Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody" dari Eragon dan How to Train Your Dragon. Beberapa unsur juga ada di novel Percy Jackson & The Olympians: The Titan's Curse

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.

Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Typo, Death Chara

Pair : NaruSaku, NaruSara (Slight ShikaTema & KakaPaku)

Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance, Mystery


Author's Note :

Jumpa lagi di chapter 11, readers !

Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Dan beribu terimakasih pada readers yang sudah bilang kalau fic ini bagus. Huwaaaaa... (*nangis air terjun*). Terimakasih semua sarannya, kritiknya, pujiannya (pletok) walau ini 'baru' sampai chapter 11.

Kurama menyimpan rahasia. Sakura dan ayahnya bahkan masih membingungkan. Halaman yang hilang belum ditemukan, dan Naruto mulai penasaran tentang dua nama legendaris –Rikudo Sennin dan Ootsutsuki Ashura. Petualangan pencarian dan misteri di Piramida Perpustakaan Besar Alexandriana terus berlanjut ! Dan patut saya katakan, pencarian perpustakaan ini memang terinspirasi dari Avatar:The Last Airbender buku kedua: Earth yang berjudul 'The Library' walau saya lupa episode keberapa. Well, saya ubah bentuk perpustakaannya dari semacam masjid (atau mirip-mirip Taj Mahal gitu) jadi piramida, dan alih-alih terkubur dibawah pasir, Perpustakaan Alexandriana justru tersembunyi di bawah bebatuan cadas. Dan soal Rouran, kota itu di fic ini diceritakan sezaman dengan Konoha, Suna, dan desa lainnya, tidak berasal dari masa lalu atau masa depan.

Selamat membaca dan selamat menebak misteri !

Enjoy read chap 11 !


PARADOX

Chapter Sebelas :

Sparkle of Pureness

"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, Kurama ?" Tanyaku. Aku tidak tahu ekspresi apa yang harus kutunjukkan. Senang karena pencarian kami membuahkan hasil, kesal karena ternyata yang dicari telah ada disampingku sejak berhari-hari yang lalu, merasa bodoh karena ditipu seekor naga begitu mudahnya tanpa mengerti semua tanda-tandanya, atau bingung karena dia benar-benar sempurna dalam penyamarannya.

Kurama terdiam sejenak. "Aku...aku takut aku mengecewakanmu. Membuatmu marah, kau tahu" katanya kikuk.

Aku menghela nafas berat. "Tentu tidak, Paradox !" Seruku. Aku berusaha akan terbiasa memanggilnya begitu mulai sekarang. Kurama pasti hanya nama samaran saja.

"Paradox ?" Ulang Kurama. Aku mengangguk.

"Tidak perlu ada tipu-menipu diantara kita sekarang" sergahku. "Buka saja penyamaranmu".

Kurama mengangguk. Ia memperlihatkan padaku sobekan kertas di cakarnya.

"Maaf, Naruto, merepotkanmu" ujarnya.

"Tidak apa" jawabku tak sabar. Apa benar Paradox seindah yang kubayangkan –atau setidaknya, yang diceritakan dalam sastranya ?

"Kuharap Oedipus tidak menuntut ganti rugi, karena buku yang kutelan ini lumayan tebal dan...pahit" katanya.

Giliranku memasang wajah bingung. Apa yang dibicarakannya ?

"Jangan bertele-tele !" Seruku. "Kau Paradox, kan ?!" Semburku.

Sekarang Kurama yang memasang wajah bingung. "Apa maksudmu ?!" Balasnya. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan !"

"Tidak mengerti bagaimana, bukannya sudah kubilang sekarang kita terbuka, tahu ! Tidak perlu menyimpan rahasia, aku ini pengendaramu !" Aku berseru sampai membuat beberapa Harpy terdekat menoleh.

"Naruto" kata Kurama akhirnya. "Buku apa yang terakhir kau baca disini ?"

Aku memperlihatkan padanya Sastra Paradox.

"Jadi buku ini yang sudah membuatmu gila, ya" ucapnya.

"Gila bagaimana !" Aku mulai tak sabar. Meremas rambut kuningku sendiri, akhirnya aku berkata, "Baiklah. Ceritakan apa yang baru saja kau alami".

"Aku berjalan-jalan diantara rak setinggi rumah" ceritanya. "Lalu aku mengambil sebuah buku dan membacanya. Sepertinya kau juga tahu, kalau kemampuan membacaku tidak bisa dibandingkan dengan manusia. Aku masih harus sedikit mengeja. Saat aku membalik-balik buku, aku kurang hati-hati sehingga beberapa halamannya sobek sekaligus, mungkin juga karena sudah rapuh".

"Debu yang beterbangan dari buku itu, yang mungkin karena belum sempat dibersihkan para Harpy membuatku bersin, dan kepalaku terantuk ke rak buku di depanku sampai menjatuhkan salah satu buku. Ketika aku mendongak ke atas, buku itu tepat masuk ke mulutku yang masih terbuka sedikit. Aku menelan sebuah buku utuh-utuh secara tidak sengaja dan merobek beberapa halaman secara tidak sengaja dan itu adalah halaman 333" ceritanya panjang lebar.

"Dan buku apa yang kau robek itu ?" Tanyaku.

"Buku dongeng" katanya malu-malu. "Barangkali ada dongeng dengan tokoh seekor Wivereslavia atau bahkan Paradox" candanya.

Aku terdiam sejenak. "Kurama" panggilku.

"Hmm ?"

"Jadi..."

"...kau..."

"...bukan Paradox ?" Tanyaku tersendat-sendat.

.

.

.

"HAHAHAHAHA ! Kau memang layak disebut Naruto-baka !" Semburnya. "Apa yang membuatmu berpikir kalau aku adalah Draco P ?!"

"BANYAK !" Seruku mulai emosi.

"Pertama, kau membakar habis semua Galaeana ! Kedua, kau mengetahui Kakuzu datang ke Takigakure hanya dengan alasan insting ! Ketiga, kau tahu Kakashi-sensei, Jiraya-sensei, Orochimaru, dan Kabuto sedang membicarakan Pilar Obelisks dan bisikan kami di gurun waktu itu ! Keempat, kau bisa membaca sisi gelap Sakura ! Kelima, kau merobek sebuah halaman yang ternyata halaman 333 dari sebuah buku, dimana aku mengira itu adalah halaman Buku Bingo yang memang hilang di halaman 333 ! Dan keenam, matamu merah ! Semerah batu Darah Rubi yang ada di dada Paradox !" Seruku panjang lebar.

"Aku bisa jelaskan" balas Kurama cepat.

"Memang kemampuan Wivereslavia bisa melampaui beberapa hal. Api kami panas tiada tara, bahkan besi bisa terbakar. Wajar kalau aku bisa membakar semua cacing tanah itu. Aku mengetahui Kakuzu datang...karena ketika aku bangun, seorang petugas Chrysler yang bernama Akatsuchi yang juga keluarga Kakek Cebol itu memberitahuku. Alasan insting itu hanya untuk menutup-nutupi. Soal Pilar Obelisks, aku tidak bohong, memang indera pendengaranku menajam saat aku lapar ! Hal yang sama saat aku mengetahui bisikanmu dengan Kakashi !"

"Bagaimana soal sisi gelap Sakura ?!" Serbuku.

"Itu...itu...itu aku asal menebak" katanya kikuk. "Kau bisa melihat karakter seseorang hanya dengan melihat matanya, Naruto. Aku sudah bertemu banyak manusia" ujarnya. "Soal halaman itu, kebetulan saja yang kusobek memang halaman 333. Mataku merah...semua Wivereslavia juga matanya merah ! Itu tidak ada sangkut-pautnya dengan berlian atau apalah yang kau katakan itu" jelasnya.

"Lalu kenapa kau bilang 'penyamaranku terbongkar' tadi ?" Tanyaku lemas.

"Hmm...aku berusaha menyamar agar tidak ketahuan telah merobek sebuah buku...apa itu namanya menyamar atau bertingkah seperti bukan pelaku ? Aku tidak terlalu ahli dalam kosakata, tahu" jawab Kurama lancar.

"Lalu...lalu saat aku bertanya kenapa apimu bisa menghanguskan para Galaeana ? Kenapa kau merahasiakannya ?!" Aku masih berusaha.

"Itu untuk terdengar lebih keren, kau tahu".

.

.

.

Masuk akal.

.

.

Tiba-tiba aku merasa seperti penambang profesional yang merasa menemukan sebongkah besar berlian padahal itu hanya air yang membeku, alias es.

Kurama bukan Paradox.

Bukan.

Seharusnya aku tahu. Tapi bagaimana bisa ? Semangatku yang sudah menggunung kini hancur tak bersisa seperti baru diterabas Jinton.

Aku menghela nafas kecewa seperti seorang pasien yang baru diberitahu dokternya bahwa ia takkan bisa melihat matahari terbit esok hari.

INGIN rasanya kubanting lembaran papirus sialan di tanganku dan menginjak-injaknya, membakarnya dalam api dan mencincang abunya sampai tak bersisa. Tapi aku tidak bisa menyalahkan keadaan begitu saja. Kurama bukan Paradox. Memang bukan, dan aku tidak bisa menyalahkannya. Buku ini ? Apalagi. Dia tidak bisa apa-apa. Oedipus ? Apa kaitannya.

.

.

"Kita pasti menemukan Dia, Naruto" hibur Kurama tiba-tiba. "Pasti" ulangnya yakin.

"Dunia tidak sesempit yang kau kira, Kurama" desahku.

"Benarkah ?" Kurama mencetus. Ia mengangkat kepalaku yang tertunduk dengan cakar kaki depannya, membuatku langsung bertatap mata dengannya dalam jarak dekat. "Lihat sekelilingmu" desisnya.

"Dunia memang luas, tapi semua isi dunia yang luas ini ada dalam ruangan yang jutaan kali lebih kecil daripada dunia itu sendiri" katanya.

.

.

"Selalu ada perasaan tertentu yang hinggap di hatiku ketika melihat seorang Dracovetth dan naganya saling menyemangati".

"Oh...Oedipus...se...sejak kapan kau ada disana ?" Selidik Kurama kikuk.

"Sejak tadi" balas Oedipus kalem.

"Ja...di...kau tahu aku memakan salah satu bukumu ?" Tanya Kurama agak panik.

Oedipus mengangguk. "Tapi tak apa, itu hanya kumpulan cerita fiksi. Nanti kusuruh beberapa Harpy untuk mencari yang baru. Itu masih banyak di pasaran" jelasnya, membuat Kurama lega.

"Jadi apa yang kau baca itu, Naruto ? Kelihatannya buku yang sudah agak kuno" tanya naga oranye itu penasaran.

Hah ? Aku bingung sendiri. Bukannya tadi sudah kuangkat tinggi-tinggi dan kuteriakkan bahwa ini Sastra Paradox ? Seakan mengetahui kebingunganku, Oedipus mendekat dan menjelaskan.

"Tidak ada yang bisa mengingat apapun yang berkaitan dengan Paradox selain pengendaranya sendiri, Naruto-sama" bisiknya.

Aku makin bingung. "Kecuali aku juga" katanya. "Aku dulu bertemu langsung dengannya. Dia-lah yang menyuruhku untuk menjadi penjaga perpustakaan ini, bersama Ladon dan para Harpy. Dia membuat Ladon dan para Harpy lupa tentangnya, tapi tidak denganku. Kacau urusannya kalau aku yang dikenal sebagai penjaga perpustakaan terbesar di dunia malah terlihat pikun" katanya setengah bercanda.

Itu mengingatkanku akan satu hal.

Sara.

Dia tidak lupa pengalamannya bertemu dengan Paradox. Mungkin Paradox juga sengaja tidak membuatnya lupa. Entah kenapa. Kembali kuingat salah satu bait di sastranya 'Lebih tahu apa yang dibutuhkan dari yang mengira tahu', mungkin itu maksudnya.

"Oedipus..." panggilku dengan suara khas orang yang putus asa.

"Hmm ? Ada masalah, Naruto-sama ?"

"Apa menurutmu Kurama memiliki kedekatan dengan Dia ?" Tanyaku sambil menunjuk sosok oranye menyebalkan di sampingku ini.

Oedipus mengamati naga itu dengan seksama, membuat Kurama makin kikuk. "Mata merahnya memang mengingatkanku pada sesuatu yang dimiliki Paradox, tapi sepertinya tidak ada yang istimewa selain dia adalah satu dari sedikit Wivereslavia yang masih hidup dan...dia adalah naga pertama yang dimiliki Draco P era ini" jelasnya singkat.

Aku mendecih. Jadi benar ternyata. Kurama bukan Paradox.

Atau penyamarannya terlampau sempurna ?

Atau dia masih belum mau mengakui, walau sebenarnya dia adalah Paradox ?

Atau ada sesuatu yang membuatnya harus menyamar seperti ini sedemikian lama ?

Atau apa ? Atau apa ?

"Naruto, disini kau rupanya" sebuah suara mengejutkanku.

"Sasuke !"

"Ada yang tidak beres" katanya serius. Dia menunjukkan sebuah buku bersampul emas pada kami. Buku mengenai Etatheon.

Syukurlah, batinku. Setidaknya mungkin info tentang Paradox ada disitu.

"Halaman yang menjelaskan Paradox, Ortodox, dan Droconos, hilang" lapor Sasuke, langsung membuat kami bertiga terkejut.

"HILANG ?!" Seru Oedipus, mulai frustasi. Ia langsung merebut buku itu dari Sasuke dan membuka-buka halamannya. "Dasar" geramnya begitu mengetahui perkataan Sasuke benar.

"Kurasa kita harus mencari lengkapnya di Buku Bingo. Itu yang terlengkap" cetus Sasuke. Aku menggeleng.

"Sama saja. Hanya saja di buku itu halaman yang dirobek hanya tentang Paradox" jelasku.

Sasuke tampak berpikir sekarang. "Kemungkinan besar orang yang merobek halaman terpenting dari dua buku ini adalah orang yang sama".

.

"Tuan Oedipus ! Tuan Oedipus !" Mendadak sebuah suara serak-serak basah terdengar di lorong. Dua ekor Harpy terbang menemui kami dengan panik. Agak mengejutkanku, karena sempat kukira para Harpy tidak bisa bicara.

"Apa lagi sekarang ?!" Gusar naga gading itu. Sepertinya ia pasrah jika lebih banyak lagi halaman penting di koleksi bukunya dirobek lagi.

"Shinjuu !" Seru Harpy pertama.

"Ada apa dengan Shinjuu ?!" Kini Oedipus mulai panik sekaligus murka. Aku, Sasuke, dan Kurama beringsut sedikit ke belakang. Naga itu tampak mengerikan kalau sedang marah.

"Shinjuu hidup !" Seru Harpy kedua. Oedipus berangsur tenang.

"Begitu" tanggapnya pendek. Ia menoleh ke arah kami. "Kalian bertiga, ikut aku" titahnya.

Kami sampai di depan sebuah ruangan. Ruangan yang berpintu raksasa berbentuk mengerucut liuk ke atas seperti sebuah pintu masuk masjid. Kusennya dilapisi perunggu tebal seluruhnya dan pintu itu sendiri berlapis emas, yang entah berapa karat. Ukiran aneh timbul di kedua daun pintu yang simetris, yang menurut perkiraanku mirip ukiran sebuah pohon.

Eits, itu tidak menjelaskan semua yang kami lihat.

Ladon. Berjaga tepat di depannya.

Terserah apa yang kaubayangkan begitu mendengar kata 'naga berkepala seratus'. Apapun bayanganmu, itu masih kurang menakutkan.

Apa yang kami lihat adalah sosok raksasa dengan empat kaki bercakar dan sebuah ekor seperti tambang di belakangnya, dan tentu saja –SERATUS KEPALA DAN LEHER berada di depannya, saling bergelung dan membelit sampai-sampai aku sempat mengira itu hanya semangkuk besar mi ramen raksasa yang tumpah. Apa boleh buat, kepala dan lehernya lebih mirip gulungan mi daripada naga ! Seratus kepala mendengkur, mereka sedang tidur.

"Ladon !" Seru Oedipus dengan suara menggelengar.

Seratus kepala bangkit dan berdesis, menjulurkan lidah bercabang mereka, membaui udara. Dua ratus mata membuka, dan puluhan kepala sudah membuka mulut, menampakkan puluhan (atau ribuan) gigi setajam silet di mulut yang mengerikan, menguarkan bau busuk racun ke udara di sekitar kami. Pemandangan mengerikan seperti seratus ular piton mematikan digabung jadi satu dengan tubuh gajah dan ekor buaya raksasa.

"Kalian aman selama bersamaku" Oedipus menenangkan kami. Ia berdesis lalu maju, berusaha berkomunikasi dengan 'rekan'nya itu.

Aku tidak dapat membayangkan sesulit apa berbicara dengan seratus kepala sekaligus. Itu akan benar-benar menyusahkan, tapi nyatanya, Ladon berhenti berdesis dan menatap kami bertiga dengan matanya yang sangat banyak, terlalu banyak bagiku untuk bisa menghitungnya. Ia menggeser tubuh dan seratus lehernya itu dengan susah payah, kemudian membelakangi kami. Seratus kepalanya langsung melengkung dan menggigit gagang gerbang. Oedipus terbang ke pucuk gerbang emas dan menggigit disana. Dua Harpy menyusul, menyentuhkan tangan mereka ke dua sisi gerbang.

Dan...gerbang itu terbuka. Jadi begitu cara membuka ruangan paling rahasia di perpustakaan ini. Seratus satu gigitan dan dua tapak tangan.

"Bersiaplah. Kalian akan melihat Shinjuu. Dia adalah nenek moyang semua pohon, penghasil Getah Erfmyst pertama, dan jika dia hidup, berarti ada sesuatu yang harus diberitahu pada seseorang. Dia terakhir kali hidup dan berbicara –tapi tidak bisa pergi dari tempatnya tertanam, enam belas tahun yang lalu, ketika Namikaze Minato datang kemari. Di dahan-dahannya-lah, apel-apel emas tumbuh" jelas Oedipus panjang lebar.

Dan kami melihatnya. Tidak sebesar yang kubayangkan, pohon itu hanya setinggi kira-kira empat meter, dan walau sudah berumur ribuan atau bahkan mungkin jutaan tahun, pohon itu masih terlihat baik. Apel-apel berwarna emas –yang memang emas, menggelantung di beberapa cabangnya. Aku yakin jika aku bisa menggigit satu saja, itu akan jadi gigitan terlezat yang pernah kurasakan seumur hidup.

Batang pohon utama itu membuka, membentuk mulut. Di atasnya, sebuah ranting timbul, membentuk hidung mancung. Kemudian, dua rongga membesar di kanan-kiri, membentuk mata. Agak menakutkan, sih.

"Uzumaki Naruto. Uchiha Sasuke. Kurama. Oedipus..." katanya dengan suara serak. Baru kali ini aku mendengar pohon bersuara. Suaranya mirip suara campuran antara kakek-kakek dan nenek-nenek. Mengerikan tapi menenangkan. Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ow, aku kagum dia mampu mengenali kami.

"Bagaimana kau mengenali kami, Shinjuu Yang Agung ?" Sasuke mendadak angkat bicara. Kurasa si Shinjuu ini juga sudah dicantumkan di Tablet Batu Uchiha.

"Kalian ada dalam ramalan Artemis Terantai..." jawab Sang Shinjuu. Sasuke mengangguk pelan.

"Uzumaki Naruto..." katanya padaku. Entah kenapa bulu kudukku berdiri. Seperti, kau tahu, seorang hantu bicara langsung padamu !

Shinjuu menggoyang-goyang cabang-cabangnya, membuat apel-apel emas itu bergoyang berirama. Daun-daunnya bergemerisik bagai ditiup angin, dan akar-akarnya menjulur mencakar-cakar udara, lalu dari mulutnya, dia melantunkan sebuah prosa yang berbunyi:

'Pergilah menuju Artemis Terantai di Negeri Salju...'

'Lanjutlah ke Palomar untuk pemandangan yang akan terjadi...'

'Begitu, dan engkau akan tahu apa yang harus diperbuat...'

'Dia telah kembali, dan benarlah Dia telah kembali...'

'Sesungguhnya bersama kesulitan akan datang kemudahan...'

'Dan milikmulah Pedang Rikudo saat ini...'

"Ramalan klasik Shinjuu" cetus Oedipus. Setelah mengatakan itu, pohon itu kembali ke wujud sebelumnya. Mati tanpa bisa berbicara sepatah katapun.

"Hanya itu ?" Sergahku. Oedipus mengangguk.

"Aku bisa mengingatnya" katanya, lalu dia berjalan ke sebuah peti. Ia membukanya dengan cakarnya dan menyerahkan...sebuah pedang padaku.

Pedang itu tampak sederhana saja, gagangnya dilapisi perban karet berwarna merah tua sehingga nyaman digenggam. Sarungnya berwarna hitam mengkilat dengan beberapa tonjolan bulat berwarna keemasan. Samar tapi tetap terlihat, garis-garis berwarna ungu dengan pola seperti kulit harimau juga tampak di sarungnya. "Peganglah" ucap Oedipus padaku.

Pedang itu lumayan panjang –sekitar 120 cm total panjangnya dari ujung sarung hingga ujung gagang, dan begitu kutarik mata pedang dari sarungnya, tampaklah warna aslinya –putih keperakan, sedikit abu-abu. Meski tampaknya sudah sangat tua, mata pedang ini masih berkilat bersih sempurna, sehingga aku bahkan bisa melihat pantulan wajahku.

"Pedang ini milik Ootsutsuki Hagaromo" jelas Oedipus. Ah, aku tentu tidak tahu siapa dia. Tapi...Ootsutsuki ? Apa dia berasal dari klan yang sama dengan si penulis Sastra Paradox, Ootsutsuki Ashura ?

"Ingin tahu siapa dia ?" Oedipus memancingku.

"Kalau itu penting, baiklah" jawabku sekenanya.

"Kau benar-benar kurang pengetahuan, Dobe" sindir Sasuke.

"Ootsutsuki Hagaromo, dikenal juga sebagai Biksu Enam Jalur. Rikudo Sennin" Oedipus memulai penjelasan. Aku mulai merasa terang (dalam arti harfiah). Aku sudah pernah mendengar nama itu.

"Dia-lah Dracovetth pertama, orang yang mengajarkan Ninshuu. Ajarannya lama kelamaan disebut Ninjutsu. Dia memiliki dan menguasai Rinnegan, Dojutsu terkuat sepanjang masa. Dia mempunyai kuasa untuk memanipulasi lima elemen chakra alam utama, air, bumi, api, petir, dan angin, serta dua elemen Yin-Yang, Myoton dan Omyoton. Dia mampu membuat sesuatu dari ketiadaan. Itulah kekuatan terbesarnya. Dengan kekuatan itulah beliau membuat Tujuh Berlian Paradox. Beliau sendiri adalah putra dari manusia pertama yang memiliki chakra, sang ibunda Ootsutsuki Kaguya, yang mendapatkan chakra langsung dari bentuk asli Shinjuu" jelasnya.

"Bentuk asli Shinjuu ?" Aku membeo.

"Ya. Ini hanya pecahan kecil dari Shinjuu" sambung Sasuke. "Shinjuu yang sebenarnya adalah makhluk hidup terbesar di Bumi, tingginya mencapai beberapa kilometer dengan akar yang terentang bisa sampai seperempat wilayah total Hi no Kuni" jelasnya.

"Lalu ada apa dengan Shinjuu ini ?" Aku mulai penasaran.

"Ootsutsuki Hagaromo, atau Rikudo Sennin, memiliki dua anak. Anak sulungnya bernama Ootsutsuki Indra, mewarisi Dojutsu Rikudo. Anak bungsunya bernama Ootsutsuki Ashura, mewarisi Ninjutsu Rikudo" terang Oedipus.

"Lalu ?" Semburku.

Oedipus menggeleng. "Aku saja diberitahu Paradox sendiri. Hanya sampai situ. Kemungkinan seratus persen Paradox mengetahui lebih jauh, tapi dia tidak mau membertahuku lebih jauh dari ini" katanya.

"Di Tablet Batu Uchiha sendiri, yang bisa menafsirkan paling lengkap sejauh ini hanya kakakku, Uchiha Itachi, dan Uchiha Shisui, teman kakakku" tambah Sasuke. "Kita memang hanya mengetahui sampai situ, tapi jelas Madara yang sudah menguasai Mangekyo Sharingan Abadi mengetahui lebih banyak" lanjutnya.

"Oedipus" panggilku. Dia menoleh.

"Apa disini tidak ada tafsiran dari Tablet Batu Uchiha ?" Tanyaku iseng.

"Tentu tidak" jawabnya cepat. "Naruto-sama. Pedang ini adalah yang dikatakan Shinjuu itu barusan".

"Jadi ?"

"Kau-lah satu-satunya orang yang berhak atas pedang ini. Sesuai yang dikatakan Sang Shinjuu, kurasa kau memang penerus nama Draco P, karena itulah, kelak ketika kau menemukan Dia, tunjukkan pedang ini sebagai bukti. Pedang Rikudo ini adalah salah satu dari Tujuh Senjata Rikudo dan salah satu dari empat pedang paling kuat" jelasnya.

"Jangan imbuhi kata-katamu dengan 'kelak'" ucapku. "Membuatku pesimis saja !"

"Hehe, maaf".

"Ngomong-ngomong, tiga pedang terkuat itu apa saja ?" Tanyaku.

"Pedang Rikudo" jawab Sasuke. "Serta Pedang Kusanagi milik Orochimaru" sambungnya. "Dan Pedang Totsuka no Tsurugi yang berada di Susano'o milik Itachi" katanya rinci.

"Kurang satu" timpal Oedipus.

"Memang" jawab Sasuke. "Karena yang satu aku tidak tahu apa" tambahnya kalem.

Ternyata ada juga yang dia tidak tahu, pikirku.

"Uliran Samsara" jelas Oedipus. "Konon lebih tampak seperti bor daripada pedang. Pedang yang dapat menghancurkan apapun".

"Dan dimana Uliran Samsara itu berada ?" Tanyaku.

Oedipus menggeleng. "Tidak tahu. Mungkin pemiliknya adalah Paradox itu sendiri. Dan ada legenda yang mengatakan, bahwa Uliran Samsara adalah pedang yang tidak dapat ditemukan, sekeras apapun seseorang mencarinya. Hampir sama dengan Pedang Totsuka no Tsurugi, bedanya, kita sudah tahu dimana pedang itu berada. Tapi Uliran Samsara, masih misteri" jelas Oedipus. Dua detik kemudian, dia terbatuk-batuk. Suaranya tidak terlalu berbeda dengan suara batuk manusia.

"Tuan Oedipus sudah lama sekali tidak bicara sebanyak ini" kata salah satu Harpy tiba-tiba. "Mau saya ambilkan minum ? Biar si Ladon yang menjelaskan detilnya saja" tawarnya.

Oedipus mengangguk. "Boleh" katanya. Ia mencomot sedikit Getah Erfmyst yang menetes dari batang Shinjuu, lalu beringsut mendekati Ladon yang menunggu di luar.

"Oh, tidak !" Seruku. "Yang benar saja ! Kau ingin kami bingung karena bicara dengan seratus mulut ?!"

"Haha, tenang" ucap Oedipus. "Hanya beberapa yang kusuapi".

"Jangan terlalu dekat ke Ladon nanti, Naruto" Sasuke memperingatkan. "Kecuali indera penciumanmu tidak berfungsi. Napasnya bau bukan main".

"Aku akan memanggil teman-teman kalian" kata Harpy yang satunya.

"Kecuali Orochimaru dan Kabuto. Jangan ganggu mereka" tambahku.

.

.

Beberapa menit kemudian, kami sudah berhadapan dengan Ladon bersama Kakashi-sensei, Jiraya-sensei, Sakura, dan lainnya. Aku menyikut Kurama. "Biasanya kau cerewet. Kenapa dari tadi diam saja ?" Tanyaku curiga.

Kurama menggeleng. "Aku lapar, Naruto. Dan aku sudah bilang tadi, penciuman, pengelihatan, dan pendengaranku bertambah tajam kalau aku lapar. Bau napas seratus kepala itu seperti seratus tong belerang dan telur busuk jadi satu !" Gerutunya tertahan. "Bagaimana aku mengoceh, kalau mulutku ini dari tadi kugunakan untuk bernapas menggantikan hidung !"

Aku terkekeh. Aku setuju mengenai bau napas Ladon. Seharusnya Oedipus memasang pengharum nafas di setiap kepalanya. Tapi memasang seratus pengharum mulut atau seratus kali sikat gigi, pasti mahal.

"Jadi" kata kepala pertama (atau terserah kau mau menyebutnya kepala keberapa) mengawali pembicaraan. "Apa yang kalian tanyakan ?"

"Langkah kami selanjutnya" Sasuke memulai pembicaraan. Kurasa indera penciumannya tidak berfungsi dengan baik. Pasalnya, aku saja sudah tutup hidung bersama teman-temanku yang lain –kecuali Kakashi-sensei, tentunya !

"Mudah" sahut kepala yang lain.

"Kalian pergilah ke Yukigakure, Negeri Salju. Beberapa puluh kilometer dari sini. Pergilah ke tempat bernama Observatorium Palomar di puncak Gunung Baekdu. Temui astronom bernama Yuki dan Sai disana, dan bertanyalah tentang siklus matahari dan bulan" jawab kepala yang lain.

"Apa maksudmu ? Gerhana ?" Tanya Kakashi-sensei.

"Bravo ! Si Masker ini pintar juga rupanya" celetuk kepala yang tadi pertama bicara.

"Tanyalah mengenai gerhana bulan dan matahari, kapan waktu terdekatnya. Bilang saja kalau itu adalah perintah Shinjuu. Tapi sebelum ke Observatorium Palomar, terlebih dahulu pergilah ke Artemis Terantai. Jarak dua tempat itu tidak terlalu jauh, tenang saja" timpal kepala yang lain.

"Sebaiknya kalian segera pergi" tabrak kepala yang lain.

"Kenapa ?" Tanya Sakura curiga.

"Karena aku..." jawab kepala pertama –tapi langsung dipotong oleh suara yang lain.

"Kami" koreksi kepala di sebelahnya.

"Oke. Karena kami khawatir 'waktu' itu tiba lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya" lanjut kepala pertama.

"Husshh, apa-apaan, gadis ini bertanya padaku !" Gerutu kepala diatasnya.

"Salah sendiri ketinggalan menjawab" balas kepala pertama acuh.

"Yang kalian bicarakan salah. Si cantik ini dari tadi bermaksud bicara denganku, kok" kilah kepala yang lain.

"Egois amat kau ini, kita ini satu, bodoh !" Seru kepala di bawahnya.

"Sudah kubilang dia bicara padaku !"

Jiraya-sensei menepuk dahi. Shikamaru menghela nafas dengan gerutuannya yang biasa. Sakura...menutup hidung, karena makin banyak kepala itu mengoceh, makin bau pula napas mereka.

"Untung seribu untung Oedipus tidak memberi semua kepala itu Getah Erfmyst" celetuk Harpy –yang entah sejak kapan salah satu dari mereka sudah hinggap di bahuku. Aku mengangguk setuju sambil tertawa geli.

"Ladon tidak seganas kelihatannya ternyata" celetukku.

"Memang" jawab Harpy. "Kau hanya belum lihat kalau dia berhadapan dengan manusia dengan kegelapan hati, buasnya bukan main. Tidak ada yang bisa menghindari serangan seratus kepala kecuali ayahmu yang punya Shunshin itu" lanjutnya.

Manusia dengan kegelapan hati ? Pikirku. Berarti Kurama salah. Karena tadi Kurama mengatakan bahwa ada sisi gelap pada Sakura, tapi nyatanya ? Para Ladon itu begitu menikmati mengoceh di depan Sakura –yang terus-menerus menahan napas. Kalau dia benar-benar punya sisi gelap, entah apa yang terjadi.

"Kalian tidak biasanya" celetuk Oedipus yang baru datang dari gerbang –dengan jenggot dan kumis basah. Mungkin dia baru minum. "Sebaiknya kalian bergegas, Naruto-sama. Ladon benar, kita masih belum tahu kapan itu terjadi. Tapi kurasa dan aku yakin, kalian harus pergi ke Observatorium Palomar sebelum hari Sabtu. Dan soal 'Dia' yang kembali, mungkin bisa bermakna ambigu" nasihatnya.

Aku mengangguk. "Hari Sabtu masih empat hari lagi. Ayo teman-teman" kataku, dan semua mengangguk kecuali...Jiraya-sensei.

"Anu...Oedipus...bisakah aku meminjam beberapa buku ? Aku janji takkan merusakkannya !" Serunya.

Aku menepuk dahi. "Dasar Ero Sennin !" Seruku. "Apa gunanya buku-buku cabul seperti itu, hah !" Semburku. "Kalau buku-buku seperti itu bisa memicu Paradox untuk mendatangi kita, pasti sudah kusuruh kau mengambil sepuluh rak !"

Sepuluh kepala Ladon terkekeh, diiringi desisan lucu sembilan puluh kepala lainnya. Oedipus bahkan turut tertawa geli bersama beberapa temanku kecuali Sasuke yang tetap stay cool.

"Sudah bertahun-tahun aku tidak tertawa" kata salah satu kepala Ladon.

"Iya, benar. Menyenangkan rasanya" timpal yang lain.

Aku kira Oedipus akan menasihati Jiraya-sensei habis-habisan, tapi dia justru...

"Silakan" katanya datar, membuat Ero Sennin itu langsung kegirangan. Moga-moga dia tidak nosebleed di perjalanan nanti.

"Dengan satu syarat" sambung Oedipus.

"Apa itu ?" Serbu Jiraya-sensei penasaran.

"Kudengar kau suka mengintip ke pemandian air panas atau baca buku macam itu untuk inspirasi novelmu yang terkenal itu kan ? Nah, silakan bawa lima buku yang menurutmu paling bagus, dan sebagai gantinya berilah perpustakaan ini lima serial Icha-Icha Paradise terbaru milikmu. Kau harus menulis setidaknya lima buku baru begitu semua kekacauan ini berakhir, dan setorkan ke kami" tantang Oedipus.

Jiraya-sensei mendekat dan menyalami tiga jari berikut cakar Ivory Dragon itu. Mereka sepakat. Untuk hal yang menurutku menjijikan. Oedipus mendekati Shinjuu dan memetik sebuah apel emas. Yang paling kecil.

"Ini" dia menyerahkannya padaku. "Siapa tahu berguna di perjalanan".

"Hanya satu ?" Kataku setengah memrotes. "Yang paling kecil pula !"

Oedipus terkekeh. "Justru itu. Aku tidak tahu sebesar apa pengaruh apel yang sudah matang. Yang kecil saja sudah cukup, kok".

Aku mengangguk pasrah dan menyimpan buah mewah itu ke tas gendong belakangku, bersama dengan kunai dan shuriken.


"Orochimaru-sama, Anda tidak ikut ?" Tanya Kakashi-sensei.

"Ikut ? Pulang ?" Selidik Orochimaru. Kakashi-sensei mengangguk.

"Lekaslah".

Orochimaru tertawa terbahak-bahak, sedangkan Kabuto yang berada tak jauh dari mereka hanya diam saja, masih sibuk menekuni buku-buku setebal bantal.

"Ini rumahku sekarang, Kakashi" jawab Orochimaru.

"Kau gila ! Ayo pergi ! Lagipula kita sudah tahu dimana Perpustakaan Alexandriana berada, kalian bisa kesini kapanpun kalian mau" dukung Jiraya-sensei sambil menenteng sekresek besar buku yang menurutku berlabel delapan belas ke atas.

"Kau bercanda ? Aku menghabiskan seumur hidup untuk mencari tempat ini, aku tidak akan meninggalkannya semudah itu !" Orochimaru masih bersikeras.

"Kau mau Manda menunggu di luar sampai kau mati ?" Cetus Shikamaru.

"Soal Manda, dia bisa meng-Kuchiyose dirinya ke Ryuuchidou kapan saja, tidak ada masalah" Kabuto akhirnya ikut bicara.

Aku menghela nafas tak sabar. "Sudahlah, biarkan mereka berdua" kataku.

"Tuh kan ?" Timpal Orochimaru. "Naruto saja mengerti kami".

"Tapi Naru..."

"Kita harus bergegas ! Aku akan menemukan Paradox secepatnya agar bisa langsung memarahinya kenapa dia tidak muncul dari dulu di hadapanku" kataku ketus kemudian langsung memanjat tali.

Semua mengikutiku, kecuali Kurama yang bingung.

"Orochimaru, bisa pinjam Kusanagi-nya sebentar ?" Tanyanya ragu. "Aku tidak bisa keluar".

"Kenapa tidak bilang ?" Celetuk Oedipus. Ia menggeser sebuah tuas, yang kemudian memperlebar jendela zamrud di atas sehingga cukup untuk dilewati Kurama

"Terimakasih, Oedipus !" Ucapnya singkat lalu terbang menyusul kami.

.

.

Aku memanjat cepat salah satu tiang batu cadas tertinggi yang bisa kulihat. Memandang ke Utara, tempat tujuan kami selanjutnya. Aku memang pada awalnya memandang lurus dan fokus ke cakrawala, tapi lama-lama padangan mataku kosong seperti orang sinting. Dan hanya satu orang yang mengetahuinya.

"Naruto ?" Panggilnya.

Aku bergeming.

"Kau baik-baik saja kan ?" Dia menjejeriku.

"Tidak, aku tidak baik-baik saja" jawabku ketus.

Hening sesaat.

"Kau pasti bisa menemukannya. Itu hanya butuh waktu untuk terjadi" dia memegang pundakku.

"Ini tidak semudah kelihatannya atau kedengarannya, Hinata !" Balasku.

"Memang tidak ada yang bilang ini mudah" timpalnya, sependapat. "Tapi untuk menemukan sesuatu yang sangat berharga, dibutuhkan usaha yang luar biasa pula" simpulnya.

"Ini berbeda" aku bersikeras. "Paradox itu makhluk hidup ! Dia seekor naga ! Dia punya sayap, punya kaki. Dia bisa terbang, berlari, dan berenang ! Kenapa harus aku yang mencarinya ?! Sungguh, kadang aku yakin bahwa dia mungkin tidak sebijaksana atau sebersahaja yang sering digambarkan orang-orang !"

"Hei, sedang apa kalian disitu ?" Celetuk Kurama yang sudah mengudara. "Ayo cepat".


Rhea Great Cave

Kusagakure, The Village of Grass

Gua Besar Rhea. Tempat paling rahasia di Bumi. Berada tepat melintangi garis khatulistiwa. Sebuah pohon Sequoia raksasa setinggi seratus meter tumbuh tepat diatas gua –yang sebenarnya tidak begitu besar itu. Gua yang aneh, karena berada tepat di tengah padang rumput seluas mata memandang.

Dan rumah bagi makhluk hidup yang tidak pernah bisa ditemukan.

"Bersiaplah" sebuah suara –yang terdengar seperti suara laki-laki, menggema di gua. "Ini saatnya. Kau temui mereka dan katakan, aku disini".

"Kenapa bukan engkau sendiri yang menemui mereka ?" Balas suara –yang terdengar seperti suara perempuan- itu kalem.

"Apa harus kujelaskan ?" Balas suara laki-laki. "Aku tidak boleh terlihat, kan".

Ruangan itu sangat minim penerangan, namun sang pemilik suara bisa melihat si perempuan mengangguk. Ia menggulung rambutnya, menutupinya dengan sebuah syal, lantas mengikatkan sebuah perkamen berukuran sedang di pinggang belakangnya.

"Dimana mereka sekarang ?" Tanyanya.

"Tsuchi no Kuni bagian Utara" jawab suara laki-laki. "Mungkin langsung saja kau sambut mereka di Yukigakure, Kori no Kuni. Jangan lupa bawa baju hangat".

Si perempuan mengangguk lagi.

"Aku berangkat".

"Tunggu dulu" cegah suara laki-laki itu. "Bawa ini sebagai bukti bahwa aku memang aku" katanya sambil menyerahkan pada gadis itu sebuah senjata tajam bermata tiga. Hiraishin Kunai.

"Kunai khusus milik ayahnya" terangnya. "Sudah enam belas tahun lebih aku menyimpannya".

"Terimakasih" balas si gadis. "Aku akan kembali secepatnya, bersama mereka".

Sosok bersuara laki-laki itu mengangguk, membiarkan kumis dan janggutnya bergoyang seirama anggukannya, dan matanya melekat pada sang gadis sampai dia hilang dari pandangan.

.

.

Suara langkah kaki di belakangnya terdengar makin keras.

"Sudah dapat ?" Selidik suara laki-laki itu tanpa menoleh.

"Iya" balas suara laki-laki lain di belakangnya.

"Aku memang tidak pernah salah. Kau bisa diandalkan" puji suara pertama.

"Rasanya tidak biasanya Anda memuji" timpal suara kedua di belakangnya.

"Hmm.."

"Mungkin aku akan lebih sering memuji beberapa hari kedepan ini".

.

.

.


"Aku mau yang berwarna orange !" Seruku sambil menuding sebuah mantel bulu berwarna jingga cerah.

"Matching sekali dong dengan Kurama" celetuk Ino. Aku memutar bola mata malas.

"Terserahlah".

"Jadi...semua sudah dapat ?" Kakashi-sensei memastikan.

Kini penampilan luar kami berubah drastis. Untunglah di blokade Tsuchi no Kuni dengan Kori no Kuni terdapat sebuah desa kecil dengan beberapa bar dan kafe yang senantiasa mengepulkan asap, tempat makan siang dengan makanan penuh kandungan daging, dan yang paling kami perhatikan, toko baju hangat.

Sasuke mengenakan jaket tebal hitam dengan banyak kantung berkancing. Sakura dengan mantel merah jambunya –yang sudah ada di ransel yang selalu dibawanya kemana-mana, Jiraya-sensei dengan jaket lebar dan besar berwarna merah tua, Hinata dengan jaket tipis berwarna nila. Lee, seperti biasa, memilih mantel berwarna hijau tua. Kiba justru mendapat semacam jubah berwarna abu-abu dengan kerah tinggi. Ino memilih jaket tebal dengan warna ungu, Shikamaru membeli jaket berwarna putih kehijauan dan Chouji dengan mantel tebal berwarna merah. Kakashi-sensei ? Cukup dengan syal hijau tua dan sarung tangan tambahan serta topi tebal.

"Perjalanan sepanjang Kori no Kuni barangkali yang terberat, bukan hanya bagi kita melainkan naga-naga kita juga" Kakashi-sensei memperingatkan selagi kami minum di sebuah kafe sebelum bersiap berangkat.

Sasuke mengangguk menimpali. "Tujuh puluh persen dari semua spesies naga adalah poikiloterm. Berdarah dingin. Mereka tidak tahan dengan udara yang terlampau dingin. Padahal suhu rata-rata tahunan di Kori no Kuni dapat mencapai minus sepuluh derajat Celcius. Ujung paling Utara bahkan mencapai minus tiga puluh lima derajat Celcius. Kita tidak tahu pasti dimana Observatorium Palomar yang dimaksud Ladon" katanya panjang lebar.

"Itu artinya di Kori no Kuni akan sangat sedikit naga yang kita temui ?" Tanyaku.

Shikamaru menggeleng. "Beberapa naga dikenal sebagai prajurit es" jelasnya pendek. "Di Utara, mereka tidak menyemburkan api, lava, atau sinar radioaktif. Mereka menyemburkan es, membuat sasarannya membeku. Dalam kondisi ini, Kurama akan sangat berguna, Naruto. Jika dia bisa menghanguskan sepuluh naga berkulit baja sekaligus dalam satu semburan, dia harus jadi naga terdepan dalam formasi" cetusnya sambil menghirup moccacino-nya.

"Tenang saja. Aku tahu dimana Observatorium Palomar berada" celetuk Hinata. Semua mata memandang ke arahnya. "Hyuuga Neji bekerja disana. Dia astronom juga. Sekaligus...kakakku" ceritanya pendek.

"Baguslah" Kakashi-sensei menanggapi. "Jadi, Kurama dan Pomona-mu akan terbang berdampingan saat kita menuju observatorium. Tapi apakah disini ada yang tahu dimana Artemis berada ? Kita harus kesana terlebih dahulu sebelum ke observatorium".

"Aku pernah bertemu dia" kata Sasuke cepat.

"Bagus. Jika demikian, semuanya lengkap. Lekas habiskan kopi kalian dan kita berangkat".

Pertama kali aku memulai perjalanan, semua yang berada dibawah kami berwarna hijau. Kemudian kontan berganti menjadi warna kekuningan dan sedikit cokelat. Kemudian berganti lagi dengan abu-abu khas batu dan cokelat gelap serta hitam. Dan sekarang, apa yang ada dibawah kami berwarna putih. Daun, pasir, batu, serta salju dan es. Hanya dalam waktu kurang dari sebulan saja aku sudah merasakan iklim dari hampir empat negeri berbeda di planet ini. Basah dan tropisnya Hi no Kuni, panas dan beranginnya Kaze no Kuni, kering dan sejuknya Tsuchi no Kuni, dan sekarang, semua itu terasa dingin dan kering.

Mendung terus menghiasi langit, menghujani kami dengan kepingan-kepingan salju.

"Kau tahu, Naruto ? Pantas juga kalau Paradox tinggal di lingkungan seperti ini. Dia kan seperti cermin, jadi mestinya berwarna putih. Menurutku dia cocok ditemukan disini" celetuk Kurama tiba-tiba. Aku mengangguk malas. Aku tahu Kurama hanya berusaha menghiburku.

Atau dia berencana pura-pura menghilang disini dan kembali dalam wujud Paradox ? Hmm, memikirkan segala kemungkinan itu masih ada, perlahan semangatku tumbuh lagi. Tidak peduli siapa dia, Kurama benar. Tidak ada gunanya berputus asa.

.

.

Malam pun tiba. Kami semua berhenti di sebuah gua raksasa karena malam jauh lebih dingin daripada siang, dan semua naga kami (termasuk Kurama dan Gorongosa) tepar. Api unggun terus menjilat-jilat udara, berusaha membakar sebanyak mungkin oksigen di sekitarnya sebelum sempat terpadamkan oleh angin dingin yang membawa kepingan salju –yang notabenenya adalah air berbentuk setengah padat.

"Naruto" panggil Jiraya-sensei. Ia mengibaskan tangannya, menyuruhku mendekat.

"Kau kurang variasi jutsu, tahu kan ?" Katanya begitu aku berada di dekatnya, duduk bersila berhadapan dengannya. Aku mengangguk.

"Akhir-akhir ini aku juga merasa begitu. Shunshin dari kunai ayahku memang sangat cepat dan itu hebat, serta Kagebunshin no Jutsu juga sangat bermanfaat. Plus aku sudah menguasai tiga elemen dasar yang kumiliki. Tapi rasanya masih saja kurang" ceritaku.

Jiraya-sensei mengangguk-angguk mengerti.

"Sepertinya sudah saatnya untuk bercerita" katanya.


Flashback

(Normal POV)

"Murid baru itu sudah tiba disini, ayah" lapor seorang siswa akademi berambut hitam pendek dengan batang lidi yang senantiasa terselip di mulutnya.

"Oh, yang dari Uzushiogakure itu, ya ?" Balas sang ayah. Murid –yang sekaligus putranya itu, mengangguk.

TENG ! TENG ! TENG !

"Baiklah, segeralah masuk kelas, Asuma" titah ayahnya sambil memeriksa dokumen siswa baru itu.

Beberapa menit kemudian, ayah Asuma –alias Sarutobi Hiruzen, masuk ke kelas anaknya sambil menggandeng seorang siswa perempuan berambut merah panjang berpipi sedikit tembem.

Obrolan siswa kian mereda begitu dua orang itu masuk, dan berganti menjadi bisikan. Topiknya...siapa lagi kalau bukan siswa baru itu.

"Selamat pagi, anak-anak".

"Selamat pagi, Hiruzen-sensei !"

"Hari ini kalian kedatangan murid baru dari Uzushiogakure, Desa Pusaran Air. Uzushiogakure bersahabat sejak zaman pemerintahan Shodime Hokage dengan Konohagakure, jadi sensei harap kalian bisa menerima dia dengan baik ! Nak, silakan pilih tempat duduk. Karena ini baru hari kedua kalian masuk ke akademi, jadi Nak, silakan perkenalkan dirimu nanti bersama siswa-siswi yang lain yang hendak menyebutkan cita-cita mere..."

"Hiruzen-sensei ! Tobirama-sama memanggil Anda !" Sebuah suara terdengar dari luar. Sang guru akhirnya pergi meninggalkan kelasnya untuk sementara.

Ya, untuk sementara. Dan sementara itu...

"Hei, aku belum pernah melihat rambut merah sepanjang ini !"

"Ini asli atau palsu sih ?"

"Ya, dan begitu terang pula. Sepertinya dia penantang matahari, hahaha !"

"Hei bocah, kalau kau berhadapan dengan seekor naga, dia pasti langsung lari karena mengira rambutmu itu api !"

"Iya, itu be..."

BUK

"TERUS SAJA MENGEJEK !" Pekik gadis berambut merah itu sambil terus menubruk siapapun yang mulutnya barusan menyinggungnya. Baku hantam yang tidak seimbang terjadi.

PLAK

"Aduh !"

"Gadis ini kuat juga !"

"Rasakan ini !"

"Toloonngg !"

BUK

.

Sementara, siswa laki-laki berambut durian di pojok depan kelas hanya menyaksikan kejadian itu sambil tertawa kecil.

"APA YANG LUCU ?!" Hardik gadis berambut merah itu begitu menyadari dirinya ditertawakan. Dan itu sukses besar membuat laki-laki itu bungkam.

Akhirnya, Hiruzen-sensei masuk kembali ke kelas, dan beliau mempersilakan tiap siswa untuk maju ke depan memperkenalkan diri dan cita-cita mereka. Sampai tiba giliran si gadis berambut merah...

.

"Namaku Uzumaki Kushina dari Uzushiogakure. Cita-citaku...umm..."

"...cita-citaku...cita-citaku ingin jadi Hokage perempuan pertama !" Serunya lantang.

.

"Namaku Namikaze Minato. Cita-citaku, aku ingin jadi Hokage yang dicintai dan diakui penduduk desa !"

.

Cih, bisa apa laki-laki lemah seperti dia ? Hokage jelas nyaris mustahil, huh, gerutu Kushina dalam hati.

.

.

.


"Tapi nyatanya ayah jadi Hokage, kan ?" Tabrakku tak sabar. Jiraya-sensei mengangguk.

"Sebuah kejadian akhirnya mengubah pandangan Kushina pada ayahmu" kata Jiraya-sensei misterius. Aku makin penasaran.

"Tidak ada yang menganggap rambut merah ibumu sesuatu yang spesial...kecuali...Minato, tentunya" candanya. "Minato diam-diam selalu memperhatikan Kushina. Dialah satu-satunya gadis berambut merah di akademi, dan Minato merupakan siswa yang cerdas dan unggul. Ketika mereka beranjak remaja, banyak sekali siswa putri yang naksir Minato, setahuku. Tapi dia tidak tertarik pada siapapun kecuali Kushina".

"Sampai ketika Kushina diculik oleh utusan sebuah organisasi, Minato mengikutinya diam-diam. Kenapa bisa ? Sebab Kushina diam-diam juga mencabut beberapa helai rambut merahnya sepanjang perjalanan dan Minato-lah satu-satunya yang melihatnya. Dia menghabisi kedua penculik itu dan menyelamatkan Kushina. Sejak saat itulah ibumu mengetahui bahwa ada satu orang yang menganggapnya spesial. Rambut merah yang sempat dibenci ibumu...akhirnya justru mendatangkan pasangan hidupnya" cerita Jiraya-sensei panjang lebar.

Aku termagu. Sikap kasar ibuku pada ayahku dulu kok mirip sikap kasar Sara ketika pertama bertemu denganku, ya ? Dia juga tak acuh seperti Sakura sekarang.

UPS, kenapa aku berpikir sampai situ ?!

"Enam belas tahun yang lalu" cetus Jiraya. Ia mendongak ke langit-langit gua, matanya menerawang jauh seakan melihat kembali kejadian masa lampau. Atau yang lebih pantas disebut.

Tragedi.

"Sesuatu menyerang Konohagakure enam belas tahun yang lalu tepat saat malam kelahiranmu, Naruto. Tragedi paling pedih sepanjang sejarah desa sampai sekarang, yang berujung pada pengorbanan kedua orangtuamu. Dua orang terhebat di desa pada masa itu" kenang Jiraya-sensei.

"Sesuatu ?" Selidikku. Aku merasa ada yang kurang jelas pada bagian itu. "Sesuatu apa ?"

"Naga, mungkin" jawab Jiraya-sensei asal-asalan. "Aku juga tidak begitu ingat. Mereka berjumlah tiga ekor ditambah puluhan jenis Pembantai Bersayap, dan semuanya sangat kuat. Minato menghabisi mereka semua tanpa sisa" katanya. Mataku berbinar. Apakah ayahku sehebat itu ?

"Kecuali satu" sambung Jiraya-sensei dengan suara tercekat.

"Satu yang pada akhirnya memaksa mereka berdua korbankan nyawa mereka demi seorang bayi yang masih merah. Dan bayi itu adalah kau".

"Ayahku adalah Draco P juga kan ?!" Semburku. "Seharusnya Paradox ada disana saat penyerangan, mustahil naga yang katanya sebijak itu tidak ada saat pengendaranya membutuhkannya ! Kenapa Paradox membiarkan pengendaranya mati ?!" Tukasku.

"Aku tidak ingat !" Balas Jiraya-sensei keras. "Sudah kubilang kan, tidak ada yang mengingat Dia lebih dari seminggu selain pengendaranya !"

"Baiklah, kembali ke topik utama" Jiraya-sensei mengalihkan pembicaraan. "Konon, Minato membuat sebuah jutsu atas eksperimen dan pengamatannya sendiri pada salah satu teknik Paradox. Pemadatan chakra...ditambah rotasi chakra...dan ketahanan dalam memanipulasi bentuk. Dia menyebutnya..."

.

.

"Rasengan".

.

Jiraya-sensei memperlihatkan tangan kanannya, kemudian mengumpulkan chakra di pusatnya, perlahan berputar dan membentuk sebuah bulatan berangin berwarna biru. "Ini dia" katanya singkat.

"Sekuat apa jutsu ini ?" Tanyaku sangsi. Kelihatannya memang tidak terlalu mengintimidasi. Bentuknya sederhana, hanya bulat biru dengan semburan angin. Bandingkan dengan Chidori atau Raikiri, yang menyembur-nyemburkan kilat ke segala arah.

"Hahaha, ini lebih kuat daripada Chidori milik Sasuke, Naruto !" Kata Jiraya-sensei bangga. "Minato membuat jutsu ini, dan dia mengajarkannya padaku. Untung seribu untung dia mengajarkannya padaku. Kalau tidak, kau pasti tidak mendapat jutsu hebat warisan ayahmu".

"Bisa kau ajari aku Rasengan dalam perjalanan ke Yukigakure, Jiraya-sensei ?" Pintaku.

Jiraya-sensei mengangguk senang. "Itulah gunanya aku".

Pagi tiba. Tapi masih terlalu dingin untuk bergerak. Kami menunggu sampai jarum jam menunjukkan angka delapan pagi –suhu minimum bagi para naga untuk bisa mengepakkan sayap, dan kami berangkat. Kurama dan Ingenia beberapa kali menyemburkan api dan asap tipis untuk menghangatkan kami dan terutama, para naga di belakang.

Kukira mempelajari Rasengan tidak begitu sulit, nyatanya ini mungkin salah satu jutsu tersulit dalam hidupku. Aku harus bisa memfokuskan chakra ke tangan kanan dan proporsinya harus pas, tidak terlalu banyak atau mereka akan menyebar dan menghembuskan angin ke segala arah, dan tidak terlalu sedikit sehingga tidak bisa terbentuk.

Aku menguasai tahapan permulaan ini dalam waktu seharian. Itupun karena aku memaksa. Kalau tidak, mungkin dua hari baru selesai. Untuk itu, Jiraya-sensei mampir ke sebuah toko dan membeli banyak sekali bola air. Aku berlatih dengan memegang bola di tangan kananku dan berusaha membuatnya pecah.

Pemadatan chakra sudah selesai, sekarang tinggal menambahkan rotasi. Kini, alat pengetesnya berupa bola karet berisi udara –yang ternyata jauh lebih sulit daripada bola air ! Aku harus bisa membuat bola karet itu kempes atau yang lebih bagus, meledak sepenuhnya dan memuntahkan udara di dalamnya. Aku terus memaksa hingga akhirnya berhasil menguasainya dalam waktu satu hari, juga.

Perjalanan ke Kuil Artemis tidak lama lagi akan sampai. Aku terpaksa menghentikan latihan untuk sementara untuk bertemu dengan Artemis.

"Jadi, Sasuke, Artemis itu seperti apa ? Agar aku tidak terlalu terkejut saat melihatnya nanti. Apa dia laki-laki tua ? Atau perempuan muda ? Seperti apa perawakannya ?" Tanyaku penasaran.

Sasuke mendecih. "Artemis itu naga, Naruto" jawabnya pendek.

Naga ? Aku bicara dengan naga ? Soal ramalan yang tidak jelas artinya itu ?

"Artemis adalah murid pertama Paradox" jelas Kakashi-sensei. "Dia dari bangsa Apocalypse Dragon, Naga Wahyu. Naga betina yang baik. Tapi usut punya usut, konon Paradox melihat sedikit kegelapan dalam hatinya dan menawarkan padanya apakah dia mau diisolir dari dunia ini agar tidak menyebabkan kekacauan yang besar jika kegelapan itu merajalela dalam hatinya. Karena begitu patuh dan hormatnya pada sang guru, akhirnya Artemis bersedia diisolir. Dia dirantai, dikekang, dan disegel dalam sebuah kuil di sebuah pulau kecil di tengah danau membeku" jelas Kakashi-sensei panjang lebar.

"Jadi itu sebabnya dia disebut Artemis Terantai ?" Sambung Shikamaru. Kakashi-sensei mengangguk.

"Apa dia besar ?" Tanyaku. Pertanyaan yang tidak bermutu, pikirku.

"Nanti kau lihat sendiri" jawab Sasuke tak acuh. Benar kan !

.

"Itu kuilnya" celetuk Hinata.

.

.

"Tapi maaf semuanya. Hanya Draco P, atau yang punya Sharingan atau Rinnegan saja yang bisa masuk mulai dari sini" jelas Sasuke begitu kami sampai di gerbang kuil. Shikamaru mengangguk.

"Tidak apa, kami akan menunggu disini. Naruto dan Kakashi-sensei, silakan masuk bersama Sasuke" katanya.

.

Kalau kau mengira kuil setinggi bukit itu masih berwarna seperti aslinya, alias tidak membeku, kau salah. Karena suhu disini cukup dingin, kami bahkan tidak perlu membuka pintu gerbang yang terbuat dari baja supertebal karena ada celah yang bisa dimasuki. Beberapa runtuh dan pecah menjadi kepingan karena membeku. Di langit-langit, kerucut-kerucut es berbagai ukuran menyambut kami. Beberapa stalagmit dan stalaktit bahkan bertemu di tengah, membentuk pilar es alami. Kuil ini mungkin sudah berusia ribuan tahun.

"Artemis dirantai di ruangan utama, tepat di tengah kuil" kata Sasuke. "Ayo".

Tak lama, kami akhirnya melihat...seekor naga. Dengan keadaan yang sangat menyedihkan.

Hanya sedikit dari sisik sang naga yang tidak dilapisi semacam perisai eksoskeleton. Perisai seperti rangka lobster berwarna hitam melapisi seluruh kepalanya, terus memanjang hingga ujung ekornya yang berbentuk trident. Bagian bawah tubuhnya –bawah leher, dada, perut, sampai bawah ekornya, dilapisi perisai berwarna kuning. Sisiknya sendiri terlihat sangat keras dan berwarna merah menyala. Matanya terpejam. Bibirnya dilapisi lempengan perisai kecil-kecil yang menyembunyikan gigi-giginya. Ia memiliki enam tanduk tipis tapi kuat yang semuanya mengarah ke belakang, dan sepasang tanduk dari belakang mata yang melengkung ke depan seperti tanduk Styx.

Lempengan perisai juga melindungi kaki depan dan belakang bagian atas. Bahkan semua jarinya pun berperisai, yang berujung pada tiga cakar tajam melengkung berwarna cokelat gelap. Sayap besarnya bermotif seperti akar pohon, sobek disana-sini. Rahangnya yang tampak kokoh itu dibatasi dengan sebuah borgol rahang dari baja, tersambung ke lantai kuil dengan rantai. Kedua kaki depannya terangkat ke atas, diborgol di kedua pergelangannya yang tersambung ke dinding-dinding kuil yang sangat tebal. Sayapnya pun dibelit oleh rantai, bersama dengan kaki belakangnya yang tidak bisa kemana-mana karena dirantai tersambung ke lantai, begitu pula ekornya. Leher dan pinggangnya bahkan diborgol juga.

Dan itu tidak cukup menggambarkan 'penderitaan' sang murid Paradox ini, karena semua besi yang terlihat sangat kuat itu –hampir semuanya, sudah membeku, bersama dengan tubuh naga itu sendiri yang sudah seperti mayat yang terawetkan di es. Hampir semua titik tubuhnya sudah dilapisi es tipis, membuat borgol alami yang kian membatasi pergerakannya bahkan tidak bisa bergerak samasekali.

"Lepas rantai rahangnya" celetuk Sasuke. "Itu satu-satunya cara untuk membuatnya bisa bicara".

"Lalu kita harus memasangnya lagi ?" Tanyaku.

"Terpasang otomatis begitu urusan kita selesai" jawab Sasuke cepat.

Aku meneguk ludah. Napasku berubah menjadi uap begitu keluar dari hidung. Aku berjalan mendekati naga besar ini. Ya, besar. Panjangnya menurut perkiraanku mencapai dua puluh meter. Jiraya-sensei pernah bilang bahkan Paradox lebih kecil daripada Bryptops. Jadi naga 'sekecil' itu punya murid sebesar ini ?

Aku mengeluarkan Pedang Rikudo dari sarungnya –yang sejak kemarin ada di pinggangku. Aku mengira-ngira tebasan, dan setelah yakin, kukibaskan pedang itu. Sekali tebas, rantai tebal yang melingkari rahangnya lepas.

.

.

Tidak terjadi apa-apa.

.

.

Aku menghela nafas sabar. Aku mendekat, dan meraba hidung sang naga.

"Artemis..." panggilku dengan suara bijak yang dibuat-buat.

"Ini aku. Uzumaki Naruto. Aku pengendara gurumu...Paradox. Aku Draco P...putra pertama dari Namikaze Minato..." kataku pelan.

.

"Darimana kau tahu harus berbicara seperti itu ?" Selidik Kakashi-sensei dari belakangku. Aku menggeleng tanpa menoleh.

"Entahlah. Aku merasa harus melakukannya...begitu saja".

.

Suara desisan terdengar. Asap keluar dari cakar-cakar Artemis, melelehkan beberapa lapis es tipis. Asap bahkan keluar dari sela-sela perisai punggungnya, dan berderak. Lehernya bergetar, asap keluar dari situ. Kepulan semua asap ini membuatnya jadi lebih terlihat seperti lokomotif uap daripada seekor naga yang membeku.

Aku terkejut bukan main ketika uap lain merembes cepat dari mulut Artemis. Kedua kumisnya yang membeku kini mencair dan mencambuk ke arahku, membuatku mundur dua langkah. Kelopak matanya yang setebal kulit kayu berderak membuka, memecahkan lapisan es tipis yang mengurungnya. Segera terlihat olehku, sepasang mata kuning menyala tanpa pupil. Terlihat mengerikan sampai aku mengira bahwa memang benar sisi gelap naga ini telah menguasai tubuhnya.

"Aku adalah Artemis" kata naga itu dengan suara wanita –tapi dengan volume yang mengintimidasi- bersama dengan mulutnya yang beruap.

"Murid pertama dari Sang Paradoks, penyampai pesan Sang Phoebus, pembunuh Phyton yang berkuasa" lanjutnya. "Mendekatlah pencari, dan bertanyalah..." desisnya dengan suara yang mendirikan bulu kuduk.

Pencari ? Aku merasa itu pasti aku. Kulangkahkan kaki mendekatinya. Dia menatapku dengan sepasang mata kuningnya.

Aku agak bingung. Apa yang mesti kutanyakan ya ?

.

"Apakah engkau tahu dimana Paradox, Artemis ?" Tanyaku akhirnya.

Artemis terdiam sejenak.

"Seharusnya engkau juga sudah mengetahuinya" balasnya. Aku mengernyit. "Keberadaannya diluar kekuasaanku" katanya akhirnya.

Aku menghela nafas kecewa. Mendadak, terbesit ide di kepalaku.

"Apakah naga dari spesies Wivereslavia masih ada ?" Tanyaku.

"Ya" jawab Artemis yakin. "Tapi tinggal satu dan satu-satunya. Dia jantan. Namanya Kurama. Dia ada di Kaze no Kuni" lanjutnya.

Aku tertawa dalam hati. Informasi yang diberikan Artemis agak ketinggalan rupanya. Tapi di sisi lain aku agak kecewa juga. Pasalnya, maksudku menanyakan pertanyaan itu adalah jika Artemis menjawab 'mereka sudah punah' pasti aku bisa memaksa Kurama membongkar penyamarannya karena sudah tidak ada lagi Wivereslavia yang tersisa. Tapi nyatanya...Kurama adalah satu-satunya naga dari jenisnya yang masih hidup. Ini buruk. Dia pasti akan sangat sedih kalau kuberitahu tentang ini.

Tiba-tiba aku teringat hal lain. Semoga aku masih bisa mengingat nama itu dengan baik. Aku bersiap dengan pertanyaan selanjutnya.

"Artemis, apakah engkau mengetahui siapakah Deavvara ?"

Artemis tertunduk. Kemudian bangun lagi, menatapku tajam.

"Beraninya kau menanyakan itu padaku" katanya geram. Uap mengepul dari kepalanya, dari sela-sela perisainya. Aku mundur selangkah.

Artemis menghembuskan napas panas dari dua lubang hidungnya yang dikelilingi lempengan perisai, lantas menjawab, "Dia adalah yang tidak bagus untuk dibincangkan" jawabnya pelan. "Tapi engkau akan bertemu dia" katanya, lalu kembali ke posisi tidurnya.

"Tunggu, Artemis ! Ada satu lagi yang ingin aku tanyakan !" Cegahku. Dia berhenti dan menatapku lagi.

"Apakah gurumu itu sedang dalam penyamaran atau sedang melanglang buana bebas di permukaan planet ?" Tanyaku –berusaha agar bahasaku sedikit bergaya. Aku tahu, Artemis senang mempermainkan bahasa.

"Sang Paradox sekarang sedang menyamar" jawabnya beberapa detik kemudian.

Sedang menyamar. Hanya dua kata tapi membuat darahku berdesir.

"Dalam bentuk manusia" desisnya. "Tapi tidak begitu nyata. Setelah dia memberitahukan sesuatu kepada seseorang dalam bentuk manusianya, dia akan kembali ke bentuk naganya" terangnya.

"Maafkan beta, Naruto Yang Terhormat" desisnya dengan nada menyesal, kemudian menutup mata. Rantai yang sebelumnya kutebas kembali mengikat rahangnya dan dia kembali dalam tidur abadinya di tengah besi, baja, es dan salju.

"Tidak mengapa. Terimakasih banyak, Artemis" kataku, walau tidak dijawab. Aku berbalik dan memberi isyarat ke kedua 'pengawal'ku untuk keluar.

"Kau puas dengan jawabannya ?" Selidik Sasuke. Aku menggeleng.

"Tidak terlalu, sih. Ngomong-ngomong kau pernah kemari. Apa yang kau tanyakan ?" Balasku.

"Itachi yang punya tujuan. Dia yang bertanya pada Artemis sedang aku hanya mendampinginya. Itachi bertanya dimana letak Totsuka no Tsurugi. Artemis menjawab, 'Kembangkan dulu Susano'o-mu sampai level tertinggi, kau akan mengerti dimana dia'".

"Bagaimanapun, Artemis adalah murid Paradox. Jadi pasti banyak yang diketahuinya dari naga itu. Kecuali beberapa hal yang menurut Paradox tidak perlu diketahui olehnya" timpal Kakashi-sensei.


Tengkorak berdebu di sebelah kaki kananku.

Pecahan tulang kaki di sebelah kaki kiriku.

Aku menoleh ke belakang, dan yang tampak hanya kerangka manusia yang malang dan bernasib akhir buruk. Semua berbau busuk, sebusuk kematian mereka. Aku menutup hidung. Dimana aku ?

Gelap. Langit tertutup awan. Yang baru kusadari sekarang malam hari. Bulan tertutup awan. Bahkan ketika awan tersingkir...

Bulan berwarna merah. Dan tampak begitu dekat. Cahayanya lebih terang dari tiga bulan purnama seperti biasanya.

"Sasuke !" Seruku.

"Kurama !"

"Kakashi-sensei ! Jiraya-sensei ! Sakura !"

"Siapapun !" Aku terus berteriak. Aku ingin bergerak, berlari mencari kehidupan. Tapi kakiku seperti terpancang ke Bumi.

Mendadak, suara bergemeletuk terdengar. Puluhan kerangka naga bangkit dan mereka menatapku hanya dengan sisa tulang rongga mata mereka.

Aku harus lari.

Tapi tidak bisa !

"TOLONG !" Aku berteriak. Bahkan aku tidak punya satupun senjata di pakaianku sekarang. Mereka makin dekat...

.

SRING

.

.

"Buka matamu, Naruto" suara selembut sutra tertangkap indera pendengaranku. Aku membuka mata dan mendapati seorang wanita berdiri di depanku. Pemandangan aneh dengan latar belakang tulang-tulang naga yang mati dan langit dengan bulan merah raksasa.

Ia menjulurkan tangannya yang lentik. Aku memandang wajahnya.

Baiklah, apa yang biasa digambarkan untuk memuji wajah seseorang ?

AKU TIDAK TAHU apa yang harus digambarkan untuk wajah yang satu ini. Wanita ini sangat, sangat, sangat cantik. Rasanya tubuhku lumer begitu melihat parasnya. Aku belum pernah melihat perempuan manapun yang secantik ini. Belum pernah. Oke, mungkin kedengarannya berlebihan, tapi ini sungguhan. Pilihlah satu wanita yang menurutmu paling cantik di dunia, dan aku bisa pastikan, wanita di hadapanku ini sepuluh kali lebih cantik dari itu. Ini manusia atau bidadari ?!

Rambut panjangnya berwarna perak, berkilau di malam hari. Dan rambutnya cukup panjang –sampai hampir setara dengan bagian atas mata kakinya. Wajahnya lonjong dengan dagu sedikit lancip, berkulit putih tanpa bercak atau gores sedikitpun, dengan alis hitam tebal yang nyaris menyatu di tengahnya. Bulu matanya hitam lentik diatas mata beriris hitam legam yang terlihat sejernih kaca. Bibirnya kecil dan segar walau kelihatannya ia baru saja menebas puluhan naga sekaligus dan senyumnya begitu menawan hingga bisa mencerahkan sisi gelap rembulan.

Wanita ini mengenakan pakaian yang sangat halus, jubah longgar tanpa kerah seperti semacam kimono termewah dan terbagus di dunia, dengan motif yang terlalu rumit untuk dideskripsikan. Wangi –yang entah berasal dari bunga apa, menguar segar memenuhi indera penciumanku.

"Si...siapa kau ?" Tanyaku tersendat. Ini kedengaran lucu, tapi wanita itu terlalu cantik sampai melumpuhkan lidahku.

"Kau tidak perlu tahu" katanya, dan sekali lagi aku mendengar suara yang lebih merdu dari burung penyanyi spesies manapun.

"Naruto" panggilnya.

"H-hh...eeerrr...yy...yaa ?" Aku gelagapan. Rasanya aku jadi begitu bodoh dihadapannya.

Wanita itu tersenyum lembut. "Kau tidak akan menyerah, kan ?"

"A...pa...mak..sudmu ?" Balasku bingung.

Ia memegang pundakku dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam tangan kananku erat, membuatku serasa membeku dan dirantai seperti Artemis.

Angin bertiup sepoi-sepoi. Ia menatapku antara tajam dan lembut. Pandangan yang sulit kuartikan.

"Tidak peduli berasal dari mana..." katanya padaku. "Tidak peduli seperti apa cara dan pertengahannya, lihatlah akhirnya".

.

.

PLAK !

Aku tersentak. Ada yang menamparku ?

PLAK !

Lagi ! Apa wanita ini tidak selembut kelihatannya, ya ?

"Bangun, pemalas".

Hah ? Itu suara yang kukenal. Aku membuka mata perlahan.

"Sakura !" Seruku. "Apa yang..."

"Bangun" katanya singkat. "Observatorium Palomar tiga kilometer lagi".

Aku mengusap mata, lalu bangkit. "Huh ? Kurama...semuanya ! Kenapa kita berjalan ?!" Seruku terkejut. Ya, alih-alih terbang, semua naga kami justru berjalan kaki.

"Badai salju dadakan" kata Lee. "Padat di bagian atas tapi tidak ada di bawah. Mirip seperti di Sunagakure dulu. Jadi daripada kita terbang membeku di langit, lebih baik jalan kaki saja dulu" terangnya.

Aku masih termagu memikirkan mimpiku barusan.

Siapa perempuan itu ? Atau itu hanya sekedar mimpi ? Tapi tampaknya ada sesuatu yang berusaha disampaikannya padaku. Seandainya Sakura tidak membangunkanku tadi.

"Badai salju mereda" celetuk Kiba. Kakashi-sensei mengangguk.

"Semua, mengudara !" Perintahnya.

Langit tampak cerah. Matahari bersinar tanpa dihalangi awan.

"Wah, segalanya tampak putih. Aku tidak bisa membedakan pohon dengan batu" cetus Ino.

"Jangan dilihat terus, kawan. Kau bisa mengalami niphablesia" Sakura memperingatkan.

"Apa itu niphablesia ?" Tanya Lee.

"Niphablesia atau buta salju adalah gangguan mata sementara yang diakibatkan oleh terlalu banyaknya sinar ultraviolet yang dipantulkan salju dan es ke mata, sehingga kornea mata terasa terbakar. Akibatnya warna yang bisa kita lihat hanya merah atau pink" jelas Sasuke. "Kacamata hitam mutlak diperlukan jika kita akan berada lama di padang salju semacam ini" sambungnya.

"Aku melihat kepingan es yang terbang mendekati kita" kata Chouji. "Apa itu juga niphablesia ?" Tanyanya polos.

Kakashi-sensei memicingkan mata.

"Itu bukan kepingan es !"

.

GRAAAAAA ! ! !

"AWAS !"

BUKK !

BUUKK !

BRAKK !

Sosok yang sekilas memang terlihat seperti kepingan es itu melesat cepat dan menabrak naga-naga kami, bahkan Kurama tidak bisa lolos dari tabrakannya, membuat semua oleng dan kehilangan keseimbangan. "Mendarat !" Seru Jiraya-sensei. "Posisi kita tidak menguntungkan. Naga-naga kita bukan tipe naga petarung baik di suhu dingin !" Serunya.

Barulah setelah mendarat kami bisa melihat dengan jelas sosok yang menabrak kami. Seekor naga.

Kepalanya berbentuk balok. Seluruh tubuhnya berwarna biru cemerlang, memantulkan bayangan seperti cermin keruh. Mata merahnya kontras dengan tubuhnya. Gigi-gigi tajam yang tumbuh berselang-seling di mulutnya membuatnya tampak seram. Di atas hidungnya, tampak sepasang tanduk berbentuk sabit melengkung tajam ke arah belakang. Naga ini punya perisai di sekujur tubuhnya yang seolah terbuat dari es padat, walau dia punya sayap dan bisa terbang. Cakar kaki depannya berbentuk persis seperti silet, juga berwarna seperti es. Di ekornya, menggantung gada es yang tampak berat dan dilapisi duri-duri es besar tak beraturan.

Makhluk ini mendengus pada kami, mengeluarkan uap lewat mulutnya.

"Chiron" kata Shikamaru. "Salah satu naga paling agresif di daerah ber-es".

"Semua jaga jarak !" Seru Jiraya-sensei. "Naga ini dikenal sebagai pembakar sekaligus pembeku" katanya.

"Bagaimana mungkin ?!" Seru Ino.

Persis setelah dia menutup mulut, sang naga menyemburkan lidah api berwarna sebiru tubuhnya. Kami menghindar, dan lidah api itu menyambar sebuah cemara. Cemara itu membeku, namun dibalik lapisan es tebal yang membekukannya, cabang-cabang dan dedaunan pohon itu terbakar ! Pohon itu terbakar di dalam es !

"Semburan Chiron mengakibatkan kerugian dobel" simpul Sasuke. "Jika kita sampai terkena, kita tidak bisa melarikan diri dari api yang membakar karena kita terkurung di es".

"Kecuali kau bisa melarikan diri !" Seruku sambil menyemburkan bola api ke naga itu. Es ? Leleh oleh api !

Tapi aku salah.

Naga itu menyembur, membekukan bola apiku dan...membakar apinya ! Api dibakar api ? Sungguh gila. Aku mundur, terkejut.

Lee mendadak muncul di tanah belakang Chiron, barusan mengebor dibawah salju dan bersiap mendaratkan tendangan ke kaki belakangnya, namun segera dihantam oleh ekor gada es naga itu. Lee membentur sebuah pohon cemara dan Chiron menyemburnya.

Lapisan tanah terangkat, Chiron membekukan batu. Shikamaru melempar kunai dengan kertas peledak, yang sukses meretakkan perisai es naga itu di satu titik. Chiron meraung keras, mengakibatkan beberapa gundukan salju di sekitar kami bergetar. Aku melakukan handseal.

"Kagebunshin no Jutsu !"

Sepuluh bunshinku mengepung naga biru itu dari berbagai arah, dan tiap bunshin melakukan handseal, berusaha menembakkan bola api sementara sisanya melakukan serangan kombinasi angin.

Tapi sekali lagi, sia-sia. Hampir semua bunshin lenyap dihajar naga yang mulai mengamuk itu. Sasuke bersiap dengan Chidori, tapi sebelum dia sempat merengsek maju...

Bulatan biru berdesing di tanganku. Angin menyembur ke segala arah darinya. Kuarahkan jutsu yang baru 98 persen sempurna itu tepat ke moncong Chiron...

"螺旋丸!"

Rasengan

(Putaran Spiral)

Jutsu warisan Yondaime Hokage ini berputar cepat, menggilas es –atau tameng alami naga- yang dikenainya itu, meretakkannya, hingga lama-lama memecahkan sebagian perisai keras itu diikuti sang naga yang terhenyak mundur beberapa langkah dan suara angin yang berdesing ke segala arah, menggores beberapa bagian tubuh sang naga –walau sangat samar dan nyaris tak terlihat.

Napasku terengah-engah. Berhasil. Berhasil ! Satu jutsu spesial ayahku berhasil kukuasai !

Jiraya-sensei melongo. Aku mengedipkan mata dan mengacungkan jempol. Kakashi-sensei geleng-geleng kepala. Sasuke menon-aktifkan Chidorinya.

"AWAS !"

Aku menoleh. Tapi terlambat. Ekor gada berduri es itu langsung menabrak punggungku tanpa ampun, membuatku terlontar hingga merengsek jauh di sepanjang tanah bersalju. Aku meringis. Untunglah aku tidak mental terlalu jauh sampai membentur sesuatu. Punggungku mati rasa. Apa...yang akan terjadi setelah ini ?

Rasengan ternyata tidak cukup –atau belum, karena itu belum demikian sempurna atau karena hanya satu- Chiron mendesis marah, dia berlari ke arahku dan secara bersamaan menangkis semua serangan teman-temanku kecuali satu.

Kurama menubruk naga es itu dan menggigit sayapnya. Ceroboh (seperti pemiliknya), karena ia tak mengira bahkan sayap seekor Chiron sama kerasnya dengan es itu sendiri. Ia langsung merasa ngilu di giginya, sementara Chiron menabraknya dengan ekor gadanya. Mereka bertarung seru. Kurama kembali mengembangkan dadanya dan kali ini meluapkan api yang begitu besar. Naga itu tidak bisa mengelak, tapi tetap berusaha melawan dengan menyembur es pembakarnya sekuat tenaga.

Di daerah yang tidak demikian jauh dari lingkar tropis atau subtropis, Kurama tidak ada bandingannya, namun kali ini di daerah yang nyaris masuk lingkar kutub, semburan apinya melemah dengan cepat, dan kini kemenangan sepertinya berpihak pada naga es itu. Ia menyeruduk Kurama hingga terpelanting dan membentur sebuah cemara, dan bersiap untuk membekukan teman-temanku yang menyerang, sebelum...

"SEMUA LARI !" Pekik Hinata keras-keras. Bayangan bulat tampak dari objek yang berada beberapa ratus meter di atas Chiron. Aku mendongak, tapi sebelum sempat mengenali apa itu, dia jatuh. Menimbulkan suara ledakan yang mengerikan, dan kini salju serta bebatuan kerikil berhamburan ke segala arah. Tanah bergetar. Asap menguasai wilayah itu untuk beberapa saat.

.

.

"Apa itu ?" Kiba yang pertama bereaksi.

"Sebuah meteor" desis Sasuke. Benar. Sebuah meteor sebesar kulkas jatuh dari angkasa dan tepat menimpa Chiron. Naga buas itu sekarang mati. Perisai es birunya berubah menjadi repihan. Cairan merah pekat mengalir dari mulut dan tubuhnya yang hancur. Mencegah kebakaran, kami segera menyekop salju dan menimbun meteor itu.

"Terlalu pas" kata Kakashi-sensei sedikit curiga. "Rasanya tidak mungkin sebuah meteor bisa jatuh begitu saja dari langit dan tepat menimpa naga ini".

Jiraya-sensei mendongak. "Tidak ada apapun di langit" katanya. Apalagi saat itu cerah.

Aku bangkit berdiri, tapi punggungku seperti ditimpa Kurama. Sakit dan berat. Sakura berlari ke arahku dan membantuku duduk. Ninjutsu medisnya segera bekerja.

"Jangan sembrono" katanya pendek. Aku mengangguk sekenanya.

"Tapi tadi itu lumayan hebat" sambungnya.

"Itu jutsu warisan ayahku. Jiraya-sensei yang mengajarkannya" kataku bangga. "Bagaimana lukaku ?" Aku tersadar, aku tidak perlu membicarakan ayahku. Itu akan membuat Sakura ingat ayahnya juga, jadi sebaiknya kualihkan pembicaraan.

"Tidak terlalu parah" katanya singkat. "Sebelum sampai di Palomar, kurasa ini sudah bisa sembuh".

"Ini buruk. Ladon memang terlalu blak-blakan" gerutu Shikamaru tiba-tiba.

"Observatorium Palomar berada di puncak Gunung Baekdu, berketinggian 3.278 meter dari permukaan laut. Tapi gunung itu dikelilingi oleh pegunungan yang bahkan lebih tinggi, dengan ketinggian rata-rata empat ribu meter" jelas Jiraya-sensei. "Tidak ada naga kita yang bisa terbang setinggi itu. Tidak di iklim dingin seperti ini !" Lanjutnya sedikit panik.

"Kita kesana saja dulu" saranku. "Siapa tahu ada terobosan atau semacamnya".

Demi aku –terlalu ge-er- atau mungkin demi mencari informasi yang menyangkut keselamatan dunia, kami akhirnya pergi ke observatorium.

"Hu-uh, kenapa sih observatorium itu letaknya sulit dijangkau ?" Gerutu Kiba.

"Observatorium yang baik memang begitu" timpal Sasuke, "di kutub, udara masih bersih dan murni. Tidak ada cahaya lampu perkotaan yang mengganggu pengamatan bintang dan karena terletak di gunung, udara tipis sehingga tidak terlalu banyak cahaya dari luar angkasa yang dibiaskan lewat atmosfer. Bintang-bintang tidak terlalu berkelap-kelip disana".

"Itu pegunungannya" kata Kakashi-sensei tiba-tiba.

"Kurasa kita tidak perlu repot-repot terbang terlalu tinggi" celetuk Hinata. "Arah jam dua. Ada lubang raksasa yang menembus pegunungan".

Kami terkejut. Setengah tak percaya, kami bermanuver membelok tajam ke arah yang ditunjukkan Hinata.

Benar.

Entah siapa yang membuatnya –atau apa penyebabnya- , lubang raksasa berdiameter 30 meter berbentuk lingkaran sempurna tampak di salah satu kaki gunung. Lubang itu begitu besar dan panjang sampai menembus sisi gunung dibaliknya, sehingga lebih mirip terowongan atau semacam jalan pintas menuju observatorium.

"Rapi sekali" celetuk Sakura. Aku mengangguk mengiyakan.

"Tempat ini seperti habis dibor dengan mesin bor raksasa. Tidak mungkin tangan manusia yang membuatnya. Potongan ini sangat halus dan rapi..." kagum Lee.

"Itu tidak penting, sekarang kita harus melewati ini. Beruntunglah kita karena ada jalur seperti ini dan cukup lebar untuk dimasuki" potong Ino.

"Sekarang masih hari Jumat" cetus Chouji. "Kita sampai disini lebih awal dari perkiraan kita".

"Dan itu adalah Observatorium Palomar" sambung Shikamaru sambil menunjuk sebuah bangunan berkubah berwarna abu-abu. Agak kontras dengan lapisan salju tebal di sekelilingnya. "Akhirnya kita sampai. Ujung dunia".

Yah, aku telah mengitari Hi no Kuni sampai disini, Kori no Kuni. Semoga perjalanan ini tidak sia-sia mengingat aku dan teman-temanku sudah mengelilingi separuh dunia demi mencari Dia.

.

.

"Oh, kalian sudah datang rupanya" sebuah suara menyambut kami begitu kami mendaratkan naga-naga ini –yang menggigil kedinginan.

Sungguh, kalau dia tidak bersuara, aku akan mengira dia perempuan. Pemuda berkulit putih dengan iris lavender mirip Hinata ini memiliki rambut cokelat yang panjang sehingga agak mirip perempuan. Nyatanya...

"Neji-nii !" Seru Hinata sambil menghambur ke kakaknya. Oke, yang selanjutnya tidak perlu diceritakan. Kurasa kau juga tahu seperti apa tingkah laku adik-kakak yang sudah lama tak jumpa.

"Kau tahu kami akan kesini, Neji-san ?" Sapa Kakashi-sensei.

"Panggil saya Neji saja" ucapnya. "Kami tahu dari Hermes".

Hermes ? Aku pernah mendengar nama itu !

.

.

"Disini cukup dingin, ya, putra Yondaime ?"

Aku menoleh ke sumber suara. Tampak olehku seekor naga bersisik kuning keemasan, dengan sepasang sayap besar berbulu lebat yang sangat teratur di punggungnya. Empat kakinya berujung pada cakar perak melengkung seperti elang, di kedua pangkal belakang kaki depannya dipenuhi bulu yang sama, dan di pangkal ekornya, sepasang sayap yang lebih kecil dan juga berbulu bertengger disana. Di ujung ekornya tampak lapisan perisai yang entah terbuat dari apa. Sebuah berlian besar berwarna merah tua bertengger di dahinya, yang disangga oleh semacam 'mahkota' berwarna biru keperakan. Di ujung lehernya, dekat kepala, kau bisa melihat sepasang sayap lagi –lebih kecil dari dua pasang sayap sebelumnya, yang juga berbulu. Naga ini memiliki senyum yang ramah dengan mata biru laut yang jernih. Untuk ukuran naga, dia pasti cukup tampan. Dia adalah Hermes. Naga Dewa pengantar pesan sekaligus naga tercepat yang pernah ada.

"Kau ? Sejak kapan kau disini ?" Semburku. Dia terkekeh.

"Baru beberapa jam" jawabnya. "Aku terbang melintasi kalian beberapa jam yang lalu, tidak lihatkah kalian ?"

Aku menggeleng. Kurasa dia sedang berada diatas awan waktu itu.

"Untunglah kalian tiba sebelum Sabtu" suara lain –yang juga kukenal-, menyeletuk.

"Beleriphon !" Seru Shikamaru. Naga berjenggot itu mengangguk. "Aku menantang Hermes untuk berlomba siapa yang tercepat" ceritanya.

"Dan kau kalah" timpal Hermes dengan ekspresinya yang biasa. "Aku selalu kasihan pada naga-naga yang menantangku, kecuali satu sayapku sedang patah" candanya.

"Ayo" kata Neji. "Kita masuk. Dua naga dewa ini sudah menceritakan pada kami semua apa yang ingin kalian ketahui, atau lebih tepatnya, apa yang harus kita semua ketahui".

Kami pergi ke ruangan utama, sementara naga-naga kami di luar sedang menghangatkan diri di boks Jinton Beleriphon. Naga berjenggot itu mengurung mereka semua di kubus Jinton-nya, menjaga suhu normal tiap naga dan membuat mereka merasa cukup panas sebelum melanjutkan perjalanan.

"Nona Yuki" panggil Neji begitu kami memasuki ruangan utama observatorium. Seorang wanita berambut hitam panjang dengan kulit putih, mata biru, dan jaket pink tua menoleh.

"Oh, mereka sudah datang rupanya. Sai ! Perlihatkan data statistikamu itu pada mereka !" Perintahnya.

Sosok manusia lain –yang kali ini benar-benar laki-laki, berambut hitam lurus dengan kulit putih pucat dan mata hitam legam, turun dari tangga ruangan atas dengan mantel bulu hitamnya.

"Ini sedikit gawat, Nona Yuki" katanya sambil menaruh ibu jari dan jari telunjuknya di dagu layaknya seorang pemikir jenius.

Ia menyerahkan beberapa kertas yang penuh dengan coretan dan angka kepada atasannya itu.

"Sebenarnya ada apa ?" Aku mulai tak sabar. Seperti biasa, aku tampak bodoh diantara orang-orang jenius ini.

"Uchiha Madara ingin menjadikan dirinya sebagai dewa yang memerintah dunia, Naruto-sama" jelas Hermes. "Untuk mengawali itu, ia akan melancarkan Tsuki no Me Keikaku. Proyek Mata Bulan" jelasnya singkat.

Nona Yuki mengangguk. "Proyek Mata Bulan, seperti namanya, memanfaatkan bulan. Tapi alih-alih bulan terbit di malam hari, Madara memilih untuk menunggu bulan sampai ke posisinya yang seharusnya tidak seharusnya" katanya. Membuatku bingung. Seharusnya tidak seharusnya ?

"Maksudnya, posisi bulan tidak seharusnya disitu" timpal Neji. "Dengan kata lain".

"Gerhana matahari" tabrak Kakashi-sensei. Sai, Nona Yuki, dan Neji mengangguk.

"Madara menunggu sampai gerhana matahari terdekat terjadi. Bulan menutupi matahari, berarti itu terjadi setidaknya pada siang hari. Dan kami telah berusaha keras menghitung dan memperkirakan pergerakan keduanya..." kata Nona Yuki sambil membalik-balik berkas.

"Hari Jumat" katanya tersendat. "Itu artinya waktu kita sangat sedikit" dia melanjutkan dengan penekanan pada kata 'sangat sedikit'.

Deadline kami adalah hari Jumat. Kurang seminggu lagi dan jika kami (atau aku) tidak bisa menemukan Dia, dunia akan berakhir. DAN SEMUA ITU BELUM TERJADI !

Aku meremas tanganku sendiri. Lagi-lagi aku geram. Paradox...sampai kapan kau mau membuatku menunggu ?!

"Hari Jumat, gerhana matahari total akan terjadi dengan perkiraan waktu sekitar delapan menit lima puluh detik" kata Sai.

"Dan itu mungkin akan jadi gerhana matahari terlama sepanjang sejarah" sambung Neji. "Kesempatan emas bagi Madara. Biar begitu, waktu delapan menit bukan waktu yang demikian lama. Dia juga dikejar waktu. Dia juga harus bergegas" sambungnya.

"Jadi" simpul Beleriphon. "Bukan tidak mungkin Madara sudah menyiapkan semacam armada pasukan penyerangan sekarang".

"Seberapa menakutkannya Proyek Mata Bulan ini ?" Aku penasaran. Semua menggeleng kompak.

"Siapa yang tahu ? Semua keterangan ini bisa jadi didapatkannya dari Tablet Batu Uchiha, jadi kami tidak tahu apapun" sergah Nona Yuki kecewa.

"Kurasa kita harus hancurkan bulan" kata Hermes tiba-tiba, pura-pura serius. "Dengan begitu rencana Madara takkan berhasil" katanya.

"Kalau begitu tidak akan ada permainan selancar pantai yang mengasyikkan lagi" tukas Beleriphon. "Tidak akan ada pasang surut pantai lagi, tidak akan ada lagi mitos manusia serigala yang berubah saat bulan purnama, tidak ada lagi yang menerangi kegelapan malam, tidak akan ada lagi gerhana matahari atau gerhana bulan, dan puisi, syair, pantun, atau lagu tentang bulan tidak pernah ada lagi" lanjutnya panjang lebar.

"Cih" gerutu Sasuke. "Bulan penting bagi planet ini, Hermes. Dia menyeimbangan poros kemiringan Bumi sehingga tetap 23,5 derajat, sehingga empat musim di planet ini tetap stabil" jelasnya.

Hermes terkekeh. "Aku tahu. Aku hanya bercanda, kok. Lagipula mungkin hanya Paradox yang bisa menghancurkan benda langit berdiameter seperempat diameter Bumi itu".

"Adakah diantara kalian yang melihatnya ?" Sakura tiba-tiba menyeletuk.

Kedua naga dewa ini berpandangan sesaat, lalu menggeleng kompak. "Sayangnya tidak" kata Beleriphon kecewa. Dia tertawa kecil pendek lalu melanjutkan, "Dia...dia memang berbeda".

"Paradox dan Ortodox, dua-duanya belum terlihat" Hermes menambahi.

Beleriphon menyikutnya. "Jangan lupakan Droconos".

"Ya, dan juga Droconos".

Setelah mengetahui semua yang perlu kami ketahui, Tim Paradox melangkah keluar dari Observatorium Palomar. Melanjutkan pencarian dengan harap-harap cemas bahwa kami selalu punya kemungkinan untuk menemukan atau tidak menemukan yang kami cari.

"Mencari seekor naga di planet seluas ini bagai mencari sebutir gula pasir abu-abu diantara miliaran gula pasir putih di sebuah stoples besar" cetus Chouji.

"Apapun yang kau pikirkan pasti selalu berbau makanan" timpal Shikamaru malas. "Hhhh, sampai kapan pencarian ini akan berlangsung ? Ini sungguh merepotkan".

"Ino, aku tidak mengerti kenapa kau bisa tahan bertahun-tahun satu tim bersama mereka" cetus Sakura geli. Ino memutar bola mata malas.

"Aku sendiri juga heran, kok".

Yah, Sakura dan Ino sudah jadi teman dekat belakangan ini. Kurasa sekarang kerjasama timku sudah cukup bagus, dan harapanku adalah kami akan makin solid dan akan tetap menghadapi dan melewati tantangan apapun yang ada.

Beleriphon dan Hermes tadi mohon diri bersama kami, dan jadilah kami dikawal oleh dua naga dewa yang membuat atmosfer sekitar terasa lebih hangat, jadi kami bisa terbang lebih cepat (sekaligus kegirangan, untuk Kurama, karena ini pertama kalinya ia bisa terbang bersama dua naga dewa sekaligus).

"Naruto, apa tadi kau berkunjung ke Kuil Artemis Terantai ?" Selidik Hermes. Aku mengangguk. "Apa yang kau tanyakan ?"

"Aku bertanya dimana Paradox" jawabku lesu. "Tapi diapun tidak tahu. Lalu aku mengganti dengan 'siapa itu Deavvara ?'"

Hermes tersentak. Aku menoleh, juga Kurama.

"Ada apa ?" Tanya kami berdua bersamaan.

"Siapa yang memberitahukanmu nama itu ?" Serunya gusar.

Sebelum aku sempat menjawab, sebuah suara lain memanggil namaku. Suara seorang perempuan.

.

.

"Uzumaki Naruto !"

Aku menoleh. Kami, lebih tepatnya. Tidak jauh dari kami, tampak seorang perempuan dengan mantel bulu berwarna hijau, kulit agak kecokelatan dan mata berwarna ungu lembut dengan beberapa lingkaran berlapis. Dia mengendarai seekor Chiron yang tampak jinak dan mulai mendekat ke sebelah Kurama.

"Namaku Ryuuzetsu" katanya tanpa basa-basi. Kami saling pandang.

"Dan aku adalah utusan Paradox".

.

.

Oke, yang itu membuatku nyaris jatuh dari punggung Kurama.

"Apa kau bilang ?!" Seruku tak percaya.

"Dia menyuruhku menjemputmu untuk bertemu dengannya di Gua Besar Rhea, Kusagakure. Dia ada disana dan sedang menunggumu" katanya.

Beberapa detik kami bengong, sebelum angin kutub yang begitu kencang di ketinggian menerbangkan scarf hijau Ryuuzetsu yang sedari tadi menutupi kepalanya. Rambut putih panjangnya berkibar selagi ia menangkap syalnya.

Aku tersentak.

Rambut putih itu !

Mata ungu itu !

Syal hijau itu !

.

"AH !" Seruku sambil menuding mukanya. Semua orang terkejut, tak terkecuali dua naga dewa yang mengawal kami.

"Kau adalah perempuan di padang bunga itu ! Yang memberiku Shakujo dan dari kau-lah aku mengenal nama Deavvara !"

.

.

.

.

Bersambung...


Author's Note (2):

Chapter 11 akhirnya selesai ! (Ini selesainya hari Rabu lho ! Hebat kan ? Hebat kan ? (*ditampong*))

Berapa banyak readers yang ketipu disini ? (Ditinjau dari review yang masuk sih, kayaknya semuanya malah :pppp)

Kurama ternyata bukan Paradox ! Ramalan klasik Shinjuu dan petunjuk dari Ladon dan Oedipus yang menuntun Naruto dan kawan-kawan ke Kuil Artemis dan Observatorium Palomar akhirnya membuahkan hasil, walau tidak seperti yang Naruto kira. Tim Paradox akhirnya bertemu dua naga dewa, Hermes dan Beleriphon, serta Ryuuzetsu yang mengaku sebagai utusan Paradox. Siapakah Deavvara yang bahkan tidak ingin diketahui Artemis ? Apa kaitan Ryuuzetsu dengan Sang Paradox ? Dan apakah halaman yang hilang akan ditemukan dan siapakah pencurinya ? Nantikan jawabannya di chapter depan ! (Bocoran: Chapter 12 akan jauh lebih seru, jadi jangan lewatkan).

Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !

NOTE: Saya akan menampilkan Hydra, naga mitologi Yunani yang terkenal itu minggu depan. Kira-kira, readers ingin kepala awalnya berjumlah tujuh atau sembilan ? Pilih salah satu, karena beberapa cerita mengatakan kepala Hydra berjumlah tujuh dan yang lain mengatakan kepalanya ada sembilan.


Coming Soon: Paradox Chapter Twelve :

"At the Day"

See you again in chapter 12 !

-Itami Shinjiru-


-Dragons List in Chapter Eleven :

Galaeana (Maaf lupa nyantumin di chapter 10, hihihi)

Strength : Tinggi

Ukuran : Panjang 26,9 meter, berat 13 ton

Kecepatan terbang : Tidak dapat terbang, namun dapat melaju di dalam tanah secepat 30 km/jam

Spesial : Bergerak dengan baik di bawah tanah, mengebor lapisan batuan

Tipe serangan : Serangan langsung atau menyemburkan minyak dan api

Kategori : Perang

Elemen spesial : -

Level bahaya : Jauhi !

Pemilik : Tunduk pada Deidara dan Kakuzu

Apocalypse Dragon (Artemis). Nama Artemis diambil dari nama Dewi Perburuan Yunani, adik kembar Apollo, Dewa Matahari

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 21 meter, berat 14 ton

Kecepatan terbang : 10-250 km/jam

Spesial : Hampir seluruh tubuhnya dilapisi perisai, tidak bisa mati karena faktor usia

Tipe serangan : Tidak diketahui

Kategori : Tidak diketahui

Elemen spesial : -

Level bahaya : Tidak diketahui

Pemilik : Murid pertama dari Paradox

Hermes (Diambil dari nama Dewa Pembawa Pesan Yunani, dalam mitologi Romawi disebut Mercury)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 8 meter, berat 875 kg

Kecepatan terbang : 10-2.000 km/jam

Spesial : Naga tercepat di Bumi, memiliki kemampuan manuver dan akselerasi yang paling baik

Tipe serangan : Menembakkan laser dari mulut yang memotong hampir apapun, mirip Jinton

Kategori : Dewa

Elemen spesial : Radioaktif

Level bahaya : Medium

Pemilik : Tidak ada

Chiron (Naga OC, diambil dari nama sebuah asteroid, Chiron)

Strength : Tinggi

Ukuran : Panjang 15,8 meter, berat 8 ton

Kecepatan terbang : 20-80 km/jam

Spesial : Memiliki perisai es yang sangat keras, gada es berduri, dan semburan spesial

Tipe serangan : Menembakkan api biru yang membekukan sekaligus membakar, mencapai jarak menengah

Kategori : Mirakel

Elemen spesial : Es

Level bahaya : Tinggi

Pemilik : Tidak ada (atau sementara, Ryuuzetsu)