Disclamer
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Canon
LONGLIVE UCHIHA
©LONGLIVE AUTHOR
"Wajar jika dia mengunjungi makam pamannya dan melukis wajah pamannya. Itachi itu pahlawan Konoha, dan masalah latihan... mungkin sekarang dia memang sedang ingin. Mungkin Sarada adalah gadis yang dingin, dia mewarisi beberapa sifatmu, tapi jangan samakan dia denganmu Sasuke-kun ."
Sarada menyimpan karangan bunga yang tersisa di depan batu nisan bertuliskan Uchiha Itachi. Ia tersnyum menatap nisan itu.
"Halo paman ? Bagaimana denganmu ? Apa kau bahagia disana ?" Sarada bergumam sendiri.
"Kau pasti bahagia. Kau kan orang yang hebat...Maaf paman sebelumnya aku sangat jarang kesini. Aku hanya datang kalau Ayah mengajakku. Aku memang orang yang bodoh. Aku tidak tahu apapun tentang dirimu. Semua yang Ayah ceritakan padaku aku tidak begitu menghiraukannya sebelumnya. Tapi sekarang aku tahu paman, aku mengerti. Aku sudah mengerti apa arti dari pengorbananmu . Aku sudah tau semuanya...Kau tahu paman ? Aku menemukan sebuah buku sejarah dan aku sudah membacanya. Semuanya lengkap tentang apa yang terjadi selama ini." Sarada menghela napasnya.
"...dan semua keluargaku ada dalam sejarah itu. Paman , rasanya seperti aku juga hidup dimasa kalian. Aku bisa membayangkan betapa buruknya saat-saat itu...Menyedihkan. Aku tidak pernah mengira kalau ceritanya seperti itu. Ayah tidak pernah memberikan cerita lengkapnya. Ayah jarang bicara dan aku juga sedikit takut untuk mengungkit masa lalunya." Ujarnya.
Sarada menatap ke langit yang tampaknya akan menumpahkan hujannya sebentar lagi.
"Oh ya, di buku itu ada biografi para pahlawan desa,dan paman adalah salah satunya. Ada fotomu disana. Kau tahu paman ? Aku bisa melukis. Aku akan coba membuat gambarmu setelah ini dan menyimpannya di ruang keluarga. Paman Sai juga mengajarkanku beberapa trik untuk melukis. Paman Itachi..Aku tidak akan mengecewakan mu. Aku akan menjadi ninja yang hebat. Aku ingin membuat diriku pantas untuk kalian banggakan..."
"...Oh paman, hari ini aku sudah mengelilingi desa,dan ini sudah lewat tengah hari. Ibu akan ngomel kalau aku tidak pulang untuk makan siang. Aku akan datang lagi besok. Sampai jumpa lagi paman ." Ujar Sarada.
Saat gadis itu berbalik Sarada tidak dapat menyembunyikan keterjutannya saat mendapati sosok Ayahnya yang sedang berdiri di belakangnya.
"Ayah..?"
"Sejak kapan kau berbicara dengan nisan Itachi ?" Tanya Sasuke.
"Sejak tadi, dan sejak kapan Ayah berdiri disana ?" Tanya Sarada.
"Cukup lama."
"Lebih baik kita pulang, Ayah pasti lelah."
Mereka berdua berjalan pulang dengan tenang. Sarada menggandeng lengan Sasuke selama mereka berjalan menyusuri jalanan desa yang sedikit lengang. Sasuke menatap lekat anaknya. Tidak biasanya Sarada menggandeng lengannya seperti ini. Waktu kecil Sarada sering sekali minta gendong pada Sasuke. Sarada juga juga selalu minta ditimang oleh Ayahnya waktu masih kecil. Namun Sarada-nya kini sudah besar. Ia bisa bercermin ketika melihat Sarada. Sarada adalah cerminan masa mudanya dulu. Tenang, dingin, tidak banyak bicara, juga sangat ahli dalam berbagai hal. Untunglah ia juga mewarisi sifat dari ibunya. Terkadang ia bisa menjadi hangat, manja, bahkan cengeng layaknya gadis normal. Seperti saat ini sifat hangatnya muncul. Sangat tumben sekali Sarada yang dingin menggandeng lengannya dengan hangat. Sasuke merasa sangat sempurna menjadi laki-laki. Ia telah menjadi seorang Suami dan Ayah yang paling bahagia didunia.
"Apa ada yang terjadi selama aku tak ada ?" Tanya Sasuke.
"Tidak ada yang penting kurasa." Jawab Sarada.
"Ayah..." Gumam Sarada.
"Hn ?"
"...mm tidak jadi." Sasuke kembali melirik putrinya itu. Sasuke memang bukan Ayah yang baik. Karena selalu disibukkan oleh tugasnya. Itu adalah tuntutan pekerjaanya. Ia harus mengabdi pada Konoha. Sasuke bisa merasakan kecanggungan dari kata-kata Sarada.
"Tadaima !" Teriak Sarada.
Senyuman Sakura mengembang cerah saat ia menemukan Suami dan Anaknya telah pulang ke rumah.
"Kau sudah pulang Sasuke-kun ? dan Sarada darimana saja kau ? Setelah lewat tengah hari kau baru pulang." Ujar Sakura.
"Aku...Hanya jalan-jalan."
Sarada sudah berjanji untuk tidak mengganggu Ayahnya yang baru pulang. Setelah makan siang Sarada mengunci diri didalam kamar seharian. Hari sudah mulai gelap, waktu makan malam hampir tiba, namun Sarada belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Dimana Sarada ?" Tanya Sasuke.
"Dia ada di kamarnya. Dia belum keluar sejak tadi siang. Ada apa ?" Jawab Sakura.
Tak lama kemudian Sarada turun ke ruang makan dimana Ayah dan Ibunya sudah menunggunnya.
"Selamat malam Ayah, Ibu." Sapa Sarada.
"Sedang apa kau Nak ? Kenapa kau mengurung diri dikamar ?" Tanya Sakura.
"Ah tidak aku hanya sedang mengerjakan sesuatu . Bukan hal yang penting."
Malam itu pun mereka menyantap makan malam dengan tenang. Tidak terlalu banyak bicara. Paling hanya Sakura yang selalu ribut menanyakan hal ini dan itu.
"Sarada ?" Ujar Sasuke. Sarada menatap ayahnya heran, tidak biasanya Sasuke memangginya seperti itu.
"Ada apa ayah ?" Tanya Sarada.
"Nanti setelah makan Ayah ingin bicara denganmu."
Begitulah ketika Sakura sedang membereskan bekas makan malam mereka. Sasuke dan putrinya duduk bersama di sebuah sofa di ruang keluarga.
"Ada apa Ayah ?" tanya Sarada.
"Kenapa kau mengurung diri di kamar seharian ini ? Apa kau marah padaku ?" Tanya Sasuke tanpa basa-basi. Hati Sarada terenyuh saat mendengar pertanyaan dari Ayahnya. Ada perasaan kaget sekaligus senang karena Ayahnya menyakan hal itu. Itu berarti Ayahnya memperhatikannya.
"Aku sedang melukis Ayah. Aku tidak marah pada siapapun. Kenapa Ayah berpikir seperti itu ?" Tanya Sarada.
"Maafkan Ayah karena Ayah jarang ada dirumah." Kata Ayahnya.
"Aku mengerti Ayah. Aku tidak perlu marah akan hal itu. Aku dan Ibu adalah orang yang paling beruntung karena setidaknya kami bisa melihat sisi hangat dari Ayah. Apalagi aku, mungkin aku adalah satu dari sedikit orang yang mendengarmu minta maaf." Kata Sarada penuh pengertian.
Sasuke tersenyum melihat pengertian anaknya yang begitu besar . Sasuke membelai lembut kepala putrinya.
"Tunggu sampai aku memperlihatkan lukisanku." Sarada beranjak dari sofa dan bergegas menuju kamarnya. Beberapa lama kemudian ia muncul sambi membawa lukisan yang lumayan besar.
"Ini dia..." Betapa terkejutnya Sasuke saat melihat lukisan Itachi yang dibawa oleh Sarada.
"Itachi ?" tanya Sasuke tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
"Ya. Aku melukis wajah paman . Kurasa lukisanku tidak terlalu buruk. Apa kau suka ?" Tanya Sarada.
Belum sempat Sasuke menjawab Sakura tekah bergabung dengan mereka.
"Apa kau yang membuat itu Nak ?" Tanya Sakura.
"Ya aku yang membuatnya, seharian ini aku melukis ini. Ayah ,apa kau suka ?" Kata Sarada.
Seulas senyum terukir di bibir Uchiha itu.
"Ya, ayah suka." Jawab Sasuke singkat.
Tanpa bertanya pada orang tuanya Sarada berjalan ke dinding dan menggantung lukisannya disana.
"Aku akan menempatkannya di sebelah foto kita." Katanya. Begitulah lukisan Itachi tergantung di sebelah foto keluarga mereka.
Keesokan harinya Sarada bangun pagi-pagi sekali . Setelah sarapan dia segera bergegas hendak pergi ke suatu tempat.
"Kau mau kemana ? bukankah kau tidak ada misi hari ini ?" Tanya Sakura.
"Iya, Ibu aku memang tidak ada misi. Aku hanya ingin latihan ." Ujarnya antusias seraya berlalu keluar dari kediaman Uchiha.
"Apa yang sering Sarada lakukan selama aku tidak ada ?" Tanya Sasuke tiba-tiba.
"Ada apa Sasuke-kun ? Tidak biasanya kau bertanya seperti itu ?" Sakura balik bertanya.
"Aku merasa ada yang aneh dengan Sarada."
Sakura menatap mata kelam itu. Ia tahu kalau matanya menyiratkan kekhawatiran pada putri semata wayangnya. Namun Sakura tersenyum dan menanggapinya dengan tenang.
"Tidak ada yang terjadi, dia bersikap biasa saja. Hanya setelah pulang misi beberapa hari kemarin dia tidur agak larut katanya dia sedang membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan Konoha." Jelas sakura.
"Memanya ada apa Sasuke-kun ? Apa yang aneh dari sikap Sarada ?"
"Dia...kemarin aku melihat dia sedang berada di pemakaman . Dia sedang berada di makam Itachi. Lalu setelah itu ia melukis wajah Itachi. Lalu seakarang ia pergi latihan, setahuku meski dia hebat dalam jurus ninja dia tidak akan seantusias tadi." Kata Sasuke, namun ternyata Sakura menanggapinya lebih ringan.
"Wajar jika dia mengunjungi makam pamannya dan melukis wajah pamannya. Itachi itu pahlawan Konoha, dan masalah latihan mungkin sekarang dia memang sedang ingin. Mungkin Sarada adalah gadis yang dingin, dia mewarisi beberapa sifatmu, tapi jangan samakan dia denganmu Sasuke-kun ."
Berhari-hari kemudian Sasuke disibukan dengan tugasnya sebagai ketua Anbu. Dia pulang-pergi ke Markas Anbu untuk membuat laporan ini itu. Begitu juga dengan Sakura yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai ninja medis. Suatu ketika Sasuke menemukan rumahnya dalam keadaan kosong. Saat itu Sakura belum pulang karena ada beberapa operasi dirumah sakit. Sambil melepas penat dia duduk di sofa dan merebahkan badannya. Sudah beberapa hari Sarada jarang ada dirumah. Dia sering pulang larut dan saat ada di rumah dia lebih sering diam di kamarnya . Sarada bilang dia mempunyai beberapa urusan yang harus ia kerjakan. Sasuke masih merasa kalau ada yang aneh dengan Sarada.
Sarada biasanya malas untuk melakukan sesuatu, jika urusan itu tidak sangat penting dia tidak akan datang. Sarada memang cerminan dirinya waktu kecil maka dari itu dengan mudah Sasuke bisa memahami Sarada. Sebagai ayahnya Sasuke merasa kalau ia berhak tahu apapun yang sedang di kerjakan anaknya. Ia akan membicarakan hal ini dengan Sarada.
Tanpa direncanakan Sasuke berjalan ke kamar Sarada dan masuk ke kamarnya. Mumpung tidak ada orang Sasuke hanya ingin tahu apa yang sedang Sarada kerjakan . Ia lihat kamar anaknya sangat rapi. Beberapa buku bertumpuk di atas meja. Sasuke menghampirinya. Ada label perpustakaan Konoha di setiap buku. Sasuke membaca beberapa sampul buku diantaranya ; RAHISIA ALIANSI LIMA NEGARA, SEJARAH HITAM SHINOBI, NINJUTSU TINGKAT TINGGI, dan SEJARAH KONTEMPORER PERANG DUNIA SHINOBI KE 4.
'Untuk Sarada membaca semua ini ?'
Lalu mata Sasuke manangkap buku catatan Sarada yang tergeletak di atas meja . Ia membuka buku catatan itu. Tak ada yang catatan ninjutsu, lalu catatan strategi,dan...
Sasuke sedikit heran saat melihat beberapa kartu biografi ninja yang terselip di buku catatan milik Sarada. Ada catatan beberapa shinobi dari beberapa negara yang berbeda, dan Sasuke sedikit tersentak saat mengetahui kalau mereka semua adalah missng-nin
'Sebenarnya apa yang Sarada Sembunyikan dariku ?'
-Tbc-
