the Last 2%
a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae.
.
Jaejoong, Yunho, Changmin, Siwon, Junsu, Go Ahra, and others.
YUNJAE Slight!WonJae.
T-M Rated.
Drama/Romance.
WARNING! GENDERSWITCH! Typos everywhere! Out of Character!
.
I write because i want, not for amaze people.
.
.
[ © Sebuah remake dari novel milik Kim Rang dengan judul yang sama(2006), cerita sepenuhnya milik Kim Rang hanya beberapa yang saya ubah termasuk casts dan latar untuk keperluan cerita. ]
.
.
.
.
Bagian Pertama.
.
.
.
Jaejoong masih belum bisa melupakan perbuatan Siwon padanya, tapi hari dimana ia harus pergi ke Hotel Arizona semakin dekat. Satu hari Sesudah Jaejoong melihat Siwon bersama perempuan lain itu, Siwon mencoba menghubunginya tapi diabaikan oleh Jaejoong.
Bahkan, ia langsung mengubah nama Siwon menjadi 'Si brengsek Siwon'.
Jaejoong selalu menggertakkan giginya setiap melihat nama itu muncul di layar ponselnya. Sebenarnya ia ingin menerima telepon itu dan memaki Siwon dengan kata-kata kasar, tapi Changmin bilang mengeluarkan kata-kata kasar untuk orang seperti Siwon hanya akan membuang-buang waktu dan energi.
Jadi, sebaiknya ia menghindar. Ia juga sempat berpikir untuk mengganti nomor teleponnya, tapi tentu saja itu lebih merepotkan. Karena, artinya Jaejoong harus mengumumkan nomor barunya pada lebih dari delapan puluh orang hanya karena satu bajingan itu.
Yang mengganti nama Siwon di ponsel Jaejoong pun sebenarnya Changmin, ia bilang julukan itu sangat cocok untuknya.
"Seharusnya aku meninjunya. Aku menyesal membiarkannya pergi begitu saja."
Changmin pun menjadi 'tempat sampah' Jaejoong selama kurang lebih empat hari. Tentu Jaejoong tidak bercerita bahwa ia mengajak Siwon bermalam di hotel bersamanya. Kalau Changmin tahu, dia pasti akan langsung melaporkannya ke Rumah Beras.
"Sebenarnya memang sayang karena kau tidak berhasil memukulnya, tapi good job.. Kau berhasil menahan diri untuk tidak melakukan hal itu." puji Changmin.
"Maksudmu?"
"Karena kalau kau memukulnya, yang akan menanggung malu bukan hanya dia, kau juga."
'Benar juga.'
"Lalu... Perasaanmu padanya sudah semakin jelas kan?" Changmin bertanya lagi.
"Tentu saja, apa kau khawatir kalau aku masih menyukainya?"
"Bukan begitu, terkadang aku tidak mengerti wanita. Aku sering bertanya-tanya, kenapa mereka suka pria yang jelas-jelas bajingan. Apalagi, kadang rasa suka mereka terlihat sangat berlebihan."
"Hei! Aku tidak seperti itu!"
"Apa? Menurutmu kau tidak berlebihan? Dasar bodoh..."
"Sudahlah, aku tidak sampai sebodoh itu kan?"
"Iya.. iya .. Hei, kau mau ramyeon?" Changmin mengambil dua bungkus ramyeon dari lemari.
"Kau tidak punya nasi? Sejak empat hari yang lalu aku belum makan nasi sedikitpun. Kalau aku makan ramyeon lagi, sepertinya pencernaanku akan terganggu."
"Ya sudah, kita makan nasi saja... Lagipula untuk apa kau mengurangi makan nasi hanya karena si brengsek itu?"
Changmin mengembalikan ramyeon yang diambilnya tadi ke tempat semula, lalu mengambil beras untuk dimasak.
"Aku memang tidak berselera. Untuk apa aku melakukan itu demi dia?'
"Omong-omong, kau tidak pernah memberinya apa-apa kan? Uang, mungkin.."
"Tidak pernah!" raut wajah Jaejoong berubah.
"Kalau begitu, apa yang pernah kau berikan padanya?" Changmin melirik tajam.
"Mp3 player yang pernah aku menangkan."
"Dasar bodoh.."
"Iya, aku memang bodoh.. Apa menurutmu harus kuminta kembali?"
"Untuk apa kau meminta kembali barang yang sudah dipakainya?" Changmin berkata seolah Siwon akan membuat mereka alergi atau semacamnya.
Well.. Jaejoong menyesal.
Tak lama setelah mereka bicara ini-itu, Changmin pun selesai menyiapkan makanan dan mereka makan bersama.
Jaejoong terus saja memperhatikan Changmin.
"Changmin-ah.."
"Hm?"
"Apa kau juga baru patah hati?"
"Apa? Siapa yang patah hati?" tanya Changmin kaget.
"Wajahmu terlihat seperti orang yang baru patah hati."
"Tidak."
"Putus cinta?"
"Tidak."
Jaejoong ingat, di tahun pertama mereka kuliah, ada seorang senior satu jurusan yang benar-benar menyukai Changmin. Meski senior, tapi usia mereka sama. Dia terlihat sangat menyukai Changmin sampai-sampai sering terlihat sedih. Sebenarnya Changmin juga memiliki perasaan yang sama
Tapi setelah Changmin menyelesaikan wajib militer-nya, hubungan mereka putus tanpa banyak yang tahu alasannya. Changmin pun tak pernah memberi penjelasan. Ketika ditanya apakah perasaannya berubah selama menjalani wajib militer, jawabannya bukan karena itu. Dan Changmin tetap pada pendiriannya.
Dia tak menjawab pertanyaan tentang alasan mengapa hubungan mereka berakhir. Bahkan, ketika ditanya apakah penyebabnya adalah orang ketiga, Changmin akan diam saja.
"Sebaiknya kau jangan terlalu lama sendirian, Bagaimana kalau ku jodohkan dengan Junsu? Dia wanita yang baik. Kau akan merasa beruntung kalau berhasil mendapatkannya!"
Mendengar perkataan Jaejoong, Changmin tertawa. Sudah lebih dari lima kali Jaejoong menyuruhnya berpacaran dengan Junsu.
Sikap Changmin yang seperti ini sebenarnya bukan hal baru, kadang ia tiba-tiba serius, sikap yang menurut Jaejoong tidak sesuai. Tapi bukan berarti setiap hari Changmin bersikap tidak peduli.
"Memangnya kau tidak khawatir?" tanya Jaejoong.
"Tidak.."
"Serius?"
"Sudahlah, makan lagi.. Kau mau kusiapkan untuk makan malam juga?" Changmin mengalihkan pembicaraan.
"Mau!"
Jaejoong keluar dari apartemen Changmin dan ketika menuju kamarnya sendiri, ponselnya kembali berdering.
Sesuai dugaannya.
Siwon.
"Terus saja hubungi aku. Aku tidak akan mengangkatnya!" Sambil menggerutu, Jaejoong meneruskan langkahnya
Gadis itu mencoba menggali berbagai nama yang bisa ia ajak untuk menginap di Hotel Arizona. Dari sekian banyak teman perempuan, hanya Junsu dan Ahra yang belum menikah. Junsu sedang mengerjakan proyek mini seri-nya di Jeju. Ahra? Jaejoong sama sekali tak ingin mengajaknya.
'Ahra.. Perempuan jahat.'
Nama itu bisa menyulut kemarahan Jaejoong.
Bagi Jaejoong, Ahra adalah perempuan yang jahat, entah kapan Jaejoong bisa melupakan kejadian itu..
Kim Jaejoong ingin menjadi penulis naskah. Dia ingin menjalani hidup dengan menjadi penulis naskah dengan tekad yang bulat.
Jaejoong bahkan memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja dan bergabung di Pusat Penyiaran Budaya. Uang iuran yang harus dibayarkan memang tidak sedikit, tapi demi masa depannya ia menganggap uang yang ia keluarkan adalah suatu investasi.
Di tempat itulah Jaejoong bertemu dengan Junsu dan Ahra. Mereka bertiga akhirnya akrab satu sama lain karena selain memiliki pemikiran yang sama, hobi dan selera mereka pun hampir sama.
Selain itu, mereka pun saling memberi kritik dan masukan atas naskah yang sedang mereka kerjakan, atau sekedar berbagi ide. Sama sekali tidak terlintas di pikirannya bahwa akan ada pengkhianatan.
Waktu itu ada lomba menulis skenario drama dengan hadiah yang sangat menggiurkan. Mereka bertiga menyiapkan plot masing-masing dan sudah beberapa kali mendiskusikan karya mereka.
Hasilnya, hanya Ahra yang berhasil diantara mereka. Ahra menang. Tanpa rasa curiga, Jaejoong dan Junsu memberi selamat pada Ahra.
Masalah muncul saat skenario buatan Ahra diwujudkan dalam bentuk film dan film itu terbilang sukses. Jaejoong terkejut bukan main.
Jaejoong dan Junsu merasa ada sesuatu yang aneh, mereka tidak menerima undangan untuk menyaksikan preview film itu. Bahkan Ahra memberi alasan saat diajak nonton bersama. Jadilah Jaejoong dan Junsu hanya pergi berdua.
Tidak sampai tiga puluh menit menyaksikan awal film, Jaejoong dan Junsu terbelalak dan kadang saling tatap seolah mengerti maksud tatapan satu sama lain.
Ternyata Ahra menjadi pemenang atas naskah skenarionya yang dibuat berdasarkan naskah milik Jaejoong. Kasarnya, Ahra mencuri idenya.
Wanita itu menusuk Jaejoong dari belakang. Pengkhianat. Keduanya segera menghubungi Ahra ketika film itu berakhir, tapi tentu saja Ahra tidak mengangkatnya, dan sekitar tiga hari kemudian nomor ponsel Ahra resmi tidak aktif lagi.
Tak ada kata-kata yang dapat menggambarkan kekecewaan mereka terhadap Ahra.
Jaejoong tak sanggup menahan emosinya. Ia ingin menangkap Ahra dengan tangannya sendiri, karena itu ia mendatangi perusahaan yang mempublikasi film karya Ahra untuk meminta nomor perempuan itu. Sayangnya perusahaan menolak memberi tahu dengan alasan hal itu bersifat pribadi.
Jaejoong bisa membayangkan wajah bahagia Ahra yang merasa dilindungi berbagai pihak. Putus asa, akhirnya Jaejoong memberitahu bahwa ialah pemilik asli skenario itu dan Ahra mencurinya. Tapi perusahaan itu justru mengatakan agar Jaejoong membuat naskah yang lebih baik lagi.
Ketika Jaejoong tak menyerah, mereka bahkan meminta bukti-bukti otentik dan memperlakukan Jaejoong seperti seorang tersangka penipuan.
"Kalau anda tidak memiliki bukti, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Tolong jangan membuat keributan lagi karena bisa saja kami menindak lanjuti anda secara hukum." Mendengar jawaban itu, Jaejoong yakin kalau sebaiknya ia menyerah.
Gadis itu tak bisa menghilangkan kemarahan dan kekecewaan mendalamnya pada Ahra.
'Perempuan Pencuri' itu sebutan yang Changmin buat untuk Ahra. Laki-laki itu juga tahu betul karena hanya ada dua orang yang pernah membaca naskah milik Jaejoong. Hanya ia dan Junsu.
Jaejoong pun bertemu kembali dengan Ahra secara tidak sengaja.
Saat itu Junsu mentraktirnya karena karyanya di angkat ke layar televisi untuk pertama kalinya. Jaejoong tak tahu bahwa Ahra juga ada di restoran Jepang itu sampai akhirnya mereka bertemu di toilet.
Ahra awalnya berpura-pura tak mengenal Jaejoong, dan Jaejoong memutuskan untuk menyapanya duluan.
"Ahra."
Ahra terlihat pura-pura terkaget, "Oh! Jaejoong.. Ternyata kau!"
Jaejoong hanya tersenyum sini saat itu, "Bagaimana kabarmu?" Ia hanya berbasa-basi tanpa peduli kabar Ahra yang sebenarnya. Ingin sekali ia melabrak perempuan pencuri itu. Tapi akhirnya mereka hanya saling melempar kata-kata sindiran.
Sebelum perempuan itu benar-benar meninggalkannya, Jaejoong mengatakan hal itu juga.
"Oh ya, film-mu kali ini tidak dibuat berdasarkan karya orang lain kan?" Jaejoong bisa melihat wajah Ahra yang berubah menjadi pucat pasi saat mendengar itu.
"Apa maksudmu?"
"Apa kau benar-benar tidak tahu apa yang ku katakan?"
"Hati-hati dengan ucapanmu! Aku bisa saja menuntutmu!" Hoh.. Ia ketakutan rupanya.
"Memangnya kau tidak sadar kalau yang membuatmu menang waktu itu adalah karyaku?" Jaejoong semakin gencar menekan Ahra, namun tentu saja perempuan pencuri itu tidak menyerah.
"Apa kau punya bukti?" Jaejoong mendesis geram mendengarnya.
"Tentu saja aku tidak bisa membuktikannya, tapi seharusnya kau merasa bersalah! Kecuali.. Kau memang tak tahu diri!" Jaejoong menubruk bahu Ahra sebelum pergi, "Awas saja kalau kau melakukannya lagi, perempuan pencuri!"
Yah, Jaejoong puas. Ia mampu menahan diri untuk tidak meludahi wajah Ahra saat itu. Junsu bahkan memuji Jaejoong saat gadis itu menceritakan perbuatannya pada Ahra.
'Akh! Kepalaku sakit sekali!'
Jaejoong berusaha mencari nama lain yang bisa ia ajak bermalam di hotel. Sempat terpikir olehnya untuk memberi voucher itu pada temannya yang sudah menikah. Tapi untuk apa? Mereka bahkan bisa melewati malam yang 'panas' kapan pun dan dimana pun kan? Jadi rasanya tak perlu ke hotel segala.
'Atau kuberikan pada Abeoji saja ya?'
Ia pun setuju dengan ide itu.
Appa dan umma Jaejoong tinggal di Rumah Beras, di Chungnam. Mereka tidak terlalu mati-matian bekerja karena akhir-akhir ini mereka sibuk berwisata.
Jaejoong pun tahu kalau orang tuanya banyak pergi berwisata. Hm, rasanya cocok juga kalau voucher ini dihadiahkan pada kedua orangtuanya.
Tanpa menunda-nunda, Jaejoong segera menghubungi Rumah Beras.
"Appa.. Ini aku."
[Iya. Ada apa? Kau ada masalah?]
"Tidak, aku baik-baik saja.. Bagaimana keadaan disana?"
[Disini juga tidak ada masalah apa-apa.]
"Appa, aku baru saja memenangkan voucher menginap di hotel!"
[Voucher menginap?] Appa Jaejoong cukup tahu kalau anak bungsunya itu seorang 'Ratu undian'.
"Iya, aku ingin memberikannya pada appa dan umma sebagai hadiah, bagaimana?"
[Dimana? Seoul?]
"Iya.. Hotel ini yang terbagus di seluruh penjuru Korea, appa.."
[Kau saja yang pergi.]
"Ah, aku malas jika pergi sendirian.."
[Kalau begitu, ajak temanmu.]
"Sudahlah, appa.. Aku ingin memberi ini pada appa dan umma sebagai bentuk bakti-ku juga.."
[Ei.. Saat ini juga kau sudah berbakti pada kami.. Memangnya untuk tanggal berapa?]
"Waktunya hanya sampai akhir pekan ini."
[Akhir pekan? Kalau begitu appa dan umma tidak bisa, kami mau pergi ke gunung Geumgang.]
'Gunung Geumgang? Astaga, bahkan mereka berwisata sampai ke Korea Utara?'
"Kalau begitu di hari kerja saja, appa.."
[Mana bisa appa meninggalkan toko di hari kerja? Kau saja yang pergi.]
Akhirnya Jaejoong menyerah karena merasa sudah tidak bisa memaksa ayahnya. Gadis itu menutup sambungan setelah berpamitan dan berkata bahwa ia akan mengatasinya.
Tadinya Jaejoong akan memanfaatkan voucher itu untuk bersenang-senang, tapi entah kenapa sekarang ia merasa voucher itu tidak ada gunanya.
Jaejoong pun mencoba menghubungi beberapa teman pria-nya.
"Halo? Donghae? Ini aku, Jaejoong."
[Iya, ada apa Jaejoong-ah?]
"Apa akhir pekan ini kau ada acara?"
[Aku ada pelatihan, ada apa?]
"Oh.. Ya sudah, hati-hati kalau begitu."
.
"Halo? Jonghyun-ah.. Kau menganggapku sebagai apa?"
[Apa? Tentu saja teman baikku, memangnya kenapa?]
"Akhir minggu ini kau ada acara?"
[Oh? Memangnya kau belum tahu kalau akhir pekan ini aku akan menikah?]
'Argh! Sial!'
.
"Halo? Yonghwa?"
[Ya?]
"Kau mau tidur denganku? Aku sudah menyiapkan kamar hotelnya."
[Yah! Kau sudah gila?!]
"Iya, aku memang sudah gila."
.
.
.
Jaejoong memasuki kamar hotel sendirian dan meletakkan barang bawaannya.
Benar-benar sendirian tanpa teman.
Ia sendiri tidak menyangka sama sekali jika kamar yang akan ia tempati selama akhir pekan ternyata begini luas.
Penasaran, Jaejoong mencoba mengelilingi kamar itu dan mengamati apapun yang ada disana. Ada kasur empuk yang rasanya bisa ditempati delapan orang, Televisi yang entah berapa inch, juga sebuah sofa empuk yang kini ia duduki.
Ia berjalan menuju pintu kaca yang menghubungkan ke balkon, membuka tirai transparan disana dan melihat sebuah jalan setapak yang begitu panjang di bawah sana.
Pandangannya lalu beralih pada kulkas besar yang terisi penuh camilan dan minuman.
Beralih ke kamar mandi, ada bathtub besar disana dan Jaejoong tak sabar ingin mencobanya.
'Hotel ini luar biasa.. Semua yang kuinginkan ada disini..'
Tidak bisa di pungkiri, tempat ini terlihat sempurna. Hanya satu yang kurang, Jaejoong berdiri di tengah-tengah kamar itu.
Sendirian.
Ia berharap ada pria yang jatuh dari langit untuknya. Hah.. Mustahil.
Ia pun mencoba berpikir apa yang akan ia lakukan disana, pasalnya ia hanya akan tinggal satu malam dan ia tak membawa banyak barang.
Perempuan bermarga Kim itu mengambil brosur hotel yang diselipi beberapa voucher fasilitas lain.
'Kolam renang dan Gym..'
Karena Jaejoong tidak begitu suka olahraga, jadi ia lebih tertarik pada voucher berenang. Tapi ia ingat tak membawa baju renang. Dan begitu, kedua voucher itu pun terasa sia-sia.
Jaejoong kembali tak tahu harus melakukan apa sambil menunggu waktu makan malam yang nyatanya masih sekitar empat jam lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka laptopnya.
'Mungkin sebaiknya menulis saja...'
Karena saat ini Junsu juga sedang merampungkan mini seri-nya jadi Jaejoong juga tidak ingin berdiam diri saja. Ia sebenarnya sedang mempersiapkan sebuah naskah.
Jaejoong selalu menganggap pekerjaannya ini adalah tantangan, dan ia menikmatinya. Sudah empat tahun ia menyelami dunia menulis dan di usianya yang ke dua puluh delapan ini, ia belum memikirkan pernikahan secara serius. Ia justru ingin menjadikan profesi ini sebagai tujuan baru dalam hidupnya.
Untungnya abeoji menerima keputusan Jaejoong sambil berkata, "Lakukanlah, kau selalu menuruti perintah appa dan umma-mu sampai kau lulus kuliah. Sekarang.. Lakukan apapun yang kau mau." Jaejoong tentu sangat bahagia ketika orang tuanya mengerti apa yang ia inginkan.
'Kali ini harus berhasil, aku pasti bisa membuat karya yang menakjubkan!' Gadis itu memang punya semangat tinggi jika mengenai pekerjaannya.
Ia yakin kali ini ia akan berhasil.
Kalimat demi kalimat mengalir dengan mudah dari kepalanya. Tidak ada yang bisa menghalangi Jaejoong saat ini, akhirnya ia bisa melanjutkan tulisannya yang selama kurang lebih sepuluh hari tidak ada kemajuan. Tentu saja hal ini membuatnya semangat.
.
.
Dan tak terasa, lima jam sudah ia mengetik, nonstop, membuat bahunya pegal. Tapi ia merasa puas dengan apa yang baru saja ia kerjakan. Seandainya saja ia bisa menulis dengan baik seperti ini, ia pasti tak harus bermusuhan dengan deadline.
'Kalau saja uangku banyak, aku pasti akan sering-sering datang ke tempat sebagus ini hanya untuk menulis..' pikirnya sambil menelisik sekitar.
Bagaimanapun, uang tetaplah berbicara. Ia tak mungkin punya uang sebanyak itu.
Hari mulai gelap dan Jaejoong memutuskan untuk menyalakan lampu kamarnya sambil merenggangkan otot tubuhnya.
Tiba-tiba ia teringat Changmin.
'Kira-kira Changmin mau tidak ya datang kesini?'
Tidak ada salahnya meminta Changmin menemaninya karena mereka memang sudah berteman sejak kecil. Changmin juga selalu ada di sisinya selama ia tinggal di Seoul. Mereka sudah seperti saudara kandung yang tak pernah merasa direpotkan satu sama lain.
Jaejoong pun segera menyambar ponselnya, dan menghubungi nomor Changmin.
[Halo? Jaejoong?]
"Kau sudah selesai kerja kan?"
Changmin bekerja di sebuah pabrik mobil dan shift kerja-nya selalu berganti setiap satu minggu.
[Sudah.. Ada apa?]
"Datanglah kesini.. Aku kesepian.."
[Tidak bisa, aku sedang menuju Busan.]
"Eh? Busan? Untuk apa?"
[Tidak ada.]
"Bertemu seseorang?"
[Ini urusan kerja, Jaejoongie..]
"Lalu, kapan kau kembali?"
[Besok malam.]
Besok malam? berarti Jaejoong sudah pulang.
"Oh, baiklah.. Hati- hati ya.." Jaejoong pun memutus sambungan.
Sambil melihat layar ponselnya, ia terus bertanya-tanya. Ada urusan apa Changmin sampai harus pergi ke Busan?
Tapi hal itu tak berlangsung lama ketika layar ponsel Jaejoong kembali menyala karena sebuah panggilan masuk.
Si brengsek Siwon.
'Cih. Rupanya dia tidak kenal menyerah.'
Kali ini justru Jaejoong mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
[Jaejoong?]
Jaejoong menjawab dengan nada datar, "Iya, ini aku." gadis itu berjalan menuju balkonnya.
[Kenapa sulit sekali menghubungimu?]
"Ohya? Aku memang sedang sangat sibuk."
[Kau dimana sekarang?]
"Dimana? Mm... Omong-omong, ada apa kau menghubungiku?"
[Oh itu, bukankah waktu itu kau mengajakku ke sebuah tempat?]
"Ke mana?"
[Hotel.. Arizona kan? Kau dapat voucher menginap disana kan?]
"Oh.. Yang itu.."
[Ya.]
"Hm.. Aku pergi sendiri, akhirnya."
[Apa? Kau sudah kesana? Kau sedang disana ya?]
'Jangan coba-coba datang ke sini!'.
"Kau tidak perlu datang kemari."
[Hah? Kenapa memangnya?] Siwon bertanya dengan nada kecewa.
"Karena aku tidak sendirian."
Ada jeda di pembicaraan itu.
[Kau bersama Junsu?]
"Ti..dak." Lewat nada bicaranya, Jaejoong seperti ingin mengatakan 'Memangnya aku sudah gila pergi ke sini dengan Junsu?'
[Kalau begitu, kau bersama siapa?]
"Seorang pria." Jaejoong menjawab dengan begitu sombong.
[Apa? Pria? Siapa dia?] nada bicara Siwon meninggi. Jaejoong menyandarkan punggungnya ke pagar balkon, membelakangi pemandangan malam.
Hei, ini menarik!
"Ya.. Aku datang dengan pria lain."
[Siapa dia?!]
"Ahh.. Perlukah ku.. Katakan... Mhh.. Aish, aku kan sedang menelpon, sayang... Mhhh..."
[Yah! Siapa dia? Jangan bercanda, kau membuatku marah!]
'Cih. Marah? Untuk apa?'
"Aku tidak bercanda."
[Kau datang dengan seorang pria?]
"Ya, tidak mungkin kan aku mengisi kamar sebesar ini sendirian."
[Kenapa kau melakukan ini? Sebenarnya ada apa denganmu?]
Jaejoong menarik ujung bibirnya menjadi sebuah senyum sinis sambil memutar bola matanya. Ia tak percaya, bagaimana bisa ada bajingan macam ini di dunia.
"Kau tidak akan mengerti kalaupun aku jelaskan!"
[Seberapa hebat dia, huh?]
"Seberapa hebat? Dia tampan, dan luar biasa.. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.. Bahkan jatuh cinta pada sentuhannya.."
[KIM JAEJOONG! Apa maksudmu?! Apa yang kau lakukan dengannya?!]
'Menurutmu apa, brengsek?'
"Kau yakin ingin tahu?" Jawab Jaejoong tanpa ragu. Ah, revenge is so sweet.
"Menurutmu apa yang akan di lakukan seorang wanita dan pria dewasa di dalam satu kamar hotel yang sama? Kau kan pria, kau pasti tahu jawabannya.. Omong-omong, dia bahkan lebih hebat dari yang ku bayangkan."
[YAA! Bagaimana bisa kau melakukan itu?!]
Jaejoong tersenyum senang.
"Dia bahkan langsung menyeretku menuju tempat tidur dan tidak melepaskanku sejak siang tadi."
Jaejoong meneruskan bicaranya, kali ini ia membuat suaranya sedikit sengau.
"Omo! Ahh.."
Jaejoong mencium punggung tangannya sendiri dan mengeluarkan desahan yang begitu menggoda. Berakting seolah-olah ia sedang menerima sebuah ciuman ganas dari seorang pria.
Dan asal kalian tahu, desahan Jaejoong tentu terdengar begitu nyata.
"Mnhhh.. Ah.. Mmm.." Jaejoong meneruskan aktingnya.
"La-lagi? Tapi kan.. Anghh.." Ia begitu mendalami perannya sampai ia benar-benar membayangkan ada seorang pria yang akan menyeretnya ke tempat tidur.
Siwon memutus sambungan.
Jaejoong mendecih, menyayangi hal itu karena sebenarnya ia masih ingin memberi pertunjukan lain pada Siwon.
Ia awalnya memandang kesal pada ponselnya, namun begitu mengingat desahannya sendiri dan membayangkan ekspresi Siwon, ia pun terkekeh geli.
Jaejoong baru saja akan masuk ke kamar lagi saat matanya bertemu tatap dengan seorang pria yang berada di balkon kamar sebelah. Menatapnya dengan tatapan bingung sekaligus penasaran.
Jaejoong terbelalak.
'Mati aku!'
Jaejoong buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
'Aigooo... Memalukan sekali!' Ia mentup wajahnya sendiri karena malu bukan main. Masalahnya pria itu hanya terpaut beberapa meter darinya, dan ia terlihat menikmati pertunjukan Jaejoong. Sudah pasti suara desahnnya terdengar kan?
Jaejoong merutuki dirinya sendiri karena tidak sadar bahwa ada orang lain disana sejak tadi.
"Ah... Tidak apa-apa.. Dia kan bukan siapa-siapa.. Ya.."Jaejoong mencoba menghibur dirinya sendiri yang sejujurnya malu bukan main.
Pada akhirnya ia butuh setengah jam untuk menenangkan dirinya sendiri dan sadar kalau jam makan malam sudah lewat.
Bagaimanapun ia harus makan.
Jadi, mengendap-endap saat membuka pintu, ia memastikan kalau tak ada siapa-siapa di pintu kamar sebelah, setelah yakin bahwa koridor itu sepi, Jaejoong buru-buru melesat ke lift yang ada di ujung lorong hotel itu.
Berhasil menekan tombol tutup pintu pada lift, tiba-tiba Jaejoong teringat akan wajah pria tadi.
Mata tajam, hidung terukir sempurna, tinggi, dan bibir yang kelihatan menggoda.
Ia tersenyum sendiri setelahnya, "Tampan.." bisiknya.
.
.
.
.
Yunho sedang menikmati makan malamnya bersama kakak sepupu dan istri dari kakak sepupunya itu saat melihat seorang wanita dengan pakaian kasual memasuki restoran hotel.
Senyum tersungging di bibirnya, ia tak bisa mengalihkan tatapan dari wanita itu, Kim Jaejoong.
Meski sepertinya Jaejoong sama sekali tak sadar padahal mereka duduk tak jauh.
'Menurutmu apa yang akan di lakukan seorang wanita dan pria dewasa di dalam satu kamar hotel yang sama? Kau kan pria, kau pasti tahu jawabannya.. Omong-omong, dia bahkan lebih hebat dari yang ku bayangkan.'
Kalimat yang menjadi bagian dari pertunjukan Jaejoong tadi terus terngiang di dalam kepalanya.
Saat sedang menunggu kakak sepupunya yang belum juga sampai di hotel, Yunho pun keluar menuju balkon untuk sedikit melihat-lihat.
Tapi ia justru mendengar suara-suara aneh yang membuatnya penasaran. Ia sempat mencari asal dari suara itu dan menemukan seorang perempuan yang sedang menelpon di balkon sebelahnya. Perempuan itu terlihat seksi dan ia membicarakan hal yang menarik.
'Ya, tidak mungkin kan aku mengisi kamar sebesar ini sendirian.'
Mendengar seorang perempuan berkata seperti itu membuat Yunho hampir tertawa. Perempuan itu berkata seolah-olah ia datang dengan seorang pria, tanpa sadar kalau tamu yang menginap di kamar sebelahnya sedang memperhatikan.
'Seberapa hebat? Dia tampan, dan hebat.. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.. Bahkan jatuh cinta pada sentuhannya..'
Saat perempuan itu bicara dengan suara sengaunya, ia terdengar seperti benar-benar menghabiskan waktu bersama seorang laki-laki di tempat tidur. Tapi saat Yunho melihat pakaian yang dikenakan perempuan itu, seperti tak ada yang terjadi. Karena itulah Yunho penasaran tentang apa yang sebenarnya dibicarakan oleh pria itu. Dan, tanpa di duga perempuan itu menciumi punggung tangannya sendiri sambil mendesah.
Desahan yang keluar dari mulutnya terdengar begitu nyata. Membuat Yunho menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
Ia semakin penasaran dan yakin bahwa perempuan ini memang hanya datang sendirian.
'La-lagi? Tapi kan.. Anghh..'
Sedikit banyak, suara desahan perempuan itu membuat darah Yunho berdesir halus di bawah kulitnya. Ia terus memperhatikan gerak-gerik wanita itu dengan penuh minat.
Melihat bagaimana perempuan itu menatap telepon dan mengutuk lawan bicaranya membuat Yunho tersenyum.
Ia semakin penasaran. Siapa perempuan itu? Apa yang membuatnya melakukan hal itu? Orang macam apa yang membuat perempuan itu kesal?. Dan ketika tatapan mereka beradu, Yunho bisa melihat jelas mata yang berkilau seperti seekor kelinci kecil. Bulat. Saat terkejut perempuan itu terlihat semakin cantik. Wajahnya memerah dengan cepat, dan berikutnya ia masuk melewati pintu kaca kamarnya sendiri.
Ah, Yunho menyesal membiarkan perempuan itu pergi begitu saja.
"Maafkan aku, Yunho-yah." Sebuah suara mengintrupsi flashback Yunho. Ah, itu kakak iparnya, Choi Sooyoung. Istri dari kakak sepupunya sendiri, Jung Ilwoo.
Sooyoung duduk di hadapan Yunho, "Malam yang indah kan, Yunho?"
"Bagiku tidak ada yang lebih indah dari hyongsunim(kakak ipar).."
"Ya, itu benar sekali!" tiba-tiba saja Ilwoo juga muncul dan segera duduk di samping Sooyoung. Mereka terlihat serasi.
Yunho memang mengagumi kakak iparnya, ia berharap mendapatkan wanita cerdas seperti Choi Sooyoung. Sooyoung bahkan mampu merubah Ilwoo yang seperti singa menjadi seekor kucing jinak. Pernikahan mereka memang sudah berlangsung selama enam tahun, tapi dilihat dari manapun, mereka masih seperti pengantin baru.
"Kenapa harus tinggal di hotel?"
"Karena aku tidak ingin mendengar halmeoni yang terus menyuruhku menikah." Jawab Yunho.
"Kau kan tahu halmeoni tidak akan menyerah begitu saja sebelum kau kembali ke Amerika, sempatkanlah main dan menginap satu malam saja." timpal Ilwoo.
Yunho hanya mengangguk, "Sepertinya aku akan tinggal di Korea lebih lama lagi." Ia memang belum memutuskan kapan ia akan kembali ke Amerika tapi ia rasa itu cukup lama.
"Bagus! Bagaimana kalau kau tinggal di Korea sampai proses pengumpulan skenario untuk lomba selesai? Kau juga boleh menilainya."
"Boleh juga.." Yunho mengangguk lagi tanpa ragu.
"Tapi tidak apa-apa kan kalau kau meninggalkan kantor untuk sementara?"
"Ada Steve disana, aku bisa mempercayainya."
"Bagus, kau bisa tinggal disini sampai ulang tahun Jinri." Jinri adalah anak pertama mereka yang baru berumur satu tahun.
"Apa kau masih senang hidup sendiri?" tanya Sooyoung.
Yunho tersenyum, "Aku masih belum bisa menemukan wanita seperti hyongsunim.."
"Kau tidak akan bisa menemukan wanita seperti Sooyoung, Yunho-yah.."
Sooyoung melirik suaminya yang mengambil kesimpulan sendiri lalu ikut berbicara, "Yunho-yah.. Aku sering heran kenapa kau tidak segera mengakhiri kesendirianmu. Kau keren, tampan, bahkan mungkin aku akan iri pada pasanganmu nanti."
Ilwoo hanya berdehem mendengarnya.
Setelah itu mereka terlibat pembicaraan serius tentang bisnis saat ini.
Jung Ilwoo adalah salah satu pemimpin Walden Korea. Sebuah perusahaan perfilman yang sudah tersohor. Walden Korea hanya afiliasi dari Walden group yang kantor utamanya justru ada di Amerika, Walden Pictures, dan Yunho-lah yang menggerakan kantor pusat itu. Jadi secara teknis, pangkat Yunho lebih tinggi dari Ilwoo.
Untuk memperingati ulang tahun perusahaan, mereka mengadakan acara lomba menulis skenario yang pemenangnya akan diangkat ke film layar lebar, hitung-hitung memgembangkan produksi Walden dan mengadakan kerja sama yang kuat antara Walden Pictures dan Walden Korea.
Waktu terus bergulir, sambil menikmati makan malam mereka terus membincangkan banyak hal.
Yunho bahkan tidak sadar jika perempuan tadi sudah pergi dari tempatnya. Ia melihat meja itu sudah terisi oleh tamu lain.
Hingga tiba saatnya Yunho mengantar Ilwoo dan Sooyoung ke mobil mereka untuk pulang dan ia sendiri kembali ke kamar.
Saat sampai di depan pintu, ia tak langsung masuk melainkan menatap pintu kamar di sebelahnya. Bertanya-tanya apakah penghuninya ada didalam.
Kalau ingin mengikuti kata hati, sebenarnya ia tak ingin masuk ke kamarnya sendiri. Ia ingin bertemu wanita itu.
Yunho bahkan beberapa kali keluar-masuk dari balkon kamarnya, tapi wanita itu tak kunjung muncul. Ia sibuk bertanya pada dirinya sendiri, apakah mereka akan bertemu lagi. Yunho sendiri tak mengerti mengapa ia melakukan hal ini.
Ia memutuskan untuk menyerah saat jam menunjukan pukul sepuluh malam, kemungkinan mereka akan bertemu lagi di balkon itu semakin kecil.
Yunho segera masuk ke kamar dipenuhi dengan rasa kecewa, ia membuka kulkas dan mengambil sebotol air.
'Apakah aku bisa bertemu dengannya lagi?'
.
.
.
Sementara yang ditunggu justru kembali sibuk mengetik, beberapa bungkus camilan dan kaleng minuman berserakan di sekitarnya.
Jaejoong benar-benar dalam mood yang baik untuk menghasilkan sebuah naskah skenario hingga ponselnya berdering.
Ah, itu Junsu.
"Halo.."
[Jaejoongie.. Kau jadi pergi ke hotel itu?]
"Iya, aku sedang di salah satu kamarnya.. Disini menyenangkan."
[Pasti bagus sekali kan kamarnya?]
"Ya.. Dan aku jadi bisa menulis lancar, rasanya seperti punya banyak energi."
[Bagus sekali, kau pasti senang.. Memang kadang bagus juga mencari atmosfer lain untuk menulis.]
"Kau benar, pantas saja kau dikurung di kondominium di Jeju. Ohiya, omong-omong baru kali ini aku makan dendeng sapi.. Rasanya enak sekali."
[Tentu saja enak, itu kan mahal.]
Jaejoong terdiam saat mendengar itu.
"Mahal? Sepertinya ini gratis."
[Sepertinya tidak mungkin.]
"Tapi mereka memberi kamar ini secara gratis padaku, apa aku juga harus membayar makanan dan minumannya?"
[Yang ku tahu sih seperti itu.]
Jaejoong panik karena ia tahu Junsu bukan sok tahu kali ini, Junsu sudah sering bolak-balik menginap di hotel.
"Jadi aku harus membayar ini semua?" Jaejoong meninggalkan laptop dan begitu panik saat ini.
[Iya, dan biasanya harga hotel lebih mahal, coba saja kau hubungi pusat informasinya.]
"Baiklah, ku tutup dulu kalau begitu." Jaejoong buru-buru menutup sambungan Junsu dan menghubungi pusat informasi hotel.
Dan benar saja, Jaejoong shock saat tahu ia harus membayar untuk makanan dan minuman yang ada di kulkas.
Ia bertanya tentang harga semua yang sudah dimakannya sambil mencatat baik-baik lalu berterima kasih saat sudah selesai.
"Aishh.. Konyol sekali, harganya bahkan tak sampai lima puluh ribu won jika dibeli di minimarket." Jaejoong frustasi saat melihat total yang harus ia keluarkan adalah seratus ribu won lebih.
Jaejoong benar-benar frustasi saat ia mendapatkan ide untuk membeli barang-barang yang sudah ia pakai di minimarket.
Ia pun bergegas mengambil tas dan segera keluar kamarnya.
.
.
.
Tak begitu lama sampai Jaejoong kembali ke hotel dengan belanjaan yang ia masukan ke tas yang ia sampirkan di bahunya.
Ia berhasil menemukan merek yang sama untuk beberapa camilan dan juga minuman kaleng yang ia minum. Tapi tidak dengan dendeng sapinya.
Saat bertanya pada kasir minimarket mereka bilang tidak menjual merek itu karena terlalu mahal. Mungkin ia haru membayar saja untuk dendeng sapi itu.
Ting!
Lift terbuka tepat di lantai dimana kamar Jaejoong berada.
Ia sempat menoleh kanan-kiri serta melihat situasi lorong. Merasa aman, ia segera melangkah menuju pintu kamarnya.
Jaejoong terlihat sangat terburu-buru saat merogoh tasnya untuk mengambil kunci kamar.
Wajahnya berubah menjadi pucat pasi saat benda yang ia cari tak ada disana.
"Omo!"
Ia bahkan memeriksa seluruh isi tas dan juga saku celana.
Tidak ada.
Jaejoong tak percaya akan mengalami hal seperti ini.
'Aku letakkan dimana ya? Kenapa tidak ada?'
Semua benda sudah ia keluarkan dari dalam tasnya tapi tetap saja kunci yang ia cari tak ada disana. Jaejoong bahkan mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya, merangkai-rangkai, potongan memori itupun mulai jelas.
Ia ingat kuncinya ia tinggalkan di dalam saat ia buru-buru pergi ke minimarket. Jadi sekarang ia terkunci di luar kamarnya sendiri?
"Aigoo.. Sepertinya aku tidak cocok tinggal di hotel.." Jaejoong meratapi nasibnya sendiri yang begitu sial.
Ia merasa begitu putus asa sampai tiba-tiba seseorang keluar dari pintu kamar sebelahnya. Jaejoong mengangkat kepala dan di saat yang bersamaan, pria itu melihatnya. Mereka bertatapan.
'Ya Tuhan!'
Pria itu... Pria yang tinggal di kamar sebelah. Pria yang menyaksikan kejadian memalukan itu tadi sore.
Jaejoong membeku. Jari-jarinya gemetar menahan malu. Ia berusaha membereskan kembali isi tasnya sambil menenggelamkan wajah dalam-dalam.
"Ada yang bisa ku bantu?" tanya pria itu, Jaejoong merutuk dalam hati, kenapa juga pria ini harus mengajaknya bicara? Bukankah lebih baik dia pura-pura tidak tahu soal keadaan Jaejoong?
'Kenapa dia ingin tahu sekali sih?'
"Tidak. Saya tidak apa-apa." jawab Jaejoong tanpa menatapnya. Tapi pria itu justru membantu mengambil barang-barang Jaejoong yang ada di atas lantai. Jaejoong jelas-jelas menolak, tapi pria itu tetap bergerak membantunya.
"Maaf, apa anda mengalami masalah?"
"Ah... Bukan. Tapi... anu.. Kunci kamarku tidak ada..."
Bagaimana mungkin kan Jaejoong bisa marah-marah pada orang yang sudah membantunya, ditambah lagi pria itu terlihat begitu tulus.
"Anda bisa pergi ke bawah. Mereka akan memberi kunci utamanya pada anda."
"Ah, iya." Jaejoong tersenyum canggung.
"Mau saya bantu bicara dengan mereka?"
"Mm... Tidak perlu. Saya pergi sendirian saja. Tapi... Terima kasih.."
Sampai akhir, Jaejoong tak sanggup menatap pria tinggi itu. Ia hanya berterima kasih lalu berjalan cepat menuju lift.
Tak sadar jika pria itu mengekor di belakangnya.
Jaejoong menekan tombol tutup pintu lift saat kemudian ia sadar bahwa pria itu juga ada di sana. Terlambat menyadari, membuat ia dan pria itu harus terjebak dalam sunyi yang cukup lama.
Jaejoong berusaha sebisa mungkin untuk tidak bertatap mata dengan pria itu. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan memutar badannya ke kanan—menghadap dinding lift, tapi sayangnya yang ada di kanannya adalah cermin besar. Ia gagal karena akhirnya pandangan mereka kembali beradu dan pria itu tersenyum ramah padanya, sangat mempesona.
"Anda datang sendirian?" tanya pria itu.
'Untuk apa bertanya seperti itu pada wanita yang baru ditemui? Sekalian saja tanya aku kerja dimana.'
"Iya."
"Karena anda bilang tidak mungkin datang ke hotel seperti ini sendirian."
Wajah Jaejoong memanas, rasanya seperti terserang demam mendadak. Ia malu luar biasa.
"O-oh.. Itu..."
Lift terbuka di saat yang tepat bagi Jaejoong, tanpa menoleh ia terus berjalan menuju meja informasi dan memberitahukan maksudnya.
Jaejoong pun mengikuti langkah staf hotel yang akan membantunya. Ia sedikit kaget saat pria itu masih ada di depan lift.
Apa pria asing itu menunggunya? Kalau tidak ada urusan, untuk apa dia repot-repot ke lantai dasar?
Jaejoong pura-pura tak melihatnya.
Ia sudah dua kali terjebak dalan situasi memalukan yang melibatkan pria itu. Karena itu, ia harap ini yang terakhir.
Mereka bertiga pun menaiki lift yang sama, Jaejoong merasa malu dua kali lipat saat ini.
Pintu lift terbuka, dan yang pertama keluar adalah si staf hotel, Jaejoong dan pria itu yang paling akhir.
Setelah mengutak-atik beberapa lama, akhirnya pintu kamar itu terbuka, membuat Jaejoong merasa begitu lega.
"Silahkan masuk." Petugas itupun memberi salam sebelum pergi.
"Maaf sudah merepotkan."
"Tidak apa-apa, silahkan menikmati sisa malam ini. Selamat malam."
'Menikmati sisa malam ini? Maksudnya malam yang bagaimana?'
Petugas itu memberi salam pada Jaejoong kan? Ah, bukan.. Sepertinya ia memberi salam pada pria asing itu.
'Sepertinya dia menganggap kami pasangan. Memang aneh juga, dia tidak langsung masuk ke kamarnya sendiri tapi malah ada di depan kamar orang lain dan hanya berdiri saja?'
Ketika Jaejoong menoleh, ia mendapati pria itu memberikan uang tip pada si staf hotel.
Huh? Yang meminta bantuan kan dia, kenapa pria itu yang justru membayar?
"Apa maksud anda?"
"Maksudnya?"
"Tip yang anda berikan tadi."
"Sepertinya dia beranggapan kalau kita ini pasangan, jadi rasanya tidak sopan kalau membiarkannya pergi begitu saja."
Jaejoong sedikit tersinggung.
"Rupanya uang anda banyak. Sampai-sampai harus anda yang memberinya tip, padahal dia memberikan bantuannya pada saya."
Setelah memberikan komentar sarkastiknya, Jaejoong masuk ke dalan kamarnya. Ia masih menganggap tindakan pria itu tidak perlu.
Pria itu, Jung Yunho, hanya mampu menatap bingung pada pintu kamar yang ditutup. Ia pun memutuskan kembali ke kamarnya dengan sebuah senyum geli terukir.
Di dalam kamarnya, dengan senyum sinis Jaejoong bergumam, "Jangan-jangan dia berusaha menyombongkan diri."
Jaejoong membuka tasnya dan baru akan mengeluarkan belanjaannya saat ponselnya berdering.
Si brengsek Siwon.
Laki-laki ini benar-benar tidak mengenal kata menyerah rupanya.
'Aku sudah memberikanmu sebuah pertunjukan, kenapa kau masih berusaha menghubungiku?'
Dengan keyakinan yang mantap untuk mengakhiri semuanya, akhirnya Jaejoong mengangkat telepon itu.
"Halo."
[Ini aku.]
"Ada apa?" tanya Jaejoong ketus.
[Aku sudah sampai di tempatmu.]
Jaejoong terbelalak. "A-apa?! Untuk apa kau kesini?"
[Kenapa bertanya? Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, siapa pria yang berani membuatmu mengkhianatiku! Kamarmu di 1105 kan? Tunggu aku disana!]
Siwon langsung menutup teleponnya.
Jaejoong sendiri panik bukan main. 'Dia benar-benar sudah gila! Akh! Aku harus bagaimana sekarang?!'
Ia tak pernah menyangka kalau Siwon akan menyusulnya ke hotel. Pria itu terdengar benar-benar marah sekaligus mabuk. Jaejoong yakin, kalau menghadapi Siwon yang mabuk pasti akan sangat sulit.
Dia bisa membayangkan apa yang akan terjadi, Siwon akan berteriak 'Buka pintunya!'
Apa yang harus ia lakukan jika seperti itu?
Kalau sampai pintu berhasil didobraknya, tentu saja dia akan langsung masuk ke dalam kamar untuk memastikan apakah ada pria itu ada atau tidak. Jika yakin tidak ada pria disini... Beberapa kemungkinan bisa saja terjadi.
Bisa saja Siwon meminta maaf dan berharap hubungan mereka bisa kembali.
Ah, tidak.
Kecil kemungkinannya! Pasti akan ada masalah lain yang muncul karena Siwon sedang mabuk.
'Akh! Apa yang harus ku lakukan?'
Jaejoong ketakutan. Sepertinya, sebentar lagi Siwon akan tiba dan mendobrak pintu kamarnya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Jaejoong membuka pintu kamarnya. Ia hanya tidak ingin ada di dalam kamar. Ia harus bersembunyi.
Tapi saat pintu Jaejoong terbuka, ia tak tahu bahwa pintu lift di ujung sana sudah terbuka.
"Kim Jaejoong!"
Jaejoong mendengar namanya diteriaki. Membuat bulu kuduknya berdiri.
'Sial!' tak ada cara lain selain kembali ke kamarnya.
Ketika berusaha memutar kenop pintu, Jaejoong lemas. Lagi-lagi ia lupa membawa kuncinya keluar.
'Aigooo!'
Andai saja ia bisa meminta seorang penyihir datang untuk membantunya. Dan entah apa yang menggerakannya, Jaejoong tiba-tiba mengetuk pintu kamar sebelahnya.
Kamar milik Jung Yunho.
Ia mengetuk dengan penuh putus asa.
Langkah Siwon yang sempoyongan semakin dekat saat pintu dibuka, dan menampakkan sosok tegap nan tampan itu. Jaejoong tanpa banyak berpikir lagi segera menarik tangan Yunho dan meletakannya di pinggangnya sendiri. Sementara ia mengalungi lengannya di leher Yunho.
Dengan pose itu ia menghadap Siwon yang sudah berada tak jauh darinya. 'Lihat ini, brengsek!'
Jaejoong dapat melihat kemarahan Siwon, rahangnya mengeras seolah siap menyerang mereka berdua.
Jaejoong terlalu fokus melihat ekspresi Siwon dan yakin bahwa mantan kekasihnya itu akan mengatakan sesuatu sebelum ia merasakan dagunya ditarik dan sebuah benda lembut menyapa bibirnya.
Jaejoong kaget bukan main saat tahu ia dicium oleh Yunho.
Pria yang baru saja Jaejoong temui tadi sore itu hanya menggerakkan bibirnya dengan tenang, menyapu lembut bibir manis Jaejoong.
"Mmh.."
Jaejoong tak tahu apa yang terjadi. Ia tak tahu harus bagaimana. Yunho sendiri terus menikmati bibir Jaejoong dan Jaejoong akui ia hampir tak bisa menahan bobot tubuhnya karena merasa seluruh energinya terhisap habis.
Ciuman Yunho berefek besar terhadapnya.
Yunho menahan pinggang Jaejoong agar perempuan itu tak terjatuh karena sadar Jaejoong begitu lemas saat ini.
Benar saja, saat Yunho melepas ciumannya, Jaejoong nyaris terjatuh karena tak mampu mengendalikan dirinya sendiri lagi. Yunho segera membawa tubuh Jaejoong ke dalam pelukannya, erat. Pria itu menatap tajam pada sosok Siwon.
"Apa yang terjadi, sayang?"
Jaejoong hampir lupa akan keberadaan Siwon disana, nafasnya terengah.
Siwon terlihat sangat kacau saat ini. Marah, kecewa, sedih, kaget. Semua tercetak jelas di rautnya.
Jaejoong sendiri merasakan detak jantungnya menggila di dalam pelukan Yunho. Bukan, ini bukan lagi rasa ketakutan karena Siwon datang.
Rasanya ada sesuatu.
Berusaha mengumpulkan akal sehat, Jaejoong melirik Siwon, meski tubuhnya masih ditahan Yunho agar tetap menempel padanya. Bahkan pria itu mengusap rambutnya.
Jaejoong hanya terus bertanya dalan hati, apa akting ini berhasil? Apa ciuman itu perlu?
"Jaejoong! Apa-apaan ini? Apa maksudmu?!"
Yunho yang memilih untuk menjawab itu. "Apa ada masalah? Dengar baik-baik, jika kau ingin berbicara pada kekasihku, bicaralah dengan baik."
"Apa? Kekasihmu? Asal kau tahu! Akulah kekasih Jaejoong." Siwon secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka-nya.
Jaejoong yang sedikit mulai lebih tenang berusaha berdiri diatas kakinya sendiri. "Kenapa? Saat kau punya wanita baru, apa aku tidak boleh memiliki pria lain juga?"
"Apa maksudmu?"
"Aku melihat kalian! Di bandara. Kau bermesraan dengan wanita menjijikan itu!"
"A-apa? Apa maksudmu? Siapa yang kau maksud?"
Siwon jelas-jelas gagal berpura-pura, Jaejoong tahu itu.
"Kau harusnya berterima kasih padaku karena aku masih memperlakukanmu dengan baik sekarang! Padahal aku ingin sekali menyeret kalian berdua sampai ke jalan raya hari itu." Jaejoong meluapkan emosinya, ia kaget saat Yunho menggenggam erat jemarinya.
Bagi Jaejoong, ia merasa disemangati. Ia merasa genggaman Yunho berusaha membuatnya terlihat kuat sekaligus tenang menghadapi situasi ini.
"Jaejoong-ah, waktu itu kau pasti salah lihat." entah bagaimana, Siwon terdengar mencoba untuk berkata lembut.
"Huh? Lucu sekali! Kalau begitu siapa yang kai telpon dan kau panggil 'adik'?"
"Jaejoong-ah.. Dia hanya teman dinasku."
Jaejoong malas mendengarnya, ia tahu Siwon sedang berusaha mencari alasan yang tepat.
"Cih.. Sebaiknya kau belajar bagaimana cara memberikan penjelasan lebih baik dari itu."
"Oke, akan ku jelaskan tapi kau harus ikut aku pulang sekarang juga!"
"Untuk apa? Kau tidak lihat kalau kami sedang sibuk? Kau hanya membuang waktu berharga kami!"
Tangan Siwon terkepal erat, "Brengsek, siapa pria ini?" tanyanya sambil melempar tatapan tajam pada Yunho.
"Pria yang akan ku nikahi." Jaejoong menjawab sembarangan.
"A-apa?"
"Kau tidak dengar, Choi Siwon? Dia pria yang akan ku nikahi.. Aku akan menikah dengannya."
Siwon segera mengambil langkah mendekati Jaejoong dan hampir-hampir ia melayangkan sebuah tamparan untuk Jaejoong kalau saja Yunho tak maju untuk menjadi tameng sekaligus menahan tangan Siwon.
Yunho bahkan berhasil memberi sebuah tinju hingga pemuda Choi itu tersungkur.
"Sudah ku peringatkan untuk bicara baik-baik dengan kekasihku kan? Berani kau menyentuhnya seujung rambut pun, aku yang akan memastikan itu hari terakhirmu." ancam Yunho, tenang namun begitu tajam dan menyeramkan.
"Jangan pernah muncul di hadapan Jaejoong-ku lagi atau kau akan menyesal." ucap Yunho sebagai final. Lagi, dingin dan terdengar begitu marah.
Beberapa pintu kamar lain terbuka karena keributan yang mereka buat.
Tapi Yunho segera menarik tangan Jaejoong untuk masuk ke dalam kamarnya.
.
.
.
.
.
to be Continued
Bagian pertama selesai.
Ternyata ngetiknya lama banget & maap ya kalo masih ada salah ketik. :p
Ini buat kalian yang nunggu chapter dua! Maaf saya cuma bisa posting di weekend aja.
YunJae udah ketemu, dan saya suka banget momen ini. XD
Ohya buat yang nanya ini novel terjemahan atau bukan, iya ini novel terjemahan milik Kim Rang dengan judul 'the Last 2%' kalian bisa nemu di toko buku kok. ^^
Terus buat yang minta nanti adegan NC nya dibikin lebih seru(?) hoho saya emang mau nyoba bikin beda dari di novelnya.
Ohya, sekedar pemberitahuan aja ya.. Saya emang lebih suka nulis GS tapi bukan berarti saya benci Boyslove. Alasan utama saya nulis ff GS pun karena sebagian besar ff saya adalah remake dari komik/novel yang aslinya straight. Baru-baru ini ada reviewer yang ngomongin pendapatnya soal ff GS di salah satu ff saya, gini aja deh... setiap author dan pembaca punya zona nyaman sendiri jadi please just stay there. Kalo gak suka sama ff GS atau ff bikinan saya, gak perlu dibaca kok.
Soal Jaejoong itu kan aslinya cowok, iya.. Saya dan saya yakin seluruh YJS tau betul soal itu. Lalu apa yang salah dengan ff GS? toh, itu gak akan ngubah Jaejoong asli jadi cewek kan? Lagian kembali aja ke hakikat fanfiksi itu sendiri deh, fanfiksi dibuat untuk hiburan kok, jadi gak usah dibawa berat-berat ya, kasian nanti ribet sendiri mikirnya.
Terakhir, bias saya itu Kim Jaejoong kok. Dari awal suka DBSK dan itu belum berubah. Bahkan jelas-jelas saya tulis di bio sejak tahun lalu, jadi tolong jangan seenaknya men-judge kalo bias saya Yunho dan bikin ff pake Jaejoong GS sambil ngebayangin diri saya sendiri. Saya rada iritasi baca pendapat anda yang ini.
Semoga jawaban ini dibaca ama yang bersangkutan biar semua jelas ya.
Saya ingetin, kalo gak suka GS atau gak suka jalan cerita ff saya, mending tinggalin aja. Selese kan? ^^
Ok, maaf a/n kali ini panjang banget.
See ya in the next chap, guys!
.。.:*・° .。.:*・° .。.:*・° .。.:*・°
SPECIAL THANKS FOR
jongie centil || rikurijung || Park FaRo || Jaejaeeee || meybi || ZEN97 || kiimnensi || akiramia44 || Minhyo Park aka sweetbanababy || joy || onkey shipper04 || Iizuka myori || han yura || yoon HyunWoon || park xena || gwansim84 || tri loveyunjae || shanzec || aismamangkona || jaena || ruixi1 || rinie moet || joongie || Ai Rin Lee || Lawliet Jung || azahra88 || Mami Fate Kamikaze || cho ri rin || Anggunyu || Lilin Sarang Kyumin || MyBabyWonkyu || Kim Jae Eun || Jung Jaehyun || BaekXoLove614 || jyuly || mandakyumin || JungKimCaca || bambidola || dreamers girl || Kirio luo 7 || Park July || Iche cassiopeiajaejoong || HunHanCherry1220 || ShinJiWoo920202 || nabratz || ayudessy1222 || PURPLE-KIMlee || hanevilijewelfishy || chanbaekyu
Hugs and kisses for u all, guys! :*
