Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.
Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara
Main Pair : NaruPara, KuraDeme
Slight Pair : MinaKushi, ShikaTema, KakaPaku, & NagaKonan
Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance, Action
Author's Note :
Jumpa lagi di chapter 18, readers !
Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Terimakasih, matur nuwun, arigato gozaimazu, thank you very much, syukran, gracias (*bungkuk hormat*).
Pertarungan yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah dunia naga akan segera dimulai: Paradox melawan tiga pengkhianat Etatheon. Mampukah dia mengalahkan ketiganya sekaligus dan membantu Naruto menghadapi Madara ? Bagaimana kelanjutan pertarungan mati-matian Nagato dan Hanzo –yang telah mulai memasuki babak akhir ?
Ikuti chapter delapan belas ini yang dimulai dengan sudut pandang Paradox !
Enjoy read chap 18 !
PARADOX
パラドックス
Chapter Delapanbelas :
The Unfinished Promise
Amegakure, Swamp of Death
Hujan menderu deras. Menimbulkan suara seperti marching band dadakan kelas amatiran ketika butiran-butiran air itu terjun bebas dari awan kelam yang senantiasa menggantung diatas cakrawala Amegakure dan membentur pipa-pipa besi dan menara-menara yang menjulang dari lantai beton yang membatasi mereka dari laut ganas nan dalam di bawahnya.
Darah menetes dari ujung pedang berwarna keperakan. Uzumaki itu terengah-engah, napasnya pendek-pendek. Seluruh tubuhnya kaku, susah payah berusaha mengenali pedang yang menembusnya dari belakang, di dada kanannya. Untunglah bukan dada sebelah kiri, tempat dimana jantung bersarang.
"Bodoh," keluh suara berat khas pria tepat di belakangnya. "Seharusnya kau tidak meremehkan lawanmu. Memang benar, mata itu membawa kesombongan bagi yang memilikinya."
Nagato berusaha tersenyum kecil. Biar darah menghiasi bibirnya. "Kau...pikir...aku..."
"...akan mati semudah ini ?"
Sedetik kemudian, Hanzo menambahkan petir ke pedangnya, menyetrum korbannya seperti lalat masuk kabel, lantas menariknya dari Nagato, membiarkan Uzumaki itu jatuh terduduk ke lantai rawa yang basah dan berlumpur. Darah terus mengalir dari lukanya yang dalam.
"Aku mulai bosan," desah Hanzo, "dan ada urusan lain yang mesti kuselesaikan. Setelah membunuhmu, aku akan datang ke Madara dan melawannya dengan mudah..."
"Kau tidak bisa membunuhku," cicit Nagato. Ia berusaha bangkit dengan susah payah, tapi Hanzo menginjak punggungnya hingga ia tercebur dalam genangan air kotor rawa lagi. Nagato menyingsingkan lengan, memunculkan empat peluru berujung tajam. Menyadari bahaya, pemimpin Amegakure itu lebih memilih meninggalkan lawannya, hinggap di sebatang bakau yang masih berdiri. Empat peluru mendesing, berusaha mengejar target, tapi Hanzo melempar semuanya dengan kunai peledak, menimbulkan empat ledakan yang mengguncang rawa.
"地獄道 !"
Jigokudo
(Jalur Neraka)
Nagato berseru, dan dari tanah basah rawa, berkobar api berwarna ungu gelap. Dari api, muncul sesosok kepala raksasa dengan mata Rinnegan, dahi meruncing berbentuk seperti topi dengan tiga segitiga, yang di tengahnya terdapat tulisan 'Raja' dalam huruf kanji. Dua sungut seperti tanaman padi tumbuh di kedua sisi kepalanya, disertai sebuah tongkat besi raksasa yang tampak menembus patung itu dari puncak kepala. Kerah yang menutupi mulutnya berwarna merah, dan membuka seperti ritsleting, menampakkan mulut dengan gigi-gigi berbentuk segilima yang simetris.
Lidahnya terjulur keluar dan membelit Nagato, menariknya ke dalam mulut sang patung dan...mengunyahnya.
"Gedojutsu ini," desis Hanzo. "Dia memulihkan semua luka dari penggunanya. Aku pernah mendengarnya."
Ia turun, bersiap dengan pedangnya di ambang mulut patung yang sedang mengunyah. Beberapa detik kemudian, mulut Patung Jigoku berhenti bergerak, dan membuka. Hanzo bersiap menghunus pedang, namun Nagato lebih dulu menariknya dengan Ba'nsho Tennin dari dalam mulut patung, membuat pria itu jatuh diatas lidah Patung Jigoku sementara Nagato melompat keluar.
Sebelum Hanzo sempat bereaksi, mulut patung menutup, dan membuat gerakan mengunyah yang menyakitkan. Ia meludahkan Hanzo keluar dengan jubah yang robek-robek, rompi yang compang-camping, rambut yang berantakan, dan goresan-goresan di tubuhnya. Sesaat kemudian, Patung Jigoku itu menghilang ditelan asap putih.
"Hanya bekerja pada pengguna Rinnegan," cetus Nagato. "Jika manusia lain memasukinya, mereka hanya akan diblender di dalam."
Mereka berdua hening sesaat.
"Kenapa ?"
"Kenapa kau begitu mempercayai...Yahiko ?" Tuntut Hanzo sambil susah payah berusaha berdiri.
"Yahiko adalah karibku," jawab Nagato datar. "Sesama sahabat harus saling mempercayai, meski tampaknya tidak mungkin."
"Dan jika salah satu dari mereka adalah pengkhianat ?" Balas Hanzo. "Kau harus waspada, Nagato. Dunia ini kejam. Ada banyak dan semakin banyak orang-orang yang bersikap hipokrit. Munafik. Masa bodoh, mementingkan kekuasaan dan diri sendiri..."
"...kau sedang membicarakan dirimu sendiri, Hanzo," potong Nagato tegas. "Aku...berusaha mementingkan teman-temanku. Sejak aku diselamatkan oleh Konan dan Yahiko bertahun-tahun lalu, aku menyadari sehebat apapun seseorang, dia tidak akan bisa berdiri sendiri, dan itu adalah hukum alam. Mempercayai teman...berusaha bekerja kompak dalam tim...sampai kami bertemu denganmu..."
"Tim mudah dilemahkan," kata Hanzo sinis. "Itu tidak efektif, kecuali ada satu pemimpin dominan yang mengatur banyak kaki tangan yang patuh, sepertiku misalnya," tambahnya pongah. "Terserah apa yang kau katakan, sama saja. Hanya ada satu hal yang pasti dalam sejarah..."
"...bahwa manusia adalah makhluk yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa saling mengerti..."
Nagato terdiam.
"Kau pikir membantu sesama, merasakan sakit dan penderitaan yang sama, bisa membuat mereka mengerti ? TIDAK SEMUDAH ITU ! Kau baru memandang satu pohon pinus diantara ribuan pohon beringin ! Satu-satunya yang cukup kuat untuk membuat manusia saling mengerti dan bersatu adalah rasa sakit itu sendiri ! Dengan mengatakan bahwa kau harus merasakan sakit untuk bisa memahami, secara tidak langsung kau menyatakan diri untuk setuju dengan rencanaku, bodoh !"
"Yah," Nagato menanggapi cercaan Hanzo dengan santai. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, tapi..."
.
.
"...aku akan berusaha...mempercayai apa yang Yahiko percayai..."
.
Hanzo terdiam. "Mencoba mempercayai apa yang Yahiko percayai, ya ?"
Ia tertawa sinis. "Apa yang dikatakan temanmu itu hanyalah ideologi kuno usang yang ketinggalan zaman," ejeknya. "Itu tidak akan pernah terjadi !"
Nagato menghela napas, berusaha bersabar. Toh pria di depannya ini masih berusaha susah payah bangun dan tidak bisa apa-apa lagi. Kunyahan Patung Jigoku selama beberapa detik sudah cukup untuk mentandaskan cadangan chakra ANBU sekalipun. Ia melakukan handseal, menghantamkan tangannya ke tanah.
DRRRAAAAKKKK ! ! !
Tanah rawa berguncang, membelah, dan menampakkan sosok patung berbentuk manusia raksasa dengan mata tertutup. Sembilan bola mata –empat di sisi kanan, empat di sisi kiri, dan satu di tengah, menonjol dari tutup matanya, dan semuanya memejam. Dari tempat yang seharusnya ada telinga, hanya terdapat tali dari batu, yang terhubung ke semacam perkamen batu besar yang menyumpal mulut sang patung. Beberapa tonjolan tumpul memenuhi punggung dan bahunya.
"Gedomazou," ucap Hanzo lirih. "Sudah kuduga kuat kau selama ini menyembunyikannya !"
TRANG !
Sebatang besi menjulur dari dada Gedomazou, menusuk punggung Nagato, dan menjulurkan cabang-cabangnya yang lain. Mulut patung raksasa itu membuka, melepaskan borgol mulutnya, dan menampakkan sosok setengah-transparan seekor naga berwarna keunguan, mendesis seolah dia benar-benar hidup, dan meluncur cepat menuju Hanzo, mengambil dan memisahkan rohnya dari tubuhnya dengan sekali sentuh.
"Jalur Manusia Patung Samsara," bisik Nagato. Tubuhnya kini mengurus, tapi ia tidak peduli. "Sekarang aku tahu dimana Konan berada."
.
.
.
.
Fire Nation's Sealing Hall
Dahila Grassland
.
.
Kosongkan pikiran.
Aku selalu ingat itu. Ajaran pertama Ibu Kaguya pada kami berempat ketika belajar bertarung.
Tenangkan dirimu. Jangan pikirkan apa yang akan terjadi sedetik ke depan. Amati lawanmu baik-baik. Jika kau cukup cermat, kau bisa mengetahui kelemahan dan kelebihannya dalam tujuh detik pertama tatapanmu. Itu akan sangat berpengaruh untuk menit-menit ke depan.
Kakakku tidak bodoh, dan dia pasti sedang melakukan hal yang sama. Tidak heran dengan Styx dan Droconos, tapi kelebihan jumlah membuat mereka rileks sedikit. Kau mungkin tak percaya, tapi semakin kau merasa kuat dan aman, semakin mudah kau diserang.
Kosong dan datar, itulah jiwa seorang petarung sejati. Jika kau ingin menang melawan sesuatu berkekuatan monster, kau harus rela membuang sisi manusia atau nagamu yang baik-baik.
Waktu terasa berjalan melambat seperti di agar-agar. Tetapi dedaunan yang terbang bagai gantole yang ditiup angin kencang menandakan semuanya baik-baik saja. Tanpa lirik kanan-kiri, aku sudah menilai pemandangan di tempat ini cukup indah dan menyamankan. Tapi tidak ada yang mengetahui akan serusak apa Padang Rumput Dahila ini begitu kami mulai.
DRAK !
Droconos mengambil ancang-ancang. Dia terlalu bernafsu –aku bisa melihatnya dari ratusan kilogram tanah dan rumput yang langsung terbang ke belakang begitu ia menjejakkan kaki belakangnya. Naga itu terhuyung sengaja ke depan, menyambarkan cakar berwarna titaniumnya ke arahku. Aku terbang ke belakang, menghindar, dan ia menyabet altar, meninggalkan goresan sedalam dua puluh sentimeter sepanjang tinggi dua manusia dewasa di lantai gading.
Styx di belakangku.
Ia menganga, berusaha menggigit sayapku. Meleset, dan aku berbalik, menyeruduknya dengan tanduk alisku, dan menyentakkan kepalaku ke bawah, membuat luka gores yang dalam di lehernya, kemudian memelintir kepalaku sendiri, menguncinya di tandukku, dan langsung kulempar sekerasnya ke target yang belum sempat menyerang –Ortodox. Mereka bertubrukan cukup keras, terguling-guling seperti truk yang merengsek membabat padang rumput.
BRUAK !
Tanah di belakangku meledak, dan Droconos keluar dari lubang dengan rahang terbuka, bersiap menembakkan Ryuudama. Kupukul pipi kirinya dengan ujung ekorku, memelesetkan Ryuudama-nya ke sebuah bukit, yang langsung membuat bukit itu tampak penyok berbentuk setengah bola yang dalam, sementara Droconos terguling ke belakang dan membentur sebuah pohon hingga tumbang.
Kusadari Styx melesat ke arahku dengan kecepatan tinggi, menghunuskan tanduk tunggalnya, tapi aku berhasil menghindar, menggigit ujung ekornya yang berduri dan menahannya sekuat tenaga dengan rahangku, dan membantingnya ke tanah dengan kepala jatuh lebih dulu. Ortodox muncul di sisi kananku, menghunus ketiga cakar belatinya. Kuayunkan Styx yang ekornya masih kugigit, berusaha membenturkannya ke Ortodox, tapi dia mengelak, walhasil Styx hanya membentur tanah untuk kedua kalinya. Kurasa itu tak cukup buruk.
"Bah !" Seru Ortodox. "Aku takkan termakan trik yang sama dua kali !"
Ia mengumpulkan cahaya hitam dengan cepat di mulutnya, menembakkan Ryuudama sebesar dua bola basket ke arahku.
Secepat kilat, kulepaskan gigitanku dari ekor Styx, beralih mencekik ujung lehernya dan mengarahkan tanduk tunggalnya tepat ke Ryuudama hitam Ortodox.
Ryuudama itu menancap di tanduk tunggal Styx tanpa meledak, sesuai perkiraanku, kemudian kutembakkan panah api ke perut Styx bersamaan dengan cekikanku yang melonggar. Styx meluncur seperti misil siap ledak ke arah Ortodox dan menabraknya, terlontar lebih jauh hingga tepat menabrak Droconos dan –BUM ! Ryuudama itu meledak hebat, menimbulkan kawah besar di padang rumput dengan tiga pengkhianat Etatheon di dalamnya.
"Hanya itu yang kalian bisa ?" Ejekku datar.
Kusadari itu kata-kata yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Ketiga Etatheon ini sebenarnya cukup kuat, sehingga tidak pernah menjumpai lawan yang berani dan sanggup mengatakan itu langsung di depan mereka.
Ketiga naga gelap itu membuka mulut, langsung menyemburkan tiga api berbeda ke arah yang sama –aku.
Api biru kehijauan dengan semburat pink dari Ortodox, api ungu muda dari Droconos, dan api kuning pucat dari Styx, berpadu menjadi api ungu kehijauan. Aku membalasnya dengan api raksasa berwarna putih keperakan.
Semburan angin ke segala arah terbentuk begitu dua semburan bertumbukan, berusaha saling mengalahkan. Mungkin kau bertanya-tanya sepanas apa api kami, para Etatheon. Kira-kira kedelapan naga dewa punya panas api yang rata-rata, sama. Pengecualian untukku dan Ortodox, kira-kira bisa seratus sampai lima ratus derajat Celcius lebih panas, jika kami sedang serius.
Warna api berbeda-beda untuk tiap naga, dengan Pyrus berwarna merah darah dan agak cair, Hermes berwarna emas dan ringan, Styx berwarna kuning pucat dan sangat fleksibel, Parthenon berwarna hijau daun dan mampu bertahan cukup lama, Droconos berwarna ungu muda dan tidak padam sampai korbannya menjadi abu, Beleriphon berwarna abu-abu metalik yang padat, Ortodox berwarna biru kehijauan dengan semburat pink, dan aku berwarna putih keperakan.
Panasnya ? Jangan tanya. Api kami para Etatheon, dapat membakar baja, beton, dan perunggu semudah api biasa membakar dedaunan kering. Jadi kau bisa bayangkan benturan api ini, bahkan dalam radius sepuluh meter, panasnya takkan bisa ditoleransi oleh Dracovetth manapun. Rerumputan terbakar habis hingga ke intisarinya. Tanah terburai gosong, hanya bebatuan yang sangat keras saja yang mampu bertahan tanpa meleleh. Udara mendidih didorong uap yang keluar dari batas benturan empat api.
Untuk tiga puluh detik, tidak ada tanda-tanda kami akan menyerah. Sampai kusadari semburan mereka melemah sedikit –dan Ortodox langsung terbang diatas dinding api, memuntahkan sabitnya dari mulutnya, dan menyerangku. Kutangkis mata sabit berwarna abu-abu mengkilat itu dengan ujung ekorku. Bunga api keluar ketika kedua senjata ini bertumbukan.
Mempertahankan ekor tetap tegang sambil terus mengimbangi semburan api bukan hal yang gampang. Akhirnya kukumpulkan ketujuh sinar dari berlian-berlianku dan menyatukannya dalam apiku –tujuh sinar pelangi mendorong api lawan dan terus membesar. Droconos dan Styx tahu mereka tak sanggup mempertahankan napas mereka, sehingga keduanya terbang ke dua sisi secepat mungkin, membiarkan apiku bergulung seperti roda raksasa, menghanguskan semua yang ada di jalurnya hingga menggundulkan sebuah bukit sampai tandas.
Aku menangkis Ortodox. Ia menyabetkan sabitnya dan aku merunduk, alhasil sabetan itu meleset cukup jauh ke belakang, membuat goresan sedalam sepuluh meter di kaki gunung beberapa kilometer di belakangku. Aku menghentakkan sayap dan menyeruduknya, membuat sabitnya terlepas dari tangannya, menggigit tanduk domba sebelah kirinya dan melemparnya jauh-jauh.
Droconos menubrukku dari belakang, membuatku terempas menggerus tanah. Kurasakan ia menggigit ekorku dan membantingku ke arah yang berlawanan, hampir sama seperti yang kulakukan pada Styx. Pada lemparan berikutnya, Styx menunggu, membenturkan kepalanya ke kepalaku hingga aku melenceng dari jalur tapi tetap menubruk tanah. Sebelum Droconos kembali mengangkatku, aku memelintir ekor, bangun dan menubruk Styx, dan berlari secepatnya ke Altar Segel. Begitu kunilai sudah cukup dekat, kukibaskan ekorku ke bangunan itu dan –BRAK ! Droconos menghancurkan tiang-tiangnya, meruntuhkan bangunan.
Ortodox menusuk tanah berumput dengan ketiga jari tangan kanannya, lantas mengangkatnya, menggulungnya seperti ombak. Kutembakkan Ryuudama putihku, langsung menghancurkan gulungan daratan itu. Sisi buruknya, tindakan Ortodox meninggalkan lubang sedalam satu setengah meter berbentuk persegi panjang di tanah, sisi cokelat tanpa rumput.
Styx menganga ke langit, mengumpulkan bulatan cahaya oranye. Tidak membesar, tapi kurasa aku tahu apa sebabnya. Kudengar suara berderap di belakang, dan tepat pada waktunya, aku menampar Droconos begitu keras hingga salah satu giginya tanggal dan terlempar ke sembarang arah. Ia jatuh terguling-guling di tanah, nyaris tak bisa memperlambatnya.
"Enam belas tahun mendekam di bui," ujarku. "Dan kau tidak belajar apa-apa dari masa lalumu ?"
"Tentu aku belajar," desis Droconos sembari mengusap bibirnya dengan cakar tangan kanan. "Aku belajar bahwa aku tidak akan mempercayai manusia !" Serunya sambil menyerang. Tanduk hidung kami berdenting begitu bertabrakan, seperti dua ekor badak yang berusaha memperebutkan teritori. Kutampar dia lagi, merenggut ekornya, dan membantingnya ke sebuah batu hingga hancur.
"Kau munafik," cetusku datar. "Di depan mereka...kau bersikap seolah kau siap ditugaskan kapan saja. Ternyata di belakang, kau merencanakan penghancuran."
"Bukan urusanmu," balas Droconos tak acuh sambil berusaha berdiri. "Kau tidak mengerti, Paradox. Kita berdelapan...kita semua ! Kita sangat kuat, tahukah kau ? Bukan hanya kita berempat, tapi semua Etatheon. Kita bisa manfaatkan itu untuk kejayaan bangsa naga ! Tindas umat manusia seperti mereka menindas kita ! Untuk melakukannya, kita harus bersandiwara terlebih dahulu, berpura-pura menjadi teman mereka dan BUM ! Mereka takkan punya kesempatan !"
Kutinju dia. Naga itu terlempar ke belakang dengan kepala jatuh lebih dulu.
"Aku tidak cukup bodoh untuk bergabung dengan kalian," kataku. "Aku akan mencabut gelar Etatheon dari kalian bertiga dan menemukan yang baru."
Droconos mendengus. "Kalau begitu rasakan ini."
Aku melirik Styx dengan ekor mata. Ia menembakkan...Ryuudama oranye beruntun. Tidak begitu besar, tapi jumlahnya banyak sekali.
SPLAT !
BUUUMMM !
SPLAT
BUUUMMM !
Naga itu menembak seperti senapan Heavy Gunner. Dalam hitungan detik, padang rumput segera dihiasi kawah-kawah berasap bekas dentuman Ryuudama Styx. Aku berkelit menghindar dan menghindar. Tidak perlu membalas, aku harus menyimpan sesuatu yang cukup kuat nanti saja.
Tapi mereka bertiga.
Tidak masalah satu naga kehabisan stamina, masih ada dua lagi. Jumlah memang menguntungkan disini. Satu bisa menyerang membabi-buta dan dua melindungi. Atau bolak-balik dari strategi sederhana itu. Aku baru menyadarinya.
Borbardir Ryuudama akhirnya berhenti. Styx terjatuh kelelahan. "Rasanya rahangku mau copot," gerutunya.
"Lupakan pikiran menang dariku," celetukku. "Kalian hanya akan menghabis-habiskan tenaga dan merusak pemandangan ini."
Ortodox memutar-mutar sabitnya. Ia tampak begitu tenang dengan dua naga lain di sisinya. Droconos menyerang dari belakang. Kutangkis dia dengan ujung ekorku, menggores lehernya dengan duri-duri ujung ekor, ketika kusadari Styx menyemburkan api dari atas. Aku menaungi diriku sendiri dengan sayap yang membentang, mengaburkan api dan mementalkan naga itu, dan segera beralih mengurusi sabit Ortodox.
Tidak masalah sekalipun aku hanya menyerang dengan cakar apa adanya. Aku menggores leher Ortodox, tapi ia menyabetku dengan sabit, menggores kerahku. Droconos menyembur ke bawah, berusaha membakar kaki-kakiku, tapi aku menghindar tepat waktu dengan terbang ke atas. Ortodox menabrakku dari depan, dan kami jatuh berguling sepanjang padang rumput sembari terus menyabet-nyabetkan cakar, berusaha saling menggores. Kutendang dia hingga merobohkan dua pohon sekaligus. Droconos menyerang dengan api yang menggelung seperti roll, dan aku membalas dengan api lain. Kami terbang dengan cepat menyusuri daratan ke arah yang berlawanan sebelum tumbukan api itu padam.
Kami saling menyerempet. Satu bulu lengan atasku gugur. Aku berbalik dan mengerem, Styx nyaris menggigit ekorku. Aku berbalik dan mengibasnya dengan kepalaku sendiri, menggigit ujung lehernya dari bawah, dan melontarkannya ke Droconos –yang berhasil menghindar dengan gampang. Ketiga naga itu mengumpulkan cahaya. Mereka bersiap menembakkan tiga Ryuudama.
Aku melakukan hal yang sama. Tapi tidak akan cukup waktu untuk memperbesar. Hanya sedikit lebih besar, dan aku berputar-putar di tempat, berusaha menghasilkan gaya sentrifugal dan sentripetal yang cukup untuk membuatnya melesat jauh lebih cepat.
Mereka menembak. Di tengah jalan, aku menembak, tapi Ryuudama-ku jauh lebih cepat. Bola putih itu menyerempet tiga bola lain dan meretakkan mereka bertiga –termasuk milikku sendiri. Cahaya merembes keluar, dan empat ledakan yang berdempetan segera terbentuk, menghamburkan angin kencang ke segala arah, melontarkan tanah dan batu, dan menggetarkan bumi. Kawah yang lebih dalam daripada kolam renang manapun segera tampak menghiasi tanah. Aku mendecih, dan melesat ke arah mereka.
Kami bertarung di sela-sela asap bekas Ryuudama. Saling melempar, menggores, menubruk, dan mencambuk. Droconos menembakkan lagi satu Ryuudama yang bahkan lebih besar dari dirinya sendiri, tapi sebelum dia menembak, aku punya kesempatan untuk menendang rahang bawahnya. Alhasil jurus itu meleset jauh hingga ditembakkan lurus ke atas. Beberapa detik kemudian, ledakan hebat tercipta, menyingkirkan awan-awan, menggemuruh mengerikan di udara dan mengirim gelombang kejut ke berbagai arah, seolah satu setengah megaton dinamit telah diledakkan ke langit.
Aku mengerti, jika tidak segera diselesaikan, pertarungan ini akan merusak padang rumput ini samasekali. Kutembakkan satu Ryuudama dan tepat menghajar perut Styx, mendorongnya ke belakang seperti mesin roket, menggerus tanah sepanjang perjalanannya dan akhirnya membentur tebing, meledakkan sepertiga dari bagian tebing itu sendiri.
Dua lagi. Walau aku yakin Styx takkan terbunuh semudah itu.
Sedikit saja lengah dan kau akan berakhir. Ortodox mencengkeram punggungku dan melemparku ke sisi kawah, menembus hingga ke permukaan tanah. Aku bangun dan mengepakkan sayap, berusaha menabrak Ortodox ketika tiba-tiba Droconos menyentak Ryuudama-nya ke sisi kananku, mendorongku hingga membentur gunung dan mengebornya hingga menembus sisi sebaliknya, dan meledak. Gunung itu sekarang berlubang, dan aku jatuh terguling sepanjang lerengnya, namun berhasil menemukan keseimbangan dan terbang.
Kurasa kami mulai bosan dengan pertarungan daratan. Langit yang lebih luas kini jadi seting berikutnya.
TRANG !
Cakar-cakarku terkait dengan milik Ortodox.
"Kau hebat seperti biasanya," ucapnya. "Aku penasaran apakah ini akan bertahan lebih lama lagi. Kalau kau mau...sampai tengah malampun akan kulayani," katanya sembari menyeringai, memamerkan gigi-gigi berantakannya sepanjang mulut. Kutampar dia dan hilang keseimbangan. Droconos menyerang dari belakang, namun aku tak sempat menghindar. Ia menggigit sayap kiri di pangkal ekorku, dan kusadari dia sudah menyatukan api dan serbuk Ryuudama-nya dengan gigi dan rahangnya. Ia menggigit, mengoyak, dan –TAS !
Sayap kiri di pangkal ekorku putus. Droconos menyentaknya, tapi sebelum ia berbuat lebih banyak, kutarik janggutnya dan kulempar dia sangat jauh hingga tercebur ke danau sekitar satu setengah kilometer dari tempat kami melayang.
Styx menggigit ekorku, dan aku mengibasnya, tapi dia tidak lepas. Ortodox merengsek maju, menyabetkan sayapnya. Aku menangkis dengan sayapku sendiri dan menyemburkan api, membakar sebagian rambut tengkuknya dan membuatnya jatuh berdebum ke tanah. Aku menyepak Styx, mematahkan salah satu dari sepuluh tanduk yang menghiasi kepalanya, dan kubakar dia.
Ortodox bangun, mencabut sebuah cemara raksasa di dekatnya dan terbang, menggunakan pohon itu sebagai pentungan. Aku menghilangkannya dengan semburan atomisku dan menendang kepala Ortodox, tapi selain itu dia baik-baik saja. Ia melempar enam cakarnya –melepas mereka dari jarinya dan terbang berputar di udara seperti bumerang. Aku lagi-lagi menghancurkan keenamnya dengan semburan atomis, dan balik melayangkan cakar-cakarku.
Ia menangkisnya dengan sabitnya. Cakarnya tumbuh kembali dan ia mengayunkan sabitnya ke leherku. Aku menangkisnya dengan tangan kosong, lalu berkelit, memelintir, dan berhasil menjatuhkan senjatanya. Bergerak ke ekor dan menggigitnya sekuat tenaga, tapi Ortodox membantingku ke tanah. Styx berlari mendekat dan mengangakan mulut, menyemburkan apinya.
Aku tidak sempat menghindar –walau semburan Styx tidak akan membunuhku. Kujejak rahang atas dan bawahnya dengan kedua kaki belakangku, lalu aku mengkangkang, membuka paksa rahangnya hingga seratus delapan puluh derajat. Membran pembatas kedua rahangnya di pangkal mulut itu sobek dan Styx berteriak.
Kutendang dia sampai tanduk tunggalnya menancap di tanah, dan segera menghindar dari serangan Ortodox. Serangan itu meleset, sabitnya menancap dalam sekali di tanah. Kesempatan, kucincang dia dengan cakar di kedua kaki depan, memukulnya hingga terlempar jatuh. Aku menoleh.
Tampak Droconos –membawa sebuah batu raksasa berselimut apinya sendiri. Dia pasti mengambilnya dari danau, dan sekarang ia menembakkannya jadi belasan kepingan meteor, yang semuanya diarahkan padaku. Kubinasakan mereka dengan mudah oleh sinar atomis, dan segera melesat maju, menubruk langsung ke Droconos, dan bergulat sengit di udara. Beberapa bulu kaki depan atasku rontok. Begitu juga dengan Droconos –ia kehilangan beberapa helai jenggot dan sayapnya agak sobek-sobek di tepinya.
Aku terbang ke atasnya, menubruknya dari atas seperti pesawat menabrak pesawat. Dalam perjalanan jatuh ke bawah, aku menebasnya, meninjunya, menendangnya, dan menggigitnya, dan ketika sudah berada cukup dekat dari permukaan tanah, kutembakkan satu Ryuudama berukuran sedang tepat ke punggungnya.
DUUUAAAARRR ! ! ! Droconos menghantam tanah dengan perut lebih dulu dan punggungnya memar digilas Ryuudama. Aku mendarat dengan santai diatasnya, walau kuakui napasku mulai sedikit terengah-engah.
"Terimakasih sudah mengadakan pesta yang asyik," desisku di sela-sela napasku.
Kupikir Droconos akan menggerutu atau mengumpati aku yang seenaknya berdiri di punggungnya selagi ia mencium tanah, tapi ia malah berujar lirih.
"Dimana pengendaramu ?"
.
.
.
Aku tertegun. "Kau tahu aturannya," jawabku setelah rasanya terdiam beberapa detik. Droconos mengangkat alis. "Manusia melawan manusia, naga melawan naga. Sementara aku menangani kalian disini, mungkin Naruto dan timnya sudah memojokkan Madara."
Aku merasa seperti naga dungu. Mana aku tahu apa yang sedang dilakukannya ? Mana aku tahu...
...apa dia sedang melawan Madara...atau sedang menyusul kemari. Tidak, yang kedua itu tampaknya agak mustahil.
"Naruto tidak bisa menang dari orang seperti Madara," celetuk Styx, yang bangun. "Dia penuh dengan kebencian. Dan kebencian itu adalah sumber kekuatannya. Hashirama hanya beruntung saja bisa mengalahkannya. Sekarang Madara sudah menguasai Mokuton dan tak lama lagi dia mungkin akan coba membangkitkan Rinnegan kembali..."
"Bilang saja kalian pesimis," balasku, walau aku agak ragu juga. "Kalian tidak tahu apa-apa tentang Naruto," aku melirik Ortodox yang mengusap bibirnya yang berdarah sedikit. "Kekuatannya adalah kebahagiaannya dan teman-temannya. Dia orang yang penuh dengan kebahagiaan," bisikku.
"Kebahagiaan," Ortodox membeo. Ia tertawa sinis. "Bukannya dia marah-marah padamu saat pertama kali bertemu ? Menuntut dan menuntut kenapa kau tidak hadir lebih awal dalam kehidupannya dan menjelaskan semuanya sendiri ?"
Darahku berdesir. "Darimana..."
"Mengira-ngira saja," potong Ortodox. "Sejak pertama melihatnya, aku sudah bisa mengenali sebagian sifatnya. Dia kehilangan orangtuanya sebelum sempat mengenal mereka. Dibesarkan dalam kesendirian walau pada akhirnya dia mengenal teman. Sebuah kata...yang jadi sesuatu yang bermakna bagi beberapa manusia. Dalam perjalanan, dia menemukan bakatnya, membuat orang-orang semakin menyanjungnya. Akan tetapi..."
"...dia menderita ketika bertemu denganmu."
.
.
Katakan kalau ini hanya gertakan. Ortodox tersenyum sinis dan melanjutkan dengan sikap tak acuh. "Hanya atas nama pengendara sejati, kau rela memisahkannya dari kawan-kawannya ?" Ujarnya. "Kau sendiri barusan bilang, kan ?"
"Manusia dengan manusia..."
"...naga dengan naga..."
Ia tertawa. "Jangan termakan ucapanmu sendiri. Berpikirlah sebelum bicara."
Hening untuk beberapa detik.
Untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun, aku mendengarkan apa yang keluar dari mulut kakakku sekaligus musuh terbesarku. Apa dia benar ?
Aku merasakan sesuatu membelit ekorku. Sebelum bisa berbuat banyak, aku terbanting ke belakang. Droconos diam-diam melingkarkan ekornya ke ekorku ketika Ortodox bicara, dan sekarang ia melilit ekorku dan membantingku. Naga itu bangun, menegangkan ekornya dan membantingku ke depan. Daguku membentur tanah. Aku meringis.
Ortodox mendekat, mencolek daguku. "Kau mungkin luar biasa dalam hal kemampuan luar," desisnya, "tapi kau rapuh dalam perasaan."
Droconos melonggarkan ekornya, dan Ortodox mencengkeram daguku, membantingku ke sebuah batu besar dan melemparku –dengan tembakan Ryuudama di perutku. Aku terempas cukup jauh hingga menembus sebuah tebing. Bebatuan berderak dan runtuh. Mereka bertiga mendekat.
Aku bangun, nyaris menyerang, tapi Ortodox lebih dulu menamparku. Droconos menangkap sayap kiriku, membuat sobekan hingga setengah panjangnya, mengangkat dan membenturkanku ke tanah. Aku mengibas sayap sebelum dia melepaskannya, melemparnya ke reruntuhan tebing, dan punya cukup waktu untuk menghajar Ortodox hingga salah satu taringnya tanggal, namun Styx menembakkan satu lagi Ryuudama ke dadaku.
Darah menetes keluar dari mulutku. Susah payah aku berusaha bangun, menatap tiga lawanku yang sudah berada diatas angin. Aku mengumpulkan cahaya, berusaha menembakkan Ryuudama beruntun, tapi Droconos menamparku hingga Ryuudama meledak ke arah yang salah –yang menumpulkan sebuah puncak gunung dalam ledakan hebat. Ortodox menamparku lagi, kali ini begitu keras hingga salah satu gigiku tanggal dan aku terhuyung berputar. Ia menangkap ekorku dan membantingku ke tanah, mengibaskannya lagi dan membenturkanku ke tebing yang lain.
Ia mendekat, menghunjamkan cakarnya ke dadaku, di luar batas Darah Delima. Aku merintih. Ia menyentuhnya dengan salah satu cakarnya.
"Dulu Hagaromo sempat mengizinkanku memilikinya," kenangnya. "Berjanji suatu hari ini akan jadi milikku !"
Aku meringis. Lebih sakit dari luka apapun yang pernah kualami –karena tidak pernah ada naga atau manusia atau apapun, yang pernah menyerangku di bagian itu. Ortodox beralih mencekikku dengan satu tangan, mengangkatku hingga sejajar dengan matanya.
"Kau selalu memilih melindungi yang lemah," gerutunya. "Tidak berguna."
"Melindungi yang sudah...bisa melindungi diri...sendiri. Itu lebih tidak...berguna," balasku lirih sembari menahan sakit.
Ortodox terkekeh. "Dari dulu...kukira kita bisa melakukan berbagai hal bersama-sama," cetusnya. "Tapi nyatanya tidak. Kau selalu disanjung baik manusia maupun naga, dan aku selalu ditakuti oleh mereka. Mereka menyebutmu kehidupan, dan mereka menyebutku kematian. Mereka menyebutmu cahaya dan harapan, tapi mereka selalu menyebutku kegelapan dan kesuraman. Itukah keadilan yang dibawa dunia ?" Tagihnya.
"Kau bisa merubahnya," bisikku. "Dengan mengikuti kami. Toh kau juga tak mau menjadi kaki tangan Madara kan ?"
"Aku tidak cukup bodoh untuk bergabung dengan kalian," sinisnya. Aku tersadar, itu kata-kataku pada Droconos tadi. "Tidak ada benang yang bisa menghubungkan kita sekarang, Ardhalea," katanya lirih, seperti sebuah bisikan. Aku tercenung.
"Ada," jawabku. Ia menatapku dengan pandangan menyelidik tanpa melonggarkan cekikannya.
"Kita pernah berjanji," ucapku. "Lupakah engkau ? Kita pernah berjanji untuk tidak membongkar salah satu kedok paling berharga dari sebuah informasi mengenai kita, yang bahkan tidak ada di sastra-ku atau buku Etatheon manapun..."
Matanya membesar.
Aku tersenyum kecil. "Nama."
"Kita pernah berjanji untuk memakai Paradox dan Ortodox..." sambungku. "Dan menyembunyikan kebenarannya. Tidak ada yang berhak mengetahuinya..." desisku. "Dan kau salah."
"Apa yang salah ?" Cetusnya kesal. Aku tersenyum, walau bibirku masih dihiasi darah.
"Kita berdua...tidak terlalu beda. Kita...bisa...menemukan..."
"...pengendara sejati kita masing-masing..."
"Aku sudah menemukannya. Uzumaki Naruto. Dan aku membongkar rahasiaku padanya...memberitahu namaku. Kita pernah berjanji untuk tidak memberitahukan nama kita masing-masing kecuali pada pengendara sejati kita dan kau menyetujuinya..."
"...Deavvara..."
Kusadari tubuhnya menegang. Cengkeramannya melonggar sedikit. Tatapannya kosong.
"Deavvara," panggilku lagi. "Sang Ortodoks. Kakakku..."
Aku tidak melanjutkan kata-kata itu. Tidak bisa. Ortodox mencekikku dengan tangan kanannya. Pandangan matanya menajam. Cengkeramannya begitu kuat hingga aku nyaris tak bisa bernapas. Aku meringis, berusaha melepaskan cekikannya tapi sia-sia.
"Kita lihat seberapa lama kau bisa menahan napas," geramnya. "APA KAU PIKIR AKU CUKUP BODOH UNTUK BERTEMAN DENGAN MANUSIA ?!" Teriaknya tepat di hadapanku. Cakarku pada tangan kanannya melonggar. Terkulai lemas. Aku bisa menahan napas selama dua jam di air, tapi entah kenapa sekarang rasanya tenggorokanku hampir putus...
"Itu hanya...janji yang tidak akan pernah terselesaikan."
"Kau adik yang menyedihkan," bisiknya. "Kau-lah yang membuat tangan kananku jadi seperti ini ! Hanya untuk membela manusia saja !"
Aku tidak mampu berkata-kata. Rasanya cengkeramannya begitu keras hingga mampu meremukkan sebatang pohon. Aku tidak bisa mengeluarkan suara apapun, bahkan sekedar rintihan menahan sakit. Sayap-sayapku layu. Ekorku terkulai tanpa daya. Aku memandangnya sayu.
"HUH !"
Ia membantingku ke tanah. Napasku memburu, terbatuk-batuk.
"Aku malu menyebutmu saudara."
Rasanya dadaku lebih sakit daripada luka barusan. Dia membalas kata-kataku enam belas tahun yang lalu. Semuanya seperti akan berbalik sekarang. Aku mati-matian bangkit berdiri, tapi ia menamparku lagi –untungnya bukan dengan cakarnya, tapi aku tetap jatuh. Ia mencengkeram pangkal leherku dan mengacungkan sabitnya. "Kita akan tentukan siapa yang lebih pantas dipuja !"
Mataku berkunang-kunang. Bernapas saja rasanya sulit dan sakit.
.
.
.
Naruto.
Maaf.
.
.
Aku...sudah berbohong padamu.
Berbohong pada dunia.
.
.
.
.
Sayup-sayup kudengar suara mendesing. Dengan sisa pengelihatanku yang nyaris tertutup, sebuah spiral angin raksasa berbentuk shuriken melesat hingga tepat mengenai sisi kiri Ortodox, sebelum dia mengangkat sabitnya. Membentur dan menggilasnya, tapi kemudian terus menyeretnya ke kanan dan meledak dalam sebuah bola biru berchakra angin yang menghembuskan angin ke segala arah.
Aku nyaris terjatuh ketika seekor naga oranye memapahku.
"De...metra...?" Ujarku lemah. Dia mengangguk.
"Syukurlah Paradox-sama baik-baik saja," cetusnya. Aku mengangguk lemah, walau sepertinya kondisiku tidak begitu baik. Dua Etatheon yang tersisa tampak terkejut, namun tidak lama. Dari dalam tanah, menghambur keluar seekor Wivereslavia jantan dan langsung menyeruduk Droconos, menggigit lehernya keras-keras dan membakarnya dalam api besar, lantas melemparnya sejauh yang dia bisa. Dari langit, seorang remaja berjubah merah dengan hiasan lidah api hitam di pinggirannya menghantam kepala Styx dengan Rasengan, beralih mencengkeram ekornya, dan melemparnya.
.
.
.
Naruto's POV
"Maaf terlambat," ucapku tanpa menoleh. Sukses menyerang dua pengkhianat Etatheon itu prestasi baru bagiku, hehe. Kusadari dia tidak menjawab, dan barulah aku memalingkan pandanganku sepenuhnya ke belakang. Baru kusadari betapa berantakannya dia.
Kumis sebelah kanannya putus setengah, dan satu ruang gigi kosong –kelihatannya tanggal- dan jenggot yang kusut. Kerahnya agak sobek, dan ada goresan dalam dan berdarah di dekat Darah Delima-nya. Sayap kanannya sobek setengah, beberapa durinya aus, dan sekujur tubuhnya lecet-lecet. Aku memandangi sekeliling kami. Ada gunung yang puncaknya datar dan cekung, seperti gunung berapi mati. Gunung lain punya goresan memajang di kakinya, dan ada yang gundul tanpa pepohonan. Puluhan kawah berbagai ukuran terukir sepanjang padang rumput.
"Para –eh, maksudku, Ardhalea," kataku. "Maaf."
Dia menggeleng. "Bukan...salahmu. Darimana...kau tahu tempat kami ?"
"Kau bilang Droconos disegel ke Altar Segel pada blokade Hi dan Kaminari," kataku, "jadi aku terbang bersama Kurama dan Demetra asal ke lokasi itu. Tiba-tiba kami melihat ledakan cahaya putih di puncak sebuah gunung, dan kukira itu pasti kau. Sebelumnya aku merasa..."
"...jantungku sakit, seperti berhenti berdetak untuk sesaat," akuku sembari meraba dada kiriku sendiri. "Kurasa itu pertanda. Jadi...aku kesini."
"Kau masih bisa bertarung, kan ?" Selidikku. Dia mengangguk, lantas melepaskan diri dari rengkuhan Demetra.
"Kenapa kalian kesini ?" Tanyanya. "Terlalu berbahaya."
"Kami tahu kau abadi," jawab Kurama. "Tapi kami tidak bisa membiarkanmu jadi bulan-bulanan."
"Bagaimanapun juga, tiga lawan satu itu peruntungan yang tidak bagus, Paradox-sama," timpal Demetra. "Izinkan kami membantumu."
Ketiga Etatheon bangun, hampir bersamaan.
"Wah, wah, wah," sinis Ortodox. Aku berpaling padanya, menatapnya penuh benci. Perjumpaan keduaku. Aku mengeratkan pegangan pada Pedang Rikudo dan menariknya dari sarungnya. Ia mengangkat satu alis, entah bingung, entah meremehkan. Tapi kemudian ia tertawa kecil. Jelas dia meremehkanku lagi. Tidak akan kubiarkan itu terjadi lagi.
"Jadi dia Draco P generasi ini ?" Selidik seekor naga –yang baru kulihat. Ia juga tampak sedikit babak belur, seolah kepalanya sudah dibentur-benturkan ke tanah sampai memar. Aku heran dia tidak gegar otak. Etatheon memang aneh. Melihat ciri-cirinya, dia pasti Droconos, naga yang disegel ke ibuku enam belas tahun silam. Dan disana juga ada Styx, yang tidak mati-mati sampai sekarang.
"Rupanya Paradox bukan satu-satunya naga yang susah dibunuh," cengir Ortodox. Ia memandang Kurama. Kurama mendengus.
"Sini, biar kukuliti lenganmu yang satu lagi !" Geramnya. "Kau satu-satunya Etatheon yang tidak simetris !"
"Kau akan melakukannya, Kurama," dukungku. Aku berpaling ke Droconos. "Dan kau !" Aku menudingnya dengan pedangku. "Akan kupotong-potong kau dan kumasukkan jenazahmu ke Altar Segel itu lagi !" Ancamku.
Droconos mencibir. "Seperti kau bisa melakukannya saja, blonde !" Ia menyerang, terbang rendah ke arahku. Aku mengumpulkan Rasengan, memperbesarnya dengan Sennin Modo. Kami nyaris bertubrukan dan aku siap membuat wajahnya jadi lebih jelek setelah aku selesai dengan Rasenganku, tapi ia menggigit bola spiral besar di tanganku ini dan langsung membuatnya pudar seperti balon yang ditusuk paku. Aku tertegun, tak sempat menyadari cakarnya merenggutku.
Kutangkis dengan pedang, tapi tetap saja. Pukulannya terlalu kuat hingga aku merengsek menggilas rumput dan nyaris membentur sebuah batu.
"Lebih baik kau selamatkan Sara," ujar Ardhalea. (Yah, aku mulai suka menggunakan nama aslinya daripada nama sebutannya). Ia tampak berusaha sedang menyembuhkan dirinya sendiri. "Atau berhadapan dengan Madara. Ini...urusan kami bertiga."
"Kalau begitu biarkan empat Etatheon yang ada di pihakmu membantumu !" Seruku. "Soal Sara...aku sudah kirim satu bunshin ke Rouran, bersama Hermes. Kalau soal Madara...aku bahkan tidak tahu dimana dia," paparku. Aku meraba lenganku. Beradu pedang-cakar dengan Droconos serasa pedangku membentur tiang baja yang lentur yang bisa dilengkungkan.
"Ya, bocah," timpal Styx. "Pergilah, Paradox akan baik-baik saja disini," sambungnya sambil menjilat bibir. Saat itu juga, aku ingin sekali memotong lidahnya. Aku tidak harus mengkhawatirkan naga abadi yang tidak bisa mati, tapi tetap saja, kan. Jika dia tidak bisa bertarung lagi, apa gunanya ? Toh aku takkan berguna kalau hanya di medan perang, itu terlalu mudah. Bukannya sombong sih, tapi kurasa ini juga 'ajang' untuk menguji kemampuanku.
"Tidak apa kalau kau mau disini," Ortodox malah menentang Styx. "Aku tidak tahu ada relasi kuat apa antara Paradox dan pengendara sejatinya. Bisa saja kan pengendara sejatinya juga memperoleh keabadian ?" Sinisnya. "Aku akan menguji apakah itu benar. Mungkin aku bisa meremukkannya sampai jadi bubur dan dia akan kembali utuh untuk merasakannya lagi," gertaknya sambil menjilat sabitnya.
Droconos mengangguk ke arahku dengan tatapan lapar. "Aku suka ide itu. Hitung-hitung balas dendam pada si Namikaze !"
"DIAM KALIAN BERTIGA !" Raung Ardhaleadengan suara menggelegar. Aku sampai merasa telingaku berdengung beberapa detik. Kurasa Kurama dan Demetra juga mengalami hal yang sama –mereka tampak merinding sesaat. Ardhalea bangun, memancarkan aura yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Matanya tertuju pada ketiga Etatheon dengan tatapan membunuh.
DRAK !
Ardhaleamenancapkan tangan kanannya ke tanah. Retakan timbul, terus menjalar ke kanan dan kiri, melebar, dan memanjang dengan kecepatan luar biasa. Debu-debu beterbangan, tanah bergetar. Retakan itu tampak mengelilingi gunung yang berada di sisi kanan Ardhalea, hingga akhirnya kedua retakan itu tersambung di belakang. Perlahan, gunung itu terangkat.
Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Ardhalea. Mengangkat gunung dari fondasinya. Ketiga Etatheon tercengang, walau Ortodox tampaknya tidak begitu terkesan. Kurama dan Demetra begitu syok sampai tubuh mereka bergetar –sedikit bergetar untuk Demetra dan gemetar level tinggi untuk Kurama (mulutnya ternganga juga).
Gunung itu terangkat, menimbulkan bayangan superbesar di padang rumput. Kumpulan tanah, batuan, dan pepohonan seberat ribuan ton itu terpisah dari fondasinya di bumi dan...dijatuhkan pada ketiga Etatheon.
Mereka terbang kalang-kabut, berusaha secepat mungkin menghindar. Kurama menyambarku dan Demetra mengepakkan sayap secepatnya. Walau Ardhalea di pihak kami, tidak mustahil kami juga remuk saat itu juga, karenanya kami terbang secepat mungkin ke belakang Ardhalea.
Lereng gunung lebih dulu menghantam tanah. Suaranya luar biasa –bisa disetarakan dengan raungan solo Varan. Aku yakin, jika di padang rumput itu ada desa, itu pasti sudah rata dengan tanah ketika gunung itu jatuh. Ratusan ton debu, batu, tanah, dan pohon, terlempar ke udara, sebagian merengsek membabat padang rumput sisa. Ketiga Etatheon terlempar karena gelombang kejut. Mereka jatuh berguling dengan menyakitkan di padang rumput, tapi aku yakin itu seratus kali lebih baik daripada harus gepeng tertimpa bobot mati sebuah gunung setinggi seribu meter lebih.
Gunung itu rebah ke tanah dengan akarnya menjadi lereng, dan satu lerengnya dan puncaknya menjadi kaki berdiri di kaki gunung (yang sekarang sudah menjadi puncak). Kawah raksasa dengan batuan-batuan padat yang tertekan bobot ribuan batu lain sekarang nampak di tanah. Napasnya terengah-engah, tapi aku ragu itu adalah keseluruhan yang bisa dilakukannya. Menilik kembali catatan-catatan di Sastra Paradox, aku mulai mempercayai kekuatan itu pasti luar biasa besar. Sebuah benua mungkin bisa porak-poranda saat dia selesai nanti.
"Wow, gila," Kurama menanggapi. "Aku merasa sangat kecil dan tidak berarti disini," gumamnya.
Ardhaleamelihat-lihat sekitar, dan segera menemukan ketiga naga yang dicarinya. Ia terbang cepat ke mereka, menubruk Droconos, dan bergulat seru. Tapi Ardhalea yang kukira sudah kehabisan energi itu, sepertinya baru serius sekarang. Ia merobek sayap kiri Droconos, menggores lehernya begitu parah sampai tercincang, dan ia menyabetkan cakarnya ke rahang atas-bawah Droconos ke arah yang berlawanan, membuat rahang naga itu terpelintir ke dua arah. Aksi itu diselesaikan dengan pukulan Ryuudama di dada Droconos, melemparnya hingga menembus sebuah gunung yang lain.
Styx menyerang, tapi kurasa itu hanya bagai kunang-kunang menentang matahari. Naga itu langsung kehilangan tiga tanduk, dan kuku ganjil di kaki depan kanannya terlepas seperti dicongkel keluar. Sayap kanannya diputus dengan mudah, dan Ardhalea membantingnya ke tanah. Ia mengelupas –aku tidak bisa menemukan kata lain yang cocok- mengelupas selapis daratan dengan luas yang sama dengan separuh lapangan sepakbola dan membenturkannya ke Styx.
"Huh," gerutu Ortodox –satu-satunya yang belum dibantai. Aku merasa dia adalah bagianku, tapi Demetra mencegahku.
"Nanti," ujarnya, membuatku bingung. "Kurasa...dia akan berubah menjadi wujud sejatinya."
Aku tersadar. Paradox dan Ortodox adalah saudara. Paradox tak ada ubahnya seperti naga betina dan Ortodox adalah naga jantannya. Jika Ortodox punya wujud sejati juga, itu berarti kami kemungkinan besar bakal melihat...seorang laki-laki bersayap dan bertanduk. Mungkin ?
"Mari kita selesaikan ini, Deavvara," ucap Ardhalea datar. Sosoknya mengabur dalam badai bulu putih yang bersinar, dan segera menjelma menjadi perempuan berambut perak panjang dengan sepasang tanduk rusa emas –yang kusadari tanduk itu sama persis dengan tanduk alisnya saat dia berwujud naga- sepasang sayap angsa-merpati putih yang utuh di punggungnya, dan pedang terselempang di pinggang kanannya. Sedikit berbeda dari sebelumnya –di sekeliling matanya sekarang terdapat tanda berwarna kuning yang sedikit menyerupai Sennin Modo-ku yang bercampur tanda mata aneh Orochimaru. Pupil matanya berwarna hitam obsidian dan irisnya berwarna abu-abu.
Ortodox menancapkan sabitnya ke tanah. Selimut bulu hitam legam seperti bulu gagak menyelimutinya, dan dari sana, aku melihat seorang laki-laki yang...entah berapa usianya, tapi antara delapan belas sampai dua puluh empat tahun, dengan rambut hitam gelap sepanjang bahu, sepasang tanduk domba di kepalanya –mirip tanduk Ortodox- tanda lingkar mata yang sama. Omong-omong, iris matanya berwarna ungu gelap dengan pupil hitam. Kulitnya putih –tidak seputih Ardhalea tapi tetap saja putih, dengan pakaian jubah cokelat gelap berkerah tinggi. Ada wadah aneh di pinggang kanannya dan kusadari bahwa itu adalah wadah sabit, tapi tidak ada senjatanya. Sayap hitam berkilat tumbuh di punggungnya, yang juga disusun dari bulu.
Laki-laki itu meraba sabitnya sebelumnya –yang jadi kelihatan sangat besar kalau dibandingkan dengan manusia. Sabit yang semula digunakan Ortodox itu awalnya berbentuk seperti tongkat besi tipis tapi kuat yang berujung pada mata sabit abu-abu, tapi sekarang itu berubah total menjadi sabit berwarna perunggu yang berbentuk arit, alat yang biasa digunakan para petani untuk membabat rumput. Ia memasukkan sabitnya ke sarungnya dan bersedekap. Aneh bagiku, karena harus kukatakan, laki-laki itu sebenarnya cukup tampan untuk memikat seribu wanita lajang sebelum mereka kabur ketakutan karena...
...tangan kanannya, tidak beda ketika ia dalam wujud naga. Hanya tulang manusia berbalut otot dan tendon. Tanpa kulit. Tanpa pelapis apa-apa, hanya tertutup lengan jubahnya yang longgar. Itu membuatnya jadi tampak setengah zombie.
"Sudah lama aku tidak melihatmu dalam wujud seperti itu," cetus Ardhalea. "Perasaanku saja atau kau jadi mirip Madara sekarang ?"
Pria itu mendengus –mungkin sebaiknya aku memanggilnya Deavvara. Nama yang sempat membuatku bingung, ternyata adalah musuh besarku.
"Sayang sekali," desah Deavvara sambil menyapu rambutnya ke belakang bak bintang iklan. "Sekalinya dalam wujud manusia, aku merasa aku harus menang," ucapnya pongah. Aku serasa melihat tiruan Madara, walau aku belum pernah bertemu langsung dengan Uchiha yang satu itu.
"Naruto," panggil Kurama lirih. Aku menoleh. "Pernah nonton film bertema kiamat ?"
"Memangnya kenapa ?"
"Kurasa...semua itu akan dikalahkan oleh realita ini..," desis Kurama sambil beringsut mundur. "Aura mereka jauh lebih kuat daripada sebelumnya."
Deavvara melompat mundur. Atau mungkin seperempat melompat, tigaperempat terbang. Mereka berjarak sekitar lima puluh meter sekarang. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, tapi sebaiknya aku menjauh.
Kulihat dan kurasakan dengan Sennin Modo, dada mereka berdua kembang-kempis. Bukan bernapas normal, mereka rasanya sedang mengumpulkan sesuatu. Ardhalea dan Deavvara mengambil kuda-kuda, dan sayap mereka terlipat ke belakang. Tangan kanan mereka terjulur lurus ke depan sedangkan tangan kiri mereka dirapatkan ke pinggang. Semacam posisi elemen api ketika bersiap menyembur, dan kurasa aku benar.
Sepercik busi tampak di tangan kanan Deavvara. Begitu juga Ardhalea. Dan busi itu membesar, hingga membentuk semacam dorongan api, dan kemudian dilepaskan ke lawan masing-masing. Udara terdorong oleh jumlah api beda warna yang begitu banyak, api biru kehijauan dengan semburat merah jambu, dan api putih berkemilau keperakan. Bertabrakan dan mendidihkan udara. Mereka mengeluarkan api dari tangan, bukan dari mulut, tapi kurasa tak ada bedanya. Berada di tengah-tengah tabrakan dua api itu, pasti sama rasanya dengan diceburkan ke jantung gunung berapi aktif.
Selama beberapa menit yang terdengar adalah suara mengerikan dari hembusan kedua api yang terus berusaha saling membakar, kadang saling serempet kiri-kanan dan membakar seluruh padang rumput. Jika ada yang menyasar ke bukit, bukit itu akan gundul dalam hitungan detik.
Tidak ada yang kalah selama itu, dan kurasa mereka mulai bosan. Keduanya menghentikan duel api, dan merengsek maju dengan senjata masing-masing. Ardhalea dengan pedang lengkung berwarna emasnya, dan Deavvara dengan sabit berwarna perunggunya.
Tidak ada suara yang bisa digunakan untuk menggambarkan ketika dua senjata itu beradu, dimana tanah di bawah batasnya langsung retak seolah benua sedang berusaha untuk meniru reproduksi amuba –membelah diri.
Keduanya bertarung sengit. Suara-suara denting dua senjata yang berbenturan terus terdengar. Mereka bertarung begitu cepat dan lihai sampai membuat Kage terdengar seperti prajurit amatiran. Kulihat kuku Ardhalea memanjang seperti cakar, sedangkan Deavvara membalas dengan mengeluarkan tulang buku-buku jarinya. (Seperti Wolverine, hanya lebih pendek dan jumlahnya lima).
Ardhalea mengatupkan tangan, menciptakan hutan dengan pohon-pohon sebesar rumah. Deavvara merentangkan tangannya ke langit, dalam sekejap memanggil awan badai kelam. Petir menyambar-nyambar, salah satunya cukup dekat ke dirinya hingga dia menggunakannya seperti panah –mengambil petir dengan tangan kosong dan melemparnya ke hutan dadakan itu, membakar beberapa pohon dan membuat suara guntur yang mengerikan. Deavvara melakukan itu seolah dia adalah Dewa Zeus.
Lawannya membalas –ia meniupkan es yang membekukan dengan cepat, berusaha memerangkap lawannya. Panah-panah kristal berjatuhan dari langit begitu Ardhalea mengangkat tangan kanannya. Deavvara melolong. Hujan meteor –kali ini bukan tipe 'aman' yang bisa kau nikmati dari loteng rumah ditemani camilan dan iseng memohon harapan- ini adalah hujan meteor yang tidak terbakar di atmosfer, batu-batu berpori berukuran antara kerikil sampai mesin cuci, yang terbakar api dan menghantam tanah disertai debu dan ledakan.
Deavvara terbang, menyerang dari udara. Sabitnya menghajar tanah ketika Ardhalea berhasil menghindar. Perempuan-setengah-naga itu terbang cepat ke arah Barat, tempat dimana sang surya mulai membenamkan diri seolah dia juga takut mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Deavvara mengikutinya. Aksi kejar-kejaran udara dimulai.
Aku menepuk Kurama. "Cepat," seruku, "kita harus tahu apa yang terjadi."
"Kau gila ?" Balasnya. "Kau tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan mereka ! Salah langkah, dan kau bakal masuk pabrik lem !"
Aku mendengus. "Antarkan saja aku kesana !" Kataku tak sabar.
.
.
Ardhalea ternyata memancing saudaranya ke arah danau. Ia merenggut air, dan dalam sekejap jutaan galon air danau membuncah ke udara, membentuk sosok naga raksasa yang belakangan kusadari itu berbentuk Jőrmungandr, Ogopogo, Severin, dan semua naga yang merupakan tipe akuatik. Deavvara mengibaskan sayapnya dan menembakkan peluru-peluru dari bulu hitam, meledak dengan suara yang mengerikan dan membuyarkan air. Ardhalea 'mengambil' air danau lagi, membentuknya menjadi cambuk dan melecutkannya tepat sasaran.
Deavvara jatuh menghantam air, tapi ia segera berdiri. Mereka sekarang bertarung diatas air. Ardhalea menyabet dengan pedang, Deavvara menghindar ke atas, namun kakinya dibelit cambuk air. Mereka berdua tenggelam ke dasar, lenyap dari pandangan.
"Kuharap mereka bisa bernapas di bawah air," celetuk Kurama. Demetra memutar bola mata.
BYUR !
Yang kami lihat sekarang, kedua manusia itu sudah kembali ke wujud asalnya –dua naga beda warna dan bentuk, dan sabit Ortodox –eh, maksudku Deavvara, sudah hilang lagi entah kemana, mungkin tenggelam bersamanya tadi atau tersangkut di bebatuan atau apalah.
Deavvara melempar saudaranya ke hutan terdekat. Ia mengepakkan sayap mendekati target yang entah dimana lokasi tepatnya, tapi tidak bisa menemukannya diantara rerimbunan dedaunan pepohonan hutan. Kesal, ia menyabetkan sayapnya, memotong ratusan pohon menjadi dua dalam sekali ayun, dan menampakkan Ardhalea –yang bersiap dengan Ryuudama yang cukup besar. Ia menembakkannya, meninggalkan jejak seperti bekas rayapan ular raksasa di tanah, tapi sia-sia. Deavvara menghindar, dan Ryuudama itu meleset ke sebuah gunung.
Ledakan Ryuudama perak langsung menghancurkan dua pertiga dari gunung itu sendiri, menyisakan sebonggol besar tanah berupa lereng dan kaki setinggi beberapa ratus meter. Ledakan dan kehancuran yang ditimbulkannya begitu dahsyat sehingga teknik Bakuton terhebat sekalipun akan kelihatan seperti petasan.
Deavvara mengayunkan cakar tiga jarinya lagi, dan kali ini meleset lagi, memotong sebuah bukit menjadi tiga –bagian kaki, bagian tengah lereng, dan bagian puncak. Dia melakukannya seolah bukit itu adalah nasi tumpeng yang siap dimakan. Ardhalea mencelat ke langit, menembakkan tornado, melempar saudaranya ke lembah. Dia bangkit, dan menancapkan cakarnya ke puncak bukit yang barusan dipotong-potongnya.
Ia mengangkat potongan pertama, melempar puncak bukit seberat ratusan –mungkin ribuan ton ke Ardhalea. Kali ini dia tidak berusaha menghindar karena pastinya hanya akan menyebabkan kerusakan lebih besar. Ardhalea menembaknya dengan hunjaman atom, memecah puncak bukit menjadi debu dengan sekali tembak. Deavvara mengangkat dua bagian sisanya tapi segera binasa oleh semburan atom saudaranya. Aku bertanya-tanya apakah Deavvara juga bisa dibinasakan dengan semburan atom itu.
"Apa yang kita lakukan disini ? Menonton ?" Celetuk Demetra. Ia tampaknya tidak begitu senang jika tidak dilibatkan dalam apapun. Kurasa begitu, dalam beberapa menit ini yang kami lakukan hanya menonton –sambil berharap-harap cemas semoga Ardhalea tidak cepat kehabisan chakra atau potongan-potongan daratan itu tidak menyasar mengenai kami.
"Kalau kita melakukan sesuatu, aku takut Deavvara akan mengenyahkan kita lebih dulu," kataku. "Jika dia bisa mengangkat bukit semudah manusia mengangkat piring, dia akan meremukkan kita dengan satu pukulan," lanjutku.
"Mungkin lebih tepat jika kita mengkhawatirkan Droconos dan Styx," celetuk Kurama, "mereka tidak nampak dari tadi."
Aku tersadar. Sennin Modo-ku tidak menunjukkan tanda-tanda kumpulan energi besar seperti Etatheon pada umumnya. Kemana mereka berdua ?
Aku tidak bisa berpikir jernih. Terlalu berisik dengan suara ledakan dan benturan, yang terus-menerus mengalihkan perhatianku. Kulihat Ardhalea membelah gunung jadi dua –kiri-kanan, dan saat Deavvara terbang diantaranya, Ardhalea dengan cepat berkelit ke atas dan menjepitnya diantara dua sisi gunung. Saudaranya meraung hebat hingga membuat tanah serasa berguncang, dan ia meledakkan kedua sisi gunung menjadi jutaan bebatuan dan gumpalan tanah, merusak apa saja yang ada di sekelilingnya.
"Deavvara !" Pekik Ardhalea dari udara. "Maafkan aku !"
"Grh !" Gerutu Deavvara, walau ia menghentikan serangannya sesaat. "Maaf untuk apa !"
"Karena pernah tidak mengakuimu sebagai saudara !"
"Alah, lagu lama !" Balas Deavvara kasar. "Tidak jadi soal apakah kau saudaraku atau bukan sekarang !" Sabitnya kembali muncul di tangannya dan ia menyerang, ditangkis oleh cakar depan adiknya, dan menyemburkan api. Ardhalea berhasil menghindar dan menggigit ujung ekor kakakknya, memutarnya beberapa kali di udara dan melemparnya ke sisa-sisa hutan yang tadi dibabatnya.
Ardhalea melirikku. Ia mengangguk, seolah memberi isyarat. Sayangnya, aku tidak tahu itu isyarat untuk apa. Kenapa semuanya jadi dadakan begini ?
TRANG ! Pedang bertubrukan dengan sabit. Aku tersadar, mereka berada dalam wujud manusia. Aku melompat dan berlari mendekati mereka. Kurasa sekarang saatnya membantu nagaku. Tidak masalah kalau aku harus terluka lagi. Toh aku belum mendapat informasi baru soal Sara di kepalaku, jadi aku yakin bunshin-ku belum menghilang. Semoga operasi penyelamatannya berjalan lancar.
Aku membentuk Rasenshuriken. Tidak begitu besar, agar suaranya tidak terlampau bising dan menarik perhatian. Mereka berdua sedang seru-serunya disana, sampai tidak ada yang memperhatikanku, tapi tidak masalah.
Aku melempar jutsu spesialku. Belakangan dengan Sennin Modo, aku bisa mengatur arah pergerakan dan jangkauan lengan shuriken-nya. Menyadari hal itu, Ardhalea menahan Deavvara dalam satu posisi. Aku mengarahkan Rasenshurikenku. Tapi sedikit terlambat.
Deavvara menyadarinya, dan ia berusaha melepas kuncian saudaranya, tapi untunglah Ardhalea bertindak cepat –membelit tubuh Deavvara dengan akar-akar yang keluar dari tanah dan mengencang sementara ia menjauh. Deavvara membabat akar-akar itu dengan sabitnya dan segera terbang menghindar dari jutsuku, tapi Rasenshuriken keburu mencincang sayapnya.
Ledakan bola biru menghembuskan angin ke segala arah. Aku hanya berharap sedikit semoga ia cedera, walau hanya ringan. Begitu asap menghilang, kulihat sosok Deavvara dengan rambut berantakannya, dan sayapnya hancur satu. Jubahnya compang-camping.
"Kau merusak rambutku," dia menudingku. Aku mengernyit. Kukira tadinya dia akan berseru, 'Sialan kau', 'Jangan ikut campur urusan kami', 'Kau lumayan juga', atau 'Mati kau'. Dia bahkan lebih mementingkan penampilan daripada saudara perempuannya.
Ia memutar-mutar sabitnya. Aku menghunus pedangku.
"Majulah," seruku. Padahal nyaliku ciut. Dia akan membuatku jadi daging cincang dalam waktu semenit !
Deavvara menyeringai, seolah kemenangan sudah jelas di depan matanya. Ia bergerak, bukan maju dan menyerang, tapi ke samping kiri dan melakukan gerakan senam meroda. Aku berusaha fokus. Ia meroda mengelilingiku dan ketika sudah sampai satu putaran penuh, ia melompat dengan tangannya dan menyabetkan sabitnya padaku.
Kukira ini gerakan simpel, tapi sebelum sabitnya mengenai pedangku, ia memutarnya sehingga sisi tumpulnya-lah yang mengenai pedangku. Ia mendarat, dan aku menambahkan angin ke Pedang Rikudo, melepaskan diri dari sabitnya dan menebas kakinya, tapi ia berhasil terbang. Satu sayapnya telah tumbuh kembali dan aku tidak punya waktu untuk tercengang karena itu.
Ia menyerangku dari belakang. Kutangkis dia, tapi aku terhuyung ke belakang. Pukulannya sangat kuat. Aku memaksakan diri merengsek maju, tapi rasanya seperti mendorong gajah tidur. Ia tidak bergerak sesenti pun, justru aku yang tergeser ke belakang.
BUK !
Ardhalea menendang pipi kanan saudaranya hingga ia terhuyung, dan ia menangkapku dari udara dan terbang menjauh. Deavvara terjatuh telak ke tanah dan –DAR ! tanah meledak membentuk lingkaran.
"Termakan jebakanmu sendiri," sungut Ardhalea. "Dia menanamkan ranjau Bakuton di sekelilingmu. Kau hampir menginjaknya kalau aku tidak menendangnya tadi," jelasnya.
"Kapan ?" Tanyaku. "Oh ! Saat dia melakukan gerakan meroda tadi," susulku. Dia mengangguk. "Kenapa aku tidak merasakannya dengan Sennin Modo ?"
"Material Bakuton-nya sengaja dibuatnya untuk melebur dengan tanah," jelas Ardhalea. Ia bersiap dengan pedangnya, dan sekarang ia juga menghunus belati berukir berwarna perak dengan mata pisau sepanjang satu setengah kali tangan (bukan lengan) orang dewasa. Deavvara menggerutu, membersihkan debu dari jubahnya dan merapikan rambutnya, lantas menghunus sebuah lembing sepanjang dua meter.
Sabit dan lembing. Pedang dan belati. Aku ? Hanya sebuah pedang tua dan sedikit keberuntungan, mungkin.
Deavvara melompat maju, namun bersamaan dengan Kurama –yang membuka mulut lebar-lebar bersiap menggigit Deavvara. Mungkin dia ingin membalas dendam secepatnya, tapi tak semudah kelihatannya. Dengan setengah hati, Deavvara menghindar dengan sukses dan menangkap ujung ekor Kurama, melemparnya ke danau. Demetra melakukan hal yang nyaris sama tapi dihindari untuk yang kedua kalinya. Ia jatuh terjerembab ke tanah dan Deavvara berdiri santai diatas lehernya.
"Hm ? Apa ini ? Seekor Wivere betina ?" Ledeknya. Lenganku mendadak gatal ingin mencekiknya, tapi Ardhalea mencegahku.
"Pantas saja si Kurama itu jadi semangat," cetusnya. "Apa yang akan terjadi kira-kira, kalau aku menghancurkan sumber semangatnya ?"
"Biadab !" Seruku. Ia melirikku sinis.
Deavvara melayangkan lembingnya. Ardhalea masih mencegahku.
BUUKK !
Kurama datang tepat waktu –menyabet Deavvara dengan ekornya hingga ia terpental, namun berhasil mendarat di tanah. Kurama membuka mulut dan langsung menyemburkan api, menghanguskan pria-setengah-naga-itu.
Tapi setelah apinya padam, sosok Deavvara masih tampak seperti semula, seolah tubuhnya terbuat dari baja. Kurama terkejut.
"Kenapa tidak lebih panas sedikit ?" Ejeknya. "Aku mulai kedinginan."
"Saudaraku," panggil Ardhalea. "Tidakkah Naruto mengingatkanmu pada sesuatu ?"
Deavvara mencibir. "Sifatnya mirip Ashura," katanya. Aku terkesan dia mau menjawab juga, padahal kukira dia akan segera membrutal. "Memangnya kenapa dengan itu ?"
Ardhalea mengangguk. "Dia memang mirip Ashura, tapi..."
.
.
.
"...dia juga mirip denganmu."
.
"Ketika celeng bisa terbang," Sergah Deavvara datar.
Dalam situasi yang berbeda aku mungkin akan tertawa, tapi tidak untuk sekarang.
"Dulu," desis Ardhalea, menatap saudaranya tajam. "Ketika ibu kita masih hidup."
"Nenek gondrong bermata aneh yang eksentrik," tukas Deavvara kalem. "Aku sudah tidak punya urusan dengannya !"
"Beraninya kau mengatai ibumu sendiri seperti itu !" Gerutuku. "Kau benar-benar keterlaluan !"
"HAH !" Bentaknya. "Aku tidak punya waktu untuk urusan keluarga ! Itu sudah basi ! Cepat selesaikan pertarungan ini, aku mulai bosan," ia mengangkat tangan kirinya, dan lembingnya kembali ke tangannya. Ia melesat maju, menghunus lembingnya. Aku nyaris menebasnya dengan pedang, tapi lagi-lagi Ardhalea mencegahku.
.
TRAK ! ! !
.
Mata lembing itu beradu dengan perisai semi-transparan berwarna ungu. Seorang berdiri dengan aura ungu yang menyelimutinya. Ia menoleh pada kami, matanya yang berbentuk bunga dan rambut hitam berbentuk pantat ayamnya segera kukenali.
"Kenapa kau kesini ?" Tanyaku.
"Karena aku menyuruhnya," sebuah suara lain yang tak asing berbunyi.
"Itachi !"
"Kau tepat waktu," ujar Ardhalea datar. Itachi mengangguk.
Sasuke membentuk Susano'o. Lengan 'makhluk' itu meninju Deavvara, tapi berhasil dihindari. Itachi memelototkan mata kanannya, mengalirkan darah.
"天照大神 !"
Amaterasu
(Salah satu nama dewa dalam mitologi Jepang)
SRING
Api hitam menjalar, berusaha membakar Deavvara, namun ia mengenyahkannya dengan sayap-sayapnya, yang menurutku pasti mengesankan. Walhasil, api hitam itu hanya membakar habis lembingnya. Ia mendesis dan menggerutu selagi terseret ke belakang.
"Baru awal, nii-san," ujar Sasuke. "Jangan terlalu memaksakan diri."
"Kalian saling kenal ?" Tanyaku sambil menuding Ardhalea dan Itachi bergantian.
"Kami bertemu saat Paradox memberitahu Perkampungan Uchiha bahwa para Pembantai Bersayap akan datang," jelas Itachi. "Beliau-lah yang menyuruh seluruh Uchiha untuk pindah ke Konohagakure untuk sementara," lanjutnya. Aneh juga sih, mendengar Itachi memanggil Ardhalea dengan kata ganti beliau.
"Amaterasu, ya," selidik Deavvara kesal. "Uchiha pengganggu," gerutunya. Ia mengayun-ayunkan sabitnya malas. Tapi kami tidak boleh menurunkan kewaspadaan walaupun sekarang enam lawan satu. Musuh kami kali ini juga...tampaknya tetap santai walau kurasa dia juga tahu duo Uchiha ini bukan lawan yang patut diremehkan.
"Baiklah, baiklah," katanya akhirnya. "Kubunuh yang lebih tua dulu, baru kemudian adiknya, lalu dua Wivere ini, dan..."
Dia menunjuk-nunjuk aku dan Ardhalea berganti-ganti. "Mungkin aku perlu menimbang-nimbang untuk kalian berdua."
"Cih," gerutu Sasuke. Ia melangkah maju, menyempurnakan Susano'o-nya sampai pinggang, dan meninju. Tanah hancur, dan Deavvara berkelebat ke puncak kepala Susano'o Sasuke. Ia menyeringai, kemudian memegang puncak kepala Susano'o ungu itu, dan membantingnya ke tanah bersama Sasuke. Ia mendarat, Itachi melancarkan bola api, namun tidak dihindari.
"Aku bisa bertahan dari lava," pamer Deavvara. "Api seperti itu takkan berguna samasekali !"
Kupikir tak ada bedanya wujud manusia dan wujud naga. Ia mengangkat sebuah batu besar dan melemparkannya ke Itachi. Sasuke lebih dulu melindunginya dengan Susano'o-nya. Aku maju, menghunus pedangku yang sekarang berselimut api dan petir. Deavvara menangkis dengan santai bersama sabitnya. Aku membentuk bunshin, melayangkan Oodama Rasengan ke perutnya.
Ia terdorong hingga membekas di tanah, tapi selain itu tampaknya baik-baik saja.
"Naruto ! Menjauh !" Itachi berseru. Api hitam segera menyelimuti tubuh Deavvara. Aku manggut-manggut mengerti. Selesai sudah.
.
.
"Hmph," gerutu Deavvara. Ia mengibas lengan, dan seluruh Amaterasu buyar seperti api disiram air. Itachi terpana. Sasuke mematung di tempat. Aku juga nyaris tak percaya. "Api kecil," katanya. "Kuberitahu kalian semua. Seluruh Etatheon kebal pada jutsu Byakugan, Sharingan, bahkan Rinnegan ! Kupikir Mangekyo Sharingan juga termasuk di dalamnya," terangnya santai.
"Kalau begitu melawannya dengan Susano'o atau Tsukuyomi pun tidak akan berguna," gumam Itachi. Ia mengelap darah di mata kanannya.
"Ha. Salahkan si Kakek Tua Rikudo yang memberi kekuatan kami begitu," cetus Deavvara. Ia menebas dengan sabitnya sekuat tenaga, dan kami semua refleks menunduk kecuali Kurama dan Demetra yang memilih terbang. Kekuatan sabit itu menggores kaki gunung di belakang kami, menampakkan luka daratan seperti sayatan di dasarnya. Untunglah gunung itu tidak ambruk.
Selagi ia berusaha mendapatkan keseimbangan lagi, aku melesat maju. Kusabetkan Pedang Rikudo sekuat tenaga, tapi itu hanya mengenai angin. Deavvara menghindar dan mendarat diatas sebuah batu besar, dan itu mengingatkanku akan sesuatu.
Aku melakukan handseal, bersiap memusnahkannya dengan Jinton.
Tapi sebentar, Beleriphon pernah melakukan hal yang sama dan itu hanya membuyarkan sayapnya. Aku ragu dalam wujud manusia, dia tidak sama kuatnya. Itu akan sia-sia, padahal Jinton memakan chakra yang lumayan. Akhirnya kuurungkan niat itu dan menyerangnya dengan panah petir –yang dihindarinya dengan mudah.
"Tajuu Kagebunshin no Jutsu !"
BOOOFF !
BOOOFF !
BOOOFF !
"仙人:巨大螺旋丸漣隊茯 !"
Senpou: Oodama Rasentairengan
(Teknik Sage: Rasengan Jumbo Beruntun)
BLAARRRR ! ! !
Aku menyerang dengan membabi-buta, tapi hampir semua Rasengan besar itu bisa dihindari. Dia pasti sengaja membuatku memanfaatkan banyak chakra dalam sekali serangan dan berniat balik serang ketika aku kelelahan, jadi mau tak mau aku harus menghabisinya sekarang dan membuktikan bahwa strateginya itu salah.
"Lumayan," celetuk Deavvara datar, "tapi kau akan belajar bahwa Dracovetth terkuat sekalipun akan kalah dariku !" Serunya sambil menebas udara dengan sabitnya. Puluhan bunshin yang tersisa langsung buyar begitu tubuh mereka terbelah jadi dua, dan Rasengan-Rasengan besar yang belum sempat ditujukan ke target menghilang seperti angin.
"He ? Mana yang asli ?"
BRAK !
Tanah di bawahnya terbuka, dan aku melesat dengan Rasengan varian baru.
"惑星螺旋丸!"
Wakusei Rasengan
(Rasengan Planet)
Satu Rasengan sebesar Oodama Rasengan di tengah, dan tiga Rasengan normal mengitarinya di atas serta sisi kanan dan kiri. Entah kenapa, Deavvara tidak menghindar. Alhasil jutsu spesialku ini langsung menghantam dadanya dari bawah, dan kudorong dia sekuat tenaga ke belakang, menghantam tanah dengan perputaran empat Rasengan sekaligus. Aku tidak pernah merasakannya, tapi itu kelihatan seperti dibor dengan empat bor tumpul yang langsung mengenai tubuhmu.
Sabitnya terlepas. Kesempatan emas. Aku membentuk tiga bunshin lagi, dan mengumpulkan Rasengan beserta chakra angin di tangan. Selagi Deavvara masih kolaps, aku harus cepat-cepat. Tapi untunglah aku sudah mempersiapkan trik yang mungkin mengejutkan untuk berjaga-jaga.
SET
"Kau gampang dikelabui," cetusnya tepat di belakangku. Aku menoleh. Rasenshuriken-ku belum selesai...
SRAATT ! ! !
Deavvara mengayun sabitnya, membelah tubuhku.
"NARUTO !"
.
.
BOOOFFF !
"Hah ?!" Protesnya. "Ini juga bunshin ?! Mana..."
Suara asap pudar terdengar dari belakangnya. Ia menoleh, dan menyadari kesalahannya. Dua batu yang berjejer –hanyalah Henge (jutsu perubahan) dari...aku dan Rasenshuriken-ku !
Tanpa membuang kesempatan, kuhantamkan jutsu itu padanya. Deavvara menangkis dengan sabitnya, namun kurasa itu tak cukup kuat. Aku terus merengsek maju, berusaha memotong satu-satunya senjatanya yang tersisa sambil menyeringai senang.
"Dasar licik," gerutunya. "Bagaimana bisa ?"
"Sederhana saja," kataku, pura-pura santai. "Yang menyerangmu dengan Wakusei Rasengan tadi cuma bunshin...begitu pula ketiga 'Naruto' yang membentuk Rasenshuriken. Aku yang asli sudah bersiap-siap...dengan menyamar menjadi batu, dan aku terkejut kau tidak mengetahuinya."
PRANG
Sabit perunggu Deavvara pecah menjadi dua di bagian matanya, dan Rasenshuriken-ku mendesing maju, menggergaji tubuhnya dan langsung kulempar dia ke sembarang arah. Jutaan jarum angin mencacah seluruh sel tubuhnya dalam ledakan bola biru, yang segera meledak dan mengeluarkan angin ke segala arah, mencabik rerumputan dan menggores pepohonan.
Itachi mendekat. "Kau jauh lebih kuat daripada saat pertama kali aku melihatmu," godanya.
Aku terkekeh. "Banyak orang berpendapat begitu, ya ?"
"Tapi bodohnya tetap sama kok," imbuh Sasuke.
"Diam kau, Pantat Ayam !"
.
Deavvara bangun dengan jubah compang-camping. Ia tampak seperti gelandangan, tapi sungguh, aku tidak mau mengomentari penampilannya. Sudah cukup luar biasa dia bisa bertahan dari dua Rasenshurikenku dan api Kurama.
"Kau tampak seperti gelandangan," komentar Kurama.
Glek, aku menelan ludah. Kulirik dia, tapi tampaknya Kurama tak begitu peduli.
"Huh," hanya itu yang meluncur dari mulutnya. "Sampai bisa mematahkan sabitku...kau hebat juga."
"Terus terang," kataku, "senang rasanya dapat pujian dari salah satu naga terkuat," akuku. Yah, hitung-hitung menghiburnya sedikit.
Dia tersenyum masam. "Salah satu," ulangnya. "Aku benci kata itu."
Ia merogoh saku jaketnya, dan mengeluarkan sebuah perkamen kecil sepanjang 20 cm berwarna merah tua. Aku curiga dia punya banyak senjata menakutkan lain. "Aku tidak pernah menggunakan ini lagi sejak invasi Konoha," kenangnya sambil menimang-nimang gulungan kecil itu seolah itu adalah sebutir mutiara. "Aku penasaran, apakah dunia masih mengingatnya, ya...?"
Ia membuka gulungan, melakukan handseal.
BOOFF ! ! !
Kami bersiap untuk segala kemungkinan. Tapi yang keluar cuma...
...gulungan lain, yang sekarang sepanjang 40 cm dan berwarna ungu tua. Ia membukanya dan melakukan handseal lagi, mengeluarkan sebuah gulungan lain yang lebih besar, berwarna hitam, dan panjangnya sekarang kira-kira 70 cm. Aku mendengus kesal.
"Hebat," ujarku. "Kau menggunakan gulungan untuk menyegel gulungan yang menyegel gulungan," sungutku, mulai bosan.
"Kau tahu apa yang dikatakan orang-orang," balas Deavvara tenang. "Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya."
Ia membuka gulungan hitamnya dan melakukan handseal lagi. Keluar asap lagi, tapi kali ini bukan asap putih. Yang keluar adalah gumpalan asap hitam seperti awan piroklastik yang keluar dari kawah gunung berapi, dan kelihatan pekat sekali.
Begitu asap menghilang, aku berani sumpah mata Itachi membelalak. Sasuke terperanjat ke belakang dan Kurama mengernyitkan alis, walau aku ragu naga pertamaku ini mengenali benda yang sedang dipegang Deavvara.
Benda itu sekilas mirip sekrup raksasa –percayalah, bukan karena aku kurang pengetahuan atau apa, kau pasti akan berpendapat sama kalau melihatnya- sekrup raksasa berwarna putih gading, gagangnya seperti paruh burung yang begitu tipis dan bersilang seperti tali yang disimpul, dan ada cukup ruang disana untuk ditempati satu tangan untuk memegang. Bentuk keseluruhannya serupa pedang, hanya saja lebih aneh. Senjata teraneh yang pernah kulihat.
"Kurasa kalian masih mengingatnya," cetus Deavvara santai.
"Itu menjelaskan kenapa benda itu disebut-sebut sebagai senjata yang tidak bisa ditemukan," simpul Itachi. Sasuke mengangguk.
"Kukira Oedipus pernah berkata kalau senjata itu disimpan sendiri oleh Anda, Ardhalea-sama ?" Selidik Sasuke.
"Ceritanya panjang," balas Ardhalea datar. Biar begitu, aku bisa merasakan nada khawatir dalam suaranya barusan. Aku memandang senjata itu. Sesuatu yang tidak bisa ditemukan...yang lebih misterius daripada Pedang Totsuka no Tsurugi...
.
.
"Uliran Samsara," cicitku. Ardhalea mengangguk. Deavvara tersenyum sinis.
"Dua korban terakhirnya...dan satu korban pertamanya setelah tidak dipakai selama 16 tahun..."
"...adalah satu keluarga."
Aku merinding. Tubuhku gemetar hebat, seolah seluruh jiwaku telah terkait ke senjata aneh itu, tinggal tunggu waktu untuk ditebas –mati.
"Nah, kuharap kau masih ingat kejadian 16 tahun lalu ketika Yondaime Hokage dan istrinya si –ttebane-ttebane itu, berjuang menyelamatkan desa dan putra tercinta mereka..." katanya sembari melirik jahat ke arahku.
Deavvara tertawa keras. Aku bisa merasakan auranya berubah jadi lebih gelap sekarang. "Si Minato Kumikoze itu begitu percaya diri."
"Namikaze Minato," aku menginterupsi. Ampun deh, siapa yang akan diam kalau nama ayahnya dipelesetkan ?
"Terserah," balasnya. "Aku menemukan peluang. Kukeluarkan senjata ini ketika aku dalam bentuk naga, dan ukurannya mengikuti ukuranku. Si Kilat Kuning itu memberi perlawanan yang tangguh, tapi akhirnya aku bekerja dalam bentuk manusia. Kusadari aku tak punya cukup waktu sebelum si tua Sandaime Hokage dan ANBU-ANBU itu datang merepotkanku, jadi aku berpikir cepat. Menyerang harta mereka yang paling berharga: kau."
"Dan...semua itu terjadi begitu saja. Ibumu bergerak cepat melindungimu meski dengan berbanjir keringat, tapi ayahmu secepat kilat memunggungi ibumu juga, dan mereka berdua tertembus ini di diafragma, ujungnya nyaris mengenaimu, kalau saja aku lebih memaksa sedikit. Dan oh, ya ! Ardhalea ada disana dalam wujud manusianya, tapi salahkan dia karena telat," ceritanya enteng.
Aku melirik Ardhalea sekelebat. Ia setengah tertunduk. Dia tampak pedih, tapi tidak melirik ke arahku samasekali. Aku menghela napas berat.
"Aku tidak menyalahkan siapa-siapa atas itu," kataku. "Aku tak bisa menyalahkan takdir. Hanya orang lemah yang menyalahkan takdir," tegasku. "Tentu saja, barangkali Ardhalea bisa mencegahnya...tapi mungkin yatim-piatu adalah sesuatu yang terbaik untukku sekarang. Lagipula aku masih bisa merasakan kasih sayang mereka, walau mereka telah tiada."
"Aku punya ini," aku mengacungkan Pedang Rikudo. "Aku punya Ardhalea," aku menatapnya, mengangguk. Ia tampak terharu.
"Aku punya Kurama ! Demetra ! Keempat Etatheon yang berada di jalan yang benar ! Aku punya Kakashi-sensei...Jiraya-sensei, Sakura-chan, Hinata-chan, Shikamaru, Chouji, Ino, Kiba, Alis Tebal, bahkan Sasuke dan Itachi-san berada disini ! Aku punya banyak orang untuk membantuku dan itu semua sudah lebih dari cukup untuk mengingatkanku bahwa aku diperlukan dan disayangi !"
Hening.
Angin bertiup sekali lagi, mengibarkan rambutku bersama rambut panjang Deavvara. Ia memandangku sinis.
"Yah," katanya pendek. Ia meremas-remas pegangan Uliran Samsara-nya. Kupikir dia akan memakiku atau langsung maju menyerang. Tapi alih-alih, dia mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga akan kudengar dari makhluk sejahat dia.
.
.
.
"Orang-orang yang kelak menjadi orang besar...selalu punya orang-orang lain yang tak kalah hebatnya di belakang mereka."
Ia memandang langit. Sinar matanya redup. "Kalau kau letakkan sayap di punggung seekor kadal sehingga mereka bisa terbang, apa mereka akan disebut naga juga ? Ketika yang manusia kenal hanya...permusuhan. Tidak dapat dipungkiri, permusuhan juga bentuk interaksi. Manusia selalu bisa menjadikan sesuatu yang remeh menjadi seru...dan mereka sering berpikir diluar batas. Mereka aneh."
Kami terdiam. Apa yang sebenarnya sedang dipikirkannya ?
"Aku benci mengatakan ini," ia menggerutu. "Tapi manusia, kalian hebat. Kalian bisa mengetahui dunia lebih luas dan lebih tersembunyi dengan cara yang lebih cerdas, padahal kalian tidak punya sayap sekecil apapun di punggung lemah kalian. Kalian pergi lebih jauh dan lebih haus kekuasaan, pengetahuan, dan apapun yang ada di dunia, padahal kalian yang tingginya dua meter saja jarang sekali. Hanya ada dua kaki, tapi gesit. Tak ada cakar, hanya kuku yang rapuh, tapi terampil. Tak ada sisik, tapi begitu resistan. Tak ada ekor, tapi begitu cekatan. Tak bisa menyemburkan apa-apa, tapi kalian mampu membius manusia lain dengan kata-kata."
Sulit dipercaya serentetan kata-kata bijak itu bersumber dari naga terjahat di dunia. Ardhalea yang sering dianggap bijak saja bungkam. Sungguh ironis.
"Jangan pura-pura bijaksana dengan meniru apa yang pernah kuucapkan," gerutu Ardhalea.
.
Ups.
Apa itu tadi ?! Kami dikelabui ?!
Deavvara menyeringai licik. "Itu kata-katamu lima abad yang lalu," kenangnya, "kau masih ingat rupanya."
Ia mengangkat Uliran Samsara. Senjata aneh itu berpedar lemah diterpa sinar matahari senja. "Baiklah. Kita selesaikan sekarang saja. Setelah Naruto mati, aku akan langsung pergi, menyusul Droconos dan Styx yang sudah lebih dulu menghadap Madara."
.
.
.
.
.
Bersambung...
Author's Note (2):
Chapter 18 selesai !
Wah, chapter ini ternyata full of fight ya ? Hehehe...lumayan capek juga nulisnya, sekalian bayang-bayangin. Readers semua kebayang gak ?
Pertarungan sengit Nagato vs Hanzo dimenangkan oleh Nagato yang akhirnya memanggil Gedomazou. Pertarungan seru Paradox vs OrtoDrocoStyx untuk sementara belum selesai, karena ternyata Ortodox –alias Deavvara mengeluarkan senjata rahasia: Uliran Samsara ! Sekuat apakah senjata tersebut ?
Nantikan usaha 'bunshin' Naruto menyelamatkan Sara dari cengkeraman Anrokuzan di Rouran serta kelanjutan pertarungan Ardhalea, Deavvara, dan Naruto di chapter sembilan belas !
Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !
Coming Soon: Paradox Chapter Ninten :
"For You, 16 Years Before"
See you again in chapter 19 !
-Itami Shinjiru-
