Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.
Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara
Main Pair : NaruPara, KuraDeme
Slight Pair : MinaKushi, ShikaTema, KakaPaku, & NagaKonan
Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Romance, Action
Author's Note :
Jumpa lagi di chapter 21, readers ! (Ralat buat chapter kemarin, tertulis 'Jumpa lagi di chapter 19' seharusnya kan chapter 20, hehe #dijitak.
Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Terimakasih, matur nuwun, arigato gozaimazu, thank you very much, syukran, gracias (*bungkuk hormat*).
.
.
Oh, dan tidak lupa, ini kan masih suasana Lebaran. Jadi...
Saya Itami Shinjiru sebagai author dari fic Paradox mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal 'Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin ! Mohon maaf kalau selama ini sekiranya ada kata-kata dari fic ini ataupun dari Author's Note yang menyinggung readers sekalian, baik disengaja maupun tak disengaja !
.
.
.
Horus dan Haumea telah dibangkitkan oleh Madara ! Rantai Laeding telah putus dan Gunung Batuwara sudah kembali ke suatu tempat di dunia. Semua Etatheon tersadar akan pengkhianatan Uchiha itu dan geram, akankah mereka semua bersatu atau justru sebaliknya ? Apa tindakan Naruto untuk mencegah perang semakin memburuk ?
Enjoy read chap 21 !
PARADOX
パラドックス
Chapter Duapuluh Satu:
Fallen Gladiator
TIDAK ADA yang mengalahkan ketegangan mencekam antara tujuh Etatheon –tujuh naga terkuat di muka Bumi dengan segudang sanjungan dan kehormatan yang senantiasa melekat di sayap dan tubuh mereka- dengan Uchiha terkuat yang sejauh ini dikenal dunia, serta situasi yang cukup genting mengingat dua nenek moyang terpurba dari bangsa naga telah dibangunkan kembali dari Gunung Batuwara. Dan aku berada diantara mereka, dan dengan Sennin Modo-ku dan restu Ardhalea, aku cukup mengenali atmosfer yang benar-benar kacau.
Deavvara menggeram dalam-dalam sepanjang lehernya, menahan amarah –walau aku yakin dia bukan tipe naga bersifat sabar-, dan Droconos serta Styx juga. Dalam hati aku sedikit geli juga. Ketiga Etatheon ini rencananya akan membelot dari Madara dan sekutunya, berpaling ke aliran dan kepercayaan mereka sendiri, tapi alih-alih membuat Madara gusar dan kesal, justru mereka duluan yang dibuat begitu.
Hening selama beberapa menit.
"Nah," Madara akhirnya buka suara, kali ini terdengar cukup percaya diri. "Aku memegang kendali penuh disini sekarang, atas langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya, termasuk kalian."
"Jangan besar mulut," tabrak Styx. "Kau akan merasakan kemarahanku."
"Dan apakah yang akan kurasakan ?" Balas Madara sinis. Ia menimang-nimang pedang barunya dengan penuh kebanggaan seolah-olah dirinya sendirilah yang sudah bekerja keras menempanya.
"Droconos, Styx," komando Deavvara. "Mari kita lumat si cebol sombong ini," ia mengeluarkan sabitnya –yang sudah membesar ke ukuran biasanya- dari mulutnya, dan langsung maju menyerang. Madara menangkis sabit dengan pedang, yang menimbulkan getaran sepanjang tanah. Hebatnya, mereka seimbang. Menurutku bukan Madara yang terlalu kuat atau Deavvara yang sedang lemah, tapi Pedang Taiyotsuki-nya yang terlalu kuat.
Kurama mendarat di sampingku. Ia mengamati pertarungan itu. Kukira dia akan langsung menyeletuk, 'Apa aku ketinggalan sesuatu ?', 'Apa-apaan yang barusan terjadi ini ?', 'Siapa dua naga aneh yang berputar-putar di langit itu ?' atau 'Kenapa Madara dan Deavvara saling serang ?'. Dia malah bilang, "Hei, sayapmu bersinar dalam gelap !"
Yah, kuakui aku baru sadar itu, tapi aku tidak begitu memperhatikannya.
"Apa yang sedang terjadi ?" Kurama akhirnya kembali ke topik.
Aku mendesah. "Madara mengkhianati Deavvara, Styx, dan Droconos. Dia bahkan membebaskan Horus dan Haumea dari kurungan mereka di Gunung Batuwara dengan senjata khusus yang dibuat dari serpihan kekuatan delapan Etatheon," jelasku singkat.
Kurama manggut-manggut, walau aku yakin dia belum mengerti sepenuhnya, dan di kepalanya kini bergolak sejuta pertanyaan. Aku sendiri bimbang dalam situasi ini, termasuk ratusan Dracovetth yang ada di belakangku. Pada siapakah kami akan memihak sekarang ?
Beleriphon berderap di sampingku. Ia mendengus kesal, memastikan Pyrus, Hermes, dan Parthenon tetap bersamanya, setidaknya tidak ikut campur urusan kubu jahat yang sekarang sedang terpecah-pecah di depan mata. Ia mengisyaratkan Pyrus agar mendekat. Tim Paradox berkumpul bersama empat Etatheon tersebut.
"Pertama-tama," Shikamaru memulai, "apa yang mesti kita lakukan ?"
Dari nada bicaranya dia terdengar amat frustasi, tapi seketika kulihat wajah-wajah Dracovetth yang lain, bahkan Gaara dan Onoki tidak terlihat tenang. Horus dan Haumea-kah yang membuat mereka risau ? Atau pedang aneh Madara yang memang benar-benar kuat ?
"Naruto," panggil Pyrus. "Mungkin ini saran yang gila-gila sedikit, tapi...bisakah kau membujuk mereka berdua agar tidak menuruti kemauan Madara...atau setidaknya melepaskan bulan ?" Sarannya padaku. Aku menelan ludah kecut.
"Ayahanda dan Ibunda seluruh naga ?"
Dia mengangguk.
"Memangnya mereka bisa diajak bicara ?"
"Mungkin saja," jawab Pyrus kurang yakin. Ia melirik Hermes.
"Umm...60-40."
"Apa yang 60 dan apa yang 40 ?"
"Enam puluh bisa bicara, sisanya...tidak. Mungkin lima puluh bicara, tiga puluh mengerti isyarat, dan dua puluh tidak mengerti apa-apa," ralatnya.
"Horus dan Haumea adalah kekuatan paling kuno," terang Parthenon. "Jujur saja, kalau aku jadi naga biasa dan bukan penyandang gelar Etatheon, aku lebih memilih untuk menyebut mereka Ayahanda dan Ibunda daripada nama asli mereka. Nama memiliki kekuatan. Semakin disebut, semakin kuat. Err...kecuali kalau kami yang menyebut."
Pyrus berbalik padaku. "Kau Draco P terhebat abad ini," sanjungnya. "Bisa jadi mereka mau mendengarkanmu."
"Kalau tidak ?" Selidikku.
"Paling-paling kau akan dibunuh," celetuk Hermes. Sedetik kemudian, semua yang hadir disitu memandangnya aneh.
"Bercanda."
"Tukang gertak."
"Hei, aku tidak salah. Mereka terjebak di gunung itu selama ribuan tahun. Siapa tahu mereka juga ingin mengisi perut."
Keempat naga dewa ini memandangku penuh harap. Begitu juga teman-temanku. Aku menghela napas pasrah.
"Baiklah."
"Terbanglah tepat ke arah mereka, berusahalah menarik perhatian," saran Beleriphon. "Walau kurasa manusia bertanduk dan bersayap emas sudah lebih dari cukup untuk menarik perhatian," imbuhnya.
Aku mengepakkan kedua sayapku dan terbang lurus ke atas, sementara ketiga pengkhianat Etatheon masih sibuk bertarung dengan Madara. Udara makin lama makin terasa dingin dan aneh, tapi aku mengabaikannya dan terus terbang ke lapisan atas troposfer, menemui dua naga tua nan aneh yang masih berputar-putar membentuk lingkaran tak kasat mata di langit.
Aku mendekat. Mengalihkan perhatian mereka ? Pikiran pertamaku adalah menyambar salah satu dari mereka dengan petir, tapi mungkin itu justru akan membuat mereka makin marah dan langsung menyerbuku tanpa kesempatan bicara –kalau mereka memang bisa bicara.
"PERMISI !" Aku berteriak pada mereka.
.
Tidak ada jawaban.
"HORUS !" Aku terpaksa memanggil nama. "HAUMEA !"
Berita baiknya –atau berita buruknya, mereka merespon. Keduanya berhenti berputar-putar dan memalingkan pandangan mereka padaku, mengambang di udara tanpa mengepakkan sayap sedikitpun, sejajar denganku. Aku meneguk ludah. Ditatap dua naga tertua –sumber dari sumber segala naga, yang bahkan lebih terdahulu daripada Etatheon, bukan hal yang biasa untukku. Aku bisa merasakan kekuatan mereka mengalir pada tanah dan langit, di bawah dan di sekitarku, bahkan ditatap saja sudah membuatku serasa ditusuk-tusuk jutaan jarum.
"Draco P," kata Horus –ayah dari semua naga. Ekspresinya datar. Mereka rupanya bisa bicara.
"Sungguh ?" Selidik Haumea. Ia melempar segenggam lempung padat raksasa yang muncul begitu saja dari kaki depan kirinya –tepat ke arahku, dan tanah cokelat menjijikan itu hancur begitu bertubrukan dengan tubuhku. Aku terkesiap, menyadari perlakuan yang begitu 'semena-mena'. Oke, bayangkan perasaanmu saat mengetahui seekor naga tiba-tiba melemparimu dengan tanah lempung hanya untuk memastikan...apapun yang ingin mereka pastikan.
Aku ingin memprotes 'Apa-yang-kau-lakukan-dasar-nenek-tua-bangka-!' tapi itu pasti hanya akan membuatnya marah.
"Oh, betapa menyedihkannya diri hamba !" Haumea mendadak berseru dan menangis. Aku bingung sendiri.
"Hei Nak !" Bentak Horus. "Jaga santun engkau ! Aku heran juga ada yang berani menistakan Bunda !"
"Mungkin dia memang benar, Ayah," balas Haumea sambil terisak.
Aku menggaruk kepala. Percakapan macam apa ini ? Disamping bingung, aku merasa seseorang sedang mengetam tulang-tulangku. Mendengar mereka bicara saja sudah membuat jantungku berdegup lebih kencang dan seluruh tubuhku serasa dipuntir-puntir. Aku harus berusaha agar tidak membuat mereka berteriak atau kepalaku akan pecah. Mereka menggunakan aksen kuno, tidak terdengar mirip manusia atau naga manapun yang pernah kudengar. Selain itu, Haumea menangis begitu aku memikirkan makian kasar itu, jadi mungkin saja...
"Dungu !" Sergah Horus. "Kami bisa membaca apapun yang terlintas dalam benak engkau ! Jaga lidahmu !"
"Kalian bisa membaca pikiran ?" Selidikku. "Oke, aku akan berhati-hati," janjiku. "Sekarang..."
"Apa itu 'oke' ?" Mendadak Haumea bersuara. Ia mengelap air matanya. "Makanan-kah ? Engkau membawakanku makanan ?"
Horus mendengus. "Janganlah tertipu, Bunda."
Aku sweatdrop. Demi Saturnus, mereka bahkan tidak mengenal kata 'oke' ! Sebentar, sejak kapan aku suka bersumpah menggunakan benda langit ?
"Maaf !" Seruku. "Aku minta maaf. Dan soal 'oke' itu kata lain dari 'baiklah' ! Itu hanya...semacam sinonim, kalian tahu. Zaman sudah berkembang sangat jauh sekarang, Ayahanda dan Ibunda !" Aku memberitahu mereka, meski rasanya asing memanggil kedua naga purba ini dengan sebutan itu.
Haumea manggut-manggut mengerti. "Ah. Seperti semacam padanan. Oke !" Ia senyum-senyum sendiri dan melirik-lirik suaminya. "Apa hamba sudah terlihat lebih m-o-d-e-r-e-n sekarang, Ayah ?"
Horus mendengus. "He-eh."
Aku menepuk dahi, kemudian menyempatkan diri melihat ke bawah. Dan aku terkejut mendapati semuanya berada dalam gerakan slow motion –Deavvara dan Madara masih saling serang, tapi mereka bergerak maju dan pedang-sabit mereka diayunkan dengan kecepatan satu milimeter perdetik. Ada beberapa ledakan yang membubungkan asap, tapi asap itu juga merayap pelan sekali. Dedaunan yang bergemerisik juga nyaris tidak bergerak. Dalam kegelapan yang disinari sebagian kecil korona matahari yang terhalang bulan, aku bisa melihat awan-awan seolah diam samasekali.
"Kalian..."
"Betul," sahut Horus. "Kami bisa melambatkan waktu, kalau kami mau. Sebenarnya itu yang kami perbuat untuk menjadikan gerhana ini lama. Kami tidak menghentikan pergerakan bulan, tetapi hanya memperlambat waktunya," jelasnya.
"Itu dia yang mau aku bicarakan," akhirnya aku menemukan tali yang bisa mengikat dua tema berseberangan ini. "Bisakah kalian berhenti membantu Madara, wahai ayah dan ibu seluruh naga ?"
"Bocah lucu," komentar Haumea. "Itu namanya tidak tahu balas budi."
"Hukum kuno," desis Horus. "Kami harus mematuhi satu keinginan –apapun itu- dari seorang manusia atau seekor naga yang membebaskan kami dari belenggu Laeding. Kalau kami melanggarnya, yah, imbalannya adalah dunia akan merasakan letusan Gunung Batuwara itu sendiri, dan itu amat sangat luar biasa menyakitkan."
"Tapi kalian adalah ayah dan ibu dari seluruh naga !" Protesku. "Kaum Naga Kolosal itu ! Naga Gatpura ! Pembantai Bersayap ! Penunggang Angin ! Bahkan kalian lebih tua dari delapan Etatheon ! Percayalah, Madara adalah manusia jahat-"
"Kalau benar jahat, kenapa dia mau repot-repot membebaskan kami ?" Potong Haumea datar.
"Karena dia memerlukan kalian untuk rencananya ! Rencana Mata Bulan ! Dia akan menebarkan ilusi ke tiap makhluk hidup di dunia dan membawa mereka ke alam mimpi ! Tidak akan ada lagi yang namanya kenyataan di dunia ini ! Kalian tidak boleh membiarkan hal itu terjadi !"
"Ya," dukung Horus tiba-tiba, "tak dapat dipungkiri, Nak, itu kedengarannya seperti menaruh ular dalam terompah berduri. Tapi kami terikat kontrak segel Batuwara dengan Madara sekarang. Mau tak mau kami harus melaksanakan perintahnya. Selain daripada itu, engkau tidak bisa mengubah itu."
"Samasekali tidak bisa diubah ?" Tanyaku buru-buru.
Kedua naga ini berpandangan.
"Mungkin bisa," cetus Haumea. "Tapi maaf saja, bukan engkau yang kami maksud disini...sepertinya," lanjutnya.
"Dengan apa segel kalian bisa diubah ?" Aku memburu lagi.
Horus menghela napas.
.
.
"Hanya Paradox dan Laramidia yang bisa mematahkan kontrak Batuwara," desah Haumea. "Dengan bekerjasama," tambahnya.
Aku terdiam.
"Ardhalea," gumamku.
Guntur menggelegar di langit gelap. "Kau kenal seekor Paradox ?!" Sembur Horus. Aku mengangguk pelan.
"Baguslah. Temui dia dan patahkan kontrak ini, kalau engkau mau," saran Haumea.
"Dia sudah mati," desisku lirih.
"Aye, dan dia sempat memberi engkau restu sebelum itu," celetuk Haumea, menuding sayap dan tandukku yang bersinar. "Bisa kulihat itu."
Horus mengerang. "Jadi begitu. Aku tidak menyangka ada yang sampai membunuhnya tapi...itu pasti dikarenakan dia melindungi engkau," katanya sambil menatapku dengan pandangan menyelidik. "Katakan, bocah Uzumaki. Apa hamba salah soal itu, hmm ?"
"Tidak," jawabku pendek. "Hei, mungkin karena aku sudah mendapat sebagian kekuatannya...apa aku bisa mematahkan kontrak kalian ?"
"Ide buruk," Haumea menanggapi. "Salah langkah, maka engkau akan berubah jadi abu. Tidak bagus. Selain daripada itu, engkau belum menemukan Laramidia Pinarralla."
"Apa itu Laramidia ?" Tanyaku. Ugh, kedengaran polos sekali, sih.
"Siapa," koreksi Horus. "Lupakan saja."
"Tapi kalian harus menghentikan kerjasama kalian dengan Madara, bagaimanapun juga !" Seruku keras.
"Sayangnya tidak bisa," jawab Horus. "Setidak-tidaknya itu yang hamba khawatirkan. Dah. Selamat tinggal. Pastikan engkau tetap hidup. Aku sudah lama tidak melakukan apa-apa dan tidak menemukan apa-apa untuk melakukan apa-apa," katanya, dan naga itu mengepakkan sayapnya, menghilang dalam awan-awan putih yang bergumpal-gumpal. Haumea mengangguk menimpali dan terjun, menukik cepat ke bawah dan menubruk tanah, menyisakan berkeping-keping bebatuan di tempatnya jatuh.
Perjumpaanku dengan ayahanda dan ibunda kaum naga berakhir sudah.
Tanpa hasil pula. Tapi setidaknya aku tahu sesuatu: Ardhalea harus hidup kembali, bagaimanapun jua. Dan aku harus menemukan Laramidia Pinatralala –ah, siapalah itu.
Kemudian waktu berjalan normal lagi, tapi kurasa bulan masih diperlambat. Semua yang ada dibawah meneruskan pertarungan mereka dengan normal seolah tidak ada apapun yang barusan atau sedang terjadi. Aku baru saja berpikir untuk turun dan mengabarkan berita buruk ini ketika mendadak sebongkah meteor jatuh begitu saja dari langit dan nyaris mengenai Hermes.
"Hei !" Protesnya, dan melihat langit.
"Bukan aku !" Teriakku.
Kemudian satu meteor lagi jatuh, kali ini sebesar truk, dan menimpa pasukan aliansi. Guruh bersahut-sahutan di langit, mendirikan bulu kudukku. Aku mengamati pegunungan, dan puncaknya longsor tanpa ada sebab apapun yang masuk akal. Pohon-pohon cemara dan konifer, palem dan beringin, terbenam dengan kecepatan yang luar biasa, menelusup masuk ke tanah begitu saja seolah bumi sedang menelannya.
Kulihat Deavvara mengayunkan sabitnya, Madara terpojok. Namun sebelum ia sempat mencincang Uchiha itu, sebentuk tanah padat berbentuk balok mencuat dari tempat asalnya dan meninju rahang bawah Deavvara hingga membuatnya terpelanting ke belakang. Ia terlihat bingung, kemudian bangkit lagi, namun dua dinding batu padat menghimpitnya. Ia menghancurkannya dan dibalas dengan satu tinju batu raksasa lagi yang mementalkannya.
Droconos mengudara, bersiap menyembur api, namun kilat menyambar tepat ke punggungnya, menggosongkannya dan membuatnya jatuh. Selang dua detik kemudian, lima tornado meluncur dari awan gelap dan mengisap segalanya di tanah, bergerak ke pasukan aliansi yang kalang kabut. Hermes, Parthenon, Pyrus, dan Beleriphon tampak resah, sepertinya mereka mengetahui apa yang terjadi –dan hujan batu-batu sebesar mesin cuci tiba. Aku tidak terkena, namun semua yang ada di bawah kini sibuk menghindar.
Sampai detik itu, kukira aku aman-aman saja diatas sini.
.
.
BLLAAARRRR ! ! !
Sebuah petir menyambar sayap kiriku hingga gosong dan beberapa bulunya rontok. Aku nyaris pingsan, tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhku lagi. Rasanya seluruh gigiku mau copot dan rambutku berdiri. Listrik ribuan volt sudah menyengatku, dan aku jatuh tepat ke sebelah Deavvara. Menyadarinya, ia merubah wujud jadi manusia bersayap dan bertanduk.
"Apa yang kau katakan pada mereka berdua ?" Sergahnya.
Aku mendecih. "Hanya mencoba untuk menyarankan mereka agar tidak memihak Madara ! Kau sendiri ! Apa yang kau lakukan ?"
"Tidak banyak," dia mengakui. Aku ingin menonjoknya dan meneruskan pertarungan, tapi ini bukan saat yang tepat. Kubu kami berdua sama-sama terancam bahaya dan sekarang peristiwa alam aneh melengkapinya.
Pegunungan menggeliat. Getaran hebat merambat di tanah seolah bumi sedang meregangkan tubuh sehabis tidur. Langit mencurahkan hujan air, tapi tak ketinggalan kepingan-kepingan es berukuran mikro juga ikut turun. Bebatuan kerikil panas sebesar kelereng ditumpahkan dari awan yang sekarang menutupi langit seluruhnya. Satu-satunya sumber penerangan adalah kilatan demi kilatan halilintar yang terus mencambuk langit tanpa henti.
"Horus dan Haumea !" Pekik Deavvara. "Terkutuklah mereka ! Mereka bersatu dengan Bumi dan Langit !"
"Bersatu ?!" Ulangku.
"Ya ! Ini buruk ! Horus mendapat langit dan Haumea menguasai bumi ! Kita tidak aman dari semua ini kecuali pergi ke luar angkasa !"
Aku memalingkan pandangan ke Madara. Selagi semua orang dan naga sedang lari menghindar atau berlindung, bertanya-tanya kenapa bisa begini, dia justru sedang menggosok pedangnya di sebuah singgasana dari batu granit.
"Haumea membuatkan ini barusan," pamernya. "Nah, sekarang bisa kita lanjutkan pertarungannya ? Untuk itu, area ini perlu bersih dulu dari sampah," ia mengatakan itu sambil menunjuk-nunjuk pasukan aliansi yang sudah kocar-kacir. "Atau mungkin kita pindah tempat saja."
Begitu ia mengatakan itu, awan hitam menggumpal, dan di tengahnya muncullah kepala Horus. Ia melihatku dengan iba.
"Maaf, putra Namikaze !" Serunya. "Nami itu gelombang dan Kaze itu angin. Namikaze itu badai, tapi sekarang kau harus terjebak dalam badai."
Ia membuka mulut, menampakkan sebuah bola berukuran sebesar bola sepak, berwarna hitam. Murni hitam, hitam tulen. Begitu hitam, sampai lebih gelap daripada keadaan sekitarnya –hitam di latar belakang yang hitam. Bola itu mengangkatku dan Deavvara ke atas.
Madara terangkat lebih dulu, dan langsung menghilang ditelan lubang hitam itu –entah itu bola atau lubang, atau hanya bidang. Deavvara terisap berikutnya, disusul Styx dan Droconos. Keempat Etatheon yang lain turut terisap juga, beserta Kurama (itupun karena dia menggigit ekor Hermes, berniat mencegahnya pergi, tapi dia malah ikut terbawa). Kemudian aku terisap paling akhir.
Hi no Kuni
"Aku masih tidak mengerti kenapa kau bisa membunuh Hanzo begitu saja," kata gadis berambut biru itu sambil membetulkan letak bunga kertasnya yang miring beberapa senti. "Walau itu kedengarannya menyelesaikan masalah, seluruh bawahannya –barangkali Akatsuki juga, akan menyimpan dendam pada kita !" Dia memperingatkan.
Laki-laki bersurai merah di sebelahnya mengangguk. "Bisa jadi," jawabnya singkat.
"Barangkali gerhana ini juga termasuk rencana Madara," desis Konan.
"Yah," jawab Nagato pendek.
"Kau ini !"
"Kenapa ?"
"Bisa tidak-"
"Ssssstt !" Nagato menempelkan telunjuknya ke bibir. "Kumpulan chakra yang besar," ujarnya. "Tidak jauh dari sini..." ia memandang ke bawah dan menemukan seekor rakun berukuran lebih besar daripada gajah manapun, dengan bulu lebat berwarna oranye kekuningan dan ekor yang gemuk. Di dekatnya ada seorang pria bergaya rambut aneh seperti ditempeli halus manis, dan pria lain berambut putih klimis ke belakang dengan kacamata hitam. Tubuhnya kekar dan dia memakai syal berwarna putih.
Nagato menurunkan ketinggian burung enggangnya.
"Kalian yang disana !" Panggilnya. Kedua orang –dan satu rakun raksasa itu- menoleh ke atas. Nagato mendarat tak jauh dari mereka.
"Ha !" Seru pria berambut aneh. "Kalian kesini untuk belajar Enka juga-kah ?" Selidiknya.
"Enka ?" Ulang Konan.
"Howw ! Mungkin kau lebih cocok belajar Haiku* saja, Nona !" Seru pria itu. "Atau mungkin sedikit rap atau-"
"Itu milikku," dengus pria berkacamata hitam. Ia merogoh pinggangnya. Konan dan Nagato bersiaga karena mereka langsung mengetahui laki-laki berkulit cokelat itu memang menyandang beberapa pedang di punggungnya. Tapi daripada mengeluarkan pedang, ia malah menarik sebuah buku catatan kecil dan sebatang pensil dan mulai menulis.
"Yo !" Serunya. Dia meletakkan pensilnya ditengah-tengah buku, dan mengangkat satu tangannya dramatis.
"Merah dan biru.
Sendirian di hutan.
Aku keren."
Dia menyeringai ke arah Nagato dan Konan, seakan menanti tepuk tangan (atau lemparan tomat busuk, barangkali).
"Kalimat terakhir cuma ada empat suku kata," kata si pria berambut aneh.
"Masa ?"
"Iya. Bagaimana kalau Aku besar kepala ?"
"Tidak, tidak, itu kan tujuh suku kata," tolak pria berkacamata itu. Ia mengerutkan dahi seolah berpikir serius. Tak lama, ia menjentikkan jari. "Aku dapat ! Aku keren lho. Itu kan, lima suku kata !" Serunya sambil menyeringai bak orang gila.
"Oke deh," desah pria itu, "mari kita kembali ke rap bodohmu itu."
"Hei !"
"Iya, iya."
"Hei kau," Nagato menuding pria berkacamata. "Kau punya chakra yang sangat besar. Kenapa tidak bergabung dengan pasukan aliansi ? Perang sedang berlangsung dan Madara bukan tipe musuh yang mudah dihadapi ! Kekuatanmu pasti akan dibutuhkan disana," katanya.
Muka orang itu tampak kikuk. "Kau tidak memberitahu kakakku kan ?" Selidiknya. "Oh-jangan-sampai-orang-asing-mengacaukan-apa-yang-sudah-kubangun-kurencanakan-dengan-susah-payah ! Bakayaro ! Konoyaro !" Dia memulai rap gilanya dengan bumbu sarkastik di buntutnya.
"Perang ?" Selidik pria itu. "Bee !" Dia berpaling pada si kacamata, "kau bilang kakakmu sendiri yang mengizinkanmu berlibur waktu-waktu ini !"
"Aku punya berita bagus dan berita buruk," si kacamata mengalihkan pembicaraan.
"Apa itu ?" Tabrak Konan.
Dia menyeringai lebar. "Berita bagusnya, perang itu tidak ada dan kakakku bukanlah Raikage."
.
.
"Berita buruknya, aku bohong."
"Ayo, Ponta," geram pria berambut aneh. "Bee ! Kau seharusnya menyadari betapa krusialnya saat-saat ini ! Kau tahu –jika nama Madara dimasukkan ke dalam sebuah rap, haiku, enka, atau apapun itu- itu akan membuat seni suara jadi amblas ke peringkat terbawah !" Gerutunya. "Langit sudah gelap, gerhana sudah tiba ! Aku bukan peramal atau cenayang, tapi firasatku dari tadi memang tidak enak ! Kau harus pergi dan selamatkan dunia ! Kakakmu pasti sedang mencari-carimu ! Entah sudah berapa perabot yang jadi korbannya sekarang !"
"Maaf," desak Nagato. "Kalian ini sebenarnya siapa ?"
"Oh, maaf juga," balas pria itu, "terlambat memperkenalkan diri. Aku Kin, guru enka terhebat di dunia. Ini Ponta, rakun peliharaanku, dan ini Bee," dia menunjuk pria berkacamata, "adik angkat Raikage."
"Jinchuuriki Gyuuki, ya ?" Selidik Konan.
Bee terkesiap. "Ha ? Darimana-kau-tahu-kalau-ada-naga-raksasa-dalam-tubuhku-Bakayaro ! Konoyaro !" Protesnya.
"Mudah mengenalinya dari chakramu," jelas Konan singkat. "Deteksi chakra-ku tak sebagus Nagato, tapi aku mengenali tiap jenis dengan baik. Gyuuki itu naga langka juga. Ukurannya besar pula. Kenapa kau menyembunyikan diri dari pertarungan yang, ehm, kemungkinan besar bakal kau menangkan ?"
"Kau pintar memuji juga," ucap Bee. "Oke deh. Kin-sensei ! Aku pamit dulu ! Dua orang kesasar ini tidak seburuk kelihatannya !"
"Kesasar ?" Protes Nagato. "Ah, sudahlah. Cepatlah. Kami harus mengumpulkan beberapa Dracovetth lain untuk membantu dalam peperangan," terangnya. "Sementara ini kami baru menemukanmu. Oh, dan kurasa kakakmu itu akan mengampunimu kalau kau bersedia ikut serta membantu dalam peperangan kali ini."
"Jangan sebut nama itu," tukas Bee. "Namaku Killer Bee ! Rapper terbaik di dunia –eh, tolong sembunyikan itu. Dan –siapa namamu ?"
"Aku Nagato," Nagato memperkenalkan diri. "Uzumaki Nagato. Dan ini Konan."
Bee menulis kembali dalam buku catatannya. "Suatu saat nanti aku akan memasukkan nama kalian ke dalam enka-ku," janjinya. "Kedengarannya bagus. Dan oya, Rambut Merah ? Kau punya mata yang menakutkan."
"Rinnegan," koreksi Nagato. "Yah. Tapi aku ada di pihakmu," jelasnya. "Omong-omong, rap-mu itu keren juga."
"Aku senang bertemu apresiator yang cerdas !" Seru Bee sambil terkekeh. "Lain sama Omoi dan Karui. Mereka cuma menutup telinga saat aku bernyanyi. Nah, biar kuperdengarkan lagu terbaruku yang dimulai dengan –Ada seekor naga yang tersesat dalam sebuah kendi-"
"Bee-san," potong Konan. "Mungkin akan jauh lebih baik kalau Anda memperdengarkan lagu itu nanti saat kita sudah sampai di area peperangan. Akan ada jauh lebih banyak pendengar, kan ?"
"Tidak jelek."
Aku terbangun entah beberapa detik, menit, atau jam kemudian. Kulihat matahari masih dihalangi oleh bayangan bulan. Langit dipenuhi halilintar dan bumi terus bergetar, yang menurut Sennin Modo-ku hanya sebatas gempa kecil sebesar lima Skala Ritcher. Mereka berdua masih mengaduk-aduk bumi dan langit, dan tetap belum melepaskan kehendak perlambatan waktunya oleh bulan.
Kusadari ada delapan naga yang terkapar di sekitarku. Mereka perlahan mengerjapkan mata dan bangun dengan tubuh penuh abu dan luka gores.
"Horus sialan," gerutu Beleriphon. Sedetik kemudian, kilat menyambar gunung terdekat, menghancurkan bagian puncaknya.
"Hati-hati kalau bicara," nasihat Parthenon –walau aku yakin dia juga ingin sekali mengumpat pada dua nenek moyang aneh itu. Semoga saja mereka tidak sempat membaca pikiran kami sekarang.
Dari kejauhan, kulihat Madara melakukan handseal, menabrakkan tangan kanannya ke tanah. Bebatuan berderak, dan muncullah sesosok patung raksasa bermata sembilan, yang mencuat dibalik perban batu. Di tempat yang seharusnya ada telinga, hanya ada rantai bergelantungan berujung pada perkamen mini di telinga kanan. Kedua tangan dan kakinya diborgol. Madara mengeluarkan patung itu seutuhnya dari tanah bersama duri-duri tumpul yang mencuat dari punggungnya.
"Gedomazou," desis Pyrus. "Patung Samsara. Aku sedikit-sedikit tahu apa yang...akan dilakukannya."
Ada aura aneh di sebelah kanan Madara. Lubang antardimensi yang terbuka, dan menampakkan sosok pria bertopeng. Sekarang dia memakai jubah biru tua –hampir ungu, dengan sarung tangan, penutup kaki, dan topeng putih bercorak Sharingan, yang menampilkan dua mata Uchiha itu yang berwarna merah menyala sewarna darah (jangan bayangkan di animanganya, satu Sharingan satu Rinnegan, disini dua-duanya Sharingan).
"Baru datang," kata Madara datar.
"Bisa kita mulai sekarang ?" Balas Pria Bertopeng itu tak sabar.
Mereka melakukan handseal.
Mulut patung membuka, membuka sangat lebar, menampilkan gigi-gigi seri rata dan empat taring dari batu. Kemudian mulutnya meluas, dan tujuh rantai putih berapi ungu langsung meluncur dari sana, tanpa bisa dicegah lagi menusuk dan membelit ketujuh Etatheon di sekitarku.
"Argh !" Teriak Droconos.
"Grrhh !" Geram Hermes.
"Lapar," sahut suara lain.
Aku menoleh. Kurama mengerjap-ngerjapkan mata. Dia baru bangun.
"Apa sekarang jam makan malam ?"
"Bukan," jawabku ketus. Dia segera tersadar begitu mengetahui ketujuh Etatheon...dalam situasi yang tidak bagus. Kurama menggigit satu rantai, tapi segera melepaskannya.
"Benda macam apa ini ?!"
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, tapi kuhunus Nunboko no Tsurugi dan kuhantamkan ke rantai itu. Dua logam berdencang tanpa menghasilkan apapun. Aku mengerang kecewa.
"Lupakan," cegah Styx. "Ini rantai khusus yang memang keluar dari Gedomazou untuk membatasi kekuatan Etatheon," desisnya lirih.
"Kekuatan kami sedang diisap," lanjut Parthenon. "Naruto...hentikan Mada...ra !"
Gigiku bergemeletuk karena amarah. Aku membentuk Tajuu Kagebunshin sebanyak yang kubisa, dan semuanya segera menyerbu ke arah dua berandalan kelas dunia beserta patung aneh mereka. Namun Madara dan si Pria Bertopeng tidak perlu repot-repot melirikku, karena bumi terbelah di kaki masing-masing bunshin. Tanah teraduk-aduk dan batu-batu es sebesar bola boling berjatuhan dari langit. Jangankan maju, berdiri pun sulit.
Rantai patung itu lepas dengan sendirinya, membawa kumpulan besar –mungkin lebih dari setengah chakra Etatheon kembali ke mulut patung, meninggalkan tujuh naga dewa yang kotor dan sekarat, terkapar lemah di tanah berbatu. Aku sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan mereka, mendekat dan berusaha mentransfer chakra sampai semua bunshin-ku menghilang.
"Madara sialan !" Umpat Kurama. "Biar ku-"
"Jangan besar mulut," aku menginterupsi. "Aku tidak mau kehilanganmu –lagi- setelah kehilangan Ardhalea."
.
"Mulai," perintah Madara keras. Pagar api merah berbentuk lingkaran mengurung sang patung, yang kemudian membuka matanya lebar-lebar sampai pembuluh darahnya terlihat, dan mengeluarkan darah. Ia mengangakan mulutnya, memecah sebagian pakaian batunya sendiri, dan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya layaknya orang sakit kepala akut.
"GOOOOOOOOOOAAAAAAAARRRRRRR ! ! ! !" Raung Gedomazou, menggetarkan bebatuan.
.
"Semuanya !" Seruku panik. "Kalian...kalian baik-baik saja ?"
"Dari kondisi kami sekarang apa kelihatan baik-baik saja ?" Gerutu Droconos. Ia berusaha bangkit dengan susah payah. Chakra seluruh bunshinku saja tidak cukup. Ia memandang Gedomazou dengan khawatir. "Percuma. Juubi akan bangkit...sebentar lagi."
"Kita tidak boleh menyerah," ujarku, meski aku sendiri ragu. "Kalian adalah harapan dunia –kita adalah harapan dunia !"
"Terlalu banyak dijejali harapan," desis Styx kecewa. "Sampai muntah dan menggigil."
"Untuk pertama kali, aku suka ungkapan itu," celetuk Beleriphon, masih terkapar diatas bebatuan. "Kakiku patah."
"Kaki yang malang," komentar Hermes.
"Ha-ha," desis Droconos. "Aku merasa seperti...entah seperti apa."
.
.
.
Apa ini ?
Yang kulihat sekarang bukan tujuh jagoan yang membuat naga-naga kecil (mungkin juga manusia) menatap mereka sambil terkagum-kagum dan terus berseru dengan penuh semangat, 'Aku ingin jadi seperti mereka nanti kalau besar !'
Aku pernah dengar kata-kata aneh yang berbunyi: "Kadang, untuk meruntuhkan sebuah bangunan, kau cukup mengambil satu tiangnya saja". Aku menganggap itu lelucon. Sekarang itu benar. Ardhalea telah terambil. Dia mungkin tiang terkuat yang pernah ada –bisa jadi dia-lah fondasinya. Dan sekarang tujuh Etatheon yang tersisa tidak lebih dari naga-naga putus asa yang cuma menunggu waktu untuk mati. Tak berdaya di tanah seperti gladiator yang barusan kalah perang dan menunggu eksekusi. Terlalu tragis.
Semua ini sekarang bergantung padaku. Mungkin juga Kurama.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Ardhalea, bisikku dalam hati. Kalau kau ada disini...apa yang akan kau lakukan ?
Tentu saja menyemangati mereka lagi, pikiranku yang lain menjawab sendiri.
Apa salahnya kucoba ?
.
.
"Kalian adalah Etatheon," aku memulai. "Naga-naga terhebat sepanjang masa. Apakah hanya karena sebagian kecil kekuatan kalian ditarik masuk ke patung sialan itu, kalian jadi kehilangan semangat dan jiwa ? Apa itu yang namanya Etatheon ?!"
Mereka bergeming.
"Seluruh dunia menggantungkan hidup mereka pada kita yang ada disini ! Kita harus melawan Madara dan si Pria Bertopeng itu hingga titik darah terakhir !" –aku memandang Beleriphon, Pyrus, Hermes, dan Parthenon secara khusus. "Kalian ! Bukankah kalian juga ikut berteriak penuh heroik 'untuk Paradox !' tadi pagi di Kuil Etatheon ? Kemana semangat kalian itu ? Dan kalian bertiga !" –aku menunjuk Deavvara, Styx, dan Droconos. "Balaskan dendam kalian pada Madara !"
"Kita tidak boleh menyerah meskipun tampaknya segalanya akan berakhir !"
Bukan aku yang mengatakan itu. Aku melirik Kurama, dan dia mengedipkan mata. "Apa kalian mau membiarkan Naruto mengatasi mereka berdua sendirian ?" Lanjutnya. "Kalau begitu, pengorbanan Ardhalea akan sia-sia !"
Mereka masih tidak bergerak. Aku nyaris kehabisan kata-kata.
Nekad, aku menegakkan sayapku lagi, dan langsung merengsek maju ke hadapan dua Uchiha pembuat onar itu –yang membuat Kurama kaget setengah mati.
"Oi !" Serunya. "Kau mau bunuh diri ?!"
"Kita tidak bisa terus-terusan mengandalkan naga-naga lemah itu !" Bentakku, sengaja berusaha menyinggung ketujuh Etatheon.
Tak lama, aku berada tak jauh dari mereka berdua. Dari dekat, raungan Gedomazou serasa memekakkan telinga.
"Wah, wah," ejek Madara. "Ini dia pahlawan muda kita. Kenapa kau datang sendirian ?"
"Mereka akan menggilas kalian segera," jawabku, meski kurang yakin. Aku menghunus Nunboko no Tsurugi dan menyerang Madara, namun aura biru dengan kerangka-kerangka aneh melindunginya lagi. Susano'o. Andai aku tadi merampas Uliran Samsara Deavvara, pikirku. Susano'o tidak ada artinya.
BUK !
Madara menghantamku dengan pedang Susano'o-nya. Aku bangun dan menghindar dari tebasan berikutnya, namun si Pria Bertopeng itu mendadak mengeluarkan shuriken-shuriken raksasa yang entah diambilnya dari mana. Aku menangkis semuanya dan membalikkan dua diantaranya, tapi dia mengelak dengan mudah. Madara meniupkan bola api, dan aku membalas dengan banjir.
Pria Bertopeng itu tiba-tiba meninjuku. Taijutsunya lumayan bagus juga. Madara melempar sabitnya padanya, meminjamkannya untuk ikut menghabisiku. Sulit rasanya menangkis dua senjata besar sekaligus, bahkan dengan Pedang Rikudo. Aku melakukan handseal, bersiap melubangi perut mereka dengan Jinton.
"Rasakan ini !"
Cahaya itu meluncur dari telapak tanganku, dan tepat menembus perut si Pria Bertopeng. Kabar buruknya, sebelum mengenai Madara, cahaya itu diserap oleh tangannya.
"Rinnegan bisa menyerap semua jutsu," pamernya. "Tidak ada artinya menyerangku."
Peduli amat, pikirku. Setidaknya Pria Bertopeng itu sudah modar.
Tapi begitu Jinton selesai, ia melangkah maju dan mengayunkan sabitnya seolah tidak terjadi apa-apa. Aku menyambarnya dengan petir, dan petir itu justru menggosongkan tanah di belakangnya. Melewatinya begitu saja –menembusnya. Teknik yang benar-benar aneh.
Pria Bertopeng balas menyemburkan api berbentuk dinding. Terlalu besar untuk dihindari, jadi aku menghalaunya dengan mendirikan dinding tanah tebal. Namun sebelum api itu mengenainya, dinding tersebut mendadak luruh jadi pasir. Api melesat ke arahku. Aku harus berpikir cepat, dan ditengah keputusasaan terpanggang, kukepakkan kedua sayapku kuat-kuat. Mungkin ada gunanya.
Api itu buyar seperti api lilin ditiup kipas. Aku bernapas lega, dan baru saja ingin melakukan serangan balasan, kusadari kakiku terbenam tanah padat sampai sebatas lutut. Haumea yang melakukannya. Dia pasti jugalah yang mengubah dinding tanahku jadi pasir.
Tornado terbentuk di depanku.
Aku menggeram. "Angin adalah elemenku juga, bodoh !"
Aku 'memegang' landasan badai berputar itu –tindakan bodoh nan nekad tapi berhasil- dan 'melempar' tornado itu hingga rebah ke arah dua pembuat masalah itu. Angin kerucut itu menggilas tanah dan melempar Madara bersama Susano'o-nya. Aku melepaskan diri dari cengkeraman bumi.
Bunshin dibentuk di sekitarku, dan dalam waktu singkat aku melemparkan dua Rasenshuriken tepat sasaran. Sialnya, Haumea kembali beraksi –dinding tanah padat setinggi sepuluh meter yang sangat tebal muncul menghalangi mereka berdua, dan Rasenshuriken membentur dinding itu dan menghancurkannya jadi ribuan keping. Sia-sia. Aku berlari acak-acakan bersama bunshin-bunshinku, menghindari sambaran petir random yang muncul begitu saja dari langit, hingga berhasil mendekati mereka.
Nunboko no Tsurugi sekarang berlipat ganda. Lima menusuk Susano'o Madara, dan membuatnya menghilang. Aku menyerang bertubi-tubi dan begitu mereka terpojok, awan menggulung ke bawah, membentuk sosok yang kukenal. Bebatuan berderak ke atas dan membentuk yang lainnya.
Horus dan Haumea kini bersama, membelakangiku dan menyerang. Aku menghindar dan membelakangi mereka, baru saja memikirkan apa yang mesti kuperbuat begitu angin ribut melandaku. Batu-batu sebesar rumah beterbangan berusaha membuatku gepeng.
Aku tidak bisa terus menghindar. Pada akhirnya Horus menembakkan petir, yang tepat menyambar dadaku. Sebelum selesai, Haumea menghantamku dengan ekor gada anehnya yang seperti sarang lebah berduri, membuatku terlempar dan merengsek hingga mendekati tujuh Etatheon dan Kurama lagi.
"Ugh," aku merintih frustasi. Mereka tidak membantu sedikitpun !
"Percuma, Naruto," ucap Haumea. Aku tidak tahu darimana dia tahu namaku –dan aku tidak mau tahu.
"Mereka sudah kehabisan semangat," timpal Horus. "Dia akan bangkit sebentar lagi. Sekali lagi, kami berdua minta maaf."
"Bodoh," gumamku. "Tidak ada naga yang bisa dipercaya di dunia ini."
.
.
.
"Tentu ada," tabrak Hermes tiba-tiba. Ia berusaha bangun.
"Demi Betelgeuse, kalian tolol," sergah Pyrus. "Semua ini tidak akan terjadi kalau kalian bertiga tidak mengkhianati kami !" Ia menuding Droconos, Styx, dan Deavvara bergantian.
"Apa maksudmu !" Seru Styx. "Dimana kalian semua –saat Ardhalea bertarung habis-habisan melawan kami bertiga, hah ?!"
"Kalian malah sibuk mengurusi manusia-manusia tidak berguna di medan perang," gerutu Droconos. "Setidaknya kalian bisa datang lebih awal untuk membantunya sebelum Deavvara bertindak-"
"Apa-apaan !" Potong Parthenon. "Kalian yang salah, malah menyalahkan yang lain ! Dengar ya, semua bencana ini berawal dari kalian bertiga !"
Deavvara bangkit, tapi tampaknya tidak begitu bernafsu untuk berdebat menyalahkan. "Baiklah ! Mungkin aku yang salah-"
"Kau selalu salah !" Bentak Beleriphon. "Baru sadar sekarang kau !"
"Saudara macam apa kau ini ?" Sinis Hermes.
"Berisik !" Styx menginterupsi, tapi tidak berhasil.
"Aku sudah mengaku salah !" Deavvara naik pitam. "Kenapa terus saja bicara tentang masa lalu ! Kita harus mengha-"
"Aku tidak pernah mau diketuai oleh naga yang selalu salah !" Gerutu Pyrus, mengibaskan ekor.
"Kau ingin kita bertarung sekali lagi disini, hah, perapal bintang ?!" Geram Droconos.
Alih-alih bertarung melawan musuh, ketujuh Etatheon mulai terlibat baku hantam bertarung melawan sesamanya sendiri. Aku ingin sekali mencegah, tapi bernapas pun rasanya sakit. Kurama melirikku dengan cemas, mengisyaratkan 'Apa yang harus kulakukan ?' tapi aku mengangguk pelan. Mungkin itu berarti 'Lakukan apa yang harus kau lakukan'.
"Stop !" Pekik Kurama, tapi sebutir Ryuudama sebesar bola tenis menghantam dadanya. Cukup kecil memang, tapi itu membuatnya jatuh terguling-guling. Aku pasrah menyaksikan ketujuh naga dewa ini saling menyalahkan satu sama lain. Kalau saja Ardhalea ada disini...
Aku pingsan. Sepertinya begitu. Dan aku bermimpi –mimpi yang datang pada saat yang tidak tepat. Tapi aku tidak bisa bangun begitu saja.
.
.
Disana ada Ardhalea.
Aku berlari ke arahnya, tapi kakiku serasa dipancangkan ke bumi. Aku tidak bisa bergerak, kecuali kedua tangan dan kepalaku. Kakiku seperti dilapisi semen, jadi aku memutuskan melihat kejadiannya saja dari sini.
Aku mengamati ruangan. Ini seperti...sebuah kamar. Ada tempat tidur yang –wah, dihiasi beberapa intan dan perak. Lantainya dari marmer putih dan kusen-kusen jendela dan pintunya dari gading. Beberapa vas keramik bercorak naga, dan...seperangkat lain yang tidak perlu kujelaskan. Ardhalea disana, duduk di tepi sebuah ranjang sambil mengamati sebuah kotak besar berbentuk balok. Ia dalam wujud manusianya yang tanpa sayap dan tanduk.
"Ardhalea !"
Percuma, mimpi ini bisu lagi.
Pintu terbuka. Aku memasang mata baik-baik. Tampak seorang laki-laki berambut panjang sebahu, dan wajahnya berlumuran selai, pecahan buah, dan bahkan ada getah karet menghiasi pantatnya. Mestinya itu adegan lucu, tapi entah kenapa aku tidak tertawa. Itu Deavvara, terlihat kesal dan penuh dendam.
"Mampus kau," kata Ardhalea geli.
"Pesta yang mengerikan," gerutu Deavvara sambil pergi ke pancuran. Itu mungkin kamar mandi, tapi tidak ada sekatnya samasekali. Ia membuka pakaiannya, menampilkan lebih banyak selai dan krim, dan segera membilasnya dengan air sampai bersih. "Jangan katakan kau disini untuk menaburkan lebih banyak –apapun yang bisa dimakan- padaku," gerutunya.
"Mentega," jawab Ardhalea santai. "Dan kismis dan krim dan...beberapa selai buah, mungkin ? Masukkan ke tungku, bakar beberapa menit, dan angkat lalu hidangkan."
"Kau pikir aku ini 'naga bumbu asam manis' hah ?"
"Bercanda !"
Mereka berdua tertawa. Aku meneguk ludah kecut. Dua saudara ini punya masa lalu yang begitu sempurna –begitu bahagia.
"Oh, apa itu di kotakmu ?"
"Hadiah. Untukmu."
Deavvara mengerutkan dahi, menebak-nebak. "Biar kutebak," katanya, "meriam sandang yang meledak tiba-tiba ?"
"Kau pikir aku setega itu !"
"Balok kayu pinus, mungkin ?"
"Buka saja sendiri."
Deavvara membuka boks itu dengan tidak sabar. Aku –dan dia- terbelalak saat mengetahui isinya. Uliran Samsara.
"Sekrup raksasa ?" Sindir Deavvara. Ardhalea meninju kepala saudaranya.
"Aku menamainya Rinsei Rinne no Tsurugi," terang Ardhalea.
"Pedang Uliran Samsara," Deavvara menerjemahkan. Ia melihat-lihat senjata itu. "Keren juga, sih. Darimana kau dapat ?"
"Rahasia."
"Oh, ya," gerutu kakaknya. "Kau sering menghilang beberapa bulan terakhir ini. Jangan-jangan selama ini kau membuatnya, ya ?"
Saudarinya tampak tersipu. "Bisa...dibilang...begitu. Jangan tanya dimana aku membuatnya."
"Yang jelas bukan di kamarmu," ucap Deavvara asal-asalan. Ia mengelus-elus senjata yang masih baru itu. "Kelihatannya ini sangat kuat. Oh, Ardhalea. Kau satu-satunya orang di rumah ini yang memberiku hadiah yang bermanfaat ! Ulangtahunku yang keduapuluh ini berkesan memang, tapi itu takkan terjadi kalau kau tidak memberiku yang ini. Huh –Hamura dan Hagaromo, bahkan ibu sendiri, tidak menganggap dua puluh itu angka yang spesial."
"Mereka tidak memberi apa-apa ?" Selidik Ardhalea polos.
"Selain selai stroberi dan mangga, tepung dan mentega sisa kue, plus getah karet yang dioles di kursiku, yah. Mereka tidak memberi apa-apa."
Aku mengernyit. Ulangtahun kedua puluh ? Pasalnya, baik Deavvara maupun Ardhalea, dua-duanya masih tampak seperti masih berusia tujuh belasan tahun ! Aku tidak begitu heran mengingat dua-duanya "abadi" selama tidak menerima serangan yang begitu besar untuk cukup membunuh mereka, tapi mungkin itu juga berkaitan dengan konteks 'awet muda' ?
"Dari Kristal Batu Gelel, ya ?" Selidik Deavvara. "Kau membuat ini dari batu semacam itu ? Itu terlampau kuat, Dik ! Kau yakin mau mempercayakan senjata yang sudah susah payah kau buat sendiri –padaku ?"
Ardhalea mengangguk ringan. "Itu hadiah ulangtahunmu, kan. Sekali diterima tidak bisa dikembalikan."
"Tapi senjata ini bisa jadi terlampau kuat ! Hei, terakhir kali kita menguji kekuatan kita, aku kalah olehmu dan Hagaromo !"
Ardhalea mengangkat bahu. "Lalu...kenapa kau tidak berlatih dengan itu dan menjadi lebih kuat ?"
Deavvara mencibir. "Kenapa kau sepercaya itu padaku ?"
"Karena kau kakakku," bisik Ardhalea tulus.
Mereka terdiam sesaat.
"Kau saudara terbaikku," celetuk Ardhalea datar.
Deavvara mengangguk malu. "Hanya karena kita sama-sama setengah-naga ?"
"Hamura dan Hagaromo tidak bisa disebut normal untuk ukuran manusia, bodoh," balas Ardhalea. Ia bangun dan memeluk kakaknya.
Kemudian latar belakang berubah. Aku mengenalinya –Ootsutsuki Kaguya, duduk di kursi malas. Saat itu mungkin berbulan-bulan sebelum atau sesudah ulangtahun Deavvara, aku tak tahu persisnya kapan, yang jelas sedang musim dingin –badai salju menggemuruh di luar, dan Kaguya sedang membaca sebuah buku tebal di kursi malas dekat perapian yang menyala. Beberapa detik kemudian, dia menutup bukunya. Orang ini sepertinya juga awet muda, mungkin setelah memakan Buah Shinjuu. Ia berjalan ke koridor berpintu empat, membuka pintu pertama.
Deavvara tertidur lelap di kasur king size-nya. Ibunya keluar sambil menutup pintu pelan-pelan, beranjak ke ruangan berikutnya, dimana Hamura juga sedang mendengkur. Ruangan ketiga, ada Hagaromo. Dia juga sedang tidur –tapi tidak dalam posisi yang normal. Alih-alih di ranjang, berselimut dan bersandar pada bantal, ia terkapar di lantai berkarpet.
"Untung ranjangmu tidak terlalu tinggi," bisik Kaguya geli. "Bisa tidak sih semalam saja kau tidak jatuh dari tempat tidurmu ?"
Oh, itu pasti sisi yang amat sangat memalukan dan merusak citra hormat sang Rikudo Sennin –ternyata dia sering jatuh dari tempat tidur tanpa terbangun. Lupakan yang satu itu, deh.
Kemudian sang ibu membuka pintu ruangan terakhir. Ardhalea disana, tapi tidak tidur. Ia berdiri memandang keluar jendela.
"Sayang ?"
Yang dipanggil terkejut –menoleh ke belakang dengan gugup. "Aku...tidak bisa tidur."
Ibunya mengangguk. "Terlalu dingin ?"
Ardhalea menggeleng. "Aku...ingin, eh, maksudku...aku penasaran akan sesuatu."
Ibunya mendekat, menjejerinya di jendela besar yang langsung mengarah ke badai salju di luar. "Tanyakan apapun yang ingin kau tanyakan."
Hening untuk beberapa detik. Aku menunggu dengan tidak sabar.
"Naga," Ardhalea membuka pembicaraan, "mereka seperti gabungan kadal, ular, burung. Kelelawar barangkali. Sebenarnya...mereka semua bermula dari apa ?"
Kaguya menghela napas. "Itu cerita yang panjang."
"Dan ibu akan menceritakannya padaku," desaknya.
Sang ibu tersenyum. Entah itu cuma perasaanku saja atau, senyumnya sekilas menakutkan, seperti hantu.
"Hampir tujuh juta tahun yang lalu," desis Kaguya. "Pada Zaman Tersier di Kala Miosen, ketika mamalia sedang gencar-gencarnya berevolusi dan berkembang pesat. Dari kewibawaan dan kearifan primordial yang murni berasal dari langit dan bumi, udara dan tanah, awan dan batu, lahirlah Horus, Naga Langit, dan Haumea, Naga Bumi."
"Mereka ada begitu saja ?" Tabrak Ardhalea. "Maksudku...langsung 'bum' begitu saja ? Tidak ada yang menetaskan mereka ?"
Kaguya menggeleng. "Kita tidak tahu soal itu. Pokoknya, mereka ada, dan mereka saling jatuh cinta. Kedua naga pertama ini...menetaskan apa yang akhirnya menjadi Kaum Naga Kolosal. Anak pertama mereka akan jadi makhluk hidup terbesar yang pernah berjalan di planet ini, yang dinamai Varan. Oh, dan jangan bayangkan sebesar apa telurnya. Diameternya hanya sekitar dua meter dengan bobot beberapa ratus kilogram, berbentuk bulat bola dan tampak seperti batu. Ada beberapa tahap keturunan dari mereka: yang pertama disebut sebagai Kaum Naga Kolosal."
"Kaum Naga Kolosal," ulang Ardhalea.
"Mereka adalah naga-naga kuno berukuran luar biasa, yang sampai sekarang ibu belum terlalu mengenal mereka sekalipun. Keturunan kedua adalah Naga Gatpura, spesies berbentuk lawas seperti ular bersisik ikan, berwajah aneh dan kadang-kadang punya sayap. Keturunan ketiga hanya ada seekor dari satu spesies aneh, namanya Laramidia."
"Seperti apa dia ?"
Kaguya menggeleng. "Ibu kurang tahu soal itu. Nah, baru keturunan keempat-lah yang benar-benar mewujud sejati sebagai naga. Banyak diantara mereka sudah bisa kita lihat pada zaman ini. Manusia-manusia pertama...juga hidup berdampingan dengan keturunan keempat ini, jadi kita tidak tahu banyak soal tiga keturunan pertama Horus dan Haumea selain sebatas namanya saja."
"Horus dan Haumea..." desis Ardhalea, "seberapa penting mereka untuk dunia ?"
"Entahlah, Sayang. Ibu tidak mengetahui sampai sejauh itu. Itu peristiwa yang lebih tua daripada manusia manapun yang bisa berpikir, jadi...itu terlampau jauh di belakang dan kita tidak bisa melihat sejauh itu. Ada rumor bahwa Haumea dan Horus sendiri menulis sebuah ramalan aneh, tapi tidak ada yang berhasil menemukan dimana itu. Nah, sekarang lebih baik kau tidur, ya ? Sudah tengah malam."
"Ibu selalu saja begitu," keluh Ardhalea, merengut. Kaguya tertawa kecil.
Hening. Yang terdengar hanya suara jam yang berdentang dua belas kali.
"Baiklah, aku tidur," Ardhalea akhirnya menyerah, menguap dan menjatuhkan diri ke kasur. Sebelum ia menarik selimutnya, ibunya berkata.
"Kau ingin tahu sebabnya kenapa ayahmu tidak pernah terlihat ?"
Matanya yang terpejam membuka lebar-lebar, langsung duduk dan memandang ibunya penuh rasa ingin tahu.
"Dia mencari Ramalan Besar itu," jawab Kaguya. Aku yang mendengarnya turut mematung. "Jika ayahmu sudah menemukannya...dia pasti akan kembali. Dan dia akan sangat bangga mengetahui keempat anaknya sudah jadi...ksatria yang tangguh," Kaguya mendekat, membelai rambut perak putrinya yang sudah sepanjang pinggang, dan mengecup dahinya singkat. Aku mengangkat satu alis.
"Mimpi indah."
.
Petir menyambarku tiba-tiba, tapi tidak ada yang terjadi dengan ruangan ini. Aku terkejut bukan main, tapi tidak berakhir sampai situ. Tanah menelanku perlahan, dan seketika aku jatuh ke dunia yang berbeda –sangat berbeda.
Satu meter di samping kananku, aku melihat sebuah tumbuhan aneh, tingginya kira-kira empat meter, tapi seluruh batangnya tampak seperti sulur-sulur yang terkait jadi satu. Di puncaknya, ada sebuah bunga yang masih kuncup. Tumbuhan ini terlihat tak asing bagiku.
Oh, benar. Aku berada tepat di sebelah Shinjuu.
Tapi kenapa ukurannya kecil sekali ? Terakhir kulihat di mimpiku, dia cukup tinggi –lebih tinggi daripada gunung. Itu artinya cuma satu penjelasan yang bisa kuterima sekarang.
.
.
Aku berada di masa lalu. Barangkali...ribuan bahkan jutaan tahun silam. Masa ketika Shinjuu bahkan masih sangat pendek dan muda. Bulu kudukku merinding bersamaan dengan suara langkah kaki yang makin lama makin keras. Sosok itu muncul –Haumea sang Ibunda dari seluruh naga. Ia mendekat ke arahku, tapi kakinya menembusku. Alamat aku berada di mimpi transparan-bisu lagi.
Di belakangku, ada batu besar setinggi daun pintu. Batu itu berbentuk bola sempurna, dan mulai pecah.
"Oh, Ayahanda !" Seru Haumea kegirangan. "Kemarilah dan lihat apa yang sedang terjadi !"
Itu telur, bukan batu. Telur itu kini pecah seluruhnya, menampakkan sosok jabang bayi naga yang berlendir, seluruh tubuhnya berwarna cokelat, dan dia membuka mata besarnya yang berwarna kuning-merah-hitam. Sayapnya mengembang dan dia mendecit. Aku sadar aku sedang memandang sosok Varan ketika dia masih bayi. Dia belum dilapisi bebatuan raksasa, pepohonan, atau lumut. Benar-benar murni naga.
"Awww," kata Horus. "Manis sekali."
"Yang pertama menetas," ujar Haumea, menuding kumpulan bebatuan –eh, kumpulan telur, setidaknya ada seratus, mungkin, berserakan di padang rumput. Telur itu berbeda warna, setidaknya ada sepuluh warna berbeda. Merah tua, biru muda, abu-abu kusam, hijau cemerlang, dan banyak lagi. Itu pasti telur untuk masing-masing Kaum Naga Kolosal. Mengherankan melihat telur mereka sekecil itu (walau kau takkan menjadikannya omelet karena itu bisa meremukkan panci terbesar sekalipun) yang akan mengeluarkan sosok naga-naga terbesar di planet.
"Varan," celetuk Horus.
"Ha ?"
"Nama yang kuberikan. Sekarang –hmmm. Apa ?"
Kusadari dia bicara pada Shinjuu. Pohon itu bergerak-gerak, menundukkan bunganya yang sekarang sudah mekar, dan menampakkan bola mata tunggal berwarna merah, pusatnya hitam dan dikelilingi lingkaran berlapis. Sembilan tomoe mengitari lubang hitam di tengah.
Dia bicara dengan suara yang lebih tua daripada apapun yang pernah kudengar.
.
"Dari Langit dan Bumi keduanya bersatu..."
"Yang keempat kan tetap lestari..."
"Tugas engkau berdua akan tergantikan oleh teman Bumi..."
"Yang Besar dan Yang Wibawa akan tersemat kembali lain waktu..."
"Dan Yang Tunggal, bakti ayah dan ibu tak terlupa olehnya..."
"Delapan Drako akan selamatkan dunia..."
"Dipimpin oleh seorang anak manusia..."
"Yang menjadi belahan jiwa dari Sang Paradoks..."
"Namun pada akhirnya dia akan gagal melindungi yang terpenting..."
"Ada sesuatu yang disembunyikan dibalik sayap..."
.
Setelah mengatakan itu, pohon itu menguncupkan bunganya kembali dan berdiri tegak. Kedua naga pertama ini saling pandang.
"Ramalan Besar Shinjuu yang wahid," ucap Horus. Haumea mengangguk.
"Hamba ada banyak pertanyaan," ucap Haumea. "Seperti, apa maksudnya dengan yang keempat ? Siapa teman Bumi ? Siapa delapan Drako itu –dan siapa itu manusia ? Anaknya ? Dan apa yang disembunyikan dibalik sayap ?" Tanyanya penuh teka-teki. Horus menggeleng.
"Akupun tak tahu jawabannya, Ibunda," desahnya. "Tapi aku bisa mengira-ngira. Baris pertama jelas mengisahkan tentang kita. Yang keempat...mungkin artinya keturunan keempat kita. Oh, dan bicara soal tugas, sudah saatnya aku menerangi malam di belahan dunia sana. Aku akan segera kembali."
"Ramalan itu tidak boleh disepelekan," ujar Haumea. "Aku harus membuatnya abadi."
"Dimana ?"
Haumea melirik perut anak pertamanya.
"Akan kuukir itu..."
"...di perut Varan, anak pertama kita."
"Kelak, dia akan tumbuh jadi makhluk paling besar yang pernah ada di dunia, mengguncangkan gunung dan menjadi bagian dari dataran dan daratan itu sendiri, bersatu dengan bumi dan ujungnya menggapai langit. Dia akan senantiasa mengingat kita, dan akan selalu melindungi Ramalan Besar Shinjuu..."
.
Jadi begitu.
Jadi itulah alasan kenapa tidak ada yang bisa menemukan ramalan itu. Ramalan itu terpahat di perut Varan itu sendiri ! Tentu saja tidak ada yang menduga hal seremeh itu –alasan kenapa Varan bisa tumbuh jadi begitu besar dan begitu berat, adalah supaya tidak ada yang mengetahui ramalan itu sampai bagaimanapun juga. Kulihat sendiri di Pulau Oogata, bagaimana naga super raksasa itu terlihat begitu beratnya, dan untuk melihat dengan jelas ramalan itu, seseorang harus membalikkan tubuhnya –yang itu berarti hanya sinonim dari kata 'mustahil'.
Dan mengenai tugas Horus dan Haumea, sekarang aku mengerti. Bulan belum ada, dan mereka bertugas menjaga keseimbangan Planet Bumi. Menjaga agar musim tetap berjalan selancar mungkin, menjaga poros rotasinya sama miringnya dari waktu ke waktu, mengendalikan sebagian cuaca dan menerangi gelapnya malam. Lebih menakjubkan daripada apapun yang ada.
Aku memikirkan semuanya sekarang sebelum keburu bangun.
Jiraya-sensei pernah menyebutku sebagai Anak-dalam-Ramalan. Apa itu berarti mungkin ramalan yang ini ?
.
.
.
Aku tersentak, dan segera terbangun...
...saat sebuah suara bagai guntur dari langit mendadak meraung.
"HENTIKAN ! ! !"
.
Semua baku hantam, ejekan, dan umpatan, terhenti. Aku melirik sosok Deavvara yang terengah-engah, berusaha mengatur napasnya.
"Aku salah," desisnya.
Hening.
"...salah dan selalu salah. Dan adikku adalah benar dan selalu benar. Kurasa itu yang diinginkan dunia."
Kurama bangun.
"Baiklah. Ardhalea...tewas gara-gara kesalahanku sendiri," ia melirikku. "Baiklah. Semua ini salahku. Kalian semua boleh membunuhku."
Senyap.
.
.
"TAPI TIDAK SEBELUM KITA MENANG !"
Guntur menggelegar di kegelapan. Angin berdesir kencang. Mata tak berpupil Deavvara bersinar dalam gelap.
"Kita tidak boleh kalah. Kita wajib menang kali ini. Etatheon akan tetap lestari, abadi sampai dunia berakhir !" Ia mengacungkan sabitnya. "Aku tahu semua makhluk hidup yang waras mestinya takut padaku, menganggapku sebagai naga terjahat yang pernah ada, dan itu mungkin dikuatkan atas fakta bahwa aku mengakhiri hidup adikku sendiri. Tapi –aku masih punya hati ! Dan untuk membuktikannya, aku akan bergabung dengan pasukan aliansi dan mengalahkan dua manusia bedebah itu-" ia menuding patung Gedomazou. "-apapun resikonya !"
Hening untuk lima detik.
"Kau tidak pantas mengatakan itu," sergah Parthenon, "tidak setelah apa yang kau lakukan."
"Aku sudah mengaku salah," kilah Deavvara. "Dan aku akan turut membenarkan itu," ia menatap keenam rekannya satu persatu. "Aku tahu...kesalahanku mungkin tak termaafkan. Tapi hanya jika kita bersatu-lah kita bisa mengalahkan Madara. Aku benci mengatakan ini, tapi kita semua sudah diperdaya oleh dua manusia-setengah-iblis itu. Bagaimanapun juga, kita harus..."
"...menang," tabrak Droconos.
Deavvara kembali ke wujud sejatinya –laki-laki bersayap hitam dengan tanduk melengkung dua sisi. Berjalan ke arahku, menyodorkan tangan kanannya. Tangan tulang berotot dan tendon tanpa kulit, saraf, dan pembuluh darah. Ia menatapku penuh harap.
Sepuluh detik yang terasa seperti satu jam, tapi akhirnya aku menyambut uluran tangannya.
"Kau Dracovetth paling bodoh yang pernah kukenal," cetusnya. Aku meringis. "Dracovetth paling tidak terduga nomor satu," ralatnya. "Kau memiliki kekuatan yang misterius, Uzumaki Naruto. Sama persis seperti yang dikatakan Ardhalea. Kau bisa membuat...semua orang percaya padamu. Tidak terbatas pada manusia, hal itu berlaku pada naga juga. Neve si Severin...Kurama dan Demetra dari Wivereslavia...Beleriphon, Hermes, Parthenon, Pyrus, bahkan yang arogan, angkuh, gengsian karena harga dirinya yang sangat tinggi –adikku sang Paradox. Mereka membuktikannya. Lima Kage bahkan percaya padamu."
"Itu sanjungan yang berlebihan," bisikku lemah.
"Kurasa tidak," balas Deavvara datar. Ia merubah kembali menjadi wujud naga, dan mengulurkan tangan kanannya terbuka ke hadapan keenam Etatheon yang lain. "Kita akan bersatu, atau kita akan mati."
Hening sesaat.
Droconos menatapnya sangsi. "Kau selalu punya tekad yang berlebihan," ujarnya, tapi kemudian menyambut uluran itu –meletakkan tangan bercakarnya diatas tangan Deavvara.
Styx menyusul. "Aku tidak peduli apa yang dunia katakan," katanya.
Hermes menghela napas. "Pionir, ya ?" Selidiknya. "Oke deh," dan ia meletakkan tangan kanannya.
"Sekali Etatheon tetap Etatheon," gumam Beleriphon, dan ia ikut meletakkan tangannya. Ia melirik Pyrus dan Parthenon.
Pyrus mengedikkan bahu. "Demi 'Bulan', baiklah," ia mengikuti. "Tapi hanya karena untuk dunia," imbuhnya.
Semua kini memandang Parthenon. Ia menghembuskan napas berat seolah ada yang membebani punggungnya dan menatap mereka satu-satu.
"Kalian sangat sinting," desahnya, tapi akhirnya menumpukkan tangannya. Sekarang mereka terlihat seperti sedang ber-high five, tapi belum berseru. Mereka bertujuh menatap ke arahku dan Kurama.
"Aku ... ?" Selidik Kurama terkejut. Ketujuh naga dewa itu mengangguk, dan Kurama –dengan malu-malu, mengikuti mereka.
Kedelapan naga itu memandangku dengan kompak. Aku mematung.
Deavvara telah membunuh ayah dan ibumu, sebuah suara mendadak berbisik di kepalaku. Dia adalah Sang Ortodoks.
Tapi kelihatannya dia sudah benar-benar menyesal atas perbuatannya, bantah suara hatiku.
Di depanmu, iya, kata suara itu. Jika kita sudah menang nanti, siapa yang tahu apa yang akan diperbuatnya ? Sekali Ortodox tetap Ortodox, Naruto !
Hei, diam.
Mana bisa aku diam. Aku tahu yang akan terjadi selanjutnya. Semuanya akan semakin kacau saja. Jangan pernah percayai dia, Naruto. Deavvara itu penipu dan pembunuh dan psikopat tulen. Kau lihat dia bahkan membanggakan Rinsei Rinne no Tsurugi seolah-olah dia sendiri yang membuatnya. Apaan ! Dia membunuh adiknya sendiri dengan senjata hadiah adiknya ! Bukankah itu seperti memakan lagi bangkai yang sudah setengah tercerna ?
Siapa sih kau ini ? Balas suara hatiku yang lain. Kok mendadak risuh begini.
Bukan siapa-siapa, kok, balas suara itu misterius. Tapi percayalah padaku, kalau kau ingin selamat. Terserah kau sih, mau percaya atau tidak. Tapi ingat, waktu tidak akan bisa dirunut balik. Kalian manusia, benar-benar merugi. Silakan. Silakan ambil keputusan yang bertentangan denganku, dan rasakan akibatnya.
Siapa kau sebenarnya ? Mengatur-atur saja.
Hahaha, kau akan menyesal tidak mendengarkanku, Uzumaki Naruto. Aku-
Enyahlah dari sini ! Suara hatiku menang, menyingkirkannya.
Suara itu sirna. Pikiranku jernih kembali. Entah apa itu barusan, tapi sebagian diriku menyatakan bahwa tidak semua yang barusan dikatakan suara aneh itu salah. Deavvara memang terlampau jahat.
Tapi selalu ada kesempatan bagi mereka yang mau kembali ke jalan yang benar. Lagipula ini kan kakak Ardhalea sendiri, pikirku.
Aku menumpukkan tangan kananku pada naga-naga itu.
"Untuk Ardhalea," bisik Deavvara.
"UNTUK ARDHALEA !" Seru kami semua kompak.
GLEGAR ! Petir mengguncang udara, entah mengejek, entah ikut berseru. Kami memutuskan untuk tidak mengacuhkannya.
"Sekarang yang harus kita lakukan adalah menghancurkan Gedomazou menjadi kepingan-kepingan sebelum Juubi terbentuk," ucap Droconos. "Dan kita semua belum pulih sepenuhnya," gerutunya.
"Ada ini," Deavvara menarik Uliran Samsara.
Aku meringis dan menarik pedangku. "Dan ini juga."
"Kita akan hancurkan Madara," desis Hermes. "Bersiaplah kau !"
.
Sementara, Madara melirik sosok Pria Bertopeng di sebelahnya.
"Sudah saatnya ?" Tanyanya.
Pria Bertopeng itu mengangguk. "Baiklah. Ini memakan chakra yang sangat besar, meskipun disokong juga oleh Horus dan Haumea. Tapi belum cukup waktu sampai Juubi bangkit, jadi alangkah bagusnya kalau kita memberi mereka hadiah 'ini' sekarang saja."
Pria Bertopeng itu melakukan serentetan handseal sementara Madara berteriak ke langit dan bumi: "BANGKITKAN 'DIA' !"
Sosok Horus dan Haumea berdenyar diantara awan gelap dan tanah padat, saling menyambarkan energi biru dan cokelat. Handseal Pria Bertopeng akhirnya selesai, dan ia mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi ke langit.
"BANGKITLAH !"
Tanah berguncang terbelah.
"Oke," desis Pyrus, "apapun yang muncul dari tanah sekarang, akan kita hadapi dengan berani," tegasnya. Kami semua mengangguk kompak.
Tapi perkiraan itu kurang tepat. Setidaknya munculnya bukan hanya dari tanah. Dua energi yang berbenturan itu mengisi sesuatu dari udara kosong, perlahan membentuk binatang paling aneh yang pernah kulihat. Setidaknya, naga yang tampak sangat ekstrim daripada yang lainnya, sampai aku harus mengusap mata memastikan pengelihatanku masih normal.
.
.
"Apa...itu...?" Selidik Styx takjub. "Euh, menjijikan !"
"Ananta Shesha," bisik Pyrus. "Aku...aku tidak tahu dia benar-benar ada. Kukira dia cuma mitos."
"Naga yang membantu Horus dan Haumea menyokong langit dan bumi sebelum Bulan ada ?" Parthenon memastikan. Pyrus mengangguk.
"Itu apa ?" Tanyaku. "Yang bergelantungan di ujung itu ? Katakan itu bukan kumpulan mi !"
"Itu kepala-kepala dan leher-leher," terang Pyrus. "Ratusan jumlahnya. Ribuan barangkali. Masing-masing punya pikirannya sendiri."
Ya.
Apa yang kami lihat adalah sosok naga –mungkin lebih pas disebut ular super besar, tidak terlalu panjang secara keseluruhan, mungkin total panjangnya 'hanya' sekitar 500 meter (Ingat Jőrmungandr, Yacumama, dan Varan), tapi tubuhnya benar-benar besar dan gemuk. Maksudku, tubuhnya sebagian besar lebih tampak seperti siput daripada ular karena saking lebarnya. Dan bukan cuma itu yang membuatku terheran-heran, karena di ujung tubuh itu, di tempat yang semestinya ada kepala (setidaknya aku mengira satu atau beberapa) mencuat ribuan kepala, lebih banyak dari yang bisa kuhitung.
Kepala-kepala itu berbentuk seperti ular-ular kobra raksasa, sebagian lagi berbentuk seperti ular piton. Naga raksasa ini membuat Ladon yang punya seratus kepala sekalipun terlihat sedikit. Karena begitu banyaknya, kepala-kepala itu tidak begitu besar, mungkin hanya sebesar paha orang dewasa, tapi jumlahnya benar-benar mengerikan. Aku tidak mengerti bagaimana bisa naga itu hidup dengan kepala yang begitu banyaknya.
"Ananta Shesha," ujar Madara. "Nah, inilah yang harus kalian lalui untuk bisa menghentikan Juubi bangkit."
"Semuanya," kataku, mencoba untuk tetap tenang. "Kalau kita memotong satu kepalanya, apa dia bisa berlipat ganda lagi ?"
"Kau berbicara seolah-olah kau bisa memotongnya," gerutu Deavvara.
"Maksudmu ?"
"Tidak ada satupun senjata yang bisa memotong kepala-kepala Ananta Shesha atau melukainya," jelasnya datar.
"Jadi...dia abadi atau semacamnya ?"
"Bunuh Horus atau Haumea," jelas Deavvara, "maka Ananta Shesha juga akan mati. Atau bunuh saja Madara atau Pria Bertopeng itu, maka naga ini juga akan mati. Hidupnya terikat pada siapapun yang ada hubungannya dengannya, selama mereka bukan makhluk immortal."
"Hebat," gerutuku. "Jadi kita harus membunuh Madara tapi terlebih dulu harus membunuh sesuatu yang mustahil dibunuh. Apa-apaan ini."
"Tidak, Deavvara," kilah Pyrus tiba-tiba. "Aku tahu banyak soal legenda. Ananta Shesha bisa dikurung. Disegel, atau semacamnya. Kita hanya harus menemukan tempat yang cukup lapang, cukup kuat, dan cukup besar untuk bisa menyegel naga berkepala seribu lebih dengan panjang lima kali lipat lapangan sepakbola."
Sebuah tempat terlintas di benakku.
"Gunung Batuwara ?"
Semua naga dewa ini menatapku.
"Ide bagus," sambut Droconos. "Kurasa tidak ada salahnya. Gunung Batuwara adalah satu-satunya tempat yang tepat untuk menahan sesuatu sebesar dan sekuat itu. Aku yakin gunung itu bahkan muat untuk mengurung Juubi," katanya antusias.
"Masalahnya," tabrak Styx. "Kita tidak tahu dimana lokasinya sekarang, setelah dilepaskan segelnya dari Rantai Laeding oleh Madara. Bagaimana kalau ternyata dia malah ada di Kutub Utara atau Kutub Selatan ? Itu ribuan kilometer jauhnya dari sini !"
"Sayangnya, tidak," ucap Deavvara, seakan sedang berpikir. Ia melirikku tajam-tajam. "Naruto, masih ingat tempat ketika kita bertemu pertama kali ?"
Aku memutar otak. "Gua Besar Rhea ?"
Deavvara mengangguk. "Kau masih ingat bagaimana topografi tempat itu ?"
"Anu," aku berusaha mengingat-ingat, "pokoknya, tempat itu seperti habis dihantam meteor raksasa. Ada banyak berlian...satu pohon raksasa dan gua tepat di tengah-tengah cekungan daratan yang aneh, dan datar..."
"Tepat," tabraknya. "Itu dia. Kenapa tanah seluas itu berbentuk cekung seperti habis ditabrak meteor ? Kenapa banyak berlian yang tumbuh di tanah datar itu bersama dengan banyak bebatuan vulkanis ? Kenapa ada pohon raksasa di tengah ? Itu karena, ribuan tahun yang lalu, tempat itu adalah lokasi dimana Gunung Batuwara berdiri menggapai langit. Dan sekarang, jika ada tempat yang wajib kita curigai sebagai tempat kembalinya gunung itu, Cekungan Rhea-lah satu-satunya yang paling masuk akal."
Aku manggut-manggut setuju. Masuk akal sekali. "Tapi itu tetap jaraknya ratusan kilometer dari sini, kan ?" Tanyaku sangsi.
"Hermes," panggil Deavvara tiba-tiba. "Tolong pergi ke Gunung Batuwara. Ambil ujung Rantai Laeding dan seret itu kemari selagi kami mengatasi Ananta Shesha ! Begitu sampai, kaitkan rantai itu pada lengkungan lehernya. Dengan sisa-sisa kekuatanku dan Naruto, aku dan Naruto akan menariknya masuk ke Gunung Batuwara dari sini !" Serunya.
"Kau gila !" Sembur Hermes. "Kau mau aku menyeret rantai berbobot jutaan kilo itu ribuan kilometer dari tempat asalnya ?"
"Aku percaya pada kekuatan dan kecepatanmu," balas Deavvara tak acuh. "Cuma kau satu-satunya yang bisa kami andalkan."
Hermes berdehem ge-er. "Baiklah. Tapi hanya karena kau punya ide yang mungkin cukup bagus untuk mengatasi Ananta Shesha," ia melirikku. "Dan Naruto, hati-hati mengekstrak kekuatanmu itu. Rantai Laeding nanti akan menyerap terlalu banyak kalau kau lengah," ia memperingatkan, dan segera terbang ribuan kilometer perjam ke arah Kusagakure.
"Omong-omong, rantai itu masih bisa diseret ?" Selidikku. Deavvara mengangguk. "Ujung satunya masih tertanam pada perut gunung, tapi ujung yang lain, yang sudah dipotong Madara, pasti bisa diseret keluar. Itu satu-satunya harapan kita."
"Apa rantainya cukup panjang untuk bisa dibawa kemari ?" Kurama ikut bertanya.
"Pasti," jawab Droconos. "Rantai Laeding punya panjang tidak terbatas. Biar begitu, kita tidak boleh seenaknya menggunakannya."
"Nah," ucap Pyrus. "Sekarang..." ia memandang Ananta Shesha yang sudah mendesis-desis tidak sabar. "Ada yang mau spagheti ular ?"
"Kurasa itu aku," balas Beleriphon, dan ia mengepakkan sayap, terbang cepat mengitari naga raksasa berkepala super banyak itu. Aku hampir melompat ke punggung Kurama ketika Deavvara memanggilku.
Ia merendah dan membentangkan sayap.
"Kau memang sinting," ujarku. "Apa kau bisa jamin kau takkan menjadikanku umpan bagi seribu kepala ular itu ?"
"Ya," balasnya cepat.
Aku masih ragu, tapi aku tetap melompat ke punggungnya –dengan keadaan berdiri. Ia terbang cepat, dan aku berada di punggungnya, menghunus Nunboko no Tsurugi sementara ia bersiap dengan sabit dan Uliran Samsara-nya. Pyrus, Parthenon, Droconos, dan Styx menyusul. Kami semua kompak terbang mengelilingi raksasa Ananta Shesha seperti komidi putar. Naga itu tidak ambil pusing. Ananta Shesha sepertinya tidak punya kelebihan lain selain ukuran dan jumlah kepalanya yang begitu banyak, disamping kekuatan fisiknya yang hebat, mungkin. Ia lamban dan tidak bisa melakukan apa-apa selain mendesis-desis dan menggigit-gigit.
.
.
"Mereka tidak serentan yang kita duga," kata Madara pelan. Pria Bertopeng di sebelahnya mengangguk. Mendadak, tanah di dekat mereka mengabur dan membentuk sosok tanaman Venus Flytrap. Asisten Madara: Dua Zetsu dalam satu tubuh. Tapi kali ini yang muncul dari bukaan tanaman itu hanya satu, Zetsu Hitam, dengan mata bulat tanpa pupil, berwarna kuning pucat.
"Perlu kupanggil beberapa penyibuk lagi, Madara-sama ?" Tawarnya.
Madara mengangguk. "Silakan. Ambil yang terbaik."
Zetsu Hitam mengangguk, dan ia menegang. Dari tanah yang retak dan hancur terbuka, muncul beberapa lusin naga lagi, jauh lebih kecil dibandingkan Ananta Shesha, tapi panjangnya sekitar 25 meter. Keempat kakinya seperti kaki gajah, dengan cakar besar melengkung yang pendek, ekor pipih seperti salamander dengan kumpulan duri-duri berantakan seperti pentungan manusia prasejarah di ujungnya. Duri-duri berbentuk lempengan tulang menumbuhi punggungnya, dengan duri-duri lain seperti kaktus raksasa tumbuh di sisi tubuhnya. Kepalanya berbentuk seperti buaya, dengan gigi-gigi yang sangat panjang dan melengkung ke belakang. Makhluk-makhluk itu membentangkan dua pasang sayap kulitnya dan mengaum seperti singa.
"Apa itu ?" Tanyaku.
Styx mendecih. "Isisfordia," gerutunya. "Merepotkan saja. Mereka bisa terbang cepat, tapi agak sulit bermanuver. Bahaya terbesar darinya adalah, dia mampu menyemburkan api berwarna biru, yang jauh lebih panas dari api biasa yang berwarna kuning, merah, atau jingga. Dan jangkauan satu semburannya lumayan luas. Kau sebaiknya berhati-hati," jelasnya panjang lebar, menukik dan langsung menusuk seekor Isisfordia tepat di perutnya, dengan tanduk tunggalnya. Makhluk itu terbuyar menjadi debu pasir.
"Begitu caramu menyegel naga lain," simpul Kurama. Styx menyeringai.
"Sekarang lebih baik," katanya sambil menghirup napas dalam-dalam. "Ha ! Aku menyerap kekuatan dari apapun yang kutusuk !"
Tepat setelah dia mengatakan itu, dua Isisfordia menubruknya dari belakang. Lima lainnya menyerang dari depanku, mengangakan rahang.
"Deavvara !" Pekikku. Dia mengangguk, dan dengan sekali kepakan, kami menghindar dari lima bola api jumbo berwarna biru seperti bungkus minuman isotonik. Ia balas membakar kelima musuh dengan api ungu-pink-nya, tapi jumlah Isisfordia terus bertambah dari tanah yang terbuka makin lebar.
"Aku tidak mengira kau bisa memanggil sebanyak ini semudah itu, Zetsu Hitam," kata Pria Bertopeng setengah memuji.
"Hmm-mm," gumam Zetsu Hitam. "Aku terkoneksi ke Haumea di tanah," jelasnya singkat. "Naga apa lagi ?"
.
"Tidak ada gunanya !" Seru Droconos. "Bahkan kalaupun kita bisa alihkan perhatian para naga ini untuk menyerang dan memanggang Shesha, tidak akan berpengaruh !"
"Mendarat !" Teriak Deavvara.
Semua naga mendarat di tempat semula. Aku mengatur napasku yang ngos-ngosan. Lusinan Isisfordia sudah tumbang, terbakar dan mati. Tapi lebih banyak lagi yang mencuat keluar. Kami kalah jumlah, dan untuk sementara ini, meski kedengarannya mengerikan, kami juga kalah tanding. Ananta Shesha terlalu perkasa untuk dihadapi –dengan tubuh abnormalnya, ditambah ratusan Isisfordia yang meraung keluar dan terus menyemburkan api biru seolah mulut mereka berisi ratusan liter bensin.
"Kita butuh bala bantuan," desis Parthenon. "Suka atau tidak suka !"
.
.
BRAK !
.
Tanah menggebrak di depanku, dan tiga Isisfordia keluar dan mengaum, gigi-gigi tajam nan panjang mereka berpendar di kegelapan gerhana. Aku tidak punya kesempatan untuk mengayun pedangku...
.
.
.
...dan sebuah bayangan objek yang hampir sebesar Isisfordia itu sendiri, berkelebat cepat ke depanku dan menghajar dua dari tiga dengan ujung ekornya yang berkilau. Bunyi mendesing seperti pedang terdengar oleh telingaku, dan cakar-cakar supertajam mengayun mengiris udara, membabat leher satu Isisfordia. Ia menembakkan api hingga ketiganya hangus, hitam pekat.
Aku memicingkan mata dan terbelalak setengah detik kemudian.
Tidak mungkin aku tidak mengenalinya.
.
Keenam Etatheon –plus Kurama- tampak tidak kalah terkejutnya.
"Bagaimana...?" Parthenon tidak bisa meneruskan kata-katanya.
Sosok itu tersenyum tipis, lalu melirikku.
"Nah, Naruto," katanya, dengan suara yang sama yang masih kuingat. "Engkau tidak seburuk perkiraanku, rupa-rupanya."
.
.
.
.
Bersambung...
Author's Note (2):
Chapter 21 telah selesai !
Kemarin ada yang request Ananta Shesha, naga legendaris Dewa Wisnu yang memayungi Sang Budhha tujuh hari tujuh malam dari badai. Nah, ini dia saya tampilkan, walau kesannya dikit-dikit antagonis gitu...hihi. Yang kangen sama Ardhalea, ada sedikit flashbacknya disini.
Ramalan Besar Shinjuu telah terkuak bersama sedikit rahasia Horus dan Haumea di awal zaman naga (Kira-kira ada yang bisa nafsirkan ramalannya nggak, nih ? (*mesem-mesem gaje*)). Sementara, ketujuh Etatheon akhirnya bersatu dibawah pimpinan Deavvara, Sang Ortodox ! Sementara, Nagato dan Konan nongol lagi bersama tokoh baru: Killer Bee ! Eits, kalau begitu dari mana ya Madara bisa membangkitkan Rinnegan lagi ? Tunggu kelanjutannya ! Gimana dengan chapter ini ? Semoga tetap seru, ya !
Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini !
Oh, dan untuk minggu depan, karena karir saya di dunia nyata akan berlanjut kembali, jadi dengan amat sangat menyesal saya beritahukan kalau jadwal update mungkin akan berkurang, bisa jadi cuma sekali sebulan, hiks ! Tapi akan tetap saya usahakan sampai tamat, deh ! Bagi yang nggak mau ketinggalan, silakan klik opsi 'fave' ! Atau bergabung ke grup Facebook: Paradox Fanfiction Indonesia. Disana saya share info kalau-kalau sempat update.
Coming Soon: Paradox Chapter Twentysecond :
"One-Eyed Intruder"
See you again in chapter 22 !
-Itami Shinjiru-
*Haiku: Puisi Jepang yang biasanya terdiri atas tiga baris dan 17 suku kata, baris pertama 5 suku kata, baris kedua 7 suku kata, dan baris ketiga 5 suku kata.
-Dragons List in Chapter Twentyfirst:
Ananta Shesha (Diambil dari legenda India, ular milik Dewa Wisnu yang konon menyangga planet-planet dan Jagat Raya)
Strength : Tidak terklasifikasi
Ukuran : Panjang 500 meter, berat 440 ton
Kecepatan terbang : Tidak dapat terbang
Spesial : Ukuran luar biasa, ribuan kepala berbentuk kobra dan piton, dan kekuatan fisik yang hebat
Tipe serangan : Serangan langsung, menggigit, atau menindih
Kategori : Mirakel
Elemen spesial : -
Level bahaya : Jauhi !
Pemilik : Tidak ada
Isisfordia (Diambil dari nama buaya prasejarah yang hidup pada Zaman Kretaseus, fosilnya ditemukan di Australia)
Strength : Tinggi
Ukuran : Panjang 25 meter, berat 10 ton
Kecepatan terbang : 20-250 km/jam
Spesial : Akselerasi yang cepat, kulit berduri dan berlempeng
Tipe serangan : Serangan langsung dengan ekor atau duri, menggigit, atau menyemburkan api biru berukuran besar
Kategori : Perang
Elemen spesial : -
Level bahaya : Jauhi !
Pemilik : Tidak ada
