Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.

Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara

Main Pair : Mysterious !

Slight Pair : MinaKushi, ShikaTema, KakaPaku, & NagaKonan

Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance, Mystery


Author's Note :

Jumpa lagi di chapter 16, readers !

Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Terimakasih, matur nuwun, arigato gozaimazu, thank you very much, syukran, gracias (*bungkuk hormat*).

Bagi yang mau lihat art fic ini, silakan gabung disini : groups/770158089671727/

Yang kemarin nanya, Oogata itu saya ambil dari istilah fandom Shingeki no Kyojin; Cho Oogata Kyojin atau Titan Kolosal. Cho Oogata itu berarti kolosal, hanya saja kata 'cho'-nya saya buang. AEsir plesetan dari Mesir ? Hihihi, sebenarnya bukan ! AEsir itu kumpulan para dewa Norse yang berasal dari legenda bangsa Viking. Begitu pula dengan Jőrmungandr atau The Midgard Serpent juga berasal dari legenda yang sama. Soal Naru yang kuatnya terlalu cepat sebenarnya juga sedikit saya speed, soalnya ini juga udah mepet pendaftaran SMA, jadi ya...saya khawatir kalau-kalau hanya punya waktu sedikit atau bahkan tidak ada samasekali untuk buat fic.

Jiah, walau saya udah bikin naga 250 meter panjangnya masih aja ada yang bilang kurang besar -_- Udah seperempat kilometer gitu loh ! Masih kurang besar juga...jadi sekalian aja disini ada yang sebesar pegunungan :v lagipula itu memang ide saya dari awal, sih.

Enjoy read chap 16 !


PARADOX

パラドックス

Chapter Enambelas :

I Need You, So Much

Ini bukan pegunungan –atau terserah apapun kau menyebutnya.

Ini seekor naga.

.

.

.

Aku menelan ludah. Keringat menetes deras dari dahi dan sekujur tubuhku. Kurama –yang segera keluar dari tubuhku juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Mulutnya menganga lebar.

Tanah berderak terangkat dan meretak, kumpulan bebatuan sebesar rumah berjatuhan. Garis retakan itu makin lama makin lebar dan panjang, hingga akhirnya membuka dan menampakkan latar belakang kuning dengan alur-alur merah dan lingkaran merah raksasa dengan bola hitam legam di pusatnya. Latar itu tampak cukup jernih, dan aku yakin itu bukan kumpulan emas atau perhiasan apapun. Butuh waktu enam detik bagiku untuk bisa mengetahui bahwa tonjolan raksasa ini bukan apa-apa kecuali...

.

Mata.

.

Ya, mata. Sungguh amat sangat sulit dipercaya, tapi benar adanya –aku dan Kurama sedang ditatap oleh mata SELEBAR LAPANGAN KASTI yang berwarna kuning keemasan, iris merah darah, dan pupil bulat hitam. Di sekelilingnya, bongkahan bebatuan raksasa sebesar rumah tersusun rapi bagai bulu mata seorang manusia. Menyadari ini, aku dan Kurama langsung berlari mundur secepat-cepatnya.

"Apa yang sebenarnya sedang kita hadapi, Paradox ?!" Seruku keras-keras.

"Dia sedang pergi ke belakang untuk membantu Etatheon yang lain !" Jawab Kurama tak kalah keras. "Barusan dia memberitahuku !"

"Kurama..." panggilku dengan suara bergetar. "Kalau matanya saja sudah lebih dari cukup untuk memenuhi medan pengelihatan kita, tubuhnya akan sebesar apa ?"

Kurama terbang secepat yang dia bisa. Kudengar suara gemuruh yang dahsyat dan berisik terdengar di belakang kami. Aku terlalu takut untuk menoleh ke belakang, tapi rasa penasaranku mengalahkan ketakutanku. Meski dengan gerakan kaku seperti engsel pintu kuno yang terlalu lama tidak diberi pelumas, akhirnya aku berhasil menoleh ke belakang.

.

.

APA YANG kulihat adalah: bongahan bebatuan sebesar gedung, pohon-pohon besar dan semua yang seharusnya diam di tanah, sekarang meluncur dari pegunungan yang terangkat ke atas. Dan aku tidak pernah membayangkan akan bertemu makhluk sebesar ini dalam sejarah hidupku.

Aku dan Kurama berada beberapa kilometer dari makhluk itu –yang aku sangsi kalau itu benar-benar makhluk hidup- tapi naga itu masih tetap terlihat sangat-sangat-sangat besar. Matanya yang selebar enam puluh meter terlihat kecil di kepalanya yang amat sangat besar itu. Uap panas –yang lebih banyak daripada seratus lokomotif uap- menghembus dari sepasang lubang hidung sebesar kawah gunung berapi. Makhluk yang amat sangat luar biasa besarnya ini membentangkan sayapnya yang sudah koyak dan robek disana-sini, dan aku ragu dia bisa terbang dengan tubuh sebesar itu. Agak sulit untuk menginterpretasikan bentuk keseluruhannya, tapi dengan bantuan Sennin Modo, aku bisa menilai bahwa naga ini...

...berbentuk seperti kadal yang gemuk, dengan tengkorak nyaris berbentuk persegi panjang –atau balok, rahang bawah sedikit lebih besar dari rahang atas, empat kaki berjari dan bercakar lima yang bisa meratakan satu kota dengan sekali injak, layar kulit di bagian belakang kaki depannya, dan ekor panjang. Tubuhnya dipenuhi bebatuan tajam dan kasar, duri-duri setinggi gedung, pohon-pohon, semak-semak, lumut, rumput, dan apapun yang seharusnya ada di pegunungan.

Aku ternganga takjub sekaligus gentar. Inikah tantangan yang harus kami lewati untuk sampai ke AEsir ?! Ini sungguh gila !

"Ini benar-benar kolosal, Kurama !" Seruku dengan suara gemetar. Duh, kemana perginya semua kepercayaan diriku ?

"Bukan lagi, Naruto !" Balas Kurama cepat. "Ini naga super-duper-ultra-mega-ekstra-kombo-luar-biasa-kolosal-raksasa !" Serunya –menyatukan semua ungkapan kebesaran yang dikenalnya asal-asalan dengan cepat- dan dengan hiperbolik. Tapi dia ada benarnya juga.

Naga gila (ukurannya, bukan sifatnya) itu membuka mulut. Sebenarnya sangat perlahan, karena mulutnya saja sudah cukup untuk menelan sebuah desa berikut tanahnya dengan sekali lahap, dan sebuah sinar merah terang terlihat oleh kami.

"Jangan katakan kalau dia bisa menyembur !" Seru Kurama ketakutan. Aku sama ketakutannya. Setidaknya kami berharap naga itu hanya mengintimidasi. Atau jarak semburannya tidak sampai mengenai kami, atau yang disemburkan bukan sesuatu yang berbahaya atau mudah dihindari.

Tapi harapan kami terlampau tinggi. Naga itu menyemburkan api semicair seperti lava yang sangat encer, mengarah langsung ke kami dengan kecepatan luar biasa. Mungkin juga karena faktor ukurannya, akan sangat sulit bagi Dracovetth paling mahir sekalipun untuk lolos tanpa terpanggang !

Namun, ketika api itu hanya berjarak beberapa puluh meter dari kami, Kurama –dan aku- ditarik oleh sosok kuning yang bergerak sangat cepat, menyelamatkan kami.

.

.

"Huuuffhhh..." desis Hermes kelelahan. "Untunglah aku tepat waktu !"

Kemudian, empat Etatheon yang lain menyusul. Mereka semua tidak tampak kelelahan walaupun faktanya semuanya sudah menempuh jarak ratusan kilometer dari Kusagakure ke Pulau Oogata dan barusan bertarung dengan puluhan naga yang lebih besar daripada apapun yang pernah dibuat manusia. Sungguh mengherankan mereka semua bisa hidup dengan tubuh sebesar itu.

"Hmm, kau sudah bercengkrama sedikit dengan Varan, Naruto ?" Tanya Paradox santai.

"Bercengkrama ?!" Semburku kesal. "Kau tinggalkan kami berdua bersama seekor naga sebesar pegunungan tanpa memperingati kami sebelumnya ! Dan kau malah santai-santai berdalih bahwa mereka berempat harus dibantu padahal kami-lah yang butuh bantuan !" Seruku tidak terima.

"Jadi dia Varan ?" Tanya Kurama, mengabaikan perdebatan kami. Aku mendengus. "Tidak pernah kusangka dalam hidupku aku menjumpai makhluk sebesar ini..." desisnya takjub. "Sudah kubilang, kan ! Petualangan ini amat sangat menyenangkan !"

Aku menghela napas pasrah. "Hei kalian," kataku pada lima naga dewa di dekat kami. "Ingatkan aku untuk membenturkan kepala Kurama ke kepala si Varan itu nanti," kataku.

"Tidak masalah," Hermes menanggapi. "Itu ucapan yang gila untuk seekor naga yang hampir-hampir meleleh."

"Nah, Paradox," panggilku dengan kekesalan yang sudah mulai mereda –walau masih tersisa sedikit. "Dimana AEsir berada ? Bisakah kita semua langsung menuju kesana tanpa harus terlebih dahulu membereskan naga super-duper raksasa ini ?" Tanyaku malas-malasan.

"Kau bercanda," jawab Paradox datar. "AEsir ada di dalam sana," katanya sambil menuding mulut raksasa Varan yang sedang terbuka sedikit.

.

.

"Hebat !" Seru Kurama memecah keheningan. "Kau bisa bayangkan itu, Naruto ? Kita akan terbang memasuki perut makhluk paling besar di planet ! Aku bertaruh ini salah satu bagian terseru dalam hidupkuuuu !" Teriaknya senang, berputar-putar di udara dengan mengabaikan aku yang masih (berusaha) duduk manis di punggungnya. Sungguh, aku ingin menjitak kepala naga oranye ini keras-keras.

"Hermes ! Parthenon ! Beleriphon ! Pyrus ! Kalian berjagalah di luar, aku, Naruto, dan Kurama akan masuk ke perut Varan dan mengakhiri kekuasaan Kaum Naga Kolosal di AEsir !" Perintah Paradox cepat. Mengerti apa yang dimaksud, aku langsung melompat ke punggungnya dan Kurama kembali masuk ke tubuhku.

"Bagaimana kita masuk ke dalam sana tanpa terbakar ?" Tanyaku keras-keras.

"Butuh perjuangan, Naruto," timpal Paradox. "Panjang keseluruhan Varan dari ujung depan ke ujung belakang adalah sepuluh ribu meter. Tingginya sampai puncak bahu yang mirip gunung itu sekitar tiga ribu delapan ratus sembilan puluh meter, dan panjang kepalanya saja mencapai seribu meter," jelasnya panjang lebar. "Dialah naga kolosal yang sesungguhnya," imbuhnya dengan suara datar.

Aku mendengus malas. "Kenapa tidak bilang saja panjangnya 10 kilometer dan panjang kepalanya satu kilometer ?" Gerutuku.

"Diperlukan jantung sebesar dan sekuat apa ya untuk memompa darah sebanyak itu ?" Mendadak Kurama bersua.

Paradox melirik keempat rekannya. Mereka segera mengambil posisi.

"Butakan mata kanan !" Teriak Parthenon keras-keras. Mereka berempat mengambil posisi dua kilometer dari mata kanan Varan, dan langsung melancarkan serangan empat Ryuudama yang berbeda warna.

.

DUUUAAAARRRRR ! ! ! !

Ledakan keras terdengar. Dan sekali lagi, cairan merah encer yang kali ini entah berapa juta liter, tumpah ruah ke udara dari mata yang luar biasa besar itu. Sang Varan meraung kesakitan. Ohya, aku tidak tahu apa yang kau bayangkan mendengar sosok sebesar pegunungan meraung. Itu SANGAT KERAS, seolah-olah Bumi itu sendiri yang sedang meraung. Aku menutup telinga, takut tuli sekejap.

"Ugghh...!" Teriakku. "Gendang telingaku serasa mau pecah !" Seruku.

"Mau pecah ?" Balas Kurama dari dalam tubuhku. "Gendang telingaku malah sudah pecah !"

"Kalau sudah pecah kenapa kau masih bisa mendengarku ?" Balasku.

"Karena telingaku yang satunya masih utuh !"

.

"Bersiaplah," desis Paradox padaku. Setengah detik setelah itu, ia melesat cepat bagai anak panah yang ditembak dari busur langsung ke mulut super raksasa Varan yang sedang terbuka. Apa yang kami lihat di dalamnya bukan gigi, melainkan tumpukan batu-batu raksasa berujung tajam dan runcing seperti stalaktit dan stalagmit berukuran super duper besar, yang tersebar berantakan di tepian mulutnya. Tidak masalah walau bebatuan itu lebih 'lunak' dari gigi sungguhan, karena naga sebesar itu bisa menghancurleburkan sebuah rumah dengan satu gigitan.

Mendadak, sebuah cahaya merah tampak tertangkap sepasang mataku. Itu cahaya yang sama dengan yang tadi...sebelum naga kolosal ini menembak.

"Paradox !" Seruku keras. "Bahaya ! Varan ini akan menembakkan apinya dan kita berada di mulutnya !" Ujarku panik.

Paradox menggeleng kepala santai. "Heh ! Jangankan api, aku bisa menyelam di lautan lava sebulan tanpa merasa sakit sedikitpun," pamernya.

"Kau lupa ya ?!" Bentakku. "Aku ada disini ! Kau pikir aku makhluk immortal, hah ?!"

"Kau bersamaku," balas Paradox datar. "Apa lagi yang harus dikhawatirkan ?"

Kemudian, keenam berlian di punggungnya itu memanjang dan menaungiku seperti atap mobil yang bisa dibuka-tutup. Rasanya seakan aku dikurung di sangkar kristal warna-warni bening yang masih memungkinkanku melihat keluar tapi juga cukup kuat. Nyaris bersamaan, cahaya itu meletup dua kali, kemudian segera terhembus ke luar dalam wujud api yang luar biasa banyak seperti yang tadi kulihat.

"Varan adalah makhluk hidup terbesar di planet ini," teriak Paradox ditengah gemuruh hembusan api –kami sebenarnya tidak terkena langsung, melainkan hanya percikannya, karena Paradox masih 'hinggap' di langit-langit mulut Varan. "Tapi gerakannya luar biasa lamban. Pindah dari posisi ini memerlukan waktu berhari-hari. Dan walau apinya sangat panas dan berjangkauan luas, itu masih sangat kecil jika dibanding seluruh tubuhnya, ditambah dia tidak bisa menghembuskannya untuk waktu yang lama," jelasnya panjang lebar.

"Daripada menjelaskan hal yang aku sudah tahu, lebih baik kita segera menuju AEsir," gerutuku malas.

Semburan api selesai, dan aku yakin itu semburan yang sia-sia. Varan sudah buta sebelah, dan keempat Etatheon sangat gesit. Samar, aku mendengar teriakan Pyrus dari luar.

"Bersiaplah kalian bertiga !"

.

Bersiap ? Untuk apa ?

.

Stalaktit yang dihinggapi Paradox berguncang bersama dengan stalaktit dan stalagmit lain yang ada disana. Banyak diantara mereka akhirnya roboh dan hancur bersamaan dengan rahang, eh, kepala, yang terangkat ke atas.

Apa yang terjadi adalah, keempat Etatheon menembakkan empat Ryuudama berukuran cukup besar tepat ke dagu depan bagian bawah Varan, membuat kepalanya terdorong ke belakang layaknya orang yang baru kena tinju di dagunya, mendorong kami langsung ke kerongkongannya tanpa banyak usaha.

Pernah dengar gerakan peristaltik ? Gerakan itu mendorong makanan yang memasuki kerongkongan menuju lambung. Tapi rupanya tidak perlu gerakan peristaltik samasekali untuk 'mendorong' Paradox dan aku ke lambung Varan, karena kerongkongan ini bahkan cukup lebar dan cukup lapang untuk digunakan sebagai jalur beberapa kapal uap pesiar sekaligus ! Aku penasaran apakah Varan ini pernah –atau bisa tersedak.

Saat kami akhirnya sampai di ujung kerongkongannya, jalur 'akses' menuju lambung dimana AEsir berada...tertutup.

"Kerongkongannya tertutup..." desisku. "Haruskah kita menghancurkannya ?"

"Tidak perlu, kalau kau ingin Lima Negara Besar hancur oleh para kolosal sebelum perang dimulai," balas Paradox dengan sikapnya yang biasa.

Aku bersiap membentuk Rasenshuriken untuk yang kedua kalinya sebelum...

.

.

"Dinding pembatas kerongkongan dan lambung ini tebalnya 60 meter," tabrak Paradox, "kau yakin Rasenshuriken-mu bisa menembusnya ?"

DAN itu cukup membuatku menghentikan aksiku. Naga ini super raksasa ini sungguh gila. Apa selanjutnya ? Leukosit berukuran sebesar manusia yang bisa mendeteksi penyusup ? Atau 'cacing perut' yang bisa memakan seekor naga ?

"Lakukan dengan Jinton," desis Paradox. Hah ? Aku bingung sendiri. "Dasar. Sekarang tanganmu bisa berlipat banyak kan ? Gunakan saja tiga tangan, masing-masing dialiri chakra angin, api, dan tanah dengan pembagian sepertiga-sepertiga," jelasnya tak sabar. Oh, itu ! Aku mengerti sekarang. Naga tungganganku ini membuka penutup kristal dari berlian-berlian punggungnya yang berfungsi melindungiku.

Aku membentuk satu lengan chakra di punggung, menyatukan semuanya di depan dada, berusaha mengumpulkan ketiga chakra alam dan menyatukannya. Itu...agak sulit, tapi setelah beberapa menit aku mencoba, kumpulan percikan kekuningan mulai tampak, makin lama makin kompak, dan aku melakukan handseal singkat kelinci-monyet-domba-ular, kemudian...

"為塵:玄海はく里の術 !"

Jinton: Genkai Hakuri no Jutsu

(Elemen Debu: Jurus Pemisah Dimensi)

TRRIIIINNNGGG ! ! ! Jutsu Kekkei Touta ini melesat lebih cepat dari yang bisa kulihat, langsung memborbardir sel-sel kerongkongan penutup lambung Varan dan membuat lubang yang berdiameter sama dengan...bola voli.

Aku garuk kepala. Kupikir hasilnya akan lebih besar !

"Dasar pemula," desis Paradox dengan wajah tak bersalah. "Lihat bagaimana aku melakukannya."

Dengan ekornya, ia membuat luka melingkar dengan pusatnya adalah lubang Jinton-ku, kemudian ia menembakkan partikel atomnya dan...voila ! Jalur selebar 40 meter langsung terbuka. Aku melongo mendapati dia melakukan itu dengan sangat mudah. "Seharusnya kau berpikir lebih cepat," katanya. "Kalau kau menggerakkan tanganmu memutar membentuk lingkaran, Jinton itu akan mengiris dinding pembatas ini seperti pisau mengiris daging, dan aku hanya perlu mendorongnya dengan dorongan atom-ku dan semuanya selesai, bukan tembakan tunggal kecil macam itu," jelasnya datar.

"Ya,ya,ya," potongku. "Kenapa tidak kau lakukan semua ini sendiri saja kalau kau memang bisa ?" Kataku malas.

"Tidak," balas Paradox lirih.

.

.

"Aku membutuhkanmu."

"Sangat membutuhkanmu."

.

Aku terdiam. Kata-kata sehalus itu keluar dari mulut naga seangkuh ini ? Ah, mungkin itu kata-kata bujukan seperti saat merayuku untuk ikut bersamanya membasmi Titanis tempo malam.

Kami segera terbang menuju lambung yang sudah kuduga memang akan sangat besar.

Dan apa yang kami lihat...lebih mirip sebuah dunia baru daripada perut.

.

.

Cairan kental berwarna oranye kemerahan yang berbau mirip bangkai tikus, memenuhi tempat yang kurasa seratus kali lipat lebih luas daripada sebuah lapangan sepakbola. Sebuah kota bisa muat masuk kedalam sini. Di langit-langit lambung, stalaktit-stalaktit raksasa dari cairan mukus dan asam lambung yang membeku dan mengeras menggantung berkilat menyambut kami. Dan aku bisa melihat puncak-puncak batu hitam yang menyembul dari cairan lambung Varan, bagai pulau-pulau di laut.

"AEsir berada tepat di tengah lautan asam ini," desis Paradox, "beberapa ratus meter dari sini. Lambung ini saja panjangnya 1,2 kilometer dan lebarnya sekitar 800 meter," jelasnya, membuatku geleng-geleng kepala. Telur apa yang menetaskan makhluk sebesar ini ? Dan –naga macam apa yang menelurkan 'telur pembawa sial' itu ?

"Varan adalah anak pertama dari Horus dan Haumea. Naga ini juga...Kaum Kolosal yang pertama dan terbesar," terang Paradox, kurasa baru saja membaca pikiranku.

Beberapa menit kemudian, aku melihat sebuah 'pulau' berwarna hitam mengkilat yang lumayan luas, dan di pucaknya berdiri sebuah bangunan dengan fondasi berbentuk belah ketupat dan bangunannya sendiri berbentuk lingkaran, dengan atap berupa kubah setengah bola berwarna gading yang disangga dua belas tiang perunggu berwarna kuning gelap. Beberapa batu besar berwarna kemerahan yang terletak berserakan di pulau itu ditulisi huruf kanji aneh yang tampak asal-asalan.

"Ini AEsir ?" Tanyaku begitu kami mendarat. Paradox mengangguk sekali. "Kupikir di dalam akan lebih ramai," sambungku, "apa Madara tidak mengirimkan siapapun untuk mencegah kita menonaktifkan Kaum Naga Kolosal ? Kedengarannya gampang sekali," imbuhku.

"Kurasa tidak. Kaum Naga Kolosal terhitung sulit dikendalikan, peristiwa tempo malam itu mungkin hanya keberuntungan," desis Paradox. "Lagipula akan sangat sulit mengendalikan ribuan naga berukuran luar biasa, bahkan dengan Mangekyo Sharingan Abadi sekalipun. Tidak ada untungnya mengendalikan mereka, untuk orang sehati-hati Madara dan Hanzo."

.

.

"Apa kau Paradox ?"

.

Aku terperanjat karena sejauh kami mendarat disini, tidak ada satupun makhluk hidup yang kujumpai. Aku menoleh ke kanan-kiri, berusaha mencari si pemilik suara, sementara Paradox tetap tenang dengan sikapnya yang biasa. Ugh, apa yang perlu kau takutkan kalau kau adalah makhluk abadi ?

"Ya, ini aku," Paradox justru menjawab pertanyaan tadi, yang sampai detik ini belum kuketahui darimana asalnya.

"Dan bocah ini ?" Suara itu kembali bergema. "Jangan-jangan dia Draco P ?"

Paradox mengangguk. Aku yang menyerah mencari pemilik suara akhirnya melihat ke arah Paradox melihat. Dan aku sempat mengira kalau ada seekor naga atau seseorang yang sudah dimakan Varan dan dia menjadi hantu yang bergentayangan disini, di lambung Varan, tapi ternyata tidak. Paradox sedang bicara dengan...kobaran api hijau kecil yang menyala-nyala di puncak sebuah batu merah.

Kobaran api itu bisa bicara ! Dia memiliki dua mata sipit berwarna merah dan mulutnya juga berwarna merah, dan ini hal teraneh yang pernah kulihat. Benda mati bisa bicara ?

"Siapa dia ?" Refleks aku langsung melontarkan pertanyaan.

Api itu langsung membesar, mengeluarkan sosok naga berbentuk ular tak berkaki. Sisiknya yang sangat banyak dan rapat (yang lebih mirip sisik ikan daripada sisik ular atau naga) berwarna hijau –sesuai warna apinya- dengan kepala justru tanpa sisik dan berwarna putih. Naga ini memiliki ujung ekor mirip ekor ular derik dan berwarna emas. Matanya seperti mata manusia, dengan deretan gigi seperti gergaji di mulutnya. Bibirnya berwarna merah terang seperti barusan diberi lipstik. Sepasang sayap yang mirip sayap elang tumbuh tubuh bagian depannya –walau itu terlalu kecil dari keseluruhan tubuhnya, dan ia mengenakan kalung emas, serta mahkota kepala berbentuk kubah.

"Dia Antaboga," jelas Paradox. "Penjaga AEsir," tambahnya.

"Hmm," hanya itu yang keluar dari mulut naga 'aneh' ini. "Kalian pasti datang untuk membenamkan semua Kaum Kolosal, ya ?" Tebaknya. "Itu tidak akan mudah. Kunci untuk menyegel mereka menggunakan AEsir ada padaku, dan aku tidak akan memberikannya begitu saja," desisnya ganas.

"Kenapa ?" Sentakku tak sabar. "Kau ini berpihak pada siapa ? Para raksasa tak berotak itu atau dunia –yang berisi para manusia dan naga ?!"

"Kalian para manusia tidak akan mengerti," kata Antaboga agak angkuh. "Jika kalian mendapatkan sesuatu dengan mudah, dengan mudah pula kalian akan membuangnya ! Karenanya aku tidak akan memberikan kunci AEsir terlalu mudah. Dunia ini adalah tempat bagi orang-orang yang mau bertarung dan berusaha."

"Antaboga menghabiskan waktu puluhan dekade untuk bertapa disini, di perut Varan," jelas Paradox. "Ia bijaksana, walaupun hampir tidak pernah melihat dunia luar. Dan...jika ada seseorang yang bisa mengalahkannya, dia juga akan mendapatkan keuntungan dari itu. Semacam mutualisme."

"Hmph !" Semburku, meremehkan Antaboga. "Aku bersama Paradox. Dia bisa mengalahkan seratus naga kolosal dalam waktu singkat ! Kau akan seger kalah dan kami akan mendapatkan kunci itu !" Seruku bersemangat. Kutarik Pedang Rikudo dari sarungnya. "Ayo, Paradox !"

.

.

"Hei !" Sentakku pada Paradox yang...duduk santai di sebuah batu. "Kenapa kau tidak membantuku ?!"

"Hm ?" Balas Paradox kalem. "Aku sedang membantumu," jawabnya ringan.

"Membantu dengan tidak melakukan apa-apa ?" Balasku ketus.

"Benar, Naruto !" Seru Kurama tiba-tiba yang dari tadi diam saja. "Paradox membantumu dengan membiarkanmu bertarung sendiri dengan Antaboga itu ! Itu sama saja mengasah kemampuanmu, kan ? Kau tidak bisa selamanya mengandalkan Paradox walau dia abadi," jelasnya. Cih, sejak kapan Kurama lebih pintar dariku ?

"Ayo mulai," tantang Antaboga. Ia menggulung tubuhnya, menaikkan leher dan kepalanya, mirip posisi seekor kobra yang siap menyembur.


Amegakure

TAP !

Sosok berjubah hitam bercorak awan merah lengkap dengan caping itu mendarat mantap di pelataran sebuah menara. Menara tertinggi di Amegakure, sekaligus kediaman Hanzo.

Beberapa pengawal yang sudah berjaga di gerbang luar segera berjalan mendekat.

"Ikut kami," ujar salah satu dari mereka. "Hanzo-sama menunggumu."

"Aku tidak butuh bantuan kalian," desis Nagato geram. "Aku hafal seluk-beluk menara ini luar dalam. Enyahlah dari hadapanku."

"Dasar sombong," timpal pengawal yang lain. Ia mengacungkan tombaknya. "Jangan hanya karena kau punya Rinnegan, kau bisa besar kepala di hadapan kami ! Kami adalah pengawal elit kepercayaan Hanzo-sama !"

Nagato menggeser topi capingnya. Ia melakukan handseal.

"為土: 骨折の術 !"

Doton: Kossetsu no Jutsu

(Elemen Tanah: Jurus Retakan)

BRAAAKKKKK ! ! !

Suara teriakan terdengar untuk waktu yang singkat. Tanah terbelah, dengan cepat meluncurkan dan menelan para pengawal gerbang hingga raib dari pandangan. Nagato menghela napas.

"Aku akan hindari korban yang tidak perlu," desisnya. Tidak menunggu lama, ia segera berlari secepatnya ke gerbang dalam, pintu besar yang langsung menuju ke ruangan paling dasar menara. Puluhan pengawal menunggu di depan, kembali mengacungkan tombak mereka dan segera maju menyerang. Beberapa pengawal melempar shuriken dan kunai, bahkan tombak mereka sendiri.

Nagato berhenti mendadak. Sepatunya berbunyi saat bergesekan dengan lantai beton. Rambut merahnya berkibar ke belakang, dan ia mengarahkan tangan kanannya yang terbuka lebar lurus ke depan.

"神羅転生 !"

Shinra Tensei

(Dorongan Universal)

Dalam satu kedipan mata, semua pengawal –plus segala senjata yang dilemparkan padanya, terlempar ke depan hingga membentur dinding dan pintu menara. Nagato nyaris mendobrak pintu depan, namun otaknya berpikir lebih jauh lagi. Daripada bertemu lebih banyak prajurit dan bertarung terlalu lama yang akan buang-buang waktu, lebih baik panjat menara ini dari luar, pikirnya.

"Kuchiyose no Jutsu !"

Asap putih menyelimuti tempat itu, dan ketika asap itu menghilang, tampaklah seekor bunglon raksasa dengan mata besar bercorak Rinnegan. Sayap kecil di punggungnya, kulit berbenjol-benjol, dan ekornya adalah seekor ular. Bunglon itu membuka mulutnya, dan Nagato melompat masuk. Binatang panggilan itu menutup mulutnya, dan segera menghilang. Kamuflase yang sempurna dengan apapun latar belakangnya. Sang bunglon memanjat menara dengan hati-hati namun tetap cukup cepat, dan tentunya, tanpa terlihat.

Tidak makan waktu lama ketika akhirnya bunglon –yang masih tak terlihat- itu mencapai puncak menara.

Namun...

.

.

CRASSHHH ! ! Cairan asam menyemprot tepat ke tubuh bunglon, membakar kulitnya dan memaksa Nagato keluar.

Bunglon itu akhirnya menghilang ditelan asap. Sekarang Nagato berhadapan dengan...Hanzo no Sashuoo, pemimpin tertinggi Amegakure, yang berdiri angkuh tidak jauh di depannya dengan jubah kepemimpinannya. Pria itu menatap Nagato datar. Sebaliknya, Nagato membelalakkan matanya, terang-terangan menampakkan pola riak air ungu yang mengisi bola yang berfungsi sebagai jendela dunia sekaligus kekuatan terbesarnya.

"Dimana Konan ?" Geramnya.

Untuk beberapa detik, Hanzo tidak bereaksi.

Akhirnya Nagato dengan berani merengsek maju, mengabaikan semua pengawalnya dan mencengkeram kerah rompi 'atasan'nya itu.

"DIMANA KONAN ?!" Bentaknya. Peduli amat dengan siapa dia bicara sekarang.

"Entahlah ?" Jawab Hanzo santai. Sorot matanya masih datar. "Atau mungkin kau mau melihatnya sebentar dan mengucapkan selamat tinggal sebelum perempuan malang pembangkang itu digantung ?" Susulnya dengan nada sinis.

Pintu sebelah kanan terbuka, menampakkan dua pengawal bertubuh kekar yang menggiring seorang gadis berambut biru dengan origami kertas berbentuk bunga di rambutnya. Ia menatap Nagato sayu –sekaligus senang bercampur khawatir.

"Konan masih hidup..." desis Hanzo santai. "Tapi tidak untuk waktu yang lama. Kecuali kau bisa menyelamatkannya, mungkin ?"

Nagato mempererat cengkeramannya.

"Bebaskan Konan..." katanya dengan gigi bergemeletuk menahan marah. "Sekarang juga."

"Boleh," balas Hanzo datar. "Dengan satu syarat. Kau harus..."

.

.

"...memanggil kerangka kosong Juubi itu ke hadapanku sekarang juga."

.

Nagato terkejut. Tanpa sengaja ia melonggarkan cengkeramannya, membuat Hanzo langsung menamparnya dan menendangnya hingga laki-laki berambut merah itu tersungkur di lantai teratas menara tertinggi. Sosok bermata cokelat itu tersenyum sinis, yang tidak terlihat dibalik masker anehnya itu.

"D-darimana kau tahu ?" Desis Nagato.

"Mudah," balas Hanzo cepat. "Satu-satunya yang bisa mengendalikan kerangka kosong Juubi, atau yang biasa disebut Gedomazou, adalah mereka yang memiliki chakra khas Senju dan Uchiha. Kau keturunan klan Uzumaki, Nagato. Sedangkan Uzumaki itu sendiri hanyalah percabangan dari klan Senju. Dan chakra Uchiha-mu ada dalam matamu...Rinnegan..."

Nagato meneguk ludah. "Apa...maksudmu ?"

"Dasar polos," tanggap Hanzo tawar. "Madara memberitahuku. Byakugan masih bersaudara dengan Sharingan, dan Sharingan punya tiga tahapan munculnya tomoe dari satu sampai tiga. Setelahnya, terdapat tahap tinggi yang disebut Mangekyo Sharingan. Jika dua Mangekyo Sharingan digabung akan mendapatkan Eternal Mangekyo Sharingan. Dengan bantuan sel keturunan Senju, Eternal Mangekyo Sharingan dapat berubah menjadi Rinnegan..."

"...dan Madara adalah orang pertama yang berhasil melakukannya. Dia sempat meminta matanya kembali !"

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan !" Teriak Nagato.

Hanzo terdiam sejenak. "Semua orang mengetahui bahwa Madara telah mati dikalahkan oleh Senju Hashirama, Shodaime Hokage di Lembah Akhir. Nyatanya tidak begitu. Uchiha Madara masih hidup dan ia memanggil Gedomazou dari bulan, menggunakan kekuatannya untuk memperpanjang umurnya. Untuk mengendalikan Mazou, Madara mencangkokkan sel Hashirama kedalam dirinya...dan menjelang kematiannya, ia membangkitkan Rinnegan..."

"...akan tetapi Madara mengetahui umurnya takkan panjang lagi, sehingga ia menitipkan Rinnegan-nya padamu, Uzumaki Nagato ! Dia memilih klan Uzumaki yang punya banyak chakra dan berumur panjang serta memiliki sedikit kekuatan dari Senju, sehingga kau bisa mengendalikan Mazou. Ketika Madara mati, hanya beberapa tahun setelahnya, Styx menemukan tempat dia dikubur dan menghidupkannya lagi dengan segel kutukan miliknya. Dan sekarang...Madara butuh Rinnegan untuk membangkitkan Juubi..."

"Kau tidak setuju dengan rencana ini, bukan ?" Tabrak Nagato. Hanzo mengangguk.

"Tentu saja ! Siapa yang mau jadi bawahan Madara ? Kau-lah kunci kemenanganku, Nagato ! Bergabunglah denganku, kita hancurkan Madara ! Kita bisa melancarkan Mugen Tsukuyomi hanya untuk kita !" Seru Hanzo dengan suara menggelegar.

Sudah kuduga, batin Nagato. Hanzo memang agak sulit berkoalisi dengan siapapun. Tapi Madara jauh lebih hebat dari yang dia pikirkan, apalagi dia juga dibantu oleh dua naga pengkhianat Etatheon, yang sekarang berusaha membangkitkan Droconos. Situasi akan jadi semakin kompleks.

"Bagaimana, Uzumaki Nagato ?" Tanya Hanzo tak sabar.

.

"Aku menolak," jawab Nagato tegas. "Aku menyesal, tapi kurasa aku harus mengakhiri hidupmu sekarang juga."

Para pengawalnya langsung bersiap, namun Hanzo mencegah. "Hentikan. Sudah lama aku ingin bertarung dengan bocah ini."


Piramida Perpustakaan Besar Alexandriana

"Orochimaru-san, Kabuto-san."

Suara itu terdengar keras walau diucapkan dengan datar. Dua sosok pemilik nama itu segera mengalihkan pandangan dari buku yang sedang mereka tekuni, dan mendapati seseorang berjubah hitam dengan topeng oranye berbentuk pusaran air yang hanya punya satu lubang mata kanan. Orochimaru berdiri, menatapnya curiga.

"Pengguna Jikukan Ninjutsu-kah ?" Selidiknya datar.

"Luar biasa, benar dalam sekali tebak," puji sosok itu, "aku sedang mencari sesuatu, ternyata kalian mendapatkannya duluan."

Kali ini Kabuto ikut bangun, mengeluarkan sebuah pedang pendek. "Mau apa kau kemari ?" Gertaknya. "Dari penampilannya, kau bukan ilmuwan atau siapapun yang bertujuan mencari sesuatu yang...menambah pengetahuanmu."

Sosok itu tertawa ringan. "Pengetahuan dan kekuatan, keduanya harus seimbang. Pengetahuan tanpa kekuatan adalah pincang, sedangkan kekuatan tanpa pengetahuan adalah buta. Serahkan buku itu padaku dan semuanya selesai," katanya tanpa banyak basa-basi.

"Orang sepertimu tidak pantas memilikinya," tentang Orochimaru.

"Ini perpustakaan, Orochimaru-san," balas sosok itu, "bukan toko buku. Aku akan mengembalikan buku itu nanti, kalau kalian memang belum selesai mempelajarinya," ujarnya santai. "Sebaiknya kita hindari pertarungan. Kalau sampai ada satu saja Harpy yang tahu, dia akan memanggil Oedipus dan perkara jadi rumit," tambahnya sembari mengulurkan tangan kanannya. "Berikan."

Saat itu juga, selusin ular mendadak keluar dari lantai perpustakaan, membelit tubuh orang itu hingga tidak bisa bergerak.

"Takkan pernah," balas Orochimaru sinis.

Kabuto memainkan pedangnya. "Haruskah dia dihabisi, Orochimaru-sama ?" Selidiknya.

.

"Hah ?!" Seru Kabuto sedetik kemudian. Sosok berjubah hitam itu...sudah tidak ada di tempatnya !

"Menghilang begitu saja ?" Tanggap Orochimaru. "Sepertinya teknik Jikukan Ninjutsu-nya cukup hebat. Mungkin bisa disertarakan dengan Yondaime Hokage. Bahkan ular-ularku tidak berkutik," ujarnya.

.

"Tidak bisakah kita melakukan ini lebih mudah ?"

Mereka berdua menoleh ke belakang –kurang cepat, karena sosok itu sudah mengeluarkan rantai yang terhubung di tangan kanan dan kirinya, dan secepat kilat langsung berlari –menembus mereka berdua, meninggalkan mereka bersama rantai yang mengikat di belakangnya.

"Dia menembus kita ?!" Ucap Kabuto tertahan. Sosok itu berjalan santai ke buku yang dijatuhkan keduanya, merogohnya.

"Takkan kubiarkan !" Seru Orochimaru sambil membuka mulutnya. Lusinan ular keluar dari dalam situ, dan mulut mereka membuka, menampakkan sebilah pedang di mulut masing-masing ular. Semuanya mengarah ke satu sasaran, dan...

"Sial," gerutu Kabuto. Ia mengeluarkan pisau chakra, memotong rantai yang mengikatnya dan Orochimaru. "Serangan Orochimaru-sama menembusnya ? Sepertinya ini semacam teknik yang unik baginya," gumamnya.

Sosok itu segera membentuk hanseal begitu berhasil menjauhi para ular. Sebuah bola api ditembakkan –dibalik topengnya.

"原水: 水熱 !"

Suiton: Mizudama

(Elemen Air: Bola Air)

Kabuto membalas, dan lantai perpustakaan langsung basah begitu jutsunya menghajar api lawan. Ia segera melesat maju, memperpanjang pisau chakra di kedua tangannya dan menyerang sosok hitam itu dengan membabi-buta. Tapi percuma, semua serangannya menembus target.

"Sebenarnya dia menggunakan teknik apa ?" Bisik Orochimaru pada dirinya sendiri. Jelas terlalu ceroboh jika menyerang langsung, lebih baik mengamati pertarungan mereka dan mempelajari kelemahan lawan, itu akan jauh lebih efektif, pikirnya. Ia melirik buku yang sudah dijatuhkan sosok bertopeng itu –yang masih sibuk mengatasi Kabuto (dengan tidak melakukan apapun).

Tak menunggu lama, Kabuto segera kelelahan. Keringatnya bercucuran.

"Hmm ? Itu saja ?" Selidik sosok itu sinis. "Kupikir kau akan lebih baik sebagai asisten kepercayaan salah satu Sannin Legendaris," cemoohnya.

Kabuto tersungkur, napasnya terputus-putus. "Sial," gerutunya.

"Lebih baik kuakhiri sekarang saja," sambut pria bertopeng itu santai. Sebilah kunai muncul di kedua tangannya. "Aku tidak bisa menggunakan jurus pisau chakra sebaik kau, tapi aku bisa menirunya dengan dua kunai ini," katanya sambil berjalan mendekat.

Sosok Orochimaru dengan cepat muncul tepat di belakang pria bertopeng, LANGSUNG menebas tangan kanannya dengan Pedang Kusanagi.

Pria bertopeng itu mengaduh, dan setengah detik kemudian, Kabuto langsung bangkit dan segera memukul dada kirinya menggunakan tapakan pisau chakra-nya, membuat sosok misterius itu jatuh telak ke lantai.

Kabut tersenyum kecil. "Huh," gerutunya. "Ada alasan kenapa dua orang saja sudah cukup bahkan untuk menangani naga raksasa sekalipun kalau dibutuhkan..." desisnya santai sembari mengusap peluh di dahinya. "Selagi aku menyerangmu habis-habisan, kau melupakan Orochimaru-sama yang sedang menganalisis pertarungan kita berdua," terangnya. "Dia telah menemukan kelemahanmu dan menyerang di saat yang tepat."

"Kerja bagus, Kabuto," puji Orochimaru sambil berjalan mendekat sosok misterius itu. "Sekarang mari kita lihat setampan apa wajah seseorang yang berani lancang pada kita."

"Aku kasihan," ujar sosok itu tiba-tiba. Orochimaru mengangkat satu alis. "Pada kalian," lanjut pria bertopeng itu, dan dalam sekejap seluruh tubuhnya menjelma menjadi...patung kayu...dengan tangan kanan terpotong dan dada retak.

"Mokubunshin ?!" Seru Orochimaru terkejut bukan main.

"Apa ?!" Kabuto sama terkejutnya. "Jutsu tiruan paling sempurna yang dapat menyalin semua kemampuan dari tubuhnya yang asli ? Bukannya itu juga salah satu...hasil eksperimen Anda, Orochimaru-sama ? Kenapa orang ini...?" Dia tidak melanjutkan kata-katanya. "Pasti dia menggunakannya sebelum Anda menyerangnya !"

"Wow, wow, wow," sebuah suara yang mulai tak asing di telinga mereka berdua terdengar dari sisi belakang. Keduanya menoleh, dan melihat sosok bertopeng itu sudah mengambil buku yang beberapa menit lalu mereka teliti. "Kenapa ada yang mengabaikan sesuatu sehebat ini, ya ?" Sindirnya. "Sayang sekali kalau kau menemukan emas tapi malah menggunakannya sebagai alat untuk menggosok tubuhmu saat mandi, jadi daripada sia-sia di tangan yang salah, lebih baik ini kubawa saja," celotehnya.

Orochimaru menghunus Kusanagi-nya, memanjangkan leher siap menyerang, namun sosok itu tersedot dengan cepat ke sebuah pusaran dimensi yang aneh...yang berpusat pada mata kanannya.

"Sampai jumpa. Semoga beruntung lain kali !" Katanya sambil melambaikan tangan. Menghilang.

"Sial," hanya itu yang keluar dari mulut Orochimaru. "Oedipus akan sangat marah."


Varan's Stomach

Aku dibantu Kurama.

Aku berusaha menanamkan itu dalam diriku. Aku tidak sendirian. Lagipula, Paradox melihatku. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi.

Antaboga merengsek maju, langsung menggigit 'tanah' tempat aku berdiri dengan gigi-giginya yang seperti seratus belati dijejer. Aku melompat menghindar ke belakang, lantas melempar satu shuriken dan segera membuatnya menjadi jauh lebih banyak dengan Shuriken Kagebunshin no Jutsu. Meski aku tidak yakin shuriken-shuriken itu bisa menembus sisik Antaboga yang tebal, hitung-hitung mengetes kekuatan sisik-sisiknya. Dan semua shuriken itu hancur begitu mengenai sisik-sisik baja Antaboga.

Aku menaruh jari telunjuk dan jempol tangan kananku ke dagu, berpikir. Apa kejadiannya akan sama dengan Wyvern ?

Naga itu mendengus meremehkanku, lalu menyemburkan api berwarna hijau tua. Aku melakukan handseal yang pernah kupelajari.

"原水:水龍イルの術 !"

Suiton: Suiryuudan no Jutsu

(Elemen Air: Jurus Naga Air)

Dalam sekejap, muncul air dari kedua telapak kakiku dan langsung membentuk seekor naga –yang terbuat dari air, yang kemudian menerjang Antaboga yang segera melingkarkan ekornya pada salah satu batu merah, berusaha bertahan dari derasnya jurusku. Aku tidak akan berpikir kalau itu sudah cukup, jadi selagi dia sibuk dalam posisi bertahan, kulancarkan serangan yang lain.

Para Kagebunshinku langsung menyerang, namun dikaburkan dengan mudah oleh api hijau Antaboga. Begitu merasa semua bunshin menghilang, ia menyerang sosok yang dikiranya sebagai sosok asliku. Tapi begitu ia menabrak 'aku' dengan kepalanya dan membenturkannya ke salah satu batu merah, manusia yang ditabraknya itu menghilang dalam asap putih.

"Bunshin juga ?" Gerutunya. "Dimana yang asli ?"

'Tanah' tepat di bawahnya retak dan terbuka. Aku siap !

"仙人:巨大螺旋丸 !"

Senpou: Oodama Rasengan

(Teknik Sage: Rasengan Jumbo)

Bola angin besar itu langsung menggilas leher Antaboga, memecahkan beberapa sisiknya dan membuatnya terpelanting ke belakang. Aku menyusup lewat 'tanah' yang ternyata lumayan lunak ini, dan begitu ada kesempatan kuserang naga itu dari bawah. Dan itu berhasil.

"Seorang Sennin, huh ?" Gerutu Antaboga sambil berusaha bangun kembali. "Aku sampai kehilangan satu gigiku. Serangan yang lumayan," desisnya. Aku memasang kuda-kuda. Satu teknik rahasia sudah kukeluarkan sekarang. Aku percaya naga sebijaksana Antaboga tidak akan mempan ditipu oleh trik yang sama dua kali, jadi aku harus pandai-pandai memikirkan strategi baru.

Antaboga membuka mulut lebar-lebar. Mendadak, ratusan duri-duri tajam berlapis api hijau melesat keluar, berusaha mengenaiku. Aku tidak bisa melakukan jutsu elemen tanah disini untuk melindungiku karena aku tidak yakin apakah ada unsur tanah di perut raksasa ini, jadi satu-satunya jalan terbaik adalah membalas dengan jutsu serang-semi-pertahanan. Elemen angin.

"為風: 竜巻の術 !"

Fuuton: Tatsumaki no Jutsu

(Elemen Angin: Jurus Tornado)

Pusaran angin berbentuk corong –yang anehnya bersumber dari langit-langit lambung Varan- segera terbentuk dengan cepat, meniup dan mengalihkan semua duri-duri api yang ditembakkan Antaboga. Namun sekalipun dia terkena tekniknya sendiri, tidak ada gunanya. Sisiknya sungguh tebal. Apa mungkin dia punya kelemahan yang sama dengan Wyvern –mulut ? Tapi kulihat duri-duri itu sebagian terpental ketika menghantam tornadoku dan menelusup masuk ke mulut dan lidahnya, dan dia tampak baik-baik saja, jadi kurasa kelemahannya bukan di mulut.

SRET !

SRET !

Aku menoleh. Kudapati beberapa duri menggores pakaianku, dan aku berkelit menghindar. Mereka terlalu banyak sedangkan tornadoku terbatas ! Aku terus bergerak, duri-duri itu terus menancap. Sampai kulihat sebuah batu delima yang...tidak bisa ditancapi oleh satupun duri Antaboga. Kulempar satu shuriken dengan chakra angin ke batu delima itu. Dan tidak menancap juga. Batu itu pasti keras. Sebuah ide segera hinggap di kepalaku.

Aku melompat tinggi-tinggi, memanfaatkan tornado yang masih berputar untuk membuatku berputar beberapa kali dan terlempar ke belakang Antaboga. Sebelum ia sempat bereaksi, kupegang ujung ekornya dan kulemparkan dia ke salah satu batu delima terbesar yang bisa kulihat.

BRRAAANNGGG ! ! !

Sisik baja Antaboga berbunyi seperti gong dipukulkan ke batu begitu menghantam batu delima itu. Ia meraung kesakitan, tapi hebatnya, tidak ada satupun sisik hijaunya yang lepas ! Aku meneguk ludah. Dimana titik lemah naga ini ?

.

.

"Perutnya !" Seru Kurama dari dalam tubuhku. Aku tersadar. Ya, benar.

Dengan kata lain, bagian bawah tubuhnya.

Tadi aku menghantam area itu dengan Oodama Rasengan, dan hasilnya, beberapa sisik bawahnya lepas. Bahkan satu giginya sampai lepas. Kenapa aku tidak terpikir secepat itu ? Segera saja kulempar naga yang ekornya masih dalam genggamanku ini ke batu delima di sebelahnya –kali ini dengan bagian perutnya tepat ke batu merah itu. Dan...

PRRAAAAANNNGGG ! ! ! Semua sisik di perutnya segera pecah berkeping-keping, memberi warna baru pada 'tanah' AEsir itu. Darah menetes dari mulut sang Antaboga. Ia meringis. Aku melompat mundur sambil berusaha mengatur kembali napasku yang masih terengah-engah. Ini pertama kalinya aku menggunakan energi Sennin Modo untuk melempar sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berat dari tubuhku sendiri.

"Aku terkesan, Naruto-sama," desis Antaboga kemudian bangkit berdiri. "Dracovetth didikan Paradox memang selalu tidak mengecewakan," imbuhnya, kemudian mengepakkan sepasang sayapnya beberapa kali. Ketika ia menyingkapnya, tampak sebuah kunci tembaga sebesar lengan manusia dewasa dengan ukiran rumit. Aku menerimanya dengan senang hati. Untuk sementara, karena...

.

.

Kunci ini berat sekali ! Aku tidak bersiap menggunakan energi Sennin Modo lagi karena tidak mengira kunci ini jauh lebih berat. Mungkin sekitar dua ratus kilogram ! Padahal aku memperkirakan beratnya hanya sekitar sepuluh kilogram saja. Aku bisa mendengar Kurama terkekeh geli begitu melihatku tersuruk-suruk membawa kunci besar ini.

"Nah," desis Antaboga ramah. "Cepat masukkan itu ke lubang kunci di pusat AEsir, dan lihat keajaiban yang terjadi," katanya misterius.

Mendadak, seluruh area berguncang pelan. Area. Alias...lambung raksasa Varan. Bahkan mungkin sekujur tubuh Varan sedang berguncang dan berderak sekarang ! Aku pontang-panting berusaha menjaga keseimbangan dengan kunci seberat sapi ini. "Apa yang terjadi ?!" Seruku keras-keras.

"Parthenon memberi telepati padaku," desis Paradox. "Dia bilang Varan mulai marah, dan sekarang naga kolosal ini menyedot apa saja yang ada di depannya, termasuk daratan penyusun pulau ! Para Etatheon berhasil menghindar dengan terbang ke langit, tapi kemarahan Varan sepertinya akan berlangsung lumayan lama ! Kepingan-kepingan daratan itu akan sampai di lambung ini hanya dalam waktu beberapa belas menit !" Jelas Paradox.

Ini bahaya. Harus kumasukkan kunci ini sebelum potongan pegunungan atau apapun yang dihisap naga super raksasa ini masuk ke lambungnya. Aku berjalan susah payah ke pusat bangunan kubah lingkaran itu. Begitu aku memasukinya, dua belas tiang perunggu yang menyangga bangunan itu bersinar gemerlap. Bangunan gading ini berguncang, dan bagian tengahnya tenggelam. Beberapa saat kemudian, bagian tengah kembali dalam bentuk yang berbeda. Patung seekor naga...yang kurasa adalah replika dari Antaboga itu sendiri, hanya saja seluruh tubuhnya berwarna putih sekarang.

Tepat berada di pusat AEsir, di mulut patung Antaboga yang terbuka, terdapat lubang kunci yang pas dengan kunci yang kupegang sekarang. Dengan susah payah, kumasukkan anak kunci ke lubangnya.

"Putar !" Seru Antaboga –yang sudah berada di belakangku.

"Ini tidak mudah !" Balasku dengan keringat bercucuran. "Hei Paradox ! Bisa bantu aku ?"

Paradox menggeleng. "Jika yang menyegel para kolosal bukan manusia, maka itu tidak akan bekerja. Percuma naga terkuat sekalipun," jelasnya pendek sambil tetap bergeming duduk di sebuah batu merah. Aku mendengus kesal, tapi apa boleh buat.

Kudorong anak kunci itu sekuat tenaga, tapi tidak ada gunanya. Keringatku bercucuran. Ugh, ini sangat keras ! Tapi aku harus bisa !

Antaboga hanya bisa geleng-geleng kepala. Entah karena apa. Satu menit berlalu dan aku masih tidak bisa menggesernya barang sesenti. Naga penjaga bersisik hijau di sebelahku ini akhirnya melirik Paradox –yang juga mulai tak sabar. Ia bangkit dan berjalan ke arah kami.

.

"Dasar bodoh," desis Paradox datar. "Kau memutarnya ke arah yang salah !"

.

.

APA ? Aku tidak tahu harus bagaimana bertingkah sekarang. Antaboga tertawa habis-habisan. Dia sengaja mengerjaiku ! Segera kupindah posisi dan kuputar, kali ini dengan lebih kuat. Dan kunci itu berputar sedikit demi sedikit, hingga aku tidak bisa memutarnya lagi setelah dua kali berotasi.

CLANK !

Kunci itu tertancap kuat ke mulut patung dengan sendirinya, perlahan tenggelam sendiri, masuk ke mulut patung. Dua belas tiang perunggu bersinar terang, berputar searah jarum jam dengan kecepatan yang luar biasa, membuatku pusing. Terdengar suara seperti bongkahan batu yang jatuh ke air kental. Aku melirik Paradox, dan dia mengangguk.

"Potongan daratan yang dihisap Varan sudah sampai ke lambungnya," desisnya. "Itu akan membuat gelombang pasang asam lambung yang bergejolak mencerna –apapun yang masuk ke perut ini, bahkan batu sekalipun. Kita harus pergi dari sini, segel AEsir ini akan melumpuhkan Varan dari dalam dan kemudian menyebar ke seluruh Kaum Kolosal," jelasnya cepat.

"Bagaimana kita keluar dari sini ?!" Seruku agak panik.

"Aku bisa mengebor batuan cadas lebih cepat daripada Galaeana," tabrak Paradox. "Naiklah. Aku akan melindungimu dengan enam berlianku seperti tadi dan kita akan keluar lewat punggung naga raksasa ini," perintahnya.

"Antaboga ?" Selidikku. "Kau tidak ikut ?"

Naga itu menggeleng. "Metamorfosisku sebentar lagi. Lihat ! Ekorku sudah diselubungi kerak putih. Aku akan menunggu sampai semuanya siap, bahkan walau harus terperangkap di perut naga sepanjang sepuluh kilometer, aku akan keluar dan hidup, menikmati dunia dalam wujud yang sesungguhnya, mempergunakan kebijaksanaan yang kudapat untuk kepentingan banyak makhluk hidup," cerocosnya panjang lebar.

Aku menggaruk kepala, tidak mengerti.

"Antaboga terkena kutukan sehingga menjadi seperti ini. Jika ada yang menyegel Kaum Kolosal di AEsir, kutukannya akan hilang, dan dia akan bermetamorfosis dan kembali ke wujud asalnya," jelas Paradox cepat. "Cepatlah keluar begitu kau selesai," pesannya pada Antaboga. Kristal berbagai warna kembali menyelubungiku, dan Paradox langsung meluncur bagai roket –menabrak atap AEsir yang berbentuk kubah. Alasannya sederhana –ia tidak mau repot-repot menghancurkan dua belas tiang perunggu yang masih berputar cepat.

Dalam waktu singkat saja kami sudah berada di langit-langit lambung super raksasa ini. Ketujuh berlian Paradox bersinar, menyatu menjadi cahaya putih di dadanya –Darah Delima, kemudian menembak tepat ke atas, mengebor dan menembus ratusan meter elemen hidup ini dalam hitungan detik. Hanya dalam waktu satu menit, aku bisa melihat cahaya dari luar –sebuah lubang besar yang muat untuk terbang Paradox langsung terbuka.

"Makhluk hidup tetap makhluk hidup, Varan akan beregenerasi kembali walau lambat, jadi bersiaplah untuk kecepatan tertinggi," katanya singkat.

Aku tidak bisa merasakan desiran angin dari rambut, baju, atau tubuhku. Suaranya saja yang terdengar, juga tidak terlalu keras karena aku dilindungi kristal berlian Paradox. Tapi bisa kurasakan kami sedang terbang vertikal ke atas dengan sangat cepat, hingga akhirnya keluar –melihat cahaya sang surya lagi, birunya laut, hijau dan damainya hutan, serta aroma khas udara –tidak seperti suasana lambung super raksasa itu yang bau, pengap, dan panas.

"Serasa masuk kulkas," candaku begitu Paradox membuka pelindungnya. "Kau juga merasakannya ?"

"Apa maksudmu ?" Balasnya. "Aku bisa bertahan hidup di Planet Merkurius lalu dipindahkan ke Pluto tanpa merasa ada yang berbeda". Oh, Kami-sama. Kenapa Kau 'anugerahkan' naga sesombong dan seangkuh ini pada Dracovetth amatir yang-mendadak-tenar-ini ?

"Wow, itu pasti hebat !" Suara Hermes mengagetkanku. "Sayang aku tidak sempat masuk ke dalam tadi," ujarnya, disusul tiga Etatheon yang lain.

"Kalian bertemu Antaboga ?" Selidik Parthenon. Aku mengangguk cepat. "Dia pasti sedang bermetamorfosis disana," tebaknya. Dan aku mengangguk lagi.

"Untunglah kita tidak sedang menapak ke Bumi sekarang," ucap Beleriphon. "Lihat !"

Varan –naga super duper ekstra kolosal itu kini berguncang seperti pendulum. Ekornya lepas dari tubuhnya, disusul kaki belakang, kaki depan, dan akhirnya kepala. Suara berisik yang hebat dan getaran yang luar biasa mengiringi terbongkarnya makhluk hidup terbesar yang pernah berjalan di planet ini. Sesaat kemudian, kulihat mata kuning-merah-hitam selebar lapangan kasti itu kehilangan cahayanya, mati semua bagai bohlam yang filamennya putus.

"Demi Ganymede, aku selalu kasihan pada para kolosal," ucap Pyrus. "Sebentar lagi para Jőrmungandr, Titanis, Rodrigues, Tailtorn, dan semua kolosal yang bahkan belum sempat bangkit akan tertanam lagi ke tanah hingga waktu mereka tiba lagi," katanya.

"Ha ?" Seruku. "Jadi setiap 275 tahun si Varan itu akan bangkit lagi ?"

Kelima Etatheon ini mengangguk kompak. "Dan seseorang harus menyegelnya lagi dan lagi, kecuali mereka ingin para kolosal menebar teror di dunia sampai mereka secara alami terkebumikan lagi," jelas Parthenon.

"Hmm ? Apa aku melewatkan sesuatu ?" Kurama mendadak bersuara.

"Darimana saja kau ?!" Bentakku. "Kau...tidak lihat barusan ?"

"Aku tidur."

Oke. Ini pasti naga penuh kejutan nomor satu yang pernah kutemui dalam hidupku. Selain Paradox, mungkin.


Amegakure, Highest Tower

Hanzo dan Nagato saling berhadapan. Sorot mata mereka serupa sekarang. Nagato akan lebih hati-hati karena sebelumnya binatang panggilannya berhasil dilumpuhkan Pinthowra Hanzo dengan mudah.

Hanzo mulai duluan.

Ia cabut sebuah gulungan dari pinggangnya, langsung membukanya dan melesatkan puluhan kunai dengan kertas peledak. Nagato menatap nanar semua kertas yang ditempel di kunai-kunai itu. Ia bisa mengetahui...kalau itu hanya jebakan.

Hanya beberapa kertas yang benar-benar merupakan kertas peledak. Tentu saja, Hanzo takkan mengambil resiko puncak menaranya hancur akibat banyak sekali ledakan yang terjadi jikalau itu tak mengenai Nagato. Tapi ini juga akan sia-sia...

"Shinra Tensei !"

JLEB ! JLEB ! JLEB !

Semua kunai terhempas dan mendarat kembali di dekat tiap prajurit –yang langsung lari tunggang-langgang.

DUUAAARRR ! ! !

Nagato melirik pintu kanan. Pengawal itu sudah kabur duluan. Konan pasti selamat, pikirnya. Tapi aneh. Dimana...

"Mencariku ?" Sebuah suara terdengar tepat di belakang Nagato. Hanzo menarik pedang dari sarungnya, berusaha menebas Nagato yang segera menghindar dengan lincah. "Dengan Rinnegan-mu, kau memperoleh banyak keuntungan," desis Hanzo datar. "Kenapa tidak gunakan itu untuk memajukan desa kita tercinta ini ? Tidak perlu jadi pengkhianat, Nagato," ia masih berusaha membujuk.

"Tidak akan," balas Nagato cepat. "Kalian berdua salah. Bukan ini yang diinginkan Yahiko !" Bentaknya.

Hanzo tertawa ringan. "Oh, anak malang !" Serunya dengan suara dibuat-buat. "Jangan bicarakan orang mati," katanya, dan dalam sekejap ia sudah berada di belakang Nagato lagi, menebas lagi, tapi Nagato berhasil menghindar lagi.

Dia pasti menggunakan Shunshin, pikir Nagato cepat. Ia menyemburkam bola api. Hanzo membalas dengan bola api yang sama besarnya. Pertarungan yang seimbang saling menyembur seperti naga, tetap seperti itu untuk setengah menit sampai Hanzo lebih dulu kehabisan napas. Nagato tidak buang waktu dan langsung memperbesar apinya, meluaskan jangkauan berusaha melukai Hanzo –yang membentuk handseal secepat mungkin dan melindungi dirinya dengan dinding yang mendadak muncul dari lantai.

"Dasar," bisik Hanzo. "Efek terlalu sering Shunshin untuk jangka pendek, napasku juga makin pendek," gerutunya.

Api berhenti. Hanzo tetap di tempat, menunggu serangan selanjutnya.

BRUAAKK ! !

Dinding yang dibuatnya hancur dihantam tinju batu lawannya, namun dia bergerak secepat kilat –langsung menempelkan dua kertas peledak ke lengan batu Nagato dan melakukan handseal. Dari lantai tempat Nagato berdiri, keluar kertas-kertas peledak yang langsung membungkus kakinya.

"Berakhir sudah kalau kau tidak bisa berjalan lagi !" Seru Hanzo.

"Tidak akan," geram Nagato pelan. "SHINRA TENSEI !"

.

.

Lima lantai teratas menara tertinggi kediaman Hanzo hancur seketika.

Pria berjubah itu mendarat di sebuah menara lain. Nagato melesat ke arahnya dan langsung menghantamnya dengan sebuah tongkat besi tabung yang keluar begitu saja dari lengannya. Kekuatan Rinnegan. Hanzo membalasnya dengan kunai. Nagato mengeluarkan satu lagi besi tabung di tangan kirinya, namun Hanzo menarik pedang, membalas serangan.

Mereka berdua berada dalam posisi setimbang selama beberapa detik, bergetar berusaha menjatuhkan satu sama lain, sampai Hanzo mengeluarkan cambuk air dari tangan kanannya –tanpa handseal, yang membelit tangan kanan Nagato, memutarnya di udara dan kemudian melemparnya hingga membentur salah satu menara. Ia mengaduh. Hanzo melesat dengan pedangnya, menghunus tepat ke dada Nagato.

BOOFF ! !

"Bunshin," desisnya. "Dasar pengecut."

Dua roket sepanjang tangan manusia dewasa berdesing di belakangnya. Dengan lincah pria itu menghindar, mengabaikan menara-menara desanya yang hancur sebagian dihantam roket yang nyasar itu. Nagato terlihat dari kejauhan, mengangkat tangan kanannya.

"修羅道 !"

Shurado

(Jalur Ashura)

Tangan kanannya terbuka di kedua sisi, meluncurkan dua rudal berujung runcing yang langsung mengejar Hanzo. Pemimpin Amegakure itu diam saja menatap rudal-rudal yang berdesingan ditengah rintik hujan, hingga salah satu dari mereka nyaris mengenainya...

DHUUUAAARRRRR ! ! !

Bagian menara yang sebelumnya ditempatinya kini tampak seperti biskuit yang barusan digigit. Satu rudal masih belum bereaksi. Hanzo muncul di sisi lain menara –yang sialnya malah dekat dengan hulu ledak rudal kedua. Tak pelak, ledakan kedua yang lebih keras, menghancurkan sepertiga menara teratas. Pipa-pipa besi berjatuhan, menyanyikan suara berisik begitu berbenturan dengan lantai baja-beton yang berdiri hanya beberapa meter diatas laut dalam Amegakure.

Nagato mendecih. Hanzo melakukan Shunshin dengan baik, tapi untuk kedepannya tidak akan sebagus itu. Terlalu sering baginya melakukan jutsu perpindahan instan itu.

Geraman pelan terdengar dari belakang. Nagato menoleh. Sebelumnya, ia melirik sosok Hanzo yang sudah keluar dari persembunyiannya dengan ekor mata.

Pinthowra...dibelakangnya. Naga itu menyeringai, memamerkan deretan gigi-gigi kuning busuk di gusi ungunya yang menjijikan. Satu-dua tetes air liur kuning kental meluncur dari bibirnya. Ia membuka mulut, langsung menembakkan gas beracun berwarna kehijauan, sebarkan semuanya dan memaksa Nagato menghirupnya. Hanzo menatapnya dari kejauhan.

"Selesai sudah," gumamnya pada dirinya sendiri. "Tidak ada naga yang lebih beracun daripada Pinthowra. Bahkan aku, yang sudah menjadi tuannya selama bertahun-tahun pun masih belum kebal terhadap racunnya. Tidak ada penawar atau antidot dari tiap racunnya, dan ludah, urin, ingus, gasnya, napasnya, bahkan fesesnya pun beracun, dan tiap anggota punya jenis racun yang berbeda. Nyaris mustahil untuk hidup begitu menghirup sedikit saja racunnya."

Nagato tertunduk.

Hanya untuk dua detik sebelum ia langsung memukul perut naga beracun itu dengan tinju batu raksasa yang keluar dari menara tempatnya berdiri –langsung membuat Pinthowra hilang keseimbangan dan jatuh dengan suara berisik. Hanzo menatapnya tak percaya.

Dengan Shinra Tensei, Nagato memudarkan kabut beracun yang dibuat Pinthowra dan langsung melesat menantang Hanzo dengan besi tabungnya. Lawannya menyambutnya dengan pedangnya.

"Aku kagum," puji Hanzo. "Kau luar biasa."

"Aku menahan napas tadi," jelas Nagato datar. "Dan melapisi wajahku dengan tiruan mekanik Shurado," sambungnya, sembari melepas semacam 'kulit' di wajahnya, yang sama persis dengan kontur wajah aslinya. "Aku sudah mengabdi padamu selama bertahun-tahun, tidak mungkin aku tidak mengetahui karakteristik nagamu itu."

Hanzo mengeluarkan api dari pedangnya. Membuatnya membara, membakar apapun yang disentuhnya.

"Tenrou Kaken ?" Selidik Nagato terkejut. "Kau serius, ya ?"

Hanzo tertawa ringan. "Kurasa begitu. Alih-alih memanfaatkanmu, kurasa sekarang aku lebih ingin membunuhmu dan mentransfer Rinnegan-mu padaku ! Aku akan menandingi Madara !" Serunya sambil menyerang dengan pedang apinya. Nagato membalas dengan tebasan angin, namun Hanzo menghindari semuanya dengan baik.

"Pilihlah !" Seru Hanzo disela-sela kesibukan bertarung mereka.

"Berjaya bersamaku dan seluruh Amegakure dan Akatsuki, atau hanya jadi kaki tangan Uchiha !" Bentaknya.

"Tidak dua-duanya !" Balas Nagato tak kalah keras.

Halilintar menggores langit. Pedang api Hanzo yang tak kunjung padam berbenturan dengan pedang gergaji Nagato yang dikeluarkannya menggunakan teknik Shurado. "Kenapa kau begitu bebal pada pilihan, Uzumaki ?!" Bentak Hanzo marah.

.

.

"Karena aku membutuhkan Konan," desis Nagato yakin. "Karena aku membutuhkan tekad Yahiko !"

Hanzo tersenyum sinis. Ia mungkin sudah meludah sekarang, kalau tidak ada masker yang memagari mulutnya. "Yahiko ! Yahiko ! Yahiko ! Hanya itu saja yang kau pikirkan ! Dia pasti akan kecewa melihatmu sekarang !"

"Kau bicara begitu seolah-olah kau tahu Yahiko !" Seru Nagato lantang.

"Memang," balas Hanzo padat. Pupil Rinnegan Nagato membesar.

"Kaupikir siapa yang membunuh Yahiko, hmm ?"

.

.

Nagato bagai tersambar petir begitu mendengar kata-kata itu. Tubuhnya gemetar. Napasnya memburu.

"Kau bodoh," desis Hanzo datar. "BISA-BISANYA !"

.

"HUUUUUAAAAAAAAAAAAA ! ! !"

.

Teriakan Nagato bagai membelah langit. Petir menyambar-nyambar, menghasilkan serenande yang samasekali tidak enak didengar. Angin kencang berembus ke segala arah, mencabik-cabik apa saja yang dikenainya. Nagato melakukan handseal dengan cepat.

"MATILAH !" Serunya keras-keras.

.

.

.

"Hmm ?" Sindir Hanzo sinis. "Apa yang kau lakukan ?"

Tidak terjadi apa-apa. Nagato sendiri bingung.

Kenapa dia tidak muncul ? Pikirnya kebingungan.

Hanzo akhirnya melakukan handseal.

.

BOOOFFF ! !

.

"Ini yang mau kau panggil ?" Katanya meremehkan.

Nagato terkejut bukan main. "K-ka-kap-kapan...k-kau...?!"

"Mudah," tabrak Hanzo tenang. "Mungkin kujelaskan nanti saja, selagi kita masih bisa bersenang-senang."


Konohagakure, Hi no Kuni

"Bagaimanapun, kita harus memenangkan perang ini atau dunia akan berakhir," kata Gaara tegas. Ketiga Kage yang lainnya mengangguk setuju.

"Paradox sudah ditemukan. Empat Etatheon lain juga sudah bersatu. Kita sudah membangun pasukan. Pasukan Aliansi Dracovetth Lima Negara Besar. Sesuatu yang akan sangat bersejarah," timpal Raikage.

"Tsuchikage belum datang juga ?" Selidik Mei. Raikage mengangkat bahu.

Mendadak pintu terbuka. "Maaf telat," kata seorang kakek-kakek cebol dengan tampang tidak bersalah, langsung duduk di kursinya. "Maklum, paling jauh dari Konoha," susulnya –tapi diralat begitu Raikage memelototinya. Ya, secara geografis, Kaminari no Kuni-lah yang terjauh dari Konoha, kan ?

"Kita akan jadikan Konoha sebagai markas Pasukan Aliansi. Medan peperangan diperkirakan berada di semenanjung besar diantara Pegunungan Kuburan dan Hi no Kuni. Negara Uap, Uzushiogakure, dan beberapa desa yang berada di sekitar area tersebut telah diungsikan ke tempat yang aman," lapor Shikaku, ayah Shikamaru.

"Bagus," sambut Tsunade. "Lima Negara Besar bersatu untuk yang pertama kalinya. Dan kita..."

"...akan memenangkan peperangan ini !"

"Tsuchikage-sama," panggil Gaara. "Ini sudah selesai ketika Anda dalam perjalanan kemari tadi," katanya, sambil menyodorkan sebuah ikat kepala. Bukan lambang Konoha, Suna, Iwa, Kumo, atau Kiri yang terpahat di besinya, melainkan kanji 'Ryuu'.

"Naga ?" Selidik Onoki. "Bagus juga !"

"Aku yang membuat desainnya," ucap Mifune, pemimpin Tetsugakure. "Dracovetth yang pada masa lampau bertarung satu sama lain, kini tergabung dalam aliansi ! Terlebih, kami para samurai juga ikut berpartisipasi dalam perang kali ini. Waktu kita tidak banyak," imbuhnya, diikuti anggukan setuju oleh lima Kage dan pendamping mereka masing-masing.

.

.

.

"Pelindung kepala sudah dibagikan !"

"Perlengkapan medis sudah dicek !"

.

"Kita, Bagian Intel, akan mengawasi komunikasi di semua bagian. Intel harus menyalurkannya secara cepat dan akurat ! Untuk melakukannya, kita harus tenang, tak peduli apapun yang kita dengar ! Mengerti ?"

"Ya ! ! !"

.

.

.

"Aku dengar mereka akan membagi kita menjadi lima kelompok," kata Chouji, "jadi ternyata mereka membagi kita berdasarkan desa ?"

"Itu tidak akan terjadi," sanggah Shikamaru. "Ini adalah perang".

"Dia benar," tabrak Temari. "Bukan saatnya bersaing dengan desa lain."

"Resimen utama dibagi menjadi lima bagian," Shikamaru menjelaskan. "Bagian Pertama: bagian serangan jarak menengah. Terdiri dari para Dracovetth yang menunggangi naga yang ahli dalam serangan jarak menengah. Bagian Kedua: bagian serangan jarak dekat. Biasanya mereka yang mengendarai naga yang lebih efektif menyerang langsung. Bagian Ketiga: bagian serangan jarak menengah-jauh. Pengendara naga berkecepatan dan berkemampuan fisik yang bagus masuk ke kategori ini. Bagian Keempat: bagian serangan jarak jauh. Mereka yang mengendarai naga yang spesialis menyerang jarak jauh. Dan Bagian Kelima: bagian serangan spesial."

"Bagian serangan spesial ?" Ulang Chouji.

"Dalam perang, apa saja bisa terjadi," jelas Shikamaru. "Bahkan jika kita terpecah menjadi beberapa bagian, betapa baiknya untuk percaya bahwa tiap bagian dapat beroperasi tanpa halangan. Tergantung pada situasi, beberapa dari mereka akan menemukan posisi terbaik mereka dalam medan perang, ketika yang lain berada dalam masalah. Inilah mengapa kita akan bergantung pada para naga yang memiliki serangan rahasia," ujarnya panjang lebar.

"Tidak bisa kukatakan semua persiapan telah dibuat, tapi kira-kira 50.000 Dracovetth dan sekitar 60.000 naga telah berkumpul," sambung Temari. "Banyak diantara para naga yang memiliki kemampuan bicara dengan bahasa manusia juga ikut secara sukarela dalam peperangan besar ini."

"KAPTEN DATANG !"

.

"Kapten dari Batalion Pertama, yang dikenal sebagai tangan kanan Raikage. Darui dari Kumogakure."

"Kapten dari Batalion Kedua, Kapten Kitsuchi dari Iwagakure."

"Kapten dari Batalion Ketiga adalah Kakashi-sensei."

"Kapten dari Batalion Kelima adalah Jendral Mifune, dari Tetsugakure."

"Dan..."

"Kapten dari Batalion Keempat, sekaligus komandan dari semua komandan batalion..."

"...Kazekage Gaara..."

.

Sorak-sorai riuh dari tiap manusia menyambut kelima pemimpin mereka. Lima Negara Besar...bersatu dalam Pasukan Aliansi Dracovetth. Hal bersejarah yang sebelumnya tidak pernah terjadi diantara kelimanya. Bersatu, melawan para pengkhianat yang haus kekuasaan...

.

.

.

Perang Dunia Naga Keempat...

.

.

DIMULAI

.

.

.

.

Bersambung...


Author's Note (2):

Chapter 16 selesai ! (Readers dari Bali mana tangannya ! Antaboga itu legenda pewayangan dari Bali lho...sengaja saya masukin).

Wow, agak telat yah ? Hehe, maaf (*bungkuk*). Saya habis pulang dari Purwokerto ndaftar sekolah, walau dengan tubuh lelah tetap saya teruskan ini fic (gak nanya).

Naruto dan tim Etatheon bertemu makhluk terbesar sepanjang sejarah planet: Varan. Emmm...Varan itu nama genus-nya komodo, lho, alias Varanus komodoensis. Yah soal bentuk, bayangin aja kayak komodo raksasa dengan sayap dan ukuran super-duper kolosal. Mudah-mudahan dikit ada humornya disini, hihihi, soalnya kemaren ada yang protes humor dan romance-nya kurang. Romance masih kurang ya ? (*Dibalang sepatu*). Oke, di chapter depan saya tambahin deh !

Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !


Coming Soon: Paradox Chapter Seventen :

"New Horizon"

See you again in chapter 17 !

-Itami Shinjiru-


-Dragons List in Chapter Fourten:

Varan (Naga OC)

Strength : Tidak terklasifikasikan

Ukuran : Panjang 10.000 meter, berat tidak dapat diukur secara pasti

Kecepatan terbang : Tidak dapat terbang

Spesial : Makhluk hidup terbesar di Bumi

Tipe serangan : Serangan langsung dengan tubuh super raksasanya, atau menyemburkan api berjangkauan amat luas

Kategori : Kaum Kolosal

Elemen spesial : -

Level bahaya : Gila

Pemilik : Tidak ada

(Untuk detail list lebih lanjut, lihat di chapter depan)