Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.
Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara
Main Pair : NaruPara, KuraDeme
Slight Pair : MinaKushi, ShikaTema, KakaPaku, & NagaKonan
Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Action, Romance
Author's Note :
Jumpa lagi di chapter 23, readers!
Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Terimakasih, matur nuwun, arigato gozaimazu, thank you very much, syukran, gracias (*bungkuk hormat*).
Sebelumnya saya minta maaf karena sudah membuat kalian menunggu lama, hehe. Terimakasih banyak bagi yang baca, apalagi yang nyempetin review dan fave dan follow! Makasih masukannya juga ya!
Oke, saya tidak tahu apa yang harus disampaikan lagi di A/N ini, mungkin udah segini aja, daripada kepanjangan. Langsung aja baca!
Enjoy read chap 23!
PARADOX
パラドックス
Chapter Dua Puluh Tiga:
I Realized the Screaming Pain
Mungkin aku takkan curiga dan bertanya-tanya dalam hati lebih lanjut kalau saja Laramidia punya sayap dan tanduk seperti manusia-setengah-naga yang lain (tahu kan maksudku?) atau sekalian saja membawa senjata khasnya. Tapi sosok perempuan ini sekilas –mungkin- hanya terlihat seperti manusia biasa dengan warna mata yang unik. Hanya itu saja. Aku tidak begitu yakin untuk bertanya lebih lanjut tentang kekuatannya.
Sunyi. Hanya suara angin yang tertangkap oleh telingaku. Masing-masing dari kami menunggu yang lainnya untuk memulai pembicaraan.
"Ini tempat apa?" Aku akhirnya memberanikan diri bertanya.
Ia mendesah malas.
.
.
Butuh sepuluh detik sebelum dia melontarkan jawabannya.
"Gurun Pangaea."
Aku mengernyit. "Apa itu ada di dekat Kumogakure?" Tanyaku lagi. Soalnya, aku tidak pernah mendapatkan nilai lebih dari 78 saat pelajaran Geografi di akademi dulu. Soal pelajaran Ilmu Naga? Jangan tanya. Aku paling sering membolos pada jam itu.
"Gurun Pangaea," kata Laramidia, "adalah gurun terbesar yang pernah ada di planet ini."
Aku makin mengerutkan dahi.
"Gurun purba. Tercipta sejak Zaman Permian di Masa Paleozoikum, dan terus bertahan selama ratusan juta tahun sampai Zaman Pertengahan Jurasik di Masa Mesozoikum. Dinosaurus dan reptil-reptil purba ada disini."
"Panggea...eh..."
"Pangaea," Laramidia mengoreksi. "Pen-ji-ya."
"Pen-ji-ya," aku menirukan. "Oh, ya."
Aku langsung menyadari kesalahan. "Horus dan Haumea ada sejak tujuh juta tahun yang lalu, kan?" Selidikku. "Pada Kala Miosen di Zaman Tersier? Kurasa –Zaman Jurasik itu jauh sebelum Zaman Tersier!" Protesku. Aku heran sendiri kenapa hanya dengan sekali mendengar (itupun dari mimpi) ingatanku bisa terkait sampai sehebat itu.
Laramidia mengangguk. "Aku terlemparkan kesini oleh dimensi waktu. Aku...semacam...disegel, kau tahu. Mati, lalu jiwaku disegel."
"Itu artinya tidak mungkin untuk membebaskan kedua orangtuamu," simpulku.
Dia merengut. "Orangtua," katanya ketus. "Iya, mereka benar-benar peduli. Simpatik sekali. Kacau sekali".
"Ada yang tidak beres antara kau dengan mereka berdua?" Tanyaku penasaran. "Jangan-jangan yang membunuhmu adalah..."
"Bukan," dia memenggal ucapanku begitu saja. Tatapan matanya sedingin es. Tapi kemudian ekspresi wajahnya mencair, dan tatapan matanya sayu.
"Aku dibunuh oleh kakakku," ceritanya singkat. "Niaka. Adikku, Hi'iaka, tidak berusaha menghentikannya walaupun dia melihatku saat itu juga. Saat Ayahanda dan Ibunda datang, mereka menuduhku bunuh diri. Mereka menyegelku keluar batas waktu. Mereka...mereka sungguh seburuk-buruk keluarga."
Aku memeras memoriku. Seingatku, dalam mimpiku Kaguya sendiri mengatakan bahwa Keturunan Ketiga Horus dan Haumea hanya ada satu, yakni Laramidia ini sendiri. Sekarang, kenapa dia malah mengatakan kalau dia tiga bersaudara? Apa yang salah dengan semua ini?
"Banyak yang telah merombak sejarah, Naruto," desah Laramidia kecewa. "Apa yang kau ketahui soal Neredox? Tidak ada, kan. Begitu pula kedua saudariku yang lalim itu. Mereka adalah bagian yang terlupakan oleh sejarah, bersamaku pula. Naga Gatpura...Kaum Kolosal...tiga keturunan pertama Ayahanda dan Ibunda seakan tidak benar-benar diakui. Itulah kenapa mereka semua menjeblak ke dunia, Naruto. Memberontak. Melepaskan diri dari belenggu, walau hanya untuk seribu tahun sekali. Apapun caranya, mereka ingin diakui bahwa mereka ada dan berhak hidup bersama naga-naga lain. Tidak ada yang dianak-emaskan. Keseimbangan dunia telah terganggu bahkan sebelum planet ini memasuki usia remajanya," dia menceramahiku panjang lebar.
"Bagian yang terlupakan oleh sejarah," aku manggut-manggut. "Masuk akal juga," aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya dibunuh oleh saudara sendiri, bahkan tidak dipercayai kedua orangtua.
"Aku tidak akan pernah bisa kembali ke dunia lagi. Tapi...ingat ini. Aku akan terus mengawasimu. Mulai sekarang," tegasnya.
Aku mengangguk sekali. "Lantas bagaimana caraku kembali ke duniaku?"
"Jangan buru-buru," cegahnya, "waktu berhenti begitu aku memanggilmu kemari. Pikirkan strategi melawan Madara dan si Pria Bertopeng itu disini saja."
"Aku harus bebaskan Horus dan Haumea," sergapku. "Kedua orangtuamu. Mereka dikhianati Madara sialan itu. Untuk itu aku membutuhkanmu, dan aku juga membutuhkan Ardhalea, sang Paradox itu sendiri. Bagaimana caranya agar aku bisa-"
"Tidak," tolaknya mentah-mentah.
"Hei, aku belum selesai bi-"
"Tidak!" Bentaknya. Matanya memerah. Ia memalingkan pandangan dariku.
"Dasar bodoh! Lancang sekali kau mau menyelamatkan dua pengacau itu!"
Aku tersentak. "Pengacau? Anak mana yang menyebut orangtuanya pengacau?"
"Masa bodoh," gerutu Laramidia sambil terisak. "Mereka membuangku. Tidak peduli padaku secuil pun. Kenapa akhirnya aku harus membantu membebaskan mereka dari kekuasaan manusia! Biarlah begitu, atau setidaknya kau-lah yang akan mengalahkan Madara dan terserah soal mereka berdua."
"Mereka orangtuamu!" Aku mulai kehilangan kesabaran. "Darah dagingmu!"
"Satu-satunya yang peduli padaku adalah diriku sendiri!" Sentaknya keras, mengaburkan beberapa pasir. Air matanya meluncur dari pipinya, langsung terisap kering ke pasir. Ia jatuh terduduk dan tangisannya makin keras. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
Keluarga, ya? Pikirku. Itu selalu mengingatkanku akan dua orang paling berharga dalam hidupku. Aku tidak menyangka masa lalu dari makhluk-makhluk terkuat di planet ini ternyata begitu menyedihkan. Mereka tumbuh dewasa tanpa luput sedikitpun dari rasa sakit dan kepedihan. Barangkali itu jugalah yang dialami Ardhalea.
Apa yang harus kulakukan padanya sekarang? Menghiburnya? Sama seperti yang kulakukan pada Ardhalea?
"Laramidia," desisku.
.
.
"Menurutmu apa arti keluarga?"
.
.
Kemungkinan pertama: dia akan menghajarku sampai aku lupa cara bernapas. Kemungkinan kedua: dia akan membuat banjir bandang di gurun ini dengan airmatanya. Kemungkinan ketiga: dia akan menjawab pertanyaanku, tapi itu akan memakan waktu sepuluh jam sebelum terjadi.
Tiga kemungkinan yang samasekali tidak mengenakkan. Aku memutuskan untuk duduk diam dan menunggu.
.
"Kau sendiri?" Dia balik bertanya. Aku agak terkejut dia bisa menjadikan pertanyaanku sendiri jadi bumerang. Mau tak mau aku harus jawab.
"Orang yang menyayangimu dan yang kau sayangi," cetusku sok bijaksana, "itulah keluarga."
.
Laramidia bangkit dan menghapus airmatanya. Takut-takut, aku balik bertanya lagi.
"Keluarga adalah keluarga," bisiknya, "tidak lebih, tapi bisa kurang. Kumpulan makhluk hidup yang terkait satu sama lain dengan hubungan darah... itulah keluarga. Hanya...hanya itu saja."
Untungnya aku sudah menduga dia akan berkata begitu. Sempat kukhawatirkan dia akan meledak-ledak lebih kasar lagi.
"Laramidia Pinarleo," panggilku.
"Pinarralla," koreksinya, mengelap airmata dengan punggung tangannya.
"Terserah," kataku sambil memutar bola mata, "habis namamu susah sekali sih. Sebenarnya apa tujuanmu memanggilku kemari?"
Sebenarnya itu pertanyaan yang dari tadi ingin kuajukan, tapi entah kenapa baru sekarang aku bisa mengatakannya. Dan aku yakin itu butuh waktu sedikitnya satu jam sebelum gadis-setengah-naga ini menjawabnya. Tapi kali ini, untungnya, aku salah.
"Ada sesuatu yang perlu kubicarakan," bisiknya lirih, nyaris tidak terdengar. "Kau belum tahu musuhmu yang sebenarnya, Uzumaki."
"Tentu aku tahu," aku berdalih. "Uchiha Madara, kan?"
Laramidia menggeleng, yang segera membuat otakku buntu. Madara adalah orang terjahat yang pernah kukenal –semoga untuk selamanya, tapi dia sendiri bilang bukan dia-lah dalang dibalik semua ini? Rasanya itu terlalu mustahil bahkan untuk bisa dipercaya.
"Lantas siapa? Bulan itu sendiri?" Jawabku asal-asalan. Laramidia menggeleng cepat.
"Horus dan Haumea?" Tanyaku takut-takut. Tamat deh. Kalau begini caranya, dia bisa meratakanku sampai jadi pasir dan bebatuan. Tapi Laramidia menggeleng, dan hanya menambah kerutan di dahiku seperti bukit pasir yang terpisah-pisah oleh tiupan angin kencang khas padang gurun.
Gurun Shii Woong
Blokade Hi dan Kaminari
Yang paling jelas terlihat dari lanskap aneh ini hanya tonjolan luar biasa besar yang sekilas berbentuk seperti kuncup bunga raksasa –meteor raksasa yang dijatuhkan Madara untuk mengacaukan perlawanan aliansi Dracovetth. Tidak begitu mengesankan jika dilihat dalam kegelapan begini, tapi kalau saja seseorang mengetahui pertarungan yang terjadi beberapa jam yang lalu, mereka tidak akan bisa berhenti gemetar.
Lima bayangan dengan jubah putih dan topi caping berwarna merah, kuning, hijau, biru, dan cokelat melintasi gurun, melompat dan terus melaju melewati butte-butte dan mesa-mesa. Salah satu dari mereka, yang paling depan, mendadak berhenti bergerak, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara, mengisyaratkan keempat rekannya untuk berhenti.
"Ada apa?" Gerutu suara khas kakek-kakek yang kelamaan hidup di dunia. "Kau ingin membuatku sakit pinggang lagi, Tsunade-hime?"
"Aku terkejut kau masih bisa menggunakan sapaan semacam itu," ledek Raikage. Ia melirik sosok di depannya. "Mengesampingkan itu, sebenarnya aku juga ingin menanyakan hal yang sama dengan Tsuchikage. Kenapa-kita-berhenti-? Bee sudah sampai di medan perang dan Juubi mulai sempurna! Mana bisa Lima Kage dari Lima Negara Besar serta-merta merendahkan martabat sendiri..."
"Diam!" Sentak Tsunade galak. Matanya nanar menatap sekitar, kemudian berpaling ke keempat Kage yang menunggu di belakangnya.
"Diam. Ada sesuatu yang tidak beres. Seharusnya kalian merasakannya."
"Pasti chakra kuno yang amat kuat," tebak Mei. "Tsunade-sama, Anda masih punya sedikit kemampuan hebat Shodaime Hokage yang jadi kakek Anda, jadi Anda pasti bisa merasakan chakra kuno yang bahkan lebih tua daripada naga manapun," jelas sang Mizukage setengah memuji. "Aku percaya itu."
Tsunade mengangguk. "Kau benar. Iya, aku memang merasakan chakra yang...sangat kuno. Ini tidak main-main. Ini chakra paling purba yang pernah kurasakan, jauh...sebelum manusia bahkan belajar untuk memanipulasi chakra itu sendiri..." katanya dengan suara gemetar. Keempat Kage yang lain berpandangan.
.
.
"Lawan kalian kali ini pasti bukan lawan sembarangan," sebuah suara mendadak meletus di tengah kesunyian malam.
Lima pasang mata beda warna yang menatap ke arah yang sama itu mundur satu langkah karena kaget. Tampak sosok berwarna gelap bersandar santai pada sebuah pohon besar yang berlumut, dan dia tertutup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Oy, kali ini bukan karena dia bertopeng atau apa, melainkan tubuh orang ini memang sepenuhnya tertutup kain sutera berwarna gelap sampai tidak ada satupun bagian tubuhnya yang tampak, jadi kelima Kage tidak mengetahui warna kulitnya –atau apakah dia punya kulit.
Semacam tirai hitam tipis menutupi kedua mata sosok misterius itu, membatasi pengelihatannya, barangkali. Selain itu dia mengenakan semacam kerudung yang menutup penuh kepalanya, sebuah syal tebal melingkar di lehernya, yang punya motif seperti sisik Naga Gatpura. Orang itu mengenakan gaun abu-abu pucat yang ujungnya menyapu tanah, dan sebilah pedang berikut sarungnya terpasang sempurna di pinggang kanannya. Busur tersandang di punggungnya, perkamen berukuran sedang di pinggang belakangnya, tempat belati tersampir di paha kirinya, dan seabrek senjata lain yang tersembunyi sekujur tubuhnya. Biar begitu, orang itu sepertinya tidak merasa keberatan badan.
"Siapa kau?" Sergah Onoki.
Sosok itu tertawa dengan suara yang aneh. Tidak jelas apakah itu suara laki-laki atau perempuan, atau diantara keduanya. Tidak jelas apakah itu suara binatang atau manusia atau monster. Tidak jelas apakah itu suara makhluk baik atau makhluk jahat.
"Lima Kage dari Lima Negara Besar," cetus sosok misterius itu setelah tawanya reda. "Sungguh sebuah kebetulan yang amat sangat menyenangkan sekali," katanya sambil mengedip-ngedipkan matanya. Cahaya kuning mengedip-ngedip dari balik gorden kerudungnya. "Bukankah demikian?"
"Cukup," sergah Gaara. "Kami akan membereskanmu dengan cepat."
"Aku khawatir tidak," jawab sosok itu kalem. Ia merogoh perkamen pinggangnya yang memedarkan warna ungu gelap. Sosok itu melemparkan perkamen tersebut ke udara dan langsung meledak dalam gumpalan asap abu-abu gelap, dan dari langit, jatuhlah sebuah pedang baja logam hitam bermata dua. Panjang totalnya kira-kira 1,2 meter. Gagangnya dilapisi kulit harimau dan kedua sisi pedangnya diukir dengan bentuk kerangka-kerangka naga dengan warna keemasan. Mata sang pemilik pedang menyala makin terang.
"Cih," gerutu Raikage. "Kalian pergi saja dulu. Biar aku yang tangani orang sok ini."
TAS!
Caping kebesaran sang Raikage langsung terpotong jadi dua tepat di tengah-tengah, yang untungnya tidak sampai melukai kepalanya juga. Caping putih itu jatuh berkelepak ke tanah berbatu dan sosok hitam tadi dalam sekejap sudah berada dua meter tepat di belakangnya.
"Kau lamban, Yondaime Raikage," ejek sosok itu dengan suara liciknya. Mata pedangnya berkilat-kilat memantulkan cahaya bulan merah. Raikage menggeram, dan tanpa basa-basi langsung meninju bebatuan di belakangnya. Ledakan terdengar, tapi sosok itu menghindar dari pukulan demi pukulan, mendarat di bebatuan kasar nan keras seolah itu cuma tumpukan jeli.
"Gaya bertarung yang aneh, Manusia Agar-Agar," Onoki menanggapi. Ia mengumpulkan chakra di lengannya.
"Rasakan in-"
BUK!
Sang Tsuchikage dihantam dari belakang, tubuh kecilnya terjun bebas memeluk bebatuan. Sosok itu sudah berada di belakangnya, dan mendarat lagi seolah tidak pernah ada yang terjadi. "Ups," serunya tanpa rasa bersalah. "Kupikir aku barusan mendorong orang sepuh terlalu kuat barusan?"
Mei memicingkan mata. "Kurasa kita harus menangani yang satu ini, walau dengan sedikit terpaksa."
"Jaga bicaramu, Mizukage," tuding si kerudung hitam. "Kalian tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan denganku!"
Di pengujung kalimat itu, sebentuk tangan pasir raksasa langsung menggenggam si kerudung hitam, meremasnya sampai kesulitan bernapas.
"Haruskah kami menyegelmu?" Gertak Gaara. "Atau langsung ke akhirnya saja?"
Tsunade mengambil ancang-ancang. Ia melompat tinggi-tinggi dan mengerahkan pukulan.
"Selesai!"
Pasir berhamburan, dan lengan itu buyar. Gaara menonaktifkan jutsunya. Pukulan sang Godaime Hokage seharusnya sudah meremukkan manusia manapun jadi bubur, tapi...
.
.
"...Pukulan payah," suara yang sama liciknya –sekarang terdengar dari atas sebuah butte. Dari sorot matanya, sudah jelas dia sedang menyindir habis-habisan kelima Kage. "Ayo lagi. Permainan yang kalian berikan belum sebagus yang seharusnya."
Tsunade menggerutu. "Seharusnya itu meremukkanmu," kecamnya. "Kenapa kau masih utuh?"
"Kenapa ya?" Sosok itu meraba-raba tubuhnya sendiri. "Ha! Butuh satu juta tahun latihan dan miliaran keberuntungan bagi kalian berlima untuk bisa mengalahkanku!"
Hawa panas langsung terasa di belakang si kerudung hitam. Ia telat berbalik.
"為溶:融解の術!"
Youton: Youkai no Jutsu
(Elemen Lava: Jurus Melelehkan)
Mizukage menyemburkan gelombang lava merah membara ke target, yang dengan hebat bisa dihindari dengan tidak begitu susah payah, tapi lawannya tidak menyerah, dan ia menembakkan lava ke arah lain, membuat musuhnya terperangkap dalam kubangan cincin cairan bebatuan panas yang dapat mendidihkan panci presto –berikut isinya- dalam waktu tiga detik.
"Kau tidak bisa kemana-mana sekarang," desis Mei. "Akan kuakhiri ini segera."
Si kerudung hitam menyeringai, barangkali. Ia mengangkat pedangnya, dan bilah hitam keji itu segera berubah warna dari hitam berpola keemasan menjadi biru muda cerah, dengan pola-pola seperti riak air yang terpantul pada dasar pasir atau bak. Cahaya biru terpancar dari pedang, dan sosok itu segera menghunjamkan ujungnya ke tanah.
Air menyembur dengan kecepatan hebat, begitu besar dan begitu cepat sampai-sampai tanah di sekitarnya ikut memecah. Air dan lava bertabrakan, membuat uap yang sangat banyak dan meledakkan tanah cincin hingga berkeping-keping. Air terus mengucur seperti oase darurat.
"Bodoh," gerutu Mizukage. "Air juga elemen-ku!" Teriaknya. Ia melakukan handseal dan segera membuat pusaran air berbentuk naga berukuran luar biasa. Dua gelombang masif bertubrukan, menyemburkan jutaan liter air ke segala arah, membasahi sebagian area gurun dan memotong beberapa batu.
Sang Mizukage kembali menghimpun chakra. Arus milik si kerudung hitam tidak bisa bertahan lebih lama, dan pemimpin Desa Kirigakure tersebut memanfaatkan kesempatan untuk menghantam lawan tunggal mereka dengan sebuah tsunami besar. Dinding air melaju cepat, meremukkan apapun yang menghalanginya, namun begitu menubruk lawannya...
BLLAAAAAAAASSSSSSSS!
Uap menyembur kemana-mana, menjadi semacam kabut panas yang membuat malam menjadi bersuhu ala ruangan sauna.
"Kekuatan macam apa ini," gerutu Onoki. "Lawan kali ini lumayan hebat."
Uap menghilang semenit kemudian. Sosok itu masih utuh sepenuhnya, berdiri diatas sebongkah batu yang sudah terpotong berpuluh keping akibat terjangan air Mizukage. Kedua tangannya berkobar memancarkan nyala api keputihan dengan pinggiran oranye, berdenyar dengan aura merah membara.
"Shakuton," kata Gaara. "Elemen panas. Tingkat yang tertinggi. Bagaimana bisa?"
Sosok itu mengibas tangan, menghilangkan Shakuton-nya. Ia berkacak pinggang.
"Kau ini...sebenarnya siapa?" Tanya Tsunade curiga.
.
"Aku bukan siapa-siapa..." jawab sosok misterius itu, "juga tidak ingin menjadi siapa-siapa."
"Kau bekerjasama dengan Madara," tebak Raikage. "Memangnya ada kaitan apa kau dengannya?"
"Tidak ada apa-apa," jawab sosok itu santai. "Sungguh, ah. Mari kita selesaikan ini sebelum tengah malam," dia mengerling jahil.
Gaara maju dan mengangguk. "Tentu saja," katanya datar. Sang Kazekage mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi, memunculkan gumuk pasir yang luar biasa besarnya, bersiap melumat mangsa di depannya.
"Bah!" Gerutu sosok misterius itu. "Apa kau tidak bisa memunculkan sesuatu yang berharga sekali-kali, Kazekage Muda?" Dia menancapkan pedangnya ke tanah, yang segera berubah warna lagi menjadi hijau. Tanah membelah bagai punya mulut, dan gelombang bebatuan zamrud muncul dari dalam, kepingan-kepingan batu keras nan berharga yang berkilauan hijau, bertubrukan dengan pasir Gaara. Alih-alih keduanya berhenti, gelombang zamrud terus tumbuh menjadi jalinan kawat zamrud, mengurung kelima Kage seperti di sangkar burung.
Onoki menembakkan Jinton, menjebol sebagian dinding zamrud. Sosok itu mendarat di dekat mereka dan menembakkan lima panah kristal identik, yang langsung dileburkan oleh tinju Raikage.
"Dia menguasai Shooton juga," desis Raikage.
"Tidak hanya itu, Kulit Karamel," ledek si sosok misterius. Ia mengangkat tangan kanannya, dan dari jari-jarinya muncullah debu-debu biru muda yang berkilauan, membentuk sebuah kristal es –yang semestinya berukuran mikro- tapi kali ini diameternya sebesar bola basket. Si sosok misterius itu memutar-mutar kristal es segi enam itu di udara, membesar dan terus membesar hingga lebih mirip sebuah shuriken raksasa, dan langsung melemparkannya ke Lima Kage.
Onoki menghantamkan kakinya, mencuatkan dinding tanah, namun kristal es itu membelah menjadi lima dan masing-masing menembus dinding. Kali ini Mei menghadangnya dengan semburan lava untuk kedua kalinya, tapi tidak terlalu berhasil. Kristal itu lebih mirip perangkap daripada senjata, dan sebelum cairan panas itu mengenai mereka, mereka meledak dan membekukan apapun yang berada dalam radius tiga puluh meter termasuk lava itu sendiri, yang sekarang hanya menjadi gumpalan es berbentuk gelombang kental seperti sirup yang dibekukan sepenuhnya.
"Kuakui aku bukan pemahat yang baik. Aku tidak begitu faham soal seni-menyeni," kata sosok itu dengan penataan kata yang asal-asalan. "Tapi kurasa untuk yang satu ini aku bisa menciptakan mahakarya, patung es dengan detil super berbentuk Lima Kage!" Sentaknya sambil maju. Dia mengenakan sepatu but abu-abu kecil yang pas-pasan dengan kakinya, tapi dia bergerak diatas lapisan es licin semudah zebra berlari di padang savana.
Pedangnya berubah bentuk dari bilah dua-mata biasa menjadi bercabang-cabang seolah pedang itu terbuat dari es. Raikage maju dengan tameng petir yang menyambar-nyambar, mengelilingi sekujur tubuhnya dan meningkatkan kecepatannya secara drastik. Ia meretakkan lantai es dengan satu pijakan, dan menghancurkan apapun yang dipukulnya. Sayangnya, musuh kali ini bahkan terlalu cepat untuk dianalisis gerakannya.
"Jinton-ku tidak mampu menyamai kecepatannya," ujar Onoki kesal. "Harus melawannya secara langsung! Walaupun harus sakit pinggang!"
"Kakek tua pensiunan kerdil," ledek si kerudung hitam. "Seharusnya kau sudah masuk peti mati puluhan tahun lalu!"
Ia mengayunkan pedang esnya.
Pedang tersebut berdencang keras, bukan karena menghantam sesama logam, namun menghantam tinju sang Godaime Hokage.
"MAKAN INI!"
Tsunade memukul tepat di tengah mata pedang –mematahkan bilah kejam itu menjadi dua- yang jelas-jelas membuat si musuh terkejut. Memanfaatkan peluang, Tsunade memukul lagi, tapi dia tidak seberuntung yang pertama. Musuh menghindar dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, dan alasannya baru kelihatan ketika dia diam di tempat.
"Bagus," katanya puas. "Akhirnya ada yang bisa mematahkan Chikyuugiri-ku. Aku salut padamu, Hokage Kelima," pujinya.
"Itu belum seberapa," desis Tsunade.
Sekarang mereka berlima melihat sosok musuh yang berbeda –mungkin dia tidak sepenuhnya manusia. Pakaiannya robek di bagian punggung, dan dari sana, sepasang sayap muncul dari punggungnya. Anehnya, keduanya tidak sama. Sayap kanan adalah sayap kulit berwarna tefra, seperti sayap naga. Dan sayap kiri adalah sayap bulu abu-abu kusut seperti sayap gagak. Sosok itu menyeringai.
"Ini akan semakin sulit, lho," gertaknya. "Anggap saja itu ronde pertama dan iya deh, kalian yang menang. Tapi ini satu dari sepuluh ronde," gertaknya sambil menarik pedang dari sarungnya –senjata yang sedari tadi tidak ditunjukkannya.
Kelima Kage mengernyitkan dahi heran, sebab senjata yang dikeluarkan ternyata berbeda jauh dari bayangan mereka.
Alih-alih pedang dengan satu atau sepasang mata, yang mereka jumpai adalah sebuah pedang anggar –dengan pelindung lengan berbentuk lonjong berwarna perak, dan matanya seperti tusuk gigi raksasa berwarna abu-abu. Ujungnya luar biasa lancip sehingga mungkin dapat melubangi selembar baja sekalipun.
"Anggar," desis sosok misterius itu. "Salah satu permainan terbaik yang pernah diadakan manusia," cengirnya.
Great Pangaea Desert
"Siapa sih musuh yang kau maksudkan?" Aku mulai tidak sabar. "Tidak harus sampai menutup-nutupi begitu!"
Laramidia terdiam. Dia hanya berbaring diatas sebuah batu pasir padat berwarna cokelat krem muda sembari memandang ranting dan dedaunan kering pohon akasia di atasnya. Melipat kedua lengannya ke belakang menyangga kepalanya, membiarkan rambut pirangnya terurai berantakan ke segala arah. Tatapan matanya sayu, tapi anehnya iris emasnya berkilat-kilat.
"Dia telah kembali," bisiknya pelan.
"Dia siapa?"
Aku paling sebal kalau harus memecahkan teka-teki lagi di penghujung hidupku, tapi untuk saat ini cuma satu jawaban yang terpikirkan oleh otakku: Ardhalea.
"Ardhalea?" Aku akhirnya menebak. Ah, aku terlalu jujur.
"Bukan," jawab Laramidia lirih. "Lawan," katanya kemudian. "Lebih kuat daripada sejuta pasukan. Seribu kemampuan dalam satu bentuk kehidupan. Nyaris mustahil dikalahkan. Lebih tua daripada Uchiha dan Senju manapun," ucapnya dengan nada bergetar.
"Juubi?" Aku menebak lagi.
"Bukan. Lebih muda dari itu," koreksinya.
Kesabaranku sampai pada batasnya. "Percakapan apaan ini," aku menggerutu, "lain kali beritahukanlah aku secara terperinci! Aku tidak paham soal semua ini kecuali kau menjelaskannya. Lebih baik segeralah kirim aku ke dunia –bahkan meskipun aku harus bertarung kembali dengan Madara!"
Laramidia bangun dari batu, berjalan mendekatiku. Pola langkahnya membentuk garis lurus. Dadanya kembang-kempis dengan cepat seolah dia baru saja sprint 200 meter. Napasnya pendek-pendek, dan ia menjilat bibir. Mata emasnya menatapku seolah-olah aku hanya sepiring daging seberat enam puluh kilo. Aku meneguk ludah kecut. Dia mengingatkanku pada vampir atau semacam suku kanibal di film-film fiksi. Jujur saja, yang ini membuatku merasa sangat tidak nyaman.
Ia mendekat, memojokkanku ke batang pohon akasia. Ia mencolek daguku dengan tangan kirinya.
"Cara mengalahkan Madara, hmmm?" Dia mendesah di telingaku. "Kalian memang menjijikan. Tapi baiklah, kalau kau memaksa."
Darah menetes perlahan dari sudut bibirnya. Ia tertunduk dan mengerang.
"Kau...baik-baik saja?" Desisku cemas. Kalau dia buyar disini, bagaimana caranya aku bisa kembali ke dunia nyata lagi?
"Iya," jawabnya datar. "Butuh hampir semua sisa chakra-ku untuk memanggilmu dan mempertahankanmu tetap disini. Selagi aku masih punya, kau harus mendengarkan yang satu ini. Tidak ada pengulangan, tidak ada pertanyaan. Simpulkan semuanya sendiri," diktenya.
Aku merasa digurui. Tapi sudahlah.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" Aku berusaha tetap kalem.
Laramidia mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia mengelap darah bibirnya dengan punggung tangannya. Mata emasnya menatapku lekat-lekat.
"Bukan Madara ancaman dunia yang sesungguhnya..." dia berbisik. "Sesuatu yang lebih tua dan lebih jahat. Dia belum menampakkan diri, setidaknya untuk sekarang. Tapi lambat laun dia akan makin kuat. Ketika dia sudah mencapai kekuatan utuh seutuhnya, dia akan membuat Juubi jadi seperti anjing peliharaan."
"Kau harus menghentikannya bangkit," ucapnya singkat.
"Itu sudah jelas," sungutku. "Tapi siapa makhluk ini? Yang bahkan lebih kuat daripada Juubi?"
"Kau akan menjumpainya," balasnya cepat. "Pasti menjumpainya."
Aku mendeteksi keyakinan dalam suaranya, seolah dia bisa membaca masa depan seperti paranormal profesional. Tapi suara ini begitu yakin. Dia pasti memang tahu apa yang akan terjadi pada medan perang, tapi mengingat bahwa mengetahui masa depan hanya akan membuatmu menyalahkan takdir alih-alih berusaha mengubahnya, aku mengurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut.
Tapi aku berusaha mendobrak kekangan itu.
"Laramidia," kataku dengan penuh penekanan. "Apa kita bisa menghidupkan Paradox lagi?" Tanyaku putus asa.
"Kita?" Ulang Laramidia. "Aku sudah mati, Naruto. Itulah tabir terkuat pemisah dua makhluk. Maut. Maut lebih kuat daripada segel apapun, tidak ada satupun bentuk kehidupan fana yang bisa menentang, membatasi, menghalangi, menunda, apalagi mencegahnya. Mati adalah sesuatu yang paling mutlak. Kau akan mengalami itu juga. Kelak, kalau kau beruntung. Sebentar lagi, kalau kau tidak mujur," ceramahnya.
"Jadi...maksudmu kalau kau masih hidup, kau bisa membantuku menghidupkan dia?" Tanyaku penuh harap.
Laramidia menggeleng. "Aku tidak punya kemampuan untuk mengakhiri kematian dan membawanya lagi ke kehidupan. Itulah yang disebut 'makhluk yang tidak sempurna'. Kita cuma bisa mengakhiri hidup, tapi tidak bisa benar-benar membuat kehidupan. Itulah kenapa Elemen Kayu merupakan jutsu terhebat sekaligus terlangka. Bahkan kayu-kayu itu tidak sepenuhnya hidup seperti pohon umumnya."
"Tapi aku butuh dia untuk membantu mengakhiri peperangan ini," sungutku. "Mana ada seorang Dracovetth tanpa naga?"
"Ramalan Besar Shinjuu," ucap Laramidia tiba-tiba. Seluruh tubuhku serasa baru dialiri listrik.
"Kau mengetahuinya juga," balasku. Sedikit mencerminkan kalau aku agak telmi, pasalnya Laramidia kan anak dari Horus dan Haumea sendiri. Eh, oke, ini melenceng dari pembicaraanku barusan.
Dia mengangguk pelan. "Waktu perjumpaan kita tinggal sebentar lagi. Mumpung aku sedang berbaik hati dan masih disini, tanyakan apapun soal itu."
Kesempatan emas. Aku wajib bertanya.
"Siapa yang dimaksud 'Yang Besar' dan 'Yang Wibawa' pada ramalan itu?" Aku melancarkan pertanyaan pertama.
Tidak butuh waktu sampai lima detik bagi Laramidia untuk menjawab. "Yang Besar, adalah keturunan pertama."
"Kaum Naga Kolosal?" Tebakku. Dia mengangguk.
"Yang Wibawa adalah..."
"...Keturunan kedua," aku menyambar. "Naga Gatpura. Iya, mereka memang tampak berwibawa. Meskipun beberapa diantara mereka punya otak yang sama besarnya dengan kacang."
Laramidia terkekeh. "Kupikir otakmu tumpul," ledeknya. "Nah, apa lagi?"
Aku terdiam sejenak. Seharusnya kusuruh dia menafsirkan semua larik ramalan membingungkan itu sekalian. Aku bimbang antara menanyakan delapan Drako, anak manusia, atau apakah yang dimaksud 'gagal melindungi yang terpenting' itu. Namun, sosok Laramidia Pinarralla berdenyar dengan cahaya putih menyilaukan seolah dia adalah bintang super raksasa merah yang akan meledak menjadi supernova karena kehabisan hidrogen dan helium.
"Waktuku sudah habis," bisiknya. "Nah, Uzumaki Naruto. Hentikan peperangan ini untukku," dia berpesan.
"Tunggu!" Cegahku. "Aku-masih-ada-satu-pertanyaan-LAGI!"
"Waktu terus bergulir," jawab Laramidia, "tidak peduli apa yang kita lakukan, waktu selalu berjalan. Tidaklah pernah dia berbalik, berhenti, bertambah cepat, atau bertambah lambat. Waktu adalah aset yang murah –karena setiap sesuatu yang punya nama, baik itu hidup atau tidak hidup, memilikinya. Semua memiliki waktu. Tidak pernah kehabisan. Dan waktu ini sendiri juga merupakan aset yang luar biasa mahalnya –ketika sebuah pilihan diputuskan, ketika pikiran-demi-pikiran terus berproses..."
"...ketika sebuah kesenangan datang, kau berlari meninggalkan waktu. Itulah mengapa waktu terasa cepat saat kau sedang senang. Saat sebuah kepedihan datang, kau berlari mendekati waktu. Itulah mengapa waktu terasa lambat saat kau sedang sedih. Waktu-lah satu-satunya yang mengiringi dunia dan seluruh Alam Semesta sampai kesemuanya lebur. Berhati-hatilah, Naruto."
"Telah kulalui berjuta penderitaan, berjuta tetes airmata, berjuta cucuran darah dan keringat. Telah kulalui jutaan rasa sakit. Rasa sakit itulah yang membuatku kian kuat dan kian dewasa. Itulah yang dinamakan sakitnya sesuatu yang tumbuh. Tentu tidak semua orang mengalami demikian, tapi jika kau hanya menjalani hidup dengan biasa-biasa saja, adem ayem tanpa satupun jalan berliku, tanjakan, atau turunan, kau takkan jadi apa-apa."
Dia berbicara begitu panjang lebar sampai aku tidak berkesempatan menghalau pembicaraannya di bagian manapun.
Hening sesaat.
"Kau memiliki kekuatan yang misterius," simpul Laramidia.
Aku mengangguk sekali. "Deavvara juga pernah bilang begitu."
"Bukan yang itu," koreksi Laramidia. "Kali ini benar-benar kekuatan, bukan sekedar perasaan dan kepercayaan untuk mempercayai."
Ia mengulurkan tangan kanannya, dan udara seolah melengkung dan membias, membentuk sebuah senjata yang sudah sangat akrab di mata dan ingatanku.
"Hiraishin Kunai?" Aku mengernyit. Dia mengangguk lemah.
Aku menerimanya, dan kurasa senjata ini sama persis dengan milik ayahku. Bagaimana bisa?
"Salinan," ucap Laramidia. "Tidak akan berfungsi sebagaimana Hiraishin Kunai pada mestinya. Tapi, alirkan chakra air-mu ke senjata itu, dan itu akan berubah bentuk. Alirkan chakra tanah, dan itu akan berubah lagi. Begitu pula api, petir, dan angin. Kelima chakra yang dialirkan akan menghasilkan lima bentuk yang berbeda-beda. Namun...senjata ini hanya bisa berfungsi jika kau memiliki salah satu dari Empat Pedang Legenda," terangnya.
"Nunboko no Tsurugi," jawabku otomatis. Dia mengangguk.
"Kusebut itu Erdeluna. Senjata itu sensitif," kata Laramidia sambil menunjuk Hiraishin Kunai di tangan kananku. "Jangan sampai senjata itu melukai dirimu sendiri, Naruto, atau kau akan mendapati luka yang tidak akan pernah bisa disembuhkan. Bukan masalah kalau cuma sekedar gores kecil. Lain cerita kalau Madara berhasil merebutnya dan balas menikammu."
Sosoknya bersinar menyilaukan. Tubuhnya memecah menjadi kepingan-kepingan seperti vas bunga keramik yang pecah.
"Dah, Naruto," bisiknya, terdengar begitu lega. "Sampai bertemu lagi."
Caranya mengucapkan itu agak aneh. Daripada memilih 'Selamat tinggal' dia mengucapkan 'Sampai bertemu lagi'. Aku menelan ludah getir.
Kenapa tidak Ardhalea saja yang mengucapkan itu sebagai kata-kata terakhirnya?
Tidak. Tidak hanya itu.
Sekujur tubuhku merinding hebat.
Aku sudah pernah mendengar suara itu sebelumnya. Entah dimana.
.
.
.
.
Kemudian pemandangan berubah kembali ke alam nyata. Madara sedang menarik sebentuk bayangan transparan dari perutku, yang makin lama membuat kekuatanku makin terbatas. Aku teringat kejadian barusan. Apakah Laramidia benar-benar mendatangiku dan memberikan sesuatu?
"Kurama," pekikku tertahan. "Tolong. Aku tidak bisa menyesuaikan lengan chakra-ku sendiri. Kau buatlah satu lengan chakra dan ambil satu Hiraishin Kunai di kantung belakangku!" Perintahku.
"Kau bodoh," Madara malah ikut menanggapi. "Shunshin secepat apapun hanya akan mempercepat nyawamu diambil."
Aku nyengir, merasa bahwa kali ini aku bisa mengecoh Uchiha sialan ini. "Gitu, ya?" Kataku, pura-pura cemas.
"Dapat!" Suara Kurama menggema di pikiranku. Satu lengan chakra meletakkan Hiraishin Kunai ke tangan kananku. Aku harus melakukan ini cepat-cepat sebelum Madara mendapatkanku.
Awalnya aku bingung. Apa yang mesti kukeluarkan? Tanpa pikir panjang kualirkan chakra utamaku –elemen angin, ke senjata istimewa itu.
Hiraishin Kunai meledak seperti petasan dengan bubuk mesiu, dan begitu asapnya menghilang aku sudah memegang senjata yang samasekali berbeda, yakni busur dan sebuah anak panah. Aku cengo. Sejak dulu memanah bukan keahlianku, tapi mengingat Madara cuma berjarak satu meter dariku sekarang, aku berani sumpah aku akan mengatakan diriku lebih bodoh daripada monyet kalau aku sampai tidak bisa menggoresnya.
Tidak ada yang salah dengan senjata ini sih –busur lengkungnya berbentuk artistik dengan warna hijau lembut, diukir dengan sisik-sisik naga dan ukiran pertarungan rumit lainnya, sedangkan panahnya sendiri berbentuk spiral, nyaris-nyaris mirip Uliran Samsara. Aku memasang anak panah ke busur dan menariknya panjang-panjang.
Madara tampak sedikit terkejut. Aku tersenyum puas. "Makan ini!"
Aku melepas anak panah.
Madara menyelimuti dirinya dengan Susano'o, tapi anak panah itu terus merengsek maju hingga meretakkan perisai perut jutsu itu, membuatnya terdorong jauh sekali ke belakang sampai menghantam sebuah batu besar hingga hancur, berputar-putar berkali-kali di tanah seperti gasing, kemudian tumbang.
"Wow, aku tidak pernah tahu kau jago memanah," puji Kurama.
Aku menggeleng. "Aku juga tidak pernah tahu. Tapi dengan Erdeluna ini...kita akan punya kesempatan untuk menang," kataku, dan aku mengalirkan chakra air ke panah yang masih kupegang dengan tangan kananku. "Kita akan tahu sampai sebatas apa kekuatan senjata lima elemen ini."
Busur ini meletus seperti terkena percikan kembang api, dan sosoknya berdenyar seperti lampu neon. Dalam waktu sedetik, aku telah memegang sebuah tombak sepanjang seratus delapan puluh sentimeter. Mata tombak ini berwarna putih mengkilap, memancarkan aura membunuh. Gagangnya sendiri berwarna biru muda sewarna laut, dengan ukiran ombak dan sirip-sirip aneh. Sekali lagi, aku kurang mahir menggunakan senjata semacam ini, tapi kuharap keberuntungan berpihak padaku untuk yang kedua kalinya.
"Air," desis Kurama. "Apa ini bisa menyemburkan semacam tsunami dari tanah atau apa?"
"Barangkali," sambutku, menggenggam tombak dan menancapkannya kuat-kuat ke tanah.
.
.
Tidak ada yang terjadi.
.
"Mungkin bukan begitu cara menggunakannya," cetusku kikuk. "Kau membuatku malu saja!"
Madara menghunus Taiyotsuki no Tsurugi. Pedang berbentuk lengkung itu bahkan sekarang terasa lebih mengintimidasi daripada Uliran Samsara.
"Tombak dan pedang," gerutu Madara, "bocah ingusan dan petarung yang lebih dari berpengalaman. Anak kecil pun tahu siapa melibas siapa," katanya pongah.
"Belum tentu," geramku. Aku maju dan melakukan gerak tipu, tapi Madara membacanya dengan mudah dan menyabet pedangnya menyusur tanah. Gelombang yang terbuat dari bebatuan langsung terbentuk dan melindas apa saja yang ada di depannya, meratakan beberapa pohon dan melontarkan lebih banyak batu raksasa ke sembarang arah.
"Curang," aku menggerutu, tapi segera menyabet tombak.
.
.
Tidak terjadi apa-apa.
"BODOH!" Teriak Kurama dari dalam tubuhku. "Menghunus tidak bisa, menyabet juga sama saja! Kau ini bisa menggunakan senjata tidak, sih?"
"Berisik," bisikku malu. "Bagaimana cara kerja benda ini?"
Gelombang batu makin dekat. Aku terpaksa melempar tombak tak berguna ini tepat ke jantung gelombang, dan...
.
.
Jutaan galon air membuncah, membasahi dan mengebor bebatuan. Gelombang tanah langsung larut bagai gula pasir yang diaduk di gelas berisi air. Pusaran-pusaran air terbentuk dengan cepat, memborbardir gulungan bebatuan berikutnya sampai habis. Yang tersisa setelah perjumpaan dua senjata itu hanya genangan air sebesar telaga kecil. Tombak itu bersinar lemah dan kembali lagi ke tanganku.
"Jadi kau hanya harus melemparnya," Kurama menyimpulkan. "Untuk jarak jauh."
Madara mendekat, armor Susano'o menyelimuti dirinya. Ini akan jadi lebih sulit, tapi tombak ini pasti ampuh juga untuk jarak dekat.
Dua senjata bertubrukan. Dinding angin yang menyertai begitu kuat sampai-sampai aku terdorong dua meter ke belakang. Tombakku berdencang keras saat mengenai armor Susano'o, tanpa menimbulkan bekas retakan sedikitpun. Lawanku menghunus pedang, aku terpaksa menghindar.
"Kau punya keunggulan dalam variasi," Kurama mengingatkan. "Coba ubah bentuk senjata itu lagi! Masih ada tiga bentuk lagi kan?"
Aku benci diceramahi soal apa yang mesti kulakukan, tapi naga ini ada benarnya. Aku memikirkan sesuatu, kemudian mengalirkan chakra elemen tanah ke Erdeluna.
Madara mengangkat tangan –tangan kedua Susano'o-nya. Cahaya biru berbentuk tali muncul dan mulai menumbuhkan bentuk-bentuk seperti angka 6 (atau 9).
"弥栄の勾玉!"
Yasaka no Magatama
(Magatama Yasaka)
Enam magatama, masing-masing sebesar mesin cuci, meluncur ke arahku. Aku mengangkat Erdeluna dengan tergesa-gesa.
TANG!
Keenam magatama menghantam dinding perisai tak kasat mata, tepat di depanku. Kusadari lengan kananku bertambah berat karena senjata ini berubah tepat waktu. Dari panah ke tombak, dia sekarang menjelma menjadi...kapak. Kapak besar bermata dua, berwarna perunggu kuningan. Gagangnya terbuat dari besi padat yang dilapisi kulit. Kapak ini lumayan berat –setidaknya sepuluh atau lima belas kilogram, tapi daya rusaknya pasti hebat.
"Hmph," Madara mendengus. "Kapak seperti itu takkan berpengaruh untukku."
Aku menghantamkan kapak ke tanah, yang segera meledak menjadi hunjaman batu-batu berbentuk kerucut. Tentu saja itu samasekali tidak berpengaruh pada perisai Susano'o yang bahkan bisa menangkis bom, tapi lumayan bagiku untuk berkelit ke belakang, dan memukul tengkuk Susano'o biru Madara dengan kapak.
Susano'o tersebut berbalik dan menyabetkan pedang. Kutangkis itu dengan kapakku, dan hebatnya, kekuatan kami seimbang. Kurasa bukan karena aku yang terlalu kuat, tapi karena kapak itu terlalu berat.
Kami mendarat dengan suara berdebum. Aku harus memanfaatkan situasi imbang ini sebaik yang kubisa –Erdeluna tidak membuatku mengeluarkan chakra terlalu besar, tapi daya rusaknya dahsyat. Ini jadi keuntungan terbesarku. Jika saja aku bisa melakukan Kagebunshin...
"JANGAN LAKUKAN!" Kurama berteriak begitu keras sampai-sampai kepalaku menggema.
"Apa!" Bentakku. "Kau hanya akan membuat tipe sakit kepala jenis baru, tahu!"
"Jangan lakukan!" Kurama bersikeras. "Jangan sampai menggunakan Kagebunshin atau Kawarimi no Jutsu ketika kau terikat dengan senjata itu, Naruto! Akibatnya akan fatal! Senjata itu sudah meresonansikan chakranya sendiri dengan chakra-mu! Daya hidupnya tersambung padamu! Jika kau menggunakan tubuh pengganti –lebih-lebih bunshin, senjata itu akan over! Kekuatannya akan menjadi begitu besar sehingga alih-alih melakukan serangan super ke musuh, itu akan meruntuhkan dirimu sendiri! Kau akan termakan oleh chakramu sendiri, runtuh ke dalam dan –BUM! Kau akan KABOOOMMM seperti bintang meledak!"
Aku menggaruk kepala. "Kenapa Laramidia tidak memberitahukannya?"
"Mungkin itu yang dimaksudnya sebagai senjata yang sensitif," simpul Kurama. "Yah, aku tidak muncul di mimpimu, sayangnya. Tapi aku mendengarkan semua percakapan kalian. Selalu ada resiko besar untuk manfaat besar, Naruto. Ingat itu, deh."
Aku mengangguk mengerti. Untung saja Kurama bukan tipe naga yang lugu-lugu amat, dan aku tidak keburu melakukan bunshin atau kawarimi satupun, syukurnya. Sekarang yang harus kulakukan adalah tetap mengubah-ubah bentuk senjata ini sambil terus mensinkronkan chakraku agar tetap seimbang dengan kadar di Erdeluna. Lebih rumit daripada Nunboko no Tsurugi, tapi tanpa pedang DNA ini aku takkan bisa melakukannya sesipil ini.
Madara bangun dan berjalan tertatih-tatih. Perisai Susano'o-nya hilang. Ia mengusap dagunya yang lecet.
"Tanah lemah terhadap petir," analisisnya. "Kau takkan bertahan dengan ini."
Madara mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi ke langit. Awan gelap bergulung diatasnya, dan sebuah kilat langsung menyambar tepat di tangannya, tapi daripada menggosongkannya, petir itu malah menggarpu seperti trisula dan terarah tepat ke arahku.
Batu penetral, gumamku. Aku pernah dengar penangkal petir di puncak gedung mengalirkan batangan besi jauh ke dalam tanah untuk kemudian dinetralkan oleh batu-batu keras. Aku harus mencoba –dengan kesempatan berpikir kurang dari lima detik!
Kuhantam kapak itu ke tanah.
DRAK!
Sebuah loadstone –batu besi berani setinggi rumah, mencuat dari tanah tepat di depanku. Petir tepat menyambar batu berwarna hitam keabu-abuan itu dan tidak terjadi ledakan samasekali. Petir itu telah dinetralkan oleh muatan-muatan listrik yang berlawanan dari bumi itu sendiri.
"Heh," gerutuku. "Horus dan Haumea memang saling melengkapi, bukan?"
.
.
.
Tanah melesak hebat, mengguncangkan bebatuan. Aku menoleh ke belakang. Rupanya kami berdua terlalu asyik bertarung sampai tidak memperhatikan Juubi yang sudah mulai memporak-porandakan pasukan aliansi. Ketujuh naga dewa mati-matian menahan makhluk raksasa aneh yang dikendalikan si Pria Bertopeng dan Zetsu Hitam di kepalanya.
Pria Bertopeng itu.
Dia dalang dibalik penyerangan Konoha 16 tahun lalu, tragedi yang menewaskan kedua orangtuaku. Sempat kupikir dia adalah Uchiha Madara, tapi jreng, yang asli berdiri di hadapanku sekarang, masih hidup, sehat, dan sangat kuat. Jadi siapa dia sebenarnya? Yang memiliki Sharingan dan kabarnya...jutsu aneh yang bahkan bisa melepaskan segel Droconos?
Aku terngiang kata-kata Laramidia bahwa Madara bukan otak dibalik rencana edan ini. Mungkinkah si Pria Bertopeng itu? Tapi di waktu yang sama Laramidia juga memberiku sebuah kata-kata 'Kau akan melihatnya'.
Akan.
Itu berarti, aku belum melihatnya. Kecuali dia mendadak datang lagi dan meralat soal itu.
Five Kage's Battlefield
"Kau bercanda," kata Onoki. "Sebuah anggar? Ini bukan Abad Pertengahan, kuno."
"Kemarilah," jawab sosok itu, tidak begitu peduli, "kusatai kau, kakek-kakek cebol cerewet nan keras kepala."
Muncul perempatan di dahi sang Tsuchikage.
"AKU ADALAH TSUCHIKAGE!" Bentaknya. "Berapa kali aku mesti mengatakan ini pada generasi menyebalkan yang berkepala batu!"
Si lawan mengeratkan pegangannya pada anggar, mengunusnya lurus-lurus. "Perhatikan ini."
.
.
SLAT!
.
LUKA menjalar puluhan kilometer lurus ke depan dari ujung anggar yang dipegangnya, membelah sungai, melubangi pegunungan, dan menggores padang rumput, gurun, dan bebatuan. Luka bumi itu tidak begitu lebar, hanya sekitar dua meter, tapi panjang luar biasa. Seandainya ada makhluk hidup dalam jangkauannya, dia pasti sudah tercerai-berai entah jadi apa.
"Aku bisa saja melubangi bulan dengan ini," pamernya. "Untungnya, sekarang benda angkasa itu sedang dibutuhkan."
Raikage menatapnya bengis. "Kau...bekerjasama dengan Madara?" Interogasinya.
Sosok itu mengedikkan bahu. "Aku tidak menyebut ini kerjasama."
"Hebat. Sekarang kita punya tiga musuh kuat untuk dihadapi," gerutu Gaara.
"Jangan pesimis begitu," sambut Tsunade. "Pasukan Aliansi telah berhasil menahan Juubi dan Madara serta Pria Bertopeng itu dengan baik. Aku menghargai kerja keras mereka, terutama Naruto –yang tak disangka berhasil menyatukan kembali Etatheon. Selagi mereka menumpas kejahatan disana, kami akan menumpasmu disini!" Tudingnya.
Sosok itu tertawa jahat. Tawa yang terdengar seperti...seorang wanita.
"Kalian ingin mati," tawanya. "Kalian sungguh-sungguh ingin mati. Hebatnya, kalian menemui orang yang sangat tepat."
Pedangnya berubah kembali, kali ini matanya melengkung ke satu sisi dan ujung gagangnya mengeluarkan rantai. Sosok misterius itu sekarang menyandang sebuah sabit besar berwarna sehitam malam, dengan api biru yang berkobar melapisinya. Rantai yang tampak sudah karatan dan rapuh mengikat di ujung gagangnya, terselempang ke si penggunanya.
Tidak cukup itu saja, kedua sayapnya yang asimetris berubah lagi –kali ini menjadi sayap kerangka berbentuk seperti balung jari manusia, hanya saja dilapisi kulit tipis seperti membran atau gorden berwarna cokelat kusam. Matanya menyala dengan warna merah darah. Tengkorak tampak transparan dibalik kostum pelapis kepalanya dan gigi-giginya terlihat, membuat seringaiannya saja sudah cukup untuk membuat seribu jendral terbaik di dunia lari tunggang-langgang.
"Aku adalah maut kalian," desisnya ngeri. Ia memutar-mutar sabitnya. "Pertama-tama, siapa yang harus mati lebih dulu? Bagaimana kalau kita mulai dari yang lebih tua?"
Onoki mendecih. "Salahkan dunia, tolol. Sekarang banyak orang mati muda," kilahnya sambil melirik Gaara dengan ekor mata.
"Waktunya serius," ucap Tsunade. Tanda di dahinya bersinar dan menjalarkan tato hitam ke sekujur tubuhnya.
"Ninpou: Byakugou!"
"Jutsu penyembuhan tanpa segel tangan, regenerasi tubuh secara cepat dan otomatis," selidik sosok misterius itu. "Sebagai cucu Hokage Pertama, ternyata kau tidak buruk-buruk amat. Akan tetapi..."
Sayap kerangkanya mengembang.
Raikage memercikkan kilat. "Lumatkan dia sebelum hal buruk terjadi!" Komandonya sambil melesat secepat angin. Tsunade melompat zigzag diantara bebatuan. Gaara terbang dengan pasirnya bersama Onoki, membidik dengan peluru-peluru pasir padat, batu superberat, dan elemen debu. Mei meregenerasi chakranya sebanyak mungkin untuk serangan-serangan kejutan.
Sang Mizukage meniupkan kabut. Tsunade merengsek masuk dan segera menghilang. Raikage menunggu di luar, sedangkan Gaara dan Onoki masih terbang di atas. Dentuman demi dentuman terjadi, dan selalu ada beberapa kerikil yang terlontar ke sembarang arah. Entah apa yang sedang terjadi di dalam sana, tapi tidak ada yang bisa masuk kecuali Godaime Hokage –karena kabut Mizukage kali ini adalah kabut korosi yang bisa meleburkan besi.
Begitu kabut menghilang, sosok misterius itu masih di tempat, dengan sayap tulang yang menaungi tubuhnya. Beberapa retakan tampak dan kulit pelapisnya sobek-sobek. Pukulan super Hokage bahkan tidak bisa memecahkan perisai aneh itu. Onoki membidiknya dengan Jinton.
"Percuma," keluhnya kecewa. Sosok hitam itu tidak terpengaruh, bahkan setelah diledakkan. Jinton tidak pernah tidak membunuh orang walau sekedar terserempet, minimal terbelah jadi dua. Tapi orang ini –dia bahkan tidak tergores! Raikage melemparkan shuriken petir beruntun, yang terus menabraki dan menghanguskan tanah di sekitar target. Namun hasilnya nihil, dia tetap berdiri tegak di tempat.
"Apa dia benar-benar manusia?" Marah Raikage sambil mengusap peluh. "Dinding baja sekalipun akan penyok kena seranganku!"
"Cuma ini, ya?" Selidik sosok misterius plus menyebalkan itu. Ia mendencangkan sabitnya ke sebuah batu. "Sekarang giliranku."
Ia memutar-mutar sabitnya, kemudian menebaskan bagian gagangnya. Rantai itu memanjang dan membelah, dalam waktu sebentar saja Kelima Kage telah terperangkap. Rantai membelit sekujur tubuh mereka, melemaskan mereka detik demi detik.
"Chakra kalian milikku," pongahnya. "Meskipun sepertinya jumlahnya tidak seberapa."
Ia mendekat, bersiap menghunjamkan sabitnya, namun benda tajam itu berdencang ketika menghadapi sesuatu yang sama kerasnya. Sebilah katana besar dengan desain yang elegan dan menakutkan menyambut sabit dengan timing yang tepat. Pemilik katana tersebut mendorong jatuh si sosok misterius itu dan menyerang, tapi serangannya hanya membelah batu.
Ia berbalik, dan dengan beberapa ayunan tangkas, rantai yang memborgol Kelima Kage hancur kembali.
"Jendral Mifune," kata Raikage berang. "Seharusnya kau mengomando Pasukan Aliansi bersama samurai-samurai yang tersisa!"
"Sepertinya kalian lebih membutuhkanku disini," jawab Mifune enteng. "Sekarang enam lawan satu. Aku pemain katana terbaik di dunia."
Si sosok misterius tertawa meremehkan. "Dan? Aku adalah pemain anggar, pedang, sabit, dan pembunuh nomor wahid di seantero Alam Semesta."
Begitu dia mengatakan itu, ia beralih memegang sabitnya dengan tangan kiri. Di tangan kanannya tumbuh kembali anggar yang sebelumnya hampir melukai Kelima Kage. Sayap kerangkanya menumbuhkan barisan pedang bermata satu seperti zanbato besar. Sementara, sayap kerangka satunya menumbuhkan duri-duri tajam seperti proyektil misil kecil-kecilan. Kedua lengannya menegang, dan kuku-kukunya tumbuh menjadi cukup panjang dan tampak begitu keras dan tajam seolah bisa mencacah kursi kayu jadi potongan-potongan kecil dalam waktu lima detik.
Mifune mengalirkan chakra penuh ke pedangnya. "Kau akan menyesal menghadapi kami!"
"Aku khawatir tidak," jawab sosok itu enteng. Ia melangkah maju dengan kecepatan biasa. Keenam lawannya segera berpencar, berusaha melakukan serangan besar dari berbagai arah menggunakan serangan jarak pendek dan menengah. Mifune mencincang ke depan, namun sosok itu merentangkan sayap kanannya, menghalau pedang tunggal sang jendral dengan sebuah zanbato besar dan memuntirnya. Kalau saja Mifune bukan ahli pedang, senjata itu pasti sudah luput dari tangannya. Ia berkelit menghindar dan menusuk sayap, yang sia-sia karena targetnya membentengi diri dengan duri-duri dan menghindar.
Raikage menyambut di depannya.
"LARIAT!" Raungnya dengan suara menggemuruh.
Sosok hitam itu menghunus anggarnya.
.
.
CRAAASSSS!
Bahu kanan Yondaime Raikage tertembus senjata berbentuk tusuk gigi itu hingga menembus punggung atasnya. Ia meringis menahan sakit, darah mengucur keluar dari luka yang untungnya tidak terlalu besar itu.
"Yang ini mungkin pahit," keluh si sosok misterius. Ia mengangkat anggarnya berikut Raikage ke udara dan membantingnya ke bebatuan, kemudian segera menghindar dari serangan bom pasir Gaara. Tsunade mengangkat sebongkah batu sebesar bus dengan satu tangan dan menjatuhkannya dari atas, tapi lawannya mengibas sabit beraura api birunya dan meledakkan batu itu menjadi ribuan keping. Dia hampir menyerang lagi kalau saja Mizukage tidak cepat-cepat menaburkan dinding lava pijar yang membakar secuil gaunnya, ditambah pukulan telak dari tinju raksasa Onoki.
"Raikage," gumam sang Tsuchikage. "Tetap grasa-grusu seperti biasa."
Kali ini, sang pemimpin Kumogakure lebih memilih diam. Tidak ada gunanya berdebat di tengah pertempuran sehebat ini.
"Musuh kita tunggal," sambung Gaara. "Tapi kekuatannya melebihi tiga batalion pasukan. Dia menguasai banyak elemen sekaligus dan juga dapat mengolah fisiknya menjadi bentuk-bentuk aneh," dia kemudian melirik Tsunade yang sedang sibuk menyembuhkan Raikage. "Anda tadi mengatakan bahwa chakra orang ini sangat kuno, Hokage-sama?"
Tsunade mengangguk pelan. "Mungkin dia tidak berasal dari masa ini. Sama seperti Madara. Mungkin...ada sesuatu yang telah membangunkannya, tapi bahkan kita tidak tahu siapa yang kita lawan," gerutunya. "Setidaknya belum," ralatnya beberapa saat kemudian.
"Kita serang saja wajahnya," saran Onoki. "Aku sungguh-sungguh ingin menghajar makhluk kurang ajar ini."
"Jangan gegabah," nasihat Mifune. "Kita harus tetap hati-hati..."
Sosok hitam itu membentangkan kedua sayapnya. Dua lusin batu sebesar kulkas melayang di udara, kemudian terbakar begitu saja. Ia melakukan gerakan menghentak ke depan, dan batu-batu itu merespon. Mereka terhentak dan berpacu menyerang keenam pemimpin aliansi.
Keenamnya bisa menghindari itu dengan tidak begitu sulit, tapi itu baru permulaan. Lawan mereka menumbuhkan kristal-kristal bening berbentuk panah, dan lusinan anak panah sekarang melesat dan melebur apa saja yang dikenainya. Berlian yang lebih keras daripada apapun yang ada di bumi, pasti bisa membunuh –Kage sekalipun- dalam hitungan detik.
"Kalian naif," ejeknya. Ia melakukan handseal.
DRAK!
DRAK!
DRAK!
Pepohonan dengan batang-batang selebar gorong-gorong kota besar langsung membeludak dari tanah, tumbuh dengan kecepatan luar biasa dan langsung melingkupi area itu dengan hutan dadakan, membuat suasana bertambah mencekam dan membatasi area pengelihatan keenam lawannya.
"Hyoton, Youton, Shooton, Shakuton, dan sekarang Mokuton," decih Gaara. "Hebat sekali."
"Aku suka pria yang suka memuji..." desis sosok misterius itu. "Tapi kau-terlalu-muda!" Bantahnya sambil mengayunkan sabit. Selusin pohon langsung tumbang dan terbakar dalam pijar api biru.
"Apa gunanya mencipta kalau kau menghancurkannya lagi," gerutu Gaara sambil menamengi dirinya dengan berton-ton pasir.
DUUUAAARRRR!
"Elemen peledak," sahut Tsunade. "Orang ini jelas bukan orang sembarangan!"
"Terkesan, ha?" Pamer si sosok misterius. Ia menghentakkan anggarnya ke tanah, dan dalam sekejap sebuah singgasana yang terbuat dari batu rubi seutuhnya muncul dari tanah. Awan bergulung-gulung mengerikan dan kilat menyambar-nyambar dengan warna berbeda-beda. Angin berembus kencang disertai hawa panas nan kering yang ganjil. Duri-duri kristal mencuat dari bebatuan yang juga terbelah-belah akibat pepohonan yang mulai tumbuh lagi, walaupun tidak sebesar tadi. Cekungan-cekungan terisi lava mendidih yang bergolak dan memercikkan beberapa batu panas ke udara. Hujan salju dan es menggemuruh turun dari angkasa, dan logam-logam berbentuk tak beraturan mendadak muncul begitu saja dari tanah dan melayang-layang, terbang tak tentu arah.
Mei tertawa pasrah. "Orang ini gila."
Onoki meneguk ludah. "Apapun ini...kurasa chakra ini jauh lebih kuno dan lebih kuat daripada yang pernah kurasakan sebelumnya. Orang ini...dia menguasai seluruh Kekkei Genkai dan lima elemen chakra utama! Dia mahir menggunakan berbagai senjata bahkan struktur tubuhnya sendiri luar biasa aneh," paparnya.
"Seingatku aku tidak pernah mendengar ada makhluk hidup yang bisa melakukan itu semua," simpul Gaara.
"Kecuali," potong Mifune, "dia adalah yang pertama dari semua, awal dari semua jutsu itu sendiri..."
Raikage mengepalkan tinjunya. "Untuk yang kesekian kalinya, siapa kau ini?" Geramnya dengan gigi bergemeletak karena amarah.
"Siapa ya?" Balas sosok misterius itu enteng. "Anggap saja...aku adalah bagian yang terlupakan dari sejarah. Atau ups, mungkin saja sejarah itu sendiri yang lupa mencantumkanku di dalamnya. Jadi ini bisa disebut pembalasan dendam atau semacamnya...tidak saja pada manusia, tapi pada dunia," ancamnya sambil menggesekkan sabit dan anggarnya.
Sosok itu mengangkat kedua senjatanya tinggi-tinggi.
"Mengaumlah, dunia-ku!" Raungnya dengan suara yang begitu menakutkan dan meyakinkan.
Petir sambar-menyambar. Segulung awan pekat meluncur turun dari langit dan meledak begitu menyentuh tanah, segera membentuk tornado raksasa yang mengisap apa saja –termasuk pepohonan, bangkai besi, dan gumpalan lava semicair.
"Angin ribut itu bisa meremukkan apa saja yang berada di dekatnya," sungut Raikage. "Dia memanfaatkan sifat alami tornado dengan udara bertekanan rendah yang mengisap semua benda ke pusat vorteks kemudian melemparkannya. Ancaman terbesarnya adalah benda macam apa yang dilemparkannya –dan seberapa banyak," katanya sambil menggaruk dagu.
"Melihat ini," tambah Mifune. "Kupikir tornado ini tidak bisa dihindari dengan cara apapun."
"Oh, tenang saja," kata sosok itu santai. "Kalian tidak perlu menghindar. Cukup diam dan nikmati rasanya," desisnya licik.
Bisa kurasakan chakra api mengalir ke kapak raksasa ini, dan sekarang dia bertransformasi menjadi sebuah pedang bermata ganda sepanjang kira-kira 110 cm. Gagangnya berukir pola api yang nyaman digenggam dan keseluruhan matanya seakan terbuat dari batu rubi terkeras yang pernah ada. Aku memaksa mengalirkan sedikit chakra api lagi dan pedang ini berpijar merah.
Madara menumbuhkan hutan lagi. Aku melesat maju dan memotong kayu demi kayu, terbakar oleh sentuhan pedang api Erdeluna. Kemajuanku cepat, dan kayu-kayu ini tidak ada masalah sampai dinding besi tebal menghalangiku. Kuhunus dengan Erdeluna, dan hebatnya, besi itu meleleh seperti tanur. Aku menyabet lagi dan menghasilkan sebuah lubang besar, tapi Madara telah menunggu dengan tinju kayu raksasa –yang langsung kubakar dengan pedang itu.
Aku mencincang ke dasar, tapi hanya membakar bebatuan. Madara melompat dan melemparkan puluhan kunai, yang kuhindari dan kutangkis dengan mudah. Aku merengsek maju dan membabat ke segala arah bersama tebasan api berbentuk liukan seperti ekor naga, tapi Madara membaca semua gerakanku dengan Sharingan-nya dan melakukan serangan balasan dengan Taiyotsuki no Tsurugi.
Bunga api tampak ketika kedua senjata kami bertubrukan. Nyala api di Pedang Erdeluna mulai meredup. Pedang matahari-bulan milik Madara sudah mengisap sebagian chakranya. Aku harus mengubahnya menjadi bentuk yang lain lagi kalau tidak ingin terjebak dalam posisi setimbang selamanya.
Cuma satu yang belum terpatri sekarang: elemen petir.
Aku berkonsentrasi dan mengerahkan chakra Raiton ke benda ini.
Denyut listrik terasa di tanganku. Begitu aku membuka mata, tampaklah senjata yang lain dari yang lain. Sebuah cambuk. Kali ini bukan cambuk tambang biasa, melainkan cambuk yang nyaris sepenuhnya terbuat dari kabel yang entah apa namanya, dengan listrik mematikan memancar dari sisi-sisinya, menyambar-nyambar seperti kabel raksasa yang terkelupas. Aku mencambuk ujungnya ke pedang milik Madara dan menyetrumnya selama beberapa detik, meretakkan baju zirahnya di bagian dada. Madara menebas ke depan dan aku menyambut dengan cambukan keras.
DAAARRR! Bebatuan terbang begitu petir dan logam bertubrukan, menghasilkan retakan yang menjalar di tanah. Aku terus mencambuk tanpa henti, berusaha tidak memberi kesempatan Madara untuk menyerang. Usahaku membuahkan hasil –Madara terluka di bahunya. Aku mencambuk lagi, tapi dia menghindar ke belakang dengan canggung.
Aku merubah bentuk Erdeluna kembali menjadi tombak. Kulempar itu tepat ke depan kaki kanan Madara dan menghasilkan pusaran air raksasa yang berpusing memutarnya, menghantam-hantam batu dan melemparnya. Secepat mungkin kuambil kembali tombak itu dan mengubahnya menjadi kapak. Aku mengayun tiga ratus enam puluh derajat, menghasilkan gelombang bebatuan tajam yang menggelora ke segala arah. Tidak puas dengan itu, aku mengubahnya menjadi pedang api.
Sebelum Madara pulih sepenuhnya, aku menyabetkan pedang sekuat tenaga ke depan, membakarnya dalam eksplosif yang besar dan panas. Aku akhirnya merubah Erdeluna kembali menjadi panah dan busur, menariknya, dan langsung meledakkan tembakan berkecepatan suara tepat ke Madara.
BUUUMMM!
.
Itu bukan suara panah yang kena sasaran, itu suara bebatuan yang berdebum dihantam kaki raksasa Si Jelek Ekor Sepuluh. Dia menyadari pertarunganku, dan sekarang makhluk terjelek di dunia ingin ikut campur urusanku. Aku memalingkan badan dan tanpa pikir panjang membidik matanya. Pikirku, mungkin tidak begitu sulit karena Rinnegan-Sharingan yang bercampur jadi satu tampak seperti papan target.
Aku salah. Panah itu melenceng jauh, tapi malah langsung masuk ke mulut raksasa Juubi, mendesing dan melubangi rahangnya selagi panah itu pergi ke sisi satunya. Si Ekor Sepuluh meraung, dan dia mengumpulkan chakra, memadatkannya dalam bentuk Juubi Dama.
"Tidak semudah itu, Idiot!" Pekik Hermes. Satu tembakan Ryuudama jitu mengenai Juubi Dama dan meledakkannya di tempat. Parthenon menyusuri tanah, menumbuhkan belasan Pita Glepnir yang melilit kaki dan ekor-ekor Juubi. Dari sisi kiri, Droconos telah mengumpulkan chakra yang membentuk Ryuudama ekstra besar, dan di sisi kanannya Pyrus telah melakukan hal yang sama. Si Pria Bertopeng menggeram.
"Jangan ikut campur urusanku!" Teriaknya sambil mengeluarkan puluhan shuriken raksasa dari...matanya. Dengan cara yang aneh, shuriken-shuriken itu mendesing melewati udara, namun segera dihalau oleh medan gaya Styx, yang langsung menyegel semua senjata itu dengan tanduk tunggalnya. "Abaikan semua!" Pekiknya. "SERANG!"
Awan tersingkir, dan kusadari Deavvara telah mengumpulkan Ryuudama raksasa juga. Beleriphon terbang mengitari si Ekor Sepuluh, mencincang-cincang kulit tebalnya dengan Jinton. Ketiga kakinya ambruk, dan Parthenon melepaskan ikatan Glepnir dan terbang menjauh. Pyrus, Droconos, dan Deavvara menembakkan ketiga Ryuudama raksasa itu bersamaan.
Seluruh arena perang berguncang hebat, menerbangkan apa saja yang berbobot kurang dari lima ratus ton (itu berarti hampir semuanya, kurang lebih) ke udara. Untunglah seluruh aliansi terlindungi karena pertahanan bersama dari Desa Iwagakure. Aku mengabaikan Madara dan segera berlari menuju timku –yang entah bagaimana sudah berhasil mengatasi naga kayu itu.
"Kau tampak kewalahan," ujar Ino. Matanya membeliak begitu melihat senjata aneh di tanganku. "Pedang apaan itu?"
"Oh, ini," aku kesulitan menjelaskan. "Saat Madara melakukan Ningendo, aku bermimpi bertemu dengan Laramidia, Keturunan Ketiga dari Horus dan Haumea. Kami berbincang-bincang di gurun raksasa pada masa lalu dan dia memberiku ini. Senjata yang bisa mengubah diri menjadi unsur pembela dari lima elemen," jelasku singkat. Terserah deh mereka mau percaya atau tidak.
"Apa ada yang disampaikan Laramidia?" Selidik Sakura. "Seperti...dia titip salam atau semacamnya..."
Aku menjentikkan jari. "Pria Bertopeng itu," kataku cepat, "kita harus membongkar identitasnya. Laramidia bilang bahwa...Madara bukanlah lakon dalam perang kali ini," kataku, berusaha seserius mungkin. Dahi mereka berkerut.
"Itu aneh," simpul Sasuke. "Madara-lah yang merencanakan Mugen Tsukuyomi. Dia memperalat manusia, naga, hampir semuanya. Bahkan mencoba-coba menggunakan Kaum Kolosal dan Naga Gatpura. Dia mencoba memperalat Hanzo dan seluruh Amegakure. Dia mencoba memanfaatkan Akatsuki," jelasnya sambil melirik Nagato dan Konan –yang mengangguk membenarkan.
"Memang," aku mengakui. "Tapi bagaimana jika dia benar? Bagaimana kalau ternyata ada seseorang yang berada dibalik bayangan, memanipulasi Madara dan semua orang, untuk menyetujui rencananya? Bagaimana jika Madara memang bukan dalang dari semua ini? Kita tidak boleh meremehkan pendapat Laramidia."
"Apa yang kausebut pendapat," sanggah Itachi. "Hanyalah hipotesa. Kita belum bisa membuktikan kebenarannya."
"Laramidia tahu segalanya," ucapku yakin. "Ehm. Oke, hampir segalanya. Dia bahkan bilang dia mengamatiku akhir-akhir ini. Kisah hidupnya menyedihkan, percayalah padaku. Dan kalian harusnya sudah tahu kan, bagiku mimpi tidak selalu sekedar mimpi. Itu adalah pertanda. Lagipula, sampai sekarang kita tidak tahu siapa sebenarnya yang bersembunyi dibalik topeng itu!"
Untuk sesaat, hanya terdengar suara bisikan. Sampai akhirnya Kakashi-sensei mengangguk, menyetujui ideku.
"Kita akan pecahkan topengnya," tekad Kakashi-sensei. "Ini tidak akan gampang, tapi dengan kerjasama tim, tidak ada yang tidak bisa kita lakukan."
Aku mengangguk semangat. "Pertama-tama kita harus mendekati Juubi."
"Tanpa terinjak," tambah Chouji.
"Iya."
Aku mengamati sosok setinggi seratus meter yang berdebum di hadapan kami. Di puncaknya tampak dua bintik kecil –Pria Bertopeng itu sendiri dan Zetsu Hitam. Mereka mulai kewalahan mengendalikan Juubi, yang mungkin akan bertransformasi menjadi bentuk ketiganya beberapa menit lagi. Itu jelas bukan berita bagus. Aku menengok sekeliling dan menyadari ada yang salah.
"Dimana Sara?" Tanyaku pada...yah, siapa saja yang mau menjawab.
"Dia pergi," jawab Sasuke cepat. "Bersama Artemis. Entah kemana, entah mau apa," sambungnya datar. "Kuharap dia punya rencana yang bagus."
"Mengerahkan seluruh bala tentara Rouran ke aliansi?" Tebak Kiba.
"Itu tindakan ceroboh," sanggah Hinata. "Sara tidak mungkin melakukan hal seperti itu."
Perutku yang mendadak terasa panas segera mengakhiri perdebatan, dan sosok Kurama menguar ke udara, mewujud sepenuhnya menjadi naga. "Ehm. Aku...tidak tahu apa yang terjadi," katanya kikuk. "Aku tidak berniat keluar, sungguh!"
Aku mencuhkan fakta itu. Sekarang fokus bagaimana caranya mengalahkan si Pria Bertopeng –minimal memecahkan topengnya.
"Markas memberitahu kita bahwa musuh punya jutsu yang unik," kata Kakashi-sensei. "Dia dapat membuat semua benda menembus tubuhnya, meskipun sepertinya itu hanya sekitar lima menit. Yang harus kita lakukan adalah bekerjasama dengan unit medis dan melakukan serangan beruntun berjangkauan luas dengan durasi lebih dari lima menit," jelasnya panjang lebar.
"Kita pasti bisa," Hinata menyemangati. "Ayolah. Sudah sejauh ini."
"Kau memiliki kekuatan yang misterius," sebuah suara mendadak bergema di otakku. "Jangan tunda dan gunakanlah sekarang. Kau tahu apa yang harus engkau lakukan."
"Laramidia," gumamku.
"Apa?" Selidik Shikamaru.
"Bukan apa-apa."
Aku berlari tepat ke arah Juubi yang masih meraung-raung tak terkendali. Selagi itu, aku mengais-ngais memori kembali soal restu Ardhalea. Aku bisa menumbuhkan sayap dan tanduk, juga Nunboko no Tsurugi yang berfungsi sempurna. Aku mengemban kepercayaan dari Laramidia untuk memegang Erdeluna, dan sejauh ini senjata itu menuruti semua keinginanku –melibas Madara. Nyaris, sih.
Ardhalea dan Deavvara dapat berubah setidaknya dalam empat wujud –manusia, naga, manusia-naga wujud sejati, dan naga wujud sejati. Aku adalah manusia. Dan sekarang aku bisa berubah menjadi manusia-naga. Wujud sejati, mungkin? Tapi...
...apakah aku bisa berubah menjadi wujud naga?
Tidak ada cara untuk mengetahui ketika mencoba. Aku berkonsentrasi, memikirkan wujud naga Ardhalea. Tanduk emas yang melengkung-lengkung indah, tanduk hidung berulir rapi, kerah leher...cakar kaki depan yang elegan, ekor ramping berotot, leher panjang...sayap kulit menawan...semuanya.
Dua ekor Juubi mendesing berusaha mengenaiku. Aku melompat –jauh lebih tinggi dari yang kuinginkan. Kakiku meninggalkan tanah. Aku merasa tubuhku melayang. Seluruhnya gelap. Kekuatan menjalari kaki dan tanganku, dan sayapku bertambah berat dan kuat.
Lenganku mengerut, mengecil, dan akhirnya menghilang –terdegenerasi kembali menelusup ke tubuh. Kedua kakiku bertambah besar, bertambah berat dan berotot, tiga dari lima jariku menumbuhkan cakar-cakar tajam melengkung berbentuk sabit, dan dua yang lain menggantung seperti ceker di belakang, dengan cakar yang sama tajamnya. Sayapku kian besar dan bisa kurasakan bulu-bulunya menghilang, berganti menjadi sayap kulit yang kekar lagi kokoh. Taji tumbuh di pertengahan sayapku. Leherku memanjang dan bertambah kuat seribu kali lipat, disertai pandangan mataku yang kian jelas. Ada sesuatu di belakang tubuhku –ekor seperti cambuk yang berujung seperti anak panah. Tanduk tumbuh di hidung dan alisku.
Aku berubah seutuhnya menjadi seekor naga, terbang dengan kecepatan tinggi dan menggores tubuh Juubi dengan cakar kakiku. Aku membubung tinggi hingga berhadapan dengan si Pria Bertopeng –yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, dan langsung menghembuskan –apapun yang keluar dari mulutku.
Api.
Kobaran api berwarna kuning menjilat-jilat ke segala arah, membakar sebagia kepala Juubi dan memaksa mereka berdua untuk berpindah tempat dan melepaskan koneksi untuk sementara.
"Dasar Uzumaki," bentak Zetsu kesal. "Apa kita mesti menghalau dia dulu?"
"Mungkin," jawab Pria Bertopeng itu sekenanya. "Yah...kupikir tidak masalah kalau sekali-kali aku mengajaknya bertarung," ucapnya sambil melepaskan beberapa besi tabung berwarna abu-abu. Besi itu berdencang mengenai kulit Juubi dan aku menghindar, terbang.
"Siapa sangka Dracovetth sepertimu menyimpan begitu banyak kejutan," sergah si Pria Bertopeng.
Aku mendengus. "Kau kedengarannya tidak senang!" Ucapku. Yah, agak mengagetkan juga mendengarku berbicara dengan wujud naga seperti ini. Sebaiknya kulanjutkan gertakanku. "Lepaskan topengmu agar aku bisa melihat apakah wajahmu itu memang sedang frustasi!" Aku memprovokasi.
"Jangan memprovokasi lawanmu, Naruto," sahut Kakashi-sensei. Ia mengendarai Pyrus bersama seluruh Tim Paradox. Naga itu meledakkan empat bola berbeda warna yang menyerbu kepala Juubi. Aku turut menghindar, dan kembali menembakkan semburan api ke segala arah.
"Sasuke!" Seruku. "Berubahlah menjadi Yamata no Orochi!"
"Itu akan terlalu besar, bodoh," gerutu Sasuke. "Setidaknya tidak akan muat di kepala Juubi. Teruslah menyerang membabi-buta seperti itu sedangkan kami akan memfokuskan serangan ke si Pria Bertopeng," desisnya. Ia menghunus pedang, mengalirinya dengan listrik ribuan volt, dan melompat maju. Sakura turut mencabut pedang merah mudanya dari sarungnya dan terjun langsung ke kulit Juubi, memutus kabel-kabel sulur koneksi antara Zetsu Hitam. Ia menebas maju, tapi Zetsu Hitam menghalang-halanginya dengan akar yang terus mencuat keluar, menumbuhkan duri-duri beracun yang terbang sendiri.
Hinata menghalaunya dengan Kaiten. Putaran chakra mempertahankan keadaan mereka berdua sedangkan Sakura bisa terus maju. Kakashi-sensei dan Sasuke mendarat bersamaan dan langsung berhadapan dengan si Pria Bertopeng.
"Corak topeng yang bagus," puji Sasuke setengah hati. "Tapi kau menodai nama baik Klan Uchiha. Sayangnya, kau tidak pantas mengenakan topeng semacam itu, brengsek," ketusnya kemudian.
Si Pria Bertopeng tertawa pendek dengan nada mengejek. "Uchiha muda yang masih polos...belum mengetahui apapun tentang dunia. Kemarilah, bergabunglah bersama kami. Kita akan wujudkan dunia tanpa pe-"
DUAK!
Aku menyabet si sialan itu dengan ujung ekorku, tapi walhasil itu cuma menembus tubuhnya dan aku hanya menggores kulit kepala Juubi.
"Hei, jangan memotong pembicaraan orang," kata pria itu santai. "Kita akan wujudkan dunia tanpa peperangan dan perselisihan bersama-sama," katanya melanjutkan 'pidato'nya yang terpotong barusan.
Sasuke mendecih. "Hanya orang gila yang mau bergabung denganmu," gerutunya kemudian menyerang, menebas sosok itu dengan pedangnya, namun sama saja. Dia menembus tanpa melukai sedikitpun, dan mendadak tangan kanan pria itu telah mencekik leher Sasuke, mengangkatnya ke udara, dan melakukan sesuatu padanya. Tubuh Sasuke seakan terisap ke suatu lubang semi-kasat-mata seperti air yang tersedot ke dalam pusaran, dan kemudian menghilang.
Aku terhenyak. "Kembalikan Sasuke!" Gerungku.
"Jangan khawatir," desis si Pria Bertopeng. "Aku akan punya koleksi mata baru yang bagus begitu aku selesai."
"Tidak akan pernah," geramku. Aku nyaris menghanguskannya lagi –entah berhasil entah tidak, tapi Juubi bergeser dan bergoyang, membuat pijakan kami semua labil dan melemah. Makhluk raksasa ini mengumpulkan chakra padat di ambang mulutnya yang jelek, menembak ke sembarang arah.
"Juubi bertingkah aneh," selidik Shikamaru dari bawah. "Kelihatan seperti...dia sedang mengincar sesuatu."
Kerucut hasil ledakan tampak jelas sekali di kegelapan, pendar cahaya silau yang lebih tinggi dari perbukitan manapun.
"Sampai sejauh itu?" Takjub Neji.
"Dia mengincar tempat yang jauh," Itachi menyimpulkan. "Jangan-jangan...?"
Si Pria Bertopeng kini menyedot dirinya sendiri.
Takkan kubiarkan kau pergi begitu saja wahai penyedot toilet.
Aku mewujud kembali menjadi manusia –entah bagaimana aku melakukannya, pokoknya dalam benakku aku ingin menjadi manusia, begitu saja. Kurogoh saku belakangku dan kulempar sebilah Hiraishin Kunai tepat sasaran ke lubang mata kiri lawan. Enak saja! Aku tidak akan membiarkannya kabur begitu saja!
"Naruto!" Seru Kakashi-sensei. Ia mengulurkan tangannya dan aku menangkapnya, walau kurang tahu apa maksudnya.
"Lakukan Shunshin!" Perintahnya. "Dan ikutsertakanlah aku!"
Aku mengangguk mengerti.
Sedetik kemudian, kami telah berada di sebuah dunia yang teramat aneh –mungkin dimensi yang berbeda. Seluruh langit berwarna hitam, yang biasa-biasa saja bagiku, tapi lantainya berwarna kebiruan dan bertekstur segiempat berbalok-balok. Di sebuah tempat yang mirip koloseum yang sudah roboh dan hanya menyisakan fondasi saja, terlihat Sasuke sedang bertarung dengan si Pria Bertopeng. Ini dunianya, jadi Pantat Ayam sekalipun kujamin akan kesulitan.
Setelah menendang Sasuke, pria itu berbalik ke arah kami. Kakashi-sensei terbelalak sampai mundur dua langkah karena terkejut begitu mengetahui pola mata orang itu.
"Mangekyo Sharingan itu," desis Kakashi-sensei dengan suara gemetar. Aku mau tak mau turut mengamati, dan aku bisa mengerti kenapa Kakashi-sensei begitu terkejut. Pola Mangekyo Sharingannya dengan pola Mangekyo Sharingan si Pria Bertopeng itu sama persis.
"Kau," tuding Kakashi-sensei, "darimana...kau mendapatkan mata itu?"
"Pada Perang Dunia Naga sebelumnya..." jawab Pria Bertopeng itu datar. Agak mengejutkan, karena tadinya kukira dia takkan menjawab. "Di Jembatan Kannabi...tempat dan hari yang sama ketika kau mendapatkan julukan Kakashi si Pahlawan Sharingan..."
Entah kenapa kata-kata itu membuat Kakashi-sensei merinding. Ia beringsut mundur selangkah.
"Kakashi-sensei!" Sentakku. "Aku tidak mengerti ada relasi apa antara orang ini denganmu, tapi kita harus fokus!"
"Disini?" Sergah Pria Bertopeng itu. "Mustahil," katanya meremehkan, dan ia menyemburkan bola api beruntun. Walau sedang berada di dimensi berbeda, aku tidak yakin bola api yang satu ini punya sifat yang berbeda juga dengan api pada umumnya.
Aku membalas dengan api yang lain –tubrukan dua zat yang sama-sama panasnya sehingga menerangi area kecil di dimensi yang tidak lebih terang daripada dunia nyata dimana matahari masih tertutup bulan. Aku dibuat terkesan dengan kemampuan Pria Bertopeng itu yang masih bisa menyemburkan begitu banyak api hingga nyaris membuatku kehabisan napas, tapi untungnya setelah beberapa detik dia menyerah.
Itu kabar baiknya. Kabar buruknya adalah dia perlahan mulai menghilang, tersedot kembali lewat matanya.
"Kutinggalkan sampah-sampah ini disini dulu saja," sergahnya, "biar kupikirkan cara membuang kalian nanti setelah Mugen Tsukuyomi aktif. Selagi itu, tetaplah duduk manis disini dan pikirkan mimpi terbaik kalian," lanjutnya datar.
Aku khawatir dia akan mencegah trikku sebelumnya, tapi masa bodohlah –kulempar Hiraishin Kunai lagi, dan dia menangkisnya dengan kipas anehnya yang berbentuk seperti gitar. Waktuku untuk memikirkan dan melakukan trik selanjutnya hanya beberapa detik sebelum kami ditinggal sendirian di tempat yang entah apa namanya ini. Aku melakukan kagebunshin dan melesat maju, masing-masing membawa Hiraishin Kunai dan melemparkannya bersamaan ke Pria Bertopeng yang sudah mulai luruh itu.
"Sasuke, Kakashi-sensei," bisikku. "Pegang bahuku."
Mereka melakukan apa yang kukatakan, dan –wus, dalam sekejap aku sudah berada tepat di belakang punggung Pria Bertopeng itu kemudian tanpa berpikir apa-apa lagi, JLEB!
Kutusuk bahu kanannya dengan salah satu Hiraishin Kunai, yang malah membuat proses teleportasinya makin cepat. Untung seribu untung, kami bertiga ikut terbawa. Untung yang lainnya, aku akhirnya berhasil melukainya.
Sasuke mencolek bahuku. "Sepertinya kita berada di tempat yang kurang tepat," cetusnya.
Aku menelaah sekeliling. Agak sulit mengetahui dimana kami karena mataku masih agak harus beradaptasi antara cahaya di dimensi lain, tapi aku segera mengenalinya dari obor-obor raksasa yang menyala dan lampu-lampu gantung berukuran jumbo. Bangunan bergaya Yunani Kuno dengan ukiran delapan naga, berdiri di puncak sebuah bukit besar. Kuil Etatheon.
Entah perasaanku sendiri saja atau apa, kuil itu tampak lebih suram daripada sebelumnya. Apakah kematian Paradox mempengaruhi aura kuil atau sejenisnya? Di saat yang sama, aku merasakan sebuah kekuatan yang sedikit...aneh, sedang bekerja tidak jauh dari sini.
"Kau sengaja pergi kesini dan menyerahkan kendali Juubi pada Madara," simpul Sasuke, memecah perhatianku pada masalah utama. "Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?"
"Kau berhasil melukaiku, Naruto," jawab si Pria Bertopeng itu, mengabaikan pertanyaan Sasuke. "Aku beri kau penghargaan atas itu. Sekarang izinkan aku menghancurkan bangunan tua tak berguna ini."
Aku menggeram marah. "Untuk apa? Membongkar beton-betonnya untuk dijadikan material loakan?" Ejekku. "Hei, pengumpul bangunan jauh lebih baik daripada penjahat kelas dunia kurang kerjaan, bodoh!"
"Bangunan ini telah terikat dengan sebagian kehidupan Etatheon," renungnya. "Kau lihat ruangan Paradox. Lampunya jauh lebih redup sekarang karena dia sudah mati. Simbolnya rusak. Jika ruangan ini dihancurkan dengan sengaja...Etatheon akan kehilangan sebagian kekuatannya. Itu akan membuat mereka lebih mudah dikalahkan. Mereka juga lebih sulit dikalahkan jika berada di kuil keramat ini."
Aku memaksa otakku berderap. Kekuatan Etatheon...terikat pada kuil? Aku sudah memiliki sedikit kekuatan Paradox itu sendiri, jadi...?
Aku berkonsentrasi, mencoba berubah menjadi naga lagi.
.
.
BERBEDA dari yang sebelumnya, yang kurasakan di sekitarku sekarang adalah energi alam murni –alam itu sendiri, tapi ini tidak terasa jahat dan dingin seperti energi Juubi. Terang dan hangat...seperti semua Etatheon. Sekarang wujudku adalah naga serupa Wyvern raksasa dengan sisik berwarna emas imperial. Gigi-gigiku berbentuk seperti pisau belati yang simetris, berwarna seperti titanium. Kulit sayapku berwarna perak dan cakarku mengkilat seperti batu obsidian hitam yang sudah dipoles sepuluh kali. Mataku tetap berwarna biru dengan pupil hitam bulat, sedangkan bagian sisik perutku berwarna perunggu, begitu pula dengan ujung ekor dan thagomizer-ku. Entah kenapa sekarang aku merasa begitu keren sehingga mungkin bisa membuat Oedipus iri.
"Wow," aku mengagumi diriku sendiri di pantulan air mancur. "Aku jadi jauh lebih bersemangat."
Kakashi-sensei dan Sasuke terpana, tidak mengetahui kalau wujud nagaku bisa begitu ekstrim. Yah, kuharap begitu. Si Pria Bertopeng masih menunjukkan ekspresi misterius, tapi tidak lama lagi. Bagaimanapun kami harus membongkar jati diri dan misterinya.
"Dua alternatif," celetuk si topeng tiba-tiba. "Pertama, aku menyuruh Juubi untuk menembak tepat ke kuil ini dan meluluhlantakkannya. Kedua, kubunuh kalian semua disini dan kuhancurkan kuil ini, batu demi batu, sendirian."
Aku menyeringai ganas. "Kau tidak akan sempat menyentuh satu batu pun!"
Hembusan napasku berubah menjadi api berwarna kuning. Ia menghindar ke samping dan mengibas kipasnya, mementalkanku –cuma dua meter ke belakang, dan aku menyabetnya dengan ekor, yang hanya melukai lantai kuil. Segera saja, aku menyadari pertarungan dalam ruangan akan membantunya alih-alih membantuku. Aku melirik Sasuke, yang mengisyaratkan hal yang sama. Ia mengambil sebilah Hiraishin Kunai yang tergeletak di lantai dan melemparnya jauh-jauh ke padang rumput beberapa ratus meter dari beranda kuil, dan tepat saat si topeng lengah, aku menyundulnya dengan kepala, dan langsung melakukan Shunshin.
Tidak ada gambaran di benakku yang mampu menjelaskan bagaimana seekor naga bisa melakukan jurus teleportasi, tapi nyatanya aku berhasil. Sekarang Sasuke bertugas mengamankan kuil selagi aku dan Kakashi-sensei bertarung melawan satu lawan yang sangat sulit dikenai –dalam arti sesungguhnya. Semua serangan kami hanya menembusnya seolah dia hanya bayangan atau hologram.
Lama-lama aku mulai lelah. Butuh waktu untuk terbiasa dengan wujud naga, tapi kami tidak ada waktu. Pria ini menghindari seratus persen serangan kami. Eh, seratus persen? Rasanya tidak!
"Kakashi-sensei," panggilku dengan nada berbisik.
"Dia tidak selamanya bisa menghindari serangan kita," balas guru bermasker dan berambut perak jegrak di sampingku.
Aku mengangkat satu alis. "Kok tahu apa yang ini kubicarakan?"
Kakashi-sensei mengedikkan bahu. "Analisaku bagus sekali, ya?" Aku hanya mengangguk dan membiarkannya meneruskan. "Saat kau menusuk bahunya dengan Hiraishin Kunai...itu adalah waktu dimana jutsu tembus-serangnya tidak bekerja. Saat itu dia sedang mencoba berpindah ke dimensi lain. Jadi dengan mengambil hipotesa sementara dari satu peristiwa ini..."
"...bisa kita simpulkan bahwa satu-satunya waktu yang tepat untuk menyerangnya adalah saat dia memadat ketika hendak melakukan Jikukan Ninjutsu, jutsu teleportasi."
Dia melirikku waswas. "Kau paham, Naruto?"
Aku menghentakkan satu kaki. "Anggap saja berada di dekat kuil ini membuat otak bagian analisaku bekerja sepuluh kali lebih baik."
"Kalau begitu tak masalah."
Si Pria Bertopeng menyedot dirinya lagi. Aku mendengus, berusaha untuk tetap membuatnya berubah pikiran untuk kembali ke medan perang atau ia akan merepotkan. Sayangnya seekor naga tidak bisa melempar apapun –karena kedua tanganku telah sepenuhnya berubah menjadi sayap.
Eh, bukannya itu mungkin bagus? Tanpa pikir panjang, kukepakkan kedua sayapku kuat-kuat dan kucondongkan kepala dan leherku ke belakang, membuat angin ribut yang merengsek ke depan dan menggagalkan aksi si Pria Bertopeng. Sayangnya, ia melakukannya lagi, dan sekarang mengeluarkan batangan besi-besi raksasa seperti paku yang dipipihkan, melesat ke arahku.
Aku kembali mengepakkan sayap, kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya sampai-sampai elemen anginku ikut andil, membuyarkan udara menjadi jalur-jalur pedang tak kasat mata, membelokkan arah semua senjata itu hingga menancap di tanah sebelum sempat mendekatiku.
"Restu Paradox benar-benar kuat disini," kagum pria itu. "Tapi apa kau sanggup menghadapi ini?"'
Dari tangan kanannya, menjulur sebuah akar yang mengunjam ke tanah. Untuk beberapa detik tidak ada yang terjadi sampai kusadari...dia sedang mengendalikan Juubi...dari jarak sejauh ini.
Cahaya merah tua terlihat di kejauhan. Aku yakin seratus persen itu Juubi Dama raksasa berbentuk bulat telur –nyaris benar-benar kerucut. Ditembakkan langsung dari mulut ekor-sepuluh yang berjarak berpuluh-puluh kilometer dari sini. Aku mengerutkan dahi, tapi tidak butuh waktu lama untuk memahami tindakannya.
Dia ingin menghancurkan Kuil Etatheon dengan serangan jarak jauh.
"Jangan khawatir, Naruto," Kakashi-sensei menenangkan. Ia memperlihatkan Mangekyo Sharingan-nya. "Aku telah menyimpan cukup chakra...untuk menghilangkan Juubi Dama itu dengan Kamui-ku!"
Sebentuk Juubi Dama terlihat dari kejauhan, meluncur seperti misil roket bertenaga beberapa megaton, menderu membelah udara, siap menghancurkan daratan sekitar menjadi kepingan-kepingan. Kakashi-sensei memfokuskan pengelihatan matanya. Seluruh dunia kini tampak kabur, tersedot ke dalam lubang antardimensi yang berusaha menghilangkan Juubi Dama sebelum dia menghancurkan target. Awalnya memang menunjukkan tanda-tanda kesuksesan dan tinggal menunggu waktu sebelum benda pembuat masalah itu hilang, namun...
...jutsu Kamui langsung berhenti bereaksi dan Juubi Dama tetap meluncur, hanya dengan kecepatan dua kali lebih lambat.
"B-bagaimana?!" Protesku. "Kakashi-sensei, apa yang barusan?"
Kakashi-sensei menggeleng. "Aku juga tidak yakin..." keluhnya. "Ini aneh. Aku yakin tidak ada yang bisa menghentikan Kamui sebelumnya."
"Hohoho," tawa Pria Bertopeng itu santai, "sungguh sangat percaya diri."
Tidak ada waktu. Aku terbang setinggi mungkin ke angkasa, berada segaris lurus horizontal dengan Juubi Dama. Kuubah tubuhku menjadi manusia bersayap dan bertanduk, dan segera kulempar sebilah Hiraishin Kunai. Tidak sulit mengenai benda sebesar itu, tapi aku harus cepat-cepat. Aku melakukan handseal dua kali lipat daripada saat melakukan hal yang sama dengan sinar radioaktif Zechuan di Sunagakure.
"Enyahlah!" Bentakku keras-keras, menyilangkan satu Hiraishin Kunai melintang diantara kedua telapak tanganku yang membuka ke depan. Memindahkannya ke...pengirimnya kembali.
BUUMM ! ! !
Aku tersenyum puas, hanya untuk tiga detik sebelum seluruh tubuhku terasa kesemutan sampai tidak bisa menjaga keseimbangan di udara. Aku meluncur bebas ke tanah, tapi Kakashi-sensei dengan sigap menangkapku. Kedua sayap dan tandukku pudar. Jutsu pemindahan dengan materi sebesar dan sepadat itu pasti memakan chakra yang tidak sedikit. Aku ngos-ngosan.
"Kerja yang sangat bagus," puji guruku sambil tersenyum simpul dibalik maskernya.
Menyadari ada yang tidak beres, aku menangkap bahu Kakashi-sensei dan membantingnya ke sisi kiriku dalam keadaan rebah, tepat sebelum si Pria Bertopeng itu menghunus sebatang besi berwarna abu-abu gelap, yang entah mencuat keluar dari mana, muncul begitu saja dari balik lengan bajunya yang longgar.
"Batang besi Rinnegan," sumbarnya. "Sentuh, maka akan mengacaukan pengelihatan. Tusuk, maka akan mengacaukan aliran chakra untuk waktu yang tidak sebentar. Satu saja sudah cukup untuk membawa maut," pamernya sambil memperpanjang tongkat besinya dan menyerang. Aku merengsek maju dan membentuk sebuah Rasengan.
Ini tidak bakal cukup, aku berbicara pada diriku sendiri. Aku harus mencampurkan Rasengan ini dan membuat varian baru, tapi apa?
Seluruh elemen rasanya ada dalam diriku sekarang. Yang harus dilakukan hanya...memikirkan, dan menggabungkannya. Hanya itu!
Rasenganku membesar. Anginnya bertambah kuat disertai aura abu-abu yang menjalar-jalar seperti awan. Bagian tengahnya, anehnya, malah berlubang, tapi aku tidak begitu terkejut. Beberapa kilatan kecil serupa kejutan listrik dadakan menghiasi pinggiran jutsu baru ini. Aku menarik napas dalam-dalam dan terus menyerang.
"Satu sentuhan!" Seru pria itu. "Dan kau akan kehilangan kemampuanmu memanipulasi Rasengan bodohmu itu."
Begitu dia mengatakan itu, kakiku serasa dipasangi barbel sepuluh kilogram. Punggungku seperti ditimpa anak badak. Pasti ini ulah Haumea. Petir menyambar-nyambar diatas kepalaku, bersiap menghanguskanku jadi resep manusia bakar yang gagal jika tidak mengenai manusia sok misterius yang terus mengoceh tanpa arti ini.
Masa bodoh. Aku menghentakkan kaki sekuat tenaga hingga gravitasi tambahan buatan Haumea terlepas, melayang di udara dan menghunjamkan Rasengan-ku ke Pria Bertopeng.
Tembus.
Untungnya aku sudah memikirkan ini sebelumnya. Segera sebelum Rasengan-ku menyentuh tanah, aku berbalik dan mendarat dengan kaki lebih dulu, kemudian melompat ke luar jangkauan lawan. Ia berbalik dengan gesit dan menembakkan beberapa bilah besi tabung. Aku menghindari semuanya, dan dia lantas melempar kunai peledak.
Untuk sementara, Kakashi-sensei hanya bisa jadi penonton ketika dia menyaksikanku menjeblak keluar dari tanah –jurus tipuan dasar, dan mengulurkan tangan kananku seolah ingin menghantamkan Rasengan. Daripada itu, aku memilih melempar Hiraishin Kunai-ku hingga menembus kepalanya, dan begitu kami nyaris bersentuhan, begitu besi tabungnya nyaris menusukku, begitu Hiraishin Kunai itu lolos dari jangkauan tubuhnya yang tembus...
...aku men-teleportasi diriku secepat mungkin ke kunai barusan, dan langsung menyerangnya ke punggung.
"破裏大螺旋丸 !"
Namikaze Rasengan
(Rasengan Badai)
DAAASSSHHH ! ! !
.
Bebatuan berhamburan ke udara. Debu mengepul. Lawanku kini terkapar telungkup di tanah dengan punggung robek. Serangan dengan taktik istimewa khas Naruto berhasil! (Tidak apalah sombong sedikit, kan?). Aku mendarat dengan sempurna sambil terengah-engah, tapi tidak akan kusia-siakan momen ini untuk melepas topengnya. Sebelum aku melakukannya, ia sudah bangkit dan menghindar.
"Sudah enam belas tahun sejak aku merasakan jutsu itu," desisnya. "Kau lumayan juga, DracoP."
"'Lumayan' tidak cukup hebat untuk menggambarkannya," koreksi Kakashi-sensei, yang membuat hidungku kembang-kempis.
Pria itu melakukan handseal. Aku mengambil kuda-kuda. Gerakan ini sudah kuperkirakan.
SLASH !
Aku berada tepat di belakangnya dalam satu kedipan mata, dan langsung menghantamkan sebuah Rasengan utuh...tepat ke topengnya yang tidak terlindungi.
"Siapa..."
"...sebenarnya..."
"...KAU?!"
.
.
PRANG
.
.
Topeng itu hancur berkeping-keping begitu digerinda bola elemen angin itu. Ia jatuh tersungkur ke belakang, dan sekarang tidak ada lagi tabir yang menghalangi kami melihat wajahnya. Kami akan segera mengetahui siapa dia sebenarnya...
.
.
.
BEGITU ASAP menghilang, wajah Kakashi-sensei-lah yang pertama berubah. Ia mundur tiga langkah, seluruh tubuhnya gemetaran. Aku hanya mematung di tempat. Yah...aku memang tidak mengenali siapa wajah ini, tapi menurut perkiraanku dia ada hubungannya dengan Kakashi-sensei. Seperti semacam teman lama, mungkin?
"K..k-kau..." ucap Kakashi-sensei terputus-putus. "Bagaimana-bisa-kau...?"
.
Biasanya, kalau ada laki-laki misterius yang menutupi wajahnya, itu bisa jadi tiga sebab: sebab pertama, dia adalah buronan internasional, sebab kedua, wajahnya begitu tampan –atau cantik- sehingga akan menimbulkan efek fangirling pada makhluk wanita terdekat, dan sebab yang ketiga, wajahnya terlalu jelek atau ada kekurangan besar di wajahnya itu. Dan yang kujumpai mungkin adalah alasan pertama...yang digabung dengan alasan yang ketiga.
Pria ini seakan memiliki dua wajah berbeda yang dipaksa bergabung jadi satu di tengah-tengahnya. Kedua mata Sharingan-nya membelalak aneh. Sisi wajah bagian kanannya berkerut-kerut dan seolah seperti terbuat dari kayu yang lembek, padahal sisi wajah sebelah kirinya tampak normal-normal saja. Rambutnya hitam pendek dengan gaya yang agak-agak mirip gaya rambutku, hanya saja lebih rebah. Bibirnya menyunggingkan cemberut khas derita. Aku meneguk ludah.
"Kakashi-sensei," panggilku. "Siapa dia?"
.
.
"Uchiha Obito," Kakashi-sensei akhirnya menjawab setelah semenit penuh terdiam. "O-obito..."
"Ha," pria bernama Obito itu memotong ucapan. "Sudah lama sejak terakhir kali ada yang memanggilku dengan nama itu."
Suaranya terdengar sedikit berbeda dari sebelumnya. Suara ini lebih pedih –menyimpan rasa sakit, dan lebih sinis, seolah Kakashi-sensei adalah Dracovetth paling payah di bumi. Aku mengertakkan gigi kesal, tapi tetap berusaha menahan diri.
"Bu-bukannya...kau...sudah..."
"Mati?" Tabrak Obito sarkastik. Ia menatap langit, memejamkan mata, dan tertawa terbahak-bahak layaknya penjahat terjahat. "Argumen yang amat sangat menyedihkan!" Gelegarnya. "Kau masih kuizinkan memanggilku dengan nama itu. Itu tidak penting bagiku," imbuhnya.
"Memangnya siapa dia?" Tanyaku, menyerobot.
"Dia teman sekelasku di akademi dulu," Kakashi-sensei menjawab tersendat-sendat. "Kami semua...mengira...dia telah tewas saat Perang Dunia Naga Ketiga di Iwagakure...tapi..."
"...kalau memang kau selamat, kenapa kau tidak kembali ke desa?"
"Tidak relevan apakah aku benar-benar selamat atau tidak," jawab Obito tak acuh. "Tapi jika kau benar-benar ingin tahu jawabannya..."
"...itu karena..."
"...kau telah membiarkan..."
"...Rin..."
"...mati..."
.
.
Keringat dingin mengaliri sekujur tubuh Kakashi-sensei. Kedua matanya membelalak. Aku menyadari kami sudah memasuki topik yang peka dari dua orang bermata Sharingan ini. Alangkah baiknya kalau aku tetap diam dan tidak ikut campur, untuk sementara ini, setidaknya.
"Ada apa dengan ekspresi wajah itu, Kakashi?" Ledek Obito.
"Kau...tidak menyalahkanku, kan?" Balas Kakashi-sensei tergagap.
"Apa yang akan kudapatkan apabila mengkritik kenyataan konyol itu pada saat ini? Aku tidak tertarik pada urusan di dunia yang akan segera tidak ada lagi.." katanya sambil menerawang jauh ke langit gelap, menyaksikan bulan yang masih terus menghalangi sinar sang surya.
.
.
.
"KAKASHI-SENSEI!" Teriakku. "Aku tidak tahu apa urusanmu dengan orang ini, tapi tidak ada waktu untuk bersedih! Kita bisa membicarakan ini nanti. Sekarang waktunya menghentikan orang ini lebih dulu!" Sentakku.
"Dia benar," mendadak Sasuke mendarat tepat di sebelahku, membuatku terperanjat. "Kakashi-san, sekarang saatnya mengesampingkan segala urusan pribadi dan melihat jauh ke depan," cetusnya. "Bagaimanapun kita harus mengalahkannya. Nasib dunia dipertaruhkan dalam pertarungan kita bertiga kali ini."
Aku mengangguk menyetujui. Sasuke melanjutkan. "Saat ini setidaknya, selain Juubi, terdeteksi tiga musuh superior dari markas: Madara, Obito yang ada di depan kita, dan satu sosok misterius di Gurun Shii Woong, dimana kelima Kage dan Jendral Mifune bertarung berusaha mengalahkannya. Kita akan memberesi ini dulu disini dan kemudian beralih untuk menginjak-injak Juubi," bongkarnya panjang lebar.
Alis Obito mengernyit mendengar 'sosok misterius'. Ia memasang kuda-kuda, bersiap mengayunkan kipasnya, tapi dia hanya menyarungkannya lagi ke punggungnya. "Terserah apa kata kalian semua. Pokoknya, segala realita akan berakhir sebentar lagi. Ingatlah...dimana ada cahaya, pasti ada bayangan. Selagi ada konsep pemenang, akan ada pecundang. Rasa sakit dan benci lahir untuk melindungi cinta dan kasih. Tapi sebentar lagi...hanya pemenang-lah yang ada di dunia! Hanya akan ada cahaya, hanya akan ada kebahagiaan..."
"DALAM MIMPI!" Potongku tak sabar. Obito terkekeh jahat, kemudian mengeluarkan besi-besi berbentuk tombak dari dimensi lain, tapi aku segera berubah menjadi naga dan menangkis semuanya dengan apapun yang kupunya. Logam berdencang saat bertubrukan dengan logam, semua batang besi tersebut jatuh ke tanah tanpa melukai siapa-siapa. Aku mengibas sayap dan menyembur untuk menghasilkan kerusakan ganda, tapi Obito menghindari semuanya. Oke, aku lupa kalau dia bisa menembus apapun!
"為火: 素光燃焼器 !"
Katon: Bakunenshoki
(Elemen Api: Ledakan Pembakar)
Gulungan api berbentuk silinder, mirip puluhan barel bensin yang dengan sengaja disulut obor dan berubah menjadi tangki api yang menghanguskan apapun dengan bau tak sedap, menggelinding ke arah kami, memanggang rumput dan bebatuan seperti api menyambar kertas kering. Aku mengenyahkan fakta tentang seberapa panas bahan bakar jika tersulut betulan, dan terus berdebum maju dengan cakar-cakarku. Emas, perak, dan perunggu di bagian luar tubuhku tidak terpengaruh apa-apa selain lebih mengkilap seperti baru diamplas.
Aku menerjang dan menerkam dan menendang dan menebas, tapi Obito dengan gesit menghindari semuanya. Ia terbang ke udara, meluncurkan besi-besi mematikan seperti peluru kendali tanpa hulu ledak, tapi aku menghalau semuanya juga. Tidak masalah meskipun segala macam perhiasan berharga yang menyusun tubuhku tergores-gores, yang penting aku bisa menangkapnya.
Api menyembur. Obito melompat tinggi ke udara dan nyaris menyembur juga ketika sekelebat bayangan menyambarnya dari udara, mengoyak punggungnya hingga kipasnya terlepas dan dia jatuh kembali ke tanah.
"Kurama," kataku. "Kau terlalu bersemangat."
Begitu mendarat, Kurama geleng-geleng kepala. "Mestinya kau bilang padaku kalau kau bisa berubah menjadi setumpuk naga perhiasan yang bisa bergerak juga seperti Oedipus, Naruto!" Kagumnya. "Nah, kugamparkan satu kali untukmu. Sekarang...empat lawan satu," katanya sambil meregangkan sayap dan leher. Aneh juga, beraksi bersama nagaku sendiri dalam wujud naga. Dua naga dan dua manusia melawan satu...manusia, barangkali.
Obito mendecih. "Dunia yang menyedihkan ini sudah tidak ada harganya," cetusnya dengan sikap egois plus sinisnya yang biasa. "Penuh dengan penderitaan! Semakin lama kalian hidup, kalian akan menyadari bahwa yang tersisa di dunia ini hanyalah rasa sakit, kepedihan, penderitaan, dan kegagalan!"
Begitu tiba di pengujung kalimatnya, ia melemparkan rantai-rantai beraura merah yang agak mirip dengan rantai yang memblokade kekuatan Etatheon sebelumnya yang keluar dari Gedomazou. Aku dan Kurama bersiap membawa Sasuke dan Kakashi-sensei untuk menghindar sekaligus serangan lebih lanjut, tapi...
.
BRAKK ! ! !
Secercah cahaya dengan kecepatan luar biasa seperti meteor kecil jatuh begitu saja dari langit, menebas rantai-rantai itu hingga putus dan terbuyar seperti debu, dan kemudian menjejakkan kaki di dekat kami berempat.
.
.
.
.
"Kelihatannya kau sedang bersenang-senang disini,..."
"...Obito."
Jantungku berdebar. Suara itu...rasanya aku tidak asing! Bahkan belum lama aku mendengarnya! Aku berkonsentrasi pada kedua telingaku, memastikan aku tidak salah dengar.
Begitu kepulan asap menghilang, yang kulihat ialah sosok yang tertutup dari ujung rambut kepala hingga ujung kaki, tertutup sepenuhnya dengan pakaian serba hitam dan dekorasi kematian. Beberapa bercak merah tua yang samar dan sedikit, menghasi beberapa bagian pakaiannya. Darah kering, mungkin? Sosok itu menyandang pedang di pinggang kanan sedangkan tangan kirinya menggantung bebas.
Sosok itu menatap kami nanar dengan mata berpendar cahaya kuning keemasan. Ia lantas melepas semua yang menutupi kepalanya satu persatu.
Aku merasa jantungku berhenti berdetak setiap satu penutup kepala melayang jatuh ke tanah.
Rambut pirang panjang bergelombang...
Kulit putih dengan wajah lonjong dan dagu lancip...
Mata emas itu...?
.
.
.
.
Bersambung...
Author's Note (2):
Chapter 23 selesai !
Okey, Naruto telah bertemu dengan Keturunan Ketiga Horus dan Haumea, Laramidia Pinarralla, yang menjelaskan sedikit soal sumber teror baru dibalik Perang Dunia Naga Keempat! Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Sungguhkah Naruto dkk akan melawan Obito? Lantas bagaimana kelanjutan pertarungan aliansi dan Madara? Tiga musuh terkuat telah bersatu...dan Ardhalea sudah tidak eksis lagi. Akankah mereka menang?
Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini ! Pokoknya ditengah-tengah kesibukan, akan saya usahakan update dan update !
Coming Soon: Paradox Chapter Twentyfour :
"The Last Apocalypse"
See you again in chapter 24 !
-Itami Shinjiru-
