Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.
Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara
Main Pair : NaruSaku, NaruSara, KuraPara
Slight Pair : ShikaTema, KakaPaku, & NagaKonan
Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance, Mystery
Author's Note :
Jumpa lagi di chapter 13, readers !
Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Terimakasih, matur nuwun, arigato gozaimazu, thank you very much, syukran, gracias (*bungkuk hormat*). Soal POV, saya akan menggantinya jadi POV tokoh tertentu atau POV orang ketiga sesuai kebutuhan, tenang saja.
Naruto mendapat tekanan bertubi-tubi: Ia dan timnya serta Lima Negara Besar, bahkan mungkin seluruh dunia, telah ditipu oleh Ortodox yang menyamar sebagai naga yang selama ini mereka cari. Sakura akhirnya menampakkan maksudnya pada tim begitu ia berjumpa dengan Ortodox, membuatnya mendustakan semua yang telah dialaminya selama bergabung bersama tim termasuk perasaannya pada Naruto malam itu. Naga pengkhianat Etatheon yang juga sekaligus saudara Paradox itu bahkan melukai naga pertama Naruto, yang berujung pada...kematian Kurama !
Benarkah Kurama memang telah mati ? Kapan Naruto berjumpa dengan Paradox yang selama ini dicarinya ? Dan apakah Madara akan berhasil membangunkan Droconos kembali dan bersama-sama melancarkan Tsuki no Me Keikaku ? Dan ada apa rahasia dibalik semua kejadian aneh yang mengiringi perjalanan mereka ?
Enjoy read chap 13 !
PARADOX
Chapter Tigabelas :
The World Needs You
Orang ini berambut kuning panjang, tapi tidak tampak berantakan. Dagunya lancip dan matanya biru sepertiku. Ia mengenakan jubah putih panjang dengan dekorasi api berwarna oranye di bagian bawahnya. Dibalik jubahnya, ia mengenakan rompi hijau yang sama dengan yang dikenakan Kakashi-sensei. Orang ini tersenyum ramah padaku. Aku tidak asing dengannya. Dan memang seharusnya tidak asing.
"Apa kabar, Naruto ?" Sapanya ramah.
.
"Buruk," jawabku sekenanya. "Ayah".
Dia tertawa kecil. Aku mendengus kesal.
"Bagaimana rasanya jadi seorang Draco P, Naruto ?" Katanya setelah tawanya selesai.
"Kurasa aku ingin mati saja," jawabku asal-asalan. Dia tertawa lagi.
"Kau senang melihat anakmu menderita ?" Tanyaku lesu beberapa detik kemudian. Itu cukup untuk menghentikan tawanya lagi.
"Sikap ketusmu mengingatkanku pada Kushina," komentar ayahku pura-pura serius. "Kau mewarisi sikapnya. Berkemauan keras dan tidak bisa dienyahkan. Wajahmu juga berbentuk sama sepertinya, walau sepertinya kulitmu dan rambutmu sama denganku".
Aku terdiam. Mestinya aku senang karena ini pertama kalinya aku bisa bicara langsung dengan ayahku. Tapi...sudahlah. Ada hal yang jauh lebih penting, yang HARUS kutanyakan padanya sekarang. Sekarang juga.
"Ayah," panggilku. "Ketika kau menjadi Draco P...apa sulit menemukan Dia ?" Aku melancarkan serangan pertama.
Dia terdiam sejenak. "Tidak terlalu," jawabnya enteng. "Begitu aku diberitahu oleh seorang Daimyo bahwa aku adalah Draco P selanjutnya, aku bertemu Dia hanya dua hari kemudian, dan kami selalu bersama setelah itu. Itu terjadi hanya beberapa minggu setelah aku menikah dengan ibumu, Naruto," jelasnya singkat.
Giliranku terdiam. Dua hari ? Hanya dua hari ? Aku sudah hampir sebulan berkelana ke separuh penjuru dunia tidak menemukan apa-apa !
"Ini tidak adil," gerutuku kesal. "Aku sudah mencarinya lama sekali ! Mengitari setengah belahan dunia dari Konoha ke Kusa ! Kenapa aku samasekali belum menemukan tanda keberadaannya sedikitpun ?"
"Sesuatu yang sama tidak terjadi dua kali, Naruto," jawabnya cepat. "Apalagi untuk naga semacam dia. Lain Draco P, lain pula caranya bertemu. Atau barangkali, waktu juga..."
"Tapi ini darurat !" Potongku kesal. "Madara sudah merencanakan jutsu aneh yang membuatnya bisa diakui sebagai dewa yang memerintah dunia ! Dan Ortodox sudah bangkit, aku dan teman-temanku melihatnya dengan mata kepala kami sendiri bagaimana dia merenggut seratus nyawa dalam waktu satu menit, bagaimana dia membunuh naga pertamaku dengan biadab !" Seruku keras. Aku memberi penekanan pada lima kata terakhir.
"Kenapa, ayah ?" Aku mengakhiri cercaan itu dengan menggumam pelan.
Pria di depanku ini menghela napas lalu berkata, "Kau menguasai Rasengan-ku, ya ?" Dan aku mengangguk.
"Kau juga menguasai Shunshin no Jutsu menggunakan Hiraishin Kunai ?" Selidiknya lagi. Aku mengangguk lagi. "Dan kau punya elemen angin sama seperti yang kumiliki," lanjutnya, dan sekali lagi aku mengangguk.
"Tapi aku bukan Yondaime Hokage," susulku. "Aku bukan pahlawan yang diakui seluruh penduduk desa. Aku bukan orang yang dihormati, aku bukan guru bagi siapa-siapa dan murid yang baik bagi siapa-siapa. Aku bahkan bukan Dracovetth yang baik. Naga pertamaku tiada bahkan belum genap sebulan aku memilikinya," desisku lirih.
"Dan aku tidak memiliki Kekkei Touta," balas ayahku. Aku mendongak, menatap matanya yang biru jernih. Rasanya seperti menatap diriku sendiri. "Aku tidak pernah punya naga seekor Wivereslavia yang sangat setia dan begitu cepat akrab, saling melengkapi satu sama lain, dan aku tidak mendapatkan imbuhan '-sama' di belakang namaku ketika usiaku masih 16 tahun," sambungnya lancar. Ia mengerling padaku.
Kami tertawa bersama. Entah kenapa. Tapi rasanya menyenangkan sekali.
"Kurama pasti bangga punya pengendara sepertimu," celetuk ayahku, sekali lagi membuatku terdiam.
"Tidak ada yang bisa menggantikannya," cetusku. "Bahkan seekor Paradox sekalipun".
"Kukira Paradox akan sama baiknya dengan Kurama," balas ayahku. "Pasalnya Dia belum menemukan Dracovetth yang benar-benar menyatu dengannya," ujarnya serius. "Dulu aku sempat merasa ge-er bahwa itu pasti aku, tapi nyatanya tidak. Paradox bilang, dia bahkan tidak mau memberitahuku sesuatu yang dirahasiakannya seumur hidupnya, dan baru satu makhluk hidup yang mengetahuinya," jelasnya misterius.
Aku mengernyit. "Sesuatu yang dirahasiakan Paradox ?" Ulangku. Ayah mengangguk.
"Apa itu ?"
"Tentu saja aku tidak tahu," balas ayahku. "Tapi kurasa kau ditakdirkan untuk mengetahuinya".
"Aku bahkan belum menemukannya".
"Kau akan menemukannya," ujarnya serius. "Dan kalian berdua akan jadi tim yang hebat, bersama dengan teman-temanmu. Mereka semua istimewa. Semua naga dan semua manusia adalah istimewa, dan kau yang akan membimbing mereka dan mengalahkan Madara dan para pengkhianat Etatheon serta menghapuskan istilah Pembantai Bersayap dalam kamus Dracovetth".
Aku mencibir lalu memalingkan muka. "Paradox tidak lebih dari seonggok nama dari naga terburuk di dunia," sungutku kesal. Ayahku menggeleng kepala pelan, lalu mencolek daguku, membuat mata biru kami bertatapan.
"Narutoku tidak akan patah semangat begitu mudah," bisiknya tegas. "Bangunlah, dunia membutuhkanmu".
"Kenapa kau begitu percaya padaku ?" Balasku. Dia tersenyum lebar seakan telah menantikan sesuatu yang selalu ingin diucapkannya, lalu mengusap rambut kuningku.
.
"Karena aku ayahmu," jawabnya singkat.
.
.
.
Aku terhenyak bangun. Melihat sekeliling, kusadari aku berada di sebuah tenda. Aku berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi, tapi tidak bisa. Akhirnya aku keluar dan mendapati banyak orang dengan kondisi yang buruk, atau sangat buruk, dan setidaknya mereka semua terluka, berseliweran di dekat tenda-tenda sementara yang dibangun berkelompok.
"Naruto-sama, Anda sudah baikan ?"
Aku menoleh. Parthenon. Aku teringat sesuatu.
"Kau tidak bisa menyelamatkannya ?" Tanyaku lirih. Parthenon menggeleng.
"Maafkan aku," desisnya dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa," kilahku. "Mungkin aku harus mencoret spesies Wivereslavia dari Buku Bingo," lanjutku beberapa detik kemudian. Ah, tragis sekali.
"Naruto-sama !" Sebuah suara yang kukenal mengagetkanku lagi. Perempuan berambut sayur !
"Pakura ?" Selidikku. Di belakangnya, Hiruko juga muncul. "Kenapa kalian ada disini ?"
"Aku sempat melihat Hermes mondar-mandir," cerita Hiruko. "Kupanggil dia dan kutanya ada apa. Katanya kau ditipu Ortodox. Melihat semua yang ada di lembah ini sekarang, kurasa dia benar," cetusnya.
"Rouran tidak diserang, kan ?" Tanyaku khawatir. Sebenarnya bukan khawatir pada kotanya, tapi pada...ehm. Ratunya.
"Sara-sama baik-baik saja, jangan cemas," goda Pakura lebih dulu menjawab. Aku memutar bola mata malas.
"Aku turut berduka soal Kurama," kata Pakura kemudian. Aku tertunduk.
"Aku bukan Dracovetth yang baik, ya ?" Cetusku lirih.
"Kudengar kau mengalahkan seekor Wyvern," balas Hiruko. "Dan menjadikannya jaket kulit, tanpa kehilangan Kurama. Siapapun akan merasa lumrah jika yang kau hadapi adalah seekor Etatheon sekejam itu".
Mereka pergi untuk memeriksa keadaan para prajurit lain yang masih hidup, atau yang masih berkemungkinan hidup, meninggalkanku sendiri duduk pada sebatang kayu gosong, menatap kosong ke depan.
Beberapa detik kemudian, Sasuke datang membawa minuman dingin.
"Kau tampak penat sekali," ujarnya sambil membuka satu botol. "Semua ini memang tidak terduga," sambungnya.
"Soal Sakura juga," tambahnya.
"Kau ingin menemaniku atau membuatku semakin buruk ?" Gerutuku. Saat itu juga, Hermes berjalan pelan melewati kami berdua.
"Hermes," panggil Sasuke. Naga itu menoleh. "Maaf mendadak, tapi bisa antar aku ke Perkampungan Uchiha ?" Pinta Sasuke. Aku meliriknya bingung.
"Aku perlu itu," jawab Sasuke, mengartikan pandanganku. "Aku dan klan-ku akan menelaah Tablet Batu itu lebih lanjut beberapa jam. Kurasa aku juga bisa membawa beberapa Uchiha untuk memperkuat pasukan dan..."
"Kau belum mendengarnya ya ?" Potong Hermes dengan suara kaku. Kami berdua menoleh ke arahnya.
.
.
"Perkampungan Uchiha sudah dimusnahkan".
.
.
Sasuke membatu.
Hermes menghela nafas berat. "Saat aku ke Sunagakure, semua orang disana menjadi bisu," terangnya. "Seseorang telah memanggil Styx. Dia mengutuk semua rakyat Suna menjadi tunawicara. Cuma sedikit yang mati, tapi semua orang jadi bisu. Kirigakure diserang radang perut dan ISPA massal. Biang keroknya diduga Hydra yang di-kuchiyose oleh seseorang. Kumogakure porak-poranda karena amukan seekor Scylla. Semua Golem di Iwagakure juga hancur bersama dengan bangunan-bangunan di desa karena ulah seekor Yaycare," terangnya panjang lebar.
"Kurasa belasan Gigantostoma menyerang Perkampungan Uchiha bersama-sama. Desa itu sudah dilalap kobaran api hijau begitu aku sampai," katanya lalu beranjak pergi dengan lesu.
Aku melirik Sasuke dan menepuk pundaknya mencoba bersimpati.
"Jadi kita sama," desis Sasuke lirih.
"Sama ?" Ulangku.
"Yah...kita sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi," desah Sasuke. Dia pasti sangat sedih, tapi raut wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda orang sedih. Ia tidak mau kesedihannya terlalu terungkap. Aku mafhum akan hal itu.
"Hei, Naruto-sama," panggil Ryuuzetsu. Aku menoleh dengan tatapan datar.
"Maaf," ucapnya pelan. "Kalau aku tidak percaya pada Ortodox, semua ini takkan terjadi," sambungnya lirih. "Aku...orang yang tidak pantas menjadi Dracovetth..." lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
Aku menggeleng. "Bukan salahmu," koreksiku. "Tidak ada yang salah".
Shikamaru bergabung dengan kami. Ia membawa sebuah radio tua yang sekarang sedang diutak-atiknya, berusaha mencari frekuensi terbaik untuk mendengarkan berita terbaru. Aku sudah bisa menebak, seratus persen saluran radio di seluruh dunia sedang menyiarkan berita kehancuran empat dari lima desa Lima Negara Besar –kalau stasiun radionya tidak terlebih dahulu dihancurleburkan oleh para Pembantai Bersayap.
Dan, benda persegi panjang berwarna hitam dengan sebuah antena itu memulai berbicara.
'Kerusakan nyaris menyeluruh di Kumogakure. Gedung-gedung yang dipancang ke bebatuan gunung raksasa sekitar delapan puluh persen hancur. Kantor Raikage rata dengan tanah setelah ditubruk telak oleh tubuh seekor Scylla raksasa. Banjir besar terjadi di daerah rendah dengan air bah yang tidak surut-surutnya, diikuti gelombang hiu air untuk beberapa menit, yang diduga dilakukan oleh seseorang. Sunagakure berubah menjadi seperti desa mati dengan seluruh penduduk kehilangan kemampuan untuk berbicara. Hydra yang baru-baru ini muncul juga meracuni saluran air minum Kirigakure, membuat tujuh puluh persen penduduk kini mengalami kesulitan air bersih dan terserang penyakit. Banyak diantara mereka juga tewas dimakan. Iwagakure pun porak poranda...'
'...dalam kejadian kolosal hari ini, kerugian seluruhnya ditaksir triliunan ryo. Belum ada data pasti tentang korban jiwa, namun tiap desa kehilangan hampir sepertiga penduduknya. Diperkirakan, jutaan manusia di seluruh dunia tewas dalam serangan besar-besaran hari ini...'
'...begitu besar bencana yang terjadi. Begitu banyak kerugian material yang ditimbulkan, dan yang terburuk, begitu banyak orang-orang tak berdosa kehilangan nyawanya hari ini. Berapa banyak lagikah manusia yang tidak perlu mati ? Ini pertanyaan untuk kita semua. Siapakah yang bertanggungjawab atas serangan yang akan segera jadi serangan terbesar sepanjang sejarah umat manusia ? Hi, Kaze, Tsuchi, Kaminari, Mizu, dan negara-negara kecil sepakat mengibarkan bendera setengah tiang sebagai simbol duka cita. Umat manusia mengalami pukulan telak dan luka yang amat dalam, hari ini...'
Radio itu mengeluarkan asap. Dua baterainya langsung terlontar dari tempat mereka bersarang. Aku ngos-ngosan. Suara berita itu masih terdengar walau samar-samar dan diikuti bunyi kresek kresek. Kuambil satu batu terdekat dan kulempar lagi ke radio sialan itu sampai benar-benar tidak bersuara. Sasuke, Shikamaru, dan Ryuuzetsu hanya menatapku cemas, tapi tidak kupedulikan. Aku berpaling dan segera pergi entah kemana.
Senja tiba. Aku ambruk di rerumputan tebal beberapa ratus meter dari perkemahan. Aku baru saja selesai melatih Rasenganku lagi. Aku menatap langit yang mulai berisi semburat oranye diantara kapas-kapas putih dan latar belakang biru yang mulai menua. Danau raksasa berada tidak jauh dariku, memantulkan cahaya surya yang bersiap tidur, digantikan sang bulan. Aku memejamkan mata, menikmati semilir angin senja yang kini terasa sangat berbeda dari sebulan lalu ketika aku masih belum jadi siapa-siapa.
.
.
Wahai Paradox-ku ?
Apakah seorang Dracovetth hanya boleh memiliki satu naga ?
Wahai Paradox-ku ?
Apakah aku tidak boleh mencintai siapapun ? Bahkan musuhku sendiri ?
Wahai Paradox-ku ?
Apakah semua ini...punya maksud ?
.
Wahai Paradox-ku...
Hari ini, Ortodox menghabisi pasukan terbaik Lima Negara Besar, menipuku, memanipulasi Sakura dan ayahnya, melukai teman-temanku. Hari ini, empat desa besar sudah porak-poranda. Hari ini, aku kehilangan naga terbaikku.
Apakah semua ini benar ?
.
.
Aku menyerah, Paradox-ku. Aku menyerah.
Aku memang pernah bilang aku tidak akan menyerah dan putus asa, tapi ini semua di luar kemampuanku.
.
.
Hening.
.
.
"Ternak dan gembala kembali dikandangkan
Sang surya berkemas kembali ke peranduan
Seorang Dracovetth berbaring putus asa di rerumputan
Tenanglah, dibalik kesulitan pasti akan ada kemudahan"
.
.
Aku membuka mata. Siapa sih yang iseng menyatroniku dengan pantun dadakan semacam ini ? Sepertinya suara perempuan. Kalau itu Ryuuzetsu atau siapa saja, mereka sungguh keterlaluan. Aku bangun dan memutar kepala ke sumber suara. Dan...
.
.
Seseorang, tolong bunuh aku sekarang juga.
.
.
.
Moncongnya tampak sangat simetris dan halus tanpa lekukan sedikitpun. Jenggot lembut yang menumbuhi dagu hingga pangkal rahang bawahnya berkibar pelan ditiup angin bersama sepasang kumis yang simetris. Tanduk berulir di hidungnya tampak sempurna. Sepasang tanduk berwarna keemasan diatas kedua alisnya mempunyai satu cabang pendek ke bawah, satu cabang pendek ke atas, dan dua cabang panjang ke atas di bagian depannya, sementara satu cabang pendek dan dua cabang panjang di bagian belakangnya. Gelambir seperti telinga berada segaris dengan matanya yang berbentuk mirip dengan mata manusia, dengan bulu mata yang lentik dan bola mata yang jernih. Pupilnya vertikal hitam legam dengan sepasang semburat ke kanan dan kiri di latar belakang iris berwarna kuning keemasan.
Layar kulit bercorak menawan menghiasi bagian atas lehernya sampai pangkal leher, sedang di bagian bawahnya berjajar duri-duri kecil. Sisiknya nyaris tak terlihat karena tubuhnya berkilau seperti cermin dari intan. Sepasang sayap di bahunya, tegak ke atas dengan empat corak berbentuk belah ketupat dan ornamen-ornamen lain yang tampak rumit.
Berlian merah Darah Delima berukuran hampir sebesar kepala manusia bertengger tepat di tengah dadanya, bertahta diatas ukiran emas berbentuk seperti sayap. Dua kaki depannya langsing tapi tampak padat, berujung pada tiga cakar melengkung mengkilat. Di belakang atas kaki depannya, tumbuh bulu-bulu berwarna biru dan hijau yang tampak sangat lembut dan teratur. Bagian bawah tubuhnya berwarna merah, sisanya putih bersih. Langit Jingga tertanam di sisi tubuh kanan depan, Empedu Emas di sisi tubuh kiri depan, Daun Zamrud di sisi kiri tengah, Air Safir di sisi kanan tengah, Tulang Ametist di sisi kanan belakang, dan Kuku Turqois di sisi kiri belakang.
Duri-duri simetris berbentuk limas menghiasi punggung sampai ekornya. Kaki belakangnya berbentuk seperti kaki kuda dengan beberapa duri melengkung ke belakang di pahanya. Sepasang sayap lagi, dengan corak seperti berudu, bertengger di pangkal ekornya. Ekornya sendiri berujung pada sebentuk berlian berwarna nila berbentuk segienam di belakang lima duri seperti thagomizer pendek.
Makhluk ini memandang lurus tepat menghunjam ke mata biruku dengan tatapan datar. Keempat kakinya menyangga tubuhnya yang menawan diatas rerumputan dan ia memosisikan ekornya segaris dengan tubuhnya, melengkung ke arah kiri. Lehernya yang agak panjang ditegakkan sehingga ia tampak tinggi. Ia juga menegakkan kedua sayap punggungnya tapi membiarkan kedua sayap pangkal ekornya menggantung bebas di udara. Waktu serasa melambat. Sedetik terasa seperti semenit begitu ia mengedipkan matanya. Ia...sedikit lebih besar dari yang kukira.
.
.
Aku melongo seperti orang dungu. Kusadari itu dalam dua detik. Menutup mulut, dan mengamati naga yang berdiri hanya beberapa meter di depanku ini dengan saksama. Agaknya aku seperti seorang ilmuwan yang menemukan spesies kehidupan baru.
Aku membuka mulutku, bersiap melancarkan serangan sebelum makhluk di depanku lebih dulu berbicara.
"Beleriphon sedang sibuk mencari mereka yang masih punya kemungkinan hidup," katanya datar. "Dan Ortodox sudah tidak memikirkan untuk menipu kalian lagi dengan cara yang sama, dan memang dia takkan melakukannya," susulnya.
"Kalau ini genjutsu, sudah pasti mustahil," tambahnya.
Aku menggerakkan tanganku ke lengan atasku.
"Dan kalau ini mimpi, silakan cubit lenganmu sampai berdarah," tantangnya.
.
Aku bungkam. Dia membaca semua pikiranku. Duh, mati kutu aku. Apa yang akan aku lakukan ?
.
"Uzumaki Naruto," panggilnya. "Tanggal lahir, 10 Oktober. Putra pertama dari Namikaze Minato yang juga Yondaime Hokage sekaligus Draco P generasi sebelumnya, dan Uzumaki Kushina, imigran dari Uzushiogakure. Makanan kesukaan, mi ramen dari Warung Teuchi. Hobi, tidak jelas. Tidak begitu tertarik pada naga, pada awalnya. Naga pertama, seekor Wivereslavia terakhir bernama Kurama. Menguasai Kagebunshin, Shuriken Kagebunshin, Hiraishin no Jutsu, Rasengan, sedikit jutsu Katon, Doton, dan Fuuton. Memiliki Kekkei Touta yang belum dikembangkan. Terikat hubungan aneh bersama Sara dari Kota Besar Rouran dan Haruno Sakura," jelasnya panjang lebar.
Aku mendengus kesal. "Jangan katakan lagi yang terakhir," kataku.
"Apa itu cukup ?" Balasnya.
Aku menarik napas dalam-dalam. Kemudian...
.
.
"KEMANA SAJA KAU SELAMA INI ?!" Bentakku keras-keras. "Aku dan timku sudah mencarimu lebih dari setengah bulan ke lebih dari setengah wilayah planet dan samasekali tidak menemukan apa-apa, sedangkan ayahku ditemui sendiri olehmu hanya dalam dua hari ! Aku sudah mati-matian hampir terkena serangan jantung saat berhadapan dengan Hidalgo, melawan kelompok Zechuan, diserang Styx sampai terdampar di Rouran, terpaksa melawan seekor Venator dan bahkan menghadapi seekor Basilisk, sementara teman-temanku juga berjuang menghadapi Zmey dan Sphinx ! Aku dibingungkan oleh beragam teka-teki sialan mulai dari penemuan ruang rahasia bawah tanah sampai pencarian Perpustakaan Alexandriana ! Diramal oleh Si Tua Shinjuu dan Artemis Terantai di tempat yang membuat tulang-tulang kami membeku ! Aku sempat mengira nagaku adalah kau tapi itu malah salah ! Ujung-ujungnya kau bahkan membiarkan kami mencari info sendiri ke Observatorium Palomar, melawan Wyvern, dan kau membiarkan saudaramu menghabisi kami dan ribuan orang di luar sana ?! Kau membiarkan saudaramu membunuh Kurama ! Kau membiarkan Sakura terjerumus dalam dilema dan KAU MEMBIARKANKU MENDERITA TANPA BERBUAT APA-APA DAN BARU MUNCUL SEKARANG DAN KAU MENYEBUT DIRIMU PAHLAWAN ?!"
Persetan dengan siapa aku sedang bicara. Sesuai 'janjiku', akhirnya aku memarahi dia habis-habisan. Aku terisak. Entah kenapa, tapi hatiku terasa sakit ketika berteriak soal kematian Kurama dan dilematis Sakura. Aku terduduk. Kerongkonganku serasa mau putus.
.
Ia terdiam.
.
"Paradox yang kukira berwibawa, ternyata tidak ada tanggung jawab," desisku lirih. "Paradox yang kukira perhatian, ternyata mengabaikan apapun dengan mudahnya," sambungku.
"Aku juga sempat mengira kau jantan, ternyata kau lebih tampak seperti naga banci. Suara perempuan tapi berjenggot dan berkumis". Oke, itu mungkin bisa membuatnya sakit hati. Tapi itu masih jauh lebih ringan dari sakit hati yang kualami, dan dia harusnya tahu itu.
"Aku betina," koreksinya cepat. "Jenggot dan kumis naga betina sama wajarnya dengan taring singa," imbuhnya.
Dalam hati, aku terkejut juga. Pasalnya sejak pertama mendengar namanya, aku mengira Paradox itu naga jantan yang berwibawa. Ternyata yang kujumpai adalah naga betina dengan suara yang, kuakui, suaranya sangat merdu dan indah. Kurasa terjawab sudah kenapa Artemis juga betina, ya karena gurunya –alias Paradox- juga betina. Jadi ibarat manusia ya, perempuan mengajar perempuan.
"Aku tidak suka membuat orang lain mengingat jasaku," timpal Paradox. "Itu terdengar terlalu rendahan".
Oke, satu kata untuk naga ini. Dia sombong.
"Tapi terpaksa kuingatkan juga," katanya beberapa detik kemudian. "Kau ingat yang terjadi ketika kau terjatuh dari menara tertinggi di Rouran saat kau merasa gagal menyelamatkan Sara ?" Tanyanya. Keningku berkerut.
"Aku mendengar suara di kepalaku," jawabku. "Suaranya seperti suara perempuan".
"Itulah aku," katanya. "Aku mengirim itu langsung ke pikiranmu. Tahukah kau, dimana aku berada saat kau mendengar itu ?" Tanyanya lagi.
"Di bulan," jawabku asal-asalan.
"Di singgasana ratu yang porak-poranda setelah diserang Venator," jawab Paradox datar.
Hah ?! SEDEKAT ITU ?! Itu kan hanya beberapa belas meter dari tempatku waktu itu –yang sedang jatuh di udara !
"Saat meteor jatuh menimpa Chiron," Paradox berkata lagi. "Kau tentu tak mengira itu kejadian alam yang kebetulan, kan ?"
Aku mengangguk. "Jadi kau juga yang melakukannya ?"
Paradox mengangguk. "Sungguh membosankan melihat kalian bertarung padahal sebentar lagi kalian sampai, jadi kupersingkat saja dengan mengambil satu asteroid di dekat Bulan dan menjatuhkannya ke naga itu," jelasnya dengan ekspresi biasa.
"Dan lubang aneh di pegunungan menuju Observatorium Palomar," imbuh Paradox. "Aku juga yang melakukannya. Bahkan saat itu, aku bisa melihat kalian dibalik gunung berpuncak runcing yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari timmu".
Aku tercenung. Mungkinkah ini yang disebutnya 'Aku lebih dekat dari yang kau kira ?'
"Ya," kata Paradox tiba-tiba. Sepertinya ia membaca pikiranku. "Tahukah kau, sejak kau berusia tujuh tahun, saat kau diberitahu Jiraya bahwa kau adalah pengendaraku, bahkan saat kau memulai petualanganmu menjelajahi Kaze, Tsuchi, dan Kori, aku selalu berada tepat diatasmu ? Aku berada sepuluh kilometer tepat diatasmu, dan aku melihat semuanya," jelasnya.
"Dan kau tahu kapan terakhir kalinya aku bicara pada pikiranmu ?" Paradox 'menyerangku' lagi. Aku terdiam sejenak.
"Saat aku memeluk Sakura," desisku. Mendadak aku merinding. Paradox mengangguk pelan.
"Ladon kurang peka membaca sisi gelap seorang perempuan," katanya. "Sakura punya itu, tapi sangat sedikit. Tersamar dalam kegelisahan dan kegundahan antara timmu dan ayahnya, yang sama-sama dibutuhkannya," jelasnya. "Saat kau asyik di Perpustakaan Alexandriana, aku juga berada diatasnya, satu kilometer diatas permukaan. Dan tahukah kau, aku menyamar malam itu".
"Menyamar ?" Aku membeo. "Menjadi apa ?"
"Belalang yang kau sentil," katanya ketus.
Aku langsung tertawa dalam hati. Jadi belalang yang bertengger di telunjukku malam itu adalah Paradox yang sedang menyamar ? "Sebentar," cetusku. Aku mendadak teringat sesuatu. "Apa jangan-jangan..."
"Ya," lagi-lagi dia memotong ucapanku. "Mimpimu di Iwagakure itu, dimana Ryuuzetsu memberikan Shakujo, itu aku yang memasukkan. Dan aku-lah perempuan yang ada di mimpimu saat kau mencari Observatorium Palomar".
Aku terkejut. "Perempuan berambut perak yang sangat cantik itu ?" Selidikku. "Itu...itu kau ?!"
Kulihat naga ini memutar bola matanya malas. "Lalu kenapa ?"
Aku memperhatikan tubuhnya. Aku bukan, dan tidak pernah menjadi seekor naga, tapi menurutku, Paradox ini ya...pasti terhitung sangat cantik untuk seekor naga jantan. Aku yang manusia saja bisa mengetahui kalau, dia memang cantik, walau jenggot dan kumis itu sempat menipuku.
Kami berdua terdiam dalam hening, lagi.
"Kurama titip salam padamu," desisku lirih. Aku tertunduk dan meremas tangan. Pasti...dia akan sangat bahagia kalau bisa melihat Paradox.
Paradox tampaknya tidak begitu peduli. Ia memandang ke arah lain. "Wivereslavia bermata merah yang sempat kaukira aku, ya ?" Selidiknya. Aku mengangguk.
"Sekarang spesiesnya sudah punah," kataku tersendat. "Kalau kau muncul waktu itu, Ortodox takkan sempat melakukan itu padanya".
Paradox menghela nafas. "Kalau aku muncul waktu itu, justru akan lebih kacau. Kau tidak tahu kerusakan macam apa yang bisa terjadi jika aku dan Ortodox bertarung bersama," ujarnya santai. "Aku tidak muncul sampai sekarang...karena Ortodox belum menampakkan dirinya selama ini, sampai tadi siang".
"Aku kehilangan Kurama," bisikku. "Kau seharusnya tahu betapa menyakitkannya itu".
"Hidup adalah pilihan, Naruto," balas Paradox. "Kau memilih Kurama menjadi nagamu, atau aku ?"
Nah, ini dia yang dikhawatirkan Kurama. Sekaligus, aku.
"Aku hanya bisa memilih satu ?" Tanyaku. "Aku tidak boleh memilih keduanya ?"
Paradox menggeleng. "Tapi selalu ada cara bagi seseorang untuk memilih dua pilihan," katanya tegas.
Aku mendekatinya. "Ayo," ajakku. "Kita temui mereka. Mereka semua putus asa. Begitu mereka melihatmu, semangat mereka akan berkobar kem..."
"Aku punya urusan lebih penting, Draco P," Paradox memenggal kata-kataku begitu saja.
"APA YANG LEBIH PENTING DARIPADA BERSAMA PENGENDARAMU ?!" Sentakku keras-keras. Aku mulai muak (lagi) dengan Etatheon yang satu ini. "Kalau begini caranya...aku lebih memilih bersama Kurama selama-lamanya daripada harus jadi pengendara naga egois, sombong, tidak peduli pada sesama, sok berahasia, dan tak berperasaan sepertimu !" Aku menuding tepat ke matanya dan langsung pergi kembali ke perkemahan. Paradox mematung. Semoga saja dia memikirkan makianku barusan.
Uchiha Temple
"Aku begitu bersemangat saat melihat Draco P itu membawa ratusan pasukan dari Lima Negara Besar, tapi nyatanya yang kujumpai hanya kawanan kecoa tidak berguna !" Seru Ortodox kesal sambil mengibas cakar, langsung membelah dinding di depannya menjadi tiga dan meruntuhkannya, langsung menampakkan Madara yang sedang duduk santai di singgasananya.
"Jangan kasar begitu," sahut Madara santai, "kau membuat gadis merah jambu itu ketakutan," lanjutnya sambil berjalan mendekati Sakura yang masih terlihat kikuk. Mata ermeland-nya menyala sayu. Madara mencolek dagunya, membiarkan mata onyx-nya berhadapan dengan Sakura.
"Mari kita temui ayahmu".
.
"Tuanku Ortodox !" Seru Styx, mendadak muncul dari ruangan sebelah. Ia mendekat. "Kehormatan bagiku kita bisa be..."
Ortodox mengayunkan tangan kanannya. Jari-jari tulang kurus beserta cakar-cakar sabit itu langsung menghantam sisi wajah Styx hingga membuatnya terempas menabrak dinding lain kuil.
"Dasar tidak berguna," gerutu Ortodox lagi. "Kusuruh kau menghanguskan Sunagakure di tengah lalapan api, tapi yang kau hadiahkan padaku hanya orang-orang tunawicara yang tidak bermanfaat," katanya sarkastik. "Tugas semudah itu saja kau tidak becus !"
Styx bangun dan meringis, memegangi pipi kanannya yang sakit. "Maaf. Bisakah aku kesana lagi dan membayar kesalahanku ?"
Ortodox mencibir. "Tidak usah. Buang-buang waktu. Setidaknya sekarang aku punya ini," katanya sambil melempar-lempar apel emas terkecil yang didapatkannya dariku, lewat Sakura. "Kalau tidak ingat kita harus membangkitkan Droconos, aku pasti sudah memakannya," cetusnya.
.
.
Madara berjalan santai, diikuti Sakura di belakangnya. Mereka akhirnya sampai di sebuah ruangan yang terbuat dari beton yang tampak sangat tebal. Madara melakukan handseal, dan sekejap kemudian beton itu bergeser, menampakkan sebuah sel dengan jeruji besi yang terlihat kuat sekali.
"Ayah !" Sakura langsung menghambur ke ruangan, tidak memedulikan seorang sipir yang ditugasi menjaga si tahanan.
"Sakura !" Balas orang bergaya rambut seperti bunga itu bahagia, langsung beringsut ke salah satu sisi sel. Mereka sekarang hanya dipisahkan oleh jeruji besi.
"Huh, sungguh mengharukan," sindir sang sipir –yang baru terbangun dari tidurnya karena teriakan dua orang itu.
"Hidan, ambilkan minum untuk dua Haruno ini," perintah Madara. "Mereka pasti haus. Dan jangan coba-coba memasukkan racun ke dalamnya".
Madara membuka pintu sel. Tapi alih-alih mengeluarkan Kizashi dari sana dan membiarkannya berpelukan dengan anaknya melepas rindu, ia justru menyeret Sakura dan mendorongnya masuk ke sel. Dua detik kemudian, Hidan datang dengan sebuah nampan berisi dua gelas air minum.
Tapi tampaknya perlakuan itu tidak begitu menjadi masalah bagi keduanya –Sakura segera memeluk ayahnya erat, yang pakaiannya sudah sedikit compang-camping bekas melawan Basilisk beberapa hari lalu.
"Ayah sangat menyesal kau harus mengkhianati Draco P, Sakura," desis Kizashi sambil tertunduk.
"Apa boleh buat," balas Sakura datar. "Setidaknya...aku sudah memberinya semangat, walau mungkin...sedikit".
Mereka berdua terdiam beberapa detik sebelum Sakura bertanya lagi, "Ayah bertemu Naruto ? Di Rouran ?"
Kizashi mengangguk. "Ia terlihat bingung saat aku mengenalkan namaku. Sebelum itu, kau pasti sudah memberitahu cerita bohong itu bahwa aku dan Mebuki sudah meninggal, ya ?". Sakura mengangguk.
"Kubilang padanya kalian berdua adalah orang rumahan, padahal kau sebenarnya salah satu pejabat penting di Rouran. Ibu juga...meski dia sudah tiada," bisik Sakura.
"Naruto orang baik," bisik Kizashi. "Dia tidak ingin orang-orang yang dikenalnya terlibat masalah. Dia juga...punya hubungan yang baik dengan semua orang. Dia gampang sekali akrab dengan seseorang, tidak peduli umur atau siapa dia. Dia bahkan tampak akrab dengan Sara-sama dan semua petinggi Rouran," ceritanya. "Oh, dia juga punya hubungan yang baik dengan naganya, dan kurasa naganya menyukainya juga. Mereka...saling melengkapi," tambahnya.
"Aku belum pernah melihat seorang Dracovetth seakrab itu dengan naganya. Mungkin itu juga keistimewaan Draco P, ya ?" Katanya sambil terkekeh.
Tubuh Sakura menegang. Ia melihat dengan jelas bagaimana Ortodox mengoyak Kurama dari dekat dan melemparnya ke bongkahan berlian mentah. Rasanya mustahil Kurama masih hidup, pikir Sakura. Tapi jika Paradox datang tepat waktu...apa saja bisa terjadi, sambungnya.
"SEMUANYA !" Aku berteriak sekeras mungkin. Puluhan pasang mata segera menatapku.
"Ada apa ? Pembantai Bersayap muncul lagi ?" Selidik Jiraya-sensei sambil mengasah pedangnya. Aku menggeleng keras-keras.
"Kali ini berita bagus," cetusku. "Sangat, sangat bagus !" Aku berseru keras.
Kini lebih banyak lagi mata yang menatapku dengan tatapan berbinar. Semua menunggu apa yang akan kukatakan. Sejujurnya aku agak ragu mengabarkan ini, tapi bagaimanapun aku tidak boleh meremehkan kemungkinan walau hanya satu persen.
"Aku bertemu Dia !"
.
Hening.
.
"Kau yakin itu bukan genjutsu ?" Kankuro yang pertama bersuara.
"Tentu saja bukan ! Asal kalian tahu saja, begitu aku berbaring di rerumputan, aku mendengar pantun bersajak a-a-a-a dari belakangku, dan ketika aku menoleh, Dia ada disana ! Dia ! Paradox ! Dia persis seperti yang terpahat di ruang bawah tanah rahasia rumahku, dan yang mengejutkanku, dia ternyata betina, bukan jantan !"
Oke, kali ini beberapa pasang mata menatapku aneh. Kurasa aku pasti sudah dianggap setengah gila. Atau sepertiga gila.
"PERCAYALAH PADAKU !" Teriakku keras-keras. Kurasakan ada air di pelupuk mataku. Aku tidak peduli. "Kita semua harus kesana sebelum dia pergi lagi ! Dan jika itu terjadi, kita tidak akan bisa menyelamatkan dunia ! Aku sendiri tidak bisa membohongi diriku bahwa aku memang marah besar pada Paradox karena telah membiarkan ini semua terjadi, tapi cepat atau lambat, kita membutuhkannya ! Dunia membutuhkannya ! Kita harus meyakinkannya tentang itu atau SEMUANYA AKAN BERAKHIR !" Seruku keras-keras. Aku merasa kerongkonganku berdecit minta dilumasi.
.
.
Sasuke berdiri dan mengangguk. "Ayo," katanya cepat. "Kalaupun kau sudah jadi gila, mungkin beberapa psikolog disini bisa menyembuhkanmu," sambungnya. Kakashi-sensei ikut berdiri, disusul Jiraya-sensei, Rock Lee, dan Hinata. Kemudian...seluruh pasukan yang tersisa.
BERPACU dengan waktu, aku memimpin mereka berlari secepat mungkin ke tempat dimana aku melihatnya tadi. Harapanku hanya satu: dia masih menunggu kami disana. Aku berkali-kali menengok ke belakang. Mendadak, 'bom angin' meledak melewati kami. Itu pasti Hermes, Beleriphon, dan Parthenon. Aku tersenyum. Dengan kecepatan sebesar itu, tidak mungkin Hermes melewatkan Paradox.
Tapi, sekali lagi, aku salah.
.
.
Begitu kami sampai disana, yang ada hanya padang rumput berlatar belakang danau raksasa yang menampakkan cakrawala yang siap menelan matahari. Maghrib sudah tiba, langit berganti menjadi merah dan jingga, dan kabar terburuk sepanjang masa –Paradox tidak ada disana.
Kuamati segala penjuru. Makhluk sebesar itu, seharusnya tidak sulit ditemukan. Atau jangan-jangan dia menyamar lagi ?
Shikamaru mengedikkan bahu. Puluhan pasang mata, sekaligus tatapan tiga naga dewa, tertuju ke arahku.
Sial.
Paradox sialan.
"Aku melihatnya," desisku kecewa. "Disini. Aku berani bersumpah. Kami bicara beberapa lama bahkan aku sempat memarahinya ! Dan kami-"
"Hei, tunggu sebentar, Naruto-sama" Beleriphon memenggal penjelasanku. "Belum ada yang bilang kau salah".
"Atau gila," sambung Hermes.
"Aku merasakannya. Jejak Etatheon. Dia tadi memang disini," lanjut Parthenon. "Tapi sudah pergi. Dia tidak menyamar karena kalau begitu, jejak debu khasnya akan tetap terasa. Dia pergi. Sekitar satu menit yang lalu".
Aku meremas tangan gemas. Huuuhh, kenapa dia selalu tidak ada saat aku sangat membutuhkannya ? Bahkan hanya sekedar bukti saja !
"Jadi, Naruto tidak bohong ?" Selidik Chouji polos. Kalau di tanganku ada jarum, mungkin aku sudah menusukkannya tepat ke perut si gendut itu.
Parthenon menggeleng. "Naruto-sama berkata jujur. Kurasa Paradox memang sempat singgah disini dan bercakap-cakap sebentar bersama".
Tepat di penghujung kalimat Parthenon, tanah berderak dan sesuatu muncul. Tidak asing bagiku.
Tiga ekor Galaeana menyembulkan kepala berhias duri raksasa mereka dan mendengus. Aku memutar bola mata malas. Mereka akan mati sebelum kau sempat mengedipkan mata –karena ada tiga Etatheon yang siap melindungi kami- dan tiga naga itu kupikir sudah benar-benar bodoh.
Tapi apa yang terjadi di detik berikutnya lebih membuatku bahagia daripada sebelumnya.
.
Ya. Seekor naga melesat cepat dari belakang kami dan langsung menubruk tiga Galaeana sebelum tiga Etatheon sempat melakukan apa-apa pada naga pengacau itu. Api berkobar dari mulutnya, langsung menghanguskan tiga cacing tanah itu persis seperti kejadian di Iwagakure. Dan kau tentu tahu siapa yang melakukannya.
.
.
"KURAMAAAA ! ! !" Aku memekik senang bagai melihat seorang idola yang kukagumi, langsung menerobos ke arahnya tanpa memedulikan kiri-kanan, merengkuh lehernya yang kekar bagai dua keluarga yang seribu tahun tak jumpa (padahal aku kehilangannya sehari saja belum).
Kurama terkekeh dan menjilatku –sesuatu yang tidak kuharapkan- sehingga seluruh mukaku basah.
"Bagaimana kau bisa hidup lagi ? Jangan katakan kalau Wivereslavia punya lebih dari satu nyawa seperti Zechuan dan kau tadi hanya pura-pura mati !" Sentakku kesal sekaligus senang. Sangat, sangat senang.
"Oh, aku lupa," katanya dengan sikapnya yang biasa. "Aku...waktu itu memang merasa sudah mati. Tapi aku melihat seekor naga dengan delapan warna berbeda. Tujuh warna pelangi dan satu warna putih...mendatangiku di suatu tempat yang entah dimana atau apa namanya. Dia mengatakan padaku soal beberapa hal yang semuanya tidak bisa kuingat dengan jelas, dan ketika aku benar-benar sadar, aku mendapati diriku ada diatas sebuah batu raksasa. Dibalik pegunungan runcing itu," dia menuding arah dimana dia siuman tadi, yang ternyata lumayan jauh dari tempat dia mati.
"Tanduk, kaki, sayap, dan luka-lukaku sudah pulih seperti sediakala begitu aku sadar ! Ini benar-benar ajaib, Naruto !" Serunya sambil memamerkan sayap, kaki depan, dan merenggangkan lehernya. Aku mengernyit.
Bagaimana bisa ? Kurama terluka cukup parah waktu itu. Naga delapan warna dengan tujuh warna pelangi dan satu warna putih...
Sepertinya itu Paradox.
Tujuh warna pelangi, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu, adalah warna yang sama dengan tujuh berliannya. Sedangkan warna putih –atau warna dasar cahaya itu sendiri sebelum membias melewati butiran air atau prisma, adalah warna sebagian besar tubuhnya sendiri. Aku memandang Parthenon. Dia juga sedang memandangku dengan mata hijau ermeland beningnya penuh arti. Dia kemudian mengangguk.
"Lihat, kan ? Kurasa Paradox juga tidak sekejam yang kau pikirkan, Naruto-sama," sambungnya sambil tersenyum kecil. "Tidak ada yang bisa menyembuhkan luka dari Ortodox kecuali Paradox dan Ortodox itu sendiri. Sebaliknya, luka dari Paradox tidak bisa disembuhkan oleh siapapun kecuali Paradox itu sendiri dan, barangkali pengendaranya," terangnya.
Amegakure
Rintik-rintik hujan membasahi dataran yang terbuat dari beton dengan kerangka baja yang tertanam di dalamnya. Diatas fondasi besar-besaran yang juga berfungsi sebagai trotoar yang bertingkat-tingkat dari –semacam laut- yang mengelilingi desa yang terus diselimuti awan hitam kelam, sekelam kehidupan yang misterius di desa hujan itu.
Puluhan, mungkin ratusan menara dari besi dan baja, diperkuat oleh jalinan pipa-pipa beragam ukuran dan patung-patung aneh, turut membantu menambah kesan mengerikan pada desa yang amat tertutup dari dunia luar ini.
Seorang pria berambut cokelat pucat panjang dengan mata agak kemerahan, kulit cokelat dan penutup mulut serupa masker padat berbentuk balok disertai sepasang tabung di tiap kiri dan kanannya, berdiri tegap di puncak sebuah menara dengan rompi dan jubahnya. Ditilik dari pakaiannya saja, sudah pasti dia bukan orang sembarangan. Semacam pemimpin untuk sesuatu yang besar.
"Hanzo-sama," panggil seseorang dari belakangnya. Orang yang dipanggil menoleh tanpa bicara.
"Mereka sudah kembali," kata si pembawa pesan itu lagi.
"Panggil mereka ke hadapku," titah Hanzo, sambil kembali memalingkan pandangannya ke seisi Amegakure yang bisa dijamah sepasang matanya dari ketinggian menara pribadinya.
Tak lama, empat manusia berjubah hitam kerah tinggi dengan corak awan merah dan topi caping berlonceng kecil, duduk berjongkok satu kaki di hadapan Hanzo yang sudah siap di singgasananya.
"Suna, Iwa, Kumo, dan Kiri hancur," Hanzo mengawali pembicaraan, "walau tidak seluruhnya. Tapi bagus. Madara pasti suka hasil kerja kalian".
Keempat manusia di hadapannya terdiam.
"Baiklah, Akatsuki," desis Hanzo setelah beberapa saat berpikir. "Kalian, aku, dan Madara, beserta dua pengkhianat Etatheon yang sudah ada, akan berkoalisi dan bekerjasama untuk kekuasaan kita bersama. Sebuah dunia yang katanya takkan ada pecundang atau orang gagal. Dunia tanpa kesedihan, kesengsaraan, penderitaan, dan kepedihan. Dunia yang bebas dan bahagia selama-lamanya," oceh Hanzo panjang lebar.
"Heiji !" Serunya.
"Ya, Tuanku !"
"Pergilah ke Pegunungan Kuburan di semenanjung antara Hi dan Kaminari, temui Uchiha Madara dan katakan bahwa kami semua siap berkolaborasi dengan pasukannya ! Akatsuki telah diabdikan padanya dan aku tidak akan segan melaksanakan perintahnya".
"Segera, Tuanku !"
Hanzo menyeruput minuman panasnya lalu kembali pada empat orang di hadapannya.
"Sejauh ini, kerja yang bagus, Nagato. Konan. Kisame. Kakuzu," katanya mengabsen satu persatu orang di hadapannya. "Kalian boleh pergi sekarang. Tunggu keputusan Madara".
.
.
Sekarang, seorang pemuda dengan seragam Akatsukinya –bersama rambut semerah awan di corak jubahnya dan mata ungu berlapis, memandangi hujan yang tak kunjung habis dicurahkan langit kelabu, duduk di lidah sebuah patung raksasa yang penuh dengan pipa dan tindikan besi raksasa.
"Nagato," panggil sebuah suara perempuan di belakangnya. Tak lama, pemilik suara sudah berada di sampingnya. "Sebaiknya kau tetap waspada," desis sang pemilik suara, gadis berambut biru sebahu dengan origami bunga di rambutnya dan mata cokelat almond.
"Untuk apa, Konan ?" Balas Nagato. Perempuan bernama Konan itu menghembuskan napas kecil, yang membentuk uap seperti di musim dingin.
"Hanya sedikit orang yang memiliki, atau yang pernah memiliki Rinnegan," Konan memulai, "bahkan kurasa kau satu-satunya di dunia yang diberkati mata istimewa itu. Tentu kekuatannya amat besar. Dan kekuatan yang besar biasanya selalu diincar tiap manusia yang merasa membutuhkan kekuatan itu untuk tujuan pribadi mereka".
Nagato terkekeh. "Tidak perlu sekhawatir itu, tahu. Kau tahu siapa aku. Aku tidak akan...membiarkan impian Yahiko terbengkalai begitu saja. Kekuatan dan tekad Yahiko ada di mata ini," ujarnya yakin. "Dan...kematiannya takkan sia-sia".
Konan tersenyum kecil. Hujan menderu makin deras di luar.
"Aku hanya mengingatkanmu," bisiknya. "Ada banyak aktivis yang bertindak anarkis di Amegakure ini," lanjutnya, "dan kita belum tahu yang mana diantara mereka yang membunuh Yahiko...sampai sekarang..."
"Jangan cemas," balas Nagato sambil berbisik pula. Ia menggenggam erat tangan Konan –yang membuat wajah gadis berusia 19 tahun itu memerah- tapi tidak digubris Nagato, yang malah menariknya lembut ke sebuah ruangan yang tersembunyi sangat jauh di bawah menara. Ruangan itu bahkan tampaknya hanya dipisahkan dari dasar laut oleh beberapa lapis dinding batu tebal berukuran raksasa.
"Aku ingin kau melihat ini," Nagato menuding benda berukuran besar dalam ruangan berbentuk kubus itu. Konan terbelalak.
"Sejak kapan...?" Katanya tersendat. Nagato tersenyum tipis.
"Aku tidak begitu ingat," jawabnya sekenanya, "tapi benda ini akan sangat membantu kita mencapai tujuan kita. Ini rahasia, ya. Hanya kau yang tahu soal ini. Impian Yahiko...dan juga impian kita...bisa terwujud dengan ini".
Konan tertunduk. Pegangan tangan mereka melonggar. "Kalau ini benda yang sangat rahasia..."
"...kenapa kau memberitahukannya padaku ?"
Mata ungu Nagato menyala dalam keremangan ruang bawah tanah, membentur almond Konan dengan tegas.
"Karena aku percaya padamu".
Kusagakure
Kabar baiknya, Kurama kembali.
Kabar buruknya, Paradox pergi (lagi).
Huufff...aku merenggangkan badan keras-keras. Kenapa hari kemarin begitu membingungkan ? Bahkan pagi hari ini aku tidak punya banyak semangat untuk meneruskan pencarian. Bagiku, Paradox ada hanya jika dia menginginkan bertemu dengan Dracovetth-nya. Selepas itu, ya sudah. Bebas seperti kuda yang merantau balik ke kampung halaman.
Atau mungkin sebaiknya aku tetap percaya pada 'aku lebih dekat dari yang kau kira' itu, ya ?
Aku berjalan gontai ke tepi danau dan membasuh muka, diikuti Kurama (sejak petang kemarin, kuputuskan bahwa aku takkan jauh-jauh dari Kurama, atau sebaliknya) yang meneguk air danau dengan begitu menggebu. Kulihat dia mendadak mematung memandangi pantulan dirinya di air danau yang masih tenang. Cahaya surya samar menyembul dari balik horizon, mulai menghangatkan rerumputan yang berembun.
Kupikir aku akan menyapa dan menenangkannya, tapi rupanya aku tidak perlu melakukannya.
"Naruto," desis Kurama lirih.
"Ya ?"
"Apa yang dikatakan Ortodox itu benar ? Soal aku..."
"Tidak," tabrakku cepat. Walau dalam hati aku agak percaya juga, karena Artemis juga bilang begitu, Kurama adalah Wivere terakhir di Bumi. Tapi aku tidak mau membuat nagaku satu-satunya ini sedih.
"Aku ingin jawaban," balas Kurama. Aku menggaruk kepala kikuk. Ah, apa yang mesti kulakukan sekarang ?
Aku mendesah. "Kau ingin jawaban jujur atau jawaban bohong ?" Tawarku setengah hati.
"Jawaban bohong saja," jawab Kurama akhirnya, "kalau itu lebih membuatmu merasa nyaman".
Aku terdiam, berusaha mengumpulkan semua keberanianku untuk mengatakan jawaban bohong ini. Ugh, ini tidak ada bedanya dari aku diberitahu oleh seekor naga terhormat bahwa aku satu-satunya manusia yang masih hidup di Bumi !
Aku menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan.
.
.
"Bukan," jawabku akhirnya. "Kau...bukan...spesies Wivereslavia terakhir..." ucapku terbata-bata.
Kurama tersenyum. Senyum yang dipaksakan. "Terimakasih sudah mau mengerti," bisiknya. Aku mengangguk, mendekat, dan membelai kepalanya yang tertutup deretan sisik keras.
"Kau membuatku khawatir, tahu," balasku.
"Jangan jadikan itu alasan untuk tidak mengikutsertakanku dalam pertarungan-pertarungan berikutnya," ujar Kurama.
Aku tertawa pendek. "Sebaliknya. Ini resmi, mulai sekarang kau akan bersamaku di setiap pertarunganku," candaku.
.
.
"Baguslah, karena sekarang adalah saat yang tepat".
.
Kami terdiam. Kucoba mengenali suara itu. Bukan, itu bukan suara Ortodox. Suara Ortodox sangat mengerikan, mendirikan bulu kuduk hanya dengan mendengarnya mendesis dan segera membuatmu ingin refleks kabur seribu langkah darinya. Tapi suara ini terdengar lebih tipis, dan...lebih licik.
Kami menoleh. Tampak menyembul tinggi dari danau, seekor naga serupa ular air raksasa, dengan kulit licin tanpa sisik seperti belut berwarna ungu gelap, kerah kulit seperti milik Paradox di lehernya, mata bulat oranye yang menyala, dan mulut panjang berisi gigi-gigi seperti jarum. Dia memiliki empat kaki dengan cakar seperti kail pancing, yang keempat kakinya semuanya berada di bagian depan tubuhnya, di belakang goresan yang sepertinya adalah insang –mirip seekor hiu- dan kurasa naga ini adalah bawahan Ortodox.
"Amsesthyst !" Seru Kurama sambil mundur selangkah. Naga itu menyeringai, membuatnya tampak makin menakutkan.
Amsesthyst mendesis, meliukkan tubuh panjangnya yang belum sepenuhnya keluar dari air danau. "Naruto-sama," katanya. "Ikutlah denganku. Madara-sama menunggumu".
Kurama menghembuskan api, menenggelamkan naga seram itu dalam kobaran oranye yang menyala-nyala sampai sepertinya menarik perhatian beberapa orang yang sudah terjaga dari tidurnya. Kukira Amsesthyst akan langsung berubah menjadi belut bakar, tapi tidak. Ia masih tegap disana, tanpa luka bakar sedikitpun.
"Itu saja ?" Tantangnya. "Aku kebal api, bodoh. Tidak ada yang menghentikanku sekarang," katanya sambil menjilat bibir dengan lidah biru bercabang duanya. Ia seperti seekor naga-campur-belut yang baru selesai menjilat permen batangan berpewarna biru.
Amsesthyst membuka mulutnya lebar-lebar, mengumpulkan cahaya keperakan yang makin lama makin besar.
"Naruto, pergi !" Seru Kurama.
"Kau bercanda !" Balasku. "Kita akan melawannya bersama-sama !"
Bola cahaya perak itu ditembakkan, tepat ke arah kami.
"Bodoh !"
.
.
BLAAAAAARRRRR ! ! !
Kusadari sebentuk dinding tanah tebal melindungi kami sebelum benda itu menghantam dan meledakkannya berkeping-keping.
"Kakashi-sensei !" Seruku.
Mendadak, sebuah bola berwarna putih dan oranye muncul di kerah Amsesthyst dan langsung menghanguskannya, membuatnya tenggelam kembali ke air lalu muncul lagi –hanya untuk memadamkan bola itu- dan menggeram kesal.
"Pakura !" Aku memalingkan pandangan padanya. "Dia tahan api !"
"Sekarang tidak," balas Pakura santai. "Shakuton itu memanfaatkan panas, bukan api. Kau tahu, api pasti panas, tapi sesuatu yang panas tidak selalu api," katanya sambil melakukan handseal.
"為暑: 玉熱!"
Shakuton: Atsuidama
(Elemen Panas: Bola Panas)
Empat bola serupa segera meluncur dari tangan kanan Pakura, melesat berusaha mengenai tubuh Amsesthyst. Naga itu mendecih lantas mengibaskan ekor bersiripnya ke air, mengundang sebuah gelombang berbentuk tangan yang langsung menyapu empat bola panas dan meleburkannya bersama air. Ia mengibaskan ekornya ke arah kami, langsung membuat ombak besar yang menyeret semua yang ada di depannya.
Naga itu membuka mulutnya lagi, dan kembali menembakkan sebuah bola perak yang meledak hebat begitu menyentuh tanah, melontarkan kami ke sembarang arah. Tapi dia jelas mengincarku.
"Aku tidak sekuat Ortodox," akunya, "tapi kalau kau bukan seseorang yang penting, kau sudah berkeping-keping olehku, Naruto-sama".
Sial. Aku lupa membawa Pedang Rikudo dan Hiraishin Kunai. Hanya tangan kosong sekarang.
Amsesthyst membuka mulut bersiap menelanku hidup-hidup, tapi Kurama menubruk ke arahnya dan sekarang mereka terlibat pertarungan jarak dekat. Cakar kait naga belut itu kembali membuat luka panjang pada tubuh Kurama –yang berusaha menggigit dan mencederai insang naga lawannya- tapi tidak digubris.
"Kurama !" Seruku. "Naga itu punya dua alat pernapasan ! Insang hanya digunakannya ketika berada di air !" Aku memperingatkan bahwa usahanya itu sepintas terdengar sia-sia, tapi dia tidak peduli. Walhasil, Amsesthyst menggoyang kepalanya dari dasar dan melempar Kurama kembali merengsek ke tanah. Untunglah lukanya tidak terlalu parah. Naga itu kembali berpaling padaku.
"破裏:拳レイ朝霞 !"
Ranton: Reiza Sakasu
(Elemen Badai: Pertunjukan Laser)
BLAAAAZZZTT ! ! !
Puluhan panah petir menghunjam sang naga, memaksanya kembali ke kegelapan danau untuk sementara ketika ia meraung kesakitan. Beberapa bagian kulitnya menghitam gosong, tapi selain itu ia kelihatannya baik-baik saja.
"Aku belum tahu kau menguasai Kekkei Genkai Ranton, Sasuke," cetus Kakashi-sensei sambil berusaha bangun.
"Hn. Aku sengaja menyembunyikannya. Pertarungan dengan Kekkei Genkai memakan chakra yang lumayan," terangnya singkat. "Lain kali kau harus ditemani seseorang yang profesional ketika hendak pergi kemanapun, Naruto," katanya padaku.
Beberapa orang tampak di pengelihatanku. Sudah kuduga api Kurama dan sentakan ledakan tadi menarik perhatian mereka.
Air beriak, dan sosok Amsesthyst kembali terlihat. Aku bersedekap menantangnya dan berkata, "Kau kalah jumlah. Pergilah !"
Untuk dua detik, Amsesthyst tidak bereaksi. Ia membuka mulut dan segera kusadari kami telah melakukan kesalahan dengan tetap berada di tempat selagi dia menyiapkan sebuah bola perak ketika dia tenggelam tadi. Bola itu membesar drastis dan bersiap ditembakkan.
"Gawat," ujar Kiba. "Elemen tanah takkan sanggup menahan serangan sebesar itu !"
"Tidak akan tahu kecuali dicoba," timpal Lee. "Semuanya, serang !" Teriaknya layaknya komandan kawakan.
"Jika kita tidak bisa menghalanginya, fokuslah untuk meledakkannya sebelum dia sampai !" Seru Shikamaru sambil merogoh kunai peledak diikuti yang lainnya.
Tapi terlambat.
Seolah ada matahari kedua yang lebih kecil, sinar bola perak Amsesthyst turut menerangi tepi danau dan menghasilkan suara ledakan yang dahsyat, mendorong udara hingga menggemerisikkan semak-semak, rerumputan tinggi, dan pepohonan. Kami terlempar membentur tanah tanpa lepas dari luka. Bola perak itu begitu besar sampai tidak ada satupun dari kami yang bisa menghindar, termasuk aku dan Kurama.
"Humph," gerutu Amsesthyst pendek. "Kau yang sudah pernah bertemu Paradox pasti lebih kuat sekarang, Naruto-sama," lanjutnya padaku. "Oleh karenanya, kurasa tidak masalah jika kuhabisi para serangga tak berguna ini, hitung-hitung jadi hiburan pagi dan sarapan," ujarnya, sambil kembali mengumpulkan cahaya perak di mulutnya yang terbuka nyaris vertikal. Aku bangun, tapi kakiku mati rasa. Bengkak di kaki kiri. Sepertinya kakiku patah !
.
"Bele, mereka butuh bantuan," desak Hermes dari perkemahan. Beleriphon menggeleng.
"Parthenon !" Naga kilat itu balas memanggil rekan betinanya. Parthenon juga menggeleng.
"Ayolah !" Serunya. "Apa aku sendiri yang harus menangani Amsesthyst itu ?"
"Kau tidak menyadarinya, Hermes ?" Selidik Parthenon. "Ada yang datang. Kita tidak berguna disana jika dia sampai tepat waktu. Masa kau tidak bisa merasakan jejak Etatheon sekuat itu dari sini ?"
Hermes terdiam sejenak. Ia mengepakkan sayap besarnya sekali. "Oke," katanya pendek, "kurasa euforia akan ada sebentar lagi. Kurasa instingmu tajam juga ya, Bele !"
"Itu kalau dia tidak memilih pergi lagi," sungut Beleriphon. "Dan jangan panggil aku Bele," tambahnya.
"Beleriphon kan terlalu panjang," jawab Hermes seenaknya.
.
.
Bola bercahaya perak itu amat besar. Tiga kali lipat yang sebelumnya. Jangankan yang ini, yang sebelumnya pun kami tidak bisa menghindar. Aku berusaha bangun dan merangkak. Tidak boleh berakhir seperti ini.
"Paradox..." desisku putus asa. "Datanglah untukku kali ini saja !" Seruku memohon.
.
Bola perak itu ditembakkan. Kudengar angin menderu mengiringi arah dia pergi. Kurama menaungiku dengan sayapnya, walau sudah berusaha kucegah agar kejadian itu tidak terulang untuk kedua kalinya.
Bola perak raksasa itu tampak membesar memenuhi area pengelihatanku dan terus mendekat.
Selesai sudah.
Tapi kurasa tidak.
Sekelebat bayangan yang tampak kontras dengan cahaya perak bola mematikan itu tampak oleh mataku, dan dia menembakkan sesuatu. Sekejap kemudian, bola perak raksasa itu raib seperti tidak pernah ditembakkan.
Amsesthyst melongo seperti naga bodoh. Aku memicingkan mata berusaha melihat sosok bersayap itu lebih jelas. Teman-temanku –termasuk Kurama- yang tadinya menutup mata karena terlalu takut melihat apa yang akan terjadi, kembali membuka indera pengelihatan mereka.
Naga putih dengan dua pasang sayap beserta tanduk emas itu menoleh padaku. Memandangku dengan mata indahnya yang tidak bisa kulupakan. Waktu kembali serasa melambat begitu dia berkedip. Aku mengusap mata berusaha meyakinkan bahwa ini bukan di alam mimpi. Sepertinya teman-temanku juga melakukan hal yang sama. Semuanya tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
.
"Paradox !" Gerutu Amsesthyst setelah kami semua larut dalam diam selama beberapa detik. "Kupikir kau sudah kabur ke planet lain," ejeknya.
Ya, kupikir juga begitu, batinku.
Paradox hanya diam. Sepertinya menanggapi ejekan naga lain dan membalasnya, bukan tipenya. Ia mendecitkan kukunya yang mengkilap.
"Jangan ganggu mereka," desisnya ganas. "Terutama Naruto," tambahnya.
Amsesthyst tertawa liar. Paradox tetap diam, dengan sabar menunggu sampai naga belut itu selesai tertawa. Alih-alih bicara lagi, Amsesthyst menembakkan lagi tiga bola perak berukuran sedang bertubi-tubi ke sasarannya –yang langsung ditepis Paradox dengan sangat mudah menggunakan ujung ekornya yang berbentuk segienam itu, melempar tiga bola itu ke tiga penjuru yang jauh dengan sekali tampar.
Naga itu meraung pendek lalu menyerang tepat ke Paradox. Gerakan yang salah besar.
Naga putih itu berkelit secepat kilat ke atas Amsesthyst, menangkap dua kaki belakangnya dan menariknya ke belakang, memutuskan keduanya dengan sekali tindakan. Amsesthyst limbung beberapa detik sebelum menembakkan bola perak lagi, yang segera menghilang entah kemana begitu bertubrukan dengan semburan Paradox –yang entah apa. Itu tidak seperti kilatan cahaya milik Hermes atau Jinton Beleriphon, itu bahkan lebih cepat. Seberkas, samasekali bukan api dan tampaknya transparan, jadi sepertinya itu bukan es atau air. Apapun itu, itu tembakan yang hebat sehingga bisa menghilangkan serangan Amsesthyst.
Sang ular belut meraung lagi, kali ini seluruh tubuhnya terangkat dari air. Lebih panjang dari yang kukira –mungkin separuh lapangan sepakbola, dengan ujung ekor seperti sirip, dan ia memang amat mirip dengan ular air. Dia menyerang lagi, dan kali ini, Paradox menyambutnya dengan sebuah tamparan telak dengan cakarnya di pipi kiri Amsesthyst, membuatnya limbung begitu parah sampai ikut meliukkan tubuh panjang dan licinnya. Keseluruhan tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh berdebur ke air hanya dengan sebuah tamparan !
Beberapa detik kemudian, dia kembali menyerang dari air, dengan gerakan yang itu-itu saja. Paradox menangkap rahangnya dengan kedua kaki depannya, lantas membuka paksa rahang Amsesthyst. Kukira dia akan mematahkan engsel rahang naga belut itu dan membakar tubuhnya, ternyata yang dilakukannya justru lebih sadis.
Paradox terus memaksa membuka rahang lawannya, dan setelah terdengar bunyi kretak seperti tulang patah, ia terus membuka, menyebabkan luka sobekan itu tidak hanya berujung pada rahang saja, melainkan menjalar ke seluruh tubuh sampai ujung ekor. Naga itu menyobek tubuh Amsesthyst menjadi dua atas-bawah. Rahang atas dan bagian atas tubuhnya terpisah dari rahang bawah dan bagian bawah tubuhnya –sampai ekor, dan membantingnya keras ke tanah padat.
"Kau beruntung," desis Paradox sedetik kemudian, "ini pertarungan pertamaku setelah 16 tahun," sambungnya. Ia terdiam sejenak, kemudian terbang pelan ke arah kami dan mendarat di dekatku.
"Tidak sesulit kelihatannya, kan ?" Desisnya merdu. "Kalau kau meneriakkan namaku dari tadi, mungkin naga itu sudah mati sebelum ia sempat menyerang".
Aku cengo. "Jadi seorang Draco P bisa memanggilmu hanya dengan meneriakkan namamu ?!" Seruku terkejut setengah mati.
"Setelah bertemu denganku," jawab Paradox datar, membuatku sedikit lega karena tidak terlalu merasa bodoh.
Paradox mengangkat kedua pasang sayapnya tinggi-tinggi dan membuat semua coraknya bercahaya, lalu mengepakkannya pelan. Seluruh luka di tubuhku, Kurama, dan semua orang yang ada disitu, sembuh seketika. Memang ajaib.
"Hei," panggilku. Dia menoleh.
"Terimakasih sudah menyelamatkan Kurama," kataku sedikit segan. Dia mengangguk sekali, lantas melirik Kurama –yang langsung membuat naga oranyeku membatu beberapa menit tanpa berkedip.
"Waktu itu dia belum mati sepenuhnya," cerita Paradox. "Wivereslavia spesies yang hebat. Sayang sekali para pemburu begitu bernafsu menghabisi mereka," lanjutnya. Aku yakin, kalau para naga bisa merona, pasti Kurama sudah merona.
"Lalu saat itu kenapa kau tidak menghabisi para pemburu yang memburu mereka saja ?!" Seruku tertahan. Aneh, banyak sekali perilaku naga yang satu ini yang tidak bisa, atau belum bisa kupahami betul-betul.
Paradox menghela napas pendek. "Ada sesuatu yang kurasa belum saatnya bagimu untuk mengetahuinya," jawabnya datar. Ia berbalik, dan aku baru sadar kalau semua orang yang hadir disitu sudah berlutut satu kaki dan membungkuk dalam-dalam padanya.
"Suatu kehormatan yang amat besar bisa bertemu dengan Anda, Yang Mulia Paradox," ujar Kakashi-sensei, menirukan ucapan Ryuuzetsu di Gua Besar Rhea kemarin. Paradox mengangguk sekali.
BRUK !
Sesuatu jatuh dari langit dan langsung memeluk naga putih itu dan berteriak kegirangan. "Akhirnya kami menemukanmu !"
"Sikapmu tidak pernah berubah sesekalipun, Parthenon," balas Paradox. Hermes dan Beleriphon menyusul dari belakang, ikut mengerubung. Empat Etatheon disini. Dan berita terbesar sepanjang sejarah bagiku, aku menemukannya.
Aku bersedekap, memasang tampang tidak peduli, lalu melihat tajam ke arahnya. "Sekarang kau sudah bertemu tiga rekanmu," kataku tegas. "Bertemu pengendaramu, dan orang-orang yang menyanjungmu. Kalau kau mau pergi lagi, pergi sana," gertakku dengan nada mengusir. Aku masih agak kesal juga pada tingkahnya yang begitu aneh, menurutku.
"Jadi kau marah ?" Sindir Paradox santai. "Baiklah, aku per..."
"JANGAN !" Cegahku keras-keras. Sedetik kemudian aku terdiam. Jiah, terjebak dalam gertakanku sendiri.
"Uchiha Sasuke," panggil Paradox.
"Jangan khawatirkan keluarga dan klanmu," katanya pendek. "Mereka semua sudah meninggalkan Perkampungan Uchiha sebelum para Gigantostoma menyerang. Desa itu dikosongkan sebelum malapetaka itu terjadi," lanjutnya, membuat Sasuke bisa bernapas lega. Sangat lega. Semua bebannya terasa menghilang. Aku ikut senang melihat temanku senang. Siapa yang mengira ?
"Kau yang melakukannya ?" Tanyaku.
"Kusuruh Pyrus untuk memberitahu mereka bahwa para Pembantai Bersayap akan datang," balas Paradox, "dan mereka percaya".
"Kau tidak akan pergi lagi, kan ?" Tanyaku agak ragu. Sebenarnya aku memang tidak ingin repot-repot mencarinya lagi kalau dia pergi.
"Aku akan selalu bersamamu, mulai sekarang," balas Paradox santai. "Lagipula, kau butuh lebih banyak kekuatan dan pengetahuan untuk bisa mengalahkan Madara, Hanzo, dan Ortodox".
Jiraya-sensei membelalak. "Hanzo Si Salamander ? Pemimpin tertinggi Amegakure itu ?" Selidiknya terkejut.
"Ya," jawab Paradox pendek, "dia bersekongkol dengan Madara dan Ortodox. Mereka bertiga, bersama-sama berusaha mencapai satu tujuan".
"Maaf menyela, tapi info yang saya dengar dari Konferensi Lima Kage di Kumogakure sebelumnya adalah, Madara berniat menjadikan dirinya dewa yang memerintah dunia," potong Komandan Darui, tangan kanan Yondaime Raikage.
"Kelima Kage sedang marah besar sekarang," tukas Kapten Ao. "Terlebih Raikage-sama," tambahnya.
"Jika Hanzo bekerjasama dengan Madara, berarti kecil kemungkinan seluruh penduduk Amegakure tidak mengikutinya. Mereka sangat setia pada Hanzo. Kemungkinan besar seluruh penduduk Amegakure-pun juga melakukan hal yang sama. Desa hujan adalah musuh kita sekarang, bersama dengan Madara dan semua asistennya, serta Styx dan Ortodox," simpul Jiraya-sensei.
"Anda mengenal Hanzo, Jiraya-sama ?" Selidik Cee.
Jiraya-sensei mengangguk. "Dia-lah yang dulu memberikan gelar Sannin padaku, Tsunade, dan Orochimaru, saat Perang Dunia Naga Ketiga. Dia memiliki naga dari spesies Pinthowra, yang dinamainya Sashuoo, dan dia sangat kuat dan memiliki ribuan pengawal yang menjaganya ketat 24 jam sehari," terang Jiraya-sensei rinci.
"Madara dan Hanzo mempunyai karakter yang berbeda," tambah Paradox. "Aku bisa merasa bahwa mereka berdua bahkan bisa berselisih jalan begitu nyaris mencapai akhirnya, dan yang menanglah yang akan meneruskan kehendaknya," lanjutnya.
"Itulah perbedaan antara orang jahat dan orang baik. Kebaikan itu satu, tapi kejahatan itu bercabang-cabang, sulit menemukan yang benar-benar sejalan dengan satu orang saja penjahat," imbuh Parthenon.
"Omong-omong, Paradox. Kau sempat bertemu Pyrus ?" Tanya Parthenon lagi.
"Ya. Ia sedang mengumpulkan informasi dari berbagai negara. Karena itu sampai sekarang ia belum hadir. Ketika Pyrus selesai dengan pekerjaannya, kita akan perlahan membangkitkan aliansi dari Lima Negara Besar untuk mengimbangi kekuatan Madara dan sekutunya," jawab Paradox. Ia mengedarkan pandangan berkeliling, memeriksa tiap orang satu persatu, yang langsung kikuk begitu dipandangnya.
"Kalian punya pasukan terbaik dari Lima Negara Besar," ujarnya setelah selesai menelaah semua orang.
"Sisa-sisanya," ralat Kapten Yamato.
"Buatlah rumah semi-permanen disini," perintah Paradox. "Kita berada di Bumi Tengah. Lokasi strategis yang dekat dengan Lima Negara Besar dan tidak jauh dari Hi no Kuni. Kita akan jadikan area sekitar Gua Besar Rhea ini markas kita. Sementara, tidak perlu kembali ke desa asal kalian, terlalu berbahaya," titahnya.
Ia berpaling ke tiga rekannya. "Hermes, Beleriphon, Parthenon ! Kita akan bangun beberapa tenda dari batu dan tanah keras. Kita buat rumah beserta tembok benteng untuk melindunginya. Ini tidak akan lama, sementara para Dracovetth akan menyiapkan sisanya," perintahnya cepat.
"Ehm. Paradox, waktu kita hanya empat hari sebelum gerhana," Beleriphon beragrumen.
Paradox mengangguk pelan tanpa menoleh. "Aku punya rencana," katanya. "Kuceritakan saat semuanya sudah siap" sambungnya lalu mengepakkan sayap dan terbang ke lapangan rumput luas disusul tiga Etatheon lainnya.
Aku memukul bahu Kurama. Dia melirikku. Aku mengangkat-angkat alis.
"Dia cantik, ya ?" Kataku iseng.
"Dia siapa ?" Balas Kurama. Ah, pura-pura dia.
"Paradox," kataku sambil mesem-mesem sendiri. Kurama memutar bola mata malas.
"Naruto," katanya. Sepertinya dia akan mengelak. "Bawalah semua naga jantan yang ada di Bumi, suruh Paradox menemui mereka. Jika ada yang tidak tertarik padanya, pastilah itu naga jantan yang sudah tidak normal," cerocosnya. Aku salah !
"Jadi ?" Serangku.
"Hmmm...aku masih normal," desis Kurama kikuk.
"Aaaaaaaaaa...!" Aku berseru menggoda. "Kau menyukai Paradox !" Tudingku.
"Tapi dia bukan Wivereslavia !" Kilahnya.
"Terserah, yang penting kau tertarik padanya," aku tak mau kalah.
Kurama mendengus pelan. "Aku bukan tipenya".
"Kau bilang 'aku bukan tipenya' bukan 'dia bukan tipeku' kan ?"
Naga oranye di sebelahku ini bungkam. Sepertinya kalau aku bukan pengendaranya, kujamin seluruh tubuhku sudah hitam sekarang. Yah, aku masih bisa mengingat bagaimana cantiknya Paradox ketika muncul dalam mimpiku dalam bentuk manusia. Sepertinya begitulah pandangan Kurama padanya sekarang. Wow, pasti sangat mengesankan.
"Dia tidak hanya cantik, dia juga sangat kuat, peduli, berpikir cepat, kemampuan hebat untuk memimpin, dan seksi," cerocos Kurama tiba-tiba. Aku membeliak. Transparan sekali naga yang satu ini. Untuk banyak hal, aku setuju. Tapi...peduli ?! Aku agak sangsi kalau yang itu.
"Darimana kau tahu dia seksi ? Memangnya apa saja standar seksi untuk seekor naga, sih ?" Selidikku. "Mereka kan tidak punya..."
"Huh. Murid memang biasanya tidak jauh dari gurunya," gerutu Kurama. "Sama-sama..."
Untunglah dia tidak melanjutkan kata-katanya. Sebenarnya aku juga, sih. Kurama hanya menggumam pendek. "Hmm...entahlah ? Kurasa dia pribadi yang amat sempurna, untuk seekor naga betina".
"Naga betina yang hebat untuk naga jantan yang hebat," aku menyemangati. "Kau harus lebih hebat lagi," godaku.
"Oke, nanti temani aku mendaftar jadi anggota Etatheon kesembilan pada Hermes," balas Kurama.
"Ada-ada saja kau".
.
.
.
Pukul sembilan pagi, semuanya sudah selesai, dan Paradox memanggilku untuk latihan sekitar beberapa kilometer dari perkemahan, bersama Kurama (yang kegirangan bukan main, tapi masih bisa menjaga imej-nya di depan Paradox, meski sepertinya dia bisa membaca situasi).
"Sebelum mulai, kurasa kau harus melihat kemampuanku dulu," kataku.
Paradox menggeleng. "Aku sudah lihat semua. Itu akan buang-buang waktu. Sekarang, mungkin kau masih agak kesal padaku. Aku akan manfaatkan perasaan itu. Seranglah aku dengan apapun yang kau punya. Pedang, shuriken, kunai, rantai, batu, apapun itu. Berusahalah menyerangku seolah kau ingin membunuhku. Kulihat kemampuanmu sekarang dari hasilnya," perintah Paradox cepat.
Aku mengangguk. Yah, hitung-hitung menyalurkan sisa-sisa amarahku.
Kutarik Pedang Rikudo dari sarungnya. Pedang berwarna hitam legam mengkilat itu berdecit. Aku menarik napas dalam-dalam. Kurama hanya memandang penuh antusias ke arah kami.
Aku maju menyerang, tapi langsung ditangkis Paradox –dengan satu cakar di satu jari ! Padahal sudah kuayunkan pedangku sekuat tenaga tapi dia menangkisnya semudah itu ?!
Aku berkelit mundur, merogoh sebuah shuriken, lalu melemparnya. Aku melakukan handseal, memperbanyak senjata berbentuk bintang itu. Bukan puluhan lagi sekarang, melainkan ratusan. Dengan kibasan sebelah sayapnya, Paradox menghembuskan semuanya kembali ke arahku sampai aku harus membuat dinding tanah tebal untuk menghalangi jutsuku sendiri.
Aku mendecih, lantas melemparkan puluhan kunai bertempel kertas peledak. Serangan yang mestinya cukup untuk melukai puluhan orang. Tapi dengan kibasan sebelah sayap yang lain, Paradox memecah kunai itu menjadi seperti pecahan kaca dan merobek-robek kertas peledaknya.
Kurasa dia tidak bisa dilawan dengan senjata apapun buatan manusia. Jadi...
"為火:妻紅銭課 !"
Katon: Hasenka Tsumabeni
(Elemen Api: Bunga Phoenix)
Puluhan shuriken berukuran besar dengan lapisan bola api menghunjam Paradox. Itu hanya untuk pengalih perhatian –sementara aku berlari cepat ke belakang, membentuk puluhan Kagebunshin sekaligus dan menyerang dengan Rasengan.
Paradox menyemburkan api putih dari mulutnya, langsung menguraikan semua shuriken menjadi debu, tapi aku tetap merengsek maju ke depan dan berusaha menyerang.
"螺旋丸漣隊茯 !"
Rasentairengan
(Rasengan Beruntun)
Detik berikutnya membuatku terkejut sendiri. Sepuluh Rasengan di tanganku dan tangan bunshin-bunshinku mendadak membesar menjadi sebesar bola voli dan angin serta putarannya bertambah cepat. Ah, bodo amat, pikirku. Serang saja !
"Kurasa aku lupa memberitahumu sesuatu," celetuk Paradox sambil mengibaskan ekor. Lebih tepatnya, (hanya) mengedikkan ekor. Tanah di bawah bunshin-bunshinku langsung melonjak ke atas membentuk duri-duri runcing yang langsung membuat mereka menghilang. Aku tak peduli dan terus maju sembari menghancurkan duri-duri tanah yang muncul. Selangkah lagi jutsuku akan menghantamnya !
Kupikir Paradox akan melakukan sesuatu sehingga membuatku terpental, raib begitu saja, atau apalah, ternyata tidak. Dia justru diam di tempat hingga Rasengan besarku menggilas sisi tubuhnya yang seperti cermin. Suara desingan angin yang makin keras kembali terdengar, tapi aku tidak menahan diri. Aku terus berusaha mengelupasi kulitnya. Tapi tidak ada yang terjadi –sampai Rasenganku kehabisan waktu penghancurannya dan menghilang, beserta aku yang terpental darinya.
Naga itu menerima sebuah Rasengan jumbo tanpa bergeser sesenti pun dari tempatnya !
"Cukup," kata Paradox akhirnya.
"Aku belum memperlihatkan ninjutsu elementalku," tolakku sambil berusaha bangun.
"Kubilang cukup," Paradox tetap pada pendiriannya dan mendekatiku. "Ada yang belum kusampaikan. Ketika seorang Draco P bertemu dengan naganya, kekuatan jutsunya akan menjadi lebih besar. Setidaknya dua sampai tiga kali lebih hebat daripada ketika ia melakukannya seorang diri. Dan itu keuntungan terbesarmu," jelasnya.
Aku mengangguk mengerti. Jadi ini sebabnya kenapa Rasengan-ku jadi begitu besar ketika tidak berjarak jauh dari Paradox.
"Aku bisa memprediksi kekuatan ninjutsumu dari beberapa serangan tadi," katanya. "Naruto, kau cukup tangguh untuk melawan Ortodox".
Aku membelalak. "Sungguh ?" Selidikku dengan mata berbinar.
"...Dua menit sebelum dia memutus kepalamu dari tubuhmu".
Aku meneguk ludah kecut. Kurama terkekeh dari kejauhan. "Dia memang kejam," desisku.
Kami bertiga terdiam agak lama, masih sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Paradox," panggilku.
"Bisa kau ceritakan semuanya ? Antara kau dengan Ortodox dan Artemis...sejarah Etatheon...soal Rikudo Sennin dan keluarganya, para Dracovetth di masa awal keemasan naga dan manusia...dan juga...tentang relasi antara kau dan ayahku...serta...bagaimana saat-saat terakhirnya," pintaku lirih.
"Kau mau kan ?" Lanjutku. "Aku...ingin sekali mengetahuinya. Ada begitu banyak hal yang tidak kuketahui, dan kurasa sebagai Draco P, sudah saatnya mengetahui semuanya. Dari awal sampai akhir..." kataku panjang lebar.
"Akan kuceritakan," jawabnya cepat. Aku mendongak, lurus langsung menatapnya. "Setelah kita tiba di perkemahan. Latihan hari ini cukup".
Uchiha Village
"Bau ini mengingatkanku pada masa lalu..." desis Madara. Ia berdiri di sisa-sisa rumah para Uchiha yang sudah gosong terbakar oleh para Gigantostoma. Seluruh desa sudah hancur, tapi tidak ada satupun dari penduduknya yang tewas. Mereka mengungsi sebelum serangan terjadi.
"Para naga raksasa itu idiot," kata sebuah suara di belakangnya kasar. "Kenapa mereka tetap menghanguskan desa, padahal tidak ada satupun manusia di dalamnya ?" Sungutnya.
"Agar para Uchiha tidak bisa kembali ke perkampungan mereka," jawab Madara. "Kurasa itu cukup bagus. Paling tidak kurasa mereka akan beralih ke Konohagakure. Itu satu-satunya desa dari Lima Negara Besar yang belum dihancurkan. Sengaja disimpan untuk akhir".
"Madara-sama, Hanzo dari Amegakure menyetujui kolaborasi dengan Anda," suara lain mendadak ikut campur juga.
"Sopan sedikit, dasar lidah buaya," balas suara berat yang lain. Itu bukan suara Zetsu. Bukan juga suara Madara.
Madara tertawa kecil. "Begitu...dan kurasa aku bisa memanfaatkan Akatsuki dengan lebih baik".
"Yap," sambung Zetsu Putih. "Salah satu dari mereka memiliki Rinnegan," tambahnya.
"Hanzo tidak sepintar yang kukira," timpal si suara berat. "Begitu dia tahu Akatsuki adalah milik kita, seluruh penduduk Amegakure tidak akan ada artinya. Sekarang kita akan prioritaskan kualitas daripada kuantitas," ujarnya.
Madara mengangguk. "Sementara ini, kita bersikap manis saja di depan mereka semua. Ngomong-ngomong, aku akan menugaskanmu mengatasi salah satu anggota tim Naruto yang paling merepotkan saat perang besar tiba nanti," katanya. "Bersenang-senanglah kalian".
Si pemilik suara berat itu mengangguk. "Aku akan menikmati bertarung dengannya".
.
.
.
.
Bersambung...
Author's Note (2):
Chapter 13 akhirnya selesai !
HOREEEEEEEE...! Naruto akhirnya bertemu Paradox dan ternyata Kurama masih hidup ! (*Pada kena euforia semua nih kayaknya, readers*). Obrolan singkat Naru dengan ayahnya, Minato, akhirnya membuahkan hasil yaitu pertemuan mereka berdua. Kizashi dan Sakura masih terbelenggu dibawah kekuasaan Madara dan Ortodox. Para Akatsuki sudah tampak beserta Hanzo dan bawahan-bawahannya. Para tokoh antagonis sudah mulai bergerak, bersamaan dengan bertemunya dua tokoh utama kita ! Apakah yang akan terjadi selanjutnya ? Seperti apakah cerita yang dituturkan Paradox tentang masa lalu dan segala yang berhubungan dengan benang takdirnya ? Jangan lewatkan chapter depan !
Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !
Coming Soon: Paradox Chapter Fourten :
"The Pursuit of Peace"
See you again in chapter 14 !
-Itami Shinjiru-
-Dragons List in Chapter Threeten:
PARADOX (Second main protagonist)
Strength : Abadi
Ukuran : Panjang 17 meter, berat 10 ton
Kecepatan terbang : 10-750 km/jam
Spesial : Naga abadi dengan tujuh berlian, mengetahui segala sejarah dunia dan penyelesai masalah
Tipe serangan : Menyemburkan api putih, sinar dari tujuh berliannya, serangan langsung dengan cakar, sayap, atau ekor, dan tembakan semburan atomik yang memecah semua benda menjadi butiran atom dengan kecepatan tinggi
Kategori : Dewa
Elemen spesial : Radioaktif
Level bahaya : Tidak terklasifikasikan
Pemilik : Ootsutsuki Hagaromo, Senju Hashirama, Namikaze Minato, Uzumaki Naruto
Amsesthyst (Naga OC, dipelesetkan dari nama batu mulia 'Amethyst')
Strength : Ekstrim
Ukuran : Panjang 50 meter, berat 30 ton
Kecepatan terbang : 10-85 km/jam (Dapat berenang sampai 50 km/jam)
Spesial : Bergerak dengan baik di air dan udara, serangan cepat dan timing tepat
Tipe serangan : Menyemburkan bola berwarna perak, variasi dalam ukuran, menyebabkan kerusakan hebat dan jangkauan serang jarak amat jauh
Kategori : Kriptid
Elemen spesial : Nokturnal (Tidak aktif ketika matahari tinggi, beroperasi saat malam, senja, atau pagi)
Level bahaya : Gila
Pemilik : Tunduk pada Uchiha Madara
