Rumah

Disclaimer: Naruto isn't mine. it's Mashashi Kishimoto's

Bagian ketiga

Kediaman Klan Nara, 5 tahun kemudian

Pagi itu udara musim semi berhembus dengan lembutnya. Seorang bocah lelaki kecil berambut seperti nanas sedang melemparkan kunai ke arah pohon di depannya. Semua kunai yang ia lemparkan menancap tepat sasaran, bocah itu pun menyunggingkan senyuman kecil yang tak mungkin terlihat oleh orang lain. Setelah melemparkan kunai yang ke 10 ia pun beranjak dari tempatnya berlatih dan berjalan ke arah wanita bermata biru yang sejak tadi menunggunya di belakangnya.

"Kaa-san, aku sudah selesai latihan. Tadi malam kaa-san bilang kalau tou-san akan pulang setelah aku selesai latihan kan?" kata bocah semangat.

"Sabar Shikai-kun." Jawab ibunya sambil mengelus pelan rambut nanas si bocah. "Sebentar lagi tou-san pasti datang. Bagaimana kalau sebelum tou-san datang kau mandi dulu?"

"Tidak mau. Aku hanya mau mandi dengan tou-san." Jawab Shikai sambil berlari menjauhi ibunya.

Melihat putranya yang tiba-tiba berlari, si ibu pun dengan reflek mengejar Shikai. Tapi, baru beberapa meter aksi kejar-kejaran itu terhenti ketika tiba-tiba seseorang dari arah gerbang mengunci bayangan Shikai.

"Tou-san pulang!" teriak Shikai senang sambil berusaha melepaskan diri dari jutsu ayahnya.

"Kalau kau tidak mau mandi, kau tidak perlu membuat ibumu berlarian seperti itu kan? Kau memang bocah Nara yang paling merepotkan." Jawab ayahnya santai. "Bagaimana kalau kau mandi bersamaku sekarang bocah merepotkan?"

"Ah, untunglah kau pulang Shikamaru. Aku hampir saja mati kelelahan mengejarnya kesana-kemari."

"Kau tidak mungkin mati karena mengejar anak berumur tujuh tahun Ino." Jawab Shikamaru setelah melepaskan jutsunya dari Shikai. "Ayo kita mandi Shikai. Ah, padahal impianku setelah pulang dari misi adalah mandi bersama Ino."

"Kenapa tou-san ingin mandi bersama kaa-san?" tanya Shikai penasaran. "Padahal kaa-san selalu cerewet saat mandi, sama sekali tidak asyik."

"Ah, benarkah? Kalau mandi bersamaku dia juga berisik. Tapi sama sekali tidak cerewet. Malahan kaa-san sampai tidak bisa berkata-kata." Jawab Shikamaru.

"Tidak bisa berkata-kata? Kenapa?" Shikai semakin penasaran dengan kata-kata Shikamaru.

"Suatu saat kau akan mengerti nak." Kata Shikamaru sambil menepuk pelan pundak anaknya. "Ah Ino, bagaimana kalau kau menungguku di kamar? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan." Lanjutnya sambil tersenyum nakal ke arah Ino.

Ino yang sedari tadi tersenyum mendengar percakapan suami dan anaknya langsung saja memerah mukanya mendengar perkataan Shikamaru. Setelah pergi dari misi panjang Shikamaru selalu memintanya untuk menunggunya di kamar dan membicarakan 'sesuatu'. Tentu saja Ino tahu apa sesuatu yang ia maksud. Seumur hidup saling mengenal dan delapan tahun pernikahan membuat Ino mengerti semua isyarat suaminya. Apalagi yang berhubungan dengan 'sesuatu' itu.

Delapan tahun. Tak terasa delapan tahun sudah Ino menikah dengan Shikamaru. Bukan waktu yang lama memang, namun Ino tahu itu juga bukan waktu yang sebentar. Banyak hal yang terjadi dalam jangka waktu itu. Sembilan bulan pertama mereka habiskan di apartmen Shikamaru sambil mengurus kehamilan Ino. Sembilan bulan paling bahagia dalam hidup Ino ketika ia harus menghabiskan waktu di ruangan sempit bersama pria yang sangat memperhatikannya dan memberikan apa pun yang ia mau. Sesaat setelah Shikai lahir, mereka pun masih tinggal di apartmen kecil mereka, namun berhubung anak pertama mereka tampaknya mewarisi sepenuhnya sifat sang ibu yang aktif, kehidupan di apartmen sempit pun tak seindah dulu lagi. Mereka pun memutuskan untuk pindah ke kediaman klan Nara.

Awalnya, Ino sempat khawatir dengan keputusan itu. Ia takut perhatian Shikamaru kepadanya akan berkurang karena Shikai dan juga urusan klan yang menumpuk. Apalagi, mereka tinggal dekat dengan ibu Shikamaru. Ino benar-benar khawatir kalau Shikamaru akan melupakannya. Namun ternyata kekhawatiran Ino tidak beralasan, sikap Shikamaru sama sekali tidak berubah setelah tinggal di sini, malahan Ino merasa bahwa Shikamaru semakin lama semakin perhatian padanya.

Sambil bersenandung kecil, Ino menyisir rambut pirangnya yang indah. Senyuman tak pernah lepas dari wajah cantiknya. Sebagai istri seorang anbu, sudah menjadi hal biasa untuk tidak bertemu suaminya selama berbulan-bulan, tentu saja Ino memanfaatkan kebersamaan yang ia miliki dengan Shikamaru. Bahkan kemarin, sehari sebelum Shikamaru pulang Ino menyempatkan diri untuk membeli pakaian dalam baru di tengah kesibukannya.

"Dasar wanita merepotkan. Kau pasti mebuang uangku lagi selama aku pergi kan?" canda Shikamaru sambil memeluk Ino dari belakang.

"Ah, Shikamaru. Cepat sekali, kau sudah selesai memandikan Shikai?"

"Belum. Bocah itu mandi lama sekali, dan aku tidak sabar untuk berbicara denganmu." Bisik Shikamaru lembut ke telinga Ino.

"Memangnya, kau mau membicarakan apa suamiku?" kata Ino manja sambil berbalik menatap Shikamaru.

"Membicarakan sesuatu yang hanya dimengerti oleh kita berdua, istriku." Jawab Shikamaru lalu mencium lembut bibir Ino.

Dan, mereka pun menghabiskan waktu sehari penuh berdua di kamar hari itu.

##

Ino mengayunkan kakinya sambil bersenandung riang saat ia pergi ke arah Rumah Sakit Konoha. Hari ini Shikamaru sedang sibuk mengerjakan laporan misi dan Shikai pergi ke akademi sehingga Ino yang sendiri di rumah pun memutuskan untuk pergi menemui Sakura di tempat kerjanya.

Di sepanjang perjalanan, Ino bertemu banyak orang yang dikenalnya sejak kecil, membuat Ino teringat akan masa kecilnya bersama Shikamaru yang indah. Hal itu membuat perjalanan Ino ke Rumah Sakit Konoha lebih terasa dekat.

"Hey Sakura! Aku senang sekali hari ini." Kata Ino sambil masuk ke kantor Sakura tanpa mengetuk pintu.

"Apa suamimu tidak pernah mengajarimu cara mengetuk pintu Nyonya Nara?" jawab Sakura tanpa mengalihkan pandangannya dari paperwork di depannya.

"Ah, aku senang sekali. Shikamaru pulang kemarin dan kemarin benar-benar menakjubkan." Mengacuhkan sindiran Sakura, Ino duduk di depan Sakura dan melanjutkan ocehannya. "Aku malah sempat berpikir kalau dia mempelajari teknik-teknik baru saat dia menjalankan misi."

"Teknik?" tanya Sakura heran.

"Oh iya, kau kan belum menikah. Mana mungkin kau mengerti perkataanku. Kapan sih kau akan menikah? Kau masih menunggu si bodoh itu berpaling padamu?" kata Ino panjang lebar.

"Siapa yang kau sebut bodoh Nara? Seingatku Sasuke-kun tidak bodoh."

"Jangan berlagak bodoh Haruno. Semua orang sudah tahu kalau kau dan Sasuke-kun itu cerita lama. Sudah terang bagaikan siang kalau kau sekarang tergila-gila dengan Naruto."

Mendengar kata Naruto disebut, Sakura langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan kembali serius mengerjakan paperwork di depannya. Matanya seolah-olah menghindari tatapan Ino. Melihat gelagat aneh sahabatnya itu, Ino langsung tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres antara Sakura dan Naruto.

"Ada apa? Naruto mengacuhkanmu lagi?" tanya Ino dengan nada perhatian sambil menggenggam tangan Sakura.

"Kemarin kami berjanji untuk menonton film bersama di rumahku. Aku sudah menunggunya selama beberapa jam, tapi sampai aku tidur pun dia tidak muncul juga. Tadinya aku mencoba berpikiran positif kalau dia sibuk dengan rencana pengangkatannya sebagai hokage." Ucapan Sakura terhenti, lalu matanya yang mulai berkaca-kaca menatap Ino.

"Lalu?" tanya Ino.

"Tadi pagi aku melihat Naruto keluar dari kediaman klan Hyuuga." Jawab Sakura pelan. "Aku tahu kalau aku tidak punya hak untuk menuntut banyak dari Naruto, tapi tidak bisakah setidaknya ia menepati janjinya?" setelah mengatakan isi hatinya itu, tangisan Sakura langsung pecah.

Melihat sahabatnya, Ino langsung berdiri dan perlahan memeluk Sakura lembut. Kata-kata penenang terus keluar dari mulutnya saat ia mengelus punggung Sakura. Ino mengerti betul perasaan Sakura saat ini, Ino mengerti bagaimana rasanya jika pria yang ia cintai membagi hatinya pada wanita lain, Ino mengerti bagaimana rasanya jika pria yang ia cintai lebih memilih wanita lain. Walaupun tentu saja Ino tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang simpanan. Ya walaupun terdengar kasar, mungkin hanya kata itu yang tepat untuk menggambarkan status Sakura saat ini.

Awalnya hubungan Naruto dan Sakura memang murni hubungan persahabatan, walaupun memang sudah bukan rahasia lagi kalau Naruto memendam rasa pada sang kunoichi. Tapi, bukan rahasia juga kalau Sakura mempunyai rasa pada teman satu timnya yang lain, hal ini menyebabkan Naruto mundur perlahan dan akhirnya membalas perasaan Hinata padanya.

Entah mengapa, hal ini membuat hubungan Naruto dan Sakura merenggang, membuat Naruto yang masih sangat menyayangi Sakura terpuruk. Bukan Naruto namanya jika mudah menyerah, dengan segala cara Naruto berusaha menjalin persahabatannya dengan Sakura kembali. Usaha keras Naruto tidak sia-sia, ia pun kembali dekat dengan Sakura. Tapi sejak itu, kedekatan mereka tak lagi sama seperti dulu. Entah cara apa yang dipakai Naruto, tapi kini hubungan mereka telah berubah drastis dari hubungan mereka yang dulu.

"Permisi, Sakura-san. Uzumaki-san ingin bertemu dengan anda." Tiba-tiba salah satu junior Sakura masuk, mengagetkan kedua wanita cantik itu.

"Suruh dia menunggu." Kata Sakura.

Mendengar itu, Ino langsung tersenyum getir. Beginilah hubungan kedua temannya, saling menyakiti namun tak mau berpisah dari yang lain. "Nah, untuk apa kau menangisi si bodoh itu? Jangan kuatir, bagaimana pun keadaannya dia tidak akan meninggalkanmu. Buktinya sekarang dia sudah datang memohon maaf padamu."

"Kata siapa ia akan memohon maaf padaku?"

"Insting." Jawab Ino asal.

"Terserah. Kau sudah mau pulang kan Ino-chan?"

"Huh bilang saja kau mau mengusirku. Padahal aku kesini untuk bercerita, kenapa aku harus mendengar ceritamu?" kata Ino sambil melangkah keluar dari kantor Sakura.

Tak lama setelah Ino pergi, Naruto masuk ke kantor Sakura. Setelah yakin tidak ada orang lain Naruto langsung menutup pintu dan berlutut di hadapan Sakura.

"Sakura-chan, gomen ne."

##

"Shikamaru, apa kau sudah makan? Tadi aku membelikanmu makan siang di Yakiniku-Q." Teriak Ino saat masuk ke dalam rumahnya, saat tidak menemukan orang yang ia cari, Ino pun terus berkeliling rumah sampai menemukan suaminya tidur di taman belakang rumah. "Tch, dasar pemalas," kata Ino sambil menghampiri Shikamaru.

"Hey Shikamaru, bangun! Kenapa kau malah tidur di tengah hari begini?" Ino membangunkan Shikamaru sambil mengguncang-guncangkan badan suaminya.

"Sebentar Temari, aku masih mengantuk." Gumam Shikamaru tanpa sadar.

Jantung Ino langsung berhenti berdetak saat mendengar nama si gadis Suna disebut. Semua perasaan bahagianya tadi seakan langsung terbang pergi darinya saat nama gadis yang pernah hadir di antara mereka berdua disebut. Tapi walaupun begitu, Ino berusaha menjauhkan segala pikiran negatif dan kembali membangunkan suaminya, kali ini dengan lembut.

"Shika-kun, bangun. Ayo kita makan siang."

Tak lama kemudian, Shikamaru pun bangun dan langsung menatap Ino, "Ino, kau sudah pulang?"

"Iya. Ayo kita makan Shika-kun." Jawab Ino sambil memasang senyum termanisnya.

"Shika-kun?" kata Shikamaru heran, jarang sekali Ino memanggilnya dengan Shika-kun.

"Kenapa? Aku hanya ingin mengenang masa pacaran kita." Jawab Ino

"Dasar merepotkan. Jadi makan apa kita hari ini?"

"Aku tidak sempat masak hari ini, jadi aku membeli makanan di Yakiniku-Q. Tidak apa-apa kan?"

"Hn. Ya sudahlah, ayo kita makan." Kata Shikamaru sambil berjalan terlebih dahulu menuju ruang makan.

Shikamaru tidak tahu kalau di belakangnya, senyuman istrinya langsung berubah menjadi tetesan air mata yang entah muncul dari mana.

つづく


A/N: Sebelumnya saya minta maaf sebesar-besarnya untuk keterlambatan bagian ketiga ini. Saya tahu, satu tahun lebih merupakan waktu yang terlalu lama untuk menulis satu chapter singkat seperti ini. Jujur, tahun kemarin saya sangat sibuk dengan segala ujian dan tes perguruan tinggi sehingga sekali lagi saya minta maaf atas keterlambatan chapter ini. Setelah ini, saya berjanji saya akan mencoba lebih teratur mengupdate cerita ini. Jadi, selamat jumpa kembali dan terimakasih atas kesediaan kalian untuk membaca fic gaje ini. :)