Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.

Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara

Main Pair : Mysterious !

Slight Pair : MinaKushi, ShikaTema, KakaPaku, & NagaKonan

Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance, Action


Author's Note :

Jumpa lagi di chapter 17, readers !

Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Terimakasih, matur nuwun, arigato gozaimazu, thank you very much, syukran, gracias (*bungkuk hormat*).

Perang Dunia Naga Keempat telah dimulai ! Pasukan Aliansi dari Lima Negara besar bersatu beserta bala bantuan dari Tetsugakure –para samurai. Sementara, pria misterius bertopeng berhasil mencuri buku rahasia dari tangan Orochimaru dan Kabuto di Perpustakaan Alexandriana. Segel AEsir telah diaktifkan dan menahan semua Kaum Kolosal berkat Naruto dan kelima Etatheon, tapi masalah belum selesai. Apa yang terjadi selama perang dimulai ? Apakah rencana pertama Madara untuk menuju tangga kesuksesan Tsuki no Me Keikaku ? Sementara perang berkecamuk, pertarungan Nagato melawan Hanzo juga belum selesai...

(P.S= Judul bab ini ganti dari rencana sebelumnya 'New Horizon'. Semoga readers tetap suka ya !)

Enjoy read chap 17 !


PARADOX

パラドックス

Chapter Tujuhbelas :

Ardhalea

"Kita akan kemana sekarang ?" Tanyaku malas pada...yah, acak, sih. Terserah siapa yang mau menjawabnya.

"Konoha, kurasa," Hermes akhirnya menjawab.

"Hei, barusan aku ingin menjawabnya," ujar Beleriphon.

"Salah sendiri kurang cepat," balas Hermes sambil menjulurkan lidah.

"Diam kalian berdua," lerai Parthenon. "Aku tidak tahu kalian membicarakan balapan udara konyol yang membuat awan-awan tersingkir dari langit atau ikan-ikan dan kodok-kodok yang beterbangan gara-gara angin yang kalian hasilkan, tapi tidak bisakah kita serius sedikit ? Perang sudah dimulai !"

"Kau harus melihat dua naga buster itu beradu kecepatan lain kali, Naruto," ucap Pyrus menimpali. "Itu luar biasa, kuakui."

"Hei, siapa itu ?" Celetuk Beleriphon. Aku memicingkan mata, berusaha melihat lebih jelas. Sepertinya seekor naga...tanpa penunggang. Rasanya aku mengenalinya.

Sosok itu kian dekat. Atau mungkin kami yang terbang terlalu cepat ke arah yang berlawanan.

"Haruskah kita bersiaga ?" Selidik Pyrus. "Kita belum tahu dia Pembantai Bersayap atau bukan."

"Bukan," kataku. "Aku kenal dia !"

.

"Naruto-sama !" Serunya begitu mendekat. Kelima Etatheon memperlambat laju, terbang melayang di udara.

"Neve !" Balasku. "Kau...terbang sejauh ini ?" Takjubku.

Ia tersipu malu –terutama mungkin karena berhadapan dengan lima Etatheon sekaligus. "Ada berita yang harus kusampaikan."

"Siapa dia ?" Selidik Beleriphon.

"Neve," kataku memperkenalkan. "Dia naga pertama yang kutemui dalam perjalanan, bertempat tinggal di sebuah telaga di Hi no Kuni. Dia pernah membantu timku," lanjutku. "Nah, berita apa yang kau bawa ?"

"Perang sudah dimulai," katanya cepat. "Pasukan Aliansi Dracovetth Lima Negara Besar telah bergerak ke Timur Laut, menuju Pegunungan Kuburan. Aliansi memilih markas di Konohagakure, dan penduduk desa-desa di sekitar area medan perang telah diungsikan," lapornya. "Jika kalian membantu di medan perang, tingkat keberhasilan aliansi pasti meningkat drastis," katanya lagi. Entah itu memang perintah dari pusat atau hanya karangannya saja.

"Jadi ini benar-benar keadaan yang serius, ya," timpalku. "Tapi...apa ada cara bagi Madara dan Hanzo untuk menangani pasukan gabungan dari Lima Negara Besar ?" Tanyaku. "Mereka pasti kalah jumlah !"

Neve menggeleng. "Sebaliknya, pasukan aliansi-lah yang kalah jumlah. Seratus sepuluh ribu Dracovetth dan naga sudah bergabung, akan tetapi yang kudengar dari pasukan pengintai, seratus ribu klon Zetsu Putih telah disiapkan, ditambah sekitar sepuluh ribu pasukan Amegakure kepunyaan Hanzo serta paling tidak lima puluh ribu Pembantai Bersayap segala spesies," katanya. "Pasukan musuh sekitar seratus enam puluh ribu."

"Ditambah tiga pengkhianat," koreksi Pyrus. "Tapi jangan khawatir, Kaum Kolosal takkan mengacau karena kami sudah menyegel mereka semua di AEsir, plus kami juga akan segera bergabung dengan peperangan," imbuhnya.

Jubah chakra oranye dan kuning yang semula berkibar menempel di tubuhku berangsur menghilang, kemudian sebentuk cahaya oranye keluar begitu saja dari tubuhku, dengan cepat mewujud menjadi sosok seekor Wivereslavia.

"Perang ya ?" Desis Kurama. "Aku tidak pernah menyangka akan terlibat langsung begini," katanya.

Aku mengangguk. "Jangan cemas, naga berisik. Kau akan aman selama bersamaku," hiburku setengah bercanda.

"Aku punya usul," kata Kurama tiba-tiba. Pandangan kami semua tertuju padanya. Apa lagi kejutan yang akan diberikannya sekarang ?

"Tolong jangan panggil aku naga berisik," katanya dengan tampang tak bersalah.

Hermes menepuk muka. Dengan salah satu sayapnya. Yang lain memasang tampang cengo. "Oke, sekarang aku serius," lanjut Kurama.

.

.

"AWAS DI DEPAN !" Teriaknya keras-keras.

.

Kami terperanjat –tapi tidak ada waktu untuk kaget dan mengelus dada- langsung terbang menghindar dari jalur. HAMPIR saja direnggut oleh rahang kokoh seekor naga raksasa yang mendadak main terobos saja. Aku mengamati naga itu. Dia besar, sangat besar, tapi kerdil jika disandingkan dengan naga-naga kolosal yang kami lawan beberapa jam lalu. Seluruh kulitnya tampak ditutupi perisai hitam layaknya baja terkeras di dunia, dan di rongga-rongganya tampak keluar uap seperti ketel yang bocor, dan berwarna merah. Empat sayapnya mengepak bergantian dan dia mendesis marah pada kami.

"Crysmson," ujar Beleriphon. "Lama tidak melihatnya," sambungnya.

"Panjangnya tujuh puluh meter dan merupakan naga tipe gunungapi yang paling besar, tapi dia bisa terbang dengan cepat dan lincah. Dia menyemburkan tanur yang bisa melelehkan besi," jelas Parthenon. "Tidak kusangka mereka mengirim banyak kesini," katanya setelah melihat sekeliling. Kami dikepung setidaknya empat lusin Crysmson, yang masing-masing mengeluarkan uap berbau belerang dan mendesis marah.

"Enyahkan mereka," kata Paradox, yang sedari tadi diam saja. "Terbang secepat yang kalian bisa, jangkau area luas, kita berkumpul kembali di Hi no Kuni di dekat Konoha, dan laporkan padaku apa yang kalian lihat selama penerbangan singkat pemencaran itu," katanya lalu membentangkan sayap lebar-lebar.

"Hei !" Kataku keras. "Neve tidak bisa terbang secepat kalian, tahu !"

Paradox menoleh, segera membuat Neve bertingkah kikuk sekaligus merasa terhormat. "Seekor Severin," katanya. "Kapan kau datang ?"

.

"Eh ?" Neve bingung sendiri. "A...aku, em, maksudku, saya sudah datang beberapa menit yang lalu, Yang Mulia Paradox," jawabnya. "M-masa Anda tidak menyadarinya ?"

"Benarkah ?" Katanya, mengedarkan pandangan ke sekeliling.

"Apa yang salah denganmu ?" Cetusku. "Dari tadi kau diam saja, begitu ada ancaman baru bertindak sampai tidak ingat kita kedatangan tamu."

Paradox menghela napas malas. "Baiklah. Kita habisi semua Crysmson sekarang," katanya, lalu melesat ke salah satu dari mereka –MENGABAIKAN aku yang terentak ke belakang karena inersia yang begitu besar. Untungnya aku sudah terbiasa dengan kejadian macam ini sehingga tidak makan waktu lama untuk menemukan kembali keseimbanganku. Paradox merentangkan sayap depannya lebar-lebar, dalam sekejap tepiannya sudah berubah menjadi setajam pedang. Ia terbang berkelak-kelok, mengiris kaki-kaki Crysmson yang dikenainya.

Pyrus sibuk menembakkan bola-bola air. Itu tidak membuat lava dan tanur naga berapi itu padam, tapi membuatnya lemah sedikit. Mereka menyerang, menyemburkan tanur yang tampak seperti sirup jeruk yang lezat, tapi percayalah, kau akan meneriakkan suara terkerasmu begitu kau menyentuhnya barang hanya setetes. Aku mengeluarkan Pedang Rikudo, berdiri di ujung ekor Paradox (ekstrem ? Tidak, karena Paradox sudah pernah bilang aku takkan terjatuh darinya kecuali dia menginginkannya, dan itu cukup membuatku tenang) dan menebas naga manapun yang berusaha menyemburku dengan cairan panas itu.

Neve berlindung dibalik Parthenon, sementara Hermes menembakkan laser ke mata-mata Crysmson, membuat mereka buta dan saling bertabrakan, membuat Beleriphon lebih mudah mengincar mereka dengan Jinton, memotong-motong tubuh mereka menjadi sekecil molekul.

"Mereka merepotkan," gerutu Beleriphon sembari terbang meliku-liku mengacaukan perhatian para naga musuh. "Untunglah tidak ada Dracovetth-nya," semburnya kesal.

"Ini pengalih perhatian," ucap Pyrus. "Mereka sengaja membuat kita sibuk diatas langit untuk waktu lama atau yah, setidaknya beberapa menit, agar para Dracovetth dari Lima Negara Besar bertarung duluan, bisa jadi dengan musuh yang kuat terlebih dulu. Ditunjukkan untuk...menghancurkan barisan depan, menurut perkiraanku," katanya memprediksi.

"Hei !" Aku berseru. Pada Paradox. "Apa menurutmu Madara sengaja memanipulasi atau bahasa kasarnya, mencuci otak para naga ini agar tunduk padanya dan menyerang kalian ? Dengan kata lain, dia membuat beberapa spesies punah secara tidak langsung, kan ?" Selidikku.

"Punah karena kami bantai ?" Cerocos Paradox. Aku mengangguk cepat.

"Tidak jadi soal," katanya tak peduli. "Ini bukan urusanmu. Jangan mentang-mentang kau Draco P, kau boleh mengetahui segalanya. Ini kaitan dengan keseimbangan spesies dan populasi para naga dan ini di luar kemampuan semua manusia. Naga ya naga, manusia ya manusia. Lebih baik kau pikirkan teman-temanmu di medan perang daripada memikirkan para naga kejam yang kami bantai," jelasnya cepat.

Apa ini ? Aku merasa seperti Paradox hampir selalu menyembunyikan sesuatu dariku. Entah apa itu dan apa maksudnya. Aku berusaha tak terlalu memikirkan itu dan berfokus pada naga-naga yang tersisa. Hmm ? Tapi sekarang sudah tidak ada yang tersisa –semua Crysmson penyerbu sudah mati. Padahal aku baru menebas lima dari mereka.

"Lanjutkan beritamu, Neve," perintah Beleriphon. "Selagi kita terbang santai saja, ke Konoha," titahnya.

"Yang kuketahui, musuh mencari cara untuk membangkitkan Droconos kembali," jelas Neve. "Aku sih...tidak tahu bagaimana. Bukankah Droconos sudah disegel ke sebuah peti batu mati di altar di suatu padang rumput perbatasan Hi dan Kaminari ?" Tanyanya.

Paradox meliriknya tajam. Hanya sekelebat, dan untungnya Neve tidak sadar akan hal itu. Ia kemudian memandang Hermes.

"Pergilah ke Perpustakaan Alexandriana," titahnya cepat.

"Hah ?" Ucap Hermes bingung. "Untuk ap..."

"Sekarang," penggal Paradox tegas dengan penekanan penuh. "Pakai kecepatan tertinggimu."

"O-oke," balas Hermes terbata-bata. Ia mengubah haluan ke Barat Laut, mengepakkan sayap di kaki belakang dan ujung ekornya secepat sayap lebah, dan langsung melesat lebih cepat dari yang bisa kulihat, seperti seberkas cahaya berwarna kuning. Pasti ada yang tidak beres sampai Paradox bersikap begitu, batinku. Semoga mereka berhasil mengatasinya.

"Ada apa ?"

Aku tidak menyangka ada yang berani bertanya terus terang pada Paradox setelah kami melihatnya se'marah' itu, tapi kenyataannya ya, Parthenon bertanya padanya. Sempat kukira Paradox takkan menjawab, seperti biasanya.

"Di lantai terbawah Perpustakaan Alexandriana terdapat sebuah buku yang menjelaskan tentang segala jenis segel, yang terlengkap di dunia. Dan di buku itu juga dipaparkan segel Hakke Fuin yang menahan Droconos sampai sekarang sejak 16 tahun lalu. Termasuk..."

"...cara membuka segelnya..."

.

.

Kami semua terdiam karena terkejut.

"Jadi seseorang telah mencurinya ?!" Seruku. Paradox mengangguk.

"Perkiraanku," katanya. "Oedipus waspada. Tapi kemungkinan besar ada seseorang yang...bisa menggunakan Jikukan Ninjutsu, teleporter yang bahkan lebih baik daripada Senju Tobirama dan Namikaze Minato, ayahmu," jelasnya padaku. "Sosok pria bertopeng yang merenggut Droconos dari ibumu dan bertarung melawan ayahmu, ingat ?" Katanya padaku. Aku mengangguk.

"Tapi berharaplah semoga aku salah," katanya cepat.

"Bukan maksud apa-apa, Paradox," celetuk Kurama tiba-tiba, "tapi seberapa sering kau salah ?" Tanyanya.

Paradox terdiam beberapa detik sebelum menjawab.

"Lebih sedikit dari jumlah Wivereslavia di dunia," katanya. Aku menelan ludah, lantas melirik Kurama. Paradox keterlaluan, batinku. Bisa tidak jangan menyinggung siapapun ? Menjawab seperlunya apa susahnya sih ?

Kurama menatapku dengan mata rubi-nya dan terdiam, tersenyum tipis lalu menggeleng pelan seolah berkata 'Tidak apa-apa, bukan salah siapa-siapa'.

"Hei, jangan berburuk sangka dulu," cetus Paradox. Kurasa dia membaca pikiran kami. "Sebentar lagi kau akan mengetahuinya," desisnya misterius.

.

Beberapa menit kemudian, daratan Hi no Kuni terlihat. Tapi butuh setidaknya dua atau tiga jam lagi untuk sampai ke Konoha –dengan kecepatan seratus lima puluh kilometer perjam (itupun karena Neve diberi beberapa helai bulu sayap Hermes).

"Kau boleh pergi dulu, Neve," Parthenon mempersilakan. "Kalau ada Pembantai Bersayap lagi, dia takkan mengicarmu jika kau berpisah dari kami," katanya, seolah menjamin itu pasti terjadi. Naga bersirip itu mengangguk, lalu terbang lebih cepat ke arah yang berbeda. Kami mempercepat kecepatan terbang kami. Melihat Kurama yang kepayahan karena batas maksimal otot-otot sayapnya mulai tercapai, aku menawarkannya masuk kembali ke tubuhku.

Baru saja itu akan terjadi.

.

.

ZUUUOOOORRR ! ! !

Air membuncah ke langit, dan kami langsung menghindar. Tiga ekor Scylla raksasa menyembulkan enam kepala mereka dari laut, mengangakan mulut dengan ganas berusaha menelan kami hidup-hidup.

Ini naga laut yang besar –dia bisa menelan sebuah mobil utuh-utuh (tapi juga bisa ditelan utuh-utuh oleh seekor Jőrmungandr) tapi dia merupakan naga laut teraneh yang pernah kulihat. Enam kepalanya menggantung di puncak enam leher panjang, dan kepala-kepala itu berwujud seperti seorang wanita...yang tentu saja dengan dua mata besar melotot berpupil vertikal, bibir tipis dengan gigi-gigi runcing tajam, hidung pesek, tanpa rambut dan telinga, seolah dia gabungan dari nenek sihir, drakula overdosis taring, dan naga. Tubuhnya diselimuti sisik hijau, dan di pinggangnya, empat kepala serigala raksasa siap menggigit.

"Kita menghadapi delapan belas kepala," gerutu Kurama. Ia melirik pinggang masing-masing Scylla dan meralat, "eh, maksudku tiga puluh kepala."

Beleriphon menembakkan Jinton, memecah satu kepala dari satu Scylla –yang membuatnya mengamuk dan menyemburkan air sederas air terjun kemana-mana. Kurama menyemburkan api langsung ke enam kepala seekor Scylla, tapi keenam kepala itu juga segera balas menyembur air.

Aku melompat dari punggung Paradox ke salah satu kepala Scylla, mendekati matanya yang selebar daun pintu, dan langsung menancapkan Pedang Rikudo dalam-dalam. Darah mengucur membasahiku, tapi aku tak peduli. Kucabut pedang itu dan balik kutusuk satu mata yang lain. Kepala itu meraung liar, aku berusaha berpegangan tapi terlalu licin, dan akhirnya jatuh ke...salah satu kepala serigala di pinggangnya.

Aku mencabut dua kunai dan dua kertas peledak dari tas pinggangku, langsung menancapkannya di kedua mata si serigala sebelum dia sempat berbuat banyak. Dan aku melakukan tindakan aneh dengan sedikit bumbu kegilaan: melompat ke kepala serigala di sebelahnya untuk menghindari ledakan. Kulakukan hal yang sama dengan kepala serigala pertama, dan aku tidak jatuh karena binatang itu punya rambut yang lebat yang bisa digunakan sebagai pegangan yang bagus.

Kepala kedua meledak, aku berpindah ke kepala ketiga, kembali menancapkan kunai dan kertas peledak lalu pindah dengan cepat ke kepala terakhir. Tapi nasibku kurang beruntung, kunai dan kertas peledak-ku sudah habis ! Satu kepala Scylla langsung merenggutku dengan gigi-gigi tajamnya, tapi Paradox memotong kepalanya dengan gampang dan menangkapku di punggungnya.

"Lama sekali hanya untuk menghabisi satu Scylla," sinisnya padaku. Aku merengut. Bukan pekerjaan mudah mengalahkan seekor binatang sepanjang lapangan sepakbola dengan sepuluh kepala dua jenis ! (Aku benar, kan ?) Setidaknya untuk seorang manusia. Ketika aku mengedarkan pandangan, dua Scylla lainnya ternyata sudah tenggelam, mati. Kurasa aku terlalu sibuk sampai tak memperhatikannya.

"Sekarang kita harus mengurusi yang satu ini," ujar Parthenon. "Kalau dilihat-lihat, ini memang yang paling besar sih, Naruto. Wajar kau kesulitan," katanya, membelaku sedikit. Yah, setidaknya aku sedikit terhibur.

"Hantam dengan Rasenshuriken," perintah Paradox. "Kalau perlu sebanyak yang kaubisa. Kita lihat apa kau lebih kuat dari kelihatannya."

Untuk pertama kalinya mungkin, aku merasa dia menantangku, walau tentu aku takkan menang jika berduel dengan naga –walaupun betina- sepanjang truk gandeng (kecuali jika dia dalam wujud manusia, mungkin). Dan akhirnya aku membentuk beberapa Kagebunshin, langsung berusaha mengumpulkan Rasengan dan menyatukannya dengan chakra angin.

.

.

Sebelum api mendadak mencelat begitu saja dari langit seperti petir yang menyambar, menghanguskan dua dari enam kepala Scylla yang tersisa. Empat kepala lain menggeram marah, mereka menatap ke langit. Kami semua –yang lumayan terkejut, menatap ke arah yang sama dan melihat seekor naga berkaki empat dengan sepasang sayap besar dan ekor yang tampak kokoh, terbentang di langit.

Kami tidak bisa melihat dengan jelas karena ia menentang matahari –hanya siluet tubuhnya saja yang terlihat, tapi bisa kulihat mata putihnya dengan bagian yang lebih hitam di sekitar matanya dan...

Iris mata berwarna merah darah berpupil hitam vertikal.

Ia menembakkan api lagi, menggosongkan satu lagi kepala Scylla, kemudian lagi dan lagi, menghindari semburan api monster itu tanpa kepayahan. Menukik turun, menggigit salah satu kepala dengan kuat dan mencakar-cakarnya hingga mata, hidung, bibir, dan lidah kepala itu berdarah-darah, kemudian dengan gampang menghanguskan dua kepala yang tersisa, menampar dada naga itu dengan cakar berapi di kedua kaki depannya, dan melecutkan ekor bagai cambuk neraka, dan kami menyaksikan Scylla jatuh ke laut bagai kapal yang karam terlalu cepat.

Paradox meniupkan uap aneh berwarna kebiruan dari mulutnya, mengenai laut, dan langsung membentuk sebongkah es datar besar berbentuk persegi seperti rakit es, dan dia mendarat disitu, diikuti naga-naga yang lain. Termasuk naga baru yang membantu kami itu.

Belakangan, aku langsung tercengang. Sampai tidak menyadari mulutku terbuka. Aku menoleh pada Kurama –yang juga membuka mulutnya, barangkali tanpa sadar. Ia memandang naga itu tanpa berkedip. Beleriphon, Pyrus, dan Parthenon tampak lumayan terkejut juga –tidak seterkejut Kurama dan aku- sedangkan Paradox tetap stay cool seperti biasa.

"Namaku Demetra," naga itu memperkenalkan diri dan menganggukkan kepalanya yang ramping. Bulu matanya yang lentik berkedip-kedip indah memandang kami. Ia mengembangkan senyum, melipat sayap. Tubuhnya hampir seluruhnya berwarna oranye dengan duri-duri rapi di punggung, leher, dan ekornya. Naga ini memiliki mata putih bertahtakan iris merah darah dan pupil hitam vertikal persis seperti Kurama, juga dengan lingkaran hitam di matanya, tapi tidak di bibirnya.

"Seekor Wivereslavia ?" Selidik Parthenon, ragu. Dia mengangguk pelan.

"Demi Shoemaker-Levy !" Pyrus berseru. Tapi baru kali ini aku mendengarnya berseru lebih dari dua kata. "Kau hidup !"

Oke, itu konyol. Kaupikir Demetra adalah naga mayat, zombie, mumi –atau terserah kau menyebutnya- yang bebas terbang kesana-kemari seperti anjing hilang ? Baru kali ini aku dengar naga seserius Pyrus mengatakan sesuatu yang...aneh. Tapi memang sih, karena bahkan Artemis dan Paradox sekalipun mengatakan bahwa Kurama adalah Wivereslavia TERAKHIR di Bumi, tapi sekarang, hanya beberapa meter dari kami, berdiri seekor Wivereslavia betina yang masih hidup, sehat, normal, dan waras (walau aku belum yakin sepenuhnya mengenai dua kata terakhir).

"Paradox !" Seruku. "Kukira kau pernah bilang Kurama adalah Wivereslavia terakhir ?!"

"Maaf soal itu," katanya, tapi raut wajah dan nada suaranya menandakan dia tak merasa bersalah samasekali. Ia menurunkanku seenaknya hingga aku terjatuh ke lantai es yang dingin, dan berusaha bangun, tapi jatuh lagi karena begitu licin. Aku menyumpah-nyumpah dalam hati.

Dengan santai, Paradox mendekati Demetra seolah mereka sudah lama saling kenal.

"Metamorfosismu lebih cepat dari yang kukira, Antaboga."

.

HAH ?

Aku melongo. Kurama juga, mulutnya terbuka begitu lebar sampai aku takut jangan-jangan engsel rahangnya hampir lepas. "Kau...?" Aku menuding pada Demetra seperti melihat kenyataan bahwa domba dan capung adalah kakak-adik. "Jadi wujud asli Antaboga adalah kau ?"

Demetra mengangguk. "Ya, Naruto-sama. Bukankah Paradox sudah mengatakan bahwa sang penyegel AEsir dan sang penjaga AEsir akan bersimbiosis mutualisme ?" Katanya. "Dan ini dia. Aku terbebas dari kutukan yang kuterima dengan senang hati selama ribuan tahun," katanya senang. "Rasanya seperti...terlahir kembali. Dan itu semua berkat kau, Naruto-sama," lanjutnya sembari tersenyum padaku.

"Antaboga itu jantan, kan ?" Selidik Beleriphon. "Dan kau..."

"Memangnya kutukan bisa pandang bulu ?" Tabrak Parthenon. "Masuk akal. Aku sudah sering mendengar itu tapi baru sekarang aku mengerti maksudnya," lanjutnya.

"Kau sudah mengetahui ini ?" Tudingku pada Paradox, agak kesal. "Kau selalu saja menyembunyikan rahasia dariku !"

Paradox mengangguk santai. "Setidaknya sekarang kau tahu," ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Yah, menurutku sih dia juga tidak perlu merasa bersalah, walaupun rasanya tetap tidak nyaman mendengarnya. "Demetra telah terperangkap dalam wujud Antaboga selama ribuan tahun, karena baru sekarang ada Dracovetth yang bisa mengalahkannya. Pada kebangkitan-kebangkitan Kaum Kolosal berabad-abad sebelumnya, manusia dan naga lebih memilih menunggu sampai mereka terkubur sendiri secara alami," jelasnya panjang lebar.

"Yah, kita sudah kedatangan satu pasukan tambahan," kata Beleriphon. "Sekarang bisakah kita melanjutkan perjalanan ?"

"Untunglah Yang Mulia Paradox yang menyelamatkanku," ucap Demetra penuh hormat. "Emm...maksudku, Draco P," koreksinya buru-buru. "Karena kalau yang membebaskanku adalah Madara atau seseorang di pihaknya, itu tidak akan menyenangkan."

Untuk sesaat, aku bingung, sampai Paradox menjelaskan, "Demetra terikat dengan pembebas segel kutukannya. Siapapun yang membebaskannya akan menjadi kubu yang dibelanya. Jika kubu Madara yang membebaskannya...dia akan berpihak ke Madara, tidak peduli seingin apa ia ingin berada di pihak kebenaran."


Battlefield

Skuad bagian operasi pengamatan melebarkan gelembung air pendeteksi chakra raksasa, dan duduk di keempat simbol mata angin. Para Dracovetth tipe deteksi dan komunikasi berkumpul di ruangan yang sama. Empat Kage berkumpul di markas Konohagakure, sedangkan Mizukage sendiri mengawal para Daimyo yang masih dalam perjalanan ke tempat pengungsian.

Lima batalion memenuhi angkasa dengan bayang-bayang naga-naga yang mereka kendarai. Segala ukuran, bentuk, dan kecepatan, namun tetap teratur berbaris dalam lima kategori. Yang bisa didengar orang-orang di bawah sana (kalaupun ada) adalah suara bising namun menenangkan dari kepakan sayap ribuan naga, menuju ke posisi masing-masing. Bahkan para samurai sekalipun ikut menunggang naga.

.

"Awas," kata Darui memperingatkan. "Tipe pendeteksi, cek di bawah kita, arah jam dua belas !" Titahnya.

Namun sebelum mereka sempat mengatakan itu, lusinan Galaeana mencuat seperti ular-ular yang baru bangun dari hibernasi musim dingin, dan karena cukup banyak Dracovetth yang sebelumnya memilih untuk terbang tidak begitu tinggi dari tanah, mereka menjadi sasaran empuk. Beberapa naga beserta pengendaranya langsung hilang keseimbangan, tapi sedikit sekali yang benar-benar oleng dan jatuh ke tanah berdebu.

"JANGAN PECAH !" Seru Gaara keras-keras. Seekor Zechuan –yang sudah dijinakkan- yang sekarang menjadi naganya, ikut meraung mengikuti tuannya. "Tujuan mereka adalah memecah belah kita disini sekarang sebelum mencapai posisi kita ! Abaikan mereka semua dan terbanglah lebih tinggi ! Mereka tipe naga daratan ! Hunus mereka dengan panah peledak, bom, atau apapun kalau sempat !" Perintahnya dengan suara menggelegar lalu naik ke langit, diikuti ratusan Dracovetth lain.

Para Dracovetth yang tersungkur jatuh bergegas menaiki naga mereka dan langsung terbang lagi, mengindahkan kawana Galaeana yang mendengus kesal karena tidak diperhatikan. Sementara mereka berteriak-teriak keras pada para Dracovetth yang terbang melewati mereka begitu saja, ledakan menggemuruh dari belakang, melukai dan membunuh beberapa dari mereka. Terlalu sibuk melihat ke depan sampai tidak memperhatikan serangan yang datang dari arah yang berlawanan, dan puluhan naga tanah itu segera mati dalam waktu singkat. Segelintir yang selamat, mengubur diri kembali ke tanah.

"Kita akan menyebar sesuai strategi markas pusat," kata Kapten Kitsuchi.

Darui mengangguk. Ia berdiri dari naganya lantas berteriak keras-keras. "Batalion Pertama Darui, ikuti aku menuju Pantai Tenggara !" Pekiknya. Ia segera duduk kembali, melecut tali kekang, dan naganya akhirnya melesat terbang dengan kecepatan tinggi diikuti anggota Batalion Pertama yang lain, siap mempertahankan garis pantai.

"Batalion Kedua Kitsuchi, ikut aku menuju hutan !" Seru Kapten Kitsuchi setelah hampir semua anggota Batalion Pertama telah pergi menuju pantai. Ia melecut naganya.

"Batalion Ketiga Kakashi, kita akan menjaga Pantai Utara !" Seru Kakashi –dan rivalnya sejak dulu, Might Guy dari Konohagakure. Maksudku, ya, mereka berdua berteriak bersama-sama, apalagi suara penuh semangat-masa-muda-yang-senantiasa-diidolakan-Si-Alis-Tebal tampak menggelegar seperti harimau kelaparan, dan mereka segera melaju dengan kekuatan penuh.

"Batalion Keempat Gaara !" Susul sang Yondaime Kazekage. "Kita akan menjaga gurun dengan tiang-tiang batu granit !" Serunya. "Pertahankan wilayah kita dengan segenap kemampuan kalian ! Bertarunglah sampai titik darah penghabisan ! Ingatlah apa yang telah dikatakan Sang Paradox pada kalian !" Imbuhnya sambil mengangkat tinju ke udara disusul huru-hara prajurit di belakangnya, dan mereka segera terbang dengan kecepatan penuh ke tempat tujuan.

"Para samurai !" Teriak Mifune. "Batalion Kelima Mifune ! Ikuti aku ke pegunungan ! Kita akan menjadi salah satu sebab kemenangan dunia pada pertempuran ini !" Serunya memberi semangat. Para samurai berbaju zirah, dengan pedang panjang tersarung di pinggang mereka –sebagian besar lebih dari satu- turut mengepalkan tangan ke atas.

.

.

.

"Semua Batalion telah sampai ke posisi masing-masing di medan perang ! Ada laporan serangan mendadak kawanan Galaeana tapi berhasil diatasi dengan mudah. Siap untuk bertempur !" Lapor Inoichi pada keempat Kage di tempat.

"Sejauh ini tidak ada masalah," desis Raikage bangga. "Semua terkendali dan berjalan mulus. Sekarang ayo kita hajar musuh-musuh itu."

"Sabar dulu, Raikage," Onoki, seperti biasa, seakan memalangi kekuasaannya. "Tugas kita adalah mengamankan diri sendiri di markas pusat sampai benar-benar dibutuhkan di medan perang, agar kita bisa memberi perintah," katanya. "Aku sejujurnya sedikit heran bagaimana orang yang tidak bisa berdingin kepala sepertimu jadi salah satu dari Lima Kage," sinisnya.

"Raikage-sama," tabrak Mabui, asisten kepercayaan sang Raikage. "Tolong jangan remukkan benda apapun."

Yah, itu permohonan yang tepat mengingat sang Yondaime Raikage nyaris menghancurkan meja strategi mereka sendiri begitu mendengar kata-kata Tsuchikage. Raikage menghela napas, mencoba bersabar. "Kuharap Mizukage secepatnya kembali kesini," ucapnya, mengalihkan pembicaraan. Ia berpaling ke Tsunade. "Ada kabar tentang Naruto ?"

Suara kibasan sayap menjawab pertanyaan Raikage. Neve melongokkan kepalanya dibalik jendela besar. "Anu...saya bawa berita."

"Apa itu ?"

"Naruto-sama masih dikawal lima Etatheon...tapi Paradox belakangan menyuruh Hermes untuk pergi memeriksa Perpustakaan Alexandriana. Aku curiga hal buruk telah terjadi di sana, selain itu kami tadi juga diserang puluhan Crysmson tapi berhasil diatasi, dan terakhir kulihat para Etatheon diserbu tiga Scylla sekaligus, tapi aku ragu mereka tidak bisa menghadapinya," lapornya cepat.

"Itu tidak buruk," timpal Tsunade. "Menuju kemana mereka sekarang ?"

"Emm...kesini, Hokage-sama."

"KESINI ?!" Seru Raikage dan Tsuchikage bersamaan.

"Draco P itu. Tujuan perang ini adalah melindunginya !" Geram Raikage. "Kenapa dia malah melibatkan diri sendiri dalam peperangan ?"

"Paradox bersamanya," jawab Tsunade santai. "Apa lagi yang perlu dikhawatirkan ? Jika dia bisa menyegel AEsir dan menonaktifkan Kaum Kolosal dengan gampang, dia pasti bisa melawan Madara dan sekutunya selagi kita menghabisi sisanya," katanya lagi.

"Hokage-sama," Shikaku yang jadi ahli strategi kepercayaan Lima Negara Besar mengiterupsi, "mengingat Hermes ditugaskan Paradox memeriksa Perpustakaan Alexandriana, saya curiga musuh sedang berusaha mencari cara untuk...membangkitkan Droconos kembali."

"Itu mustahil," sergah Onoki. "Terakhir aku membaca, tidak ada yang bisa dilakukan untuk mematahkan Hakke Fuin."

"Dan apa yang kau lakukan," cetus Tsunade, "kalau itu ternyata bukan sebuah kemustahilan ? Madara tidak bodoh. Dia pasti telah merencanakan ini sejak lama. Kita tetap harus hati-hati. Biarkan Naruto kemari, kita lihat apa rencana mereka. Dan...tunggu sampai kabar terbaru datang dari Hermes. Tidak mustahil Perpustakaan Alexandriana menyimpan koleksi sebuah atau beberapa buku atau perkamen yang menjelaskan Hakke Fuin dengan lengkap."

.

.

.


Amegakure

Kilat menyambar. Guntur menggelegar memenuhi langit. Hujan bertambah deras sedikit, disertai angin yang tidak mengizinkan bendera berleha-leha di tiangnya. Kepulan asap sisa ledakan-ledakan hasil pertarungan yang terjadi mulai hilang diguyur air langit. Menara-menara dekat situ telah dikosongkan untuk menghindari korban jiwa yang tak perlu.

.

.

"Bagaimana ?" Gertak Hanzo datar.

Nagato menatapnya tak percaya. "Darimana kau dapatkan dia !" Sentaknya. Lebih mirip teriakan berontakan daripada pertanyaan.

"Dari mana ya ?" Balas Hanzo santai. "Aku diam-diam menemuinya...lantas melepaskan segel kontrak kuchiyose-nya darimu. Tidak sulit. Dan sekarang dia menjadi milikku. Dengan ini kau tidak akan berkutik lagi."

Naga di samping Hanzo berdesis. Tepatnya, sembilan suara desisan raksasa. "Oh, omong-omong," lanjut Hanzo santai, "dia berubah begitu masuk kontrakku. Kepalanya yang tadinya tujuh jadi sembilan, delapan di kepala, dan satu sebagai ekornya. Tubuhnya memilin dan mengurus jadi tubuh ular biasa, dan dia kehilangan keempat kaki dan cakar-cakarnya," ceritanya. "Menjadi..."

"...Hydra yang sesungguhnya..."

.

Kesembilan kepala mendesis seolah mengiyakan. Salah satu menyemburkan racun. Nagato menghindar. Ular raksasa itu mengangkat delapan kepala depannya, langsung menghambur bersamaan, meretakkan lantai beton salah satu menara yang mereka pijak dan memaksa Nagato mundur sampai bibir jurang. Yah, secara teknis, bibir 'jurang' dari dua kelompok menara.

Nagato jatuh terduduk, terengah-engah. Keringat dingin menetes dari leher dan dahinya. "Racun," bisiknya.

"Benar," jawab Hanzo. "Bahkan napas Hydra beracun. Berada di dekatnya saja sudah bisa mengundang maut."

Hanzo mendekati Nagato dengan tenang. Barangkali masker khususnya itu juga melindunginya dari racun Hydra. Ia baru memegang gagang pedangnya ketika asap hijau keluar dari hidung dan mulut Nagato. Ia mengernyitkan alis.

"Kau..."

"...mengeluarkan racunnya ?"

Nagato berdiri, tanpa aba-aba langsung menyerangnya dengan besi tabung. Tepat saat Hanzo menarik pedangnya dari sarungnya, dan mereka kembali seimbang lalu mundur.

"Aku memaksa mereka keluar dari paru-paruku dengan Shinra Tensei," ceritanya. "Gedojutsu tipe Tendo itu...tidak hanya berlaku pada benda padat. Aku bisa meruntuhkan gelombang tsunami dan memudarkan tornado dengan teknik yang sama," gertaknya. "Jangan main-main denganku !" Serunya lalu menyerang dengan besi tabungnya.

PRAK !

Besinya berbenturan dengan taring salah satu kepala Hydra, yang menatap lapar dengan mata biru berpupil hitamnya. Satu kepala lagi langsung menghunjam ke arahnya, menelan Nagato dengan sekali caplok. Namun Uzumaki itu masih ada disana –berjuang di mulut salah satu kepala Hydra agar tidak ditelan. Menahan napas dengan susah payah, dan ia menusukkan besi tabungnya dari rahang atas bagian dalam hingga tepat menembus mata kanannya. Nagato menyilangkan tangannya, memanjangkan satu besi lagi hingga menembus mata kirinya dari dalam.

Kepala itu meraung marah. Nagato buru-buru memutus semua besinya, melompat keluar, bergelantungan pada ujung rahang bawahnya, dan melontarkan diri ke leher sang ular, langsung memotong satu kepala dengan jutsu elemen angin. Kepala dengan kedua mata yang dihiasi 'tindikan-ekstra-besar-yang-nyasar' itu jatuh berdebum ke lantai dengan mulut terbuka. Sebelum Nagato bereaksi, kepala lain menyerang, tapi ia menghindar dengan cepat sehingga kepala itu hanya menggigit sisa leher kepala lainnya. Nagato mendarat di lantai beton kembali dengan Hanzo.

"Kupercayakan Hydra padamu selama dua tahun," gerutu Hanzo, "dan kau tidak belajar apa-apa darinya ?"

Nagato menoleh ke belakang. Kepala yang dipotongnya itu tetap di tempatnya, namun lehernya berasap. Gumpalan daging tumbuh disana, memanjang dengan cepat, dan terbelah dua. Dua kepala langsung tumbuh menggantikan satu kepala yang telah terpenggal, dan mereka mendesis seolah mengejek. Nagato mendengus.

"Kalau kau tidak segera memikirkan bagaimana caranya, merekalah yang akan memotong-motongmu," gerutu Hanzo.

"SSSSSSSSAAAAAAAA !" Desis kepala tengah –yang paling besar (walau perbedaannya tidak mencolok). Mungkin artinya 'Kau akan mati !'

Sepuluh kepala menyerang. Nagato menghindar dengan cepat, gigi-gigi Hydra membentur beton. Tertancap disana. Nagato melemparkan kunai-kunai peledak dan bom. Asap membubung, darah mengucur. Beberapa kepala Hydra putus saat itu juga. Nagato mendarat di satu menara, namun Hanzo persis di belakangnya, menepuk punggungnya, dan langsung menteleportasikannya...

...ke sebuah rawa.

BYUR !

Air memercik, dan sosok Hydra raksasa sepanjang tiga bus tampak di mata Nagato. Sekarang kepalanya berjumlah delapan belas, dua kali lipat dari jumlah semula. Beberapa dari mereka menyemburkan cairan dari mulut, dan sebuah batu langsung mencair begitu terkena. Nagato berkelit ke belakang, tapi ekor ular itu juga kepala –yang sudah terbelah jadi dua- dan mereka menyerang. Nagato membelah keduanya dengan petir, namun keenambelas kepala yang di depan menengok kompak ke belakang, menyadari target mereka ada disana, dan menyerbu.

Nagato berusaha berkelit dan mengecoh diantara pepohonan bakau dan akar-akar napas, tapi Hydra menghancurkan semuanya seolah semua itu hanya tongkat-tongkat kayu yang ditanam di pasir. Ada dua puluh kepala sekarang, dan semuanya antusias mengejar Nagato, sedangkan Hanzo hanya menonton dari kejauhan, memulihkan kembali teknik Shunshin setelah memindahkan Nagato dan naga sebesar itu.

Uzumaki itu menembakkan peluru-peluru dari lengannya, meledakkan beberapa kepala, dan yang lain mendesis marah.

"Ini tidak ada habisnya," gerutu Nagato pada dirinya sendiri. "Ada satu cara untuk mencegah agar kepalanya berhenti tumbuh, tapi itu hanya sebuah teka-teki."

Sang Hydra akan menonaktifkan pertumbuhan kepalanya apabila ia diserang dengan sesuatu yang selalu diidentikkan dengan naga.

"Apa maksudnya ?" Bisiknya pada dirinya sendiri. "Kalau Konan ada disini, dia pasti bisa membantuku memecahkan ini."

Keduapuluh kepala mengangakan rahang mereka lebar-lebar, dan Nagato segera berbelok tajam ke sela-sela akar tunjang sebuah pohon bakau berukuran sangat besar, dan suara menggebrak keras terdengar dari belakang, mengguncang air dan membuat beberapa ranting patah dan menggugurkan daun-daun ke lantai rawa. Kepala-kepala itu mendesis marah, semuanya terperangkap di akar.

Itu memberi Nagato waktu. Ia melakukan handseal Kuchiyose.

BOOOFFFF ! ! !

"Hydra nakal," desis Nagato. Suara burung berkoar memenuhi rawa. Air terembus dikepakkan sirip raksasa. Dua suara berdebum dan dengusan mengisi kekosongan bunyi. Seekor burung enggang hijau raksasa berkaki empat, seekor lobster raksasa, seekor banteng raksasa, dan seekor badak raksasa bersayap kecil. "Ini akan menyibukkanmu," kata Nagato tenang. Ia melirik Hanzo yang duduk santai dari kejauhan.

"Huh," dengusnya. Ia melakukan Kuchiyose lagi. Kali ini seekor anjing berkepala tiga muncul dan menggeram, meneteskan air liur yang langsung bercampur ke perairan dangkal rawa. Hanzo berdiri dengan malas dan merengangkan tubuh seolah baru kesemutan.

CRAAKK ! !

Pohon tumbang, Hydra terbebas. Banteng itu langsung berlari dengan kecepatan penuh dan menyeruduknya sampai terhempas membentur pohon bakau besar yang lain hingga nyaris tumbang.

Yang biasa diidentikkan dengan naga ? Pikir Nagato. Ia merasakan chakra di belakangnya. Sebuah bola api meluncur dari mulut Hanzo. Tapi Nagato rupanya tidak perlu membalas.

"餓鬼道 !"

Gakido

(Jalur Nakara)

SRSSSSHHH... Jutsu Hanzo tertangkap oleh tangan kanan Nagato, masuk dengan cepat semudah kotoran yang diisap oleh mesin penyedot debu.

Hanzo mendecih. "Matamu itu memiliki banyak keuntungan," desisnya kesal. "Sayangnya dia berada di tempat yang salah !" Bentak Hanzo sambil maju menyerang.

Tunggu !

Hanzo barusan menyemburkan api.

Dan...semua naga diidentikkan dengan api, meskipun tidak semua dari mereka menyemburkan api !

Nagato terperanjat begitu mendengar teriakan Hanzo. Dia melapisi pedangnya dengan api. Pemuda itu berpikir cepat, tidak melakukan apa-apa sampai dirasa lawannya cukup dekat dengannya...Hanzo tinggal menyabetkan pedangnya untuk melukai Nagato. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, langsung membuat dinding tanah tebal mencuat cepat dari dasar rawa, tepat membentur depan Hanzo. Pria bermasker itu membentur dinding tanah dengan telak, dan dengan kelembaman yang begitu besar, pedangnya –yang masih berselimut api- terlepas dari tangannya.

Nagato menangkap pedang, dan langsung berlari ke Hydra –yang sekarang kepalanya sudah berlipat ganda mungkin sekitar tiga puluhan- dan melompat, menggunakan elemen angin untuk memperbesar api dan memperkuat kekuatan tebasannya.

"HIIIIAAAA ! ! !" Serunya keras-keras. Pedang api-angin menebas lima kepala Hydra, membakar batas potongnya. Nagato menapak kembali ke lantai rawa, menunggu apa yang terjadi.

Tidak ada yang tumbuh lagi.

Laki-laki bersurai merah itu mengepalkan tangan kirinya. Berhasil. Kepala yang tersisa menggeliat dan meraung marah, tapi badak, burung, anjing, dan banteng milik Nagato segera menindih tubuh utamanya, mempermudah Nagato untuk menebas dan menebas. Menahan napas, dan terus memenggal apapun yang didengarnya menghasilkan suara desisan.

Darah membanjiri rawa, mengubah air yang berwarna hijau dan cokelat menjadi merah. Nagato terhenyak, sesuatu yang biasa refleks di tubuhnya ketika merasakan aliran chakra besar. Ia menolek ke belakang, melakukannya seolah dengan otomatis, dan mendapati Hanzo telah mengumpulkan chakra elemen api yang begitu besar di sepanjang dada, leher, hingga mulutnya. Ada yang tidak beres.

"為火:大型玉要素の術 !"

Katon: Cho Goukakyu no Jutsu

(Elemen Api: Jurus Bola Api Raksasa)

WUUUUUUUSSSSSHHHH ! ! !

Api menyala terang, membakar pepohonan bagai obor, terus merengesek maju tanpa mempedulikan perairan di sekitarnya. Tanah-tanah rawa yang bergumpal-gumpal mengandung humus –berminyak, jadi mudah tersulut dan bola api raksasa itu meledak-ledak, menghasilkan air terjun api yang meletup dahsyat, terus meluncur ke arah Nagato.

Pemuda itu menghilangkan sebagian kuchiyose-nya, menyisakan burung enggangnya dan ia segera melompat naik, menjauh dari api dengan mengepakkan sayap, membiarkan Hydra yang belum sepenuhnya dipenggal itu terbakar oleh api Hanzo. Asap putih terlihat, jelas bahwa Hydra sudah menghilang dengan cara yang sama dengan summon-summon lain.

Api membubung di bawah. Puluhan pohon bakau setinggi rumah ludes terbakar.

SRET ! Sebuah panah air bertekanan tinggi menebas dada burung, membuatnya melolong kesakitan dan segera kabur dengan asap putih yang sangat banyak, Nagato jatuh bebas ke kumpulan api, namun ia menggunakan Shinra Tensei dan...

BYAAAARRRR ! ! !

Pepohonan tersingkir, api padam, gelombang tercipta, tanah terangkat keluar. Membentuk semacam kawah besar yang tidak terlalu dalam, tapi area itu bebas api dan pepohonan. Ia melirik Hanzo dengan ekor mata. Pria itu tampak kelelahan karena barusan menghembuskan api yang cukup besar nyaris mendekati batas kemampuannya sendiri.

Nagato mengarahkan tangan kirinya tepat pada Hanzo dan mulai berkonsentrasi.

"内番所番所 !"

Ba'nsho Tennin

(Tarikan Universal)

BLASSHH !

Tubuh Hanzo tertarik, sedikit demi sedikit tapi pasti, tepat ke arah Nagato. "Aku tidak akan melepaskanmu !" Geramnya. Ia mengangkat tangan kanannya, air di ibu jarinya, batu di telunjuknya, api di jari tengahnya, petir di jari manisnya, dan angin di kelingkingnya. Nagato mengepalkan tangan, mencampur semuanya dalam bentuk tinju setengah batu setengah es, dilapisi api yang berkobar dan petir yang menyambar-nyambar dan desingan angin yang terbentuk seperti bor.

"Tamatlah kau !" Serunya marah ketika Hanzo makin dekat.

Dekat.

Dan...

.

Dengan segenap kekuatan, pemuda berambut merah itu menghantamkan tangan kanannya yang berlapis lima elemen itu pada dada Hanzo. Mencerai-beraikan rompinya menjadi robekan-robekan, menyetrum targetnya hingga berbau gosong, menghanguskan, mencabik-cabik pakaian dan kulitnya, dan menghancurkan tulang dada, rusuk, dan vertebra targetnya.

Riak air yang besar timbul begitu Hanzo dipukul, langsung terlempar lurus ke belakang dan membentur pepohonan. Lebih tepatnya, menebus beberapa pohon bakau hingga berlubang di dahannya sampai gerakannya terhenti oleh sebuah pohon yang lebih besar. Darah menghiasi pohon tempat peristirahatan terakhirnya. Tewas dengan mata terbuka.

Nagato memandangnya dengan napas pendek-pendek. Segala bungkusan di tinju kanannya runtuh. "Selesai, Hanzo," bisiknya. "Aku menang. Ini akan jadi...cakrawala baru untuk Amegakure. Kurasa aku harus mengambilalih kepemimpinanmu dan...mengetuai Akatsuki dengan lebih bijak. Menuju perdamaian yang sesungguhnya, aku...akan berusaha untuk tidak lagi tertipu serigala berbulu domba seperti kau."

.

.

JLEB

.

"Sungguh ?" Desis suara berat seorang pria dengan nada mengejek.

"Kau-lah yang terlalu meremehkan atasanmu, Uzumaki sialan."

.

Darah menetes, bersatu dengan air rawa.

.

.

.

.


Batalion Ketiga Kakashi

Pantai Utara

"Apa yang kita harapkan ?" Selidikku malas. "Baru saja singgah di markas, langsung disuruh ke Batalion Tiga."

"Mereka ingin kita membantu guru bermaskermu itu, ingat ?" Jawab Beleriphon. "Mereka melawan seribu Zetsu Putih, dan walaupun itu baru seperseratus dari jumlah aslinya, aku percaya musuh berusaha menekan kekuatan mereka dengan mengeluarkan mereka sedikit-demi sedikit dulu."

Parthenon menghela napas. "Itu takkan terjadi kalau...kalau musuh punya semacam kartu as."

"Kartu as ?" Ulangku.

Dia mengangguk. "Sebentar lagi kita sampai ke Batalion Tiga. Sejauh ini yang mereka hadapi cuma Zetsu Putih dan Zetsu Putih. Mengingat gurumu Kakashi ada disana, juga rivalnya, Guy, serta Lee, si Yamanaka berambut ekor kuda itu, Kiba, beberapa klan Hyuuga, Tenten, dan beberapa lagi Jounin Konoha, mereka semua orang-orang yang terbilang kuat serta beberapa naga yang juga varietas unggulan-"

"Partheon," tegur Paradox datar.

"Oh. Maksudku, spesies yang bagus, tidak mustahil musuh akan...mengirimkan semacam naga yang belum pernah mereka lihat. Sesuatu yang langka, mungkin," jelas Parthenon.

"Seperti kami ?" Tabrak Kurama. (Yah, sejak ada Demetra, dia menolak masuk kembali ke tubuhku. Bayangkan betapa egoisnya).

"Kalian bukan satu-satunya sesuatu yang diidentikkan dengan 'langka' dasar naga overdosis pede," cetusku.

"Biarkan dia," Kurama malah bicara pada Demetra. "Dia sering frustasi begitu kalau ada sesuatu yang membuatnya, ehm, kurang nyaman."

"Dasar pengkhianat," gerutuku.

.

"Perasaanku saja, atau memang..."

"Ada sesuatu yang bergerak dalam tanah ? Tepat di bawah kita hanya karena kita sedang terbang rendah ?" Tebak Paradox, memotong kata-kata Demetra begitu saja. Naga oranye itu mengangguk pelan.

"Sesuatu yang sangat banyak."

BRAKK ! ! Tanah memecah seperti cangkang telur, dan dari retakan segera muncul...

Ular-ular putih bersisik loreng cokelat kehitaman. Ratusan jumlahnya. Mereka semua lebih besar daripada anakonda yang paling besar, dengan kepala besar bertanduk empat –merah-kuning-hijau-biru, mata merah keemasan yang menyala seakan di dalamnya ada kobaran api, dan empat taring putih mengerikan disertai puluhan gigi tajam melengkung berderet di belakangnya, tertanam pada gusi yang merah cerah.

Sebelum aku sempat bertanya apa sebenarnya mereka, Kurama menuding.

"Disana !"

Aku mengalihkan pandangan, dan mendapati ratusan Zetsu Putih muncul dari tanah dan pepohonan, bertarung dengan para naga dan Dracovetth. Beberapa Pembantai Bersayap juga datang, dan tidak kulihat satupun yang merupakan Zechuan atau Venator disana, dan itu membuatku lega. Satu saja sudah cukup sulit, apalagi jika berbondong-bondong.

"Naruto," panggil Paradox. "Kami berempat akan mengatasi ular-ular di bawah," dia menuding dengan kaki depan kanannya. "Kau, Kurama, dan Demetra, atasi yang di depan, barangkali mereka butuh bantuan. Zetsu akan muncul sangat banyak."

"Kenapa tidak kita kesana saja ?" Usulku. "Yang ada di bawah kita tidak lebih daripada ular besar bertanduk, Paradox !" Protesku. "Kurama dan Demetra saja bisa membuat mereka jadi daging bakar dalam sekejap !"

"Kau tidak tahu apa-apa, bocah," balas Paradox datar. "Kita sedang didesisi oleh anak-anak Unktehi."

Aku tidak mengerti apakah di kamus bahasa ada kata 'didesisi' mungkin Paradox kebetulan 'menciptakan' kata baru itu. Tapi apa yang barusan diucapkannya ? Anak-anak ?

"Anak-anak siapa ?" Aku bertanya begitu karena pertama kali kudengar, namanya sulit dilafalkan.

"Unktehi," jawab Beleriphon. "Ular yang besarnya luar biasa, dan ini baru anak-anaknya. Mungkin balita, yang remaja akan keluar sebentar lagi. Sebaiknya kau turuti nagamu," alih-alih mendukung pendapatku, dia malah sejalan dengan Paradox dan menukik ke bawah, menghabisi ular-ular putih bertanduk norak itu.

Aku melompat ke punggung Kurama tapi meleset, walhasil aku sekarang bergelantungan di ujung ekornya –dan terkutuklah naga jahat ini, dia tidak mau melemparku ke punggung dan tetap membiarkanku menggantung di ujung ekornya sampai kami hadir di medan perang. Mana ada Dracovetth yang diabaikan oleh (kedua) naganya melebihi aku ?

Aku turun dengan menggerutu, dan segera mencabut pedangku dari sarungnya, langsung menebas rahang bawah salah satu naga dan membuat dua giginya copot. Ia mendengus antara marah dan bingung, yang tak lain membuatku bingung juga.

"Itu naga sekutu, idiot," gerutu sebuah suara yang rasanya sudah lama tidak kudengar.

"Sasuke !"

Sasuke mendengus. "Baru-baru datang kau langsung mencederai salah satu naga dari Iwa," dia malah membahas kesalahan pertamaku.

"Maaf," ujarku. "Aku...kukira ini naga musuh !"

"Cepat," Sasuke kembali berfokus ke medan perang. "Banyak yang harus dikerjakan. Beberapa Uchiha juga tak segan ikut dalam pertempuran kali ini, walau pada akhirnya itu berarti Uchiha menentang Uchiha," sambungnya lalu maju dengan pedang putihnya yang berkilau silau diterpa sinar matahari siang.

Jujur, aku merasa sedikit canggung begitu keluar dari Pulau Oogata. Disana semua naga yang kulihat berukuran lebih besar daripada apapun yang mata manusia pernah lihat, mereka membuat hutan pinus terlihat seperti padang rumput ilalang, sungai seperti selokan comberan, dan danau seperti genangan air hujan yang kadang 'dimasuki' oleh orang-orang yang kurang beruntung. Tapi disini semuanya serasa berukuran kerdil –mungkin ini juga semaca efek magis tersendiri yang mengenaiku di Pulau Oogata. Apalagi setelah berhadapan dengan Varan yang besarnya amit-amit.

Seseorang menepuk pundakku di sela-sela kesibukan perang.

"Yo, Naruto-kun ! Kau kelihatan lebih kuat walau dua hari belum lewat," kagum suara yang tak asing di telingaku.

"Kurasa kau juga tampak bersemangat, Alis Tebal," balasku, nyengir. "Kita lakukan yang terbaik !"

"Pasti !" Serunya sambil mengedipkan satu mata dan mengacungkan jempolnya –persis Guy-sensei yang sedikit abnormal itu.

Ledakan langsung menyambut semangat kami tepat di depan wajah, mengaburkan tanah ke belakang mengotori bagian depan pakaian kami berdua. Begitu membuka mata, ingatanku melambung sebulan yang lalu, naga pertama yang menyerangku dan membuat rumahku babak-belur.

"Hidalgo," desis Alis Tebal. "Hiiiyyyaaa ! ! !" Dia berseru, melompat dan menendang kepala naga itu sampai membuatnya jatuh berdebum. Aku melakukan Kagebunshin, membentuk chakra Rasengan di tanganku, tapi dengan chakra alam Senjutsu yang sudah kukumpulkan sejak perjalanan dari markas, aku yakin bisa melakukan lebih dari sekedar Rasengan sebesar bola basket.

Aku menapak ujung atas pohon dan menyerang –dengan Rasengan biru raksasa berdiameter sama dengan tinggi sebuah rumah.

"仙人:大型巨大螺旋丸 !"

Senpou: Cho Oodama Rasengan

(Teknik Sage: Rasengan Raksasa)

BUUUUUUMMMMMM ! ! ! Hidalgo malang itu tergilas seperti tikus yang dilindas truk begitu dikenai Rasengan raksasaku, menghasilkan kawah besar dan gelombang kejut yang hebat ke segala arah. Aku segera sadar banyak sekali pasang mata yang melihat ke arahku.

"Huh," ujarku, menarik perhatian. "Pulau Oogata punya naga-naga sebesar gedung," pamerku, "tapi tidak adakah disini yang cukup besar untuk bertahan dari jurusku ?"

"Wow, kau luar biasa, Naruto-kun !" Seru Lee takjub. "Aku tak pernah lihat Rasengan sebesar itu !"

"Dasar sombong," berbeda dengan Lee, Kiba tampak sewot.

"Bilang saja kau iri," timpal Hinata. "Nah, Naruto. Kau masih utuh kan ?" Dia berpaling padaku.

Aku menelan ludah. Pertanyaan macam apa itu. Aku menunjukkan kedua kakiku dan kedua tanganku dengan sukarela. "Aku tidak bohong," sesumbarku. "Ada naga laut sepanjang lima kilometer, penguasa angkasa yang bisa menutupi sinar matahari, dan naga sebesar pegunungan yang panjang kepalanya saja satu kilometer !" Aku bercerita menggebu-nggebu, tapi nyaris tidak ada yang mendengarkan. Yah, maklum sih.

"Ceritakan saja seusai kita menang," kata Hinata yang sudah sibuk lagi. "Itu...pasti hebat."

Aku mengangguk pasrah, berusaha mencari mangsa lagi. Aku begitu senang bertemu bersama teman-temanku lagi sampai-sampai tidak menyadari Kurama dan Demetra sudah hilang entah kemana. Bukan urusanku, tapi aku yakin mereka takkan kencan ditengah peperangan seperti ini.

Begitu jumlah Pembantai Bersayap dan Zetsu Putih yang kami hadapi mulai terasa berkurang, sesuatu menggemuruh keras seperti monster.

"Apa itu ?" Teriak Ino, berusaha mempertahankan posisi karena tanah mulai berguncang.

"Sesuatu yang besar," balas Hinata. "Bentuknya seperti ular..."

"DI BAWAH ! !" Pekik Neji –yang juga menyertakan diri dalam pasukan klan Hyuuga.

Tanah terbelah, dan bebatuan terbang ke langit, mengenai beberapa naga di pihak kami yang sedang berpatroli. Kepala raksasa muncul dari tanah, dengan cepat menarik dirinya ke atas dan langsung membayang-bayangi pasukan Batalion Tiga dengan tubuhnya yang sangat besar.

Mata delima dengan pupil emas itu menatap ke arahku. Ia sekilas mengingatkanku pada Manda –ular raksasa cerewet milik Dracovetth gila Orochimaru- tapi yang ini dua kali lebih besar. Tanduk seperti tanduk antelop mencuat dari alisnya, dengan empat warna. Sisik-sisik raksasa berwarna putih dan corak loreng cokelat bertepi hitam mengingatkanku pada...anak-anak ular tadi.

Anak-anaknya saja sudah sebesar itu. Dan aku tidak ragu menduga bahwa ini adalah...

.

"Unktehi," kata Kakashi-sensei, mendahuluiku. "Kau muncul di tempat yang kurang tepat," gertaknya. Kakashi-sensei bertingkah seolah ular raksasa itu bisa bicara.

"Mungkin..." desisnya. Hah ? Dia memang bisa bicara ! –dengan suara seperti perempuan dewasa.

Lidah bercabangnya yang berwarna merah darah itu menjulur keluar membaui udara. Panjangnya sepanjang pintu, dan itu baru lidahnya. Kepalanya, jika ditegakkan, akan setinggi langit-langit rumahmu. Dan tubuhnya...mungkin butuh sepuluh atau lebih orang dewasa yang saling melingkar dan bergandengan tangan untuk bisa memeluknya.

Kedengarannya sangat besar memang, tapi kalau disandingkan dengan Jőrmungandr, dia akan tampak seperti cacing (ini mungkin bisa membantumu membayangkan sebesar apa ukuran Ular Midgard sialan itu, yang untungnya dia sudah tidak bakal eksis lagi).

Sang Unktehi menatapku lapar, walau aku yakin sepuluh Dracovetth klan Akamichi tidak cukup mengenyangkannya, tapi ia menggeram. "Aku akan membenamkan taringku padamu, Draco P," gertaknya sambil menyeringai, memperlihatkan empat taring perak seperti baja antikarat yang berkilau di sudut-sudut rahangnya. Ia menghunjamkan kepalanya padaku lebih cepat dari yang bisa dilihat siapapun, melabrak tanah dengan kecepatan tinggi dan hanya meleset beberapa senti dariku. Barulah kusadari taringnya tiga perempat dari tinggiku –lebih panjang daripada pedang.

Unktehi mengangkat kepalanya lagi, menghindari senjata-senjata, dan meninggikan tubuhnya lagi. Ia membuka mulut seratus tujuh puluh derajat seakan rahang atas dan rahang bawahnya tidak menyatu (atau mungkin memang seperti itu) dan menembakkan angin ribut yang memporak-porandakan apa saja yang ada di bawahnya, termasuk meniupku juga. Menggores-gores batu dan pohon serta beberapa naga, dan ia melakukannya cukup lama juga.

Dia nyaris menghunjam padaku lagi ketika aku melihat sosok berambut pink terjun dari langit –dari seekor naga kuning bersayap banyak, Hermes.

Dia Sakura.

Perempuan itu menghunjamkan pedang perunggu berwarna pink sepanjang satu meter tepat ke kepala Unktehi –yang sebenarnya tak sulit karena kepalanya sangat besar, dan menembus sempurna sampai bisa kulihat ujungnya menyembul dari langit-langit mulut ular raksasa itu.

"IIIIIIISSSSSSSSS ! ! !" Seru Unktehi. Ia menggeliat-geliat berusaha menjatuhkan Sakura, tapi gadis itu dengan kuat berpegangan pada pegangan pedangnya, sampai dirasanya Unktehi lengah, dia mencabut pedangnya, berayun ke sisi dan ditangkap di punggung Hermes, menjadikan punggung naga tercepat itu sebagai tolakan untuk...sebuah pukulan hebat, tepat sekitar 30 senti di belakang mata Sang Unktehi.

BUK !

Ular raksasa itu limbung. "SEMUA AWAS !" Seru salah satu Dracovetth, dan Unktehi tumbang ke tanah seperti pohon kelapa raksasa dengan suara berdebum yang kuat. Dia pingsan dengan luka memar, dan Sakura mendarat diatasnya dengan mulus.

"Untuk selanjutnya, aku boleh memberi bantuan ?" Ucap Hermes santai.

"Tidak," jawab Sakura pendek. Padat dan cepat.

"Oke," balas Hermes datar, kemudian terbang meninggalkan kami untuk bergabung dengan lima Etatheon yang lain.

Dia menoleh ke arahku, berjalan mendekatiku seolah tidak ada masalah apa-apa. Ia mengulurkan tangan kanannya yang ditutupi sarung tangan ungu keabu-abuan. "Maaf," katanya pendek. "Soal...apel emas dan Ortodox itu," sambungnya.

Aku ingin memarahinya, persis seperti yang sudah kulakukan pada Paradox ketika kami pertama bertemu, tapi tidak bisa. Akhirnya aku cuma berkata, "Tidak semudah itu, Haruno."

Ah, payahnya aku. Bahkah aku tidak menyebut namanya. Sungkan.

"Aku tahu aku salah," desak Sakura. "Dan...ayahku dan aku sudah berhasil kabur ketika seekor naga dari Kaum Kolosal menghancurkan kuil," ceritanya. "Aku berjanji padanya...aku akan berguna untukmu. Setidaknya...membantumu. Dalam hal apa saja. Ayahku sedang menuju ke Rouran lagi, berusaha meyakinkan Dewan Kota untuk menerimanya dan membantumu, dan..."

"Cukup !" Seruku akhirnya. "Bagaimana aku tahu kau takkan beralih pada Madara lagi ?"

"Karena ayahku sudah bebas !" Balasnya, berusaha meyakinkanku. "Aku mungkin tidak punya bukti, dan kurasa tidak perlu bukti untuk membuatmu percaya ! Aku sudah mengendarai seekor Tailtorn raksasa untuk meloloskan diri dari Kuil Uchiha ketika tiba-tiba naga itu meraung liar dan terjatuh, berubah menjadi asap dan debu ! Setelahnya kuyakin bahwa kau sudah mengaktifkan segel AEsir, dan aku terpaksa berlari sampai aku bertemu Hermes dan diantar kemari !" Serunya bertubi-tubi dengan napas terengah.

Kami terdiam sesaat, mengabaikan hiruk-pikuk peperangan di sekeliling kami. Semua orang sudah sibuk kembali sekarang. Aku melirik Unktehi dengan ekor mata, dia mulai menggeliat bangun. Tidak ada waktu untuk memperdebatkan soal kemarin atau yang akan datang. Yang ada hanya sekarang. Cuma itu yang bisa dilakukan dan dibincangkan.

"Jangan main-main dengan Paradox," hanya itu yang kuucapkan. "Dia bisa...mengenalmu lebih baik dari siapapun," aku memperingatkan, lalu menghunus pedang.

"Ayo kita bereskan Unktehi itu sama-sama," ajak Sasuke sambil menarik pedang dari sarungnya, menyelimutinya dengan listrik elemen petir.

Sakura mengangguk pelan, mengangkat pedangnya. Pedang perunggu berwarna pink –yang agak ganjil dan belum pernah kulihat- dengan mata kristal berwarna merah jambu gelap di kedua sisi di batas antara mata dan gagangnya.

"Kalian yakin mau memberesi ular raksasa itu bertiga saja ?" Kakashi-sensei bertanya. Mungkin juga, menawarkan bantuan. Tapi itu berarti Guy-sensei pasti akan ikut juga, karena dia tak mau kalah dengan rivalnya, dan itu juga bisa berarti Si Alis Tebal akan mengikuti Guru Alis Tebal juga. Aku menghela napas malas.

"Kurasa, beberapa aksi," kataku.

Unktehi bangkit, berdesis. Menggoyang lidahnya, lalu mencuatkan empat taringnya. Menyerang. Aku dan Sakura kompak menghindar, membiarkan Sasuke menangkis satu taring. Sasuke mungkin telah berlatih keras memanfaatkan sedikitnya waktu yang tersedia, sebab dia menangkis taring Unktehi hanya dengan memegang pedang di tangan kanan. Tangan kirinya berdenyar, membentuk Chidori, menghantamkannya ke hidung Unktehi.

Hanya goresan yang terlihat, dan tidak mencolok. Unktehi menjulurkan lidah, membelit Sasuke, dan melemparnya ke sembarang arah semudah seorang pegulat melempar karung pasir. Untungnya Uchiha temanku itu berhasil mendarat dengan sempurna diatas pohon.

Aku menyamping, menghunus Pedang Rikudo. JLEB !

Pedang itu menancap, tapi dangkal di dagingnya yang serasa lebih keras daripada kayu manapun. Unktehi ini tidak punya sisik baja seperti Wyvern atau Antaboga, tapi tubuhnya luar biasa kuat. Tidak ada pedang yang bisa menancap lebih dari seperempat panjangnya sendiri sekuat apapun aku mengayun. Tapi kenapa tadi Sakura berhasil menembusnya ?

"Bagian kulit terlunaknya adalah kepala," Sakura memberitahuku ketika kami bertemu, sama-sama menghindar dari taring raksasa itu.

"Apa kau mau bilang ular ini punya perisai dibalik dagingnya ?" Selidikku. Sakura menggeleng.

"Semakin ke dalam, dagingnya semakin padat. Otot-ototnya biasa saja di bagian luar, tapi di pertengahan sampai ke dalam, pasti ada jalinan tendon yang sangat kokoh. Suruh Hinata atau Neji ikut bersama kita," katanya cepat.

BRAAKKKK ! ! ! Ekor Unktehi eksis dari retakan tanah, tiga puluh lima meter dari kami berdiri. Ekor raksasa itu menyapu dan menghempaskan banyak Dracovetth dan naga-naga pihak kami, dan kusadari sang Unktehi menggeliat, menyebabkan gempa bumi lokal. Tanah berguncang dan bergeser, baik secara vertikal maupun horizontal.

"Kita tidak bisa bertarung dengan bagus disini," kata Sasuke. "Akan melukai terlalu banyak orang."

Guy-sensei dan Alis Tebal membuka Gerbang Keempat, dan menyerang. Melompat setinggi dua puluh meter ke udara dengan aura hijau dan kulit memerah dan langsung menendang sisi kanan kepala Unktehi dengan sekuat tenaga.

Ular itu hanya tertampar ke samping sedikit. Sedikit memar, tapi ia langsung menindih dua manusia pengganggu itu dan meratakannya dengan tanah.

"Gawat," cetus Sakura. "Sekarang dia serius."

Masuk akal. Sakura tadi memukulnya satu kali dan membuat ular sebesar itu jatuh, tapi sekarang dua pengguna Taijutsu terhebat di batalion ini menendang ular itu dengan Gerbang Keempat dan hanya bergeser sedikit. Aku penasaran apakah dia bisa mementalkan Oodama Rasenganku. Kurogoh tas pinggangku dan kuserahkan sesuatu pada Sakura. Hiraishin Kunai.

Aku naik ke puncak salah satu pohon, melempar satu Hiraishin Kunai sekuat tenaga...ke pantai. "Sakura !" Seruku. "Tancapkan itu padanya !"

"Sudah !" Balasnya dari kepala Unktehi –entah bagaimana bisa ada disana. Aku berkonsentrasi. Belum pernah kupindahkan sesuatu sebesar ini sebelumnya, jadi ini pasti memakan banyak sekali chakra, tapi yang penting medan pertempuran tidak kacau.

SSEETT !

BUUUUMMM ! ! ! Tubuh raksasa Unktehi mendarat mulus di pasir cokelat pantai. Sekarang aku bisa melihat wujudnya secara utuh. Garis besarnya, Unktehi adalah seekor ular bertanduk empat yang sangat besar. Panjangnya mungkin sekitar dua ratus lima puluh meter, dengan sisik putih dan corak seperti belang harimau raksasa berwarna cokelat dan dilapisi garis hitam. Keseluruhan kepalanya terlihat seperti ular mamba, kecuali matanya yang tampak kecil kalau dibanding kepalanya, dan tanduk empat warna yang aneh di alisnya.

"Kurasa ukuran akan menentukan sesuatu yang penting," desis Sasuke. Ia berubah perlahan, membesar, mengeluarkan duri-duri, dan akhirnya sempurna menjadi seekor Yamata no Orochi, ular raksasa berkepala delapan. Kendati Sakura mengatakan bahwa Yamata no Orochi tampak sangat besar kalau dibandingkan Zmey Gorynych, 'Sasuke' tampak kecil di hadapan Unktehi raksasa yang sepuluh kali lebih panjang.

Ular itu mendesis meremehkan, langsung menyerang salah satu kepala Yamata no Orochi. Ketujuh kepala lainnya menggigit Unktehi keras-keras, tapi mereka juga sama, tidak semua taring terbenam dibalik kulitnya yang padat itu.

"Terus pertahankan posisi itu, Sasuke !" Teriakku. Aku membentuk beberapa Kagebunshin, segera mengumpulkan chakra secepatnya. Beberapa menit kemudian, tiga Rasenshuriken siap dilempar ke target. Ketujuh kepala sisa Yamata no Orochi menggigit daerah lain, yang lebih dekat ke kepala Unktehi. Kulempar satu Rasenshuriken ke leher ular raksasa itu.

Namun ketika hanya berjarak beberapa meter sebelum mengenai target, Sang Unktehi mengangkat Yamata no Orochi, melemparnya tepat ke Rasenshuriken yang sedang berputar membelah udara. Alhasil, Yamata no Orochi "Sasuke"-lah yang terkena Rasenshuriken pertamaku ! Ia meledak dalam balutan chakra angin dan tergores-gores lumayan, jatuh ke pasir pantai. Beberapa detik kemudian, sosok raksasa itu menyusut kembali menjadi Sasuke yang kukenal.

"Tidak berhasil," cetus Sakura kesal. "Unktehi lumayan pintar juga."

"Bodoh," gerutu ular raksasa itu. "Kau lebih bodoh daripada yang kukira !" Ia menudingku dengan lidah bercabangnya. "Ayo lemparan cakram angin itu padaku lagi, akan kubuat kau melukai gadis merah jambu itu !" Tantangnya.

Aku teringat dua Rasenshuriken masih berdesing di tangan kedua bunshinku. "Kita perlu menjebaknya dulu," cicitku.

"Kenapa tidak bilang dari tadi," gerutu Sakura. Tapi ia merespon –mengarahkan kedua tangannya ke laut, dan segera, membentuk sebuah tsunami besar, tepat mengarah ke garis pantai kami berada. Aku sempat berpikir gelombang setinggi lima puluh meter pun tidak akan menghanyutkan Unktehi terlalu jauh, dan ombak yang dibuat Sakura 'hanya' setinggi lima belas meter. Pas-pasan di tubuh Unktehi ketika menerjangnya, membuatnya tertawa.

"Kau menyerangku atau malah memandikanku, gadis bodoh ?!" Ejeknya. Ia tidak bergerak. Kesempatan.

Aku membantunya. Kutarik sebanyak mungkin air laut yang kubisa, membuat Sakura tercengang ketika aku menarik naik tiga puluh meter gelombang pasang air asin, langsung menghunjam dan mengebor Unktehi. Tapi ia hanya menggeser-geser tubuhnya sedikit. "Apa rencanamu ?" Tanyaku gusar.

"Bungkus terus dia dengan gelombang air, setinggi mungkin," katanya.

Aku tidak terlalu mengerti, tapi kulakukan. Sementara, Sakura melirik Sasuke dengan gelisah.

Sasuke bangun, dan kali ini matanya berbeda. Latar belakang hitam dengan corak seperti bunga segienam merah.

"Itu...?"

"Mangekyo Sharingan," ucap Sasuke.

"K-kapan kau mendapatkannya ?!"

"Aku sudah mendapatkannya sejak bertemu denganmu," akunya. "Tapi sengaja kusimpan untuk saat-saat terpenting, dan sekaranglah saat-saat itu. Selama masih memungkinkan, aku tidak menggunakan ini...". Aura ungu tampak di sekelilingnya, membentuk kerangka manusia yang kemudian segera dilapisi otot dan kulit.

"Susano'o !" Serunya keras. Jutsu aneh itu mengeluarkan busur di tangan kirinya, dan panah di tangan kanannya. Panah biru berulir yang aneh.

"Panah Es Oreygian !" Desis Unktehi terkejut. "Jadi kalian..."

"Benar," potong Sakura. "Kami sengaja menyelimutimu, walau tidak semuanya, dengan air untuk selanjutnya dibekukan instan oleh Panah Es Oreygian dari Susano'o Sasuke !"

"Dan darimana kau tahu Sasuke punya Mangekyo ?" Tabrakku.

"Dia pernah menceritakannya padaku," balas Sakura santai. "Jangan tanya kapan," katanya lagi begitu melihatku membuka mulut. Aku merengut, soalnya memang itu yang tadinya mau kutanyakan.

Sasuke membidik. Kurasa tidak sulit, karena bahkan Sang Unktehi tidak bisa keluar dari arus air yang aku dan Sakura buat, dan...

Panah biru berujung mirip sekrup raksasa itu menancap di air. Menghilang, dan sebagai gantinya, seluruh arus berubah menjadi es bening padat sekeras batu granit. Sang Unktehi mendesis marah, meraungkan kanon-kanon udara yang bergulung berusaha memecahkan es, tapi sia-sia belaka. Es yang membungkusnya terlalu tebal, dan hanya kepala dan lehernya yang mencuat keluar, jadi dia tidak mati tercekik di dalam.

Aku menoleh ke Sakura. "Bisa kita teruskan ? Agar kita punya koleksi awetan ular betina raksasa yang komplet," candaku.

Ia balas melirik Sasuke, seolah meminta persetujuan. Sasuke mengedikkan bahu. "Boleh," katanya sambil tersenyum tipis.

Unktehi mendesis. Mendesis biasa, tanpa nada apa-apa atau gerutuan atau umpatan. Terlalu klise, suara dalam diriku. Ada yang tidak beres.

Kemudian kulihat mata merahnya itu tampak abu-abu buram. Bibirnya pecah-pecah, bahkan lidahnya jadi...transparan. Seluruh sisik putihnya buram, dengan corak cokelat-hitamnya sudah tidak tampak jelas lagi, samar. Aku tertegun. Aku sudah pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya, tapi dalam versi yang jauh lebih kecil. Kulirik Sakura dan Sasuke takut-takut, mereka tidak menyadarinya. Sasuke bahkan sudah melenyapkan Susano'o-nya.

"Teman-teman," kataku. Mereka menoleh. "Unktehi itu berganti kulit."

KRAK !

Begitu kami menengok ke atas, bagian 'selongsong kepala' ular itu robek, menampakkan tubuh aslinya yang tampak lebih licin dan berkilau, mendesis nyaring, menyeringai dengan gigi-gigi yang seolah baru dipoles, ditempa, dan diasah. Menatap kami dengan mata merah keemasan yang tampak baru dipasang, tapi dengan kebencian yang sama. "MATI KALIAN !"

Ia melata keluar dari gunung es yang kami buat dengan mudah, meninggalkan selongsong kulit ular raksasa di dalamnya, dan langsung menggigit pasir –serangan pertamanya meleset, tapi Sang Unktehi mengangkat ekornya begitu tinggi dari tanah dan menghantam kedua temanku. Sakura terpental hingga membentur karang di punggungnya, dan Sasuke tertindih ular raksasa –beruntung ia sempat melindungi dirinya dengan Susano'o, kalau tidak, mungkin dia sudah gepeng menyatu dengan pasir pantai.

Sasuke susah payah berusaha mengangkat tubuh berat Unktehi, namun ular itu lebih gesit. Ia melilit Susano'o Sasuke dan mengabaikannya dengan gampang, beralih padaku. Kuhunus Pedang Rikudo namun dia meniupkan tornado pencabik, melukai jari-jariku dan pedang hitam gelap itupun luput dari tanganku, jatuh membentur karang dengan suara berisik.

Aku meniupkan bola api. Aku tahu kalau ular ini cukup pintar, tidak mungkin ia menembakkan angin, itu hanya akan memperbesar bola apiku. Namun itu membuatnya santai, dia bahkan tidak berusaha menghindar. Nyatanya, bola api terbesarku-pun tidak cukup untuk membuat sisiknya berubah cokelat sedikitpun.

"Bodoh," geramnya, dan dia menyerang lagi. Aku melompat, tapi salah perhitungan. Lompatanku terlampau tinggi dan jauh, dan Unktehi menarik dirinya lagi, memosisikan tanduk kanannya tepat padaku. Tanduk kanan tertingginya menggores lengan kananku cukup dalam di udara, membiarkanku jatuh ke pasir.

Aku mengaduh, memegangi lenganku. Darah menetes. Unktehi menjilat bibir, dan menukik, menyerang lagi. Kuhantam dia dengan selusin batu dari elemen tanah, tapi itu menghantam tubuh raksasanya bagai air hujan memukuli atap asbes. Mengabaikan sambaran-sambaran petir dariku yang hanya menggores-gores sisiknya, ia menerkam ala ular adder yang siap melumat tikus. Aku melompat dengan sigap, tapi itu serangan tipuan.

Unktehi meliukkan tubuhnya yang sudah empatperlima jalan ke arahku, meliuk ke atas, dan membuka mulut.

Taring kiri rahang atasnya mengenai betis kaki kananku.

Bukan sekedar mengenai. Maksudku, yah, menembus. Bayangkan paku di betismu, kemudian seseorang memukulnya dengan palu besi berat dengan kekuatan penuh, membuat paku itu sepenuhnya menancap di betismu. Sekarang, lipatgandakan rasa sakitnya sepuluh kali. Seperti itulah yang kira-kira kurasakan sekarang.

Aku berteriak kesakitan. Darah mengucur dari luka besar nan dalam di betisku. Rasanya tulangku bahkan ikut tertembus.

Unktehi menjilat taring kirinya. Menjilat darahku. "Sudah lama sekali sejak aku makan manusia," desisnya ganas. "Hampir-hampir lupa rasanya. Sekarang kau mengingatkanku, Dracovetth muda..." katanya sambil mendesis nikmat. Mungkin aku akan meluncuri kerongkongannya seperti pil.

"Naruto..." ucap Sakura lirih. Ia mengusap punggungnya. Bangun dan menghunus pedang, tapi terlempar lagi oleh ekor raksasa Unktehi. Sasuke masih berjuang agar tidak diremukkan.

"Kau harus berterimakasih padaku," cetus Unktehi. "Aku tidak menambahkan racun ke taringku. Racun hanya untuk para naga yang terlalu lemah untuk menghabisi lawannya dengan kekuatan. Aku lebih menyukai dan mungkin bisa lebih mengho..."

DUAK !

Sang Unktehi terlempar (hanya kepalanya, sih, terhuyung). Terhuyung begitu parah sampai taring kirinya yang barusan menusukku lepas dari rahangnya dan gusinya berdarah. Beberapa sisiknya lepas dan ia jatuh ke pasir pantai. Mudah bagiku mengetahui siapa yang bisa sebrutal itu dengan sekali tendangan.

Paradox.

Parthenon membantu Sakura, sementara Pyrus dan Beleriphon melepaskan lilitan Unktehi dari Susano'o Sasuke. Paradox terbang mendarat di sisiku, menyentuhkan cakar kaki depannya ke lukaku. Dalam sekejap, luka itu tertutup seolah tidak pernah ada apa-apa disana. Hanya saja darahku masih ada di sekitar, membanjiri pasir dan menjadi pewarna alami yang mengerikan.

"Kau kehilangan hampir seliter darah," katanya datar. Begitu datar. Aku tidak merasakan...kekhawatiran. Seolah dia yakin sekali aku akan baik-baik saja. Seolah.

Unktehi bangkit dan menggeram. "Kau mencampuri urusanku, lagi," gerutunya kesal. "Akan kutelan kau hidup-hidup !"

Ia menyerbu, Paradox mengambil ancang-ancang dan meledak ke depan. Terlalu dahsyat, sampai miliaran pasir pantai tersembur nyaris menguburku. Aku mengumpat dalam hati. Kepakan sayap membantuku menyingkirkan pasir-pasir. Kutolehkan kepala ke belakang, dan kulihat Kurama dan Demetra berdiri di belakangku.

"Paradox keterlaluan," aku menggerutu habis-habisan. "Dia tidak mengkhawatirkanku samasekali, menyembuhkanku tanpa membersihkan darahku atau sekedar menanyaiku, bahkan lenganku yang terluka dibiarkan, dan sekarang mengabaikanku untuk bertarung dengan cacing bodoh sialan itu."

"Siapa kau sebut cacing bodoh sialan ?!" Bentak Unktehi, teralihkan. Bagaimanapun, aku agak terkejut ia bisa mendengarku dari jarak sejauh itu. Matanya makin merah, namun seperseratus detik kemudian, Paradox muncul di sisi kanannya, dan langsung menghantamkan ujung ekornya yang berbentuk intan segienam ke kepala ular raksasa itu semudah mengayun pentungan bisbol. Entah sedahsyat apa kerusakannya, tapi aku bertaruh itu jauh lebih menyakitkan daripada tertusuk taring Unktehi.

Semua gigi yang bertengger di rahang ular raksasa itu lepas –terburai ke udara, menyisakan gusi dengan akar-akar gigi, lidahnya terhajar sampai memar biru, sisik-sisiknya hancur dan berguguran, dan bahkan satu bola mata merah itu copot dari rongganya dan terlempar bebas ke udara. Begitu aku memperhatikan lagi Sang Unktehi, kepalanya tereng ke kiri, seolah engsel lehernya sudah tidak kuasa menahan kepala itu. Rahangnya tergantung tanpa daya, dua dari empat tanduknya putus.

Paradox menghembuskan napas api putih, langsung membakar Unktehi dari kepala hingga ujung ekor.

Rasa sakit di kakiku menyerang lagi, walau lukanya sudah hilang. Aku mulai mengantuk. Entah kenapa. Tidak bisa mempertahankan mataku, mau tak mau aku tidur.


Dalam mimpiku (aku tahu itu mimpi, entah kenapa sih, tapi pokoknya bisa) aku mengenakan jubah hijau dari sutera yang sangat halus, dengan dekor anyaman berwarna merah dan kuning keemasan di kerah leherku yang tinggi dan kaku. Jubahku begitu panjang hingga menyapu tanah. Atau lantai, karena aku sedang berdiri di hadapan sebuah ruangan yang tampaknya tidak asing bagiku. Pintu dengan gagang emas dan batu rubi. Karpet merah beledu yang lembut, dan kaca berhiaskan tatanan mosaik yang indah. Di luar tampak bayangan samar menara-menara pencakar langit.

Aku berada di Rouran, tepat di depan ruang singgasana ratu. Aku memberanikan diri membukanya dan melihat Sara disana, berdiri dengan kedua tangan menyatu di belakang pinggang, memandang Rouran dengan mahkotanya. Rasanya lama sekali aku tidak melihatnya. Terbesit keinginanku untuk menyapanya, tapi aku ragu ia bisa mengenaliku dengan pakaian aneh yang terkesan kuno ini.

Aku menghela napas pelan, tapi ia tidak bereaksi. Kusadari begitu Anrokuzan lewat di sebelahku begitu saja, seolah aku tak ada disana. Mungkin aku memang tak ada disana, karena dia bersikap biasa saja. Mendekati Sara, berbincang dengannya dengan suara yang terlalu pelan untuk kudengar dari sini.

Aku ingin maju mendekati mereka berdua, tapi kakiku rasanya seperti dikaitkan ke jangkar seberat seekor Unktehi. Aku hanya bisa berdiri di sini, mengamati mereka berdua. Kemungkinan besar –menurut tebakanku- mereka sedang membicarakan soal perang. Kalau beruntung, soal aku juga.

Mereka berbicara serius, tapi aku tetap tidak bisa mendengar. Apa mungkin mimpiku kali ini bisu ? Mendadak Anrokuzan melakukan sesuatu yang tidak terduga –ia menarik mahkota Sara dan melemparnya ke singgasana. Pria bertubuh gembrot itu mencengkeram kerah leher ratunya sendiri dan menatapnya dengan mata jahat.

Kudeta-kah ? Aku merinding menyaksikannya. Kembali berusaha, kulangkahkan kakiku, tapi tidak bisa. Kedua kaki ini seperti terpancang ke lantai. Kemudian melesat tepat di sebelahku, pria berambut bunga mekar dengan pakaian yang compang-camping, berkeringat. Ia tampak berteriak, walau aku tidak mendengar apapun, dan menuding-nuding kasar ke Anrokuzan.

Sara jelas kebingungan. Kerahnya masih dicengkeram oleh orang yang selama ini dikira kepercayaannya itu. Kurasa Hiruko dan Pakura sedang ikut berperang. Aku mengenali siapa orang yang hadir barusan. Haruno Kizashi, ayah Sakura. Sepertinya Sakura benar soal ayahnya.

Kizashi mencabut pedang besi abu-abu dari sarungnya. Tanpa suara yang terdengar, sulit menafsirkan apakah Anrokuzan dan Kizashi bekerjasama untuk memberontak, atau Kizashi berada dalam kubu protagonis dan berusaha mengenyahkan Anrokuzan yang sebenarnya adalah pengkhianat, atau Anrokuzan dan Kizashi punya tujuan sendiri-sendiri.

"Tunggu !" Aku berseru. Tapi aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Dunia ini tanpa suara.

Anrokuzan mengeluarkan pedangnya dan melepaskan Sara yang ketakutan. Ia beradu melawan Kizashi dengan sengit. Kizashi berteriak pada Sara, mengibas tangannya ke arahku. Mungkin lebih tepatnya, mengibas tangannya ke pintu keluar. Ia menyuruh Sara keluar. Jelas sekarang siapa yang berkudeta.

Selagi lawannya lengah, Anrokuzan menendang perut pria berambut bunga mekar itu dan mengikatnya dengan benang-benang chakra, membantingnya ke singgasana ratu hingga kursi kebesaran itu roboh. Ia beralih ke Sara, mencengkeram kerahnya dari belakang seperti menangkap anak kucing yang kabur, dan mengikatnya dengan benang-benang chakra. Ia mendekati jendela dan bersiul, memanggil seekor...

Venator.

Naga buas itu menderum seperti mesin kendaraan bermotor, dan Anrokuzan melompat naik beserta Sara yang sudah terikat, dan mereka langsung mengudara, meninggalkan Kizashi yang berteriak-teriak tanpa suara di ruang singgasana.

Aku terhenyak. Apakah Anrokuzan ada hubungannya dengan Madara –atau Hanzo ? Masuk akal. Pantas saja Venator bisa muncul tiba-tiba di tempat sejauh Rouran. Anrokuzan mungkin saja memelihara beberapa naga seperti itu. Dia menculik Sara ? Untuk apa ?

Untuk menarikku ke jebakan.

Aku mengepalkan tangan, geram. Tidak kusangka Anrokuzan bisa sejahat itu. Aku harus memberitahu Paradox dan Kurama soal ini.

Dan entah bagaimana, itu membuatku terbangun.

Aku meraba-raba sekitar. Kasur. Aku berada di ranjang yang empuk, di sebuah ruangan...yang sulit kukatakan, ini indah. Ranjang ini sendiri mempunyai empat kaki berupa kayu kokoh yang dipernis hingga mengkilat. Kutemukan ukiran-ukiran rumit menghiasi badannya. Aku memegang lengan kananku. Agak sakit, lantas kusingsingkan lengan. Ada bekas memanjang berwarna merah jambu, tapi selain itu tampaknya baik-baik saja. Kakiku juga...sudah ditangani dengan baik.

Tampangku agak acak-acakan. Kuketahui itu di cermin bening yang bersandar diatas meja yang tampaknya terbuat dari kristal hijau dengan banyak laci, di seberang ranjang. Aku bangun, menahan sisa-sisa rasa sakit, kemudian berjalan terhuyung ke luar. Aku tidak punya waktu untuk mengagumi kamar ini –meskipun almari emas bertengger tepat di sebelahku, meskipun kusadari pintunya terbuat dari tembaga dan perunggu yang berkilauan, dan ukiran perak menjadi kusennya. Aku berjalan ke luar, dan aku menabok pipiku sendiri untuk memastikan aku sudah bangun dari mimpi.

Kamar ini hanya satu diantara...delapan. Delapan ruangan serupa, empat di kedua sisi. Aku mendongak, dan mendapati cekungan raksasa dengan lampu delapan warna menggantung kokoh, menjuntai ke bawah. Ruangan ini puncaknya berupa kubah raksasa seperti sebuah masjid. Air mancur bertingkat yang sekali lagi dihiasi ukiran dan pola rumit, berkecipak di tengah ruangan dengan air sejernih kaca. Aku memeriksa plang di bagian atas pintu ruangan yang baru saja kumasuki.

Tampak lambang berbentuk segilima berwarna perak, dengan sayap seperti sayap merpati putih, tanduk rusa bercabang berwarna emas, dan tujuh bulatan di sekelilingnya, berwarna mejikuhibiniu seperti pelangi. Curiga, aku melirik ruangan di seberang. Plangnya berbentuk segilima terbalik berwarna hitam batu bara, dengan sayap hitam robek-robek. Sebuah sabit melintang di belakangnya, dan api keunguan berkobar sebagai latar belakang. Aku mendekat ke air mancur dan mengamati tiap plang diatas pintu.

Hampir semua plang berhias sayap, dan bercorak warna-warni kecuali tiga plang berwarna gelap dan kusam. Delapan plang, lima cerah dan tiga gelap. Lampu gantung delapan warna. Air mancur delapan tingkat, delapan semburan. Kurasa aku tahu tempat ini, walau baru sekali mengunjunginya dan tampak sudah dibangun ribuan tahun silam.

"Kuil Etatheon," sebuah suara yang akrab di telingaku berbicara. Aku menoleh.

Tampak seorang perempuan berusia...empat belas ? Lima belas ? Aku tidak begitu mengerti, wajahnya seakan tidak lekang dimakan usia. Berapapun usianya, kupikir perempuan dengan rambut putih sepaha yang dibiarkan tergerai itu –dengan jubah sutera hijau pudar keperakan yang motifnya agak-agak mirip dengan jubahku di mimpiku barusan (tapi tanpa kerah) beserta manik-manik hitam legam di matanya, adalah perempuan yang sangat cantik sampai kusadari dua benda mencuat keluar dari kepalanya, jauh melebihi tinggi rambutnya.

Sepasang tanduk rusa berwarna emas.

Sebilah pedang melengkung bergagang merah tersampir di pinggang kanannya. Dan sesuatu muncul di belakang punggungnya –sepasang sayap keperakan yang terdiri dari ratusan, mungkin ribuan bulu yang tampak seperti sayap angsa besar. Sayap itu mengembang sedikit, melipat di punggung.

"Malaikat maut !" Seruku histeris. "Aku...aku sudah mati ?!" Lanjutku dengan suara gemetar. "D-di...disini surga apa neraka ?! Jangan seret aku ke neraka, tolong ! Aku...aku berusaha berbuat baik kepada semua orang sepanjang hidupku...d-dan aku-"

"Tutup mulutmu, Uzumaki," penggal perempuan itu tegas tapi datar. Aku memegang lengan kananku. Merintih kesakitan.

"Rasa sakit itu bukti bahwa kau masih hidup," jelasnya pendek. "Kan sudah kubilang, kau di Kuil Etatheon."

"Eh ?" Aku cengo. Perempuan ini memutar bola mata malas.

"Kapan sih kau dewasa ?" Katanya padaku.

"K-kau siapa ?"

Aku tidak ahli membaca emosi seseorang, tapi aku bisa merasakan malaikat ini –atau entah dia siapa- berusaha meredam marah karena tidak sabar.

"Namaku Ardhalea," katanya setelah terdiam beberapa detik.

"Ardhalea," ulangku. Aku berusaha menggali memori, mengingat apakah aku pernah mendengar nama itu dalam hidupku. Kurasa saat aku pulang ke Paradox nanti, aku akan memintanya mengantarku ke langit dan segera meminjam buku absensi malaikat dan mengatakan pada mereka: 'Oi, ada satu malaikat bernama Ardhalea yang kesasar di Bumi. Dia terlantar jadi tukang bersih-bersih kuil yang menakut-nakuti para Dracovetth. Seseorang, tolong jemput dia kembali ke kahayangan !'

"Jelas kau tidak kenal," lanjutnya. "Berdasarkan pengamatanku selama ini, otakmu sepintar seekor Basilisk yang paling bodoh."

Aku sangsi dia malaikat. Malaikat takkan bicara sekasar itu ! Aku mencibir, berusaha tak acuh. Tapi jelas tak bisa.

"Antar aku kembali ke perang !" Seruku. "Siapapun, tolonglah. Mereka membutuhkanku ! Unktehi baru saja dibunuh tapi itu pasti bukan masalah besarnya ! Madara akan membangkitkan Juubi, Ardhalea !" Seruku. "Aku harus..."

"Tetaplah tinggal disini sampai perang selesai," tegasnya, memotong ucapanku. "Sampai gerhana matahari selesai, setidaknya."

"Aku tidak bisa !" Seruku. "Sebentar, kau ini sebenarnya siapa ?"

Ardhalea menuding plang simbol diatas pintu kamar. Darahku berdesir. Aku mengucek-ucek mata. Ia sepertinya bersiap memasang tampang serius, mengetahui seakan sebentar lagi aku bakal terkejut.

"Emm..." Aku mengernyit bingung.

"Siapa kau ?"

Malaikat perempuan ini menepuk dahi, menyerah. "Aku Paradox," katanya akhirnya. "Puas ?"

Aku mengangkat satu alis, bingung. "Jangan memutar-mutar !" Seruku sambil menjambak rambut. "Aku bingung ! Kau ini malaikat, manusia, naga, hantu, atau apa !"

"Semuanya," jawabnya. "Kecuali yang terakhir."

Aku merasa otakku mengalami korsleting. Ardhalea mengangguk. "Ardhalea itu...nama asliku."

"Hah ?"

"Paradox hanya...kau tahu. Semacam sebutan. Paradox dan Ortodox. Paradoks dan Ortodoks. Itu cuma semacam nama samaran. Nama asliku adalah Ardhalea, dan ini...salah satu dari dua wujud sejatiku."

"Satu dari dua ?" Ulangku. Dia mengangguk.

"Naga," katanya. "Apa sayapku saat aku dalam wujud asliku ?" Tanyanya padaku.

"Sayap kulit," jawabku. "Yang bercorak indah."

"Nah, itu bukan sayap asliku," timpalnya. "Sayap asliku berbentuk seperti ini," dia mengembangkan sepasang sayap angsa di punggungnya. "Paradox dalam wujud sejatinya yang pertama adalah naga seperti itu, hanya saja sayapnya yang sebenarnya berwarna putih dan berbulu. Dan wujud sejati keduaku adalah...wujud ini."

"Kenapa kau tidak memperlihatkan wujud sejatimu sejak dulu ?" Tanyaku, sementara mengabaikan semua urusan di luar sana.

"Karena..."

"...terlalu berbahaya," desisnya. Aku mengernyit. "Apa yang kau rasakan begitu melihat Ortodox, Naruto ?"

Aku mencoba mengingat-ingat. "Sendi-sendiku lemas," kataku. "Sulit bergerak, berlari atau menyerang. Gemetaran semua dan...waktu serasa melambat. Seolah nyawaku sudah tergenggam padanya," jelasku.

Dia mengangguk sekali. "Tepat. Itu karena Ortodox tidak menutup-nutupi wujud sejatinya. Hanya aku dan Ortodox-lah Etatheon yang punya wujud sejati. Dia juga bisa berubah menjadi manusia, laki-laki. Kau masih beruntung. Beberapa yang tidak kuasa melihat wujud sejati Sang Ortodox akan langsung hancur menjadi debu."

Aku merinding. "Itukah yang juga bisa terjadi apabila ada yang tidak kuat melihat wujud sejatimu ?" Dan dia mengangguk, kusadari aku benar.

"Tapi aku merasa...berbeda," akuku. "Ini wujud sejatimu, kan ? Aku tidak merasa gemetar atau apa."

"Apa yang kau rasakan sekarang ?" Tanyanya lembut.

"Hangat," jawabku. "Entah kenapa ?"

"Semua kejadian selalu ada penjelasan," ucapnya, dan kini seulas senyuman tersungging di bibirnya yang segar. "Kau adalah..."

"...pengendara sejatiku."

.

.

.

Aku terdiam. Rasanya wajahku memerah sekarang. Para...eh, maksudku Ardhalea sekarang tertunduk. Berbisik lirih.

"Aku tidak bisa membiarkanmu mati di luar sana."

.

.

Glek. Aku berusaha menggerakan seluruh kemampuan untuk menggerakkan bibir. "Tapi kau tahu itu tidak bisa," desisku. "Teman-temanku membutuhkanku. Membutuhkan kita. Kita semua akan...menghentikan Madara dan Hanzo, kan ? Mencegah kebangkitan Juubi kedua dan memenangkan peperangan ini," ucapku. "Itu rencana kita dari awal."

"Biar aku mewakilimu," katanya, menatap lurus ke mataku. "Kau...tetaplah...disini. Aku akan pergi, mengalahkan Ortodox dan Styx sebelum mereka membangkitkan Droconos. Hermes sudah memberitahuku bahwa buku itu sudah dicuri...dan aku harus meminta maaf pada kakakku juga soal perkataanku enam belas tahun lalu," ujarnya.

"Kau bercanda kan ?" Sambungku, ragu-ragu.

Dia menggeleng keras-keras. "Aku tidak mau kehilanganmu."

Hah ? Dia pasti bercanda ! "Apa maksudmu ! Kau pikir aku pasti mati dalam pertempuran ini ?"

"Kau tidak mengerti !" Serunya. Menghentakkan sayapnya. "Berabad-abad aku mencari Dracovetth-ku ! Dan akhirnya aku menemukannya, setelah selama ini berjalan ! Apa yang akan kukatakan pada dunia, kalau kau mati ?! Aku tidak bisa menghidupkan orang mati ! Aku ini abadi ! Terluka separah apapun, aku tidak akan mati !"

"Lepaskan beban dari pundakmu dan taruhlah di pundakku. Biar aku yang menanggung apa yang mesti kau tanggung. Biar aku yang mengeluarkan darah yang mesti kau kucurkan. Biar aku yang merasakan sakit yang seharusnya kau rasakan...". Suaranya menghilang di ujung kalimat. Aku tercenung. Sepeduli itukah ?

"Aku harus menyelamatkan Sara," tegasku. "Anrokuzan mengkhianatinya dan menculiknya. Kizashi berusaha mencegahnya tapi dia dikalahkan..."

"Biarkan semuanya yang tidak penting," potongnya. "Aku akan akhiri perang ini, dan menemuimu disini."

"UNTUK APA ?" Aku mulai geram. "Kau egois sekali !" Seruku. "Kau tidak pernah memedulikan orang lain ! Kau selalu membiarkan mereka menanggung beban, baru kali ini kau benar-benar tampak peduli padaku ! Bahkan itupun melebihi batasan normal seseorang yang menyayangi !" Semburku. "Sara dalam bahaya ! Aku tidak bisa diam saja ! Aku tidak bisa bernyaman-nyaman disini sementara teman-temanku berjuang rela mengorbankan nyawa mereka untuk dunia ! Aku bukan tipe orang seperti itu !"

.

"Aku tidak butuh perhatianmu !"

.

Aku menyentaknya. Hening beberapa detik, kemudian aku membuang muka dan berlari keluar. Tak kusangka-sangka, Hermes ada di luar sana.

"Mengagumi arsitektur yang sempat terlupakan beberapa ratus tahun," katanya. Entah pada siapa.

"Aku tidak tanya," ketusku. Ia mengendikkan bahu.

"Kan sudah kubilang, aku sering menjawab sebelum seseorang mengajukan pertanyaannya," katanya. "Lekas naik. Baguslah kalau sudah sembuh. Perang masih seru, kuharap aku tidak ketinggalan bagian yang menyenangkan lagi."

Aku tidak mengerti, ia tampaknya tidak peduli pada Paradox. Ah, jangan pikirkan itu lagi. Naga egois itu akan belajar bagaimana caranya menghargai perasaan manusia. Aku terbang ke langit, dan langsung melesat melebihi kecepatan suara. Meninggalkan Kuil Etatheon berkamar delapan dan semua poin serba delapan yang kuketahui.

.

.

.


Paradox's POV

.

.

.

Lantai tempatku berdiri basah. Sedikit. Aku mengusap pipiku.

Air mata.

Sejak kapan ? Rasanya sudah ratusan tahun aku tidak pernah menangis. Aku tidak tahu. Aku terlampau bahagia begitu menyadari Naruto adalah...

...tapi belakangan kurasa dia benar. Aku tidak bisa menyalahkannya.

Hening.

Hanya suara air mancur yang ada.

Artemis, panggilku dalam hati. Sekarang aku mengerti, Artemis.

Rasanya sakit. Terkutuklah kau, cinta. Kau menyengsarakan banyak orang. Membuat mereka mabuk dan buta akan kebenaran.

Aku mendongak. Kurang dari sehari sebelum gerhana terjadi. Aku harus membantu Naruto. Di sisi yang lain. Manusia melawan manusia, naga melawan naga. Aku berlari keluar secepat yang kubisa, dan aku mengepakkan sayap. Dalam dua detik, aku berubah menjadi naga dengan wujud sejatiku –sayap angsa-setengah-merpati berwarna putih keperakan di punggung naga berwarna cermin. Aku terbang secepat yang kubisa, menembus batas-batas makhluk hidup. Aku terbang hampir secepat Hermes, ke satu tempat yang paling kuyakini kakakku disana: Altar Segel Hi no Kuni.

.

.

.

Dalam perjalanan, menggunakan telepati rahasia pengelihatan jarak jauhku, aku melihat mereka, Ortodox dan Styx, bersama dua ekor Wyvern dan seorang pria berjubah hitam –yang kukenal sama enam belas tahun silam, berjalan mendekati altar berbentuk sederhana. Lingkaran batu berwarna gading, disana terukir simbol Droconos: Lengan cakar runcing berbentuk sabit dan di tengah-tengahnya mekar sebuah tanduk berulir. Api jahat yang berkobar jadi latar belakangnya.

"Sudah waktunya," sosok berjubah itu berkata.

"Cepatlah," tukas Ortodox tak sabar. Pria itu melepas topeng pusaran air oranyenya, dan balik memakai topeng Shinigami yang mungkin sudah dicurinya dari Kuil Topeng Uzumaki. Sudah kuduga, mereka pasti membaca buku itu.

Dalam sekejap, Sang Shikifujin keluar. Makhluk setengah transparan berwarna keunguan, wajah mengerikan dengan gigi-gigi runcing, sepasang tanduk berwarna merah menyala, rambut abu-abu acak-acakan, kuku setajam silet, tasbih mantera, dan pedang di mulutnya. Ia memegang pedang itu dan merobek perutnya sendiri. Pengorbanan mutlak diperlukan.

Pria itu kini kesakitan di bagian yang sama. Arwah seekor naga melayang-layang di udara. Tubuhnya...masih tersegel di altar.

Aku harus bergegas.

Ortodox meletakkan apel emas yang didapatnya dari Sakura ke altar. Mengeluarkan Ryuudama hitamnya dan memadatkannya menjadi seukuran bola voli, meletakkannya di sisi altar yang lain. Roh Droconos yang menggentayang di udara perlahan masuk ke altar, menyambar apel emas dan Ryuudama Ortodox.

Ortodox membentangkan kedua lengannya lebar-lebar. "Bangkitlah !"

"Droconos !"

.

.

.

BLLAAARRRRRR ! ! !

Awan membentuk pusaran, langit berubah kelam. Cahaya dari langit menyinari altar, meretakkannya hingga akhirnya hancur berkeping-keping. Api ungu berkobar, dan dari dalam, tampak sosok teror baru kembali ke dunia, bangun dari tidur panjangnya, bersiap menambah semakin banyak kerusakan. Droconos melangkah keluar dengan tertatih-tatih. Energi kehidupan yang besar dari apel emas masih belum dapat dikendalikan sepenuhnya. Setidaknya untuk beberapa menit kedepan, dia masih lemah.

"Sebaiknya aku pergi," kata si pria bertopeng, lalu disetujui anggukan dari empat naga di sekelilingnya, dan menghilang ke dimensi lain.

"Ortodox," sapanya. "Sudah lama sekali !" Sapaan berubah menjadi gerutuan. "Kenapa baru sekarang."

"Dasar tak tahu terimakasih," balas Ortodox mencibir. "Kau mau kukembalikan ke ruangan sempit sialan itu ?"

"Hmph," ketus Droconos. "Kaku sekali rasanya, enam belas tahun terpenjara."

"Dunia sudah banyak berubah, Droconos," balas Styx. Mereka berlima memunggungi altar. "Perang Dunia Naga Keempat sedang terjadi. Mungkin ini akan jadi perang yang jauh lebih seru daripada tiga perang sebelumnya."

Droconos memicingkan sebelah mata. "Kita berpihak ?" Selidiknya. "Atau tidak ?"

"Sementara," ucap Ortodox. "Sementara, Uchiha Madara ada di pihak kita."

"Cuih ! Uchiha lagi !" Desis Droconos. "Uchiha dan Uchiha. Haaahhh...apa klan Senju tidak berusaha mengambilalih ? Kudengar mereka malah tercerai berai jadi beberapa klan minor," katanya. "Sudahlah, yang terpenting, aku harus beraksi sekarang. Aku sudah gatal ingin menghabisi jiwa-jiwa menyedihkan lagi."

"Anda pasti mendapat kesempatan itu, Tuan Droconos !" Timpal salah satu Wyvern sambil mendesis.

.

Mereka berhenti berjalan sesaat. Ketiga Etatheon saling lirik, lalu mengangguk kecil.

"Menunduk !" Seru Ortodox.

"Ha-"

SPLAT !

.

BRUK

BRUK

Dua Wyvern jatuh dengan leher terpotong dari tubuh, kemudian meleleh menjadi kulit. Ketiga naga dewa gelap itu berpaling ke belakang, menatapku dengan sorot mata mereka yang terang tapi tanpa pupil. Corak mata tunggal jahat yang membosankan.

"Ah, Paradox," sapa Droconos. "Kau tampak cantik seperti biasa," komentarnya.

"Sayang sekali," ujar Ortodox, "kau sedikit terlambat, Adikku," katanya dengan sikap sinisnya yang biasa.

"Jadi dimana Naruto ?" Styx menyela, menengok kiri-kanan. "Aku tidak sabar melihat dan melumatnya seperti biasa !"

"Dia sedang menghajar Madara," geramku, walau sedikit tidak yakin juga. Ortodox memicingkan mata sedikit, berusaha mendeteksi unsur keraguan dengan otaknya yang mungil. Mungkin.

Dia mendengus. "Aku tidak begitu menyangka ini akan terjadi secepat ini," tanggapnya santai.

"Droconos," kataku. "Kembalilah ke peristirahatanmu sekarang juga."

"Ha-ha-ha," tawanya patah-patah. "Kau menyuruhku, Nona ? Sayang sekali, mungkin akulah yang akan berkata begitu padamu nanti !"

"Tiga lawan satu," dukung Styx. "Kau jelas kalah jumlah."

Ortodox memalangi mereka berdua. Ia menelaahku serius. "Sayap itu," cicitnya. "Kau serius."

Ia membentangkan sayapnya, apinya makin berkobar dan liar. Kakakku menjilat bibir, membentur-benturkan cakar. "Kurasa aku harus membereskanmu dulu sebelum membunuh Naruto," desisnya kejam. "Jangan buat kami menunggu."

"Tenang saja," balasku, berusaha setenang mungkin. "Kalian akan segera kupecat dari Etatheon begitu kuremukkan kalian."

.

.

.

.

Bersambung...


Author's Note (2):

Chapter 17 akhirnya selesai !

Chapter yang ini cukup panjang juga ya ? Disini kita mengetahui kelanjutan pertarungan sengit Hanzo dan Nagato di Amegakure. Ternyata yang dipanggil Hanzo itu sebenarnya Hydra berkepala sembilan, bukan Gedomazou ! Naruto dan Etatheon juga sudah bertemu wujud asli Antaboga: Demetra. Nah, nah, nah ! Apakah ada kaitan khusus antara Kurama dan Demetra ? Sakura akhirnya kembali ke tim dan membantu menangani ular raksasa, Unktehi. Kita mengetahui poin penting disini, yakni nama asli Paradox: Ardhalea, dan wujud sejatinya yang bertanduk dan bersayap mirip malaikat.

Pertarungan akan makin seru ! Apakah Sang Paradox akan bertahan dan menang melawan Ortodox, Droconos, dan Styx ? Apakah rencana terselubung Madara sudah terungkap semua ? Bagaimanakah akhir nasib Nagato ? Nantikan kelanjutannya di chapter delapan belas !

Oya, berhubung ini sudah mulai memasuki tahun ajaran baru 2014/2015, saya tidak bisa tentukan kapan Paradox akan update lagi. Kalau bisa sih, secepatnya. Kalau tidak mau ketinggalan, klik aja tombol Fave/Follow, biar nanti kalau sewaktu-waktu update, readers bisa tenang-tenang aja (*modus*).

Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !


Coming Soon: Paradox Chapter Eighten :

"The Unfinished Promise"

See you again in chapter 18 !

-Itami Shinjiru-


-Dragons List in Chapter Seventen:

Tailtorn (Naga OC)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 230 meter, berat 550 ton

Kecepatan terbang : 158 km/jam

Spesial : Ekor bercabang, perisai tulang yang sangat kuat

Tipe serangan : Menyemburkan tornado api yang bergulung dengan kecepatan tinggi, atau serangan langsung dengan ekor

Kategori : Kaum Kolosal

Elemen spesial : -

Level bahaya : Gila

Pemilik : Salah satu, patuh pada Haruno Sakura

Unktehi (Diambil dari ular raksasa mitologi Suku Indian Amerika Utara yang konon menciptakan Sungai Missisippi)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 250 meter, berat 100 ton

Kecepatan terbang : Tidak dapat terbang, namun dapat melaju di dalam air secepat 55 km/jam

Spesial : Ukuran raksasa, kanon-kanon angin dari mulut, dan fisik yang kuat

Tipe serangan : Serangan langsung atau menyemburkan kanon angin yang merusak segala benda dari mulutnya

Kategori : Monstrous

Elemen spesial : -

Level bahaya : Gila

Pemilik : Tidak ada

Crysmson (Naga OC)

Strength : Sangat Tinggi

Ukuran : Panjang 70 meter, berat 30 ton

Kecepatan terbang : 167 km/jam

Spesial : Ukuran besar, namun tetap lincah. Uap vulkanis, dan perisai yang kokoh

Tipe serangan : Menyemburkan tanur cair dari mulut, jangkauan serang jarak menengah

Kategori : Mighty

Elemen spesial : Vulkanis

Level bahaya : Jauhi !

Pemilik : Tidak ada

Pinthowra (Naga OC)

Strength : Tinggi

Ukuran : Panjang 8 meter, berat 3 ton

Kecepatan terbang : 90 km/jam

Spesial : Penuh pori-pori racun di sekujur tubuhnya, tidak dapat melihat dengan baik, tapi penciumannya sangat bagus

Tipe serangan : Menyemburkan racun berbentuk gas maupun cair, dari mulut maupun sekujur tubuh

Kategori : Kriptid

Elemen spesial : Racun

Level bahaya : Jauhi !

Pemilik : Hanzo no Sashuoo