Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.
Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara
Main Pair : NaruPara, NaruSara, KuraPara
Slight Pair : ShikaTema, KakaPaku, & NagaKonan
Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance, Mystery
Author's Note :
Jumpa lagi di chapter 14, readers !
Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Terimakasih, matur nuwun, arigato gozaimazu, thank you very much, syukran, gracias (*bungkuk hormat*). Terimakasih juga untuk Aoki Mikuru yang telah meluangkan waktu untuk membaca fic ini dari siang sampai malam dan me-review panjang banget sampai author nyaris kena serangan jantung(?).
Naruto dan Paradox akhirnya bertemu ! Kegembiraan mereka bertambah begitu mengetahui Kurama masih hidup. Di sisi lain, Akatsuki mulai bergerak dibawah pimpinan koalisi Madara-Hanzo (*ini bukan pemilu*). Oke, langsung saja dibaca...mumpung hangat...
Enjoy read chap 14 !
PARADOX
Chapter Empatbelas :
The Pursuit of Peace
Sinar matahari senja merembes dari ketujuh berlian berbeda warna yang tertanam di tubuhnya. Keempat sayapnya membentang tegak. Sisa-sisa cahaya surya juga memantul dari sepasang tanduk emasnya. Ekornya menggantung kaku. Ia diam di tepi danau itu sejak sejam yang lalu, memandang lurus kesana tapi entah kenapa aku merasa itu hanya tatapan kosong.
Sang Paradox meraba dadanya dengan kaki depan kanannya. Membelai Darah Delima dengan tiga cakarnya yang berkilau sebersih cermin yang baru diasah, walau faktanya cakar itu sudah dipakai bertarung ribuan kali. Ia memejamkan mata, menutup bola bening jendela dunianya dengan kelopak mata indah dan alis lentik yang mengalahkan kecantikan manusia manapun yang pernah kulihat. Seakan begitu menghayati hanya dengan meraba dadanya saja.
"Hei," panggilku akhirnya. Naga yang satu ini memang...sedikit, aneh.
Dia menoleh. Aku berdehem. "Ayo ke perkemahan," ajakku. "Sudah hampir malam."
Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati ketika berjalan bersama naga betina ini. Kenapa setiap kali melihatnya...
Jantungku serasa berdebar lebih cepat ? Lidahku kelu mendadak begitu dia mengedipkan mata, walau tanpa maksud apapun. Aku kembali teringat saat dia hadir dalam mimpiku dalam wujud manusia. Begitu menawan, sulit kulupakan sekaligus sulit kuingat.
Begitu sampai di perkemahan, naga cermin itu membaringkan tubuhnya di rerumputan yang mendadak menjadi setebal dua karpet mewah yang ditumpuk, halus seperti beludru. Hermes membaringkan diri di sebelah kanananya. Beleriphon berbaring di sebelah kanan Hermes.
"Aku buat teh hitam," ujar Parthenon yang baru datang, membawa empat cangkir yang terbuat dari cangkang kerang abalon raksasa berisi minuman yang sedikit lebih kental dari air biasa, berwarna kehitaman dan berbau khas teh.
Memang, jangan bayangkan mereka duduk sambil menyeruput teh hangat dari cangkir seperti biasa. Mereka berbaring dengan posisi seperti kucing yang sedang berbaring, perut menyentuh tanah dan ekor bebas mengarah kemanapun. Sayap mereka terkulai lemas dengan sengaja, hingga menutupi kedua sisi tubuh mereka. Cangkang kerang abalon yang dibuat cangkir juga cukup besar, seukuran dengan sebuah ember besar atau bak mandi kecil !
Kami duduk mengelilingi beberapa api unggun yang dinyalakan berderet. Aku tepat berhadapan dengan Paradox. Kurama di sebelah kananku. Sasuke di sebelah kiriku, disusul Kakashi-sensei, Jiraya-sensei, Shikamaru, Ino, Chouji, Hinata, Kiba, Lee, kemudian Ryuuzetsu, Kankuro, Temari, dan Kapten Yamato. Prajurit sisanya lebih memilih untuk menghabiskan malam mereka di tenda atau keluyuran mencari apapun yang mereka inginkan.
"Pyrus sedang kemari," celetuk Paradox tiba-tiba. Aku mengernyit. Apa hubungannya dengan kisah yang akan diceritakannya ? "Subuh nanti, mungkin dia sudah sampai. Padahal sebenarnya dia bisa berangkat tadi pagi".
"Kenapa dia memilih terbang malam hari ?" Selidik Jiraya-sensei. "Kukira para naga lebih pasif saat malam".
"Dia suka bintang," jawab Parthenon. "Kalian pernah dengar rasi bintang Hydra ? Ammaro ? Itu rasi bintang berbentuk ular, atau yang biasa kau sebut, naga. Dan...Pyrus sendiri juga sebenarnya nama rasi bintang," jelasnya.
"Rikudo Sennin, alias Ootsutsuki Hagaromo-lah yang memberi nama kami semua, kedelapan naga dewa," sambung Beleriphon sambil menghirup tehnya.
Aku manggut-manggut mengerti. Paradox memang kadang memulai sesuatu dari jalan yang tidak terduga. Dan sepertinya para Etatheon sudah hafal kebiasaannya.
"Semua kisah tentang naga...dimulai tujuh juta tahun yang lalu..." Paradox mengawali cerita. "Kala itu, dua naga pertama, adalah Horus sang Naga Langit dan Haumea sang Naga Bumi. Mereka saling jatuh cinta, dan pada akhirnya menelurkan apa yang di masa datang akan menjadi..."
"...Kaum Naga Kolosal," desisnya. Kami mengernyit kompak.
"Kaum Naga Kolosal ?" Hinata membeo. Paradox mengangguk.
"Sebaiknya kuceritakan soal ini nanti saja," ujarnya. "Singkatnya, Horus dan Haumea adalah dua naga pertama yang kelak menetaskan naga-naga tertua, saling kawin silang ketika perasaan mengalahkan logika, dan terus menghasilkan spesies baru".
"Semuanya dimulai seribu tahun yang lalu," Paradox memulai cerita pokoknya. "Sebelum manusia mengenal chakra..."
"...dunia terkurung dalam era kegelapan. Zaman peperangan tak berujung yang melibatkan manusia dan naga...dengan ribuan diantara mereka tewas setiap tahun..." jelasnya lirih. "Kala itu...ada sebuah pohon berukuran raksasa. Orang-orang menyebutnya Shinjuu. Pohon Dewa. Pohon itu tidak boleh terlibat peperangan".
"Suatu hari...Shinjuu berbuah. Buah yang muncul sekali dalam seribu tahun. Tidak ada yang tahu asal muasalnya, tapi manusia dilarang menyentuh buah itu menurut tradisi lama, atau sesuatu yang buruk akan terjadi. Akan tetapi, seorang putri melanggar aturan tersebut. Dia memetik buah Shinjuu dan memakannya. Putri itu bernama...Ootsutsuki Kaguya. Orang pertama yang mendapat chakra dari buah. Dengan chakra yang luar biasa banyaknya itu, Sang Kaguya mendapatkan kekuatan dewa. Kekuatan yang begitu besar sehingga ia menggunakannya untuk menghentikan peperangan, selamanya".
"Hebat," tabrak Kurama. Aku memukul bahunya, menyuruhnya diam.
"Ootsutsuki Kaguya mempunyai empat orang anak," lanjut Paradox. "Dua manusia laki-laki, dan dua naga, satu betina, dan satu jantan".
Aku mengernyit heran. "Tidak ada sejarah yang menceritakan Kaguya punya suami," Sasuke lebih dulu menyela.
"Dan kenapa seorang manusia bisa melahirkan naga ? Naga itu ditetaskan, kan ?" Selidik Shikamaru. Paradox mengangguk lalu melanjutkan.
"Dalam perjalanan pengejar perdamaiannya, Ootsutsuki Kaguya bertemu seorang pria-setengah-naga," jelas Paradox kemudian. "Pria itu bernama Neredox. Yang sekaligus..."
"...ayahku".
"Kaguya menikah dengan Neredox. Bagian yang hilang dan terlupakan oleh sejarah, adalah Neredox," jelasnya lirih. "Anak pertama dari pasangan suami istri itu adalah kakakku, Ortodox. Kemudian aku, dan anak ketiga dan keempat adalah manusia, yaitu Ootsutsuki Hamura, dan Ootsutsuki Hagaromo, yang disebut juga Rikudo Sennin, Biksu Enam Jalur".
"Neredox, Ortodox, dan Paradox," celetukku. "Kalian kompak sekali".
Paradox menyeruput sedikit tehnya kemudian melanjutkan, "Suatu hari ketika Hagaromo dan ketiga saudaranya, termasuk aku, beranjak dewasa, Shinjuu bangkit dalam wujud monster serupa binatang-setengah naga. Dia memiliki sepuluh ekor, sehingga sering disebut Juubi. Nama sebenarnya adalah Datara, atau sering disebut Ame no Hitotsu no Kami, Dewa Bermata Satu. Pohon itu mewujud dalam bentuk monster paling mengerikan dan paling kuat yang pernah dilihat dunia. Ia menginginkan chakra-nya kembali. Untuk membayar 'kesalahan' ibu Kaguya, kami berempat, anak-anaknya, bertarung melawan Juubi. Aku, Ortodox, Hagaromo, dan Hamura melawan monster yang teramat kuat itu hingga memakan waktu tujuh hari tujuh malam".
"Itu pasti pertarungan yang sangat seru," celetuk Jiraya-sensei.
"Pada akhirnya, kami menang, dan Juubi berhasil disegel ke tubuh Hagaromo sendiri. Sayangnya, Hamura tewas dalam pertempuran hebat itu, menyisakan kami bertiga. Kemudian Hagaromo menikah dan mempunyai dua anak laki-laki. Si sulung bernama Ootsutsuki Indra, mewarisi kekuatan mata Rikudo. Dan si bungsu Ootsutsuki Ashura, mewarisi ninjutsu dan kekuatan tubuh Sang Rikudo..."
"Ootsutsuki Ashura !" Seruku. "Dia...yang menulis buku Sastra Paradox kan ?!" Seruku bersemangat.
"Kukira Oedipus sudah memberitahumu," balas Hinata.
"Errr...hanya memastikan saja".
Paradox melanjutkan, "Bahkan jauh waktu setelah itu, segel Juubi di tubuh Hagaromo makin melemah seiring usianya. Jika Hagaromo meninggal, maka Juubi sekali lagi akan meneror dunia. Itu tidak boleh terjadi, sehingga, pada masa-masa senjanya, Ootsutsuki Hagaromo, dengan kekuatan Myoton dan Omyoton, memecah chakra Juubi menjadi enam bagian besar dan tujuh bagian kecil, memberikannya pada Hermes, Parthenon, Beleriphon, Pyrus, Styx, dan Droconos. Masing-masing memiliki kekuatan yang berbeda" jelasnya panjang lebar.
"Engkau bilang sebelas," cetus Ryuuzetsu. "Itu baru enam. Kemana tujuh sisa bagian kecilnya ?"
Paradox menunjuk dadanya. Kemudian dia mengangkat sayapnya, memperlihatkan keenam berlian yang tertanam di sisi tubuhnya.
"Ketujuh berlian Paradox, Darah Delima, Langit Jingga, Empedu Emas, Daun Zamrud, Air Safir, Tulang Ametist, dan Kuku Turqois, adalah pecahan kecil dari chakra luar biasa Sang Juubi," tambah Beleriphon.
"Kemudian," tukas Paradox. "Hagaromo menyegel tubuh Juubi, yang sudah tidak memiliki chakra, di suatu tempat yang sangat jauh dari sini, tapi kita masih bisa melihatnya hampir setiap hari," katanya.
Aku makin penasaran. "Dimana ? Kau tahu dimana Hagaromo menyegel Juubi ?" Tanyaku antusias.
Paradox mendongak. Matanya menuding objek berdiameter tiga ribu kilometer lebih berjarak tiga ratus enam puluh ribu kilometer dari permukaan planet. Bersinar terang disana.
"M-mustahil..." desis Kakashi-sensei.
"Dia...menyegel Juubi...di bulan ?!" Seru Kankuro takjub.
"Tidak hanya itu," potong Parthenon. "Bulan sendiri, ada dari jutsu Sang Rikudo. Jutsu yang membuat batu-batu melayang dan menyatu dalam sebuah titik pusat gravitasi yang amat tinggi. Dia membuat bulan dengan jutsu khusus yang spesial dari mata Rinnegan-nya," jelasnya antusias.
"Kekuatan macam apa itu," komentar Shikamaru. "Itu diluar nalar manusia," imbuhnya.
"Memang," balas Hermes cuek.
"Jika kalian bersaudara, kenapa kau dan Ortodox bisa berselisih jalan ? Begitu juga dengan Styx dan Droconos itu ?" Selidik Sasuke.
Paradox tertunduk. Sepertinya ada kejadian yang tidak menyenangkan yang akan diceritakannya.
"Sebelum pembagian tujuh kekuatan kecil pecahan kekuatan Juubi, terjadi perselisihan antara aku dan Ortodox. Karena jumlahnya ganjil, jadi tidak bisa dibagi rata. Dan kekuatan itu tidak bisa dipecah menjadi setengah atau dimusnahkan. Hagaromo yang kebingungan akhirnya memilih bertapa beberapa hari di Gunung Myoboku. Ketika dia kembali, dengan kekuatan batinnya..."
"...dia melihat kegelapan di hati Ortodox, dan menolak. Memberikan ketujuh pecahannya padaku dalam bentuk berlian," jelas Paradox.
"Oedipus bilang kalau Rikudo Sennin membuat tujuh berlianmu dari kekuatan Myoton dan Omyoton yang 'menciptakan' dari ketiadaan ?" Tanyaku.
"Oedipus tidak kuberitahu kebenarannya," jawab Paradox cepat. "Yang benar adalah, ketujuh berlian ini adalah pecahan kekuatan Juubi".
"Iri dan dengki yang amat besar menguasainya, tapi ia berusaha menahan semuanya, dengan kata lain, menunggu waktu yang tepat".
"Sampai tiba saat dimana Sang Rikudo Sennin akan memilih pewarisnya...diantara Indra dan Ashura. Sang Rikudo menanyakan pada mereka berdua sebuah pertanyaan: Apa yang paling penting dan paling dibutuhkan untuk mewujudkan perdamaian dunia ? Si sulung menjawab, kekuatan. Menurutnya, hanya kekuatan yang bisa mengubah dunia dan membimbingnya menuju perdamaian. Si bungsu menjawab, cinta. Hanya cinta yang bisa mengubah dunia dan membimbingnya menuju perdamaian. Sang Rikudo setuju pada putra bungsunya dan memilihnya menjadi pewarisnya, tepat sebelum dia wafat".
"Sang kakak akhirnya memiliki perasaan yang sama dengan Ortodox. Iri, dengki, dan merasa dirinyalah yang lebih pantas mewarisi posisi Rikudo Sennin. Bersama dengan Ortodox, dia mencoba menyerang sang adik. Aku tidak tinggal diam, dan pertempuran dahsyat terjadi antara Indra dan Ortodox melawan Ashura dan aku. Pertempuran ini berlangsung begitu lama...sampai akhirnya Indra menurunkan klan Uchiha, dan Ashura menurunkan klan Senju. Dari dua klan utama itu, muncul klan-klan yang lebih kecil semacam Hyuuga, Uzumaki, Sarutobi, Aburame, Akamichi, Yamanaka, Nara, Hatake, Fuma, dan lain-lain. Ketika Ootsutsuki Ashura memasuki usia senjanya, dia menulis Sastra Paradox dan memberiku sebuah tanggungjawab: Akan ada waktu dimana seseorang menemuiku dan menjadi pengendaraku, atau yang akhirnya disebut Draco P. Dari generasi ke generasi, aku sudah bertemu puluhan Draco P hingga sekarang ini, tapi belum ada satupun yang menurutku...begitu cocok. Ashura mengatakan kalau aku akan bertemu seorang Dracovetth sejati yang akan menyatu bagai manusia dengan jantungnya," jelasnya panjang lebar.
"Lalu soal Artemis ? Soal ayah dan ibuku ? Penyerangan Konoha enam belas tahun yang lalu ?" Tanyaku bertubi-tubi.
Paradox tiba-tiba bangun dan berjalan ke luar.
"Hei, aku bertanya padamu !" Cegahku. Ia menoleh sejenak.
"Lanjutkan besok saja," jawabnya singkat lalu mengepakkan sayap, terbang ke tebing di ujung danau dan merebahkan diri disana. Aku mendengus kesal. Sungguh, naga ini adalah naga teraneh yang pernah kukenal ! Semua perilakunya benar-benar di luar perkiraanku, padahal setahuku beberapa Etatheon yang lain bahkan masih wajar-wajar saja.
"Oh, sial," desis Parthenon. "Aku baru ingat kalau sekarang adalah hari yang sama," bisiknya.
"Hari yang sama untuk apa ?" Selidikku.
"Hari dimana dia merantai Artemis, murid pertamanya," ceritanya singkat. "Dia pasti sedih teringat itu".
Kami terdiam sejenak sebelum Sasuke pertama bertanya, "Omong-omong. Kenapa dia merantai Artemis ?"
"Entah," tabrak Hermes sambil meminum tetes terakhir teh hitamnya.
"Sopan sedikit," balas Beleriphon. "Jangan seenaknya menyerobot pembicaraan orang lain hanya karena kau naga tercepat di dunia," nasihatnya.
"Paradox baru menceritakannya padaku," ujar Parthenon. "Sesama naga betina, kau tahu," lanjutnya sambil tertawa kecil.
Sejurus kemudian, dia terdiam. Sepertinya menyadari bahwa semua mata yang ada disini menatap penuh rasa ingin tahu padanya. Parthenon berdehem, kemudian mulai bercerita.
"Spesies Apocalypse Dragon, Naga Wahyu, adalah spesies tersendiri yang tinggal di sebuah pulau di wilayah tropis," dia memulai cerita. "Mereka menghormati Paradox, meskipun dia tidak pernah bertemu kawanan spesies itu sekalipun. Semua Apocalypse Dragon memang berada di satu tempat".
"Suatu hari, seekor naga dari spesies Novvarupta bernama Deinosyus, datang dan menyelamatkan pulau itu dari seekor Naga Kolosal. Dia dijuluki pahlawan, dan Artemis, yang waktu itu telah beranjak dewasa, mulai tertarik padanya. Mereka terikat dalam cinta dan Deinosyus juga mengatakan hal yang sama. Bahkan pada pertarungan kedua Deinosyus, Artemis membantunya mengalahkan lawannya. Pada perjalanannya yang kedua ke Pulau Kolosal, Deinosyus meminta izin pada kelompoknya untuk membawa serta Artemis bersamanya. Ia mengatakan bahwa ia mencintai Artemis sepenuh hati. Artemis girang bukan main, bersedia dan bersumpah melayani naga yang dicintainya, dan mereka berangkat".
"Kedengarannya sebuah cerita yang bahagia," timpal Kakashi-sensei. "Pasti ada sesuatu yang terjadi".
Parthenon mengangguk. "Coba tebak".
"Mereka menikah," tabrakku malas. "Dan hidup bahagia selamanya, tapi Deinosyus kemudian mati dan Artemis dirantai, tamat".
"Bukan," balas Parthenon ketus. "Ketika sampai di Pulau Naxos, empat perlima perjalanan ke Pulau Kolosal, mereka turun sebentar disana dan apa yang dilakukan Deinosyus ? Coba kupikir...apa yang biasa disebut orang-orang zaman sekarang ? Deinosyus mencampakkannya. Menelantarkannya di pulau itu, sendirian. Dia memakinya dan berkata bahwa ia bisa melakukan semuanya sendiri, dan tidak butuh bantuan dari siapapun".
Kami terdiam dalam hening. Tragis sekali.
Parthenon menghela napas. "Tentu saja Artemis benar-benar sakit hati. Naga yang disayanginya sepenuh hati, malah mengkhianatinya. Deinosyus melukai tubuh dan perasaannya, meninggalkannya sendirian di Pulau Naxos..."
"...sampai Paradox melewati pulau itu beberapa bulan kemudian dan menemukan Artemis berkubang dalam penderitaan..."
"...Paradox mendarat, berusaha menghiburnya sekuat tenaga. Ketika berbagai cara tidak berhasil, ia akhirnya menawarkan Artemis untuk menjadi muridnya. Berkelana bersamanya, belajar dan melihat berbagai hal bersama-sama...dan tentu saja, Artemis menerimanya. Mereka jadi guru-murid yang sangat luar biasa".
"Suatu hari...Artemis bertemu dengan Deinosyus. Deinosyus nyaris tidak mengenalinya karena Artemis telah berubah menjadi lebih kuat dan lebih bijaksana. Tapi kurasa kalian tahu apa yang terjadi jika dua makhluk yang bertahan dari kisah semacam itu bertemu..."
"...mereka bertarung. Artemis menuntut ketidakadilannya pada Deinosyus. Pada akhirnya, Paradox melerai mereka, tepat sebelum Artemis membunuh Deinosyus. Paradox menghardik Deinosyus atas ketidaksetiaan dan ketidaktahudiriannya dan menyuruhnya enyah dari hadapannya, kalau perlu, dari planet ini sekalian, mengusir Deinosyus dengan kasar. Ketika ia berpaling pada muridnya, Paradox terkejut ketika menemukan sedikit sisi kelam di hatinya. Akhirnya...dia menawarkan muridnya untuk dirantai di tempat yang jauh dari khatulistiwa...untuk mencegah dan menghindari efek buruk dari sisi gelap hatinya, untuk kebaikan seluruh dunia".
"Artemis bersedia, dan akhirnya dia dirantai di kuil, di tengah danau yang membeku pada musim dingin. Dan semuanya berakhir. Paradox berjanji akan mengunjunginya sekali setiap sepuluh tahun, menanyakan kabarnya dan bertemu untuk waktu singkat, tetap memberikan ilmu yang didapatnya dari luar untuk naga yang masih dianggapnya murid terbaiknya itu. Tapi...itu tetap tidak sama dengan bertemu tiap hari di dunia yang bebas," Parthenon akhirnya mengakhiri ceritanya.
"Apa Paradox tidak punya kekuatan untuk menghapus sisi gelap seseorang ?" Selidikku.
Hermes menghela napas. "Kalau dia bisa, tentu Madara sudah jadi orang baik. Ortodox, Styx, dan Droconos juga. Dan Indra tidak perlu bertarung dengan Ashura," cerocosnya. Ups. Aku memang tidak berpikir sejauh itu.
"Wow, lihat sudah jam berapa sekarang," seru Jiraya-sensei tiba-tiba sambil menunjuk arlojinya. Ia menguap. "Aku harus tidur".
"Akupun begitu," susul Hermes. Ia bangun, merenggangkan sayap dan kaki-kaki serta ekornya, dan kemudian...jatuh di rerumputan dan langsung menutup mata dan mendengkur halus.
Beleriphon geleng-geleng kepala sambil mengepak sayap malas. "Dia selalu saja begitu. Ohm, omong-omong rerumputan tebal ini memang seperti permadani saja," ujarnya lalu berbaring sambil bersandar di sebuah batu besar, menyusul Hermes ke alam mimpi. Kalau saja naga bisa bermimpi. Mungkin bisa, bagi mereka berdelapan.
Hanya dalam beberapa menit saja, semua sudah sepi. Yang ada tinggal satu api unggun yang belum dipadamkan karena aku masih duduk di dekat situ. Aku belum mengantuk samasekali, lagipula aku kurang puas. Cerita Paradox belum diselesaikan. Hmm...atau sebaiknya aku menemaninya di tebing di tepi danau itu, ya ?
Aku menyikut Kurama, membangunkannya lagi.
"Kalau ini untuk pertarungan mendadak, katakan aku sedang bermimpi," balas Kurama tak acuh.
"Hei, sekarang dia sedang sendirian. Malam hari dengan bulan purnama, pula. Bukannya ini kesempatan bagus untuk berbincang dengannya ? Berduaan di tepi danau, kau tahu," godaku.
Kurama membuka satu matanya. Kupikir dia akan langsung bangun bagai tersetrum listrik.
"Tidak," katanya pelan. "Dia sedang sedih. Aku tidak tahu bagaimana caranya menghibur seekor naga betina yang sedang sedih, apalagi dia Paradox. Lupakan itu dari kamusku, aku justru takut membuatnya merasa lebih tidak nyaman lagi," cerocosnya cepat.
"Maksudku...jika aku datang dan menghiburnya, itu malah akan mengingatkan Paradox soal Artemis dan Deinosyus, kan ? Dia bagai Artemisnya dan aku bagai Deinosyusnya," ia memberi alasan. "Aku tidak mau...terlihat buruk atau rendahan di hadapannya," ujarnya. "Aku memang menyukainya...tapi justru karena itulah aku tidak mau menyinggung perasaannya sedikitpun".
Hmm...setelah kupikir-pikir, Kurama benar juga. Ini seperti mengingatkan bahwa...
Tunggu sebentar.
Ada yang ganjil, atau setidaknya ada yang kutakutkan ganjil disini.
Kurasa aku harus mencaritahunya sendiri, langsung pada Paradox.
Piramida Perpustakaan Besar Alexandriana
"Butuh berapa tahun untuk menamatkan semua buku disini, ya ?" Selidik Kabuto tiba-tiba. Orochimaru masih sibuk dengan beberapa buku setebal bantal yang ditekuninya.
"Mungkin selama sisa hidupmu," timpal Oedipus kalem. "Sudah ratusan tahun aku hidup, dan banyak pengetahuan yang langsung diberikan Paradox padaku. Sisanya...kubaca sendiri dari buku-buku ini," jelasnya singkat. "Itu memakan waktu yang sangat lama, akan tetapi lebih baik daripada melakukan hal-hal tidak berguna untuk mengisi waktu. Paradox belajar langsung dari alam luar sana, berpetualang ke tempat-tempat jauh dan menemukan sesuatu yang baru tiap harinya, sedangkan aku cukup berada disini, mempelajari dan mengetahui hal-hal luar biasa dari tempat yang sangat aman," jelasnya panjang lebar.
"Hei, Oedipus-sama," panggil Orochimaru tiba-tiba.
"Hmm ?"
"Teori tentang praktek penyegelan dan pembebasan disini kurang lengkap," ujarnya, "bisakah kau menunjukkan padaku mana buku yang lebih lengkap ? Lebih tebal juga barangkali".
Naga gading itu terdiam sejenak. "Ikut aku," perintahnya cepat. "Tapi ini agak rahasia. Hanya kalian berdua yang mengetahuinya selain aku, Paradox, Ladon, dan para Harpy ini," imbaunya. Orochimaru dan Kabuto mengangguk antusias.
Mereka mengikuti naga gading itu ke sebuah ruangan...yang ternyata berada di dasar piramida. Ratusan meter dari permukaan tanah. Tidak peduli dengan ketinggian –atau kedalaman- jumlah Harpy masih sama banyaknya dengan ruangan-ruangan atas dan tengah piramida. Dan tidak ada yang begitu berbeda selain tempatnya sedikit lebih dingin, lembab, dan luas. Oedipus berjalan ke sebuah ruangan berpintu raksasa yang terbuat dari kayu cokelat tebal yang difernis. Walaupun tampak terawat, sudah jelas kalau ruangan ini tidak pernah ditilik lagi selama puluhan tahun.
"Engselnya kurang minyak," gerutu Oedipus. "Harpy !"
Beberapa makhluk bersayap dan (sssttt !) buruk rupa itu segera mendekat.
"Ya, Tuan Oedipus !"
"Kapan terakhir kali kalian meminyaki ini ?!" Serunya sambil menuding-nuding gagang pintu ruangan.
Para Harpy saling menyalahkan. Kemudian salah satu dari mereka menjawab, "Kira-kira delapan tahun yang lalu".
Oedipus mendecih. Ia membuka paksa pintu itu tapi berhasil, menguakkan ratusan buku yang tersusun di rak-rak homogen yang sama tingginya.
"Barisan soal segel ada di paling kanan," katanya lalu pergi. "Kurasa aku harus mencari minyak pinus di ruang persediaan sebelum aku terpaksa menghancurkan pintu ini karena sulit dibuka," ujarnya.
"Tinggalkan kami, kami akan baik-baik saja," dukung Orochimaru sambil langsung menyergap satu buku di rak paling dekat.
.
.
"Sialan".
Satu kata itu membuat Kabuto segera menoleh ke 'atasannya' itu.
"Ada apa, Orochimaru-sama ?"
Yang dipanggil tak menjawab. Ia justru menyeringai lebar, mata kuning gelap dengan pupil hitam vertikal khas ular itu berbinar seperti menemukan seekor tikus gemuk (ular makan tikus, kan ?) dan ia menjilat bibir. Benar-benar mirip ular sungguhan.
"Kabuto..." desisnya. "Ini yang kita cari selama bertahun-tahun ! Hahahahaha ! Sudah kuduga aku akan menemukannya disini !"
Kabuto beringsut mendekat. Ia terperanjat begitu mengetahui apa yang tertera di buku lusuh yang sedang ditelaah Orochimaru.
"Dengan ini..."
"...semua yang kuinginkan, akan terwujud".
.
.
.
Kedua manusia penggila eksperimen itu begitu asyik berkutat dengan buku temuan mereka hingga tak menyadari sekelebat bayangan seseorang berjubah hitam mengawasi mereka dari jauh. Diam tak bergerak, menyatu dalam kegelapan bayangan antara rak-rak buku raksasa. Kemudian beberapa menit setelahnya, ia pergi tanpa meninggalkan jejak.
Kusagakure
Rembulan bersinar terang disana, tanpa dihalangi awan satupun. Angin semilir mengibarkan ilalang yang menjadi ciri khas Kusagakure sekaligus dasar penamaannya. Air danau beriak tenang ditiup angin malam. Sisik naga itu memantulkan cahaya bulan ke segala arah, membuat suasana di sekitarnya terlihat lebih terang. Tidak heran dia dijuluki naga cermin. Tanduk emasnya berpedar lemah mengikuti cahaya bulan. Jenggot dan kumisnya berkibar pelan senada dengan kibaran ilalang dan gemerisik dedaunan pepohonan di sekitarnya.
Aku meneguk ludah. Bisakah seorang Dracovetth –maksudku Draco P, menghibur naganya ? Hmm, ada baiknya kucoba saja.
.
Dia melirikku tanpa minat begitu aku duduk di sebelahnya, lalu kembali menatap danau gelap dengan tatapan kosong. Sulit kuartikan.
Aku berdehem. "Aku tahu kau sedih soal itu," aku memulai pembicaraan. "Tapi semua itu masa lalu. Kau tidak bisa mengulang waktu lagi, walaupun sepenting dan seingin apapun". Oke, itu terdengar sok bijak. Terserahlah.
Paradox hanya diam. Ugh, aku bahkan juga tidak tahu apa yang akan kukatakan. Kurasa level kebijaksanaan naga ini bahkan lebih tinggi dari siapapun yang kukenal, jadi apa gunanya menasihatinya ? Itu bagai mengajari bebek berenang. Mungkin bagai mengajari ikan berenang malah !
Aku memalingkan padangan ke arah lain, pura-pura tidak peduli.
.
.
Tidak lama. Karena aku mendengar suara isakan dari sampingku.
.
Oh, jangan.
Jangan perempuan itu lagi.
.
Sekarang, yang kulihat adalah perempuan yang rambut peraknya bersinar gemerlap di malam hari karena memantulkan cahaya bulan. Kimono hijau yang tampaknya lebih lembut dari sutera itu bergetar sedikit mengikuti isak tangisnya. Suara itu...tidak diragukan lagi.
.
Dia menangis ?
Seorang (atau seekor ?) Paradox ? Menangis ?
Aku beringsut mendekatinya. Beringsut ke depan, berhadapan dengan wajahnya yang tidak tampak sedamai saat aku melihatnya di mimpiku. Yah, sebenarnya di mimpiku dia mengambil wujud seorang wanita berusia kira-kira 25 tahunan, tapi sekarang...dia mengambil wujud seorang gadis, yang kira-kira sebaya denganku. Apapun wujudnya, dia adalah seekor naga berusia lebih dari seribu tahun.
Dari mata hitamnya –yang tampak makin jernih- butiran-butiran sejernih kristal mengalir seperti sungai, membasahi pipinya dan turun hingga dagunya, menetes dan terjun bebas ke rerumputan dari situ.
Apakah Artemis sepenting itu ?
.
"Paradox..." panggilku lirih.
Ia bergeming.
"Maaf," ucapku, meski aku tidak merasa aku bersalah. Siapa tahu ada kata-kataku yang menyinggungnya tadi. Aku mendekat, menyapu poni yang menutupi mata dan sebagian wajahnya dengan jariku. Begitu menyentuh rambutnya, kain sutera akan terasa sekasar tambang begitu kau mengenalinya lagi. Aku menatap matanya. Sungguh aneh, seekor naga bisa mewujud begitu sempurna menjadi seorang manusia.
"Kau bisa bercerita soal Artemis padaku," kataku akhirnya. "Orang-orang bilang, berbagi kesenangan membuat kesenangan itu bertambah dua kali lipat, dan berbagi kesedihan membuat kesedihan itu tinggal setengahnya," bisikku.
Perempuan ini mengelap air matanya dengan punggung tangan kanannya yang halus, dan perlahan isak tangisnya mereda.
"Aku Dracovetth-mu," desisku. "Tidak akan kubiarkan sesuatu yang buruk menimpa kalian, walau aku tahu kau ini abadi".
Paradox memandangku dengan sepasang mata bulat hitamnya, tapi kali ini pandangan itu bisa kuartikan.
Aku tersenyum simpul. "Kurama juga," terangku. "Dia akan selalu jadi nagaku, juga. Dua naga kedengaran abnormal, memang. Tapi...aku dan Kurama akan selalu berusaha membuatmu nyaman," imbuhku. "Tidak akan kami biarkan siapapun menyakiti perasaanmu".
"Dulu," Paradox akhirnya membuka mulut –dengan suara yang sama saat ia berwujud naga, sekaligus saat ia muncul dalam mimpiku. "Aku berjanji pada Artemis...sesuatu yang membuatku merasa sangat bodoh," desisnya.
"Memangnya apa ?" Tanyaku berusaha tetap antusias. Lagipula, aku belum mengantuk.
"Aku...menjanjikannya posisi Etatheon," bisiknya. Aku terdiam. Dia begitu sayangnya pada muridnya itu, sampai-sampai ingin memasukkannya menjadi salah satu naga dewa ? Jujur, aku sebenarnya memang belum melihat sekuat atau secerdas apa Artemis sebenarnya.
"Aku terlampau banyak berjanji...terus menjanjikan kebahagiaan. Aku mengerti betapa sakit hatinya dia, dan satu-satunya yang ingin kulakukan hanyalah menutupi lukanya. Tapi sepertinya...itu tidak bisa berhasil. Dia tetap punya sisi gelap dalam hatinya...membuatku terpaksa merantainya sebatang kara di pengasingan di ujung dunia..." isaknya.
"Ortodox dan aku tidak pernah akur, walau kami kakak-beradik. Sempat terbesit dalam diriku keinginan untuk membunuh kakakku. Dia pengacau. Dia penghancur. Dia benar-benar ortodoks, dia tidak punya belas kasihan. Begitu namanya disebut, semua orang lari. Hanya sebuah nama, mampu membuat sebuah desa ditinggalkan dalam waktu beberapa menit saja. Aku muak dengannya. Pada pertemuan terakhir kami, aku berkata begitu sarkastik padanya. 'Aku malu menyebutmu saudara', itu yang kukatakan".
"Dan dia membalas ?" Tanyaku.
Paradox menggeleng. "Belakangan aku tahu, walau dia seekor naga yang jahat, dia tetap saudaraku bagaimanapun jua. Aku...menyesali kata-kataku padanya enam belas tahun lalu itu".
Memoriku tersengat begitu dia mengatakan enam belas tahun lalu.
"Apa...itu saat...Ortodox menyerang Konohagakure ?" Tanyaku takut-takut. "Saat...dia membunuh kedua orangtuaku ?"
Paradox melirikku dengan ekor mata, kemudian mengangguk pelan. "Saat-saat yang menakutkan," ujarnya. "Aku...datang terlambat".
Aku meneguk ludah. Agak marah juga. Bagaimanapun, ayahku adalah Draco P sebelumnya. Seharusnya Paradox mementingkannya daripada apapun. Apa yang lebih penting dari pengendaranya ?
Sepertinya aku sudah tahu jawabannya !
"Kau...terlambat karena mengunjungi Artemis ?" Tebakku.
Dia mengangguk, sekali lagi. Menundukkan wajahnya dalam-dalam. Rambut peraknya kembali jatuh menutupi wajahnya.
"Kurasa...aku...tidak sebijaksana yang kukira," bisiknya. "Kurasa kau benar, Naruto. Mungkin...mungkin aku memang terlampau lemah dan egois...terlalu mementingkan perasaanku sendiri dan tidak dapat menentukan yang mana yang harus didahulukan..." lanjutnya. "Pilihanku selalu saja salah. Jika ada orang yang menganggapku tidak selalu benar...maka orang itu benar".
Aku menghela napas.
Kami terdiam beberapa menit, sibuk dalam pemikiran masing-masing. Semuanya sungguh terasa asing dan aneh.
"Paradox yang kukenal tidak seperti ini," bisikku. "Dia akan terus berjuang bahkan walau dunia akan berakhir," lanjutku. "Kau adalah nagaku, temanku, sahabatku, pelipur laraku, semuanya. Dua pertiga jiwaku sudah kuserahkan pada kalian. Sepertiga untuk Kurama, sepertiga untukmu".
Aku memegang bahunya yang bergetar. Kucengkeram dia dengan satu tangan. Perempuan-yang-sebenarnya-naga ini mendongak. Raven bertubrukan dengan safir. Aku merasa aneh kenapa Paradox memilih penyamaran manusianya memiliki mata hitam, bukan salah satu dari ketujuh warna berliannya.
Aku akhirnya bisa melihat senyuman di bibirnya yang makin segar. Air matanya sudah sirna. Ia bangkit berdiri, rambut perak panjangnya berkibar diterpa angin. Rambut perak sepanjang mata kaki itu menyelimuti seluruh tubuhnya, yang kemudian berubah menjadi seekor naga dalam sekejap, membuatku terkesima. Semudah itukah ?
Aku berdehem. "Kau sedikit lebih besar dari perkiraanku, soalnya Jiraya-sensei bilang ukuranmu tidak lebih dari 15 meter," kataku sekenanya.
"Kau tidak tahu," balasnya datar. "Dan semua orang juga tidak tahu pasti. Kurasa senseimu itu pernah bilang juga kalau aku tidak bisa diingat dengan baik kecuali aku menemukan Dracovetth sejatiku," sambungnya.
"Kulihat kau belum mengantuk," selidiknya. Aku mengangguk. "Ayo kita berlatih," ajaknya.
Aku terkejut. "Sekarang sudah pukul setengah sepuluh malam !" Seruku.
"Dan waktu kita ketika matahari terbit esok hanya tiga hari sebelum gerhana," balas Paradox. "Perlu kau ketahui, Naruto. Sesuatu yang belum kau temukan di Perpustakaan Besar Alexandriana, mungkin karena Oedipus lupa".
"Kesejajaran dari lima benda langit, akan membangkitkan Kaum Naga Kolosal..." desisnya misterius. Aku termagu. Naga Kolosal ? Semacam yang dilawan Deinosyus dan Artemis ? Anak-anak pertama dari Horus dan Haumea ?
Paradox mengangguk, sepertinya dia baru saja membaca pikiranku. "Kaum Naga Kolosal. Seperti namanya, mereka semua bahkan jauh lebih besar daripada Gigantostoma yang paling besar. Mereka muncul di semua area, laut, danau, pegunungan, gurun, padang rumput, hingga langit. Tubuh mereka berukuran amat besar dan jumlah mereka sekali bangkit juga tidak sedikit. Uchiha Madara bukan orang yang berpikir pendek".
"Apa maksudmu ?" Selidkku penasaran.
"Sekali setiap 275 tahun, matahari berada satu garis lurus dengan bulan, Bumi, Jupiter, dan Saturnus. Lima benda langit, dua yang paling kita kenal dan dua planet terbesar dalam Tata Surya. Itu terakhir kali terjadi...saat sebelum Artemis bertemu dengan Deinosyus. Saat itu para Kaum Kolosal juga bangkit, akan tetapi aku hampir bisa menjamin kebangkitan mereka kali ini akan lebih dahsyat. Mereka adalah...sisa-sisa dari keturunan pertama Horus dan Haumea. Dan gerhana tiga hari setelah ini, bersamaan dengan Rencana Mata Bulan Madara, kurasa juga merupakan sebuah alat untuk memancing kebangkitan mereka lagi..." jelasnya panjang lebar.
Aku terdiam sejenak, berusaha mencerna semua penjelasannya. "Hmm...kenapa Sai, Neji, dan Nona Yuki tidak memberitahu kami soal itu ? Di Observatorium Palomar, saat aku juga bertemu Hermes dan Beleriphon ?"
"Kurasa mereka tidak mengetahui siklus itu," desisnya. "Jujur saja, yang menyadarinya baru aku, Pyrus, dan Ortodox. Kami menyadari siklus seperti ini sekitar seratus tahun yang lalu, saat curiga pada perhitungan perbintangan kuno," jelasnya.
"Jadi," katanya setelah kami terdiam sesaat, "kau mau berlatih sekarang atau besok ?"
Aku berpikir sejenak, kemudian menyeringai.
"Sekarang".
Paradox memutar bola mata. Tapi kemudian ia tersenyum. Yah...tidak kalah dengan senyumnya saat berwujud manusia. Dia menundukkan ekornya hingga menyentuh tanah dan mengedipkan mata. Aku bengong.
"Sudah lebih dari 24 jam sejak kita bertemu langsung, tapi belum sekalipun kau mengendaraiku," katanya ramah.
Aku mendengus pura-pura kesal. "Kemarin saat latihan pertama kita kau tidak mengizinkanku naik," aku mencoba memberi alasan.
"Oya ? Bukannya kau sendiri yang langsung melompat ke punggung Kurama ?" Balas Paradox.
Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian melompat. Sedikit lebih tinggi dari punggung Kurama –mungkin karena dia terbiasa berbaring sebelum aku menyentak-nyentaknya untuk bangun dan mengepakkan sayap. Paradox tidak dipasangi pelana, tapi aku segera duduk beberapa senti dari pangkal lehernya. Jarak antardurinya lumayan jauh, dan ya ampun, sisik(atau kulit)nya sangat halus. Seperti benar-benar terbuat dari cermin. Disamping membuatku nyaman dan takjub, aku takut terpeleset karena licin !
"Jangan khawatir," desisnya. "Kau takkan terpeleset jatuh kecuali aku menginginkannya," candanya. "Pegang saja leherku. Tidak perlu erat-erat, percayalah padaku. Kau takkan jatuh".
Aku mengangguk. Paradox membentangkan dan mengangkat dua pasang sayapnya. Menahannya sebentar, mungkin untuk efek mendebarkan. Dan kemudian...dia mengepakkan kedua sayap punggungnya yang membuat kami terangkat dari tanah dan disusul sayap pangkal ekornya, membuat kami melaju ke depan. Dan dia mengepakkan keduanya dengan berurutan lagi, dan kami langsung melesat ke udara.
Kalau kau pernah mengendarai kuda besar yang jinak dengan pelana, sanggurdi, dan tali kekang dan kau pikir itu menyenangkan, kuberitahu kalau menunggang naga bisa jauh lebih asyik. Pasalnya, mereka bisa jauh lebih cepat dari binatang apapun yang ada di darat dan di laut, dan mereka bisa terbang. Melihat pemandangan dunia dari udara seperti memiliki mata burung, dan harus kukatakan itu sangat menyenangkan. Tentu ini bukan pertama kalinya aku mengendarai naga, tapi Paradox memberikanku kesan yang berbeda.
"Bersiap, Naruto !" Seru Paradox tiba-tiba.
"Bersiap ?!" Seruku agak panik. "Untuk apa ? Ada apa ?"
Dia tidak punya waktu menjawab –karena kami langsung berputar-putar seperti lintasan rollercoaster udara berketinggian ratusan meter ! Aku bergidik ngeri tapi tidak punya kesempatan untuk berteriak. Selesai berputar, Paradox terbang tinggi secara vertikal menembus awan, sampai kurasakan napasku sesak. Aku hampir menyuruhnya turun sebelum aku pingsan karena udara tipis, tapi kemudian dia menukik cepat lurus ke tanah, dengan desiran angin yang hebat meniup jaket dan rambutku.
Dan entah bagaimana dia melakukannya, Paradox menukik lagi ke udara hanya setengah meter sebelum kami menghantam tanah, memutari beberapa pohon dengan cepat, dan terbang diatas danau, sesekali menyentuhkan kaki-kakinya ke air, dan akhirnya...kami mendarat di sisi lain danau.
"Itu mengerikan !" Seruku. "Apalagi ini malam hari ! Kau tidak takut menabrak sesuatu ?" Omelku.
Paradox hanya menjawab dengan tertawa pendek. "Bagaimana mungkin aku menjadi Etatheon kalau terbang begitu saja masih menabrak ? Dengar ya, kalau saja ukuranku hanya sebesar katak, aku bisa menghindari tiap tetes air hujan yang turun kalau aku menginginkannya," pamernya. "Baiklah, kita serius sekarang. Naruto, begitu kau mengendaraiku, kelima elemen chakra alam-mu telah aktif," jelasnya singkat.
"Ha ?" Hanya itu yang keluar dari mulutku. "Aku ?" Tudingku pada diriku sendiri. Dia mengangguk pelan.
"Ya, kau punya lima elemen. Tidak sadarkah kau ?" Godanya.
Aku bingung sendiri. Setahuku, ayahku –yang juga Draco P, hanya punya satu elemen, yaitu elemen angin, sama sepertiku. Bahkan Senju Hashirama, Shodaime Hokage, hanya punya Suiton, Doton, dan Mokuton !
"Kenapa ?" Selidikku heran. "Bukankah pengendara-pengendaramu sebelumnya hanya punya elemen asli mereka ?" Sambungku.
Paradox hanya mengedikkan bahu. "Entahlah. Itu...itu yang kulihat. Kau punya lima elemen chakra".
Aku menggaruk kepala. Ini aneh. Kakashi-sensei bilang aku punya satu elemen chakra, yaitu angin. Kemudian datang Beleriphon yang mengatakan aku punya tiga, ditambah api dan tanah. Itu sudah dibuktikan –aku menguasai Katon dan Doton. Dan sekarang Paradox mengatakan aku punya dua sisanya, Raiton dan Suiton ?
"Kalau kau bingung, coba saja kedua sisanya," sarannya. "Kelima elemen utama langsung aktif dan siap digunakan begitu kau turun dari punggungku tadi barusan".
Aku sering melihat Sasuke atau Kakashi-sensei melakukan handseal untuk elemen petir, jadi kucoba saja.
"Chidori !" Seruku sambil memusatkan chakra ke tangan kiriku. Yah, kuakui aku merasa aneh karena sudah biasa menggunakan Rasengan dengan tangan kanan, tapi aku sering melihat Sasuke menggunakan ini dengan tangan kirinya.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang terjadi. Tapi kemudian...percikan kilat muncul dari tanganku, menyebar dan makin banyak, membentuk kilatan-kilatan petir kecil yang menyambar-nyambar. Ini elemen petir ! Aku tidak percaya !
"Cobalah handseal kelinci-domba-burung-ular-naga," perintah Paradox begitu aku menatapnya.
Aku menghilangkan Chidori, berusaha berkonsentrasi melakukan yang dia katakan. Tadinya kukira akan ada air mendadak muncul dari kakiku –kalau memang dia memberitahuku soal elemen air. Ternyata yang ada...lebih mengagetkan lagi.
Kudengar suara gemuruh dari belakang dan aku menoleh. Betapa terkejutnya diriku begitu menyadari sebentuk naga mirip ular raksasa –yang terbuat dari air, terbentuk tak jauh di belakangku dan langsung menyerang ke depan. Yahhh...untungnya bukan tepat ke arahku.
Aku tertawa, walau seluruh arena basah –termasuk aku. Paradox melanjutkan, "Banyak orang punya potensi yang tidak mereka sendiri ketahui".
Kepalaku mengangguk yakin. "Haha, bukan tidak mungkin aku akan jadi pengendaramu yang paling hebat," kataku sedikit sombong.
"Errr...tidak".
Mountain of Grave
"Kau tidak tahu prinsipku ?" Selidik Ortodox tak acuh.
"Mungkin tidak," balas Madara. "Memangnya apa ?"
Naga iblis itu mendengus pendek.
"Aku tidak pernah bekerjasama," katanya pongah. "Bekerja sendirian itu jauh lebih efektif".
"Hmm," gumam Madara pendek. "Untuk beberapa hal terkait itu, aku setuju. Tapi suka atau tidak suka, kita terkadang harus bekerjasama...bahkan dengan seseorang yang tidak kita sukai".
"Aku tetap tidak sudi," balas Ortodox. "Tidak akan pernah. Terakhir kali aku bekerjasama, mereka semua seperti kawanan makhluk tak berguna. Terus mengedepankan ideologi mereka sendiri, egois, tidak mau bertanggungjawab atas apa yang dikerjakan, dan sulit mengendalikan karakter mereka yang semuanya merepotkan," cerocosnya panjang lebar. "Padahal, sekali kuhantam mereka, mereka tidak bisa apa-apa kecuali memohon belas kasihan. Cuih ! Makhluk rendahan macam apa itu !"
"Omong-omong," tabrak Madara, "sudah kau dapatkan apel emasnya ?"
"Sudah," jawab Ortodox pendek. "Dan tidak akan kuserahkan padamu sampai tiba saatnya, untuk mencegah pengkhianatan yang mungkin terjadi".
Madara tertawa kecil. "Kau memang penuh perhitungan," ujarnya setengah memuji.
"Hmph. Satu hal yang kupelajari dari hidupku. Jangan pernah percayai siapapun kecuali dirimu sendiri. Dunia ini penuh dengan orang-orang berwajah inosen yang memuakkan tapi menyimpan kebohongan busuk di dalam," desisnya seram.
"Madara-sama," panggil Zetsu tiba-tiba. "Akatsuki dan Hanzo sudah datang".
.
.
Empat orang berjubah hitam dengan awan merah lengkap dengan topi caping berlonceng memasuki ruangan. Mata mereka –yang semuanya berbeda warna, menatap raven Madara lekat-lekat seolah ingin membunuhnya. Sosok berambut hitam panjang sepinggang itu hanya tersenyum simpul. Ia mengamati satu-satu para Akatsuki, dan terhenti saat menatap Nagato.
Ah, kau merawat mataku dengan baik, Uzumaki, pikir Madara. Hanya masalah waktu sampai kau akan menyerahkannya padaku.
"Baiklah," katanya. "Kurasa semuanya sudah lengkap. Perhatikan baik-baik, aku akan menjelaskan rencana kita".
Zetsu berdiri di belakang Madara. Ortodox duduk malas di samping kirinya –yang membuatnya tampak jauh lebih tinggi dari Madara. Empat Akatsuki, beserta Hanzo dan beberapa prajurit elitnya, duduk menghadap mereka.
"Kita akan melancarkan sesuatu yang kunamai 'Rencana Mata Bulan'," Madara memulai penjelasan. "Sesuai namanya, proyek ini memerlukan bulan sebagai alat untuk mewujudkannya, dan tentunya kekuatan yang besar. Akan tetapi, kita tidak akan melaksanakan ini pada malam hari, karena bulan purnama sudah mulai lewat dan untuk menunggu siklus sampai purnama depan bisa memerlukan waktu paling sedikit 28 hari, dan kita tentu tidak mau menunggu selama itu. Aku berencana melakukan proyek ini pada hari Jumat, tepat ketika gerhana matahari total berlangsung sekitar pukul dua siang. Dan kurasa, Hanzo no Sashuoo, kuharap perhitunganmu sudah tepat," Madara menatap pria berambut panjang dengan masker aneh itu dengan tatapan menyelidik.
Hanzo mengangguk kecil. "Tentu saja sudah. Jangan remehkan Ame. Berdasarkan siklus beberapa abad perhitungan astronomi dan posisi benda-benda langit, aku yakin konstelasi rasi bintang Pyrus, Ammaro, dan Hydra, Saturnus, Jupiter, matahari, bulan, dan Bumi kita akan berada pada garis lurus pada hari itu juga, yang berarti kebangkitan para Kaum Kolosal akan segera tiba. Hanya saja menurut perkiraan kami, mereka mungkin bisa bangkit sekitar satu sampai dua hari lebih awal," jelasnya panjang lebar.
"Itu berarti kemungkinan mereka bisa bangkit besok, walau hanya satu-dua ekor atau beberapa," tabrak Kakuzu.
Madara mengangguk. "Yaahh...setidaknya itu bisa ikut menyibukkan Naruto dan timnya selagi kita merencanakan ini," ujarnya.
"Kembali ke rencanaku," katanya akhirnya. "Rencananya, aku akan mengaktifkan sebuah jutsu, yang disebut Mugen Tsukuyomi, Tsukuyomi Tak Terbatas, yang akan membawa tiap orang ke mimpi indah selamanya, sesuai dengan apapun yang mereka inginkan".
"Tidak akan ada lagi jeritan derita sengsara..."
"Tidak akan ada lagi seruan pertanyaan atas kejadian pahit..."
"Tidak akan ada lagi orang yang gagal, sedih, dan putus asa..."
"Tidak akan ada lagi teriakan menyalahkan nasib..."
.
.
"...Tidak akan ada lagi kenyataan..."
.
"Yang ada...adalah kebahagiaan ! Kemenangan ! Kesenangan abadi dalam mimpi masing-masing ! Tidak ada yang akan dirugikan atau dicederai ! Dunia dimana tiap manusia hidup dalam kebahagiaan ! Dan kita-lah yang akan menguasai mereka semua ! Kita akan menjadi dewa bagi dunia ini !" Serunya sambil mengangkat kedua tangannya setinggi kepala penuh dramatis.
Tepuk tangan menggemuruh di ruangan kecil yang tampaknya 'tidak layak disebut ruang rapat' itu. Tepuk tangan terkeras bersumber dari...Zetsu, Nagato, dan Konan.
"Dan," Madara melanjutkan presentasinya. "Kita memerlukan kekuatan yang sangat besar untuk itu, terutama untuk tahap pertama, yaitu membangkitkan sesuatu yang digunakan sebagai 'alat' guna memproyeksikan genjutsu itu ke bulan," jelasnya singkat.
"Apa yang akan kau gunakan ?" Tanya Hanzo tiba-tiba.
"Pertanyaan bagus," sambut Madara sambil tersenyum simpul. "Aku akan menggunakan Datara, alias Juubi, monster raksasa berekor sepuluh yang dulu pernah meneror dunia. Kita akan kendalikan Juubi dengan kekuatan yang kubicarakan tadi, dan ketika sudah siap semuanya, kita akan melancarkan genjutsu besar-besaran ini ke bulan".
"Dan kekuatan apa yang Anda bicarakan, Madara-sama ?" Selidik Kisame sambil mengangkat tangan.
Madara melirik Nagato. "Ini," tudingnya.
"Uzumaki Nagato, kau memiliki kekuatan yang kami butuhkan," ujar Madara. "Rinnegan. Hanya itu yang cukup kuat untuk mengendalikan Juubi, atau setidaknya Mangekyo Sharingan Abadi seperti milikku. Nah, karena aku telah menafsirkan dua pertiga isi Tablet Batu Uchiha yang sekarang masih ada di Desa Konohagakure, aku tahu pasti mengenai Rikudo Sennin," katanya sedikit angkuh.
"Sang Rikudo menggunakan kekuatan Yin-Yang serta jutsu terlarang dari Rinnegan-nya untuk menyegel tubuh tanpa chakra milik Juubi, di bulan. Sayang sekali, aku telah memeriksanya, memindai bulan dari bumi menggunakan Eternal Mangekyo Sharingan-ku, akan tetapi aku tidak menemukan kerangka kosong Juubi itu disana," desisnya.
"Jika ada salah satu dari kalian yang mengetahuinya, lekaslah beritahu aku," katanya dingin. "Atau rasakan akibatnya karena telah menghalangi kita dari rencana besar ini," ancamnya.
Sunyi. Tidak ada suara selama beberapa detik.
.
.
.
BLLLAAAAAARRRRR...! ! ! !
.
Tanah berguncang. Atap bergemuruh seperti akan runtuh. Mendadak, suara desisan keras mengisi udara.
"Kabar buruk !" Seru Zetsu tiba-tiba. Rupanya barusan ia menghilang sebentar untuk memeriksa keadaan di luar.
"Kaum Kolosal mulai bangkit ! Sudah ada seekor di luar, tidak jauh dari sini !" Serunya.
Madara tertawa kecil. "Maksudmu...berita bagus ?" Balasnya. Ia membuka mata, menampakkan Sharingan-nya. "Spesies apa dia ?"
"Titanis," jawab Zetsu tergesa-gesa. "Bandel sekali mereka, berani-beraninya bangkit malam-malam begini !"
Madara berlari keluar. "Ortodox ?" Tanyanya memastikan.
Ortodox menggeleng malas. "Tidak".
Tampak siluet hitam berukuran raksasa yang disinari bulan purnama, menatapnya dengan mata kuning terang berpupil vertikal hitam dengan pandangan tak bersahabat. Ia mendesis, lantas menjilat bibir. Maju selangkah, mengakibatkan tanah berguncang.
Uchiha berambut panjang ini hanya bersedekap dengan sikapnya yang biasa.
"Teruslah begitu," tantangnya. Titanis menggeram.
Madara memelototkan Sharingan-nya.
"Naruto !" Seru Paradox tiba-tiba. Aku menoleh, walau sedang asyik melatih jutsu petir dan airku.
"Kita harus bergegas," katanya. "Ke Kuil Api Chiriku di Hi no Kuni. Ada satu Kaum Kolosal yang datang kesana !"
Aku terkejut. "Bukankah mereka baru akan bangkit tiga hari lagi ?" Seruku gusar.
"Memang," balas Paradox. "Aku juga tidak tahu pasti, tapi sepertinya kali ini mereka bangun lebih cepat. Baru seekor, lebih baik kita hentikan sebelum ia membakar semua kuil !"
"K-kita ?" Tanyaku terbata. "T-tidak mungkin ! Aku...sekarang sudah malam, tahu !"
"Siapa yang memaksa latihan semalam ini ?" Balasnya. "Kalau tadi kau memilih tidur, bahkan mungkin kau akan kubangunkan !"
"Kurasa kau cukup kuat untuk menanganinya sendiri. Apalagi hanya satu, kan ?" Aku mencoba menolak secara tidak langsung. Sebenarnya aku sudah mulai mengantuk –dan ini sudah pukul setengah sebelas malam !
Paradox menunduk seperti kuda yang tidak kebagian jatah jerami. "Kukira kau pengendaraku..." bisiknya lirih. Mata jernihnya berkaca-kaca. Aku menelan ludah bingung.
"Tolonglah..." desisnya. "Kau tidak mau aku tidak kembali besok pagi kan...?"
Aku menghela napas berat. Ini naga apa naga ? Darimana dia belajar merayu begitu ?!
"Baiklah," jawabku akhirnya, lalu melompat ke punggungnya. "Tapi jangan te..."
.
"...UWAAAAAAAAAAA...! ! !" Aku memekik keras seperti banci begitu Paradox meroket ke udara seperti batu yang dilepas dari ketapel. Aku yakin ini belum seberapa dibandingkan kecepatan tertinggi Hermes, tapi aku merasa ini benar-benar cepat ! Begitu cepat sampai aku sulit membuka mataku, suara desiran angin yang besar menyelimuti telingaku, dan mulutku terkebut-kebut ke belakang.
"Ayolah !" Serunya ditengah-tengah suara berisik angin. "Ini baru empat ratus kilometer perjam ! Aku akan menambah seratus kilometer perjam lagi !"
Aku menutup mata. Masa bodoh mau seberapa cepat, yang penting aku jangan sampai terjatuh ! Teriakku dalam hati. Semoga saja dia membaca pikiranku.
.
.
.
.
"Sampai kapan kau akan menutup mata, Naruto ?"
Oke, ucapan itu sukses membuatku membuka jendela duniaku. Tampak di bawah, seekor naga yang kelihatannya amat besar –bahkan walau dilihat dari ketinggian delapan ratus meter dari udara. Kobaran api mengelilinginya, tapi ia sepertinya baik-baik saja. Setengah area Kuil Api Chiriku sudah musnah dilahap si jago merah. Aku meremas tangan, tak sabar menghajar si kolosal itu.
"Eit, aku tidak bawa senjata apapun selain beberapa kunai dan shuriken !" Seruku.
"Kau aneh," balas Paradox. "Aku bisa mengalahkan seratus naga kolosal dalam waktu sejam dengan tangan kosong".
Aku mencibir. "Bisa tidak kau tidak perlu pamer ?"
"Itu bukan pamer," balas Paradox santai. "Itu kenyataan. Perhatikan baik-baik dan sadarilah betapa hebatnya naga yang kau punya," desisnya. Ia lantas menukik ke bawah, menurunkanku di area yang belum terbakar sambil menyuruh beberapa biksu yang masih selamat untuk menjauh dari situ –yang langsung membatu persis seperti Kurama begitu melihat Paradox. Naga cermin itu lantas terbang membelakangi sang kolosal.
Omong-omong, apa yang harus kukatakan ? Naga ini SANGAT besar ! Jauh, jauh lebih besar dari Gigantostoma terbesar sekalipun ! Tingginya sama dengan menara berlantai tiga puluh ! Dia mempunyai sayap –tapi aku tidak yakin apa dia bisa terbang. Dia mirip Wyvern, dengan dua kaki sebesar pohon Sequoia dan telapak kaki bercakar yang sanggup meratakan rumah dengan sekali injak. Ekor raksasanya menari di udara dengan ujung berupa gada tulang berukuran amat besar, sanggup meratakan hutan seluas separuh lapangan kasti dengan sekali kibas. Kepala raksasanya dihiasi bola mata yang tampak amat kecil jika dibanding tubuhnya yang bersisik besar dengan duri-duri raksasa dan gigi-gigi sebesar daun pintu. Dan anehnya, bola matanya...berpola Sharingan.
Naga ini mengangakan mulut, siap menembakkan api. Aku gelagapan. Kalau Kurama saja jangkauan serangnya seluas itu, apalagi yang ini ? Aku berhadapan dengan naga yang mampu menghanguskan Konoha dalam waktu semenit !
Sebelum itu terjadi, Paradox 'memegang' ujung ekor naga super-raksasa yang berbentuk gada ini dengan kedua kaki depannya, dan melakukan hal yang tidak pernah kukira bisa benar-benar dilakukannya.
Dia mengangkatnya. Lebih tepatnya, menarik ekor sang naga kolosal dan memutarnya dua kali di udara semudah atlet melempar cakram miliknya dalam perlombaan olimpiade, dan menjatuhkannya beberapa ratus meter dari situ dengan suara berdebum yang dahsyat disertai getaran gempa buatan yang membuatku limbung dan nyaris jatuh. Dia kemudian terbang dan mendarat di sisiku dengan senyum puas.
"Untuk kelas enam ratus ton bobot bersih, dia lumayan payah," ujarnya. Mungkin untuk langkah pamer selanjutnya.
Aku berusaha tidak terlihat terkesan. Gengsi, sebenarnya.
"Mau mencoba menghabisinya ?" Tawarnya padaku.
"Aku ?" Tudingku pada diriku sendiri. "Sekali terinjak barang hanya sampai satu cakarnya saja, aku akan rata dengan tanah !" Seruku.
"Tidak kalau kau bersamaku," jawab Paradox. Akhirnya aku menaikinya lagi, dan kami terbang ke atas naga kolosal yang belum sempat bangun itu. Yah, dengan tubuh sebesar itu, jatuh akan jadi masalah besar.
"Mereka semua besar dan kuat," desis Paradox. "Tapi hanya sampai disitu keuntungannya. Mereka bodoh, jarang sekali ada yang cerdas. Dan lagi, gerakan mereka lamban. Bangun saja susah".
"Setiap naga pasti punya kelemahan, kan ?" Selidikku, mencoba terlihat pintar. Dia mengangguk.
"Titanis lemah pada api dalam," jelasnya. "Jadi saat dia bersiap menyembur, balaslah dengan semacam bom, sekecil apapun itu. Dia akan meledak dari dalam".
Dan begitu Paradox selesai mengatakannya, Titanis mengembangkan lehernya. Dia bersiap menyembur lagi. Paradox melirikku penuh arti. Aku merogoh tas pinggangku, dan menemukan lima kertas peledak. Kuikat semuanya pada satu kunai, dan dengan chakra angin, kulempar itu ke mulut sang naga. Tidak begitu sulit, karena mulutnya cukup besar dan lebar.
"Sekarang, kita pergi," susul Paradox sambil mengepakkan sayap keras-keras.
.
Aura merah dan oranye tampak di tubuh sang naga cermin ini, pantulan dari pemandangan yang terjadi di belakang. Titanis itu meledak seperti bom hidup raksasa, untungnya Kuil Api Chiriku tidak sampai terkena imbasnya. Suaranya begitu keras, tapi aku mencoba tidak peduli. Aku membunuh satu naga kolosal ! Pengalaman yang menakjubkan ! Naga ini kemudian terbang kembali ke Kuil Chiriku, ke tempat dimana mereka membaringkan para biksu yang terluka akibat serangan.
"Kita butuh tim medis lebih banyak," sungut salah satu biksu.
"Kurasa tidak perlu," tabrakku. Mereka menoleh, dan begitu mengetahui siapa yang bersuara, para biksu berkepala cemerlang (dalam arti sesungguhnya) itu langsung berlutut dan membungkuk hormat. Pada kami berdua.
Paradox mengibaskan sayapnya. Dan...semua biksu yang terluka itu kembali sembuh seperti sediakala. Aku masih terkagum-kagum dengan kemampuan luar biasanya. Satu kibasan dapat mencincang puluhan Pembantai Bersayap, tapi dengan satu kibasan sayapnya juga, bisa menyembuhkan puluhan orang-orang sekarat.
"Anda pasti Naruto-sama," kata seorang biksu beralis tebal dengan selendang bersimbol Hi no Kuni di pinggangnya.
"Naruto, ini Chiriku, biksu tertinggi penjaga Kuil Api," Paradox memperkenalkannya padaku.
Chiriku menggaruk kepala kikuk (lebih tepatnya, menggosok kepala). "Haha, aku tidak sangka Paradox mengenaliku juga. Banyak biksu muda dan pemula disini sulit mengenali siapa-siapa, soalnya semuanya berkepala plontos dan berseragam yang sama," candanya.
"Omong-omong kenapa Titanis sampai menyerang kemari ?" Selidikku penasaran.
Chiriku mengangguk. "Anda lihat matanya ? Itu pola Sharingan. Kami menduga kuat binatang itu sebelumnya muncul entah dimana, tapi ditemui oleh Uchiha dan dikendalikannya untuk menyerang tempat ini. Kemungkinan besar...mereka mengincar gulungan jutsu suci yang memang disembunyikan disini. Jika itu benar, dunia sedang menghadapi, kalian tahu, ancaman teror besar-besaran. Itu jelas tidak bagus," jelasnya panjang lebar.
"Madara," desisku. Chiriku menatapku antusias. "Pasti Madara, yang mengendalikan Titanis itu. Dan jika memang ada gulungan disini, pasti dia mengincarnya !"
Beberapa biksu tampak bingung, tak terkecuali Chiriku. Aku ikut bingung juga. Ya ampun, nama Madara sudah terkenal ke Lima Negara Besar sebagai pembuat onar nomor satu ! Kenapa mereka malah bingung ?
"Uchiha Madara berniat melancarkan Rencana Mata Bulan untuk menjadikan dirinya setingkat dengan dewa, dan memerintah serta menguasai dunia seorang diri dengan bantuan para pengkhianat Etatheon dan para Pembantai Bersayap," jelas Paradox cepat.
"Uchiha Madara ?" Selidik salah satu biksu. "Setahuku dia sudah mati dibunuh Shodaime Hokage di Lembah Akhir !"
Paradox mengangguk. "Itu berita bohong. Madara masih hidup, sampai ketika dia mati, kontrak yang menghubungkannya dengan salah satu pengkhianat Etatheon, Styx, menghidupkannya lagi dengan tanduk tunggalnya. Karena itulah Madara hidup kembali sampai sekarang ini".
"Itu aneh, karena kukira seluruh dunia sudah mengenal Madara," ujarku ketika kami kembali mengudara.
"Tidak semua," balas Paradox. "Kuil Api sangat tertutup, kecuali untuk kalangan biksu itu sendiri. Penduduk Hi no Kuni saja kadang-kadang kesulitan masuk kesana. Itu tempat keramat dan dijaga ketat. Wajar kalau bahkan terjadi perang di Konoha, mereka tidak tahu".
"Tadi hebat sekali," seruku senang. "Walau itu mengejutkanku karena ternyata ada makhluk sebesar itu !" Sambungku.
"Kau belum lihat apa-apa. Beberapa hari ke depan akan lebih banyak lagi Kaum Kolosal yang bangkit, walau biasanya terpusat di satu-dua tempat saja. Bukannya tadi sudah kubilang semua naga kolosal memiliki ukuran yang besar ?" Balasnya santai.
"Besar ?" Ulangku. "Kau mengatakan 'besar' bukan sesuatu yang bisa menelan empat bus utuh-utuh !" Omelku. Dia tertawa sampai bahunya berguncang sedikit. Aku memalingkan pandangan, pura-pura kesal.
Untuk sesaat, tidak ada diantara kami yang bicara sementara naga cermin ini terbang dengan kecepatan tinggi.
"Terimakasih sudah menemaniku," ucapnya tiba-tiba.
Aku terkejut sesaat.
"Sama-sama," balasku.
.
.
Paradox's POV
.
.
.
"Besar ?" Ujarnya, meniru ucapanku. "Kau mengatakan 'besar' bukan sesuatu yang bisa menelan empat bus utuh-utuh !" Sambungnya. Aku tertawa mendengarnya. Kurasa Dracovetth-ku kali ini memang, kuakui, sedikit bodoh. Tapi lebih humoris dan 'aneh' dari pengendara-pengendaraku sebelumnya. Rasanya...aneh yang berbeda. Aku tidak bisa menjelaskannya.
Sekarang, dia memalingkan pandangan. Heh, walau aku tahu dia hanya pura-pura kesal saja.
Hening.
Tidak ada diantara kami yang bicara selama beberapa menit sementara aku hanya terbang biasa. Sebenarnya lumayan cepat, tapi dia sudah tidak menggerutu dan menyuruhku melambat seperti tadi.
"Terimakasih sudah menemaniku," ucapku. Yah, janggal sih. Tapi aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.
Dia tampak terkejut sejenak, kemudian membalas.
"Sama-sama".
Jawaban yang membuatku merasa hangat di malam yang dingin. Aku mempercepat kepakanku, berusaha tiba lebih awal di perkemahan.
Camp of Team Paradox, Kusagakure
Satu api unggun masih menyala. Pria berambut keperakan dengan masker yang menutupi separuh wajahnya masih terdiam disana, memandang api dengan tatapan kosong satu matanya.
.
"Ehm. Kakashi-san ?"
Pria itu menoleh. "Pakura," ujarnya. "Kau tidak tidur ?"
Pakura menggeleng. "Aku tiba-tiba terbangun. Sedikit sulit bagiku untuk tidur lagi begitu bangun," ceritanya singkat. Ia berjalan mendekat. "Kau sendiri ?"
"Aku tidak mengantuk," jawab Kakashi datar.
"Dasar laki-laki," canda Pakura. "Bisanya sok kuat saja. Malam-malam begadang, eh besoknya malah tepar di kasur".
Kakashi tertawa kecil.
"Boleh aku duduk di sampingmu ?" Selidik Pakura. Kakashi menggeser posisi duduknya, mempersilakan perempuan Rouran itu duduk.
"Langit malam ini indah sekali," desisnya sambil mendongak. Kakashi mengikuti sikapnya. Ribuan bintang bertaburan di latar belakang hitam dengan sedikit semburat ungu dan biru, awan nebula galaksi. Pakura mengeluarkan sebungkus marshmallow dan menusuknya dengan ranting, membakarnya diatas api unggun. Setelah matang, beberapa darinya disodorkannya ke pria di sebelahnya.
Kakashi menggeleng. "Aku tidak begitu suka makanan yang lengket-lengket," ia mencoba memberi alasan.
Pakura tertawa pendek. "Kau benar-benar tidak suka atau hanya tidak mau menunjukkan wajah dibalik maskermu itu ?" Ledeknya.
Kakashi menghela napas, lalu mengambil satu dan meremas-remasnya di tangannya.
"Boleh kutahu wajahmu ?" Tanya Pakura tiba-tiba.
Untunglah Kakashi belum sempat memasukkan marshmallow itu ke mulutnya. Kalau sempat, pasti dia sudah tersedak sampai stadium 4 sekarang. Pakura ? Yang baru dikenalnya sehari itu ? Menanyakan wajahnya ?! Minato sebagai gurunya atau bahkan Jiraya yang genit saja tidak pernah menanyakan hal semacam itu !
"Maaf," bisik Kakashi. "Kurasa tidak bisa. Ada alasan kuat kenapa...aku menyembunyikan wajahku...dari dulu".
"Oya ?" Tanggap Pakura dengan mata berbinar. Sepertinya itu cukup untuk memaksa pria berkulit putih ini bercerita.
"Dulu...beberapa belas tahun yang lalu...klan-ku, klan Hatake, merupakan salah satu klan paling bergengsi dan terhormat di Konohagakure. Memang, sebagai desa besar yang pertama dibentuk, banyak sekali klan yang berkumpul di Konoha, pada awalnya. Sebut saja Senju dan Uchiha yang mendirikan mereka, lalu Sarutobi yang pertama bergabung, lantas Hyuuga, Akamichi, Nara, dan Yamanaka. Klan Uzumaki yang notabenenya mayoritas tinggal di Uzushiogakure saja bersahabat dengan Konoha. Termasuk di dalamnya, klan Hatake," Kakashi mulai bercerita.
"Ayahku bernama Hatake Sakumo, yang mendapat juluka Shiro no Kiba, Si Taring Putih dari Konoha. Dia tergabung dalam pasukan elit penjaga desa dan memiliki kemampuan yang bisa dibilang hanya satu-dua tingkat dibawah Kage. Yah, pada awalnya aku sangat bangga layaknya seorang anak yang punya seorang ayah yang hebat..."
"...tapi...sesuatu terjadi ketika dia melaksanakan sebuah misi. Aku tidak begitu ingat detail kejadiannya, tapi yang kutahu secara garis besarnya, ayahku...lebih mengedepankan temannya dibanding misinya. Dia membiarkan misinya gagal asal bisa menyelamatkan temannya".
"Dan itulah yang menodai namanya ?" Tabrak Pakura. Kakashi mengangguk pelan.
"Sejak saat itu, dia mulai mendapat perlakuan yang kurang baik. Ayahku dianggap pengkhianat...bagaimana bisa seorang pasukan elit melanggar peraturan bahkan dengan sengaja mengagalkan misi hanya karena untuk menyelamatkan satu nyawa ? Tertekan oleh keputusasaan dan berusaha untuk tetap menjaga nama baik keluarganya, ayahku akhirnya kabur dari desa. Rumor mengatakan, dia bunuh diri. Kabarnya sampai sekarang tidak bisa dipastikan".
"Kau pasti sangat kesal padanya," sambung Pakura.
"Ya...begitulah. Aku masih berusia dua belas waktu itu terjadi. Sejak saat itu aku menutupi wajahku, karena orang-orang selalu bilang wajahku sangat mirip dengan ayahku. Aku menutupinya agar tidak terjadi kesalahpahaman antarpenduduk desa. Tentu saja, aku membencinya. Tapi sekarang tidak lagi".
"Kenapa ?"
Kakashi mengangkat ikat kepala Konoha-nya yang miring ke kiri, menampakkan mata dengan bekas luka tebasan vertikal dengan iris merah dengan tiga tomoe.
"Sharingan !" Seru Pakura. "Kenapa klan Hatake bisa membangkitkan Sharingan ? Hmm...hanya satu mata dengan bekas luka...jadi itu hasil donor, ya ?" Tebaknya panjang lebar. Kakashi mengangguk tegas.
"Namanya Obito. Uchiha Obito. Dia tergabung dalam Tim Tujuh bersamaku dan seorang kunoichi bernama Nohara Rin. Komandan Tim Tujuh adalah Namikaze Minato, ayah Naruto sendiri. Obito...mirip-mirip Naruto. Dia cerewet, dan walau dia seorang Uchiha, dia tampak bodoh dan lugu. Awalnya aku tidak begitu menyukainya. Sampai sesuatu terjadi".
"Perang Dunia Naga Ketiga. Kami ditugaskan ke Iwagakure...dan Minato-sensei terpaksa berpisah dengan kami. Karena lengah, Rin diculik oleh kelompok ninja pemberontak. Yang tersisa hanya kami berdua. Dan saat itulah kami berdebat. Aku memaksa melanjutkan misi, karena bagiku, peraturan adalah segalanya. Tidak ada...yang boleh melanggarnya, dan aku berpegang kukuh pada prinsip itu. Aku...menolak mencari dan membebaskan Rin. Obito marah besar. Kami berselisih jalan. Obito memilih mengedepankan teman daripada peraturan".
"Orang yang melanggar peraturan adalah sampah..."
"...tapi orang yang mengabaikan temannya sendiri lebih buruk dari sampah".
"Itulah yang diajarkannya padaku waktu itu, kemudian dia pergi sendiri mencari Rin. Walhasil, aku mengikuti jalannya. Kami berdua berusaha saling memaafkan dan kembali bekerjasama sebagai tim. Para musuh sangat kuat, bahkan mata kiriku sempat ditebas oleh salah satu dari mereka. Mata kiriku tidak lagi bisa melihat. Di saat yang bersamaan, Obito berhasil mengaktifkan Sharingan untuk pertama kalinya dan mengatasi musuh. Ketika Rin akhirnya berhasil ditemukan kembali, musuh memasang perangkap di gua yang kami tempati, dan bebatuan langsung runtuh..."
"Obito...melemparku keluar dari reruntuhan, tapi itu berbalik menimpanya sendiri".
"Setengah tubuhnya, bagian kanannya, hancur ditimpa batu besar. Aku menyesal setengah mati. Dia kemudian menyuruh Rin untuk mentransplantasikan mata Sharingan bagian kirinya ke mata kiriku yang terluka. Jadilah...sejak saat itu aku memiliki Sharingan, walau bukan seorang Uchiha. Obito...akan selalu menjadi teman terbaikku," Kakashi akhirnya mengakhiri ceritanya.
Pakura memegang pundak Kakashi, berusaha bersimpati.
"Hei. Lagipula dia tidak benar-benar mati. Dia masih hidup dalam hatimu," bisiknya. "Dan...sepertinya dia masih melihat masa depan bersamamu. Dengan mata itu," hiburnya.
"Terimakasih," ucap Kakashi pendek.
"Tidak masalah," timpal Pakura. Sesaat kemudian dia menguap. "Mendengarkan cerita orang selalu membuatku mengantuk," katanya sambil merenggangkan lengan.
"Yah. Ini sudah cukup larut," Kakashi menanggapi. "Mungkin sebaiknya kita tidur," katanya mengakhiri pembicaraan. Mereka berjalan ke tenda masing-masing dan langsung merebahkan diri melepas penat setelah melewati satu hari yang melelahkan.
.
.
.
Aku mengepakkan sayap ke depan, dan segera mendarat dengan mulus diatas rerumputan tebal.
"Nah," desisku. "Kita sudah sampai".
Alih-alih jawaban, yang kudengar justru suara dengkuran. Aku menoleh, memeriksa pangkal leher bagian atasku. Naruto...tertidur disana. Hmm ? Pantas saja dia tidak mengajakku bicara selama setengah perjalanan kami. Diam-diam aku tersenyum kecil. Dia pasti kelelahan. Aku celingukan mencari tenda yang kira-kira masih kosong. Hmm, sepertinya tidak begitu sulit. Sebuah tenda besar berwarna oranye langsung tertangkap mataku. Aku berjalan pelan kesana, berusaha tidak membangunkan Naruto.
Tenda itu masih terbuka dan belum ditempati siapapun. Pintunya memang lebar dan tinggi, tapi aku yakin tidak bisa masuk kesana tanpa menyangkut di tanduk dan sayapku. Tch, aku tidak mungkin melempar Naruto seperti karung daging begitu saja ke dalam, jadi...kugunakan saja ini. Sedikit terpaksa, sih. Awalnya.
Kusangga pangkal lehernya dengan tangan kananku dan lipatan belakang lututnya dengan tangan kiriku, berjalan pelan ke dalam tenda, dan dengan sangat perlahan, kubaringkan dia diatas terpal dan bantal. Beberapa rambut perakku jatuh hingga menyentuh wajahnya karena terlampau panjang, tapi sepertinya itu tidak mengganggunya.
Aku memandanginya. Mengamati rambut kuning blondenya yang tidak sekasar kelihatannya. Wajahnya sedikit lonjong dengan mata biru yang indah jika dia menampakkannya. Tiga garis seperti kumis kucing di pipinya, jadi ciri khas yang tidak dimiliki semua orang. Garis dagunya tegas, dan dia tampak sangat damai saat tidur, manis sekali. Mungkin...karena dia sudah menemukanku.
Aku merogoh selimut sutera oranye dari kimono yang kukenakan, memakaikannya padanya sampai sebatas bahu. Malam ini cukup dingin, tapi aku merasa sangat hangat begitu berada di tenda ini. Ah, ini sungguh perasaan yang berbeda dan aneh. Tapi menyenangkan.
Untuk pertama kalinya, aku menjumpai seorang Draco P yang berhasil menghiburku. Membuatku merasa lebih baik, melupakan sejenak segala kegundahan hati dan masalahku –yang semuanya berasal dari masa lalu. Aku tahu kedengarannya gila, dan bahkan aku baru sehari lebih bertemu langsung dengannya, tapi...
...aku tidak bisa hidup tanpanya.
Aku memegang dahiku. Apa yang terjadi denganku ? Pikiranku aneh sekali malam ini.
Naruto menggeliat. Sempat kukira dia akan membuka mata, tapi ternyata tidak. Dia hanya menggeser posisi tidur sambil menarik selimut.
.
'Suatu hari nanti, kau akan menemukan...pengendara sejatimu...ketika kalian saling membutuhkan dan terus bersatu seperti jantung dan hati...'
.
Kata-kata Ashura sebelum dia wafat mendadak terngiang di kepalaku. Kutatap wajah Naruto sekali lagi.
Aku menggigit bibir, tapi kemudian tersenyum. Yah, walau tidak ada yang tahu.
"Naruto..." bisikku.
"Kurasa sekarang aku tahu kenapa Sara begitu memperhatikanmu..."
Aku berjongkok, meraba pipi kirinya dengan tangan kananku. Aku merendah. Rambut perakku sebagian kembali jatuh, tapi tidak kupedulikan. Hidung dan bibirku menyentuh pipi kirinya. Menciumnya. Hanya untuk satu detik, tapi cukup membuatku merasa damai.
"Mimpi indah, Naruto," bisikku halus.
Aku merebahkan diri di sampingnya. Masih dalam wujud manusia. Kumiringkan tubuhku hingga wajah kami berhadapan hanya berjarak dua puluh senti. Aku masih bisa merasakan napas dan aroma tubuhnya dari sini. Kukedipkan mataku pelan.
"Deavvara..." bisikku lirih.
"...tahukah kau ?"
"...pengendaraku yang sekarang..."
"...mengingatkanku padamu..."
.
.
.
.
.
Bersambung...
Author's Note (2):
Chapter 14 selesai !
Disini kita mengetahui legenda Rikudo Sennin dan Ootsutsuki Kaguya serta Juubi dan Shijuu ! Dua bersaudara Indra dan Ashura plus Ortodox dan Paradox juga telah diketahui silsilahnya bersama asal-usul Etatheon. Ada yang udah baca manga Naruto chapter 679 ? Ootsutsuki Hamura disinggung di chapter itu lho ! Dan disini...ehm, KakaPaku-nya dah ada sedikit, dan tentunya perasaan aneh sang Paradox pada Naruto –meskipun wujud manusia bukanlah wujud aslinya. Uh-oh ! Ternyata ujung-ujungnya Paradox juga diam-diam harem yah...#ditampar
Soal cerita Artemis dan Deinosyus, saya dapat inspirasi dari cerita pahlawan Yunani Kuno, Theseus dan Ariadne. Horus dan Haumea juga sekilas mirip Ouranos dan Gaia yang melahirkan para Titan. Meski demikian, apakah yang ditemukan Orochimaru dan Kabuto ? Apakah ada seseorang yang memata-matai mereka ? Sedahsyat apakah kebangkitan Kaum Naga Kolosal ? Apakah rencana Madara berjalan mulus ? Dan...siapakah Deavvara ? Nantikan jawabannya di chapter depan !
Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !
PENGUMUMAN: Paradox Chapter 15 akan rilis SABTU, 14 Juni 2014 !
Coming Soon: Paradox Chapter Fivten :
"Into the Jaws of Death"
See you again in chapter 15 !
-Itami Shinjiru-
-Dragons List in Chapter Fourten:
Novvarupta (Dipelesetkan dari nama sebuah gunun berapi di Alaska, Novarupta)
Strength : Sangat tinggi
Ukuran : Panjang 23 meter, berat 14 ton
Kecepatan terbang : 10-250 km/jam
Spesial : Naga dengan serangan spesialis material gunung berapi
Tipe serangan : Menyemburkan api, lava, bom vulkanik, asap beracun, asap belerang, lapili, dan abu korosif
Kategori : Mighty
Elemen spesial : Vulkanis
Level bahaya : Jauhi !
Pemilik : Tidak ada
Titanis (Naga OC, diambil dari Bahasa Yunani 'Titan' yang berarti raksasa)
Strength : Ekstrim
Ukuran : Panjang 250 meter, berat 600 ton
Kecepatan terbang : 10-250 km/jam (Untuk jarak pendek dan ketinggian maksimal hanya 300 meter)
Spesial : Ukuran luar biasa, gada padat di ekor
Tipe serangan : Menyemburkan api semicair yang meliputi jangkauan serang yang sangat luas, serangan langsung dengan tubuh raksasanya
Kategori : Naga Kolosal
Elemen spesial : -
Level bahaya : Gila
Pemilik : Tidak ada (Tapi dapat ditundukkan dengan Sharingan atau Rinnegan)
