Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya.

Warning : Alternate Universe, Out Of Characters, Original Characters, Typo, Death Chara

Main Pair : NaruPara, KuraDeme

Slight Pair : MinaKushi, ShikaTema, KakaPaku, & NagaKonan

Genre : Fantasy, Adventure, Friendship, Action, Romance


Author's Note :

Jumpa lagi di chapter 25, readers!

Oke, saya kembali harus mengucapkan bahwa saya sebagai author sangat berterimakasih atas semua review yang masuk, yang semuanya sudah saya terima. Terimakasih, matur nuwun, arigato gozaimazu, thank you very much, syukran, gracias, merci (*bungkuk hormat*).

Saya salut dengan kesetiaan dan kesabaran kalian yang mau menunggu fic ini update dua minggu. Hey, ini serius lho. Oke deh, jangan banyak basa-basi, yang nggak sabar, silakan baca...

Enjoy read chap 25!


PARADOX

パラドックス

Chapter Dua Puluh Lima:

Circle of Hope


Sebonggol pohon raksasa kini berdiri tegak menentang malam –aku yakin itu seharusnya sudah malam, tapi entah kenapa matahari masih bersinar dengan koronanya yang tertutup bulan.

Kukatakan sebonggol, pasalnya aku tidak yakin batang pohon raksasa itu sepenuhnya terbuat dari kayu –bahkan tidak ada cabang dan dahannya. Pucuknya yang setinggi kira-kira empat kilometer –setinggi gunung, persis seperti yang kulihat di mimpiku, adalah sebuah bunga berukuran luar biasa besar, yang masih kuncup. Tidak perlu bertanya-tanya apa yang akan terjadi apabila bunga itu sampai mekar.

Aku menghela napas. "Kita tebang pohon itu sebelum dua puluh menit berlalu. Itu rencananya?" Aku menunggu persetujuan. Herannya, kedelapan naga dewa di dekatku mengangguk kompak.

"HAHAHAHAHAHAHAHAHA!" Tawa Laramidia menggelegar seperti bunyi guntur. "Kalian tidak akan bisa menggores Shinjuu selagi aku masih ada disini! Selain itu, delapan kekuatan yang terpecah tak cukup terpusat dan tak cukup tajam untuk bisa menebas Shinjuu!"

"Itu berarti," potong Ardhalea, "kedelapan kekuatan itu harus disatukan."

Dia menatapku penuh arti.

"Apa?"

"Aku telah menemukan tempat yang sesuai," desisnya misterius. Ia memalingkan pandangannya pada delapan Etatheon. "Kalian bisa menebak ideku?"

Pyrus mengangguk pertama kali. "Bagiku saja sudah cukup jelas. Kita...akan bersatu dan mensinkronisasikan serangan langsung dari tubuh manusia Naruto, kan?" Selidiknya. Ardhalea mengangguk.

Aku menelan ludah gugup. "H-hei! Apa maksudnya? Kalian berdelapan akan...merasukiku?" Tanyaku tergagap. Ya ampun, aku sudah pernah bagaimana rasanya 'dirasuki' naga dengan kandungan chakra yang sangat besar –Kurama. Itupun hanya satu ekor. Sedangkan ini, delapan naga terkuat di dunia? Bersatu dalam tubuh seorang manusia?

"Aku...tidak yakin aku bisa melakukannya," desisku gugup. "Maksudku ya ampun, Ardhalea! Kau –dan kalian semua, sepercaya itu padaku? Aku bahkan belum dua bulan mengenal dunia naga-manusia dengan serius!"

"Kau bisa," potong Parthenon. "Jika Ardhalea mempercayaimu, aku dan yang lainnya juga akan mengatakan hal yang sama."

Aku memberengut. "Memang ketergantungan pada pemimpin itu tidak pernah merupakan hal yang bagus dalam organisasi atau perjuangan."

"Ini satu-satunya jalan, Naruto," desak Deavvara. "Kita mungkin sudah membuang waktu tiga menit hanya untuk perundingan tidak berguna ini. Kita harus secepatnya mengambil keputusan dengan tepat atau kau akan mendapati dunia berada dalam tidur abadi, memimpikan sesuatu yang tidak pernah terjadi seperti si punguk merindukan bulan!"

"Kami tidak akan melakukan apa-apa," sambung Beleriphon. "Lagipula, apa gunanya kami mempreteli tubuhmu?"

Aku menghela napas dalam-dalam.

.

.

"Apa ada resiko dari penggabungan delapan kekuatan ini?" Tanyaku ragu-ragu. Menurut pengalamanku, tiap kekuatan besar semestinya ada resiko besar yang mengintai dibaliknya juga, jadi...yah, kau tahu apa yang kumaksudkan.

Kedelapan naga dewa di depanku saling melempar pandang, sesekali mengangguk dan menggeleng.

"Kekuatanmu akan melampaui batas," jelas Droconos, "itu satu-satunya yang bisa kupikirkan."

"Tapi kami akan kontrol itu," janji Styx sambil memamerkan seringainya. "Aku takkan menyegel apapun."

"Aku takkan mencacah apapun," balas Beleriphon.

"Aku takkan menyumpahi siapapun," sambung Pyrus.

"Aku takkan merusak apapun," dukung Droconos.

"Aku takkan mengikat apapun," imbuh Parthenon.

"Aku takkan mencabik-cabik apapun," kata Hermes –agak setengah hati sih, kedengarannya.

"Aku takkan berusaha mengambilalih," janji Deavvara.

Aku melirik Ardhalea. Dia mengedikkan bahu.

"Aku akan tetap disini."

Aku mengernyitkan alis. "Hei, jadi kau tidak menyumbangkan..."

"Tujuh berlianku," potongnya, "itu cukup untuk sebongkah kekuatan ekstra. Aku akan tetap di luar...untuk menjagamu. Kau takkan aman ditinggal sendirian dengan kekuatan besar begitu, walau hanya dua menit. Sendirian...dalam tanda kutip."

Alamat aku harus berhadapan dengan sikap overprotektifnya lagi. Tapi...sudahlah.

Deavvara mengangguk. "Naruto, ulurkan lengan kananmu."

Aku mengulurkan lengan kananku. Deavvara mengeluarkan cahaya dari mulutnya, yang serupa dengan Ryuudama kecil. Begitu pula dengan yang lain, mengeluarkan bola cahaya yang masing-masing sebesar bola kasti, terbang melayang hingga memutari tangan kananku seperti satelit-satelit sebuah planet. Kemudian ketujuh Etatheon ini mengatupkan kaki depan mereka masing-masing dan memecah menjadi ribuan keping butiran cahaya yang terserap masuk ke masing-masing bulatan, yang akhirnya melebur menjadi satu dan masuk begitu saja ke dalam dadaku seolah aku ini terbuat dari jeli.

Kemudian terjadi perubahan yang...

(Pilih jawabanmu sendiri: a.)Fantastis b.)Menakjubkan c.)Mengerikan d.)Aneh)

...pada diriku.

.

.

.

Ardhalea menumbuhkan sebatang kristal jernih dari tanah, membentuk sebuah cermin.

Ada sepasang sayap di punggungku sekarang, dan sepertinya ini adalah campuran antara sayap kulit khas naga dengan sayap berbulu serupa sayap Hermes dan Parthenon, tapi juga dilapisi api biru yang berkobar seperti di sayap Deavvara. Sepasang tanduk tumbuh di kedua sisi kepalaku, berbentuk seperti tanduk Aurochs (untungnya bukan tanduk domba lengkung khas Deavvara atau tanduk tunggal kepunyaan Styx). Mataku dikelilingi warna oranye yang mengingatkanku pada Sennin Modo, tapi coraknya kali ini berbeda. Semburat oranye ini lebih tipis dan panjang dan lebih mirip semburat yang terdapat di dekat mata Ardhalea dan Deavvara saat mereka berdua menjelma menjadi wujud sejatinya.

Aku meringis, dan syukurlah gigi-gigiku tidak ikut berubah menjadi selang-seling tajam, dan tidak ada ekor yang mencuat dari pantatku. Kurasa tubuh manusiaku masih menang, tapi ditambahi aksesoris naga disana-sini. Iris mataku berubah menjadi biru cerah dengan pupil vertikal seperti kucing pada siang hari. Pakaianku berubah menjadi jubah sutera indah yang dialiri chakra penuh kekuatan...nyaris sama seperti jubah yang kukenakan saat mimpi pertamaku ketika aku melihat Ryuuzetsu di Tsuchigakure.

Ardhalea merubah diri ke wujud manusia dan manggut-manggut sendiri seolah aku barusan keluar dari toko busana mode. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya –kalung emas dengan tujuh warna magatama –merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, dengan satu berlian di sisi lubang magatamanya. Pasti simbol untuk tujuh berlian Paradox.

Ia mengalungkannya padaku.

"Susah sekali memakaikan baju padamu," kenangnya, "bertahun-tahun lalu saat kau masih kecil. Terus saja menendang-nendang dan mengepak-ngepakkan kedua tangan seolah kau ingin terbang. Sekarang aku tahu...kau akan melakukan itu semua."

Sedetik kemudian, dia mengernyitkan dahi.

"Naruto...sejak kapan kau lebih tinggi dariku?"

Aku terkesiap. Oke, aneh deh. Kira-kira saat aku mendapati Ardhalea dalam wujud manusia untuk pertama kali, tinggi kami bisa dibilang sama, yah, paling tidak aku lebih tinggi satu dua senti. Tapi sekarang...aku lebih tinggi kira-kira enam sentimeter. Aku harus menunduk sedikit supaya bisa menatap tepat ke matanya.

"Entahlah?" Aku menjawab kikuk. "Kau yakin kau selalu mewujud dalam ukuran yang sama saat berubah menjadi manusia?"

Dia mengangguk. "Sebelumnya tidak seperti ini. Sebelum aku mati..." desisnya.

"Kalau ada yang perlu dipermasalahkan, lebih baik kita permasalahkan yang di depan!" Hermes mendadak berseru dari dalam tubuhku, berbicara langsung ke pikiranku persis seperti Kurama ketika itu.

Aku menghentakkan kaki dan mengepakkan sayap, terbang. Tapi jauh lebih tinggi dari keinginanku –alih-alih melayang dan diam dalam ketinggian sepuluh meter, aku meluncur seperti roket ke atmosfer, langsung berada di altitud tiga ratus meter dalam tiga detik.

"Hei!" Seruku gugup.

"Akselerasi yang bagus, kan?" Pamer Hermes lagi.

"Terlalu bagus!" Ucapku. "Lebih pelan lagi atau kau akan membuat wajahku jadi bubur!"

Kemudian aku menumbuhkan sepasang sayap sebesar sayap merpati di kedua tumitku.

Aku tidak menyukainya.

Sekarang aku terbang jungkir-balik gaya rollercoaster ke depan, kepala dan kakiku berganti posisi tiap empat detik atas-bawah, membuatku ingin muntah.

Ardhalea geleng-geleng kepala. Aku terbang tepat ke batang Shinjuu tanpa dihentikan Laramidia yang wajahnya masih berasap, barangkali belum sepenuhnya menoleransi kekuatan baru yang begitu besar dari pohon dewa itu. Aku terbang makin dekat ke batang Shinjuu.

"Hei, sudah kubilang jangan terlalu keras mengepakkan sayap punggungnya! Kau malah menumbuhkan sayap kaki!" Suara Beleriphon terdengar.

"Itu untuk kendali yang lebih baik!" Kilah Hermes. "Ampun deh, aku sedang berusaha mengendalikannya saat kau merebut kuasaku atas sayap punggung Naruto! Bentuknya ditiru dari sayap punggungku kan?"

"Diam kalian berdua!" Bentak Parthenon. "Aku sedang menyeimbangkan tubuh Naruto!"

"Oi, oi, oi. Kita akan mengalami tabrakan dalam tiga..."

Alih-alih menengahi, Styx malah asyik menghitung mundur. Tubuhku melayang bebas ke pokok Shinjuu raksasa.

"Dua!" Seru Styx.

Aku memejamkan mata.

"Satu!"

PUK!

.

.

Aku membuka mata. Kudapati batang pohon raksasa Shinjuu hanya berjarak dua meter dari tubuhku.

"Eh? Kukira tabrakannya akan terjadi sedetik lagi?" Celetuk Styx.

"Kau tak apa?" Selidik Ardhalea. Ia berhasil menahanku...dengan menarik kerah jubahku dari belakang dan kedua sisi sayapnya ditautkan ke sepasang sayapku. "Kau tidak berpikir untuk menebang Shinjuu dengan kepalamu, kan?"

Aku menggeleng malu. "Mereka berisik sekali," gerutuku.

Ardhalea mengangguk. Ia menarikku ke belakang, menahan punggungku dengan tangan kanan.

"Naruto akan menggunakan kekuatan kalian bertujuh atas kehendaknya sendiri," desisnya. "Kalian cukup mentransfer chakra. Biar sisanya Naruto yang urus," perintahnya.

"Baiklah," suara Deavvara menggema. "Akan kami lakukan itu."

Aku mengangguk. Ardhalea melakukan handseal. Dari udara kosong, mendadak muncul sebuah senjata –lebih tepat disebut tongkat, kira-kira sepanjang satu koma enam meter, dengan ujung berbentuk lingkaran dengan enam lingkaran lain yang terkait sempurna seperti cincin, dengan bentuk keseluruhan seperti matahari. Tongkat itu sendiri berwarna emas dengan diameter yang kecil, tapi sepertinya sangat kuat. Aku tidak asing dengan ini.

"Shakujo?" Ucapku. Ardhalea mengangguk.

"Ditinjau dari ucapan Hagaromo...kau layak memilikinya," bisiknya. "Aku bertemu dengannya di mimpiku ketika...yah, kau tahu. Kami bercakap-cakap sebentar dan mencapai kesepakatan."

Aku meraba-raba tongkat itu, yang sudah berpindah ke tanganku. Menggemerincingkan gantungan-gantungan lingkarannya. "Apa perjanjiannya?"

"Aku akan bersamamu," tegasnya.

"Eh?"

"Ya," potongnya. "Jangan pikirkan yang tidak-tidak. Kau hanya harus memotongnya."

Aku mengangguk. Gelegak energi delapan naga dewa dalam tubuhku sudah tidak begitu berisik dan menyengat lagi. Sepertinya aku bisa mengendalikan semuanya sekarang, setidaknya tanpa harus jungkir-balik dan menabrak-nabrak objek tak dikenal lagi.

.

"Hmph!" Gerutu Laramidia. "Sekelompok pahlawan yang beruntung untuk sementara. Kau sungguh mengira bisa menangani ini, Naruto?" Bentaknya. Dia membentangkan sayap tulang-kulitnya lebar-lebar, kemudian menarik sebuah cambuk sepanjang dua meter begitu saja dari pinggangnya, entah muncul dari mana. "Bangkit dan habisi mereka!" Dia berseru pada tanah.

GREK!

BRAKK!

Air membuncah ke udara, dan segera membentuk sosok naga sepanjang dua puluh meter yang mirip dengan Gorongosa. Hanya saja, naga ini murni terbuat dari air –dan mungkin bisa ditembus oleh sesuatu yang terbang seratus kilometer perjam melintasinya.

Tanah berderak dan bebatuan membentuk sosok naga yang lain, dengan bahu kekar dan leher pendek padat. Kepala dipenuhi tanduk dan gigi-gigi dari batu, ekor gada, dan cakar-cakar seperti beliung. Api yang berkobar di sekitar arena peperangan juga membentuk seekor naga tersendiri, murni dari api seutuhnya. Kilatan petir sambar-menyambar, berubah menjadi sosok naga yang tersusun atas petir seluruhnya.

Bahkan udara kosong ikut andil, pusaran angin dan awan mewujud menjadi bentuk naga, yang menurutku akan sangat sulit diserang. Kupikir tidak ada yang lebih buruk ketika elemen-elemen lain juga ikut berulah. Pohon-pohon menyatu dan menyusun tubuh dari seekor naga besar yang untungnya tidak mirip dengan jutsu naga kayu Madara. Lava memadat dan mengeras, membentuk sosok antara api cair dan bebatuan padat, naga lava serupa Crysmson.

Hawa panas menguar, membentuk sosok naga lain yang entah terbuat dari apa, tubuhnya bergoyang-goyang di udara seperti berkas fatamorgana. Naga dari elemen panas –Shakuton seperti milik Pakura. Naga es yang mengingatkanku pada Chiron, naga badai yang seperti perpaduan antara petir, air, dan awan, naga besi yang mirip Kugutsu buatan si gembrot Anrokuzan, dan yang paling aneh adalah sosok naga yang sesekali berpendar, dengan mata berupa bulatan putih polos dan tubuh yang menyatu dalam kegelapan. Kuperkirakan itu adalah perwujudan Meiton, elemen kegelapan. Dia sulit sekali dilihat –hitam di latar belakang yang hitam, dan bergerak sangat cepat.

"Laramidia sudah gila," sembur Hermes. "Kita akan cincang mereka."

"Mereka tidak bisa dibunuh," koreksi Styx. "Elemen murni, kau tahu. Menghancurkan mereka sama saja membentuk mereka kembali. Mereka tidak bisa mati kecuali sumber pengendali atau kekuatannya dihentikan lebih dulu...cukuplah dilemahkan."

"Untuk mencegah Shinjuu mekar, kita harus menghadapi Laramidia. Untuk menghadapi Laramidia, kita harus melawan naga-naga elemen ini dulu. Tapi untuk mengalahkan naga-naga elemen ini, kita harus mengalahkan Laramidia dulu! Ini semua membuatku pusing setengah mati!" Gerutu Droconos.

"Kalian tahu peraturan Etatheon nomor tiga?" Celetuk Ardhalea tiba-tiba, entah pada siapa.

"Takkan menyerah sebelum mencoba," jawab Parthenon. "Iya, iya. Sekarang waktunya untuk mengaplikasikan itu."

"Kalau begitu mari kita lakukan," sambut Ardhalea, dan dia mewujud kembali menjadi naga. Dengan isyaratnya, aku naik ke punggungnya dengan sebuah Shakujo dan Nunboko no Tsurugi. Di pihak seberang, Laramidia bersiap dengan anggar, Taiyotsuki no Tsurugi, dan...naga-naga elemen sialannya itu.

Tanpa aba-aba atau komando, naga-naga elemen menyerang bersamaan.

"Faktanya bahwa kemungkinan seorang Dracovetth paling berpengalaman dan seekor naga paling cekatan takkan bisa menghadapi pertarungan ini tanpa mati kira-kira lima menit ke depan," Ardhalea menganalisis, "kau siap menentang kemungkinan itu?"

Aku menyeringai pasrah. "Lebih dari siap."

"Kalau begitu ayo."

Dia melesat seperti roket.

Naga yang pertama menyerang adalah naga yang paling tidak kuharapkan –elemen kegelapan. Dia berkelebat-kelebat di sekitar kami tanpa terlihat, benar-benar seperti bayangan hidup. Salah satu cakarnya langsung menggores sayap kiriku. Aku mendengus, tapi tidak ada gunanya.

VOOOMMMM!

Semburan dua dinding api membuat latar belakang oranye-merah-kuning yang kontras. Kulihat Kurama dan Demetra menyemburkan dinding api itu dari bawah, membuat naga Meiton itu segera terlihat. Aku mengarahkan tangan kananku padanya, dan berusaha mengalirkan kekuatan Pyrus. "Bola kuning," bisikku pada diriku sendiri. "Pada naga itu!"

Persis seperti yang kuharapkan, sebentuk cahaya kuning sebesar bola voli meluncur dari tangan kananku dan langsung mengenai naga kegelapan, membuyarkannya untuk sementara dalam ledakan dahsyat. Dudukkanku berguncang sesaat ketika Ardhalea menahan naga elemen tanah. Naga elemen lava menyerang dari belakang, tapi ekor Ardhalea berhasil menghancurkan rahang bawahnya. Aku menebas moncong atasnya dengan Nunboko no Tsurugi, membuatnya terpecah-pecah menjadi bebatuan pijar.

Ardhalea memburaikan naga Doton dengan semburan atom, dan segera menghindar dari terkaman naga badai. Belum sempat aku memikirkan langkah selanjutnya, uap terbentuk di sekitar kami dan langsung menerabas sayap kanan Ardhalea, walau dia tampak baik-baik saja. Aku menyadarinya. Naga elemen uap.

"Tiga bentuk air ada disini," gerutunya. "Cair, padat, dan gas."

Mendadak, peluru-peluru kanon berwarna hijau meluncur ke arah kami. Aku sibuk menebas mereka semua dengan Shakujo –yang ternyata ampuh juga dibandingkan pedang baja manapun, tongkat ini benar-benar keras tapi ringan. "Cih! Naga elemen kristal!" Seruku, "benda seberat itu bisa terbang juga."

BLLAARRR!

Kami keluar dari asap hitam ledakan. Mataku segera menangkap sosok naga dengan tekstur tubuh seperti tanah liat, yang lehernya mulai menggembung dan menembakkan sebuah bola.

"Bakuton," desis Ardhalea. Ia menembakkan sinar atomis dan bola tersebut meledak seperti bom molotov.

"Bakuton akan netral ketika disambar petir," saran Deavvara. "Tabrakkan dia dengan naga elemen petir atau badai. Atau kalau itu terlalu sulit, sambar bom-bomnya dengan Raiton!"

Naga elemen angin menyerang, mencacah dengan cakar kaki-kakinya, tapi Ardhalea tepat menghindar dan balas mengiris ekornya. Di belakang, naga elemen kayu menembakkan lusinan kaktus. Kurama mendadak menghalang dan membakar semuanya dengan elemen api, tapi naga itu langsung menghindar dan membiarkan pemilik elemen air mengambilalih koordinasi serangan. Airnya memadamkan api Kurama, dan kubalas dengan ledakan es, tapi naga elemen api menyambutnya dengan kobaran.

"Mereka saling membantu," desis Demetra. "Ini akan sulit!"

Naga elemen badai menyambar kaki belakang kirinya hingga berdarah. Ia menukik cepat dan berusaha menyambar Kurama, tapi dia berhasil menghindar dan menenggelamkannya dalam lidah api, meskipun itu tampaknya tidak berhasil. Naga elemen badai itu menembakkan sel badai, gumpalan awan hitam dengan kilatan-kilatan petir dan sapuan angin.

Terlalu cepat dan akurat untuk bisa dihindari. Kupikirkan kekuatan pertahanan Etatheon yang terbaik. Tidak ada...kecuali Styx.

Aku tidak punya tanduk tunggal, tapi akhirnya kuarahkan telunjuk tangan kiri ke depan. Dan itu berhasil. Sel badai itu terserap dan akhirnya menghilang ditelan lubang dimensi lain, mirip Kamui, tapi lebih transparan dan sulit diterka.

"Haha! Bocah pintar!" Puji Styx dari dalam tubuhku.

Kudengar desingan sayap di belakang. Naga elemen besi, kristal, dan es. Mereka melakukan serangan gabungan –menembakkan puluhan pahat-pahat kristal biru, baja, dan es keras, tepat ke arah kami berdua. Ardhalea mengepakkan sayapnya dan membuat semuanya terpantul, tapi ketiga penembaknya berhasil menghindari semua amunisi mereka dengan sempurna dan terus menembak.

"Gunakan semburanku!" Usul Droconos. "Membakar habis semuanya, bahkan kristal!"

"Aktifkan semburannya pakai sayapku!" Hermes tak mau ketinggalan. "Apinya akan menyebar begitu cepat dan luas! Kerusakan dijamin!"

Aku mengikuti saran mereka. Kukepakkan sayap berkekuatan Hermes yang menyemburkan api Droconos, langsung meludeskan semua pahat yang berdatangan itu tanpa sisa, sekaligus penembaknya.

Kulihat naga elemen panas menembakkan bola-bola api berwarna biru. Aku menggunakan kekuatan Pyrus lagi, menyalurkan bola-bola air yang langsung memadamkan mereka ketika ratusan galon air membanjiri di udara seperti hujan lokal. Naga elemen lava –yang telah terbentuk kembali, mendadak menyerang dari atas, menembakkan puluhan batu-batu pijar.

Ardhalea berkelit menghindar, dan kembali membunuhnya dengan mengiris sisi tubuhnya hingga terbelah dua dengan cakar kakinya, dan dengan mudah menghancurkan kepala naga elemen besi dengan tumbukan ekornya. Naga elemen es tidak terima dan langsung menyemburkan spiral-spiral es, tapi Demetra dengan sigap menghadang dan melelehkan semuanya. Kurama turut membantu dari belakang, dua semburan bertabrakan tepat di naga es, dan membuatnya meleleh.

Kami masih tidak bisa tenang. Naga elemen api menembakkan panah-panah berkobar ke sembarang arah, dan aku kewalahan menangkis semuanya. Di atas, Naga Bakuton tampak sedang mengunyah sesuatu. Aku curiga itu bahan peledak, dan benar –dia menjatuhkan setidaknya dua lusin bom berbentuk ular, meledak di sekitar kami. Tanpa pikir panjang, kulindungi Kurama dan Demetra dengan Pita Glepnir –yang tiba-tiba saja keluar dari kedua tanganku, membungkus mereka seperti kanopi, melindungi dari ledakan. Ardhalea melindungiku dengan ketujuh berliannya.

"Kau tak apa?" Selidikku. Dia mengangguk singkat, dan membuktikannya dengan satu tembakan atom jitu ke perut naga peledak, melubangi perutnya hingga menembus punggungnya.

"Langsung saja serbu Laramidia," decih Kurama. Aku mengangguk setuju. Kami takkan berhasil jika terus berada di tempat yang sama dan diserang oleh naga-naga sialan ini. Kami harus terus maju dengan menyingkirkan mereka.

"Menerobos dengan keberanian?" Suara Pyrus bergema. "Lebih kedengaran seperti semacam upaya bunuh diri daripada rencana, tahu. Kenapa kita tidak bertindak seperti medan gravitasi terbalik saja, yang bisa memantulkan semua serangan mereka atau mungkin bertindak seperti Lubang Hitam di angkasa luar sana, yang menyedot apapun yang mendekat padanya?"

"Hush. Ini bukan saatnya untuk kuliah astronomi," bantah Beleriphon.

"Itu tidak buruk, Pyrus," bela Parthenon, "itu memberiku semacam ide. Menarik...dan mendorong. Itu kekuatan dari Shinra Bansho* kan? Seingatku hanya satu hal di dunia manusia fana yang bisa melakukan hal itu."

"Rinnegan," balas Droconos puas.

"Ya, dan untuk itulah aku disini."

Suara yang terakhir itu bukan berasal dari dalam tubuhku. Itu berasal dari sisi kiriku, dimana seorang remaja laki-laki berambut merah dengan kulit putih pucat mengendarai seekor enggang raksasa bersama seorang gadis berambut biru dengan mata almond. Mereka tersenyum simpul ke arah kami berdua. "Kau kira kami akan puas hanya dengan menontonmu sibuk bertarung diatas, hmm?" Seekor elang dengan bentang sayap sebesar paralayang turut bersua di dekat kami.

"Kapan sikap sinismu itu hilang, sih," gerutuku. "Jika kau punya waktu untuk meledekku, kenapa tidak gunakan saja untuk menghabisi-"

DAAARRR!

Bom meledak di dekat kami. Untungnya tidak ada kerusakan serius yang dialami siapapun, tapi itu menandakan kawanan naga elemen itu sudah mulai kehilangan kesabaran.

"Tak ada waktu, Sasuke," desisku. "Bertarung ya bertarung, tidak ya tidak. Jangan bertarung melawan yang tidak-tidak!"

"Seperti itu," balas Sakura –yang telah bersama Tim Paradox yang lain dengan menunggangi...seekor, eh, tidak. Tiga ekor naga berbentuk aneh. Naga pertama berwarna merah tua dengan corak-corak merah darah, memanggul sebuah pedang di punggungnya dan kulitnya benjol-benjol seperti bangkong. Naga kedua berwarna merah jambu, dengan alis mencuat ke atas seperti tanduk dan mata bergaris-garis. Dia menyandang tameng berbentuk mangkuk yang diikat dengan kain sutera tipis ke lengan kanannya dan sebuah tongkat besi raksasa berbentuk huruf Y dengan duri-duri tajam. Naga ketika berwarna hijau kombinasi tua-muda, dengan sepasang katana seperti samurai bertengger di punggungnya. Tiga naga dengan sandangan senjata teraneh yang kulihat, plus...seekor Bryptops dan seekor ular ungu raksasa bertanduk.

"Jiraya-sensei!" Seruku. "Orochimaru dan Kabuto juga?"

Orochimaru menyeringai. Kalau aku tidak mengenalnya sebelumnya, pasti sudah kuserang habis-habisan. Seringai mirip ular itu selalu tampak licik, tidak peduli sebersih apa hatinya sebenarnya. Kabuto sendiri tampak muram seolah-olah seorang dokter profesional barusan memvonisnya terkena penyakit katarak. Jiraya-sensei...masih terlihat seperti dulu, dengan senyum jahil dan rambut putih panjang, dan sikap acuh tak acuh yang biasa.

"Kalian telat," aku menggerutu habis-habisan. "Shinjuu sudah tumbuh. Kalian melewatkan serangan si jelek Juubi dan kematian Madara...juga pembongkaran rahasia Pria Bertopeng! Masalah yang kami hadapi jauh lebih runyam daripada kalian, tahu."

"Kami barusan mengobati Lima Kage...dan satu jendral tempur yang terluka parah," desis Orochimaru kalem, "itu gampang-gampang saja. Masalahnya, Oedipus kecewa karena kami tidak bisa menjaga gulungan rahasia segel itu. Nah, sekarang...kau tidak perlu menceritakan apa-apa. Aku sudah dengar semuanya...dari mata-mataku di segala penjuru dunia. Oedipus menitahkan kami berdua untuk membantu peperangan ini."

"Situasinya memang rumit," sambung Jiraya-sensei. "Nah, sekarang dimana Kakashi? Aku sudah merampungkan beberapa buku yang kujanjikan ke Oedipus. Ada baiknya dia membaca semuanya dulu sebelum kusumbangan ke Perpustakaan Alexandriana."

"INI BUKAN SAATNYA MEMBICARAKAN BUKU KONYOLMU!" Seruku keras-keras. Ingin sekali kuhantam kepala guru berjuta uban itu dengan sebonggol cakar Titanis. "Kakashi-sensei sedang bertarung dengan si pria bertopeng itu di dimensi lain."

Jiraya-sensei menggaruk kepala dengan wajah inosen. "Nah, kau sudah menguasai kedelapan Etatheon, Naruto," ujarnya. "Kau tahu. Aku bangga menjadi gurumu, meskipun sepertinya apa yang sudah kulakukan padamu selama ini masih tidak ada artinya dibandingkan yang diberikan Paradox sendiri," imbuhnya.

Sangat tidak ada artinya, pikirku. Aku melirik Ardhalea, tapi dia tetap terlihat biasa saja.

Naga elemen api dan elemen lava menyerang bersamaan. Manda menyemburkan semprotan air raksasa dari mulutnya, memadamkan api seketika dan mengubah batu-batu lava menjadi gumpalan batu gosong, dan keduanya terpotong di kepala dan jatuh ke tanah. Untuk sementara sampai naga elemen kayu, kristal, dan uap menyerang.

TRANGTRANGTRANG!

Ketiganya menghantam tiga naga milik Jiraya-sensei bersamaan.

"Gamabunta! Gamaken! Gamahiro! Bertarunglah untuk Myobokuzan!" Pekik Jiraya-sensei sambil berpose. Ia menyemburkan lidah api raksasa ke naga elemen es yang menyerang dari belakang, langsung mencairkan kepala, leher, dan bahunya. Bryptops berbalik dan menembak tepat sasaran ke dada naga elemen tanah dan sempat menghindar dari terjangan naga elemen petir.

"Pertarungan dimulai," kata Sasuke sambil mengaktifkan Mangekyo Sharingannya, memunculkan Susano'o ungu andalannya, dan sekarang bersiap membidik target terdekat dengan panah. "Pergilah, Naruto. Hancurkan Shinjuu, dan kalahkan Laramidia. Naga-naga ini biar kami yang urus."

Aku mendecih. "Kau selalu ingin ambil bagian saat sedang seru, ya."

Ardhalea melesat maju. Naga elemen besi menghadang kami, tapi berlian merah Ardhalea menembak tepat ke tengah tubuh lawan, memecahnya menjadi ribuan keping besi rongsokan dan melanjutkan perjalanan.

"Kelihatannya tidak begitu seimbang," gumam Manda. "Hei, lihat naga-naga kurus kering itu. Tak satupun dari mereka punya daging. Tak ada daging, tak ada makanan. Untuk apa aku melawan sesuatu yang tidak bisa kucincang-cincang?" Dia melirik Orochimaru dan Kabuto yang masih duduk santai diatas kepala bersisik lebarnya.

"Terserah kau," balas Orochimaru. "Kalau kau mau martabatmu disamakan atau bahkan kuanggap lebih rendah daripada naga-naga Myobokuzan itu," kata Orochimaru persuasif. "Dan itu buruk, lho."

Manda meliukkan tubuh dan membelah naga elemen badai menjadi dua.

.

.

Di pucuk tertinggi Pohon Dewa Shinjuu, kulihat Laramidia sedang duduk santai dalam wujud naganya, melipat kedua sayapnya yang janggal dan menggoyang-goyak ekor bersengatnya rileks. Ia membiarkan kami mendekat sampai seratus meter jauhnya, dan barulah kedua sayap punggungnya terbentang dan dia berdiri.

"Satu pengendara dan satu naga melawan satu naga," ucap Laramidia santai. "Benar-benar tidak seimbang, tahu."

"Kau sangat kuat," kataku, "dan silakan anggap itu sebagai sanjungan. Kami akan bertarung melawanmu!"

Laramidia tertawa licik. Ia menusuk bunga kuncup Shinjuu dengan ekornya dan menyerap sejumlah besar chakra. Aku mengernyitkan dahi.

"Seharusnya sepuluh menit lagi bunga ini mekar," katanya. "Kalian harus mengalahkanku atau menebangnya dalam waktu sembilan menit. Tapi...aku mulai merasa pertarungan ini akan jadi sangat seru, jadi terpaksa kuperpanjang saja waktunya. Setengah jam dari sekarang, Shinjuu akan mekar...dan selama menunggu waktu itu terjadi, bagaimana kalau kita bertarung dengan jujur dan adil?"

Aku menghunus pedangku. Ardhalea masih dalam sikap yang biasa. Kurasa tempramennya sudah kembali datar sekarang. Ketujuh Etatheon dalam tubuhku serta Kurama dan Demetra di belakang kami juga tidak bereaksi apa-apa. Sepertinya Laramidia akan melakukan sesuatu yang...aneh, untuk kesekian kalinya.

Tubuhnya menggembung seperti ikan buntal. Aku sampai kesulitan mendeskripsikan keseluruhannya, tapi sempat kupikir dia akan meledak seperti balon yang kebanyakan diisi helium. Belakangan, aku yakin aku perlu belajar soal sifat fisis suatu zat lebih jauh lagi.

Laramidia membelah menjadi dua. Satu belahannya, yang tadinya hanya berupa awan plasma kental seakan udara terbuat dari air, mewujud menjadi seekor naga. Lebih tepatnya wujud naga Laramidia, yang begitu gampang dikenali dengan kepala aneh, kaki-kaki yang lebih aneh lagi, dan sayap yang lebih-lebih aneh lagi. Yang satunya lagi tetap mewujud menjadi manusia.

"Dengan begini kita seimbang," desisnya riang. "Satu sebagai naga dan satu sebagai manusia! Nah, sekarang kita lihat siapa yamg akan membuat destruktif lebih hebat!"

Ardhalea mendengus. "Kau hanya bisa menghancurkan, payah," sambutnya. "Kau hanya bisa merusak yang telah ada! Tatanan yang telah disusun dengan susah payah selama ribuan bahkan jutaan tahun...kau telah menghancurkannya!" Hardiknya keras-keras sampai membuat telingaku bergetar. "Makhluk tua bangka tanpa guna sepertimu seharusnya sudah melebur menjadi debu dan terpecah menjadi miliaran keping sejak pertama kali ada!"

"Dan kenapa aku masih ada disini sekarang?" Jawab Laramidia kalem, "hei, hei, hei. Jangan bilang ini tak adil. Takkan ada kebaikan tanpa kejahatan, bukan? Takkan ada kejujuran tanpa kelicikan dan kebohongan. Kalian takkan tahu mana yang benar kalau tak ada yang salah. Jadi? Sekarang apa yang ingin kalian katakan, hmm?"

Aku benci mengakuinya, tapi aku terkesan dengan pribadi Laramidia yang begitu percaya diri dan santai dalam menangani tiap ejekan dan hujatan yang ada, dan memantulkannya balik ke penyerang.

Sosok naga Laramidia menyeringai sampai gigi belakangnya terlihat. "Musuh yang kuat dan pandai lebih baik daripada teman yang bodoh dan lemah."

Aku menghunus Nunboko no Tsurugi. "Teman yang pandai dan kuat..." (aku melirik Ardhalea, walau dari belakang) "...seribu kali lebih baik daripada keduanya!"

Kedua Laramidia menyerang. Ardhalea berkelebat seperti mesin jet dengan kecepatan akselerasi dan performa terbaik sedunia. Tembakan demi tembakan bola api berwarna aneh yang lebih mirip jaring yang terbuat dari asap ketimbang api, berhasil kami hindari dengan baik. Ardhalea menggerus tameng leher bawah naga Laramidia dengan...rahangnya, dan aku melompat dari tanduk alisnya, langsung menghunus ke Laramidia. Pertarungan diatas naga-lawan-naga-di-ketinggian-dua-ribu-meter-di-udara pun terjadi. Ini lebih menegangkan daripada naik pesawat sambil menembaki musuh seperti yang terjadi di film-film laga.

"Kau takkan menang, Naruto!" Pekik Laramidia sambil memuntir pedangku. Aku berkelit mundur. Ia melakukan handseal.

"Kuchiyose no Jutsu!"

Kendati dia melakukan jurus pemanggil itu di punggung wujud naganya sendiri, yang dipanggil malah muncul ribuan meter dibawah kaki kami.

Mencuat keluar dari tanah, tampak tiga cacing raksasa berbeda warna dengan bentuk serupa. Mereka memporak-porandakan pasukan aliansi yang sedang berusaha menebang Shinjuu dari bawah, menerabas ke sembarang arah sembari menyemburkan material aneh yang sepertinya tidak asing di mataku.

"Demi Kohoutek!" Pyrus memekik tiba-tiba. "Archemedeates, Merciitinia, dan Heracliudehf!"

Aku mengernyit mendengar nama-nama sulit itu. "Bisa jelaskan dengan lebih mudah, Pyrus?" Pintaku. "Ditengah-tengah pertarungan!"

"Archemedeates," ulang Parthenon, "sang Naga Emas. Merciitinia, sang Naga Perak, dan Heracliudehf, sang Naga Perunggu! Tiga Naga Medali, kau tahu? Itulah sebabnya para pemenang olimpiade selalu menggunakan emas, perak, dan perunggu sebagai juara satu, dua, dan tiga! Mereka konon merupakan golongan pertama dari Keturunan Keempat Horus dan Haumea, salah satu Keturunan Keempat paling elit dan paling tua," jelasnya rinci.

"Emas, perak, dan perunggu," ulang Beleriphon. "Dan mereka terbuat dari itu."

Aku mengamati mereka bertiga dari atas. "Siapapun yang punya pengelihatan lebih tajam daripada elang, tolong pinjamkan padaku," kataku pada ketujuh Etatheon. Dan pengelihatanku bertambah tajam seribu kali lipat.

Dari sini, terlihat naga pertama –Archemedeates sang Naga Emas, dengan sepasang kumis sebesar cambuk panjang yang sepenuhnya berkilau. Sisik-sisik besarnya mengkilap mewah karena logam mulia tersebut, dan bahkan gigi-giginya sampai lidahnya pun berlapis emas. Bola matanya putih bening dengan pupil hitam legam dan iris bulat emas. Tanduk panjang di hidung dan alisnya meliuk-liuk dengan cahaya emas. Bulu ekor emas, cakar emas, sisik perut emas, alis emas, pokoknya naga ini kelihatan seperti patung naga emas terbagus di dunia yang ukurannya diperbesar ratusan kali lipat dan...hidup.

Sang Naga Perak, Merciitinia, tidak kalah anggun. Keseluruhan tubuhnya memendarkan cahaya putih keperakan, dengan penampilan seperti naga besar yang barusan diguyur air raksa, bola mata putihnya bertahtakan iris perak cemerlang dan pupil hitam tajam. Tanduk peraknya bagaikan cabang pohon yang diukir dari timah dan antimon, dan gigi-gigi peraknya akan mengalahkan kebersihan gigi-gigi makhluk manapun di dunia.

Kemudian, Heracliudehf, sang Naga Perunggu. Lebih kelihatan seperti campuran emas dan perak, naga perunggu itu merupakan salah satu bentuk kehidupan terkokoh yang pernah kulihat. Sisik perunggunya tidak tertembus oleh senjata dan jurus apapun, dan cakar-cakar perunggu mengerikan berayun-ayun seperti sabit raksasa. Gigi-gigi perunggunya memancarkan cahaya mengerikan dan lidah perunggunya menjilat-jilat lapar. Tanduk perunggunya membuatnya terlihat seperti Kugutsu paling bagus yang pernah dibuat.

Ketiga Naga Medali tersebut punya bentuk tubuh yang sama –garis besarnya, ular raksasa sepanjang sembilan puluh meter yang bisa melahap sebuah bus pelesir dengan sekali katupan mulut. Sebongkah sisik mereka saja sama besarnya dengan daun pintu. Mereka punya empat kaki mirip kaki komodo yang berujung pada cakar berbentuk bulan sabit, melengkung sepanjang dua ratus derajat. Wajah mereka serupa, hanya saja tanduk-tanduk alis dan hidung mereka berbeda satu sama lain. Ketika aku mengamati mereka, Archemedeates menyemburkan banjir api emas berbentuk bongkah batu dari mulutnya. Merciitinia menyusul dengan perak cair yang terlihat seperti air raksa beracun, dan akhirnya Heracliudehf menyemburkan lusinan bilah-bilah perunggu seperti mata-mata pedang dari rahangnya yang lebar. Jika kami tidak mengatasi mereka secepatnya, ketiga Naga Medali ini akan meluluhlantakkan pasukan aliansi dalam waktu enam menit.

"Kita harus alihkan perhatian mereka," usul Droconos.

"Dengan apa?" Gusarku. Laramidia mencincang ke depan, tapi aku menghindar hingga ia hanya menggores leher naganya sendiri. Dia menyerang lagi dan aku menahan pergerakannya dengan pedangku. "Hei! Waktu kita tidak banyak!"

"Listrik," ujar Deavvara. "Emas, perak, dan perunggu termasuk sepuluh konduktor listrik terbaik. Semuanya logam. Kau bisa alihkan perhatian mereka semua dengan dua cara; mengejutkan mereka dengan sambaran kilat tripel, atau dengan elemen besi!"

"Kutebak sambaran kilat lebih praktis," tabrak Ardhalea. Ia memuntir leher wujud naga Laramidia hingga tercekik ke samping kiri dan membuat tubuhnya tereng dan kehilangan keseimbangan. Laramidia memindahkan tumpuan dan menyabet ke samping, tapi aku bersalto dua kali di udara dan berhasil merebut salah satu perkamennya yang berwarna kuning pucat.

Aku membuat Oodama Rasengan di tangan, dan langsung kuhantamkan itu padanya. Hanya mengenai sisi anggarnya, tapi itu cukup membuatnya terjungkal ke belakang, langsung terjun bersama wujud naganya. Ardhalea lantas mengumpulkan listrik ke mulutnya. Aku membantunya sebisa mungkin dengan chakra Raiton-ku, dan tak lama kemudian, tiga kilat raksasa menyambar tepat pada sasaran.

"Makanan enak!" Seruku. "Hei, kemarilah, naga-naga besi!"

Aku salah perhitungan.

Archemedeates menembakkan gumpalan api emas, meluncur cepat ke atas, mendidihkan udara. Ardhalea berkelit ke samping, tapi tepat di sebelahnya, Merciitinia menghadang dengan bola-bola air raksa sebesar bola sepak. Bola-bola itu padat. Aku memaksa otakku berpikir cepat. Air raksa adalah satu-satunya logam yang dapat berbentuk cair dalam suhu ruangan, bahkan minus sepuluh derajat Celcius takkan cukup memadatkannya, yang membuatku teringat soal termometer.

Jika sampai sepadat ini, itu berarti suhunya pasti sangat dingin. Yang harus kulakukan adalah mencairkannya sehingga bola-bola itu akan meleleh sebelum mengenai kami. Dan untuk melakukannya...aku harus menaikkan suhu.

"Deavvara!" Aku berteriak. "Api!"

Aku mengarahkan tangan kananku, dan dalam sekejap hembusan api bagaikan busi roket meletup dan berkobar ke depan, memanaskan bola-bola raksa tersebut hingga naik ribuan derajat hingga akhirnya meleleh dalam bentuk cair, meluruh jatuh ke tanah sebelum sempat menyakiti kami. Tapi api Deavvara lebih dahsyat dari yang kukira –api berwarna biru-ungu-pink itu membakar terus hingga mengenai sang Naga Perak itu sendiri, meluruhkan wajahnya dan membuatnya meraung-raung.

"Aku akan berkelit," Ardhalea memperingatkan. "Jangan sampai muntah."

Begitu tiba di pengujung kalimat, Ardhalea mengepakkan sayapnya bergilir kanan-kiri depan-belakang dengan begitu cepat, seolah sayap-sayap itu punya pemikirannya sendiri. Kami berguling-guling di udara dan mendesing, terbang zigzag demi menghindari Archemedeates yang sekarang dibantu bilah-bilah perunggu Heracliudehf. Ardhalea terbang begitu cepat sampai membuat semacam jetstream di udara, dan begitu ada kesempatan, dia menggores mata kanan sang Naga Emas dengan cakar kaki depannya dan menendang moncong atasnya begitu keras hingga dua gigi emasnya terpental keluar dari mulutnya.

Heracliudehf tidak terima dan meletuskan ratusan sisik perunggu berbentuk papan selancar, yang bertindak seperti misil. Aku ragu misil-misil sisik itu bisa meledak, tapi tidak ada bedanya –tertusuk satu misil pasti sama sakitnya dengan ditusuk sepuluh pedang sekaligus. Ardhalea menghalau mereka dengan kepakan sayap, tapi Naga Perunggu tersebut menembakkan begitu banyak sisik, dari ratusan menjadi ribuan, dan segera berlipat ganda menjadi puluhan ribu.

Seekor enggang mendadak muncul di depan kami dan seorang laki-laki berambut merah menghantam berim-rim sisik perunggu itu dengan semacam dinding angin tak kasat mata, yang mendorong semuanya sekaligus sang Naga Perunggu itu sendiri hingga jatuh berdebum ke tanah.

"Nagato?" Selidikku. Pria itu mengangguk.

"Kan sudah kubilang aku akan membantumu," katanya datar. "Konan sedang di bawah untuk membantu pasukan aliansi. Jiraya-sensei dan Orochimaru serta Kabuto juga...bersama teman-temanmu. Biar aku yang tangani tiga Naga Medali ini, Naruto, dan lekaslah pergi. Kalahkan Laramidia bersama Paradox-mu dan selamatkan dunia."

Ada nada kepasrahan di suaranya. Hei, tunggu dulu.

"Jiraya...sensei?" Aku membeo. Dia mengangguk.

"Ceritanya panjang," cegahnya, "tapi Jiraya-sensei pernah menjadi guruku. Yahiko temanku yang telah kuanggap saudara, dan juga Konan, saat kami masih berusia sepuluh tahun di Amegakure."

Aku merasa aneh, tapi secara tidak langsung aku mungkin bisa menyebut Nagato kakakku. Mempunyai kakak dengan Rinnegan? Wow sekali, kan.

Nagato mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Terbentuk garis aneh di pergelangan tangannya dan tinjunya langsung meluncur sendiri seperti roket, langsung menubruk dahi Archemedeates dan menghasilkan ledakan hebat, yang membuat sang naga linglung dengan beberapa sisik emas yang terlepas.

"Tunggu apa lagi?" Desaknya. "Cepatlah!"

Aku menepuk punggung Ardhalea. "Kita cari si sialan itu."

"Setelah kita tebang pohon itu," balasnya. Aku mengangguk. Sekarang yang terpenting adalah menghancurkan Shinjuu –alat Laramidia untuk membawa dunia ke dalam alam mimpi kekal.

Laramidia mendengus. "Kalian takkan bisa! Jangan terlalu berharap dengan apapun yang masih berupa keniscayaan! Semua itu adalah SEMU!"

Dia menghentakkan kaki kanannya ke salah satu kelopak Shinjuu yang sudah terbuka. Baru satu, tapi itu pertanda buruk. Makin lama akan makin banyak, tapi untuk sementara sepertinya persoalan itu harus dikesampingkan. Tanda kuchiyose terbentuk di bawah kaki Laramidia, mendatar dan tembus mengapung di udara, melewati batas-batas kelopak bunga Shinjuu.

"Saudaraku!" Hentaknya. "Kakakku! Hancurleburkan pasukan manusia-naga tidak berguna itu!"

Aku berjengit. Ardhalea menegakkan bahunya. Kami berpandangan.

"Kakak?" Ulangku. "Naga Gatpura?"

Ardhalea mendecih. "Naga Gatpura terakhir yang merayap di bumi adalah Taksaka dan Antaboga, Naruto. Sebagian besar dari mereka dimusnahkan saat Perang Dunia Naga Kedua oleh pasukan gabungan bersama Pyrus, Parthenon, dan Beleriphon serta Hermes," terangnya singkat.

"Jadi...?" Aku menelan ludah, membayangkan gambaran-gambaran menakutkan, yang terburuk yang kupikirkan. Ardhalea menggeleng.

"Tidak mungkin kakaknya hidup kembali."

Keingintahuan kami (mungkin lebih tepatnya, keingintahuanku) segera terjawab. Tanah merekah seperti tanaman pemakan serangga, menyemburkan bebatuan granit sebesar rumah, kepulan debu, dan miliaran pasir besi ke udara, menyeruak dan membuat pasukan aliansi mundur dari akar Shinjuu. Sesuatu yang sangat besar sedang muncul dari dalam tanah, diiringi suara menggelegar seperti seratus guntur yang berbunyi bersamaan.

Yang pertama kulihat adalah kepalanya –sedikit ganjil, karena menurutku kepalanya kelewat kecil, menggantung di ujung lehernya yang superpanjang dan tersambung ke bahunya yang padat berotot, terus hingga dilekati sepasang sayap kulit yang luar biasa besarnya, sampai-sampai pembuluh darahnya yang terlihat berpendar kemerahan seperti cairan lava cukup untuk dirayapi manusia satu-satu. Kulitnya berwarna abu-abu terang dengan sisik berbentuk bulatan-bulatan cincin, menyatu dan mengeras seperti armor instan yang praktis tersambung ke jalinan tubuhnya.

Empat kaki superbesar, seperti pilar raksasa, berdebum mengguncangkan tanah setiap langkah. Dia punya sepuluh jari pendek di masing-masing kaki depannya, yang berujung pada lima kuku dan lima cakar berwarna hitam arang, dan delapan jari berujung cakar melengkung di kaki belakangnya. Ekornya yang seperti ular raksasa meliuk-liuk di udara, secara tidak sengaja mencambuk batang Shinjuu. Makhluk raksasa itu meraung menggetarkan udara hingga membuat naga-naga elemen dan Tiga Naga Medali linglung beberapa saat.

"Laramidia kuat," aku menggerutu, "kenapa dia malah terus menyusahkan kita dengan memanggil naga macam ini-itu?!"

"Dia ingin membuat teman-teman kita sibuk," cetus Ardhalea. "Memanfaatkan jumlah kita untuk bertarung melawan kekuatan dari naga-naga panggilannya, dan akhirnya dia bisa bertarung dua lawan dua bersama kita."

Aku mengangguk mengerti. "Satu lagi naga konyol. Ardhalea, bisa kau turunkan ketinggian?"

Kami menukik ke tanah. Ratusan meter terlewati dengan cepat, dan makin dekat makin kusadari betapa besarnya makhluk yang dipanggil Laramidia barusan. Dia lebih tinggi daripada bangunan manapun yang pernah dilihat manusia, walau hanya terukur sampai bahunya. Naga ini dapat melangkahi dinding pembatas Konohagakure nyaris tanpa menekuk pergelangan kakinya.

"Breviparopus," kata Ardhalea. "Kau bisa mengenalinya sebagai..."

"Kaum Naga Kolosal," aku memberengut. "Ckckck. Tidak kusangka mereka bisa dipanggil oleh Laramidia."

"Yang ini tidak muncul di Pulau Oogata," Beleriphon mengingat-ingat. "Pantas dia bisa dipanggil. Berita bagusnya, si belut delima raksasa Jőrmungandr, sayap dobel-dobel Rodrigues, si gila Titanis, ekor belah Tailtorn, dan si super-duper-raksasa Varan tidak bisa diapa-apakan lagi sebab semuanya sudah disegel bersama AEsir," Beleriphon mencoba mengabari kami sisi positifnya.

"Itu hanya lima Kaum Kolosal," imbuh Hermes. "Hei, asal kau tahu saja, ada lima belas naga kolosal dan dua pertiganya masih dimungkinkan untuk dimunculkan oleh perempuan sinting itu."

"Kau tidak membantu samasekali dalam hal keoptimisan," tanggap Droconos, "seekor Breviparopus lebih buruk daripada gempa bumi terbesar yang pernah tercatat. Dia akan membuat sebuah kota menjadi adonan lumpur dalam waktu dua menit."

"Itu sama saja namanya!" Protes Hermes. "Kau juga tidak membantu dalam hal keoptimisan!"

Mengesampingkan hal itu, aku merasa beberapa Kaum Naga Kolosal mungkin 'mengambil bentuk' dari hewan-hewan prasejarah yang muncul jutaan tahun lalu. Semacam mamalia raksasa dan dinosaurus mungkin. Nyatanya, Titanis agak-agak mirip Tyrannosaurus dan Breviparopus mirip sekali dengan Brachiosaurus, herbivora raksasa berleher panjang yang jinak. Hanya saja ukurannya diperbesar ratusan kali lipat, ditambahi sayap dan duri serta kelebihan cakar dan jari, plus aku tidak yakin apakah yang ini pemakan tumbuhan cinta damai atau pemakan daging haus darah.

Breviparopus raksasa berdiri dengan kedua kaki belakangnya, menggerung hingga membuat gelombang udara, dan menjatuhkan kedua kaki depannya, langsung meluluhlantakkan apapun yang terkait dengan tanah dengan gempa bumi sebelas Skala Ritcher.

"Enam ratus tiga puluh meter panjang dan bruto seribu ton," ucap Styx. "Dia tidak payah-payah amat soal ukuran. Tingginya saja sampai tiga ratus meter lebih. Setinggi gedung berlantai seratus."

"Orang idiot paling idiot pun tahu ukuran seperti itu termasuk skala 'mustahil dikalahkan'," aku menggerutu. "Ardhalea, tangani naga Laramidia. Aku akan bertarung dengannya!" Seruku sambil menuding wujud manusianya. Ia menyeringai jahat, dan langsung melompat dari sulur ke sulur hingga mendarat di punggung Breviparopus yang kasar.

Aku merogoh tas belakangku, dan melempar sebilah Hiraishin Kunai sembarang ke batang raksasa Shinjuu. Siapa tahu nanti berguna. Kemudian diriku terjun bebas dari punggung Ardhalea dan mendarat sama mulusnya di tempat yang kurang bagus –tengah-tengah lehernya.

Breviparopus menoleh, menelengkan kepala datarnya ke arahku, dan menembakkan sebuah kobaran api yang bahkan lebih besar daripada yang pernah disemburkan Titanis.

"Perlindungan air, Pyrus!" Seruku. Bola air tebal yang bersirkulasi menyelubungiku selagi si jago merah menghanguskan apa saja di luar, tapi kulit pemiliknya tidak setipis itu.

"Bah! Bahkan aku ragu Bakuton skala C4 bisa mengelupasi kulit Breviparopus!" Seru Laramidia angkuh. "Tidak ada goresan pedang tunggal yang mampu membunuhnya!"

Empat bola berwarna merah, kuning, hijau, dan biru –masing-masing warna pucat- tumbuh di kedua bahu dan punggungku.

"Gunakan itu saja sebagai simbolis jutsuku," ucap Pyrus. "Akan lebih mudah kalau digunakan empat-empatnya sekaligus. Goudama. Itu istilah kerennya, walau bukan yang asli. Goudama asli hanya dimiliki keturunan Rikudo."

"Kau tak bisa melawan anggar itu tanpa senjata berbentuk serupa," Deavvara ikut bicara. Mendadak perutku terasa mual, dan sebuah perkamen hitam keluar begitu saja dari mulutku. Saat aku membukanya, sebuah senjata yang selalu kubenci –sekaligus kukagumi- berada dalam genggamanku.

Rinsei Rinne no Tsurugi. Uliran Samsara.

Laramidia mendengus kesal, dan ia bergerak zigzag dan menghunus anggarnya dengan cepat. Aku bersalto ke belakang untuk menghindar, dan ia menancapkan anggarnya ke sisik Breviparopus. Naga kolosal ini tidak bereaksi sedikitpun. Untungnya, Laramidia kesulitan mencabut senjatanya lagi, dan aku memanfaatkan peluang itu. Kuhunus Uliran Samsara, dan dia menghindar. Aku nyaris ikut menancapkan senjataku ke sisik sang naga, tapi kelembamannya tidak begitu besar sehingga aku bisa menarik diri.

Laramidia menyemburkan lava cair. Aku hanya menghindar, tapi lava sekalipun tidak bisa menggosongkan kulit Breviparopus. Kulempar Hiraishin Kunai ke arah Laramidia, tapi dia menyadarinya dan mengeluarkan Taiyotsuki no Tsurugi –memecah Hiraishin Kunai menjadi lima keping. Kemampuan jutsu teleportasinya hilang seketika. Ia menyerang selagi berusaha mencabut anggarnya lagi.

TRANK!

Pedangnya dan pedangku bertubrukan. Kami saling defensif selama beberapa detik sebelum ia mengubah tangannya menjadi bola gas panas dan menembakku. Aku mendinginkannya dengan Goudama air Pyrus, yang ternyata efektif juga. Laramidia merentangkan tangan, menumbuhkan api-api dari udara kosong yang membentuk seperti lampion, tapi warnanya biru. Ia menambahkan kilatan-kilatan listrik, mungkin untuk kerusakan ekstra, dan membentuk api-listrik itu menjadi seperti bor yang berputar. Sebatang kristal safir berbentuk panah tumbuh di intinya.

"Kerusakan tripel dengan pendeteksi panas seperti misil," desisnya. "Kau takkan kemana-mana!"

Selusin safir-api biru-petir ditembakkan padaku –yang berarti semuanya. Terlalu gegabah, tapi aku tidak bisa berpikir jernih. Jika ini memang mengikutiku, kalau aku tidak tersambar petir ya, dibakar api. Kalau tidak dibakar ya, tergores safir. Atau dua dari tiga. Itu masih lebih baik daripada dibakar, disambar, dan digores.

Aku akhirnya mengeluarkan apapun yang ada di tas pinggang belakangku. Lima kunai, empat shuriken yang masing-masing kuubah jadi ratusan berkat Shuriken Kagebunshin no Jutsu, dan beberapa kertas peledak. Semuanya sia-sia, diterabas dengan liar oleh dua belas senjata biru mematikan yang langsung terarah padaku. Jika sampai mengenai tiga paket senjata itu tanpa berbelok arah sedikitpun, berarti safir api-petir Laramidia memang sangat tepat dan teliti. Hampir tidak mungkin aku menghindar...

...kecuali untuk yang ini.

Aku menghunus sebilah Hiraishin Kunai, mengarahkan sisi tajamnya ke depan di lengan kiriku dan kutahan dengan tangan kanan, dan membuat medan teleportasi selebar mungkin. Laramidia menyadari apa yang akan kulakukan sedetik sebelum itu terjadi.

KUPINDAHKAN dua belas senjata sialan itu ke tempat mangkal Hiraishin Kunai-ku yang satunya –tengah-tengah pokok Shinjuu.

BLLAARRR!

Ledakan membuncah. Api biru membakar sebagian batang raksasa Shinjuu dengan selusin kristal biru menancap dalam-dalam di batangnya yang sudah tergores-gores karena sambaran petir. Aku menyeringai. Sudah kuduga Hiraishin yang disitu bisa berguna.

"Trik yang bagus," Laramidia mengakui. Ia menghela napas dalam-dalam. "Tapi...sudah saatnya kalian mengecap sedikit dari sesuatu yang kalian sia-siakan. Buah dari ketamakan mempertahankan dunia fana yang konyol ini," desisnya misterius. Ia mewujud menjadi naga, dan sekarang retakan seperti mulut bergigi tajam di dadanya mulai merekah terbuka. Aku menghunus Nunboko no Tsurugi, bersiap untuk kemungkinan terburuk.

'Mulut' itu akhirnya terbuka. Menampakkan latar belakang merah darah dengan bulatan empat lingkaran konsentris dan sembilan tomoe. Aku merinding. Itu...simbol Mugen Tsukuyomi, kan? Kenapa dia menampakkannya padaku? Apa dia sengaja ingin memerangkapku duluan dalam genjutsu yang sialan tak terbatas itu?

Naga-naga elemen berhenti bertarung. Mereka mundur ke bagian belakang pokok Shinjuu, begitu pula dengan Tiga Naga Medali. Mereka tidak lagi menyerang, tidak melakukan apapun kecuali mengamatiku dari belakang Laramidia yang menyeringai penuh kemenangan. Breviparopus bahkan tampak rileks, tapi suara-suara ribut masih samar-samar terdengar di bawah sana. Aku mengernyitkan dahi heran, lantas memalingkan pandangan ke belakang.

Dan betapa terkejutnya diriku ketika menyadari Tim Paradox melayang di udara –setidaknya itu persepsiku, tapi benar. Mereka semua melayang di udara dengan pandangan kosong. Naga-naga mereka seolah ditinggal di belakang, dan mereka juga menatap hampa ke arahku, melayang tanpa mengepakkan sayap. Aku berpaling lagi ke Laramidia.

"Genjutsu skala besar yang mengambil informasi dari hati," cetusnya. "Itulah konsep dasar Mugen Tsukuyomi. Aku telah melakukan cetak birunya... ke teman-teman ingusanmu itu. Mereka telah melihat apa yang ingin mereka lihat dari lubuk hati terdalam. Kau takkan bisa memanipulasi mereka, Naruto malang. Mereka akan jadi pesuruhku dan hanya menunggu perintah untuk membunuhmu!"

"Pyrus," aku menggumam sendiri. "Parthenon, Deavvara. Atau siapa sajalah. Bisakah kita melihat angan-angan mereka?"

Tak ada jawaban selama beberapa detik.

"Mungkin," Pyrus menjawab.

"Itu butuh trik khusus," Parthenon menimpali. "Tapi sepertinya bisa."

"Mendekatlah dan sinkronisasikan chakramu dengan salah satu temanmu, kemudian tempelkan tanganmu ke bahu mereka," Deavvara memberi instruksi, "itu satu-satunya cara yang kuketahui untuk mengintip mimpi seseorang. Eit, takkan berhasil ke manusia hidup yang sedang tidur, ingat."

Aku melakukannya. Laramidia dan naga-naga anehnya tidak berusaha menghalangiku.

Kutepuk pundak Sasuke, dan dalam sekejap pengelihatanku berubah. Aku melihatnya...sedang bercanda di ruang makan rumahnya bersama kakaknya, ayahnya si Uchiha Fugaku, dan ibunya. Sasuke tampak bahagia hanya dengan peristiwa semacam itu. Sebuah keluarga kecil yang berkumpul bersama dalam atmosfer kebahagiaan, terlepas dari segala marabahaya dan ketakutan. Hanya itu yang dia inginkan. Si Uchiha berambut pantat ayam itu mohon izin sebentar dan membuka jendela. Perkampungan Uchiha yang jauh lebih bagus daripada yang asli, yang pernah kulihat, langsung tampak di depan mata. Sasuke tersenyum puas memandangi sekelilingnya, orang-orang yang lalu lalang, rumah-rumah yang tertata rapi, dan anak-anak Uchiha yang bermain riang gembira.

Aku paham. Sasuke-lah yang telah membuat ini semua terjadi. Dia menyelamatkan Perkampungan Uchiha dan memerintah mungkin sebagian daripadanya, membuat tempat tinggal dan suasana yang lebih baik, tanpa perang samasekali. Aman dan damai, hidup dalam kebahagiaan. Mimpi yang sederhana, tapi aku maklum. Bahagia itu sederhana.

Aku berpindah ke Sakura. Agaknya aku melihat sesuatu yang...tidak jauh berbeda. Dia disana, mungkin di rumahnya, di desanya yang dulu, sebelum terbakar akibat serangan Wyvern (aku masih belum bisa memutuskan apakah itu cerita benar atau hanya rekaannya, sampai sekarang) bersama Haruno Kizashi si rambut mekar dan ibunya, yang berambut kuning sebahu dan selalu menyunggingkan senyum. Mereka tertawa bersama di ruang keluarga, ketika teman-teman Sakura mendadak datang. Aku mengangkat alis. Mereka kan Sasuke, Hinata, Kiba, Shikamaru, Ino...semua Tim Paradox –termasuk- aku?

Aku ada disana juga? Mereka bercengkrama beberapa menit sebelum Sakura izin pamit ke orangtuanya, mengambil ransel dan seperangkat peralatan dan pergi keluar bersama teman-temannya. Oh, benar. Penjelajahan luar yang bebas tapi terkendali. Di sekelilingnya, pohon-pohon sakura memekarkan bunga-bunga pink lembut.

Cukup sudah. Dua orang ini kebahagiaannya simpel saja, tapi kuakui memang sulit mewujudkannya, barangkali.

Aku menabrak seseorang ketika hendak berbalik mundur.

Ardhalea.

Aku terkesiap. Dia...terpengaruh genjutsu sialan dari Laramidia –juga?

Tak urung aku penasaran akan impiannya. Dengan beberapa kali menimbang-nimbang, aku menyentuh bahu kirinya –beruntung dia sedang dalam wujud manusia selepas membantai wujud naga duplikat Laramidia.

Pertama-tama dunia menjadi silau. Kemudian cahaya berkurang dan aku melihat padang bunga dengan sebuah pohon besar yang rimbun dan teduh, dengan tikar tergelar di bawahnya dan beraneka makanan diatasnya. Sebuah keluarga yang sedang berpiknik.

Aku melihatnya. Rambut peraknya tergerai bebas hingga menyapu karpet. Di sebelahnya ada seseorang yang tidak asing. Deavvara. Kemudian dua orang remaja berwajah aneh dengan tanduk kulit di dahi mereka. Yang satu bermata Rinnegan, dan yang lainnya bermata lavender pucat seperti Hinata –Byakugan. Aku yakin dua orang ini adalah Hagaromo dan Hamura, dua anak manusia dari...Ootsutsuki Kaguya, sang ibunda yang juga ada disitu, tersenyum bersama anak-anaknya. Tapi, hei, ada satu orang lain disana yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Dia seorang laki-laki berusia...tiga puluh? Empat puluh? Lima puluh? Aku tidak bisa menerkanya –dia punya wajah yang seolah awet muda...seperti Ootsutsuki Kaguya dan bahkan Deavvara serta Ardhalea. Kepalanya lonjong dengan dagu lancip, rambut abu-abu gelap lurus sepanjang bahunya. Matanya berwarna hijau sehijau daun segar yang dibasahi embun. Sorot matanya tajam dan bijak. Kulitnya putih pucat seperti habis dilulur terlalu lama sampai kering. Dia mengenakan kimono berwarna biru muda dengan motif naga berbagai jenis. Keseluruhan motif tersebut begitu detil dan tampak nyata sampai-sampai aku percaya kalau ada orang yang menceritakan si pembuat kimono menghabiskan hidupnya hanya untuk itu.

Tentu saja, berdasarkan semua pengalaman dan cerita Ardhalea selama ini, aku tidak kesulitan menebak kira-kira siapa orang itu.

Neredox.

Ayah dari dua bersaudara Paradox dan Ortodox –Ardhalea dan Deavvara, serta Hagaromo dan Hamura, plus suami dari Kaguya itu sendiri, manusia pertama yang mempunyai chakra. Tapi Ardhalea pernah bilang kalau ayahnya –Neredox, adalah manusia setengah naga. Kenapa aku tidak melihat tanda-tanda itu: tanduk, sayap, atau simbol aneh di sekitar matanya? Aku jadi penasaran seperti apa wujud naga Neredox, sekaligus penasaran apakah Neredox itu sendiri merupakan nama asli atau bukan.

"Tunggu sebentar," aku menggumam sendiri. Bukannya Ardhalea bilang kalau dia tidak pernah bertemu ayahnya? Aku bahkan semata-mata melihat sendiri di mimpi bisu saat nyaris mati, Kaguya mengatakan Neredox pergi mencari Ramalan Besar Shinjuu, yang ujung-ujungnya bersemayam di perut raksasa Varan. Bagaimana sosok itu plop muncul begitu saja di genjutsu ini?!

Aku menggelengkan kepala. Citra mimpi Ardhalea mulai memudar.

Hei, tunggu sebentar.

Aku berkonsentrasi lagi. Kali ini, tepat sedetik sebelum citra itu kabur sepenuhnya, aku berhasil mempertahankannya, untuk...melihat hal yang tidak pernah kusangka-sangka akan kulihat.

Orangtuaku.

Disana, Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina...keduanya berjalan santai ke arah keluarga Ardhalea sambil melambai tangan. Di belakang, tertatih-tatih membawa tas dan terpal...

...ada aku.

Aku menggeleng-geleng kepala. Bagaimana bisa aku dan orangtuaku ada di citra mimpi Ardhalea? Kecuali kalau...

Aku berani bersumpah wajahku sedang memerah sekarang. Apa hubungannya...keluargaku dengan keluarganya?

Neredox bangkit dari tempat duduk. Ia menyongsong kedatangan ayah dan ibuku dengan ceria, merentangkan kedua tangannya ke depan dan memeluk ayahku singkat seolah mereka adalah dua keluarga bersaudara yang baru bertemu setelah tak saling jumpa selama bertahun-tahun. Ibuku memeluk Kaguya, dan Naruto palsu datang terakhir beserta sejumlah bawaan, yang langsung dibantu oleh Hagaromo, Hamura, dan Deavvara. Aku (yang palsu) bernapas lega dan langsung bersikap kikuk di hadapan Ardhalea.

Kupalingkan pandanganku ke arah lain. Aku mengerti sekarang.

Yang diinginkan Ardhalea...

...menyatukan kembali keluarganya. Meskipun tampaknya mustahil sebab ayahnya menghilang entah kemana. Ibunya dan kedua adiknya juga telah meninggal. Satu-satunya keluarganya sekarang di keadaan nyata adalah kakaknya –Deavvara. Aku cukup mafhum kenapa dia menginginkan ayah dan ibuku di mimpinya. Mereka berdua adalah pasangan pengendaranya, setidaknya sebelum aku. Aku yakin Ardhalea sekalipun cukup menaruh kepercayaan dan kesetiaan pada ayahku sebagai Draco P walau untuk waktu yang tidak begitu lama. Dia pasti merasa sangat sedih ketika mengetahui pengendaranya meninggal, plus istrinya, plus lagi, kakak kandungnya sendiri-lah yang melakukan semua itu, menyisakan seorang bayi Uzumaki yang kelak menjadi aku. Menyisakan seorang yang kelak menjadi pengendaranya enam belas tahun berselang.

Dia menyayangiku.

Tapi sebagai apa?

Ah, Ardhalea. Kau sungguh tidak bisa ditebak. Kurasa tidak ada salahnya orang-orang menyebutmu Paradox. Walau sebenarnya kakakmu sama-sama tidak bisa ditebak, dan tidak ada alasan untuk tidak menyebutnya Ortodox.

"Kau bisa, Naruto-sama," sebuah suara sehalus sutera memenuhi indera pendengaranku. Aku berbalik, dan seluruh area yang kulihat bersinar dengan cahaya kuning menyilaukan.

"Kau bisa menjauhi semua kenyataan ini," suara itu bersua kembali. Aku tahu persis itu suara Laramidia, tapi entah bagaimana ia telah mengubahnya, menempa suaranya menjadi tipis dan halus, penuh dengan tipu daya. Aku berusaha keras untuk tidak mendengarkannya, tapi rasanya sulit sekali. Dia membujukku untuk meninggalkan kenyataan dan hidup dalam andai-andai.

"Tidak ada lagi perang. Tidak ada lagi kematian. Kau tidak harus melihat teman-teman dan orang-orang yang kau kasihi mati satu demi satu hanya untuk melindungimu. Mereka semua akan bahagia di genjutsu tak berbatas milikku. Mereka semua akan bahagia, dan kau tidak perlu berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Apapun yang kau inginkan...sebesar atau seremeh apapun itu...dapat terwujud bahkan lebih mudah daripada membalikkan telapak tangan."

"Kemarilah, rengkuhlah aku. Tinggalkan kenyataan. Kau bisa berkumpul kembali bersama ayah-ibumu tercinta, kau bisa membantu Ardhalea menyatukan keluarganya kembali dan bahkan lebih baik lagi –hidup bahagia bersamanya selamanya kalau kau mau. Abadi dalam kebahagiaan, Naruto-sama. Tidak ada kesengsaraan setetes pun. Tidak ada molekul kepedihan sebongkah pun. Bebas dari segala kesulitan, yang ada hanya kesenangan dan kebahagiaan. Bukankah tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai itu, Naruto-sama?"

Aku ingin berlari menuju suara itu dan berpegangan erat-erat pada apapun yang membawaku ke kebahagiaan abadi, tapi sisi lain diriku ingin berlari sekencang-kencangnya menjauhinya atau berlari mendekat kemudian memenggalnya dengan pedangku sekuat tenaga. Aku tidak bisa melakukan keduanya.

Suara itu tertawa menggoda.

"Dunia memang sementara bukan, Naruto-sama? Bukankah lebih baik kalau kau hidup kekal, dalam kebahagiaan pula?"

Aku meremas kepalaku.

"Kau menginginkan itu, Naruto-sama," imbuh suara itu.

Aku membentur-benturkan kepalaku ke sembarang arah.

"Aku tahu kau menginginkannya!"

"DIAM!" Bentakku keras-keras.

"AKU TAHU KAU MENGINGINKANNYA!"

"KUBILANG DIAM!" Sentakku lebih keras. Pita suaraku serasa mau putus.

"KAU AKAN BAHAGIA-"

"DALAM MIMPI!" Aku berteriak sekeras yang kubisa, memecah gambaran menggoda itu dari kepalaku. "BAHAGIA DALAM MIMPI! SEMUA USAHA TAKKAN BERARTI! TAKKAN ADA KEBAHAGIAAN YANG ABADI!" Aku berteriak-teriak seperti orang gila. "SEHARUSNYA KAU PAHAM ITU!"

Aku menangis. Entah kenapa aku jadi secengeng ini, tapi ada gejolak dalam hatiku bahwa seharusnya ini semua tidak terjadi.

Aduh, tolong hentikan perang tidak berguna yang berbelit-belit ini. Siapapun.

Seseorang menepuk pundakku.

Aku memalingkan pandangan dengan mata basah.

.

.

.

Ardhalea.

Di belakangnya terdapat semua orang yang kukenal –Deavvara, Sasuke, Sakura, Kakashi-sensei. Jiraya-sensei, Shikamaru, Chouji, Ino...Kiba, Hinata, Shino. Alis Tebal, Tenten, Neji. Pokoknya semuanya, bahkan Nenek Tsunade, Gaara, Kakek Tua Cebol, Nagato dan Konan, serta ayah dan ibuku. Mereka semua mengulurkan tangan padaku.

"Naruto," ucap Ardhalea lembut. Ia mengulurkan tangannya padaku. Seulas senyum yang indah seperti pecahan sinar rembulan menghiasi wajahnya. Aku menggeleng-geleng kepala, berusaha meyakinkan ini nyata. Tubuhku gemetaran.

"Kita akan bersama," janjinya. Begitu meyakinkan.

Aku menilik lebih jauh ke belakang. Ayah dan ibuku hanya tersenyum simpul.

Tidak, bisik suara hatiku. Mereka tidak nyata, Naruto. A-yo-lah.

"Kupikir aku akan menjadikanmu rival," sambung Sasuke.

Semuanya tersenyum merayu. Pandanganku buram. Ketujuh Etatheon yang bersemayam dalam tubuhku tidak berkutik. Entah kenapa sebabnya, dorongan untuk mengikuti arus amat sangat kuat. Aku sudah lelah mendayung. Aku sudah lelah melawan arus. Kaki dan tanganku penat, seolah engsel-engsel sendiku sudah aus dan tulang-tulangku sudah keropos.

Begitu kuat.

.

.

.

.

Tapi.

.

.

Hatiku menang.

.

.

Kutarik Nunboko no Tsurugi dan dia berubah menjadi bentuknya semula –pedang batu obsidian hitam segelap malam sepanjang satu setengah meter, dengan ujung tumpul berupa ukiran naga emas dan gagang dilapisi kulit berwarna merah yang begitu pas dan nyaman digenggam tanganku. Mata tajamnya berkilat-kilat, seolah mengatakan, 'Tunggu apa lagi? Akulah yang kau butuhkan sekarang! Lakukan!'

Kutebas apapun yang ada di depanku dengan Pedang Rikudo. Buyar semuanya. Semua orang yang ramah dan selalu kusayangi itu melebur menjadi pecahan mosaik kaca dan lenyap di udara kosong. Binasa.

.

.

.

Dunia kembali bergerak lagi. Genjutsu hebat Laramidia telah pecah. Sekarang dia mematung sepuluh meter di hadapanku, masih berada di punggung naga super raksasa: Breviparopus. Semua tersadar kembali. Ketiga Naga Medali kembali menyerang. Naga-naga elemen berdesing diatas kepalaku, menyerbu teman-temanku yang masih separuh linglung terkena genjutsu. Aku punya seribu harapan semoga mereka menyadari itu cuma ilusi. Bohong. Dusta. Tak nyata samasekali.

"Wow," kata Laramidia singkat, "bisa melepaskan diri dari genjutsu level tertinggiku...kau lumayan, Uzumaki tengik," decihnya. "Kau hebat, bahkan tanpa bantuan Etatheon. Kuakui itu, dengan setengah terpaksa, mungkin. Tapi...tetap tidak ada bandingannya denganku. Kau akan mati di tanganku, atau kalau tidak, sang Paradox akan kukirim menemui ajalnya untuk yang kedua kalinya."

"Takkan pernah," geramku sambil mengangkat pedang. Pedangku berubah lagi dari DNA menjadi bentuk pedang biasa seperti ketika aku mengambilnya di ruangan khusus yang dijaga Ladon bersama Pohon Apel Emas di Perpustakaan Alexandriana. "Aku akan mencincang-cincangmu dan mengirim tiap potonganmu ke neraka!"

"Ha!" Laramidia menanggapi sinis. "Kau bahkan tidak bisa menggores Breviparopus!"

.

"GRRROOOOOOOO...!"

Breviparopus menggerung seperti menanggapi. Pijakanku berguncang. Aku mendecih meremehkan.

"Binatang berleher panjang ini harus kembali ke tempat peristirahatannya," gumamku. Aku terbang tinggi ke langit dan menghimpun chakra bersama ketujuh Etatheon yang telah tersadar kembali. "Kau akan menyesal meremehkan seorang Uzumaki Naruto!"

Aku mengumpulkan Rasengan di tangan kananku. Kumaksimalkan semuanya, campur-campur seluruh jenis chakra yang kumiliki. Tidak begitu tahu sih, nantinya akan jadi apa (itulah aku), tapi hasilnya tidak sejelek atau seabstrak yang kuperkirakan.

Gabungan chakra seorang Uzumaki dan Rasengan dengan ketujuh naga terkuat di dunia akhirnya membentuk sebuah Rasengan berwarna biru kehijauan yang mendesing cepat di udara, dengan diameter yang sama dengan tinggi gedung berlantai sepuluh. Sebuah Rasengan-super-ultra-ekstra besar.

"仙人:超巨大螺旋丸 !"

Senpou: Oogata Rasengan

(Teknik Sage: Putaran Spiral Kolosal)

TIDAK ADA yang bisa mengalahkan kekuatan desingan angin dari Rasengan sebesar itu. Benda ini bisa saja cukup besar untuk mengubah sedusun rumah jadi kawah raksasa bebas kehidupan dengan sekali hantam, tapi luka yang dialami Breviparopus tidak buruk juga. Kulitnya pecah-pecah, meluruh keluar dan dia meraung kesakitan. Perpaduan antara angin Rasengan kolosal dengan tumbukan yang menyakitkan tidak bisa membuatnya diam selepas itu.

Breviparopus akhirnya menghilang disertai asap putih yang luar biasa banyaknya, menyisakan Laramidia yang masih tertegun dengan pakaiannya yang berantakan.

Aku memegangi tanganku sesudah melakukan jutsu raksasa itu. Napasku terengah-engah, dan sekujur tubuhku terasa lemas. Tangan kananku serasa baru saja menyangga bobot seekor paus biru, tapi puas rasanya ketika menyadari seekor naga kolosal berhasil takluk dan Laramidia kini mulai melemah.

"Aku bisa melakukannya lagi," gertakku, meskipun dalam hati aku tidak yakin.

"Jangan memaksakan diri," saran Hermes. "Itu tadi sudah luar biasa."

Tanganku pulih dengan cepat. Entah karena restu Ardhalea masih melekat padaku atau kekuatan yang begitu besar dari Etatheon. Tapi ini jelas kabar bagus.

"Aku akan menghajarnya dengan jutsu lain," bisikku pada Deavvara dalam tubuhku –tidak menutup kemungkinan yang lain ikut dengar juga, sih.

TAP!

"Jangan beraksi sendirian," Sasuke mendarat di sampingku.

"Sebenarnya aku membutuhkanmu untuk sebuah aksi kejutan yang besar," akuku. "Ayo maju."

Kami berdua merengsek maju. Laramidia menggeram dan melompat-lompat mundur, melakukan jutsu hingga urat-urat di tubuhnya yang menegang terlihat. Itu jelas bukan pertanda bagus.

"Aktifkan Sharingan-mu," perintahku pada Sasuke, "jaga-jaga kalau dia menyerang dari banyak arah yang berbeda!"

"Sedang kulakukan!" Balas Sasuke. "Dan hasilnya sepertinya tidak bagus."

.

KRAK!

.

Tanah lima belas meter di depan kami membelah membentuk rekahan raksasa, dan dari sana mencuat sebentuk tulang, yang akhirnya mewujud menjadi kerangka lengkap seorang manusia –murni kerangka hidup tanpa selapis kulit dan sepotong daging pun. Mata mereka yang kosong seakan menatap kami dari alam lain. Seringai menakutkan penuh gigi membuat mereka tampak mengerikan, selain warnanya yang sudah mulai kecoklatan dan lebih terlihat seperti zombie diatas zombie, mumi diatas mumi.

Bukan itu bagian terburuknya; masing-masing kerangka kini menghunus sebuah gladius sepanjang kira-kira setengah meter. Mata pedang mereka memancarkan aura mengerikan. Pedang mereka tidak kompak, ada yang terbuat dari besi, baja, perunggu, bahkan tembaga, perak, dan emas (sayang sekali). Kebanyakan sudah terlihat rapuh dan berkarat. Beberapa kerangka bahkan memegang tombak yang tinggal separuh, sabit yang sudah penuh karat, atau cambuk yang tinggal beberapa serabut dari talinya, tapi semua itu semakin mengesankan bahwa mereka ingin menyeret kami ke dalam kematian.

"Ini belum semuanya," desis Laramidia sambil terengah-engah. "Makan ini!"

Puluhan kerangka hidup yang bersenjata sudah cukup buruk, tapi rekahan kedua menjalar di tanah, tiga kali lipat lebar rekahan pertama, dan dari dalam keluarlah kerangka-kerangka naga dari berbagai jenis. Sebagian diantara mereka bisa kukenali –Hidalgo dengan tulang-tulang tebal dan tengkorak mirip paus bungkuk, Vereev dengan sepasang sayap panjang nan sempitnya, Gigantostoma dengan sayap raksasa dan tanduk rusanya, bahkan beberapa spesies Bryptops berekor paku, seekor naga bertulang zirah dengan pemukul godam di ekornya yang padat, dan seekor naga berkepala tiga.

Semuanya murni kerangka, dan aku tidak yakin apakah mereka bisa menyemburkan api layaknya naga hidup. Kurasa jawabannya tidak.

Aku melirik Sasuke. "Tetap maju?"

"Kecuali kau mau disatai oleh anggar itu," balas Sasuke. Ia membelah dua tengkorak pasukan kerangka yang mendekatinya dengan Chidori. Tulang tersebut berkelotakan jatuh ke tanah, tapi sepuluh detik kemudian dia menyatu kembali, mencari-cari pedangnya, dan berusaha menyayat kami. Kami maju, menebas satu demi satu kerangka baik manusia maupun naga. Itu tidak begitu sulit, tapi jumlah mereka kian banyak dan regenerasi mereka yang begitu cepat tidak mengizinkan aku dan Sasuke untuk maju lagi ke depan bahkan dengan kecepatan sepuluh kilometer perjam.

"Gunakan Amaterasu!" Perintahku.

"Itu butuh waktu! Selagi aku menutup mata kiriku, pikirkan cara bagaimana kita tidak tenggelam dalam lautan kerangka!" Kilahnya sambil menendang kepala kerangka seekor Manidens.

BRAK! Tanah di depanku menjeblak terbuka dan menampakkan kerangka seorang prajurit dengan pedang samurai karatan, tapi masih tetap terlihat tajam. Selain itu, jika menggoresku sedikit saja, aku mungkin bisa kejang-kejang dalam pertarungan gara-gara tetanus.

BUUKK! Kerangka tersebut langsung buyar menjadi serpihan balung-balung manusia tua begitu Sakura menghantamnya dengan tinju mautnya. Ia memandang sekeliling dan mengangkat satu tangan, memutar pedang merah jambunya dalam lingkaran konsentris, menebas semua musuh di sekitar kami. Di belahan kanan, lingkaran Jyuuken dobel mencerai-beraikan tiga lusin kerangka manusia –Hinata dan Neji maju ke garis depan. Beberapa kerangka naga hancur seketika begitu diterabas oleh Alis Tebal dan Kiba, yang menyatukan jutsu fisik mereka. Kerangka yang lain dibungkus lapisan hitam menggelikan –koloni serangga penghancur Shino. Kuharap dia juga membawa satu batalion jurus serangga pengurai jasad.

Shikamaru menahan selusin kerangka naga dan manusia dengan Kagemane no Jutsu, dan Chouji menggepengkan mereka kembali ke tanah dan meremukkan beberapa kerangka naga yang mencoba menyerang. Satu mengintai dibalik Shikamaru, menghunus dua sabit besi karatan di kedua tangannya sambil mengangakan mulut seolah berteriak, tapi sebelum itu kedua lengannya patah dan sebilah mata belati mencuat dari dadanya. Ino disana, bersilat sambil menghunuskan belati kembar, masing-masing sepanjang dua puluh lima sentimeter. Temari ikut maju dan menerbangkan beberapa kerangka ke langit, menjatuhi sekutu mereka yang lain dan tercerai-berai. Kankuro menempelkan benang-benang chakranya ke beberapa kerangka, mengendalikan mereka segampang mengendalikan Kugutsu normal, membuat beberapa kerangka zombie saling serang dalam keruwetan.

"Kerjasama yang kompak," pujiku. "Kita hanya harus mengkhawatirkan Tiga Naga Medali dan naga-naga elemen yang masih belum maju itu."

"Bagian kita," balas Sasuke. Sakura membuka jalan dengan bogem supernya dan kami melejit kembali, berusaha mengabaikan semua senjata kerangka-kerangka mati itu.

Laramidia mengaum marah. "Apa boleh buat. Sepertinya aku akan menghabisi kalian dengan tanganku sen-"

DAKK!

Ardhalea, entah muncul dari mana, mendadak terlihat di belakangnya dan langsung menendang tengkuk Laramidia dengan kecepatan hebat, membuat pemiliknya jatuh telak ke tanah dengan wajah menghantam bebatuan lebih dulu. Ardhalea menghunus pedangnya. Pedang lengkung berwarna emas berbahan campuran perunggu, baja, dan emas, dengan dua mata dan bentuk seperti campuran pedang, sabit, dan martil.

"Menyerahlah," geramnya. "Aku tidak bisa membiarkanmu hidup dan menyebar kejahatan."

Laramidia perlahan bangkit. Hidungnya mimisan dan pipinya lecet-lecet. Bibir bawahnya berdarah dan dahinya memar, tapi seringai jahat tetap terpampang di wajah hancur itu, yang perlahan pulih seperti sediakala. Ia mengatupkan kedua tangannya dan menyebar sesuatu berukuran sebesar bola pingpong ke arah kami –yang ternyata ratusan Bakuton mini.

"Pasukan-pasukan kerangka milikku tidak bisa mati," gumamnya, "jadi apa salahnya kalau kusebar benda-benda ini sembarangan?"

DAR!

DAR!

DAR!

Ratusan Bakuton nyasar meledak, baik di udara maupun di tanah, seperti ada pesta mercon raksasa di satu tempat. Semua temanku sibuk melindungi diri, tapi tidak mudah menyerang sambil bertahan kecuali...kau punya Susano'o. Sasuke melakukannya untuk melindungiku selagi kami terus maju, mengabaikan Bakuton sebesar apapun dan mencincang apa saja yang ada di depan.

Tiga Naga Medali melesat maju, tak membiarkan kami mengganggu pertarungan Laramidia dan Ardhalea.

Sasuke menyabetkan pedangnya ke Heracliudehf, tapi naga itu bahkan tidak berubah lintasan. Sang Naga Perunggu menggigit pedang Susano'o Sasuke dan meretakkannya, sedangkan Archemedeates si Naga Emas menggigit keras-keras di lengan yang satunya. Merciitinia mengangakan mulut, menyemburkan bergalon-galon perak cair yang segera membeku.

"Mereka berniat memerangkap kita," decih Sasuke. "Kita harus lelehkan perak ini sebelum tertutup total!"

Aku berkonsentrasi pada Goudama kuning Pyrus. Seberkas sinar melesat dari bola itu dan meledakkan perak di depan kami menjadi kepingan-kepingan, dan dua sinar lainnya menyoroti moncong emas dan perunggu, meledakkan mulut mereka hingga melepaskan gigitan.

"Nonaktifkan Susano'o!" Aku memerintah lagi. "Gerakan kita jadi lamban dan mereka bertiga lebih mudah mengincar target berukuran besar!"

Sasuke mengangguk, seolah baru menyadarinya. Tepat setelah itu, Merciitinia mengigit tepat di belakang kami. Ia mengangakan mulutnya ketika menyadari kedua targetnya lepas dari jepitan rahang kokohnya, tapi Sasuke buru-buru menangkap tiga Bakuton melayang terdekat dan melemparnya ke kerongkongan si naga selagi aku membawanya terbang menjauh.

DUARR! Sang Naga Perak kini menderita radang saluran makanan.

Dua sisanya menyerang dari depan. Kami saling berpandangan.

"Pilih yang paling sulit," cetus Sasuke.

Aku berpikir cepat.

"Perunggu," jawabku.

"Alasannya?"

"Aku bosan menyebut emas."

"Itu tidak ada hubungannya."

"Terserah, yang penting aku pilih perunggu."

"Lucu."

GAP! Archemedeates menggigit ke depan. Kami menghindar ke samping, melompat menggunakan kepalanya sebagai tolakan, dan aku menembakkan sinar merah dan kuning dari Goudama Pyrus ke jakun Heracliudehf. Sasuke melompat lebih tinggi dan memercikkan petir pada pedangnya, dengan sekejap memotong salah satu tanduk Naga Perunggu itu dengan kekuatan penetrasi yang besar dari elemen petir.

"Gabungkan kedelapan kekuatan Etatheon untuk es!" Seru Styx dari dalam tubuhku. "Sedikit kekuatan Ardhalea saja sudah cukup!"

Aku mengangguk. Sasuke menyiapkan kertas segel yang biasa digunakan untuk menyegel benda semicair. Aku mengumpulkan cahaya di tanganku dan meledakkannya ke arah Naga Perunggu, membuncah cepat dengan hawa dingin yang menusuk tulang, segera memerangkapnya dalam gunung es. Sasuke melempar beberapa kunai di sisi-sisi gunung es berbeda, dan melakukan handseal. Kertas-kertas segel yang terdapat pada kunai-kunai itu saling sambung seperti rantai dan menyegel gunung es agar tidak meleleh selamanya –setidaknya sampai kertas segelnya dicabut,

"Lebih baik daripada memusnahkan," gerutunya. Tepat setelah itu, Archemedeates menubruknya hingga terpental. Sang Naga Emas menggeram marah, membentur-benturkan kepalanya ke gunung es guna memecahnya dan membebaskan Heracliudehf, tapi sia-sia.

"Kau tidak bilang punya persediaan kertas segel seperti itu! Sifat pendiam nan misteriusmu itu mestinya sudah sirna, tahu! Apa gunanya aku punya rekan yang tidak mau memberitahukan sesuatu yang berguna padaku padahal itu sangat penting di pertempuran! Nah, kenapa tidak kita gunakan saja kertas-kertas segel itu untuk menyegel Naga Emas dan Naga Perak yang tersisa? Kurasa itu akan lebih praktis dan instan daripada menghancurkan mereka lebih dulu!"

Sasuke berdecak pura-pura. "Mengesankan mendengarmu bisa menggerutu habis-habisan begitu dalam serentetan kata-kata panjang dalam satu kali kesempatan bicara," ledeknya. "Tapi maaf saja, itu kertas segelku yang terakhir. Tapi...ada yang lebih bagus dari itu," dia melirik arah Tenggara, dimana aura merah-oranye sibuk menangkis beberapa kerangka naga-naga besar.

"Oh," aku menggumam mengerti. "Totsuka no Tsurugi bisa menyegel apa saja, kan?"

Sasuke mengangguk. "Kita segel Merciitinia dulu saja. Perak bisa jadi lebih menyusahkan daripada emas."

"Caranya?"

"Kabel listrik terbuat dari apa?" Sasuke balas bertanya.

"Kau pasti sudah tahu, kan," kilahku.

"Menguji saja."

Aku mengerutkan dahi sejenak. "Tembaga?"

"Tepat. Apa menurutmu tembaga adalah konduktor listrik terbaik?" Dia mengetes lagi.

"Sempat kupikir begitu," jawabku sekenanya, "kalau tidak, untuk apa menjadikannya bahan baku utama kabel listrik?"

"Tembaga itu nomor dua, Naruto," Sasuke mengoreksi. "Yang nomor satu, logam penghantar listrik terbaik, adalah perak. Manusia tidak menggunakan perak sebagai kabel karena itu logam berharga, berkilau dan lebih langka daripada tembaga. Jadi mudah saja memancing Merciitinia..."

Dia mengalirkan petir menyelubungi tubuhnya, yang mengingatkanku pada keturunan Raikage. Tapi Merciitinia masih sibuk dengan Nagato.

"Cih," geram Sasuke. "Kita perlu sumber listrik lebih besar."

TAR!

Sebutir gigi Naga Perak jatuh ke tanah diiringi soundeffect rap gila-gilaan.

"Tuan-Killer-Bee! Itu-namaku, jangan-lupakan-siapa-yang-telah-membuatmu-ompong, naga-sialan!"

Merciitinia mendengus marah, lalu menyeburkan bola-bola raksa. Kukira itu akan mengubah Killer Bee menjadi patung perak pose pegulat setengah rapper gila, tapi sosoknya berubah dalam beberapa detik. Kulitnya meluas dan tubuhnya jadi jauh lebih besar, menampakkan sosok naga sepanjang tiga puluh meter dengan sepasang tanduk seperti kambing di kepalanya, jenggot kulit padat, mata putih bulat tanpa pupil, dan kulit luar seperti urat. Dia hanya punya dua tangan depan berotot, sepasang sayap kulit besar di bahu yang seperti punuk, tapi dia punya delapan ekor...yang masing-masing seperti tentakel gurita, menangkap bola-bola perak itu dan mengayunnya lagi hingga membentur Archemedeates.

"Gyuuki!" Seru Beleriphon dari dalam tubuhku. "Wow, aku tidak tahu si rapper blak-blakan itu bisa berubah menjadi Gyuuki!"

"Kekuatan yang mirip denganmu, Sasuke," imbuhku. Aku mengangkat tangan tinggi-tinggi dan berteriak, "PAMAN GURITA!"

Sang naga-Gyuuki menoleh. "Apa?"

"Kemarilah!" Teriakku. "Sasuke punya rencana untuk mengalahkan Naga Perak yang sedang Paman Gurita hadapi!"

Gyuuki itu meninju muka Merciitinia tanpa menoleh. "Tidak perlu! Aku bisa memberesi yang satu ini sendiri! Kalian sebaiknya tangani emas saja!" Dia bersikeras, membelit leher Naga Perak dengan kedelapan ekornya dan membanting-bantingnya ke tanah sambil bernyanyi, "Naga-perak-di-langit, diam-diam-membuatku-sebal! Datang-seorang-pahlawan! HI-YAH! Killer-Bee-namanya! Pukul-pukul, pukul-yang-keras, menghajar-naga-di-tanah-kita!" (Ulangi dua kali untuk efek dramatis).

"Hei, sepertinya aku pernah dengar lagu itu," tukas Kurama tiba-tiba, yang mendarat di dekat kami bersama Demetra dan...Itachi. Aku mengangkat bahu.

Sasuke menepuk kepala sambil berkata, "Yah, ada bagusnya aku tidak mengajak rapper sinting itu. Sekarang mari kita tangani si emas."

"Omong-omong darimana kalian tahu kami membutuhkan Itachi?" Selidikku penasaran pada dua Wivere itu.

"Kami lapar," jawab Demetra. Aku mengangkat satu alis, berpikir mungkin saja ada sirkuit dalam otak mereka yang putus dan harus segera diperbaiki, tapi Kurama buru-buru menambahi.

"Kau ini pikun, Naruto. Bukannya sudah pernah kubilang Wivereslavia punya pendengaran paling tajam saat mereka sedang lapar?"

"Kami terbang di dekat kalian tadi dan mendengar rencana," Demetra mengimbuhi. "Yang penting dia sudah disini sekarang."

"Elemen petir," cetus Itachi. "Sasuke, Naruto. Gabungkan kekuatan Raiton bersama-sama untuk menarik perhatian Archemedeates. Aku akan menunggu sampai jaraknya cukup dekat untuk bisa ditembus dengan pedangku. Dan, Kurama, Demetra. Archemedeates adalah naga paling cerdas dari Tiga Naga Medali, dalam artian dia bisa mengerti bahasa manusia, jadi...kau tahu. Ejek dia supaya mendekati kami."

"Mengejek adalah keahlianku!" Bantah Hermes. "Keluarkan aku dari sini! Akan kubuat Archemedeates sakit hati, sekarat, dan mati!"

"Diam," bentak Beleriphon. "Akan ada saatnya nanti. Lagipula kau sudah mengejek Yacumama dan Juubi habis-habisan."

Aku menyilangkan pedangku dengan Sasuke, membuat gelombang listrik yang memerciki udara dengan kilatan-kilatan biru menyilaukan. Petir-petir saling sambar, mencuat ke langit, menembus awan-awan. Dua menit kemudian, denyar emas terlihat dari kejauhan. Archemedeates teralihkan dan mendekati kami, meninggalkan Nagato dan mengurungkan niat untuk membantu Merciitinia yang sudah kewalahan.

Makin dekat...

Makin dekat. Kurama dan Demetra tidak perlu bersandiwara.

Archemedeates mengangakan mulutnya, menampakkan amandel dan tekak emas, lidah emas, gusi emas, dan gigi-gigi emas. Hei, apakah air liurnya merupakan emas cair juga?

"Sekarang, Nii-san," desis Sasuke memberi kode.

Itachi mengaktifkan Susano'o merahnya. Aura tersebut menggelegak cepat membentuk sosok manusia berselimutkan perban dan topeng berhidung lancip, Totsuka no Tsurugi bercahaya, berkobar dengan api kuning berikut gentong segelnya, diarahkan lurus ke arah Naga Emas yang tidak sempat menghindar. Tapi...dia mengubah lintasan.

"Kurama! Demetra!" Pekikku. Dua naga itu melesat ke sisi kiri dan kanan Archemedeates, menjepitnya sekuat tenaga hingga kembali ke jalur sebelumnya. Memanfaatkan momentum Naga Emas, mereka terus melaju hingga akhirnya dahi Archemedeates tepat tertusuk Totsuka no Tsurugi. Sosoknya perlahan meleleh seperti emas yang dicairkan, tersedot masuk ke gentong segel bagai air yang diguyur dari toilet.

"Wow, terimakasih banyak, semuanya," desisku sambil mengusap peluh.

"Kau melupakan seseorang," tabrak Deavvara, merusak euforiaku.

"Hmm?"

"Adikku, bodoh."

Aku terhenyak. Pertarungan Ardhalea dan Laramidia, tentu saja. Tanpa pamit, aku melesat dengan kekuatan Hermes ke arah mereka berdua.


Sesampainya disana, keadaan sudah kacau-balau. Tanah sudah retak-retak dengan puluhan goresan pedang di tanah. Bebatuan terpecah-pecah, bahkan beberapa cabang dari akar Shinjuu sudah terpotong. Aku mendongak ke atas. Sebagian besar kelopak bunganya sudah mekar. Tinggal bagian intinya yang tersisa. Jika bunga itu sampai merekah sebelum kami sempat menghentikan Laramidia...

"Naruto," panggil Ardhalea. Aku menoleh ke sumber suara. "Tiga Naga Medali sudah selesai?"

Dia bicara dengan terengah-engah, dan aku belum pernah mendengar suaranya seperti itu selain saat bertarung dengan Deavvara.

Keadaannya berantakan –rambut perak panjangnya agak kusut, sebagian menggelombang, sebagian kecil terpotong pendek, mungkin gara-gara adu pedang. Cahaya matanya meredup. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Kimono hijaunya compang-camping, bahkan jahitan lengan kirinya sudah robek dan terburai sepenuhnya, menampakkan lengan kecil putih halusnya. Mau tak mau aku takjub bagaimana lengan yang terlihat lemah dan biasa-biasa saja itu menyimpan kekuatan sejuta kali lebih hebat daripada atlit angkat besi terhebat sekalipun. Bahu kanannya berdarah, tergores dalam karena pedang.

Laramidia lebih baik sedikit, tapi bukan berarti dia tidak terluka. Rambut pirangnya kusut dan kotor, serta dahi kirinya lebam. Satu goresan di pipi kanannya, dan luka sayat dalam di pinggang kanannya. Satu kakinya tampak pincang dan pakaian serba hitamnya juga sudah berantakan.

"Makin banyak kekuatan, makin sedikit kerusakan," pamer Laramidia sinis. Aku menggeram.

Kualihkan pengelihatanku pada Ardhalea, yang masih berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Aku memegang pundaknya. Luka-lukanya mulai beregenerasi dengan cepat. Sesaat, dia tampak menatapku bingung.

"Sisa-sisa kekuatanmu," ujarku. "Restumu. Ingat, kan? Kau memberikannya padaku sebelum kau...mati. Mati sementara, maksudku."

Dia mengangguk, lantas berusaha berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. Baik Ardhalea maupun Laramidia sama-sama dalam wujud manusia sejatinya, jadi mereka tidak bersayap atau bertanduk, tapi kedua perempuan ini pasti sudah bertarung melebihi serunya pertarungan dua ahli pedang manusia terhebat seantero dunia.

"Ardhalea, kimono seperti itu tidak cocok untuk bertarung," saranku. "Bagian bawahnya bahkan sudah robek setengah, tuh!"

Ia melirikku dengan ekor mata tajam-tajam.

"Hei! Bukan maksudku untuk-"

"Tak apa," kilah Ardhalea sambil mengibas tangan, "memang sudah lama sekali aku tidak merubah penampilan kimono-ku, biasanya hanya untuk pertarungan ekstrem, dan sekarang termasuk waktu itu,". Dia mengeluarkan sebuah perkamen dari pinggangnya –entah dari kantung mana, kemudian membukanya dan dirinya diselubungi asap ungu.

Penampilan dandanan total.

Alih-alih kimono, sekarang dia mengenakan pakaian yang lebih ketat (sedikit, sih). Atasan gaun tanpa lengan, mirip milik Sakura, tapi warnanya hijau tua. Lengannya sendiri jahitannya terpisah dari badan, seperti semacam stoking yang ujungnya berlubang, berbentuk tabung. Dia mengenakan sarung tangan dengan jari-jari berlubang, dan roknya berganti menjadi celana panjang sampai mata kaki, mirip celana karate.

"Wow," tanggapku. "Kau keren."

Ardhalea meremas tangannya sendiri, mencabut pedang emas-perunggu-bajanya. Sayap dan tanduknya tumbuh.

"Sekarang dan selamanya," geramnya. "Kami akan membinasakanmu."

"Lucu!" Laramidia memekik dengan nada tinggi seperti pekikan lumba-lumba. Ia mengangkat tangan. Tidak ada yang berubah dari tubuhnya selain luka-lukanya sembuh –kurasa penampilan tidak begitu penting baginya sekarang. Tanah memecah, mengeluarkan batangan-batangan kristal dan bijih besi. Pasir besi dan es beterbangan di udara. Kilat sambar-menyambar di atasnya, dan angin memutar membentuk cakram di sekelilingnya.

"Aku punya kekuatan ayah dan ibuku," pamernya. "Langit dan Bumi; sumber kekuatan tak terbatas, langsung dari alam. Apa yang bisa kalian lakukan?!"

"Delapan naga terhebat dan seorang manusia terkuat," bela Ardhalea.

Aku berjengit, "Kau menyebutku manusia terkuat?"

Dia merona. "Diam."

Mata emas Laramidia menyala. Aku berjengit lagi. Auranya berubah. Sensasi ini...ini kebencian murni. Sesuatu yang benar-benar jahat, seperti nenek buyut dari nenek buyutnya nenek buyut kejahatan yang punya nenek buyut. Sangat dingin...dan begitu gelap. Dia akan membunuh semua yang punya nyawa dan akan menghancurkan semua yang punya bentuk. Dia akan menyakiti semua yang nyaman dan menakuti semua yang berani...

"Mari kita mulai saja," desahnya tenang sambil menghunus anggar dan Taiyotsuki no Tsurugi bersamaan.

"Kita bertiga...sampai mati."

.

.

.

.

.

Bersambung...


Author's Note (2):

Nah, Chapter 25 rampung! Gimana untuk bagian kali ini? Semoga tetap seru ya!

Hehe, maaf harus nunggu setengah bulan. Iya, maklum ya karena saya di sekolah begitu sibuk. Efek kurikulum 2013... (lirik-lirik Kemendikbud).

Lumayan full fight juga. Kali ini saya tampilkan satu tambahan Naga Kolosal dan Tiga Naga Medali, juga pertempuran seru aliansi melawan si jahat nan licik Laramidia.

Apakah Laramidia akan melepaskan kekuatan yang lebih mengerikan lagi? Berhasilkah Shinjuu memekarkan bunganya dan mencemari dunia dengan Genjutsu tak terbatas yang membawa semua makhluk ke dalam dunia mimpi tak berujung? Bagaimanakah Kakashi mengatasi kebencian Obito yang pada dasarnya hanya sebuah kesalahpahaman? Nasib dunia yang dipertaruhkan di pertempuran kali ini bersama Naruto dan Ardhalea...akan terjawab di chapter depan! Dan saya ingatkan bahwa chapter selanjutnya barangkali merupakan pamungkas dari fic ini!

Kembali saya ingatkan, jangan sungkan memberi review yach...Sesingkat apapun atau sesepele apapun itu akan sangat berguna, dan kalau-kalau kalian punya ide untuk fic ini, cantumkan saja ide itu. Saya juga sangat berterimakasih atas readers yang mau me-review Paradox ! Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua kecuali terus meneruskan fic ini ! Pokoknya ditengah-tengah kesibukan, akan saya usahakan update dan update !


Coming Soon:

PARADOX FINAL CHAPTER! RELEASE ON SEPTEMBER 23rd 2014!

"Something Behind the Wings"

See you again in chapter 26 !


-Dragons List in Chapter Twenty five:

Breviparopus (Naga OC, diambil dari nama salah satu dinosaurus spesies perdebatan)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 630 meter, berat sekitar 1.000 ton

Kecepatan terbang : Tidak dapat terbang

Spesial : Ukuran luar biasa, leher superpanjang

Tipe serangan : Serangan langsung dengan tubuh raksasanya, hantaman leher, kepakan sayap, kaki, atau api dari mulutnya

Kategori : Kaum Kolosal

Elemen spesial : -

Level bahaya : Gila

Pemilik : Laramidia

Archemedeates (Naga OC, namanya dipelesetkan dari nama ilmuwan Yunani terkenal, Archimedes)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 90 meter, berat sekitar 100 ton

Kecepatan terbang : 450 km/jam

Spesial : Ukuran besar, sekujur tubuh terbuat dari emas

Tipe serangan : Serangan langsung dengan tubuh atau menyemburkan api emas

Kategori : Naga Medali

Elemen spesial : Emas

Level bahaya : Gila

Pemilik : Laramidia

Merciitinia (Naga OC, namanya dipelesetkan dari Mercury, nama lain air raksa)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 90 meter, berat sekitar 100 ton

Kecepatan terbang : 400 km/jam

Spesial : Ukuran besar, sekujur tubuh terbuat dari perak

Tipe serangan : Serangan langsung dengan tubuh atau menyemburkan perak cair dan raksa

Kategori : Naga Medali

Elemen spesial : Perak

Level bahaya : Gila

Pemilik : Laramidia

Heracliudehf (Naga OC, namanya dipelesetkan dari nama pahlawan Yunani terkenal, Heracles)

Strength : Ekstrim

Ukuran : Panjang 90 meter, berat sekitar 100 ton

Kecepatan terbang : 350 km/jam

Spesial : Ukuran besar, sekujur tubuh terbuat dari perunggu

Tipe serangan : Serangan langsung dengan tubuh atau menyemburkan bilah-bilah perunggu

Kategori : Naga Medali

Elemen spesial : Perunggu

Level bahaya : Gila

Pemilik : Laramidia