Yeah, sekarang Rei punya mood untuk melanjutkannya! Heyah!
Untuk pembalasan review, nanti ada di bawah. Oke? Dan juga untuk bagian KonoEne, sekarang akan ditulis pair HaruTaka, chapter depan baru KonoEne. X3
Mulaai!
Disclaimer:
Kagerou Project / Kagerou Days / Mekaku City Actors © Jin (Shizen no Teki-P), Shidu, Wannyanpu
Story © Kurotori Rei
Warning:
OOC, typo(s), et cetera
Pairing:
KanoKido, SetoMary, HibiMomo, KonoEne / HaruTaka, ShinAya
.
.
.
Don't Like? Don't Read!
.
.
.
Happy Reading, minna-san!
.
.
.
—Sakit—
1. Kano Shuuya x Kido Tsubomi
Saat itu, Kido Tsubomi sedang berjalan-jalan di sekitar rumahnya—rumahnya bersama dengan keluarga Tateyama, Kano Shuuya, dan Seto Kousuke—, ia sedang bosan di rumah sendirian. Kenjirou sedang pergi kerja, Ayaka sedang berbelanja, Seto pergi ke tempat pacarnya—itu kesimpulan dari Kido sendiri—, dan Kano menghilang.
Alasan Kido keluar juga tidak hanya itu, ia juga ingin mencari Kano yang sering keluyuran juga. Gadis bersurai hijau tua itu menghela nafas, "Di mana si bodoh itu…? Dia membuatku sangat khawatir…"
Tepat sekali setelah Kido mengatakan itu, ia melihat Kano yang sedang meringkuk di pinggir jalan sambil memegang sebuah minuman kaleng. Sedang apa dia di sini? pikir Kido bingung. Kido mendekat ke arah Kano dan ia pun terkejut melihat wajah Kano yang berlinangan air mata.
"Ugh… kenapa…? Kenapa aku harus menahan semua ini sendirian…? Aku… tak ingin berbohong lebih dari ini…" isak Kano yang masih terus mengeluarkan air mata. Kido terdiam, jadi selama ini yang ia lihat senyuman dan candaan Kano itu hanyalah imitasi belaka. Jadi, selama ini Kano menyembunyikan kerapuhannya di belakang mereka? Di belakang Kido?
"Kano…" Kido tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tanpa sadar, Kano langsung memeluk Kido yang membuat gadis itu tersentak kaget. Namun pada akhirnya Kido membiarkan Kano memeluknya, membiarkan Kano mendapatkan ketenangan setelah ini. "Kido… Kau takkan pernah meninggalkan aku 'kan?"
Tatapan Kido meredup, ia melihat ke arah Kano dan tersenyum nanar.
"Tentu saja, aku tidak akan pernah meninggalkanmu Kano… karena aku menyayangimu…"
2. Seto Kousuke x Kozakura Mary
Seto tahu bahwa Mary adalah seseorang yang tidak kuat, ia sangat rapuh. Dan sekarang Seto sedang menemani Mary yang sedang tertidur.
Saat Seto datang pertama kali ke tempat Mary, ia juga mendengar suara pikiran Mary yang terlihat sangat kesepian. Seto tahu bagaimana rasanya kesepian dan ditinggal oleh seseorang yang kausayangi seperti seorang ibu.
"Mary-chan… Aku tahu perasaanmu…" tangan Seto mengelus rambut Mary yang sedang tertidur. Entah tidur Mary itu nyenyak apa tidak, tapi Seto berharap ia tertidur dengan sangat nyenyak. Seto menatap beberapa buku-buku yang telah Mary baca, ia pun membukanya.
"Buku-buku yang menarik," gumam Seto pelan. Dibukanya buku-buku tersebut, sampai ia menemukan sesuatu yang menarik. Sebuah diari. Seto mengambilnya dan membuka buku tersebut. Lembar demi lembar ia dengan cepat pahami, sepertinya ini dari ibu Mary-chan… dilihat dari penulisannya… batin Seto.
"Ngh… Okaa-chan…" Iris emas Seto menoleh ke arah Mary yang mengigau pelan. "jangan tinggalkan aku sendirian, okaa-chan…" Seto datang ke tempat Mary, ia mengelus rambut Mary sekali lagi berharap gadis itu tidak kembali mengigau dan tidur nyenyak.
"Sst, Mary-chan… tenanglah. Aku di sini…" dan Seto pun mengecup pipi Mary pelan dan seulas senyum terukir di wajah Mary.
Seto tahu, semua orang punya cerita tersendiri yang mungkin orang lain tidak tahu.
3. Amamiya Hibiya x Kisaragi Momo
Siang itu, Kisaragi Momo sedang duduk dengan raut wajah yang tidak tenang dan melihat surat-surat yang bertumpuk di mejanya. Bukan, surat-surat itu bukan dari para fansnya, melainkan dari pada hatersnya. Setiap idola pasti mempunyai fans dan haters 'kan? Jadi jangan heran lagi.
"Aarghh…" Momo menjambak rambutnya. Dia sudah pusing mengurusi penggemarnya, sekarang ia harus mengurusi hatersnya. Ini semakin pusing saja. Saat Momo sedang sibuk dalam dunianya, tiba-tiba laki-laki bersurai coklat yang bernama Amamiya Hibiya kebetulan lewat ke tempat Momo.
"Hei oba-san, apa yang kaulakukan di sin—eh?" Niat Hibiya pada awalnya untuk mengejek Momo karena ia seperti orang baka yang terus-terusan menjambak rambutnya seperti itu. Tapi saat ia melihat tumpukan surat-surat yang ia ketahui dari haters-nya—karena terlihat jelas kalau dari fansnya tidak mungkin Momo seperti ini—, Hibiya pun diam.
Hibiya mendekati gadis bermarga Kisaragi itu, ia melihat salah satu surat dengan isi pesan yang sangat menjijikkan bagi Hibiya. "Hei oba-san, jangan menangis terus." Bukannya Hibiya peduli dengan Momo, ia hanya tidak ingin melihat Momo menangis terus dan mengotori lantai.
"Berisik," desis Momo kasar. "Kau itu anak kecil… Tahu apa kau tentangku? Lebih baik kau segera pergi dari sini dan tinggalkan aku sendiri!" Nada ucapan Momo sedikit membentak yang membuat Hibiya tersentak kaget. Biasanya Momo selalu bersikap biasa saja dan masih ceria ketika Hibiya berkata seperti itu. Tetapi sekarang lain cerita, mood Momo sedang tidak stabil. Menjadi idol itu memang butuh perjuangan yang tinggi.
"Kenapa kau masih diam saja, ayo cepat per—"
"Baka. Oba-san itu orang terbaka yang pernah kutemui."
"A—apa?" Ucapan Momo dipotong oleh Hibiya dengan suara yang datar. Setelah Hibiya berkata seperti itu, aura-aura gelap mulai muncul di belakang Momo. Sepertinya mood Momo mulai bertambah buruk akibat ucapan Hibiya tadi.
"Aku bilang oba-san itu baka. Untuk apa kaumenangisi surat-surat dari haters itu? Memangnya kautahu apa yang sedang mereka perbuat di luar sana?!" Momo terdiam. "Seharusnya dengan kritikan seperti itu, kau harus mencoba untuk jadi yang lebih baik lagi! Bukan terpuruk seperti ini! Apakah oba-san mengerti? Oba-san harus tetap semangat… d—dan tidak b—boleh terus m—menangis…"
Momo masih terdiam, sementara suara Hibiya sudah jadi sedikit serak dan matanya berkaca-kaca. "Baka." Hibiya pun segera pergi dari sana, meninggalkan Momo yang sedang terdiam—yang sebenarnya sedang menangis sambil menatap kosong surat dari haters karena ucapan Hibiya tadi—.
"…arigatou, Hibiya…" lirih Momo pada akhirnya.
4. Kokonose Haruka x Enomoto Takane
Kini seorang Enomoto Takane sedang berada di rumah sakit, tepat berada di depan ruang tempat di mana Haruka di rawat di dalamnya. Tangannya memegang headphone berwarna putihnya, matanya menatap kosong ke arah lantai.
"Aku salah… aku salah…" Takane terus menggumamkan kata-kata itu. Di pikirannya hanya ada satu nama, yaitu Kokonose Haruka, teman sekelasnya. Selama ini dia bersalah, selalu mendiami Haruka ketika laki-laki itu mengajaknya berbicara. Takane jarang sekali mengacuhkan Haruka, kadang ia tanggapi, itu pun dengan ucapan kasar dan hardikan.
Kakinya ia goyang-goyangkan, sesekali ia mengintip dari jendela untuk melihat keadaan Haruka yang dirawat di ruang ICU. Kenapa ia bisa bodoh sekali melupakan penyakit yang diidap oleh Haruka? Saat ia tidak mengacuhkannya, itu menambah penyakitnya semakin parah.
"Apakah Haruka mau memaafkanku ya…?" gumam Takane pelan. Ia menyesal, sekarang di pikirannya tergambar wajah Haruka yang sedang tertawa dan tersenyum, sementara wajahnya sama sekali tidak mengeluarkan senyuman. Takane berharap, Haruka cepat sembuh dan mereka bisa bermain bersama kembali.
Setelah Haruka keluar dari ruang ICU ini, ia berjanji untuk tidak membiarkan Haruka sendirian. Takane akan mengacuhkan seluruh perkataan Haruka, apapun. Iya, jika Haruka masih bisa di selamatkan…
PIIIPP—
Takane mendengar suara detak jantung Haruka yang berhenti dari dalam ruang ICU tersebut. Takane juga melihat para dokter yang sibuk memompa jantung Haruka agar jantungnya kembali berdetak. Tapi usaha dokter tersebut selalu gagal dan dapat Takane simpulkan bahwa Haruka sudah meninggal. Ya, sudah meninggal.
Air mata Takane tumpah, ia tertawa pahit. Padahal jika Haruka sadar, ia ingin mengubah segalanya. Ia ingin bermain bersama Haruka lagi dan juga melihat gambaran Haruka lagi.
"Aku… sudah… terlambat…"
Penyesalan selalu datang terlambat dan waktu berjalan sangat cepat. Ketika kita masih bersama dengan orang yang kita sayangi, tanpa sadar juga orang yang kita sayangi juga sudah tidak ada di samping kita lagi.
5. Kisaragi Shintarou x Tateyama Ayano
Kisaragi Shintarou dan Tateyama Ayano, mereka berdua sedang berada di sebuah kursi taman. Mereka berdua sedang menunggu langit senja yang katanya sangat indah itu.
"Shintarou-kun," panggil Ayano yang membuat Shintarou menoleh ke arahnya. "Ada apa?" Jawaban Shintarou masih tetap sama, yaitu ketus. Ia hanya ingin menemani Ayano saja di sini, ia tidak ingin Ayano saja yang melihat senja di sini. Aslinya Shintarou ingin cepat-cepat pulang dan bermain game di rumahnya.
"Langit senjanya sudah mau muncul. Apakah kau tertarik? Sangat indah loh." kata Ayano disertai dengan senyumannya. Shintarou tidak menanggapi, ia diam saja dan membiarkan Ayano berbicara sendiri kepadanya.
Ayano tersenyum tipis ketika melihat matahari itu makin turun dan membuat langit di sekitarnya berwarna keoranyean. "Kautahu, Shintarou-kun? Langit senja yang indah ini tidak akan pernah datang dua kali."
"Iya. Aku juga tahu itu." balas Shintarou datar. Setiap orang mana pun pasti tahu kalau langit senja sebagus ini tidak pernah datang dua kali. Setelah mendengar tanggapan Shintarou yang sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dibicarakan Ayano ini, Ayano melanjutkan, "Itu artinya kesempatan yang kaugunakan sekarang ini tidak bisa datang dua kali."
"Hah?" Kali ini gantian Shintarou yang bingung, ia menatap ke arah Ayano meminta penjelasan. Tapi yang ia dapatkan hanya Ayano yang terus-terusan tersenyum—lebih ke arah senyuman miris—kepadanya. "Hei Ayano, apa yang kaubicarakan? Aku tidak mengerti."
"Kau akan mengerti, Shintarou-kun. Jangan pernah terus-terusan terlarut dalam kesedihan, oke? Kesempatan yang kaugunakan hari ini tidak bisa datang dua kali." ucap Ayano tersenyum bahagia. Saat Shintarou mengedipkan matanya, Ayano sudah tidak ada lagi di sampingnya, melainkan hanya tertinggal sebuah syal merah di sebelah tempat duduknya.
"Ah—" Shintarou tidak mengerti, jadi semua yang ia lihat itu adalah sebuah imitasi? Ayano sudah tidak ada? "—aku benar-benar tidak mengerti, k—kenapa…?" Bulir-bulir air turun dari iris hitam Shintarou. Ia menyeka air matanya dengan tangannya lalu memegang syal merah itu.
"Aku tidak membencimu… aku menyayangimu…"
Sesuatu yang Shintarou lihat itu adalah sebuah imitasi yang bermakna besar bagi Shintarou. Dan Shintarou teringat, bahwa Ayano sudah tiada sejak lima bulan yang lalu.
.
.
.
TBC or End?
.
.
.
Yeah, akhirnya selesai juga. Ngerasa bagian ShinAya itu kebalikannya dari HaruTaka. Gila, perasaan Rei itu bagian ShinAya-nya pendek bangett! ;_; gomen kalo semua pair ini feel-nya kurang.
Balasan review...
wong lewat: benarkah? Rei juga ngerasa ShinAya itu imut loh. Ini sudah lanjut dan terima kasih sudah mau mereview.
deasakura96: Kaga apa, biar greget Ene di dalam terus dan gak ketemu Konoha *ditampar*. Ini sudah lanjut dan terima kasih sudah mereview.
akaiosora: Wakakaka, Kido di sini memang jadi tsundere walau aslinya kuudere. Kalo Hibiya memang cocok dibuat tsundere. Tak ada Hiyori, Momo pun jadi *slap*. Oke, nih Rei udah adain HaruTaka-nya sebagai pengganti KonoEne, wakakakaka. Ini sudah lanjut dan terima kasih sudah mau mereview.
Itulah balasan reviewnya, maaf jika chapter ini kurang memuaskan. Rei menerima saran, kritik, dan flame dengan senang hati.
Akhir kata, mind to review this story?
Jakarta, 28 NOVEMBER 2014
