Warning : Saya hanya memperingatkan soal typo(s), OC, OOC, dan kegejean cerita ini.

Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo.

xxxKuroyuki Akihanaxxx

Rukia berjalan menuju ke divisi 1 dengan dikawal 10 orang anggota onmitsukido. Sebenarnya, dia bisa saja melarikan diri, tapi, itu hanya akan memperburuk keadaan. Jadi, dia ikuti saja. Toh, dirinya memang tidak bersalah. Pada akhirnya nanti, mereka pun akan melepaskannya juga.

Mereka sampai di penjara divisi 1. Rukia digiring masuk, dan dibawa menempati salah satu sel. Shinhakusou, lencana, dan zanpakutounya dilepas dan diletakan di salah satu lemari yang ada di sudut ruangan. Sementara dia sendiri masuk ke dalam sel yang kemudian dilapisi dengan kidou.

'Mereka tak perlu berbuat sampai sejauh ini, toh, kau juga tak akan kabur'

Suara Sode no Shirayuki menggema di kepalanya. Yah... Benar memang, yang dikatakan oleh roh zanpakutounya itu. Walaupun dia memegang zanpakutounya pun, dia tak akan kabur dari sana. Tentu saja, karena dia seorang wakil kapten, dan dia mempunyai tanggung jawab untuk mentaati hukum juga.

Rukia menoleh ke luar. Salju turun, dan itu membuatnya heran. Jika turun salju di musim seperti ini, berarti, cuaca buruk ini pasti disebabkan oleh seseorang.

"Hitsugaya Taichou,"

Toushiro menoleh, dibelakangnya, terlihat Renji yang berdiri dari duduknya.

"Kau mau kembali, Abarai?"

Renji mengangguk, Toushiro berbalik, kemudian dia menghela nafas pelan.

"Ya sudah... Kembalilah..."

Brak

"Shiro-chan!"

Renji dan Rangiku berbalik, sementara Toushiro menatap tajam ke arah pintu. Terlihat Momo terengah di depan pintu.

"Kau tidak apa-apa, Hinamori?" tanya Rangiku. Momo mengangguk, tapi kemudian dia mulai bicara.

"Kuchiki Fukutaichou! Dia ditangkap anggota onmitsukido! Aku tidak tahu harus minta tolong siapa, karena kaptenku di rumah sakit, bersama Kuchiki Taichou, jadi, aku..."

"Matsumoto, berikan dia minum."

Rangiku mengangguk, kemudian dia membawa Momo ke salah satu sisi sofa dan mendudukannya. Dia memberikan cangkir miliknya yang belum tersentuh pada Momo yang langsung diminum hingga tandas oleh Momo.

"Sekarang, ceritakan detailnya."

"Aku dan Kuchiki Fukutaichou baru kembali dari rumah sakit. Kami hendak ke Kuchiki Mansion, tapi dia memintaku agar pergi ke divisi 13 terlebih dahulu. Ditengah jalan, kami dihadang anggota onmitsukido dan Kuchiki ditangkap."

"Hah!? Kenapa dia bisa ditangkap?" tanya Renji dengan keras. Momo menggeleng, "mereka bilang, Kuchiki dituduh atas penyerangan terhadap Kuchiki Taichou, dan sampai perkara ini jelas, dia harus ditahan."

"Ini tidak masuk akal!" tukas Renji. "Rukia sangat menyayangi taichou! Dia tidak mungkin mencelakai kakaknya sendiri! Lagipula, pelakunya adalah..."

"Abarai..."

Renji terdiam, namun, ekspresi kesalnya masih nampak jelas.

"Taichou, bagaimana ini?" tanya Rangiku. Toushiro terlihat berfikir dengan serius. Sementara itu, petir mulai menyambar nyambar di luar, salju yang tadinya turun, berubah menjadi bongkah es kecil.

"Apakah para kapten yang lainnya mengetahui hal ini?"

Momo menggeleng pelan. "Aku tidak tahu..."

Toushiro menghela nafas. "Untuk sementara ini, biarkan saja seperti ini."

Mata Renji membelalak kaget, reaksi yang sama juga terlihat dari Momo dan Rangiku.

"Tapi... Taichou."

"Tidak apa-apa." potong Toushiro cepat.

"Mereka tidak akan melukai Kuchiki Fukutaichou. Mereka tidak akan berani. Walaupun dia ditahan, tapi statusnya sekarang masih 'calon tersangka', lagipula, Kuchiki Fukutaichou adalah seorang putri dari keluarga bangswan Kuchiki. Anggota onmitsukido tidak bodoh. Jika mereka bertindak gegabah, namun ternyata dia terbukti tidak bersalah, maka Central 46 dapat menjatuhkan hukuman berat pada mereka." jelasnya.

Ketiga wakil kapten itupun berpandangan, dan akhirnya, mereka menyerah.

"Kalian kembalilah."

Momo dan Renji bertukar pandang. Kalian itu pastilah ditujukan untuk mereka berdua. Karena di saat seperti ini, kapten divisi 10 itu pastilah sedang merencanakan sesuatu, dan untuk itu, pastilah dia memerlukan wakilnya.

"Baik. Kalau begitu, kami permisi."

Renji membungkuk pada Toushiro, kemudian dia keluar dari kantor Toushiro bersama dengan Momo.

"Taichou..."

Toushiro menghela nafas, dia kembali menghadap ke arah jendela. Keadaan di luar sangat berantakan. Langit mendung, petir menyambar nyambar, udara sangat dingin, dan, halaman luar kantor divisi 10 dipenuhi tumpukan es-es kecil.

"Keadaan bertambah rumit." ujarnya dengan suara rendah. "Pukul berapa sekarang, Matsumoto?"

Rangiku menoleh ke arah jam dinding besar yang ada di ruangan itu.

"7.00"

"Masih ada waktu."

Hujan es berangsur angsur mereda, bersamaan dengan petir yang menghilang. Kemudian, awan hitam yang menghiasi langit lenyap, digantikan dengan langit malam yang cerah tanpa awan sedikitpun. Bulan purnama yang cantik menyembul keluar dari persembunyiannya.

"Ikut aku. Kita ke divisi 1 sekarang."

"Baik."

xxxKuroyuki Akihanaxxx

Soi Fong berdiri menghadap ke arah sebuah jendela kaca besar yang tengah terbuka. Badai di luar telah reda, dan kini, bulan bersinar dengan sangat terang.

Aneh sekali, jika terjadi badai es di musim seperti ini. Entah kenapa, dia merasa kalau badai ini adalah ulah seseorang. Tapi entahlah. Memangnya, siapa yang bisa membuat badai separah itu?

Sebuah reiatsu dirasakannya mendekat. Dia mengenali reiatsu itu. Reiatsu itu adalah milik salah satu anggota onmitsukido yang diperintahkannya untuk menangkap Kuchiki Rukia.

Yah... Dia tahu, kalau langkah ini mungkin akan menyebabkan keributan di seiretei. Terutama, diantara para kapten yang ada. Tapi, pencarian sementara dan seluruh bukti yang ada, mengarahkannya pada Nona Kuchiki itu. Jadi, mau tak mau, dia harus melakukan langkah pencegahan. Setidaknya, sampai semuanya jelas.

Tok... Tok... Tok...

"Masuk..."

Pintu ruangan terbuka, salah satu anggota onmitsukido berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Kemudian, dia berlutut di hadapan Soi Fong yang berdiri membelakanginya.

"Wakil kapten divisi 13 Kuchiki Rukia, telah kami tangkap, seperti yang telah anda perintahkan." lapornya. Soi Fong mengangguk samar.

"Apa kau sudah memasukannya ke dalam sel di divisi 1?" tanyanya. "Sudah, Taichou."

"Bagus, kau boleh pergi."

Anggota onmitsukido itu pun mengangguk. Kemudian, dia segera undur diri.

Toushiro dan Rangiku bershunpo menuju divisi 1. Rangiku mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat yang mereka lewati. Masih tersisa bekas bekas dari badai es dadakan tadi.

"Wah... Sepertinya badai tadi cukup parah."

Toushiro menatap Fukutaichounya itu dengan ekor matanya, kemudian, dia kembali fokus pada tujuan awalnya : pergi ke divisi 1 dan menemui Soutaichou.

Sebenarnya, dia sudah beberapa kali mencoba menemui Soutaichou. Namun, entah kenapa, selalu saja ada yang menghalangi. Dan sekarang ini pun, dia tidak yakin jika Soutaichou ada di tempatnya.

Mereka telah sampai di gerbang divisi 1. Pintu gerbang kayu dengan kanji divisi 1 dan lambang bunga Chrysanthemum itu menjulang tinggi didepan sosok keduanya. Penjaga gerbang membungkuk, memberi salam pada 2 orang itu, kemudian mereka membukakan gerbang dan membiarkan 2 orang terpenting divisi 10 itu masuk.

Gedung divisi 1 terlihat masih cukup ramai. Beberapa orang shinigami terlihat sedang sibuk sekali. Namun, walaupun begitu, mereka masih menyempatkan diri untuk membungkuk pada kedua orang terpenting divisi 10 itu.

Tak lama, mereka sampai di depan pintu kantor Soutaichou. Aneh sekali. Tidak ada shinigami yang berjaga didepan pintu seperti biasanya.

"Urusan apakah yang membawa anda kemari, Hitsugaya Taichou?"

Toushiro dan Rangiku menoleh bersamaan, terlihat seorang pria paruh baya berjalan ke arah mereka berdua. Setelah sampai didepan Toushiro, pria itu membungkukan badan.

"Kami ingin bertemu dengan Soutaichou, Sasakibe Fukutaichou." terang Toushiro. Pria itu, Sasakibe, mengernyit dalam.

"Sayang sekali, tapi beliau baru saja pergi sekitar 1 jam yang lalu."

Toushiro dan Rangiku saling berpandangan.

"Kemana beliau pergi?" tanya Toushiro. "Beliau mengatakan kalau beliau pergi ke Dangai." jawab Sasakibe. "Katanya ada urusan yang harus diselesaikan."

Toushiro mengernyit dalam. 'Berarti penangkapan Kuchiki bukan atas perintah Soutaichou' batinnya.

"Kalau begitu, bisakah anda mengantar kami menuju ke penjara khusus divisi 1?" tanyanya.

Sasakibe mengernyit, "ada urusan apa, hingga anda ingin kesana, Hitsugaya Taichou?"

Toushiro melipat tangannya didepan dada, "apakah anda tidak tahu, jika Kuchiki Fukutaichou ditahan di penjara khusus divisi 1?"

xxxKuroyuki Akihanaxxx

Rukia duduk diam di dalam selnya. Dia menatap sekeliling ruang tahanan divisi 1 yang sepi itu. Diluar, samar-samar dia dapat mendengar suara beberapa anggota onmitsukido yang bicara. Rukia menoleh ke luar, ke arah jendela kecil yang terbuka. Badai yang terjadi secara mendadak tadi telah berhenti. Sekarang, dapat dilihatnya bulan yang bersinar melalui jendela kecil yang terbuka itu.

Pintu yang ada di ujung ruangan terbuka, membuat Rukia secara refleks menoleh. Terlihat, Toushiro, Rangiku, Sasakibe, dan salah seorang anggota onmitsukido masuk ke dalam ruangan itu.

Rukia langsung berdiri ketika melihat mereka semua berjalan ke arahnya. Dia membungkuk sopan pada Hitsugaya Taichou dan Sasakibe.

"Tolong tinggalkan kami." Toushiro menoleh ke arah anggota onmitsukido yang ada di sana. Namun, anggota onmitsukido itu terlihat ragu.

"Saya bisa dimarahi oleh Soi Fong Taichou."

"Aku yang akan bertanggung jawab soal itu."

Mereka semua menoleh, terlihat Kuroyuki masuk ke dalam ruangan itu.

"A... Akihana Taichou."

Kuroyuki melangkah masuk ke dalam ruangan itu. "Hanya 15 menit. Tidak lama. Aku janji."

Akhirnya, dengan enggan, anggota onmitsukido itupun keluar ruangan.

"Apa yang anda lakukan disini?" tanya Rukia agak panik.

"Kalau yang kau khawatirkan adalah kami akan membebaskanmu, maaf. Kami tidak dapat melakukannya. Karena saat ini, tempat teraman buatmu adalah disini." jawab Toushiro kalem. "Aku hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan padamu."

Rukia mengangguk. Toushiro melangkah agak maju, kemudian dia bicara dengan agak berbisik, "Kuchiki Taichou ditemukan pada sore hari sekitar pukul 4. Dan dia meninggalkan divisinya sekitar pukul 2. Kau berada dimana saat itu?"

"Saya ada di divisi 3, mengantarkan berkas kepada Kira Fukutaichou, lalu dipaksa oleh Ichimaru Taichou untuk minum teh bersamanya. Kemudian pukul 02.30 saya meninggalkan gedung divisi 3 dan pergi menuju divisi 7 untuk membahas mengenai edisi terbaru Seiretei Magazine sampai pukul 04.15." jawab Rukia.

Toushiro mengernyit, "Kapan terakhir kali kau bertemu Kuchiki Taichou?"

"Malam sebelum Nii-sama diserang. Aku tidak bertemu dengannya keesokan paginya, karena pelayan mengatakan kalau Nii-sama pergi pagi-pagi sekali untuk rapat para kapten."

"Hmm..." Toushiro bergumam pelan, terlihat berfikir.

"Lalu, kapan kau mengetahui jika kakakmu diserang dan tidak sadarkan diri?" tanya Kuroyuki. Rukia terlihat berfikir sejenak.

"Sekembalinya saya dari divisi 7, saya melakukan patroli di seluruh Seiretei dan baru kembali pukul 05.00, saya bertemu Renji di sekitar divisi 9 dan pergi bersamanya menuju divisi 2. Sesampainya disana, saya berbincang dulu dengan yang lain dan baru kembali pukul 6. Jika saya tidak salah, Hitsugaya Taichou ada di sana."

"Ya... Aku datang pukul 05.45."

Rukia mengangguk, "saya mengetahui soal penyerangan Nii-sama karena Ichigo yang memberi tahu."

Kuroyuki bergumam pelan, "Kau punya alibi yang cukup kuat. Ada kemungkinan, bahwa penyerang itu menyamar menjadi Kuchiki Fukutaichou."

"Semuanya jadi makin rumit." desis Toushiro pelan.

"Maaf..."

Semua orang menoleh ke arah asal suara. Anggotaa onmitsukido terlihat berdiri didepan pintu.

"Tanpa mengurangi rasa hormat, 15 menit anda sudah habis."

"Ah... Benar." jawab Kuroyuki pelan, kemudian, dia berbalik menghadap Rukia. "Satu pertanyaan lagi, dimana kau bertemu Kurosaki?"

"Di jalan menuju Kuchiki Mansion. Di sekitar kedai sake langganan Matsumoto Fukutaichou."

Kuroyuki mengangguk, "Baiklah. Terima kasih."

Rukia mengangguk, dia berdiri kemudian memberi salam pada mereka. Mereka keluar dari ruangan itu, dengan Sasakibe dan Rangiku yang keluar terlebih dahulu.

"Ah... Hitsugaya Taichou!"

Toushiro menoleh, "Ada apa?"

Rukia tampak ragu, namun akhirnya, dia bicara. "Sebelum bertemu Ichigo, saya bertemu seseorang. Karena tidak dapat merasakan reiatsunya, saya mengejarnya. Awalnya saya tidak percaya, tapi mereka begitu mirip..."

"Tunggu dulu... Apa maksudmu?"

Rukia menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya dengan pelan sebelum mulai bicara.

"Orang yang saya kejar itu... Dia mirip dengan Nee-sama."

Mata Toushiro menyipit berbahaya, "Kakak perempuanmu?"

Rukia mengangguk pelan, "Kuchiki... Hisana."

xxxKuroyuki Akihanaxxx

Jadi cerita detektif!

*ketawa ngakak*

RnR Please...~