Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody" dari Eragon dan How to Train Your Dragon. Beberapa unsur juga ada di novel Percy Jackson & The Olympians: The Titan's Curse

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.

Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara

Pair : NaruSaku, NaruSara (Slight ShikaTema & KakaPaku)

Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance, Mystery


Author's Note :

Jumpa lagi di chapter 12, readers !

Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Dan pemberitahuan bahwa, JADWAL UPDATE PARADOX DIMAJUKAN dari hari Sabtu menjadi hari Rabu, mulai chapter ini. Untuk selanjutnya, fic ini update tiap hari Rabu.

Sedikit rahasia Uchiha Madara telah terungkap di chapter sebelumnya: Proyek Mata Bulan. Naruto dan timnya berpacu dengan waktu tujuh hari untuk menemukan Paradox dibantu oleh Hermes dan Beleriphon. Tapi kemanakah jejak para Pembantai Bersayap ? Kenapa mereka mendadak sepi ? Persoalan bertambah ketika mereka bertemu Ryuuzetsu dari Kusagakure yang mengaku sebagai utusan Paradox.

Dilema pencarian dimulai ! Setelah sekian lama mencari naga yang disebut-sebut sebagai naga terhebat sepanjang ingatan manusia, Naruto dan Paradox...akankah mereka bertemu ?

Enjoy read chap 12 !


PARADOX

Chapter Duabelas :

At the Day

Ryuuzetsu membeku.

"Apa maksudmu ?!" Serunya terkejut.

"Aku memimpikanmu !" Balasku.

.

Ups.

.

Aku menoleh sekitar. Kurama mengernyit. Hermes tampak bingung. Sasuke, Sakura, Kakashi-sensei, Hinata...

Semuanya tampak bingung.

Lidah sialan, umpatku dalam hati. Aku keceplosan. Lebih baik kujelaskan sekarang sebelum semuanya bertanya macam-macam.

"Dengarkan aku dulu" ucapku. "Aku...saat aku tidur di penginapan Iwagakure, aku bermimpi. Dalam mimpiku, aku dibawa seorang gadis menyusuri padang bunga dan rumput dan gadis itu berambut putih, bermata ungu dan punya syal hijau seperti kau !" Aku menuding Ryuuzetsu. "Sungguh ! Aku berani bersumpah, aku tidak bohong !"

"Mimpi yang aneh" Ryuuzetsu menimpali.

"Terserah kau mau bilang apa" kataku akhirnya. "Tapi ini sungguhan".

"Bisa saja itu pertanda dari Paradox" Beleriphon akhirnya menyeletuk. "Dia punya kemampuan untuk mengirim mimpi pada seseorang. Jika dia mau, itu akan sangat mudah" katanya.

"Bisa kau ceritakan ? Mungkin kami bisa membantu" saran Hermes akhirnya.

Akhirnya kuceritakan semuanya, detilnya, semua yang kuingat. Hermes dan Beleriphon tampak tidak begitu terkejut.

"Shakujo, ya ?" Ujar Beleriphon akhirnya. Dia menatap Hermes, yang mengangguk. "Itu senjata utama Rikudo Sennin. Tongkat yang melambangkan matahari dan bulan" jelasnya singkat.

Kakashi-sensei beralih pada Ryuuzetsu. "Apa buktinya kau utusan Paradox ?"

Ryuuzetsu mengangguk, lalu merogoh saku mantelnya. Mengeluarkan sesuatu yang...sangat kukenal.

Hiraishin Kunai.

Kakashi-sensei, Jiraya-sensei, dan aku, terbelalak terkejut. Bagaimana...?

"Bagaimana bisa ?!" Jiraya-sensei mendahului.

"Hmm" Ryuuzetsu hanya menggumam biasa. "Draco P sebelum Naruto adalah ayahnya sendiri, kan ?" Jawabnya ringan.

"Tes" Kakashi-sensei masih kurang percaya. "Coba Naruto, biar kupegang satu Hiraishin Kunai, dan Ryuuzetsu, lemparkan kunai usang itu ke sembarang arah. Jika Naruto berhasil kesana dan kembali kemari dengan sukses, berarti itu memang Hiraishin Kunai asli" cetusnya.

Ryuuzetsu melempar kunai tua itu ke daratan. Aku menyerahkan satu ke Kakashi-sensei, dan berusaha Shunshin ke tempat kunai yang dilempar Ryuuzetsu tadi. Dan berhasil ! Aku mengambil kunai tua itu dan kembali ke tempat.

"Ini benar-benar peninggalan ayahku" kataku senang. "Tidak mustahil Paradox memiliki ini karena sebelumnya dia adalah naga Yondaime Hokage".

Ryuuzetsu mengangguk, lantas berkata tegas, "Dia adalah Paradox. Benar-benar Paradox. Kau bisa membunuhku kalau mendapati aku berbohong begitu sampai disana, Naruto-sama".

Oke, yang itu jelas membuatku makin bingung. Benarkah dia Paradox ? Benarkah...dia mengirim utusan semacam ini, yang sama persis dengan yang kulihat di mimpiku ? Yang memberiku senjata keramat Rikudo Sennin ?

Akhirnya terbesit dalam pikiranku untuk menanyakan ciri-cirinya. Siapa tahu ?

"Seperti apa Paradox, Ryuuzetsu ?" Tanyaku.

"Dia memiliki jenggot dan kumis" jawabnya tenang. "Juga tanduk alis yang sangat panjang dan rumit seperti rusa jantan. Gelambir seperti telinga, kerah leher bagian atas, sepasang sayap di punggung dan di pangkal ekor, dan keempat kakinya seperti kaki kuda, tapi di depan dia punya cakar melengkung yang indah. Tubuhnya berwarna...hmm...dia ada di kegelapan gua, tapi kurasa warnanya putih. Dan di ujung ekornya ada duri dan juga bentukan segienam yang entah untuk apa" jelasnya rinci.

Aku mengeryit. Ya, semua itu benar. Tapi jelas ada yang kurang.

"Oh, dia juga punya berlian merah di dadanya".

.

.

DEG

.

Lengkap. Aku melirik Hermes dan Beleriphon.

"Gaya bicaranya ?" Hermes mengetes.

"Sulit dimengerti oleh manusia manapun, kadang-kadang. Sampai-sampai aku kadang juga harus berpikir untuk bisa menerjemahkan maksudnya" cetus Ryuuzetsu. "Dia kaya akan kosakata, bagai kamus hidup" lanjutnya.

Aku melirik kedua naga dewa ini sekali lagi. Mereka manggut-manggut. Kurasa yang ini memang dia.

"Apa tidak ada kemungkinan kalau itu hanya naga yang menyamar menjadi Paradox dan hanya ingin mencelakakan kita ?" Sasuke menimpali.

"Hey, satu-satunya naga selain Paradox yang bisa meniru dan mengambil wujud makhluk hidup lain ada disini !" Balas Beleriphon.

"Siapa itu ?" Aku penasaran.

"Aku" jawab Beleriphon malas. Ups, aku memang tidak tahu hal itu.

.

.

"Ketemu" celetuk Shikamaru yang sedari tadi diam saja. Kami menoleh padanya.

"Ketemu apa ?" Tanya Chouji penasaran.

"Kenapa para Pembantai Bersayap tidak menyerang kita beberapa hari belakangan ini" kata Shikamaru puas. "Mereka pasti sengaja berkumpul dalam jumlah besar dan menunggu waktu yang tepat" katanya. "Dengan kata lain, mungkin saja, mungkin saja mereka sudah tahu bahwa Paradox ada di Gua Besar Rhea dan menunggu kita mengambil rute kesana. Di tengah perjalanan, barulah mereka akan menyerang" jelasnya.

"Jadi...kita dipancing ?" Tabrak Ino.

"Lebih tepatnya mereka memanfaatkan rute kita dan...jumlah kita yang terlalu sedikit" koreksi Sakura sambil memberi penekanan pada 'terlalu sedikit'.

Hermes dan Beleriphon mengangguk bersamaan. "Kurasa itu tugas kita" desis Hermes.

"Baiklah jika demikian. Kami akan terbang ke Lima Negara Besar, menyampaikan bahwa lokasi Paradox sudah diketahui, kemudian kami akan mengimbau para Kage untuk menurunkan pasukan-pasukan terbaik mereka dari setiap negara untuk mengawal kalian. Kita akan buat para musuh gentar dengan jumlah. Sampai pada gua, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan" ucap Beleriphon.

"Kurasa itu ide bagus" Sakura menimpali. Sasuke dan Shikamaru mengangguk mengiyakan.

Aku mengangguk. "Hati-hati di jalan" kataku. Terdengar begitu klise dan remeh, tapi kedua naga dewa ini mengangguk dan langsung melesat dengan kecepatan luar biasa ke dua penjuru dunia yang berbeda, mengabarkan berita terbesar sepanjang sejarah.

"Dari Yukigakure ke Kusagakure berjarak ratusan kilometer" cetus Hinata. "Ryuuzetsu, alangkah baiknya kalau kau jadi pemandu di depan".

Ryuuzetsu mengangguk. "Kita akan melewati Laut Utara, laut luas yang diapit Semenanjung Raksasa Kori no Kuni, Tsuchi no Kuni, Amegakure, dan di batas paling Utaralah tujuan kita, Kusagakure" jelasnya seperti tour guide.

"Kita akan terus bergerak" tambah Jiraya-sensei. "Prajurit-prajurit pilihan para Kage akan menyusul kita" sambungnya.

"Dan kita harus cepat-cepat" timpal Kurama. "Angin-angin dingin dan benda putih lembut ini membuatku serasa seperti daging yang dibekukan".

"Memang kita sedang dibekukan" balasku sambil memecut tali kekang dan menarik ke sisi kanannya. Putar haluan. Kami semua akhirnya kembali mengarah ke Selatan, setelah itu berbelok perlahan ke arah Timur menuju Kusagakure.

"Ryuuzetsu" panggilku. Dia menoleh.

"Berapa lama waktu yang dibutuhkan dari sini ke tempat tujuan kita ?" Selidikku. Aku menoleh ke belakang. Teman-temanku tampaknya juga barusan ingin menanyakan hal yang sama. Waktu sangat krusial bagi kami.

"Tiga, empat hari maksimal" jawab Ryuuzetsu santai. "Kalau kau ingin bertemu dengannya secepat mungkin, seharusnya tadi kau minta bantuan Hermes" cetusnya.

"Dan berakhir disana tanpa baju dan gores-gores di kulit" tambahnya.

Aku mendengus. Hermes bahkan jauh lebih cepat daripada kereta api yang paling cepat, atau kalau kau bisa mengatakannya, tidak ada gunanya membandingkan kecepatan Hermes dengan benda apapun yang pernah dibuat manusia. Apalagi dia 'beroperasi' di udara, jadi gesekan udara takkan bisa terelakkan, dan itu adalah bahaya serius. Cukup untuk menyobek-nyobek baju dan menggores-gores kulit.


"Hokage-samaaaaaa ! ! !" Sebuah seruan terdengar oleh telinga sang Godaime. Wanita itu langsung berlari keluar kantornya dan beranjak ke loteng gedungnya, ketika mendapati seekor naga dewa telah berada disana.

"Hermes !" Seru Tsunade. "Ada apa ?"

"Paradox" katanya Hermes dengan suara terengah-engah. "Haahhh...aku belum pernah terbang secepat ini selama 10 tahun..." gerutunya.

"Ada apa dengan Paradox ?!" Tabrak Tsunade tak sabar.

"Dia telah ditemukan. Posisinya telah diketahui. Paradox sekarang berada di Gua Besar Rhea di Kusagakure, dan Naruto dan timnya, beserta Ryuuzetsu, utusan Paradox, sedang menuju kesana. Saya mewakili Etatheon ingin..."

"SHIZUNE !" Sang Hokage berteriak lantang memanggil asisten sekaligus muridnya itu.

"Siap, Tsunade-sama !"

"Perintahkan Yamato dan Asuma untuk mempersiapkan pasukan ! Kita akan kirim Jounin dan ANBU terbaik kita untuk mengawal Naruto menemukan Paradox ! Katakan bahwa ini misi kelas-S ! Kurasa aku juga harus mengumumkan bahwa kelima Kage dari Lima Negara Besar akan mengadakan pertemuan yang kedua" Perintahnya cepat.

"Baik, Tsunade-sama !"

"He-eh...aku kan belum bilang kenapa misi ini dilaksanakan" ujar Hermes sewot.

"Kenapa ?" Perhatian Tsunade seketika teralih.

"Ahli strategi yang kau kirimkan, Nara Shikamaru, curiga kenapa Pembantai Bersayap tidak muncul menyerang mereka beberapa hari belakangan ini, jadi dia menyimpulkan bahwa mereka juga sedang mengatur strategi, alias menyerang saat mereka sedang dalam perjalanan ke Kusagakure" jelas Hermes panjang lebar.

Tsunade mengangguk mengerti. "Terimakasih pesannya" ujarnya, "dan teruslah menyampaikan. Apa kau sendirian ?"

"Tidak. Beleriphon juga melakukan hal yang sama. Barangkali mungkin dia atau saya nanti bertemu Parthenon atau Pyrus, kita bisa menyampaikannya bersama-sama" balas Hermes sambil mengembangkan keenam sayapnya. "Saya pergi dulu !" Serunya pamit, dan naga pembawa pesan itupun melesat cepat meninggalkan 'bom angin' yang sangat kuat.

Dengan kecepatan 2.000 kilometer perjam, Hermes dapat mengelilingi dunia kurang dari sehari, dan karena dia jauh lebih cepat dari Beleriphon, dua pertiga belahan dunia diserahkan padanya untuk menyampaikan pesannya. Sementara Beleriphon hanya terbang ke Kumogakure, Hermes melesat ke Iwagakure, Sunagakure, Konohagakure, dan mereka berdua bertemu di...Kirigakure, Negara Besar yang terletak paling Selatan, tepat tengah malam.

.

.

.


"Aku mengerti" ujar Mei, Godaime Mizukage, begitu kedua naga itu bergiliran menyampaikan pesan.

"Awalnya ketika melihat kalian, kukira kalian ingin menjemput Parthenon" katanya.

"Parthenon ada disini ?" Selidik Beleriphon. Mei mengangguk.

"Dimana ?" Tambah Hermes.

.

"Di belakang kalian" sebuah suara naga betina tertangkap oleh telinga mereka bertiga.

"Parthenon !" Seru Beleriphon dan Hermes bersamaan.

Naga dewa betina dengan tanduk rusa jantan, sisik berwarna hijau lembut, sepasang sayap kokoh yang tampak seperti terbuat dari daun, dan empat kaki yang langsing tapi kekar itu memeluk kedua rekannya (terserah apa yang kau bayangkan begitu mendengar bahwa sesama naga bisa saling memeluk), atau bisa dikatakan, mereka saling melingkarkan lehernya, karena mereka bukan makhluk bipedal.

Ekor hijau dengan ujung berpenampilan seperti mahkota bunganya bergerak-gerak layaknya seekor anjing yang kesenangan melihat majikannya. Bulu matanya yang lentik berkedip-kedip antusias.

"Senangnya melihat kalian lagi" katanya setelah selesai 'bernostalgia'. "Apa benar Paradox sudah ditemukan ?"

Hermes lebih dulu menjawab –dengan mengedikkan bahunya- "Entahlah" katanya. "Kami masih belum tahu, karena yang jadi penyampai pesan ternyata hanya seorang perempuan dari Kusagakure, bukan naga tampan sepertiku".

Pada tahap ini, Beleriphon menghadiahi sebuah jitakan kuku pada kepala Hermes.

Parthenon memutar bola mata. "Jadi, Mizukage-sama" katanya pada Mei yang masih berdiri disitu. "Bisakah saya pergi ke Kusagakure sekarang ? Mungkin musuh bisa gentar melihat barang hanya satu naga dari Etatheon" katanya. Mei mengangguk.

"Aku akan memerintahkan Ao untuk mengkoordinasi pasukan dan memilih yang terbaik, dan pergi mengawal Naruto segera. Bisa sekalian antar aku ke Konoha ? Tsunade-sama mengadakan pertemuan lima Kage lagi untuk membahas formasi" pintanya.

"Ya, dan sebaiknya kita juga begitu" susul Beleriphon.

"Anda yakin tidak apa-apa, Mei-sama ? Sekarang masih sangat dini hari, saya khawatir Anda kedinginan" cemas Parthenon.

Mei masuk ke kantornya dan kembali dengan sebuah mantel bulu lebat lengkap dengan caping kebesaran Kage. "Ini cukup ?"

Parthenon mengangguk. "Sepertinya sudah waktunya untuk reuni" cetus Parthenon. "Bagaimana kalau kalian cari Pyrus ? Si bandel itu hampir sama misteriusnya dengan Paradox, dia kalau sekali pergi, bisa sangat jauh dan susah ditemukan lagi" sambungnya sambil tertawa kecil.

Dan ketiga naga dewa itu akhirnya melesat pergi, tapi tidak secepat sebelumnya, karena Parthenon jauh lebih 'lambat' dari mereka berdua.

.

Dan hanya satu jam setelah ketiga naga itu pergi, puluhan anggota skuad pengawal udara turut mengudara, dinginnya malam dan kabut yang melingkupi Kirigakure tak mendinginkan semangat mereka. Hal yang sama terjadi pada Konoha, Suna, Iwa, dan Kumo. Lima Negara Besar, beserta prajurit terbaik mereka dan naga-naga spesial mereka, siap mengawal sang Draco P !


"Naruto ?"

Aku menoleh. Sakura di belakangku, dengan baju merah tanpa lengan seperti yang biasa digunakannya, hanya kali ini ia mengganti bawahannya dengan rok panjang sampai mata kaki –yang berwarna pink lembut. Sebilah pedang terselempang di pinggangnya. Kontras dengan pakaiannya yang girly.

"Kau tidak tidur ?"

Aku menggeleng. "Aku tidak bisa tidur".

Kami terdiam sejenak. Aku hanya memandangi senjata yang berserakan di sekitarku. Aku berlatih untuk mengisi waktu begadang.

"Kau sendiri ? Kenapa pula harus bawa pedang ?" Tanyaku sekenanya.

"Entah, tiba-tiba aku ingin bangun. Mungkin ini kebiasaanku waktu masih mengembara, bangun sekali-kali ditengah malam, bawa pedang untuk jaga-jaga" katanya malas.

"Aku ingin tahu apa yang sedang dilakukan Madara sekarang" ujarku. "Apa dia sedang terlelap atau sedang berlatih jutsu baru atau semacamnya ? Atau sedang mencari Ortodox, atau apa ?"

Sakura menatapku sinis. Pandangan yang sudah lama tidak kulihat. "Haha, apa kau takut ?"

"Pada siapa ?"

"Madara".

Aku menggeleng. "Kenapa harus takut pada sesama manusia ?" Kataku sok bijak. "Yang membedakan kita atas-bawah itu hanya jika aku di tanah dan Madara sedang terbang" lanjutku setengah bercanda. Sakura tertawa kecil.

"Bagaimana dengan Ortodox ?"

Aku memutar bola mata malas. "Orang-orang bilang, berbahagialah kamu yang tidak tahu" kataku. "Aku tidak tahu samasekali seperti apa itu wujud Ortodox. Jadi...untuk apa aku harus takut ? Setidaknya, untuk sementara ini. Lagipula, aku tidak ingin kehilangan kalian. Dan kalian juga...selalu melindungiku. Itulah gunanya tim".

Kami terdiam. Lagi. Hanya angin malam yang bersuara. Atau lebih tepatnya, angin dini hari. Aku melirik jariku. Ada seekor belalang bertengger di telunjukku. Kusentil dia. Aku berdiri. Sakura mendekatiku. Ermeland-nya berbenturan dengan safirku. Angin dengan jahilnya bertiup lagi, mengibarkan helaian merah jambu ke arahku. Sakura makin dekat, mengeliminasi jarak kami berdua, dan akhirnya mengulurkan tangannya melingkari tubuhku, menyandarkan kepalanya di bahuku.

Memelukku.

Kami sedang berada di sebuah pulau di tengah samudera, pada malam hari, tapi aku mendadak merasa kami ada di gurun Kaze no Kuni lagi.

Dia memelukku ? Apa aku sedang bermimpi ?!

.

"Aku...juga tak mau kehilanganmu..." bisiknya pelan. Aku menarik nafas panjang. Seseorang, tolong tampar aku.

Aku membalas pelukannya. Meyakinkannya bahwa aku disini. Aku membenamkan wajahku ke helaian merah mudanya.

"Terimakasih...Sakura..." bisikku pelan. Dia mendekapku makin erat.

.

Tidak ada yang mengetahui apa yang sedang kami lakukan detik itu. Semua sedang terlelap, dan kami berada agak jauh dari kemah tidur.

Kami-sama, seperti inikah rasanya ketika ayah dan ibuku bertemu pertama kali ?

Sara tidak berada dalam jangkauanku sekarang, tapi aku berharap dia baik-baik saja. Sakura yang selalu termonitor olehku, dan aku berjanji dalam hati, aku akan melindunginya.

"Kau sedikit mirip ibuku, kau tahu" bisikku lagi.

"Kau juga sama anehnya dengan ayahku" balas Sakura. Hmm ? Ayahnya. Ya...Haruno Kizashi. Dia masih menghilang dalam misteri. Tapi aku sudah tidak mempedulikannya lagi, entah kenapa. Apa mungkin ada sesuatu yang terlampau magis di tempat ini ?

.

.

.

Hentikan itu, Naruto.

.

.

Lepaskan sekarang.

.

Apa ini ? Suara mendadak bergema di kepalaku. Padahal aku baru pertama kali memeluk seorang wanita, ayolah !

.

Kau naif, Draco P.

.

Oke, 'bisikan aneh' yang terakhir itu sukses membuatku perlahan melonggarkan pelukan kami sampai terlepas. Aku hanya menatap mata hijaunya. Kalut, siapa (atau apa) sebenarnya yang membisikiku ?

"Ehm" aku berdehem karena tidak tahu apa yang harus kulakukan. "Sebaiknya aku tidur sekarang".

Sakura mengangguk. "Biar kubantu memberesi barang-barang ini".


Uchiha Temple

"Semua sudah siap, Madara-sama".

"Kau bohong" balas Madara, dengan santainya berdiri bersandar di sebuah tiang beton raksasa.

"Oh, benar. Apel Emas itu belum datang" koreksi Zetsu. "Kuharap dia melakukannya dengan baik".

Madara mengangguk. Ia melempar-lempar sebuah kunci perunggu di tangannya yang sejak tadi digenggamnya.

"Memangnya...apa yang lebih berharga dari kebersamaan keluarga ? Terlebih bagi seorang anak perempuan yang hanya memiliki ayahnya..." desisnya dingin. Zetsu mengangguk mengiyakan.

"Styx !" Panggil Madara. Dan naga iblis dengan tanduk tunggal itu muncul kembali di hadapannya.

"Apa lagi sekarang ? Masih pagi, Madara. Kau ingin memesan apa sekarang ?" Desah naga itu malas.

"Bangunkan Wyvern" titah Madara pendek. "Suruh dia serang rombongan. Kita harus mengulur waktu sampai para Pembantai Bersayap lainnnya selesai mempersiapkan diri".

"Dasar bodoh" Styx menanggapi dengan sinis. "Wyvern ada di belahan Bumi Barat ! Sedangkan rombongan Draco P sedang menuju Bumi Tengah. Bukankah lebih baik kalau kusuruh Amsesthyst untuk menghalau mereka barang hanya sementara waktu ?"

Madara mendecih malas. "Amsesthyst itu untuk rencana kedepan. Lagipula dia hanya unggul kalau di sekitarnya ada air. Wyvern yang tangguh dan bersisik baja takkan dielakkan dengan mudah" katanya tegas. "Lagipula, Naruto sudah mendapatkan Pedang Rikudo. Pedang yang bahkan aku sendiri tidak tahu sampai seberapa batas kemampuannya, atau apakah dia mampu mengendalikannya" lanjutnya.

Styx mendengus. "Baiklah, kau menang" katanya sambil membentangkan sayap, bersiap terbang pergi. "Tapi ingat satu hal".

.

"Aku harus dapat bagian dari kekuasaanmu, Uchiha. Atau aku akan menyegelmu hidup-hidup. Ortodox dan Droconos pasti berpikiran sama" gertaknya lalu melesat pergi.

.

"Bagaimana dengan mereka, Madara-sama ? Kau sudah mengirim mereka ke Kirigakure ?" Selidik Zetsu beberapa saat kemudian.

Madara mengangguk. "Aku akan selalu cepat dan tepat" tukasnya. "Dia akan mengakibatkan kerusakan yang tidak pernah para Daimyo bayangkan" cetusnya bangga.

"Tapi...pada akhirnya dia akan dikorbankan, ya kan ?"

"Tentu saja" balas Madara datar. "Tidak apa. Ambisi yang terlalu banyak membuat orang buta arah kiri-kanan. Mereka akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuan mereka" katanya sambil meremas tangan. "Aku merasa aneh, secara tidak langsung seperti membicarakan diri sendiri" lanjutnya sambil tertawa kecil.

"Tapi selama mereka berlima masih berguna, kurasa tidak masalah, kan" dukung Zetsu.

"Hahaha, tentu saja" tawa Madara jahat. "Aku selalu suka menggunakan manusia. Mereka murah, mereka mudah dibujuk, dan mereka mau melakukan apapun" katanya sinis.

"Kau juga manusia, Madara-sama. Jangan lupakan itu" nasihat Zetsu.

"Tidak. Mulai sekarang kau harus biasa menghormatiku sebagai dewa. Sebentar lagipun itu akan terjadi, jadi biasakan dirimu mulai sekarang" kata Madara pongah lalu pergi ke ruangannya.


Segera setelah menikmati sarapan dan berkemas serta memastikan tidak ada yang tertinggal, kami pergi dari pulau kecil terpencil di tengah samudera itu –yang beruntungnya Ryuuzetsu sudah hafal seluk-beluk lautan ini.

"Lebih baik kita terbang lebih tinggi" seru Ryuuzetsu tiba-tiba. "Kita sebentar lagi akan memasuki area yang tidak akan dilintasi Dracovetth waras manapun" lanjutnya. "Bagian pelagic dari samudera ini. Disana adalah tempat dimana Scylla berada".

"Apa itu Scylla ?" Tanyaku spontan.

Semua melirikku (lagi, lagi dan lagi). Ah, terserah aku akan dianggap bodoh atau apa, yang penting aku penasaran !

"Scylla –itu naga raksasa sepanjang seratus meter yang memiliki enam kepala dan di pinggangnya terdapat kepala-kepala serigala berjumlah empat buah. Monster mengerikan yang dapat menyebabkan pusaran air dan menyedot kapal serta melahap para awaknya. Kadang ia bisa menyergap cukup jauh dari permukaan untuk menyambar naga yang lewat" jelas Sakura. "Mereka diketahui hanya ada di samudera ini" imbuhnya.

Aku manggut-manggut mengerti. Sejak tadi malam, Sakura berubah jadi lebih hangat padaku. Syak wasangkaku sirna sudah. Aku bahkan sudah tidak memikirkan persoalan ayahnya yang muncul-hilang secara misterius itu lagi.

"Satu Scylla sudah cukup buruk, apalagi jika harus beberapa diantara mereka" tambah Ryuuzetsu. "Jadi naikkan ketinggian kalian !"

"Yah, dan para naga aneh itu pasti akan berpesta jika kita lewat sana. Puluhan naga berbagai jenis bukan godaan yang tidak bisa membuka mulut mereka" canda Kakashi-sensei.

Aku mengeryit. "Puluhan ? Naga-naga kita bahkan tidak sampai sepuluh, sensei" protesku.

Kakashi-sensei menuding arah Barat. Tampak puluhan naga lain berbondong-bondong mendekati kami.

"Itu..."

.

"Pasukan pengawal dari Iwagakure. Hermes dan Beleriphon berhasil" tukasnya senang.

.

.

"Semuanya ! Pesan masuk !" Seru Ino tiba-tiba. Kami semua menoleh ke arahnya. Merasa diperhatikan dalam tatapan bingung, Ino menjelaskan. "Shintenshin no Jutsu, jutsu pengendali pikiran jarak jauh, dari ayahku. Yamanaka Inoichi".

"Tim sensorik Konoha" sambung Kakashi-sensei. Ino mengangguk.

"Dia bilang...pasukan dari Iwagakure untuk mengawal kita dari samping kanan belakang, pasukan Kumogakure menjaga sisi kiri belakang. Sunagakure akan menyusul di sisi depan kanan, Kirigakure akan melindungi kita di sisi depan kiri, dan Konohagakure berada paling depan" jelas Ino panjang lebar.

"Formasi Segilima Penghancur ?" Selidik Kakashi-sensei.

Ino terdiam sejenak. Nampaknya ia berusaha menanyakan formasi pada ayahnya di Konoha –yang berjarak ratusan kilometer dari sini. Wow, jutsu komunikasi istimewa dari klan Yamanaka memang hebat. Dan beberapa saat kemudian dia mengangguk.

"Formasi Segilima Penghancur memungkinkan bagian inti terlindungi dengan baik dari serangan. Ayahku bilang mereka masing-masing sudah memiliki pistol suar. Mereka akan menembakkan suar berwarna hijau jika terjadi pergantian formasi karena mendesak, suar kuning ketika menghadapi Pembantai Bersayap kelas ringan atau jumlah sedikit, dan suar merah jika menghadapi Pembantai Bersayap kelas berat atau jumlah banyak" jelas Ino.

Kakashi-sensei, Jiraya-sensei, dan Shikamaru mengangguk mengerti. "Strategi yang bagus" ucap Shikamaru. "Tidak kusangka Lima Kage bisa mengkoordinasi serangan dan pengawalan sebagus ini dalam waktu beberapa jam saja" kagumnya.

"Lima Kage ? Yang mengkoordinasi semua formasi ini adalah ayahmu, Shikamaru !" Koreksi Ino. "Aku baru saja diberitahu".

Shikamaru tampak sedikit terkejut. Tapi aku tidak heran lagi. Ayahnya, Nara Shikaku, dikenal luas di Lima Negara besar sebagai pemikir dan pencetus strategi paling top. Tidak heran kalau Shikamaru juga bisa dibilang jenius, walau sikapnya menyamarkan itu.

Satu menit kemudian, bagian sisi belakang kiri telah diisi oleh pasukan pengawal dari Kumogakure. Dua sisi belakang kami sudah terisi ! Sekarang kami tak perlu lagi berkali-kali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada penguntit atau sesuatu yang mengancam dari sana. Hinata akhirnya menon-aktifkan Byakugannya.

"Hihihi, baru kali ini aku merasa seperti orang terhormat" canda Kiba. Lee mengangguk menimpali.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Paradox...

Tunggu aku !

.

.

"Pasukan Sunagakure sudah datang !" Seru Jiraya-sensei dengan teropong di tangannya. "Sisi kanan depan kita aman" cetusnya.

"Hei, Naruto !" Sebuah suara yang sepertinya pernah kudengar memanggilku.

"Kankuro-san !" Seruku sambil melambaikan tangan ke arah Dracovetth berias muka ungu dengan penutup kepala seperti telinga kucing. Di sebelahnya juga ada Temari, Baki, dan...Sasori. Mereka bertiga ikut ternyata ! Perjalanan ini jadi terasa menyenangkan.

"Ryuuzetsu" panggil Kakashi-sensei. Gadis berambut putih itu menoleh.

"Sebentar lagi pasukan Konohagakure akan datang. Alangkah baiknya kalau kau terbang lebih ke depan, karena mereka juga belum tahu arah yang akan kita tuju. Kau tetap yang harus paling depan untuk menunjukkan jalan" papar Kakashi-sensei. Ryuuzetsu mengangguk dan memecut tali kekang Chiron-nya (yang membuatku heran karena perisai esnya tidak meleleh walau kami sudah berada di daerah subtropis bagian Selatan) dan segera melesat agak jauh ke depan.

.

.

"Itu daratan" celetuk Chouji.

"Tapi tidak lebih dari pulau besar" timpal Sasuke. "Kusagakure yang sesungguhnya masih beberapa puluh kilometer dari sini, dan mungkin dua kali lebih jauh sampai kita tiba di tujuan, Gua Besar Rhea" tambahnya. Ia mengaktifkan Sharingannya, hanya beberapa detik sebelum ia membeliak dan berkata dengan sedikit panik.

"Wyvern".

Aku menoleh ke arahnya. Begitu pula dengan yang lain. Perlahan kulirik Sakura. Seingatku...desanya musnah dan ia mengembara gara-gara naga yang satu ini. Naga yang juga diketahui memiliki kekerabatan yang dekat dengan Wivereslavia, alias, Kurama.

"Berapa ?" Jiraya-sensei mendahului bertanya.

"Hanya satu" jawab Sasuke, membuat kami semua tenang. "Tapi sepertinya ini yang paling besar" tambahnya. "Harus ada yang melawan dia".

"Aku akan membereskannya" sambarku cepat.

"Bodoh ! Kau ingin mati ?!" Seru Sakura. Aku menatapnya dengan tatapan biasa.

"Hanya satu, tak masalah. Lagipula kita sudah agak lama tidak bertarung lagi ya, Kurama ?" Aku menepuk-nepuk nagaku. Kurama mengangguk. Hanya mengangguk. Aneh. Biasanya dia paling bersemangat menunjukkan kemampuannya, tapi sejak tadi pagi dia jadi lebih lesu. Entah karena kelelahan atau apa ? Atau...

Aku menyerahkan satu Hiraishin Kunai ke Kakashi-sensei.

"Aku akan kembali secepatnya. Kalian pergilah bersama mereka" kataku tegas.

"Tidak" kata Sasuke cepat. "Biar aku berubah lagi menjadi Yamata no Orochi dan menghabisinya".

"Tidak" balasku. "Ini kesempatan yang bagus untuk mengasah kemampuanku. Aku tidak mau terlihat lemah di hadapan naga terkuat di dunia" aku mencoba beralasan. "Lagipula, Kurama punya kedekatan dengan Wyvern. Aku yakin aku bisa, apalagi sekarang aku menguasai Rasengan".

"Rasengan saja tidak cukup" tabrak Jiraya-sensei.

"Aku tahu" tukasku cepat. "Tapi aku punya ini" aku menepuk-nepuk Pedang Rikudo-ku. "Dan ini" tambahku seraya merogoh saku belakang. Mengeluarkan sebilah Hiraishin Kunai yang berkilat diterpa sinar matahari.

"Aku akan kembali dalam 10 sampai 15 menit" kataku percaya diri.

"Kau akan kembali dalam 10 sampai 15 potong" balas Sakura.

Ih, membuatku ngeri juga.

"Apa kata dunia kalau kau tidak berhasil, padahal tinggal selangkah lagi kau akan bertemu Dia, Naruto ! Biarkanlah pengawal kita yang akan memberesi dia ! Kita harus maju..."

"Dan mengorbankan entah berapa nyawa hanya untuk sesuatu yang padahal aku sendiri bisa melakukannya ?!" Aku memotong ucapan Hinata begitu saja. "Itulah yang kupelajari" kataku tegas. "Di Rouran juga. Tempat dimana hampir tidak ada yang bisa kuandalkan untuk melindungiku. Ketika tidak ada yang bisa kau andalkan untuk melindungi dirimu sendiri, maka dirimu sendirilah yang harus kau andalkan. Tidak selamanya kau hidup dengan dikelilingi orang-orang. Suatu saat nanti, setiap orang akan menjumpai satu waktu dimana hanya dia seorang diri yang bisa diandalkan" cetusku panjang lebar.

Aku menatap mereka satu-satu. Berdiri di punggung Kurama yang masih mengepakkan sayap. Rasanya heroik sekali, seperti komandan pahlawan yang sedang memberi semangat pada anak buahnya.

.

.

Ledakan keras terdengar di belakang. Wyvern itu terbang dan kini mulai menyerang. Jika kami tidak bertindak, pasukan belakang akan kewalahan. Aku belum pernah melihat Wyvern, tapi kuperkirakan dia akan jadi salah satu naga tertangguh yang pernah kuhadapi.

"Tolong ?" Kataku mulai memohon.

Jiraya-sensei menghela nafas.

.

.

.

"Baiklah" Kakashi-sensei menjawab lebih dulu. "Kau putra guruku, dan itu sudah cukup. Tapi ingat, jangan memaksakan diri. Jika kau merasa tidak mampu, kembalilah secepat mungkin" katanya. Aku mengangguk.

"Kau putra muridku, dan itu sudah cukup" tiru Jiraya-sensei. Heeee ? Guru dan murid ayahku ada disini ? Aku jadi merasa ini seperti momen yang teramat penting. Aku mengacungkan jempol dan mengedipkan mata.

"Kau siap, Kurama ?" Aku akhirnya membalikkan arah, menghadap ke Wyvern yang masih lumayan jauh di belakang.

"Apapun untukmu, Naruto" jawab Kurama akhirnya. Aku nyengir. Semoga saja dengan bertarung, semangatnya bisa kembali.

Kutaruh satu Hiraishin Kunai ke mulut Kurama. Naga oranye ini menghembuskannya sangat jauh dan sangat tepat hingga menancap ke sayap kanan Wyvern. Aku melakukan Shunshin.


Quadruple Setting: Kirigakure, Kumogakure, Iwagakure, Sunagakure.

(Bayangkan kalian sedang membaca komik dengan empat panel yang masing-masing berjajar yang menggambarkan waktu yang sama)

TAP

TAP

TAP

TAP

.

Empat orang mendarat. Semuanya sama –dengan seragam jubah hitam bergambar awan merah. Dan semuanya memakai topi caping dengan rumbai dan lonceng kecil di sekelilingnya. Semuanya...mendarat entah dari mana, ke atap Gedung Kage masing-masing desa. Empat dari Lima Negara Besar...

...kedatangan tamu tak diundang.

.

.

Kirigakure dikunjungi oleh seorang laki-laki berambut merah panjang sebahu, dengan poni yang menutupi setengah wajahnya yang berwarna putih. Dibalik bayangan topi bercapingnya, mata ungu dengan lingkaran hitam berlapis menyala suram. Sesuram apa yang akan dibawanya.

.

Kumogakure dikunjungi oleh seorang laki-laki jangkung berpostur besar, dengan mata bulat seperti mata ikan, rambut biru tua jegrak mirip Kakashi-sensei, dan kulit berwarna biru pucat. Ditambah tiga goresan macam insang di dekat kedua matanya dan gigi tajamnya, membuatnya mirip seekor hiu. Sebuah pedang raksasa yang terbungkus perban bertengger di punggungnya.

.

Iwagakure dikunjungi oleh seorang laki-laki pula, dengan mata beriris hijau dengan latar merah. Wajahnya tertutup "jilbab" dan cadar hitam. Ia sudah sabar menunggu di dekat desa itu sejak beberapa hari lalu.

.

Sunagakure agak berbeda. Tamunya adalah seorang perempuan berambut biru sebahu dengan origami bunga mawar di rambutnya. Mata almond-nya menatap desa itu dingin. Satu tindikan menghiasi bawah bibir perempuan berkulit putih itu.

.

Keempatnya melakukan handseal dengan tenang.

Babi.

Anjing.

Burung.

Monyet.

Domba.

(Ini bukan umpatan, ini adalah kunci handseal).

Keempatnya berseru keras.

"口寄せの術 !"

Kuchiyose no Jutsu

(Jurus Pemanggil)

.

BOOOOOFFFFFF...! ! ! !

.

.

Seekor Hydra segera muncul di Kirigakure, menghancurkan Gedung Kantor Mizukage dengan sekali gerakan dari ketujuh kepalanya dan sabetan ekornya. Api kuning menyala-nyala dari tujuh arah, membakar apapun yang dikenainya. Beberapa kali beberapa kepala itu juga menyemburkan cairan korosif ke segala arah tanpa ampun. Naga legendaris itu kini lebih dekat dari yang penduduk kira, dan langsung melahap banyak dari mereka yang tak sempat kabur.

.

Kumogakure kedatangan makhluk tak terduga –seekor Scylla raksasa. Naga raksasa itu rupanya tidak terbatas pada air, dia juga dapat bergerak di darat, walau dalam kecepatan kura-kura. Namun itu sebanding dengan kerusakan yang dihasilkannya. Ketujuh kepala merusak, menghantam, menindih, membelit, dan mengunyah apapun yang mereka lihat. Tubuh sepanjang lapangan sepakbola itu menggerus tanah sepanjang perjalanan dan mengacaukan desa.

.

Iwagakure diporak-porandakan oleh seekor Yaycare, naga besar dengan lima kepala yang masing-masing menyemburkan lima elemen yang berbeda. Banjir, jatuhan batu, bola api, sambaran listrik, dan hembusan angin yang mencincang segera meluluhlantakkan sebagian desa. Keempat kaki dan ekor cambuk sang naga turut membantu pengerusakan. Ditambah lagi, binatang ini memiliki sayap yang membuatnya bisa menyerang dari udara.

.

Sementara, Sunagakure kedatangan naga yang paling tidak diharapkan. Styx. Naga buas itu langsung menyerang desa, menyemburkan api kuning penyebar petakanya ke segala arah, mendegenerasi panca indera siapapun yang terkena barang hanya terpercik saja. Tanduk tunggalnya menyegel apapun yang disentuhnya dan dia terbang cepat dari penjuru ke penjuru, mengutuk siapapun yang ditemuinya.

.

Situasi di semua desa kurang lebih sama. Keempat Dracovetth dan naga-naga itu menyerang pada saat yang sangat tepat. Para Kage sedang berunding di Konohagakure –satu-satunya desa yang tidak mereka serang- dan para prajurit pilihan yang terbaik sedang mengawal (atau dalam perjalanan menuju) Tim Paradox ke Kusagakure. Yang tersisa di desa hanya rakyat biasa dan para prajurit tingkat biasa, yang tentunya hanya seperti kawanan semut yang diserang seekor tenggiling. Teriakan dan jeritan terus terdengar. Empat orang dan para naga itu menyerang tanpa henti, membunuh dan menghabisi semua yang ada di jalannya.

Manusia hanya diperbolehkan untuk menjerit, menangis, dan mati, pada hari itu...

...Dan kami tidak mengetahuinya.

Atau belum.

.

.

.


"HIIYYYYAAAAAA ! ! !" Aku berteriak seperti orang kesetanan, sementara Kurama berusaha memosisikan badannya diatas Wyvern yang sama besarnya dengan ukurannya itu, membiarkannya jatuh lebih dulu.

BUUMMM ! ! !

Naga besar berwarna hijau itu jatuh berdebum ke tanah di pulau sebelum Kusagakure itu, dan Kurama serta aku berkelit darinya. Aku berlari dan langsung kuhunuskan Pedang Rikudo itu ke perut Wyvern. Bodo amat, pikirku. Sekali isi perutnya tercecer semua, dia pasti langsung mati. Ini mungkin akan lebih mudah dari yang kubayangkan.

Tapi aku salah.

TRANG !

Huh ? Apa ini ? Pedang Rikudo tidak sanggup menebus sisik Wyvern ! Aku terkejut. Entah karena pedangnya yang jangan-jangan sudah tumpul karena ribuan tahun tak dipakai atau memang naga ini punya sisik baja ?! Aku langsung berlari mundur selagi naga itu berusaha bangun.

"Kurasa aku lupa memperingatkanmu" cetus Kurama. "Sisik Wyvern tidak ada ubahnya seperti intan. Tidak bisa ditembus apapun. Dia tidak bisa dilukai. Sisiknya jauh, jauh lebih keras dan kuat daripada sisikku, tapi cukup luwes untuk bergerak mengikuti pergerakan otot-ototnya" jelasnya panjang lebar.

"Kenapa baru bilang ?" Sungutku. "Kalau memang Wyvern tidak bisa dilukai, lantas bagaimana cara kita membunuhnya ?!"

Kurama mengedikkan bahu. Aku menepuk dahi.

Wyvern bangkit. Naga buas itu meraung. Raungan yang begitu kerasnya sampai aku merasa tanah yang kupijak bergetar dan dedaunan serta cabang-cabang pohon bergemerisik seperti akan patah.

"Dia lebih berisik daripada Manidens" gerutuku. Kurama mengangguk mengiyakan.

Naga itu melangkahkan kedua kakinya yang sebesar batang pohon kelapa itu maju satu persatu, meninggalkan jejak dalam di tanah berhumus itu dengan cakarnya yang seperti beliung. Dia mendengus. Dari kedua lubang hidungnya yang besar dan dalam keluar uap panas dan percikan api. Mata jingganya menatap kami tajam-tajam, seolah siap memotong-motong 'dua daging oranye' di hadapannya ini. Ekornya bagai lima puluh cambuk yang digabung jadi satu, meliuk-liuk menakutkan di udara dengan ujungnya yang seperti panah. Sisiknya berkilat diterpa sinar matahari. Dia mengembangkan kedua sayapnya yang masing-masing sebesar layar kapal, dan naga itu berdiri tegak, membuatnya tampak makin sangar.

Sang Wyvern menyeringai, memamerkan deretan gigi-gigi penghancur tulang yang tersusun rapi di rahangnya yang kokoh seperti tang. Ia menjilat bibir.

"Hmph" Kurama mendengus pendek. "Aku tidak sudi jadi makan siangmu !" Ia berseru, dan kemudian untuk yang ketiga kalinya menghembuskan api yang dahsyat lewat mulutnya yang lebar. Kali ini kekuatannya melebihi saat di Kori no Kuni karena kami sudah berada di daerah subtropis.

Kukira Wyvern akan langsung jadi naga panggang, tapi mengingat sisiknya sekeras baja, aku agak ragu. Tapi Wyvern rupanya tidak melulu mengandalkan sisik tak tertembusnya –ia juga menyemburkan bola api raksasa dari mulutnya- yang berukuran setara dengan milik Kurama.

Aku hanya terbengong menyaksikan dua aliran api jingga raksasa menyapu hutan, membakar apapun yang disentuhnya menjadi abu dan arang.

Tapi aku harus melakukan sesuatu. Kuamati seluruh tubuh sang naga dibalik kobaran api. Seluruh tubuhnya tampak padat dan kokoh, mustahil ditembus senjata apapun. Sampai kulihat sinar matahari menerawang pembuluh darahnya dibalik anggota gerak terpenting bagi seekor naga.

Sayap.

Kulempar Hiraishin Kunai hingga tepat mengenai sayap kirinya, dan langsung melesat kesana. Sang Wyvern tidak memperhatikanku karena ia masih sibuk dengan adu api mereka, tapi aku takkan menyia-nyiakan kesempatan. Kupikir ia juga tidak secerdas Venator.

SREEKKK ! ! !

Sepasang sayapnya robek seketika setelah kutebas dengan Pedang Rikudo.

Sang naga mendengus kesakitan. Kesempatan bagi Kurama, ia langsung menyemburkan api sekuat tenaga, dan aku kembali ke tempat tepat waktu. Wyvern termakan kobaran api. Walau aku masih ragu dia tidak bisa selamat. Dan aku benar.

Si naga kini terlihat lebih marah. Ah, yang penting, dia tidak bisa terbang. Bisa apa dia di darat ?

.

Oke, ralat. MUNGKIN DI DARAT DIA MALAH LEBIH MENAKUTKAN !

Kurama dan aku langsung sibuk menghindar. Wyvern melilitkan ekornya yang seperti tambang itu ke pohon-pohon, mencabutnya dengan mudah, dan melemparkannya pada kami. Tidak hanya pohon, dia juga sanggup mencabut sebuah batu besar dan bongkahan tanah padat dan melakukan hal yang sama.

"Sekarang ekornya" desisku. "Tapi ekornya juga dilapisi sisik".

"Serahkan padaku" ujar Kurama. "Kau alihkan dia".

Kurama melesat terbang. Wyvern hanya memandang benci karena sayapnya tak berfungsi lagi.

Sekarang satu-satunya masalahku adalah, berharap sang Wyvern berpengelihatan kabur karena asap kebakaran barusan atau dia tidak bisa mengenali jaket hitam-oranyeku ditengah sisa-sisa kobaran api.

TRANG !

Rahang Wyvern menabrak pedangku. Percikan api keluar saat dua benda sekeras baja ini bertubrukan. Aku mati-matian berusaha menahan seekor naga berbobot setara dengan gajah Afrika ini. "Kurama, cepat !" Seruku tak sabar.

GREP

Kurama menggigit ujung ekor Wyvern, dan langsung melempar naga itu ke udara dan membantingnya ke tanah dengan suara berdebum. Ia lakukan itu berkali-kali hingga salah satu giginya sampai copot. Wyvern mendesis, tapi ia masih lemah. Beberapa tulangnya mungkin retak karena perlakuan barusan. Ia kesulitan berdiri lagi dan Kurama masih ngos-ngosan. Semua ini tergantung padaku sekarang.

Aku mencoba peruntunganku lagi. Kulapisi Pedang Rikudo dengan chakra angin yang mendesing, ditambah kobaran api. Serangan kombinasi besi-api-angin. Kuayunkan pedang itu sekuat tenaga ke leher Wyvern.

TRRANGGG ! ! !

Tidak ada yang terjadi, sisik naga ini begitu kuat sehingga bahkan elemen alam Dracovetth tidak bisa melukainya. Aku nyaris putus asa. Apa yang harus kulakukan untuk menghabisinya ?

Wyvern menyemburkan api dari jarak dekat tepat ke arahku. Aku buru-buru melakukan handseal Doton dan berhasil memunculkan sebuah dinding batu tebal yang menghalangi api dahsyat itu, untuk sementara. Begitu Wyvern kehabisan napas dan apinya padam, aku buru-buru berlari dari situ. Kulihat satu sisi dinding batu yang kubuat berpijar merah dan retak-retak. Sedahsyat inilah semburannya.

Naga itu bangun, berusaha menangkapku. Tapi Kurama menabraknya dari samping dan mereka terlibat saling hantam. Aku tahu Kurama merupakan tipe naga yang bagus dalam hal pertarungan, tapi Wyvern mungkin satu atau dua level diatasnya. Sisik bajanya menghalau semua serangan Kurama. Sebaliknya, kini naga oranyeku tampak lecet-lecet dan menderita beberapa goresan dari cakar kaki Wyvern.

Aku berniat menolong, tapi ekor naga hijau itu berdesing dan langsung menghantam kakiku, membuatku tersandung dan jatuh telak ke tanah. Wyvern menyeruduk dada Kurama, menggigit pangkal lehernya sampai berdarah kemudian melemparkannya hingga membentur dan menumbangkan beberapa pohon.

"KURAMA !" Pekikku di sela-sela rintihan rasa sakit kakiku.

"Jangan berteriak, Naruto. Aku baik-baik saja..." desis Kurama sambil susah payah berusaha bangun. Wyvern meraung hebat. Sepertinya ia bisa mencium bau kemenangan kali ini. Mulutnya yang berwarna merah terang dihiasi deretan gigi pembawa maut tampak mengerikan.

Hei, tunggu dulu.

Mulutnya !

Ya ! Mulutnya ! Aku langsung bangkit dan mengambil Pedang Rikudo-ku. Kurama mengatakan bahwa 'Wyvern punya sisik baja' dan 'tidak tertembus', dan aku tidak tahu apakah dia bisa dilukai dari dalam ! Definisi 'tidak bisa dilukai' itu kurasa harus ditelaah lebih lanjut ! Satu-satunya harapanku adalah menebas mulutnya –bagian dalam mulutnya- satu-satunya bagian yang tidak dilindungi sisik bajanya.

Kulempar Hiraishin Kunai sekuat tenaga –tepat sebelum naga itu menutup mulut- dan kurasa senjataku berhasil mengenai lidahnya, buktinya sedetik setelah itu ia mendesis kesakitan dan membuka mulutnya, memperlihatkan senjataku menancap sempurna disitu. Aku melakukan Shunshin, dan langsung berpegangan pada gigi-giginya, bergelantung di kepala salah satu Pembantai Bersayap terbuas di dunia. Ini pengalaman paling mengerikan, untuk sementara ini.

Naga itu menyembur api.

TEPAT setelah kutusuk lagi lidahnya dengan...kunai peledak.

.

BOOOOOMMMMMM ! ! !

Mulut sang naga berubah menjadi bola api, dan aku terlempar. Kurang mulus sesuai rencana, tapi aku segera mendekati naga yang sudah linglung itu. Bibir dan mulutnya tampak gosong, tapi selain itu ia sepertinya baik-baik saja. Beberapa tetes darah mengalir dari mulutnya, tapi ledakan itu tidak cukup untuk membunuhnya. Kupanjat lehernya secepat yang kubisa, bergelayut pada kepalanya lagi. Aku mendarat di rahang bawahnya.

Sang Wyvern sebenarnya hanya perlu mengatupkan mulutnya untuk meremukkanku di rahangnya, tapi sebelum itu terjadi, langsung saja kupanggil satu bunshin, mengumpulkan chakra di tanganku.

"RASENGAN !" Aku berseru keras. Kuhantamkan jutsu spesial itu pada lidah Wyvern dan merasa kurang puas, kuhunus Pedang Rikudo hingga menancap di rahang atasnya, menusuk hingga menembus sampai ke tengkorak atasnya.

Sang naga meraung kesakitan. Darah langsung menyembur dan dia akhirnya tumbang. Hipotesis spekulasiku benar. Lagi.

Kurama terpana menyaksikanku. "Wow ! Kau bertarung seperti Dracovetth profesional, Naruto !" Pujinya senang. Kalau dia tahu istilah jempol-telunjuk-jari tengah-jari manis-kelingking, dia mungkin sudah mengacungkan empat jempol (Ya, kakinya ada empat, kan ?).

Aku menyeringai senang. Walau sedikit prihatin juga karena Kurama berdarah disana-sini.

"Aku baik-baik saja" katanya, seperti bisa membaca pikiranku. "Beberapa hari juga nanti pulih lagi".

"Bukan, aku mengkhawatirkan kau jadi tidak terlihat tampan lagi padahal sebentar lagi kita akan bertemu Paradox" candaku. Kami berdua tertawa.

Terdengar suara berderak dari belakangku, tepat sebelum aku memutuskan untuk pergi. Bangkai Wyvern menyusut drastis menjadi seukuran manusia, dan seluruh tulangnya melebur dan meleleh, menyisakan sebentuk struktur sisik dan kulit naga. Seakan-akan ada yang menguliti sisik baja naga itu.

Aku dan Kurama berpandangan.

"Ambil saja" saran Kurama. "Siapa tahu berguna".

Aku mengambil kulit naga itu, dan seketika di tanganku dia berubah menjadi semacam...jaket kulit. Jaket kulit sisik naga dari seekor Wyvern. Aku memakainya. Pas.

"Bukan seperti gayaku, sih" gurauku. Aku mematut-matut diri seperti artis. Kurama tertawa.

"Bagus, kok" katanya. Ia melihat langit. "Ayo cepat. Mereka pasti sudah menunggu".

Aku melakukan Shunshin sekali lagi begitu sudah duduk di punggung Kurama, dan mendapati kami langsung berpindah ke posisi semula di formasi.

.

"Halo !" Sapaku riang. Kontan mereka semua terkejut.

"Naruto !" Seru Lee. "Kau berhasil mengalahkan...wow, kau dapat dari mana jaket keren itu ?" Ia seenaknya mengalihkan pembicaraan.

"Wyvern berubah jadi jaket kulit setelah kami kalahkan" kataku bangga. "Kelihatannya cocok, kan ?"

"Bagiku kau seperti sedang dipeluk naga" canda Kiba. Aku mendengus.

Kakashi-sensei dan Jiraya-sensei menatapku bangga. Mungkin seperti ini jugalah tatapan ayahku padaku sekarang jika dia masih hidup.

"Terimakasih telah percaya padaku, semuanya" kataku.

"Terimakasih kembali" balas Kakashi-sensei. "Omong-omong, Kirigakure juga sudah tiba. Kita sudah lengkap" lanjutnya.

Aku menatap Sakura.

"Aku kembali dalam keadaan utuh, kan ?" Kataku sedikit pongah. Dia memutar bola mata.

Kurama berguncang.

"Aduh !" Seruku. Aku memegangi kaki kananku yang masih sakit. "Sudah kubilang jangan bergerak !" Seruku kesal.

"Hmph. Kau memang kembali utuh-utuh, tapi sebenarnya kau nyaris kembali tanpa setengah kaki kanan, kan ?" Balas Kurama.

Tanpa disuruh, Sakura melompat dari Bryptops dan menyembuhkan kakiku. Mata kami beradu untuk yang kedua kalinya.

"Kau berubah dari Dracovetth cengeng berkemampuan pas-pasan menjadi pahlawan dalam waktu yang sangat cepat" pujinya lirih. Aku merasa pipiku memerah. Kurama mendesis menggoda. Aku mencibir.

"Bilang saja kau cemburu, dasar naga !" Candaku.

"Huh, kalau kita sudah bertemu Paradox, akan kutanyakan apakah masih ada Wivereslavia betina untukku !" Balasnya santai.

Aku tertegun. Artemis mengatakan bahwa naga yang kutunggangi inilah satu-satunya Wivereslavia yang tersisa. Satu-satunya. Apakah Paradox juga akan mengatakan hal yang sama ? Kurama pasti...akan sangat sedih sekali. Jadi untuk saat ini, aku memilih diam saja. Melirik Sasuke dan Kakashi-sensei, yang juga melihatku dengan tatapan 'jangan ceritakan sekarang'.

"Ryuuzetsu memberitahu kita" celetuk Ino tiba-tiba –yang memejamkan mata- sedang berbicara dengan Ryuuzetsu melalui Shintenshin no Jutsu. Walau Ryuuzetsu tidak menguasai Shintenshin, tapi jutsu pengendali pikiran klan Yamanaka itu dapat membuat pemiliknya berkomunikasi secara internal pada orang tertentu yang ditujunya. "Bahwa kita sudah memasuki teritorial Kusagakure. Kita tiba lebih cepat daripada perkiraan dan hanya beberapa belas kilometer lagi sebelum menemui Gua Besar Rhea".

Beberapa belas kilometer lagi. Mungkin sekitar beberapa menit lagi.

Apa yang bisa terjadi dalam rentang waktu beberapa menit ?

Apa saja.

Tapi kuharap bukan sesuatu yang buruk. Ayolah...aku sudah berkelana mengelilingi lebih dari separuh dunia. Meninggalkan tanah kelahiranku di Konohagakure, pergi ke Perkampungan Uchiha, bertemu Sakura, melewati gurun Kaze no Kuni, tinggal sementara di Sunagakure, mendapatkan Kurama, mengetahui Kota Besar Rouran, mengenal Sara, Pakura, Anrokuzan, Hiruko, dan Kizashi...berkelana ke Tsuchi no Kuni, bertemu Tsuchikage, pergi ke Piramida Perpustakaan Besar Alexandriana, bertemu Oedipus, Ladon, Harpy, dan Shinjuu...pergi menemui Artemis, Observatorium Palomar, Kori no Kuni, dan sekarang menyeberangi samudera seluas cakrawala dan bertarung dengan Wyvern. Apa lagi yang kurang coba ?

Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Membuka mata safirku kembali.

Aku merasa lebih kuat. Entah kenapa.

"Kita sudah dekat" ucapku tanpa sadar.

"Memang sudah dekat" timpal Hinata. Dia menuding pegunungan berpuncak runcing sekitar satu kilometer di depan kami. "Pohon Sequoia raksasa sekaligus guanya ada dibalik itu" katanya.

Ratusan naga beserta Dracovetth-Dracovetth terbaik dari Lima Negara Besar terus melaju ke tempat tujuan.

Kami makin dekat.

Ini saatnya.

.

.

Semua naga menukik ke atas mengikuti alur pegunungan yang makin memuncak tinggi, kemudian menukik pelan turun kembali. Dan aku segera bisa mengenali topografi daerah yang memang unik itu. Pegunungan berpuncak runcing, yang kurasa jika dilihat dari angkasa akan membentuk lingkaran, dan di pusatnya, tumbuh sebuah pohon raksasa yang membutuhkan puluhan manusia dewasa untuk memeluk diameter batangnya, sekaligus sebuah gua yang berada diantara akarnya yang besar-besar. Ratusan batu hitam mengkilat berbagai ukuran tersebar merata baik dibalik maupun setelah pegunungan runcing. Bongkahan-bongkahan besar yang lain berkilau menyilaukan, yang segera kusadari itu adalah bongkahan berlian mentah. Wow. Seperti penambangan berlian gratis yang sangat kaya, tinggal menunggu waktu untuk ditemukan.

Melihat tempat seindah ini, kurasa memang benar dia ada disini.

Dari kejauhan, kulihat Ryuuzetsu berdiri diatas naganya. Ia melepas scarf hijau yang menutupi kepalanya. Rambut putih panjangnya berkibar anggun diterpa angin ketinggian.

"TURUNKAN KETINGGIAN !" Serunya keras-keras. "KITA SAMPAI ! BERSIAPLAH BERTEMU YANG MULIA PARADOX !"

Yang Mulia Paradox ? Huh, seperti raja saja, gerutuku dalam hati. Tunggu sampai aku memarahimu karena kerepotan mencarimu kemana-mana.

"Bagaimanapun ini sedikit aneh juga, sih" celetuk Sasuke tiba-tiba.

"Apa maksudmu, Pantat Ayam ?" Selidikku.

"Pikirkan" desis Sasuke. "Dari kemarin, kita tidak mendengar atau melihat suar warna apapun dari pasukan Konoha, Kiri, Suna, Iwa, ataupun Kumo. Tidak satupun suar yang sudah terpakai. Aneh juga mengingat satu-satunya Pembantai Bersayap yang kita temui dalam perjalanan kesini hanya Wyvern. Itupun hanya satu ekor" jelasnya.

"Itu karena mereka semua takut pada Paradox" cetus Kurama tiba-tiba. "Aku yakin itu".

"Atau mungkin mereka takut padamu" balasku pura-pura serius.

"Turunkan ketinggian" perintah Kakashi-sensei memutus pembicaraan kami.

.

Ratusan naga mendarat, dimulai dari paling belakang. Pasukan Konoha, Suna, dan Kiri perlahan mundur ke samping kami, membiarkan Tim Paradox plus Ryuuzetsu untuk mendapat kesempatan mendarat paling akhir di posisi paling depan.

Kami turun dari naga kami serempak. Ryuuzetsu berjalan ke depan gua, berjongkok satu lutut dan memanggil.

"Yang Mulia Paradox, kami semua sudah di depan".

Suaranya bergema sampai ke dalam gua. Tidak menunggu lama, suara rumput yang diinjak terdengar. Bagaimana bisa ? Karena suasana di tempat itu begitu hening walau nyatanya ratusan naga dan manusia sudah menunggu di luar. Tidak ada suara apapun selain desiran angin dan helaan napas. Semua ingin melihat sosok Paradox dalam diam.

.

.

.

"Tidak perlu memanggilku Yang Mulia, Ryuuzetsu" sebuah suara pria yang terdengar halus tapi tegas menyapa dari dalam gua.

Dia makin dekat.

.

Ini dia.

Aku meneguk ludah. Kurama tampak gelisah. Sakura tampak seperti baru selesai maraton. Sasuke mengelap keringat dahinya dengan punggung tangan. Kakashi-sensei dan Jiraya-sensei masih tetap bersikap biasa.

.

.

Naga itu berwarna putih. Seluruh tubuhnya tampak seperti dilapisi beludru terhalus di dunia. Tanduk rusa di alisnya berkilat-kilat. Kumis dan jenggotnya berkibar pelan ditiup angin. Matanya menatap kami satu persatu. Berlian merah bertengger di dadanya. Keempat kakinya yang kokoh dan kekar sekaligus langsing menyangga tubuh yang di punggungnya terdapat sepasang sayap besar bermotif indah.

Semua Dracovetth segera berjongkok dengan satu lutut. Mereka menundukkan kepala hormat.

"Uzumaki Naruto" panggilnya singkat. Aku berdiri dan berjalan ke arahnya. Ia tersenyum kecil.

"Kau memang mirip ayahmu" komentarnya.

Itu saja ? Klise sekali ! Batinku.

"Dan sedikit dari ibumu juga" tambahnya. Itu juga masih klise. Aku anak ayah dan ibuku, mana mungkin aku tidak mirip mereka ?

Ia memeriksa sekitar.

"Kalian dikawal oleh pasukan terbaik dari Lima Negara Besar ?" Selidiknya.

Aku mengangguk.

Paradox tersenyum lagi.

Aneh.

Aku merasa ada yang ganjil dibalik senyumannya.

"Tepat seperti yang kurencanakan" katanya sedikit sinis. Ia keluar sepenuhnya dari gua, menampakkan seluruh tubuhnya dan menurunkan sayapnya.

Ada yang salah.

"Paradox !" Panggilku. Dia menoleh.

"Maaf. Tapi kurasa kau memiliki tujuh berlian. Dan satu-satunya yang kulihat disini hanya satu berlian merah di dadamu !" Kataku.

"Mana enam yang lain ? Seharusnya itu ada di punggungmu !" Lanjutku berani.

Paradox tertawa kecil. Lagi-lagi. Aku mulai muak.

"Yaahh...kurasa aku tidak bisa meniru saudaraku dengan sempurna" mendadak suaranya berubah menjadi lebih berat.

Jelas ada yang salah. Sangat, sangat salah !

Tak hanya aku, beberapa timku juga mulai curiga. Mereka beringsut mundur selangkah. Paradox tertawa dengan suara beratnya. Saat ia membuka mata, pupilnya tidak seindah yang kubayangkan. Lebih mirip mata malaikat maut daripada mata naga terbijak sedunia.

Paradox menjilat bibir. "Aku tidak menyangka..."

"...kalian bisa ditipu semudah ini..."

"...Uzumaki Naruto-sama..."

.

.

.

Api berwarna ungu seketika muncul dari dadanya dan membakar seluruh tubuhnya. Sosok putih berkilat nan anggun itu lenyap dan berganti menjadi sosok yang barangkali merupakan yang paling menakutkan dari semua naga yang pernah diketahui manusia dan naga itu sendiri. Salah satu pengkhianat Etatheon. Yang kononnya adalah saudara dari Paradox itu sendiri.

.

"ORTODOX !" Seru Sasuke terkejut.

Alih-alih naga yang menawan, sosok yang kami jumpai mampu membuat seorang Jounin atau ANBU mengalami serangan jantung. Dengan kepala seperti campuran antara ular mamba dengan kuda, mata kuning terang tanpa pupil, sepasang tanduk pendek di alisnya dan sepasang lagi tanduk melengkung sempurna seperti tanduk domba bersegmen-segmen di telinganya. Rambut kasar semacam surai berwarna hitam kelabu memenuhi bagian atas lehernya. Tanduk berwarna metalik mengkilat berbentuk bulan sabit tampak di hidungnya bersama sepasang kumis seperti cambuk mengerikan. Naga ini hanya memiliki dua kaki –yang semuanya berada di depan, itupun tidak sempurna. Kaki (atau tangan) kanannya hanya berupa tulang yang dibalut otot. Tanpa pembuluh darah, lemak, atau kulit dan sisik sedikitpun. Sikunya lancip seperti belati dengan tiga jari kurus yang berujung pada cakar berbentuk sabit yang mengerikan. Dia memiliki sepasang sayap yang tersusun dari api ungu dengan semburat pink yang terus berkobar. Di lengannya, jakunnya, dan ujung ekornya juga berkobar api yang sama. Naga ini menyeringai pada kami (atau padaku) dan menampakkan gigi-gigi tajam dan berantakan sepanjang mulutnya, yang mampu menggergaji seekor banteng utuh sampai ke tulangnya dengan sekali gerakan.

Ortodox. Penguasa Kegelapan. Yang disebut-sebut sebagai naga terkuat di seantero planet setelah Paradox.

"HAHAHAHAHAHA ! ! !" Ortodox tertawa dengan suara menggelegar yang mengerikan hingga membuat ratusan helai daun rumput berubah menjadi kelabu. Aku mundur selangkah.

"Kalian...bodoh..." sindirnya sarkastik lalu meludah ke sebuah batu. Ludahnya melelehkan benda padat itu hingga tembus ke tanah.

Ia menggesekkan cakarnya, menimbulkan suara persis seperti dua pedang yang bertubrukan. "Mau saja ditipu" ucapnya pongah. "Manusia memang rendahan. Mereka murah, lemah, dan bisa dipercaya" ejeknya.

Aku tersadar.

LANGSUNG kuhunus Pedang Rikudo pada Ryuuzetsu –yang langsung berdiri mematung di tempat.

"APA MAKSUD SEMUA INI ?!" Bentakku keras. Ryuuzetsu memucat.

"Hentikan itu, Naruto-sama" lerai Ortodox pelan. "Ryuuzetsu tidak tahu apa-apa. Dia selalu mengira bahwa aku memang Paradox. Aku selama ini bersembunyi di kegelapan gua, tidak pernah keluar. Dan dia setia melayaniku dan mengira aku adalah sosok naga yang mampu menyelamatkan dunia...sampai saat ini dia baru mengetahui kebenarannya" katanya licik.

Aku melirik Ryuuzetsu tajam. Dia mengangguk pelan.

"A...ak...aku...aku...sama...sekali tidak tahu kalau dia Ortodox, Naruto !" Ucapnya terbata-bata.

Dia tidak berbohong.

Tiba-tiba aku punya pemikiran seperti itu. Ryuuzetsu juga ditipu. Sama seperti kami.

.

.

"SEMUA BERSIAP !" Pekik seorang prajurit. Ratusan naga mengembangkan sayap. Suara-suara pedang dan berbagai senjata yang keluar dari sarung dan wadah mereka turut membuat suasana makin mencekam. INI SUNGGUH DI LUAR PERKIRAAN. Kami semua telah ditipu...oleh seekor naga.

Aku merasa jadi manusia terbodoh hari itu. Kurama sudah kukira sebagai Paradox, dan sekarang, ketika bukti-bukti makin banyak, ternyata itu hanyalah rencana Sang Ortodox untuk menjebak kami !

Ortodox tertawa kecil sambil mengusap tanduknya. "Dasar kalian idiot" katanya dengan nada mengejek. "Tahukah kalian ? Kalaupun kalian semua kuizinkan pulang sekarang tanpa kucederai, yang akan kalian temui hanya bekas perumahan kalian. Bekas ! Dan kalian tahu artinya itu !" Serunya penuh kemenangan.

Kakashi-sensei mengernyit.

"Sialan" desisnya geram. Kami meliriknya. "Ortodox benar-benar pintar. Dia tidak kalah dengan Nara Shikaku" ujar Kakashi-sensei kesal.

"Hohoho. Di dunia ini, percuma kalian hidup dengan kekuatan besar tanpa kecerdasan" kata naga itu pongah.

Aku mulai mengerti kemana ini mengarah.

"Jadi...kau...?" Aku menghunuskan pedangku pada Ortodox.

"Ya" balas Ortodox sinis. "Aku sengaja menyamar menjadi Paradox dan menyuruh Ryuuzetsu menjemput kalian. Dengan berpura-pura menjadi Paradox, aku berhasil menggiring kalian beserta pasukan terbaik dari Lima Negara Besar kemari. Madara dan aku telah merencanakan ini sejak kami bertemu. Dan tak kusangka Lima Kage-pun mengadakan perundingan untuk yang kedua kalinya, sehingga akhirnya keadaan lima desa yang ditinggalkan pun kosong dan hanya menyisakan prajurit kawakan dan rakyat biasa. Tempat paling empuk untuk diserang dan dicincang habis" katanya sambil menjilat bibir. "Kecuali Konoha yang jadi tempat rapat Lima Kage, desa kalian sedang dalam penghancuran sekarang..." gertaknya.

"Lalu...bagaimana kau bisa memiliki Hiraishin Kunai itu ?!" Bentakku tak sabar.

"Ohya, aku lupa" desis Ortodox mendramatisir. "Itu tak sengaja kudapat...hadiah kecil karena telah..."

.

"...menghabisi nyawa Hokage Keempat bersama istri tercintanya yang kasar seperti cabai...".

.

Darahku menggelegak.

Ortodox tertawa seperti naga gila. Aku bisa merasakan seluruh prajurit merinding ketakutan. Bahkan suaranya begitu mengintimidasi.

"DAN SEKARANG SEBIJI MANUSIA YANG DIPILIH PARADOX, KETURUNAN DARI DUA PECUNDANG ITU, ADA DISINI !"

.

.

"AAAAAAAAAAAAHHHHHH ! ! ! ! !"

Aku berteriak keras sama gilanya dengan Ortodox, berlari tak tentu arah dan melompat setinggi-tingginya, mengayunkan Pedang Rikudo-ku sekuat tanganku mampu bergerak, dan seketika aku merasa pedangku bertubrukan dengan sesuatu –yang segera patah dan terlempar.

Aku memotong salah satu dari empat taring di rahang Ortodox.

"KUTU TIDAK BERGUNA !" Bentak Ortodox sembari mengayunkan jari-jari dan cakarnya. Tepat ke arahku.

Aku terpelanting entah berapa puluh meter ke samping, membentur salah satu cabang Sequoia raksasa dan mendarat dengan kasar ke tanah. Tapi mungkin karena aku masih memakai jaket kulit Wyvern, benturan itu tidak begitu terasa.

.

"SEERRAAAAANNGGG ! ! !"

Suara –yang entah berasal dari apa- bergemuruh memenuhi lembah. Ratusan naga dan manusia –termasuk timku, maju berusaha menyerang Ortodox. Mereka semua sebenarnya gentar, tapi kali ini kami menang secara jumlah.

.

Tapi segera kusadari, kali ini kualitas jauh lebih menentukan daripada kuantitas.

.

Ortodox mengayunkan tangan kanannya, dan langsung saja dinding api ungu kebiruan muncul dari sisi kanan, langsung menyapu dan membakar semua yang dikenainya.

Semua ? Tidak ! Ada satu yang selamat.

Aku nyaris pingsan, tapi mataku masih membuka dan bisa melihat dengan jelas.

Gadis berambut merah jambu itu.

Sakura. Dia satu-satunya yang selamat dari hantaman dinding api Ortodox. Dia menunduk. Sang Ortodox mendekatinya.

"Ah, gadis Haruno itu" desisnya senang. "Kau membawanya ?"

Sakura mengangguk. Ia merogoh tas kecil di pinggang belakangnya dan mengeluarkan benda sebesar bola tenis yang berkilau.

Tidak mungkin !

.

Apel emas. Yang diberikan Oedipus padaku. Aku merogoh tas pinggangku. Tidak ada ! Kapan...kapan dia mencurinya ?!

.

Saat membantu membereskan peralatanku seusai memelukku malam itu.

Aku baru sadar. Waktu itu aku memang sedang tidak memikirkan apel emas itu !

"SAKURA ! !" Bentakku keras-keras. Aku bangun, berusaha mendekati mereka berdua. Timku juga sama terkejutnya.

"Apa maksud semua ini ?" Desisku lirih setelah cukup dekat. Sementara, Ortodox melempar-lempar apel emas terkecil itu dengan santai.

"Hanya segini ?" Gumamnya. "Oedipus memang pelit. Tapi tidak apa, kurasa ini cukup. Kupikir aku akan menguliti naga gading itu dan memutus seratus kepala Ladon begitu aku inginkan lebih" desisnya jahat.

"Maafkan aku, Naruto" balas Sakura lirih. "Mereka...ayahku ada pada mereka. Aku berbohong soal tragedi itu. Ibuku memang sudah meninggal, tapi ayahku masih hidup. Dia disamarkan menjadi pejabat di Rouran dan dilarang bertemu denganku sampai aku menyelesaikan misi ini. Sekarang, dia sudah bebas..." jelasnya pelan.

Oh, begitu.

Aku mengerti sekarang. Jadi...Ortodox dan Madara memanfaatkan Sakura dan ayahnya untuk...semacam musuh dalam selimut ?

"Hahaha, gadis pintar" Ortodox berujar dan menyambung, "mari kita temui ayahmu, sayang".

.

"NAGA SIALAN !" Aku memekik keras karena begitu marah melihat kenyataan ini. Menerabas langsung berusaha mencincang naga setan itu –sebelum ia menyemburkan api ke arahku- yang tidak kupedulikan.

VOOOMMMM ! ! !

.

"Kurama ! Apa yang...kau lakukan ?!" Aku membentak lagi. Kurama melindungiku. Setengah sisik dari seluruh tubuhnya terkelupas langsung begitu bersentuhan dengan api Ortodox.

"PERGI, NARUTO !" Seru Kurama. "Aku akan menahannya ! Kau carilah Paradox !"

"TIDAK AKAN !" Balasku lebih keras. "AKAN KUSURUH PARADOX MENCARIKU !"

"Jangan bodoh !" Balas Kurama. Setengah detik kemudian, Ortodox menggenggam tanduk alis sebelah kanannya dan mematahkannya dengan sekali gerakan. Kurama menoleh, bersiap menyembur api namun lawannya lebih dulu menamparnya hingga beberapa giginya lepas sekaligus. Kurama limbung demikian parah sampai terseret agak jauh bersamaku.

"Hentikan, Naruto" isak Sakura –yang masih bersama Ortodox. "Kau tidak akan bisa menang melawannya !"

"Ya, hentikan itu" imbuh Ortodox sinis. "Gadis ini benar. Kau takkan bisa, barang hanya menyentuhku".

Aku berlari dan menghunus pedangku –yang hanya dianggap lalat oleh Ortodox. Aku kembali terlempar. Dari jauh kulihat Ortodox mencekik naga oranyeku dengan sebelah tangan.

"Wivereslavia terakhir" desis Ortodox. Darahku berdesir. Itu benar.

Kurama tampak terkejut, tapi ia berusaha tetap bertahan.

"Akan menyedihkan kalau kau harus mati sekarang, Wivere" kata Ortodox seenaknya. "Tapi karena kau yang terakhir dari spesiesmu dan aku tidak bisa memunculkan seekor Wivere betina, jadi kurasa kau hidup hanya menghabis-habiskan oksigen dan daging di planet ini. Basi. Sampah. Tidak ada gunanya kau hidup disini. Jadilah kerangka pajangan di museum" katanya sarkastik.

Tamat sudah.

Ortodox memutus kaki depan kiri Kurama semudah mematahkan ranting, mencakar leher dan memutus salah satu sayapnya, dan melemparnya jauh-jauh hingga sukses membentur gundukan besar berlian mentah, mengubah warnanya yang putih bening menjadi merah.

Naga iblis ini memanjat Sequioa sampai hampir ke puncaknya, menatap para prajurit yang hampir semuanya sudah terluka oleh dinding apinya –tapi entah kenapa belum ada yang mati- dengan tatapan meremehkan, kemudian memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Sebatang tongkat hitam, yang makin lama makin panjang, ditarik begitu saja sampai aku bisa melihat ujungnya, yang berupa sabit raksasa berwarna abu-abu.

"WAHAI MANUSIA !" Serunya keras-keras. Suaranya bergema.

"SAMPAIKAN PADA KELUARGA, TEMAN, DAN MUSUH KALIAN PESAN DARIKU, SANG ORTODOX !"

"Pesannya tidak perlu panjang-panjang ! Cukup dua kata !"

.

Ia berhenti sesaat.

.

"KEMATIAN MENUNGGUMU !"

Di pengujung kalimatnya, Ortodox mengayunkan tongkat sabitnya. Di belakang kami, pegunungan berpuncak runcing itu berubah menjadi datar sedatar-datarnya, alias terpotong. Potongan puncak pegunungan meluncur cepat menuruni lembah, bersiap menghancurkan apa saja yang ada di bawahnya. Naga dewa ini membentangkan sayap apinya lebar-lebar, memanggil awan hitam yang segera menghasilkan beberapa tornado api ungu, mengisap dan membinasakan apapun yang terbawa. Merasa belum puas, ia turun ke tanah. Ortodox menancapkan tangan kanannya –yang berupa kerangka dilapisi otot itu- ke tanah sampai sebatas jari, kemudian melakukan hal yang mengerikan.

IA MENGGULUNG daratan seperti seorang koki menggulung kimbap untuk sarapan, membinasakan semua naga dan manusia yang terlahap ke dalam gulungan itu. Ia bertidak seperti sedang membuat risoles, dan adonannya adalah lapisan tanah. Lapisan tanah teratas tergulung cepat ke depan seperti karpet, menyisakan daratan tandus tanpa kehidupan.

Aku berusaha bangun, terdorong oleh rasa marah pada kenyataan bahwa Ortodox-lah yang telah membunuh kedua orangtuaku sekaligus dalang penyerangan Konoha 16 tahun yang lalu, sekaligus perasaan kesal dan kecewa yang sangat berat mengingat Paradox sampai detik ini tidak ada disisiku untuk membantu atau sekedar menyaksikan semua ini terjadi.

Tapi sia-sia belaka, tulang-tulangku rasanya seperti terbuat dari kertas. Sulit untuk berdiri, walau kupaksakan, walau aku masih mengenakan jaket dari kulit Wyvern. Ortodox mendekatiku.

"Apa jadinya kalau kusandera kau, Naruto-sama ?" Sinisnya. Aku mendengus tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

"Kau kurang ajar" desisku marah. Kulihat sendiri bagaimana naga bengis ini menghabisi ratusan nyawa manusia dan bangsanya sendiri, naga, dalam waktu kurang dari lima menit. "Terkutuklah kau !"

Ortodox tertawa jahat. "Salah sendiri karena percaya padaku" kilahnya tak mau kalah. Ia nyaris mengambilku dan mematahkanku dengan jari-jarinya yang kurus dan mengerikan itu sebelum sesuatu jatuh dari langit tepat menimpanya.

Bukan, bukan sebuah meteor lagi sekarang, tapi seekor naga.

.

.

"Tenang, Naruto-sama. Aku di pihakmu" desis naga bersisik hijau dengan hiasan seperti dedaunan dan bunga itu sambil mengedipkan mata. Ia berjalan dari Ortodox yang baru saja diinjaknya dari langit.

"Parthenon..." desis Ortodox. Naga itu mengambil sabitnya dan nyaris menebas Parthenon –yang tampak santai-santai saja.

ZIIINNNGGG ! ! ! Seekor naga dengan kecepatan yang sulit kulihat menabrak Ortodox hingga terpental ke belakang. Itu Hermes, dan Beleriphon menyusul dengan mengurung Ortodox dalam sebuah kubus Jinton dan mengatupkan rahangnya, membuat sayap kiri Ortodox kini binasa tak bersisa.

"Sialan kalian" gerutu Ortodox. Mengejutkan, sayapnya pulih kembali dalam sekejap. "Tapi kalian sedikit terlambat. Lihat sekelilingmu. Aku sudah selesaikan semuanya. Yahh...hampir semuanya" Ortodox kembali dengan sikap sinisnya yang biasa.

Melawan tiga naga dewa sekaligus bukan perkara yang gampang, terlebih sekarang sepertinya dia punya urusan yang lebih penting, jadi naga iblis itu segera menghilang diiringi kobaran api ungu khasnya. Menyisakan kami berempat –dan timku, yang untungnya semuanya masih hidup.

"Naruto-sama ! Kau terlihat buruk" cetus Parthenon –naga dewa terbaru yang kukenal, sambil menjulurkan ekornya melingkari tubuhku. Berangsur-angsur aku pulih dan bisa berdiri lagi.

"Sebaiknya kau sembuhkan timnya yang lain juga" saran Hermes sambil menuding teman-temanku yang lain. Mereka semua tampak terluka, bersama dengan segelintir prajurit yang masih hidup semacam Kankuro, Temari, Sasori, Kurotsuchi, Yamato, Ao, Darui, Cee, Eff, dan beberapa yang lain.

"Kurama mana ?" Tanya Beleriphon tiba-tiba.

Aku terdiam sejenak. "Hermes" panggilku. Dia menoleh. "Antar aku. Kurama dilempar oleh Ortodox" desisku lirih.

"Parthenon, ikutlah" potong Kakashi-sensei tiba-tiba. "Kami baik-baik saja. Tidak ada yang terluka serius. Kau sembuhkan dulu Kurama". Parthenon mengangguk, dan kami bertiga segera terbang secepat mungkin ke tempat dimana terakhir kali aku melihat Kurama dilempar.

.

.


"Disana !" Seru Hermes.

Keadaan nagaku begitu mengerikan. Ia berada dalam kubangan darahnya sendiri. Kaki depan kirinya sudah putus, sayapnya tinggal satu –itupun dalam keadaan robek, ekornya tergores-gores, beberapa cakarnya sudah tumpul, patah, bahkan lepas. Satu tanduknya patah dan beberapa giginya tanggal.

Matanya terpejam, tapi ia masih bernapas.

"KURAMA !" Pekikku sambil berlari mendekat. Aku tidak peduli sepatuku dibasahi darah naga langka ini. Dia perlahan membuka mata merahnya. Sayu, tidak ada euforia seperti biasanya. Aku tercekat.

"Ini Parthenon" tudingku. "Dia naga dewa penyembuh. Dia akan memulihkanmu !" Seruku.

Kurama menggeleng lemah. "Tidak perlu" katanya lirih.

"APA MAKSUDMU !" Bentakku. "Aku tidak mau kau mati, bodoh !"

"Kalaupun aku hidup, apa manfaatku ?" Balas Kurama tak kalah menyakitkan. Aku bungkam.

"Kurasa Ortodox benar. Aku Wivere terakhir. Tidak ada yang lain...jadi...aku tidak berguna untuk hidup..."

"Ortodox salah ! Dia selalu salah dan akan selalu salah !" Seruku. "Jangan pernah percaya padanya !"

Kurama tertawa kecil. Tapi kali ini beda makna. "Naruto...kalau kau sudah menemukan Paradox..."

"...maka apa yang akan kulakukan ?"

"Paradox naga yang baik" tabrak Hermes. "Dia akan mengizinkanmu ikut perjalanan berikutnya dan bersama-sama mengalahkan Madara".

"Aku saja tidak bisa menyentuh Ortodox" desah Kurama lemah. "Paradox terlalu kuat, terlalu tangguh, terlalu hebat, bagiku. Aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya, Naruto" lanjutnya.

"Kau orang baik, Naruto" katanya tulus.

Aku menelan ludah kecut. Ini tidak akan berakhir seperti ini, kan ?

"Kau mau menjadikan naga bodoh dan konyol ini nagamu" lanjut Kurama lemah. "Jujur saja, aku merasa aku hanya sekedar hidup...tanpa tujuan..."

"...sampai aku bertemu denganmu, Naruto".

"Hidup hanya untuk makan, tidur, keluyuran tanpa tujuan, meraung dan berjalan tanpa arah dan maksud...aku merasa benar-benar hidup setelah bertemu dan bertualang bersamamu..."

Mataku berkaca-kaca. Apakah seorang Dracovetth punya ikatan batin yang begitu kuat dengan naganya sampai seperti ini ? Aku...aku tidak pernah begini hanya karena seekor naga ! Tapi kali ini berbeda.

"Aku ingin lebih lama bertualang bersamamu..." bisik naga oranye ini sambil mengedikkan jari-jarinya.

"Terlebih aku" balasku cepat, sambil mengusap satu tanduknya yang tersisa. Bibir hitamnya terangkat, membentuk senyum yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Aku terisak. Hermes bahkan ikut berkaca-kaca. Parthenon ? Jangan tanya. Dia sudah menangis dari tadi.

"Terlalu parah" desis Parthenon. "Ortodox merobek aortanya. Punggungnya membentur bongkahan berlian, dan hampir semua tulangnya sudah rusak".

"BERUSAHALAH MENYEMBUHKANNYA !" Seruku. Aku tidak bisa menerima semua ini. Kenapa semuanya datang bertubi-tubi ? Ditipu Ortodox, ditipu Sakura, kehilangan ratusan prajurit berbakat, dan apa sekarang aku harus kehilangan naga pertamaku ?!

"Jangan kasar pada wanita, Naruto" bisik Kurama. "Aku...baik-baik saja...aku hanya ingin tidur. Dan jangan pernah bangunkan aku..."

Air mataku jatuh juga.

"Dasar cengeng" ledek Kurama dengan suara yang makin melemah. "Bangunlah. Hadapi semua ini. Kau bisa. Aku percaya kau bisa...dan jangan sia-siakan kematianku nanti" katanya. "Hermes...robek perutku. Naruto...ambil usus dan lambungku. Ada banyak chakra tersimpan disana...hal terakhir yang bisa kuberikan untukmu..."

"KAU BERCANDA !" Aku membentaknya lagi. Mataku basah. Aku tidak peduli. "Kau tidak akan mati, tahu !"

"Memangnya aku Paradox, tidak bisa mati" balas Kurama. Sekarang suaranya nyaris tidak terdengar.

"Tolong sampaikan salamku pada Paradox..."

.

Hening.

.

.

"Naruto-sama..."

.

.

"Terimakasih".

.

.

"KURAAMMAAAAAAAAAAAA ! ! ! ! !"

.

.

.

Hari itu.

.

.

.

.

.

Bersambung...


Author's Note (2):

Chapter 12 akhirnya selesai !

Ada lagi nggak yang ketipu disini ? (*Mesem-mesem gaje* #digampar). Cuma satu kata yang bisa digambarkan untuk mendeskripsikan chapter ini: MALANG BANGET NASIB LO, NARU ! (*dibunuh reader*).

Chapter 13 akan penuh dengan kejutan, jadi jangan sampai terlewat ! (*Promosi*). P.S: Jangan tanya kapan Naru ketemu Paradox. Ikuti aja ceritanya (*acung-acung Shakujo* #dilindes). Apakah Kurama akan berpisah dengan Naruto untuk selamanya ? Benarkah dia adalah naga terakhir dari spesiesnya ? Apa hubungan antara Sakura dan Kizashi dengan Madara ?

Okeh, bagi yang penasaran soal Ortodox, disini terungkap sudah. Yang pengin liat list detailnya, silakan di bawah. Kedok Sakura juga sudah terbongkar. Dan disini mulai dimunculkan anggota Akatsuki, walau cuma empat orang. Soal Hydra, di chapter ini memang baru muncul sebentar, tapi akan tampil lagi di chapter-chapter depan.

Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !


Coming Soon: Paradox Chapter Threeten :

"The World Needs You"

See you again in chapter 13 !

-Itami Shinjiru-


-Dragons List in Chapter Twelve:

Scylla (Diambil dari monster mitologi Yunani yang konon menjaga Selat Messina diantara Italia dan Pulau Sisilia)

Strength : Tinggi

Ukuran : Panjang 100 meter, berat 210 ton

Kecepatan terbang : Tidak dapat terbang, namun dapat melaju di dalam air secepat 40 km/jam

Spesial : Memiliki enam kepala dan kepala-kepala serigala di pinggang

Tipe serangan : Serangan langsung atau menyemburkan air deras dari keenam kepalanya

Kategori : Kriptid

Elemen spesial : -

Level bahaya : Gila

Pemilik : Hoshigaki Kisame

Hydra (Diambil dari naga terkenal mitologi Yunani yang dibunuh Heracles (Hercules) sebagai Tugas Kedua)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 25 meter, berat 18 ton

Kecepatan terbang : Tidak dapat terbang, namun dapat melata dengan kecepatan 30 km/jam atau berenang secepat 42 km/jam

Spesial : Memiliki tujuh kepala yang akan berlipat dua jika dipotong. Dalam beberapa cerita, jumlah kepalanya bisa mencapai 100

Tipe serangan : Serangan langsung atau menyemburkan api dari mulut, asap beracun, atau cairan korosi

Kategori : Mighty

Elemen spesial : Racun

Level bahaya : Gila

Pemilik : Uzumaki Nagato

Yaycare (Naga OC, namanya diambil dari nama anak Sungai Amazon, Sungai Yaycare di Amerika Selatan)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 25,8 meter, berat 19 ton

Kecepatan terbang : 5-40 km/jam

Spesial : Memiliki lima kepala yang menyemburkan lima elemen

Tipe serangan : Menyemburkan air, tanah, api, petir, dan angin dari kelima kepalanya (tapi tidak bisa menggabungkan elemen untuk membuat Kekkei Genkai atau Kekkei Touta)

Kategori : Perang

Elemen spesial : -

Level bahaya : Sangat tinggi

Pemilik : Goton no Kakuzu

Wyvern (Diambil dari naga mitologi Eropa yang terkenal dari Bangsa Anglo Saxon –Wivere- berarti 'ular')

Strength : Ekstrim (namun begitu mengetahui kelemahannya, bisa dibilang 'medium')

Ukuran : Panjang 10-17 meter, berat 10 ton

Kecepatan terbang : 5-185 km/jam

Spesial : Sisik baja yang tak tertembus, kobaran api dahsyat, ekor yang sangat kuat

Tipe serangan : Menyemburkan api dengan jarak serang cukup jauh dan lebar

Kategori : Monstrous

Elemen spesial : -

Level bahaya : Gila

Pemilik : Tunduk pada Uchiha Madara

Parthenon (Naga OC, diambil dari nama bangunan Yunani Kuno)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 14,8 meter, berat 8 ton

Kecepatan terbang : 20-200 km/jam

Spesial : Kekuatan penyembuh, lebih mahir dari Pomona, dan setiap luka di tubuhnya beregenerasi dengan sangat cepat

Tipe serangan : Menyemburkan api hijau pekat yang dapat menyebabkan halusinasi

Kategori : Dewa

Elemen spesial : Racun

Level bahaya : Medium

Pemilik : Tidak ada

ORTODOX (Second main antagonist)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 17,2 meter, berat 12 ton

Kecepatan terbang : 20-300 km/jam

Spesial : Jika dikehendaki, api spesialnya dapat membakar apapun yang ada, atau membakar makhluk hidup menjadi tulang belulang dan menjadikannya berpihak padanya

Tipe serangan : Menyemburkan api ungu dengan semburat pink, atau serangan langsung yang menyebabkan kerusakan dahsyat

Kategori : Dewa

Elemen spesial : Racun

Level bahaya : Death-see

Pemilik : Bekerjasama dengan Uchiha Madara