Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.
Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara
Main Pair : NaruPara, KuraDeme
Slight Pair : MinaKushi, ShikaTema, KakaPaku, & NagaKonan
Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Action, Romance
Author's Note :
Jumpa lagi di chapter 22, readers !
Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Terimakasih, matur nuwun, arigato gozaimazu, thank you very much, syukran, gracias (*bungkuk hormat*). Sebelumnya saya minta maaf banget yah nggak bisa update tepat waktu. Harap maklum, lagi sibuk banget nih :p
Ketujuh Etatheon yang tersisa akhirnya bersatu kembali ! Diantara bisikan aneh yang melanda pikiran Naruto, dia akhirnya memutuskan untuk bergabung kembali dengan Etatheon serta Kurama. Sementara itu, Madara dan si Pria Bertopeng membangkitkan kembali Ananta Shesha dan kumpulan Isisfordia yang membuat Naruto dkk kewalahan ! Di tengah-tengah pertarungan sengit, siapakah yang mendadak hadir membantu mereka ?!
Enjoy read chap 22 !
PARADOX
パラドックス
Chapter Duapuluh Dua:
One-Eyed Intruder
Tameng hitamnya berkilau dibawah cahaya halilintar yang tidak berhenti mencambuk langit. Tanduk emasnya melengkung tajam meskipun sudah ratusan tahun membatu dalam gunung es. Dia masih terlihat sama sejak aku menjumpainya beberapa minggu yang lalu –terperangkap dirantai dan separuh membeku di kuilnya sendiri, tapi selain itu bibirnya retak-retak dan sedikit hangus, seolah sudah menyemburkan api terlalu banyak belakangan ini.
"Artemis," desisku. "Kau...melepaskan diri ?"
Dia mengangguk tanpa menoleh. Sisa-sisa borgolnya masih tampak, beberapa untai rantai yang bergemerincing seiring gerakannya –masih bertengger di leher, sendi keempat kaki, sayap, dan ekor, tapi itu tidak membatasi pergerakannya. Sosok sepanjang dua puluh satu meter ini menggeram pada beberapa naga yang terlampau dekat, uap panas seperti ketel menyembur dari lubang hidungnya.
"Bagaimana caranya ?" Kurama ikut bertanya.
"Rantainya putus begitu saja," ceritanya singkat, "aku langsung mengetahui ada yang benar-benar amat sangat salah disini," katanya sambil melirik Deavvara. "Aku mestinya mematuhi perintah guruku untuk tetap berada di kuil, tapi kemudian matahari terhalang bulan ini," gerutunya. "Ada gempa bumi dan cuaca aneh dari kejauhan, dan aku merasakan chakra yang begitu kuno dan begitu kuat...akhirnya aku kemari setelah mampir ke suatu tempat."
"Suatu tempat ?" Selidik Parthenon. Artemis mengangguk.
"SEMUANYA !" Raungnya.
Angin berkelebat mengibarkan pakaianku. Kami mendongak dan mendapati puluhan Apocalypse Dragon mengepakkan sayap-sayap besar mereka, mendarat dengan mulus di tanah, dan menggeram ganas pada kawanan Isisfordia. Lawan yang seimbang. Aku tersenyum kecil. Artemis pasti akan membela habis-habisan gurunya, tapi aku tidak tahu apa dia sudah tahu Paradox telah tiada atau belum.
"Kami akan menangani ini," cetus salah satu Apocalypse Dragon. "Naruto-sama. Engkau dan seluruh Etatheon bisa memberesi naga raksasa berkepala seribu itu !" Serunya sambil merengsek maju menerjang ke kumpulan Isisfordia diikuti lusinan spesiesnya yang lain.
"Terimakasih," ucap Pyrus. "Kau datang tepat waktu, Artemis."
Artemis menggeleng. "Tidak usah berterimakasih padaku. Kita semua...akan membalaskan dendam Paradox," bisiknya pilu.
Aku merasa seperti ada yang baru menembak jantungku dengan panah beracun.
"Maafkan aku," balasku lirih, "aku tidak cukup kuat untuk melindunginya."
"Tidak apa," balas Artemis datar. "Setiap yang bernyawa pasti mati. Satu-satunya yang abadi adalah ketidakabadian itu sendiri. Dan kematian akan menjemput tiap-tiap yang punya nyawa, hanya saja datangnya tidak pasti. Sama seperti satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri," jelasnya bijak.
Kawanan Isisfordia mengaum liar, dan mereka menyerbu. Tapi kelihatannya Apocalypse Dragon memang ditakdirkan untuk menjadi musuh alami terkuat mereka. Segala duri dan lempeng para naga panggilan Zetsu Hitam itu tidak ada yang bisa menembus perisai lempengan yang terdapat di tiap inci tubuh Apocalypse Dragon. Api biru mereka yang panas ditaklukkan oleh api busi super-menyakitkan yang keluar dari mulut besar tiap teman Artemis bagaikan bola meriam beruntun. Tidak ada kesempatan untuk membalas.
Kawanan yang dibawa Artemis segera membabat Isisfordia, cukup membalikkan tubuh mereka dan mencincang perut dan bagian bawah leher mereka yang tidak terlindungi oleh duri apapun. Dalam waktu singkat, jumlah musuh segera berkurang, namun Ananta Shesha merenggut seekor Apocalypse Dragon dan berusaha mencabik-cabiknya diantara ribuan kepala.
"Jangan sampai naga itu mengacaukan segalanya !" Seru Droconos, dan kami mengudara kembali.
"Serang !" Geram Pyrus, dan di ujung kalimatnya, ia menembakkan belasan Ryuudama berukuran besar ke sembarang kepala, diikuti oleh naga-naga dewa yang lain. Benar-benar berisik saat itu, tapi aku tidak mau kalah. Aku melompat ke punggung Kurama dan membentuk bunshin, menghujani beberapa ratus kepala Ananta Shesha dengan api dan shuriken-shuriken besar.
"Jaga naga ini tetap di tempat sampai rantai itu kembali !" Pekik Parthenon. "Urusan para Isisfordia itu, serahkan pada bala bantuan !"
"Naruto," panggil Kurama tiba-tiba, "kira-kira berapa lama lagi sampai pasukan aliansi tiba di tempat ini ? Sayapku mulai kesemutan karena terbang terlalu cepat dalam jangka waktu terla-"
"Cerewet," aku menginterupsi. "Mereka akan datang sebentar lagi."
"Fakta ?" Selidiknya.
"Emm...bukan. Perasaanku saja."
Kurama mendengus, dan dua belas kepala kobra Shesha menggigit kaki belakangnya. Ia membakar semuanya dengan satu semburan, tapi dua puluh yang lain –kali ini bentuknya piton- membelit ekor, membuat kami kehilangan keseimbangan dan jatuh ke kumpulan ribuan kepala yang mendesis. Aku menghunus Nunboko no Tsurugi, tapi tidak peduli berapa banyak kutebas, kepala-kepala ini tidak bisa putus.
"Lebih baik aku berhadapan dengan Ladon !" Gerutuku.
"Setidaknya Shesha tidak beracun !" Sembur Kurama. "Atau cerewet !"
.
.
"Mereka lebih merepotkan daripada perkiraanku," tukas si Pria Bertopeng. Ia melirik Gedomazou yang masih meraung-raung dalam pelindung berwarna merah, tidak jauh di belakangnya. "Tapi sebentar lagi Juubi siap."
"Ingatkan aku untuk menyembelih Apocalypse Dragon terantai itu nanti," sambung Madara, matanya menatap tepat ke Artemis, yang terus membabat maju menghabisi Isisfordia. Kemudian ia memalingkan pandangan ke Zetsu Hitam. "Berapa banyak lagi ?"
"Hampir habis," lapor makhluk aneh itu, "yah, tapi lagipula sebentar lagi tujuan kita kan akan terlaksana," sambungnya santai.
.
"AKU DATANG !"
Semua Etatheon –plus Apocalypse Dragon yang hadir dan bertempur, berpaling ke sumber suara. Beberapa ratus meter diatas tanah dan di belakang kami, sesosok naga bersayap emas dengan berlian merah di kepalanya, membawa rantai setebal bus (yang mengherankanku, karena terakhir kali kulihat Rantai Laeding cukup besar untuk memberedel gunung), yang panjangnya luar biasa. Rantai itu kelihatan panas membara seolah baru ditempa, tapi selain itu tetap sama seperti terakhir kali kulihat di mimpiku.
"Aku penasaran seberat apa benda itu," cetus Kurama. "Atau...serepot apa membawanya."
Keenam Etatheon yang ada segera memburu, meninggalkan Shesha dan mengabaikan semua ancaman dari bawah dan guntur dari langit, bersama-sama membawa rantai itu bersama Hermes dan menukik kembali ke Shesha.
"Kuharap naga ini tidak begitu cerdas," cetusku.
"Kau bercanda," sambut Kurama sambil melirik ke belakang, "ribuan kepala, ribuan pasang mata, ribuan otak, mestinya. Tapi otak mereka sebesar kacang kapri."
"Jangan membuat mereka marah."
Rantai Laeding dilingkarkan, Ananta Shesha tidak memberontak. Aku curiga binatang raksasa ini masih punya sedikit sisa kebaikan masa lalu di hatinya, dan tidak sepenuhnya diambil alih oleh Madara. Rantai itu memanjang dan membesar hingga setebal bus begitu mereka melingkarkannya, membebani naga sepanjang lima lapangan sepakbola itu hingga membuatnya terbungkuk-bungkuk.
"Selesai membuat simpul !" Seru Styx dari seberang ekor.
Aku melirik Deavvara yang tersenyum hambar. "Sekarang apa ?"
"Pindahkan ke Batuwara," jawabnya singkat.
"Iya, tapi bagaimana caranya ?" Desakku.
"Hmm ? Kau punya Shunshin no Jutsu, kan ?"
"Hiraishin ?" Balasku cepat. "Kau gila ! Akan menguras seluruh chakra-ku untuk memindahkan 'benda' sebesar itu !"
"Lalu...apa yang kita punya ?" Desaknya cepat. "Kita sudah merantainya, tapi sekarang-"
.
.
"Hentikan perdebatan," lerai Parthenon tiba-tiba. Ia menuding Shesha.
Dugaanku mungkin benar, karena naga itu menyusut perlahan. Tidak begitu drastis, tapi berkurang sedikit demi sedikit dengan pasti. Meter demi meter dalam beberapa sekon, bahkan kepala-kepalanya bertambah kecil.
"Mustahil," bisik Hermes.
"Ya," Beleriphon mengangguk. "Ananta Shesha...dia masih punya sisa kebaikan dalam hatinya, kearifan primordial yang diwariskan oleh Horus dan Haumea...dia...akan menyegel dirinya sendiri dengan sukarela..."
"Rantai Laeding memecah genjutsu," simpul Styx. "Bisa kulihat itu. Kita beruntung Madara sialan itu menggunakan genjutsu tingkat menengah saja."
Sosok naga berkepala seribu itu perlahan susut dan terus mengecil hingga seukuran paus, kemudian gajah, badak, dan...akhirnya hanya sebesar tikus, kemudian dengan ledakan bunga api yang hebat, ia menghilang ditelan asap samar.
Aku mengangkat satu alis. "Kemana ?"
"Langsung ke perut Gunung Batuwara," bisik Deavvara. "Aku bisa merasakannya. Dia tahu rencana kita, dan berusaha sebisa mungkin untuk mendukung kita alih-alih membinasakan kita. Dia naga yang baik," ujarnya disusul senyum puas. Aku termagu, tidak pernah melihat ekspresi seperti itu sebelumnya, barangkali setelah berabad-abad. Ia pasti tidak sadar, karena sekarang senyumnya begitu lebar sampai-sampai mirip sebuah seringaian, gigi-gigi tajam berantakannya terlihat sepanjang mulut.
Ia melirikku.
"Apa ?"
"Tidak ada," kilahku sok manis. "Hanya...kapan terakhir kali kau sikat gigi ?"
"Kucelupkan kau ke dalam larutan sabun begitu perang ini selesai."
Hermes tersenyum puas, menghembuskan napas lega. "Satu masalah besar selesai."
"Sebenarnya, dua, Hermes," koreksi Parthenon –menuding ke bawah. Seluruh Isisfordia sudah dibereskan, dengan –mungkin- sedikit sekali korban dari Apocalypse Dragon yang ikut bertempur.
"Nah, sekarang kita tinggal menangani..."
.
.
.
KRAK
.
.
Kami menoleh kompak ke penghalang Gedomazou, yang mulai retak hebat di salah satu sisi.
.
"HANCURKAN SEBELUM DIA BANGKIT !" Deavvara berteriak sampai langit menggemuruh. Ia membuka mulut dan mengumpulkan Ryuudama sebesar mungkin, disusul rekan-rekannya yang lain. Aku ? Cukuplah mengumpulkan bola chakra lima elemen campur-campur di ujung Nunboko no Tsurugi.
"Ini tidak cukup," keluh Styx. "Aku butuh lebih banyak !"
"Buat sebesar yang kalian bisa !" Pekik Beleriphon. "Buat seolah-olah ini adalah kesempatan terakhir kalian menembak !"
Tujuh bola energi raksasa terbentuk di sekelilingku. Aku bisa merasakan chakra-chakra mereka yang meluap keluar, terus membuat Ryuudama yang makin besar lagi kuat. Aku dan Kurama terbang menjauh, dan ketika ketujuh bola merah-jingga-kuning-hijau-biru-ungu-hitam itu mulai memadat, retakan yang tertera dalam kulit pelindung Gedomazou meluas.
"TEMBAK !" Aku memekik sekeras mungkin –dan ketujuh Etatheon menembak, laksana tujuh kanon terbesar di bumi dengan tujuh peluru terkuat sepanjang masa. Aku menebas pedang, dan bola chakra lima warna itu meluncur cepat menyusul ketujuh Ryuudama.
Tujuh Ryuudama raksasa meluncur, dan segera mengenai patung raksasa itu satu persatu. Ledakan demi ledakan terdengar, masing-masing lebih mengguncang dan lebih keras dari sebelumnya, karena ketujuh bom bio terbesar di dunia sedang beraksi. Aku yakin Madara, Pria Bertopeng, dan si Zetsu Hitam sudah pergi jauh-jauh dari sana, kalau tidak, itu sama saja bunuh diri.
Ledakan terkeras yang pernah kudengar, membahana menggetarkan tanah, melongsorkan perbukitan dan menghancurkan apapun yang berada di sekitarnya. Awan-awan tersingkir dan gelombang angin kejut yang hebat menerpa kami hingga terdorong ke belakang. Cahaya ledakan menerangi lokasi ditengah kegelapan gerhana, dan kurasa itu juga mengirim sinyal ke pasukan aliansi 'kami ada disini' !
Beberapa detik setelah ledakan selesai, awan asap dan jatuhan bebatuan menghiasi tanah. Sunyi untuk sementara, dalam keadaan tegang.
"Chakra Mazou..." desis Parthenon. Suaranya bergetar.
Pyrus mengangguk. "Lenyap."
Styx dan Droconos menghembuskan napas lega hampir bersamaan. "Sudah...berakhir...ya...?" Droconos berkata dengan napas terengah-engah.
"Keterlaluan kalian," gerutu Beleriphon. "Belum pernah aku membuat yang sebesar itu dalam hidupku !"
Deavvara tersenyum licik –kelicikan yang berpihak pada kebenaran. "Ini momen kita bersama. Pengorbanan adikku...takkan sia-sia."
"Sudah berakhir," kataku lega, memukul-mukul punggung Kurama sebelum dia memprotes-protes.
.
.
.
.
.
"Ya," cetus si Pria Bertopeng. "Dunia ini...sudah berakhir..."
"Nah," Madara menimpali, "bisa kita mulai sekarang ?"
.
.
.
Dari kepulan asap raksasa dan guguran bebatuan, bisa kulihat sosok makhluk raksasa berwarna cokelat, samar karena kegelapan, tapi petir meneranginya hingga aku bisa menginterpretasikan bentuk keseluruhannya...seekor makhluk teraneh yang pernah kulihat. Ada dua pasang garis hitam yang menggaris melalui matanya yang diselimuti corak hitam –yang masih terpejam. Mulutnya mengatup dengan bibir tebal yang seolah terbuat dari tanah liat. Sepuluh ekor, masing-masing cukup untuk meratakan satu desa, bergerak-gerak di belakangnya. Yang kulihat selain itu adalah dua kaki –atau tangan- berjari lima serupa manusia, dengan kuku-kuku seperti mata pedang. Ada tonjolan tajam di dagunya, dan kurasa itu bukan jenggot. Tapi yang aneh adalah punggungnya –cukup lebar untuk dijadikan arena American Football, tapi dihiasi kulit yang menggulung ke atas seperti adonan es krim, atau kalau kau mau gambaran yang lebih menjijikan, terlihat seperti gulungan tahi, persis tahi raksasa padat berwarna coklat, dengan belasan duri-duri raksasa di sekelilingnya, mencuat ke atas.
Makhluk bengis itu menganga, membuka mulut, dan kulihat puluhan, mungkin ratusan, gigi-gigi berbentuk kerucut, berderet berantakan berlapis-lapis memenuhi mulutnya, yang pastinya akan membuat gosok gigi setelah makan akan sangat merepotkan. Kemudian dia membuka matanya, mata tunggal tepat di tengah-tengah 'dahi', dilindungi kelopak yang sangat tebal, dan bisa kulihat mata bulatnya hampir keseluruhannya berwarna merah menyala, dengan beberapa lingkaran hitam konsentris yang berpusat di pupil hitam, dan enam tomoe seolah dua Sharingan raksasa digabung paksa jadi satu.
Dia meraung buas, menggetarkan bumi, meniupkan angin hebat ke arah kami.
.
.
"Sialan," gerutu Droconos. "Andai saja ini cuma mimpi, aku bahkan ingin langsung bangun."
Beleriphon mengangguk mengiyakan. "Lucu. Untuk pertama kalinya aku setuju denganmu," gumamnya.
"Itu...?" Aku tergagap sendiri.
"Ya," decih Deavvara malas, "Datara. Deidara-bocchi. Ame no Hitotsu no Kami...Dewa Bermata Satu. Mungkin aku lebih senang menyebutnya 'Pengacau Bermata Satu'. Yah, yang itu kedengaran jauh lebih pantas, misalnya. Tapi, iya. Kita sedang menatap Juubi, Sang Ekor Sepuluh, jelmaan dari Shinjuu itu sendiri."
"Apa bentuknya juga begini saat engkau bertarung melawannya dulu ?" Tanya Kurama.
"Tidak," jawab Deavvara cepat. "Juubi yang ini belum sempurna, karena dia dibangkitkan hanya dengan sebagian chakra kami berdelapan. Jadi...ini baru tahap pertama, perkiraanku. Dibutuhkan tiga tahapan sebelum dia menjadi Shinjuu seutuhnya jika chakranya cuma segini, dan sepanjang itulah kesempatan kita. Kita harus menghancurleburkannya sebelum itu terjadi, dan percayalah, ini tidak akan mengasyikkan."
Aku pernah mendengar Deavvara menggumamkan dan berseru kesenangan saat bertarung dengan musuh yang kuat, jadi jika dia saja sampai berpendapat bahwa bertarung dengan Juubi tidaklah mengasyikkan, kau harus benar-benar khawatir mengenai berapa kuatnya musuh yang sedang kami hadapi kali ini.
Jujur saja, aku tidak terlalu terkejut (selain tidak bisa mengabaikan fakta bahwa bentuknya memang sangat aneh, dan satu matanya itu menyeramkan), karena sudah terbiasa melihat bentuk-bentuk aneh bin raksasa, apalagi Juubi bahkan tampak lebih kecil kalau dibandingkan Ananta Shesha.
Madara dan si Pria Bertopeng melompat ke kepala Juubi, meninggalkan Zetsu Hitam sendiri di tanah, menelusup kembali, bergabung dengan bebatuan. "Semoga berhasil," gumamnya sebelum menghilang.
"Ini aneh," sumbarku, "kukira chakra Mazou telah lenyap...?"
"Kita ditipu," gerutu Kurama.
"Makhluk itu tak memiliki perasaan ataupun keinginan...jadi tidak bisa dirasakan," desis Deavvara. "Bagaikan energi murni yang beredar di planet ini, seperti yang kau rasakan di langit, bumi, dan lautan. Mungkin akan sedikit berbeda kalau kau merasakannya menggunakan Sennin Modo-mu," lanjutnya.
"Begitu," kataku, kemudian mengambil posisi. "Jika dia adalah energi alam itu sendiri, mari kita coba mengetahui seberapa kuatnya dia !"
"Hentikan, Naruto," cegah Deavvara. "Walau kau menggunakan Sennin Modo-pun..."
.
.
Aku tersentak bangun, setelah mengetahui berbagai aura aneh yang mengelilingi kami. Seperti...semacam kekuatan yang begitu besar, bahkan terlalu besar.
"...itu sama seperti kau mengukur sesuatu yang tidak bisa diukur."
"Huh," aku mendengus, "yang benar saja..."
.
.
"Tadinya aku ingin menangkap mereka sebelum Juubi bangkit," kata Madara. "Tapi mereka lebih hebat dari yang kukira."
"Aku ingin segera memulai ritual Mugen Tsukuyomi," desak si Pria Bertopeng.
"Butuh waktu untuk memanggil bulan dengan genjutsu berskala besar. Mereka akan menghalangi kita. Bukankah metode paling aman adalah dengan mengalahkan mereka dulu ?" Tawar Madara santai.
"Madara...kau hanya ingin mencoba kekuatan Juubi, kan ? Itulah mengapa...kau ini seperti anak kecil saja," sumbar Pria Bertopeng.
Madara tertawa kecil. "Kau salah. Anak kecil adalah seseorang yang terlalu terburu-buru dan tak mau menunggu lama," kilahnya.
.
.
"Juubi tidak bisa terbang," cetus Deavvara. "Kita harus manfaatkan itu. Tapi tidak ada satupun serangannya yang lemah, dan semua serangannya termasuk serangan jarak jauh," ia berpaling ke Parthenon. "Tolong katakan pada seluruh Apocalypse Dragon untuk menjauh ! Suruh mereka mundur dan membantu pasukan aliansi menghabisi musuh-musuh yang tersisa, kemudian bersama dengan pasukan aliansi kembali kemari ketika sudah selesai," perintahnya.
Parthenon mendengus, tapi kemudian berkata, "Baiklah, akan kulakukan. Tapi hanya karena kau memerintahku dengan sopan dan ini untuk kepentingan dunia semata," kemudian terbang mendekati Artemis.
Aku mengedikkan bahu. "Hei, kalian semua. Tidak ada ruginya bersatu kembali seperti sediakala, kan ?" Tanyaku jujur.
Kepakan Parthenon terhenti, dan ketujuh Etatheon menatapku penuh selidik. Aku tersenyum kikuk. "Ayolah ! Jangan katakan setelah peperangan ini kalian akan bermusuhan lagi !"
Beleriphon dan Styx saling pandang.
"Dia pernah membocorkan rahasia terbesarku beberapa ratus tahun silam," cerita Styx singkat. "Sejak itu aku tidak pernah lagi mempercayai Beleriphon."
"Huh," gerutu Beleriphon. "Apa yang kau lakukan tidak lain adalah melanggar aturan Etatheon, jadi mau tak mau aku harus melaporkannya pada Ardhalea. Dan kukira...dia memberikan sanksi yang pantas, kok," kilahnya.
"Lupakan masa lalu," celetukku. "Kita hancurkan bangunan jelek dan bobrok yang gagal kita bangun, dan mulai lagi dengan yang baru."
"Sisakan rangkanya," cetus Droconos, "baru kemudian dilapisi dengan bahan yang baru. Untuk mengalahkan Juubi dengan telak, kita harus menyimpan chakra selama puluhan tahun. Bahkan aku yang sudah menyimpan 16 tahun tidak bisa berbuat banyak."
"Berhenti bicara," Hermes menginterupsi, "Juubi sudah mulai bisa mereka berdua kendalikan."
Benar saja, monster raksasa itu mengangkat lengan kanannya dan mengibas ke depan, menghamburkan ratusan ton bebatuan dan pasir, segera menyelubungi dirinya dan area sekitarnya dengan asap lagi.
"Mengerikan. Kita sungguh-sungguh akan melawannya ?" Selidik Kurama.
"Kecuali kau mau bersembunyi dibalik awan, ya," jawabku.
"Untuk saat ini kita harus menjaga jarak terlebih dahulu. Lakukan serangan kecil-kecilan, kalau perlu jangan dulu. Kita harus mengamati dan menganalisa gerakannya. Makhluk sebesar itu takkan sulit dideteksi. Kemudian ketika strategi telah siap, segeralah serang tanpa memberi celah ! Kita bisa memanfaatkan tubuh besarnya untuk mengasumsikan bahwa dia takkan bisa menghindari tiap serangan kita," jelas Deavvara panjang lebar.
"Kau berlagak seperti kapten, Deavvara," sindirku.
"Kau keberatan ?"
"Tidak. Aku malah senang."
"Huh. Simpan itu nanti saat kita menang !"
.
WHUSH !
Sebentuk lengan raksasa mendadak mengambur dari asap, langsung menyabet kami semua hingga terguling menjauh. Juubi meraung ganas.
"Cepat sekali !" Seru Pyrus. "Tak akan ada waktu untuk menganalisa !"
Sepuluh ekor Juubi mendesing membelah udara, masing-masing berusaha meremukkan kami, menancap-nancap di tanah. Kami berkelit diantara bonggol-bonggol yang sepintas terlihat seperti rebung-jumbo-super-jahat.
"Sekarang !" Pekik Droconos.
Mereka mengumpulkan cahaya di mulutnya, tapi sekarang ditembakkan beruntun.
"RYUUDAMA BERUNTUN !"
.
SETIDAKNYA TIGA LUSIN Ryuudama berukuran sedang meluncur ke arah Juubi dari berbagai penjuru. Aku meringis, menutup telinga.
"Aku ingin menghemat chakra Juubi sebisaku..." desah Madara. "Tapi apa boleh buat."
"Kita tidak perlu menghindar," dukung Pria Bertopeng.
Juubi mengumpulkan cahaya menyilaukan di mulut raksasanya dengan terburu-buru, namun hasilnya tak seburuk perkiraanku. Ia menutup mulut, mengunci gigi-gigi tajamnya, kemudian secepat kilat membukanya lagi, dan kini cahaya itu ditembakkan bagaikan laser pemusnah massal raksasa. Juubi memiringkan kepalanya ke arah tembakan, sinar laser mulutnya menghantam tiap Ryuudama dan meledakkannya di tempat. Si ekor sepuluh terus menyapukan sinar mematikannya hingga seluruh Ryuudama yang ditembakkan meledak sebelum sempat mendekatinya.
"Ini tidak bagus," gerutu Pyrus. "Semuanya lindungi Naruto !" Teriaknya.
Ketujuh Etatheon membentuk perisai dengan tubuh mereka sendiri, melindungiku dan Kurama selagi sinar mematikan Juubi mengiris ke arah mereka, menghancurkan batu demi batu dan meledak dengan suara dan kekuatan yang sangat hebat. Aku hanya bisa berharap semoga ketujuh naga ini baik-baik saja setelah menerima serangan setelak itu.
"Beleriphon ! Deavvara ! Droconos ! Hermes ! Parthenon ! Pyrus ! Styx ! Kalian baik-baik saja ?" Teriakku.
Beleriphon terbatuk. Sayapnya terkulai ke tanah. "Kau ini memanggil atau mengabsen ?"
Aku cengo. Kusadari aku tadi memanggil nama mereka dengan abjad yang berurutan secara tidak sengaja.
"Tidak begitu bagus," gerutu Styx. "Beribu-ribu kutukan untuk Juubi dan siapapun yang bekerjasama dengan Madara !" Umpatnya.
Aku baru saja mengatakan kalau kutukan takkan bisa merubah keadaan, ketika mendadak Juubi melontarkan sebuah bola hitam raksasa dari mulutnya, tepat mengarah pada kami.
"AWAS !" Pekik Kurama. Bola itu terlampau dekat untuk dihindari, tapi...
Deavvara terbang dengan sangat cepat, langsung ke arah Juubi Dama, dan ia menyabetkan cakar lengan kanannya sekuat tenaga ke permukaan benda raksasa itu, membuat tiga retakan besar yang kemudian memecahkan Juubi Dama berkeping-keping tanpa meledak. Tulang-tulangnya meretak sepanjang tangan kanan, tapi selain itu dia baik-baik saja, dan kembali mendarat.
"Matanya," ujarku, "kita perlu mengincar matanya. Satu mata raksasa di tengah-tengah dahi, berwarna merah menyala. Tidak akan sulit diincar jika kita berada dalam jarak dekat," saranku. "Bagaimana ?"
"Masalahnya, bagaimana cara kita mendekati Juubi tanpa tertepis sepuluh ekornya, atau Juubi Dama lagi ?" Keluh Parthenon.
Aku merogoh tas pinggangku. Mengeluarkan alat yang sudah berhari-hari tidak kugunakan.
"Oh," ucap Kurama, "mungkin dengan itu bisa berhasil."
"Hermes," panggilku. "Terbanglah secepat yang kau bisa, bermanuverlah dengan baik dan usahakan jangan sampai tertangkap oleh mereka, terbang sedekat mungkin dengan mata Juubi, dan bawa ini," perintahku. "Aku akan segera menteleportasikan diriku dan Droconos..."
"Kenapa aku ?" Protes Droconos tiba-tiba.
"Kau tertahan di Altar Segel selama enam belas tahun," kataku, "kau punya simpanan chakra terbanyak dari semua Etatheon sekarang."
"Oh."
Hermes mengangguk. "Baiklah. Kita lihat apakah rencanamu berhasil."
Aku mengangguk. Naga itu mengambil ancang-ancang, kemudian mengepakkan semua sayapnya bersamaan, menimbulkan gelombang kejut angin ke belakang selagi ia melaju dengan kecepatan suara. Tidak sampai sepuluh detik, Hermes sudah hinggap di salah satu ekor Juubi, mencakar-cakarnya seperti kucing yang meronta-ronta.
"Hei, Jelek !" Pekiknya.
Juubi melirikkan mata tunggal besarnya ke salah satu ekornya.
"Kudengar tubuhmu bau sekali sampai-sampai jika ada naga dalam radius satu kilometer darimu, mereka akan langsung pergi. Apa itu benar ?"
Juubi menggerung marah, dan ia membentur-benturkan ekornya, tapi naga itu berkilat-kilat keemasan tiap kepakan sayapnya, dan menghindar dari ekor-ekor raksasa monster itu seolah itu hanya perang bantal. "Oi," tawanya, "kau takkan dipilih tim tinju manapun dengan cara memukul yang lebih jelek daripada mobil rongsok yang membusuk delapan abad ! Ha ! Jangankan tinju, kurasa kau mungkin lebih cocok dimasukkan ke tim sumo !"
Aku mengernyitkan dahi.
"Sebelum direkrut Ardhalea, Hermes adalah naga bandit tercepat di bumi," cerita Beleriphon singkat. "Aku...yang lebih dulu mengenal Ardhalea dan Deavvara, menawarkan diri untuk merekrutnya ke Etatheon, tapi dia selalu berhasil menghindar. Wajar kalau bahkan setelah ratusan tahun, dia pantas dijadikan nominasi naga pengejek terbaik di dunia."
"Benar juga," aku mengiyakan. Aku teringat saat ia mengejek Yacumama tadi pagi. Begitu kasar sampai-sampai ular sekalipun tak bisa menoleransi.
"Naruto," panggil Droconos. "Sekarang sudah cukup dekat. Beritahu apa yang harus kulakukan," katanya tak sabar.
"Aku perlu naik ke punggungmu," perintahku. Kemudian aku berkonsentrasi, dan melakukan Shunshin.
WUSH !
Dalam waktu kurang dari seperempat detik aku sudah berada di langit, tepat di sebelah kiri Hermes. "Hei !" Panggilku. Dia menoleh dan memamerkan seringai enam jarinya. "Ejekan yang bagus. Juubi terpancing."
"Juubi tidak punya perasaan," sambung Droconos. "Tapi kau sampai bisa membuatnya tersinggung. Berarti kau lebih tidak punya perasaan lagi, Kaki Bersayap," ledek Droconos. Ia menganga, mengumpulkan Ryuudama dengan cepat, dan langsung menembak. "Kuarahkan tepat ke bola matamu !"
Ryuudama meluncur cepat, tepat ke mata tunggal Juubi. Sejauh detik ini baik-baik saja, tapi kemudian makhluk raksasa aneh itu menyentil Ryuudama Droconos dengan jari lengan kirinya semudah manusia menyentil serangga.
"Eeh ? ? ?"
Ryuudama itu disentil...kembali ke arah Droconos. Aku langsung berpikir untuk melompat dan mendarat dengan selamat di punggung Hermes, tapi dengan begitu aku membiarkan Droconos terluka, dan siapa tahu apakah kebenciannya padaku akan tumbuh lagi dengan cara begitu ?
Aku melempar Hiraishin Kunai tepat ke Ryuudama dan melempar satu lagi ke sembarang arah.
BUUUMMM ! ! !
Ryuudama itu meledak di udara, tak jauh dari punggung Juubi. Droconos menghembuskan napas lega.
"Untuk sesaat, kukira kau akan mengalihkan itu padaku," ucap Hermes sama leganya. "Aku masih menyimpan kunai khusus itu."
"Memalukan," ujar Droconos. "Diselamatkan oleh manusia. Tapi...terimakasih."
"Jangan sungkan," balasku, meski dalam hati aku kagum juga. Kupikir mendengar Droconos berterimakasih akan sama sulitnya dengan menimba air sumur dengan satu kaki.
Madara menggerutu. "Ada dua lalat diatas kita."
Juubi meraung sekali lagi, dan kali ini begitu hebat sampai-sampai ada dinding angin tebal yang menyapu kami bertiga kembali ke tempat semula. Kalau bukan karena kecekatan dua naga dewa ini, kami sekarang sudah berguling-guling mencium bebatuan.
"Maaf," desis Hermes sembari membersihkan debu-debu yang menempel di sayapnya. "Mungkin aku harus mengejeknya lebih ekstrim lagi."
"Itu hanya akan membuat dia menembakkan lebih banyak Juubi Dama !" Gerutu Droconos. "Satu-satunya harapan kita adalah pasukan aliansi –yang entah sampai disini kapan- itu."
.
"Kita harus memusnahkan mereka," cetus Madara malas, "mereka akan sangat menganggu Mugen Tsukuyomi. Akan lebih lancar jika kita menyingkirkan para pengganggu ini dulu sebelum pasukan aliansi tiba."
Si Pria Bertopeng mengangguk mengiyakan. "Mencoba kekuatan Juubi ?" Selidiknya.
"Dasar tidak sabaran."
Juubi menggerung seperti sejuta mesin traktor berusia setengah abad. Mata tunggalnya menyala, membelalak ditengah-tengah dahinya. Kelihatannya itu bahasa tubuh yang kurang bagus.
Madara tertawa jahat. "Kalian akan diremukkan !"
"Tidak akan !" Teriakku keras-keras.
"Menyerah sajalah," gerutu si Pria Bertopeng. "Ini akan sangat mudah. Kalian serahkan kekuatan kalian maka aku bisa membangkitkan Mugen Tsukuyomi lebih cepat, dan itu lebih baik. Tidak ada gunanya lagi hidup di dunia nyata yang menyedihkan ini," ia merentangkan tanganku, seolah mengimbauku untuk mengikutinya.
Aku mengertakkan gigi. "Kalau kau menungguku untuk menyerah, maka kau akan menungguku selamanya !" Aku bersikeras.
Madara tertawa sinis, "Kau jadi kepala batu begitu nagamu yang berharga itu mati."
Yang dimaksudnya pasti Ardhalea. Aku menggeram marah, tapi tidak ada gunanya.
"Baiklah," desis Pria Bertopeng. "Bagaimana kalau di dunia mimpiku aku menjadikanmu bertemu kembali dengan Paradox-mu, serta ayah dan ibumu...Uzumaki Naruto ?"
Ucapan terakhir itu membuatku merinding hebat. Bertemu kembali dengan tiga orang yang paling kusayangi ? Aku tidak akan bisa menolak itu.
Kau akan mengacuhkan nasihat si Pria Bertopeng itu kan ? Suara yang sebelumnya pernah menggema di kepalaku kini muncul lagi.
Bertemu dengan Ardhalea, serta ayah dan ibumu. Itu takkan jadi mimpi lagi, Naruto. Kau akan benar-benar bertemu mereka. Saat itu akan jadi saat yang paling bahagia dalam hidupmu !
"Seandainya itu bukan cuma mimpi," aku berseru, pada diriku sendiri, juga pada dua pembuat onar itu.
Ketujuh Etatheon dan Kurama hanya terdiam, mencerna perdebatan kami bertiga.
"ITU SEMUA CUMA MIMPI !" Pekikku keras-keras. Rasanya ada air meleleh dari sudut mataku.
"KENYATAAN-LAH YANG MEMBUAT SEMUANYA BERARTI !" Aku membahana lagi, meraung lagi. "Hidup dalam ke-seandai-an ! Ha ! Aku tidak cukup bodoh untuk bergabung bersama kalian, dasar otak plankton !"
Si Pria Bertopeng menggeram sinis. "Kalau begitu rasakan ini."
Juubi menegangkan kesepuluh ekornya. Kedua kakinya mencakar-cakar bebatuan.
Aku melirik Deavvara. "Kita bertahan ?"
"Kupikir tidak bisa untuk yang satu ini," keluhnya sambil membanting sabitnya ke tanah. "Kalian bercanda ! Aku sudah cukup lelah !"
"Tidak bagus denganku pula," gerutu Pyrus. "Aku tidak pernah menembakkan Ryuudama sesering dan sebesar ini sebelumnya !"
Juubi membuka mulut, mengumpulkan bola-bola hitam yang nyaris sehitam area lingkungannya sendiri, terus bersatu hingga membentuk bola raksasa yang bahkan lebih besar daripada lapangan kasti, dan aku tidak yakin kami bisa menghindari teknik sebesar dan sekuat itu dengan kondisi yang sekarang. Aku melirik ketujuh Etatheon yang sudah tepar. Kurama mendengus, ingin melakukan lebih banyak tapi sia-sia saja, dia tidak bisa melakukan yang lain kecuali menghembuskan api.
"Mereka akan datang," gerutunya. "Tapi...aku tidak yakin itu bisa menyelamatkan kita dari yang itu," sambungnya sambil menuding bola hitam yang kian besar di mulut Juubi, kontras dengan tubuh cokelat dan gigi-gigi tajam berantakannya. Ia memadatkan energi itu dan menelannya di mulut, dan...
.
.
Juubi Dama berukuran super meluncur dari mulut raksasa monster-ekor-sepuluh. Hanya menunggu beberapa detik sebelum bola pembawa maut itu menghancurkan berkilo-kilometer persegi area gunung dan melemparkan bebatuan raksasa ke langit, menggetarkan bumi dan membuat Horus dan Haumea terkesan, barangkali.
.
Tapi itu tidak terjadi.
Entah bagaimana, mungkin si Pria Bertopeng itu melindur dalam tidurnya atau Madara mendadak kehilangan kewarasan, Juubi Dama itu melenceng lumayan jauh dari targetnya semula, membentuk jejak seperti bekas rayapan ular raksasa sepanjang jalurnya, berbelok ke arah kanan kami dan meledak sangat jauh di belakang.
Bahkan pada jarak beberapa kilometer, aku tidak bisa membuka mata karena begitu silaunya. Ledakan dahsyat menghancurkan rangkaian pegunungan di belakang, meratakan dan membinasakan apapun yang berada dalam jangkauannya, menciptakan kawah super besar seperti bekas hantaman meteor raksasa. Aku sudah melihat adegan penghancuran seperti ini berkali-kali, tapi ini yang terhebat.
"Kenapa...?" Parthenon tidak meneruskan kata-katanya.
"Meleset," ejek Styx, "disengaja ? Mungkin tidak."
"Tapi...bagaimana bisa ?" Balas Pyrus.
"Selamat dari kematian," sambung Hermes, "lagi," ia menoleh ke belakang. "Untunglah kawanan Apocalypse Dragon itu sudah pergi."
Beleriphon barusan mau membuka mulut saat tiba-tiba seekor burung enggang terbesar yang pernah kulihat, melesat di langit, bulunya berwarna hijau dan paruh serta kakinya berwarna kuning. Yang mengherankan, beberapa tindikan besi hitam raksasa menusuk burung itu di berbagai tempat, seolah itu aksi akupuntur terlalu besar yang lupa dicabut. Burung itu tidak tampak kesakitan, dan segera kukenali matanya –pola riak air ungu dengan pupil hitam. Rinnegan. Sama seperti Madara. Apa burung ini juga semacam asistennya ?
Tapi yang berada di punggungnya tidak tampak seperti orang jahat. Satu berambut merah, satu lagi berambut biru, satunya lagi bertubuh kekar, rambut putih, dan memakai kacamata hitam tanpa bingkai.
Mereka meluncur ke arah kami dan mendarat.
"Yo !" Teriak si Kacamata Hitam. "Tujuh-naga-dewa-dan-satu-oranye-aneh-! Sendirian-melawan-si-ekor-sepuluh-yang-jelek-dan-juling-! Tapi-tenang-Tuan-Killer-Bee-yang-gagah-berani-akan-"
PLAK
"Sekarang bukan saatnya rap !" Pekik gadis berambut biru dengan hiasan origami bunga mawar (eh, yah, aku tidak tahu banyak soal bunga sih, tapi menurut perkiraanku itu bunga mawar) sambil menampar pria berkacamata.
"Oh, benar," cetus si pria itu dengan wajah tak bersalah. Ia memalingkan pandangannya padaku. "Uzumaki Naruko, kan ?"
"Naruto, sebenarnya," aku mengoreksi.
"Yah, begitu deh," sahutnya asal-asalan. "Draco P ! Aku –eh, kami disini untuk membantumu !"
Aku melirik si pemuda berambut merah yang sedari tadi diam saja. Aku tidak begitu terkejut begitu mengetahui dia punya mata Rinnegan, bisa kulihat dulu dari kuchiyose anehnya itu. Aku mengangkat satu alis, heran.
"Uzumaki Nagato," dia memperkenalkan diri tanpa menjabat tangan. "Yah. Aku Akatsuki, dan ini Konan. Ini Killer Bee dari..."
"Tuan Killer Bee !" Protesnya.
"Terserah," balas Nagato tak acuh. "Tuan Killer Bee, adik Raikage, dari Kumogakure. Kami bertemu dengannya sedang belajar enka dari seorang guru. Jangan khawatir, kami disini untuk membantu kalian," jelasnya panjang lebar.
Aku bersedekap. "Jadi kalian yang melencengkan arah serangan Juubi barusan ?"
"Bukan," jawab Konan. "Tapi mereka."
.
TAP !
TAP !
TAP !
TAP !
.
APA YANG KULIHAT adalah peristiwa terheroik sepanjang hidupku. Ribuan Dracovetth dan ribuan naga dari berbagai jenis (termasuk Apocalypse Dragon yang pergi tadi) berkumpul mengelilingi kami, melindungi kami semua. Banyak diantaranya adalah teman-temanku, tapi yang ini harus kuakui, mereka semua adalah temanku kali ini, berjuang bersama-sama dalam kegelapan, mengakhiri kekuasaan tirani yang membelenggu dunia dan sekarang berusaha meniadakannya.
"Naruto-kun !" Teriak Lee.
"Alis Tebal," balasku datar.
"Kau tidak mati !" Serunya sambil mengacungkan jempol dan memamerkan seringai sepuluh jarinya. "Itu bagus !"
"Aku tahu," balasku ketus.
"Si Rambut Mangkuk lagi," ledek Styx. Kali ini Lee bersiap dengan kuda-kuda, tapi aku mencegahnya sebelum dia secara tidak sengaja menelan cairan obat yang salah dan mengacaukan aliansi dengan jurus tinju mabuk ekstra mengerikannya.
"Semuanya telah berkumpul disini," sambut Kakashi-sensei sambil menepuk bahuku, "demi kau. Dan kedelapan, eh, ketujuh Etatheon."
"Aku juga," sambung Kurama.
"Iya, kau juga," balasku. Sasuke dan Itachi berderap maju bersama sejumlah Uchiha lain dengan Sharingan aktif. Aku ingin meledek mereka berdua karena semaput hanya karena melihat wujud sejati Paradox dan Ortodox, tapi kuurungkan saja itu. Meledek Uchiha bagai mengganggu naga terbuas sepanjang sejarah, dan percaya padaku deh, aku sudah pernah mengalaminya.
"Tuan Killer Bee !" Seru seorang Dracovetth Kumogakure dengan pedang terselempang di punggung, rambut putih pendek, kulit cokelat gelap dan permen lolipop kecil di mulutnya.
"Jangan sungkan," balas rekannya –perempuan berkulit hampir sama cokelatnya, dengan anting-anting dan rambut merah panjang. "Tuan Killer Bee selalu muncul jika dibutuhkan ! Meski, yah, aku penasaran Raikage-sama akan menjatuhkannya hukuman macam apa."
"Omoi ! Karui ! Lama tak jumpa, ya," Bee menanggapi dengan santai. "Aku barusan pergi liburan, tapi dirusak oleh bulan jahat yang menghalang-halangi sinar hangat mentari !"
"Jangan dengarkan dia," Nagato menyikutku. "Orang aneh. Tapi berkat dia-lah kami berdua bisa dipercaya oleh aliansi."
Aku melirik Konan yang berada di sebelahnya. "Kalian...berpihak pada Madara ?"
"Hanzo," Konan membetulkan. "Awalnya. Tapi kami segera tahu bahkan Hanzo punya rencana licik yang tidak lebih baik daripada rencana Madara. Kami memutuskan untuk memihak kalian, aliansi, dan memastikan dunia tetap utuh sampai kapanpun, dan soal dua Akatsuki yang lain, Kisame dan Kakuzu, kami tidak tahu."
.
"Sialan Nagato," gerutu si Pria Bertopeng. "Tak kusangka dia membelot dan berpihak pada orang-orang yang hanya mengandalkan hidupnya pada harapan menyedihkan seperti itu."
Madara mengangguk. "Kalau begitu sebaiknya kita buat mereka merasakan akibatnya."
Juubi bergetar, tapi kali ini dia tidak menembakkan Ryuudama. Kesepuluh ekornya mendesing mengebor udara, bersiap dihunjamkan langsung ke pasukan aliansi.
.
"SERANG !"
.
Aku tidak tahu siapa yang meneriakkan itu karena ada begitu banyak manusia dan naga. Semua membubung ke angkasa, menghalau kesepuluh ekor Juubi dengan penuh semangat dengan kekuatan penuh. Sepuluh ekor tergores-gores dan terpental kembali ke belakang monster bermata satu itu, yang menggeram marah.
Madara mendecih.
Aku bangun, dan berteriak-teriak lebih keras daripada manusia manapun yang pernah kujumpai.
"INILAH JUTSU YANG AKAN MENUMBANGKAN MUGEN TSUKUYOMI KALIAN !"
"TEKNIK TERBESAR, TERKUAT, TAK TERKALAHKAN ! NINJUTSU PALING HEBAT DI DUNIA, KALIAN TAHU !"
"INILAH: RYUUNINJA RENGOGUN NO JUTSU !" –(Jurus Pasukan Aliansi Ninja-Naga :p )
.
"Ryuuninja Rengogun no Jutsu," Madara membeo. "Nama jutsu yang terlalu dipaksakan," komentarnya.
"Kami akan mengalahkan kalian !" Aku bersikeras.
"Tidak ada gunanya !" Pria Bertopeng memekik. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak ada gunanya percaya pada dunia yang memilukan ini. Pada akhirnya...kalian semua...akan bernasib sama denganku ! Apa kalian belum mengerti juga ? Tidak ada yang namanya harapan di dunia ini ! Kenapa kalian begitu percaya dan yakin tetap berpegang pada akar lapuk ?"
"Kau belum mengerti juga ?" Balasku. "Lantas kenapa kau bergantung pada mimpi ? Itu lebih tidak masuk akal lagi. Itu bagai bergantung pada benang lapuk !" Balasku keras-keras. "Bukankah jika terjadi perbedaan pendapat, suara mayoritas-lah yang menang ?"
"Kalau begitu kita buktikan saja," Madara menengahi. "Kita akan putuskan begitu kami selesai meluluhlantakkan kalian semua."
.
.
.
"Dunia ini..."
.
"AKAN BERAKHIR !"
"TIDAK AKAN BERAKHIR !"
.
.
"Ayo semuanya !"
"Ini adalah pertempuran terakhir !"
"Kerahkan seluruh kemampuan kalian !"
"Menyebar !"
.
Tidak ada yang begitu membangkitkan semangatku selain ribuan Dracovetth dan naga dari pelbagai penjuru dunia, berkumpul menjadi satu demi satu tujuan. Suara bising yang dihasilkan dari teriakan ribuan orang berpadu dengan raungan dan suara kepakan sayap ribuan naga berbagai ukuran, tidak dipungkiri benar-benar memekakkan telinga, tapi itu membuat semangat tiap orang bergolak sekarang.
Kurama menyikutku. "Aku akan masuk ke tubuhmu. Menambah chakra, kau tahu," sarannya. Aku mengangguk, dan segera saja, tubuhku terasa penuh energi sekarang. Satu-satunya masalahnya adalah...
.
"Naiklah."
Aku terlongo. "Deavvara ?"
Dia mengangguk, merendahkan tubuhnya dan melebarkan sayap apinya. Aku masih terdiam.
"Aku bisa terbang sendiri," kilahku.
"Melewati ribuan naga dan orang yang bergerak dengan cepat tanpa menggores sayap ? Menghindari serangan nyasar ? Menyerang dengan timing dan sasaran yang tepat ?" Deavvara memberondong dengan pertanyaan. Aku mendengus, tapi akhirnya naik ke atas punggungnya. Ia mengepakkan sayap, melesat cepat, meninggalkan ratusan naga dalam waktu beberapa detik, dan langsung memimpin di depan.
Mendadak, ia berhenti, berbalik, dan mengangkat sabitnya. Kilau abu-abu keperakan berpendar kuat di kegelapan gerhana. Senjata itu memancarkan aura jahat yang masih menguar sampai sekarang, jadi aku tidak begitu percaya. Tapi apa boleh buat. Ia membuat dinding api biru yang bersinar lemah membatasi pergerakan pasukan aliansi. Aku membelalak.
"Apa yang kau lakukan ?!" Sentakku.
Ia mengangkat sabitnya tinggi-tinggi. Begitu aku berusaha terbang, kakiku seperti terpancang ke punggungnya.
"WAHAI MANUSIA !" Teriaknya, dengan suara yang sama mengerikannya dengan yang pertama kali kudengar di Cekungan Rhea.
Dia akan berkhianat lagi, kan ? Sebuah suara di benakku mulai menggeliat lagi. Salahmu tidak mau percaya.
"AKU PUNYA PESAN UNTUK KALIAN !" Deavvara meraung lagi. "TIDAK PERLU PANJANG-PANJANG ! CUKUP DUA KATA !"
.
.
"KEMENANGAN MENUNGGUMU !" Gerungnya, dan sekarang dinding api birunya menyatu menjadi kubus, dan langsung melemparkannya, menghanguskan salah satu ekor Juubi sampai hitam seperti arang. Ia melirikku. "Masih curiga denganku ?"
"Ada apa ?" Desisku. "Kenapa kau sekarang begitu...percaya ?"
Ia mendesah pelan, memperhatikan serangan demi serangan beruntun yang berusaha mengenai Juubi.
"Katakan padaku, Naruto," bisiknya lirih, "apa...apa kau juga mendapat pengelihatan mengenai masa lalu kami ? Ibuku, Hamura, Hagaromo, dan Ardhalea ? Berkumpul di taman bunga sambil memetik harpa ? Kau juga mengetahui secuil momen pertarungan kami dengan Juubi ? Juga...saat aku memutuskan untuk tidak bersama lagi dengan adikku, menjalani kehidupanku sendiri ? Sampai ketika aku membunuh orangtuamu dan Ardhalea menggantikan keduanya, membesarkanmu tanpa membiarkanmu mengingatnya ?"
Aku tertegun sesaat, tapi kemudian mengangguk. "Juga ?" Aku tersadar. "Berarti kau...?"
"Iya," jawabnya pelan, "aku juga mendapat itu. Secuil memori dari ratusan hingga beberapa belas tahun lalu...mendadak lewat begitu saja, tepat sebelum kusadari bahwa adikku sendiri...begitu menyayangimu. Dia rela mengorbankan gelar keabadiannya untuk makhluk fana sepertimu. Aku terlampau bodoh sampai baru menyadarinya. Aku kakak yang payah."
Dia menghina dirinya sendiri. Aku masih tidak bisa berkata-kata, tapi seharusnya aku bisa menghiburnya.
"Dia pasti menganggapmu kakak terbaik di dunia," hiburku.
"Karena aku satu-satunya kakaknya ?"
"Kau ini," aku tertawa kecil. "Yah...aku juga berpendapat begitu. Dulu kau lugu sekali, tahu," godaku.
"Ardhalea sengaja memberikan serpihan ingatannya pada kita waktu itu," kenangnya. "Usaha terakhirnya untuk membuatmu bahagia...dan untuk menyadarkanku. Dia tahu dia tidak akan bisa bertahan, barangkali, setelah dilukai oleh Rinsei Rinne no Tsurugi..." ucapnya sembari mencabut senjata itu dari lengannya –entah disimpan dimana tadinya.
Melihat wajahku menjadi kelabu, dia menghibur lagi, "Barangkali dia masih bisa dihidupkan dengan jutsu tertentu ?"
"Tidak mungkin," kataku lesu.
"Kenapa kau seyakin itu ?"
"Karena Ramalan Besar Shinjuu sudah mengatakannya."
Deavvara mengerutkan dahi. "Ramalan Besar Shinjuu ! Itu dilafalkan jutaan tahun silam ! Tidak ada yang bisa menemukannya. Bagaimana kau..."
"Delapan Drako akan selamatkan dunia..."
"Dipimpin oleh seorang anak manusia..."
"Yang menjadi belahan jiwa dari Sang Paradoks..."
"Namun pada akhirnya dia akan gagal melindungi yang terpenting..."
Aku memberitahunya sebagian ramalan itu. " 'Dipimpin oleh seorang anak manusia' dan 'Yang menjadi belahan jiwa dari Sang Paradoks' kemungkinan besar...itu aku, kan ?" Desahku. " 'Namun pada akhirnya dia akan gagal melindungi yang terpenting', itu terjadi. Aku gagal melindungi Ardhalea itu sendiri, yang terpenting dalam hidupku."
"Lantas apa maksudnya 'Delapan Drako akan selamatkan dunia'? Delapan itu identik dengan Etatheon !"
"Bagaimana kalau tujuh Etatheon dan satu Wivereslavia ?" Kilahku. Dalam tubuhku, mungkin saja Kurama sedang manggut-manggut ge-er tingkat dewa.
"Yang lebih penting...darimana kau bisa mengetahui tentang itu ?" Tanyanya dengan nada menginterogasi, penuh penekanan di tiap kata.
Aku menghela napas. "Mimpi, mungkin ? Saat kalian berdebat seru tentang keharusan bersatu atau terpecah. Aku...mendengar sendiri Shinjuu muda mengucapkannya. Aneh memang, pohon bisa bicara. Tapi itu yang kudengar, dan Horus dan Haumea juga mengetahui itu," ceritaku jujur. "Terserah mau percaya atau tidak."
Aku tidak sempat memikirkan yang lain, karena mendadak dalam kepalaku bergema suara yang tidak asing –Paman Shikaku, ayah Shikamaru sekaligus otak dari Aliansi Dracovetth Lima Negara Besar.
"Paman !" Seruku dalam pikiranku. "Apa Paman sudah menyampaikan strategi ke seluruh anggota aliansi ?"
"Terimakasih padamu, Naruto," balasnya di pikiranku, "berkat kau yang mengulur waktu cukup lama, aku sempat menyampaikan strategi ini ke semua orang dan naga yang bisa mengerti. Sekarang mereka akan bersiap melaksanakannya !"
"Pertama, kita perlu menghalangi mata Juubi. Itu satu-satunya pemindainya dan pengatur fokus serangannya. Musuh kita dua-duanya memiliki mata yang mengesankan. Dracovetth dan naga dari Kumogakure, laksanakan tugas kalian !"
Sekejap saja, cahaya yang menyilaukan tampak dari garis depan, seolah-olah matahari memilih 'terbit' lebih dulu ditengah-tengah peperangan. Ratusan panah cahaya menghunjam tubuh raksasa Juubi dari depan, mungkin tidak melukainya, tapi lebih dari cukup untuk membuatnya memicingkan mata dan mundur selangkah.
"Mereka...mengincar mata Juubi, ya..." desis Madara. "Hmm ? Tidak akan kubiarkan semudah itu !"
Ia melirik si Pria Bertopeng di sebelahnya, kemudian mendadak, kulit Juubi di dekatnya melunak dan muncul Zetsu Hitam.
"Ada apa, Madara-sama ?" Selidiknya.
"Bantulah dia," titah Madara. "Aku perlu menyibukkan pasukan aliansi nekad itu. Zetsu Hitam, sambungkan dirimu dengan Juubi, bentuklah koneksi sepertiku. Kau juga memiliki Mokuton –Elemen Kayu yang kuat, jadi kurasa kau juga bisa membantu mengendalikan Juubi untuk sementara ini," jelasnya singkat.
"Baiklah. Aku mengerti," jawab Zetsu Hitam patuh sembari menghunjamkan lengan kanan-kirinya. (Kali ini Kuro Zetsu punya tangan lengkap, tapi masih ada selubung Venus Flytrap). "Errr...mungkin cukup satu saja," simpulnya sambil melepaskan lengan kanannya. Madara mengangguk dan dengan sekali lompatan, dia mendekati pasukan aliansi yang sudah mulai mendarat kembali.
"Paman Shikaku," aku menggerutu, "sepertinya rencana kita, eh, maksudku, rencana Paman tidak akan berhasil dengan baik."
Cahaya ungu berpendar dari kedua mata si Uchiha. Aura biru tampak di sekelilingnya –Susano'o, tapi sepertinya kali ini jauh lebih kuat.
Aku sudah melihat tiga Susano'o –warna merah milik Itachi, warna ungu milik Sasuke, dan warna biru milik Madara itu sendiri, dan ketiganya punya ciri khas mereka masing-masing, walaupun menurutku, pada dasarnya mereka sama: sebentuk kerangka-kulit berbentuk manusia yang hanya berwujud hingga pinggang, dengan dua atau lebih tangan, kepala, dan senjata, dan pada dasarnya mereka adalah jutsu kelas-S yang sangat hebat, bisa dipakai untuk bertahan sekaligus menyerang. Tentu awalnya kukira aku sudah siap melihat wujud Susano'o kali ini.
Tapi aku salah.
Alih-alih wujud manusia tak lengkap dan ukuran tidak begitu besar, yang kami jumpai kali ini adalah sosok raksasa, berdenyar dengan aura biru yang mengintimidasi sepenuhnya hingga tidak ada manusia manapun yang bisa menatapnya tanpa gemetar (dan kencing di celana, barangkali). Ini adalah sosok jutsu semi-hidup yang terus membesar selagi aku melihatnya.
Susano'o kali ini jauh lebih besar, tingginya tidak kurang dari seratus meter, dan mewujud lengkap sebagai manusia dengan kepala, tubuh raksasa, dua, mungkin empat tangan, dan dua kaki lengkap dengan sepatu dan combat suit ala samurai. Dua pedang terselempang di pinggangnya, dan hidungnya mengingatkanku pada boneka kayu pinokio. Matanya menyala dengan cahaya merah dibalik topengnya, dan dia tidak bergigi, meski kelihatannya sama saja. Susano'o ini bisa meremukkan sebuah rumah hanya dengan menggeser kakinya. Madara terlihat setengah melayang di kepala Susano'o, di tengah-tengah dahi yang menonjol. Jutsu yang satu ini bahkan punya rambut.
"Susano'o sempurna Madara," Itachi mendecih. "Aku tidak mengira sempat melihat yang seperti ini."
Itu sepertinya tidak bagus, mengingat Itachi selama ini selalu berusaha optimis menghadapi bahkan Uliran Samsara milik Deavvara. Aku menjejak-jejak kaki kananku ke punggung naga ortodoks ini.
"Katakan kalau Rinse-ah, apalah itu, bisa meretakkan jutsu besar ini !" Bentakku.
Deavvara mengangkat bahu. "Kalau tak dicoba kita tidak tahu," sergahnya, "walau aku sendiri ragu."
Susano'o raksasa itu melangkah, menggetarkan bebatuan sepanjang jalurnya. Satu langkah cukup untuk membuat ratusan nyawa mundur ketakutan, tapi ketika sudah sampai sejauh ini, mundur terasa terlalu memalukan.
"Besar sekali," kagum Beleriphon. "Kita akan melawannya ?"
"Kecuali kau mau bergabung dengan pasukan pengecut itu," sambung Styx. "Kita berdelapan ! Dengan Naruto, maksudku. Mungkin bersembilan, dan kita punya kelebihan dalam itu. Buat saja jutsu raksasa itu tersandung, dan kita akan remukkan jadi bubur !"
Madara tertawa sinis. "Dasar kepala batu," katanya, "kau tidak bisa berubah sedikit, ya ?"
Apa yang kutakutkan terjadi. Susano'o raksasa itu memegang gagang pedangnya, dan jelas apa yang akan dilakukannya.
.
SRANG
.
Mungkin setelah aku menyaksikan beberapa adegan kelas-kolosal-ekstra-berat: aksi mencabut gunung dari fondasinya dan membantingnya balik ke tanah dengan satu tangan-ala-Ardhalea, aksi pemotongan rangkaian pegunungan-ala-Deavvara, pengeringan danau, raungan super duper kolosal versi stereo-ala-Varan, dan lain sebagainya, seharusnya aku tidak begitu terkejut akan kemampuan Susano'o raksasa Madara.
Sayangnya, sulit untuk tidak terkesan bagaimana seorang manusia dengan ukuran rata-rata membuat kerusakan yang begitu besar.
HANYA dengan mengeluarkan pedang dari sarungnya saja, Susano'o sialan itu sudah memotong puncak dua gunung beberapa ratus meter di sebelah area pertarungan, menerbangkan ribuan ton bebatuan, tanah, dan pepohonan ke udara sebelum menjatuhkannya lagi dibalik gunung dengan suara yang mengerikan dan getaran bumi yang sangat khas. Yah, aku sudah pernah melihat yang empat kali lebih ekstrim dari itu.
"Tukang pamer," gerutu Deavvara. "Biar kujatuhkan satu gunung ke atasmu dan memukulmu sampai terpendam tanah hingga leher !"
"Yah, kau boleh melakukan itu," kataku sambil meringis. "Tapi turunkan aku dari sini dulu !"
"Deavvara," panggil Madara dari dalam jutsunya. "Merasa lebih baik begitu bergabung dengan pasukan tanpa harapan itu, hmm ?"
Deavvara menyeringai. Oh, asal kau tahu saja, seringainya tetap sama menakutkannya ketika dia meledekku saat pertama kali bertemu, sampai-sampai kupikir seekor banteng matador paling ganas sekalipun akan lari tunggang-langgang.
"Sedikitnya sejuta kali lebih baik dan lebih tenang daripada saat aku masih bekerjasama denganmu, Uchiha bau," balasnya santai.
Itu kemungkinan besar membuat Madara naik darah, tapi orang seperti dia cukup tahu diri untuk menjaga imej-nya. Ia masih dalam sikapnya yang biasa, hanya saja sorot matanya lebih tajam seolah ingin menjadikan Deavvara jadi naga daging cincang secepatnya.
"Susano'o adalah kekuatan penghancur," katanya mencoba mengintimidasi. "Satu tebasan tunggal dari pedangnya sudah cukup untuk menghancurkan sebagian kecil dari Alam Semesta ini. Jutsu yang hebat, boleh dikatakan setiap orang yang melihatnya pasti akan mati, itu yang mereka katakan."
"Semua kecuali kami !" Sebuah teriakan terdengar di belakang, dan enam Ryuudama berukuran sedang langsung menghajar leher dan punggung Susano'o Madara, membuatnya terhuyung ke depan dan pasti sudah jatuh berdebum ke tanah dengan wajah membentur bebatuan kalau saja kedua lengannya itu tidak menyangga bobot tubuhnya.
Keenam Etatheon lain tampak dibalik kepulan asap. Mereka memandangku dengan mata membara terbakar semangat.
"Menghancurkan kami ?" Sinis Droconos. "Biar kudamprat kau sampai jadi dadar !"
"Kau akan punya kesempatan melakukannya," balasku datar. "Kalian semua akan punya kesempatan."
Madara bangkit, dan Susano'o-nya menarik satu pedang lagi dari pinggangnya. Dua pedang raksasa penebas gunung yang dipegang jutsu kelas-S berukuran sebesar gedung pencakar langit, dikendalikan oleh Uchiha terkuat abad ini.
"Kau akan melawannya," dengus Deavvara.
"Aku ? Itu sama saja bunuh diri."
"Tentu tidak. Pertama-tama kita akan memisahkan Madara dari Susano'o-nya."
Aku mengerutkan dahi. "Apa itu bisa ? Maksudku, mungkin bisa dalam bentuk Susano'o yang cuma sepinggang. Tapi kalau yang utuh seperti ini...aku ragu."
"Hah !" Ucap Deavvara pede. "Aku yang akan melakukannya. Kau kira satu pukulan yang bisa meremukkan pegunungan berantai tidak cukup kuat untuk meremukkan perisai Susano'o bahkan yang sudah sempurna ?" Pamernya sambil mengepalkan tangannya. "Akan kuselipkan Rinsei Rinne no Tsurugi dalam pukulan solo ini. Kau menjauhlah. Begitu Madara sudah mendekati titik luar Susano'o, Hermes akan menariknya keluar. Setelah itu, kubiarkan kau mengambil alih sementara ketujuh Etatheon akan mengatasi Juubi sialan itu," terangnya panjang lebar.
Ia melirik Hermes. "Bisa kau melakukan ini sekali lagi, naga tercepat di seantero planet ?"
"Tidak perlu panggil aku begitu," sahut Hermes, meski kedengarannya dia senang. "Apapun akan kulakukan untuk Naruto !" Serunya sambil mengedipkan mata padaku.
Parthenon beraksi pertama. Ia mendarat beberapa puluh meter dari kedua kaki raksasa Susano'o biru Madara, mengeluarkan belasan Pita Glepnir dari tanah, membelit jutsu hidup itu hingga ke pinggangnya. Madara menebas separuh pita dengan satu kibasan pedangnya, tapi lebih banyak lagi yang tumbuh dan terus mengeratkan ikatannya.
"Cepat !" Seru Parthenon dengan suara tertahan. "Aku tidak bisa lebih lama lagi !"
"Akan kuurusi lengannya !" Balas Beleriphon. Ia menembakkan dua kubus Jinton tepat ke siku lengan Susano'o, dan langsung meledak dalam cahaya putih yang menyilaukan, semestinya memotong-motong target sampai sekecil molekul, tapi itu tidak berlaku untuk Susano'o. Meski begitu, sepertinya tidak ada yang lebih baik selain membuat dua tangan itu jadi kaku dan meletak-letak untuk beberapa menit.
"Kalian pikir aku tidak punya rencana cadangan ?" Gerutu Madara. Tangan ketiga dan keempat Susano'o-nya terangkat bersamaan, begitu besar dan tampak tidak proporsional sampai tadinya kukira itu adalah sayap, tapi tim kali ini tidak perlu khawatir soal dimana tanah akan terbelah gara-gara tebasan dua pedang itu.
Styx terbang tepat ke arah pedang pertama, menghantamkan dahi (mungkin hidung)nya tepat ke bilah biru raksasanya.
"Hah ! Makan ini, Madara !"
"Dia menyegelnya !" Seru Deavvara. "Berikutnya, Pyrus ! Droconos !"
Dua naga yang tersisa terbang secepat mungkin ke belakang pedang, menariknya dengan cakar-cakar dan rahang mereka yang sangat kokoh sampai pedang raksasa itu berhenti bergerak. Kekuatan lengan Susano'o belum pulih semenjak serangan Jinton, dan itu jelas membantu mereka.
Aku melompat ke punggung Parthenon yang sudah selesai dengan Pita Glepnir-nya, membiarkan Deavvara menghimpun lebih banyak chakra. Selang beberapa detik setelahnya, lengan kanannya –yang hanya tulang berbalut tendon dan otot itu- mendidih seperti busi dengan aura biru yang bergoyang-goyang seolah tangannya hanya fatamorgana, dan sayapnya membesar dua kali lipat, berubah dari rangka api menjadi sayap besar berbulu hitam legam –wujud sejati Sang Ortodox.
.
.
"INI-UNTUK-ARDHALEA ! ! !"
.
Miris rasanya begitu mendengarnya memekikkan begitu, soalnya secara teknis, Deavvara-lah yang membunuh adiknya sendiri secara langsung. Tapi kalau dipikir lebih lanjut, kalau Madara tidak pernah eksis lagi, mungkin Deavvara tidak akan sejauh ini menyimpang dari jalurnya.
Topeng Susano'o biru raksasa itu retak hebat, dan jutsu berbentuk manusia raksasa tersebut terhuyung begitu parahnya sampai-sampai dia melepaskan keempat pedangnya, jatuh bebas sepenuhnya ke tanah dengan punggung mendarat lebih dulu. Madara terlempar hingga ke batas rambut Susano'o, dan sekarang waktunya aku dan Hermes beraksi. Aku melompat ke punggungnya.
"為雷:白虎 !"
Raiton: Shirotora
(Elemen Petir: Harimau Putih)
Sebentuk petir putih berbentuk harimau meluncur cepat ke arah Madara, yang seharusnya sudah menggosongkannya sampai baunya mungkin bisa dicium dari sini, tapi itu tidak melukainya samasekali. Aku menatap tepat ke matanya.
"Jangan berfokus ke mata," desis Hermes mengingatkan. "Etatheon kebal Rinnegan dan Sharingan, tapi tidak bagimu. Jika kau terkena Genjutsu, hanya Kurama di dalam tubuhmu yang bisa menyadarkanmu dengan kejutan chakra. Kau tidak butuh orang lain. Ingatlah selalu kelebihan mode itu," terangnya. "Hati-hati, itu saja. Aku harus membantu aliansi !" Serunya sambil memiringkan tubuhnya sampai sayapnya terentang vertikal ke langit. Aku terjun dan langsung berhadapan dengan Uchiha pembuat masalah itu, sementara kerangka Susano'o mulai memudar di belakangku.
Madara tertawa kecil. "Aku terkesan," ucapnya pendek.
"Sudah seharusnya kau terkesan," balasku sambil menghunus Nunboko no Tsurugi. "Nah, ada kata-kata terakhir ?"
"Aku baru saja menunjukkan Susano'o sempurnaku," desah Madara sinis. "Akan memalukan kalau menunjukkannya lagi."
Itu bisa jadi berita bagus buatku, tapi aku tidak begitu tertarik. Dengan atau tanpa Susano'o, aku akan menghabisinya.
"Jangan gegabah di hadapan musuh, selemah apapun dia," Madara sok menasihati.
Aku mengedikkan bahu malas. "Apa itu bisa berarti kalau kau secara halus mengakui bahwa kau lemah ?"
Seharusnya aku tidak mengatakan itu.
Madara melakukan kuchiyose. Tadinya kukira seekor naga raksasa berbentuk aneh dengan kekuatan super akan muncul, tapi yang muncul rupanya malah lebih buruk lagi.
Taiyotsuki no Tsurugi.
Aku menelan ludah pahit. Aku sudah melihat sendiri sekuat apa pedang itu. Tapi bukan berarti aku akan angkat tangan sekarang !
Madara menusukkan pedang berbentuk gelombang itu ke tanah. Aku lebih dari siap untuk menjumpai kemungkinan terburuk, tapi dia membelah tanah dan langsung menyemburkan lava yang berpijar merah panas, berusaha memercikiku. Aku berkelit menghindar ke belakang, dan menghunus Nunboko no Tsurugi lurus ke depan secepat kilat, mendesingkan angin berbentuk bor yang menguraikan lava. Madara menggerakkan gagang pedang yang nyaris menyentuh tanah seperti tuas, membuat lebih banyak lagi lava –yang kali ini lebih cair dan lebih cepat- menghambur ke udara.
Ardhalea pernah bilang kalau dia bahkan bisa berenang di lautan magma selama berjam-jam tanpa merasa kepanasan, dan sekarang aku penasaran apakah hanya dengan mendapat restu dan sedikit kekuatannya, aku bisa melakukan hal yang sama.
Pemikiran konyol itu langsung sirna begitu kusadari sepatu kiriku terbakar sepertiganya. Aku menapak di tanah sambil melompat-lompat seperti kanguru betina yang barusan kehilangan anak.
"Sulit dipercaya kau masih hidup," celetuk Madara, "dengan cara bertarungmu yang belepotan begini."
Aku menyeringai, pura-pura berani. "Hmph. Itu berarti kau harus bertarung mati-matian dengan penuh keseriusan bahkan untuk melawan orang sepertiku ?"
Satu hal yang perlu kau tahu, kadang-kadang aku tidak belajar dari kesalahan. Dan sialnya, itu terjadi sekarang.
DRAKKK ! ! !
"要素: 素龍の術 !"
Mokuton: Mokuryuu no Jutsu
(Elemen Kayu: Jurus Naga Kayu)
Tanah mendesak keluar seolah ada bukit baru yang terlahir, dan dari rekahan raksasanya, muncullah seekor naga dengan punggung penuh duri-duri raksasa, dengan rahang atas yang sangat panjang –terlampau panjang, dengan ujung bengkok seperti paruh, namun rahangnya dihiasi gigi-gigi mengerikan seperti kait, dan matanya kuning menyala dibawah tempurung kepala yang tampak seperti batok kelapa. Dia besar –panjangnya tidak kurang dari enam puluh meter dengan empat kaki bercakar seperti naga-naga dalam kaligrafi kuno. Bedanya, sosok ini hidup dan...terbuat dari kayu.
"Ini naga kayu yang digunakan Hashirama untuk bertarung melawanku beberapa dekade yang lalu," pamernya.
"Hati-hati, Naruto," Kurama memperingatkan dari dalam tubuhku. "Benda itu jahat. Aku tidak suka ini. Bahkan dari jarak seperti ini, sedikit demi sedikit dia menyerap chakra kita. Jangan sampai kau menyentuhnya !"
"Bagaimana aku mengalahkannya tanpa menyentuhnya ?" Desakku.
"Gunakan jurus jarak jauh !"
Sebelum aku memikirkan langkah apa yang harus kulakukan, naga itu menyerangku, lebih cepat daripada jutsu padat manapun yang pernah kuhadapi. Monster itu membuka mulut dan langsung melubangi tanah tempatku berdiri dua detik yang lalu. Ia berbalik dan meraung, kembali menyerangku. Aku menghembuskan bola api, tapi sia-sia saja. Sang Mokuryuu tetap menyerbu maju sampai kutumbuk moncongnya dengan batu besar. Alih-alih kepalanya yang terburai jadi rongsokan mebel, malah batu itu yang pecah.
"Kayu macam apa itu !" Kurama lebih dulu menyeru dari dalam tubuhku. "Rasanya kayu besi pun tidak bisa sekuat itu !"
TAP !
Kudengar beberapa suara sepatu sandal yang menumbuk tanah. Aku memeriksa sekeliling dan menjumpai Tim Paradox-ku yang lama. Setelah semua yang kulalui sendirian sebagai manusia, rasanya amat menyenangkan bisa berkumpul kembali bersama mereka, meski kami sedang berhadapan dengan si pembawa maut itu sendiri, kurang lebih.
"Jangan sok berlagak begitu menerima kekuatan dari Ardhalea, Naruto !" Sesumbar Kiba.
"Bilang saja kau iri," sahut sebuah suara yang sudah lama sekali tidak kudengar. Sosok berjaket hijau lumut dengan kulit putih, rambut hitam, dan tas seperti kantung air di punggungnya, membalikkan badannya ke arahku dengan tatapan curiga dibalik kacamata hitamnya. "Kau masih bisa mengenaliku, Naruto ?"
"Dasar Aburame," gerutuku.
"Hmm, yah. Siapa namaku ?"
"Shino, kan ?"
"Baguslah kau masih ingat."
"Kau takkan bekerja sendirian," seseorang menepuk punggungku. Kubalikkan badan dan aku nyaris terjengkang ke belakang karena terkejut.
"Sara ?!"
Perempuan itu mengangguk sekali, memfokuskan perhatiannya pada sang naga kayu yang masih meneleng-nelengkan kepala seolah berpikir siapa kira-kira yang punya kandungan chakra paling lezat dari kami semua.
Sara tidak mengenakan gaun ratunya, apalagi mahkota dan kalung. Sekarang dia memakai combat suit berwarna merah marun dengan sepasang pedang pendek di pinggangnya. Sulit dipercaya dia bisa leluasa dan terbiasa bergerak dengan pakaian seperti itu setelah terbiasa dengan pakaian ringan nan lembut dari sutra Rouran.
"Sebenarnya, Naruto," ucap Kakashi-sensei, "tanpa Sara-sama kami mungkin masih mencari-carimu sekarang. Dia yang menunjukkan tempat dimana kau berada, bertarung dengan Madara."
Aku menatap ratu Rouran itu sebal, tapi dia samasekali tidak menanggapiku. "Jangan bodoh," aku mengedarkan pandangan berkeliling pada Kakashi-sensei, Sasuke, Shikamaru, kemudian Kiba, Shino, Hinata, Ino, Sakura Chouji, dan terakhir Sara. "Aku tidak mau kalian repot-repot bertarung bersama Madara dengan resiko yang lebih condong ke negatif besar !"
"Mulai lagi," cetus Hinata malas, "kau mengatakan hal yang sama di tepi danau dekat rumahmu saat pagi hari sebelum tim ini berangkat. Sekarang kita sudah sampai sejauh ini. Kita tidak akan berhenti disini !"
Shikamaru mengiyakan, "Apa yang bisa kami lakukan untukmu, maka kami lakukan."
BUM !
Empat makhluk lain mendarat –Guru Alis Tebal dan Alis Tebal itu sendiri, Neji, dan Tenten. Aku mengernyit. Mereka ini bodoh atau nekad sih ?
"Jadi," Sakura mengalihkan pembicaraan, lantas menuding naga kayu. "Shodaime Hokage-sama adalah satu-satunya manusia yang diketahui murni memiliki Elemen Kayu. Itu adalah tipe elemen chakra yang paling istimewa dari yang lain, sekalipun bukan Kekkei Touta dan hanya mencampur dua elemen utama: air dan tanah, tapi chakra itu mampu mengubah aliran energi menjadi energi kehidupan, membuat pepohonan yang hidup dan tumbuh dengan luar biasa cepat, jika sang pengguna menginginkannya," jelasnya panjang lebar.
"Dengan kata lain," susul Ino. "Moukuryuu ini seperti prototipe dari naga hidup yang sesungguhnya. Cetak biru...semacam itulah. Dia hampir-hampir punya pikirannya sendiri, jadi satu-satunya cara mengalahkannya adalah jangan sampai menghadapinya sendirian saja."
"Kau menyindirku," gerutu Kurama. "Aku ada disini sejak tadi ! Dari awal !"
"Tapi bagaimana menghancurkannya ?" Tanya Lee. "Dia bahkan meremukkan batu dan bertahan dari api !"
"Lee !" Bentak Guy-sensei. "Ada apa gerangan ? Ini tidak terlihat seperti dirimu saja ! Demi semangat muda, apa ini ? Lee yang kukenal adalah seseorang yang selalu optimis bahkan ketika dunia akan berakhir ! Kemenangan akan berpihak pada kitaaaa !" Serunya sambil mengacungkan satu jempol, mengedipkan satu mata dan menyeringai lebar sampai gigi geraham depannya kelihatan. Pose yang membuatku ingin muntah bahkan hanya dengan melihatnya. Maaf saja, deh.
Kakashi-sensei menepuk dahi, tapi hanya beberapa detik sebelum ekspresi –terserah-kamu-deh- itu berubah menjadi ekspresi serius khasnya.
Madara mendecih. "Baiklah," katanya. "Naga kayu itu akan mengganyang chakra teman-temanmu sampai kering kerontang dan sementara itu aku akan bermain-main sedikit denganmu," katanya sambil mencabut Taiyotsuki no Tsurugi dari tanah, langsung membelah bumi menjadi dua, memisahkanku dari teman-temanku sementara si naga kayu menggeram.
Madara mengayunkan pedang. Kutangkis dengan Nunboko no Tsurugi, tapi rasanya seperti dihantam tiga puluh pedang sekaligus. Aku berusaha bertahan dan mengerahkan kemampuan, mendorongnya ke belakang beberapa senti dan melepaskan kunciannya, berlari ke samping dan melakukan gerak tipu, tapi Madara tidak terkecoh dan menangkis serangan keduaku. Aku berhasil melepaskan kunciannya lagi dan menyerang kakinya, tapi dia melompat ke udara dan menghunus pedangnya.
Mata pedang kejam itu meninju tanah, meledakkan ratusan meter persegi tanah padat menjadi batu-batu berantakan. Aku mendesingkan angin pemotong, yang hanya memangkas beberapa pohon di belakang Madara selagi ia merunduk. Kesempatan, kukerahkan tinju elemen tanah, tapi dia membuat batu sekeras besi itu jadi pasir hanya dengan menikamnya dengan mata pedangnya.
Pedangnya, pikirku. Jika saja aku bisa memisahkan itu.
"為鉄: 機関砲球 !"
Koton: Kikanbokyuu
(Elemen Besi: Bola Meriam)
BUM !
BUM !
BUM !
Aku tidak tahu darimana bola-bola basket besi berapi dengan bubuk mesiu itu berasal, yang jelas benda-benda itu berbahaya. Menyerempet satu, dan kau takkan beda seperti kapal dagang yang ditembak meriam kapal bajak laut. Kutangkis (sekaligus kuledakkan) dua dengan pedangku. Aku bersalto, melompat menghindari satu diantara mereka, dan menendang satu peluru yang terlalu dekat ke lututku.
Tindakan yang salah, karena kakiku langsung terasa seperti barusan ditempa di Gunung Batuwara. Aku terduduk jatuh, dan mendadak, sebuah pohon langsung tumbuh di belakangku, menjerat tangan dan kakiku dengan cabang dan dahan yang terus tumbuh, sampai-sampai aku menjatuhkan pedangku.
"Kau pikir hanya Moukuryuu yang menyerap chakra ?" Sinis Madara, mendekat dengan santai. Cabang-cabang pohonnya mencekik leherku. "Omong kosong. Moukuryuu memang yang terbaik dalam menyerap chakra, tapi pada dasarnya semua pohon Hashirama bisa melakukannya, walaupun tidak sehebat naga kayu itu."
"Grrrhh..." geramku. "Siapa yang butuh informasi itu ?"
.
.
.
Tanah bergetar, makin lama makin keras. Tadinya kukira ketujuh Etatheon sedang berulah untuk menarik perhatian Madara atau segera mendaratkan bogem mentah ke wajahnya, tapi yang ada malah lebih buruk.
Juubi sialan itu –makhluk buruk rupa yang samasekali tidak diinginkan kehadirannya oleh 99,99 persen manusia di dunia, telah memasuki fase keduanya. Daripada jadi lebih bagus (atau simetris) yang kujumpai malah makhluk yang samasekali jauh lebih jelek.
Dia makhluk terjelek yang pernah kulihat, dengan kepala mirip kepala manusia, dengan duri-duri raksasa melengkung yang aneh di puncak kepalanya, dan sekarang mata tunggalnya memilin ke satu sisi, sisi kanan kepala, sedangkan sebuah telinga yang mirip telinga manusia raksasa tumbuh di sisi kiri kepala. Mulutnya mengecil dan berada di tempat yang semestinya, tapi dihiasi gigi-gigi persegi seolah semuanya gigi seri, dan leher kurusnya seperti cucian yang baru diperas.
Duri berulir spiral di punggungnya makin besar, tapi berlawanan dengan itu, tubuhnya jadi sangat sangat kurus, dan kaki belakangnya sekarang tumbuh. Dia tidak simetris –tangan sebelah kirinya hanya tonjolan kurus panjang, dan tangan kanannya pun belum terbentuk sempurna. Sepuluh ekor yang mencuat paksa dari pantatnya bahkan terlihat lebih mirip tangan salah pasang daripada ekor. Pokoknya, sebutkan segala jenis cacat yang ada pada manusia manapun, dan Juubi ini memilikinya. Yah, dia pasti meledakkanku dengan Juubi Dama paket kombo ekstra kalau dia mengerti apa yang sedang kupikirkan.
Sepuluh ekornya mencakar-cakar udara, mengibas-ngibas angin seperti beliung. Cuma masalah waktu sampai dia menyebabkan ribuan orang yang berjuang di garis depan jadi seperti lalat-lalat yang terkena raket elektrik. Aku nyaris melompat ketika menyadari kakiku terbenam sampai lutut di tanah padat.
"Haumea," geramku. "Oi ! Lepaskan aku !"
"Percuma," sambut Madara sinis, "dia tidak akan mendengarkan makhluk rendahan sepertimu. Mereka berdua hanya akan membalas budi padaku."
"Kau memanfaatkan mereka," aku masih berusaha berdebat dan mendencangkan pedangku ke tanah, tapi sia-sia saja. Guntur menggelegar dan membentuk pusaran, seolah siap memanggangku dalam beberapa detik. Tidak ada cara untuk mengalahkan sumber dari segala sumber kekuatan magis para naga yang ada –Langit dan Bumi.
"人間道 !"
Ningendo
(Jalur Manusia)
Tidak begitu mudah menyadari apa yang sedang terjadi selain Madara sedang menarik sesuatu dari perutku. Benda berbentuk seperti stoking itu setengah transparan, dan aku baru bisa menyadarinya lima detik kemudian.
"Naruto !" Kurama memekik dari dalam tubuhku. "Apa-apaan kau ! Jutsu Rinnegan ini akan mengubahmu menjadi mayat tidak berguna kalau dia selesai ! Ini men-"
"Berisik !" Aku menginterupsi. "Aku akan mati, begitu maksudmu, kan ?"
"Setelah matamu melotot ke arah yang berlawanan dan kejang-kejang, yah. Kau akan mati. Tapi pengekstrakan chakra secara paksa seperti ini berarti aku tidak bisa keluar, dan itu juga sinonim dari kematianku juga !" Dia sekarang terdengar panik. Jika itu memang terjadi, berarti giliran Demetra-lah satu-satunya Wivereslavia yang tersisa di planet ini.
"J-jika begitu buatlah semua ini tidak sia-sia !" Aku memekik dan mengerahkan seluruh tenagaku, tapi Madara menarik 'nyawa'ku hampir semudah mencabut ubi dari tanah basah.
"Dengan begini, aku bisa menjadikan sisa-sisa kekuatan Paradox menjadi milikku," katanya menang. "Sudah tidak ada gunanya melawan arus. Tetaplah disitu dan terhanyut. Hanya itu yang bisa dilakukan sampah, bukan ? Terjun ke arus dan membiarkan dirinya terbawa, barangkali tenggelam."
Aku meringis marah, tapi tidak bertahan lama.
.
.
.
.
TERAKHIR KALI aku membuka mata, rasanya dunia tidak sekosong ini.
.
"Kurama ?" Panggilku. Tapi tidak ada jawaban meskipun lamat-lamat. Aku memalingkan pandangan ke sembarang arah, tapi yang ada hanyalah pasir.
Aku berada di padang pasir datar, semacam padang gurun mati tanpa satupun bentuk kehidupan di permukaannya, tapi anehnya, suhunya tidak panas, maksudku berada disini, walaupun seharusnya bisa membuat kerongkonganmu terasa seperti menelan kaktus, tapi suhunya sama saja seperti di rumah-rumah biasa. Keadaan yang ganjil.
Pakaianku masih seperti tadi –jubah chakra dan sayap serta tanduk, tapi entah ini mimpi kilas-balik aneh yang belakangan ini sering kualami atau apa. Aku bahkan tidak tahu sedang berada dimana, untuk yang kesekian kalinya.
Sebuah pohon akasia gurun yang rindang tertangkap oleh netraku. Aku berlari ke arah pohon berdaun hijau kekuningan itu dan merabanya. Tanganku tidak menembusnya, kemungkinan ini mimpi riil. Oke, jujur ini mulai mengerikan.
"Apa aku sudah mati ?"
Untuk sesaat, kukira takkan ada yang menjawab gumamanku.
"Belum, Pemberani."
Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui siapa yang bicara. Tepat di belakangku –entah asalnya dari mana, aku melihat sosok perempuan dengan tinggi semampai, sekitar 165 cm, dengan rambut pirang pucat lurus sepinggang yang digerai bebas. Wajahnya lonjong dengan dagu agak lancip, garis mata yang tegas dan ekspresi seperti batu.
Iris matanya berwarna emas dengan pupil hitam bulat berwarna hitam. Kulitnya sendiri berwarna putih, agak pucat, dan perempuan ini mengenakan gaun tanpa lengan berwarna hitam dengan rok yang begitu panjang sampai-sampai menyapu pasir. Lengannya dikenakan terpisah dari gaunnya, mirip-mirip pakaian wanita bangsawan pada masa lampau, tapi dia tidak mengenakan topi atau sarung tangan.
Bibir tipisnya menorehkan senyum ke arahku, tapi aku tidak tahu harus membalas apa. Aku mengamatinya. Dia jelas bukan Ardhalea.
"Kau bertanya-tanya siapa aku," perempuan itu menanggapi dengan cepat. Aku mengangguk kikuk.
"Em...eh. Ini dimana ?"
"Tidak dimana-mana," balasnya, yang tidak membuatku merasa lebih nyaman. Ia mengibas rambutnya dan memudarkan senyumnya, berganti menjadi ekspresi tegas. "Aku memasukkanmu kesini karena aku perlu bicara sedikit denganmu. Ini soal kisah hidupku. Kau harus mengetahuinya kalau kau mau mengalahkan Madara dan membujuk Horus dan Haumea untuk melepaskan bulan," celotehnya panjang lebar.
Biasanya aku benci mengakui kalau semua perempuan punya kemampuan untuk memikat laki-laki dengan kata-kata, tapi kali ini sepertinya teori itu benar. Aku langsung antusias, disamping bingung siapa sebenarnya perempuan ini.
"Kau mengenalku," kata perempuan itu tegas. "Seharusnya kau mengenalku."
"Kau bukan Ardhalea," kataku. "Yang jelas bukan Sang Paradox."
.
Ups. Aku keceplosan.
Perempuan itu menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. "Tentu saja bukan. Aku jauh lebih tua dari dia. Tapi, yah. Kami berdua punya relasi satu sama lain, andaikata bisa bertemu di dunia fana, itu akan sangat hebat," katanya lirih sembari memainkan rambut pirangnya. Ia menatapku dengan mata emasnya. "Jangan katakan kau tidak mengenalku."
Aku mengingat-ingat. Relasi antara dia dengan Ardhalea ?
.
.
"Kau adalah Laramidia," kataku. "Anak ketiga dari Horus dan Haumea, yang bisa mematahkan kontrak Batuwara-Laeding bersama Ardhalea."
.
Dia mengangguk. Kali ini tebakanku jitu. Cuma ada satu hal yang mengganjalku.
.
.
.
Kalau Horus dan Haumea itu murni seratus persen naga, kenapa keturunan ketiga mereka justru manusia ?
.
.
.
.
Bersambung...
Author's Note (2):
Chapter 22 selesai !
Maaf sekali lagi ya, telat, hihi. Gimana untuk chapter ini ? Semoga tetap seru ya !
Yang ngira bayangan penyelamat di akhir chapter 21 itu Ardhalea, sori, ya. Salahkan author kalian yang iseng ini (*ditampong*).
Sang Ekor Sepuluh akhirnya berhasil dibangkitkan ! Pasukan Aliansi telah bergabung bersama Naruto dan kawan-kawan, akan tetapi Madara melancarkan serangan yang tidak main-main. Akankah Naruto berhasil selamat dari teknik mengerikan Madara ? Apa yang akan disampaikan Laramidia, Keturunan Ketiga Horus dan Haumea pada Naruto ? Akankah itu membantunya dalam pertempuran ?
Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini ! Pokoknya ditengah-tengah kesibukan, akan saya usahakan update dan update ! Oh, dan kemungkinan besar jadwal update akan berubah kira-kira dua minggu sekali, setiap hari Minggu. Harap dimaklumi (ini-bukan-rapat).
Coming Soon: Paradox Chapter Twentythird :
"I Realize the Screaming Pain"
See you again in chapter 23 !
-Itami Shinjiru-
