Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.
Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara
Main Pair : NaruPara, KuraDeme
Slight Pair : MinaKushi, ShikaTema, KakaPaku, & NagaKonan
Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Action, Romance
Author's Note :
Jumpa lagi di chapter 24, readers!
Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Terimakasih, matur nuwun, arigato gozaimazu, thank you very much, syukran, gracias (*bungkuk hormat*).
Dengan ini saya sebagai author menyatakan jadwal baru update: setiap hari Selasa, dua minggu sekali. Tapi bisa mulur sampai hari Rabu atau Kamis jika situasi tidak mendukung. Karenanya, kemakluman Anda semua akan sangat saya hormati, oke?
Enjoy read chap 24!
PERINGATAN: SIAPKAN MATA ANDA! Di bawah, 16.000 words lebih tlah menanti!
PARADOX
パラドックス
Chapter Dua Puluh Empat:
The Last Apocalypse
Aku yakin setiap manusia punya momen ter-luar-biasa sepanjang hidupnya ketika dikejutkan oleh seseorang, dan aku merasa sekarang inilah saatku.
Aku mengenalinya. Kecuali kalau itu hanyalah satu dari dua saudari pengkhianat tak berhati nurani itu...
Aku begitu terkejut sampai-sampai tidak menyadari bahwa aku telah berubah sepenuhnya kembali menjadi manusia. Kurama melirikku heran, begitu pula Sasuke dan Kakashi-sensei. Aku sudah bisa membaca ekspresi aneh mereka, dan Kurama barangkali merasakan chakra luar biasa diatas batas normal makhluk hidup.
Aku menuding sosok baru itu dengan telunjuk kanan sedikit gemetar. "Laramidia?"
Dia menatapku intens, kemudian menyarungkan pedangnya.
"Uzumaki Naruto," katanya datar. Sedetik kemudian dia tersenyum lebar. Senyum yang begitu mengerikan sampai-sampai bisa membuat pemburu dan penakluk hantu tersakti sekalipun akan kocar-kacir atau malah pingsan di tempat. Dia tertawa kecil.
"Sudah kubilang, kan?" Selidiknya sinis. "Kita akan bertemu lagi. Pasti. Dan itu terjadi."
Kurogoh sakuku dan kukeluarkan senjata imitasi itu, Erdeluna, masih dalam bentuk Hiraishin Kunai. Menimbang-nimbang. Laramidia yang memberikan ini sendiri padaku dan begitu mempercayaiku. Dia bilang bahwa Madara bukan dalang dibalik semua ini. Kukira awalnya itu pasti Obito, alias Pria Bertopeng, tapi begitu dia muncul, aku mendadak punya pemikiran baru.
"Laramidia," kataku, berusaha sedapat mungkin menahan marah. "Apa maksudnya ini?"
Dia mengedikkan bahu, kemudian berdiri berhadapan denganku, mengabaikan tatapan aneh ketiga temanku. Ia tersenyum kembali, kemudian...mengembangkan sayap. Sayap yang aneh, yang terlihat seperti balung tangan manusia yang berlapis kulit tipis nan liat yang tidak sesuai dengan rangkanya. Sepasang tanduk seperti tanduk antelop tumbuh di kepalanya, dan kuku-kukunya yang sewarna gading menggelap menjadi seperti batu bara.
"Seharusnya aku berterimakasih padamu, tapi mengingat kau sebentar lagi akan mati, kupikir tidak terlalu ada gunanya juga. Memori seseorang tidak dibawa sampai akhir hayat dan itu hanya akan menyia-nyiakan waktuku saja," semburnya pongah.
Aku merekatkan peganganku pada Nunboko no Tsurugi. "Kau...?"
"Dasar payah," ejeknya. "Sudah kuduga kau memang bodoh."
"Jadi itu maksudmu," aku menggeram tanpa memberi kesempatan baginya untuk berkilah. "Pantas saja...pantas saja kau terdengar begitu yakin saat mengatakan kita akan bertemu lagi! Kau memperdayaku agar menggunakan Erdeluna, padahal itu hanyalah pedang bermata dua, kan?!"
Tanpa memberi aba-aba apapun, dia menarik keluar sebilah senjata –sebuah anggar sepanjang satu setengah meter, yang mengejutkanku karena selama aku hidup aku belum pernah bertarung dengan pemain anggar. Aku menepisnya dengan Nunboko no Tsurugi, tapi mata anggar yang begitu ramping dan kecil berhasil menyusup lewat sela-sela tangga pilinan pedangku dan nyaris menusukku jadi sate.
Laramidia menyerang. Kurama, Kakashi-sensei, dan Sasuke refleks melakukan serangan proteksi, tapi tidak ada gunanya. Dia menebas semuanya dan mengabaikan mereka seolah ketiga temanku hanya beberapa ekor nyamuk dan terus menerjang, menumbuhkan besi-besi raksasa dari tanah yang setiap ujungnya disisipi cairan kuning aneh, racun, barangkali. Aku sukses menghindari semuanya tapi kemudian dia memerangkapku dengan elemen kayu.
Aku menghunus Erdeluna, berusaha mengubahnya menjadi pedang api, tapi tidak ada reaksi. Aku menatap Laramidia curiga.
"Heh," ucapnya pendek, "mengesankan kau belum mati."
Baiklah, ini mulai membingungkan sekarang, tapi aku melirik Kurama dan dia mengangguk. Apa katanya waktu itu?
"Jangan sampai menggunakan Kagebunshin atau Kawarimi no Jutsu ketika kau terikat dengan senjata itu, Naruto! Akibatnya akan fatal! Senjata itu sudah meresonansikan chakranya sendiri dengan chakra-mu! Daya hidupnya tersambung padamu! Jika kau menggunakan tubuh pengganti –lebih-lebih bunshin, senjata itu akan over! Kekuatannya akan menjadi begitu besar sehingga alih-alih melakukan serangan super ke musuh, itu akan meruntuhkan dirimu sendiri! Kau akan termakan oleh chakramu sendiri, runtuh ke dalam dan –BUM! Kau akan KABOOOMMM seperti bintang meledak!"
Erdeluna terasa jauh lebih berat di tanganku. Apa mungkin senjata ini...?
Laramidia membuka tangan kirinya. Erdeluna melayang lepas dari tanganku begitu saja dan sekarang beralih ke tangannya.
"Kukira kau akan cepat-cepat menggunakan Kagebunshin," gerutunya, "pasti seru sekali melihat reaksi kalian ketika senjata ini merespon. Sayangnya..." dia melirik Kurama. "Yah. Tidak semua rencana bisa berjalan semulus yang kuperkirakan. Selalu saja ada variabel pengganggu dalam eksperimen-eksperimen yang ada...meskipun ada banyak variabel terkontrol yang sudah benar-benar tegap."
"Laramidia!" Teriakku dalam sela-sela belitan Mokuton. "Kau ini...sebenarnya...SIAPA?!"
Chakra oranye menguar keluar, tapi percuma. Elemen kayu bisa mengatasi bahkan chakra Etatheon. Aku mulai melemas.
"Kau benar-benar ingin tahu?" Ledeknya. "Kau begitu lugu dan polos...Uzumaki muda. Kau masih naif dan begitu gampang dipengaruhi. Begitu rapuh, rentan, dan sensitif...kau bahkan meledak-ledak pada Deavvara –walaupun untuk waktu yang tidak lama, begitu menyadari Ardhalea telah mati."
Aku mengerutkan dahi. "Kau...mengetahui...semuanya?"
Laramidia mendecih. "Tentu saja, bodoh! Memangnya siapa yang mati-matian berusaha mempengaruhimu langsung dari kepalamu agar kau tidak mempercayai Deavvara sedetik pun?"
Tubuhku menegang. Pantas saja aku merasa sudah pernah mendengar suaranya sebelumnya.
"KAU!" Aku menunjuk tepat ke mukanya. "Kau...adalah suara aneh yang bergema di kepalaku saat Deavvara menitahkan Etatheon untuk bersatu, ya kan?!" Bentakku. "Kau mencoba mempengaruhiku!"
Dia mengangguk sekali. "Lalu kenapa?"
"Kau tidak bisa dimaafkan!"
Aku mencoba peruntunganku di dekat Kui Etatheon, dan setidaknya itu mampu menggores-gores elemen kayu hingga salah satu sulurnya patah. Kupaksakan sayapku terkembang dan menyemburkan api membabi-buta ke segala arah, langsung membubung tinggi ke udara dan bersiap membidik. Satu tembakan bola api ekstra besar akhirnya berhasil mengenainya (jangan samakan dengan realita. Nyatanya, aku mencoba dua belas kali baru bisa berhasil).
Aku mendarat dengan suara berdebum, mendencingkan cakar-cakar kakiku.
"Seharusnya kau pertimbangkan wujud 'naga'mu dalam pertarungan kali ini, bodoh," balasku. "Berani-beraninya menentangku dalam wujud manusia!"
Aku merasa menyesal sudah berkata begitu.
.
.
Laramidia menyeringai jahat, terlalu lebar sampai-sampai bibirnya tertarik ke belakang pipinya, dan rambut pirangnya yang panjang segera berubah menjadi abu-abu. Lehernya memanjang dan lapisan zirah tumbuh di bagian atas dan bawahnya. Kedua kaki dan kedua tangan berubah menjadi dua kaki –yang sedikit sulit kuinterpretasikan bentuknya karena kelihatannya sangat aneh.
Kepalanya mirip kepala kuda yang dipendekkan, dengan dagu ditumbuhi sepasang gading yang melengkung ke belakang seperti beliung. Tanduk berbentuk bulan sabit terbalik tumbuh di hidungnya, dan dua pasang lagi di kepala atas bagian belakangnya. Gading yang lain mencuat keluar melengkung ke atas di bagian rahang bawah bagian belakangnya, dan dadanya terbelah menjadi semacam mulut bergigi tajam dengan bibir aneh –yang kurasa seharusnya tidak ada disitu.
Kalau kau pikir aku sudah terbiasa dengan anatomi aneh setelah Ananta Shesha dan Juubi, kurasa naga yang satu ini akan membuat Juubi pada tahap kedua sekalipun akan tampak sangat normal. Kedua kaki depan naga ini tidak simetris samasekali, kaki depan kanannya kurus dan berujung pada lima jari seperti jari manusia yang ditumbuhi kuku superpanjang, bukan cakar. Kaki depan kirinya lebih kekar dan berujung pada tiga cakar melengkung berwarna batu bara, dengan bahkan dua ekor ular yang mendesis di pergelangan kakinya.
Yang lebih aneh lagi, kedua sayap di punggungnya juga tidak simetris samasekali –sayap kirinya adalah sayap kulit berujung duri seperti kebanyakan naga, tapi sayap kanannya seperti sayap burung nasar. Kaki belakang kanannya seperti kaki singa dengan enam sulur berduri tumbuh di pergelangannya, sedangkan kaki belakang kirinya lebih mirip kaki kuda bercakar. Ekornya yang panjang berujung pada semacam sengat berkait seperti tongkat listrik. Aku merasa aku sedang menatap makhluk yang sangat tua dan kuno, lebih tua daripada seluruh spesies naga yang ada, ketika bentuk-bentuk belum sepenuhnya ditentukan.
Laramidia menjilat bibir. "Nah. Aku tidak pilih-pilih makanan. Apa saja yang bisa dimakan, akan dengan senang hati kulahap."
Aku meringis. "Wow. Padahal, menu kali ini akan membunuhmu," gertakku. Aku mengembangkan dada dan menghembuskan api –lebih besar dan lebih cepat, lebih panas dan lebih lebar daripada api manapun yang pernah kusemburkan, dan Laramidia membalas.
Dia mengeluarkan api berwarna merah gelap, lebih menyerupai tanah lempung yang kejatuhan pewarna makanan daripada api, tapi itu pasti sangat panas sampai-sampai rerumputan dan bebatuan di sekitar lokasi benturan menguap, bersatu dengan udara bebas dan buyar entah kemana. Kuputuskan untuk tidak mengambil resiko. Aku melempar diri ke belakang setelah satu sentakan bola api –yang entah bagaimana berhasil menghembus mengenai tubuhnya.
Kurama menatapku dengan pandangan menyelidik. Aku menggeleng. "Terlalu kuat," bisikku. "Walaupun kita berdua menyatukan api, masih mustahil melawan semburan tunggalnya."
"TENTU-SAJA!" Seru Laramidia. Kulihat sekujur tubuhnya tanpa bekas luka gosong sedikitpun, walau aku cukup yakin apiku dapat melelehkan sebuah kompor gas. "Aku salah satu penyembur paling tua di planet! Cuma keturunan ketiga, tapi apa bedanya?" Protesnya.
Ia menerkam.
Kurama menghadang dengan cakar di tangan, tapi Laramidia menggaetnya dengan ujung ekor, memutar Wivere itu beberapa kali di udara seperti cakram lantas kemudian melemparnya ke sembarang arah. Sasuke merengsek maju dengan listrik menyelimuti seluruh tubuhnya, berusaha membangunkan Susano'o berlapis petir. Laramidia menghindari tinjuan pertama dan memegang kerangka Susano'o Sasuke dengan kedua sayapnya, lalu membantingnya di tanah sampai bebatuan pecah. Ia beralih padaku.
TRANG!
Kami berdua berguling-guling mengacaukan padang rumput, saling baku hajar satu sama lain, walau sepertinya aku bakal kalah. Belum apa-apa dia berhasil menanggalkan satu gigi titaniumku dan memegang tanduk hidungku, lalu membantingku ke tanah dan disusul satu sengatan keras di perut yang menggores logam pelindungku dan membantingku lagi ke arah yang berlawanan.
Aku meringis marah. Tidak, aku tidak berusaha sejauh ini untuk ini! Aku bangkit dan meraung, tapi di penghujung Laramidia memukul kepalaku dengan ujung ekornya, membuatku limbung dan menabrak sebuah pohon. Ia mencincang ke depan dan aku menghindar, tapi ekornya segera membelit pohon barusan dan mencabutnya, mengayunkannya padaku. Kugigit pohon itu dan kupatahkan jadi dua, tapi dibaliknya naga bengis itu menyemburkan apinya.
Panas tak terkira langsung menyerang leher dan dadaku, seperti seolah disiram seember lava gunung berapi aktif. Seluruh napasku rasanya menguap ke udara, jantung dan paru-paruku larut dalam hawa api. Armor dada dan leherku penyok dan setengah meleleh.
"Berdirilah, Pahlawan Muda," desis Laramidia datar. "Aku tidak berlatih empat ribu tahun hanya untuk menghadapi bocah ingusan, bodoh, dan lemah sepertimu! Aku selalu mengira pengendara sejati Draco P adalah manusia yang kerennya bukan main, tapi yang kujumpai disini cuma...blonde Uzumaki cerewet yang hanya mengandalkan teman."
Aku bangkit. "Kau...benar-benar tahu segalanya soal ramalan itu?"
"Iya, bodoh," cetusnya kesal. "Horus dan Haumea, atau kalau kau mau aku menyebut mereka orangtuaku, mereka merahasiakannya dariku. Tapi rahasia tidak bisa dipendam selamanya. Itu akhirnya tersingkap, dan aku mengetahuinya. Ramalan itu jelas menunjukkan bahwa Yang Besar adalah Kaum Naga Kolosal, dan Yang Wibawa adalah Naga Gatpura, alias kakak-kakakku. Yang Tunggal. Aku memikirkannya selama berpuluh tahun, dan meyakini bahwa itu pasti keturunan ketiga, tapi masih ada kakakku Niaka dan adikku Hi'iaka. Jadi..."
Gigiku bergemeletuk menahan amarah. "Kau...membunuh mereka? Kau memalsukan kisahmu padaku?! Kau bilang kau-lah yang jadi korban mereka berdua!"
"Hah! Aku tidak selugu itu. Kubunuh Hi'iaka saat usianya masih lima puluhan tahun, sedang sendirian dan tidur. Niaka mengetahuinya beberapa jam kemudian, setelah yang tersisa tinggal tulang belulang dan beberapa bagian tubuhnya yang terlalu liat untuk mengisi perut, dan dia menanyaiku. Aku mengelak, tapi dia mendesak. Dan? Akhirnya kuberitahu dia sejujur-jujurnya dan dia marah besar. Kami berduel seru selama beberapa menit, dan aku menang. Kubuang mayatnya dalam bentuk naga setelah kucerai-beraikan jadi sepuluh potong, ke berbagai penjuru dunia berbeda..."
"Kau memakan adikmu sendiri," potongku geram. "Dan memutilasi kakakmu sendiri! Mengkhianati kedua orangtuamu dan saudara-saudaramu hanya untuk sebuah kekuasaan! Kau monster!" Tudingku.
"Kau tidak mengerti," balasnya. "Ada berbagai hal di dunia ini yang tidak dapat dipahami dengan satu-dua kali kilasan. Aku telah mengalami dan mendapati jutaan kejadian berbeda, dan...semua itu tidak begitu berarti bagiku."
"Tapi kenapa?" Aku membantah. "Jika kematianmu hanyalah palsu dan kau masih hidup sampai sekarang ini...kenapa kau tidak berpihak pada kedua orangtuamu. Pada dunia? Itu akan jauh-jauh-jauh lebih berarti daripada memihak dirimu sendiri, Laramidia Pinarralla!" Sentakku.
Dia mencibir. "Pertama kalinya memanggil nama lengkapku dengan benar," sungutnya, "kuberi kau apresiasi atas itu. Selebihnya..." ia menggoreskan kuku-kukunya. "Kita selesaikan sampai titik darah terakhir."
Kami menyerang.
.
.
BUTUH WAKTU SERIBU TAHUN latihan bagiku untuk menyamai kemampuan bertarung Laramidia –setidaknya itu yang kupikirkan. Dia dengan gampang menangkis semua seranganku dan membalasnya dengan serangan yang berpuluh kali lebih kuat daripada seranganku. Rasanya seperti melawan puluhan naga raksasa sekaligus. Gerakan-gerakannya berbeda ketimbang naga-naga lain yang pernah kulawan, sulit bahkan mustahil diprediksi. Kuperkirakan dia menggunakan gaya bertarung model kuno agar aku tidak bisa membacanya. Tapi aku tahu siapa yang bisa.
"Sasuke!" Seruku. Dia mengangguk dan melompat ke punggungku begitu ada kesempatan.
"Emas dan perak adalah konduktor listrik yang baik," ujarnya. Ia mengeluarkan Chidori, dan menusukkannya ke punggungku. Seluruh tubuhku kini dialiri listrik seperti awan badai, dan sukses menyengat Laramidia beberapa kali walau untuk jarak menengah.
Musuhku kini mengubah tubuhnya menjadi wujud manusia –setengah naga lagi. Aku turut mengubah wujudku kembali menjadi manusia. Dia menghunus anggarnya, aku menghunus Nunboko no Tsurugi. Pertarungan sengit tak terelakkan. Aku untung-untungan berusaha mati-matian mematahkan anggar Laramidia, tapi senjata itu berbeda dari senjata lain yang kukenal –dia hanya punya satu titik tajam, yaitu tepat di ujungnya. Tepiannya berbentuk silinder tipis tapi sangat kuat, dan pelindung berbentuk mangkuk itu jelas-jelas membantunya. Ditambah bentuknya yang begitu aerodinamis menembus udara, melubangi tanah dengan begitu gampang hingga membuatku mulai kewalahan. Nunboko no Tsurugi berukuran jauh lebih besar dan pasti tiga atau empat kali lebih berat.
TRANG!
Aku berbalik dan melakukan handseal. Air membeludak membanjiri tanah, Laramidia menghalaunya dengan dinding batu. Aku melakukan Kagebunshin, sekarang jumlahnya puluhan, dan semuanya terarah. Nunboko no Tsurugi berlipat ganda. Sekarang saatnya melakukan serangan bertubi-tubi tanpa memberi celah, sedikitpun!
"Gempur dia!" Pekik salah satu bunshinku. Kontan belasan Rasengan berukuran sebesar bola basket terbentuk, menghunjam ramai-ramai ke satu target. Tinju-tinju batu granit dan bola-bola api serta tebasan angin, petir, dan air turut membantu.
"Kau tidak mengerti," sanggah Laramidia. "Kau benar-benar tidak mengerti."
Ia mengangkat anggarnya tinggi-tinggi. Pusaran topan bergelantung ribuan meter diatasnya, memancarkan cahaya biru kehijauan beraroma jahat yang kental. Anggar itu memanjang dan diameternya makin besar, tapi tetap berbentuk anggar. Piringan pelindungnya yang berbentuk setengah bola mendadak ditimbuli ukiran ular bersisik yang melingkar –sampai kepalanya menggigit ekornya sendiri. Aku mengenali simbol itu –entah darimana.
Jőrmungandr. The Midgard Serpent. Lambang dari...Kaum Naga Kolosal.
Kuperhatikan bagian gagangnya, dan itu tepat seperti yang kuperkirakan. Gagangnya membelok-belok seperti aliran air, dan ukiran sisik timbul berwarna emas mulai tampak. Itu bentuk umum dari Naga Gatpura. Bilah anggarnya yang seperti tusuk gigi pembawa maut itu tetap sama. Panjangnya sekarang sekitar satu setengah meter, dengan warna abu-abu mengkilap dan ujung lebih tajam dari seratus jarum.
Ia menancapkan anggarnya ke tanah.
Dalam beberapa detik setelahnya, aku menyadari bahwa membandingkan kekuatanku yang sekarang dengan kekuatan Laramidia yang sekarang tidak beda dengan membandingkan seekor Manidens dengan seekor Wyvern.
DARATAN TUMBUH menjadi tiga tonjolan raksasa, masing-masing tingginya setengah kilometer, dan langsung memuntahkan ribuan ton lava, debu, abu, lapili, bebatuan, dan bom vulkanis ratusan meter ke udara. Tanah yang kami pijak –dalam radius kira-kira sepuluh kilometer, terpecah-pecah oleh sungai lava pijar yang mendadak muncul entah dari mana, membuat daratan jadi terlihat seperti kepingan sereal yang mengambang diatas susu merah kental bersuhu dua belas kali lipat air mendidih.
SEDIKITNYA tiga puluh petir menyambar di udara setiap detik, masing-masing mencapai tanah dan menggosongkan apapun yang disentuhnya. Iringan meteor yang berpijar meluncur menuju bumi, berlusin-lusin jumlahnya. Ukurannya bervariasi mulai dari sebesar kerikil sampai sebesar bus. Kombinasi ini mendidihkan suhu langit hingga melonjak dua puluh derajat, membuat orang paling tahan panas pun merasa gerah.
Banjir yang kubuat segera mendidih, meluncur dan menguap saat bertabrakan dengan lava yang jumlahnya jauh lebih banyak. Seluruh bunshin yang kubuat langsung diratakan dengan serangkaian amukan alam katastrofik yang dibuatnya barusan.
Herannya (atau mungkin bodohnya) aku terus maju. Dengan satu Rasenshuriken di tangan dan kawalan dua bunshin, merengesek mengabaikan lava, petir, dan meteor. Aku melempar jutsu kelas-S itu sekuat tenaga, berharap setidaknya menggores lengannya.
Tapi itu harapan yang benar-benar terlalu berlebihan. Laramidia menusuk inti Rasenshuriken yang pinggiran pisau anginnya nyaris menggilas hidungnya dengan ujung anggarnya, menyerap jutsu angin itu dari intisarinya beserta chakranya hingga lenyap tak bersisa.
"Hanya ini saja?" Ejeknya. "Kurasa aku akan selesaikan ini sekarang."
Ia melirik Obito. "Mari kita berpindah ke tempat yang lebih seru. Kita hancurkan bangunan kuno ini setelah kita dapatkan bulan."
Obito mengangguk. Ia memegang sayap kanan Laramidia dan mulai melakukan Jikukan Ninjutsu. Terlalu cepat sampai aku tidak bisa melempar apa-apa. Mereka berdua raib begitu saja dari tempat ini, tapi tidak mustahil mengetahui tempat mana yang akan jadi tujuan mereka berikutnya. Pasukan Aliansi di arena pertarungan Juubi dan Madara. Sisa Tim Paradox ada disana, dan aku tidak yakin mereka bisa menangani satu makhluk hidup yang mampu membinasakan sebuah pulau dalam hitungan menit.
"Bagus," gerutu Sasuke. "Bagus sekali. Sekarang bagaimana cara kita ke medan perang? Kita bahkan tidak bisa mendekati Laramidia."
"Jangan khawatir soal jarak," dengusku. "Aku telah menancapkan satu Hiraishin Kunai di medan perang. Kita akan kesana dalam sekejap dan melawan putri ketiga Horus dan Haumea secara langsung."
.
.
.
Battlefield
Tidak butuh sedetik bagi kami bertiga untuk berpindah lokasi. Seperti yang kuperkirakan, Laramidia kini berdiri berdampingan bersama Obito, Madara, dan...Zetsu Hitam, diatas Juubi –yang telah mencapai bentuk ketiganya. Tidak begitu berbeda dari bentuk yang kedua selain dia kali ini lebih gemuk dan berisi, dan sepuluh ekornya lebih teratur. Dua tangan dan dua kakinya telah tumbuh dengan sempurna, tapi selain itu dia tetap jadi nominasi makhluk terjelek yang pernah ada di Bumi-versi-pengelihatan-Uzumaki-Naruto.
Ketujuh Etatheon sudah berantakan. Mereka terengah-engah, penampilan mereka kusut. Kulit Juubi penuh goresan dan Zetsu hitam sepertinya sudah diserang oleh semacam tebasan hingga menimbulkan bekas memanjang di sisi tubuhnya. Aku kembali berkumpul bersama tim, mencoba memikirkan solusi terbaik menghadapi lima makhluk paling menyebalkan di Alam Semesta.
"Singkatnya," Deavvara memulai pembicaraan sambil memainkan kumis kanannya yang putus setengah. "Kita sudah terpojok."
"Murid akademi kelas satu yang paling bodoh pun bisa mengerti itu," dengus Hermes. "Tapi itu benar."
Pyrus mengangguk. "Demi Eta Cariane, mana yang harus kita hentikan lebih dulu? Madara, pria setengah kayu itu, Laramidia, atau Juubi?" Gusarnya.
Aku menghembuskan napas berat. Nasib dunia sedang dipertaruhkan kali ini, tapi kami mendapat tekanan bertubi-tubi: Kelima Kage dan Jendral Mifune dikalahkan oleh leluhur dari leluhurnya leluhur bangsa naga, ketujuh Etatheon tersudut, Juubi bangkit, dan Kakashi-sensei terguncang begitu mengetahui si pria bertopeng misterius itu ternyata adalah Uchiha Obito, teman sekelasnya dulu.
Sunyi. Aliansi membisu. Kami benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang.
"Ardhalea," aku menggumam sendiri.
"Kalau kau disini..."
.
.
"...apa yang akan kau lakukan?"
.
Ikut menyerah?
Atau kembali berusaha memompa semangat?
.
.
"Hanya menunggu waktu sampai markas dihancurkan dan Mugen Tsukuyomi terlaksana," desis Styx.
"Itu kalau kita menyerah," sambutku. Semua mata yang ada menatapku. Aku memberanikan diri bicara lagi.
"Kalau kalian menungguku menyerah...kalian akan menungguku selamanya. Paham?" Gertakku dengan penuh penekanan. "Bukankah sudah kubilang berkali-kali kalau kita ini manusia-manusia dan naga-naga pilihan? Kita bisa sampai sejauh ini. Musuh melangkah lebih jauh. Jadi apa yang bisa kita lakukan selain melangkah lebih jauh lagi?"
Aku membuat podium dengan tanah, berdiri lebih tinggi dari semua orang dan naga –yang semuanya sudah layu.
"Kita terdesak," kataku lantang. "Tapi kita belum menyerah. Kita belum kalah. Dan aku berani mengatakan bahwa kita tidak akan kalah!" Aku mulai membentak-bentak. "NASIB DUNIA ADA DI TANGAN KITA!" Aku mengacungkan Nunboko no Tsurugi tinggi-tinggi. "APA KALIAN MAU MENYERAH BEGITU SAJA?! MENYERAHKAN DUNIA DAN ISINYA YANG BERHARGA INI –YANG TELAH KITA PERJUANGKAN MATI-MATIAN SELAMA INI, PADA IMAJINASI TAK BERUJUNG?!"
Beberapa orang mulai kasak-kusuk. Bisikan dan gumaman mulai terdengar. Kurama mendarat di sampingku dan terkekeh. "Pasti tenggorokanmu sakit selesai memekik-mekik begitu," ujarnya. Aku mengedikkan bahu, hanya berharap semua orang terpengaruh oleh ucapanku. Aku bukan motivator dan rasanya aku tidak menyukainya, tapi...
.
.
"Usaha yang bagus," desis Madara –di belakangku. Pakaian tempurnya sudah berantakan, tapi dia masih sehat-sehat saja. Taiyotsuki no Tsurugi bersanding santai di pinggang kanannya. "Juubi akan berubah ke wujud aslinya beberapa menit lagi. Ketika itu telah terjadi, kalian hanya punya waktu lima belas menit untuk menghentikan proses transformasinya ke bentuk bunga mekarnya. Ketika itu telah terjadi...cahayanya akan terproyeksikan ke Bulan dan akan mengenai seluruh makhluk hidup di planet ini. Kalian tidak akan bisa menghentikanku dengan jangka waktu sesingkat itu, kan?"
Aku menghunus pedangku. "Pertarungan kita tadi belum selesai," tantangku, "aku menang 1-0. Bagaimana kalau kita bereskan sekarang, atau setidaknya buktikan kau mampu bersaing setara denganku, buyut Uchiha?"
Dia tampaknya tidak senang dengan panggilan buyut.
Madara menguarkan Susano'o-nya. Untungnya kali ini cuma sepinggang, tapi dia sepertinya serius. Mau tak mau aku harus bertarung dengannya lagi.
.
TRAK
.
JLEB
.
Ternyata itu tak perlu terjadi.
.
Ujung anggar itu mencuat dari dada kiri Madara. Pemiliknya telah menghunusnya dari belakang –menembus barikade Susano'o dengan mudah dan langsung menusuk targetnya tepat sasaran. Terlalu tepat sasaran.
Darah mengalir dari bibir sang Uchiha. Ia terkesiap, menoleh ke belakang dengan gerakan patah-patah.
"Ke-napa?" Katanya tersendat. "Ap-a...yang?!"
"Cukup, Uchiha," ujar Laramidia datar. Ia menusukkan anggarnya lebih dalam. Aura Susano'o biru mulai memudar. Aku dan Kurama mematung di tempat. Pengkhianatan antar sesama penjahat? Mestinya ini adegan menarik, tapi aku berusaha untuk tidak mengambil kesimpulan bahwa mungkin Laramidia akhirnya memihak padaku. Dia jahat. Aku harus mempertimbangkan seandainya kemungkinan itu ada, mungkin hanya satu persen diantara seratus.
"Apa maksudmu?" Geram Madara. Ia sekarang tidak berdaya, ditusuk seperti sate dari belakang tepat mengenai jantungnya. "Kupikir kita telah bekerjasama..."
"Aku tidak menyebutnya kerjasama," balas Laramidia, "tidak pernah, Tuan Uchiha arogan. Kuyakin kau juga menganggap hal yang sama. Kau tadi mengatakan 'tidak akan bisa menghentikanku' bukan 'tidak akan bisa menghentikan kami', kan? Itu bukti yang cukup kentara bahwa kau menginginkan seluruh dunia ini untuk dirimu sendiri."
Madara mendecih. Tanganku mengepal. Yah, memang sih sewajarnya antarsesama penjahat tidak akan pernah bisa rukun meskipun punya satu tujuan. Banyak yang bisa membuktikan itu.
"Kau tidak mengetahui apa-apa soal rencana ini selagi menyembunyikan dan merahasiakan keberadaan dirimu dari dunia," dikte Madara lirih, "bagaimana kau bisa tahu rencana Tsuki no Me hingga ke akarnya?"
Laramidia tersenyum sinis. Sebentuk tonjolan terlihat di sampingnya dan berangsur berubah menjadi Zetsu Hitam.
Madara membelalak. "Kau...?!"
"Maaf, Madara-sama," ucap Zetsu Hitam dengan nada tak bersalah. "Sayangnya, aku mungkin harus menghilangkan gelar itu darimu sebentar lagi."
"Zetsu Hitam...sebenarnya adalah sebagian dari kumpulan chakra diriku. Aku sengaja membiarkanmu menyimpannya dari dalam tubuhmu hingga kau bertemu Obito...dan sesuai perkiraanku, kau memberikan Zetsu Hitam untuk mendampinginya. Tidak...semua ini berawal dari akarnya."
"Tablet Batu Uchiha di Konohagakure..."
"...sebenarnya..."
"...adalah yang palsu..."
.
.
Aku menegang. Aku yakin Madara juga mengalami hal yang sama. Laramidia menyeringai menang.
"Kecuali beberapa bab, misalnya. Mungkin pasal tentang Perpustakaan Besar Alexandriana, tidak kuutak-atik. Tapi sisanya, iya. Aku sengaja menulis tentang sebuah super-genjutsu, jurus ilusi kolosal tingkat dunia yang dapat memerangkap tiap orang ke dalam mimpi indah selama-lamanya. Jangan salah, Madara, Naruto. Telah kupelajari ras kalian, ras manusia, secara mendetil mulai jasmani sampai rohani. Kutemukan kelemahan kalian. Nafsu. Cinta. Keinginan. Apapun yang ingin kalian sebut. Kalian semata-mata egois, arogan, mencintai diri sendiri, dan selalu menginginkan lebih. Itulah sifat dasar manusia. Manusia itu buruk. Tidak seperti naga. Kami ada dengan kebijaksanaan, kearifan, keadilan, dan keluhuran..."
"Kami tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kami mempunyai kekuatan. Manusia hanya peminjam yang tidak bertanggungjawab samasekali. Makhluk yang menyedihkan. Aku memanfaatkan kelemahan besar itu untuk merayu salah satu diantara kalian, untuk mewujudkan rencana dibalik rencana itu. Dan akhirnya aku berhasil menarik minat seorang Uchiha, seseorang dengan chakra luar biasa, kekuatan menakjubkan, dan tekad yang kuat. Itulah kau, Uchiha Madara."
"Kemudian aku memisah diriku, sebagian menjadi Zetsu Hitam. Kuberikan itu padamu, Madara...saat perjumpaan pertama kita, saat aku hanya mewujud menjadi seorang nenek-nenek tua yang sekarat. Kau tetap menyimpannya hingga kau mentransplantasikan sel Hashirama dan membangkitkan Rinnegan, sesuai dengan petunjuk yang kuberikan. Dan kau memberikannya secara tak langsung pada Uchiha Obito...yang meneruskan estafet rencana besarku yang terselubung sampai sekarang."
"Dengan memanfaatkan kalian, dua Uchiha haus kekuasaan, aku berhasil sampai kemari...kekuatan dari pelepasan energi Rantai Laeding dan pelepasan kedua orangtuaku kembali ke dunia, aku berhasil membebaskan diri dari belenggu ketiadaan dan menuju dunia fana dengan wujudku seutuhnya. Kakakku Niaka adalah sumber dari sebagian Kekkei Genkai –Mokuton, Shooton, Hyoton, Shakuton, dan Koton. Adikku Hi'iaka adalah sumber dari sisanya, Ranton, Youton, Meiton, dan Bakuton. Aku sendiri adalah sumber dari lima chakra utama: Suiton, Doton, Katon, Raiton, dan Fuuton. Dengan memakan sebagian atau seluruh tubuh kakak dan adikku, aku dapatkan semuanya dan menggabungkan tiga menjadi Kekkei Touta: Jinton."
"Kukuasai apa yang ada di langit dan bumi, menyamai kekuasaan Horus dan Haumea. Dan sebentar lagi akan kukuasai perasaan seluruh umat manusia, mengantarkan kalian beramai-ramai menuju kebinasaan!"
"CUKUP SUDAH BICARAMU!" Aku menginterupsi, berteriak keras-keras. "Sekarang jelas siapa yang harus kubunuh pertama kali."
Laramidia tertawa jahat. Ia merebut Taiyotsuki no Tsurugi dari Madara dan menusuk perutnya. Sosok Uchiha kelam itu berpendar, tubuhnya membentuk retakan seperti keramik yang diinjak beban yang terlalu berat. Perlahan tubuhnya meluruh menjadi kepingan, dan hilang ditiup angin. Binasa.
Aku melongo. Dia selalu kuanggap sebagai manusia terkuat yang pernah kuhadapi, tapi Madara sirna dengan cara yang sangat...tidak etis?
Laramidia menimang-nimang pedang barunya. "Taiyotsuki no Tsurugi. Matahari-bulan. Madara memang pintar. Kalau aku memanipulasi orang lain, belum tentu ada yang sampai seberhasil ini."
Berita baiknya: musuhku berkurang satu. Berita buruknya: Laramidia sekarang berniat membunuhku.
Laramidia menyerang, kini dengan Taiyotsuki no Tsurugi. Membabat habis-habisan ke depan, berusaha melukaiku tiap detik. Sebentar saja aku sudah kewalahan. Dia menyabet ke tanah, membeludakkan batu-batu ke udara. Aku berkelit ke samping kanan dan menghunus Nunboko no Tsurugi ke kakinya, tapi dia melompat cukup tinggi dan menebas senjatanya ke arahku. Aku menghindar dengan berjongkok hingga dadaku nyaris menyentuh tanah, kemudian melompat seperti kodok sambil mengayunkan pedang.
Dia menghindar, bersalto dua kali di udara sebelum mendarat dengan mantap ke tanah dan berbalik membuat gerakan meroda dengan pedang di kakinya. Aku menangkisnya dan balas menikam, tapi Laramidia menghindar dengan gampangnya. Ia praktis balas menghunus tapi aku mengunci mata pedangnya di sela-sela lengkungan DNA Nunboko no Tsurugi dan memelintirnya, berharap semoga pedangnya luput dari tangannya.
Tapi tidak. Ia balas memelintirku dan membuatku terbanting ke tanah. Laramidia menghunjamkan pedangnya.
CRAK !
Yang dihalau oleh pedang Susano'o Sasuke. Ia menatapku sinis. "Kau ini memang tidak bisa ditinggal barang hanya lima menit."
Selagi Laramidia belum mengatasi keterkejutannya, Sakura meluncur maju dan meninju pergelangan tangannya, membuat suara kretak seperti tulang patah, tapi dia belum melepaskan pedangnya.
"Gadis kuat," gerutu Laramidia sambil meluruskan pergelangan tangannya. "Ini akan menarik."
Kusadari seluruh Tim Paradox berkumpul di sekelilingku. Laramidia melemaskan leher dan mengeluarkan anggarnya, ancaman dobel bagi kami. "Nah. Ada bagusnya kalau kubunuh teman-temanmu dulu baru kemudian kita bertarung satu lawan satu. Pasti mengasyikkan."
"Tidak untukmu," geram Alis Tebal. "Karena Naruto-kun yang akan menghabisimu!"
Sakura menghunus pedang kristal merah jambunya. Pedang bermata dua simetris yang terbuat dari berlian –lebih keras daripada besi maupun baja. Sasuke mempersiapkan pedang ganda Susano'o-nya. Alis Tebal sendiri memainkan sepasang Soshuuga dengan ukiran naga. Hinata memutar-mutar belati sepanjang dua puluh sentimeter berwarna putih dengan pasangan rantai. Shikamaru, Ino, dan Chouji merancang formasi. Kiba dan Shino beserta jutsu andalan mereka masing-masing.
Pemandangan yang hebat, tapi aku yakin Laramidia lebih dari cakap untuk mematah-matahkan tulang mereka satu-satu. Mereka hanya akan lebur jika memaksakan diri bertarung dengannya. Lagipula, mereka belum melihatnya dalam wujud naga.
Tahu-tahu, pertarungan sudah dimulai. Sasuke yang pertama, merengsek maju dan menghunus sepasang pedangnya dengan kompak. Gerakannya begitu terkendali dan teratur karena Sharingan yang membaca pergerakan lawan. Dia lumayan hebat, bisa mengimbangi kemampuan bertarung Laramidia, hanya karena Doujutsu itu. Sakura menyerang dari belakang, mengincar titik buta si musuh, tapi Laramidia menumbuhkan sepasang sayapnya.
"Hinata!" Sakura berseru. Gadis bermata violet lembut itu meluncur cepat setelah diputar beberapa kali oleh Gatsuga Kiba, tepat menebas salah satu sayap Laramidia dengan Jyuuken belatinya. Selagi Laramidia menggeram marah, Sakura menghunus pedangnya ke leher belakangnya. Kuyakin dia berniat memenggal langsung musuhnya, tapi Sakura hanya berhasil 'memenggal' beberapa puluh helai rambut pirangnya. Laramidia berkelit dari tinju Sakura dan melompat ke atas Susano'o Sasuke, menggaetnya dengan satu tangan dan membantingnya ke tanah.
Tanah meletak terbuka, dan Alis Tebal muncul dengan semangat berapi-api, memukul-mukul dengan Soshuuga, tapi tidak ada satupun yang berhasil mengenai target. Atau mungkin itu memang hanya pengalih perhatian. Shino menyerang, mengerahkan ribuan ekor serangga untuk mengganggu konsentrasi lawan dan menyedot chakranya, namun Laramidia mengatupkan kedua tangan dan menampakkan kristal biru bersegi enam di tengahnya.
"Ledakan es!" Aku berseru memperingatkan. "Semua lari!"
Mereka menjauhi Laramidia secepat mungkin, tapi ledakan itu lebih cepat dari dugaanku...dan menjangkau area yang lebih luas.
Bom biru dengan miliaran bubuk berwarna biru tua keperakan meledak dengan Laramidia sebagai pusatnya, mengubah apapun dalam radius lima puluh meter menjadi es. Termasuk teman-temanku. Semuanya.
Hanya Kurama yang ada di sisiku. Aku mematung, padahal aku tidak terkena semburan esnya sedikitpun.
"Ceroboh," ujar Laramidia pendek. "Lihat patung-patung es tidak berguna ini? Mereka akan hancur sebentar lagi, dan jika itu terjadi...nyawa yang ada di dalamya juga ikut hancur. Sekarang kau kan menyadari betapa sia-sianya semua ini, Uzumaki?"
"Tidak," justru Kurama yang menjawab. "Akan kulelehkan kau seperti lilin!"
"Tahu diri sedikit, Wivere," ketus Laramidia. "Aku akan lebih dulu membuatmu dan Wivere betina yang satu lagi di Kuil Etatheon itu jadi patung es."
Aku mengernyitkan dahi. Demetra ada di Kuil Etatheon? Kenapa tadi aku tidak melihatnya?
Laramidia berubah wujud menjadi naga. Persis seperti yang sebelumnya kulihat. Kuputuskan kalau melawannya dalam bentuk manusia akan memberikan lebih banyak keuntungan, jadi aku praktis hanya menggenggam pedang dan Hiraishin Kunai-ku lebih erat, menumbuhkan sayap dan tanduk. "Mundur, Kurama," desisku, "kau naga terbaik yang pernah kumiliki. Kau harus...tetap hidup."
Ironis sekali karena kudengar sendiri suaraku bergetar dan terdengar pesimis. Aku menelan ludah kecut. Laramidia terkekeh, kemudian tubuhnya mendadak berubah menjadi gelombang tak kasat mata.
Dia menghilang.
"Teknik kamuflase sempurna," gumam Kurama. "Sedikit sekali naga yang bisa melakukan itu. Keturunan Keempat, maksudku."
Byakugan atau Sharingan barangkali berguna. Tapi aku tidak punya Doujutsu, dan satu-satunya yang bisa membantuku sekarang adalah Sennin Modo. Tapi dengan berdiam diri selama beberapa menit di tengah pertarungan memperebutkan nasib dunia, sama saja bunuh diri. Sebelum aku memikirkan solusi terbaik, sebuah pukulan berduri menghantam perutku dari sumber tak kasat mata. Aku terlempar dan membentur batu.
Suara tawa samar terdengar entah dari mana. Aku merasa seperti barusan dihajar oleh hantu –dan aku tidak menyukainya.
Aku bangun dan menyabet-nyabet pedangku ke sembarang arah. Jutsu ngawur. Masa bodoh deh, siapa tahu keberuntungan berpihak padaku dan secara tidak sengaja aku mengenainya. Itu pemikiran yang terlalu dangkal, karena lima detik setelah itu, kerah belakang bajuku tertarik ke atas seperti sedang digigit sesuatu, dan aku dilempar ke depan. Beruntung aku bisa mendarat dengan dua kaki, tapi setelah itu sebuah sentakan terasa di kakiku, membuatku jatuh terjerembab mencium kerikil.
Hebat. Melawan musuh yang tidak terlihat. Belum pernah ada yang mengajarkanku ini.
"Ayo, Naruto," sebuah suara terdengar lagi. "Kau ingin membunuhku? Sekaranglah saatnya, Pahlawan Pemberani."
Tak ada cara lain. Aku melakukan Tajuu Kagebunshin. Ratusan bunshin langsung muncul, dan mereka memandang ke segala arah.
"Percuma," suara itu eksis lagi, "menggunakan Kagebunshin andalanmu hanya buang-buang chakra."
BOOFF !
BOOFF !
BOOFF !
Belasan bunshin menghilang ditebas sesuatu. Yang lain mengkoordinasikan Rasengan dan serangan campur-campur lainnya ke arah tebasan tak terlihat itu. Sudah pasti Laramidia berada disana, tapi dia terlalu gesit sampai puluhan serangan beruntun dalam waktu yang bersamaan pun tidak cukup untuk mengenainya. Keningku berkerut. Ukuran Laramidia dalam wujud naga kira-kira sama besarnya dengan Ardhalea. Kenapa aku tidak bisa mengenai benda sebesar itu?
Terbang.
Bodoh sekali aku. Pemikiran itu baru terlintas sekarang. Seaneh dan se-asimetris apapun sayapnya, Laramidia tetap bisa terbang. Dia pasti sedang berada di udara sekarang. Aku merasa baru menemukan gagasan cemerlang, tapi acapkali itu datang terlambat. Sebentuk petir menggarpu dari udara kosong, menyambar tanah di depanku.
Aku terlempar ke belakang. Baru saja bangkit ketika satu lagi langsung menyambar punggungku, menggosongkan pakaian dan rambutku, mengisi tubuhku dengan listrik nyasar jutaan volt hingga membuatku tumbang lagi. Seluruh tubuhku mati rasa, dan bunshin-bunshin itu segera menghilang.
"Naruto!" Pekik Kurama dari kejauhan. Aku mengangkat tangan.
"Jangan," desisku lemah, "tetaplah...disitu."
Pandanganku berkunang-kunang. Diantara keremangan, kusaksikan Laramidia kembali mewujud menjadi kasat mata dan berubah ke bentuk manusia-naga, bersayap dan bertanduk.
"Pahlawan kita telah gugur," ejeknya. Ia mengangkat Taiyotsuki no Tsurugi dan tanpa menunda-nunda lagi menyabetkannya ke hadapanku, membentuk sebuah luka panjang dari dada kiri, melintang hingga ke perut sebelah kananku. Darah menetes. Aku merintih, tidak bisa bangun. Hanya untuk sekian detik sampai aku mencoba untuk bangkit, menopang berat tubuhku dengan dua tangan sekenanya, tapi Laramidia menarik kerah leherku dan memukul dadaku dengan gagang pedang, membuatku jatuh tersungkur ke belakang lagi.
"Barangkali Ardhalea salah," gumamnya. "Barangkali kau bukan pengendara sejatinya. Dia telah dibutakan oleh perasaannya pada kakaknya. Dia telah dibutakan oleh cintanya pada keluarganya yang kacau-balau dari awal. Paradox memang kuat, tidak dapat dipungkiri soal itu. Tapi dia lemah dari dalam. Dan satu-satunya kelemahannya pada waktu itu adalah...kau, Uzumaki menyedihkan."
Aku memukul tanah. "Jangan ejek dia," desisku lemah. Laramidia terkekeh mengerikan.
"Ardhalea terlalu lembek," dia masih menyombong. "Terlalu rapuh. Terlalu rentan pada perasaan...dia tidak pantas menjadi Par-"
DUAK
.
.
Laramidia terpelanting dua puluh meter ke samping, dihajar oleh bogem solo Deavvara yang telah mewujud menjadi manusia-naga. Sayap hitam kelamnya berkilauan menentang kegelapan. Mata ungunya berapi-api seperti obor. Rambut hitam sebahunya yang lurus berkibar-kibar heroik. Ia menatapku, membantuku berdiri.
"Tidak akan kubiarkan naga –atau manusia manapun, mengejek adikku, dasar kurang ajar," geramnya. Laramidia bangun. Aku sedikit terkejut dia tidak menyadari serangan barusan, tapi makhluk itu tampak tidak secedera kelihatannya. Laramidia menyarungkan Taiyotsuki no Tsurugi ke salah satu sayapnya dan menghunus anggarnya. Deavvara balik menghunus sabitnya, yang berpendar menakutkan diantara kegelapan gerhana.
"Horus dan Haumea. Kaum Kolosal dan Gatpura. Sampai keturunan ketiga mereka, semuanya sama saja. Merepotkan! Dungu! Kuno!" Umpat Deavvara seenaknya sambil memutar-mutar sabitnya. Perempatan muncul di dahi Laramidia, mengibaskan rambut pirangnya dan mengertakkan gigi.
"Maju, pengecut," gerutunya. Dengan sekali langkah dia sudah berada di hadapan Deavvara, tapi semangat bercampur kemarahan mungkin bukan sesuatu yang bisa dilawan dengan gerakan tiba-tiba seperti itu. Deavvara tepat menangkis bilah anggar lawannya dengan mata sabitnya, dan sekarang mereka seimbang.
Laramidia menghentakkan kakinya ke tanah. Gumpalan lava kental berkerak-kerak muncul dari tanah, membakar kaki Deavvara. Anehnya, dia tidak tampak peduli, dan justru membuka mulutnya lebar-lebar, langsung meluncurkan sebuah lembing yang segera menusuk bahu kiri Laramidia. Darahnya menetes untuk pertama kalinya, dan keturunan ketiga itu langsung berjengit ke belakang selagi Deavvara mengibas-ngibas kaki, menyingkirkan lava tanpa mendapati luka bakar sedikitpun.
"Aku bertahan dari Amaterasu," pamernya, "kenapa tidak bisa kalau hanya dengan lumpur menjijikanmu ini?"
Lembingnya muncul sempurna dari mulut. Yah, itu menjijikan, tapi sekarang dia punya dua seperti sediakala, sabit dan lembing –mungkin tombak.
Pertarungan kembali berlanjut. Seharusnya aku ikut, tapi rasa sakit yang hebat menjalari seluruh tubuh, membuatku nyaris tumbang lagi kalau saja Parthenon tidak menahanku dengan ekornya. Aura hijau herbalnya mulai menyembuhkan lukaku dan meredakan rasa sakitnya.
"Setelah kita selesai melakukan suatu urusan, lanjutlah ke urusan berikutnya," nasihat Parthenon. "Kita akan taklukkan Laramidia dulu, baru kemudian mengurusi Juubi, oke?" Aku hanya mengangguk pasrah. Kurama memandangku cemas, seolah-olah aku akan mati sebentar lagi, tapi mau tak mau itu membuatku sok kuat juga.
Hermes menubruk ke samping kami, terengah-engah.
"Gila!" Serunya. "Kupotong sepuluh ekornya dan mereka tumbuh lagi. Sungguh tidak mengenakkan."
"Kalian adalah Etatheon," Kurama menyemangati. "Sebelumnya aku minta maaf, tapi kurasa kekuatan kalian belum mencapai batas maksimalnya? Kenapa perbedaan kekuatan Deavvara dengan yang lainnya masih lumayan besar? Sejauh yang kuketahui yang terkuat diantara kalian berdelapan sebelumnya hanyalah dua pemilik julukan Paradox dan Ortodox. Bukannya-"
"Iya," Beleriphon menyahut tiba-tiba. "Paradox dan Ortodox bisa bekerja dengan kekuatannya sendiri. Tapi enam sisanya, yakni kami, bergantung pada mereka berdua. Naruto, Kurama. Kalian harus tahu bahwa...Etatheon akan bisa benar-benar mencapai kekuatan sejatinya saat berkumpul bersama dengan satu tujuan yang sama beserta kerelaan dan keikhlasan dalam hati," jelasnya panjang lebar.
"Kami tidak pernah bisa mencapai itu," Droconos mendadak ikut bicara dan mendarat, "karena sebelumnya kami selalu punya perbedaan pendapat. Tapi setelah kami bersatu dalam hati, yah, ada faktor lain yang menghalangi itu."
BRAKK!
Deavvara meluncur membentur empat pohon cemara sampai tumbang. Ia meringis marah. Tombaknya patah jadi dua. Sebuah lubang tampak di perutnya. Laramidia telah berhasil menusuknya dengan anggar terkutuk miliknya. Itu membuat nilai marahku jadi A-plus-plus-plus, tanpa pikir panjang langsung menghunus Nunboko no Tsurugi dan melempar Hiraishin Kunai ke kaki Laramidia.
Aku berpindah secepat kilat, mengabaikan sisa-sisa rasa sakit lukaku dan mencincang ke depan, membabat apapun yang ada. Laramidia memang hebat, aku tidak bisa mengenainya meskipun menyerang membabi-buta. Kucabut Hiraishin Kunai dan kulempar ke mukanya. Dia menghindar dengan kayang, membiarkan senjata itu melewati bagian atas wajahnya. Aku melakukan Shunshin.
Berpindah tepat ke atasnya, sepatu sandalku hanya berjarak dua senti dari hidungnya. Kulakukan hal yang lumrah dilakukan siapapun yang sedang marah pada seseorang –menendang wajahnya. Atau lebih tepatnya, menginjaknya hingga kepalanya terbentur ke tanah. Tapi ini belum selesai.
"Oodama Rasengan!"
JRAS!
Aku merintih. Kesepuluh kuku Laramidia berubah jadi sangat panjang dalam bentuk semulanya –yang lebih mirip sepuluh silet yang disambung-sambung. Tiga diantaranya berhasil menggores pahaku dalam, membuatku kehilangan keseimbangan. Sayapnya menghentak dan membabat perutku, membuatku terjungkal ke belakang dan menghilangkan Rasengan. Ia bangkit dan memutar badan, menghunus Taiyotsuki no Tsurugi.
Entah kenapa, saat itu aku berpikir cepat.
Hiraishin Kunai-nya. Senjata itu masih tergeletak tepat di sebelah kaki kanan Laramidia dan dia tidak menyadarinya. Sebelum dia menyadarinya dan mengambil langkah lebih jauh saja...
.
SLASH
.
AKU BERPINDAH seperti kilat tepat ke sisi kanannya dan langsung merebut anggar dari tangannya. Berpijak ke tanah. Laramidia tampak terkejut, tapi kemudian dia menyadari posisi Hiraishin Kunai-ku. Aku meringis antara sakit dan senang, langsung menghunus anggar sialan ini dari belakang, tepat ke dada kirinya.
Ekspresi ketujuh Etatheon dan Kurama mulai cerah.
.
.
.
JRASH
.
.
.
.
.
Aku membatu.
Sedetik kemudian, seluruh tubuhku dialiri rasa sakit luar biasa –yang berpusat pada diafragmaku. Aku memuntahkan darah. Untuk beberapa saat samasekali tidak kumengerti apa yang telah terjadi, tapi pandanganku mulai menjelas, dan bisa kusaksikan anggar ini...bilah dan matanya melengkung. Bukannya mengenai Laramidia dan menembus tubuhnya seperti yang kuinginkan, anggar terkutuk ini malah melengkung lagi ke arahku dan matanya tepat menusuk tengah-tengah diafragmaku. Aku jadi terlihat seperti sedang memegangi peniti raksasa.
"Kau tolol," sergah Laramidia pongah. "Anggar-ku istimewa. Dia takkan melukaiku. Dia mungkin bisa dipegang orang lain, tapi tidak akan bisa digunakan untuk melukaiku walaupun kau punya seribu satu cara untuk itu. Kau telah menusuk dirimu sendiri, Naruto. Itulah yang selama ini kau lakukan, tapi sayang, kau tidak pernah menyadarinya."
Anggar ini mundur, meninggalkan lubang di tubuhku, bentuknya yang melengkung lurus kembali, dan aku terjatuh. Anggar kembali ke tangan Laramidia.
"NARUTO!" Pekik Kurama. Tanpa bisa dicegah lagi dia melesat ke arahku penuh amarah. "KUGANYANG KAU, MONSTER!"
Laramidia menebas dengan Taiyotsuki no Tsurugi, langsung memisahkan kedua sayap Kurama dari tubuhnya, membuatnya hilang kendali dan langsung jatuh merengsek bebatuan. Laramidia menancapkan anggarnya ke tanah, dan rantai-rantai berduri berwarna hitam legam mencuat dari tanah, merantai ketujuh Etatheon termasuk Deavvara.
"Dasar konyol," rupanya dia belum puas mengejekku. "Bocah sepertimu...menyegel seluruh Kaum Kolosal di AEsir? Si Varan itu pasti mati tertawa, gara-gara melihat cara bertarungmu yang berkarat seperti logam yang didiamkan seratus abad!"
Dia memamerkan seringai ala malaikat mautnya...padaku. Diacungkannya anggarnya tinggi-tinggi.
"HARI INI," gerungnya. "DRACO P TERAKHIR AKAN MATI DI TANGAN PUTRI TENGAH KETURUNAN KETIGA HORUS DAN HAUMEA!"
Suaranya menggelengar jahat laksana auman gunung berapi yang sedang meletus. Bahkan mendengarnya saja sudah membuat telingaku panas dan seluruh tubuhku berbanjir peluh. Tulang-tulangku kaku, dan bahkan tubuhku tidak bisa bergerak samasekali. Satu tusukan, dan aku mati. Tidak ada yang bisa menyelamatkanku sekarang. Siapapun.
.
JADI INILAH akhir hidupku. Mati di tengah perjuanganku merebut dunia kembali. Mungkin aku akan bertemu dengan Ardhalea entah dimana, dan aku akan meminta maaf soal janjiku dan dia akan menghancurkanku jadi debu untuk selamanya.
.
Apa ini akhirku?
.
Apa aku gagal mengemban kepercayaan dari ayah, ibu, dan guru-guruku?
.
Apa tidak ada hal berarti yang bisa kulakukan untuk dunia?
.
Apa aku...sudah berguna?
.
.
.
"Delapan Drako akan selamatkan dunia..."
"Dipimpin oleh seorang anak manusia..."
"Yang menjadi belahan jiwa dari Sang Paradoks..."
"Namun pada akhirnya dia akan gagal melindungi yang terpenting..."
.
Persetan dengan ramalan. Aku sudah gagal. Atau mungkin bukan aku yang dimaksud si tua bangka Shinjuu itu?
Barangkali kedelapan Drako itu bukan Etatheon.
Dan barangkali Ardhalea akan bereinkarnasi kembali menjadi Paradox yang lain.
Dan barangkali pula seorang anak manusia lain akan datang dari dunia mimpi abadi Mugen Tsukuyomi dan menyelamatkan dunia.
.
Waktu terasa melambat bagai di agar-agar. Aku memejamkan mata, pasrah. Selesai deh.
.
Ayah.
.
Ibu.
.
Ardhalea.
.
Maaf.
Aku tidak bisa.
.
.
.
.
.
.
.
"Bulan dan matahari tlah bertemu
Pertaruhan nasib nyata ataukah semu
Seorang Uzumaki berbaring sendu
Akankah pada hatinya masih ada percaya padaku?"
.
.
.
Rasanya aku belum mati. Entah kenapa aku tahu, sih. Kubuka mataku yang serasa dipendam ratusan ton belek.
.
Satu meter di depanku, berdirilah sesosok manusia. Sepasang sayap berpendar putih perak seperti sayap angsa mengembang indah di punggungnya. Dia mengenakan pakaian berwarna perak yang senada dengan sayapnya, terbuat dari sutera dan beledu yang bukan main lembutnya. Rambut perak sepahanya berkibar pelan dicolek angin. Sepasang tanduk bercabang berwarna emas berkilau tegar di puncaknya. Dua tangannya yang kokoh memegang pedang berwarna emas imperial yang gagangnya dilapisi kulit, dengan pose seperti seorang pemukul bisbol yang baru saja mencetak home run. Sosok Laramidia tidak tampak dimana-mana, hanya bekas goresan raksasa di tanah, membelah semua batu dan berujung pada tebing tinggi sekitar empat ratus meter di depan, dengan retakan besar.
SEANDAINYA AKU SUDAH MATI, aku memaksakan diri jantungku berhenti sekarang juga. Tapi denyut nadi diriku sendiri masih kurasakan, meskipun lemah. Ingatanku belum luruh. Tidak mungkin aku tidak mengenalinya. Tapi...bagaimana bisa?
.
Ini mimpi.
.
Ini pasti mimpi.
.
.
"A..."
Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Aku melirik Etatheon, yang entah kenapa rantai-rantai hitamnya sudah putus semua. Mereka semua menatap sosok yang baru datang itu dengan pandangan seperti, 'Hei, ada malaikat yang sedang jalan-jalan ke dunia fana! Yuk, kenalan!'
.
Deavvara yang pertama berjalan maju.
Meter demi meter terlewati dengan hening. Sosok itu menyarungkan pedangnya lagi hingga Deavvara berdiri tepat di depannya. Mata ungunya berkaca-kaca.
"Ardhalea...?" Ucap Deavvara lirih. Sosok di depannya terdiam sepuluh detik, kemudian mengangguk sekali.
Deavvara merenggut tangan kanan adiknya. Membelainya hati-hati, seolah memastikan itu bukan mimpi atau hologram atau fatamorgana. Deavvara berlutut di hadapan adiknya, menumpahkan airmata. Ia mulai sesuggukan, menempelkan wajahnya ke punggung tangan adiknya yang masih berdiri dengan ekspresi datar –menurutku, karena aku hanya melihat mereka dari belakang.
BUK!
Ardhalea meninju pipi kanan kakaknya hingga menyisakan memar biru. Deavvara menatapnya senang sekaligus bingung. "Apa yang..."
Adiknya memeluknya erat-erat. Wajah Deavvara kini seluruhnya membiru saking eratnya.
"Kau kakak terkejam di dunia," isak Ardhalea di pelukannya sendiri. "Aku...aku bahagia mengetahui bahwa kau adalah saudaraku..."
Deavvara balas memeluk adiknya. Airmatanya mengalir tak terkendali, menangis haru. Barangkali untuk yang pertama kalinya setelah beratus-ratus tahun. Sebuah perjumpaan yang benar-benar mengesankan.
"Ardhalea...maaf..." bisiknya penuh sesal.
"Aku...aku memang salah. Kau adikku...kau keluargaku. Aku tidak akan pernah mau kehilanganmu lagi sampai kapanpun...kumohon maafkan aku."
Ardhalea mengangguk. "Aku sudah memaafkanmu."
.
.
"Kakak."
Sesuatu yang menakjubkan terjadi.
Lengan kanan Deavvara –yang sampai detik ini masih berupa tulang dengan otot dan tendon yang tampak tanpa kulit atau ligamen atau pembuluh darah atau jaringan lemak, perlahan mulai pulih kembali, menampakkan kulit putih yang klop dengan bagian tubuhnya yang lain dan terus membungkus lengannya hingga ke jari-jarinya, perlahan membentuk kuku yang utuh sempurna.
"Maaf, kakak," bisik Ardhalea. "Soal lenganmu. Sekarang kembali seperti semula, kan?"
.
Deavvara memaksakan diri tertawa walau sebentar. "Sudah lama sekali aku tidak mendengar itu."
"Ya," balas Ardhalea kalem, meraba tengkuk abangnya penuh rindu. "Semua akan berbeda. Terimakasih banyak...sudah...menyatukan kembali Etatheon. Sesuatu yang tidak pernah bisa kulakukan."
"Kau seharusnya bisa melakukannya," bisik Deavvara. "Kalau aku tidak melakukan...kau tahu maksudku, kan?"
"Pasti sulit untuk meyakinkan Naruto," balas Ardhalea geli.
"Lumayan. Ehm. Sebaiknya. Kau...temui dia."
Mereka melepas pelukan (atau mengambil napas, barangkali). Ardhalea berjalan pelan ke arahku dengan wajah tertunduk. Jantungku berdegup kencang, tapi mati-matian berusaha berdiri, mengenyahkan semua rasa sakit yang ada seolah aku lumpuh atas rasa sakit.
Rupanya sia-sia aku berusaha berdiri.
PLAK!
Aku terhuyung ke belakang. Ardhalea menamparku begitu keras tepat setelah dia ada di hadapanku, tapi sosok yang kurindukan itu secepat kilat langsung menarik kerah leherku yang sudah cincang ke arahnya. Mendekapku dalam pelukan erat. Wajahku memerah, sebelum kusadari aku mulai sesak napas.
"Kau tidak mati," desis Ardhalea terisak-isak. Airmatanya berlinangan selagi dia memelukku, menyandarkan kepalanya ke bahuku, kemudian beringsut ke dadaku, mendengarkan dentum jantungku. Airmatanya mengalir makin deras.
"Aku selalu tahu kau tidak akan mati, Uzumaki sialan," tangisnya bahagia.
Aku lupa bernapas. Aku lupa siapa namaku. Aku lupa bagaimana caranya berdiri dengan dua kaki. Kusandarkan diriku padanya. Kedua tanganku masih terlampau lemah untuk membalas dekapannya (semata-mata memberitahunya kalau aku baik-baik saja, oke? Walau itu salah, sih).
Lukaku perlahan sembuh. Begitu ajaib, hanya dengan berada di dekat Ardhalea sudah membuatku merasa jauh lebih baik. Begitu baik...
"Ardhalea," aku akhirnya memanggil namanya. "Ugh. Aku-tidak-bisa-bernapas!"
Ardhalea melonggarkan dekapannya, menatapku seolah-olah aku adalah patung emas dan berlian termahal di dunia. Tangan kanannya meraba dadaku, dan isaknya pecah lagi. Bahunya berguncang beberapa kali.
"Iya," kataku. "Aku...aku selalu tahu kau tidak akan pernah sepenuhnya meninggalkanku, Ardhalea..."
"Aku tidak pernah benar-benar meninggalkanmu," sambungnya sambil mengelap airmata dengan punggung tangannya. Ia hendak berkata sesuatu, tapi aku buru-buru menempelkan telunjuk tangan kananku ke bibir mungilnya.
"Ardhalea," bisikku lirih. "Boleh aku mengatakan sesuatu?"
Dia mengangguk.
.
.
"Terimakasih."
.
Ia mendekapku lagi, tapi tidak seerat sebelumnya. Mukaku terasa panas, tepat sebelum dia mendaratkan bibirnya setengah detik ke pipi kananku.
Aku merona. Ardhalea tidak menggubris dan terus berusaha menghapus airmatanya. Iris obsidian badai berwarna abu-abu gelap dengan pupil hitam legam yang rasanya sudah seribu tahun tidak kulihat itu menatapku penuh rindu, berkilat-kilat karena airmata.
Ia menangis lega di dadaku, melingkarkan lengannya sepanjang bahu dan punggungku. Kubelai rambut peraknya yang sehalus sutera, meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Ketujuh Etatheon mengerumuni kami dan bersorak bahagia. Mereka jadi kumpulan naga cengeng selama beberapa belas menit ini –Hermes menangis dramatis bersandarkan bahu Beleriphon (yang berkaca-kaca). Pyrus bahkan menitikkan airmata. Droconos dan Styx hanya berkaca-kaca, tapi ingus mereka sepertinya ikut keluar. Parthenon yang menangis paling keras.
Kurama bangkit. Ardhalea mengibaskan sayap penuh kekuatannya ke Wivere itu, dan sayapnya tumbuh kembali dalam beberapa detik, menggantikan sayap lama. Kemudian, bayang-bayang lain muncul dari langit, dan mendarat di dekat kami.
"Demetra!" Sambut Kurama girang.
"Hei!" Balas Demetra ceria, "kau masih hidup ternyata!"
"Kau pikir aku selemah itu."
Aku memutar bola mata. Jadi memang benar waktu itu Demetra ada di Kuil Etatheon, meskipun sepertinya dia dan Ardhalea sedang bersembunyi atau berada di sebuah ruangan tertentu yang tidak kuketahui dan –untung sejuta untung- tidak diketahui Laramidia juga.
Aku berdehem. "Tapi...bagaimana bisa? Kukira –kau sudah..." aku tidak melanjutkan pertanyaanku.
Untuk kedua kalinya, Ardhalea tertunduk muram, membiarkan helaian rambut peraknya jatuh menutupi mukanya.
"Artemis," desisnya.
"Dan Sara dan Ryuuzetsu..."
.
.
"...mereka mengorbankan nyawa mereka untuk memberiku kehidupan lagi..."
.
Jantungku serasa berhenti. Jadi ini alasan kenapa ketiganya tidak terlihat di medan perang. Mungkin aura aneh di Kuil Etatheon waktu itu...adalah jejak jutsu istimewa yang dapat menghidupkan benda yang telah mati?
Deavvara membelalak. "Ryuumei Tensei no Jutsu?" Selidiknya. Adiknya mengangguk sekali.
"Jutsu yang menakjubkan sekaligus berbahaya," simpul Pyrus. "Hanya dimiliki klan Ryuuzetsu. Menghidupkan yang mati dengan mengorbankan nyawa hidup penggunanya. Tapi..." dia melirik Ardhalea takut-takut. "Bukankah untuk sekedar menghidupkanmu butuh lebih dari sekedar nyawa manusia atau naga?"
Ardhalea kembali mengangguk. Ia mulai terisak lagi. "Artemis. Dia bersedia merelakan nyawanya untuk menyelamatkanku. Bersama Sara dari Rouran juga...mereka menyatukan jiwa dalam Ryuumei Tensei untuk mengisi energi kehidupanku dan membuatku mendapatkan kekuatan dari tujuh berlian ini lagi. Sekarang...mereka semua ada di Kuil Etatheon, di ruanganku, beristirahat dalam damai. Artemis berada di ruangan tengah."
"Jadi...sekarang mereka bertiga sudah...meninggal?" Aku bertanya dengan suara serak.
Sekarang semua mata yang hadir memandangku penuh selidik. Aku jadi merasa makin bodoh saja menanyakan pertanyaan yang sudah pasti jawabannya.
Deavvara melirik adiknya. "Mungkin ada cara untuk menghidupkan mereka bertiga kembali?"
"Untuk hasil yang besar diperlukan pengorbanan yang sama besar," ucap Droconos tiba-tiba. Kini dia menjadi pusat perhatian.
"Ehm. Bukannya aku menginginkan mereka bertiga mati, sih."
.
Kami tidak diberi kesempatan untuk bicara lebih lanjut. Laramidia mulai siuman dari pingsannya setelah terlempar hampir setengah kilometer membabat tanah dan menubruk tebing hingga pecah-pecah. Semestinya itu pengalaman paling menyakitkan yang pernah dialami makhluk hidup manapun, tapi jangankan diperlakukan begitu, dijatuhkan dari bulan ke bumi saja dia masih bisa hidup, bisa jadi.
"Wah, wah, wah," Laramidia tertawa jahat. "Kukira kau sudah mati untuk selama-lamanya, Sang Paradoks," ejeknya sarkastik. "Jadi...bagaimana rasanya mati, hmm? Aku ingin-ingin saja bertanya pada Niaka atau Hi'iaka, tapi sayangnya tidak bisa. Apa rasanya gelap? Dingin? Apa ada yang kau jumpai? Ibu atau ayahmu barangkali? Haha!"
Aku sudah pernah menyaksikan Ardhalea menanggapi ejekan-ejekan menyebalkan seperti itu beberapa kali, dan aku yakin dia akan tetap bersikap dingin dan tidak meladeni apa-apa yang dicamkan padanya, tapi kali ini aku salah.
"TUTUP MULUTMU, brengsek!" Raungnya. Giginya bergemeletuk menahan amarah. Kedua tangannya terkepal sejajar dengan kaki.
"Ha!"
"Kukirim kau ke neraka!" Bentaknya sambil menghunus pedang emasnya. Matanya berkilau mengerikan sekaligus menenangkan, bersiap mencabut nyawa siapapun yang dikehendakinya dalam sekali tebas.
"Ada apa?" Aku memotong pembicaraan. "Ardhalea...memangnya ada apa antara kau dan Laramidia?"
"Urusan yang sangat besar," jawab Laramidia santai. "Oh, tidak kusangka kau masih mengingatnya setelah beberapa abad, kawan. Aku saja sampai hampir lupa, kok."
"Tidak ada satu hal pun tentang muridku yang kulupakan detilnya..."
.
.
.
"Deinosyus..."
.
Aku merinding. "Deinosyus?!" Sentakku. "Bukannya...Deinosyus itu jantan? Dia naga yang disukai Artemis, kan? Kenapa..."
Laramidia menggerung, tertawa sampai bebatuan di sekitarnya menggetar. "Kalian semua payah!" Umpatnya. "Si Artemis itu. Ternyata gampang juga menipunya, menjerumuskannya dalam cinta yang begitu manis dan dalam, tulus dan tanpa pamrih. Kemudian mematahkan hati dan perasaannya, memecah-mecah semangatnya dan mencincang hidupnya. Hohoho. Dramatis sekali, bukan?"
Parthenon menghentakkan kaki. "Jadi KAU menyamar menjadi Deinosyus dan menipu Artemis?!" Gerungnya ikut marah.
"Lebih tepatnya," koreksi Laramidia, "kubunuh Deinosyus saat dia sedang sendirian melawan Kaum Naga Kolosal. Kubiarkan mayatnya ditelan bulat-bulat oleh seekor Titanis, ketika Artemis tidak melihatnya. Dari awal mereka bertemu aku sudah mencurigai gelagat Artemis, naga itu pasti mencintainya setengah mati, begitu pula mungkin Deinosyus. Kemudian aku menyamar mengambil bentuknya dan mengatakan kata-kata sandiwara itu padanya, dan voila! Aku dapatkan sosok Apocalypse Dragon yang menangis mati-matian dan kehabisan semangat hidup!"
Aku mengangguk halus, berusaha tidak begitu tampak. Jadi Deinosyus yang asli mungkin memang benar-benar mencintai Artemis, tapi dia 'digantikan' oleh sosok jahat nan keji Laramidia yang menyamar, dan mencampakkan Artemis di Pulau Naxos, meninggalkannya sendirian.
"Tidak baik merusak hubungan cinta makhluk hidup lain," geram Styx. "Bahkan aku sendiri tidak mau melakukannya!"
"Apa kaitan kalian!" Protes Laramidia. "Aku hidup untuk diriku sendiri. Kita semua, juga, kalau kalian mau berpikir. Apa gunanya menuruti nasihat orang lain? Apa gunanya menuruti perintah dan kemauan orang lain? Aku adalah aku, kau adalah kau. Tidak ada-"
"Apa kau pikir kita hidup di dunia ini serta-merta sendirian?" Aku menginterupsi. Menatapnya tajam-tajam, "Mungkin boleh kukatakan menurut pendapatku bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna –disamping naga. Tapi camkan ini, tidak ada satupun manusia yang benar-benar sempurna. Setiap yang dilebihkan dari manusia, selalu ada bagian yang dikurangkan juga. Karenanya kita tidak bisa hidup secara individu di dunia ini! Kita akan selalu membutuhkan bantuan orang atau makhluk hidup lain dan itu adalah mutlak!"
"Dalam pendapatmu," sanggah Laramidia. "Kau baru lahir kemarin, Naruto," sambungnya. "Umurku sudah satu juta enam ratus empat puluh tiga tahun, bodoh! Aku bahkan berkali-kali lipat lebih tua dari Paradox dan Ortodox –termasuk orangtua, kakek-nenek, buyut, dan nenek moyang mereka! Aku sudah menyaksikan jauh lebih banyak kejadian daripada kalian semua! Karena itulah aku berani mengatakan bahwa pendapatku adalah suatu kepastian."
"Yang tidak dapat dibuktikan!" Aku membalas dengan suara lebih keras.
Laramidia mendecih, menghunus anggarnya. Aku nyaris membalas dengan menodongkan pedangku, tapi Ardhalea mencegahku.
"Hmmh? Pertarungan satu lawan satu bersama Sang Paradox, ya?" Selidiknya.
"Akan kutikam kau di delapan tempat," janji Ardhalea geram.
"Hmm, yah. Bagaimana kalau kita taruhan?" Tantang Laramdia –(kok malah begini?). "Yang menang...", dia melirikku lapar. "Akan mendapatkan Naruto!"
"Hei!" Protesku. Ampun deh, memangnya aku benar-benar patung emas senilai miliaran ryo?
"Tak masalah," sambar Ardhalea cepat. "Akan kubuat kau bangkrut."
"Hooo!" Laramidia balas menggoda. "Kau tak pernah berpikir panjang begitu menyangkut Naruto. Ootsutsuki Ardhalea, kenapa kau tidak melakukan sesuatu pada Naruto sebelum kau mati –untuk yang kedua kalinya, ha?"
Ardhalea merona. Untuk tiga detik, ekspresi marahnya berubah jadi kikuk, tapi kemudian mengencang lagi. "Diam."
Aku-lah bebannya, mendadak diriku sadar. Ardhalea cukup pintar. Dia tahu aku tidak akan aman jika hanya menonton disini, lebih-lebih jika ikut bertarung. Dia tahu Laramidia akan mengincarku dari awal. Dengan membunuhku lebih dulu, dia akan melemahkan Ardhalea dari dalam –membunuh perasaannya, kelemahan terbesarnya. Setelah itu, dia akan lebih mudah ditaklukkan. Aku harus cukup pintar untuk meyakinkan Ardhalea bahwa aku akan baik-baik saja.
Mereka saling serang.
Pedang dan anggar bertumbukan, menghasilkan percikan bunga api. Baik Laramidia maupun Ardhalea menyerang satu sama lain dengan beringas, berusaha tak membuat kesalahan sekecil apapun atau memberi peluang sedikitpun bagi lawan. Tidak ada satupun gerakan yang disia-siakan dalam skala milidetik sekalipun.
Yang menakjubkan, bentuk mereka berdua berubah-ubah seiring pertarungan. Dari manusia-naga, mereka kini mewujud seutuhnya menjadi naga, saling menyerang dengan gigitan, cakar, dan ekor. Membubung ke angkasa dan meledak-ledakkan apapun yang ada, menerangi langit gelap. Tubuh Ardhalea berkilau dengan cahaya menyilaukan bahkan pada latar belakang gelap seperti itu, membentangkan dua pasang sayap bercorak indahnya dengan gesit, menangkis dan menyerang. Ada yang berbeda dari penampilannya sekarang. Dia tidak punya jenggot dan kumis lagi. Dalam hati aku merasa geli, tapi aku tidak mau tahu kenapa anggota itu tidak ada lagi di dagunya. Yah, itu semakin membuatnya terlihat feminin, sih.
Ardhalea adalah petarung jempolan –seluruh naga di dunia tidak akan cukup untuk mengalahkannya. Tapi bagaimanapun juga aku waswas, sebab lawannya kali ini tidak main-main, Laramidia –anak tengah Keturunan Ketiga dari Horus dan Haumea, kakek dan nenek bangsa naga, yang telah bertarung sejak manusia ada. Terlebih lagi, dia sangat jahat.
Terlalu jahat untuk ukuran sesuatu yang hidup. Madara dan Obito juga cukup jahat, tapi Laramidia adalah sumber dari segala kejahatan. Dia bahkan memanipulasi dan menipu Madara dan Obito, menggiring mereka dalam rencananya selama berabad-abad, menipu dan menjerumuskan Artemis dengan memfitnah Deinosyus. Dia telah membunuh kakak dan adik kandungnya sendiri dengan keji, dan terus berusaha untuk melaksanakan pemusnahan massal. Dia bahkan mempengaruhiku untuk tidak percaya pada Deavvara, menipuku di mimpiku, dan membuat Lima Kage beserta satu pemimpin negara sekarat. Dia adalah yang terjahat dari yang terjahat.
.
RRRRRROOOOOOOOOORRRRRRRR!
.
Raungan solo mahadahsyat terdengar mengguncangkan udara, memekakkan telinga. Kusadari Juubi mulai bertambah kuat setiap menit, dan pasukan aliansi masih belum banyak yang tahu bahwa Ardhalea telah kembali. Aku harus memanfaatkan momentum ini untuk memompa semangat mereka, dan sekarang aku yakin akan berhasil. Harus berhasil.
Deavvara mengizinkanku naik ke punggungnya. Pyrus, Beleriphon, Parthenon, Hermes, Droconos, Styx, Kurama, dan Demetra terbang ke pasukan aliansi yang mulai kewalahan. Obito tampaknya tidak begitu peduli dengan nasib Madara –begitu pula Zetsu Hitam. Dari kejauhan kulihat Ardhalea dan Laramidia bertempur dahsyat, membabat puncak gunung terdekat dan mencacahnya menjadi miliaran keping, saling lempar bola api dan meteor, mengangkat seribu meter persegi tanah ke langit dan membantingnya ke lawan, berusaha meremukkan satu dengan yang lainnya.
Jangan emosi, pikirku. Kupusatkan perhatianku agar pesan 'telepati' ini sampai ke pikirannya. Emosi negatif hanya akan membuatmu kurang berkonsentrasi dan lengah. Akibatnya Laramidia-lah yang mendapatkan keuntungan, Ardhalea. Artemis, Sara, dan Ryuuzetsu telah secara sukarela mengorbankan nyawa mereka untuk menghidupkanmu kembali.
Aku tahu, sebuah balasan mendadak terdengar di kepalaku. Koneksi kami berhasil. Daripada mengkhawatirkanku, lebih baik kau khawatirkan teman-temanmu. Gunakan Nunboko no Tsurugi untuk melelehkan mereka dengan cara menyentuhkannya dan membubuhkan sedikit chakra api. Mereka perlahan akan meleleh, dan susunlah strategi sebelum Juubi berubah ke wujud aslinya, perintahnya cepat.
Aku berubah menjadi wujud naga, kemudian segera mendarat di sisi patung-patung es terbagus di dunia (yah, menurut pendapatku sih). Dan berubah kembali menjadi manusia, lantas menyentuhkan Nunboko no Tsurugi ke Kakashi-sensei. Dia yang bisa berpikir jernih bahkan ditengah keadaan kacau seperti ini, jadi mungkin ada bagusnya kubebaskan dia lebih dulu.
Kepala esnya mulai meleleh dan menampakkan rambut peraknya yang basah. "N-Naruto?"
"Iya," balasku. "Ada berita bagus dan berita buruk, Kakashi-sensei. Sebaiknya...kuselesaikan kau dulu."
Begitu seluruh tubuhnya sudah terbebas dari es, aku beralih ke Sasuke.
"Akan kujelaskan semuanya begitu tidak ada yang jadi patung es lagi," jawabku cepat pada siapapun yang sedang berusaha kulelehkan. Dari Sasuke, aku beralih ke Sakura, Hinata, Shino (dia yang paling bersikap tenang), Shikamaru, Chouji, Ino, Alis Tebal, dan Kiba terakhir.
"Semuanya," ucapku begitu mereka semua sudah bebas dari es. "Berita baiknya: Ardhalea kembali."
Aku menunggu lemparan benda-benda tak dikenal yang siap menghajarku, caci maki ramai-ramai berseru kalau aku berdusta, atau lemparan sebongkah material gunung ke kepalaku. Tapi mereka tidak merespon.
"Apa?" Sasuke menagih pengulangan.
"Ardhalea. Paradox...telah kembali," kataku dengan penuh penekanan sampai ke huruf-hurufnya. Kemudian tanpa menunggu apa-apa, aku menunjuk langit beberapa ratus meter dari kami berada. Kilatan-kilatan bunga api dan api itu sendiri, semburan bola api yang teramat dahsyat sampai kurasa langit pun bisa diuapkan dengan itu, terus bermunculan dan bertubrukan. Sosok naga dengan sisik seperti cermin, tanduk emas, dan pantulan cahaya tujuh warna dari tubuhnya tampak bertarung dengan seekor naga abnormal, asimetris, dan antisosial. Antimanusia juga, barangkali.
"Bagaimana bisa?" Shikamaru yang pertama bertanya. Itu pasti mewakili keheranan semua tim.
Aku menghela napas dalam-dalam. "Artemis...Sara...dan Ryuuzetsu. Mereka bertiga korbankan nyawa untuk menghidupkannya dengan Ryuumei Tensei no Jutsu milik Ryuuzetsu," jawabku pelan. "Itulah alasan kenapa mereka pergi mendadak atau bahkan tidak terlihat dari awal di medan perang."
Dalam hati aku merutuk. Perasaan bersalah yang sangat besar pasti masih ada dalam diri Ryuuzetsu gara-gara memerangkapku ke Deavvara, walaupun sekarang Deavvara telah berubah seratus delapan puluh derajat. Sara juga pasti merasa berhutang budi pada Ardhalea karena telah menyelamatkan hidupnya. Artemis? Dia murid pertamanya. Biarpun Ardhalea sendiri telah membaca sisi gelap dalam hatinya, dia tetap berbaik hati dengan merelakan nyawanya.
Aku tidak ingin dua orang dan satu naga itu mati secepat ini, tapi di sisi lain kami sangat membutuhkan Ardhalea. Untuk menambah kekuatan tempur, untuk menambah semangat pasukan aliansi, untuk membangkitkan kembali Etatheon seutuhnya, untuk menyelamatkanku dari kesendirian atau apapun yang mungkin terjadi.
Kutepis pemikiran terakhir dan menggeleng kuat-kuat. Kenapa pikiran itu mendadak muncul begitu saja di kepalaku? Ah, jangan konyol, deh. Manusia adalah manusia, naga adalah naga. Tapi setelah membentangkan sayap emas, menumbuhkan tanduk, dan merubah diriku jadi binatang bersayap bergigi tajam dengan cakar beliung dan sisik emas, masihkah aku berani menyebut diriku seratus persen manusia murni?
"Hoi!" Kiba membentak di telingaku. "Apa yang kau lamunkan?!"
"Tidak ada," jawabku bohong. "Pokoknya sekarang kita akan menyerang Juubi dengan kekuatan penuh. Kalian siap?"
"Asal tidak berhadapan dengan anak Horus dan Haumea yang edan itu," gerutu Sasuke, "aku siap."
Ardhalea's POV
Flashback
"Nii-san?" Aku menggedor-gedor pintu kamarnya dengan tak sabar. Ini hampir mencapai batasku. Tiga puluh menit mengetuk di luar dan tidak ada sahutan apa-apa di dalam. Aku melirik jam matahari di panteon ruangan yang kubahnya terbuka langsung ke dunia luar. Bayangan menimpa angka empat. Pukul empat sore. Seharusnya dia belum tidur –setidaknya tidak senyenyak ini- ketika matahari masih bersinar terik.
Kesabaranku habis. Kudobrak pintu dan merengsek masuk.
Tidak ada siapapun di dalam. Seprai yang kusut, bantal berhamburan, dan beberapa goresan pada lemari dan meja. Sebilah pedang kecil tergeletak di lantai, dengan pinggiran mata yang sudah tergores-gores. Aku menghembuskan napas malas. Deavvara berlaku aneh belakangan ini. Dia lebih sering menyendiri dan terus terlihat gusar semenjak Hagaromo meninggal. Aku berspekulasi bahwa dia mungkin merindukan satu-satunya saudara laki-laki yang sudah berpuluh tahun hidup bersama kami, setidaknya setelah Hamura.
Aku berlari ke beranda. Parthenon menunggu.
"Ardhalea," ucapnya riang. "Hei, aku sudah berhasil mengendalikan Pita Glepnir untuk mencengkeram sesuatu! Bisa kau melihat dan menunjukkan padaku dimana kekurangannya?" Ucapnya antusias.
Aku mengubah tubuhku menjadi naga –agar tidak perlu mendongak untuk berbicara dengannya. "Tak masalah," kataku, "tapi tunggu sebentar dulu, ya? Aku sedang mencari kakakku. Dia menghilang lagi."
"Kutunggu kau di Padang Aster!"
Aku mengangguk, lantas mengepakkan dua pasang sayapku dengan tidak sabar. Aku tahu dimana dia. Danau Kawaguchiko.
.
.
.
Perkiraanku benar. Diatas sebuah batu besar datar, duduklah sosok berambut hitam panjang sebahu, tercenung dengan sabit berikut sarungnya terselempang rapi di pinggang kanannya. Tombaknya ditancapkan ke salah satu retakan batu. Ia duduk di salah satu tepinya, mata beriris ungunya menatap kosong ke tengah danau tenang.
Aku merubah wujudku menjadi manusia dan nyaris kepikiran untuk mendorongnya sampai tercebur ke danau, tapi kuurungkan begitu dia lebih dulu menatapku ketus.
"Kau menghilang," kataku serius. "Untuk yang ke...seratus dua belas kalinya."
"Lucu," gerutu Deavvara, lantas memalingkan pandangannya lagi ke danau. Aku menghentakkan kaki.
"Ada apa denganmu?" Sergahku. "Kau lebih senang menyendiri belakangan ini. Saat Turnamen Piala Sayap kau tidak datang, padahal waktu itu kau berpotensi menang, tahu! Hermes bahkan rela tidak ikut untuk membiarkanmu menyabet juara pertama, ternyata yang ditunggu-tunggu malah tidak datang!"
"Aku bukan yang tercepat," cetusnya. "Aku sibuk. Pergi sana."
Aku bersedekap. Aneh deh, aku tidak pernah mengerti perasaan laki-laki. Bahkan yang setengah-naga, bahkan saudaraku sendiri.
.
"Kau merindukan mereka?" Desisku pelan. Ia berpaling padaku.
"Maksudmu?"
"Hagaromo," jawabku. "Dan ibu dan Hamura..."
"...dan ayah."
Deavvara terdiam. Belakangan ini nama 'Hagaromo' membuatnya sensitif. Mungkin ia merasa kehilangan? Atau ada sebab yang lain?
"Kita saudara," ucapku. "Kita satu-satunya yang tersisa. Kalau saja ayah kita masih hidup. Kita bahkan tidak pernah mengenalnya. Hanya ada kita berdua, tapi...kita sudah membentuk Etatheon."
"Delapan Pilar," sambung Deavvara. Aku mengangguk.
"Delapan naga terhebat di Bumi. Kita, eh, maksudku...kau bisa menganggap mereka keluarga dan saudaramu...lebih dari sekedar teman. Mulai saat itu, kita hidup dalam arti yang lebih luas –kita punya rentang usia yang tidak bisa dibandingkan dengan naga atau manusia manapun. Seharusnya kau tahu itu. Deavvara, kau kakakku. Satu-satunya darah dagingku yang lain. Kita semua saling membutuhkan untuk mengisi kekosongan yang ada dalam diri kita masing-masing."
"Cerewet," Deavvara menanggapi ceramahku. "Hei, Ardhalea. Apa menurutmu...aku lebih buruk darimu?"
Aku tertawa terpaksa. "Lebih apa?"
"Hagaromo mempercayakan semua pecahan kecil itu padamu," ketusnya. "Darah Delima. Langit Jingga. Empedu Emas. Daun Zamrud. Air Safir. Tulang Ametist. Kuku Turqois. Aku tidak mendapatkan pecahan itu sedikitpun."
Aku memindahkan tumpuanku, menggaruk kepala kikuk. "Kau sudah sangat kuat," aku berusaha mencari celah-celah pengampunan. "Kau kan kakakku. Sudah semestinya...eh, maksudku bukan begitu. Err...itu keputusan Hagaromo. Dia Rikudo Sennin. Lagipula mungkin aku masih bisa memberikan kekuatan ini padamu, jika kau memang menginginkannya..." kataku takut-takut. Deavvara jarang merasa iri pada kekuatan sebelumnya.
Kakakku mendengus. "Aku kuat," katanya sambil mencabut tombaknya. Ia memutarnya beberapa kali dan melemparnya hingga menancap ke salah satu pohon sakura. Satu sekon kemudian, batang cokelat indah berikut bunga-bunga pink memesona yang tumbuh di cabang dan rantingnya langsung terbakar habis menjadi kumpulan arang dan debu. Aku membelalak.
"Hagaromo mempercayakan alam ini pada kita berdelapan," tegasku. "Dan Ashura dan Indra juga."
"Bocah-bocah ingusan," koreksi Deavvara. "Nah, itu satu lagi. Menurutmu apa arti dari kekekalan, adikku? Kita hidup selamanya, terus hidup seiring dunia ini hidup dan terus melihat perubahan seiring dunia ini berubah. Menurutmu itu tidak...pilih kasih? Dan apakah namanya itu, kalau ada tujuh kekuatan hebat dan dua makhluk yang berhak menerimanya tapi semuanya malah diberikan ke satu?" Tudingnya.
Aku tergagap. "Kalau itu jalan yang paling tepat...iya."
"Kita mencari pengendara, Ardhalea," gertak kakakku. "Pengendara. Dracovetth. Keenam Etatheon sisanya santai-santai saja, bersama naga-naga lain di luar sana. Kita harus mengawasi Indra dan Ashura terus-menerus. Kita harus menstabilkan dunia, kalau perlu, mencegah kebangkitan Juubi lagi. Hagaromo seenak ubannya memberikan tanggungjawab mahabesar itu pada kita berdua? Mana bisa kita melakukannya sendirian?"
"Karena itulah ada Etatheon," belaku, "delapan naga terhebat. Kita bisa melakukannya asal kita bersama-sama!"
"Kita membicarakan tanggungjawab. Tanggungjawab, tanggungjawab, dan tanggungjawab! Mana hak-hak kita?! Dijadikan abadi hanya untuk melayani makhluk hidup lain?! Kapan kita memikirkan kepentingan kita sendiri, Ardhalea?"
Alisku bertaut.
"Ada yang salah denganmu," tegasku. "Jelas ada yang salah."
"Aku tidak salah," belanya. "Aku sadar."
"Hagaromo telah mengamanatkan semua ini pada kita," tolakku, "suatu hari nanti, Indra dan Ashura juga akan membalas budi!"
"Pada dasarnya manusia adalah makhluk rendahan yang tidak tahu balas budi."
"Lupakah kau, nii-san? Ibu kita itu manusia! Jangan jelek-jelekkan-"
"Ibu kita adalah dewi!" Seru Deavvara. "Kekuatannya lebih dari semua manusia. Ayah?! Ayah kita bahkan tidak murni manusia! Kenapa kita harus..."
Dia menghentikan ucapannya. Sadar kalau berdebat denganku tidak ada gunanya. Matahari telah condong ke Barat. Aura jingga dan merah mulai menghiasi danau. Deavvara mendengus, mencabut tombaknya, dan merubah wujudnya menjadi naga.
"Lakukan apa yang kau suka," desisnya. "Dan aku akan melakukan apa yang kusuka," lanjutnya kemudian mengepakkan sayapnya dan langsung menghilang diantara gumpalan awan berwarna oranye.
Itulah kali pertama kusadari kakakku telah mulai berubah haluan. Entah siapa...yang mempengaruhinya.
.
.
.
Pandanganku berubah. Sekarang aku melihat Artemis, yang sedang mempersiapkan alas tidur. Senja merambat di langit. Aku tahu pasti ini kejadian ratusan tahun setelah aku dan kakakku berselisih jalan. Tempat dengan tebing-tebing raksasa menjulang ke langit dan pohon-pohon pinus tumbuh berdesak-desakan...Pulau Naxos. Artemis tampak riang, bersenandung sembari mencabut dedaunan raksasa dan meratakan bebatuan kerikil.
Dedaunan bergemerisik. Kulihat seekor naga keluar dari dalam hutan. Empat kakinya berujung pada cakar melengkung sewarna antimon. Beberapa bagian sisik abu-abunya terkelupas. Ia tampak kelelahan. Artemis menyambutnya senang dan mempersilakannya beristirahat. Aku sedikit bingung karena tidak kudengar sedikit suara pun. Kusadari ini mungkin gambaran bisu.
Aku tidak asing dengan naga yang muncul barusan. Dia adalah Deinosyus, pacar Artemis.
Naga itu menunjukkan kelakuan baik selama dua menit perjumpaan mereka yang kulihat. Setelahnya, keadaan mulai berubah.
Kusadari Deinosyus mulai bicara dengan nada makin tinggi. Ia menunjuk-nunjuk arah Utara, dan beberapa kali mengibaskan ekor begitu cepat sampai ada beberapa bunga api yang terpercik. Ia memarahi Artemis seolah naga itu telah membuat kesalahan yang mempermalukannya seumur hidup, kemudian melengos pergi begitu saja. Artemis mengikutinya sambil menunduk-nunduk.
Jangan lakukan, batinku.
Artemis menjejeri langkah Deinosyus. Naga jantan itu menampar pipinya dengan kaki depan kanannya hingga membentuk goresan tipis, kemudian menghardiknya lagi, menyudutkannya ke sebuah tebing dan memakinya, kemudian terbang pergi begitu saja, meninggalkan seekor naga betina malang yang patah hati, menangis sejadi-jadinya.
Drama yang mengerikan. Aku nyaris berpikir untuk menghibur Artemis, tapi tidak ada gunanya. Aku akhirnya terbang mengikuti Deinosyus.
Sampai di sebuah tebing tertinggi di sisi yang berlawanan pulau, kulihat dia perlahan meluruh dan berubah wujud.
Ukurannya sedikit mengecil, tapi selain itu dia bertambah sangat aneh. Bentuk-bentuk campuran asimetris yang entah berasal dari spesies naga apa, digabung jadi satu membentuk naga abstrak. Dia tertawa jahat, yang entah kenapa kusadari bahwa naga itu betina.
"Kau melihatnya, heh?" Ia mendadak bersuara. Aku terperanjat karena kaget. Tanpa aba-aba, naga aneh itu menubrukku.
.
.
.
Seluruh tubuhku terasa nyeri. Mataku terbuka, dan yang kulihat semuanya tampak tak asing walau sudah tak terdeteksi lagi oleh kedua mataku setelah berabad-abad aku meninggalkannya.
Kamarku.
.
"Kakak."
.
Aku berpaling ke sumber suara. Tiga meter di sebelah ranjangku...duduk di kursi malas, seorang kakek penuh kerutan panjang di wajahnya yang aneh, jenggot yang panjang, mata berpola riak air ungu...dan satu pola lagi di dahinya. Rambut jegraknya dihiasi dua bentukan tanduk di dahinya. Tongkat berbentuk alat peniup gelembung sabun dengan enam cincin yang terkait di salah satu ujungnya bersandar di dekatnya. Shakujo. Di sisi yang lainnya, untaian tali DNA yang diperbesar jutaan kali berwarna sehitam malam –Nunboko no Tsurugi.
Laki-laki jompo ini tersenyum ramah padaku.
.
.
Aku mengernyitkan dahi. "Hagaromo?"
Dia terkekeh. Aku semakin yakin dia adalah adik termudaku –anak bungsu Ootsutsuki Kaguya, Ootsutsuki Hagaromo, alias Rikudo Sennin, Biksu Enam Jalur.
"Butuh berapa detik bagimu untuk mengenaliku, dasar," sambutnya dengan sikapnya yang biasa.
Aku tersenyum kecil. Sedetik kemudian, kepalaku serasa disengat sepuluh lebah sekaligus. Potongan-potongan ingatan mulai menyatu di kepalaku setelah entah berapa lama berserakan seperti kolase, dan membentuk gambaran mengerikan.
"Di-dimana aku?!"
"Di kamarmu," jawab Hagaromo datar. "Oh, ayolah. Kau berada di alam yang lain. Emm...maaf, Ardhalea. Apa...kau...sudah..."
"..."
"..."
"...mati?"
Aku terbatuk-batuk. Memegangi diafragmaku. Sakit yang luar biasa, seolah bisa mencacahku jadi berkeping-keping. Napasku ngos-ngosan. Keringat dingin mulai mengaliri sekujur tubuhku.
"Naruto.." bisikku. Aku menatap Hagaromo. "Sudah berapa lama aku ada disini?"
"Baru beberapa jam," jawabnya. "Eh. Siapa itu Naruto? Katakan, Ardhalea. Kau tidak mungkin mati, kan?"
"Entahlah," jawabku sangsi. "Mungkin...aku memang benar-benar mati."
"Ini buruk," Hagaromo bangkit dari kursi malasnya dan meraba dahiku. "Hmm...lukamu memang parah, sih."
Baru kusadari bahwa seluruh kimonoku sekarang compang-camping. Lilitan perban yang lumayan tebal melingkar di diafragmaku, lilitan yang lain di mata kaki kananku dan ada lagi di paha kaki kiriku. Lengan kiri bagian atasku digips, dan lengan bawah kananku diperban. Aku jadi merasa seperti mumi yang baru setengah jadi.
"Kau berdarah-darah," cetus Hagaromo serius. "Tadi. Kuhabiskan waktu sejam untuk membalutmu dengan perban sepanjang itu. Kau habis bertarung dengan siapa, sih? Selegiun pasukan Naga Kolosal bercampur Naga Gatpura yang meminum ramuan sihir?" Candanya.
"Terimakasih sudah mengobatiku," jawabku pelan, tidak meladeni ledekan Hagaromo.
Kakek tua itu geleng-geleng kepala. "Ckckck, Ardhalea! Kau cantik sekali, bahkan saat babak-belur begini. Begitu manis, ahahaha. Kalau saja aku masih hidup dan tidak ada ikatan darah diantara kita berdua, aku mungkin sudah mengambilmu sebagai istri kedua!"
"Kau sudah menjadi kakek jompo, Hagaromo," aku membalas. Aku tidak sedang berselera untuk menampar, menghajar, menendang, atau membunuh (iya, lagipula dia sudah mati, kan?) sekarang. "Tepatnya kakek jompo mesum."
"Maaf," kekehnya. "Aku serius, kok. Kau cantik sekali. Aku dengan gampang mengenalimu karena kau masih terlihat seperti berusia beberapa belas tahun, tidak sepertiku yang terus-menerus ada dalam bentuk kakek-kakek tua renta ini," tawanya, kemudian wajahnya kembali serius. "Ehm. Anu...soal tadi, kau tidak benar-benar mati, kan?"
Aku terdiam beberapa detik.
.
.
"Deavvara," bisikku.
"Kenapa dengan Deavvara?"
Aku menarik napas panjang. "Semua bermula saat aku menemukan Draco P bernama Namikaze Minato..."
Kuceritakan seluruhnya. Mulai dari perjumpaan hingga pernikahannya dengan Kushina, hingga saat-saat kelahiran anak mereka yang begitu menegangkan sampai keduanya rela bertaruh nyawa untuk seorang jabang bayi yang sempat kuremehkan keberadaannya.
"Namanya Naruto. Uzumaki Naruto. Kukira dia Dracovetth yang biasa-biasa saja sampai kusadari...dia juga Draco P."
"Menarik," komentar Hagaromo. "Teruskan!"
"Dia mencariku selama sebulan. Mengitari Hi no Kuni, Kaze no Kuni, sampai Tsuchi no Kuni, bersama teman-teman dan gurunya. Dia pergi ke Perpustakaan Besar Alexandriana, perpustakaan yang dibangun anak bungsumu, Ootsutsuki Ashura, dan mencari informasi tentangku. Dia sempat ditipu oleh Deavvara...yang menjadi jahat sejak dulu, dan menghancurkan pasukan yang melindunginya. Dia begitu putus asa ketika akhirnya aku menemuinya...dan dari situlah petualangan kami dimulai. Meruntuhkan kekuasaan Kaum Kolosal dengan menyegel mereka langsung di AEsir...dan berlatih bersama-sama. Sampai Perang Dunia Naga Keempat dimulai..."
"KEEMPAT?!" Hagaromo membelalakkan kedua mata ungunya seperti orang kena serangan jantung. "Rasanya baru beberapa abad kutinggalkan dunia, dan sudah ada empat perang besar?!" Gusarnya. Ia menepuk dahi. "Hhhh! Betapa kacaunya manusia dan naga!"
"Kau tidak menyalahkanku, kan?" Selidikku takut-takut.
"Oh, tidak akan," balas Hagaromo, berusaha menenangkan. "Eh...maksudku, cukup berat bagimu untuk menerima kenyataan bahwa kakak kita, Deavvara, memilih jalur yang menyimpang begitu. Sebentar –jangan katakan kalau dia-lah yang membunuhmu?!"
"Tidak tepat begitu," kilahku. "Seingatku..."
"...aku melindungi Naruto...ketika Deavvara nyaris menusuknya dengan Rinsei Rinne no Tsurugi..."
Hagaromo membatu. Ia mendesah malas. "Uliran Samsara? Sudah kuduga senjata itu punya elemen jahat...maksudku setelah diambilalih oleh Deavvara, bukan saat ditempa. Omong-omong, seberapa penting orang bernama Naruto ini –sehingga...kau rela melindunginya?"
.
.
Aku terdiam.
.
Yah.
Kenapa, ya?
Kenapa aku sampai rela mengorbankan nyawaku satu-satunya –hanya untuk seorang anak manusia? Toh jika dia mati aku masih bisa mencari Dracovetth-ku yang lainnya. Kenapa aku tidak pernah berpikir panjang saat menyangkut hidupnya?
Kenapa aku selalu merasa berbeda...saat berada di dekatnya? Begitu...nyaman dan...melepaskanku dari belenggu kesendirian sebagai makhluk 'kekal'.
.
"Nah," sang Rikudo Sennin memotong lamunanku, "kebanyakan orang melakukan sesuatu...tanpa tahu apa yang mereka lakukan. Bertindak saja, berpikir belakangan. Ha-ha. Kebanyakan orang paling baik dan paling tulus memang demikian. Mereka bertindak, melakukan perbuatan baik begitu saja, tapi tidak memikirkan atau mengharap imbalan. Itulah makna sebenarnya dari orang baik, Ardhalea kakakku. Mereka bertindak baik lantas melupakan tindakan tersebut. Itu seribu kali lebih baik daripada orang jahat yang berbuat jahat dan selalu mengingat kejahatannya."
"Kebiasaan ceramahmu tidak pernah berhenti," balasku. "Tapi terimakasih. Soal Deavvara...kuharap Naruto bisa mengatasinya."
"Sang Paradox sekarang sudah tiada," cetus Hagaromo. "Keadaan dunia akan luar biasa kacaunya, saudaraku. Eit, kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya?"
Aku terdiam beberapa lama, terjebak dalam keheningan sebelum memikirkan jawaban yang paling pasti.
.
"Ashura," kataku, "anak bungsumu."
"Iya."
"Dia memberitahuku saat usia senjanya...bahwa suatu hari nanti aku akan menemukan pengendara sejatiku..."
"Dan kau berpikir bahwa seorang Uzumaki Naruto-ini adalah orang yang dimaksud Ashura?"
Aku mengedikkan bahu. "Barangkali."
Sang Rikudo terkekeh. "Ampun deh! Mungkin, barangkali, bisa jadi, bisa saja, dan posibel itu bukan jawaban, Ardhalea! Iya ya iya, tidak ya tidak. Jangan iya yang tidak-tidak!"
"Kupikir...begitu."
"Hmm? Apa alasanmu memutuskan secepat itu?"
"Ini berbeda, Hagaromo," aku mulai merenung. "Aku merasakan sesuatu yang aneh setiap kali ada di dekatnya dan...aku telah mengasuhnya sejak kecil. Terus-menerus menyamar menjadi ayah atau ibunya, melihatnya tumbuh besar, dan mengetahui segala hal tentangnya. Aku tidak mengerti. Tidak pernah mengerti."
"Bahkan setelah aku diangkat menjadi seorang Rikudo Sennin, kau lebih dulu mendapat julukan 'sofia', kan?"
"Sofia," aku mengulang.
"Artinya kepandaian," jelas Hagaromo. "Kau bijak dan pandai. Itu yang orang-orang katakan. Jangan kecewakan mereka. Sesungguhnya...aku-lah yang merasa bersalah. Aku membagikan ketujuh berlian itu padamu. Tidak ada yang kusisakan untuk Deavvara, padahal dia kakak tertua kita. Hahaha, aku dungu sekali. Bagaimanapun juga, aku melihat setitik kegelapan dalam hatinya. Dia punya sifat yang sedikit berlawanan dibanding kita bertiga," cerocosnya panjang lebar.
"Mungkin itu turunan dari ayahnya," simpulku. "Neredox."
"Dia punya sifat pemberontak," tinjau Hagaromo. "Dia punya sifat pembangkang pada ketidakadilan. Itu mestinya jadi sifat yang bagus, tapi kalau dia salah sedikit saja tentang arti sebenarnya dari keadilan...semua akan berubah. Dia akan berusaha meralat semua yang terjadi di dunia dan bersikap seolah dia-lah yang paling benar. Oke, aku tidak menggosipi saudara sendiri, tiap orang punya kelemahan. Kelemahan Hamura hampir sama seperti kelemahanmu, Ardhalea. Dia lembut dan sensitif dalam perasaan. Kegentarannya akan Juubi yang menghancurkan segalanya membuatnya lengah sedikit dan berakhir."
"Kelemahanku adalah ketidakadilan. Dibandingkan kalian bertiga, mungkin aku yang paling tidak adil. Aku pun tak tahu mengapa mereka menjulukiku sebagai Biksu Enam Jalur. Aku selalu berusaha membuat pilihan yang tepat, karena hidup ini adalah pilihan. Pada awalnya selalu kurasa aku telah memilih sesuatu yang paling benar, tapi ujung-ujungnya aku menyesal. Kelemahan Deavvara adalah...sikap pemberontak itu. Sekuat dan sesempurna apapun kita berempat, sehebat dan setenar apapun keluarga kita, Ardhalea, kita tidak akan bisa menghindar dari kekurangan. Tidak ada makhluk hidup tanpa kekurangan, bahkan boleh kubilang jika ada makhluk tanpa kekurangan, itu pasti bukan makhluk hidup."
Kami berdua terdiam sesaat.
.
"Aku harus bertemu Naruto," kataku tiba-tiba.
"Hmm?"
"Aku harus bertemu dengannya. Ini belum selesai. Dia masih awam soal perang. Aku harus..."
Hagaromo mengernyitkan dahi. "Kau tidak melanjutkan kata-katamu?"
Aku mendesah kecewa. "Aku sudah mati," bisikku, "adakah cara untuk hidup kembali?"
"Yah, jika mereka yang ada di dunia masih memiliki kemampuan untuk itu. Mengendalikan Myoton dan Omyoton untuk menukar energi kehidupan dirinya sendiri dengan energi kehidupan orang lain. Tapi Ardhalea, kau lebih dari sekedar manusia atau naga. Kau mencakup keduanya. Kau terlalu mahal untuk dihidupkan dengan satu jiwa manusia, atau satu jiwa naga. Butuh lebih dari itu."
"Aku harus bertemu Naruto!" Aku bersikeras. "Aku tahu siapa musuh sebenarnya dari perang ini. Aku harus memberitahukannya soal itu! Aku harus bertemu dengannya! Dia adalah Draco P yang akan kuanggap sebagai jantung atau hati, atau apapun yang perlu kuanggap!"
Hagaromo menggeleng. "Kau harus menunggu untuk mendapatkan apapun. Pertemuan kalian berdua memang singkat. Entah lebih atau kurang, pada akhirnya akan sama saja. Kau makhluk abadi, Ardhalea. Kau takkan bisa bersanding dengan manusia fana. Itu akan...kau tahu, mengacaukan keluarga kita."
"Kau sendiri beristri."
"Hei, aku ini manusia tulen!"
"Bertanduk dan berwajah aneh," koreksiku. "Dan aku tidak abadi, bodoh. Buktinya sekarang aku mati."
"Hee? Benar juga sih. Tapi pikirkan lagi, Ardhalea. Kau mengharuskan kehidupanmu yang kedua kalinya di dunia hanya untuk bersanding dengan manusia fana?"
Wajahku memerah. "Aku harus. Ini takdirku."
"Kalau bukan?"
"Pasti yang ini."
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Karena aku percaya! Aku tahu! Dan dia tahu itu!"
"Yah," Hagaromo menerawang ke langit-langit. Rinnegan-nya berkaca-kaca. "Aku tidak pernah lupa saat menanyai mereka berdua."
"Apa yang paling berharga di dunia ini..."
"...apakah kekuatan..."
"...ataukah cinta...?"
"Mana diantara kedua itu yang akan menjadi kunci perdamaian dunia? Indra yang kuat dan logistik menjawab kekuatan, sedangkan Ashura yang peka dan sosialistik menjawab cinta. Kupilih Ashura sebagai penerusku, dan aku terus saja mendengar sayup-sayup bahwa mereka terus bermusuhan...antara adik kakak. Aku dilema, serba salah. Apa yang seharusnya kulakukan sebagai ayah?" Desisnya kecewa. Ia menatapku intens. "Ardhalea...perasaanmu pada Naruto. Apakah itu bisa disebut cinta? Apa itu bisa melindungi dunia dan –kalian berdua?"
Aku tertunduk. Sebijaksana apapun diriku, aku masih dangkal soal cinta. Kadang aku mengaitkan cinta dengan pengalaman Artemis. Hanya jalan pintas untuk menyelesaikan sesuatu yang runyam. Perasaanku pada Naruto...apakah itu hanya sekedar ikatan antara seekor naga dengan pengendaranya, atau lebih dari itu?
.
.
.
Sayup-sayup aku mendengar suara dari kejauhan.
"Waktumu sudah tiba," celetuk Hagaromo. "Sepertinya kau cuma mampir sebentar disini, huh. Baik-baiklah di dunia sana, kakak. Hajar beberapa orang dan naga jahat untukku. Jika kau yakin akan takdir dan jalan hidupmu...jalani saja."
Aku tersenyum kecil. "Aku tidak akan pernah menarik kata-kataku."
Dia terkekeh. "Dan jangan pernah menyerah untuk menggapai apapun yang ingin kau gapai."
"Jika kau menungguku menyerah, kau akan menungguku selamanya," balasku yakin. "Terimakasih, Hagaromo. Untuk semuanya."
Aku memeluknya erat-erat. Peduli amat dia sudah jadi kakek-kakek tua bangka.
"Kau menghancurkan tulangku!" Rintihnya.
"Hihi. Ada...yang berusaha menghidupkanku?"
"Kurasa. Yah, itu berarti kau memang masih dibutuhkan. Masih terlalu cepat bagimu untuk mati. Nah, sekarang, pergilah. Aku akan merindukanmu. Dan Deavvara juga."
.
.
.
Aku membuka mata. Sekelilingku terang, dan sekujur tubuh dan sayapku dikibar-kibarkan angin.
Dan...sosok yang tidak asing muncul di hadapanku. Sisa-sisa rantainya masih tampak di leher, ekor, dan pergelangan kaki-kakinya. Naga itu tersenyum lebar dengan bibirnya yang pecah-pecah dan armornya yang gores dimana-mana. Dia tampak begitu puas dan bahagia.
"Ardhalea-sensei," sambutnya, berlari ke arahku.
"Ar...temis? Kenapa kau..."
"Aku bebas, Ardhalea-sensei!" Serunya. "Ketika rantai-rantai ini melebur dengan sendirinya, aku juga melihat gerhana, dan merasakan chakra kuno yang begitu kuat dari jarak yang amat jauh...aku pergi ke Pulau Archent, menemui teman-teman dan keluarga besarku, dan memberitahu mereka apa yang kemungkinan terjadi. Ikatan batin kita tidak lagi terkoneksi setelah itu, Ardhalea-sensei. Kusadari kalau engkau sudah...tiada. Kubangkitkan semangat Apocalypse Dragon yang lain, dan mereka bersama-sama menuju medan perang, membantu Naruto dan yang lainnya..."
"Sebentar!" Aku menginterupsi. "Lantas kenapa kau bisa ada disini?"
"Aku menukar nyawaku!" Katanya girang. "Untukmu, Ardhalea-sensei! Aku menghidupkanmu bersama Sara dan Ryuuzetsu! Kami bertiga melakukan jutsu itu, dan kami berhasil!"
Aku menggigit bibir, menghentak-hentakkan kaki. "Kenapa! Hidupmu yang berharga masih panjang, Artemis! Kau bisa bebas dan memenangkan peperangan ini! Etatheon pasti akan bersatu kembali dan kalian akan meraih kemenangan, bahkan tanpaku!"
"Aku sudah mengerti karakter engkau, Ardhalea-sensei," potong Artemis penuh hormat. "Engkau belum selesai dengan Naruto, kan? Biarkan muridmu ini memperpanjang waktumu untuk berjalan bersamanya, menuntunnya dalam kegelapan dan menyingkirkannya bersama-sama!"
Aku menggeleng kuat-kuat. "Aku memang ingin bertemu Naruto," akuku, "tapi kenapa harus engkau?"
"Sisi gelapku," bisiknya takut-takut, "aku...selalu ngeri akan itu. Takut kalau itu menguasai dan mengendalikan tubuhku, tindakanku, pikiranku. Apa jadinya nanti? Aku ingin disegani karena pengetahuan, sepertimu. Bukan kekuatan atau dendam. Daripada bingung dan bimbang apa yang seharusnya kulakukan untuk kedepannya, kenapa tidak memilih cara ini?"
"Kau masih sempat membatalkan jutsu ini," kilahku. "Lakukanlah, Artemis. Aku tidak ingin kau mati untukku."
"Ardhalea-sensei pernah bilang padaku bahwa...sebaik-baik makhluk adalah yang memberi manfaat pada makhluk lain, bukan?" Tagihnya. "Setelah ratusan tahun, baru sekarang aku merasa berhasil menunaikan nasihat itu. Aku jadi manfaat untukmu, Ardhalea-sensei..."
Mataku berkaca-kaca. "Kenapa harus kau? Artemis? Kenapa harus kau?"
"Karena aku menyayangimu!" Balasnya bahagia. "Kau menyelamatkanku dari kesendirian! Kau terus berusaha membangkitkan hidupku! Kau mempercayaiku lebih dari siapapun yang kukenal! Bahkan aku tidak marah atau kesal ataupun menyimpan dendam dan dengki sedikitpun dalam kalbu ketika engkau memutuskan untuk merantaiku jauh di Utara, Ardhalea-sensei. Itu yang terbaik buatku, dan aku menerimanya dengan lapang dada!"
Sosoknya mulai pecah. Sebentar lagi tiga kehidupan akan bertukar dengan satu.
"Ini tidak adil," aku menggerutu.
"Ini adil," sanggahnya. "Selamat datang ke dunia kembali, Ardhalea-sensei. Tolong selesaikan peperangan ini bersama Naruto untuk sekali dan selamanya, ya? Aku ingin melihat kedamaian, walaupun nun jauh dari sana..."
"...karena kau adalah berkat terakhir..."
"Apokalipse itu punya dua arti, Artemis."
"Yang paling lumrah digunakan adalah..."
"...berkat."
"...wahyu."
"...penyelamat."
"Dan yang lain adalah..."
"...akhir."
"...destruksi."
"...kiamat."
.
.
.
.
"Bersama dengan kehancuran...kau akan membawa kedamaian...bersama seorang anak manusia..."
Si Tua Bangka Shinjuu itu berbicara lagi langsung dalam diriku.
"Pembawa kehancuran...dan pembawa kedamaian..."
"...adalah satu."
.
Ah, tidak.
.
!
.
"Umur kita selisih jutaan tahun," desis Laramidia jahat. Anggar dan pedang saling berbenturan dan berada dalam posisi bertahan. "Itu bisa ditafsirkan sebagai...aku kira-kira jutaan kali lebih hebat darimu," cengirnya.
Aku mendecih. "Jutaan kali lebih hebat dalam hal kejahatan dan kelicikan," koreksiku. "Jutaan kali lebih hebat dalam hal kebusukan!"
"Ayolah," Laramidia masih bersikap santai. "Aku bertarung bahkan sebelum manusia ada. Kaupikir kau bisa menang dariku?"
"Umur bukan jaminan pengalaman," jawabku. "Seorang pengembara berusia 20 tahun lebih hebat daripada seorang petani monoton lahan berusia 40 tahun," kataku, kemudian menangkis anggarnya.
Laramidia menyabet ke bawah, kuhindari dengan bersalto ke depan dan nyaris menggebuk kepalanya dengan sisi tumpul pedang, tapi dia gesit dan berhasil menunduk lebih dulu. Ia menyapukan kakinya ke atas, nyaris mengenai wajahku. Kuayunkan pedangku mengiris ke kanan, dan dia menyambutnya dengan anggar, bertubrukan, dan kami saling melompat mundur.
"Emas dan perak!" Pekik Laramidia. "Sungguh sebuah kebetulan yang amat sangat menyenangkan, bukan?"
Dia memperhatikan rambutku. Emas dan perak. Masuk akal, rambut pirang panjangnya terlihat seperti emas. "Kau tahu emas lebih baik daripada perak," seringainya sambil mendecitkan anggarnya penuh dramatis. "Harganya lebih tinggi di pasaran. Emas selalu memuaskan manusia, bahkan naga. Kau pernah dengar cerita tentang Raja Midas, hmm? Fiksi manusia yang sangat kusukai, kalau saja orang itu benar-benar ada di dunia."
"Cukup ocehanmu," dengusku. "Tong kosong berbunyi nyaring, ingat?"
"Tong berrongga," koreksinya. "Lebih ringan dan lebih gesit daripada yang berisi!"
Ia berderap maju, menghunus anggarnya ke depan. Kupantulkan dengan sisi pedang, dan mencacah ke depan, tapi dia melompat tinggi sekali ke udara dan mengeluarkan sebuah perkamen berwarna hijau tua.
BOOFF!
Asap sirna, dan tampak olehku sebuah lembing bermata dua. Masing-masing bentuknya berbeda, satu terlihat seperti mata pisau belati yang disambung ke tongkat kayu berukir, dan ujung lembing yang lain berbentuk lonjong seperti gergaji mesin, hanya saja tidak ada gigi-gigi besi penggorok di bagian luarnya.
"Menusuk dan mengiris," desis Laramidia. Ia melempar lembing. Aku menghantamkan ujung pedangku ke tanah, membentuk sebongkah kristal sebesar gajah, menahan laju lembing dan memerangkap hampir setengah panjangnya di kristal. Laramidia mengatupkan tangan, dan kristal tersebut hancur menjadi kepingan-kepingan begitu lembingnya memancarkan listrik jutaan volt. Lembingnya yang bebas serta-merta kembali ke tangannya. Ia memutar-mutarnya penuh gaya, kemudian menancapkan sisi lonjongnya ke tanah.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Bebatuan terpisah dari tanah. Masing-masing berukuran sebesar mobil, dan mereka terus melayang tinggi, mengelupasi daratan dan menyulitkan pergerakanku. Kusadari sisi lonjong lembing itu mungkin mewakili Haumea dan sisi runcingnya mewakili Horus.
Prosesnya selesai. Sekarang ribuan batu melayang di udara, bergerak-gerak tak tentu arah seperti molekul benda gas. Masing-masing punya kecepatan gerak yang berbeda-beda, dan tidak jarang mereka saling bertabrakan, tapi tidak pecah. Ini akan menyulitkanku, kecuali aku bisa menyingkirkan atau memusnahkan semuanya. Ada begitu banyak batu seolah tempat ini telah kehilangan kemampuan gravitasinya, dan hampir mustahil bagimu untuk maju sepuluh senti tanpa tertabrak salah satu dari mereka.
Laramidia menaiki sebuah batu dengan sikap pongahnya yang biasa. "Sulitkah?" Ledeknya.
Aku meringis. "Terlalu mudah."
Wujud nagaku kembali. Ketujuh berlianku bersinar.
"Kau meremehkanku," gerungku. Kutembakkan ratusan cahaya atomis pelebur sekaligus, mengenai tiap batu dan merubahnya menjadi debu dalam waktu sepersekian detik. Sebentar saja, area pertarungan kami sudah bersih dari kumpulan asteroid gadungan yang merepotkan.
Laramidia mendecih, kemudian merubah wujudnya menjadi naga lagi. Dua ekor ular di pergelangan kaki depan kirinya mendesis marah, meneteskan cairan kuning kental menjijikan.
"Kubuat kau menjadi dadar, Ootsutsuki Ardhalea!" Geram Laramidia sambil mengepakkan sayapnya maju.
BRAKK!
Kepala kami berbenturan, dan saling menebas dengan kaki depan. Ia menghunjamkan kuku-kukunya, tapi berhasil kutangkis dengan cakarku. Dua ular di kaki satunya meliuk menyerang, tapi segera kupotong mereka berdua dengan kaki depanku yang satunya dan mengunci kaki depan kirinya, mengikatnya dengan cahaya dari Darah Delima.
"Kau yang jadi dadar," balasku. Aku membuka mulut dan menampakkan kumpulan cahaya radioaktif terang.
Mata emas Laramidia membelalak.
"Tidak!"
Atom berputar di mulutku.
"Jangan!" Pekiknya.
Kutembak dia –satu meter di tempat.
Kepalanya memecah, terburai dan tercincang menjadi jutaan keping, hanya menyisakan kepala tengkorak tanpa lidah atau apapun selain bola mata. Bagian kepala hingga lehernya sekarang seperti habis dikuliti, persis seperti penampilan lengan Deavvara ketika aku menghajarnya dengan teknik yang sama. Kulepaskan ikatan Darah Delima dan kuhantam dia dengan ujung ekor, berguling-guling sepanjang bebatuan dan berhenti setelah menabrak sebuah tebing.
"Giliranmu," tantangku. "Atau sudah selesai?"
Laramidia bangkit dengan penuh amarah. Gigi-giginya bergemeletak seperti batu-batu yang digerus.
"KAU AKAN MEMBAYAR INI, PARADOX!" Umpatnya dengan suara menggelegar. "BERANI-BERANINYA–"
.
.
.
Udara mendadak terasa tidak nyaman. Dingin dan aneh. Ini pasti fenomena yang begitu ganjil sampai Laramidia sempat menghentikan makiannya. Kami menoleh kompak ke arah Juubi.
Tubuhnya yang berkaki empat dengan sepuluh ekor gemuk dan satu mata miring itu mulai berguncang hebat, menggigil dari atas sampai bawah dan meraung-raung.
"Dia mulai," seringai Laramidia, untuk beberapa detik melupakan kepalanya yang tinggal tulang dan sebagian organ dalam. Sialnya –untungnya bagi dia- aku tidak sempat memburaikan otaknya.
"Tenpenchin. Dimulai!" Seru Obito dari kepala Juubi.
.
.
Proses destruktif besar-besaran dimulai.
Awan menggelap, sampai menutupi sisa cahaya terakhir dari matahari yang terhalang bulan. Petir sambar menyambar, terus berusaha memanggang apapun yang ada di bawahnya. Angin berembus mulai dari sepoi-sepoi hingga kecepatan yang cukup untuk mencabut panji-panji dari tanah dan menerbangkannya ratusan meter ke udara. Raungan terdengar dari udara seolah langit sedang marah.
Aku mengubah diriku secepat mungkin menjadi naga dan terbang menuju tim Naruto.
.
"Gawat," ucapku singkat begitu keempat kakiku menyentuh tanah.
"Aku sudah tahu itu," balas Naruto tak acuh. "Kami terus menyerangnya, tapi tidak ada gunanya. Juubi terlalu kuat ketika sudah sampai tahap ketiga!" Gerutunya. "Kau sendiri? Bagaimana dengan Laramidia?"
Aku mengedikkan bahu. "Anggaplah aku menang sementara."
Naruto mengangguk. "Kau tidak terluka, kan?"
Aku tertegun sejenak.
"Tidak samasekali."
.
RRRRROOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO...!
.
Sang Ekor-Sepuluh meraung dengan intensitas yang luar biasa sampai-sampai aku yakin suara paus biru pun akan terdengar seperti bisikan. Seluruh pasukan aliansi menutup telinga. Kerikil-kerikil dan tanah lempung terbang tak tentu arah, menghantam apa saja yang ada di depannya.
"Dia akan melakukan Tenpenchin, Naruto," aku memperingatkan.
"Tenchi –apa?"
"Tenpenchin! Jutsu kelas-S berskala kolosal yang mengambil bencana klimatologis! Aku yakin kau sudah pernah menghadapi Laramidia yang menggunakan bencana geologis."
"Gunung berapi," semburnya. "Dan gempa bumi dan hujan meteor dan banjir lava dan..."
"Semacam itu," potongku. "Laramidia hanya punya kemampuan turunan yang kuat dari Haumea. Kau beruntung soal itu, dan sisanya adalah urusannya untuk mengendalikan kekuatan Juubi di bencana udara! Sekarang musuh kita adalah sesuatu yang tidak bisa diraba, diukur, dibaui, atau dilihat! Sesuatu yang hampir tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali menghancurkan sumbernya!"
Begitu aku selesai bicara, sebuah awan berbentuk corong turun dari langit. Awan itu lebih berbentuk seperti air hitam daripada sesuatu yang terwujud dari penguapan benda cair. Tornado ekstra raksasa yang mampu mencabut gedung pencakar langit dari fondasinya dan mencabik-cabiknya di udara. Dan itu tidak hanya satu –melainkan sepuluh sekali muncul.
"Ini sangat berisik," gerutu Beleriphon. "Udara tidak bisa dienyahkan dengan Jinton. Apa yang harus kulakukan?"
"Lebih tepatnya, apa yang harus kita lakukan?" Koreksi Parthenon.
"Kedelapan Etatheon ada disini!" Seru Deavvara sambil menghantamkan sabitnya. Ia melirikku bangga, lantas mengedipkan sebelah mata. Ia menarik napas dalam-dalam. "Bersatulah, saudara-saudaraku! Kita berdelapan! Beratus-ratus bersama aliansi! Kita tidak mungkin kalah melawan empat makhluk sialan pembuat onar itu! Kita akan buktikan bahwa kebajikan kan selalu menang, siapapun lawannya! Kedelapan naga terkuat sepenjuru dunia telah berkumpul disini –dan jika kita menyatukan kekuatan kita dalam satu tujuan bersama, katakan padaku siapa yang bisa mengalahkan kita!" Serunya dengan suara menggelegar.
"Aku," sebuah suara dingin tertangkap oleh indera pendengaranku. Kami, lebih tepatnya. Sosok Uchiha Obito berdiri di batu di dekat kami, muncul entah dari mana, sembari menghunus sebuah shuriken raksasa.
"Kau tidak akan kemana-mana," janji Kakashi, mendadak maju ke depan. "Kita selesaikan urusan kita, Obito..."
Obito terkekeh mengejek. "Kenapa harus bertarung denganmu? Aku bisa mengalahkanmu disini sekarang juga! Biar kuperingatkan sekali lagi, tidak ada gunanya mempertahankan dunia yang tidak bernilai ini! Kalian bergantung pada akar lapuk, tahukah itu? Kenapa tidak biarkan imajinasi kalian mengambilalih kendali, tidak saja diri kalian sendiri, melainkan seluruh dunia!"
"Kuberitahu kau sekali lagi," Naruto ikut maju. "Tidak ada gunanya memborbardir kami dengan nasihat bodohmu itu!"
Obito melangkah maju, bersiap melempar shuriken. Kakashi menghadangnya dan mereka berdua melakukan Kamui bersama. Saling menyedot ke dimensi lain hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
"Kita biarkan mereka," saran Droconos. "Si Kakashi itu kuat. Aku yakin dia bisa mengatasi orang-setengah-pohon-ukir itu."
Hermes mengangguk semangat. "Demi Emu! Sudah lama sekali sejak kita menggabungkan kekuatan bersama!"
"Itu kalimatku!" Protes Pyrus. "Dan sejauh pengetahuanku tidak ada benda langit bernama Emu. Itu nama burung, dasar plagiator."
"Karena itu aku membuat ungkapanku sendiri," sanggah Hermes sambil memeletkan lidah.
"Tidak boleh."
"Untuk menandai momen istimewa saja?"
"Tidak."
"Untuk kali ini saja?"
"Tidak."
"Sudah selesai debatnya?" Potong Parthenon tak sabar. "Ada sesuatu yang besar yang harus kita tangani bersama."
Aku mengangguk. Kami berdelapan menoleh kompak ke Barat, dimana si Ekor-Sepuluh terus meraung-raung seperti binatang kebun binatang yang tidak kebagian jatah makan. Aku menarik napas dalam-dalam. Sudah cukup lama sejak aku bersama tiga saudaraku bertarung melawannya dengan wujud yang sama. Sekarang itu akan terjadi lagi, hanya saja jumlah kami berlipat dua kali.
"Kalahkan itu sebelum jadi Shinjuu," celetuk Deavvara di sampingku. Ia tersenyum lebar. "Kau tahu. Aku bersyukur kau adalah adikku."
Aku mengangguk. "Aku juga merasa begitu beruntung kau adalah kakakku."
Aku melirik Naruto, yang masih memandang kosong ke arah Juubi. Kurama dan Demetra berada di sampingnya, tampak menimbang-nimbang.
"Hermes," panggilku. Dia menoleh. "Sisipkan beberapa bulu sayapmu ke Kurama dan Demetra," titahku. "Mereka akan terbang mendampingi Naruto, karena itu kecepatan diatas rata-rata naga mutlak mereka butuhkan. Untuk sekarang ini."
"Oh," desah Hermes sedikit kecewa. "Bulu-bulu sayapku yang indah. Demi dunia...baiklah."
Naruto mengernyit. "Terbang mendampingiku? Itu lebih terdengar seperti meninggalkanku jauh di belakang! Kecepatan terbang dan kemampuan manuver-ku belum bagus, tahu!" Protesnya.
"Aku tidak berkata begitu," balasku santai.
"ETATHEON! BENTUK FORMASI!"
Begitu aku memekik, ketujuh rekanku membubung ke angkasa dan langsung berpindah ke posisi masing-masing. Hermes paling depan, aku di belakangnya, dan Deavvara di belakangku. Parthenon di sisi kiri belakang, sedangkan Pyrus di sisi kanan belakang. Beleriphon memosisikan diri di atasku. Styx terbang dibawah Hermes, dan Droconos terbang di sisi kanan Deavvara. Sekilas terlihat seperti formasi yang tidak beraturan, tapi masing-masing punya kemampuan untuk melakukan tugasnya dengan baik jika mereka berada di posisi itu.
"Mendarat," titahku. Ketujuh rekanku tampak bingung, tapi mereka melakukannya juga. Aku menghampiri Naruto dan membungkuk.
Ia mengangkat satu alis. "Kau ingin aku menaiki rodeo ala naga di punggungmu lagi?"
Aku mengedikkan bahu. "Ini satu-satunya cara. Kurama dan Demetra akan berpusing di sekitar kita untuk menembak api ke sembarang arah guna membingungkan Juubi selagi kita berada dalam formasi dan maju ke depan. Styx di depan bagian bawah karena itu area yang rentan serangan padat dari tanah. Dia bisa menyegelnya dengan mudah jika berada di bagian itu. Hermes di depan untuk memandu. Parthenon di belakang untuk unit medis. Pyrus tak hanya bisa menggunakan Ryuudama merah, tapi juga empat bola beda warna yang menimbulkan kerusakan besar. Dia bisa menyerang lebih leluasa saat berada di belakang. Droconos dan Beleriphon juga kira-kira diperhitungkan berdasarkan kemampuannya masing-masing," jelasku panjang lebar.
"Baiklah," Naruto akhirnya setuju. "Yah, rasanya sudah berabad-abad aku tidak menaikimu lagi."
"Cepatlah," sambarku kikuk. Kami akhirnya mengudara.
Juubi menggerung marah. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, dan menampakkan kelopak bunga super raksasa yang sedang mekar –seperti tanaman Raflesia dengan bunga berwarna merah tua. Ia mengumpulkan chakra dan membentuk sebuah Juubi Dama berukuran luar biasa, terlihat begitu besar walau kami berjarak dua kilometer darinya.
"Sekarang apa?" Desis Naruto sangsi. Aku melebarkan sayapku, ketujuh berlianku bersinar.
Yang lain merespon dengan melakukan hal yang sama.
Deavvara, Styx, Pyrus, Droconos, Parthenon, Beleriphon, dan Hermes. Ketujuh Etatheon sisanya kini berpendar dengan warna sisik dan sayap mereka masing-masing. Warna Deavvara dan Droconos kelihatan senada –biru tua dengan semburat ungu dan biru laut, Hermes dengan cahaya emas dan merah dari berlian di kepalanya, Parthenon berpendar hijau dan lemon, Pyrus memancarkan cahaya merah dan hijau laut, Styx berwarna oranye muda dan sedikit cahaya kuning, dan Beleriphon dengan cahaya putih dan perunggu lemah. Aku sendiri bersinar dengan cahaya putih keperakan dengan tujuh semburat pelangi dari ketujuh berlian.
Naruto tampak tercengang, tapi aku berusaha tidak terlihat angkuh.
"Kekuatan murni dari Delapan Pilar!" Seru Hermes kesenangan. "Aku sudah lama sekali tidak merasakan yang seperti ini."
"Aku penasaran apa yang bisa kusegel dengan kekuatan sebesar ini," timpal Styx.
"Ini akan seru," imbuh Beleriphon. "Hanya saja kita kurang dua naga. Masing-masing dari kita akan memotong sepuluh ekor Juubi!"
"Hei, ada aku!" Kurama mendadak berhenti dari pergerakannya. "Dan Demetra juga! Kenapa kita tidak melakukan ini bersama-sama?"
"Lalu siapa yang mendapatkan tubuhnya?" Tabrak Pyrus.
Aku mengguncang punggungku.
"Naruto," kataku, entah memanggil, entah memberi saran. "Dia akan mendapat kehormatan untuk menghabisi Juubi sebelum mewujud ke bentuk aslinya. Adakah disini yang menyangkal dia pantas mendapatkan itu?"
Tidak ada jawaban.
"Eh," kata Naruto kikuk. "Kau pikir aku bisa melakukannya?"
Aku mengangguk pelan. Hampir kukatakan sesuatu, tapi sesuatu yang lebih besar dan lebih penting di depan segera menyita waktu untuk itu.
"Juubi akan menembak," geram Droconos, "jika dia sampai, seluruh pasukan aliansi akan...remuk."
"Itu jika dia sempat," sanggah Parthenon. "Nah, kawan-kawan. Bisa kita lakukan itu?" Dia melirikku, menunggu persetujuan. Aku mengangguk sekali.
"KUMPULKAN RYUUDAMA!"
Kedelapan Etatheon membuka mulut. Delapan aliran Ryuudama berbeda warna mengalir dari satu naga ke naga yang lain hingga berujung pada dua barisan terdepan –Hermes dan Styx. Sebuah bola energi murni raksasa yang berpendar dengan cahaya putih bening dengan kilatan-kilatan warna pelangi terbentuk dan membesar. Tak ada cukup waktu untuk membuatnya jadi sebesar milik Juubi, tapi ukuran tidak menentukan kekuatannya.
Juubi menembak.
"Sekarang, Ardhalea?" Tanya Deavvara sedikit gugup.
Aku terdiam beberapa detik.
"KATAKAN SEKARANG!"
"FORMASI MERIAM!" Pekikku. "S-E-K-A-R-A-N-G-!"
Barisan belakang segera terbang rendah, disusul barisan tengah. Barisan terdepan hanya mendongak. Begitu formasi selesai, kami terlihat seperti sebuah meriam raksasa yang siap menembakkan peluru cahaya bulat super besar.
"TEMBAK!" Raung Deavvara.
Dua kubu menembak.
.
.
.
TIDAK ADA YANG BISA menandingi gemuruh luar biasa ketika dua kekuatan besar berbenturan di udara. Kulindungi Naruto dengan ketujuh perisai dari berlian-berlianku, sementara kami bersepuluh tetap berusaha sedapat mungkin mempertahankan formasi ditengah terpaan angin yang begitu kencang sampai-sampai bisa menggeser rumah berlantai tiga. Awan-awan tersingkir dari tempatnya, sebagian yang kecil terbuyarkan ditengah dinginnya malam. Sisa-sisa korona matahari yang menyembul dibalik umbra bulan tidak tampak lagi karena ledakan yang begitu terang dan besar.
Suara yang luar biasa, seperti seolah dua juta meriam berkekuatan penuh ditembakkan sekaligus, membuncah meremukkan udara, memecah-mecah tanah hingga radius beberapa kilometer dari pusat ledakan. Menggoyang pepohonan, menggetarkan bebatuan, mengguncangkan danau-danau terdekat. Ledakan itu perlahan terangkat ke atas akibat gaya berlawanan dari serangan gabungan delapan Etatheon yang dengan sengaja mengincar bagian bawahnya agar Juubi Dama super itu terangkat ke langit.
"Strategi kalian bagus," puji Naruto dari dalam pelindungku.
"Untuk delapan naga dewa yang telah bertarung sejak ratusan tahun silam, ini baru salah satu dari sekian banyak teknik semacam itu," pamer Styx.
Aku mengangguk mengiyakan kedua pernyataan itu. "Ayo. Juubi sedang lengah oleh kepulan debu yang sangat banyak dari ledakan barusan. Serang bagian belakang dengan terbang secepat mungkin. Lima ke kanan dan lima ke kiri!" Aku memerintahkan.
Lima berkas cahaya berbeda warna meluncur seperti meteor terkendali dari atmosfer, membelah debu-debu sisa ledakan dan terus melesat hingga berada di belakang Juubi –tanpa disadarinya.
"Heh, kita beruntung matanya hanya satu," canda Pyrus. "Sekarang ayo!"
Masing-masing menyiapkan senjata untuk semacam –potong-ekor-si-ekor-sepuluh-ramai-ramai. Kami terbang secepat mungkin ke makhluk aneh pembawa kehancuran itu tanpa bisa dicegah lagi dan segera melakukan sesuatu pada ekor-ekornya...
TAS!
TAS!
TAS!
TAS!
TAS!
Sepuluh ekor Juubi kini terpotong menjadi dua. Ujung hingga bagian tengahnya jatuh satu persatu, berdebum keras menghantam tanah. Sisa-sisanya meliuk-liuk tanpa arti di udara. Pemiliknya meraung keras seperti kereta api uap berukuran raksasa, berusaha menghancurkan kami dengan kedua tangannya. Itu usaha yang tidak berarti, karena ukuran dan kekuatannya hanya satu-satunya kelebihannya. Dia tidak begitu cepat ketika berada pada tahap ketiga, dan selain itu, aku setuju mengenai pemikiran Naruto yang mengatakan bahwa Juubi merupakan salah satu makhluk terjelek di bumi.
Naruto's POV
"Hei, bisakah aku melakukan sesuatu selain menonton kalian beraksi?" Tanyaku malas dari perisai Ardhalea.
"Sebentar lagi," jawabnya santai. Beberapa detik kemudian, kulihat sekelebat bayangan meluncur dari tanah dan mendarat di kepala Juubi. Aku memicingkan mata untuk melihat lebih jelas, dan alangkah terkejutnya aku ketika mendapati sosok itu adalah...Laramidia. Mungkin, sih.
Pasalnya sekarang yang kulihat lebih mirip seperti zombie hidup daripada jelmaan naga berusia jutaan tahun. Secara keseluruhan fisiknya masih tampak sama, rambut pirang, pakaian hitamnya, dan sebagainya...kecuali wajahnya.
Ya, wajahnya sekarang hanya sebonggol tulang tengkorak lengkap dengan bola mata yang menampakkan otot-otot penggeraknya, mulut tanpa gusi dan bibir, pipi tak berdaging, dan rambut yang tertanam langsung ke tulang tengkorak atas. Beberapa tulang lehernya bahkan terlihat. Ia menatap kami dengan pandangan membunuh. Ampun deh, ditatap mata emasnya saat wajahnya masih utuh saja sudah membuat lututku lemas, apalagi kalau wajahnya sekarang lebih mirip kostum Halloween?
"Cukup sampai disini, Zetsu," ucapnya singkat. "Kita akan memulai transformasi terakhir Juubi...sekarang."
"Sekarang?" Ulang Zetsu Hitam. "Juubi belum mendapatkan cukup chakra. Aku setuju dengan rencanamu. Dan aku ingin segera memulai Mugen Tsukuyomi tapi...pertama-tama kita harus menangkap setidaknya beberapa sumber chakra yang besar lagi...yang sinkron dengan chakra Juubi itu sendiri."
Laramidia melirik Zetsu Hitam, yang sekarang tampak kikuk.
"Kau."
"Eh? Aku?"
"Jadilah bagian dari Juubi," perintah Laramidia cepat. "Sekarang!"
Bagai kerbau dicocok hidung, Zetsu mengangguk patuh dan segera menelusup, menggabung dengan tubuh Juubi semudah sirup bercampur dengan air. Laramidia melakukan serangkaian handseal.
"Nah," desisnya ngeri. "Sekarang apa yang akan kalian lakukan...Etatheon?"
.
.
.
Juubi meraung lagi, tidak sekeras sebelum-sebelumnya, tapi terlihat sangat tersiksa, kemudian tubuh bagian atasnya menggembung, mencuat ke langit. Duri-duri yang bergelung seperti spiral aneh di punggungnya menjelma menjadi semacam kelopak bunga raksasa, dan keseluruhan tubuhnya meninggi seperti sebuah pohon yang tumbuh luar biasa cepat. Kesepuluh ekornya menancap menjadi jangkar di tanah, merubah diri menjadi kumpulan akar sebesar gedung.
SEBUAH POHON berukuran super-raksasa, berdiri menjulang menggapai langit, dengan kelopak bunga raksasa yang kuncup di puncaknya dan ikatan sulur menjadi batangnya. Akarnya menjalar jauh, membelah-belah tanah. Dia...berubah menjadi pohon?
"Apa maksudnya ini?" Desis Demetra ngeri. "Pohon apa yang tumbuh sampai sebesar itu?"
Ardhalea menggeram. Ia melirik Deavvara penuh arti.
"Shinjuu, ya?" Tebakku. Dua bersaudara ini menatapku dengan pandangan horor. Aku mengedikkan bahu takut-takut. "Berharap saja aku salah."
"Sialnya," gerutu Deavvara, "kau benar."
"Pohon yang merupakan asal-muasal chakra," bisik Ardhalea. "Ibu memakan buahnya satu milenia yang lalu. Tak kusangka aku akan menjumpai ini untuk yang kedua kalinya dalam hidupku."
Laramidia memanjat pohon itu sampai pucuk bunganya yang belum mekar. Ia membenamkan wajahnya, dan hanya dalam beberapa detik kemudian, kulit baru muncul di sekujur wajah dan lehernya, yang anehnya sama persisnya dengan kulitnya sebelumnya.
"Huh. Padahal aku lebih suka melihat wajah zombie-nya," ledek Droconos. Dia melirik Deavvara. "Ehm. Setidaknya kau waktu itu lebih keren."
"Terserah."
"Dia menyerap chakra yang luar biasa dari Shinjuu hanya untuk memperbaiki wajahnya?" Tinjauku. Ardhalea mengangguk.
"Itu beresiko, tapi itu bagus untuk kita."
Laramidia merubah wujud menjadi naga dan mengepakkan sayapnya mendatangi kami.
"Bernegoisasi, he? Kupenggal kepalamu sebelum kau mengatakan apapun!" Geram Hermes.
"Dua puluh menit," ucap Laramidia penuh penekanan.
"Apa?"
"Dua puluh menit," ulangnya.
"Sebelum bunga tunggal dari Pohon Shinjuu mekar dan memantulkan cahayanya ke bulan..."
"...dan..."
"...Mugen Tsukyomi akan sukses..."
.
.
.
.
Bersambung...
Author's Note (2):
Chapter 24 akhirnya selesai !
Banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeettttttt readers yang di chapter-chapter sebelumnya menuntut Ardhalea alias Paradox hidup lagi. Banyak banget alasannya. Huwahahaha, sebenarnya ini Author dari awal memang berencana 'mematikan' karakter utama ini sebentar, setelah itu memunculkannya kembali!
Laramidia telah menampakkan sisi jahatnya, yang bahkan membuat Madara tewas! Sementara itu, Shinjuu sang Pohon Dewa akhirnya berhasil ditumbuhkan dan tinggal masalah waktu bagi Mugen Tsukuyomi untuk terjadi.
Bagaimana Naruto dan delapan Etatheon plus Kurama dan Demetra –yang telah bersatu kembali menangani rencana keji Laramidia? Bagaimanakah kelanjutan persitegangan Kakashi dan Obito di dimensi lain? Nantikan kelanjutannya di chapter 25 yang akan update dua minggu lagi!
Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini ! Pokoknya ditengah-tengah kesibukan, akan saya usahakan update dan update !
Coming Soon: Paradox Chapter Twentyfive :
"Circle of Hope"
See you again in chapter 25 !
-Itami Shinjiru-
