Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.

Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara

Main Pair : NaruPara, NaruSara, KuraPara

Slight Pair : ShikaTema, KakaPaku, & NagaKonan

Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance, Mystery


Author's Note :

Jumpa lagi di chapter 15, readers !

Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Terimakasih, matur nuwun, arigato gozaimazu, thank you very much, syukran, gracias (*bungkuk hormat*).

Wow, setelah 15 chapter berjalan, akhirnya ada juga yang ngasih masukan *ambil tisu*. Pulau raksasa bernama Komodo dan naga guardian bernama Garuda ? Hmm...kedengarannya menarik ! Maaf yah belum saya tampilkan di chap 14, soalnya saya baru baca reviewnya setelah publish jadi gak tau deh...

Tapi ngomong-ngomong, Garuda itu asalnya dari mitologi India lho, bukan asli Indonesia. Bentuk burung Garuda yang jadi lambang negara kita sudah dimodifikasi jadi lebih mirip Elang Jawa tapi...usul akan saya pertimbangkan ! Nah, kalau ada yang pengen kasih saran lain, cantumkan saya di kotak review yaaaaa...!

Berikut pertanyaan readers di chapter kemarin: OroKabu adalah antagonis atau protagonis ? Apa peranan Droconos ? Apakah Paradox benar-benar menyukai Naru ? Bagaimanakah kelanjutan KuraPara ? Siapakah Deavvara ? Hemm...jawaban saya adalah...

.

.

TUNGGU CHAPTER 16-17 ! Karena banyak misteri akan terungkap setelah chapter ini !

.

P.S = Yang mau lihat gambar Etatheon –Paradox, Ortodox, Pyrus, Hermes, Parthenon, Droconos, Beleriphon, dan Styx, juga wujud Paradox saat menjadi gadis berusia 16 tahun, silakan klik akun Facebook saya (Dinosaurman Zeta-Zeta Theta) dan telusuri fotonya.

Enjoy read chap 15 !


PARADOX

パラドックス

Chapter Limabelas :

Into the Jaws of Death

Naruto's POV

.

.

.

"Hooooaaaaaaaammm..." aku menguap lebar-lebar. Rasanya ini sudah pagi. Aku menggaruk kepala. Tubuhku terasa sangat ringan, padahal sepertinya tadi malam aku baru bertarung dengan satu naga berukuran sebesar gedung. Aku mengusap mata, mendapati sebuah selimut sehalus sutera dengan warna kesukaanku telah melindungiku dari udara dingin...

...entah sejak kapan.

Tenda oranye ini tendaku. Aku sedikit bingung kenapa tiba-tiba aku bisa berada disini. Bukannya terasa kaku dan lesu layaknya orang bangun tidur setelah melakukan pekerjaan yang menguras tenaga, aku merasa tubuhku sangat ringan dan rileks. Aku memeriksa sekelilingku, dan mendapati...

"HUWAAAAAAA ! ! !" Aku berteriak histeris. Sosok di depanku –yang masih terbaring tidur- segera membuka mata. Aku menuding ke arahnya dengan jemari bergetar dan tubuh merinding, yang membuatnya tampak bingung.

"H-HANTU !"

.

PLAK

.

Aku mengusap pipiku.

"Apa hantu bisa menampar sesakit itu, Naruto ?" Tanyanya datar.

"B-benar juga," desisku. Uh, lebih sakit dari tamparan Sakura. "K-kau Paradox, ya ? Hehe, maaf. Rambut perakmu itu mengejutkanku. Ditambah kulitmu yang sangat putih membuatku salah paham," aku mencoba memberi alasan. Ia mendesah, lalu bangun. Menyingkap sedikit rambutnya.

"Hari yang bagus untuk berselancar," desisnya.

Aku terdiam beberapa detik, berusaha mencerna kata-katanya. "Berselancar ? Memangnya kita berkemah di pinggir pantai ? Walau ada danau, apa ombaknya cukup besar ? Dan kalaupun itu terjadi...aku tidak mau para Dracovetth laki-laki tersihir," semburku.

Dia menepuk dahi pelan. "Kau sungguh mengira aku akan berselancar di air ?"

Aku mengangkat satu alis. "Dimana-mana berselancar itu ya di air, Paradox !"

"Kali ini tidak," ujarnya. "Aku akan berselancar di tanah".

Nah, sekarang giliranku bingung. Berselancar di tanah ?

Paradox mengibas tangannya. "Sudahlah. Kita sarapan dulu, nanti kuajak kau untuk berlatih sesuatu yang mungkin belum pernah kau pikirkan".

"Bagaimana dengan Kurama ?" Tanyaku. "Dia nagaku juga, ingat. Dia pasti ingin ikut nanti".

"Soal itu," balas Paradox santai. "Aku sudah menemukan cara agar kita bertiga bisa selalu bersama".

Begitu dia keluar tenda, tubuhnya langsung meninggi dan terus memanjang hingga dalam waktu kurang dari lima detik, ia sudah berubah sepenuhnya menjadi seekor naga lagi. Aku tidak demikian peduli dan langsung mengambil sebuah handuk yang tergantung di tiang jemuran darurat yang terbuat dari bambu. Dekat danau, pagi hari pula. Pasti segar sekali untuk mandi.

"Mau kemana ?" Sebuah suara mengagetkanku. Kurama. Ia datang sambil menguap.

"Langkah pertama untuk mendekati Paradox adalah kau harus bersikap lebih sopan dan etis sedikit," aku langsung menghajarnya dengan nasihat.

Kurama tertawa kecil. "Baiklah, baiklah. Kalau tidak salah, kau tadi malam...pergi dengannya, ya ?"

Aku mengangguk jujur. "Kami ke Kuil Api, menghabisi satu naga kolosal yang bukan main besarnya. Paradox itu jauh lebih kuat daripada yang kemarin saat bertarung melawan Amsesthyst, lho ! Dia bisa menarik naga sebesar gedung dan melemparnya jauh-jauh," ceritaku antusias.

"Kenapa tidak mengajakku ?" Desisnya kecewa, walau tidak bisa menyembunyikan raut wajah takjubnya.

"Kau kan tidur !" Balasku. Emm...walau sebenarnya aku agak kasihan juga. "Tenang, Kurama. Paradox barusan bilang dia menemukan cara agar kita bertiga bisa selalu bersama," tambahku buru-buru. Mata merahnya kembali berbinar.

"Manusia-manusia bilang perempuan harus cukup tidur," sebuah suara –Parthenon- tertangkap oleh telinga kami berdua. Kurama beringsut ke belakang salah satu tenda, diikuti...aku, tentunya. Hihi, kami tidak ada maksud menguping, tapi...sudahlah.

Paradox menguap. Kali ini kaki depan kanannya menutupi mulutnya yang terbuka. Sedikit aneh, untuk seekor naga. Lebih mudah seperti singa atau harimau saja kan, menguap selebar-lebarnya tanpa ada yang memrotes. Tapi disini bukan savana atau rimba.

"Dalam sejarah hidupku yang panjang, aku sudah menikmati tidur cukup lama," desis Paradox. "Zarafah dan zebra menikmati hidup mereka walau hanya tidur sebentar-sebentar," belanya. "Aku mengatasi Titanis di Kuil Api semalam bersama Naruto," sambungnya.

Parthenon membeliak. "Titanis ?!" Serunya tertahan. "Jadi...mereka sudah bangkit, lagi," ujarnya. Paradox mengangguk.

"Akan lebih banyak di hari ini".

Mendadak, naga hijau itu menegakkan sayap. Ia memandang Paradox dengan tatapan menyelidik setengah menggoda.

"Kau semalam tidur bersama Naruto, yaaa ?"

.

.

UPS.

HAH ?

APA ?

Jiah, tiga ekspresi berbeda langsung berkerumun di otakku. Takut-takut, aku melirik Kurama –yang langsung memberikan deathglare padaku. Aku tersenyum kikuk. Semoga saja Paradox menjawab 'tidak'. Tapi sebelum itu, wajahku sudah memerah duluan. Faktanya dia –dalam bentuk manusia- memang berada di tendaku tadi barusan !

"Aku naga, kawan," jawab Paradox akhirnya (setelah sempat kikuk selama empat detik). "Dan dia manusia. Memangnya apa yang akan terjadi ? Lagipula aku takkan menganggapnya cemilan tengah malam," candanya.

Parthenon memiringkan kepala santai. "Tapi tetap saja, kalian tidur bersama. Ooohh...aku tidak pernah menyangka kau seromantis itu pada pengendaramu sendiri..." katanya dengan suara dibuat-buat lalu cekikikan sendiri. Paradox memasang wajah bosan.

"Bersihkan pikiranmu, Parthenon," Paradox hanya menanggapi dengan berkata seperti itu. Tawa Parthenon meledak. "Kau ini. Kami hanya tidur, titik," katanya akhirnya kemudian pergi. Mungkin sebelum aku berubah menjadi 'Naruto bakar' , 'Naruto panggang', atau Naruto-Naruto aneh lainnya, sebaiknya aku PERGI dari sini sekarang.

.

.

.

Sambil berenang, membasuh tubuh lelah nan penatku dengan air dingin langsung dari danau Kusa, aku tak habis pikir kenapa Parthenon bisa menduga seperti itu. Paradox tidur di tenda yang sama denganku ? Itu takkan terjadi kalau dia masih berwujud naga. Nyata-nyata aku melihatnya dalam wujud manusia yang sempat kukira hantu. Kenapa dia tidak tidur di luar saja dengan wujud naga ?

"Draco P belum menemukan seorang Dracovetth-pun yang benar-benar bisa menyatu dengannya ! Semua pengendara Draco P semata-mata hanya berhubungan seperti seseorang dengan pakaiannya atau hubungan antara seseorang dengan sandal dan sepatunya ! Belum pernah ada Dracovetth yang menyatu dengannya seperti hati dan jantungnya sendiri, atau istrinya sendiri, atau anaknya sendiri ! Itulah arti sebenarnya dari Anak-yang-diramalkan. Akan datang seorang Dracovetth yang mampu bersatu dengan Dia dan bersama-sama mempersatukan umat manusia dan bangsa naga..."

Jiraya-sensei !

Aku meneguk ludah. Argh, menyatu ?

Sebenarnya apa maksud dari 'menyatu' disini ? Selagi Paradox masih dalam perkemahan, mungkin sebaiknya nanti aku bertanya pada Jiraya-sensei.


Mountain of Grave

Ruangan itu sunyi. Gelap. Dan lembab. Sebenarnya cukup luas, tapi hanya sedikit cahaya yang masuk sehingga apa yang ada di dalamnya hanya terlihat samar-samar saja.

Suara langkah kaki mendadak terdengar, padahal satu-satunya pintu kayu tebal menuju ruangan itu –yang selalu berdecit ketika dibuka- tidak terdengar berisik samasekali.

Untuk sesaat, langkah kaki itu terhenti.

.

"Jadi ?" Sebuah suara yang sebenarnya tidak begitu keras menggema dalam ruangan yang lebih mirip gua itu.

"Mereka menemukannya," jawab suara yang lain. "Kurasa aku harus mengambilnya sebelum mereka mempraktekkannya".

"Tidak perlu," balas suara pertama. "Untuk mencapai tujuanmu, kau tetap harus bersabar".

"Kurasa kau sendiri bukan tipe orang sabar, Madara," balas suara kedua itu kasar.

Madara tertawa kecil. "Baiklah," ucapnya. "Sebagai...yah, hitung-hitung balas budimu, cobalah pergi lagi kesana dan ambil buku itu tanpa sepengetahuan mereka," titahnya.

"Jika aku ketahuan ?" Balas suara kedua.

"Hmm...hindari pertarungan sebisa mungkin. Paling tidak yang ringan-ringan sajalah".

"Bagaimana dengan halaman Buku Bingo yang sudah kudapatkan ?"

"Bakar saja. Toh itu tidak terlalu penting untuk kita," jawab Madara enteng.

.

"Oh, dan satu lagi".

"Kerangka kosong Juubi...Gedomazou...aku tidak tahu itu dimana," desis Madara. "Padahal kau tentu tahu, untuk membangkitkan Juubi, selain memiliki Rinnegan, kita harus menemukan kerangka kosongnya. Ketahuilah, sebelum kematianku aku membangkitkan Rinnegan berkat chakra dari sel-sel Hashirama yang kutransferkan padaku. Dengan Rinnegan itu, aku menarik kerangka kosong Juubi yang kusebut Gedomazou dari bulan ke bumi..."

"...tapi setelah aku dibangkitkan dengan tanduk Styx, Gedomazou itu hilang dari tempatnya semula," Madara mengakhiri penjelasan. "Aku ingin kau caritahu siapa yang memindahkannya. Kemungkinan besar...orang itu memiliki chakra campuran antara Uchiha dan Senju...karena hanya itulah satu-satunya sebab seseorang bisa mengendalikan bahkan meng-kuchiyose Gedomazou".

.

.

.

"Nagato !"

"Hai', Hanzo-sama !"

"Bawalah Hydra," titah pria bermasker aneh itu, kemudian berdiri dari kursinya. "Dan serang Konoha," lanjutnya cepat.

Nagato menelan ludah. Ia masih belum beranjak dari tempatnya. Hanzo meliriknya sedikit curiga.

"Ada apa ?"

Laki-laki berambut merah itu tidak menjawab.

"Apa jangan-jangan kau sudah melepaskan kontrak segel kuchiyose-mu dengan Hydra ?" Selidik Hanzo. Nagato menggeleng.

"Dia masih berada dalam kendaliku, Hanzo-sama," balas Nagato tenang.

"Lalu apa yang membuatmu...risau ?" Balas Hanzo sambil menyarungkan pedangnya.

"Kita akan menekan Lima Negara Besar sampai...sejauh ini ?" Tanyanya ragu. Hanzo mendadak tertawa seperti orang kesurupan.

"Dengarkan aku, Nagato ! Tidak ada yang boleh meremehkan Amegakure ! Kita memang negara tertutup dan terlibat perang saudara, tapi mungkin akan segera kuumumkan pada dunia, KITA MENANG !" Sentaknya. "Itu semua berkat kau. Kekuatan matamu yang istimewa itu ! Aku berhutang budi padamu walau kau adalah bawahanku. Sekarang pergilah ke Konohagakure dan hancurkan satu-satunya desa yang masih utuh itu seperti daun yang dibakar api," katanya dengan nada setengah mengusir.

.

.

"Apa...ini jalan menuju kedamaian, Hanzo-sama ?" Balas Nagato lirih.

Pria bermasker itu menatap laki-laki bersurai merah itu tajam dengan sepasang mata cokelatnya.

"Tentu," jawabnya pendek. "Kita...akan buat setiap orang merasakan penderitaan. Dengan itulah manusia bisa bersatu. Sejak dulu, dan akan terus ada hingga masa depan, rasa sakit dan kepedihan-lah satu-satunya perasaan yang cukup kuat untuk mengikat umat manusia. Mereka akan merasakan keputusasaan dan kemudian tidak akan menolak rencana kita dan Madara," jelasnya panjang lebar. "Sekarang pergilah, dan buatlah aku makin bangga".

.

.

.

"Nagato !" Panggil Konan ceria. Ia langsung menghampiri temannya sejak kecil itu. "Kau ditugaskan ?"

Nagato mengangguk. "Ambil capingmu. Kita berangkat".

"Kemana ?" Tanya Konan sambil berusaha menyamai kecepatan langkahnya.

"...Konohagakure".

Konan terdiam sesaat. "Jadi...pada akhirnya Lima Desa Besar akan hancur ?" Desisnya lirih. Nagato mengangguk pelan dengan kurang yakin.

Mereka berjalan keluar dari area Pegunungan Kuburan, kemudian Nagato melakukan handseal, meng-kuchiyose seekor burung enggang raksasa dengan empat kaki atas-bawah dan 'aksesoris' tindikan-tindikan besi hitam raksasa dan tentunya...mata besar berpupil Rinnegan. Nagato dan Konan melompat bersamaan ke punggung makhluk raksasa itu dan kemudian langsung terbang ke angkasa.

Selama berkilo-kilometer perjalanan mereka ke Barat, Nagato diam saja. Dia seakan termenung memikirkan sesuatu sampai Konan menyikutnya.

"Melamun saja," godanya. "Apa yang kau pikirkan ?"

"Aku...mulai sedikit meragukan rencana ini," jawab Nagato pelan.

Konan tersenyum kecil. Dari dulu sampai sekarang, Nagato tidak pernah menyembunyikan apapun darinya. Apa saja yang dipikirkannya pasti diberitahukannya pada Konan, selama gadis itu menanyakannya. Ia suka dengan pribadi yang seperti ini, jujur dan tidak memendam masalah sendiri.

"Kenapa ?" Konan kembali berfokus ke 'topik'.

Nagato menghela napas panjang. "Pikirkan," katanya, "menghancurkan desa-desa, membuat orang-orang menderita. Makin banyak orang tak berdosa di luar sana akhirnya mati sia-sia. Dan mereka...menyebut itu jalan menuju kedamaian ?"

Konan tercenung.

Semua yang Nagato katakan ada benarnya juga. Ia menghela napas, meniru tingkah Nagato sebelum menjelaskan tadi.

"Jadi kau dilema ?" Selidiknya. Nagato mengangguk.

"Apa harus kubunuh lebih banyak lagi orang...atau harus kukhianati kepercayaan Hanzo-sama ?" Tanya Nagato pada dirinya sendiri. Konan memegang bahunya. Mata almondnya menghunjam Rinnegan Nagato dalam-dalam, tapi perlahan melembut.

"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, Nagato," desisnya. "Aku juga...bingung. Apakah Madara-sama lebih baik dari Hanzo-sama atau tidak. Aku mendengar pembicaraan Hanzo-sama dengan beberapa pengawal elitnya tentang rencana untuk memberontak...dan tampaknya Madara juga berniat memanfaatkan kita, Akatsuki, untuk mencapai tujuannya sendiri," lapornya.

Nagato mengangkat satu alis, heran. "Kau ini, selalu saja menaruh curiga terlalu dalam," tanggapnya.

"Tidak. Ini berdasarkan bukti, dasar," balas Konan ketus. "Tapi cepat atau lambat, kita harus mengambil keputusan. Enyahkan Kisame dan Kakuzu, kuharap kita...memilih jalan yang benar," sambungnya.

"Dan darimana kau, atau kita, tahu bahwa kita telah berada di jalan yang benar ?" Balas Nagato seperti polisi yang menginterogasi penjahat.

"...Ketika...kita tidak merasa gelisah lagi," balas Konan pelan. "Kurasa...sekarang banyak orang yang menganggap Akatsuki –dengan kata lain, kita, sebagai organisasi jahat," katanya.

"Itu pasti," timpal Nagato. "Kita hancurkan empat dari lima desa besar. Itu...perbuatan yang memalukan," imbuhnya.

Konan mengangguk. "Lalu...kalau kau menganggap itu saja sudah memalukan, kenapa kau masih tetap menuju Konoha ?"

"Ini tugas, Konan," balas Nagato ringan.

"Tugas ?" Balas Konan dengan nada meninggi. "Apa kau menganggap sekedar tugas dari atasan yang bahkan belum tentu lebih kuat dan hebat dari dirimu sendiri lebih penting daripada keselamatan nyawa orang banyak ?!"

Nagato terkejut mendapati Konan berbicara dengan nada setinggi itu padanya. Itu pertama kalinya sejak bertahun-tahun. "Lalu...aku harus bagaimana ?" Tanyanya pasrah.

Konan mendengus kesal. "Putar haluan," katanya ketus, "jangan pernah hancurkan Konoha, atau desa apapun bahkan jika itu diperintahkan Madara-sama !"

"Kau yakin ?"

"Tentu saja ! Oh, Nagato, jangan biarkan dirimu hanya sebagai boneka mainan Hanzo-sama !" Seru Konan. "Jadilah dirimu sendiri walau itu menyakitkan !"

Burung enggang raksasa itu akhirnya putar haluan ke arah Timur, kembali ke tempat semula.

"Sebentar," desis Nagato. "Kalau Hanzo-sama bertanya padaku, apa yang harus kukatakan ?" Tanyanya bimbang.

"Apa lagi ?" Konan malah balik bertanya. "Suara hatimu," bisiknya. "Katakan apa yang ada dalam sanubari, Nagato. Ketika aku melihat Suna dihancurkan oleh Styx, aku juga tidak tega melihatnya. Sejak itu sudah kulepaskan kontrak kuchiyose-ku dengan naga itu. Hatiku sakit melihat orang-orang tak bersalah menanggung kesedihan dan kesengsaraan yang terlalu berat," ucapnya sambil menatap laki-laki bermata ungu di sampingnya penuh harap.

"Aku tidak yakin Hanzo-sama bisa luluh hanya dengan kata-kata kita..."

"...tapi akan kucoba".

Konan yang semula tegang sekarang tersenyum lega. Ia beringsut mendekat, melingkarkan tangannya ke punggung Nagato. Meletakkan kepalanya di bahu Uzumaki itu dengan nyaman.

.

.

"Ehm. Konan. Kenapa. Kau ?" Tanya Nagato tersendat-sendat dengan jarak dua detik antarkata. Konan tersadar dan langsung melepaskan pelukannya, spontan memalingkan pandangan ke arah lain. Berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.

Kenapa aku begitu tampak refleks melakukan itu ? Tanya gadis berambut biru itu pada dirinya sendiri, membetulkan caping dan origami kertasnya.


Kusagakure

Setelah memastikan semuanya rapi dari ujung rambut hingga ujung kaki, aku keluar dari tenda oranye besarku menuju tempat berkumpul para prajurit. Disana beberapa naga juga sudah berkumpul termasuk empat Etatheon. Emm...mungkin lima. Dari jarak dua puluh meter aku melihat seekor naga berbentuk mirip naga-naga yang biasa dilukis dalam lukisan dan kaligrafi Cina kuno, tubuh seperti ular, empat kaki seperti kadal dengan cakar melengkung indah, tanduk rusa di kepalanya, dan di lehernya tampak sebuah kerah melingkar dari kulit –yang bisa terkatup dan terbuka, mengingatkanku pada Chlamydosaurus kingii –kadal berjumbai- yang biasa membentangkan jumbai di lehernya jika menemui predator.

Sebelum aku menyapanya karena aku tahu siapa dia, (kira-kira, sih) naga itu lebih dulu menemukanku.

"Ohayou, Naruto-sama !" Sapanya. Empat taring di mulutnya terlihat.

"Pagi juga," balasku. "Kau Pyrus ya ?"

"Benar," jawabnya bangga. "Demi Jupiter ! Ah, kau sudah besar, Naru ! Hmm...terakhir kali melihatmu kau masih berwujud bayi yang hanya sebesar ujung cakarku. Tapi sekarang lihatlah ! Kau makin mirip ayahmu saja," selidiknya sambil mengamatiku. Aku mengernyit.

"Pyrus sebelumnya adalah naga milik ayahmu," terang Jiraya-sensei enteng. Naga panjang berwarna merah dengan motif sisik daun berwarna hijau ini mengangguk mengiyakan.

"Ayahmu hebat ya ? Begitu naga pertama, langsung dapat Etatheon," timpal Pyrus, entah memuji ayahku atau memuji dirinya sendiri.

"Kau meleset beberapa jam," ujarku. "Paradox bilang kau akan sampai sekitar subuh. Sekarang sudah jam setengah sembilan pagi".

"Yah...aku telat karena beberapa sebab. Ada dua Kaum Kolosal yang mesti kutangani dalam perjalanan. Demi Procuoan, huh, tidak kusangka mereka akan bangkit secepat ini," gerutunya. "Hari ini pasti lebih banyak lagi. Konstelasi-ku mulai sejajar dengan konstelasi Hydra dan Ammaro," katanya sambil menatap langit. Tapi tentu saja, karena matahari menguasai langit dengan sinarnya, bintang-bintang itu tidak terlihat.

Aku mengernyit mendapati gaya bicara Pyrus yang aneh. "Dia suka menggunakan ungkapan dengan benda-benda langit," jelas Parthenon. "Entah itu planet, komet, bintang, nebula, atau galaksi".

"Semuanya," Paradox memotong pembicaraan kami. "Suruh semua prajurit yang ada disini menghadapku di lapangan ini. Sekarang. Aku akan jelaskan strategi penyerangan kita, yang juga mewakili Lima Negara Besar," jelasnya cepat. Beberapa orang yang ada disitu segera mengangguk dan langsung berlari cepat-cepat ke seluruh penjuru perkemahan. Tak makan waktu lama, puluhan –mungkin ratusan- prajurit dari berbagai negara berkumpul di lapangan rumput luas itu. Tim Paradox berada pada barisan terdepan. Di depan kami, lima naga dewa dengan Paradox di tengah, berjajar gagah.

Naga cermin itu mengedarkan pandangan berkeliling, memeriksa kelengkapan seolah-olah dia sudah menghafal semua wajah dan nama serta ciri-ciri fisik lainnya yang dimiliki semua prajurit yang tersisa. Ia melirik Pyrus dan mengangguk.

Naga merah itu berdehem, lalu menjelaskan, "Madara telah bergabung bersama Hanzo. Sekarang mereka berdua bermarkas di Pegunungan Kuburan, di semenanjung antara Hi no Kuni dan Kaze no Kuni, beberapa kilometer dari barikade terluar," dia memulai. "Amegakure ditinggalkan dengan hanya beberapa puluh penjaga, tapi kita tidak akan menyerang desa hujan itu. Naga Kaum Kolosal mulai bangkit, dan mereka adalah naga-naga super raksasa dengan ukuran sebesar gedung-gedung pencakar langit. Tapi sejauh yang kuperkirakan dan ini sangat akurat, mereka tidak berada di Lima Negara Besar. Kebangkitan kolosal pertama muncul di Pegunungan Kuburan, dan yang kedua di laut," Pyrus mengakhiri penjelasan.

"Para prajurit," Paradox mengambil alih. "Untuk sekarang, kuperintahkan kalian semua untuk pulang ke negara masing-masing. Jangan cemas mengenai keberadaan Pembantai Bersayap dan Kaum Kolosal, mereka semua sedang dorman. Pembantai Bersayap sedang menunggu komando Madara dan Kaum Kolosal belum sepenuhnya bangkit. Lima Negara Besar nyaris lumpuh seperti kalian ketahui, dan ini berarti dunia sedang berada dalam keadaan vacuum of power, pengosongan kekuasaan".

"Saat kalian pulang, hindari rute laut," saran Hermes. "Kaum Kolosal pertama bangkit di darat, tapi baru satu ekor. Sisanya akan lebih dulu bangkit di laut, dan mereka adalah naga-naga yang mampu melahap kapal layar raksasa dengan sekali caplok, lebih gampang daripada saat kalian makan sandwich".

"Intinya, kalian aman selama tidak berada diatas laut," imbuh Beleriphon. "Ada pertanyaan ?"

Kapten Ao mengangkat tangan. "Apa yang harus kami lakukan begitu sampai di negara masing-masing ?"

Beberapa prajurit lain mengangguk-angguk, sepertinya mereka juga ingin menanyakan hal yang sama.

"Susun strategi bersama Daimyo dan Kage," jawab Parthenon. "Katakan pada mereka bahwa..."

.

.

.

"Perang Dunia Naga Keempat akan dimulai..."

.

KUJAMIN banyak orang merinding begitu Parthenon mengatakan enam kata maut itu. Aku meneguk ludah. Perang ? Secepat ini ?

.

.

Hening sesaat. Desiran angin mengibarkan panji-panji Hi, Kaze, Tsuchi, Kaminari, dan Mizu. Rerumputan bergoyang mengisi kekosongan suara ketika mereka saling bergesekan. Semak-semak bergemerisik. Semua membisu. Memikirkan kemungkinan terburuk yang akan mereka alami, entah sehari, dua hari, atau seminggu kedepan.

Tidak ada yang bersuara.

.

.

"HEI !"

.

Kuharap tidak ada yang terkena serangan jantung begitu mendengar sentakan keras menggelegar itu, yang seolah berasal langsung dari langit.

Sang Paradox menatap kami semua tajam-tajam. Hebat juga ratusan manusia bisa termonitor total oleh sepasang mata bulat kuning-hitam itu.

"KALIAN PRAJURIT, ATAU TIKUS ?" Sentaknya keras-keras.

.

"KALIAN DRACOVETTH, ATAU PENGENDARA CACING ?"

.

"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi sedetik kedepan setelah ini ! Bahkan aku ! Tapi itu tidak akan membuat kita berhenti berusaha ! Tidaklah kalian disebut prajurit atau pengendara naga atau apapun yang kalian ingin pakai sebagai titel yang melengkapi nama kalian, jika mendengar saja membuat kalian jeri ! Bukankah para insan disini masih cukup tangguh setelah diluluh lantakkan oleh Ortodox ? Bukankah kalian telah diberi amanah oleh para Kage untuk menjalankan misi sebaik-baiknya ? Dan kalian masih hidup hingga sekarang ini ! Itu sebuah bukti bahwa kalian telah ditakdirkan menjadi prajurit !"

"Apa yang kudapat disini ? Kumpulan manusia-manusia tangguh kaya tekad atau kumpulan kurcaci lemah tanpa harapan ?!"

"Lihat aku, kalian semua ! LIHAT AKU !" Serunya dengan nada tinggi.

.

"JANGAN ADA YANG TERTUNDUK, LIHAT AKU !"

.

"Aku ada bersama kalian. Aku ada di setiap jiwa kalian. Aku mengalir dalam darah kalian ! Menjadi daging kalian dan menjadi semangat kalian ! AKU ADA BERSAMA KALIAN ! Dan itu cukup untuk membuat kalian menyerukan kebenaran dan memberantas pemberantas, menghancurkan penghancur, menindas penindas, dan menyiksa penyiksa !" Serunya dengan suara menggelegar.

.

"Jika ada yang tidak siap menghadapi perang ini, lebih baik kalian mati dengan hina di tanganku sekarang juga," ancamnya dengan pandangan tajam.

.

"Pulanglah, dan ketika kalian berkumpul lagi, aku ingin melihat wajah penuh semangat dan tekad. Mengenai perang selanjutnya, akan dibicarakan dengan para Kage dan Daimyo. Tim Paradox juga akan kembali ke Konoha, dan empat Etatheon disampingku sementara aku, Naruto, dan Kurama akan berlatih. PARA PRAJURIT ! Kalian hanya punya waktu tiga hari sebelum detik yang akan menentukan nasib dunia, akankah dibawa ke kehancuran umat manusia dan bangsa naga, atau dibawa ke perdamaian abadi dan toleransi bersama antara umat manusia dan bangsa naga !"

"Bubar," desis Paradox mengakhiri pertemuan.

Ratusan manusia dan naga yang berkumpul disana segera kembali ke tenda masing-masing, bersiap berkemas dan pulang mengabarkan berita terbesar sepanjang sejarah hidup mereka. Hinata mendekat ke arahku.

"Hei," dia menepuk pundakku. "Semoga berhasil," ucapnya singkat. Klise sekali.

"Aku bersama naga terkuat di dunia, tidak ada yang perlu dikhawatirkan !" Seruku senang. Hinata mengangguk.

"Apa itu benar ?" Desisnya setelah terdiam beberapa detik.

"Apanya yang benar ?" Aku balik bertanya.

Hinata menghembuskan napas berat. "Perang Dunia Naga Keempat," bisiknya.

Aku terdiam sesaat. "Sulit untuk mengatakannya," Kurama malah menjawab duluan.

"Mungkin," jawabku sekenanya. Perang selalu menjadi momok yang menakutkan bagi siapapun bahkan yang menang sebelumnya. Sungguh aneh bicara tentang peristiwa ini. Yang kalah akan mati, yang menang hanya jadi veteran. Menang jadi abu, kalah jadi arang. Tidak ada untungnya.

Paradox kemudian berjalan ke arahku.

"Pegang Kurama," perintahnya singkat. Setelah itu, bisa kupastikan dia melihat wajah bingung kami berdua. Ralat, bertiga, bersama Hinata.

"Di bagian mana ?" Tanyaku akhirnya.

"Di mana saja," jawab Paradox cepat. Akhirnya aku menyentuh bahu naga oranyeku. Dan...

Sosok Kurama bersinar, kemudian perlahan berputar dan seakan masuk ke tubuhku. Aku bingung sendiri.

"Sekarang Kurama sudah bersatu denganmu, dia dapat berkomunikasi denganmu langsung melalui pikiranmu. Tapi karena aku juga bisa membaca pikiranmu, aku juga bisa berkomunikasi dengannya. Singkatnya, kita bertiga akan selalu bisa berkomunikasi dan...tidak akan pernah jauh satu sama lain. Kurasa kau juga tidak perlu lagi mengkhawatirkannya," terangnya.

"Naruto !" Sebuah suara memanggilku dari alam bawah sadarku.

"Kurama !" Aku menjawab dalam hati.

"Hehe, bagus juga kita bisa berkomunikasi dengan suara begini," ujarnya. "Tapi sebentar, bagaimana caranya aku keluar dari tubuhmu ?!"

"Kau bisa keluar kapanpun kau mau," jawab Paradox. "Dan masuk kembali kapanpun kau mau. Selagi kau berada dalam tubuh Naruto, kau bisa melihat apa yang Naruto lihat, dan mendengar apa yang Naruto dengar," dia memberi petunjuk. "Ayo bergegas," ajaknya, dan aku segera melompat ke punggungnya.

"Beleriphon," panggil Paradox. "Kau juga ikut".


Konohagakure, Hi no Kuni

"Tsunade-sama, saya menerima transmisi Shintenshin dari Ino, putri saya, yang sedang berada di Kusagakure bersama para prajurit yang tersisa," lapor Inoichi. Tsunade berpaling dari lembaran kertas yang sedang ditekuninya.

"Semua pasukan hari ini akan pulang ke desanya masing-masing, dan para Kage juga disarankan pulang kembali memimpin desanya. Tidak peduli segenting apapun situasinya, mereka diperintah untuk tidak membuang-buang waktu, mengesampingkan kepentingan pribadi, dan menyusun pasukan dalam rangka...menghadapi perang".

Begitu mendengar kata 'perang' Godaime Hokage itu langsung menggebrak meja kerjanya.

"Siapa yang berani-beraninya mengatur strategi begitu seenaknya ?" Seru Tsunade kesal. "Aku sudah cukup lelah mengurusi Konoha yang belakangan menjadi semacam tempat pengungsian sekaligus kedatangan seluruh klan Uchiha kemari ! Lima Kage sedang frustasi dan mereka malah membicarakan perang ?"

"Yang memerintahkan strategi ini adalah..."

"...Paradox itu sendiri," kata Inoichi takut-takut.

Mata sang Godaime membesar. "P-Paradox ?" Ucapnya tersendat-sendat. Inoichi mengangguk.

"Kurasa saya belum sampaikan ini. Anda juga harus menyampaikan kabar bagus ini pada empat Kage lainnya agar mereka punya alasan untuk berjuang kembali, menumbuhkan kembali semangat mereka," sarannya. "Beberapa jam setelah penyerangan Ortodox, Paradox datang langsung ke Naruto dan paginya ia menyelamatkan pasukan dari serangan Amsesthyst," jelas Inoichi.

Tsunade mengangguk cepat. "Pasti akan kusampaikan," ujarnya cepat. "Tapi...perang ? Aku tidak pernah mengira akan menjumpai perang keempat secepat ini..." desisnya.

Inoichi mengangguk pelan. "Dan mungkin ini akan jadi perang terbesar sepanjang sejarah, mengingat musuh kita adalah Madara, Hanzo, dan tiga pengkhianat Etatheon. Ditambah lagi sepertinya sekarang Kaum Naga Kolosal sudah mulai bangkit kembali, dan aku ragu mereka memihak pada kita. Perang kali ini tidak main-main..." gusarnya.

"Soal itu, akan kubahas bersama empat Kage lainnya," sambar Tsunade.


Uchiha Temple

"Penjara ini...menyerap chakra..." desis Sakura.

"Huh ? Kau baru mengetahuinya ?" Selidik Kizashi. "Kalau ini hanya kurungan besi biasa, aku mungkin sudah berusaha mengiris-irisnya berhari-hari lalu !" Imbuhnya sambil memukul salah satu besi penyangga sel.

Sakura mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, berusaha mencari sisi lemah sel. Tapi sejauh ia memandangnya, tidak ada bagian dari sel ini yang retak, rusak, atau tampak lapuk. "Satu-satunya cara kita keluar dari sini adalah jika ada objek berukuran besar dari luar menghantam sisi atas," ujarnya pelan, takut membangunkan Hidan –yang sedang tertidur di kursi dekat situ.

"Bukannya lebih baik menunggu diselamatkan ?" Selidik Kizashi.

Sakura menghela napas. "Kalau ada orang yang mau menyelamatkan kita," dengusnya. "Kita harus ke..."

.

PRANG

.

Sebuah gelas jatuh dari meja dan pecah. Bukan tanpa alasan.

"G-gempa bumi ?" Selidik Kizashi. Sakura menggeleng.

.

BUUUMMM ! ! ! Terdengar suara berdebum keras dari luar dan dinding kuil bergetar, membuat Hidan terbangun. "Apa-apaan ini ?!" Gerutunya.

Satu gelas lagi pecah. Ia menggebrak sel. "Kalian yang melakukan ini ?!" Serunya.

.

BRAAAKKK ! ! !

Dinding sebelah jebol dan menampakkan sosok seekor Tailtorn, naga raksasa dengan empat kaki –kaki depannya jauh lebih besar dan kuat daripada kaki belakangnya, membuat tubuhnya terlihat menurun. Dua tanduk di kepala kecilnya tersusun seperti cula badak, dengan gigi-gigi raksasa berwarna gading menyembul dari rahangnya yang kokoh. Sisiknya besar-besar dan tampak seolah terbuat dari lempengan baja. Lempengan-lempengan tulang berwarna oranye menghiasi punggung hingga pangkal ekornya. Sayap raksasa berwarna hitam mengkilat bertengger di punggungnya yang kekar, dan ujung ekornya bercabang dua seperti lidah ular –masing-masing cabang berbentuk seperti cakar raksasa.

Mata bulat oranye-nya mengawasi keadaan sekitar. Kizashi merinding dan nyaris berteriak tapi Sakura buru-buru menutup mulut ayahnya. Menempelkan satu telunjuk di bibirnya.

"Tailtorn melihat berdasarkan gerakan," bisik Sakura. "Jika kita tidak terlihat, dia tidak akan mengira kalau kita..."

"HOI NAGA SIALAN !" Hidan menyeru keras dan mengacungkan sabit bermata tiganya. "Berani sekali kau mengganggu tidur siangku, brengsek !"

Tailtorn mendengus. Uap panas dengan beberapa percikan api berembus deras dari lubang hidungnya yang sebesar jendela rumah. Ia mengayunkan ekor bercabangnya, langsung menghancurkan ruangan itu dan beberapa ruangan yang bersebelahan dengan sekali kibas. Sekaligus...menghancurkan sel yang mengurung Sakura dan Kizashi.

Naga kolosal itu menggeram. Geraman yang begitu dahsyat hingga menggetarkan beberapa puing-puing batu.

Kesempatan, batin Sakura. Dengan gesit ia melompat keluar dari sisa-sisa reruntuhan. "Ayah !" Serunya. Kizashi menggeleng.

"Pergilah sendiri, aku harus ke Rouran ! Kau temui saja tim yang kau tinggalkan dan berusahalah untuk bergabung kembali ! Ayah akan baik-baik saja, dan yang lebih penting berdoalah semoga mereka mau menerimamu ! Kau jelaskan saja apa yang kita ketahui tentang Madara !" Seru Kizashi sambil mengibaskan tangan. Pria berambut bunga mekar itu langsung berlari secepat yang dia bisa, sementara Sakura pergi ke ruang penyitaan yang juga sudah hancur.

Hidan bangun dengan wajah marah. "Hei kau !" Ia menuding Sakura dengan sabitnya. "Awas kalau kau berani pergi !" Ancamnya.

"Memangnya kenapa kalau aku pergi ?" Balas Sakura dengan wajah datar. Hidan menggeram.

"Aku akan membuatmu layu, Sakura !" Serunya sambil berlari cepat ke arah gadis musim semi itu. Memutar-mutar sabitnya, dan mengeluarkan sebuah tombak besi dari balik jubahnya.

Gerakan yang salah besar.

Sebuah bayangan raksasa menaungi pria berambut perak dengan mata violet –yang masih sempat menoleh ke atas.

"Naga sialan..." desisnya.

.

.

BUUUUMMMM ! ! !

.

Sakura mengela napas. Mata Tailtorn sangat kecil jika dibandingkan keseluruhan tubuhnya, tapi peka terhadap gerakan makhluk 'sekecil' manusia.

BRUK

.

"Lama tidak bertemu, Sakura..." desis sebuah suara.

Sakura menoleh, dan mendapati sosok naga yang pernah dikalahkannya bersamaku. Tiga kepalanya mendesis marah. Ceberus.

"Pergilah jauh-jauh dari sini," usir Sakura sambil mencabut pedangnya. "Kalian sudah pernah kukalahkan".

Kepala tengah tertawa meremehkan. "Itu kan disengaja. Kalau bukan karena perintah Madara, kau sudah kulahap !"

"Beraninya kau mencuri kesempatan saat Madara, Zetsu, dan yang lainnya sedang tidak ada untuk meloloskan diri," timpal kepala kiri.

Sakura memutar bola mata malas. "Daripada mengingat masa lalu, setidaknya berharaplah kalian tidak terinjak," gertaknya. Ketiga kepala itu tersadar dan semuanya langsung memalingkan pandangan pada sosok raksasa yang bayangannya menaungi mereka sejak tadi.

"Selama kita tidak bergerak, tidak masalah," ujar kepala kanan menenangkan.

"Tapi kalau kita diam saja berarti kita tidak bisa menyerang Sakura, bodoh !" Seru kepala tengah.

"Haruskah kita menunggu sampai dia pergi ?" Kepala kiri akhirnya menjadi penengah.

Sakura merogoh tasnya –yang sudah diambilnya dari tempat penyitaan, dan kini memegang sebilah kunai dan mengikatkan dua kertas peledak di ekor kunai. Lantas ia melemparnya tinggi-tinggi, tapi sengaja tidak dilempar ke arah Tailtorn.

"Meledaklah !" Serunya.

"Gadis itu gila !" Seru kepala kanan. "Kalau begini caranya kita pasti terbaca !"

Tanpa sadar, tubuh Ceberus bergerak beberapa meter dari tempatnya semula karena terlalu terkejut. Dan...Tailtorn melihatnya.

Naga raksasa itu membuka mulutnya. Tampak amandel raksasanya yang berwarna merah seakan menjadi pembatas antara dunia luar dengan 'dunia' di perutnya yang besar dan gelap. Secercah cahaya muncul dari batasan itu, meluas dan perlahan berputar...membentuk semacam tornado api yang berotasi secara horizontal, bukan vertikal.

Sakura melakukan handseal.

"原水: 水制の術 !"

Suiton: Suiro no Jutsu

(Elemen Air: Penjara Air)

Suiro no Jutsu biasanya dilakukan untuk memerangkap lawan di penjara yang terbuat dari air dan membuat mereka terkurung di air padat, namun kali ini Sakura melepaskan jutsu itu untuk mengurung –atau lebih tepatnya, melindungi dirinya sendiri dari tornado api Tailtorn, disamping itu ia tahu bahwa kecepatan lari manusia manapun takkan bisa diandalkan untuk melarikan diri dari tornado api naga raksasa itu yang dapat mencapai jarak serang yang sangat jauh.

Dan itulah yang terjadi pada Ceberus.

"Cih ! Inilah kenapa aku benci Kaum Kolosal !" Seru kepala tengah sambil terus berusaha berlari.

"Di saat seperti ini, akan sangat menguntungkan kalau kita punya sayap," celetuk kepala kiri.

"Berlindung di reruntuhan !" Seru kepala kanan, dan mereka melompat menuju sebentuk dinding tebal yang belum dihancurkan. Tepat sebelum ujung ekor Tailtorn raksasa mencapit mereka. Ujung ekor itu bercabang, jadi bayangan saja itu seperti semacam capit kepiting berukuran super raksasa. Ceberus yang sebesar badak jadi mirip kacang kapri yang dicapit oleh sebuah sumpit !

Tailtorn mengarahkan ujung ekornya pada mulutnya yang terbuka lebar, dan langsung melempar naga berkepala tiga itu masuk ke mulutnya dan menutupnya, tidak akan mengizinkan Ceberus keluar lagi untuk selamanya.

Sakura menghentikan jutsu elemen airnya. Ia menatap Tailtorn yang menjilat bibir puas. Sakura meneguk ludah. Ia ingat naga raksasa ini bisa mengenali warna. Dan Tailtorn menyukai satu diantara ribuan warna baik primer maupun sekunder dan campuran.

Merah.

Sakura menunduk, dan ia tahu sekarang sedang mengenakan baju tanpa lengan, yang berwarna merah. Dan sekarang Tailtorn mengamatinya, walau sorot matanya tampak berbeda dari sebelumnya. Mendadak, naga sebesar gedung itu menjatuhkan kepalanya hingga menggetarkan tanah. Ia mendengus lembut, dan menjulurkan lidah seperti seekor anjing jinak.

Sakura tersenyum kecil. "Semua yang orang-orang katakan tentang Kaum Kolosal tidak sepenuhnya benar," ujarnya senang. "Kurasa kau tipe abnormal. Aneh memang, tapi ini bagus," katanya pada dirinya sendiri. Ia lantas memanjat naga itu melalui rahang bawahnya, kemudian mendekati matanya yang berdiameter hampir sama dengan pintu rumah.

"Aku butuh bantuan," katanya lembut. "Kuharap mereka mau mempercayaiku, meski kedengarannya mustahil".

Naga raksasa itu bangun dan membentangkan sayap. Sakura buru-buru mengambil posisi –di kepalanya, bukan di leher atau punggung. Tidak ada tali kekang, sanggurdi, atau pelana, tapi aku yakin tidak ada peralatan yang cukup besar untuk makhluk yang bahkan paus biru tampak seperti kurcaci begitu disandingkan dengannya.

Tailtorn melenguh. Sakura memukul kepalanya keras-keras. Untuk sebuah alasan, karena pukulan taijutsu terkuat sekalipun hanya akan terasa seperti sentuhan satu jari jika diukur berdasarkan tubuh sebesar itu. "Ayo, kawan," seru Sakura pelan-pelan. "Kita ke Kusagakure. Siapa tahu mereka masih ada disana," lanjutnya, dan Tailtorn segera mengepakkan sayap, butuh beberapa menit sebelum ia sempurna terbang ke udara dan melaju cepat dengan sedikit susah payah.


Kusagakure

Kami mendarat di ujung sebuah tebing. Di bawah, tanah datar dengan beberapa bukit di sekeliling kami. Rerumputan...menyelimuti tanah sejauh mata memandang, dimana beberapa batu berwarna kontras tampak menyembul dibalik permadani hijau raksasa. Hanya sedikit pepohonan yang ada disini, dan kurasa itulah yang membuat tempat ini sempurna untuk latihan.

"Nah," ucap Paradox. "Kita akan berselancar disini," lanjutnya.

Mengetahui aku bingung, Beleriphon menimpali, "Sudahlah. Duduk dan lihat saja."

Paradox terjun dari ujung tebing, dan begitu keempat kakinya menyentuh tanah, aku jadi sulit membedakan apakah ini genjutsu atau nyata. Ia berselancar dengan keempat kakinya. Maksudku, ia bergerak diatas tanah yang bergelombang seperti air laut yang ditiup angin di pantai ! Ia hanya menggerakkan keempat kakinya sedikit-sedikit, dan tanah mendorongnya maju, bergeser, atau meliuk seolah dia benar-benar berselancar.

Aku menganga takjub. Aku yakin Kurama juga sama terkejutnya.

Puas menunjukkan aksinya –atau dalam kata akrabku, pamer- ia kembali ke atas tebing.

"Cobalah," katanya.

"Bagus," aku menanggapi. "Mungkin aku perlu persediaan seratus pasang sepatu baru."

Paradox geleng-geleng kepala. "Tidak perlu. Fokuskan chakramu di telapak kakimu dan masukkan chakra elemen tanah dan angin ke dalamnya secara bersamaan. Ini tak sesulit kedengarannya. Cobalah," ia memberi instruksi.

Aku melakukannya. Butuh beberapa menit agar aku benar-benar bisa memfokuskan chakra dan memasukkan dua elemen itu. Setelah semua selesai, kedua kakiku tampak dilapisi aura berwarna biru yang berkobar seperti api. "Nah, sekarang apa yang harus kulakukan ?"

Paradox menampar punggungku cukup keras hingga aku kehilangan keseimbangan, LANGSUNG jatuh dari tebing tanpa pengaman apapun.

"Usahakan kakimu jatuh lebih dulu !" Seru Paradox dengan suara tidak bersalah.

BRUK !

Aku terjatuh ke tanah dengan kedua kaki mendarat duluan. Tidak ada yang terjadi, selain aku merasa kakiku pegal. Sampai aku menggerakkan kedua anggota gerak bawahku ini dan merasa seolah-olah aku dan bumi ini sendiri saling tarik menarik seperti magnet. Dan...aku tidak perlu berlari dan merasa lelah lagi begitu aku menguasai 'selancar tanah' ini ! Beda dari selancar biasa di air, disini kau takkan tenggelam.

"Bagaimana rasanya ?" Sebuah suara mendadak mengagetkanku.

"Beleriphon !" Seruku. "Kau juga menguasai ini ?"

Naga itu mengangguk senang. "Semua Etatheon bisa melakukannya, bahkan Ortodox yang tidak punya kaki belakang dan Pyrus yang berbentuk seperti ular dengan kaki pendek," terangnya. Mendadak, aura oranye keluar dari perutku dan membentuk sosok seekor Wivere.

"Ini keren !" Seru Kurama –yang langsung mewujud seutuhnya menjadi naga. "Hei, bisa kalian ajari aku juga ?" Tanyanya antusias.

Beleriphon dan Paradox saling berpandangan, kemudian mengangguk.

Agak sulit mengajari naga lain trik semacam ini, terutama jika mereka tidak memiliki chakra elemental angin dan tanah. Tapi Kurama bisa mempelajarinya lebih mudah karena ia telah dipinjamkan chakra dua elemen itu dari tubuhku. Sejak itulah aku menyadari bahwa...kami berdua saling bersifat parasit. Yah, bahasa kasar, sih. Aku bisa mengambil chakra Kurama dan Kurama bisa mengambil chakra-ku. Aku jadi penasaran apakah dia bisa berlaku seperti cacing kremi atau cacing tambang yang juga mengambil makanan dari inang yang ditempelinya. Semoga saja tidak.

Aku menghabiskan setengah jam yang menyenangkan berselancar daratan bersama Kurama, Beleriphon, dan Paradox. Sampai naga cermin itu menyuruh kami bertiga berhenti dan kembali ke tebing.

"Ada alasan kenapa kusuruh Beleriphon kemari," celetuk Paradox, yang membuatku tertarik.

"Yaitu untuk mengajarimu Jinton," sambung Beleriphon sendiri, yang membuatku melonjak kegirangan. Kurama geleng-geleng kepala (karena dia belum masuk lagi ke tubuhku).

"Lima elemen utama seorang Dracovetth adalah Suiton –air, Doton –bumi, Katon –api, Raiton –petir, dan Fuuton –angin. Kebanyakan Dracovetth tingkat Jounin dapat menguasai dua atau lebih elemen utama, dimana kadang seorang Chunnin juga dapat melakukannya. Meskipun mereka dapat menggunakan dua atau lebih elemen secara bersamaan, menggabungkan dua elemen dan membentuknya menjadi sesuatu yang baru adalah hal mustahil yang tidak bisa dilakukan Dracovetth manapun kecuali mereka memiliki garis keturunan khusus," jelas Beleriphon.

"Dan penggabungan dua elemen itu disebut Kekkei Genkai, yang terdiri dari Mokuton –kayu; percampuran elemen air dan tanah, Youton –lava; percampuran api dan tanah, Shakuton –panas; percampuran api dan angin, Bakuton –peledak; percampuran tanah dan petir, Koton –logam, kadang disebut Jiton atau elemen magnet; percampuran petir dan api, Hyoton –es; percampuran air dan angin, Ranton –badai; percampuran air dan petir, Shooton –kristal; percampuran tanah dan angin, Futton –uap; percampuran angin dan api, dan Meiton –kegelapan; percampuran petir dan angin," urainya panjang lebar.

"Diatas Kekkei Genkai terdapat Kekkei Touta, yang menggabungkan tiga elemen chakra sekaligus. Dalam hal ini baru diketahui satu yaitu Jinton, elemen debu atau elemen partikel; mencampur tanah, api, dan angin..."

"Ya, ya, ya," aku memotong penjelasan Beleriphon yang menurutku mulai membosankan. "Aku sudah tahu semua dasar-dasar pengetahuan elemen itu, Kakashi-sensei pernah memberitahuku ! Jadi tolong ajarkan saja bagaimana cara mengaktifkan Jinton !" Seruku.

Beleriphon mengangguk. "Kekkei Genkai diaktifkan dengan kedua tangan penggunanya mengalirkan kedua chakra alam miliknya. Seperti Kapten Yamato atau Pakura yang kau kenal. Ambil contoh Yamato, dia mengalirkan chakra air pada tangan kanannya dan chakra tanah pada tangan kirinya, dan menyatukan keduanya untuk membuat Mokuton," jelasnya cepat.

Aku mengernyit. "Tapi tangan manusia hanya dua kan ? Bagaimana bisa tiga elemen digabung ?" Tabrakku.

"Disitu sulitnya," timpal Paradox. "Seperti Muu, Nidaime Tsuchikage, orang pertama pengguna Jinton. Dia berusaha agar kedua tangannya membawa sepertiga chakra dari tiap elemennya. Itu jauh lebih sulit daripada Kekkei Genkai karena berarti, sepertiga chakra api di tangan kanan, sepertiga chakra tanah di tangan kiri, plus seperenam chakra angin di tangan kiri dan seperenam lagi di tangan kanan. Jadi satu tangan berisi dua macam chakra," jelasnya.

"Ini sulit," lanjut Beleriphon. "Tapi karena kau menguasai Kagebunshin, kurasa tidak akan sesulit saat Muu dan Onoki mempelajarinya," sambungnya.

Aku melakukan handseal, membuat ratusan bunshin sekaligus. Mati-matian berusaha mencampur tiga elemen chakra sekaligus. Ini lebih sulit dari yang kubayangkan, bahkan...hingga langit berubah menjadi oranye dan matahari mulai tenggelam di ufuk, aku belum berhasil ! Kedua naga dewa ini mengatakan bahwa aku baru berhasil mencampur chakra api dan tanah –yang anehnya tidak menghasilkan Youton. Aku baru berhasil mencampur elemen angin –dalam jumlah yang terlalu sedikit- ketika matahari sudah tenggelam sepenuhnya.

"Kau menghasilkan partikel-partikel cahaya di kedua tanganmu dalam waktu sehari," kata Beleriphon datar. Aku tidak menanggapi apa-apa, karena masih tepar diatas rerumputan dengan baju basah kuyup karena keringat. Awalnya aku mengira, mungkin Beleriphon menganggapku lamban dalam menerima jutsu baru.

"Muu sang Tsuchikage melakukan hal yang sama baiknya denganmu dalam waktu..."

"...satu minggu."

Aku menoleh ke arahnya. Beleriphon mengedipkan mata. "Huh, dasar. Kau selalu membuatku terkejut, Naruto," katanya kemudian. "Bukan kebetulan kau adalah pengendara Paradox dalam usia semuda ini," pujinya. Dadaku serasa mengembang bangga.

"Bangunlah," Paradox mendadak muncul di hadapan kami. "Naruto, kau sudah menghabiskan hampir separuh chakranya untuk latihan sehari ini. Tidurlah disini, Etatheon yang lain akan menyusul. Teman-temanmu sudah kembali ke negara mereka masing-masing. Sekarang Lima Negara Besar pasti sedang bersiap-siap, dan kurasa Kota Besar Rouran plus Kusagakure dan Tetsugakure ikut serta dalam peperangan kali ini. Latihan dimulai lagi besok, tapi bukan untuk menguasai Jinton. Elemen debu makan chakra banyak dan tidak boleh dilakukan berhari-hari berturut-turut atau kau akan kehilangan beberapa puluh persen chakramu secara permanen," jelas Paradox panjang lebar.

Aku terdiam sendiri, berusaha mengolah apa yang kudapat barusan.

"Jadi besok kita akan latihan apa ?" Tanyaku akhirnya.

"Elemen angin," jawab Paradox cepat.

"Huh ? Itu kan..."

"Kita akan coba kombinasikan Rasengan-mu dengan chakra elemen angin," Paradox memenggal pertanyaanku.

Aku tertawa pendek. "Kalau begini caranya, aku malah terlalu senang sampai tidak bisa tidur. Kenapa kita tidak latihan saja ?"

Paradox terdiam. Ia lalu memandangku sinis. "Tidur atau kubius kau," ancamnya pendek.

Aku memutar bola mata malas. Apa boleh buat ? Aku akhirnya melangkah masuk ke tenda yang terbuat dari dedaunan raksasa yang tersusun berlapis-lapis yang hanya muat untuk satu orang. Ketiga Etatheon yang lain mendarat di tebing itu juga, dan mereka segera berpatroli memeriksa sekitar, sekaligus memastikan semua Dracovetth sudah kembali ke negaranya masing-masing. Kurama membaringkan diri di sebelah kanan tenda daunku.

Sebentar, lima naga Etatheon dan satu Wivereslavia ? Itu berarti aku satu-satunya MANUSIA disini ? Oh, sial. Siapa yang bisa kuajak bicara ?

.

"Ayo," kata Paradox tiba-tiba, –yang segera membuatku terlonjak kaget. "Kita ke ujung tebing. Mungkin sekarang saatnya..."

"...kuceritakan kronologis penyerangan Ortodox ke Konoha dua dekade minus tiga perempat windu yang lalu," desisnya sambil menatapku.

Aku bungkam beberapa detik. "Bilang saja enam belas tahun lalu, tidak perlu berbelit-belit begitu, pakai ukuran windu segala," candaku. Paradox tidak begitu mempedulikannya dan segera berjalan ke ujung tebing, agak jauh dari tendaku. Mendadak aku teringat sesuatu.

"Kurama !" Panggilku. Naga oranye itu bangun, mengibaskan ekor, dan berjalan bersama kami. Sempat kulirik Paradox dengan ekor mata, tapi dia sepertinya masih tidak begitu peduli.

Sesampainya di ujung tebing yang menghadap padang rumput gelap, naga cermin itu membaringkan tubuhnya. Kurama di sebelah kirinya dan aku berada diantara mereka berdua, siap mendengarkan cerita.


Flashback-Normal POV

Konohagakure, Hi no Kuni

16 years ago

Pria berambut kuning serupa durian yang (terlalu) matang itu sedang sibuk mengaduk adonan ketika ia mendengar suara pintu depan dibanting kasar.

Siapa sih yang lancang begitu ? Pikir pria berwajah rupawan yang sekaligus Yondaime Hokage itu. Ah, tidak mungkin itu bukan...

"MINATOOOOO ! ! !" Sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya menggelegar memenuhi seisi rumah. Untung saja sang Yondaime sudah terbiasa dengan keadaan 'alarm darurat' semacam itu, jadi mangkuk berisi adonan yang sedang diaduknya itu tidak sampai tumpah karena dia terkejut. Minato melangkah keluar dari dapur, sambil masih memegang mangkuk adonannya.

Dilihatnya wanita bergaun hijau dengan setelah putih, sepatu rumah berwarna nila, dan rambut merah sepinggang yang dihiasi sebuah jepit rambut, menatapnya dengan mata biru lembut berpupil hitam yang berbinar. Istrinya, Uzumaki Kushina –yang sekarang mengelus-elus perutnya sendiri.

Wajahnya merona bahagia. "Coba tebak, Minato !" Serunya. "Coba tebak !"

Mata biru safir suaminya langsung membesar. Wajahnya ikut merona.

"Aku hamil !" Seru Kushina bahagia. "Mereka mengatakan tanggal kelahiran anak kita 10 Oktober-ttebane !"

Minato lupa daratan. Mangkuk dan adonan yang ada di dalamnya langsung jatuh ke lantai. Tubuhnya bergetar.

"Aku..."

"...aku..."

"...akan jadi ayah ?!" Serunya tersendat-sendat.

Kushina mengangguk cepat. "Aku akan jadi seorang ibu, kau tahu !" Balasnya.

"Seorang ayah !" Minato berseru lagi.

"Seorang ibu !" Balas Kushina. Mereka menghambur satu sama lain, berpelukan seperti seorang kekasih. Sang Yondaime meraba perut istrinya yang memang sudah mulai membesar sedikit.

"Hei ! Jangan lupakan adonan yang sudah kaubuat berantakan itu-ttebane !" Seru Kushina sambil menjitak lembut kepala suaminya.

.

.

Six months later

.

.

"Minato !" Seru Kushina lagi. Pemilik nama itu mengalihkan pandangan dari koran yang sedang dibacanya. "Hah, dasar. Kita belum memberi nama bayi kita tahu !"

Minato tertawa kecil. "Bukannya masih enam bulan lagi ? Masih banyak waktu," balas Minato santai.

Kushina memasang wajah cemberut. "Kau ini, Mikoto bahkan sudah memberi nama sebelum bayinya lahir, tahu ! Sudahlah, aku ke dapur dulu. Kau pikirkan nama yang bagus, ya-ttebane !" Ujarnya seraya menghilang dari pandangan. Minato hanya geleng-geleng kepala. Mendadak ia mendengar suara ketukan di pintu. Ia membukanya, dan tampak seorang petugas pengantar surat memberinya sebuah bungkusan. Setelah mengucap terimakasih, pria itu kembali ke ruang tengah dan membuka bingkisan yang diterimanya.

'Selamat untuk muridku' itu yang tertera disitu. Dan isinya...sebuah novel.

"Legenda Dracovetth Bertekad Baja ?" Baca Minato. Sesaat kemudian ia melirik bagian bawah buku, dan tersenyum lebar.

"Dasar Jiraya-sensei," desisnya pada dirinya sendiri. "Baru mengirim sekarang, padahal Kushina sudah hamil sejak enam bulan yang lalu."

.

.

"Bagaimana ? Kau sudah terima hadiah dariku ?" Tanya seorang pria berambut putih panjang yang masuk –agak seenaknya ke rumah muridnya itu. Minato mengangguk senang. "Hehe, sebenarnya buku itu adalah novel pertamaku. Sempat kukirimkan ke penerbit tapi mereka menolak. Daripada disimpan untuk diriku sendiri lebih baik kuberikan padamu," ceritanya malu-malu. "Sepertinya itu kisah yang kurang bagus, ya ?"

Minato menggeleng kuat-kuat. "Tidak, itu tidak benar ! Ini adalah kisah yang luar biasa !" Kilahnya. "Setiap bab yang kubaca seakan-akan mengeksploitasikan dari sejarah hidupmu sendiri. Ini hampir mirip seperti riwayat hidupmu sendiri, sensei," pujinya.

"Tokoh utama dalam buku ini...sepertinya memiliki semangat dan tekad pantang menyerah yang sangat luar biasa. Dia sangat mirip denganmu, sensei," imbuh Minato lagi sambil membuka-buka beberapa halaman novel itu.

Jiraya menggaruk kepala tersipu. "Menurutmu begitu ya ?"

Minato mengangguk. "Jadi kurasa aku sudah memutuskannya," ucapnya tiba-tiba.

"He ?"

"Aku sangat berharap semoga anakku yang belum lahir, dapat menjadi Dracovetth yang sifatnya mirip dengan tokoh utama dalam novel ini ! Oleh karena itu, aku tidak keberatan kau memberikan nama untuk anakku seperti tokoh utama dalam novelmu ini," jelasnya senang. Mata Jiraya membesar.

"H-hei ! Apa kau yakin ? Itu...itu hanya nama karangan yang kebetulan terpikirkan olehku ketika sedang makan ramen !" Sumbar Jiraya.

"Naruto," balas sebuah suara tiba-tiba dari arah dapur. Sosok berambut merah itu menampakkan dirinya.

"Itu nama yang mengesankan," ujarnya, sambil mengangguk pelan dan meraba perutnya.

"Kushina..." desis Jiraya terkejut.

Heh ? Jadi bahkan Jiraya-sensei belum tahu kalau Kushina hamil ? Pikir Minato cengo. Kemana saja orang ini ?

Pria berambut putih itu menggaruk kepala kikuk. "Hal ini seolah-olah membuatku seperti kakeknya saja !" Tanggapnya. "Apa kau benar-benar yakin soal ini ? Sebuah nama haruslah berarti," sambungnya.

"Kau adalah guruku," balas Minato. "Dan kau adalah Dracovetth hebat dengan talenta luar biasa. Tidak ada yang lain sepertimu".

.

.

Two days before birth

.

.

"Paradox ?" Selidik Minato dari ruang kerjanya. "Ada apa ?"

Naga cermin itu menyingkap bulu-bulu di lengan atasnya, menjatuhkan sebutir apel emas seberat setengah kilogram.

"Ini..." desis Minato terbata-bata. Paradox mengangguk.

"Shinjuu dari Perpustakaan Alexandriana berbuah. Dan ini hanya satu. Oedipus dan para Harpy kurasa belum cukup untuk menjaganya. Akan kubangun ruangan baru di perpustakaan itu yang khusus jadi tempat Shinjuu dan akan kucari seekor naga yang kuat untuk menjaganya," ceritanya. "Selama itu, aku mau kau menjaga apel emas ini. Selalu ada kemungkinan ada orang yang mengetahui lokasi dan manfaatnya, dan itu beresiko jika sampai jatuh ke tangan yang salah," imbuhnya.

Minato mengangguk, Paradox bersiap pergi. Tapi kemudian ia terhenti.

"Minato," panggilnya lirih.

"Ya ?"

"Selama Kushina hamil, energi penyegelan terbagi dua ke janin yang sedang tumbuh. Dengan kata lain, segel melemah. Kau harus waspada soal itu."

"Aku sudah tahu," balas Minato datar. "Tapi terimakasih. Rencananya...proses persalinan Kushina akan berada di tempat rahasia, dijaga oleh beberapa Dracovetth ANBU sekaligus Nyonya Biwako, istri Sandaime-sama," lanjutnya.

Paradox mengangguk mengerti. "Kuharap aku berada disana saat persalinan juga. Apapun yang terjadi..."

"...kita tidak boleh membiarkan Droconos keluar dari tubuh Kushina..."

.

.

October 10th, Secret Place

.

.

"AAAAAAAAAAAA ! ! !"

"Berusahalah, Kushina !" Seru Minato sambil terus berusaha menahan reaksi segel Droconos di perut istrinya.

"UUGGHH !" Perempuan berambut merah itu berbanjir peluh. Seluruh pakaiannya basah. "S-SSAKIIIITTTT !"

"Laki-laki pasti pingsan kalau kesakitan begini, tapi perempuan akan kuat !" Seru Biwako menyemangati.

.

Mereka tidak tahu apa yang terjadi di luar.

.

Dan...

Suara tangisan bayi segera memenuhi ruangan.

"Akhirnya," desis Minato bahagia sambil meneteskan airmata. "Aku...aku sudah jadi ayah !" Ia nyaris mengambil bayi itu dari tangan Biwako, tapi perempuan tua itu melarangnya.

"Biarkan ibunya melihat lebih dulu," desisnya sambil menyerahkan bayi itu pada Kushina.

.

BET

.

CRAK

.

SREETT

.

"Minato ?! Apa it.."

.

"Jauhi Jinchuuriki Droconos itu..." desis sebuah suara dingin dari sosok berjubah hitam dengan topeng bercorak hitam. "Atau..."

"...nyawa bayi ini akan melayang..."

"Naruto !" Seru Minato dan Kushina bersamaan.

Pertarungan singkat terjadi, sosok berjubah hitam itu melempar bayi yang masih merah itu ke langit-langit, namun segera ditangkap oleh sang Yondaime sebelum sempat jatuh ke tanah. Tapi begitu ia berbalik, sosok Kushina sudah tidak terlihat.

"Sial," desisnya. Orang itu mengincar Kushina, dan dia mendapatkannya. Aku harus bergegas, pikirnya. Dengan sekali kedipan, ia berpindah ke rumahnya sendiri, dan membaringkan bayi itu di ranjang.

"Tunggulah disini," bisiknya. "Ayah harus menyelamatkan ibumu..."

.

.

Di tempat lain, sosok misterius itu mengikat Kushina dengan segel yang membelit bebatuan-bebatuan yang menonjol dari permukaan air, mengabaikan perempuan berambut merah lusuh yang masih bermandikan keringat itu.

"Apa...yang akan kau lakukan...?" Sergah Kushina dengan napas tersengal-sengal.

"Aku akan merebut Droconos darimu dan menghancurkan Konoha," jawab sosok berjubah itu datar. "Jutsu teleportasi Minato mampu membuatnya berpindah seketika ke tempat yang telah ditandainya. Segelmu itu juga sudah ditandai olehnya. Demi melindungimu. Tapi sekarang aku berhasil memisahkanmu dari Minato, apalagi segel Droconos telah melemah sejak kau melahirkan barusan. Aku sudah lama menantikan kesempatan ini..."

Orang itu mengeluarkan sebutir apel emas –yang ternyata telah dicurinya dari tempat bersalin Kushina barusan, meleburnya dengan chakranya sendiri di tangan kanannya, dan mengeluarkan cahaya keemasan dari tangan kanannya yang segera diarahkan menuju perut Kushina.

.

"Keluarlah...Droconos ! ! !"

.

Aura ungu, biru, dan hitam menguar dari sekujur tubuh Kushina. Rambut merahnya berkibar. Segel di perutnya terus membuka dan mengeluarkan sosok yang tak lain merupakan salah satu naga paling ditakuti di dunia. Yang sekarang...membesar dan makin mewujud nyata...

.

BUM !

.

Droconos menapakkan kedua kakinya setelah terbentuk sempurna dan bebas sepenuhnya dari segel. Ia membentangkan kedua sayapnya yang terhubung pada kedua kaki depannya, mengaum hingga membuat bumi serasa bergetar. Api ungu berkobar dari leher, sayap, dan ujung ekornya.

"Bagus," desis sosok hitam itu. "Sekarang aku akan menuju Konoha."

"T-tunggu..." desis Kushina sambil berusaha bangkit.

"Dracovetth dari klan Uzumaki memang hebat," tanggap pria bertopeng itu, "kau tidak mati setelah Droconos dikeluarkan. Tapi...aku akan menggunakannya untuk membunuhmu..." katanya. Sang Droconos mengumpulkan cahaya ungu di mulutnya yang terbuka lebar, kemudian menembakkannya tepat ke arah Kushina.

Ledakan dahsyat terdengar, mengaburkan bebatuan, semak, pohon, dan apa saja yang ada dalam jangkauannya, memanasi udara di sekelilingnya.

Tapi Kushina berhasil diselamatkan berkat teleportasi Minato.

"Tentu saja, kau cepat sesuai julukanmu, Kilat Kuning," ujar pria bertopeng itu sinis. "Tapi kau terlambat."

"Naruto ?" Tanya Kushina lemah dalam gendongan suaminya. "Apa Naruto baik-baik saja ?"

Minato mengangguk senang melihat istrinya selamat. "Ya, dia baik-baik saja. Sekarang dia ada di rumah."

"Minato..." bisik Kushina. "Kau harus segera menghentikan orang itu dan Droconos...mereka...menuju Konoha..."

Minato mengangguk, kemudian menghilang lagi dari pandangan, langsung menuju rumah mereka berdua.

"Dia kabur lagi," kata pria bertopeng itu datar. "Biarlah. Sekarang kita ke Konoha."

"Sejak kapan kau bisa menyuruh-nyuruhku seenaknya ?" Balas Droconos –yang sudah tidak lagi dikendalikan dengan Sharingan. "Rasanya kaku sekali berada dalam tubuh Uzumaki sialan itu begitu lama...huh !" Gerutunya sambil meregangkan sayap-sayapnya.

"Aku sampai lupa sudah berapa tahun berlalu, tapi sifatmu masih saja seperti itu," sinis sebuah suara.

"Styx..." geram Droconos. Ekspresinya berubah lagi begitu melihat seekor naga lagi di belakang Styx.

"Kenapa kalian baru membebaskanku sekarang, Ortodox ?!" Bentaknya.

"Hargai kami sedikit," balas Ortodox santai. "Lagipula kau takkan mati biar disegel seribu tahun pun."

"Pembantai Bersayap yang lain telah datang. Sebaiknya kita tidak buang-buang waktu," pria bertopeng itu memotong pembicaraan sekaligus mengakhiri 'reuni' dadakan itu.


"Lalu...mereka menghancurkan Konoha ?" Selidikku penasaran.

"Begitulah," balas Paradox. "Aku...entahlah. Aku...tidak begitu ingat," katanya sambil menundukkan kepala.

"Jadi...kau tidak ada saat itu ? Saat desa dan pengendaramu dalam bahaya ?" Desisku kecewa. Sebenarnya, sangat kecewa. Tapi apa boleh buat, yang terjadi biarkanlah terjadi.

"Kurasa aku ada disana," ucap Paradox kemudian. "Tapi detalinya...aku tidak ingat pasti. Aneh memang. Singkatnya...kami bertarung sengit melawan tiga Etatheon sekaligus, dan aku berhasil mengalahkan Styx dan menjauhkannya, serta menahan Ortodox sementara ayahmu menyegel Droconos...menggunakan Hakke Fuin (Segel Delapan Penjuru) dan meletakkan kuncinya di sebuah altar di blokade antara Hi dan Kaminari..."

"Setahuku...Minato dan Kushina belum mati bahkan ketika sempat menyegel Droconos. Tapi mungkin karena aku lengah atau semacamnya..."

"...Ortodox mengambil kesempatan itu untuk membunuh keduanya dan menghilang dari dunia, sampai sekarang."

Aku terdiam. Sebenarnya ini semua...

...salah siapa ?

Tidak pantas aku menyalahkan Paradox. Aku juga...tidak bisa menyalahkan diriku sendiri. Pria bertopeng itu ? Ada kemungkinan dia Madara. Ibuku ? Aku bahkan baru tahu Uzumaki Kushina adalah Jinchuuriki Droconos –dan sekaligus baru tahu juga bahwa naga bisa disegel ke seseorang. Dan jika yang disegel itu adalah Etatheon, maka Jinchuurikinya –sebutan bagi orang yang menjadi wadah penyegelan, akan mati jika naganya ditarik keluar, pengecualian pada ibuku yang klan Uzumaki.

"Kurama, Naruto, tidurlah," desis Paradox. "Besok hari yang besar. Setelah meneruskan latihanmu, kita akan pergi ke AEsir," lanjutnya.

"AEsir ?" Ulangku. "Tempat apa lagi itu ?"

"AEsir adalah sebuah bangunan serupa rancangan insinyurik Yunani Kuno yang memiliki banyak pilar. Disitulah kita bisa menghentikan kebangkitan Kaum Kolosal dan membuat mereka semua tertanam kembali ke bumi, kecuali bagi yang sudah diambil alih oleh Dracovetth menjadi naga pribadi mereka, atau dengan kata lain, dijinakkan," jelasnya panjang lebar.

Kurama menguap –tapi sepertinya karena teringat nasihatku di perkemahan tadi pagi, ia buru-buru menutupinya dengan kaki depan kanannya, yang malah membuatnya tampak makin aneh.

"Aku tidur dulu," ujarku malas kemudian berjalan ke tenda tanpa menoleh lagi, meninggalkan...ehm, Kurama dan Paradox.

.

.

.


Paradox's POV

.

.

Hembusan napas pelan keluar dari sepasang lubang hidungku. Aku melirik Naruto dengan ekor mata. Dia semakin jauh. Bagaimanapun juga...aku merasa bersalah karena lebih mementingkan Artemis daripada pengendaraku sendiri.

Aku tidak boleh seperti itu lagi.

Tidak ada manusia yang bisa hidup abadi, sekuat apapun dia. Aku...harus melindunginya. Apapun...akan kukorbankan. Aku tidak mau melihatnya mati dalam peperangan kali ini atau aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.

.

"Hei ?"

.

Aku membuka mata. Ups, aku terlalu serius berpikir dan mengkalkulasikan segala kemungkinan yang ada sampai aku tidak menyadari Kurama masih ada di sampingku. Aku terdiam, menunggu apa yang akan diucapkannya.

"...Memikirkan sesuatu ?" Tanyanya kikuk. Aku menatap ke depan –tidak menatap wajahnya.

"Ya," jawabku pendek.

"Naruto akan belajar untuk menerima apa yang sudah terjadi dalam hidupnya," tukas Kurama sambil menengok ke belakang, ke tenda daun dimana pengendaranya –dan pengendaraku- tidur.

Kami terdiam beberapa menit. Mungkin Kurama mengira aku akan balik bertanya, tapi nyatanya aku diam saja. Hanya desiran pelan angin yang berani bersuara pada malam yang mulai larut itu. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri dan aku tidak tahu apa isi pikiran Kurama sekarang. Dia bahkan ikut menatap kosong ke depan sama sepertiku.

.

"Paradox ?" Panggilnya. Aku menoleh.

"Boleh aku bertanya sesuatu ?" Katanya takut-takut.

Aku mengangguk sekali. "Tanyakan apa saja yang ingin kau tanyakan," tanggapku, berusaha tidak terdengar dingin.

"Emm...ini...sedikit pribadi," sambut Kurama tersendat-sendat. Aku bergeming.

"Kalau boleh tahu..." ia mulai. "Sebenarnya wujud aslimu ini seekor naga atau seorang manusia ?"

.

"Pertanyaan itu terlalu tinggi untuk seekor naga," balasku setelah terdiam beberapa detik. Mungkin Kurama lebih cerdas dari yang kukira ? Sampai dia bisa menanyakan pertanyaan 'kelas tinggi' macam itu ? Sebenarnya apa untungnya dia mengetahuinya ?

"Yah," jawab Kurama. "Orangtuamu kan bisa dibilang Kaguya; yang setengah manusia setengah dewa, dan Neredox; yang setengah manusia setengah naga. Dan kau bisa mewujud begitu sempurna menjadi seorang manusia sesuka hatimu. Jadi..."

Ia tak melanjutkan kata-katanya. Setidaknya aku sudah mengerti. Yah, tabir cinta memang aneh. Perasaan bernama 'cinta' itu adalah perasaan paling nakal yang pernah kukenal. Itu bisa membuat makhluk hidup yang dihinggapinya menjadi tidak peduli akan batasan-batasan apapun yang memblokadenya dari objek lain yang dicintainya. Disitulah anehnya.

Aku mendesah. Tapi kurasa tidak ada salahnya kujelaskan.

"Aku...naga. Kau bisa menyebutku setengah manusia, tapi...mungkin lebih tepat dua pertiga naga, sepertiga manusia," jelasku singkat. "Saat aku menjadi manusia...bisa dikatakan merupakan wanita yang sempurna dalam segi fisik. Tanpa cacat atau kelebihan. Dan secara fisiologis, aku melakukan semua fungsi dalam tubuh manusia sebaik manusia pada umumnya. Respirasi, metabolisme, transport darah, sistem saraf dan neuron, hampir semuanya, bekerja sebaik atau bahkan lebih baik dari manusia kebanyakan. Kecuali..."

"...reproduksi."

Kurama mengangkat satu alis, heran. "Maksudmu ?"

Aku mengangguk dengan wajah datar. "Organ tubuhku lengkap saat aku menyamar menjadi makhluk hidup apapun. Entah itu tumbuhan, hewan, bahkan jamur sekalipun. Tapi organ reproduksi tidak bisa aktif. Dari dulu...memang seperti itu. Begitu pula saat menjadi manusia, aku punya rahim. Ovarium, dan katakanlah semuanya, tapi mereka tidak menghasilkan ovum."

"Jadi...kalian para Etatheon tidak...?" Kurama lagi-lagi memutus pertanyaannya. Aku menggeleng.

"Dulu, Hermes pernah jatuh cinta pada seekor Apocalypse Dragon semacam Artemis. Dan mereka menghasilkan keturunan baru," desisku. "Semua Etatheon selayaknya sama seperti naga pada umumnya, hanya saja kami lebih kuat diatas rata-rata dan...berumur jauh lebih panjang. Kami bisa bereproduksi dengan naga jenis apapun yang kami mau, tapi..."

"...itu tidak etis samasekali. Jadi akhirnya sampai sekarang, kami berdelapan memutuskan untuk tidak mencintai naga dari spesies apapun."

"Oh, begitu," jawab Kurama pendek. "Aku ingin tahu apa masih ada seekor saja Wivereslavia di luar sana," bisiknya lirih, nyaris tidak terdengar.

Aku memalingkan pandangan. "Apa ? Apa tadi kau bilang ?"

"Errr...bukan ! Bukan apa-apa !" Kilahnya. Kami berdua terdiam lagi sampai Kurama kembali bertanya.

"Apa kau pernah ?"

Sekarang, aku yang mengangkat satu alis. "Pernah apa ?"

Sedetik kemudian aku tersadar, lantas memalingkan muka darinya.

"Belum," sambarku cepat sebelum dia mengulang pertanyaannya lagi. "Dan mungkin tidak akan pernah."


Naruto's POV

Begitu aku keluar dari tenda, aroma sup hangat langsung memenuhi hidungku. Panci berisi makanan lezat itu sedang diaduk sendiri oleh Paradox –dalam wujud manusianya sementara Etatheon yang lain sibuk memberesi 'tempat tidur' mereka. Ia melirikku.

"Makanlah. Setelah ini kita akan berlatih, dan ketika matahari telah mulai condong ke Barat, kita akan menuju AEsir segera," katanya.

Aku memeriksa sekitar. Selain panci yang sedang diaduk Paradox, di sekitar situ hanya ada delapan kuali besar yang tampaknya berisi makanan yang sama. "Mana bagianmu ?" Tanyaku heran.

Paradox menuding panci yang diaduknya. Aku mengernyit.

"Aku cukup makan dengan porsi manusia saja," ucapnya. "Sup sepanci ini bisa untuk dua orang, sementara satu Etatheon plus Kurama akan menghabiskan delapan kuali yang lain."

.

.Setelah makan dan beristirahat beberapa menit, aku melanjutkan latihan. Tepatnya...mengesampingkan Jinton untuk sementara dan fokus pada penambahan chakra angin pada Rasengan.

"Rasengan 'diciptakan' oleh ayahmu sendiri, Namikaze Minato, setelah mengamati Ryuudama kami, para Etatheon," kali ini Pyrus yang memberiku instruksi.

"Ryuudama ?" Ulangku. Pyrus mengangguk.

"Demi Cancer ! Kurasa Beleriphon dan Paradox belum menjelaskannya padamu, ya ?" Selidiknya. Aku mengangguk. "Baiklah, akan kuperagakan bagaimana dan seperti apa Ryuudama itu," ucapnya sambil membuka mulut.

Mulut naga merah ini membuka lebar-lebar –tapi tidak menghadap ke arahku, mengumpulkan bulatan-bulatan merah yang menyatu menjadi bola berwarna merah yang tampak padat, kemudian melontarkannya dengan kecepatan tinggi ke sebuah bukit.

Aura merah menghiasi kaki langit ketika bola merah itu menumbuk bukit dan langsung meledakkannya menjadi berkeping-keping ditengah suara gemuruh yang menakutkan. Selang beberapa detik, hembusan angin yang kuat meniup udara ke segala penjuru, mengibarkan rambut dan jaketku.

"Itu Ryuudama. Nama lainnya, Bom Naga. Hanya Etatheon yang bisa melakukannya, dengan warna berbeda-benda untuk setiap naga. Milikku berwarna merah, milik Styx berwarna jingga, milik Hermes berwarna kuning, milik Parthenon berwarna hijau, milik Beleriphon berwarna biru, milik Droconos berwarna ungu, milik Paradox berwarna putih, dan milik Ortodox berwarna hitam," urainya panjang lebar.

"Nah," katanya. "Rasengan dibentuk berdasarkan pemadatan chakra, rotasi chakra, dan mempertahankan bentuk bulat. Harus kukatakan, itu persis seperti Ryuudama. Kembali ke awal, Rasengan sebenarnya adalah jutsu yang belum selesai sepenuhnya."

"Belum selesai ?" Semburku penasaran.

"Yap. Awalnya Minato membuat Rasengan agar bisa dikombinasikan dengan chakra angin miliknya. Tetapi...dia tidak sempat melakukannya hingga akhir hayatnya. Nah, sekarang tugasmu sebagai anaknya untuk menyempurnakan jutsu ! Kau telah dimasuki chakra luar biasa dari Kurama yang sekarang ada di tubuhmu, jadi sepertinya ini takkan makan waktu begitu lama," katanya, menyemangatiku.

Aku melakukan Kagebunshin berganda sekali lagi, berusaha keras menggabungkan Rasengan dengan chakra elemen anginku. Tapi ini juga tidak semudah perkiraanku ! Selalu ada sesuatu yang kurang rasanya.

"Sekarang !" Aku berseru pada bunshinku. "Tambahkan chakra elemen angin !"

"Tapi bagaimana aku menambahkan Fuuton, sedangkan aku masih berfokus pada ketahanan bentuk Rasengan ?" Balas bunshinku. "Ugghh, ini sama sulitnya dengan berusaha melihat ke kiri dan ke kanan secara bersamaan !" Gerutunya.

Setelah berkali-kali latihan dan tetap gagal, aku mulai merasa aneh. Jinton belum tuntas, sekarang dibebani jutsu spesial yang juga belum –bahkan nyaris mustahil diselesaikan ?! Apa aku semenyedihkan ini ?

"Hei, Naruto !" Suara Kurama bergema di kepalaku. "Kau tidak akan menyerah, kan !"

"Entahlah, Kurama. Masa dua jutsu yang diajarkan para Etatheon itu aku tidak satupun bisa menguasainya ? Kurasa level mereka terlalu tinggi, melampaui level manusia pada umumnya !" Balasku.

"Heh, ini bukan Naruto yang kukenal. Bukankah Kakek Jiraya rela nama karangannya menjadi nama resmi anak dari muridnya ? Bukankah ayahmu percaya kau bisa memiliki sifat seperti tokoh utama dalam novel Kakek Jiraya ? Masa kau mau menyia-nyiakan semua itu begitu saja !"

Aku menghela napas.

Benar.

Namaku adalah Jiraya-sensei.

Dan diriku diisi cinta dan kepercayaan penuh dari kedua orangtuaku sebelum mereka wafat.

Apa...

...yang harus kukhawatirkan ?!

.

.

Aku seakan harus menoleh ke kiri dan kanan dalam waktu bersamaan. Seperti semacam teka-teki yang sulit. Bicara soal teka-teki, aku teringat ketika Shikamaru memberitahuku apa yang harus dipikirkan saat menghadapi Sphinx. Berpikirlah...lebih dekat dari yang biasa kau pikirkan. Jawaban itu...biasanya lebih dekat dari sesuatu yang jauh...

...sesuatu yang sederhana saja...

.

AHA !

.

Aku berdiri, lantas membuat dua bunshin. Kukeluarkan chakra, sedangkan bunshin pertama mengatur rotasi dan bentuknya menjadi bulat. Dan bunshin kedua...menambahkan chakra elemen angin !

Udara seperti digergaji oleh sesuatu, begitu jutsuku selesai. Suara berdesing ini –lebih keras dan lebih menggentarkan daripada gergaji mesin tercepat sekalipun, Rasengan raksasa yang berputar cepat di intinya dan dikelilingi empat mata pisau angin berbentuk shuriken raksasa. Jutsu spesialku sudah selesai, tepat ketika matahari berada diatas kepala ! Pyrus geleng-geleng kepala. Matanya membesar.

"Demi Andromeda ! Kau benar-benar luar biasa, Naru !" Seru Pyrus heboh. Aku tersenyum senang. Setidaknya satu tembok tebal telah kutembus.

Paradox bersama tiga naga Etatheon lain datang menyaksikanku. Kulihat naga cermin itu mengangguk sambil tersenyum kecil.

"Saatnya beraksi."

.

.

Kurama merembeskan chakranya –atas petunjuk Paradox. Kini, tubuhku diselimuti aura dan cahaya oranye kekuningan (atau kuning sedikit jingga) sampai ke rambutku. Enam hiasan berbentuk magatama terkalung di leherku, dan segel berbentuk pusaran air di pusarku, membentuk tonggak hitam yang mengikuti bentuk kedua kakiku. Mode Chakra Kurama.

"Nah, Naruto. Kami berlima akan memberikan sedikit chakra Etatheon kami padamu sekarang," kata Parthenon lembut.

"Heh ? Untuk apa ?" Balasku terkejut. "Cadangkan chakraku masih kurang banyak ?" Tebakku.

"Agar kau bisa melakukan Sennin Modo, seperti yang Jiraya lakukan," terang Beleriphon singkat.

"Sennin Modo ?" Ulangku. "Teknik apa lagi itu ?"

Hermes mengangguk. "Kau tentu tahu terdapat tiga kategori jurus bagi seorang Dracovetth. Ninjutsu, Taijutsu, dan Genjutsu. Tapi masih ada dua jutsu tersisa yaitu Senjutsu dan Gedojutsu. Senjutsu adalah...jurus dimana seorang Dracovetth mendapatkan chakra dari alam, mengambil Shinzen Enerugi atau energi alam, yang kemudian ditransfer ke tubuh penggunanya dalam bentuk chakra. Dengan menggunakan Senjutsu, seorang Dracovetth mendapatkan kekuatan drastis dan meningkatkan kekuatan Ninjutsu, Taijutsu, dan Genjutsu-nya," jelasnya panjang lebar.

Aku manggut-manggut mengerti. "Lalu tujuan kalian mentransfer chakra kalian ?"

"Jangan salah. Etatheon juga mendapatkan sebagian kekuatan mereka dari Shinzen Enerugi," jawab Pyrus. "Dan sekarang kami akan bagikan sedikit kekuatan itu padamu, agar Ninjutsumu dapat melampaui dari aslinya, dan itu akan sangat menguntungkan mengingat lawan kita nanti adalah naga-naga sebesar bukit-bukit," lanjutnya.

Aku mengangguk. Sinar lima warna berbentuk bola melayang ke arahku, dan aku menangkap mereka dengan tangan kanan. Kelima sinar itu menyatu dan menyelimuti tubuhku sesaat, lalu menghilang.

"Lain waktu, kalau mau menggunakannya, kau harus diam beberapa menit, diam tak bergerak samasekali kecuali bernapas. Untuk tindakan preventif saat pertarungan, kau bisa tinggalkan maksimal dua bunshin untuk mengisi Shinzen Enerugi sementara kau bertarung," Parthenon memberi petunjuk.

"Nah," ucap Beleriphon. "Sekarang kita pergi ke Pulau Oogata. Disanalah...Kaum Naga Kolosal bangkit secara besar-besaran. Sebelum mereka merambah ke seluruh dunia, kita akan hancurkan mereka dari pusatnya di AEsir," lanjutnya. Aku mengangguk, lantas segera melompat ke punggung Paradox. Empat Etatheon lain membentangkan sayap.

"Pulau Oogata berada di Bumi Tenggara. Yah, lautan antara Kaminari no Kuni dan Uzushiogakure," jelas Hermes singkat. "Mari terbang dengan kecepatan penuh !" Serunya bersemangat.

"Ya, ya, ya, dan nanti kau sampai pertama. Beleriphon dan Paradox menyusul, kemudian Pyrus, dan aku terakhir," tanggap Parthenon ketus.

Paradox mengangguk. "Jangan terlalu cepat," desisnya. "Hermes, cabut beberapa bulu sayapmu dan bagikan ke Etatheon yang lain," perintahnya. Aku tidak begitu mengerti kenapa dia memerintahkan seperti itu, tapi menurut perkiraanku, bulu sayap Hermes dapat meningkatkan kecepatan.

Hermes mendengus. "Ha ? Butuh waktu lama untuk menumbuhkan bulu-bulu cantik seperti ini, Paradox !" Kilahnya.

"Apa bulu-bulumu ini lebih penting daripada dunia dan isinya ?" Balas Beleriphon tak sabar. "Lagipula dua minggu saja mereka sudah bisa tumbuh !"

"Huh, baiklah."

Kami berlima, eh, berenam, eh, bertujuh dengan Kurama, terbang melesat membelah udara, dengan kecepatan sekitar 500 kilometer perjam. Untungnya chakra Kurama sudah melapisi seluruh tubuhku sehingga aku tidak perlu kesulitan tentang bibir yang terayun-ayun, pakaian yang berkibar-kibar, atau mata yang sulit membuka. Keluar dari Kusagakure, kami terbang melewati tanah Otogakure –yang memiliki lanskap serupa tapi dalam wilayah yang lebih kecil.

Kami melewati jembatan daratan raksasa –yang ada secara alami, dan sedikit membuatku merinding karena hanya berjarak beberapa puluh kilometer dari markas Madara sekarang –Pegunungan Kuburan. Firasatku jadi tidak nyaman, dan...itu terbukti benar ketika sayup-sayup aku mendengar suara pekikan naga.

Beleriphon menoleh ke arah kiri kami. Tampak dari kejauhan puluhan naga terbang mendekati kami dengan sangat cepat, walau tampaknya butuh seharian agar mereka bisa berada disamping kawanan naga dewa ini. Tapi yang mengherankanku, mereka semua hanya kerangka. Murni kerangka tanpa apa-apa di dalam atau di luarnya, tidak seperti Zechuan yang masih punya banyak daging. Persis seperti yang kulihat di mimpiku saat aku bertemu Paradox dalam wujud manusia.

"A-apa itu ?!" Seruku panik. "Apa mereka naga-naga zombie yang bangkit hanya karena nama tempat ini Pegunungan Kuburan ?!"

"Bukan," jawab Paradox cepat. "Mereka...sekutu kakakku. Mungkin awalnya mereka naga baik-baik, tapi begitu terkena apinya, mereka berubah menjadi pasukan tulang yang mengerikan dan berpihak padanya," jelasnya. "Jangan ada yang lengah. Biar kuatasi," imbuhnya.

Paradox membuka mulut sekenanya, menembakkan beberapa 'lonjakan partikel' yang bergerak begitu cepat sampai sekilas ia tampak seperti menembakkan kilatan cahaya yang aneh. Begitu mengenai satu kerangka, naga kerangka itu langsung hilang. Lebih tampak seperti...terurai dengan amat sangat cepat.

"Semburan atomis," terang Paradox –begitu semua kerangka itu sudah dibereskannya. "Aku menembakkan kumpulan atom beradiasi tinggi yang akan memecah apapun yang dikenainya menjadi atom juga. Kata lain, terurai dengan sangat cepat. Dengan ini, berlian pun akan tak berarti," desisnya.

Kami melaju semakin cepat. Walau aku sedikit khawatir juga mengingat bahwa kerangka-kerangka tadi adalah antek-antek Ortodox, jadi pasti selalu ada kemungkinan dia berhasil menemukan lokasi kami berada sekarang. Aku hanya berharap semoga kerangka-kerangka tadi tak lebih daripada pasukan penjaga kawakan yang hanya tahu cara bertarung dan bukan merupakan tipe pengantar pesan atau mata-mata. Toh mereka sudah musnah sekarang.


Nagato begitu lega mengetahui bahwa Madara, Zetsu, dan beberapa yang tergabung di dalamnya masih ada di Pegunungan Kuburan. Setidaknya...dia tidak perlu membocorkan sebuah rahasia yang sampai sekarang menjadi penyebab utama dilemanya. Yah...setidaknya sampai sekarang.

Aku harus menyelidiki apakah Konan dicurigai juga, pikir Nagato. Ketika kami pulang dari arah Konoha, Hanzo kudengar masih disini, tapi sekarang dia mendadak pergi ke Amegakure. Aku yakin itu bukan urusan negara. Lagipula kenapa dia atau salah satu pengawalnya tidak menanyai kami kenapa kami pulang begitu cepat ? Pikirnya lagi.

Ia bergegas menuju kamar Konan. Mengetuknya tiga kali.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuknya lagi.

Masih tidak ada jawaban.

Mungkin di ruang Hanzo, pikir Nagato. Segera, ia berlari secepatnya kesana.

Tidak ada apapun.

Tidak ada satupun, bahkan prajurit Ame ! Ada yang mencurigakan disini, batinnya. Kenapa mereka semua pergi tanpa memberitahu Akatsuki ? Nagato kembali berlari menuju kamar Konan. Dengan tak sabar, ia mengetuknya lagi, kali ini lebih keras. "Konan !" Panggilnya. "Buka pintunya !"

Tetap tidak ada jawaban. Nagato menghela napas. Ia tahu ini mungkin kelihatan tidak sopan, tapi...

BRAK !

Ia mendobrak kamar Konan. Dan...kosong.

"Konan ?" Panggilnya. Suaranya menggema samar-samar.

"Konan !" Panggilnya lebih keras. Dengan gelisah ia menyisir tiap sudut kamar kecil itu, sampai ke bawah ranjang dan membuka atap-atapnya. Tidak ada apapun di ruangan ini.

Rinnegan Nagato membesar begitu mengetahui secarik kertas ditempel dibalik bantal.

'Pergilah ke Amegakure. Jika tidak, kau akan kehilangan Konan saat matahari terbenam. Tertanda Hanzo no Sashuoo'

.

.

Darah Nagato mendidih. "Hanzo..." geramnya. "Apa yang kau lakukan pada Konan !"

"KONAN !" Teriaknya keras-keras. Menjebol dinding kamar dan langsung meng-kuchiyose seekor burung enggang raksasa, terbang dengan kecepatan penuh ke Amegakure. Matahari terbenam tinggal beberapa jam lagi...dan Konan disana.

.

.

.


"Itu dia," Pyrus menuding sebuah pulau yang terlihat besar walau beberapa kilometer jauhnya di depan. "Pulau Oogata."

Kami terbang makin cepat diatas permukaan laut, beberapa puluh meter tingginya. "Tambah ketinggian," perintah Paradox. "Mereka pasti sudah mulai ada di lautan area ini. Mereka bisa menelan kalian dengan sekali lahap, walau aku ragu kalian akan mati," candanya, tapi hanya sampai disitu selera humor Paradox.

"Hei, lihat !" Beleriphon menunjuk kumpulan air berwarna merah diantara birunya laut. Kami langsung berhenti mendadak, tidak jauh dari kubangan darah itu.

"Banyak sekali," ucapku. "Apa ini darah kolosal ?"

"Kurasa bukan," jawab Parthenon.

Hanya tiga detik setelah naga itu mengatupkan mulut, sosok berwarna biru dengan sirip kuning cerah menyembul dari permukaan laut. Hanya bagian tengah tubuhnya saja, kepalanya tidak terlihat.

"Ogopogo," desis Pyrus. "Kurasa dia baru aja memangsa seekor...naga besar. Ikan kan tidak mungkin darahnya sebanyak itu."

Tapi pendapat Pyrus salah.

.

.

Apa yang kami lihat adalah –Ogopogo itu SEDANG DIMAKAN. Naga sepanjang 50 meter dimakan oleh sosok yang JAUH lebih besar ! Kepalanya menyembul deras dari air, berbentuk segitiga dengan tengahnya terbuka, menampakkan ratusan gigi-gigi mengerikan yang berderet rapat seperti jarum yang berbahaya. Mata kuningnya yang tak berpupil entah sedang mengamati apa, yang jelas makhluk raksasa berwarna merah dengan sedikit cahaya keperakan dari tiap sisiknya itu sedang menikmati makan siangnya –seekor Ogopogo, yang sekarang dilahap sampai habis, dan makhluk itu tenggelam kembali ke laut dengan suara mencebur yang sangat keras.

"The Midgard Serpent !" Seru Kurama dari dalam tubuhku.

"Huh ? Kau mengetahui itu juga ?" Balasku terkejut.

"Jőrmungandr, atau yang biasa disebut sebagai Midgard Serpent, adalah spesies Kaum Kolosal terbesar yang hidup di laut ! Panjang dari ujung hidung sampai ujung ekornya dapat mencapai lima kilometer ! Bahkan ada sebuah legenda yang mengatakan bahwa naga laut ini dapat melingkari Bumi dengan tubuhnya !" Seru Kurama dari dalam tubuhku –yang juga didengar oleh para Etatheon.

"Itu benar. Demi Perseid, kau sungguh pintar, Kurama !" Puji Pyrus. Kalau aku bisa melihat Kurama di dalam tubuhku, aku yakin dia sedang tersipu malu sekarang.

"Hati-hati. Jőrmungandr tidak bisa melompat tinggi, tapi dengan tubuhnya yang sepanjang itu, dia bisa menampakkan diri paling tidak satu kilometer diatas permukaan laut," Parthenon memperingatkan.

Dan kurasa kata-kata bisa menjadi kutukan di tempat ini. Pasalnya, begitu selesai mengatakan itu, sosok super-raksasa berwarna merah itu MELOMPAT dari laut, membuka mulutnya lebar-lebar dan langsung melahap Paradox –dengan aku juga, tentunya ! Jőrmungandr lantas membiarkan dirinya jatuh kembali ke laut dengan suara ceburan yang luar biasa, menyemburkan jutaan liter air ke udara begitu ia tenggelam lagi.

Gelap. Semuanya gelap. Tubuhku bersinar karena chakra Kurama, yang segera dipantulkan oleh tubuh cermin Paradox.

"Tenang, Naruto," katanya menenangkan. "Kita akan segera keluar," sambungnya. Aku tidak yakin apakah kami sedang berada di air atau memang bagian mulut naga raksasa ini kedap air, tapi naga yang kutunggangi bergerak sangat cepat, LANGSUNG memotong leher Ular Midgard ini, memisahkan kepalanya dari tubuhnya –dan semua itu dilakukannya dari dalam tubuh raksasanya !

Begitu kepalanya terpisah, jutaan liter darah merah langsung menghambur keluar mencemari air. Laut sekitar langsung berubah menjadi merah, dan ketika kami melesat kembali ke udara, semburan darah bahkan menyembur ratusan meter ke udara. Belum pernah kulihat darah sebanyak itu sebelumnya.

"Bagus," desis Hermes. "Akan lebih dramatis kalau ular sialan itu dipotong-potong tadi," lanjutnya.

"Ini bukan waktunya membicarakan makanan," kilah Beleriphon. "Cepatlah. Kita tidak boleh terlambat."

Desiran angin kembali memenuhi indera pendengaranku ketika para Etatheon ini melaju dengan kecepatan penuh ke pulau besar yang makin lama tampak makin besar. Tidak lama kemudian, matahari tertutup bayang-bayang. Kukira itu awan, jadi aku santai-santai saja. Begitu pula dengan para Etatheon. Tapi ketenangan mereka hanya bertahan lima detik.

"Naruto," desis Paradox. "Aktifkan Sennin Modo-mu," perintahnya.

Aku tidak begitu mengerti, tapi akhirnya kulakukan juga. Beberapa menit kemudian, mataku berubah vertikal seperti naga, dengan semburat oranye di sekeliling mataku. Darimana aku tahu ? Mudah saja, karena tubuh Paradox bisa digunakan untuk bercermin !

Dan aku langsung terperanjat. Aku mendongak, berusaha mengetahui apakah kecurigaanku ini benar.

.

.

Yang menghalangi sang surya bukan awan. Tapi naga.

Itu naga terbang terbesar yang pernah kulihat ! Dia mempunyai lima pasang sayap dari kulit berwarna biru cerah –sepasang di kaki depannya yang memanjang dan berbentuk persegipanjang, sepasang di punggungnya seperti naga pada umumnya, sepasang di pangkal ekornya, sepasang di kaki belakangnya, dan sepasang lagi di ujung ekornya. Naga itu memiliki dua taring menyembul di rahang atas dan dua taring menyembul di rahang bawah, serta sebuah tanduk besar yang mengarah ke belakang seperti sebuah jambul. Sisiknya sendiri berwarna biru tua dengan corak berwarna kuning.

"Rodrigues," desis Parthenon. "Naga terbang terbesar yang pernah ada. Dan juga...Kaum Kolosal yang paling ringan," imbuhnya.

"Paling ringan ?" Tanggapku. Dia mengangguk.

"Beratnya hanya tiga ratus ton," tabrak Hermes.

Aku cengo. Tiga ratus ton ? Hanya tiga ratus ton ? Dan itu paling ringan ?

"Dia membuka mulut..." ucap Beleriphon sambil mendongak keatas. Itu tidak mengurangi kecepatan terbangnya. "Dia akan menembakkan shuriken-shuriken raksasa berapi !" Serunya memperingatkan. "Semua terbang merapat ! Tambah kecepatan !"

"Shuriken raksasa itu terbentuk dari saliva alias ludah naga itu sendiri ! Dan apinya berasal dari kerongkongannya ! Itu sangat menyakitkan, aku sudah pernah kena sekali gara-gara ceroboh, dan sejak saat itu aku selalu benci naga itu !" Jelas Hermes tiba-tiba.

"Siapa yang tanya ?!" Balasku keras-keras.

"Kau harus tahu ! Aku biasanya selalu menjelaskan apa-apa sebelum seseorang sempat bertanya !" Kilahnya.

BUUURRRSSHHH ! ! ! Sebuah shuriken berukuran sebesar rumah berlantai dua menghantam permukaan laut tak jauh dari kami. Serangan lainnya datang beruntun berusaha mengenai kami.

"Aku akan mengurusnya !" Teriak Hermes tiba-tiba.

"Kau gila !" Balas Parthenon.

"Masa bodoh ! Ini saatnya aku balas dendam !" Seru Hermes mengabaikan peringatan dan langsung terbang secepat kilat ke hadapan Rodrigues. Ia tepat berada di depan kepala naga raksasa itu. Sontak Rodrigues menembakkan sebuah shuriken, yang dihindari Hermes dengan mudah. Ia terbang cepat tapi santai ke arah mata kanan Rodrigues, dan segera menembakkan laser tepat ke tengah mata besar itu.

Rodrigues meraung kesakitan. Ia oleng.

"Sayapmu memang hebat," kata Hermes sinis. "Lebih banyak dari punyaku. Tapi...kau tidak sekuat kelihatannya, tahu !" Serunya sambil mengumpulkan chakra kuning di mulutnya yang terbuka lebar, menembakkan Ryuudama berturut-turut yang langsung memborbardir kepala naga raksasa itu. Ledakan demi ledakan terjadi, menggerus kepala Rodrigues hingga beberapa giginya jatuh duluan ke laut. Hermes terus menembak hingga kepala sang raksasa langit itu hancur sepenuhnya, membuatnya kehilangan kendali total tubuhnya dan langsung meluncur jatuh ke laut.

Untungnya kami sudah berada jauh ke depan, sehingga gelombang air akibat hantaman tubuh raksasa Rodrigues tidak mengenai kami, dan tidak masalah buat Hermes –ia dapat dengan mudah menyusul kami dengan kecepatan kilatnya.

"Senangnya yang baru balas dendam," ledek Beleriphon sinis.

"Terimakasih, Bele ! Kalau kita sedang santai, mungkin sudah kupeluk kau !" Balas Hermes dengan ekspresi tak biasa.

"Dasar sprinter abnormal," balas Beleriphon ketus. "Sudah kubilang jangan panggil aku Bele !"

"Demi Canopus, hentikan debat kalian. Ratusan tahun aku mendengarnya dan aku bosan," sambung Pyrus malas. "Dan kita sudah memasuki wilayah Pulau Oogata yang terdekat. Aku tidak akan heran kalau..."

Bayangan merah muncul dari air. Kali ini tidak hanya satu, melainkan belasan. Puluhan mungkin.

"Jőrmungandr- Jőrmungandr sialan," gerutu Hermes.

"Paradox ! Kau dan Naruto...eh, dan Kurama juga, pergilah ke AEsir ! Kami akan menangani mereka !" Seru Parthenon. "Ini akan menghemat waktu ! Kalian bisa mempercayakan mereka pada kami ! Betul kan, Pyrus, Hermes, Beleriphon ?" Ia meminta persetujuan. Ketiga naga itu mengangguk dan memperlambat kecepatan terbang mereka.

"Baiklah," jawab Paradox cepat. "Jika kalian sudah selesai, temui aku di Varan, kalau aku belum sempat masuk," lanjutnya.

"Varan ?" Aku membeo. "Apa lagi itu ?"

"Kau akan segera melihatnya," tabrak Paradox –yang langsung melesat dengan kecepatan penuh sementara empat Etatheon lain mengatasi para Ular Midgard yang mulai menyerang. Walau tampaknya satu-satunya yang bisa mereka semburkan dari mulut sebesar itu hanyalah...semburan air yang sangat amat deras, yang mengelupasi batu dalam hitungan detik. Jiah, itu sih sama saja.

Mendadak, seekor Jőrmungandr muncul tidak jauh di depan kami. Ia bersiap menelan objek 'mungil' tidak jauh di depannya.

"Naruto !" Seru Paradox. "Gunakan jutsu barumu, dan kali ini masukkan juga chakra Kurama dan chakra Senjutsu untuk membuatnya jauh lebih kuat ! Dengan aba-abaku, lempar itu ke mulut Jőrmungandr !" Ia memberi instruksi.

"Kenapa tidak kau gunakan saja pemecahan atom-mu itu ? Kau bisa membunuhnya dalam satu detik !" Seruku.

"Tidak. Itu terlalu mudah. Sekarang saatnya mengukur kemampuanmu sendiri !" Balasnya. Aku mengangguk setuju.

Kukumpulkan chakra sebanyak mungkin di tangan kananku. Aku tidak perlu membuat bunshin karena berkat chakra Kurama, tanganku bisa berlipat menjadi tiga, empat, bahkan sepuluh kalau aku mau. Hembusan dan desingan angin terdengar. Aku...siap !

Sang Ular Midgard membuka mulut. Paradox mengacuhkannya dan terbang ke arahnya. Aku berdiri di tanduk emasnya, dan...

.

.

"LEMPAR !"

"為風:遁螺旋手裏剣 !"

Fuuton: Rasenshuriken

(Elemen Angin: Putaran Shuriken)

Jutsu baruku ini mendesing keras membelah udara begitu kulempar seperti cakram. Melesat cepat hingga masuk ke mulut Jőrmungandr yang menutup begitu jutsu spesial itu masuk.

Dalam sekejap, kepalanya berubah biru. Jarum-jarum chakra angin berjumlah jutaan menusuk-nusuk sisik, daging, dan pembuluhnya, mencincang dan merobek semua yang bisa dilukai, memotong-motong semuanya dengan chakra angin berjumlah terlalu banyak bahkan untuk dihitung dengan Sharingan sekalipun. Ular raksasa ini terpilin beberapa kali sebelum kepalanya meledak dan membuatnya binasa.

Paradox tersenyum. "Bagus juga," pujinya. "Sekarang pegangan. Aku akan sampai pada kecepatan maksimalku, mengabaikan beberapa kolosal di depan," dia memperingatkan.

Kami melaju luar biasa cepat, hingga hanya butuh sekitar tiga menit saja sebelum kami sampai ke sebuah pegunungan.

"Disini AEsir berada ?" Tanyaku begitu nagaku mendarat.

"Kau lihat sendiri nanti," balas Paradox misterius. Anehnya, dia langsung menembakkan satu Ryuudama berukuran besar ke puncak salah satu gunung, menghancurkannya dengan sekali serang ditengah suara ledakan yang memekakkan telinga.

Untuk beberapa detik, tidak terjadi apapun. Sampai...

.

.

Tanah berguncang hebat. Sangat hebat –lebih besar daripada gempa bumi terkuat yang pernah kurasakan. Pepohonan tumbang, sebagian bahkan terlempar ke langit. Dan belakangan, segera kusadari bahwa pegunungan dan tanah datar ini bukan pegunungan atau tanah datar. Melainkan...

...seekor naga.

.

.

.

.

Bersambung...


Author's Note (2):

Chapter 15 akhirnya selesai !

Fyuuhh...tembus 12.000 words lagi ! Capek banget -_-

Disini kita mengetahui rencana 'gagal' Hanzo untuk memanfaatkan Nagato dan Konan plus slight NagaKonan. Dan juga flashback MinaKushi dan Kushina yang ternyata merupakan Jinchuuriki Droconos ! Perang Dunia Naga Keempat sudah di ambang pintu dan Lima Negara Besar sedang mempersiapkan diri ! Naruto akhirnya belajar Jinton dan Rasenshuriken dan mengikuti Etatheon untuk mengatasi para kolosal !

Apa yang dilakukan Hanzo pada Konan ? Apakah Sakura akan bertemu dengan Tim Paradox kembali ? Naga apa yang dijumpai Naruto untuk menemukan AEsir ? Dan...apa yang terjadi di Perpustakaan Alexandriana ? Tunggu kelanjutannya di chapter depan yang akan rilis hari Rabu ! Soal flashback MinaKushi yang lebih lengkap juga akan ada di chapter-chapter depan.

Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !


Coming Soon: Paradox Chapter Sixten :

"I Need You, So Much"

See you again in chapter 16 !

-Itami Shinjiru-


-Dragons List in Chapter Fivten:

Pyrus (Diambil dari nama sebuah konstelasi bintang)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 50,5 meter, berat 30 ton

Kecepatan terbang : 255 km/jam

Spesial : Menyemburkan empat bola elemen

Tipe serangan : Menyemburkan bola merah –kebakaran, bola kuning –kehancuran, bola hijau –hutan, dan bola biru –semburan air

Kategori : Dewa

Elemen spesial : -

Level bahaya : Tinggi

Pemilik : Namikaze Minato

Jőrmungandr (Atau The Midgard Serpent, diambil dari legenda Bangsa Viking)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 5.000 meter, berat 2.000 ton

Kecepatan terbang : Tidak dapat terbang, namun dapat melaju di dalam air secepat 385 km/jam

Spesial : Ukuran luar biasa besar, kecepatan hebat dalam air

Tipe serangan : Serangan langsung atau menyemburkan air yang amat deras dari mulutnya

Kategori : Kaum Kolosal

Elemen spesial : -

Level bahaya : Gila

Pemilik : Tidak ada

Rodrigues (Naga OC, diambil dari nama sebuah pulau di Samudera Pasifik)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 250 meter, berat 300 ton

Kecepatan terbang : 400 km/jam

Spesial : Ukuran luar biasa besar, memiliki banyak sayap

Tipe serangan : Menyemburkan shuriken berapi berukuran raksasa

Kategori : Kaum Kolosal

Elemen spesial : -

Level bahaya : Gila

Pemilik : Tidak ada