Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.

Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara

Main Pair : NaruPara, KuraDeme

Slight Pair : MinaKushi, ShikaTema, KakaPaku, & NagaKonan

Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance, Action


Author's Note :

Jumpa lagi di chapter 19, readers !

Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Terimakasih, matur nuwun, arigato gozaimazu, thank you very much, syukran, gracias (*bungkuk hormat*).

Ugh, libur seminggu rilis berasa libur setahun (*nangis air terjun*). Kangen banget nulis, sumpah ! Demi jenggot ubanan Pyrus ! (Dijitak Pyrus). Ya sudah, silakan baca di bawah, bagi yang nggak sabar, de-el-el...

Enjoy read chap 20 !


PARADOX

パラドックス

Chapter Duapuluh :

The Day of Black Sky


Rouran Great City

Langit sudah nyaris gelap sepenuhnya ketika kami kembali ke Menara Tertinggi. Menerobos kembali pintu masuk yang sempat dibobol Zyxwvur saat 'pemberontakan' dan langsung menghambur ke ruang produksi Kugutsu Anrokuzan. Kulihat Kizashi terengah-engah, dengan pakaian yang makin berantakan dan beberapa memar di tubuhnya. Ia melihatku dengan lega.

"Dia menggunakan Darah Delima milik Paradox," bisiknya.

Aku terperanjat ke belakang karena terkejut. "Darah Delima ?!" Balasku. "Mustahil !"

"Nyatanya tidak," sahut Anrokuzan sambil memamerkan gelang emasnya. Disitu tampak berlian mirah delima –mungkin hanya pecahan- terpasang rapi disana. Aku rasanya tidak asing akan benda itu. Aku melirik Sara, dan mendapati sesuatu yang ganji.

"Dia merebut kalungmu," ujarku padanya. "Jadi batu merah di kalungmu itu ... Darah Delima Paradox ?"

Sara mengangguk. "Kau ingat saat aku menceritakan pertemuanku dengannya," desisnya dengan suara gemetar, masih dalam kerangkeng. "Dia memberikan repihan berliannya sendiri padaku sebagai semacam jimat. Aku ... aku tidak tahu kalau itu punya kekuatan yang begitu besar sampai Anrokuzan mengincarnya."

"Bagaimana cara menghentikannya ?" Tabrak Kizashi. "Dia jadi makin kuat setiap menit."

"Mungkin kau harus membunuh Paradox lebih dulu," sergah Anrokuzan santai. "Yaaa...silakan saja membunuh naga yang abadi. Seratus tahun pun tidak akan cukup. Mana bisa sesuatu yang sudah diberi stempel abadi bisa mati ?" Tantangnya.

Aku menggeram. Si gendut ini lama-lama menyebalkan juga.

Anrokuzan mengangkat tangannya, menampilkan sinar merah yang membentuk shuriken besar. "Tamatlah kalian," sinisnya. "Aku akan menguasai Rouran seorang diri !"

.

.

.

KTAK

.

"Berliannya ..."

Cahaya merah itu meredup, kemudian hilang samasekali. Darah Delima yang semula bersinar kini padam.

"Apa-apaan ?" Gerutu Anrokuzan. "Ini saat-saat serunya !"

"Mungkin saja kekuatan itu bisa mendeteksi niat penggunanya," Kizashi berspekulasi. "Bisa saja kan ?"

"Tidak," potong Sara. Pandangan matanya kosong, seolah menerawang ke masa lalu. "Ada ... ada yang tidak beres."

Aku mendengus. Aku berlari ke Anrokuzan dengan sebuah Oodama Rasengan dan tanpa ba-bi-bu lagi langsung kugilas perutnya hingga membentur sebuah pipa besi sampai penyok. Aku berpaling ke kerangkeng dan memotong jerujinya dengan Pedang Rikudo, mengabaikan semua bayi naga yang terus merengek di sekitarku.

Kami segera berlari ke ruang singgasana. Aku dan Kizashi tak tahu apa tujuannya, tapi kami mengikuti apa yang Sara perintahkan.

Dari jendela, aku bisa melihat aura keperakan seperti Aurora Borealis yang biasa ada di kutub utara dan selatan, tapi itu tampaknya berasal dari...

"Padang Rumput Dahila," bisikku.

"Itu tempat pertempuran ?" Tanya Kizashi. "Pasti pertempurannya sedang sangat hebat sampai-sampai-"

"Tidak," Sara memenggal opini bawahannya. Ia menggenggam kalungnya. Darah Delima yang bertahta disana ... sudah retak. Ia membelainya, dan dalam sekejap berlian merah itu hancur menjadi beberapa keping.

"...menjadi rapuh seperti bunga es..." kenangnya. "Ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada Dia sekarang..."

"Yo, Tuan !" Suara Zyxwur mengagetkanku.

"Kenapa kau disini ?" Sergahku.

"Aku mengikuti kalian," akunya. "Lain kali tolong buat lorongnya lebih lebar sedikit, Sara-sama," sarannya. Sara mengangguk, tapi aku yakin dia tidak begitu mempermasalahkan soal itu, demikian juga denganku.

"Ada apa ?" Tanya naga itu.

"Kizashi," perintah Sara. "Pergi ke Chrysler dekat Menara Tertinggi. Bawa seekor Ischornis kemari, aku dan Naruto akan pergi ke medan perang."

"Menyusul Pakura dan Hiruko ? Tapi Sara-sama, Anda..."

"Berhenti menyela perkataan orang lain," desaknya. "Pokoknya bawakan saja seekor. Kejadian ini bisa jadi akan membuat ketiga perang dunia naga sebelumnya hanya akan terdengar seperti perang cat warna-warni," titahnya, dan Kizashi segera pergi ke Chrysler terdekat.

"Ischornis ?" Kataku.

Sara mengangguk. "Naga tercepat yang dimiliki Rouran. Hanya digunakan oleh pasukan penyerbu, pengintai, atau pembawa pesan, tapi sekarang tidak jadi soal. Kuharap ... apa yang kukhawatirkan ini salah," desisnya gelisah sambil terus menggenggam kalungnya dan menatap aurora perak di langit maghrib yang menggelap.


Batalion Keempat Gaara

Gurun Shii Woong

"Huh !" Gerutu Temari. "Hanya segini saja ?"

"Menurut markas, batalion kita mendapat bagian serangan Zetsu Putih dan Pembantai Bersayap paling sedikit dari empat batalion lain," terang Shikamaru. "Yaah, menghabisi makhluk-makhluk yang itu-itu saja memang membosankan."

"Kazekage Gaara !" Seru salah satu Dracovetth. Sang Kazekage mendekat ke pasukan.

"Semuanya, istirahatlah," perintahnya. "Aku tahu kalian mungkin belum terlalu lelah, tapi perang hari kedua bisa jadi akan jauh lebih menantang. Persiapkan diri kalian untuk itu. Kita akan mempertahankan garis gurun ini sampai napas terakhir !"

Ia melirik sosok cebol di sebelahnya. "Anda juga, kakek."

"Aku Tsuchikage !" Protesnya.

"Maksudku, Kakek Tsuchikage."

"Terserah."

Untuk sesaat, terdengar berani memang.

.

.

"Hei ! Jutsu siapa itu ?"

Semua orang dan naga yang mendengar, memalingkan pandangan ke arah Barat Daya. Aurora perak bersinar di kegelapan yang ditinggalkan sang surya. Pemandangan yang cukup ganjil karena selain warnanya yang tidak biasa, hampir-hampir tidak mungkin ada aurora yang 'nekat' main ke daerah khatulistiwa.

"Seperti semacam suar," desis Chouji. "Bagaimana menurutmu, Shikamaru ?"

"Entahlah," jawab laki-laki itu sambil menggeleng, "belum ada info dari markas tentang konfirmasi aurora aneh itu apa."

.

.

"Kalian terlalu sibuk mengurusi pemandangan."

Semua kepala kini berpaling lagi.

Disinari rembulan yang baru terbit menggantikan matahari, tampak sosok berambut hitam panjang yang berkibar-kibar diterpa angin malam, dengan sorot mata datar tapi menyeramkan berpola Sharingan, dan baju zirah berwarna merah serta kipas besar terkait di punggungnya.

"Uchiha Madara," geram Onoki.

Selang beberapa detik, dua ekor naga muncul di belakangnya. Mereka bertiga berdiri diatas sebuah butte –tiang batu besar yang menjulang diatas pasir gurun- dengan santai.

"Styx dan Droconos..." cicit Gaara. "Kudengar mereka bertarung melawan Paradox di Altar Segel," katanya.

"Mungkin Ortodox membiarkan mereka membantu Madara selagi dia berurusan dengan saudaranya," celetuk sebuah suara yang asing di telinga sebagian besar orang disitu.

"Uchiha Shisui," gumam Shikamaru. "Jadi klan Uchiha di Konoha juga ikut serta dalam peperangan ?" Selidiknya.

Shisui mengangguk. "Itachi dan Sasuke sedang membantu Naruto di Altar Segel," ucapnya. "Mereka pasti berhasil."

"Betapa menyedihkannya," tabrak Madara. "Melihat klan-ku sendiri di tengah-tengah orang-orang tak berguna. Kemarilah, Uchiha muda. Bergabunglah bersamaku untuk mewujudkan dunia yang lebih baik," ajaknya.

Shisui menatap Madara sinis. "Betapa menyedihkannya. Melihat salah satu klan-ku jadi pengkhianat dunia," balasnya.

"Tunggu sebentar," gumam Gaara setelah berpikir sejenak. Ia mendekati Shikamaru dan Temari.

"Bukankah Altar Segel ada disana ?" Ia menuding aurora perak yang masih terus bersinar.

Keduanya mengangguk bersamaan.

"Jadi mungkin itu bisa dikatakan semacam jejak pertarungan," simpul Temari. "Seperti bekas benturan dua ledakan yang begitu hebat atau apa."

"Menurutku sih bukan," sumbar Shikamaru. "Tapi ... entahlah. Kita masih belum bisa memastikan. Barangkali itu cuma fenomena aneh yang kebetulan muncul ditengah peperangan begini," katanya dengan sikap santainya yang biasa.

"Pemimpin sampai turun ke medan perang," gerutu Onoki. "Kau aneh."

Madara mengedikkan bahu. "Aku bosan menunggu. Mungkin dengan kekuatanku sendiri, aku bisa menghabisi satu batalion paling merepotkan dan maju tanpa penghalang yang begitu berarti," angkuhnya.

"Kau membuat kami terlihat seperti kaki-tangan," Droconos menginterupsi.

"Etatheon tak bisa dikekang," dukung Styx.

Madara mendesah. "Terserahlah. Jadi ... mungkin kuberi kalian kehormatan untuk menyerang lebih dulu ? Pandangan kalian lebih bagus di kegelapan daripada aku," ujarnya sambil mengibas satu tangan ke arah pasukan, mempersilakan.

Mereka berdua saling pandang. "Boleh juga," ucap Droconos. "Sekaligus mengetes apakah mereka sekuat enam belas tahun lalu. HAAAAAA !"

Kedua naga itu melesat, bersiap mengacaukan pasukan. Gaara dan Onoki bersiap dengan jutsu mereka.

Namun empat cahaya melesat dari atas dan menghantam kedua naga itu hingga terpental dan menubruk pasir.

"Sayang sekali," sindir Hermes. "Kalian kurang cepat."

"Grh," gerutu Droconos. "Hermes...Beleriphon...dan Parthenon serta Pyrus...lama tak jumpa."

"Waktu reuni yang bagus," cetus Beleriphon. "Sayangnya gelap-gelapan begini. Kalau saja Paradox dan Ortodox juga ada disini."

"Bagus," gerutu Shikamaru. "Kurasa sekarang kita harus pergi karena pertarungan ini mungkin akan terlampau hebat untuk kita."

"Ortodox masih belum selesai ?" Sergah Styx.

"Tak apa, kita bisa melakukannya berdua," sambung Droconos.

Api hitam membakar pasir. Semua Etatheon melirik padanya. Sosok Ortodox muncul di tengah-tengah Styx dan Droconos. Pandangan matanya kelam dan kosong. Ia masih memegang Uliran Samsara...yang di ujungnya sudah berlumuran darah dan repihan batu-batu merah.

"Baru juga dibicarakan," celetuk Madara. "Nah, sebelum Paradox menyadari kemana kau kabur, sebaiknya..."

"Paradox takkan datang," tabrak Ortodox datar.

.

.

.

"Dan aku tidak kabur," ralatnya. "Aku...aku menang."

Ia mengucapkan 'aku menang' dengan nada yang lebih mirip seperti 'baju baruku hilang'.

"Apa maksudmu ?" Sergah Parthenon. "Apa yang...?"

"Dia sudah tiada," tabrak Ortodox lagi.

Semua Etatheon –termasuk Droconos dan Styx, menegang.

.

.

.

"Paradox sudah mati."

.

.

Angin malam bertiup sendu. Dalam keadaan normal, semua orang mungkin akan langsung memeriksakan telinga mereka ke spesialis THT, atau menunggu seseorang berseru 'Tertipuuuuu !'

Tapi Ortodox tidak pernah bercanda. Tidak setelah sembilan ratus tahun silam.

"Apa maksudmu ?" Desis Hermes dengan suara bergetar. "Orto...kau...kau...kau !"

"Aku berniat membunuh Naruto," jelasnya datar. "Tapi...dia melindunginya. Ujung senjata ini tepat menembus dadanya. Dan kalau itu masih kurang bagi kalian untuk mempercayainya, lihat sebelah sana," Ortodox memalingkan kepalanya ke arah aurora perak. "Itu aurora yang ada saat keturunan Kaguya meninggal. Saat Hamura dan Hagaromo begitu, aurora semacam itu juga muncul selama beberapa jam."

Semua orang kini terlihat seperti baru kehilangan separuh nyawa mereka. Bahkan sang Kazekage dan Tsuchikage sendiri.

"Kau pasti bercanda," geram Pyrus.

"Kalau begitu coba jelaskan apa itu," Ortodox menuding aurora dengan kepalanya, "dan apa ini," kemudian menunjuk ujung Uliran Samsaranya sendiri.

Hening.

.

.

.

"Ayo," Madara memecah kesunyian. "Batalkan penyerangan. Kembali ke markas," titahnya. "Lagipula...sudah waktunya aku mengambil itu. Sudah tidak ada waktu lagi."

"Kau bergurau," sergah Styx. "Aku belum menyerang satu kali pun !"

"Dia benar," desis Droconos. "Kurasa...ada sesuatu yang harus kita lakukan."

Ketiga pengkhianat itu menghilang di kegelapan malam yang terus merambat. Meninggalkan batalion keempat dengan kebingungan dan ketakutan yang amat sangat. Bagaimana bisa ? Alasan mereka melakukan ini...Paradox...bagaimana dia bisa mati ?

"Tetaplah tegar !" Seru Pyrus pada batalion keempat. "Kami akan terbang kesana dan memastikan apakah itu benar !"


Dahila Grassland

Besok gerhana itu terjadi.

Dan naga terkuat yang kami miliki sudah tiada.

Aku mengamatinya. Berlian Darah Delima yang terletak tepat di dadanya...berlubang. Berlian merah itu pecah berkeping-keping. Aku mafhum, karena dalam wujud manusia sekalipun, Ardhalea tertusuk tepat di tengah dadanya. Cara paling cepat untuk membunuh makhluk hidup. Darah membanjiri sebagian rerumputan kelabu yang layu. Aku masih terduduk disana, entah setelah berapa menit sepi berlalu.

Itachi menepuk bahuku. "Naruto. Kita harus menghentikan Madara. Itulah yang Ardhalea inginkan."

"Kau tidak sendirian," Sasuke menimpali. "Dan itu bukan salahmu."

"Ya," balasku lirih. "Ini semua salahku."

"Bukan salah siapa-siapa," Kurama menginterupsi. "Bangunlah ! Bukan ini yang diinginkannya !"

Aku bergeming.

Demetra mendesah. "Malam," desisnya. Ia memandang tubuh tanpa nyawa –tidak, aku tidak bisa menyebutnya 'mayat', 'jenazah', apalagi 'bangkai'- Ardhalea. Darah kering membanjiri jenggot, sepanjang bibir, dan terutama dadanya. "Apa dia akan ... bernasib seperti tubuh-tubuh tanpa nyawa lainnya ?" Gumamnya. Matanya masih berkaca-kaca.

.

.

Suara kepakan sayap beruntun terdengar di langit sepi. Mereka berempat mendarat.

"DEMI CANIS MAJORIS !" Pekik Pyrus. "Apa-apaan in–"

Parthenon menamparnya dengan ujung ekornya. Ia mendekat ke arahku dengan tatapan tak percaya. Matanya berkaca-kaca, dan hanya menunggu tiga detik sebelum butir pertama airmatanya jatuh ke rumput kelam.

"Ardhalea..." isaknya.

"TERKUTUKLAH KAU DEAVVARA !" Teriaknya ke langit.

"Percuma, Parthenon," kataku. Semua perhatian naga dewa ini beralih padaku.

"Berteriak sekeras apapun, menyumpah sekejam apapun, tidak akan mengubah keadaan," bisikku datar. Mataku rasanya bengkak. Bahkan lidahku nyaris mati rasa seluruhnya. Hidungku kembang-kempis, sakit saat bernapas.

"Dia tidak akan bereinkarnasi," cetus Hermes sendu. Bibirnya bergetar. Sayap-sayapnya layu. "Sialan. Aku...aku tidak pernah mengatakan padanya ... betapa bangga diriku bisa masuk Etatheon dan bekerja bersamanya, untuknya," gerutunya.

Beleriphon menggesekkan sayapnya ke punggung Parthenon yang berguncang-guncang, berusaha bersimpati, walau matanya sendiri juga begitu bening seperti kristal sekarang. "Dia wafat dengan terhormat," bisiknya. "Kita tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanannya."

"Darah Delimanya han...cur..." isak Parthenon. "Keterlaluan. Kenapa tidak aku saja !"

"Cukup," sergahku. "Ayo lakukan sesuatu untuk hari besok," seruku, lantas berjalan entah kemana. Baru kusadari kakiku begitu berat seolah sudah dipasangi pipa-pipa besi, jadi aku berjalan seperti sedang memakai kruk.

.

.

"Aku benci mengakuinya, sebenarnya," celetuk Pyrus, "tapi Naruto benar. Sekarang untuk waktu sangat dekat ini...apa yang akan kita lakukan padanya ?" Selidiknya sambil melirik tubuh tak bernyawa Ardhalea.

"Biarkan disini," ucap Parthenon sendu. "Aku akan...buatkan...peti. Dia akan disini...kita...akan...dirikan tenda peristirahatan untuk malam ini disini."

Sayup-sayup kudengar percakapan mereka di belakang.

.

"Apa kita mesti memberitahu markas dan menyebarkannya ke seluruh dunia kalau Paradox sudah tiada ?" Sergah Sasuke.

"Menurutku tidak. Kau tahu, itu hanya akan membuat musuh makin gencar menyerang dan melemahkan tekad pasukan kita," cetus Itachi.

"Telat," sambung Hermes. Duo Uchiha meliriknya. "Madara dan Batalion Keempat. Tsuchikage dan Kazekage telah mendengarnya langsung dari mulut terkutuk Deavvara sendiri," desisnya. "Waktu itu pun, ketika kebenarannya masih belum bisa dipastikan, wajah-wajah yang ada adalah suram dengan harapan yang luntur. Jika kita menyebarluaskan berita ini, itu hanya akan melumpuhkan semangat mereka."

"Tapi kalau tidak disebarkan, mereka akan berada dalam keadaan bingung antara mati atau tidak," sanggah Beleriphon. "Benar-benar dilema."

Pyrus mengangguk mengiyakan. Ia kemudian menatap laki-laki berambut raven sebahu di depannya.

"Itachi."

"Ya ?"

"Menurutmu...seandainya ibumu meninggal dan kau sedang di tengah peperangan, kau lebih memilih untuk mengetahui dia meninggal setelah perang atau ketika kau sedang berperang ?"

Itachi mengerutkan alis. "Kenapa kau bertanya begitu ?"

Pyrus menghela napas. "Yah, kira-kira seperti itulah keadaan kita sekarang."

Itachi terdiam, menatap api unggun jumbo (bagi manusia) di depannya. Mata onyx-nya berkilat-kilat diterpa cahaya api.

.

.

"Aku memilih untuk..."

"...mengetahuinya setelah perang selesai..."

.

"Niisan ?" Selidik Sasuke.

"Tak apa," kilah Pyrus. "Apa alasanmu ?"

"Perang...balapan...ujian...semua pekerjaan yang berujung pada peringkat dan dilema menang-kalah...membutuhkan konsentrasi dan tekad, kemauan dan kemampuan yang melebihi rata-rata lainnya. Jika mendengar berita buruk, itu hanya akan memecah fokus. Itu tidak bagus, bisa menurunkan semangat juga. Apalagi berita yang sangat mengguncang. Ketika kita telah menyelesaikan satu tantangan dan kita berpikir kita sudah menyelesaikannya dengan baik, mendengar berita yang sangat buruk tidak akan memecah konsentrasi apa-apa," ia mengajukan agrumen.

"Jadi kau sarankan kita menyembunyikan kabar kematian Paradox pada pasukan aliansi ?" Selidik Sasuke.

Itachi mengangguk.

"Masalahnya adalah," Hermes bicara lagi, "kita tidak akan bisa menyembunyikan berita palsu ini lama-lama. Serapat apapun orang membungkus bangkai, lama-lama baunya akan tercium juga."

Beleriphon meliriknya tajam.

"Ehm, maksudku itu paribahasa. Bukan...bukan aslinya, mengerti ? Memang da-dari sananya sudah seperti itu !" Kilah Hermes.

"Kalau demikian, apa yang harus kita katakan pada Batalion Keempat ? Kazekage dan Tsuchikage sudah dengar, tahu ! Kita tidak bisa mengelabui dua Kage semudah itu, apalagi salah satunya sudah hidup lebih lama daripada Madara sendiri !" Tukas Beleriphon.

"Kurasa yang ini lain lagi kasusnya," desis Itachi.

"Baiklah, kami tergantung keputusanmu sekarang," dukung Pyrus.

Hening beberapa saat. Hanya terdengar suara percik api yang terus menghabisi kayu bakar.

.

"Baiklah," kata Itachi setelah terdiam beberapa lama. "Kita akan beritahukan kematian Paradox."

"Pada seluruh aliansi ?" Sergah Sasuke.

"Pastikan tidak ada satu orang dan nagapun yang terlewat."

.

.

.


Temple of Etatheon

Malam semakin larut. Entah sudah berapa lama aku berdiri di depan pintu ini. Lambang Paradox terpasang jelas diatasnya. Segilima berwarna perak dengan sepasang sayap malaikat, tujuh bulatan berwarna pelangi di sekelilingnya. Aku menatap aula. Tempat dimana Paradox dicampakkan oleh kakaknya sendiri ketika mereka berdebat seru.

"Masuklah," ucap Parthenon. "Kalau aku jadi kau, aku akan melakukan ini juga."

Masih bisa kudengar kepedihan dari suaranya, tapi aku mengangguk. Kubuka pintu dan melangkah masuk ke ruangan, yang tidak berubah sejak terakhir kali dan pertama kali kunjunganku kesini. Kurebahkan diri ke kasur mewah itu, berusaha terpejam. Aku lelah dengan semua ini, tapi bukan itu tujuan utamaku tidur cepat-cepat.

Kuharap aku bisa bertemu Ardhalea dalam mimpi.

.

.

Sekalinya ini, aku ingin bertemu dengannya. Walau hanya dalam mimpi.

"Permisi ?"

"Masuk," jawabku malas-malasan.

"Aku tidak bisa masuk. Pintunya kekecilan."

Aku membuka pintu. Kurama berdiri di depanku. "Itachi menyarankan agar kita memberitahukan kematiannya," ujar Kurama. "Aku kesini meminta persetujuanmu. Ngomong-ngomong, Etatheon sudah menyetujuinya."

Aku mendesah. Itachi bukan tipe orang yang diremehkan kalangan manapun. Aku mengangguk, menyetujui ide itu.

"Sebentar, Kurama..."

"Hmm ?"

"Bisa kau panggilkan Hermes untuk mengantarku ke kamp peristirahatan ? Aku...perlu menemui Itachi."

Kurama menggeleng. "Itachi dan Sasuke sedang pingsan. Kolaps. Seluruh tubuh mereka menggigil dan demam."

"Kenapa ?" Ujarku terkejut.

"Mereka kan melihat wujud sejati Paradox," jawab Kurama datar. "Aku tidak tahu kenapa, tapi...aku dan Demetra tidak begitu terpengaruh dengan itu. Beberapa menit setelah mereka memasuki kamp, dua Uchiha itu langsung pingsan dan bergetar. Aku tidak menyangka efek melihat wujud sejati saja bisa sehebat itu. Untungnya tidak langsung, ya."

Aku mengangguk mengerti. Tidak semua orang –mungkin sebagian besar manusia dan naga- bisa tahan melihat wujud sejati Paradox dan Ortodox.

"Kapan mereka bisa sadar ?"

Kurama mengangkat bahu.

Hermes merengsek ke kuil, mendarat dengan tertatih-tatih. Cahaya obor dan lampu minyak tampak samar-samar, jauh di belakangnya. Sepertinya satu batalion sedang menuju ke Kuil Etatheon.

"Ehm," ia berdehem. "Kau sebaiknya istirahat, Naruto-sama. Aku telah terbang ke lima batalion sekaligus bersama Beleriphon, dan mengatakan pada mereka untuk berkumpul. Bersatu kembali...disini, di Kuil Etatheon. Mereka akan mendirikan kamp peristirahatan di halaman yang sangat luas ini, kemudian menunggu berita besar yang akan diumumkan pagi besok oleh kami dan mungkin...kau juga," jelasnya panjang lebar.

"Berita apa ?" Selidik Kurama.

"Anu...soal kematian Paradox."

Tanpa berkata apa-apa, aku berbalik. Masuk ke kamar dan membanting pintu, membanting diriku sendiri ke kasur yang terasa seperti bongkahan batu vulkanik. Sayup-sayup aku masih bisa mendengar percakapan mereka dari sini, atau mungkin karena kedua kupingku mendadak jadi peka sekali.

"Kenapa kau lama ? Etatheon juga ? Mereka baru datang !"

"Kami keluar, dan terlibat pertarungan bersama Madara. Bahkan ada Styx dan Droconos serta Ortodox pula ! Itu gila, puluhan naga yang kubimbing sampai mati juga. Untungnya kami tidak terluka parah, dan berhasil memukul mundur mereka sementara ini. Ortodox sepertinya kehilangan kecakapan bertarungnya, entah kenapa. Semoga saja dia tahu kalau perbuatannya itu salah, meski begitu, tindak-tanduk Madara-lah yang sempat kucurigai. Dia seperti sedang mengincar sesuatu...dan dengan sengaja tidak membunuh kami."

.

.

"Ardhalea," gumamku sendiri sambil menatap langit-langit.

"Bisa kita bertemu untuk malam ini ?"

Cara itu terdengar aneh. Mana mungkin berhasil, pikirku. Aku memejamkan mataku.

Dan aku ingin bermimpi sekarang. Apa sajalah, asal bukan sesuatu yang aneh-aneh. Tapi semakin aku berusaha, semakin aku merasa buntu.

Enyahkan semuanya, pikirku lagi. Tidur sajalah. Besok...akan jadi hari yang besar. Gerhana...akan terjadi besok.

Firasatku mengatakan aku akan bermimpi. Aneh. Yang jelas, setelah memikirkan itu, aku tertidur. Mengabaikan semua suara berisik di luar kamar dan urusan kamp berantakan dari lima batalion sekaligus. Kuharap tidak ada yang menanyakan aku ada dimana, karena itu akan mengganggu mimpiku.


Yang pertama kuingat adalah: panas. Udaranya begitu panas. Serasa berada di dalam panci presto yang sedang memasak air atau apapun untuk dididihkan. Herannya, aku tidak berkeringat. Penasaran apakah ini termasuk mimpi-transparan seperti dua mimpi pertanda sebelumnya, aku mengangkat satu batu berwarna abu-abu keputihan yang sekujur sisinya berpori-pori seperti spons. Ringan. Dan tidak jatuh di tanganku. Ini tidak seperti dua mimpi sebelumnya.

Ada gelegak air mendidih, sumur selebar dua meter di dekatku, dengan air panas yang bergelembung. Kulempar batu itu, dan dia terapung.

Batu apung.

Aku menoleh ke belakang. Sebuah gunung berapi sewarna arang menjulang tinggi, mengepulkan asap hitam pekat yang mencemari langit, mengubah warna awan putih menjadi kelabu. Sungai lava –yang merupakan satu-satunya sumber cahaya disitu, mengalir tenang melalui lereng. Untungnya tidak ada yang sampai kesini.

.

.

"Tidak sesulit yang kukira."

Aku berjengit karena suara itu terdengar tak asing. Kubalikkan badanku lagi, dan aku nyaris menghunus Pedang Rikudo-DNA-ku ketika ingat di mimpi itu aku tidak membawa senjata apapun selain kedua tangan dan kedua kakiku.

Rambut hitam sebahunya tampak berkilat. Ada pantulan bayangan lava dan api di mata ungunya, seolah memang terperangkap disana. Ia menatapku dengan sikap angkuhnya yang biasa –kedua tangan disedekapkan, dan berdiri tegak dengan dagu sedikit terangkat. Kali ini ia tidak bertanduk atau bersayap, yang membuatku sedikit pangling.

"Deavvara," dengusku. "Sayangnya ini cuma mimpi."

Aku tidak tahu bagaimana bisa aku berkata begitu. Adakah orang yang sadar sedang berada dalam mimpi ? Mungkin saja, sih.

Ia mengedikkan bahu. Ekspresinya datar dan kosong. Aneh. Biasanya dia menyapa 'senang bertemu denganmu' dengan nada ingin membunuhku. Aku menggeram, meremas tangan.

"Puas membunuh adikmu sendiri, sialan ?"

Aku bisa memikirkan kira-kira seribu tujuh ratus umpatan yang lebih buruk dan menyakitkan, tapi entah kenapa cuma itu yang keluar.

Devvara terlihat muram. Aku memutuskan untuk tutup mulut menunggu dia bicara.

"Kau tahu tempat apa ini ?"

"Hotel bintang lima," jawabku asal-asalan. "Jelas-jelas ini gunung berapi."

"Gunung Batuwara," koreksinya. "Gunung berapi terbesar di dunia."

"Kenapa aku harus tahu itu ?" Balasku sengit.

"Di tempat inilah Uliran Samsara ditempa."

.

.

Aku menoleh ke kiri-kanan. Tidak ada apapun selain batu, lava, asap, dan apapun yang lazim ditemui di gunung berapi.

"Ikut aku."

Anehnya, aku mengikutinya. Kami beranjak turun, dan baru kusadari betapa besarnya gunung berapi ini hingga puncaknya nyaris menyentuh awan terendah. Jadi yang keluar dari kawahnya itu bukan asap. Itu adalah awan itu sendiri.

Di bawah, lereng melandai, dengan jutaan bebatuan vulkanik berserakan berantakan sepanjang lereng. Yang kukira 'gunung' ternyata hanya 'puncak'nya. Sisanya berada dibawah kakiku. Kumpulan bebatuan raksasa berbentuk aneh berwarna kemerahan tampak mengelilingi sepanjang lereng gunung, berbentuk seperti rantai raksasa. Kami terus berjalan hingga sampai di sebuah bangunan besar yang menyatu dengan badan gunung. Pintu masuknya kira-kira sebesar Gerbang Utama Konohagakure, tapi separuhnya tertimbun batu.

Bagian dalamnya sebesar yang kukira. Dimana-mana tampak meja batu yang terlihat sangat keras, dan tiang-tiang raksasa menyangga langit-langit gua raksasa. Stalaktit dan stalagmit tumbuh hingga setinggi rumah, bertebaran disana-sini.

Deavvara berjalan ke arah stalagmit terindah yang pernah kulihat. Lebih mirip kumpulan berlian berwarna gading yang bersatu di salah satu sudut ruangan, memancarkan cahaya putih lemah ketika kami makin mendekat. Ia mengambil satu kristal sepanjang setengah meter dan memperlihatkannya padaku. Makin dekat, aku bisa melihat bahwa warna asli batu itu lebih ke arah hijau kebiruan daripada putih.

"Kristal Batu Gelel," katanya. "Dari inilah, Uliran Samsara ditempa."

"Apa pentingnya buatku ?" Aku masih terdengar sungkan.

"Kau tahu siapa yang menempa senjata ini ?" Kali ini Deavvara menarik keluar begitu saja senjata terkutuk itu dari belakang tubuhnya. Darahnya sudah dibersihkan, entah dimana. Aku tak mau mengetahuinya, jadi aku menggeleng malas.

"Ardhalea."

Aku tertegun sesaat. "Untuk apa ?"

"Hadiah ulangtahunku yang kedua puluh," ujarnya. "Dia menempa ini sendirian disini, di jantung Gunung Batuwara, merahasiakannya selalu dariku, bahkan dari Hamura dan Hagaromo. Ketika harinya tiba, dia memberiku ini, dalam bentuk Uliran Samsara. Aku mengatakan padanya, senjata sekuat itu tidak pantas berada di genggamanku, tapi dia bersikeras. Dan aku menerimanya."

"Keputusan yang salah," cetusku. "Harusnya kau lebih keras kepala waktu itu."

Ia melirikku datar. "Kau marah karena aku membunuhnya dengan senjatanya sendiri dan memutus hubungan pengendara-naga-nya denganmu ?"

Aku terdiam. Ya iyalah marah, pikirku. Deavvara yang ini lugu sekali, sih ?

"Aku merasa bersalah juga," katanya kemudian, sambil meletakkan Kristal Batu Gelel ke tempatnya semula. "Bagaimanapun, yang sudah terjadi takkan bisa dirunut balik. Percayalah, aku tidak benar-benar bekerjasama dengan Madara..."

"Ataupun kami," tabrakku. "Kau akan mengkhianati Madara dan sekutunya pada akhirnya, membelot lagi bersama Styx dan Droconos, untuk mencapai ambisimu sendiri, kan !" Seruku. "Sebenarnya apa sih tujuan hidupmu ?!"

Dia terdiam. Aku sendiri bertambah marah, disamping bingung kenapa Deavvara menunjukkan tempat penempaan tak berguna ini padaku. Apa pentingnya Uliran Samsara ? Aku seribu kali lebih setuju kalau senjata itu dihancurkan. Lagipula, aku tidak pernah mendengar nama Gunung Batuwara dimanapun aku berada.

"Kau takkan bisa menemukan Gunung Batuwara di peta atau globe manapun," desis Deavvara. Dia membaca pikiranku. "Gunung ini disembunyikan dari sejarah ruang dan waktu. Gunung ini berada di dimensi lain. Tidak ada di belahan dunia manapun."

"Dan bagaimana kalian bisa pergi kesini ? Dengan Jikukan Ninjutsu ?"

Deavvara mengangguk. "Begitulah. Tapi ini bukan yang sesungguhnya ingin kukatakan padamu. Mari."

Ia berjalan lagi, memaksaku mengikutinya. Kali ini kami turun lebih jauh ke pusat gunung berapi, yang panasnya semestinya sudah membuatku merah seperti kepiting rebus, tapi aku tidak tahu kenapa aku bahkan tidak berkeringat samasekali, sama seperti Deavvara.

Bagian ruang magma Gunung Batuwara mengingatkanku pada lambung super-raksasa Varan, yang kuyakin ukurannya pun tak jauh berbeda. Lautan magma membentang sepanjang mata memandang, mendidihkan bebatuan, dan bergolak seperti dodol yang sedang diaduk, hanya saja lebih encer. Panasnya pasti luar biasa. Tapi yang menarik perhatianku adalah sebuah pulau batu aneh yang mengapung diaduk magma, dan ada sesuatu diatas sana.

Aku memicingkan mata, dan mendapati ada dua.

Dua...makhluk aneh.

Salah satunya mengingatkanku pada Pyrus –tubuh panjang berukuran sangat besar, kepala lonjong panjang berjenggot lebat sepanjang rahang bawahnya, tanduk berbentuk sabit di hidung, dan tanduk berwarna perunggu lainnya di alis, terbentang ke belakang seperti tanduk rusa –agak-agak mirip tanduk Ardhalea. Layar kulit di lehernya, dan bulu-bulu persegi panjang aneh di kaki depan atasnya. Dia tidak punya kaki belakang, melainkan sepasang sayap raksasa yang semestinya ada di punggungnya, menggantikan kaki belakang. Di bahunya bertengger sayap berbulu yang kokoh. Ekor panjangnya berujung pada tujuh helaian aneh serupa daun kering.

Makhluk yang satunya tidak mengingatkanku pada apapun. Dia memiliki kepala yang tidak mirip naga apapun yang pernah kulihat, dan bagian depannya dilapisi paruh berkilat. Dia punya gigi, dan ada satu tanduk hidung melengkung ke depan. Tanduk alisnya seperti tanduk domba –mirip tanduk Deavvara, tapi mengarah ke dalam. Duri-duri aneh berbentuk silet tumbuh di tengkuknya, dan makhluk itu punya empat kaki –kaki depannya punya tapal yang memanjang ke belakang, kaki belakangnya terlihat seperti kaki naga dengan cakar elang gemuk. Ada sayap di punggungnya, dan ekornya berbentuk seperti sarang lebah yang dicuati duri.

Bentuk dua makhluk itu amat berbeda dan terkesan kuno, tapi mereka berdua tampaknya akrab –saling menggesek kepala satu sama lain ditengah lautan magma mendidih.

"Siapa mereka ?" Tanyaku akhirnya.

"Coba tebak."

Aku mengerutkan dahi, berpikir. Sesuatu yang sangat kuno...ada bahkan sebelum naga-naga tertua...bahkan...lebih tua daripada Kaum Naga Kolosal. Sepasang makhluk aneh yang bersembunyi dari dunia...?

"Horus dan Haumea," kataku. "Naga Langit dan Naga Bumi. Yang pertama, ayah-ibu dari Kaum Kolosal."

Deavvara mengangguk pelan. "Tepat. Mereka masih hidup, walaupun sudah renta. Dan mereka disini, di perut Gunung Batuwara."

"Kenapa ?" Aku mendadak mulai tertarik.

"Kalau kau melihat dari luar, kau akan tahu sebabnya."

Ia menjentikkan jari, dan kami larut dalam gumpalan bulu-bulu hitam. Ketika tabir itu membuka, aku melihat Gunung Batuwara seutuhnya dari kejauhan. Mengagumkan bagaimana gunung itu masih tampak sangat besar dari jarak sejauh ini, tapi perlahan aku mulai sadar akan sesuatu. Batu-batu raksasa berbentuk seperti rantai itu...bukan batu. Itu memang rantai. Rantai super raksasa yang melingkari seluruh gunung.

"Rantai Laeding," jelas Deavvara singkat. "Terbuat dari sumsum tulang seekor beruang, jenggot seorang wanita, suara langkah kaki seekor kucing, akar sebuah gunung, ludah seekor burung, dan napas seekor ikan."

Aku mengernyit mendengar bahan-bahan yang begitu aneh. Wanita berjenggot ? Suara langkah kaki ? Ludah burung ? Napas ikan ?

"Aku tidak bergurau," ketusnya. "Rantai Laeding-lah yang membelenggu dan menyegel Horus dan Haumea. Tidak hanya itu, rantai magis itu juga-lah yang menyembunyikan keberadaan Gunung Batuwara dari dunia. Legenda mengatakan rantai ini dibuat sendiri oleh ibuku, Ootsutsuki Kaguya. Anehnya, beliau tidak pernah cerita apa-apa soal ini ke kami berempat sampai Ardhalea menemukannya sendiri."

Mengesampingkan fakta aneh bahwa sebelumnya Deavvara menyebut ibunya sendiri sebagai nenek-nenek bertanduk dan berambut gondrong, aku mengajukan pertanyaan yang sudah sepantasnya diajukan pada topik semacam ini.

"Apa yang terjadi," aku meneguk ludah, "jika rantai itu diputus ?"

"Gunung Batuwara akan tampak kembali ke dunia, di suatu tempat," jelas Deavvara. "Dan...kedua naga pertama...akan bebas. Tapi hanya kekuatan dari delapan Etatheon-lah yang bisa mematahkan Rantai Laeding."

"Dan sekarang Paradox telah tiada," desisku, kembali ke permasalahan utama. "Itu artinya rantai ini takkan bisa dilepaskan ? Tapi apa sih, yang akan dilakukan kedua naga buyut itu kalau mereka bebas ?"

"Entahlah. Bisakah kau memprediksi sesuatu yang telah berusia tujuh juta tahun ? Bagus kalau mereka membantu mengalahkan Madara, tapi akan lain ceritanya kalau mereka mengaduk-aduk dunia dengan kekuatan langit dan bumi yang mereka miliki."

Telingaku masih cukup waras, kan ? Aku barusan mendengar Deavvara mengatakan 'bagus kalau mereka membantu mengalahkan Madara'.

"Yah, cukup sampai disini," desisnya. "Kurasa kau sudah mengetahui cukup banyak."

"Tunggu !" Seruku. "Apa maksudmu soal–"

.

.

.


Aku terbangun. Kasurku basah. Tidak, aku tidak mengompol. Itu keringat. Kusadari seluruh tubuhku lengket. Setiap senti tubuhku dipenuhi peluh. Apa jangan-jangan efek dari ruang magma Gunung Batuwara malah terasa di tubuh asliku, ya ?

Aku membuka pintu sebelah, bukan pintu yang menuju ke aula. Pintu itu...menuju ke dunia luar langsung. Setidaknya, ke balkon. Kulihat matahari telah terbit. Darahku berdesir. Gerhana akan terjadi hari ini. Kapan ? Pagi hari ? Siang hari ? Sore hari ? Akan gawat jika terjadi sebelum kami bersiap-siap. Hanya delapan menit, waktu yang sangat singkat untuk menentukan nasib dunia ribuan atau jutaan tahun mendatang.

Suara pintu diketuk kembali tertangkap telingaku. Aku membukanya dengan setengah berharap itu bukan seekor naga.

"Hinata ?"

Dia mengangguk. "Bagaimana kau tahu aku ada disini ?" Tanyaku curiga. "Byakugan ?"

"Enak saja," semburnya. "Kamar ini tidak tertembus Dojutsu apapun. Aku hanya bertanya ke Kurama."

Kami berdua terdiam sejenak.

"Aku turut berduka cita so–"

"Jangan katakan," tabrakku.

"Aku sudah dengar semuanya dari para Etatheon. Dia pasti sangat berarti untukmu," dia tetap melanjutkan. Aku meringis.

"Mereka memberitahukannya lebih awal ?"

"Hanya untuk Tim Paradox saja," jawabnya datar. "Berkumpullah di halaman. Kau akan berada di beranda kuil bersama empat Etatheon itu untuk mengumumkan kematiannya. Sarkofagusnya sudah dipersiapkan," desisnya lirih, lalu pergi.

Dan aku baru saja hampir menutup pintu ketika kulihat seorang lagi berjalan ke arahku. Dia tidak asing, dan sejujurnya aku tidak mengira dia akan datang kemari secepat itu.

"Sara," cicitku. "Apa yang terjadi ?"

Seseorang mengekor di belakangnya. Bunshin-ku. Kemudian dia menghilang, dan semua info dan pengalaman yang didapatkannya di Rouran berpindah padaku dalam sekejap. Aku manggut-manggut. "Kau tinggalkan Kizashi untuk mengurus ratusan penduduk Rouran sendirian ?"

"Bersama para Dewan Kota, ya," koreksinya. "Apa benar Pa..."

"Iya," aku menabrak kata-katanya. "Tolonglah. Aku malas membicarakan itu."

"Maaf. Kudengar...pengumumannya akan disampaikan pagi ini ?"

Aku mengangguk berat. "Kuharap aku tidak ada disana."

.

.

.

Pukul tujuh pagi.

Puluhan ribu Dracovetth dan naga berbincang seru di halaman kuil yang demikian luas soal kemenangan dan pengalaman mereka saat berhadapan dengan musuh. Beberapa terisak ketika menceritakan teman mereka mati dihadapan mereka. Beberapa yang lain bercerita lega saat mereka selamat dari ancaman kematian. Suara-suara berangsur menghilang ketika semuanya –termasuk komandan dari lima batalion yang ada- melihat aku dan empat Etatheon yang ada menaiki beranda kuil, yang memang punya posisi lebih tinggi dari halaman. Kuil Etatheon sendiri terletak di sebuah bukit dan ada seratus anak tangga yang luas untuk mencapai berandanya.

Beberapa berbisik-bisik. Aku menelan ludah, berharap mereka tidak membicarakan kenapa Paradox tidak tampak.

"Hadirin sekalian," Parthenon memulai dengan suara lantang, "kalian semua, lima batalion Pasukan Aliansi Lima Negara Besar, kami kumpulkan disini untuk mendengar sebuah berita yang sangat, sangat penting."

Hening sesaat.

"Begitu kami selesai menyampaikan," Hermes mengimbuhi, "tidak ada kekerasan. Tidak ada tawuran. Tidak ada kerusuhan. Semua diharapkan tetap tenang !" Serunya. Beberapa puluh orang (dan naga) mengangguk-angguk mengerti, walau itu hanya membuat mereka terlihat seperti mainan boneka per.

Pyrus menghela napas dalam-dalam. Aku meliriknya. Agak tidak berkaitan, tapi pertempuran mereka tadi malam pasti seru sampai-sampai dia kehilangan salah satu taringnya, walau sekarang sudah mulai tumbuh lagi.

Sebutir keringat meluncur menuruni pipiku. Dia akan mengatakannya ?

.

"Dengan sangat berat hati..." ucap Pyrus dengan suara gemetar.

"...aku...sebagai perwakilan Etatheon..."

"...mengumumkan pada seluruh dunia...bahwa..."

.

.

Aku sempat berharap, 'jangan katakan, penyumpah langit ! Jangan katakan, oi !'

.

"...Sang Paradox..."

.

"...telah...tiada..."

.

.

.

TIDAK ADA yang bisa mengalahkan keheningan mencekam semacam ini. Ribuan orang terdiam, membuat halaman dan beranda Kuil Etatheon seolah merupakan tempat mati tanpa pernah ada kehidupan. Ada ribuan nyawa disini, tapi tidak satupun yang bersuara.

"Jangan bercanda !" Salah satu Dracovetth berteriak, memanfaatkan keheningan.

Beleriphon mendesah, lalu kembali ke kuil. Semenit kemudian, dia membawa sebuah sarkofagus raksasa –untuk ukuran manusia- yang terbuat dari kayu yang diukir amat indah, dengan hiasan bunga-bunga dari penjuru dunia dan sulur-sulur tanaman rambat yang menumbuhkan dedaunan hijau segar. Sungguh berlawanan dengan apa yang ada di dalamnya.

Kami bingung. Apa yang harus dilakukan ? Menjunjung tubuh tak bernyawa Ardhalea dalam bentuk naganya yang terakhir dan memperlihatkannya kepada seluruh aliansi ? Kedengarannya tidak etis sekali untuk sesuatu yang sudah tak bernyawa, dipamerkan begitu saja ke hadapan ribuan orang.

"Kami tidak bercanda," tegas Beleriphon akhirnya. "Buktinya adalah aurora ganjil kemarin. Sarkofagus ini berisi...tubuh tak bernyawanya. Dalam bentuk naga. Paradox meninggal...saat melindungi Naruto dari Ortodox. Sang Ortodox memiliki Uliran Samsara, senjata terkuat yang pernah dilihat manusia. Saat dia nyaris menusuk Naruto, Paradox melindunginya..."

Meski diucapkan dengan tegas dan tegar, kata-kata dan suara Beleriphon menghilang di akhir kalimat.

"Sang Paradox...meninggal dengan hormat," sambung Parthenon. "Dia telah melindungi apa yang mesti dia lindungi. Dia telah mempercayakan apa yang mesti dia percayakan. Dia telah melakukan apa yang harus dia lakukan. Dan dia mempercayai kita untuk menyelesaikan peperangan ini hingga akhir. Kita tidak akan menyerah begitu saja ! Kita akan..."

Parthenon bungkam begitu menyadari seluruh aliansi...telah kehilangan semangat.

Banyak dari mereka jatuh terduduk di tanah. Banyak dari mereka menitikkan airmata putus asa. Pandangan-pandangan kosong tanpa harapan. Bahkan para naga melakukan hal yang sama –sayap mereka melayu dan mendesah. Aku terpaku. Aku sedang melihat sepasukan aliansi yang sedang kehilangan harapan dan semangat. Ini lebih menakutkan daripada yang kubayangkan.

"Kita akan berakhir !" Seru sebuah suara.

"Untuk apa kita berjuang sekarang !" Sahut yang lain.

"Sudah tidak ada harapan lagi !"

"Kita sudah tamat !"

.

.

.

Aku melirik dengan ekor mata. Keempat Etatheon kehabisan kata-kata. Tim Paradox juga tidak berdaya memberikan semangat.

Aku menghela napas dalam-dalam.

.

Ini...

...tidak akan berakhir seperti ini kan ?

.

.

.

"HEI !" Aku berteriak sekeras mungkin. Kudengar sayup-sayup teriakan keputusasaan mulai mereda.

"KALIAN PRAJURIT, ATAU TIKUS ?" Sentakku keras-keras. Meniru...yah, kau tahu aku meniru siapa.

.

"KALIAN DRACOVETTH, ATAU PENGENDARA CACING ?"

.

"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi sedetik kedepan setelah ini ! Bahkan aku ! Tapi itu tidak akan membuat kita berhenti berusaha ! Tidaklah kalian disebut prajurit atau pengendara naga atau apapun yang kalian ingin pakai sebagai titel yang melengkapi nama kalian, jika mendengar saja membuat kalian jeri ! Bukankah para insan disini masih cukup tangguh setelah diluluh lantakkan oleh Ortodox ? Bukankah kalian telah diberi amanah oleh para Kage untuk menjalankan misi sebaik-baiknya ? Dan kalian masih hidup hingga sekarang ini ! Itu sebuah bukti bahwa kalian telah ditakdirkan menjadi prajurit !"

"Apa yang kudapat disini ? Kumpulan manusia-manusia tangguh kaya tekad atau kumpulan kurcaci lemah tanpa harapan ?!"

"Lihat aku, kalian semua ! LIHAT AKU !" Seruku dengan nada tinggi. Dalam hati aku benar-benar heran, bagaimana mungkin aku bisa mengalirkan kata-kata seheroik itu dengan lancar persis sama seperti yang dikatakan Paradox sendiri di Kusagakure sebelum deklarasi perang ? Aku bahkan tak kepikiran untuk menghafalnya sedikitpun !

.

"JANGAN ADA YANG TERTUNDUK, LIHAT AKU !"

.

"Aku ada bersama kalian. Aku ada di setiap jiwa kalian. Aku mengalir dalam darah kalian ! Menjadi daging kalian dan menjadi semangat kalian ! AKU ADA BERSAMA KALIAN ! Dan itu cukup untuk membuat kalian menyerukan kebenaran dan memberantas pemberantas, menghancurkan penghancur, menindas penindas, dan menyiksa penyiksa !"

Aku tersadar.

Suara itu bergema dari dalam tubuhku dan memaksa mulut, tenggorokan, dan pita suaraku untuk menyerukannya keluar. Aku melakukannya secara otomatis, dan sekarang aku kembali mendapat kendali penuh tubuhku. Ini harus kulanjutkan.

"Itulah pesannya," desahku keras. Tubuhku bergetar. "Dia percaya pada kita semua. Dia BISA menghancurkan kita semua dengan menjatuhkan gunung diatas kepala dan meremukkan kita semua, tapi DIA PERCAYA PADA KITA !" Hantamku.

"Tidakkah itu merupakan sebuah kehormatan yang begitu besar untuk manusia dan naga biasa seperti kita !"

Aku mengangkat Nunboko no Tsurugi yang terselempang di punggungku, menentang cahaya matahari. "KITA AKAN MENANG !"

"Apa kalian akan membiarkan Madara mengambilalih dunia ?! Apa kalian akan membiarkan hidup kalian dikendalikan penuh oleh sesorang ?! Apa kalian akan membiarkan dunia ini hancur ?! APA KALIAN INGIN MENGECEWAKAN DIA ?!" Sentakku keras-keras sambil menuding sarkofagus Ardhalea dengan pedangku.

Semua orang bungkam.

.

.

"Kita tidak akan berhenti berjuang hanya karena yang terkuat diantara kita telah menyelesaikan tugas dan hidupnya terlebih dahulu ! Kita tidak akan berhenti ! Perjuangan tidak boleh berakhir bahkan ketika semuanya tampak sia-sia ! Kita masih punya harapan sekarang ! Kita harus hentikan Madara dan sekutunya hari ini juga sebelum gerhana terjadi, dan AKU PERCAYA PADA KALIAN SEMUA !"

"Kalian adalah prajurit-prajurit dan naga-naga terhebat yang ada dalam abad ini," seruku. "Tidak jadi soal berapa banyak ancaman dan musuh yang menyerang kalian. Bertarunglah dengan berani dan penuh tekad, dan kita akan menang !"

Masih terdiam.

Aku menelan ludah kecut. Apa yang harus kulakukan ? Aku sudah kehabisan kata-kata. Aku bukan penyemangat yang begitu bagus.

.

.

Aku mengangkat pedang tinggi-tinggi, mencoba terlihat tegap, dan mengeluarkan jurus terakhir.

.

"DEMI PARADOX !"

.

.

.

Aku merasakan jantungku berdentum-dentum, napasku memburu, dan semuanya...terdengar begitu heroik. Ribuan pasang mata menatapku dengan pandangan tak percaya. Untuk sesaat, aku mengira aku telah berhasil memompa kembali semangat dan tekad mereka dan semuanya akan baik-baik saja, sampai...

"Emm, Naruto," panggil Pyrus. Aku menoleh padanya. "Sejak kapan itu ada di punggungmu ?"

Aku menengok ke punggungku sendiri dan nyaris terkena serangan jantung.

Sepasang sayap.

Sayap berbulu berwarna emas, mirip tekstur sayap Ardhalea tapi warnanya mirip sayap Hermes. Ada sayap di punggungku ! Aku tidak tahu harus bingung, senang, atau takut. Kemudian kusadari kepalaku sedikit lebih berat dari biasanya, dan aku memegang sesuatu yang berdiri jauh melampaui rambutku.

Sepasang tanduk.

Tanduk yang persis sama seperti milik Ardhalea. Begitu aku berkedip lagi, jaket oranye-hitamku telah berubah menjadi jubah putih keperakan yang indah dan elegan, dengan kerah tinggi, lengan longgar, dan corak yang persis seperti di mimpiku.

"Tekad Paradox," desis Hermes. Ia mendekat padaku, menelaah seluruh pakaianku, dan kemudian berpaling ke hadapan aliansi.

"SEMUA !" Raungnya –yang membuatku terkejut sekali lagi- "Uzumaki ini adalah seorang Draco P !" Teriaknya. "Sudikah kalian membiarkannya bertarung sendirian melawan ribuan kekuatan kegelapan ? Sudikah kalian menyerahkan semua tanggungjawab kalian pada seorang bocah ?"

"Bocah ?" Selidikku.

Hermes tidak menghiraukan. "Sudikah kalian –dia menerima semua sanjungan dan kepahlawanan yang bisa kalian dapatkan apabila kalian tidak putus asa dan menyerah sekarang ini ? Sudikah kalian dianggap generasi pecundang yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menggantungkan diri kepada yang terkuat ?! Sudikah ?!"

"TIDAK !" Seru aliansi kompak, menggemuruh di udara, menggetarkan dedaunan.

"Kalau begitu ayo ! Maju dan habisi mereka sebelum gerhana terjadi ! Kita semua akan bersama, bersama melakukannya dan menang bersama !" Beleriphon menimpali. Ia membentangkan sayapnya lebar-lebar diikuti naga-naga yang lain.

Aku mengangkat pedangku lagi. "UNTUK PARADOX !"

"UNTUK PARADOX !"

Raungan yang begitu dahsyat. Aku memandang Hermes dan ia mengedipkan mata.

"Musuh sudah bergerak," katanya, "mau kuantar ? Kujamin tidak ada seekor nagapun yang berada di depanmu," tawarnya.

Aku tertawa kecil. "Makasih," kataku. "Tapi..."

Aku melirik Pyrus. "Kurasa aku akan pergi dengan naga warisan ayahku saja. Aku masih...sayang pada sayap baruku," ujarku.

"Kau pikir aku ini apa, vas bunga antik ?" Gerutu Pyrus, tapi ia setuju. Tanpa pelana, aku naik ke lehernya. "Aku merasa terhormat, sih. Tapi kau punya sayap. Kenapa tidak coba terbang dengan itu ?"

"Aku belum terbiasa, tahu," balasku. "Bagaimana kalau aku jatuh dan patah tulang ?"

"Aku akan minta maaf," balas Pyrus cuek. Ia mengudara, diikuti Parthenon, Beleriphon, dan Hermes. Angin berkibar sepanjang jubah, menelusuri rambut dan wajahku, menerpa seluruh pori-pori kulitku. Rasanya sama seperti di Rouran. Sama seperti sebelum...aku berusaha menghadapi Venator seorang diri. Begitu berbeda, seolah ada cairan suplemen keberanian yang disuntikkan dan langsung mengalir sepanjang pembuluh darahku, mengisi tiap selku dengan keberanian, dan langsung diekstrak dalam bentuk puluhan ton energi.

"Naru," desis Hermes. "Aku tidak ahli membaca sifat dan emosi orang, tapi..."

"...kau terlihat lebih dewasa."

.

Aku terdiam sesaat. "Terimakasih," desisku. "Mungkin...sudah saatnya aku lebih baik daripada waktu-waktu lalu. Aku tidak boleh mengecewakannya," tekadku. Kupandang langit biru yang ditaburi awan lurus ke depan, dan segera menyaksikan segumpal tanah yang terbang ratusan meter ke udara, dan jatuh menimpa sebidang ladang. Perbukitan menggeliat, sesuatu yang amat besar bangun, membayangi tanah dengan sebentuk mimpi buruk mengerikan berbentuk siluet yang menentang matahari.

Jika sebelumnya aku pernah mengatakan Unktehi sialan itu sebagai binatang melata terbesar yang pernah kulihat, sekarang rasanya aku harus buru-buru meralatnya. Binatang yang tak diundang ini berukuran cukup besar untuk menciptakan sebuah sungai dengan tubuh super besarnya, dengan sisik-sisik raksasa berwarna hijau gelap, kuning gelap, dan bercak-bercak hitam yang mengingatkanku pada ular anakonda.

Anakonda terbesar yang pernah ada panjangnya 'cuma' 12 meter dan beratnya 'cuma' 250 kilogram, tapi anakonda yang satu ini kurasa lebih dari cukup untuk mencekik seekor Godzilla. Seluruh tubuhnya belepotan tanah dan lumpur dan beruap aneh seperti humus yang kelamaan dipendam.

"Yacumama," Parthenon memperingati. "Dasar ular itu," gerutunya kemudian. "Mungkin Etatheon saja yang mengurusinya. Yacumama bisa menjadikan seratus pasukan terbaik satu batalion jadi setingkat seratus nyamuk masuk ke mulut bunglon," sambungnya, dan ia pergi tepat ke hadapan ular –yang bahkan lebih besar daripada sepuluh Unktehi yang digabung jadi satu.

"Yacumama," ulang Beleriphon. "Ibu dari seluruh ular, panjangnya...emm...sebenarnya aku tidak tahu panjangnya berapa. Dia sangat kuat, dan cukup berat untuk meratakan tanah dan membuat sungai, membelah pegunungan dan menelan semua yang ingin ditelannya," cetusnya panjang lebar. "Yacumama tidak pernah begitu aktif memperlihatkan diri, tapi...yah, kejadian besar selalu membangunkannya. Dia bisa muncul dari mana saja."

Ular itu mendesis, menampakkan lidah bercabang dua yang cukup besar untuk meremukkan sebuah rumah. Mata hijau gelap dengan pupil vertikal khas ular melirik Parthenon yang cepat-cepat mendekat dan menembakkan satu Ryuudama kecil. Bola hijau itu meledak tanpa menghasilkan kerusakan berarti. Sepertinya ini akan jauh-jauh lebih sulit daripada Unktehi dan Wyvern.

"Sisik atau daging ?" Tanyaku. Bersiap dengan Nunboko no Tsurugi, sekaligus mengetes kekuatannya.

"Tak perlu," jawab Pyrus kalem. "Dia bisa mengatasinya."

Tapi sepertinya Pyrus salah. Mulut sang Yacumama –yang cukup besar untuk melahap satu blok kota, membuka lebar-lebar dan menelan Parthenon utuh-utuh. Ia mengenyahkan Hermes yang terbang berputar-putar di sekitarnya dan merayap di tanah. Walaupun aku jamin satu juta gajah akan lebih ringan daripada seekor Yacumama, dia merayap di tanah semudah laju bis.

"HEI !" Bentak Hermes marah. "KESINI, SIALAN ! HEI, BELUT RAWA !" Umpat Hermes keras-keras untuk menarik perhatian. Tapi Yacumama tidak mempedulikannya dan terus merayap...yang segera kusadari bahwa dia mengincar...Kuil Etatheon.

"Demi Sombrero," gerutu Pyrus. "Dia...dia mengincar Paradox !"

Amarahku tersulut. Petir bercampur angin setajam pedang muncul di tanganku, dan langsung kusambarkan keduanya ke tubuh si ular raksasa. Bekas-bekas hitam berasap tampak di kulit bersisik hijau-hitam yang berkilat seperti tameng baja, dan hanya sedikit (sekali) melukainya.

"TAHAN DISANA, DASAR GUNDUKAN TAHI RAKSASA !"

Entah ular purba itu sudah kenal kata 'tahi', atau Hermes memang terlalu kasar, ular itu berbalik dan mendesis marah. Hermes menembakkan Ryuudama raksasa –yang mestinya sudah meledakkan kepala Yacumama jadi kepingan, tapi hidup selama ribuan tahun membuatnya terlatih menghindari serangan dan terbiasa dengan tubuh sebesar itu.

Ryuudamanya meleset, dan secepat kilat menabrak tubuh naga dewa itu dengan kepalanya yang sangat besar hingga menabrak sebuah tebing.

Sang Yacumama mengangakan mulutnya lebar-lebar, menampakkan jaring-jaring saliva lengket seperti getah karet bening yang melingkupi gigi-gigi gergaji yang mengerikan. Empat taring raksasa mencuat dari gusi berwarna merah darah, cukup untuk melubangi tiga mobil sekaligus tanpa banyak usaha. Aku mendecih, dan segera kudengar suara desingan.

Seekor naga oranye menghambur dan menggores kepala Yacumama dengan cakar-cakarnya, sebelum ia dilemparkan tapi berhasil menjaga keseimbangan dan mendatangiku.

"Kurama," dengusku. "Kukira kau sudah maju dari tadi ?"

"Sengaja, kok," kilahnya, "hei, kapan kau belajar terbang ?"

.

.

Keanehan paling ganjil yang pernah kupikirkan, baru kusadari sekarang.

Aku terbang ?

Aku terbang !

Aku mengepakkan kedua sayap berbulu emasku tanpa sadar seolah kedua anggota itu sudah berada disana seumur hidupku. Kedua sayap itu tidak lagi terasa asing atau berat. Ini mengherankan, tapi untungnya aku bukan seorang penderita acrophobia. Yah, baru kusadari juga penderita acrophobia sudah seratus persen dijamin takkan bisa menjadi Dracovetth yang hebat. Kecuali mereka punya naga tipe laut.

"Restu Ardhalea," kagumnya. "Berhati-hatilah. Siapa tahu nanti di pantatmu tumbuh ekor," guraunya.

"Bagus malah," balasku. "Aku jadi bisa menyengat lidahmu biar tidak terus-terusan bicara."

Kami tidak bisa melanjutkan 'debat agrumen rutin' kami. Yacumama menelengkan kepala, dan ia mendesis hebat sambil membuka mulut. Ular super besar ini tidak menyemburkan air deras dari mulut seperti Jőrmungandr atau angin ribut seperti Unktehi, tapi begitu berada di dekatnya, segera kusadari baunya bahkan lebih buruk daripada septic tank. Seperti bangkai sapi yang tercampur seratus kilo bangkai tikus dan kodok, diaduk bersama sayuran dan buah-buahan busuk beserta kotoran para binatang pemamah biak. Yiekh, jangan berusaha membayangkannya.

Selagi aku dan Kurama menahan napas, rupanya sang ibu ular tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menelan kami berdua dengan sekali caplok, dan keadaan segera berubah menjadi gelap gulita.

Tak lama, aku mendengar suara Parthenon dan dinding yang bergetar meledak.

"Kurama !" Pekiknya. "Kita masih di kerongkongan Yacumama ! Aku sudah tanamkan Ryuudama ke bagian luar dindingnya dan tugasmu adalah menyulut mereka jadi ledakan besar ! Kita akan bobol penjara bau ini dari dalam dan segera terbang ke luar !" Dia memberi instruksi. Kurama menyemburkan api sekuat yang dia bisa.

.

BLLAAAARRR ! ! !

Ledakan hebat memborbardir sisik, daging, dan kulit sang Yacumama, membuatnya oleng dan jatuh berdebum dengan sangat keras dari jarak yang tak begitu jauh dari halaman terluar kuil. Kami bertiga keluar dengan selamat, setidaknya selain bau busuk ekstra yang disisakan sang ular.

Lubang besar dengan beberapa puluh liter darah membanjir ke rerumputan. Si ular tergeletak tak bergerak.

"Dia mati ?" Selidik Kurama.

"Tidak," tebakku. Sesaat kemudian, aku melirik Parthenon, mengonfirmasi jawaban.

"Tentu tidak," dukungnya. "Serangan sekecil itu takkan membunuhnya," ia beranjak terbang. "Tapi...kita sudah tahu kelemahannya."

.

.

"PYRUS !" Pekiknya keras-keras.

DRAK !

Sang Yacumama bangkit, mendesis ke arah kami dengan marah dan begitu kerasnya sampai beberapa tetes air liurnya yang menjijikan jatuh berhamburan, namun sebuah bola merah besar melesat dari langit dan langsung mengenai kepalanya, membuat ular raksasa itu berubah menjadi bola api. Kami terbang menghindar ketika api yang membakarnya terus membesar dan memanas.

"Tubuhnya mengandung humus !" Seru Pyrus dari atas. "Dan humus mengandung minyak ! Kurasa kau tahu apa yang akan terjadi kalau seseorang menggoreskan korek api ke sisiknya !"

Aku mengangguk mengerti, lantas segera mengarahkan Nunboko no Tsurugi untuk menembakkan api.

Sekarang seluruh tubuh Yacumama yang tampak diatas tanah diselubungi aura merah oranye. Api yang ada begitu besar dan panas sehingga seolah-olah hari itu matahari punya kaki tangan sendiri di permukaan bumi. Hermes terbang mengelilingi kepala Yacumama dengan pongah, kemudian terus menghujaninya dengan Ryuudama, meledak-ledak di sisiknya, membuat monster ular itu meraung ganas tanpa daya.

"Rasakan itu !" Gerutunya.

Kendati demikian, Yacumama tetap berusaha walau sekujur tubuhnya kini sudah menghitam. Ia berusaha menggigit apapun yang berada dalam jangkauannya, dan aku melompat ke Hermes.

"Arahkan ke mulut," perintahku. "Akan kubuat dia ompong."

"Serius ?" Selidiknya. Aku mengangguk dan berusaha kuat agar tidak jatuh. Hermes melesat, menukik sampai cukup dekat dengan rahang bawah Yacumama yang terbuka bebas, dan aku segera mengibas Nunboko no Tsurugi ke kedua taring bawahnya.

SRANG !

Dua taring setinggi daun pintu di rahang bawahnya segera terlepas dari gusinya. Sang ular meraung makin buas dan menjadi-jadi, namun Parthenon mengatupkan kedua sayapnya tinggi-tinggi dan melengkungkan ekornya ke bawah seperti sebuah sengat, tanduknya bersinar dan kulihat tanah meretak, membelah dan menampakkan sulur-sulur akar magis berwarna pink dan hijau muda, membelit sekujur tubuh Yacumama.

"Ini akan memudahkan kau, Naruto !" Serunya.

"Pita Glepnir," jelas Hermes. "Tidak bisa diputuskan oleh ular manapun. Cepat."

Aku bertindak cepat. Yacumama masih meronta walau seluruh tubuhnya sudah terbakar dan beberapa keping sisik raksasanya jatuh berdentang ke tanah laksana lembaran atap dari baja, tapi ia membuka mulutnya. Kutebas dua taring raksasa di rahang atasnya segampang sebelumnya.

"Kagebunshin no Jutsu !"

Seakan tahu apa yang terjadi, Yacumama berusaha menelusup kembali ke tanah daripada meneruskan pertarungan, tapi Pita Glepnir Parthenon terlalu kuat walau tampak tipis. Ia masih mengangakan mulutnya –tujuan utama jutsuku.

"為風: 巨大遁螺旋手裏剣 !"

Fuuton: Oodama Rasenshuriken

(Elemen Angin: Putaran Shuriken Angin Raksasa)

Diameter Rasenshuriken-ku kali ini tiga kali lebih besar dari biasanya, dengan memperhitungkan luas mulut ular yang akan dikenainya. Jutsu itu memancarkan aura biru-putih dan putaran angin yang begitu hebat sampai-sampai aku sendiri berputar-putar seperti balerina ketika melepasnya. Jika Hermes tidak sekuat itu, dia pasti juga sudah kehilangan keseimbangan.

Si ular meraung. Rasenshuriken memborbardir mulut raksasanya dengan jutaan jarum angin. Aku dan Hermes nyaris terempas ke belakang bersamaan dengan tubuh Yacumama yang tercabik-cabik sampai ke leher, dan begitu bola angin raksasa itu sirna, ia jatuh berdebum ke tanah dan tidak bangun lagi, dengan tubuh yang masih termakan kobaran api.

"Sampai kapan dia akan terbakar ?" Tanyaku.

"Sampai humus di tubuhnya habis. Mungkin beberapa jam lagi," timpal Hermes. "Nah, sekarang ayo pergi."

Aku mengangguk, kemudian duduk bersila di punggungnya, berusaha mengumpulkan energi alam sebelum pertarungan besar-besaran.

.

.

.

Hanya beberapa menit kemudian, kami sampai di perjumpaan pertama hari kedua Pasukan Aliansi Dracovetth dengan kubu Madara –hutan konifer dan semitropis luas yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Gurun Besar Shii Woong. Ketika kami sampai disana, situasi sudah tidak karuan. Aku tidak bisa bedakan mana Pembantai Bersayap dengan tim-timku, atau Desa Iwagakure dengan Desa Kirigakure. Pohon-pohon terbakar dan tumbang, sebagian terangkat ke atas karena diangkat oleh seekor naga yang menggunakannya sebagai pentungan untuk memukul lawan seperti bola bisbol.

"Ayo kita hajar mereka," Seru Kurama bersemangat sambil menukik dengan kecepatan penuh, dengan aku melompat secepat yang kubisa dari punggung Hermes ke punggung Kurama. Aku mendarat di tanah dan melakukan Tajuu Kagebunshin, sementara Sennin Modo-ku yang telah aktif membantuku mengenali apakah yang berada di depanku ini musuh atau bukan.

Seseorang meninju seekor naga besar yang hendak menyergapku dari belakang.

"Kenapa lama ?" Desisnya.

"Ada Yacumama, Pantat Ayam !" Seruku. "Ular terbesar yang pernah kulihat ! Baru sekarang dia bisa ditumbangkan !"

"Hmph, ular kuno lagi, ya ?" Balasnya. "Aku benci mereka."

"Hanya karena kau pernah dikalahkan seekor Unktehi ?" Tebakku.

"Terserah."

Kami berpencar, menebas, menangkis, mengayun, menendang, melompat, dan terbang (hanya aku saja yang terbang). Nunboko no Tsurugi membunuh tiap naga jahat dan mengubah Zetsu Putih menjadi pohon hanya dengan sedikit sentuhan atau goresan. Aku menyerang membabi-buta, berusaha tidak mengecewakan Ardhalea. Entah apa yang terjadi di kuil sekarang, tapi kami harus menang disini.

Begitu keempat Etatheon datang bersamaku dan Kurama, ratusan Pembantai Bersayap menghilang dalam beberapa menit. Pasukan kami mengalami kemajuan pesat, menekan musuh dan memaksa mereka terus-terusan mundur hingga nyaris mencapai gurun. Korban jiwa berhasil diminimalisir dengan sangat drastis, dan aku bersyukur Yacumama tadi tidak muncul di tempat seperti ini. Jika kami berhasil menyelesaikan ini, menghadapi Madara dan si pria bertopeng sialan itu pada sisa hari ini mungkin akan terdengar mudah.

"Sudutkan mereka sampai ke Danau Himitsu !" Suara Jendral Mifune meraung.

Kakashi-sensei melirik matahari. "Kira-kira pukul sebelas siang," bisiknya. "Dan belum ada tanda-tanda bayangan bulan atau apapun yang mendekati matahari. Semoga saja gerhana itu terjadi lebih siang dari perkiraan kita," doanya. Aku mengangguk mengiyakan. Pasukan kini dipusatkan. Serangan jadi lebih mudah, dan musuh tidak ada kesempatan untuk mengalihkan perhatian. Dua Kage ada disini, satu yang lain menjaga para Daimyo ratusan kilometer dari lokasi pertempuran paling ramai, dan dua lagi ada di Konohagakure bersama para ahli strategi dan komando pelacak dan sensor. Gerhana masih belum terlihat tanda-tandanya dan empat sekawan Etatheon ada disini. Apa lagi yang perlu dikhawatirkan ?

Untuk dua jam pertempuran habis-habisan di hutan dan danau itu, kulihat pasukan aliansi sepertinya mulai berada diatas angin. Kemenangan berpihak pada kami, untuk sekarang. Awalnya memang bagus, tapi suara gemuruh mendadak terdengar dari seberang danau. Tanah meledak dan pecah terbuka, menerbangkan bebatuan granit berapi yang langsung menghujani pasukan aliansi. Beberapa Dracovetth dan naga tewas seketika, belasan lainnya terluka. Aku meringis kesal. Apa lagi sekarang ?

Sosok naga bersisik ikan dengan warna merah seperti api, gigi-gigi mengerikan seperti pahat, dan mata bulat seperti bola pingpong, berbentuk murni ular, tanpa sayap dan kaki serta ekor bandul seperti sengat raksasa, muncul dari retakan tanah. Ia mendengus, dan abu vulkanis keluar dari lubang hidungnya yang besar. Ia meraung, menggetarkan permukaan air danau dari seberang dan menggemerisikkan pepohonan.

Sekilas ia mengingatkanku pada Demetra –atau Antaboga, ketika ia masih berada dalam wujud terkutuk itu, hanya saja dia jauh lebih besar. Kerdil kalau dibandingkan Unktehi dan Yacumama, tapi tetap cukup besar.

"Naga Taksaka," terang Hinata, tiba-tiba sudah ada di sampingku. "Satu gigitan akan mengubah apapun yang dikenai giginya menjadi abu. Terbakar langsung dan musnah. Kita sebaiknya hati-hati."

"Kau yang sebaiknya hati-hati," saranku, merasa sedikit angkuh. "Aku tidak akan terluka semudah itu, tahu."

Sebelum yang lain sempat bereaksi atau mengenali apa yang meledakkan tanah dan menerbangkan granit-granit itu, sang naga merayap keluar dari tanah dengan cepat, dan melata diatas air –yang mengagetkanku, karena aku tidak pernah melihat naga bisa berjalan diatas air- dan mengangakan mulut guanya lebar-lebar. Perkiraanku, dia tidak bisa menyembur apa-apa, jadi yang diandalkannya cuma ekor dan tubuhnya yang kuat serta gigitan mautnya.

Kulempar Nunboko no Tsurugi tepat ke hidungnya, tapi Taksaka membaca gerakan tersebut dan segera menceburkan diri ke air. Pedang spesialku menancap dan meledakkan tanah di seberang danau. Aku berlari ke air bersama puluhan prajurit lainnya.

Taksaka muncul dari balik riak, menggigit salah satu Dracovetth dari Konoha. Hanya kena mata kakinya, namun orang itu langsung terbakar dan menyisakan abu berbentuk manusia yang segera luruh ke air. Ternyata kekuatannya lumayan menakutkan juga, tapi aku mendapat kekuatan Paradox, jadi apa yang harus kukhawatirkan ?

Taksaka melihat ke arahku dengan mata putih beriris merah darahnya tajam-tajam. Ia mendengus, mengeluarkan abu dari sela-sela bibirnya.

"Draco P," geramnya. "Setidaknya ada ruang bagiku untuk balas dendam."

Aku mengernyit, tapi tidak ada waktu untuk bercakap. Kuabaikan itu dan segera kuserang dia. Taksaka menghindar, membanting tubuhnya sendiri jauh ke belakang untuk menghindari pedangku, tapi segera kutusukkan Hiraishin Kunai ke perutnya, berpindah dengan cepat dan menusukkan pedang berbentuk tangga terpilin itu. Taksaka meraung tidak terima, darah encer mengalir deras dari lukanya.

Aku menghindar. Ia mendesis kecewa, pada dirinya sendiri.

"Lumayan. Kerja bagus," sanjungnya.

"Jangan memujiku," balasku, "aku sudah menerima terlalu banyak pujian."

Naga itu menyeringai jahat, mengangkat ekornya. Ujungnya segera berubah dari bandul pipih liat menjadi sebentuk godam besar yang kuperkirakan beratnya sama dengan tiga badak hitam. Ia menghantamkan ekornya ke air dan membuat suara berdebur, setelah aku berpindah ke perutnya dan menancapkan satu tusukan lagi. Ia meraung lagi dan aku menghindar lagi.

"Terlalu gampang," ejekku. "Mana bisa balas dendam kalau begini caranya ?"

Taksaka menyeringai lagi, menderetkan gigi-gigi pahatnya. Ia bangkit dan menyerangku, tapi dihalau oleh puluhan kertas peledak. Puluhan naga dan Dracovetth menyerangnya, menyibukkannya.

Mendadak, aku merasakan sakit seperti tertusuk pisau dobel di perutku.

Kemudian rasa terbakar di punggung dan kepalaku, dan goresan dalam di leher dan kakiku.

Aku memperhatikan naga itu. Mereka menyerangnya...di bagian yang sama dengan rasa sakitku. Pikiranku menjernih. Jadi ini alasan kenapa naga itu masih menyeringai penuh kemenangan walau sudah kutorehkan dua luka dalam di perutnya.

"STOP !" Pekik Beleriphon pada aliansi. "Jangan serang Taksaka ! Kalau kalian menyerangnya, rasa sakit yang diterimanya akan dialihkan pada Naruto ! Kalian justru bisa membunuh Naruto !" Dia berteriak memperingatkan, dan sebentar saja, serangan mereka sirna, hanya memandang Taksaka dengan tatapan heran sekaligus benci.

Naga merah itu tertawa terbahak-bahak sampai mengguncangkan air danau. "Baru sekarang sadar," dia balas mengejek. "Sekarang kau tahu kenapa kau tidak akan bisa membunuhku, Uzumaki ?!"

Beleriphon mendarat di sampingku, ikut berdiri di air. "Mungkin Naruto memang tidak bisa," ucapnya, "tapi aku di pihaknya dan aku bisa membunuhmu hanya dengan mengatupkan rahangku."

"Tidak usah," cegahku. "Ini pertarunganku."

"Hmh ?"

Aku memejamkan mata, berkonsentrasi. Mengabaikan cengiran Taksaka, dan merentangkan kedua tangan, langsung membungkus naga itu dalam kubus cahaya yang berpendar kekuningan.

"JINTON ?!" Gusarnya. "Kau ! Kau menguasai Jinton !" Tudingnya padaku. "Sejak kapan ?"

"Sebaiknya kau jangan meremehkan manusia," kataku. "Walaupun mereka terlihat bodoh sekalipun." Aku mengatupkan tangan pelan-pelan.

"Ini tidak benar !" Raung Taksaka. Ia terjebak dalam kubus yang makin menyempit, memaksanya melipat tubuhnya. "Aku Taksaka ! Aku Naga Gatpura terakhir ! Aku si pembawa maut dari–"

Aku mengatupkan tangan, kubus meledak. Taksaka berhenti memprotes.

"Darimana kau tahu dia hanya bisa dibunuh sepenuhnya dengan Jinton ?" Tanya Beleriphon setelah diam beberapa detik.

"Kau tadi bilang 'aku bisa membunuhmu hanya dengan mengatupkan rahangku' aku tahu mengatupkan rahang berarti jurus Jinton bagimu, kan ? Jadi ya...lagipula jutsu itu memecah target jadi kepingan molekul. Jadi sepertinya itu satu-satunya yang pas untuk menangani naga cerewet seperti itu," jawabku asal-asalan.

"Bagus juga," komentarnya. "Meski secara tidak langsung kau mengaku kalau kau bodoh."

Aku mendengus. Beleriphon terkekeh. "Oya. Apa itu Naga Gatpura ?"

"Keturunan kedua dari Horus dan Haumea," terang Beleriphon singkat, "salah satu spesies tertua...tertua kedua setelah Kaum Kolosal. Mereka semua berbentuk serupa, tanpa kaki atau empat kaki yang lebih mirip elang daripada naga, sisik seperti ikan, dan wajah buruk rupa, serta ekor berbentuk unik. Jenis lain dari Naga Gatpura selain Taksaka ya, si Antaboga itu."

Aku hendak melontarkan pertanyaan berikut, tapi sesuatu keburu menarik perhatianku dan semua orang yang ada disana.

Uchiha Madara disana...di puncak bukit, hanya dua ratus meter sebelum bukit pasir gurun pertama. Aura biru mengerikan yang membentuk kerangka manusia dengan lapisan perisai aneh dan dua wajah serta empat lengan yang dua lainnya tumbuh di siku, Susano'o-nya. Ia mengenakan combat suit, baju zirah mirip-mirip samurai dengan warna merah gelap, setelan jubah Uchiha berwarna ungu dibaliknya, dengan sabit tersandang di pinggang kanan dan kipas khas miliknya di punggung, tersambung ke tangan kanannya dengan semacam rantai. Rambut hitam gelap sepinggangnya berkibar searah angin.

"Apa maksudnya ini ?" Selidik Gaara –yang tiba-tiba sudah ada di sampingku.

"Apa maksudnya ?" Ulangku.

Gaara menuding mata Madara.

"Kukira seharusnya dia punya Sharingan. Atau setidaknya Mangekyo Sharingan Abadi. Tapi..."

"...pola riak air ungu itu..."

.

.

"Kurang ajar," timpal Onoki sambil terbang mendekati sang Kazekage. "Madara...telah mengambil mata Rinnegan-nya..."

"Dari siapa ?" Gusarku.

"Entahlah..." jawab Gaara.

"Jangan takut !" Onoki mendadak berseru pada seluruh pasukan aliansi di belakang kami. "Dia hanya sendiri ! Kita akan menghajarnya disini sampai berkeping-keping dan kita pasti akan memenangi pertempuran ini !"

Tepat di pengujung kalimat itu, tiga sosok berbeda warna muncul dari belakang Madara. Aku menggenggam Nunboko no Tsurugi, gatal ingin menghabisi ketiga pengkhianat itu. Sekilas kulirik Deavvara, dengan sorot mata licik meremehkan seperti biasa.

Tapi...apa itu di wajahnya ? Keragu-raguan ?

"Naruto," panggilnya.

"Apa," jawabku ketus. Aku membentangkan sayapku, pamer.

"Tidak buruk, sih," komentarnya sambil menelengkan kepala, seolah merencanakan dari mana dia harus mulai mencabik-cabikku, "mungkin ini akan lebih menantang daripada perkiraanku."

"Tenang saja," balasku intens, "kau akan segera kubunuh !"

Madara mendesah malas. "Mereka sedang semangat, ya."

Ia melakukan handseal kambing dengan kedua tangannya, sementara Susano'o-nya berpaling ke satu sisi, kedua tangan sebelah kanan membentuk handseal burung dan kedua tangan sebelah kiri membentuk handseal harimau. Aura biru kian terang dan berkobar laksana api. Rambut panjangnya berkibar ke atas seolah sedang ditiup oleh kipas angin besar dari bawah kakinya.

Droconos mendecih.

Langit menggelap.

.

.

"Apa-apaan itu..." bisik seorang Dracovetth, menatap ke langit.

Seorang menjatuhkan pedangnya. "Kita sudah tamat."

"Sial !"

"Mustahil..."

"Apa...apa itu benar-benar ninjutsu...?" Desis Temari dengan suara gemetar.

"Ini...kekuatan dewa..."

.

.

Apa yang kulihat cukup membuat manusia paling berani sekalipun harus kencing di celana. Sebentuk meteor dengan diameter beberapa ratus meter, menggantung di udara, jatuh pelan-pelan dengan bagian luar batuan berwarna hitam obsidian khas meteor angkasa luar. Lebih mirip batu amplas super raksasa daripada asteroid karena tidak kutemukan satu lubang, retakan, dan kawah pun di permukaannya, mendekat mulai jatuh dengan kecepatan biasa, siap meremukkan apapun yang bernaung di bawahnya, menderu menuruni langit.

"Kau gila, Madara," sentak Styx. "Menggunakan Tengai Shinsei sama saja bunuh diri ! Jangkauan jatuhan meteor ini sangat luas, kau sendiri juga akan terkena !"

"Bisa diminimalisir dengan Susano'o," jawab Madara santai. "Aku cuma ingin mencoba jutsu ini. Lagipula ada kalian."

.

.

Keadaan kacau. Semua kalang-kabut. Aku sendiri tak tahu harus berbuat apa.

Mendadak Onoki sang Tsuchikage berseru, "Masih terlalu cepat untuk menyerah !"

"Jangan menyerah tanpa berusaha lebih dulu !" Teriaknya. "Lakukan apapun yang kalian bisa, tidak peduli sekecil apapun efeknya !" Pekiknya lagi, kemudian langsung terbang tepat ke arah meteor.

"SEMUANYA ! PERGILAH SEJAUH MUNGKIN !" Titah Gaara.

"Apa yang akan Kakek Tsuchikage lakukan ?!" Seruku.

"Dia akan mencoba menghentikan meteor dengan meringankan beratnya !" Jawab salah satu Dracovetth Iwa.

Sang Tsuchikage meletakkan kedua tangannya pada permukaan meteor bagian bawah, berkonsentrasi, dan berseru.

"為土: 大型柱と圭の術 !"

Doton: Cho Keijungan no Jutsu

(Elemen Tanah: Jurus Peringan Super)

.

SWASH

.

Pelan tapi pasti, laju meteor berhenti, seolah beban ribuan ton itu memang berkurang drastis jadi hanya beberapa ratus kilogram. Darah meluncur dari sela-sela kuku sang Tsuchikage, namun ia terus berusaha menahan laju batu angkasa raksasa itu, dibantu Gaara yang mengerahkan biliunan pasirnya ke atas, guna menyokong beban meteor, membantu Onoki. Aku tidak bisa tinggal diam, jadi tanpa banyak pikir, aku ikut terbang dengan sayapku dan menahan meteor itu di sebelah Onoki dengan Nunboko no Tsurugi-ku.

Aku melakukan handseal, dan tiang-tiang batu raksasa muncul dari tanah di bawah, menabrak bagian bawah meteor, menjadikannya semacam tiang penopang untuk membantu pasir Gaara.

"Kita pasti bisa !" Seruku pada si Tsuchikage 'kecil-kecil cabe rawit ini'.

"Huh," gerutunya. "Memangnya siapa yang bilang aku tidak bisa melakukan apa-apa, dasar bocah ? Sedikit lagi, dan kita akan bisa menghentikan batu sialan ini !"

Madara mengedikkan bahu melihat aksi penyelamatan heroik ini. "Seorang Dracovetth yang bisa terbang ?" Selidiknya.

"Restu adikku," jawab Deavvara datar. "Walau...yah, kelihatan sedikit aneh juga."

.

.

.

Dan pelan-pelan...meteor pun berhenti jatuh. Mengapung di udara dengan belasan tiang-tiang batu besar dan pasir yang menyokong beratnya yang tidak seberapa sekarang. Onoki menyeringai senang bersamaku. Gaara menghembuskan napas lega, merileksasikan kedua lengannya yang tegang. Semua yang ada di bawah bernapas lega.

"Mereka berhasil !"

"Syukurlah, kukira aku akan mati."

"Si bocah keras kepala itu," desis Madara, "dia sedikit lebih baik."

.

.

"Nah."

"Kalau begitu...apa yang akan kau lakukan dengan yang kedua, Onoki dan Draco P ?"

Awan terbelah, dan satu meteor yang sama besarnya dengan yang pertama langsung menyembul dari balik gumpalan putih itu. Tanpa jeda yang cukup untuk menganalisa dan berpikir, ujung bawah meteor kedua langsung membentur ujung atas meteor pertama dengan kekuatan yang dahsyat, mengirim gelombang kejut berkecepatan tinggi yang sampai ke ujung bawah –alias tempat dimana kami berada.

Sang Tsuchikage langsung terluka parah, dan aku tidak punya kesempatan untuk berbuat apa-apa selain membopongnya dan langsung menukik ke tempat yang aman. Tiang pasir dan bebatuan yang Gaara dan aku buat segera hancur ditindih beban ribuan ton itu, dua meteor paralel langsung menghantam tanah dengan kekuatan yang luar biasa, meratakan bukit dan mengirim gelombang kejut angin yang menerbangkan pepohonan, naga, dan manusia.

Tanah berguncang hebat untuk beberapa detik, tapi cukup untuk melongsorkan beberapa tebing dan menggelontorkan air danau.

.

KUJAMIN ribuan orang dan naga tewas saat itu juga, tapi untungnya aku, Kakek Tsuchikage Cebol, dan Gaara, masih hidup. Kepulan debu masih tampak menghiasi udara selama beberapa menit, dan kulihat 'gundukan' lonjong raksasa –dua meteor yang saling tindih- membentuk siluet super besar di tengah hari. Aku terbatuk-batuk.

"SEMUANYA !" Pekikku.

Beberapa menit kemudian, debu menghilang hampir sepenuhnya, dan kami yang masih hidup dan terluka bisa melihat Madara sudah tidak terselubung Susano'o dan berdiri diapit tiga pengkhianat Etatheon. Si pria bertopeng tidak tampak kali ini.

Madara menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Kurasa sebaiknya aku selesaikan ini sekarang."

Ia membentuk handseal lagi.

Dan sekarang...pohon-pohon mendadak tumbuh dengan kecepatan luar biasa dari dalam tanah. Pohon-pohon raksasa yang diameternya cukup untuk meremukkan rumah kalau itu dipotong dan dijadikan pentungan.

"要素:樹海誕生 !"

Mokuton: Jukai Koutan

(Elemen Kayu: Kelahiran Dunia Kayu)

"Dia juga bisa menggunakan Mokuton ?!" Sergah Kakashi-sensei.

"Sungguh di luar perkiraan," desis Sasuke. "Sekarang apa yang harus kita lakukan ?"

Rupanya di tengah kebimbangan dan keputusasaan menghadapi kekuatan Rinnegan Madara yang begitu besar, kami tidak perlu bertindak apa-apa. Deavvara –dalam wujud naganya- terbang ke depan kami dan langsung mengangkakan mulutnya lebar-lebar, membakar hutan buatan Madara dengan api biru-ungu-pink-nya. Dalam sekejap saja jutsu itu tidak bersisa. Aku berjengit, memikirkan kemungkinan buruk bahwa dia mungkin akan berpihak pada kami.

Madara mengernyit. "Apa-apaan ?"

"TUNGGU SEBENTAR !" Sentak Deavvara lantang. "ADA YANG TIDAK BERES DI SINI !"

Ia melirikku dengan ekor mata, kemudian melanjutkan sambil terbang pelan ke arah Madara. Ia menuding Uchiha itu dengan cakar jari telunjuknya dan memutar-mutarnya seolah dia ingin segera menjadikan Madara boneka kain perca.

"Kau," katanya dengan nada marah. "Dari mana mereka berasal ?!"

"Mereka ?" Ucap Madara. "Mereka apa ?"

"Jangan pura-pura bodoh !" Gertak Deavvara. "Dari mana kedelapan kekuatan Etatheon itu berasal ?!"

Pyrus, Hermes, Beleriphon, dan Parthenon yang ada di belakang kami tersentak seakan menyadari sesuatu. Bahkan Droconos dan Styx juga, bersikap seolah 'ada-orang-yang-mencopet-dompetku-padahal-isinya-banyak-sekali'. Mereka seperti baru sadar telah kehilangan sesuatu...yang penting.

"Kita bertarung melawanmu kemarin, bersama kalian juga," Beleriphon mendadak angkat bicara. "Apa saat itu juga...?"

Madara mengedikkan bahu, kemudian merentangkan tangan. Aura keperakan berpendar di sebuah bola biru aneh, yang kemudian melepaskan benda-benda aneh bercahaya lain warna...dan jumlahnya delapan.

"Bulu sayap Hermes..."

"Serbuk tanduk Droconos..."

"Potongan kuku Styx..."

"Helaian ekor Parthenon..."

"Gigi taring Pyrus..."

"Cakar kaki Beleriphon..."

"Api Ortodox..."

"...dan..."

"...darah Paradox..."

Mataku membelalak melihat benda-benda itu. Kesemuanya berasal dari delapan Etatheon, bahkan Ardhalea dan Deavvara itu sendiri.

"KAU !" Bentak Droconos kesal. "Kau mengambil itu semua saat kami bertarung tadi malam, IYA KAN ?!"

"Lalu ?" Jawab Madara datar. Ia mengatupkan tangannya dengan santai, dan kedelapan komposisi aneh penuh kekuatan itu bergabung menjadi satu.

"Tidakkah kalian kira empat adalah semacam angka yang belum selesai ?" Tukas Madara kalem. "Empat pedang legendaris terkuat...Kusanagi no Tsurugi, Totsuka no Tsurugi, Nunboko no Tsurugi, Rinsei Rinne no Tsurugi, dan..."

"...Taiyotsuki no Tsurugi..."

Dia kini menggenggam sebuah pedang bertekstur melengkung seperti keris, dengan dua bagian mata –satu sisi dari emas dan satu sisi dari perunggu, bagian leher pedang berwarna abu-abu gelap obsidian dari baja asteroid, dan gagangnya terbuat dari perak. Delapan berlian berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu, hitam, dan putih tertanam di dua sisi pedang itu di wilayah perunggunya. Ukiran delapan naga tampak di sekeliling pegangan bawahnya.

"Penyatuan dari sebagian kekuatan delapan Etatheon...adalah pedang ini..." desis Madara angkuh.

Aku seketika teringat mimpiku. Apa yang Deavvara katakan.

'Hanya kekuatan dari delapan Etatheon-lah yang bisa mematahkan Rantai Laeding...'

Seseorang, tolong katakan padaku kalau ini tidak terjadi.

.

"KAU BERKHIANAT ?!" Sembur Styx keras-keras. Ia menyerang, namun Madara menyabetkan pedang itu ke tubuhnya. Styx seketika tercabik dan terlempar jauh, merengsek di pepohonan. Droconos mundur satu langkah dan menembakkan Ryuudama sebesar bola basket, tapi dipecahkan laksana vas bunga keramik begitu menghantam Pedang Taiyotsuki.

"Mustahil," gerutu Hermes. "Jangan katakan kalau..."

Madara mengangguk sekali. "Ya."

Kemudian, langit menggelap. Ketika aku menoleh ke atas, bukan awan berarak yang menutupi sang surya, melainkan bayangan bulat hitam yang makin menggelap dan membesar ketika seolah sedang memakan matahari sedikit demi sedikit.

"Gerhana...sudah dimulai..." desis Shikamaru dengan suara bergetar. "Sialan !"

Madara merentangkan tangannya. "AKU MEMUTUS RANTAI LAEDING DAN MENGIRIM BATUWARA KE DUNIA !" Pekiknya.

Dari kejauhan, kulihat dua makhluk sedang terbang berliku-liku ke arah kami.

"Apa itu ?" Selidik Sakura. "Bentuk mereka aneh."

"Gawat. Aku merasakan kekuatan kuno yang sedang beraksi disini," geram Pyrus. "Jangan-jangan itu...ah, itu tidak mungkin. Tapi..."

Dan mereka mendekat. Sekarang aku mengerti kenapa Madara bekerjasama dengan ketiga Etatheon. Dia ingin mendapatkan serpihan kekuatan kedelapan naga dewa itu dengan mengadu mereka dalam pertarungan hebat. Memanfaatkan repihan kekuatan itu untuk kemudian disatukan menjadi kekuatan baru, dan menggunakannya sebagai alat untuk memecahkan segel Rantai Laeding dan...

...membebaskan Sang Ayahanda dan Sang Ibunda para naga, Horus dan Haumea, ke dunia.

.

.

Dua makhluk tua itu berputar-putar di langit, diatas kami. Aku tidak mengerti maksudnya, tapi Madara menjelaskannya.

"Kekuatan Horus dan Haumea amat sangat besar," jelasnya bangga. "Begitu besar hingga mereka mampu menghentikan peredaran bulan, menjaganya tetap di tempatnya, selama bertahun-tahun kalau mereka mau."

"Kau memanfaatkan mereka untuk memperlama waktu gerhana sehingga mempermudahmu membangkitkan Juubi untuk Mugen Tsukuyomi !" Seru Deavvara marah. "Kau memanfaatkan kami semua !"

Madara tertawa sinis. "Dan salah siapa," ejeknya, "yang mau begitu saja dikendalikan ? Terlambat sudah. Aku akan menguasai dunia."

.

Cahaya matahari meredup. Bintang terdekat dari Bumi itu seperti sedang dimakan oleh sesuatu, yang kutahu itu adalah bayangan bulan itu sendiri. Bulan bergerak cepat mendekati matahari, hingga hanya dalam dua menit saja, keseluruhan matahari telah tertutup oleh bayangan bulan, menyisakan sedikit kilatan cahaya seperti manik-manik, cahaya terakhir yang mencapai bumi sebelum gerhana. Korona sang surya berkobar putih dibalik batas-batas bayangan bulan. Sungguh pemandangan yang menakjubkan alih-alih menakutkan.

Langit gelap, seolah malam datang lebih awal.

"Pantas," desis Parthenon. "Itulah alasan kenapa Yacumama dan Taksaka mendadak eksis. Ayahanda dan Ibunda mereka sudah...bebas."

.

.

Gerhana telah tiba.

.

Dan dua naga tertua telah (di)bangkit(kan).

.

Serpihan kekuatan dari Etatheon telah disatukan, oleh orang yang salah dengan tujuan yang salah.

.

Masih adakah harapan sebelum Juubi dipanggil kembali ke dunia ?

.

.

.

.

Bersambung...


Author's Note (2):

Chapter 20 akhirnya selesai ! Hihi, maaf ya telat seminggu. Oya, Gunung Batuwara itu nama lain Gunung Krakatau Purba lho ! Yang konon letusannya itu memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Begitu pula Naga Taksaka juga ada dalam legenda pewayangan Jawa.

Naruto telah mendapat kekuatan baru setelah direstui oleh Ardhalea ! Dia membangkitkan kembali semangat pasukan aliansi dan pertempuran terus berlanjut. Mendapat mimpi aneh dari Deavvara tentang dua naga pertama dan tempat penempaan Uliran Samsara, mengantarkannya ke realita yang begitu berbeda dari yang pernah dibayangkannya. Apakah ketiga Etatheon yang membelot akan bergabung kembali pada kebenaran dan bersama-sama melawan Madara ? Berhasilkah Juubi dibangkitkan dan berhasilkah mereka menjaga perdamaian dan tetap rukun tanpa adanya Ardhalea ?

Nantikan kelanjutan mendebarkan ini di hari Rabu mendatang !

Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !


Coming Soon: Paradox Chapter Twentyfirst :

"Fallen Gladiator"

See you again in chapter 21 !

-Itami Shinjiru-


-Dragons List in Chapter Twenty:

Yacumama (Diambil dari legenda Amerika Latin, Suku Amazones, ular super raksasa yang konon menciptakan Sungai Amazon dan lembahnya)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 1.450 meter, berat 1.400 ton

Kecepatan terbang : Tidak dapat terbang

Spesial : Ukuran luar biasa, sisik dan kulit super kuat

Tipe serangan : Serangan langsung, menggigit, atau menindih

Kategori : Perang

Elemen spesial : -

Level bahaya : Jauhi !

Pemilik : Tidak ada

Taksaka (Diambil dari pewayangan Jawa)

Strength : Sangat tinggi

Ukuran : Panjang 18 meter, berat 10 ton

Kecepatan terbang : Tidak dapat terbang

Spesial : Gigi pahat, ekor yang sangat kuat, dan sisik pelindung

Tipe serangan : Serangan langsung, atau mengubah apapun yang digigitnya menjadi abu

Kategori : Mighty

Elemen spesial : -

Level bahaya : Jauhi !

Pemilik : Tidak ada

HORUS (Father of Dragons)

Strength : Tidak terklasifikasikan

Ukuran : Panjang 78 meter, berat 55 ton

Kecepatan terbang : 1-1.000 km/jam

Spesial : Tidak diketahui

Tipe serangan : Tidak diketahui

Kategori : Tidak diketahui

Elemen spesial : Tidak diketahui

Level bahaya : Tidak diketahui

Pemilik : Tidak ada

HAUMEA (Mother of Dragons)

Strength : Tidak terklasifikasikan

Ukuran : Panjang 45 meter, berat 40 ton

Kecepatan terbang : 1-500 km/jam

Spesial : Tidak diketahui

Tipe serangan : Tidak diketahui

Kategori : Tidak diketahui

Elemen spesial : Tidak diketahui

Level bahaya : Tidak diketahui

Pemilik : Tidak ada