xxxKuroyuki Akihanaxxx
Malam semakin larut, Hisana keluar dari dalam gedung divisi 1. Di tangannya, dia membawa sebuah benda yang panjangnya sekitar 1 meter. Dia melompat menuju pagar pembatas, kemudian melompat lagi menuju atap terdekat yang ada di sana.
Langit mendung, tanda akan turun hujan. Hisana mendesis pelan. Dia tidak mau kehujanan di saat seperti ini.
Dia melompati atap-atap lain yang ada di dekatnya. Dia harus segera sampai di bukit itu.
"Pasti dia sudah menungguku..." gumamnya pelan. Hisana melompati atap-atap dengan sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Hingga, sampailah dia di bukit Sokyoku.
Tep
"Ah... Sudah sampai, Hisana-san?"
Hisana melepaskan jubahnya, kemudian dia berjalan tenang ke arah seekor kucing hitam yang tengah bergelung nyaman di atas rumput. Kucing itu mengangkat kepalanya sembari menatapnya.
"Ya... Maaf jika membuatmu menunggu, Yoruichi-san..."
Kucing itu, Yoruichi, terkekeh pelan, kemudian, dia merubah wujudnya, menjadi sosok dirinya yang sesungguhnya.
"Kita pergi sekarang?" tanyanya. Hisana mengangguk. Kemudian, Yoruichi membuka Senkeimon, dan keduanya masuk ke dalam pintu antardimensi itu.
Senkeimon menutup. Tepat setelahnya, seseorang muncul dari balik pepohonan. Seorang laki-laki berambut putih dengan syal Turquois yang melilit di lehernya. Haori putih dengan kanji 10 miliknya berkibar di tiup angin, memberikan sedikit kesan dramatis. Sosok itu adalah sang Kapten Divisi 10, Hitsugaya Toushiro.
'Sulit dipercaya' ucap sebuah suara di dalam kepalanya. 'Wanita itu adalah yang melukai Kuchiki, benar kan?'
Dia tidak menyanggah ataupun membenarkan ucapan roh Zanpakutou di kepalanya itu. Sepertinya, mengikuti Hisana Kuchiki sejak dia melewati gedung divisinya tadi adalah pilihan tepat. Dia tidak habis pikir, kenapa juga Ichigo dan Renji malah mengejarnya dengan berlarian dan berteriak begitu? Seharusnya, 2 shinigami selevel kapten itu mengejar Hisana secara diam-diam seperti yang dilakukannya barusan.
Hisana boleh saja lemah, tapi dia tidak bodoh. Wanita itu adalah Isteri dari Kuchiki Byakuya, kepala keluarga Kuchiki, yang berarti nyawanya akan terancam setiap saat. Dan dia bukan shinigami. Jadi tentunya, Byakuya akan mengajarinya beladiri ringan dan cara menyembunyikan ataupun mendeteksi reiatsu, agar dia dapat melindungi nyawanya sendiri.
Tapi, bukannya Nyonya Kuchiki itu sudah mati? Lalu, kenapa dia menemui Soutaichou tadi? Dan sekarang, kenapa dia juga menemui Yoruichi?
Toushiro menghela nafas. Dia akan menanyakan hal ini pada Soutaichou. Bagaimanapun, perkara ini harus diluruskan.
xxxKuroyuki Akihanaxxx
Matahari mulai terbit. Seiretei sibuk seperti biasanya. Yah... Walaupun sekarang adalah hari Minggu, tapi tidak ada hari libur untuk para Kapten. Biasanya, libur akan diberikan di tanggal yang berbeda untuk setiap anggota divisi. Namun, para kapten tidak mendapatkan hal tersebut. Sebagai gantinya, para kapten diberi kelonggaran dengan tidak harus duduk mendekam di divisi mereka masing-masing. Jadi, jangan heran jika ada kapten yang berkeliaran di jam kerja.
Rukia menghela nafas panjang. Dia memandang ke arah jendela. Lapisan kaca bening itu merefleksikan pemandangan yang ada di luar ruangan itu.
Tak lama, dia kembali menoleh ke arah kakaknya yang masih terbaring di atas ranjang. Tidak ada tanda-tanda bahwa kakaknya itu akan bangun.
Sebenarnya, Rukia sedikit senang, karena dengan begini, maka kakaknya yang workaholic itu akhirnya bisa beristirahat. Namun jika begini, gawat juga.
Rukia menatap ke arah jam yang ada di ruangan itu. Sudah pukul 11 siang. Dia menghela nafas pelan. Sebenarnya, kaptennya mengizinkannya untuk cuti hari ini. Tapi sebagai seorang wakil kapten, Rukia memiliki tanggung jawab yang harus dilaksanakan.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk."
Rukia menoleh ke arah pintu. Pintu itu terbuka dan menampakan 2 siluet. Siluet itu ternyata adalah Juushiro dan Toushiro.
"Taichou... Hitsugaya Taichou." Rukia bangkit dari duduknya dan membungkuk pada kedua kapten itu. Keduanya mengangguk singkat, sebelum Rukia kembali menegakan badannya.
"Bagaimana keadaan Kuchiki Taichou?" tanya Juushiro. Rukia menggeleng pelan, "Nii-sama belum sadar."
Juushiro tersenyum, "tidak usah cemas, aku yakin dia baik-baik saja. Nah, kau istirahatlah."
Rukia terlihat kurang yakin.
"Aku yang akan menjaganya." Toushiro angkat bicara. Rukia mengerjap selama beberapa detik.
"Ada yang ingin kubicarakan dengannya ketika dia sadar nanti. Lagipula, mengenai orang yang menyerangnya, kukira dia tidak akan mau bicara kepadamu mengenai itu."
Mendengar penjelasan Toushiro, Rukia terpaku.
"Dia pasti tidak ingin membuatmu cemas, nah... Sekarang, pergilah... Kau harus istirahat."
Rukia terlihat ragu-ragu, namun akhirnya, dia memutuskan untuk pergi.
xxxKuroyuki Akihanaxxx
Waktu tengah menunjukan pukul 1 siang. Toushiro duduk dengan tenang di dekat ranjang Byakuya sembari menutup matanya. Nafasnya teratur. Sementara itu, di ranjangnya, perlahan lahan, Byakuya mulai membuka matanya.
Rasa pening menyerang kepalanya, bersamaan dengan rasa sakit di tengkuknya. Sepertinya pukulan saat itu benar benar keras.
Byakuya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, berusaha mengenali ruangan yang kini ditempatinya. Divisi 4. Ya. Dia mengingat betul bau ini. Bau olahan tanaman obat obatan.
Matanya kini bertumpu pada sosok Toushiro yang duduk di sisi tempat tidurnya. Apakah sang kapten divisi 10 itu sedang tidur?
"Kau sudah bangun, Kuchiki Taichou?"
Toushiro membuka matanya, mata turquois itu menatap langsung ke mata elang milik Byakuya.
"Kau diserang. Ah... Bukan. Tepatnya dipukul. Sepertinya ada yang berusaha mencelakaimu."
Byakuya mengerjap. Masih dengan wajah dan tatapan dinginnya yng seperti biasa. Memorinya mulai menyeruak kembali, mengenai kejadian yang menimpanya ketika di depan makam Hisana saat itu.
"Hisana..."
Mata Toushiro membulat. Jadi benar, yang dilihatnya waktu itu adalah Hisana.
"... Aku bertemu dengan Hisana."
Sedetik setelahnya, Byakuya menyesali apa yang dikatakannya.
"Begitu." Toushiro nampak berfikir. "Jadi, apa dia yang membuatmu jadi seperti ini?"
Wajah Byakuya masih datar. Namun, keterkejutan samar nampak di matanya. Nada suara dari Kapten divisi 10 itu sama sekali tidak terdengar meragukannya.
"Bukan." jawab Byakuya pada akhirnya. Alis Toushiro terangkat. "Lalu?"
Byakuya nampak berusaha mengingat yang terjadi waktu itu.
"Aku memang bertemu dengannya. Tapi dia berada didepanku. Dan kurasa, agak mustahil buatnya untuk bergerak secepat itu. Walaupun mungkin kini dia berbeda, namun dia isteriku. Aku kenal betul dirinya."
Toushiro mengangguk, "berarti, ada orang lain yang menyerangmu."
Byakuya menatap kapten termuda di hadapannya itu dengan tatapan heran. Awalnya dia mengira bahwa kapten muda itu tidak akan percaya padanya. Tapi kelihatannya, dugaannya itu salah. Toushiro justru terlihat seperti menganggap bahwa perkara yang dipaparkannya itu memang begitu adanya.
Merasa diperhatikan, Toushiro mengalihkan pandangannya pada Byakuya. Dan dengan cepat, dia mengerti. Byakuya pastilah merasa heran, kenapa dirinya tidak menyebutnya pembohong atau semacamnya.
Yah... Mereka berdua memiliki sifat yang hampir mirip. Jadi, tidak sulit baginya untuk mengerti dan mengartikan ekspresi dan tatapan sang kapten yang kebanyakan datar itu.
"Aku juga pernah mengalami hal yang sama sepertimu. Bertemu seseorang yang seharusnya sudah mati, lalu dia menghunuskan pedangnya padaku dan meminta nyawaku untuk jadi miliknya."
"Soujiro Kusaka?"
"Hmm..."
Byakuya bergumam pelan. Benar juga. Kapten muda dihadapannya itu juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang dialminya.
xxxKuroyuki Akihanaxxx
Renji sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Pikirannya melayang pada sosok yang ditemuinya semalam.
"Hoi Renji!"
Renji melompat dari kursinya, dibelakangnya, Ikkaku tengah berdiri sembari memegang sebuah amplop coklat.
"Kau kenapa sampai meloncat begitu?" tanya Ikkaku keheranan. Renji menggeleng pelan, "aku hanya kaget."
Ikkaku menghela nafas, "Nah... Ini. Berkas milik divisiku."
Ikkaku menyerahkan amplop coklat di tangannya. Renji menerimanya dan menggumamkan terima kasih dengan pelan. Kemudian, dia meletakan amplop itu di atas meja kaptennya.
"Kau sudah dengar belum?" tanya Ikkaku pada Renji. Pemuda bersurai merah itu mengangkat alis, memberikan pertanyaan 'apa' tanpa suara.
"Soal orang yang menyerang kaptenmu. Katanya dia wanita."
Renji mengerjap beberapa saat. Benar juga. Dia belum mengunjungi kaptennya hari ini.
"Aku harus pergi." ucap Renji. Dia meraih Zabimaru dan berlari dengan terburu-buru keluar kantornya.
"Hei...! Mau kemana!?" teriak Ikkaku.
"Ke divisi 4!"
Ikkaku menghela nafas, "dasar." Kemudian, dia berjalan pergi meninggalkan kantor divisi 4.
Renji berlari menuju ke divisi 4. Shinigami yang ditemuinya dan menyapanya di jalan tidak dihiraukannya sama sekali. Dia ingin segera sampai di divisi 4. Menemui kaptennya, dan memastikan sesuatu. Ah... Bukan. Lebih tepatnya, dia ingin memberitahukan pada kaptennya bahwa semalam, dia bertemu dan mengejar Hisana-sama.
Dia menyadarinya saat Ikkaku mengatakan padanya soal penyerang kaptennya.
Dia tidak pernah bertemu dengan Hisana, memang. Namun, orang yang ditemuinya semalam jelaslah bukan Rukia. Aneh memang, mengingat Hisana seharusnya sudah mati. Tapi, apa yang dilihatnya sudah merupakan bukti nyata.
Satu alasan lain, kenapa dia yakin Rukia yang ditemuinya semalam adalah Hisana adalah, karena dia bergerak dengan lebih anggun daripada Rukia.
Renji sampai di divisi 4. Dia langsung saja berlari menuju ke ruangan tempat kaptennya dirawat. Namun, ketika dia hendak sampai di kamar kaptennya, dia menghentikan langkahnya. Kaptennya tidak akan memaafkannya jika dia menunjukan sikap tidak sopan.
Renji membuka pintu ruangan itu perlahan sembari bergumam permisi. Setelah pintu terbuka, perasaan lega muncul dalam dirinya.
Karena dia melihat kaptennya tengah duduk di atas ranjangnya.
"Taichou, anda sudah bangun?"
Byakuya melihat Renji sekilas, kemudian bergumam 'hmm' pelan. Renji berjalan ke arah kaptennya itu.
"Kapan anda bangun?" tanya Renji.
"Beberapa jam lalu."
"Anda sendirian?"
"Tidak. Hitsugaya Taichou pergi ke luar."
"Rukia datang kesini?"
"Tidak tahu."
"Anda sudah makan?"
"Belum."
"Mau saya ambilkan?"
"Tidak."
"Cuacanya cerah ya, taichou. Jendelanya kubuka ya?"
"Hmm."
Renji berjalan ke arah jendela, kemudian dia menyibakan gorden jendela itu dan membuka daun jendela lebar-lebar. Cahaya siang masuk ke dalam ruangan itu, membuat Byakuya sedikit mengernyit. Renji menyeringai ke arah kaptennya. Kemudian dia berjalan kembali dan mendudukan diri di kursi yang ada di dekat ranjang sang kapten.
Tepat setelah itu, pintu terbuka. Terlihat Toushiro masuk ke dalam ruangan itu, diikuti dengan seorang anggota divisi 4 yang membawakan nampan yang berisi makanan dan teh.
"Oh... Abarai, kau ada disini?" tanyanya retoris. Renji berdiri dan memberi salam. "Hitsugaya Taichou."
Shinigami yang mengikuti Toushiro memberi salam pada Byakuya dan Renji. Kemudian dia meletakan makanan yang dibawanya di atas nakas, setelah itu dia kembali membungkuk dan undur diri.
Toushiro mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Kemudian, dia melangkah ke salah satu sudut ruangan dan mengambil kursi, lalu menyeretnya ke sebelah kursi yang kini di duduki oleh Renji.
"Anggota onmitsukido akan menyelidiki ini. Karena kebetulan, penyeranganmu terjadi di saat yang bersamaan dengan beberapa penyusupan."
Byakuya mengangguk pelan, kemudian dia terlihat berfikir.
"Bagaimana bisa, Hisana yang seharusnya sudah meninggal muncul lagi..."
"Ah...!" mendadak, Renji teringat dengan tujuan awalnya. "Taichou! Semalam aku...! Gah!"
Kalimat Renji berganti dengan teriakan. Kakinya mendadak diinjak oleh Toushiro.
"Hitsugaya Taichou! Kenapa anda..." Renji menggantung kalimatnya. Toushiro menatapnya dengan tatapan berbahaya. Seolah mengisyaratkan Renji untuk diam.
"Kuchiki Fukutaichou akan datang kesini sebentar lagi. Sementara itu, sebaiknya kau duduk dengan tenang disini, Abarai."
Renji akhirnya mengangguk. Toushiro adalah seorang kapten, dia juga terkenal dengan kejeniusannya dan kemampuannya dalam mengnalisa. Jadi tentunya, ada alasan tersendiri kenapa kapten divisi 10 itu memintanya diam.
Tak lama, Rukia masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Rangiku.
"Ah... Ternyata benar dugaanku, kalau Taichou ada di sini." Rangiku berjalan riang menuju ke arah Taichounya yang tengah duduk di sebelah Renji. Rukia membungkuk pada Toushiro, kemudian dia tersenyum pada Byakuya.
"Nah..." Toushiro berdiri dari posisi duduknya. "Karena Kuchiki Fukutaichou sudah datang, sebaiknya aku kembali." Toushiro melirik ke arah Renji.
"Ikut aku, Abarai..."
xxxKuroyuki Akihanaxxx
Toushiro berjalan dengan tenang menuju ke divisinya. Dibelakangnya, Rangiku dan Renji mengikutinya.
"Hei... Kenapa mukamu ditekuk begitu?" tanya Rangiku. Renji menggelengkan kepalanya. Rangiku mengernyit tajam.
"Jangan ganggu dia, Matsumoto."
Rangiku mengerucutkan bibirnya sebal, kemudian dia membuang muka.
Tak lama, mereka bertiga sampai di divisi 10. Mereka berdiri di depan gerbang dengan lambang bunga Daffodil dan kanji 10 itu. Penjaga gerbang membungkuk pada ketiganya, kemudian membukakan pintu.
Ketiganya masuk, dan Toushiro langsung menggiring Renji ke kantornya.
"Duduklah, Abarai." Toushiro mempersilahkan Renji untuk duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Renji pun duduk, sementara Toushiro, berjalan ke balik meja kerjanya dan duduk di kursinya.
"Biar kubuatkan teh."
Rangiku keluar dari ruangan itu sembari bernyanyi. Melihatnya, Toushiro hanya menggelengkan kepalanya.
"Dasar."
"Hitsugaya Taichou?"
"Hmm?"
Renji menoleh ke arah Toushiro, "apa yang hendak anda bicarakan dengan saya?"
"Tidak ada."
"Ha...?"
Renji terkejut, Toushiro menghela nafas.
"Aku membawamu kesini hanya untuk mencegah kau mengatakan yang bukan bukan pada Kuchiki Taichou."
"Tapi..."
Toushiro mengangkat tangannya, membuat Renji menghentikan kata-katanya.
"Aku melihatmu mengejar Hisana Kuchiki semalam." jelas Toushiro. "Awalnya aku berfikir, kalau wanita itu adalah Kuchiki Fukutaichou, tapi sepertinya bukan. Jadi, aku mengikuti kalian."
Renji ternganga. Sementara Toushiro mengernyit, "kau tidak bisa tunjukan ekspresi lain?"
Renji langsung menutup mulutnya tanpa sadar. Tak lama, Rangiku masuk ke dalam ruangan itu sembari membawa nampan yang berisi sepoci teh, 3 buah gelas, dan sepiring kudapan untuk menemani minum teh.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kelihatannya serius sekali." tanya Rangiku. Dia meletakan nampan itu di meja yang ada di depan sofa, kemudian menuangkan teh ke dalam 3 buah cangkir itu, lalu memberikan salah satu cangkirnya pada kaptennya.
"Hanya soal kejadian semalam." jawab Toushiro datar. Mendengar itu, Rangiku terkikik pelan. "Yah... Kau dan Ichigo mengejarnya dengan suara yang keras sekali. Karena berisik dan penasaran, maka Taichou mengikuti kalian."
Renji menggumamkan 'oh' pelan. Sebelum mengambil sepotong kue coklat dari atas piring dan memakannya.
"Untuk sementara, jangan beri tahu siapapun soal ini." ujar Toushiro memperingatkan. "Karena masih belum ada bukti bahwa orang itu memang Hisana Kuchiki. Lagipula, seharusnya dia sudah meninggal. Jadi, ini akan sulit dan agak merepotkan"
Mendengar penjelasan Toushiro, Renji mengernyit, "kenapa anda kelihatan tidak terusik soal ini?" tanyanya, "maksud saya, beberapa orang akan berusaha menyangkal kejadian ini. Mengingat Hisana-sama telah..."
"... Meninggal?"
Renji mengangguk, mengiyakan pertanyaan Toushiro.
"Ini bukan yang pertama kalinya, aku berurusan dengan orang mati yang hidup lagi." jawabnya datar.
"Pertama kalinya? Oh!" Renji seolah baru tersadar dari lamunan panjang. Namun, kemudian ekspresinya menegang.
"Soujiro Kusaka?" bisiknya pelan.
Suasana mendadak hening. Tangan Rangiku mengepal erat. Wajahnya mendadak berubah, menunjukan ekspresi seperti seseorang yang tengah menahan perih.
Toushiro menghela nafas, kemudian dia berjalan menuju ke arah jendela kaca besar yang menghadap ke arah balkon. Cuaca di luar mendadak menjadi buruk. Awan hitam menyelimuti langit secara tiba-tiba dan udara menjadi sangat dingin. Begitu pula suhu ruangan kantor itu yang menurun secara drastis.
Toushiro mengulurkan tangannya, menyentuh kaca jendela, yang langsung membeku secara perlahan.
"Sepertinya, kita memang tidak bisa menjalani hari-hari yang tenang."
xxxKuroyuki Akihanaxxx
Rukia menghela nafas, dia melihat ke arah jam dinding di ruangan itu. Jam 5 sore, kemudian, dia mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Awan hitam menggulung dengan cukup mengerikan. Aneh sekali... Padahal beberapa menit lalu cuacanya masih cerah.
Rukia bergerak ke arah Byakuya yang juga menatap ke luar jendela. Kemudian, dia menaikan selimut milik kakaknya itu.
"Udaranya jadi dingin." ujarnya dengan suara rendah. Byakuya hanya menjawab dengan gumaman pelan yang hampir tidak terdengar.
"Pulanglah..."
Rukia mengerjap selama beberapa saat, kemudian dia menatap kakanya dengan tatapan kesal.
"Siapa yang akan menjaga Nii-sama disini?" tanyanya retoris. "Lagipula, aku tidak masalah kalau seandainya turun hujan. Kalau hujan-hujan pun, tidak apa-apa. Aku tahan dengan hawa dingin kok!" jawabnya panjang lebar. Mendengar penuturan adiknya itu, Byakuya hanya menghela nafas pelan.
"Bukan itu maksudku..."
"Kuchiki Taichou benar, sebaiknya kau pulang, Kuchiki Fukutaichou..."
Rukia dan Byakuya menoleh ke arah asal suara. Didepan pintu, terlihat Kuroyuki dan Momo berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Rukia berdiri. Kemudian dia membungkuk hormat pada Kuroyuki.
"Akihana-Taichou."
Kuroyuki tersenyum, kemudian dia mengangguk pelan. Momo yang ada di sampingnya juga membungkuk pada Byakuya.
"Kuchiki Taichou."
Byakuya mengangguk samar, Momo dan Rukia kemudian bangkit pada saat yang hampir bersamaan.
"Bagaimana keadaan anda, Kuchiki Taichou?" tanya Kuroyuki berbasa-basi. "Tidak terlalu buruk." jawab Byakuya sekenanya. Kuroyuki berjalan ke arah nakas, kemudian dia mengambil vas bunga yang ada di atas nakas.
"Tapi, saya baik-baik saja kok! Saya bisa menjaga kakak saya sampai dia diizinkan pulang!" Rukia membantah dengan sopan.
"Unohana Taichou bilang, kakakmu sudah bisa pulang besok." jawab Kuroyuki dengan sabar. "Lagipula, kau tidak ambil cuti. Tidak lucu jika setelah kakakmu keluar divisi 4, kemudian kau yang masuk ke sini menggantikannya."
Rukia hendak membantah lagi, namun kemudian, dia mengurunkan niatnya. Benar juga yang dikatakan oleh kapten divisi 5 itu.
Kuroyuki membuang bunga yang ada di dalam vas itu ke tempat sampah. Kemudian dia mengganti airnya dengan air kran melalui wastafel yang ada di ruangan itu. Lalu, dia meletakan buket bunga Camellia yang dibawanya tadi.
"Hinamori..."
"Ya, Taichou?"
Kuroyuki berjalan ke arah nakas, kemudian meletakan vas bunga itu diatasnya.
"Antarkan Kuchiki Fukutaichou kembali ke Kuchiki Mansion."
Hinamori mengangguk, "Kalau begitu, saya pamit dulu, Taichou, Kuchiki Taichou." Momo membungkuk pada Byakuya dan kaptennya. Kemudian, dia menarik lengan Rukia.
Rukia merasa enggan meninggalkan kakanya, tapi, sudahlah. Dia juga mengakui bahwa dirinya juga butuh istirahat.
Akhirnya, Rukia menuruti Momo. Dia membungkuk pada Kuroyuki dan Byakuya. Kemudian, keduanya meninggalkan gedung divisi 4.
Sepanjang perjalanan, keduanya berbincang-bincang mengenai banyak hal. Dari mulai berkas berkas yang jumlahnya menjadi sedikit, hingga harga teh yang mulai naik.
"Oh ya, Hinamori, bisa tidak, kita ke divisiku dulu?" tanya Rukia. "Aku mau mengambil beberapa barang di sana."
Momo mengangguk, kemudian, mereka berbelok menuju ke divisi 13.
Namun belum sampai setengah jalan, mereka berdua dihadang oleh sekitar 10 orang anggota onmitsukido.
"A... Ada apa ini?"
Salah satu dari anggota onmitsukido bergerak maju ke arah mereka berdua.
"Ada apa sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Momo kebingungan.
"Kami hanya menjalankan perintah." ucap orang yang mendekat ke arah mereka.
"Perintah apa!?" tanya Momo keras. Dia mencengkram erat gagang Tobiume. Namun, Rukia menyentuh pergelangan tangannya, kemudian menggeleng pelan.
"Jangan..." ujarnya.
"Ta... Tapi..."
"Aku tau apa yang mereka inginkan."
Momo menatap Rukia terkejut. Sementara, sang anggota onmitsukido itu mengangguk.
"Wakil kapten divisi 13, Kuchiki Rukia, anda ditangkap atas tuduhan penyerangan terhadap kapten divisi 6, Kuchiki Byakuya. Sampai semua perkara ini jelas, kami diperintahkan menahan anda di dalam penjara khusus divisi 1"
xxxKuroyuki Akihanaxxx
Yah... Kok jadi begini ceritanya? -_-
RnR Please...~
