Rumah
Disclaimer: Naruto isn't mine. it's Mashashi Kishimoto's
Bagian Kedua
Kedua insan itu berjalan berdampingan setelah keluar dari pemakaman Konoha. Sang pemuda kelihatan berkali-kali menghela nafasnya dan si gadis menunjukkan ekspresi wajah lega, mungkin lega setelah membicarakan masalahnya dengan ayahnya, walaupun hanya di depan batu nisan ayahnya tercinta. Shikamaru dan Ino memang memutuskan untuk menemui ayah mereka dulu baru ibu mereka, mereka menganggap bahwa tentu lebih mudah untuk berbicara dengan batu nisan yang tak bisa bergerak daripada dua ibu cerewet yang akan memberi mereka ribuan petuah yang sudah terlalu mereka hafal.
"Setelah ini kita kemana? Ke rumah ibuku atau ibumu?" Tanya Ino kepada Shikamaru.
"Ibumu, dia lebih tidak merepotkan dari pada ibuku. Tapi, kalau bisa kita menemui mereka bersama-sama." Jawab Shikamaru sambil mengambil sebatang rokok dari sakunya.
"Mana bisa? Kau mau sengaja mempertemukan mereka? Begitu?"
"Aku bilang kalau bisa Ino, KALAU BISA. Kalau tidak bisa ya sudah, jangan marah-marah seperti itu, tidak bagus untuk bayi di kandunganmu." Kata Ino sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Kau juga, berhenti merokok di depanku! Aku tidak mau anakku bau rokok bahkan sebelum ia lahir."
"Tidak mungkin Ino, kau ini terlalu paranoid. Mana mungkin anak kita terlahir dengan bau rokok, itu mustahil. Bayi kita terlindung di balik kulit perutmu yang tebal itu."
"Maksudmu aku gendut? Begitu?"
"Wajar saja kalau ibu hamil gemuk Ino."
"Wajar bagi yang usia kandungannya lima bulan ke atas, dank au tahu aku belum memasuki masa itu kan?"
"Tch, Merepotkan. Ayolah, jalan yang cepat, kita harus menemui ibumu." Kata Shikamaru sambil menarik lembut tangan Ino agar berjalan di sampingnya.
Sepanjang perjalanan menuju Toko Bunga Yamanaka, Ino dan Shikamaru terus saja terlibat dalam pertengkaran seru, tapi tentu saja bukan pertengkaran sungguhan. Sejak kecil Ino dan Shikamaru memang selalu bertengkar setiap saat, entah siapa yang memulai ada saja topik yang mereka perdebatkan. Dan kalau boleh jujur, Ino sangat menikmati pertengkaran yang justru selalu membuatnya dekat dengan Shikamaru itu.
Sejak awal memang Ino selalu ingin dekat dengan Shikamaru, entah mengapa. Saat pertama kali menyadarinya Ino masih kecil dan belum mengerti, perasaan apa yang ada di dalam dirinya. Tapi, seiring berjalannya waktu Ino sadar bahwa perasaan itu bernama cinta dan Ino pun mulai mencoba untuk menyadarkan Shikamaru tentang perasaannya itu. Karena itu, saat Shikamaru menerima pernyataan cintanya, Ino merasa sangat senang. Walaupun tentu saja hari-hari mereka sebagai sepasang kekasih lebih sering diisi dengan pertengkaran, Ino tetap senang, karena walaupun begitu Shikamaru adalah miliknya dan itu semua merupakan bukti bahwa Shikamaru mencintainya. Tapi semua berubah ketika Ino menemukan surat dari Temari. Ino langsung sadar bahwa Shikamaru tidak pernah mencintainya seperti Ino mencintai Shikamaru, seluruh dunia Ino hancur saat itu. Tentu saja Ino tidak bisa menyalahkan Shikamaru karena ia tidak pernah menanyakan perasaan Shikamaru kepadanya, Ino hanya bertanya apakah Shikamaru mau menjadi pacarnya dan mengingat Shikamaru yang tidak pernah mau melukai hati wanita, tentu saja Shikamaru menerimanya. Ino tahu, itu pula yang dialaminya saat ini. Ia tentu tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, tapi ia lebih tidak ingin lagi anaknya lahir tanpa sosok seorang ayah. Karena itu, Ino setuju dengan keputusan Shikamaru untuk menikah. Di lubuk hatinya yang terdalam, ia berharap Shikamaru bisa belajar untuk mencintainya.
"Akhirnya kita sampai juga." Kata Shikamaru setelah sampai di depan Toko Bunga Yamanaka.
"Iya, tak terasa. Padahal aku masih bingung harus bicara apa pada ibuku." Ino berdiri termangu di depan Toko Bunga milik keluarganya.
"Tak usah bicara kalau kau bingung. Aku saja yang menjelaskan semuanya pada ibumu."
"Kau akan menceritakan semuanya?"
"Tidak tahu, tapi kau tenang saja. Aku pasti bisa menyelesaikannya, sekarang ayo kita masuk dulu." Shikamaru menarik tangan Ino agar mengikutinya.
"Tadaima…" Kata Ino saat membuka pintu tokonya.
"Okaeri- Ah kebetulan sekali ada Shikamaru. Ibumu baru saja datang." Nyonya Yamanaka keluar dari bagian belakang tokonya.
"Betulkah baa-san? Kebetulan sekali. Aku memang ingin berbicara dengan kalian berdua." Jawab Shikamaru sopan.
"Benarkah? Ya sudah, ayo kita bicarakan saja di belakang." Nyonya Yamanaka menarik tangan Ino dan Shikamaru bersamanya.
Sesampainya mereka di belakang, Ino dan Shikamaru langsung duduk bergabung dengan ibu mereka. Tak lama kemudian Ino pergi ke belakang untuk menyiapkan minuman dan Shikamaru memulai pembicaraannya dengan ibu dan calon ibu mertuanya. Pembicaraan mereka memang berlangsung cukup alot pada awalnya, namun tetap saja dengan taktiknya yang jitu Shikamaru mampu merayu mereka berdua untuk mengijinkannya menikah dengan Ino. Dan saat mereka keluar dari Toko Bunga Yamanaka mereka sudah menetapkan bahwa Shikamaru dan Ino akan menikah seminggu lagi.
##
Tak terasa seminggu sudah berlalu sejak pembicaraan Shikamaru mengenai pernikahannya. Yang berarti hari ini adalah hari pernikahan Shikamaru dengan Ino. Selama seminggu kemarin, mereka berdua sudah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pernikahan mereka. Terburu-buru memang, tapi berhubung mereka memutuskan kalau pernikahan mereka akan dibuat sesederhana mungkin, persiapan yang mereka buat pun tidak begitu banyak.
Saat ini Ino sedang duduk di depan meja rias di kamarnya. Di bawah, tamu-tamu undangannya sudah menunggunya untuk menyaksikan upacara pernikahannya. Dengan riasan sederhana dan kimono putih warisan ibunya yang sudah rapi di badannya, sebenarnya Ino sudah siap turun sedari tadi, hanya saja Ino belum siap bertemu dengan tamu undangannya, terutama tamu dari Suna. Ia belum siap kalau harus bertatapan muka dengan Temari yang pasti sangat kecewa dengannya karena sudah merebut Shikamaru. Tapi mau bagaimana lagi? Bukan Ino juga yang menginginkan bayi Shikamaru di kandungannya.
TOK TOK TOK…
"Masuk." "Ah, ternyata kau Shikamaru. Ada apa?"
"Kau sudah siap? Hokage-sama sudah menunggu di bawah."
"Apa kau yakin dengan ini semua Shikamaru?"
"Sebenarnya tidak Ino. Tapi apakah kau punya pilihan lain? Kita harus yakin Ino. Ini demi kebaikan kita. Aku, kamu, dan bayi kita." Kata Shikamaru, mengelus rambut pirang Ino.
"Baiklah," kata Ino sambil tersenyum tipis. "Ayo kita turun."
Prosesi pernikahan Shikamaru dan Ino berlangsung sakral walaupun singkat. Para tamu undangan yang tadinya berbisik-bisik pun langsung terdiam setelah Ino turun. Memang sebelumnya banyak yang mempertanyakan keputusan mereka berdua untuk menikah secara terburu-buru, namun melihat senyum yang selalu tersungging di bibir mereka berdua, para tamu undangan pun merasa mengerti dengan semuanya.
"WAH SHIKAMARU! SELAMAT YA! AKU KIRA AKU DENGAN HINATA YANG AKAN MENIKAH LEBIH DULU. HABISNYA PACARMU KAN TEMARI." Si Bocah Rubah langsung menyalami Shikamaru dan Ino setelah upacara selesai
"Hush Naruto, jaga omonganmu." Kata Sakura sambil menjitak kepala Naruto.
"Apa sih Sakura-chan. Kau cemburu ya karena aku lebih memilih Hinata?"
"Bukan karena itu Baka! Kau tidak lihat Temari sedari tadi murung terus?" Kata Sakura setengah berbisik, tidak enak pada sang Putri Suna.
"Ah kalian ini, sudahlah jangan bertengkar terus. Ayo nikmati saja hidangan yang ada." Kata Ino, mengalihkan pembicaraan.
"Ah, kalian juga bertengkar terus tapi tidak ada yang protes. Ayo Sakura-chan, aku lapar." Kata Naruto menarik paksa tangan Sakura yang sebenarnya masih ingin mengobrol dengan Ino.
"Shika-kun?"
"Ya?"
"Bagaimana dengan Temari-san?"
"Dia mengerti semuanya. Dia malah mendoakan kebahagiaan kita berdua."
"Aku merasa bersalah padanya Shika-kun. Secara tidak langsung aku sudah merebutmu darinya."
"Tenang saja Ino, kau tidak salah sama sekali. Ini kesalahanku yang tidak berhati-hati dalam bertindak. Sudahlah, jangan membahas masa lalu lagi. Lebih baik kau memikirkan masa depan kita bertiga."
"Baiklah." Kata Ino ragu. Ia tahu, siap atau tidak siap masa depannya dengan Shikamaru sudah membentang di depan mata. Ino hanya perlu menjalaninya tanpa ragu dan penyesalan.
つづく
Akhirnya saya update fic ini setelah sekian lama :D. Rasanya lega banget, setelah bingung nyari ide cerita yang tiba-tiba buntu dan juga karena kendala laptop yang rada soak, akhirnya saya bisa publish bagian kedua dari fic Rumah.
oiya, yang udah review makasih banyak ya udah mau review fic abal saya
buat yang minta update, ini saya udah update :D
