Chapter 2

xxxKuroyuki Akihanaxxx

Hari sudah semakin sore, matahari mulai turun dari singgasananya. Beberapa orang shinigami terlihat berjalan berlalu lalang di sekitar Seiretei. Seorang perempuan berambut hitam pendek berjalan dengan anggun, menyisir lokasi yang dilewatinya untuk memastikan tidak ada hal membahayakan yang terjadi.

Mata Violet perempuan itu mengawasi dengan waspada, walaupun hal tersebut dapat disembunyikannya dengan baik. Yah, kakaknya pernah mengatakan, penting untuk menyembunyikan kewaspadaanmu untuk membuat lawanmu lengah, dan begitu ada celah, buat dia tidak akan mengetahui kewaspadaanmu untuk selamanya.

"Rukia!"

Perempuan berambut pendek itu, Rukia, menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah asal suara itu, hingga kemudian dia mendapati sesosok pemuda berambut merah menyala berlari ke arahnya.

Pemuda itu kini sudah berhenti dihadapannya. Dia menyeringai, menunjukan deretan gigi putih miliknya.

"Kau sampai Shift malam hari ini?" tanya pemuda itu. "Tidak, kau sendiri bagaimana, Renji?" Rukia bertanya balik pada pemuda itu.

Pemuda itu, Renji, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku sampai malam."

"Oh..."

Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju ke divisi 2, untuk mengisi daftar pergantian shift hari itu. Seiretei sekarang selalu mengadakan patroli jaga malam setiap harinya, belajar dari pengalaman, tentang penyerangan yang kebanyakan terjadi pada malam hari.

Sesampainya disana, mereka bertemu dengan beberapa shinigami lain yang bertugas malam itu. Beberapa wakil kapten dan kapten juga ada disana.

"Selamat sore, Kuchiki-san, Abarai-Kun!" sapa Momo pada 2 orang rekan sesama fukutaichounya. Keduanya mengangguk ketika disapa.

"Hari ini Taichou yang bertugas adalah Hitsugaya Taichou. Sementara Fukutaichou yang bertugas adalah Kotetsu Fukutaichou dan Abarai Fukutaichou." ucap salah seorang shinigami yang sedang berjaga. Renji mengangguk, kemudian dia meraih kertas yang disodorkan oleh shinigami itu dan mengisinya.

Mereka kemudian terlibat dalam pembicaraan ringan, hingga tanpa disadari, hari mulai menjelang malam.

"Ah... Aku harus pulang." ucap Rukia memutus pembicaraan. "Nii-sama bisa marah kalau aku pulang terlambat."

"Mau kuantar?" tanya Renji. Rukia menggeleng pelan.

"Kalau begitu, aku permisi." Rukia memberi salam, kemudian dia segera pergi dari divisi 2 menuju ke arah Kuchiki Mansion.

Keadaan sudah lumayan sepi, walaupun sebenarnya matahari baru saja terbenam beberapa menit lalu. Rukia berjalan dengan tenang menuju ke arah Kuchiki Mansion. Malam hari itu udara cukup dingin dan agak berkabut, yang entah kenapa membuat keadaan agak mencekam.

Langkah Rukia terhenti, ketika dia melihat seseorang berdiri didepannya.

"Sedang apa kau disini?" tanya Rukia, menegur sosok itu. Sosok itu menoleh sejenak, kemudian dia pergi.

"Hei! Tunggu!"

Rukia berlari menyusul sosok itu. Dia mencengkram Zanpakutounya erat. Dia tidak bisa merasakan Reiatsu milik orang itu, entah kenapa.

Mendadak, sosok itu berhenti. Rukia ikut berhenti kira-kira 3 meter didepannya. Dia bisa melihat sosok itu dengan jelas sekarang. Sosok itu memakai Kimono hitam dengan motif bunga berwarna putih, namun Rukia tidak bisa melihat wajahnya karena gelap.

Tapi sepertinya, dewi fortuna sedang berbaik hati padanya. Awan awan dilangit lenyap, sehingga memperlihatkan bulan yang bersinar terang di langit. Menampakan sosok itu dengan jelas. Rukia membatu ditempat. Melihat sosok didepannya, seperti sedang bercermin.

Sosok itu sangat mirip dengannya.

"Rukia!"

Rukia terkejut, kemudian dia menoleh cepat dan melihat Ichigo tengah berlari ke arahnya dengan agak terburu buru.

"Sedang apa kau disini? Aku mencarimu kemana mana!" ucap Ichigo seraya meraih tangan Rukia.

"A... Aku..."

"... Kau tersesat? Bagaimana bisa kau masih tersesat padahal sudah tinggal disini seumur hidupmu? Sudahlah! Sekarang ikut aku! Ayo!"

"He... Hei!"

Rukia tidak bisa melawan. Akhirnya, dia ikuti saja kemana Ichigo hendak membawanya pergi. Dia menoleh kebelakang, dan sosok itu telah lenyap. Membuat Rukia makin bertanya tanya.

"Siapa dia itu?"

"Apa?"

"Eh...?"

Ichigo menghembuskan nafas keras. "Kau ini kenapa sih!?" tanyanya sedikit emosi. Rukia mengernyit.

"Jangan berteriak padaku, baka! Tapi, sebenarnya kau mau membawaku kemana?"

Tatapan Ichigo mendadak berubah serius. "Byakuya ditemukan tidak sadarkan diri di depan sebuah pohon sakura di pemakaman oleh seorang shinigami yang sedang bertugas disana."

Mendadak syaraf Rukia menjadi tegang. "Kakak ku?" Ichigo mengangguk.

"Apa dia baik baik saja, Ichigo?" tanya Rukia. Kekhawatiran membanjiri dirinya.

"Dia baik baik saja kok." jawab Ichigo sekenanya. "Unohana-san bilang, dia dipukul dari belakang dengan menggunakan benda tumpul. Dan sepertinya, pukulan itu tepat sasaran."

"Kenapa bisa kau bilang begitu?" tanya Rukia dengan nada menuntut.

"Soalnya, dia belum sadar sampai sekarang."

xxxKuroyuki Akihanaxxx

Renji mengetuk-ketukan jarinya diatas lututnya. Sudah 1 jam dia duduk di tempat itu, tapi kaptennya masih belum sadar.

Seharusnya, sekarang ini dia sedang berpatroli di sekitar Seiretei untuk memastikan keamanan tempat itu. Namun, ketika dia hendak pergi dari divisi 2, ada seorang shinigami yang datang padanya dan mengatakan bahwa kaptennya terdampar(?) di divisi 4. Tanpa pikir panjang, Renji langsung saja melesat meninggalkan tugasnya menuju divisi 4.

Akhirnya, Renji bangkit dari duduknya dan meregangkan tubuhnya sedikit. Bunyi gemeretak aneh terdengar di telinganya, membuat dirinya bergidik sendiri. Dia melihat sekilas ke arah kaptennya yang tertidur di atas ranjang itu. Dia menghela nafas pelan, kemudian berjalan ke arah pintu.

Baru beberapa langkah Renji keluar, dia telah merasakan reiatsu yang familiar. Dan benar saja, tak lama, Ichigo dan Rukia berlari ke arahnya sampai beberapa anggota divisi 4 yang kebetulan lewat menegur mereka berdua. (atau lebih tepatnya Ichigo karena tidak ada yang berani menegur Rukia.)

"Renji!"

Rukia berlari dengan agak tergopoh, kemudian langkahnya terhenti didepan Renji. "Bagaimana keadaan Kakak ku?" tanyanya. Renji menghela nafas, "Taichou belum sadar, tapi kau tidak usah cemas. Unohana Taichou bilang lukanya tidak parah."

Rukia menghela nafas lega. Namun, kemarahan mendadak muncul dalam dirinya. Siapa yang berani menyerang kakaknya?

"Kalian bertiga, apa tidak bisa tenang sedikit?"

Ketiganya menoleh, terlihat Juushiro tengah berjalan kearah mereka bertiga.

"Taichou/Ukitake Taichou." ucap Rukia dan Renji bersamaan. Keduanya membungkuk pada Juushiro. Pria itu mengangguk lalu menggerakan tangannya, tanda agar mereka bangkit dari posisi mereka.

"Retsu bisa memarahi kalian kalau kalian berisik di tempatnya."

Renji dan Rukia berpandangan satu sama lain, kemudian mereka berdua menatap Ichigo.

"Apa?"

Rukia menggeleng, "Bukan apa apa".

Ichigo menghela nafas pelan, "kalau tidak ada urusan lagi, aku mau kembali pada tugas patroli. Kau mau ikut, Renji?"

Renji menghela nafas, kemudian dia menjawab tawaran Ichigo dengan 'ya' pelan. Keduanya memberi salam pada Juushiro sebelum akhirnya pergi.

"Mereka berdua itu selalu semangat ya..." Juushiro bicara sembari terkekeh pelan. Sementara Rukia hanya menatap kedua kawannya itu dengan tatapan datar.

"Apa kau tak mau melihat keadaan kakakmu?" tanya Juushiro pada wakilnya itu. Rukia menggeleng pelan.

"Tidak apa, Nii-sama butuh istirahat."

xxxKuroyuki Akihanaxxx

Ichigo dan Renji berjalan beriringan. Keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

"Kira-kira siapa yang menyerang Byakuya?" Ichigo memulai pembicaraan. Renji menoleh ke arahnya, "mana kutahu." jawabnya asal. Ichigo mengernyit dalam melihat kawannya itu.

"Kau ini..."

Angin berhembus dengan kencang secara mendadak. Menerbangkan daun daun kering dan debu kemana-mana. Kedua shinigami itu secara spontan mengangkat tangan mereka untuk melindungi mata.

"Cih... Ada apa ini!?"

Ichigo mengintip melalui celah yang ada. Pandangannya masih tersamar oleh angin kencang. Namun, dia masih bisa melihat. Ada sesosok siluet yang muncul didepannya. Ichigo mengernyit. Disana ada orang, lalu kenapa Ichigo tidak merasakan reiatsu orang itu?

Sosok itu menatapnya, namun kemudian berbalik dan pergi.

"Tunggu!" teriak Renji yang ternyata juga melihat sosok itu, keduanya kemudian berlari mengejar sosok itu setelah angin berhenti bertiup.

"Hoi...! Tunggu! Siapa kau?" teriak Ichigo sembari mengejar sosok itu. Renji memukul kepala Ichigo dengan keras.

"Jangan teriak begitu! Dia tidak akan berhenti hanya karena kau teriaki!"

Keduanya masih mengejar orang itu. Namun, sepertinya sosok yang mereka kejar menyadari adanya potensi bahaya. Dia menengok ke belakang sejenak, namun kemudian dia kembali fokus ke depan.

"Hei! Berhenti!" teriak Renji. Kali ini Ichigo yang memukul kepala Renji.

"Bodoh! Tadi kau bilang jangan teriak!" protes Ichigo. Renji hanya menyeringai.

"Tidak enak mengejar orang tanpa berteriak."

Ichigo memutar bola matanya. Kemudian pandangannya kembali fokus pada sosok di depannya. Kemudian, Ichigo menyadari sesuatu.

Sosok itu menuju ke Divisi 1.

"Hei..." Ichigo menyikut Renji. "Apa yang mau dia lakukan, sampai-sampai dia pergi ke divisi 1?"

Mendengar perkataan Ichigo, Renji jadi menyadari sesuatu. Dia melihat ke sekeliling, dan benar saja, rute yang mereka tempuh memang rute menuju divisi 1.

"Dia tidak akan mencelakai Soutaichou, jelas..." ucap Renji. Mengingat penyusup itu akan hangus terlebih dahulu sebelum bisa menyerang sang kakek.

Ichigo ikut berfikir, "atau jangan-jangan, dia mau mencuri arsip penting?"

Keduanya terdiam sejenak, hingga kemudian...

"Gawat!" teriak mereka bersamaan. Sementara, tanpa mereka sadari, sosok yang mereka kejar tersenyum geli.

Sosok itu berhenti di salah satu atap bangunan. Rupanya, kini ada bangunan yang berjarak cukup jauh dari bangunan tempatnya berpijak. Dia terdiam, terlihat mempertimbangkan sesuatu, kemudian, dia bersiap untuk melompat.

Namun, dia mengurungkan niatnya.

Ichigo dan Renji berhenti tepat 5 meter di belakang sosok itu.

"Berhenti." ucap Ichigo sembari menghunuskan Zangetsunya.

Sosok itu menoleh sekilas, dan kemudian dia melompat.

"Tunggu!" teriak Renji, dia menarik zanpakutounya. "Hoero, Zabimaru!"

Renji mengaktifkan shikainya, pedangnya menyerang ke arah sosok itu, sosok itu berhasil menghindar, namun, serangan Zabimaru ternyata berhasil mengenai tudung dari jubah yang digunakan sosok itu, sehingga, tudung itu tersingkap, dan memperlihatkan wajah sosok yang mereka kejar sejak tadi.

Dan melihat wajah dari sosok didepan mereka, keduanya tercengang.

"Rukia?"

xxxKuroyuki Akihanaxxx

Divisi 1 terlihat sepi. Hanya orang-orang yang sedang bertugas sajalah, yang terlihat lalu lalang di tempat itu. Di salah satu ruangan, terlihat seorang pria tua tengah duduk sembari menghadap jendela yang terbuka. Matanya setengah terpejam. Namun dia tidak tidur. Dia tengah menunggu sesuatu. Ah... Lebih tepatnya, menunggu seseorang.

Angin dingin berhembus pelan, masuk melalui jendela yang terbuka itu, menerpa waajahnya. Membuat matanya terbuka seutuhnya. Dedaunan dari pohon-pohon yang berada di sana menari-nari karena angin.

Bersamaan dengan itu, sebuah reiatsu yang familiar mulai terasa. Pria itu bangkit berdiri. Hendak menyambut 'tamu' yang sejak tadi dinantikannya.

Dari luar jendela, terlihat sebuah siluet yang melompat masuk melalui pagar yang tinggi. Sosok itu kemudian sedikit membungkuk sopan pada sang pria yang terlihat dari tempatnya berdiri.

"Kurasa, kau bisa masuk lewat jalan biasa."

Sosok itu terkekeh pelan, "Ada Renji dan shinigami bernama Ichigo yang mengejarku. Jadi aku terpaksa lewat sini. Apa kedatanganku malam ini mengganggu anda, Soutaichou?"

Pria itu, Soutaichou, berdehem pelan, "sama sekali tidak." Ucapnya tenang. "Masuklah."

Sosok itu mengangguk. Dia kemudian melangkah memasuki ruangan itu melalui jendela. Jubahnya yang telah setengah koyak ditanggalkannya. Membuat kimono hitam bermotif bunga putih yang dikenakannya terlihat.

Soutaichou mempersilahkan sosok itu untuk duduk. Kemudian, dia menyediakan secangkir teh padanya.

"Tidak perlu repot seperti ini. Saya tidak lama." ucapnya. Soutaichou menggeleng.

"Kau butuh sesuatu untuk menghangatkan tubuhmu."

"Minumlah."

Sosok itu menghela nafas, namun kemudian dia meminum teh itu pada akhirnya.

"Bagaimana? Merasa lebih baik?"

Sosok itu mengangguk. Soutaichou tersenyum ke-kakek-an.

"Nah... Jadi, apa yang hendak kau bicarakan denganku, Hisana Kuchiki-san?"

xxxKuroyuki Akihanaxxx

Nb : Kalau ada yang bingung soal Soutaichou yang masih hidup, silahkan baca fic saya yang berjudul The New Taichou. Tapi saya tidak memaksa, tenang saja...

RnR Please...~