sudah lama sekali aku tidak melihat manusia".

Suara itu terdengar barusan. Asalnya dari belakang kami. Semua segera menoleh ke belakang, termasuk Kurama.

Apa yang kulihat –membuatku sesak akan rasa takjub. Belum sembuh keterkejutanku melihat isi Perpustakaan Besar Alexandriana, sekarang aku melihat di belakang kami, hampir persis di belakang, telah berdiri seekor naga.

Itu naga terindah yang pernah kulihat –setidaknya mungkin nomor dua setelah aku menemukan Dia- naga itu memiliki tanduk berwarna perunggu mengkilat di alisnya. Kumis subur melintang berwarna cokelat dibawah hidungnya, dengan jenggot berwarna sama yang sedikit pendek di dagunya. Empat taring melengkung menyembul dari bibirnya, beserta dua taring serupa lain di pangkal rahang atasnya. Dia memiliki surai berwarna cokelat keemasan seperti singa jantan yang gagah, dan punggungnya dihiasi duri-duri tersusun rapi satu jalur bertekstur melengkung. Tubuhnya seperti ular, tanpa sayap dengan empat kaki berjari lima –tiga di depan dan dua di belakang, yang berujung pada cakar hitam mengkilat seperti terbuat dari batu bara berkualitas terbaik. Dan yang paling memesona kami adalah sisiknya –ratusan sisik berbentuk intan persegi panjang itu tumbuh dengan warna emas, perak, dan gading –yang kemudian kusimpulkan itu adalah emas, perak, dan gading sungguhan yang tumbuh berselang-seling. Di ujung ekornya ada gelambir keras dari perunggu berbentuk daun waru dan delapan duri melengkung yang terbuat dari platina.

Naga ini begitu indah sehingga sempat kukira dia hanya patung –namun segera kusimpulkan bahwa Ivory Dragon dinamai demikian karena seolah-olah seorang seniman kelas dunia telah memahat ukiran naga indah yang kemudian menjadi hidup. Naga ini menatap kami dengan pandangan menyelidik yang dalam lewat mata beriris rubi berwarna merah cerah dengan pupil hitam legam bulat.

"Oedipus Yang Terhormat" Orochimaru langsung membungkuk, walau ia tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. "Bisakah engkau mengizinkan saya...em, maksudku kami, untuk menikmati koleksi perpustakaanmu yang hebat ini ?" Bujuknya.

Kurama menundukkan kepala hormat. Disusul Kabuto, Kakashi-sensei, Jiraya-sensei, Sakura, Shikamaru, Ino, dan Sakura. Aku terakhir.

"Tidak perlu sehormat itu" naga yang ternyata bernama Oedipus itu akhirnya bicara lagi. Kami kembali berdiri.

"Orochimaru. Sannin Legendaris dari Konohagakure, Hi no Kuni, yang sekarang berada di Otogakure" sambungnya pada manusia ular itu. Orochimaru tampak terkejut sedikit.

"Aku tersanjung sekali pemilik perpustakaan ini ternyata mengenalku" akunya. Sepertinya dia jujur. Oedipus mengangguk pelan.

"Semua info Sannin Legendaris ada disini. Bagaimana bisa aku, yang sudah mengetahui isi semua buku disini tidak tahu ?" Balas Oedipus. Sepertinya Orochimaru tidak berpikir kesitu. "Tapi sayangnya. Kau tahu kenapa kusembunyikan Perpustakaan Alexandriana ? Tidak lain agar tidak ada manusia yang bisa menemukannya" jelasnya.

"Kenapa ?" Tanya Orochimaru refleks.

Oedipus menghela nafas. "Kalian para manusia makhluk yang naif" katanya. "Paling-paling kalian kesini hanya untuk mencari cara mengalahkan musuh kalian. Entah itu naga, atau sesama manusia, atau malah untuk memburu Harpy atau mengancamku dan Ladon dan menggantung kepala mereka di dinding sebagai kenang-kenangan" lanjutnya tajam. Orochimaru dan Kabuto tertunduk, berusaha mencari celah-celah pengampunan.

Ia melayangkan pandangan tajam pada kami semua, dari ujung kiri yaitu Orochimaru...sampai ke baris paling kanan yaitu aku. Ia membeliak.

"Uzumaki Naruto, putra pertama Namikaze Minato sang Yondaime Hokage dan Uzumaki Kushina ? Dracovetth yang dipilih Paradox ?" Selidiknya padaku.

Aku mengangguk pelan. "Ya" jawabku singkat.

Ia kemudian melihat ulang kami semua. Pandangan matanya melunak drastis. "Kurasa...aku berubah pikiran sekarang" katanya. Entah kenapa sekarang nada suaranya terdengar ramah. Oedipus meraung keras tapi pendek, memanggil semua Harpy.

"PERHATIAN SEKALIAN !" Serunya dengan suara menggelegar sampai beberapa dari kami harus menutup telinga. "Manusia dan seekor naga ini bukan penyusup atau musuh. Mereka adalah tamu kita. Layani mereka dengan baik !" Katanya mengumumkan.

Para Harpy segera pergi, kembali ke tugas-tugas mereka yang sempat terbengkalai beberapa menit. Oedipus tersenyum ke arahku. "Terimakasih banyak, Oedipus" kataku. Orochimaru mengedipkan mata padaku.

"Sudah kubilang dia ada gunanya" bisiknya pada Kabuto.

"Silakan nikmati Perpustakaan Besar Alexandriana. Jangan sungkan meminta bantuan para Harpy, mereka tidak seburuk kelihatannya" candanya. Teman-temanku, dan Kurama, segera berpencar mencari bagian yang mereka sukai. Orochimaru bagai kesetanan (lagi), langsung memborong buku-buku tebal untuk dipindai di otaknya yang haus eksperimen itu –bersama Kabuto.

"Tunggu, Naruto-sama" panggil Oedipus begitu aku melangkahkan kaki. Aku berbalik. "Aku tahu bagian yang tepat untukmu" katanya serius.

.

.

Beberapa menit kemudian, aku sudah berada di sebuah rak. Rak yang istimewa karena hanya ini satu-satunya yang terbuat dari campuran bahan untuk membuat medali perlombaan –emas, perak, dan perunggu. Dan aku heran karena hanya ada satu buku di rak setinggi dua meter dan selebar satu meter itu.

"Ambillah" perintah Oedipus, dan aku mengambil satu-satunya buku itu.

'Bingo: The Book of Dragons', itu yang tertera di sampul buku tebal itu. "Inilah Buku Bingo, yang memuat semua spesies naga di Bumi. Delapan Naga Dewa juga ada disitu, termasuk naga-naga istimewa seperti Ivory Dragon, Ladon, Sphinx, Zmey, dan Basilisk" jelasnya. Aku hanya mengangguk dan tak mengatakan kalau aku sudah mengenal empat dari lima yang disebutkan tadi. Setidaknya aku mendengar cerita dari teman-temanku saat melawan Zmey dan Sphinx.

"Cari saja informasi tentang Paradox disitu, Naruto-sama. Kalau kau mau" tawarnya. Tentu aku mau !

Aku membolak-balik buku bersampul merah setebal bantal itu. "Dia ada di halaman 333" Oedipus akhirnya memberitahu. Halaman 333 ? Kombinasi angka yang unik sekali, pikirku.

Tapi yang kutemukan hanya halaman 332 dan langsung meloncat ke halaman 337. "Dua halaman yang lain mana, Oedipus ?" Tanyaku gusar.

Ia memeriksa. Aku juga. Dan segera, kami menemukan bekas sobekan dua halaman itu. DUA HALAMAN TERPENTING DI BUKU BINGO DISOBEK ! Aku tak terkejut kalau yang melakukannya adalah Oedipus sendiri, sayangnya dia menggeleng.

Ah ! Mimpiku. Aku ingat lagi. Gadis berambut putih itu...memberikanku beberapa helai kertas...dan itu adalah halaman yang hilang ?

Aku merogoh semua saku pakaianku. Sadar-sadar aku tahu bahwa itu hanya mimpi...untuk pertama kalinya aku berharap itu sungguhan !

"Mungkinkah para Harpy ?" Gusarku.

"Tidak mungkin" jawab Oedipus yakin. "Mereka tidak punya kemampuan untuk merusak buku apapun disini. Seperti diprogram, kau tahu".

"Ladon ?" Aku kembali bertanya. Walau aku belum pernah melihat naga itu sendiri.

"Apalagi Ladon. Dia tak pernah meninggalkan ruangan yang dijaganya" jawab Oedipus. Ia juga kelihatan sedikit panik.

"Memangnya apa yang dijaga Ladon ?" Tanyaku penasaran. Itu melenceng dari misteri hilangnya halaman ini, tapi apa boleh buat. Aku penasaran.

"Senjata yang sangat rahasia, yang tidak lain adalah pedang milik Rikudo Sennin sendiri, dan Pohon Apel Emas".

Dua kata terakhir membuatku makin penasaran. "Apel Emas ?" Ulangku. Dia mengangguk.

"Apel Emas. Satu apel berwarna emas murni yang tumbuh di sebuah pohon. Pedang dan pohon itu berada dalam satu ruangan yang dijaga oleh Ladon. Dan Apel Emas memiliki kekuatan magis. Menghidupkan siapapun yang telah mati dan mempercepat pemulihan kekuatan. Ini tidak berarti yang memakannya jadi lebih kuat, hanya saja kekuatannya pulih dengan sangat cepat" jelasnya detil.

Aku tersadar dan kembali ke masalah pokok. "Bagaimana cara kita menemukan halaman yang hilang ini ?"

Oedipus berpikir sejenak. Beberapa detik kemudian, ia menjentikkan jari (atau lebih tepatnya, menjentikkan cakar). "Sastra Paradox !" Serunya.

"Sastra Paradox ?" Aku membeo.

"Itu adalah buku tipis yang akan memberikan keterangan tentang apapun yang berhubungan dengan Paradox" jelasnya.

"Kenapa kau tidak beritahu aku dari tadi ?" Seruku. "Dengan begitu kita bisa langsung tahu dimana..."

"Kecuali lokasi dan kepribadian" tambah Oedipus, yang langsung membuatku kecewa setengah mati. Tapi yah, kurasa mengetahui tentangnya bisa mengobati rasa kecewaku. Jadilah dia mengantarku ke rak berisi buku bersampul putih tipis. Sastra Paradox.

Aku meneguk ludah. Sirkulasi udara di perpustakaan itu masih cukup baik bahkan walau sudah ratusan tahun terkubur, tapi aku tetap berkeringat. Keringat dingin. Detak jantungku makin cepat dan nafasku mulai tidak beraturan. Perasaanku saja, atau memang sedahsyat inikah 'Dia' ? Baru berusaha mengetahui salah satu rahasianya saja aku sudah seperti ini !

Tanpa aku (dan Oedipus) sadari, seekor naga berwarna oranye dengan iris merah darah berpupil vertikal dengan garis hitam di mata dan bibirnya, menangkupkan sayapnya beberapa rak buku di belakang kami. Mengawasi apa yang sedang terjadi. Walau tidak banyak yang bisa dilihatnya karena tubuh panjang Oedipus.

Kubuka buku yang hanya berisi 10 lembar kertas yang terbuat dari daun papirus itu. Terpampang jelas di halaman pertama setelah sampul yang polos Hah ? Apa ini ? Sepertinya aku memang bisa membacanya, tapi tulisan ini...

Terbalik. Baik kanan-kiri maupun susunan hurufnya. Sepertinya terbalik dari akhir ke awal. Aku mengernyit bingung.

"Oh, lupa. Ini buku khusus. Kadang disebut sebagai catatan cermin" jelas Oedipus. Ia lantas memanggil salah satu Harpy untuk membawakan sebuah cermin genggam dan menyerahkannya padaku. "Buku ini hanya bisa dibaca dengan cermin. Ini juga salah satu tanda bahwa di dalamnya ada rahasia besar" terangnya kemudian. Aku manggut-manggut mengerti dan setelah cermin kuarahkan, tampak tulisan yang amat jelas: 'SASTRA PARADOX'.

Kubuka lembar kedua. 'Ootsutsuki Ashura'. Itu yang tertulis disana. Sepertinya ini nama sang penulis.

Deja vu. Entah kenapa aku merasa seperti pernah mengenal nama ini. Nama yang...tidak begitu asing. Ootsutsuki Ashura...rasanya aku pernah kenal !

Tapi kuabaikan perasaan aneh itu dan kubuka lagi.

'Kontrak segel Shikifujin telah terpasang pada lembaran-lembaran papirus ini. Siapapun yang menjauhkan ini dari rak asalnya di Perpustakaan Besar Alexandriana yang dijaga Oedipus, Ladon, dan para Harpy, akan mengalami penderitaan yang sangat. Kekuatan tidaklah berguna tanpa pengetahuan. Pengetahuan tidaklah berguna tanpa tekad. Tekad tidaklah berguna tanpa keberanian. Keberanian tidaklah berguna tanpa tindakan. Tindakan tidaklah berguna tanpa kebijaksanaan. Kebijaksanaan tidaklah berguna tanpa kearifan. Kearifan tidaklah berguna tanpa keadilan. Dan keadilan tidaklah berguna tanpa ketulusan hati nurani'.

Itu yang tertulis di lembar ketiga. Cukup panjang, pikirku. "Apa ini isinya ?" Selidikku pada Oedipus.

"Bukan. Ini hanya prolog. Semacam kata pengantar, kau tahu" jawabnya. Aku membuka lembar berikutnya.

Peta dunia. Dunia kami, dunia naga. Rinci sekali. Kota Besar Rouran bahkan ada disana. "Dulu Paradox bisa diketahui lokasinya dengan ini" cerita Oedipus. "Tapi di usia senjanya, Ootsutsuki Ashura menghilangkan jutsu deteksi itu, membiarkan Paradox berkelana tanpa terdeteksi".

Entah kenapa, aku tidak tertarik untuk bertanya siapa itu Ootsutsuki Ashura. Mungkin belum. Aku sedang terfokus pada sesuatu yang barangkali lebih penting dari nama seorang penulis buku. Tentu saja kupikir dia hanya sekedar penulis sastra, katakanlah, sastrawan terkenal masa lampau.

Lembar kelima. Dan ini menarik perhatianku. Sebaris tulisan bergaya latin yang ujung-ujung hurufnya dipanjang-panjangkan jadi semacam sulur, agak samar, tapi masih bisa terbaca.

.

Berlari melintasi langit, menyelami gunung-gunung, terbang melesat di air

Pantulan cahaya surya dan bulan yang memaksa manusia berpikir

Dampingi mereka dari awal hingga pada mendekati akhir

Sembuhkan hayawan, suburkan tanah, tumbuhkan tanaman, tanpa sihir

Kebajikan adalah teman, melekat senantiasa bagai prajurit yang mahir

Tidaklah dapat diraba, dirasa, dilihat, dibaui, oleh orang-orang yang sombong, gelap, angkuh, lagi kikir

Miliknyalah segala bijak yang dimiliki para naga, bagai selancar pantai menyisir

.

Itulah isi lembar kelima. Cukup membuatku garuk-garuk kepala.

"Gaya bahasa yang aneh" kataku akhirnya. "Apa maksudnya ?" Aku akhirnya bertanya pada Oedipus. Kurasa aku bisa memecahkan ini sendiri, tapi pasti akan memakan waktu lama.

"Berlari melintasi langit, menyelami gunung-gunung, terbang melesat di air, itu adalah makna pembalikan. Seharusnya berlari melintasi gunung-gunung, menyelami air, terbang melesat di langit. Begitu, bukan ?" Oedipus mengawali. Aku manggut-manggut mengerti.

"Itulah kemampuan Paradox. Dia bergerak bebas di darat, air, dan udara" ucapnya. "Tapi kurasa kau juga sudah tahu" tambahnya. "Larik kedua menceritakan pelapis tubuh. Tidak ada yang tahu apakah Dia punya sisik atau kulit, atau bulu, atau rambut. Tapi cahaya matahari dan bulan bisa terpantul lewat tubuhnya" jelasnya kemudian.

"Dampingi dari awal hingga akhir menunjukkan bahwa Paradox itu abadi" ia menjelaskan larik ketiga. "Larik keempat menjelaskan kekuatannya. Menyembuhkan hewan, menyuburkan tanah, dan menumbuhkan tanaman. Semua dilakukan tanpa semacam sihir".

"Kelima menunjukkan bahwa Paradox berpihak pada kebenaran. Kebajikan" sambungnya. "Orang-orang yang punya sifat jelek tidak dapat merasakan kehadirannya" ia menjelaskan larik berikutnya.

"Dan larik ketujuh menjelaskan asal semua kebaikan naga adalah dirinya" katanya akhirnya.

"Hanya itu saja ?" Tanyaku. "Tidak ada petunjuk lain selain puisi –atau terserah kau menyebutnya apa yang terdiri dari tujuh larik ini ?"

"Kenapa ?" Selidik balik Oedipus.

"Yaahh...aku merasa aneh saja. Sedikit sekali" jawabku jujur. Aku membuka halaman selanjutnya. Ternyata ada satu lagi.

"Konon yang di halaman ini ditulis langsung oleh Paradox sendiri" Oedipus menjelaskan. Kuamati tulisan yang berbeda itu. Sekilas memang tampak seperti bukan tulisan manusia. Entah kenapa aku langsung merasa begitu.

.

Aku adalah Paradox.

Yang memegang kuasa atas Matahari Biksu Enam Jalur.

Aku adalah Paradox.

Yang memutuskan kehidupan dan kematian bagi mereka yang menginginkannya.

Aku adalah Paradox.

Yang melambangkan kebijaksanaan, pengetahuan, dan apapun yang berupa cerah.

Aku adalah Paradox.

Yang menyingkap sesuatu dibalik sesuatu yang tidak diketahui umat manusia.

Aku adalah Paradox.

Yang tidak bisa tertipu oleh pasangan pandangan yang memelas.

Aku adalah Paradox.

Yang berhak atas tujuh berlian, uliran, cabang, cakar, dan kuasa di Bumi.

Aku adalah Paradox.

Yang dicari setiap orang yang menginginkan kebijaksanaan, dan aku lebih dekat dari yang kaukira.

.

Oke, aku menggaruk kepala sekali lagi. Aku merasa sangsi terutama saat membaca baris terakhir. 'Aku lebih dekat dari yang kaukira ?' Lelucon macam apa ini ? Aku sudah mencarimu sampai separuh dunia dan aku masih belum menemukanmu ! Teriakku dalam hati.

"Perhatikan rimanya" cetus Oedipus. "Di halaman sebelumnya semua kata selalu berakhiran 'ir'. Air, berpikir, akhir, sihir, mahir, kikir, dan menyisir. Siapa tahu ada sesuatu dibalik rima-rima yang ini" nasihatnya lalu beranjak pergi. "Aku harus memeriksa sesuatu" katanya. Aku mengangguk.

Disitu tertulis 'Aku adalah Paradox' tujuh kali. Jadi tujuh akhir 'x'. Depannya selalu sama, A-Y-A-Y. Kupikir itu tidak penting. Sebaiknya kucari yang belakang.

Baris kedua, huruf terakhirnya r.

Baris keempat, huruf terakhirnya a.

Baris keenam, huruf terakhirnya h.

Baris kedelapan, huruf terakhirnya a.

Baris kesepuluh, huruf terakhirnya s.

Baris keduabelas, huruf terakhirnya i.

Baris keempatbelas, huruf terakhirnya a.

.

.

TUNGGU SEBENTAR ! Aku tidak salah, kan ?! Jika dibaca dari atas ke bawah, itu akan membentuk kata 'R-A-H-A-S-I-A' ! Rahasia !

Dahiku berkeringat. Rahasia ? Rahasia apa ? Segera kubuka lembar berikutnya.

.

'Sesungguhnya Paradox memiliki tujuh berlian, yaitu Darah Delima, Langit Jingga, Empedu Emas, Daun Zamrud, Air Safir, Tulang Ametist, dan Kuku Turqois. Ketujuh berlian ini tertanam dalam tubuhnya yang kulitnya terbuat dari Kaca Kwarsa. Enam di sisi punggung dan satu di dadanya. Tanduk alisnya terbuat dari emas, gading, perak, platina, perunggu, timbal, timah, dan berlian bening. Tanduk berulirnya merupakan karya Myoton dan Omyoton atau kekuatan Yin dan Yang dari Sang Rikudo Sennin sendiri. Ia dapat membelah gunung, meratakan hutan, mengeringkan danau, membekukan badai, mendekatkan atau menjauhkan Bulan, dan melubangi Bumi. Ia juga dapat menumbuhkan hutan, menyembuhkan luka terparah, menetralisir racun paling mematikan, mendatangkan air dari tanah paling tandus, dan lebih tahu apa yang dibutuhkan dari yang mengira tahu'.

'Dia dapat menyamar. Sesuka hati. Menjadi apapun selama itu masih berwujud makhluk hidup. Entah naga raksasa atau semut kecil. Dan dia akan mengawasi manusia yang menurutnya perlu diawasi. Dia lebih tahu. Dia membaca kegelapan hati. Keputusannya adalah keputusan Sang Rikudo. Dia dihormati dan disanjung. Satu hal. Saat dia menyamar, warna dari tujuh berlian itu akan selalu ada, atau setidaknya, ada satu atau beberapa bagian tubuhnya yang berwarna sama dengan salah satu dari tujuh berlian miliknya'.

.

Rinci sekali, pikirku. Kurasa Ootsutsuki Ashura memang bukan penulis biasa. Apalagi disini disinggung berkali-kali Sang Rikudo Sennin. Sebenarnya siapa sih, mereka ? Sepertinya sosok yang begitu legendaris di masa lampau.

Ah, sudahlah. Sekarang harus kutelaah halaman ini, karena yang ini tidak mengandung majas atau gaya bahasa apapun, tidak seperti dua halaman sebelumnya yang benar-benar membuat otak bagian bahasaku mengalami korsleting.

Membaca kekuatan Paradox, aku kagum sendiri. Terlampau kuat, menurutku. Melubangi Bumi dan mengatur jarak Bulan ? Yang benar saja. Tapi paragraf kedua rasanya lebih mengusik untukku. Dia bisa menyamar sesuka hati. Dia akan mengawasi manusia yang menurutnya perlu diawasi.

Apakah dia akan mengawasiku ? Mengingat larik terakhir dari tulisan Paradox sendiri 'Aku lebih dekat dari yang kaukira' apakah itu berarti dia sedang mengawasiku ? Dia selama ini mengawasiku DAN aku tidak tahu ?! Kami semua tidak tahu ?

Bisa saja.

Tapi kalaupun iya, dia akan menyamar jadi apa ?

.

.

"Dasar otak mesum".

.

Aku mengenal suara itu. Kubalikkan badanku.

"Apa yang kau lakukan disini, Kurama ?" Selidikku sambil berusaha menyembunyikan apa yang kubaca.

"Gurumu, si Kakek Jiraya itu" dia mengadu. "Aku tadi melihat-lihat, dan aku memergokinya sedang asyik memandangi gambar perempuan-perempuan dengan pakaian setengah jadi" gerutunya. "Sumpah, aku langsung tidak lapar lagi".

"Bagaimana dengan Kakashi-sensei ?" Aku mulai tertarik mengenai apa yang mereka cari.

"Hmph. Dia membaca novel Icha-Icha Paradise seri terbaru...yang penulisnya adalah Jiraya sendiri" katanya malas. "Orochimaru dan Kabuto masih seperti dirasuki setan buku. Mereka memborong banyak sekali buku. Ino baca buku kesehatan, Shikamaru baca buku sejarah, Sasuke tadi sempat kulihat membuka-buka buku Etatheon, dan Sakura...sejak tadi aku belum lihat" paparnya.

Aku mafhum kenapa Sakura tidak terlihat. Dia berusaha menjauh dariku sejak kejadian tadi. Mungkinkah dia menyembunyikan sesuatu ?

"Ehm, Kurama" desisku. "Bisa antar aku ? Ayo kita cari Sakura bersama-sama" ujarku.

Kurama menggeleng. "Gadis itu sepertinya tidak lebih baik daripada Sara" desisnya malas. "Aku merasa ada sedikit sisi asing dan gelap dalam hatinya" sambungnya. Aku hanya bisa mendengus kesal.

.

Sebentar. Sisi gelap ? Kurama bisa membaca sisi gelap dalam hati seseorang ?

Bukannya itu kemampuan khusus Paradox ?!

Ketika naga oranye di hadapanku ini menoleh ke arah lain, aku memperhatikannya. Dari atas. Sampai pada cakar kaki depan kanannya...

Aku melihat sesuatu.

Sobekan kertas. Menancap di cakarnya. Dari buku yang sepertinya sudah menguning. Aku memicingkan mata. Ada sesuatu disana.

.

Disitu tertera angka 333.

Aku tersentak. Mungkinkah ini...sobekan Buku Bingo ?! Tapi apa untungnya Kurama menyobeknya ?

Tiba-tiba aku tersadar, ada banyak hal ganjil dari Kurama, terutama hari ini.

Pertama, dia membakar habis semua Galaeana.

Kedua, dia mengetahui Kakuzu datang ke Takigakure hanya dengan alasan insting.

Ketiga, dia tahu Kakashi-sensei, Jiraya-sensei, Orochimaru, dan Kabuto sedang membicarakan Pilar Obelisks, plus bisikan kami.

Keempat, dia bisa membaca sisi gelap Sakura.

Kelima, dia merobek sebuah halaman yang ternyata halaman 333 dari sebuah buku.

Keenam...

...matanya merah. Semerah batu rubi. Semerah darah.

.

Enam bukti. Terlalu banyak untuk bisa disangkal. Aku tersenyum kecil.

.

"Kenapa kau senyum-senyum begitu ?" Selidiknya penasaran. "Ah ! Kau menemukan buku humor-kah ?"

.

"Naga sialan" candaku sambil tertawa kecil. Kurama makin bingung. Tapi aku sudah bisa menebak kalau raut itu hanya raut dibuat-buat !

"Kena kau !" Aku menuding matanya.

"Kena apa ? Kita sedang tidak bermain sembunyi-sembunyian kan ?" Elaknya.

.

"Paradox, aku tidak percaya kau begitu tega menipuku selama ini" kataku menang.

.

.

"Sial" kata Kurama akhirnya. "Kau tidak sebodoh yang kukira, Naruto-kun".

.

"Penyamaranku terbongkar juga".

.

.

.

Bersambung...


Author's Note (2):

Chapter 10 akhirnya selesai !

"Horeeeeeee tebakanku benar !". Mungkin itu yang terpikir di benak Anda sekalian -_-

Haha, saya tidak tahu apa readers browsing di internet atau berpikir sendiri, tapi nyatanya itu tidak terlalu sulit, kan ? Oke, jika Gunung Phicium benar-benar ada, berarti kalian sanggup menaklukkannya ! Di chapter ini mystery-nya sudah lumayan banyak menurut saya, serta teka-teki mengenai Piramida Perpustakaan Besar Alexandriana. Okeh, di chapter ini memang ada sedikit unsur keMesir-Mesiran(?) yaitu Pilar Obelisks dan Alexandriana (Sebenarnya yang betul itu Alexandria, nama mercusuar di Mesir, tapi sengaja saya tambahin 'na' di belakang). Soal catatan Sastra Paradox yang terbalik, saya dapat inspirasi itu dari catatan Leonardo da Vinci yang pernah membuat buku 20.000 halaman yang mengeja mundur kata-katanya dan membalikkan setiap huruf. Well, Orochimaru dan Kabuto ternyata nggak jahat-jahat amat, tapi apakah riwayat mereka selesai sampai disini saja ? Apakah Kakuzu dan Deidara –yang namanya belum sempat disebut diatas- akan berperan ?

Dan !

Siapakah sebenarnya Kurama ? Apa isi halaman yang disobek dari Buku Bingo ? Dan relasi apakah gerangan antara Sakura dan ayahnya ? Apakah mimpi Naruto di Iwagakure akan membantu pemecahan teka-teki atau justru menjadi sebuah teka-teki baru ? Nantikan chapter selanjutnya karena setiap misteri terpecahkan, yang baru akan selalu muncul !

Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !


Coming Soon: Paradox Chapter Eleven :

"Sparkle of Pureness"

See you again in chapter 11 !

-Itami Shinjiru-


-Dragons List in Chapter Ten :

Oedipus (Diambil dari nama pahlawan yang menjawab teka-teki Sphinx dengan benar untuk pertama kalinya)

Strength : Sangat tinggi

Ukuran : Panjang 20,8 meter, berat 12 ton

Kecepatan terbang : 10-95 km/jam

Spesial : Wawasan yang luas dan ilmu pengetahuan yang tinggi

Tipe serangan : Menghasilkan badai pasir dan jatuhan batu, atau menyerang langsung dengan rahang, cakar, dan ekor

Kategori : Mirakel

Elemen spesial : -

Level bahaya : Moderat

Pemilik : Tidak diketahui

Manda

Strength : Sangat tinggi

Ukuran : Panjang 32 meter, berat 25 ton

Kecepatan terbang : 10-195 km/jam

Spesial : Taring raksasa, lincah walau berukuran besar

Tipe serangan : Serangan langsung atau menyemburkan api beracun jarak jauh

Kategori : Monstrous

Elemen spesial : Racun

Level bahaya : Jauhi !

Pemilik : Orochimaru, Yakushi Kabuto

Harpy(Tidak diklasifikasikan sebagai naga secara umum, karena tidak bisa menyemburkan apapun dari mulutnya)

Strength : Lemah

Ukuran : Panjang (atau tinggi) 50 cm, berat 3 kg

Kecepatan terbang : 3-40 km/jam

Spesial : Mudah berkelit, lincah dan sulit ditangkap

Tipe serangan : Serangan langsung dengan cakar (tidak bisa menyemburkan apapun)

Kategori : Kriptid

Elemen spesial : -

Level bahaya : Medium

Pemilik : Patuh pada Oedipus

Ladon(Diambil dari nama naga besar berkepala seratus dalam mitologi Yunani. Dalam beberapa cerita, dia menjaga Golden Fleece atau Bulu Domba Emas. Dalam cerita yang lain (atau dalam novel Percy Jackson & The Olympians: The Titan's Curse) dia menjaga Pohon Apel Emas)

Strength : Sangat Tinggi

Ukuran : Panjang 10 m, berat 2 ton

Kecepatan terbang : 5-30 km/jam

Spesial : Memiliki seratus kepala yang semuanya bisa menyemburkan api jarak pendek dan berbisa

Tipe serangan : Serangan langsung dengan belitan kepala, cakar, ekor, atau semburan api dan gigitan berbisa

Kategori : Monstrous

Elemen spesial : Racun

Level bahaya : Jauhi !

Pemilik : Patuh pada Oedipus