Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.

Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara

Main Pair : NaruPara, KuraDeme

Slight Pair : MinaKushi, ShikaTema, KakaPaku, & NagaKonan

Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance, Action


Author's Note :

Jumpa lagi di chapter 19, readers !

Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Terimakasih, matur nuwun, arigato gozaimazu, thank you very much, syukran, gracias (*bungkuk hormat*).

Kelanjutan pertarungan di Padang Rumput Dahila akan semakin mencekam begitu Deavvara mengeluarkan senjata yang selama ini hilang: Uliran Samsara. Serta bagaimanakah usaha 'bunshin' Naruto untuk menyelamatkan Sara dari cengkeraman Anrokuzan di Rouran ?

Oke, hari Jum'at saya mulai bertandang ke Purwokerto, jadi saya tidak tahu apakah Rabu depan bisa update, tapi saya usahakan deh !

Enjoy read chap 19 !


PARADOX

パラドックス

Chapter Sembilanbelas :

For You, 16 Years Before


Rouran Great City

TAP ! Aku mendarat di balkon teratas menara tertinggi. Rasanya berbeda, karena aku baru pernah sekali ke tempat ini, saat bulan duduk di singgasananya, bukan saat senja seperti ini. Aku menoleh ke kiri-kanan, memastikan tidak ada mata-mata atau apapun itu, dan merogoh sebilah kunai, berusaha mendongkrak satu-satunya pintu yang menuju menara utama. Tentu itu sulit, karena kunai tidak didesain untuk mendongkrak.

"Butuh bantuan ?" Hermes berbisik di udara. Aku melirik ke kanan-kiri lagi. Aku tidak tahu mana yang lebih menarik perhatian –seekor naga dewa yang keluyuran sendirian ditengah arus peperangan atau seorang Dracovetth asing yang berusaha menyusup ke kediaman sang ratu. Moga-moga tempat ini terlalu tinggi untuk bisa ditilik sebagian besar orang di bawah sana.

"Baiklah," jawabku akhirnya. Hermes menembakkan laser, membuat lubang setinggi dua meter dan lebar satu meter di pintu besar itu. Aku melangkah masuk. "Ini," aku menyerahkan sebilah Hiraishin Kunai padanya. "Simpan itu. Kalau kau mau pergi ke medan perang lagi, silakan. Tapi usahakan itu selalu ada di tubuhmu. Kalau aku sudah selesai, aku bisa langsung berada di tempatmu."

Dia mengangguk ringan. "Kau bunshin," katanya, "sebaiknya kau sepuluh kali lebih waspada. Goresan pedang saja bisa membuyarkanmu."

"Aku tahu," balasku. "Karena itu aku akan senantiasa membentuk bunshin baru ketika aku merasa diriku terancam."

"Ide bagus."

Aku berlari menelusuri koridor. Samar-samar aku masih ingat, tapi tempat pertama yang kukunjungi adalah ruang makan. Tidak ada siapa-siapa disana, dan aku memutuskan untuk pergi ke singgasana ratu.

Awalnya kukira aku akan menjumpai kumpulan orang yang menyesaki ruang singgasana, berusaha menelaah dan mencari pelaku yang berani-beraninya menculik sang ratu. Herannya, tidak satupun orang yang berada disitu. Menara...terlalu sepi. Ini aneh. Aku masuk, dan menyadari mimpiku akurat. Pasalnya, salah satu jendela di ruangan itu pecah. Singgasananya roboh seperti habis kelemparan sesuatu (yang kemungkinan besar adalah Kizashi) dan...

...ada mahkota yang terabaikan disana. Aku memungutnya. Jelas ini makhota Sara. Sayangnya hidungku tidak setajam kebanyakan naga, jadi aku tidak bisa mengendus kemana pemilik barang ini dibawa pergi. Aku mendecih. Bagaimana jika Anrokuzan ternyata adalah kaki-tangan Madara ? Bagaimana jika dia membawa Sara keluar jauh dari Rouran ? Pencarianku akan sia-sia ! Walau itu tidak terlalu berat mengingat aku sendiri hanya bunshin.

"Naruto-sama ?!"

Aku menoleh. Tepat seperti yang kuharapkan.

"Kizashi," kataku. "Anrokuzan berkhianat, ya ?"

"Darimana kau tahu ?" Dia balas bertanya.

Aku mengedikkan bahu. "Mimpi," kataku jujur. "Aku melihat Sara diculik Anrokuzan dan...kau berusaha menghentikannya."

Kizashi mengangguk. "Si gembrot nakal itu begitu menyebalkan," gerutunya. "Dia sekarang mengendalikan seluruh Rouran dengan Kugutsu Naga-nya".

"Kugutsu Naga ?" Ulangku. "Itu mungkin menjelaskan kenapa seisi kota begitu sepi."

"Nah !" Timpalnya. "Kugutsu Naga ! Dan yang kusebut 'Kugutsu' bukan kugutsu biasa yang terbuat dari kayu, bambu, atau aluminium ! Ini –kugutsu-kugutsu naga-naga sebesar mobil dan bus yang terbuat hampir seluruhnya dari perunggu, tembaga, perak, bahkan besi dan baja ! Kau mungkin lebih suka menyebutnya, semacam...robot. Mereka semua diprogram untuk menyudutkan dan mengintimidasi semua Rouranian agar tidak keluar dari menara yang mereka tinggali, atau mereka akan jadi makanan para Venator !"

"Dimana para naga itu ?" Tabrakku.

"Entah," jawabnya. "Para Kugutsu Naga sangat kuat, aku baru bisa mengalahkan dua sebelum salah satu dari mereka membantingku dan melemparku ke jendela menara lain."

"Aku bisa lihat itu," kataku, mengamati segala lecet, goresan, dan kemeja biru dan celana panjang Kizashi yang compang-camping dan dipenuhi abu. "Tapi kita lihat apa mereka bisa menangani Draco P," sambungku.

"Hmm...Perang Dunia Naga Keempat sedang dimulai kan ? Kenapa kau malah disini ? Mengabaikan dunia hanya untuk menyelamatkan Sara ?"

Ingin kusumpal mulutnya dengan potongan kertas peledak. Tapi aku berusaha menahan diri dan menjelaskan. "Aku hanya bunshin, Kizashi. Bunshin. Yang asli ada di medan perang, yang semakin memanas."

Kizashi mengangguk mengerti. "Yah, kurasa kita berdua harus jadi pahlawan Rouran, karena tidak ada siapapun yang bisa menentang Anrokuzan. Ayo, kutunjukkan jalan pintas ke bawah," ajaknya lantas berlari ke arah jendela yang pecah.

Bodohnya, aku mengikutinya. Baru sadar ketika dia terjun dari menara –tapi tidak sepenuhnya terjun. Ia memegang bingkai jendela, kemudian bingkai jendela berikutnya, turun ke balkon, dan meraih bingkai jendela di bawahnya dan turun lagi, begitu seterusnya. Ia begitu ahli menuruni menara dari ketinggian dua ratus meter lebih tanpa takut jatuh ! Aku yakin monyet paling handal di dunia sekalipun akan melongo melihat aksinya.

"KAU GILA YA ?" Sentakku. Aku belum melakukan apa-apa, sementara Kizashi sudah sepuluh meter di bawah.

"Ini jalan tercepat !" Serunya. "Asal kau tahu saja, aku tidak pernah takut dengan yang namanya ketinggian !"

Aku menghela napas pasrah. Kurogoh tas pinggangku dan kulempar satu Hiraishin Kunai tepat ke lantai beton paling bawah. Aku melakukan shunshin, tapi sebelumnya aku terjun dan langsung menangkap kerah baju Kizashi yang masih berusaha turun dari dinding panjat tertinggi di dunia.

"Apa yang kau lakukan ?" Serunya.

"Perjalanan instan ke-ba-wah !" Balasku.

WUS !

Kami mendarat tepat di sebelah kiri Hiraishin Kunai. "Nah, ini lebih aman daripada memanjat turun," ujarku.

"Ini bahkan lebih cepat daripada terjun bebas," imbuh Kizashi sambil meluruskan punggung. "Sekarang kita harus cari Kugutsu-Naganya. Secara teknis tidak sulit untuk mengenali mereka, dan biasanya mereka datang dengan suara mendesis khas mesin, kadang juga uap yang keluar dari sela-sela zirah-zirah tubuh mereka..."

"Seperti itu ?" Aku menuding seekor naga berwarna keemasan yang sedang memandang kami dengan mata merah berbentuk trapesium. Sayapnya seperti terbuat dari api...perisai di sekujur tubuhnya, kecuali di leher dan kepalanya –yang berkobar-kobar seperti api sungguhan. Rasanya aku tidak asing dengannya.

"Ya, seperti itu," balas Kizashi. "Oh, itu Kugutsu Burning Dragon !" Gerutunya. "Sebaiknya kau jangan menganggapnya Pliny."

"Tentu saja."

Naga –eh, Kugutsu logam itu meraung, lantas berderap mengejar kami. Aku mencongkel beberapa puluh kilogram beton padat dari tanah menggunakan Doton dan kuhantamkan tepat ke Kugutsu itu. Tapi itu malah membuatnya semaki marah, alih-alih hanya menggoresnya sedikit selagi beton itu hancur menumbuk baja.

Aku balas menebasnya dengan Kaze Kiri no Jutsu, tapi itu hanya memudarkan sebentar apinya –atau wajahnya- dan ia kembali berderap menyerang, menyemburkan api.

"Apa sekarang ?" Tanyaku pada Kizashi.

"Tunggu aba-abaku," katanya tegas.

Naga itu berderap makin dekat...

...dekat...

...dan...

"MENGHINDAR KE SAMPING !" Teriaknya. Hup ! Kami berlompatan bak atlet senam amatiran, membiarkan naga Kugutsu itu kebingungan karena dua targetnya lolos dari jarak pandang dan... BRRAAAKKK ! ! ! Tubuhnya menghantam menara dengan telak. Kepingan-kepingan tubuhnya berserakan dan oli menghambur keluar.

"Mereka kuat," ujarku, "tapi bodoh."

Kizashi mengangguk mengiyakan. "Itu mungkin belum selesai diprogram. Aku mendapat info bahwa Anrokuzan sekarang bermarkas di blokade terdekat Kaze no Kuni dan Tsuchi no Kuni..."

"...Gunung Phicium ?" Tabrakku. Ia mengangguk pelan.

"Seperti itulah. Kemungkinan besar disana...kalaupun tidak ada Sphinx dan Zmey lagi."

Aku meremas tangan. Ini gawat. Tim kami pernah pergi kesana sebelumnya dan itu bukan wisata yang menyenangkan. Siapa yang tahu apakah Zmey dan Sphinx disana cuma ada satu ekor ? Bisa jadi ada banyak ! Dan aku tidak berpengalaman menangani naga-naga semacam itu. Tapi...bagaimanapun juga, kami harus menyelamatkan Sara dan menghentikan rencana –apapun itu- Anrokuzan.

"Siapa yang memberimu info itu ?" Selidikku.

"Anrokuzan sendiri. Sebelum pergi, dia mengatakan itu. 'Temui aku di blokade terdekat Kaze dan Tsuchi kalau kau berani, Rambut Mekar !'"

Aku menggeleng.

"Ada yang salah ?" Selidiknya. Aku mengangguk.

"Jelas ada yang salah," kataku. "Yang dia maksud blokade terdekat, pasti Gunung Phicium. Dia sendiri yang memberiku petunjuk dan arahnya. Dia pasti tahu aku mengejar timku, tapi dia mungkin tidak tahu tim kami berhasil mengalahkan dua naga penjaga disana. Dia sengaja memberitahumu untuk pergi ke Gunung Phicium karena dia tidak mau repot-repot membunuhmu," uraiku.

"Maksudnya semacam pengalih perhatian ?" Tanyanya. "Itu masuk akal sih," lanjutnya sambil manggut-manggut. "Lebih mudah baginya untuk membiarkanku mati di gunung penuh monster itu daripada mengajakku berduel. Jadi...kira-kira dia ada di salah satu menara disini."

"Ya," jawabku pendek. "Kita hanya harus menemukannya. Adakah semacam...menara kosong atau yang tidak terpakai ? Disitulah pertama-tama kita harus mencurigai markas rahasia Anrokuzan."

"Markas rahasia ya ?"

Ia tampak berpikir sejenak. Aku tidak tahu apakah si Kizashi ini sedang serius, sedang benar-benar berpikir atau tidak, karena selama yang kutahu sampai detik ini, dia bukan tipikal orang serius semacam Sasuke, Itachi, Shikamaru, bahkan Anrokuzan itu sendiri. Aku bergantung padanya selama misi penyelamatan ini, jadi kuharap dia bisa merubah sikapnya sebentar.

Ia menjentikkan jari. Kuharap semacam ide yang bagus.

"Ikuti aku."

.

.

.


Mountain of Grave

"Jadi...kau sudah dapat ?" Selidik si pria bertopeng. Madara mengangguk.

"Lebih mudah daripada yang kukira," ujarnya. "Aku berhasil melepaskan kontraknya dari Nagato dan menjadikannya milikku sendiri."

"Kedengarannya seperti semacam pengkhianatan," simpul si pria bertopeng.

Madara tertawa kecil. "Sungguh ? Hanzo sudah tewas dalam pertarungannya melawan Nagato. Itu keuntungan ganda bagiku, disamping Hanzo sudah tiada sekarang, aku mendapatkan kembali Gedomazou. Sekarang rencanaku bisa dijalankan, hanya perlu menunggu esok hari saat bulan menutupi matahari."

Pria bertopeng itu berdehem sinis. "Rencana kita," koreksinya. "Kau sudah berjanji."

Kata-kata itu pendek tapi tegas. Madara terdiam sesaat, tapi mengangguk kemudian.

"Jangan khawatir," ucapnya sambil mengibaskan tangan. "Kau akan mendapatkan bagian. Kita akan bersenang-senang besok. Tapi sebelum itu...kita kedatangan tamu."

"Madara !" Panggil sebuah suara dengan geram. Ia mendarat di halaman samping, meretakkan tanah rapuh yang dipijaknya. "Akan bijak sekali kalau kau melibatkan kami juga," gertaknya.

"Droconos," kata Madara. "Lama tidak dilihat dunia. Tentu saja, aku akan membuatmu berperan. Sangat berperan."

Droconos mendengus. "Aku sudah hidup berabad-abad lamanya. Aku takkan mungkin tidak bisa mengenali karakter orang dari suaranya."

"Terserahlah," balas Madara santai, "omong-omong, mana Ortodox ?"

"Dia sedang melanjutkan pertarungannya bersama Paradox dan Draco P, serta dua Wivereslavia," jawab Styx setengah hati.

Madara mengernyit. "Draco P itu seharusnya jadi bagianku," sergahnya. "Apa dia begitu egois sampai tidak mau bertarung melawan sesama manusia ? Itu hukum kuno, bukan ? Manusia melawan manusia, naga melawan naga," sungutnya. "Aku penasaran sekuat apa dia..."

"Secara biologis, Madara, Ortodox dan Paradox tidak sepenuhnya naga," koreksi Droconos.

"Aku tahu itu," potongnya cepat kemudian bangkit. "Kau berjagalah disini, jaga Gedomazou. Itu juga tugas yang sangat penting," ia berbicara pada si pria bertopeng. "Droconos, Styx. Ayo kita terjun ke medan perang. Sedang seru-serunya," katanya sambil mengambil kipas dan sabitnya.

"Tentu," balas Styx. "Tapi kemana ?"

Madara tersenyum kecil. "Batalion Keempat, Kazekage Gaara."


Rouran, Highest Tower

"Kau bercanda ?" Serbuku. "Sebuah brankas ?"

Kizashi mengangguk. "Anrokuzan terkenal sedikit ceroboh. Lihat saja, pintu ruang kerjanya tidak dikunci, kan."

Aku mengangguk membenarkan. Brankas itu berwarna abu-abu metalik dan terbuat dari baja seperti brankas kebanyakan. Nomor-nomor rotasi tampak di pintunya. Brankas itu sendiri berbentuk kubus dengan panjang sisi 80 cm dan bertengger diatas meja keramik yang menyatu dengan lantai dan dinding. "Tapi...kenapa –maksudku, apa yang membuatmu berpikir kalau salah satu jalan masuk markas rahasia Anrokuzan adalah brankas di ruang kerjanya ?"

"Insting ?"

Aku menepuk dahi.

"Hehehe. Dia tidak pernah mengizinkan siapapun membuka atau melihat isi brankasnya, bahkan Sara-sama sekalipun. Lagipula, brankasnya tersambung ke dinding menara ! Yah, kurasa itu patut dicurigai, kan ?"

"Berapa nomor kombinasinya ?"

Kizashi mengangkat bahu. "Itu rahasia. Cuma dia yang tahu."

Baiklah, sepertinya aku harus menggunakan kekerasan. Aku mundur, membentuk empat bunshin. Aku menengok sekeliling dan menuding sebuah almari. "Kalian berdua, sembunyilah disana. Kumpulkan chakra untuk Sennin Modo ! Aku mengandalkan kalian !" Perintahku pada dua dari empat bunshinku. Keduanya berjalan menuju almari, membukanya, memindah semua buku dan apapun yang ada di dalamnya ke bawah meja kerja Anrokuzan yang luas dan gelap, dan 'bertapa' disana. Aku menutup almari dan duduk bersila di lantai.

"Apa yang kau lakukan ?" Selidik Kizashi.

"Sennin Modo," balas bunshinku. (Mungkin lebih tepatnya bunshin dari bunshin). "Dia menggunakan energi alam. Sebentar lagi selesai."

Kira-kira lima menit kemudian, aku siap. Chakra Sennin Modo memenuhi tubuhku.

"Untuk apa kau menyimpan dua bayangan ?" Tanya Kizashi penasaran.

"Sennin Modo-ku paling lama hanya bertahan lima belas menit," jelasku. "Karena itu kusimpan dua bunshin dengan Sennin Modo agar kalau-kalau aku kehabisan energi alam, aku tinggal memanggil salah satu dari mereka padaku dan mentransfer chakra alam ke tubuh pengguna sebelumnya."

Aku membentuk chakra bola biru. Sengaja kubuat lebih besar karena tidak tahu brankas ini setebal apa.

"Senpou: Oodama Rasengan !"

Brankas besi mengkilat itu hancur berkeping-keping –hanya pintunya, menampakkan...

.

.

Ruang kosong berbentuk persegi seukuran 80 x 80 cm. Kosong ? Hanya ada sebuah novel usang yang kertasnya sudah menguning, dan seplastik pasir hitam. Aku mengernyitkan dahi, memalingkan pandangan ke Kizashi yang juga tampak bingung. "Hanya ini ?"

"Siapa tahu ada petunjuk di situ," ujarnya.

Aku mengambil novel dan membuka-bukanya. Ada satu halaman yang terlipat (atau dilipat) dan satu kata yang digarisbawahi menggunakan pensil. Mendadak aku teringat pengalaman pemecah misteri pertamaku di rumahku sendiri. Mungkinkah teka-teki markas rahasia Anrokuzan juga menggunakan cara yang sama ?

Kuambil bungkusan pasir, dan kubuka. Alangkah terkejutnya kami ketika menemukan sebuah kunci berwarna batu bara, yang terselubung dalam pasir hitam. Aku melirik Kizashi. "Kurasa kau benar."

Aku melihat-lihat sekitar, kemudian memeriksa setiap senti sisi brankas. Begitu mulus...tidak ada tonjolan atau lekukan apapun, apalagi lubang. Rasanya tidak mungkin lubang kunci itu ada disini. Kalaupun ada tombol, seharusnya tetap saja terlihat. Aku menekuni novel dengan halaman yang terlipat itu. Kata yang digarisbawahi adalah, 'sanjung'. Mungkin itu kata favorit Anrokuzan.

"Kizashi, cari lubang kunci di ruangan ini selain pintu masuk..." Aku menoleh dan menyadari pria berambut aneh itu sudah sibuk meneliti setiap inci ruangan. Pandanganku terpaku pada lukisan Anrokuzan di dinding sebelah kanan. Sebuah mesin ketik tua bertengger di sebuah standar display, tepat dibawah lukisan.

Aku tidak mengacuhkannya dan fokus kembali ke novel.

"Naruto-sama," panggil Kizashi. "Ada yang aneh dengan lukisan ini."

Aku mendekat. Kizashi memandangi lukisan Anrokuzan yang sedang berdiri di depan ruang kerjanya sendiri. Pintu ruang kerjanya terlihat di samping dirinya, dan ia sedang tersenyum bangga. Apanya yang aneh ?

Semua tampak normal. Ini lukisan biasa dari cat air. Tidak ada lubang, gores, atau apapun yang menarik.

"Menurutku pintu itu mengganggu pemandangan," celetuk Kizashi bagai seniman terkenal.

Pintu ?

Ada lubang kunci di pintu itu, persis seperti keadaan aslinya.

Lubang kunci ?

Aku meraba lubang kunci itu. "Ini stiker," cetusku. Aku menariknya, dan tampaklah lubang kunci yang sesungguhnya. Kami berpandangan. Mengangguk sepakat, dan aku memasukkan kunci temuan kami ke lubang itu. Pas. Tapi tidak terbuka.

"Mungkin kata-kata yang digarisbawahi di novel itu juga harus disertakan," saran Kizashi. "Tapi bagaimana ?"

Aku melirik mesin ketik. "Kurasa aku tahu bagaimana caranya."

Kuketikkan kata itu. S-a-n-j-u-n-g. Dan –KLAK !

Lukisan itu membuka ke kiri, menampakkan sebuah lorong setinggi satu meter dan lebar sekitar 90 cm. Tanpa pikir panjang, kami merangkak masuk. Yah, termasuk dua bunshinku yang sengaja belum kuhilangkan, untuk jaga-jaga. Setelah sekitar sepuluh meter berjalan merangkak, kami menjumpai sebuah lift yang muat untuk enam orang, mengarah ke bawah.

"Kita pergi bersama," usul Kizashi. "Dan siapkan senjata," sambungnya sambil mencabut pedang dari sarungnya. Aku mengangguk. Menekan tombol, dan lift itu bergerak turun, jauh, jauh ke dalam tanah. Mungkin di fondasi menara tertinggi atau bahkan dibawah fondasi raksasa Kota Rouran ini sendiri. Aku jadi penasaran kapan tempat ini dibangun dan menghabiskan biaya berapa.

Dan tidak perlu menunggu lama, lift berhenti. Kami keluar dengan senjata di tangan, tapi ruangan itu tampak lengang. Tiang-tiang beton berjajar rapi menyangga bobot diatasnya –fondasi menara tertinggi. Anehnya, bebatuan dengan warna senada berserakan berantakan sepanjang lantai, dengan berbagai ukuran dan bentuk. Lebih tampak seperti sebuah batu raksasa yang dipecah menjadi ribuan keping dan ditaburkan di lantai. Suara desisan langsung tertangkap telinga.

"Kugutsu," cicitku. Kizashi mengangguk.

Tapi yang keluar seekor naga. Naga itu mendesis pelan pada kami, seolah memperingatkan kami sudah masuk ke teritorinya. Naga itu tampak normal-normal saja pada awalnya –rahang kokoh dengan gigi-gigi berbentuk segitiga dan agak pendek, sepasang kumis panjang khas naga, dengan sisik berwarna abu-abu gelap sewarna batu dan tonjolan-tonjolan tulang berwarna hitam menutupi leher, punggung, dan pangkal ekornya, semacam perisai. Empat kakinya berujung pada tiga cakar hitam melengkung di kaki depan dan lima cakar pendek di kaki belakang. Ekornya seperti gada ksatria abad pertengahan. Sepasang sayap besarnya berwarna merah cerah dengan motif segitiga.

"Oh, tidak," gerutu Kizashi. "Zyxwvur !"

"Ha ?"

"Zyxwvur !" Dia memperingatkan. "Dia lebih mengerikan dari Venator, kau tahu !"

"Dari segi mana ?" Tanyaku. "Karena pengucapan namanya yang sulit ?"

Oke, itu konyol. Tapi serius, 'Zyxwvur' itu kan berarti pembalikan urutan dari tujuh huruf terakhir dalam abjad: r-u-v-w-x-y-z ? (Kurasa kau juga memikirkan hal yang sama denganku, kan ?)

"Terserah kau mau bilang apa !" Protesnya. Naga itu menggeram. Aku membentuk Rasengan, tapi untuk mengantisipasi efeknya, bunshinku-lah yang kusuruh maju menyerang. Dan...

Naga itu menganga. Alih-alih menyemburkan api, lava, asap, oli, minyak, es, atau air, dia mengeluarkan tiga lingkaran konsentris berwarna biru –mirip tiga hulahup yang beda ukuran tapi sama warnanya- dan langsung memerangkap bunshinku di dalamnya (bayangkan seseorang yang berusaha memutar tiga hulahup sekaligus, tapi satu di pinggang, satu di dada, dan satu di lutut) dan bunshinku segera berubah menjadi batu abu-abu.

Aku merinding. Aku melihat patung Naruto yang bersiap melancarkan Rasengan –patungku sendiri ! Untungnya itu hanya bunshin dari bunshin. Naga itu mendengus dan menyabetkan ekor gadanya ke patung –BRAK ! Patung itu hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai.

"Jadi...semua batu disini adalah orang-orang yang mati saat berhadapan dengan naga ini ?!" Seruku.

"Dia berubah menjadi batu dan dihancurkan dengan mudah !" Timpal bunshinku yang tersisa.

"Sama seperti kalian kalau tidak segera pergi dari sini !" Sebuah suara bergaung di kepalaku.

"Hah ? Kizashi ? Naga itu bicara ?"

"Aku bicara melalui pikiran, manusia bodoh ! Sekarang pergi atau kuubah kalian jadi patung berwajah mengerikan !" Gertaknya.

Naga itu meraung, dan tiga riak suara menyebar dari mulutnya, membentuk sembilan lingkaran biru yang siap mengubah kami jadi batu. Kami langsung sibuk menghindar, dan aku membentuk lima bunshin lagi, berusaha menyerangnya.

Tapi dalam keadaan biasa, lingkaran aneh Zyxwvur terkendali seperti peluru –menyerang target dengan sangat cepat, sampai lima bunshinku berubah menjadi serakan batu dalam waktu semenit. Kulempar kunai ke matanya, tapi meleset.

"Tak ada gunanya bahkan kalau kalian membutakan mataku," ucap sang naga. "Aku punya pendengaran yang amat tajam !"

Pendengaran yang amat tajam ? Kurasa harus kukaji ulang yang itu. Sebuah ide iseng terlintas di kepalaku.

"Kizashi," panggilku, "hantamkan dua pedang kita,"

Dia tampak bingung, tapi dilakukannya juga. Aku membenturkan Pedang Rikudo dengan pedangnya. Kami beradu seperti petarung sungguhan dan diam-diam aku menggeser pedangku ke bawah, menimbulkan suara decitan yang menyakitkan dari tumbukan dua logam. Kizashi meringis, aku juga.

Aku melirik naga itu dan kusadari dia menjadi gila –Zyxwvur melolong dan meraung tak henti, jelas terganggu dengan suara decitan itu. Gelombang suara birunya ditembakkan tak tentu arah, tapi untungnya tidak satupun yang mengenai kami.

"Cepat ! Pintunya di belakang !" Seru Kizashi –yang sudah tahu strategiku.

Naga itu menoleh pada kami dan berusaha mengejar. Sialnya, pintu itu cukup besar untuk dilalui naga sebesar dua mobil itu. Mendadak, aku terpikir ide lain, jadi tak kupedulikan dia dan terus berlari sampai menemui sebuah ruangan yang...penuh dengan Kugutsu naga.

"Kenapa kau biarkan dia mengikuti kita ?" Seru Kizashi begitu kami tidak tahu harus mengarah kemana. Aku tersenyum kecil. Dia belum tahu strategi keduaku rupanya.

DRAK

.

Zyxwvur itu berada tepat di belakang kami sekarang. Aku bisa merasakan napasnya dan membaui belerang. "Kizashi," bisikku.

"Apa !"

"Berusahalah berkelit sebisamu," aku berpesan. Aneh, tapi aku mulai menjalankan rencanaku.

Para Kugutsu mendengus. Dari hidung mereka keluar uap, tapi bukan berasal dari paru-paru. Mata mereka merah menyala. Aku bukan Dracotolog (orang yang ahli dan mempelajari soal naga) tapi aku mengenali beberapa diantara mereka adalah 'replika' dari Burning Dragon, Vereev, Venator, bahkan Zechuan –walau aku sangsi yang itu bisa menyemburkan sinar radioaktif atau punya lebih dari satu jiwa.

Aku dan bunshinku mengeluarkan pedang dan langsung melakukan hal yang sama ketika bersama Kizashi –membenturkan dua pedang hingga menghasilkan suara berdecit yang menyakitkan telinga –manusia maupun naga.

"RRRAAAAAARRRRRRR ! ! ! !"

Zyxwvur memekik keras-keras, menggeleng-gelengkan kepala. Bersamaan dengan itu, puluhan lingkaran biru terpancar tak tentu arah dari mulut lebarnya, menyebar ke segala penjuru dan ... mengubah lusinan Kugutsu menjadi batu dalam beberapa menit.

"Sesuai dugaanku !" Pekikku sambil terus mendecitkan pedang. "Kemampuannya tidak hanya terbatas pada makhluk hidup !"

Zyxwvur itu sendiri akhirnya roboh kelelahan –mungkin telinganya berdenging cukup parah dan aku tidak mau mengetahuinya- tepat setelah Kugutsu terakhir diubah menjadi bongkahan batu.

"Genius !" Seru Kizashi sambil mengacungkan dua jempolnya. Aku memutar bola mata malas. Aku sedang tidak berselera menikmati pujian di saat-saat begini. Untungnya –atau mungkin sialnya- Anrokuzan tidak berada disini untuk mendengarkan 'Melodi-kematian-instan-jadi-patung' Zyxwvur.

"Ampun, Tuan !" Seru Zyxwvur dari dalam kepalaku. "Lakukan apa saja kecuali mendecitkan pedang ! Kau bebas sekarang deh !"

Aku menyeringai menang. "Tetaplah disana," balasku. "Kurasa kami akan membutuhkanmu."

"Terimakasih, Tuan ! Apapun !"

.

.

"Kalian menghabisi lusinan Kugutsuku dalam waktu dua menit," sebuah suara bersua. "Tidak buruk...aku benci mengatakannya tapi...kerja bagus."

Kami bertiga menoleh ke sumber suara.

"Gembrot pengkhianat !" Tuding Kizashi. "Ayo sini biar kubuat kau langsing !"

"Hahahahaha !" Anrokuzan tertawa. Tawa yang begitu berbeda daripada saat kami menikmati perjamuan makan atau berhasil membunuh Basilisk.

"Dimana Sara ?" Geramku.

Ia menghentikan tawanya dengan susah payah. "Oh, Sara-sama ya ?" Godanya. Ia menarik sebuah tuas di dekatnya dan dinding sebelah kiri kami membuka. Sebuah kerangkeng tampak di tengah ruangan berbentuk bundar yang dipagari jeruji besi kokoh di sekelilingnya. Dan disana...puluhan naga sebesar kambing mendesis dan mengatup-ngatupkan mulut. Aku bisa melihat siapa yang berada dibalik kerangkeng itu.

"Sara !"

Ia terlalu takut untuk menjawab. Satu hal yang pasti, ia terkejut bagaimana aku bisa sampai disini –plus Kizashi.

"Bayi-bayi Venator," ucap Anrokuzan santai. "Mereka suka daging."

"Kau bercanda," sergah Kizashi. "Manusia macam apa kau, yang tega menjadikan pemimpinmu sendiri sebagai makanan naga ?!"

"Apa kau bodoh ?" Balas Anrokuzan. "Mereka spesies langka ! Satu dekade yang lalu jumlah mereka hanya beberapa ratus. Kubiakkan beberapa pasang Venator di ruang rahasia ini dan dalam waktu sepuluh tahun keturunan mereka berlipat ganda. Aku kadang sampai masuk dan menjarah bangkai-bangkai orang yang tidak dihabiskan Basilisk untuk memenuhi nafsu makan mereka !"

"Dan kau membiarkan satu untuk meneror Rouran waktu itu," cetusku.

"Itu kecelakaan yang tidak disengaja," kilah Anrokuzan. "Bagaimanapun, mereka tidak boleh punah. Sebenarnya naga Wivereslavia-mu juga demikian. Aku bertekad menemukan yang seperti itu selama bertahun-tahun, tapi belakangan kuketahui bahwa jumlahnya tinggal satu, dan itu adalah milikmu."

Aku meneguk ludah. "Tujuanmu baik," desisku. "Kenapa tidak bergabung dengan kelompok pecinta naga saja ?"

"Bah ! Aku lebih suka bekerja sendiri. Untuk apa gunanya teman kalau tidak bisa diandalkan."

"Sayang sekali," timpalku. "Karena aku benci orang yang mengabaikan teman."

Aku merengsek maju, menyabet Anrokuzan dengan kunai, tapi rasanya seperti beradu dengan tiang listrik. Anrokuzan terkekeh, lantas mencengkeram kerahku dan melemparku ke belakang. Untungnya bunshinku yang lain sempat menangkapku, jadi aku tidak sempat buyar seperti asap.

Ia menyibak jubah ungunya. Aku langsung tahu kenapa bertubrukan dengannya bisa sekeras itu. Ia mengenakan baju zirah ungu yang menutupi nyaris seluruh tubuhnya, dengan celah-celah kecil diantara anggota geraknya. Baju zirah itu terlihat ringan tapi kuat, yang mungkin akan menguntungkannya.

"Kalian menonaktifkan dua pertiga Kugutsu-ku," gerutunya. "Tapi masih ada sepertiga lagi yang harus kalian tangani !"

Ia mengangkat tangan, dan dinding belakang meledak. Naga-naga robot berwarna perunggu menyerbu ke dalam ruangan, menyemburkan api dengan murka, beberapa bahkan melempar jaring dan rantai dari mulut lebarnya.

"Zyxwvur !" Seruku. "Buat mereka jadi patung !"

"Aye, Tuan !" Balas naga itu patuh. Ia menembakkan gelombang sirkelnya bertubi-tubi, sementara aku dan Kizashi bersiap-siap dengan kunai peledak. Anrokuzan mengamati kami dengan wajah cemberut. Pasti dia tidak mengira kami berhasil membuat naga penjaga itu berpihak pada kami.

"Kau naif," gerutu Anrokuzan lagi. Begitu menyadari ia berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, dia berlari meninggalkan kami.

"Kejar dia !" Pekik Kizashi. "Naga ini dan aku akan membereskan sisanya ! Jangan sampai dia melakukan apapun pada Sara-sama !"

Aku mengangguk setuju, dan memberi isyarat pada Zyxwvur untuk melanjutkan kerja bagusnya, kemudian berlari secepat yang kubisa bersama bunshinku yang tersisa mengejar Anrokuzan.

Jika saja aku tidak memakai Sennin Modo, pasti sudah kehilangan jejak. Sialnya, Anrokuzan berhenti di sebuah kerangkeng raksasa, dan aku mengenali isinya. Kira-kira selusin Venator dewasa dengan panjang sepuluh sampai lima belas meter, menggeram ganas dibalik jeruji baja.

"Kira-kira apa yang akan terjadi kalau kulepaskan ini ?" Ejeknya sambil menimang-nimang sebuah kunci gembok. "Daripada kau yang menguliti mereka, merekalah yang akan mencabik-cabikmu !"

Aku nyaris berkata aku ini cuma bunshin, tapi itu hanya akan membuat Anrokuzan makin bernafsu menyerangku. Aku harus menjaga agar dia berpikir kalau aku adalah Naruto asli. Sebentar ! Apa dia tidak tahu Perang Dunia Naga Keempat sedang dimulai ?

Ia memutar-mutar anak kunci di gembok sebesar dua tangan yang dikatupkan.

CKLAK !

"Sialan kau," umpatku.

Kerangkeng berderit terbuka, dan selusin Venator ganas langsung menghambur keluar, mengatup-ngatupkan rahang mereka dan mendesis nyaring. Aku dan bunshinku berlari ke arah dimana kami datang.

"Kita tidak mungkin bisa menangani mereka sekaligus ! Satu saja sudah cukup sulit, apa lagi selusin !" Seru bunshinku.

Aku mengangguk. Melirik jendela raksasa di sebelah kami –sekitar lima meter dari lantai- dan berkata, "Kalau begitu kita pancing mereka keluar."

PRANG !

Jendela bermozaik itu pecah begitu kami hantam, langsung berlari secepat-cepatnya tak tentu arah.

"Yo, Tuan !" Panggil Zyxwvur. Aku menoleh terkejut. "Butuh tumpangan ?"

Aku melompat ke punggungnya. "Kemana ?" Tanyanya.

Untuk beberapa saat, aku terdiam. Kurasa naga ini juga tidak cukup cepat untuk mengubah dua belas Venator yang bergerak gesit dan cepat menjadi batu seluruhnya, jadi aku perlu memikirkan solusi yang lebih baik. Pikiranku buyar ketika mengetahui dua belas naga mimpi buruk itu sudah membobol lantai menara dan terbang mengejar kami.

Zyxwvur terbang lebih pelan daripada Venator, jadi cepat atau lambat kami pasti terkejar. Aku butuh sesuatu yang dapat mengatasi dua belas naga ekstrim dengan sekali tindakan !

Ledakan ? Tidak, itu sudah pernah dicoba dan tidak berhasil. Aku juga tidak mungkin menggunakan Tajuu Kagebunshin dan menguliti mereka berduabelas bersamaan. Sial ! Ini bahkan tidak akan semudah melawan Basilisk !

Tunggu. Basilisk ?

Ya ! Basilisk ! Naga itu dapat membunuh puluhan orang dalam waktu sedetik hanya dengan satu syarat: menatap matanya. Hiruko pernah bilang kalau bahkan saat Basilisk mati, kemampuan matanya akan tetap hidup. Tapi dia bilang 'walau hanya untuk beberapa menit'.

Masa bodoh. Hanya itu harapanku.

"Zyxwvur ! Pergi ke Menara Tenggara !" Perintahku.

"Itu tempat Basilisk, kan ?" Balasnya dengan nada datar. Kurasa dia tidak takut. Malah aku curiga mereka sudah saling kenal. Aku mengangguk.

Para Venator makin dekat. Kulempar beberapa kunai peledak untuk memecah konsentrasi mereka. Itu berhasil memperlambat mereka beberapa detik, membuat jarak yang lebih jauh antara aku dan para Pembantai Bersayap itu. Menara Tenggara terlihat. "Pegangan, Tuan !" Seru Zyxwvur. "Aku akan menabrak dinding dan membuat lubang besar ! Sekarang dimana kira-kira mayat Basilisk itu berada ? Aku akan menabraknya sedekat mungkin !"

"Lantai enam," ujarku. Naga ini terbang dengan kecepatan penuh dan aku melompat ke udara, menggapai salah satu kusen jendela mosaik agar tidak menghilang. Begitu lubang besar tampak menganga di dinding, aku masuk ke dalam. Basilisk masih ada disana –dengan keadaan mati, kepala hangus dan kedua kaki tertekuk ke belakang tertebas elemen angin.

Untuk pertama kalinya (dan terakhir kalinya) aku senang mata Basilisk masih terbuka. Aku tahu itu dari Zyxwvur yang aman-aman saja saat melihat matanya, jadi aku tahu naga itu rupanya kebal pada tatapan mata sang Basilisk.

"Mereka datang."

Susah payah aku mengangkat Basilisk, menghadapkan matanya ke depan, ke lubang menara ... tepat ketika kawanan Venator sampai.

Mereka memang cerdas, tapi tidak secerdas itu untuk menganalisa tindakanku.

Aku tidak melihat mata sang naga, tapi aku bisa merasakan sentakan kekuatan dalam dirinya –bahkan walau sudah tidak bernyawa- seolah malaikat maut sendiri 'ditembakkan' dari mata sang Basilisk, mencabut nyawa korbannya yang terlihat. Selusin Venator jatuh berdebum ke tanah dalam waktu beberapa detik. Mereka lebih ceroboh daripada yang terlepas beberapa minggu lalu di Rouran.

Satu selamat, dan dia menutup mata, merengsek maju, tapi segera diubah menjadi batu oleh Zyxwvur, dan pecah berkeping-keping saat menghantam tanah. Kami berdua tersenyum puas.

"Tuan harus coba memecahkan barang sekali-kali," celetuk Zyxwvur. "Rasanya asyik lho."

"Aku akan coba," timpalku. "Terimakasih untuk semuanya. Oh, dan tidak perlu kau panggil aku tuan."

Dia mengangguk. Aku naik kembali ke punggungnya –setelah dia melahap mayat Basilisk dengan dalih kelaparan, selain untuk mencegah kejahatan lain yang berniat memanfaatkan matanya- dan terbang kembali menuju Menara Tertinggi. Naga ini mengingatkanku pada Kurama, dan yang mengejutkan, karakter mereka mirip pada awalnya. Kecuali, dia lebih sopan.

.

.

.

.


Dahila Grassland

'Real' Naruto's POV

"Jika itu memang benar-benar kuat, mari kita buktikan," sergah Itachi. Ia mengaktifkan lagi Mangekyo Sharingan, menampakkan sosok kerangka berwarna merah oranye yang kemudian diselubungi pakaian seperti perban dan topeng berhidung mancung, bertaring, dan sebuah intan di dahinya. Susano'o Itachi –sekarang mengeluarkan sebuah kendi aneh yang entah terbuat dari apa, sekaligus sebuah pedang yang tampak terbuat dari api.

Sekilas tidak ada yang istimewa dari pedang itu selain ukurannya yang bisa jadi tusuk sate kerbau (maksudku, kerbau utuh), tapi Itachi berseru, "Lawanlah Uliran Samsara-mu dengan Totsuka no Tsurugi-ku !"

"Totsuka no Tsurugi," ulang Kurama. "Akhirnya aku bisa melihatnya. Aku melihat empat pedang terkuat, itu sangat wow !"

"Diam," aku menginterupsi. Udik sekali naga yang satu ini.

Deavvara menyeringai jahat. "Dengan senang hati !" Lolongnya. Ia berlari maju, menghunus Uliran Samsara yang berpedar memancarkan aura menakutkan, seolah memberitahu 'Hei, kematianmu sudah dekat, lho'.

Itachi menggerakkan tangan Susano'o-nya, menangkis Uliran Samsara dengan Totsuka no Tsurugi. Angin berembus mengerikan ketika dua pedang hebat itu bertubrukan. Yang mengejutkan, Susano'o Itachi terdorong sedikit ke belakang begitu menangkis pedang magis itu.

Deavvara beralih menarik senjatanya, menghantam Totsuka no Tsurugi dari bawah, membuka titik serang.

.

.

Apa yang kau ketahui soal Susano'o ? Pertahanan absolut yang tidak bisa diserang atau ditembus ? Jutsu kelas-S sempurna yang memungkinkan penggunanya untuk bertahan sekaligus menyerang ? Itu benar, tapi tunggu sampai kau melihat Uliran Samsara.

Deavvara menusukkan ujung pedang berbentuk bor itu ke perut Susano'o Itachi dan –TRAK !

Susano'o itu retak. Retak di tempat Uliran Samsara menusuknya. Itachi tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Begitu pula dengan aku, Kurama, Demetra –terlebih Sasuke. Tapi Ardhalea hanya memandang datar seolah itu sudah semestinya terjadi.

"Sampai bisa menembus Susano'o," desis Sasuke. "Apa Uliran Samsara benar-benar sekuat itu ?"

Deavvara tertawa jahat. Guntur menyambar-nyambar di langit dan angin berpusing menjadi puting beliung di beberapa tempat yang jauh.

"Aku bisa menghancurkanmu," katanya pongah pada Itachi, "tapi kurasa kau kakak-yang-sayang-adik ! Menjijikkan !"

"Diam !" Hardikku. Aku benar-benar tidak suka kalau ada yang mengejek teman-temanku sampai sedalam itu. Deavvara menghentikan tawanya dan mengarahkan ujung senjata mengerikan itu ke dadaku.

"Kau selanjutnya ?" Tanyanya sinis dengan suara mirip orang yang ketagihan alkohol. Sosoknya yang sekarang tampak begitu jahat sehingga mungkin membuat para teroris kelas dunia kabur ketakutan dan bersembunyi dibalik ketiak ibu mereka.

"Itachi," panggil Ardhalea. "Mundurlah."

Ia berpaling pada Kurama dan Demetra...padaku. "Kalian semua, pergilah. Ini pertarungan yang mesti kuselesaikan. Aku tidak mau kalian semua menanggung apa yang harus aku tanggung."

Aku merinding. Pasalnya ... dia mengatakan itu dengan suara gemetar. Suaranya bergetar. Daripada ketakutan, itu lebih seperti...dia tahu apa yang akan terjadi. Aku meneguk ludah. Siapa yang berani-berani membuat senjata terkutuk itu, sih ?!

"Ardhalea," ucapku, mencoba terdengar berani. "Kita akan menghadapi ini bersama-sama."

Untuk sesaat dia tertegun, tapi kemudian menunduk dan menggeleng. "Hadapi Madara," bisiknya. "Aku akan mengatasi Deavvara," iris obsidiannya yang sekarang kelabu seperti badai menatap safirku lekat-lekat. Ia menggenggam tanganku.

"...aku akan menang," bisiknya. "Aku janji."

Menakutkannya, itu lebih terdengar seperti ucapan pesimis daripada optimis. Tapi dia kan abadi, sebuah suara bergema di otakku. Apa yang perlu dikhawatirkan ? Kau-lah sasaran empuk Deavvara !

"MENYEDIHKAN !" Pekik Deavvara –menghunus Uliran Samsara.

TTRRRAAANNGG ! ! !

Ardhalea menangkis dengan pedang lengkungnya. Hebatnya, pedang itu tidak retak. Mungkin karena tidak menghantam ujung Uliran Samsara. Mereka beradu sengit beberapa detik.

"Lari," ucapnya pelan.

"Tidak," balasku cepat.

"Naruto !" Seru Ardhalea, memelototiku, menyuruhku pergi. Aku bergeming.

"Tidak !" Aku menghunus Pedang Rikudo. "Aku akan membantumu !"

SLASH !

Aku menyabetkan pedang berwarna batu bara itu ke Deavvara, melukai pinggangnya dan membuatnya terpental ke belakang. Ia mengaduh, lalu berusaha bangkit. Uliran Samsara terlepas dari tangannya. Ingin aku merebutnya, dan langsung menancapkannya dalam-dalam ke tubuh sang pengkhianat itu, tapi sesuatu dalam diriku menghentikannya.

Deavvara bangun dengan cepat, mengambil kembali Uliran Samsara dan menyerangku –tapi ditepis oleh Ardhalea. Mereka kembali terlibat baku serang.

"Dari dulu kau selalu mementingkan yang remeh-remeh !" Pekik Deavvara.

"Seseorang jatuh karena kerikil, bukan karena bukit !" Balas Ardhalea.

"Kau mementingkan manusia !" Seru Deavvara lagi. "Untuk apa ?! Aku kakakmu sendiri ! AKU ! Kau-lah yang menyebabkan tangan kananku jadi begini, dan kau melakukan itu HANYA untuk melindungi manusia ?! Adik macam apa kau !"

"Aku melakukan yang harus kulakukan !" Balas Ardhalea lagi. Suaranya tampak pedih hingga kukira sebentar lagi dia akan menangis, tapi keduanya tetap tegar meski terjebak dalam pertarungan emosional. "Kalau kau memilih jalan kebaikan, kau akan bahagia, nii-san !"

"TIDAK ADA KATA BAHAGIA DALAM KEHIDUPANKU !" Sentaknya keras-keras.

"SETIAP MAKHLUK HIDUP BERHAK BAHAGIA !" Balas saudaranya tak kalah keras.

"SEMUA KECUALI AKU !"

"JANGAN BICARA BEGITU !"

"Bicara apa kau ! Kau Paradox ! Kau penuh kebahagiaan ! Aku Ortodox ! Aku tidak pernah merasakan ke–"

"Kau akan penuh dengan kebahagiaan begitu kau mengikuti jalanku !" Ardhalea tetap berusaha membujuk kakaknya. Matanya berkaca-kaca.

.

"Deavvara !" Bentakku. Mereka berdua menoleh ke arahku. "Bisa tidak."

"SEKALI SAJA KAU DENGARKAN ADIKMU ?!"

.

Mereka berdua terdiam. Mungkin tidak menyana samasekali kalau seorang manusia berani menyela pertengkaran mereka. Aku pasrah apa yang akan terjadi beberapa detik ke depan. Deavvara menghela napas berat.

"Mungkin tidak."

Aku meremas gagang Pedang Rikudo. Deavvara menghantamkan sisi tumpul Uliran Samsara ke sisi tubuh kanan Ardhalea, membuatnya terjatuh merengsek di rumput. Sasuke dan Itachi maju, mengabaikan perintah Ardhalea dan menyerang Deavvara, tapi laki-laki-setengah-naga itu meladeni mereka bagai meladeni dua ekor lalat. Dalam waktu sebentar saja keduanya sudah tumbang, chakra mereka diserap oleh Uliran Samsara. Kurama dan Demetra ikut maju, namun Deavvara menghantamkan senjatanya ke tanah, memunculkan duri-duri sebesar rumah yang meninju kedua naga oranye itu dan jatuh berdebum.

"HAAAAAAAAAAAAA...! ! !"

Aku berteriak maju, menghunus Pedang Rikudo. Pedang kami berbenturan, dan aku merasa seluruh tulangku menggigil. Deavvara menyabet pergelangan tanganku dengan sisi tumpul Uliran Samsara, membuatku melepaskan satu-satunya senjataku. Ia menendangku keras, membuatku jatuh tersungkur di padang rumput, dan mengarahkan ujung senjata mengerikan itu tepat ke leherku.

Dengan semua kemampuanku sekarang, rasanya tidak berarti begitu berhadapan dengannya.

Sial.

.

.

Kenapa ?

Kenapa aku selalu tidak cukup kuat ?

.

Aku ingin bangkit, mengambil pedangku lagi dan bertarung habis-habisan. Tapi otot-otot tubuhku rasanya mencair. Deavvara menggenggam Uliran Samsara dengan penuh amarah dan melayangkan ujungnya berkelebat tepat ke dadaku.

.

.

"MATILAH, MANUSIA !"

.

.

.

.

.


Setelah itu, aku tidak ingat apapun.

Aku hanya memejamkan mata. Refleks yang sangat umum bagi manusia yang terancam bahaya. Saat sumsum tulang belakang mengambilalih. Saat keberanian meleleh dan tekad mulai runtuh. Alih-alih berusaha berkelit, aku lebih memilih memejamkan mata menunggu keajaiban. Sungguh menjijikkan.

.

.

Aku membuka mata. Kuraba dadaku, perutku, seluruh tubuhku. Semuanya masih utuh. Aku bangun, dan menyadari aku tertidur di padang ilalang yang indah, dibawah sebatang pohon ek besar yang rindang. Bunga-bunga dandelion berkumpul di sekelilingku, menebarkan benih mereka yang berwarna putih kapas begitu angin sejuk menerpa. Aku mengusap mata. Aku mendongak dan melihat sarang burung. Awan, dan langit biru.

Apa aku sudah mati ?

Aku berjengit, mengingat kejadian barusan. Apa ada kemungkinan Deavvara menteleportasikanku ke tempat lain daripada membunuhku begitu saja ?

"Ardhalea !" Panggilku.

"Sasuke ! Itachi !"

"Kurama ! Demetra !"

Semua panggilanku dijawab oleh hembusan angin yang menenangkan. Aku menghirup napas dalam-dalam. Udaranya terasa sangat bersih.

Dan kuno. Entah kenapa. Aku memeriksa sekitar. Aku agak terkejut, karena mataku menangkap puncak sebuah pohon –yang lebih terlihat seperti bunga raksasa yang sedang kuncup, menyembul dibalik pegunungan yang membiru indah. Pohon itu...lebih tinggi dari gunung ?

Aku menurunkan pengelihatan sepanjang kaki gunung dan mendapati dua sosok sedang duduk dibawah pohon mapel, sekitar seratus meter dariku.

Akhirnya. Ada orang. Aku harus kesana dan bertanya ini-itu. Aku tidak peduli siapa mereka. Yang kupedulikan adalah jawaban tempat apa ini dan kenapa aku bisa ada disini.

"Permisi !" Seruku ketika jarak kami cukup dekat untuk saling mendengar. Aku bisa melihat mereka –dua-duanya perempuan. Satu perempuan dengan sebuah harpa berwarna emas di sampingnya, sedang membaca sebuah gulungan, atau mungkin lebih tepatnya membacakannya pada perempuan di sebelahnya. Perempuan itu memiliki rambut lurus yang sangat panjang, mungkin sepanjang seluruh tubuhnya, dibiarkan tergerai di tanah dan pangkuannya, dan mengenakan jubah panjang dengan tepi corak magatama. Dua tanduk di kepalanya, dan bulatan diatas mata berwarna anehnya. Bibirnya seperti baru dipoles lipstik dan kuku-kukunya panjang dan tajam seperti cakar.

Sulit mengenali apa orang-orang ini orang baik atau jahat. Perempuan di sebelahnya, yang tampak lebih muda –mungkin seusiaku, mengenakan kimono perak yang sewarna dengan rambut sepinggangnya. Ia terpejam, seolah mendengarkan perempuan di sebelahnya dengan seksama.

"Anu...permisi, maaf mengganggu...?"

Tidak ada respon. Mereka berdua tetap sibuk dalam aktivitas masing-masing. Aku terpaksa lebih dekat lagi dan menanyakan hal yang sama, tapi mereka tidak mendengar.

Atau memang tidak dengar. Jangan-jangan ini sama seperti saat aku mendapat pengelihatan soal Sara yang dikhianati Anrokuzan. Aku merinding. Apa ini artinya aku sudah mati ? Maksudku...tempat apa ini, sih ? Dan siapa kedua perempuan ini ? Penampilan mereka tampaknya cukup...kuno. Harpa juga bukan alat musik yang banyak dijual, setahuku. Mereka tenggelam oleh terompet, gitar, piano, drum, biola, atau sekedar koto dan shamisen.

Akhirnya aku hanya duduk bersila di dekat mereka dan mendengarkan apa yang perempuan bertanduk itu baca.

.

"...pangeran yang hilang telah berhasil ditemukan oleh sang putri pemberani. Mereka bersama-sama kembali ke kerajaan. Sang putri akhirnya jatuh cinta pada pangeran dan mereka menikah dan..."

"Hidup bahagia selamanya. Tamat. Selesai. Rampung," tabrak perempuan di sebelahnya. "Itu kan akhir ceritanya ?"

Wanita itu tertawa dengan suara khas yang tidak pernah kudengar sebelumnya. "Kau menghafalnya, ya, Sayang ?"

Perempuan di sebelahnya membuka mata, menampakkan iris obsidian badai kelam-nya. Aku terperanjat.

Rambut perak itu ! Kenapa aku bisa tidak kenal ?!

Aku sedang memandang Ardhalea, Sang Paradox.

"Ardhalea !" Panggilku. Tetap tidak ada respon.

"Tidak juga," akunya. "Banyak cerita klasik semacam itu. Mereka berakhir bahagia dengan jalan cerita biasa. Tokoh-tokohnya biasa, konfliknya biasa dan itu-itu saja. Akhirnya juga sama...mudah ditebak," katanya sembari memainkan kupu-kupu yang sedari tadi bertengger di jemari-jemarinya. Sayap biru lautnya mengepak-ngepak indah.

Wanita itu menggulung perkamen dongengnya, kemudian memetik harpa. "Menyanyi bersama-sama ?" Tawarnya.

Ardhalea menggeleng pelan. "Bosan."

"Mendengarkan cerita bosan," timpalnya, "bernyanyi dan memetik harpa juga bosan. Apa sebentar lagi kau juga akan bosan bermain kupu-kupu ?" Ledeknya. Aku bersandar manja ke bahunya, memejamkan mata. Kupu-kupu itu masih ada di tanganku.

"Ibu," bisik Ardhalea.

"Ya, Sayang ?"

"Aku ingin melihat ayah."

Wanita itu terdiam. Jemari-jemari lentik berkuku panjangnya berhenti memetik senar harpa. "Suatu hari kau akan melihatnya," jawabnya hambar.

"Seperti apa rupanya ?"

"Hmm...seperti apa yaa ? Dia tampan. Jenggotnya sampai melebihi dadanya. Rambutnya panjang dan matanya punya warna hitam dan ungu sepertimu dan kakakmu. Kadang-kadang sayap kulit tumbuh di punggungnya dan tanduk ada di kepalanya. Dulu ibu sering memanggilnya 'malaikat pendampingku'," ceritanya sambil cekikikan sendiri.

Aku tertegun.

Ibu ?

Jadi...aku sedang berhadapan dengan Ardhalea dan juga...Ootsutsuki Kaguya, manusia pertama yang menggunakan chakra ?! Kalau begitu sekarang tahun berapa ?! Berapa abad sebelum aku –orangtuaku, bahkan buyutku dilahirkan ?! Tapi daripada ambil bingung, kuyakinkan diriku untuk mendengarkan mereka lebih jauh.

"Ibu ... manusia, kan ?" Tanya Ardhalea lagi.

"Kaupikir ibumu ini apa ? Dewi ?" Balas Kaguya sambil tertawa kecil. "Walaupun semua orang menyebut ibu begitu, ibu masih merasa manusia, kok."

"Lalu kenapa...ibu bisa jatuh cinta dengan seekor naga ?"

"Manusia setengah naga," koreksi Kaguya. Ia mengehela napas panjang. "Ardhalea Sayang," katanya, "apa yang kau ketahui tentang cinta ?"

"Jalan pintas untuk menyelesaikan cerita ?" Balas Ardhalea polos. Aku menepuk dahi, tapi tentu saja mereka tidak mengetahuinya.

Kaguya tersenyum kecil. "Lihat kedua rusa itu ?"

Aku menoleh ke arah yang dia tunjuk. Tampak sepasang rusa, kelihatannya betina-jantan, sedang berjalan bersama sambil sesekali mengelus leher sesamanya. Kawanan lainnya ada tidak begitu jauh dari mereka, tapi mereka tampaknya berpisah.

"Cinta ada di setiap makhluk hidup," bisik Kaguya. "Bahkan pohon dan jamur sekalipun. Kedua rusa itu misalnya. Kenapa mereka berpisah ? Seringkali untuk mendapatkan sesuatu yang besar, kau harus mengorbankan sesuatu yang tidak kecil juga. Tapi jika pilihanmu tepat, kebahagiaan akan mendatangimu. Ingatlah ini baik-baik, Ardhalea..." nasihatnya.

"Kenapa naga bisa mencintai seorang manusia ? Itu bukan kesalahan, Sayang. Lagipula ayahmu...tidak sepenuhnya naga. Begitu pula denganmu dan kakakmu," Kaguya melambaikan tangan, dan sepucuk tanaman mawar lengkap dengan bunga dan batangnya tumbuh dari tanah. Si kupu-kupu beranjak dari tangan Ardhalea dan hinggap di bunga merah merekah itu.

"Dari dulu, mawar digunakan sebagai simbol cinta," jelas Kaguya pendek.

Ardhalea mengangguk. "Aku sering mendengarnya. Orang-orang bilang untuk mencapai cinta alias mawar, kau harus berusaha melewati duri-durinya terlebih dahulu. Sesuatu yang indah selalu harus dilindungi. Dan tidak mudah untuk digapai..."

"Pintar," puji Kaguya. Ia kemudian memetik harpanya lagi. "Harpa juga digunakan sebagai simbol cinta. Alat musik ini...sering dikatakan sebagai pembawa jalan ke surga atau semacamnya. Entahlah soal itu, yang penting harpa memang benar-benar indah. Dalam lukisan-lukisan kuno, para malaikat biasa menyandang alat musik ini."

Kaguya melanjutkan ceramahnya. Sehelai daun mapel merah dengan semburat kuning meluncur jatuh ke pangkuannya.

"Daun mapel banyak gunanya," terangnya, "bisa diolah menjadi sirup mapel yang manis. Itulah kenapa cinta selalu dikaitkan dengan sesuatu yang manis. Tidak heran beberapa klan menggunakan daun mapel atau daun-daun lainnya sebagai lambang klan mereka."

Kaguya menjentikkan jarinya. Pemandangan sekitar yang tadinya berupa padang rumput indah dengan beberapa pohon dan suasana sejuk yang begitu menenangkan, berganti menjadi pemandangan tepi danau berbatu dengan air sejernih kaca dalam satu kedipan mata. Aku terkejut, karena aku tidak "tertinggal" di pemandangan sebelumnya atau begitu cepatnya Kaguya bisa merubah scene.

Anehnya (selain aku), pohon mapel, harpa, dan mawar berikut kupu-kupunya masih ada di tempat, menaungi mereka. Kaguya mengambil sesuatu dari air. Seekor kerang dengan cangkang berwarna gading.

"Kerang juga digunakan sebagai lambang cinta," jelas Kaguya lagi. "Mereka melindungi sesuatu yang begitu indah, dengan cangkang mereka yang kuat."

"Mutiara ?" Tebak Ardhalea. Kaguya mengangguk.

"Juga moluska yang hidup di dalamnya. Itulah cinta. Selalu melindungi. Saling melindungi. Apapun situasinya. Tegar dalam gemuruh ombak dan pasang surut air. Begitu meyakinkan."

Sang Kaguya menjentikkan jarinya lagi, dan pemandangan kembali ke padang rumput. Aku juga ikut terbawa. Tak lama, aku mendengar suara.

"Ternyata kalian disini. Sudah kucari kemana-mana."

Rasanya aku kenal suara itu. Tapi sebelum aku berpaling untuk melihat, sesosok manusia berjubah ungu berjalan melewatiku dari belakang begitu saja, seolah aku ini makhluk transparan –atau lebih tepat dan mengerikannya, makhluk gaib.

Aku mengenalinya. Deavvara. Hanya saja...lebih muda dan lebih ganteng. Kedua tangannya, terutama tangan kanannya, masih normal manusia biasa. Rambut hitamnya panjang sebahu dan ia tersenyum. Deavvara tersenyum. Dia tampak jauh lebih tampan saat tersenyum.

"Sedang apa ?" Tanyanya klise, lalu duduk di sebelah Ardhalea.

"Kau berkeringat," cetus Ardhalea. "Bau. Pergi sana."

"Dengan kakak sendiri saja begitu," ledek Deavvara.

"Ardhalea Sayang, kalau sikapmu begitu terus, nanti kau tidak punya teman," Kaguya menasihati, "omong-omong, Hamura dan Hagaromo dimana ?"

"Mereka sedang berlatih," jawab Deavvara. "Aku baru selesai berlatih bersama mereka, makanya berkeringat," imbuhnya. Ia melirik adiknya. "Akhir-akhir ini kau jarang berlatih."

Ardhalea memutar bola mata malas. "Untuk apa ? Dunia ini aman-aman saja selama ada ibu," jawabnya santai. "Dia bisa menjadikan selusin monster setinggi gunung jadi daging cincang."

Kaguya tertawa pendek, tapi kemudian membelai rambut putrinya penuh kasih. "Itu penting untukmu. Untuk kalian semua. Saat ayah kalian kembali, kalian sudah jadi orang-orang yang kuat, yang akan membuatnya bangga. Terlebih kalian berdua."

"Aku masih enam belas tahun," Ardhalea berkilah.

"Aku tujuh belas," sambung Deavvara.

"Tidak ada yang tanya," cibir adiknya. Deavvara meringis dan mengacak-acak rambut adiknya.

Aku menangkupkan jari-jari tangan kananku ke dagu, pose berpikir. Enam belas dan tujuh belas ? Itu berarti ratusan tahun yang lalu. Dunia yang begitu indah ini...ini masa sebelum Juubi melepaskan diri dari bentuk pohonnya –Shinjuu, mengamuk, dan meneror dunia. Aku yakin. Aku sedang menatap sosok Ardhalea dan Deavvara, Paradox dan Ortodox, dalam usia muda mereka. Aku tidak bisa mengatakan mereka masih remaja karena mereka berdua tampaknya sama-sama abadi. Entah kenapa.

Kembali kulempar pandangan ke puncak pohon raksasa yang menyembul dari balik pegunungan.

Itukah Shinjuu ?

.

.

"HAAA !"

Dua sosok manusia mengagetkan mereka bertiga dengan muncul tiba-tiba dari balik pohon. Sialnya, bukan mereka bertiga yang kaget, tapi aku.

Keduanya masih remaja, laki-laki, dan berpakaian kuno (maaf saja ya). Wajah yang satunya tampak sedikit aneh, dengan mata yang tidak pernah kulihat sebelumnya tapi bisa kukenali. Pola riak air di luar pupil hitam dan keseluruhannya berwarna ungu. Rinnegan. Mata saudara yang satunya lebih normal seperti manusia biasa. Kutebak mereka adalah Hagaromo dan Hamura.

Mereka berlima bercengkerama layaknya keluarga, walau fisik dan sifat mereka berbeda satu sama lain, sedikit sulit dipercaya mereka berlima adalah satu keluarga. Ya ampun, aku melihat keluarga terhebat di dunia dengan mata kepalaku sendiri ! Walau aku masih ragu apakah ini mimpi atau apa ?

Rikudo Sennin remaja tampaknya tidak setampan yang kubayangkan. Aneh sekali, anak-setengah-naga Kaguya, Ardhalea dan Deavvara, keduanya cantik dan tampan, tapi Hamura dan Hagaromo yang murni manusia tidak setampan Deavvara. Sungguh ironis. Aku jadi penasaran bagaimana rupa Neredox, ayahanda empat bersaudara blasteran naga-manusia ini.

"Hei !" Iseng, aku berteriak dan melambaikan tangan. Mereka berlima ada di hadapanku, tapi tetap saja mereka tidak dengar. Ide iseng lain muncul. Aku berniat mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke salah satu dari mereka, tapi begitu aku mengambil sebuah kerikil, tanganku menembusnya. Seperti ketika Deavvara melewatiku seolah tidak ada apa-apa. Sepertinya aku transparan. Padahal tadinya aku ingin melempari Deavvara dengan kerikil.

Begitu aku mengedipkan mata, yang kulihat hanya pemandangan aneh nan mengerikan yang tidak jauh berbeda dengan Padang Rumput Dahila di dekat Altar Segel. Gunung-gunung yang tumpul. Jejak mirip rayapan ular raksasa menjalar di tanah. Kawah kering berisi bebatuan dan tanaman mati serta lumut dan bangkai ikan: danau yang airnya dipindahkan. Sungai yang terbendung, dan langit yang memerah.

Aku dilanda kebingungan yang sangat, ketika tanah berguncang hebat. Aku jatuh, dan kulihat dari kejauhan kubah ledakan raksasa berwarna kuning kemerahan, menghamburkan awan-awan di sekitarnya dan menghembuskan angin berkecepatan ratusan kilometer perjam ke segala arah, mencabut pepohonan dari akarnya. Suara raungan yang begitu mengerikan terdengar, menggelegar membelah langit. Bahkan lebih keras daripada raungan Varan.

Aku mendongak ke langit merah. Entah bagaimana kutahu, saat itu malam hari. Langit berbaur merah-hitam. Dan ada yang janggal selain hanya sedikit bintang yang terlihat.

Tidak ada bulan.

Dari balik pegunungan, sepuluh ekor menyembul, bergerak-gerak dengan kobaran api setinggi bukit di sekitarnya. Empat siluet yang kukenal –Paradox dan Ortodox dalam wujud naga, serta Hamura dan Hagaromo. Aku paham. Mereka sedang bertarung melawan Datara alias Juubi, Sang Ekor Sepuluh yang sedang mengamuk. Itulah sebabnya bulan tidak ada, atau setidaknya belum.

Juubi menyapukan ekornya ke depan, meratakan gunung seolah terbuat dari pasir. Ardhalea dan Deavvara menarik masing-masing lima ekornya dan membantingnya ke tanah. Ini pertarungan terdahsyat yang pernah kulihat. Seisi daratan porak-poranda. Danau dikeringkan seperti cucian basah, sungai dicerai-beraikan seperti kumpulan lidi, dan gunung-gunung dilempar-lempar seperti gumpalan tanah liat.

Kemudian pemandangan berubah lagi.

Aku mengenali tempat ini walau baru sekali 'berkunjung'. Kuil Etatheon. Di depanku tampak Paradox dan Ortodox, sedang bertengkar hebat. Herannya, aku tidak mendengar suara mereka, mungkin ini menjadi dunia bisu lagi.

Tangan kanan Ortodox masih normal, jadi kurasa ini pasti waktu ketika...Indra dan Ashura berselisih jalan. Deavvara memihak Indra dan Ardhalea memihak Ashura. Mereka bertengkar disini. Kulihat Droconos dan Styx membelakangi Deavvara dan Pyrus, Hermes, Parthenon, serta Beleriphon membelakangi Ardhalea. Mereka memihak.

Ardhalea tampak pedih. Matanya berkaca-kaca, pasti meyakinkan kakaknya untuk meninggalkan Indra. Deavvara terus memaki, mungkin, karena aku tidak bisa mendengar apapun. Sesekali enam naga dewa lain ikut bicara sepatah-dua patah.

Akhirnya, Deavvara mencampakkan adiknya ke lantai bangunan hingga retak, kemudian melengos pergi begitu saja diikuti Droconos dan Styx. Ardhalea menangis, dan keempat naga yang sejalan dengannya sibuk menghiburnya. Aku menelan ludah kecut. Ketiga pengkhianat sudah tidak tampak lagi. Beberapa menit kemudian, sosok laki-laki berambut hitam pendek dengan pakaian mirip Hamura dan iris mata berwarna hitam, memasuki ruangan. Aku tidak mengenalinya, tapi menurut dugaanku dia adalah Ootsutsuki Ashura.

Ingin sekali aku maju ke hadapan mereka, menghibur mereka semua –terutama Ardhalea, tapi keadaan kembali berubah, seolah aku sedang berada dalam virtual hologram yang aneh, yang menampakkan potongan-potongan sejarah masa lalu ratusan tahun sebelum aku hidup, ketika Etatheon terbentuk, ketika bulan baru eksis di angkasa menemani Bumi.

Dan yang selanjutnya ini membuatku ingin menangis sekeras-kerasnya.

Ibuku. Dari mulutnya keluar darah, dari punggungnya keluar ratusan meter rantai raksasa yang tersambung ke...Droconos. Kemudian aku melihat bayangan kuning berkelebat –ayahku, Si Kilat Kuning, sedang mati-matian bertarung melawan Styx dan Ortodox. Bayangan putih berkelebat membantunya, sang Paradox.

Aku berlari ke arah ibuku, berusaha memegangnya. Tapi aku masih transparan. Kemudian kulihat seorang bayi merah berambut kekuningan yang matanya masih terpejam di altar.

Itu aku.

Ayahku mengunci Droconos begitu Styx dan Deavvara disibukkan oleh Ardhalea. Droconos disegel ke Altar Segel, jauh dari Konohagakure. Rohnya melayang, melesat ke altar dan terkunci disana untuk selamanya, jika tidak ada yang membebaskannya. Ibuku terduduk kelelahan, bersama ayahku. Aku tepat di depan mereka.

Styx terlempar oleh Ryuudama perak. Deavvara memburu ke orangtuaku, nyaris membunuh mereka dengan ayunan maut cakar tangan kanannya, ketika Ardhalea menembakkan percikan buraian atom-nya tepat ke tangan kanan kakaknya, membuyarkan semua kulit, saraf, dan jaringan luar tangan kanan itu, menyisakan tulang, otot, dan tendon. Deavvara meraung kesakitan dan terjatuh.

Jadi begitu caranya. Jadi itu alasan kenapa Ortodox mempunyai lengan kanan yang mengerikan. Ia bangun, tampak dari gerakan mulutnya ia mengutuk sebanyak-banyaknya pada adiknya, pada orangtuaku, pada Konoha, mungkin juga padaku. Ia mencabut sebuah senjata yang kini berukuran raksasa dari mulutnya. Uliran Samsara.

Ia melirik altar, dimana aku masih tertidur. Ia menggeram buas, dan langsung menghunuskan senjata pembawa maut itu.

.

.

Kedua orangtuaku bergerak secepat kilat tepat pada waktunya. Senjata itu menembus perut mereka berdua, ujungnya hampir mengenaiku. Darah membanjiri rumput. Ardhalea meraung tidak terima, dan menghantamkan kaki depan kanannya ke tanah. Ketujuh berliannya bersinar. Dari dalam tanah, muncul rantai-rantai hitam bara mengerikan yang langsung merantai Deavvara. Entah bagaimana itu rasanya tidak asing –rantai yang sama yang memblokade pergerakan Artemis untuk selamanya.

Deavvara melolong membelah malam, tapi usahanya sia-sia.

Kulihat bibir ibuku yang dipenuhi darah menggumamkan beberapa patah kata, dan sungguh sangat disayangkan aku tidak bisa mendengarnya. Apapun yang dikatakannya, itu pasti lebih penting dari semua kata yang pernah meluncur keluar dari mulutku.

Airmataku membasahi pipi.

Kulihat Ardhalea berteriak kecewa pada saudaranya, dan menghantamnya dengan cakarnya. Sosok Deavvara buyar menjadi api hitam bersama Uliran Samsara-nya. Dia tidak mungkin mati saat itu, jadi kusimpulkan itu hanya semacam teknik teleportasi. Ayah dan ibuku berbisik pada Ardhalea, mungkin berpesan atau apa, tapi naga putih itu mengangguk-angguk. Matanya tidak berhenti menitikkan airmata.

Dan itu terjadi begitu cepat.

Dua orang terpenting dalam hidupku roboh ke tanah. Nyaris, karena Ardhalea segera mewujud menjadi manusia dan menangkap mereka berdua, memeluknya dalam linangan air mata seolah mereka juga orangtuanya. Sayapnya mengembang menaungi mereka berdua. Sandaime Hokage dan para ANBU datang ke lokasi, dan mereka tercengang begitu mengetahui ayah dan ibuku telah tiada.

Ardhalea melirikku. Ia berjalan pelan ke altar dan menggendongku, membisikkan sesuatu, dan membelai kepalaku lembut seolah aku adalah bayinya sendiri.

Aku tenggelam dalam air mata. Ketika aku bisa membuka kedua netraku lagi, yang kulihat adalah rumahku sendiri. Kamarku sendiri. Tampak aku, mungkin berusia sekitar enam bulan, membuka mataku yang biru besar dan mengisap jempol. Kemudian seseorang muncul dari balik pintu membawa sebotol susu. Aku terperangah.

Ibuku ?! B-bagaimana mungkin ?!

Ia meminumkan susu padaku, yang kelihatannya bagi Naruto kecil itu tidak begitu masalah. Aku tidak habis pikir kenapa ibuku masih hidup. Ketika dia menidurkanku beberapa menit kemudian, sosok Uzumaki Kushina itu mencium keningku dan keluar pelan-pelan. Kubuntuti dia, dan begitu sampai di luar kamar, bulu-bulu putih menyelimuti tubuhnya dan membuatnya kembali ke sosok aslinya –Ardhalea.

Aku jatuh terduduk ke lantai.

Jadi...

...selama ini...

...yang merawatku hingga cukup besar untuk bisa hidup mandiri...

...adalah dia...?

Tanda tanya terbesar dalam hidupku kini telah terjawab.

Hari berganti hari –yang terjadi dalam hitungan detik- dan kulihat Ardhalea berubah-ubah menjadi ibuku, kemudian ayahku, ibuku lagi, dan ayahku lagi. Aku menangis saat berusia sekitar setahun gara-gara badai hebat yang membawa petir berkali-kali, dan dia ada di sisiku, menggendongku dan menghiburku. Dia membacakan dongeng untukku ketika usiaku lima tahun, dan memelukku saat aku tidur. Begitu seterusnya sampai usiaku tujuh tahun. Ia kini mendatangiku dalam wujudnya yang sesungguhnya, yang bertanduk dan bersayap. Ia mencium dahiku, dan mengetukkan jari telunjuk kanannya.

Cahaya menyelimuti seluruh rumah, menyebar hingga ke sepenjuru Konohagakure. Ardhalea menghilang ditelan bulu-bulu putih.

Kemudian kulihat aku, hanya sekitar satu bulan sebelum detik ini. Aku...yang sedang memancing pagi-pagi itu. Sebelum aku berkelana ke penjuru belahan dunia. Sebelum aku bertemu Jiraya-sensei. Sebelum aku diberitahu bahwa aku adalah Draco P. Sebelum seekor Manidens meluncur ke arahku dan Hinata. Sebelum aku bermimpi soal Hidalgo yang bicara.

Anehnya, aku melihatnya dari langit. Aku melihat diriku sendiri, dan rasanya aneh. Aku memalingkan pandangan dan kulihat Ardhalea dalam wujud manusia-malaikatnya, mengamatiku dari langit sini.

'Tahukah kau, sejak kau berusia tujuh tahun, saat kau diberitahu Jiraya bahwa kau adalah pengendaraku, bahkan saat kau memulai petualanganmu menjelajahi Kaze, Tsuchi, dan Kori, aku selalu berada tepat diatasmu ? Aku berada sepuluh kilometer tepat diatasmu, dan aku melihat semuanya'.

Aku merinding. Jadi selama ini dia memperhatikanku. Dia bertindak sebagai ayah dan ibuku. Dia tidak pernah meninggalkanku.

Silakan katakan itu, aku mungkin gila.

Tiba-tiba semuanya berubah menjadi putih. Silau. Cahaya dimana-mana.

Dan kulihat dia.

Ardhalea...dengan sayap putih terbentang dan tanduk keemasan yang berpedar. Ia tersenyum hangat padaku, iris obsidian badainya yang tegar setelah ribuan tahun melalui masa-masa sulit penuh penderitaan, tampak begitu bahagia.

Aku INGIN berlari ke arahnya, menghambur padanya dan memeluknya erat-erat, mengucapkan kata yang tidak sebanding dengan semua pengorbanannya selama membesarkanku menggantikan ayah dan ibuku. Aku ingin menangis dalam jutaan terimakasih sepuasnya dalam pelukannya.

Ketika angin yang terasa aneh meniup tubuhku.

.

.

.

Aku masih duduk, barusan jatuh terjerembab. Jaketku compang-camping selepas bertarung habis-habisan. Pedang Rikudo tergeletak satu meter di samping kananku. Kusadari Sasuke, Itachi, Kurama, dan Demetra. Menatapku dengan mata membelalak seolah mau keluar dari rongga matanya.

Dan aku segera mengetahui sebabnya.

Dia ada disana.

Tepat di depanku.

Ujung tajam Uliran Samsara menyembul dari balik diafragmanya, menguarkan darah. Bibirnya membentuk seulas senyum yang kukenal, walau darah mengalir dari sana. Tatapan matanya sayu tapi puas. Kedua tangannya mencengkeram sisi tumpul senjata terkutuk itu, menahannya sebisa mungkin agar tidak mengenaiku.

Aku terbelalak.

Dia.

Seluruh tubuhku bergetar hebat.

"Ke...na...pa...?"

Ia tersenyum tulus. "Syukurlah masih...sem..pat..." desisnya.

Dibaliknya kulihat Deavvara. Bahkan ia sekalipun tampak terkejut, menyadari adiknya rela dijadikan target berikut Uliran Samsara demi melindungiku. Pegangannya pada senjata itu melonggar, bergetar.

Ardhalea terbatuk. Tetes-tetes darah jatuh ke rerumputan.

"Apa-apaan..." aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.

Ia menatapku. "Pengendara sejatiku," ucapnya pelan.

Tubuh Deavvara bergetar. Ia menarik Uliran Samsara, yang separuh panjangnya kini telah berlumuran darah. Meninggalkan luka hebat berupa lubang yang menembus diafragma Ardhalea hingga ke punggungnya. Ia roboh, tapi secepat kilat aku menangkapnya. Darah membanjiri jaketku. Kubaringkan dia di pangkuanku, kepalanya kutahan dengan tangan kiriku. Tangan kanannya meraba-raba tangan kananku.

Ia membuka matanya kembali. Senyum kembali merekah di bibirnya. Mataku berkaca-kaca.

"Yah," bisiknya, "kurasa aku cukup sampai disini saja."

"Jangan bercanda," balasku, mencoba tidak terdengar emosional. "Kau...kau abadi kan ?!"

Ardhalea menggeleng pelan. Aku semakin bingung. Kurasa tidak hanya aku, keempat temanku memperlihatkan ekspresi yang sama.

"Aku kuat," terangnya singkat, "itu saja. Aku dan Deavvara...sama. Alih-alih abadi...bukan. Aku sangat kuat...dengan kata lain...aku bisa dibunuh dengan serangan yang melebihi batas kekuatanku. Sama dengan Deavvara dan semua Etatheon. Hermes ... Parthenon ... Pyrus ... Beleriphon ... Styx ... Droconos ... mereka semua bisa dibunuh dengan serangan yang begitu kuat ... tapi mereka akan bereinkarnasi kembali setelah beberapa tahun ..."

"...aku dan Deavvara tidak begitu. Sekali terkena serangan dan mati ..."

"...aku akan mati. Jiwaku fana, sama seperti manusia. Hanya saja itu terlindungi...oleh kekuatanku..."

"Jadi...semua orang yang mengatakan bahwa kau abadi itu...salah ?"

Dia mengangguk pelan. Darah tak berhenti mengalir dari sudut bibirnya, sekarang membasahi rahang bawahnya. Ia meraba dada kiriku dengan tangan kanannya. Jantungku berpacu cepat.

"Kau memiliki kekuatan yang misterius," desisnya. "Yang bisa kukatakan padamu sejauh ini...hanya..."

"...terimakasih..."

Airmataku merembes keluar. "Tidak," aku menggenggam tangannya erat. "Seharusnya aku yang mengucapkan itu. Berjuta terimakasih ... karena ... telah ... menggantikan mereka berdua. Aku ... aku sangat tidak mengerti awalnya, tapi ..."

"Aku hanya menjalankan sesuatu yang sudah diamanahkan padaku," kilahnya pelan. "Sekarang saatnya kau melanjutkannya."

"Aku tidak bisa," isakku. "Tidak tanpa dirimu."

"Kau bisa," katanya.

Kugenggam tangan kanannya erat-erat. "Aku tidak mau kau pergi," bisikku. "Tetaplah disini, bersamaku. Bersama...orang-orang yang mempercayaimu. Bersamalah...kita...akan menang bersama-sama..."

"Kau sudah memiliki-ku..." dia meraba dadaku lagi. "Di hatimu."

"Bersama orang-orang yang mempercayaiku pula. Mereka juga memilikiku..."

"Ardhalea, kumohon..." isakku. "Aku ingin kau bercanda. Kau abadi kan ?!"

"Satu-satunya yang abadi di dunia ini adalah ketidakabadian..." bisiknya, terlihat sekali bahwa dia jujur. "Kau harus belajar untuk menerima ... kenyataan terkadang memang kejam. Dunia adalah pertarungan. Yang menanglah yang diperbolehkan berdiri. Mereka yang kalah akan tenggelam, dienyahkan, dan larut. Waktuku sudah tiba..."

Aku tidak bisa mengucapkan apa-apa selain tangisan yang makin keras.

Ia meraba pipi kananku dengan tangan kanannya. Aku tidak peduli, meski darahnya menetesi daguku. Ia masih saja tersenyum, tapi tidak menangis samasekali. Mendadak, aku mengetahui sebabnya. Darah-lah yang nyaris belum pernah dia keluarkan. Ardhalea telah menguras airmata dan keringatnya sejak sistem dunia ini berdiri ... kerinduannya akan ayahnya ... kepergian ibunya ... masa-masa sulit ketika kakaknya memilih jalan yang salah ... pertarungan mereka hingga akhir zaman ... pertarungan mereka mempertahankanku...

Semua airmata dan keringatnya telah terkuras untuk itu.

"AKU BELUM BISA BERBUAT APA-APA !" Teriakku keras-keras.

"Sudah," jawab Ardhalea pelan. "Kau..."

.

.

"...membuatku bahagia..."

Sasuke, Itachi, Kurama, dan Demetra mendekat. Mata mereka ikut berkaca-kaca.

"Ardhalea," panggil Kurama. "Tetaplah hidup. Kami ada disini bersamamu," katanya menyemangati.

"Tentu," timpal Demetra. "Apapun itu."

"Tidak," bisik Ardhalea. "Kurama...kau naga paling berani yang pernah kukenal...teruslah begitu. Naruto akan...membutuhkanmu."

"Demetra," lanjutnya, "kau begitu menawan dan murah hati. Itu akan berguna untuk kedepannya...disertai tekad yang tak pernah padam..."

"Sasuke, Itachi..."

"Nama Madara akan menodai nama Klan Uchiha ... tapi selama kalian masih ada, klan kalian akan terselamatkan dari kehinaan. Bantulah Naruto ... sebagai saudara ..."

"Aku sudah kehilangan ayah dan ibuku !" Protesku padanya. "Aku tidak mau harus kehilanganmu !"

"Untuk mencapai tujuan yang besar ... diperlukan pengorbanan yang besar ..." bisiknya lirih. "Uzumaki Naruto...kau-lah pengendara sejatiku. Mengetahui itu saja sudah membuatku senang. Jadi ... berjanjilah padaku ..."

"...kau...tidak akan...menyerah...walau apapun yang merintangimu..."

"Aku...tidak bisa..."

"Kau bisa," bisiknya. "Kalau kau mau melakukan sesuatu untukku...berjanjilah itu..."

Suaranya menghilang di akhir kalimat. Aku akhirnya mengangguk. "Aku...berjanji..."

Ardhalea tersenyum. Darah makin terasa deras. Ia membuka tangan kirinya, Pedang Rikudo melayang hingga digenggamannya.

Pedang itu berubah total. Mata hitam baranya memanjang dan membelah dua, tersambung-sambung hingga mirip tangga, kemudian memilin ke satu arah, membentuk semacam untaian DNA –tangga yang terpilin. Gagangnya hilang. Ia jadi tampak seperti memegang struktur untaian DNA raksasa.

"Bentuk sesungguhnya dari Pedang Rikudo," bisik Itachi terpesona. "Nunboko no Tsurugi..."

"Untukmu," kata Ardhalea padaku. "Untukmu...enam belas tahun sebelumnya..."

"...enam belas tahun paling berharga dan paling indah, paling bahagia sepanjang hidupku..."

"...dan itu seutuhnya berkat kau..."

"Uzumaki Naruto..."

"...pengendara sejatiku..."

Aku menangis deras, tapi kurasa aku harus tetap tegar. Setidaknya sekarang. Setidaknya untuk menghiburnya. Setidaknya untuk membuat dia merasa menaruh kepercayaan padaku bukan hal yang salah.

Kami saling menggenggam tangan kanan kami.

"Ardhalea."

"Terimakasih telah menjadi ibuku ... terimakasih telah menjadi ayahku ... terimakasih telah menjadi sahabatku ... terimakasih telah menjadi nagaku ... terimakasih telah membuaiku saat aku menangis, menghiburku kala aku sedih, menyemangatiku saat putus asa, merawatku ... dengan ... penuh ...kasih sayang dan ketulusan ... terimakasih..."

"... Terimakasih ... karena...tidak pernah meninggalkanku ... terimakasih ... untuk ... SEMUANYA !"

Jika aku sempat mencapai umur seratus tahun dan jika ada hal yang tidak bisa kulupakan selama itu, adalah senyumnya.

"Ini pesan dari ibumu sebelum beliau wafat," ujarnya lemah. "Kau ingin mendengarnya ?"

Aku mengangguk pelan.

"Naruto.."

"...Jangan rewel ya. Makan yang banyak dan tumbuhlah menjadi kuat. Mandilah setiap hari. Tidurlah yang cukup, jangan banyak begadang. Dan carilah teman. Tidak perlu punya teman banyak-banyak ... tidak apa kalau kau punya sedikit teman tapi yang bisa dipercaya ..."

Ia melirik Sasuke, Itachi, Kurama, dan Demetra.

"...belajarlah yang giat dengan Ninjutsu ... ingatlah bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Jadi jangan merasa sedih jika tidak bisa melakukan sesuatu. Hormati gurumu dan jangan bolos di akademi ... dan ... tentang Tiga Peraturan Dracovetth ... uang, sake, dan wanita ..."

"Tabunglah uang yang kau dapat dari misi. Jangan minum sake sebelum 20 tahun. Juga, jangan banyak minum, karena tidak baik untuk kesehatan ..."

Ia menitikkan airmata, seolah ada sesuatu yang tidak ingin dikatakannya.

"Naruto...kau akan menemui penderitaan yang sulit nantinya. Jadilah dirimu sendiri ... dan juga ... cari dan gapailah impianmu ... masih ... masih..."

"...masih banyak hal yang harus kusampaikan padamu ... lebih lama berada di sisimu ..."

Suaranya menghilang. Aku mengangguk. "Akan...kuingat...itu."

"Naruto," bisiknya lemah. "Boleh...kukatakan...satu hal ?"

Aku mengangguk lagi. "Apapun itu."

.

.

.

"Aku...mencintaimu..."

.

Waktu terasa berhenti begitu kata-kata itu keluar. Tapi tidak perlu berhenti untuk beberapa lama.

Aku mencoba tersenyum, walau rasanya lebih sulit daripada mengangkat seekor Titanis.

"Kau puas sekarang ?" Godaku.

Kami tertawa kecil.

.

Hening sesaat.

.

"Yah, Naruto," bisiknya.

Iris obsidian badai kelamnya menatapku lekat-lekat, seolah ingin merengkuhku dan memilikiku selamanya. Aku harus mengatakannya, aku juga menginginkan hal yang sama. Genggamannya melonggar.

.

.

"Selamat tinggal..."

.

.

"...Naruto-ku..."

.

.

Matanya terpejam. Helaian surai peraknya sebagian sudah terbasahi darah. Seulas senyuman permanen menggores paras apiknya. Sayapnya melayu, dan cahaya dari kedua tanduk emasnya meredup hingga padam.

Rerumputan di sekitar kami layu, mengering. Bulu-bulu putih menyelimuti tubuh manusia-malaikat Ardhalea, mengubahnya kembali menjadi naga. Keadaannya tampak sama berantakannya, tapi aku setengah berharap matanya masih terbuka. Nyatanya tidak.

Pepohonan di sekitar kami mengering. Langit senja yang cerah berubah menjadi kelabu gelap dalam sekejap. Bunga-bunga layu. Burung-burung bernyanyi sedih. Air danau keruh. Ikan-ikan berenang gelisah. Udara terasa menyakitkan.

Aku terdiam dalam hening, ketika kusadari bulu-bulu hitam menghilang barusan.

Deavvara.

Dia baru saja pergi.

Kupikir tadinya dia sudah raib dari tadi.

.

Aku menatap wajahnya sekali lagi. Kugenggam tangannya, tapi tidak kurasakan tanda-tanda kehidupan sedikitpun.

Dia sudah tiada.

Aku harus menerimanya.

Jantungku serasa melemah. Pandanganku kabur. Tubuhku gemetar. Kaki dan tangan kiriku mati rasa. Lidahku kelu. Seolah-olah separuh nyawaku sudah dicabut duluan. Seolah-olah separuh tubuhku sudah hilang.

Apa itu benar ?

Aku dan Ardhalea telah ... menjadi satu.

.

"Selamat tinggal..."

.

.

"Ardhalea-ku..."

.

.

.

.

Bersambung...


Coming Soon: Paradox Chapter Twenty :

"The Day of Black Sky"

See you again in chapter 20 !

-Itami Shinjiru-


-Dragons List in Chapter Ninteen:

Zyxwvur (Pembalikan bunyi dari tujuh abjad terakhir)

Strength : Sangat tinggi

Ukuran : Panjang 10,8 meter, berat 3 ton

Kecepatan terbang : 10-60 km/jam

Spesial : Kebal pada mata Basilisk, kulit keras, gada ekor

Tipe serangan : Menyemburkan tiga atau lebih lingkaran konsetris yang dapat mengubah target menjadi batu

Kategori : Mirakel

Elemen spesial : -

Level bahaya : Jauhi !

Pemilik : Anrokuzan, kemudian tunduk pada Uzumaki Naruto