"Aku pulang..."

Terdengar suara Sakura yang baru saja pulang. Dengan segera Sasuke menutup buku catatan Sarada dan keluar dari kamarnya.

"Sasuke-kun ? Aku kira kau belum pulang." tanya Sakura yang melihat Sasuke baru datang ke ruang tengah.

"Aku baru saja datang." Kata Sasuke cepat.

"Oh ya, Sarada sedang ada misi. Jadi sepertinya ia tidak akan pulang malam ini." Kata Sakura seraya memijit-mijit lengannya karena keleahan.

"Naruto memeberinya misi lagi ?" Tanya Sasuke.

"Ya begitulah. Kau tahu kan banyak missing-nin berkeliaran akhir-akhir ini. Bahkan Hokage sendiri agak kesulitan mengurusnya." Pikiran Sasuke langsung melayang pada kartu data missing-nin yang terselip di

"Kenapa Naruto tidak memberikan misi itu pada Anbu ? Dia mengirim jounin untuk mengejar missing-nin ? Apa yang dipikirkan Naruto ?" Terlihat mata Sasuke berkilat tajam.

"Dengan siapa Sarada pergi ?" Tanya Sasuke lagi.

"Aku tidak tahu, aku tahu karena tadi Shikamaru memberitahuku." Jawab Sakura.

Tiba-tiba Sasuke berdiri dan pergi keluar rumah. Ia hendak pergi ke kantor Hokage . Entah kenapa ia benar-benar mengkhawatirkan putrinya sekarang. Sudah beberapa hari perasaanya tidak karuan memikirkan Sarada, dan sekarang putrinya dikirim dengan misi Rank A.

Tak butuh waktu lama ia sampai di kantor Hokage. Secepat kilat ia berlari ke ruangan sahabat baiknya itu. Sasuke mengetuk pintu dan tanpa menungu jawaban Ia langsung masuk dan mendapati Naruto sedang bergelut dengan tumpukan perkamen.

"Kau tahu , itu tidak sopan Sasuke."Kata Naruto ringan.

"Kenapa kau mengirim anak ku pada misi Rank A ?" tanya Sasuke tajam.

"Hei...Santai saja Sasuke , kenapa kau emosi seperti itu ?" Naruto terkejut dengan sikap Sasuke.

"Jawab saja !"

"Tenang Sasuke, Sarada itu jounin elit dia tidak akan apa-apa. Kau sendiri yang bilang padaku. Misi Rank A itu sudah biasa untuknya . Kenapa kau begitu khawatir ?" Naruto heran.

Tidak ada jawaban dari Sasuke. Sebanarnya Sasuke juga bingung kenapa ia begitu sangat khawatir pada Sarada. Semua kekhawatirannya hanya ditimbulkan dari keanehan Sarada beberapa hari ini. Sarada memang Jounin elit mungkit diusianya yang ke lima belas Sarada bisa di setarakan dengan Kakashi saat ia masih muda. Tapi yang menggangu pikirannya saat ini bukan karena ia takut akan terjadi sesuatu pada Sarada . Tapi ia takut akan sesuatu yang di lakukan oleh Sarada. Ia takut kalau Sarada melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

"Lagipula Sasuke, bukan aku yang memberinya tugas ini. Tapi Sarada sendiri yang meminta misi ini padaku. Dia berangkat sendiri tadi siang."

"Sasuke-kun kau mau kemana ?" Tanya Sakura saat melihat Sasuke sedang mengambil peralatannya.

"Aku ada misi aku harus berangkat sekarang. Aku berangkat." Ujar Sasuke melompat pergi. Sakura kini mulai khawatir. Bagaimanapun Sakura adalah wanita yang sensitif .Ia bisa merasakan kalau ada sesuatu yang salah. Ia bisa melihat Sasuke begitu terburu-buru. Sakura tau kalau saat ini Sasuke sedang mengkhawatirkan Sarada . Tidak pernah ia melihat Sasuke secemas ini.

Pria Uchiha itu melompat cepat diantara dedaunan. Ia benar-benar mencemaskan Sarada. Pertama data-data missing-nin yang ada di buku catatan Sarada dan sekarang putrinya itu sedang dalam misi pengejaran terhadap seorang missing-nin yang sedang mengacau. Terlebih lagi Saradalah yang meminta misi ini pada Hokage. Setahu Sasuke , Sarada bukanlah orang yang suka meminta misi dan ia tahu kalau Sarada tidak suka repot-repot mengurusi misi Rank A.

'Dia dikirim ke perbatasan Iwagakure, kau akan menemukannya disana.'

Sasuke mepercepat lajunya. Ia ingin segera menyusul Sarada. Iwagakure tidak terlalu jauh dari Konoha. Matahari sudah tengelam satu jam yang lalu. Jika ia memepertahankan lajunya dia akan sampai di perbatasan Iwagakure dini hari nanti.

Malam sudah beranjak larut, hawa dingin terasa menusuk tulang. Gadis itu berada disana, berada di tepi sungai yang berbatasan langsung dengan Iwagakure. Banyak semak-semak disana sehingga semilir angin yang menerpa dedaunan menimbulkan aura mencekam. Di seberang sungai seorang ninja berjubah hitam tengah menatap tajam kearah gadis itu.

"Fufufu...Hokage bodoh ! dia mengirim anak kecil untuk mengejarku ? Aku tidak yakin kau akan bertahan lebih dari dua menit berhadapan denganku." Suara beratnya meremehkan.

Sedangkan gadis yang disebut anak kecil tadi hanya diam. Dia menyeringai tajam. Semilir angin menerpa rambut hitamnya. Angin membawa aroma anyir yang membuat mual entah dari mana. Tangan gadis itu terangkat melepas kacamata berbingkai merah itu dan memperlihatkan pupil hitamnya.

"Kau tahu...? Anak buahmu semuanya sudah mati." Kata gadis itu dingin. Missing-nin itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya , tapi ia berusaha menutupinya.

"Ou, begitu rupanya. Tidak kusangka, benar kata orang kalau shinobi Konoha sehebat ini. Tapi kau tetap tidak akan bisa menhabisiku." Kata pria itu.

"Kau takut ?" tanya gadis itu.

"hm..Kau bercanda ?"

Gadis itu memejamkan matanya untuk beberapa detik. Lalu ketika ia membuka matanya. Pupil mata hitam itu sudah berubah menjadi sewarna darah dengan pola di kedua matanya .

"Ah..Kau Uchiha ,suatu kehormatan bertemu dengan keturunan klan hebat sepertimu. Tapi sayang... tidak lama lagi Uchiha akan punah !" ucap pria itu.

"...dan aku adalah kematian mu malam ini. Aku sudah tahu apa rencana kalian...Kalian sampah tak berguna berniat untuk membunuhku ? Apa kalian tidak takut para petinggi Konoha mengamuk ?" Tanya Sara merendahkan.

"Apa maksudmu bocah ?"

Sarada menyeringai kembali entah kenapa malam ini saat berhadapan dengan musuhnya begitu menggairahkan. Dia merasa sangat bersemangat sekali, perasaan yang sangat menggebu-gebu untuk membunuh lawannya. Ia merasa kalau kekuatannya menjadi berlipat ganda.

"Kau tahu ? Tiga legenda sannin baru Konoha ? Dua diantaranya adalah orang tuaku dan Hokage dari Leaf Village adalah sahabat mereka. Jika kalian membunuhku kalian akan habis. Lagi pula jika aku mati ? apa masalahnya selama Ayahku, Uchiha Sasuke masih hidup akan lahir keturunan Uchiha yang lain. Jadi kau dan teman-teman missing-nin mu jangan berpikir bodoh dengan berniat menghancurkan klan Uchiha karena itu tidak akan mungkin !" Sarada tak kalah merendahkan.

"Omonganmu besar anak kecil ! tidak baik seorang perempuan berkata seperti itu."

"...dan tidak baik kalau orang dewasa menantang anak kecil. Itu namanya pengecut !" Balas Sarada pedas.

Missing-Nin bernama Kahaza Harada itu tersulut amarah dia melewati sungai itu secepat bayangan hingga tidak bisa dilihat dengan kasatmata saat ia berpindah. Tapi tentu saja itu terlihat jelas bagi gadis yang sedang mengaktifkan Mangekyou Sharingan itu. Missing-nin itu berhenti tepat beberapa senti dari dirinya dan sedikit menunduk.

"Kau besar kepala rupanya. Akan kuhabisi klan Uchiha dan akan ku mulai dari kau !"

Dengan secepat kilat Kahaza mengikat tubuh Sarada dengan benang chakra dan membuatnya tak bergerak sama sekali. Sarada sengaja tidak balas menyerang. Benang chakra itu mengikatnya seperti silet. Kulitnya yang tersentuh benang chakra tersayat, darah mulai mengalir, dan pakaiannya mulai robek disana-sini. Senyum kemenangan sudah ditampakan Kahaza. Namun sepersekian detik kemudian saat ia mengedipkan mata Sarada sudah hilang . Yang tersisa hanya potongan benang chakra yang masih nampak. Detik kemudian bahkan saat Kahaza belum sempat berbalik untuk mencari Sarada, gadis itu sudah ada di belakangnya dan menghabisi Missing-nin itu dengan sekali serang. Tubuh besar itu hancur tercabik-cabik dengan darah yang mulai mengalir ke arah sungai hingga membuat air sungai berwarna merah.

Sarada menyeringai lagi. Sensasi menyanangkan mengalir di dadanya saat ini. Namun tak lama kemudian saat ia me-nonaktifkan matanya mulai berair. Matanya kirinya terasa sakit sekali hingga ke ubun-ubunnya, dan matanya mulai mengeluarkan darah. Tidak ia sangka efek menggunakan Mangekyou Sharingan sebentar saja bisa separah ini. Lalu ia mulai menyadari sesuatu saat kakinya menginjak cairan kental berwarna merah di rerumputan. Matanya membulat saat melihat mayak yang tercabik-cabik di depannya.

Akalnya mulai berjalan lagi

"Apa yang sudah aku lakukan ?" . Sarada melihat tangannya yang penuh dengan darah. Sarada bergidik ngeri saat melihat lenganya . Ia pun pergi ketepian dan membasuh tangannya dengan panik. Lalu perlahan ia menoleh pada mayat yang sudah tak berbentuk lagi. Seluruh ototnya lemas. Ia melihat bayangannya sendiri yang sudah memucat di aliran sungai. Tak lama kemudian semuanya menjadi gelap dan Sarada kehilangan kesadarannya.

Nyaman dan hangat. Itulah yang gadis itu rasakan. Ia ingin seperi ini selamanya. Ia merasa sedang tidur diatas kasur yang empuk dan nyaman sekali. Tubuhnya terasa remuk , ia tidak bisa menggerakan tubuhnya. Saat ia ingin membuka matanya ia tidak bisa. Matanya tidak bisa dibuka. Ia merasakan sebuah tangan lembut menggenggam tangannya .

"Sarada ? Nak ? Apa kau sudah siuman ? Apa kau bisa mendengar Ibu ?"

Suara familiar itu terdengat sangat panik .

"Ibu ? Aku dimana Bu ?" Tanya Sarada parau karena baru sadarkan diri.

"Syukurlah..."terdengar suara Ibunya sedang menangis.

"Sudahlah ,dia sudah siuman." Suara baritone Ayahnya kini terdengar.

Sarada bangkit dari tidurnya dengan susah payah. Dia merasakan kalau lengan dan kakinya di balut perban dan juga dengan matanya yang ditutup oleh perban.

"Kenapa mataku ditutup perban ?" tanya Sarada menyentuh bagian matanya yang balut .

"Matamu kelelahan. Biarkan saja dalam beberapa hari juga akan membaik." Kata Sasuke.

Sarada terus meraba matanya. Ia kembali merebahkan badannya ke kasur. Tubuhnya sangat lelah sekali.

"Sakura kau pulanglah. Sarada sudah sadar. Kau sudah berharian disini. Kau kelelahan .!" Titah Sasuke.

"Tapi..."

"Tidak ada tapi !". Setelah beberapa lama ibunyapun meninggalkan Sarada dan Ayahnya . Sarada mempertajam pendengarannya. Kedengarannya tidak ada siapapun disini kecuali dia dan Ayahnya.

"Ayah...apa yang terjadi ? kenapa aku ada disini ?" Tanya Sarada.

"Sebelumnya jawab dulu pertanyaanku. Sedang apa kau disana ? Apa yang kau lakukan ?" Tanya Sasuke tajam.

"Aku sedang menjalankan misi Ayah ?" jawab Sarada.

"Ayah tahu kalau kau yang meminta misi itu pada Hokage."

"Ya, aku akui aku memang meminta misi Rank A. Ada apa Ayah ? Bagaimana aku bisa ada disini ? Aku tidak ingat apa yang terjadi ?" Tanya Sarada memegangi kepalanya yang mulai kembali penat.

FLASHBACK

Sudah lewat tengah malam . Sasuke hampir dekat dengan perbatasan Iwagakure. Dia bisa merasakan chakra ini. Dia bisa merasakan chakra anaknya sudah dekat. Tiba-tiba bau anyir menusuk hidungnya. Ia bisa melihat beberapa mayat bertebaran di tanah.

'ya ampun..'

Sasuke semakin mencemaskan putrinya. Apa Sarada yang membunuh orang-orang ini ? Saat Sasuke keluar dari hutan ia menemukan sebuah aliran sungai besar di depannya. Dengan kejeniusaannya dia langsung bisa melihat dimana Sarada berada. Sasuke berlari menuju tepian. Dia melihat sebuah mayat tak berbentuk dihadapannya. Lalu putrinya yang tergeletak di tepi sungai dengan mata yang berdarah dan juga tubuhnya yang tersayat.

'apa mungkin Sarada menggunakan Mangekyou Sharingan ?'

Dengan segera Sasuke menggendong putrinya dan dengan segera membawanya pulang ke Konoha.

FLASHBACK END

"Apa yang terjadi Ayah ?" Tanya Sarada lagi.

"Apa kau tidak ingat apapun ?"

"Ingatanku sedikit kacau ? ya ampun ada apa denganku ? Aku hanya ingat aku dan Missing-nin itu sedang beradu mulut dan dia menyerangku." Kata Sarada

'Apa ada yang salah dengan Sarada ? Kenapa ingatannya bisa kacau seperti ini ?' ujar Sasuke dalam hati. Sarada kembali bangkit dari tidurnya.

"Malam itu aku...merasa sangat senang sekali . Rasanya aku sangat bersemangat...dan aku, aku lupa." Ujar Sarada . Sasuke bisa merasakan keraguan dan kebingungan dari nada bicara Sarada.

"Tidurlah dulu , kau harus istirahat. Aku pergi dulu sebentar. Nanti aku akan kembali lagi." Sarada menganggu.

Entah kenapa Sasuke saat ini ingin berbicara dengan Kakashi

Sasuke melompat dari atap keatap untuk mencari Kakashi dan matanya menangkap sosok bermasker itu di sebuh kedai teh.

"Aku ingin bicara dengan mu." Kata Sasuke begitu ia datang. Di usinya yang sudah tidak muda lagi tidak terlalu banyak perubahan dari Kakashi. Hanya terlihat kerutan si sebelah matanya. Dia sedang memegangi secangkir ocha.

"Bagaimana keadaan Sarada, kudengar dia terluka dalam misinya ?." Tanya Kakashi tanpa basa-basi.

"Ya, dia aku menemukannya pingsan di perbatasan Iwagakure. Kakashi, aku ingin tahu apa efek yang ditimbulkan oleh Mangekyou Sharingan berbeda-beda di setiap orang yang menggunakannya ?" Tanya Sasuke langsung pada inti masalah.

"Sedikit sulit untuk mengetahui hal itu. Karena Sharingan hanya dimiliki oleh klan Uchiha dan aku tentunya. Tapi kurasa itu bisa saja terjadi, tergantung tubuh orang itu sendiri. Apakah tubuhnya kuat atau tidak, dan efeknya bermacam-macam tergantung timbal balik dari tubuhnya sendiri. Kenapa kau menayakan itu ? Apa Sarada menggunakan Mangekyou Sharingan ?" Ujar Kakashi. Sasuke menghela napas.

"Ingatan Sarada menjadi kacau setelah dia sadar. Ia tidak ingat apa yang ia lakukan saat menyerang Missing-nin itu. Jika kulihat dari mayat yang mati disana , mereka mati dengan mata terbuka dan tatapan kosong. Aku yakin kalau itu adalah efek dari Mangekyou Sharingan. Aku sendiri pernah merasakannya" Ujar Sasuke.

"Kurasa tubuhnya belum mampu menggunakan Mangekyo Sharingan dengan waktu yang lama. Chakranya mungkin sangat cukup mengingat Sarada mempunyai kontrol Chakra yang bagus tapi tubuhnya menolak untuk dipaksa melakukan Mangekyo Sharingan dalam waktu yang lama sehingga menimbulkan beberapa efek pada otaknya." Kata Kakashi.

"Dia menyerang lebih dari lima missing-nin yang setara jounin secara bergantian...dan mayat terakhir yang kulihat tubuhnya sudah tidak berbentuk. Dia bilang dia merasakan sensasi senang saat mebunuh mereka. Aku khawatir kalau memang ada sesuatu yang salah dengan Sarada." Kata Sasuke.

"Kau harus mengawasinya lebih ketat lagi Sasuke. Sarada bisa saja kehilangan dirinya sendiri. Bisa saja ...yang dilakukannya itu bukan perintah dari otaknya. Seperti kasus Shukaku pada Gaara yang mengendalikan tubuhnya. Kau tau Mangekyou Sharingan adalah jurus genjutsu tingkat tinggi. Aku..khawatir kalau genjutsu Mangekyou Sharingan sudah mempengaruhi pikiran Sarada belum pernah terjadi, tapi itu mungkin saja. Kau harus mengawasinya" Ujar Kakashi.