the Last 2%

a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae.

.

Jaejoong, Yunho, Changmin, Siwon, Junsu, Go Ahra, and others.

YUNJAE Slight!WonJae.

T-M Rated.

Drama/Romance.

WARNING! GENDERSWITCH! Typos everywhere! Out of Character!

.

I write because i want, not for amaze people.

DON'T LIKE, DON'T READ! Told ya before!

.

.

[ © Sebuah remake dari novel milik Kim Rang dengan judul yang sama(2006), cerita sepenuhnya milik Kim Rang hanya beberapa yang saya ubah termasuk casts dan latar untuk keperluan cerita. ]

.

.

.

.

Bagian Kedua.

.

.

.

Jaejoong terdiam di depan pintu kamar yang tertutup dan hanya menatap pria itu, Yunho.

Beberapa saat sebelumnya, urusan pribadinya hampir menjadi urusan orang banyak.

"Kau tidak apa-apa?" suara bass milik Yunho memecah keheningan di antara mereka, ia memberikan sekaleng jus jeruk pada Jaejoong.

"Iya.." Masih dengan ekspresi yang sama, Jaejoong menerima kaleng minuman itu. Meneguk sedikit isinya.

"Kekasihmu?"

"Ya, sampai empat hari yang lalu."

"Syukurlah."

"Apanya?"

"Dia tidak terlihat seperti pria baik-baik. Hanya firasat sih."

Jaejoong terkejut mendengarnya. Changmin juga mengatakan hal yang sama. Ternyata cara pandang pria dan wanita benar-benar berbeda.

"Namaku Yunho... Jung Yunho."

"Kim Jaejoong."

"Ah, ya.. Aku mendengar namamu disebut tadi.. Silahkan duduk."

Yunho mengajak Jaaejoong duduk disofa nyaman yang ada di ruangan itu.

"Ng.. Omong-omong... Kenapa kau menciumku?" tanya Jaejoong frontal. Ia tidak yakin apakah pantas atau tidak berkata seperti itu, tapi ia ingin tahu.

"Karena kupikir itu akan cukup membantu." Jaejoong takjub dengan jawaban sederhana itu. Ya, sebenarnya memang sangat membantu sih.

"Terima kasih, itu memang sangat membantu." entah apa itu tapi Jaejoong merasa sama sekali tak mampu menatap pria yang baru beberapa menit lalu menciumnya itu.

"Syukurlah kalau begitu.. Kau sebaiknya tetap menunggu disini dulu, temanmu itu masih berada di luar."

Mendengar jawaban Yunho, ia yakin Siwon memang masih didepan kamar ini, menunggunya mungkin.

Yunho sendiri beranjak beberapa saat dan kembali dengan sebuah kotak menarik di tangannya, Jaejoong bertanya dalam hati apakah itu cokelat.

"Silahkan.."

Yunho menyodorkan kotak itu, dan benar saja.. Isinya adalah makanan yang tak pernah bisa Jaejoong tolak, itu cokelat.

Terlihat begitu menggiurkan.

"Kau terlihat gugup dan cemas, aku yakin cokelat bisa membantumu." pria itu tersenyum menawan.

Jaejoong pun mengambil sebutir coklat berbentuk bulat dari kotak itu.

"Terima kasih."

Awalnya Jaejoong hanya butuh satu butir, tapi setelah cokelat pertama meleleh di dalam mulutnya, ia jadi tidak tahan untuk memakan butir kedua dan ketiga.

"Mm.. Sepertinya cokelat ini untuk orang lain, apa tidak apa-apa jika ku makan?" Jaejoong melirik sesaat pada Yunho.

"Memang untuk seseorang, tapi tidak apa-apa. Makan saja." Jawab Yunho sambil memandangi Jaejoong. Lalu tatapannya teralih pada tas yang dibawa Jaejoong.

"Yang ada di dalam tasmu, makanan kecil?"

"Apa?"

"Tadi aku melihat tasmu cukup penuh."

Jaejoong mengambil satu butir cokelat lain dan berusaha menutupi rasa malunya.

"Ohh.. Itu.. Bukan makanan kecil. Sejujurnya ini memalukan sekali. Aku pikir yang ada di dalam kulkas hotel ini gratis, jadi aku menghabiskan isi kulkas seenaknya. Tapi aku kaget waktu tahu kalau aku harus membayar semua yang sudah ku makan dan minum. Oh, mungkin kau bertanya-tanya kenapa aku berpikir itu semua gratis. Jadi, aku bisa menginap disini karena menang sebuah undian berhadiah voucher menginap. Karena itu aku pikir semua yang ada disini ikut gratis."

"Lalu?"

"Aku pergi ke swalayan untuk membeli makanan dan minuman yang sudah kuhabiskan tadi. Nantinya akan ku kembalikan ke dalam kulkas. Aku berhasil menemukan yang sama kecuali dendeng sapi-nya."

Yunho tertawa mendegar cerita polos Jaejoong.

"Maaf, aku tahu kalau yang aku lakukan ini tidak pantas, tapi kurasa kau tidak perlu menertawaiku sampai seperti itu." Jaejoong menatap tajam pada Yunho.

"Maaf.. Maaf, aku tidak bermaksud menertawaimu." Akhirnya Yunho kembali meminta Jaejoong memakan cokelat-cokelat itu.

Awalnya Jaejoong ingin menolak, tapi lagi-lagi ia tak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh cokelat-cokelat menggiurkan itu.

"Kau sendirian?" tanya Jaejoong.

"Iya."

Walau ada kursi kosong di hadapan Jaejoong tapi Yunho tetap pada posisi berdirinya, tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan dari Jaejoong.

Jaejoong berusaha untuk tidak menatap Yunho, tapi karena posisi mereka berhadapan, Jaejoong jadi kebingungan. Kalau saja Yunho tidak sedang memandanginya terus menerus seperti itu, mungkin ia tidak akan merasa semalu ini. Bahkan sekalipun Jaejoong berpura-pura batuk, Yunho masih tak bergeming menatapnya.

"Kenapa kau terus menatapku seperti itu? Aku jadi tidak bisa makan cokelat ini dengan benar." Protes Jaejoong.

Yunho tersenyum mendengar pertanyaan itu, "Karena kau sangat cantik."

Yunho mengatakannya tanpa ragu dan kalimat itu mengalir begitu saja. Dalam situasi seperti ini, respon apa yang sebaiknya Jaejoong berikan?

Tanpa malu berkata, 'Ya, aku tahu aku cantik' atau hanya harus tersipu malu? Akhirnya Jaejoong justru memperlihatkan rasa kesalnya.

Harusnya Jaejoong menatap ke arah lain, tapi begitu dua pasang mata mereka bertemu tatap, ia merasa tersihir. Ia tak mampu melepas tatapan dari Yunho.

Bentuk tubuh pria itu begitu sempurna. Rambut yang dibawa ke atas dan dahi yang terekspos bebas membuatnya terlihat begitu kharismatik. Hidungnya terukir sempurna, mata tajam nan kelam, dan bibir yang terlihat begitu lezat.

Kalau diperhatikan baik-baik seperti ini, Yunho terlihat dua ratus kali lebih tampan. Padahal Yunho memang tampan.

Pria itu bahkan memiliki tinggi yang sempurna, sesuai dengan tipe ideal Jaejoong. Tubuhnya terlihat begitu terbentuk di balik kaus putih yang ia gunakan. Jaejoong jadi sedikit penasaran, bagaimana pria itu jika tanpa pakaian atasnya?

"Apa kau keberatan untuk duduk? Leherku agak pegal." Jaejoong akhirnya bisa menyingkirkan pikiran-pikirannya yang makin lama makin aneh itu.

Sambil meminta maaf, Yunho langsung duduk di kursi yang ada di hadapan Jaejoong. Karena sekarang mereka berhadapan, Jaejoong justru lebih mudah menatap Yunho.

'Ya Tuhan.. Sebenarnya dia jatuh dari bintang apa?' pikirnya.

"Kau.. Kenapa tinggal di hotel? Memangnya tidak ada rumah di Seoul?"

Yunho tersenyum, "Ya.. Lebih tepatnya aku bukan warga sini.. Tepatnya bukan warga negara Korea jadi aku hanya menumpang."

"Mwo? Kau bukan orang Korea? Lalu? Kau tinggal dimana?"

"Aku orang Korea, tapi saat ini aku warga negara Amerika."

Jaejoong pun mengangguk paham lalu kembali menatap Yunho. Semakin diperhatikan, Jaejoong semakin tidak percaya kalau ada manusia setampan ini duduk di hadapannya.

"Jadi, kau ingin pernikahan kita diadakan dimana?" Celetuk Yunho.

Jaejoong tentu saja kaget mendengarnya.

"Mwo? Apa maksudmu?"

"Pernikahan."

"Pernikahan?"

"Ya, tadi kau sendiri yang mengatakan kalau aku adalah pria yang akan kau nikahi kan? Kau bahkan mengucapkannya empat kali."

"A-apa? Itu kan aku hanya sembarangan saja."

Yunho menatap lagi pada Jaejoong, "Kupikir kau serius." ucapnya dengan nada kecewa. Jaejoong pun mendecih pelan, "Rupanya kau pintar melucu ya?" sindirnya.

Jaejoong beranjak menuju pintu dan memastikan kalau tak ada lagi Siwon di sana, untungnya pria itu tidak sadar kalau yang di tempatinya adalah kamar 1106.

"Aku akan kembali, lagipula aku harus meminta bantuan staf lagi untuk membukakan pintunya." Jaejoong hendak beranjak.

"Apa aku membuatmu tak nyaman?"

"Bukan.. Sama sekali bukan... Bagaimanapun ini sudah malam dan ini bukan kamarku.."

'Karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika pria dan wanita berada di ruangan yang sama di tengah malam seperti ini.'

Jaejoong pun memutuskan untuk segera pergi, ia berjalan menuju pintu namun Yunho yang berjalan ringan mengikutinya tiba-tiba menarik pergelangan tangan Jaejoong.

Jaejoong tentu saja menoleh bingung, "Kenapa?"

"Kau akan pergi begitu saja?"

"Maksudmu kau minta imbalan?"

"Tentu saja."

'Dia bukan meminta uang kan?'

Jaejoong pun memasang wajah sesedih mungkin, "Bagaimana aku bisa membayarmu? Uangku bahkan sudah habis untuk membeli makanan ini." Ia mencoba yang terbaik sambil menatap Yunho.

"Ciuman."

Jaejoong tersentak mendengarnya. Ada racun manis yang tersirat di kalimat itu dan membuat Jaejoong tak sengaja menatap bibir menggoda milik pria yang hanya beberapa sentimeter di hadapannya.

"Satu kali saja cukup.." Yunho mendekat pada Jaejoong, ucapannya terdengar seperti bisikan lirih yang menggoda. Jaejoong terdiam bahkan saat wajah mereka sudah dekat dan bibir mereka hampir bersentuhan.

Jaejoong merasa denyut nadinya tak terkendali namun ia tetap berusaha sadar, ditahannya bahu Yunho meski tubuh mereka sudah menempel.

"Maaf, aku bukan wanita yang bisa kau cium seenaknya." Jaejoong menatap berani pada Yunho yang jauh lebih tinggi darinya.

Jaejoong berbalik, hampir saja lepas dari kurungan Yunho dan membuka pintu namun tangan Yunho justru menahan pintu itu dan membawa tubuh Jaejoong kembali menghadapnya.

Dan tanpa menunggu apa-apa lagi, ia segera mencium bibir Jaejoong. Kali ini terasa lebih dalam.

Berciuman dengan Yunho membuat Jaejoong tahu kapan dan bagaimana persendiannya terasa nyeri dan lemas. Sulit mempertahankan berat tubuhnya jika Yunho mencium sedalam ini.

Tas Jaejoong pun jatuh begitu saja. Menyadari Jaejoong kehilangan energi, Yunho melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping wanita itu, sementara Jaejoong meremas lengan Yunho yang terasa begitu keras.

Ia sempurna berada di pelukan Yunho, tubuh mereka terkadang saling bergesekan. Yunho tak hentinya memberi ciuman sampai Jaejoong membalasnya.

Kecup, lumat, terkadang gigit dan lidah pun ikut beraksi dalam ciuman panas mereka.

Jaejoong tak pernah tahu ada ciuman yang seperti ini. Ia memang sudah pernah berciuman dengan Siwon, tapi rasanya berbeda. Ciuman pertama memang terasa mendebarkan tapi yang berikut-berikutnya tak ada sensasi apa-apa.

"Mnghh... Ah.."

"Khhh."

Mendengar desahan Jaejoong, Yunho pun menggeram kecil seakan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Suara desahan pria, rasanya begitu menggelitik.

Kehangatan perlahan menjalar ke seluruh tubuh Jaejoong kemudian berpusat pada satu titik. Ia pun memberanikan diri mengalungkan lengan ke leher Yunho yang sedikit menunduk selama mencicipi bibirnya.

Tubuh mereka menempel sempurna, tak ada celah. Ciuman yang awalnya lembut pun berubah menjadi semakin memburu dan tak tekendali.

"Nghh.." Jaejoong memejamkan mata dengan dahi mengernyit saat Yunho melepas ciumannya dan beralih pada leher kanannya, memberi sebuah gigitan kecil yang cukup untuk membuatnya menggila.

Pria itu bahkan menciumi seluruh bagian leher Jaejoong tanpa jeda, seolah tak ada hari esok.

"Hmmh.." Desahan kedua Yunho, dan itu membuat Jaejoong sadar. Ia harus menghentikan ini semua. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

Jaejoong meletakkan tangannya di dada bidang Yunho, bermaksud untuk menahannya. Tapi begitu tanganya menyentuh dada pria itu, ia tak kuasa, ia justru ingin merobek pakaian Yunho.

"Jaejoong-ah.." Suara seksi Yunho membisikan namanya dengan nada begitu mendamba. Lalu pria itu kembali menciumnya.

Hampir saja Yunho menelanjangi Jaejoong kalau saja wanita itu tak cepat menahan tangannya.

Yunho yang mendapat perlakuan itu segera melepas ciumannya, menyisakan Jaejoong yang terengah. Mereka bertatapan tanpa melepas pelukan. Pikiran Jaejoong kembali tenggelam entah kemana.

Yunho berbahaya, hanya dengan menatapnya saja hasrat Jaejoong meninggi.

Pria itu memberanikan diri mencium telinga dan leher Jaejoong lagi. Membuat Jaejoong segera kembali sadar. Ia berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya.

Ia tak tahu apa yang ada di dalam pikiran Yunho, tapi ia tahu pasti apa yang akan terjadi jika ia terus menyerah di dalam pelukan pria itu meski satu menit saja.

Ia mencoba berdiri di atas kakinya sendiri.

Sudah empat belas tahun berlalu sejak dirinya mendapat menstruasi pertama. Sejak saat itu, entah sudah berapa kali ia ingin merasakan tidur dengan pria. Tentu saja ia pernah berpikir tentang itu, tapi sayangnya pria yang ingin ia jadikan partner bercintanya adalah Siwon.

Untungnya kesalahan itu tak terjadi.

Jaejoong pernah membayangkan hal seperti ini, tapi karena rasanya samar beberapa kali ia sempat memikirkan cara untuk benar-benar merasakannya. Dan sekarang, untuk pertama kalinya hal itu terasa begitu nyata. Gairahnya tersulut, bahkan rasanya ia ingin tidur dengan pria yang baru saja ia temui sore tadi ini.

Ia memang sudah memasuki usia dimana ia sanggup bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Tapi ia teringat kata-kata orang tuanya untuk menjaga diri baik-baik, bahkan kata-kata Changmin ikut menggema di pikirannya.

"Aku harus pergi." Jaejoong berusaha mendorong tubuh Yunho tapi pria itu sama sekali tak bergeming.

"I won't stop this way." Yunho justru mencium bahu Jaejoong yang masih terbungkus kemeja sambil terus bergumam dengan bahasa inggris yang tidak Jaejoong tangkap maksudnya.

"Absolutely, no.." lanjut Yunho.

"Kumohon, aku harus pergi." Jaejoong masih mencoba menahan tubuh Yunho agar ia sendiri tak ikut tenggelam lagi. Dan wanita itu berhasil mendorong tubuh Yunho.

Yunho menahan pergelangan tangan Jaejoong yang berhasil membuka pintu.

"Tunggu."

"Aku harus pergi sekarang, aku tidak mau sesuatu terjadi." Jaejoong menggertakkan giginya, berusaha menahan diri.

"Terima kasih.." Lanjutnya, dan tanpa menoleh lagi, Jaejoong buru-buru pergi ke arah lift.

Yunho berdiri di ambang pintu, menatap kepergian Jaejoong. Ia kembali merasakan peperangan batin. Di satu sisi, ia ingin mengejar Jaejoong. Tapi di sisi lain, ia ingin menahan diri, tentu saja itu pilihan yang paling tepat.

Frustasi dengan pikirannya sendiri, akhirnya direktur muda itu melempar tubuhnya ke sofa empuk tak jauh dari pintu. Mengacak rambut karena otaknya terasa kacau hanya karena seorang Kim Jaejoong.

Astaga, harum tubuh wanita itu bahkan masih tersisa, dan Yunho masih bisa membayangkan saat dimana Jaejoong duduk disini, diatas sofa ini.

"Kim Jaejoong..." Mulutnya tak henti memgucap nama itu.

"Kau tak akan bisa menemukan wanita seperti Sooyoung." Hal yang dikatakan Ilwoo kembali terngiang di telinganya.

Yunho tersenyum sendiri, "Aku menemukannya, hyung.. Wanita yang lebih menarik dari hyongsunim.." lirihnya sambil membayangkan Jaejoong.

.

.

Yunho baru saja selesai mandi, dan saat ia keluar yang pertama ia dapat adalah suara dering ponsel.

Ia terkejut karena menemukan tas Jaejoong masih berada di dekat pintu, ternyata suara itu berasal dari ponsel yang ia yakin milik Jaejoong.

"Junsu?" Yunho membaca nama yang tertulis di display, sama sekali tak berniat mengangkat panggilan itu karena menurutnya itu hal yang tidak sopan.

Sempat terpikir oleh Yunho untuk segera mengembalikan tas itu, tapi ia tak yakin mampu mengendalikan dirinya jika bertemu dengan Jaejoong untuk yang berikutnya lagi.

Seperti yang Jaejoong katakan, jangan sampai terjadi sesuatu.

Yunho pun meletakkan tas itu diatas meja makan ketika sebuah ide bagus melintas di kepalanya. ia pun mengambil ponsel Jaejoong, mengetik nomornya sendiri dan membuat sebuah panggilan untuk ponsenya.

Dengan begini, ia mendapatkan nomor ponsel Jaejoong tanpa harus repot-repot bertemu.

Walau ia tahu bahwa dirinya tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini, ia berbaring dan berusaha menenggelamkan diri di antara bantal dan selimut diatas tempat tidurnya. Sudah beberapa kali ia berusaha memejamkan mata, tapi nyatanya ia terus berharap Jaejoong ada disini.

Di tempat tidur yang sama dengannya.

.

.

.

.

Ini kedua kalinya Jaejoong meminta bantuan staf hotel untuk membukakan pintu kamarnya sendiri. Begitu terbuka, ia langsung masuk tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Sepertinya ia takkan bisa tidur.

Jaejoong tersenyum.

'Sepertinya aku mulai gila.'

Setelah keluar dari kamar Yunho, akal sehat Jaejoong pun kembali. Tapi tetap saja ia tak mampu menyembunyikan rasa gugupnya.

Ia pun beranjak menuju kamar mandi, mungkin berendam di bathtub bisa membuat pikirannya sedikit lebih nyaman.

Tapi saat Jaejoong menenggelamkan tubuhnya di dalam bathtub, kulitnya justru terasa begitu sensitif, sentuhan air justru mengingatkannya pada sentuhan-sentuhan panas Yunho beberapa jam lalu.

Ia tak bisa berhenti membayangkan apa yang dilakukannya bersama Yunho tadi. Ia juga sadar betul kalau ia baru saja melewatkan sebuah kesempatan emas yang tidak akan didapatkannya lagi. Entah kapan ia bisa menatap pria tampan itu lagi.

Jaejoong menyesal, ia kembali membayangkan Yunho, tinggi pria itu sekitar 185 sentimeter dan tak ada yang cacat dari tubuhnya. Rasanya sampau mati pun Jaejoong tidak akan bisa menemukan pria seperti itu. Ia juga mengutuk dirinya sendiri karena berani berbuat sejauh itu di hari pertama bertemu.

'Seperti wanita tak berpendidikan saja.'

Tapi, keluar dari kamar Yunho pun tak membuat dirinya merasa lebih baik, ia justru merasa gelisah dan putus asa.

'Aku bahkan hanya menyentuh sedikit, tapi kenapa efeknya begini besar?'

Tatapan tajam mata Yunho, bibir yang dengan lihai memanja bibir dan bagian tubuhnya, dada dan lengan yang kokoh saat menahan tubuhnya, bahkan nafas hangat yang menerpa wajah serta tengkuknya.

'Aku pasti sudah benar-benar gila'

Sudah berkali-kali Jaejoong mengucapkan kalimat itu pada dirinya sendiri. Setiap Yunho muncul dalam pikirannya, lututnya terasa lemas dan perutnya sakit. Rasanya ngilu menyerang ke seluruh tubuhnya. Waktu mandi tadi Jaejoong membersihkan seluruh tubuh kecuali giginya. Ia tak ingin sikat gigi.

Entah kebiasaan buruk apa yang sedang ia jalani saat ini, tapi ia sengaja melakukannya karena masih ingin merasakan sensasi ketika lidahnya dan lidah Yunho saling bertautan beberapa jam yang lalu.

Membayangkan pria itu membuat Jaejoong tak bisa memejamkan mata. Akhirnya ia bangkit menuju ke kamar mandi dan menyikat giginya.

.

.

.

.

Keesokan harinya, ketika sedang membereskan barang-barang bawaannya, Jaejoong ingat kalau tasnya tertinggal di kamar Yunho.

Ia berniat mengambilnya sekarang, tak mengira jika ia akan punya kesempatan untuj bertemu Yunho lagi. Jantungnya berdebar keras.

'Kalau sudah disana, apa yang harus ku lakukan? Memberitahunya kalau tasku tertinggal atau langsung mengambilnya saja? Aishhh'

Jaejoong terkejut saat membuka pintu kamarnya, ia justru mendapati tasnya tergantung di handle pintu kamarnya sendiri. Begitu melihat benda itu ada disana, entah kenapa Jaejoong merasa kecewa.

Ia pun membawa masuk tas itu dan menyadari jika belanjaannya tadi malam sudah lenyap.

"Apa-apaan ini? Apa dia memakan semuanya?"

Ia pun berpikir, ia harus segera kembali sekarang tak ada waktu untuk kembali berburu ke minimarket. Jadi ia harus membayar seluruh makanan dan minuman itu?

Oh no.

Jaejoong pun menggerutu sebal, sempat terpikir di benaknya apa mungkin Yunho melakukan ini untuk balas dendam karena tadi malam ia hampir menghabiskan cokelat milik pria itu?

Ia selesai berkemas dan segera meninggalkan kamarnya, saat berjalan menuju lift, ia sempat menatap pintu kamar Yunho.

Ah, ia ingin bertemu dengan pria itu sekali lagi.

.

"Saya ingin check-out.."

"Baik, sonnim(Nona).. Bagaimana pengalaman anda menginap di hotel kami?" tanya staf informasi itu dengan ramah.

"Menyenangkan.. Oh iya, saya menghabiskan beberapa makanan dan minuman di kulkas, boleh saya tahu berapa yang harus saya bayar?"

"Semuanya sudah lunas, sonnim.."

"Lunas? Maksudnya?"

"Semuanya sudah dibayar oleh tamu di kamar 1106.."

"1106?"

Yunho! Baguslah kalau begitu. Berarti dia cukup tahu diri karena sudah melenyapkan belanjaanku.

"Ah, kalau begitu bisa tolong bantu saya menghubungi kamar nomor 1106?"

'Setidaknya aku harus mengucapkan terima kasih, dan lagi.. Aku ingin mendengar suaranya..'

"Maaf, saat ini tamu yang ada di kamar 1106 sedang tidak ada di kamarnya."

"Oh begitu.. Baiklah, terima kasih."

Jaejoong akhirnya keluar dari hotel itu dengan sedih. Meski ia tak meninggalkan apapun dan yakin kalau tak ada barang yang tertinggal, ia beberapa kali menoleh menatap hotel itu dengab raut sedih.

"Rupanya aku hanya bermimpi semalam." gumamnya tak puas.

.

.

.

"Dalam rangka apa kau pergi ke Busan?" tanya Jaejoong sambil menaruh lima bungkus camilan di dekat laptopnya.

"Bertemu teman." jawab Changmin.

"Teman? Siapa?"

"Kenapa tiba-tiba kau ingin tahu?"

"Bukan begitu..."

Saat itu Changmin sedang berusaha mengencangkan baut-baut longgar di pintu kamar Jaejoong. Selama ini pintu itu tidak pernah bisa tertutup rapat dan setelah menunda beberapa kali, akhirnya ia meminta Changmin memperbaikinya

Jaejoong terus saja bertanya sambil memperhatikan Changmin. Tapi kelihatannya, Changmin sama sekali tak ingin memberi jawaban yang jelas.

"Di kanan itu juga sepertinya longgar.."

Changmin memeriksa sisi yang ditunjuk Jaejoong. "Oke, akan ku periksa, tolong bantu pegang ini."

"Tunggu sebentar, tiga puluh detik saja!"

"Kau sedang apa?"

"Ikut undian! Pemenang pertamanya tiket piala dunia!" Jaejoong mencoba peruntungannya dengan menggosok nomor yang ada di bungkus camilan itu.

"Jadi kau membeli itu semua untuk ikut undian?" Jaejoong mengangguk polos.

"Sudah ku duga.. Tadinya aku berpikir untuk apa kau beli sebanyak itu."

"Tadi waktu aku ke supermarket, lima bungkus ini sudah direkatkan jadi satu. Lalu.. Aku juga beli dua paket ramyeon, nanti kau bawa saja yang satu tapi berikan bungkusnya untukku."

"Apa yang bisa kau dapat dari ramyeon-ramyeon itu?"

"Kulkas dua pintu!"

"Mau kau letakkan dimana lagi?"

"Kalau aku memenangkannya, akan kugunakan setelah menikah..."

Jaejoong mendekati Changmin dan membantunya memegangi daun pintu.

"Kalau semuanya sudah kau persiapkan satu persatu seperti itu, sepertinya kau tidak akan mengeluarkan uang sedikitpun untuk membeli perabotan."

"Iya.. Bagus kan? Lalu tiket piala dunia akan ku gunakkan untuk bulan madu!"

"Ada yang kurang.. Kurasa kau butuh undian berhadiah pria."

"Kalau itu aku pasti akan kalah.."

Changmin tertawa mendengar jawaban Jaejoong.

"Changmin-ah.. Menurutmu aku menarik tidak?" tanya Jaejoong tiba-tiba.

"Tidak." Jawaban Changmin pun terdengar spontan tanpa pemikiran terlebih dahulu, dan itu membuat Jaejoong kesal.

"Kenapa?"

"Karena aku tidak pernah menganggapmu menarik."

"Memangnya menentukan seseorang menarik atau tidak itu perlu pemikiran mendalam sampai berteman bertahun-tahun? Kau bisa langsung merasakannya kan? Anggap saja ini pertama kalinya kita bertemu."

"Aku tidak merasakannya waktu melihatmu.."

"Ishh.. Kau menyebalkan sekali!"

"Bagaimana bisa aku menilaimu 'menarik' jika kau mengejekku seperti itu?"

"Kalau begitu, menurutmu apa pria lain akan menganggap aku ini menarik?" Mendengar itu, Changmin mencoba menutup pintu untuk melihat hasil kerjanya lalu beralih menatap Jaejoong.

"Tentu saja."

"Dari sisi mana?" Jaejoong lebib antusias ketika mendengar jawaban Changmin kali ini.

"Kau sendiri yang bilang bahwa kau adalah wanita paling cantik di Chungnam kan?"

"Ya.. Itu kan kenyataan."

"Apa-apaan itu?"

"Ehm, menurutmu pria lebih suka wanita lugu atau yang jujur?"

"Itu kan tergantung orangnya.. Omong-omong, kau bersenang-senang di Arizona?"

Lagi, Jaejoong mengangguk dengan raut begitu yakin.

"Memangnya tidak seram saat malam?"

"Menyeramkan bagaimana? Aku bahkan lancar menulis disana. Aku jadi ingin pergi ke tempat semacam itu lagi, tapi harganya pasti akan sangat mahal.

Changmin membereskan peralatannya lalu duduk di samping Jaejoong.

"Ehm..Changmin-ah.. Ketika kau mencintai seseorang.. Eh, maksudku bagaimana rasanya jatuh cinta menurutmu?"

Changmin menatap aneh pada Jaejoong. "Kau kan pernah pacaran dengan Siwon, kenapa bertanya padaku?"

"Aku berpacaran dengannya karena rasa suka saja.. Jadi apa yang kau rasakan saat jatuh cinta?"

Changmin terdiam sesaat, "Tidak bisa berpikir apa-apa."

"Maksudnya?"

"Nafasmu tiba-tiba terasa sesak. Lalu mata dan telinga tertutup."

"Mata dan telinga tertutup?" Jaejoong membeo.

"Ya, tidak ada hal lain yang bisa kau lihat. Saat matamu tertutup pun, yang di pikiranmu hanya satu orang itu saja. Kau juga tidak akan mendengar suara lain, tidak peduli seberisik apa pun suara di sekitarmu, kau hanya mendengar suaranya. Kurang lebih seperti penyakit yang tak bisa disembuhkan."

"Apa kau merasakan hal itu saat berpacaran dengan senior kita?"

"Tidak."

"Lalu, dengan siapa? Setelahnya kan kau tidak pernah punya kekasih lagi."

"Memangnya kau tahu aku punya kekasih atau tidak?"

"Eh? Jangan-jangan kau pacaran sembunyi-sembunyi di belakangku ya?"

"Untuk apa aku melakukan itu? Memangnya kau istriku?".

Jaejoong mendecih, "Siapa tahu kan..."

"Lagipula, kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Ada orang yang sedang kau perhatikan?"

Jaejoong menghela nafas sesaat seolah membuang beban berat dari dalam dadanya.

"Iya, waktu aku melihatnya, jantungku berdebar selalu merasa tidak tenang... Aku selalu bertanya dia sedang apa.. Semacam itu.."

Raut Jaejoong berubah serius, begitupun Changmin yang menatap seksama pada sahabatnya itu.

"Sepertinya kau jatuh cinta."

"Kau yakin?"

"Ya, yakin sekali.. Siapa orang itu?"

"Bi Rain.."

Changmin yang semula serius akhirnya kembali menatap aneh pada Jaejoong.

"Sepertinya harus ada yang menyadarkanmu." Changmin terlihat seperti akan memukul Jaejoong dengan kepalan tangannya. Tapi kemudian ia bangun dan beranjak menuju pintu kemudian memakai kembali sandalnya. Jaejoong mengikuti di belakang.

"Kalau aku jadi lebih sering spontan dalam melakukan sesuatu, dan aku... Hanya ingin menikah dengan pria itu, apakah itu juga bisa disebut cinta?" Tanya Jaejoong lagi.

"Jaejoongie.."

Changmin memasang ekspresi termanisnya sambil menepuk pundak Jaejoong, "Buang rasa cintamu itu, tidak mungkin itu akan terwujud."

"Memangnya kenapa?" protes Jaejoong.

"Kau pikir Rain yang artis itu sudah gila dan mau menikahimu?" Jaejoong mem-pout-kan bibirnya.

"Ya sudah! Sana pergi!" Jaejoong pun membuka pintu lalu mengusir Changmin.

Sambil menggerutu, ia pun kembali ke depan laptopnya dan mulai menulis lagi.

.

.

.

Ilwoo memperhatikan Yunho selama rapat berlangsung, entah apa yang terjadi pada adik sepupunya itu hingga ia tersenyum terus.

Ia pun menghampiri Yunho begitu rapat selesai.

"Kau baik-baik saja?"

"Iya."

"Ada sesuatu yang terjadi padamu kan?" Mendengar pertanyaan Ilwoo tentu saja Yunho tertawa.

"Ada apa?"

"Tidak apa-apa, sungguh."

Yunho berdiri dari kursinya. Memang menyenangkan, selama rapat yang ada di kepalanya hanyalah Jaejoong. Wajah Jaejoong. Suara Jaejoong. Dan bagaimana rasa bibir manis Jaejoong tersisa hingga detik ini. Tapi ia masih tidak ingin membicarakannya dengan siapa-siapa, karena belum ada perkembangan apa-apa.

"Sepertinya kau sedang menyembunyikan sesuatu."

"Tidak, hyung."

Ilwoo hanya mampu tersenyum karena merasa tebakannya benar. Mereka baru akan meninggalkan ruang rapat saat ketua Tim Produksi masuk ke ruangan itu.

"Penulis naskah film samak sudah tiba, sajangnim."

"Ah, aku hampir lupa kalau masih ada rapat lagi. Kalau begitu kita bicarakan di ruangan saya saja, kau juga ikut, Yunho-yah.." jawab Ilwoo.

Ketua Tim Produksi bersama penulis skenario samak, film kolosal Korea yang rencananya akan digarap Walden Pictures sebagai film hollywood tahun ini. Penulis skenario itu ternyata seorang perempuan.

"Sajangnim, perkenalkan.. Ini Go Ahra." ucap ketua Tim Produksi.

"Senang bertemu anda, nona Go."

"Annyeonghaseyo, sajangnim.. Saya juga senang bertemu dengan anda." Ilwoo menyodorkan tangan yang lantas disambut oleh Go Ahra. Ilwoo tersenyum melihat kesantunan Ahra.

"Oh iya, perkenalkan Direktur Walden Pictures, Jung Yunho." Ilwoo memperkenalkan Yunho pada Ahra yang kemudian membungkuk hormat pada sang direktur muda.

Ilwoo pun meminta mereka duduk agar lebih santai berbicara, dan beberapa saat kemudian sekretaris Ilwoo datang membawa minuman.

"Saya dengar ada beberapa bagian yang diubah, ada kesulitan?" tanya Ilwoo.

"Kami tidak menemui masalah yang berarti, sejauh ini penulis Go dan tim produksi bisa bekerja sama dengan sangat baik."

Selama Ketua Tim Produksi memberikan jawaban, Ahra hanya bisa tersenyum.

"Sebelumnya Penulis Go pernah terpilih sebagai pemenang di sebuah lomba menulis yang diselenggarakan oleh Hageo Production. Semua karyanya selalu sukses."

Sepintas, Ilwoo menjelaskan profil Ahra, tapi dari penjelasan singkat itu bisa terlihat bahwa kerja keras Ahra terbilang cukup bagus.

"Sampai saat ini saya baru menghasilkan tiga karya." kata Ahra menambahkan dengan nada rendah hati.

"Baru? Jangan terlalu merendah, Penulis Go.."

Yunho menganggukkan kepala, sependapat dengan Ilwoo.

"Sudah jelas peran Produser itu penting, akting para Pemeran juga penting, tapi itu semua tidak akan berarti tanpa skenario yang baik."

Ilwoo menyampaikan pendapatnya dengan serius.

"Kami yakin karya anda kali inipun akan kembali sukses. Kami percaya kemampuan Penulis Go akan membuat film kami ini sukses."

Ahra tersenyum, "Cara sajangnim mengatakannya membuat saya sedikit terbebani." kata Ahra dengan raut wajah sedikit khawatir.

"Ah, saya tidak bermaksud seperti itu."

"Saya akan berusaha sebaik mungkin." jawab Ahra dengan mata berbinar.

"Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Bagaimana Ketua Tim?"

"Tidak masalah."

"Lalu Penulis Go? Bisa bergabung dengan kami?"

"Tentu saja."

Ilwoo melirik Yunho, "Yunho, kau juga harus ikut."

"Maaf, saya sudah terlanjur membuat janji." Yunho tersenyum pada hyung-nya.

"Janji? Dengan siapa?" Ilwoo menautkan alisnya.

"Dengan seorang yang sangat penting."

Well.. Sebenarnya janji itu baru akan dirancangnya. Malam ini Yunho sengaja meluangkan waktunya.

"Sayang sekali."

Mendengar komentar Ilwoo, Yunho pun tertawa.

Ilwoo menaikkan sebelah alisnya, "Kau ingin aku berpura-pura tidak paham dengan apa yang terjadi padamu?"

"Belum waktunya aku menceritakannya, hyung."

"Baiklah.."

Ahra memperhatikan percakapan Ilwoo dan Yunho dengan seksama. Menurut informasi yang Ahra dapat, para penggerak Walden bersaudara semuanya tampan. Dan kini ia mengakuinya, melihat mereka memang benar-benar tampan, dan sesuai penyelidikannya juga, Ahra tahu kalau hanya Yunho yang belum menikah diantara lainnya.

Menurut Ahra, Yunho-lah yang paling tampan. Jung Yunho, Direktur Walden Pictures. Tak ada lagi kata-kata yang bisa menggambarkan kesempurnaan seorang Jung Yunho. Ia tampan, berkharisma, tegas, dan seksi.

Ahra tentu saja berhasrat ingin membuat lelaki itu menjadi uaminya.

Hanya Yunho satu-satunya yang belum menikah, apalagi setelah Ahra melihat kenyataan bahwa kedua kakak sepupunya menikah dengan gadis dari kalangan biasa. Ia jadi semakin bertekad untuk mendapatkan Yunho.

'Tunggu, orang penting?' Ahra ingin tahu siapa yang dimaksud Yunho.

'Jangan-jangan perempuan.'

Tanpa alasan yang jelas, Ahra merasa cemburu. Meski benar yang ditemui Yunho adalah wanita, ia tetap tak akan menyerah.

"Penulis Go, anda tentu tahu bahwa kami menyelenggarakan lomba menulis skenario." tanya Ilwoo.

"Ya, saya tahu itu, sajangnim.." Ahra sedikit melirik Yunho.

"Begini.. Saya tahu anda sibuk, tapi bagaimana kalau anda menjadi bagian dari juri?"

"Oh? Apa menurut sajangnim, saya pantas?" Ahra merendah.

"Saya rasa anda mampu menjalankannya dengan baik."

"Kalau memang diizinkan, saya ingin ikut ambil bagian." Ahra berusaha menahan luapan kebahagiaaannya dan tersenyum kecil.

"Bagaimana kalau kita lanjutkan obrolan ini sambil makan malam?" Ilwoo memanggil sekretarisnya melalui interphone, "Kami akan makan malam bersama, tolong pesankan tempat."

Begitu mereka berdiri, Yunho segera berpamitan. "Kalau begitu, saya mohon diri terlebuh dahulu."

"Ya, hati-hati... Kau masih di Arizona kan? Sempatkanlah main ke rumah." Ilwoo menepuk pundak Yunho.

"Arasseo, hyung.."

'Arizona?' Ahra sekarang tahu bahwa Yunho tinggal di hotel Arizona.

"Kalau begitu kami juga pamit.." ucap Ketua Tim Produksi dan Ahra.

"Baik, nanti ku hubungi lagi jika sudah waktu makan malam."

Ahra pun membungkukan badan kemudian menyusul Yunho.

"Direktur Jung Yunho, apa anda sudah membaca naskah samak?" tanyanya sambil berusaha mengimbangi langkah Yunho.

"Oh.. Sudah, Penulis Go."

Dibandingkan tadi, atmosfernya terasa berbeda. Yunho sempat menatap cara berpakaian Ahra sekilas.

Ahra mengenakan rok sifon berwarna putih gading dengan ornamen renda dan mengombinasikanya dengan blus. rambutnya berwarna terang, lurus dan pun seperti boneka, benar-benar impian para pria. Ahra yang sadar sedang di perhatikan pun tersenyum dengan penuh percaya diri.

Ia harus memiliki lelaki ini, ia harus memiliki Jung Yunho.

"Jika menurut anda ada yang harus saya revisi, saya akan lakukan."

"Tidak, saya rasa sudah cukup menarik."

Yunho semakin banyak ditanya, namun Yunho hanya menjawab singkat.

Sangat terlihat bahwa perjuangan mendapatkan Yunho akan lebih sulit dari bayangannya, karena jelas Yunho tak tertarik pada perempuan itu.

Mereka pun berpisah saat sekretaris Yunho datang memberitahu beberapa urusan.

Ahra hanya mampu menatap kepergian Yunho sambil tersenyum licik.

'Dia tinggal di Arizona.'

.

.

.

Jaejoong sedang berada di bank untuk mencetak buku tabungannya. Dia ingin memastikan uang royalti sudah masuk ke dalam rekeningnya.

Ponsel Jaejoong berdering.

"Yeobseyo? Siapa?" Awalnya Jaejoong mengira itu adalah nomor gelap tapi karena deringnya tak juga berhenti jadi ia memutuskan untuk mengangkatnya.

[Kim Jaejoong-sshi?]

"Iya, maaf.. Ini siapa?" dahi Jaejoong mengernyit samar.

[Ini aku, Yunho.]

"Yunho? Yunho... Oh! Jung Yunho?!"

Itu nama pria yang ditemuinya di hotel Arizona kan? Jaejoong benar-benar terkejut. Ia pikir tak akan ada kesempatan seperti ini lagi. Bahkan ia sedikit mulai lupa akan keberadaan Yunho. Namun saat ini pria itu menghubunginya.

"Iya, ada apa Yunho-sshi?"

Jantung Jaejoong berdebar-debar ia berteriak senang di dalam hati, Yunho benar-benar menghubunginya!

[Sudah cukup lama ya sejak hari itu.]

"Uhm.. Yah.. Ohya, bagaiamana kau bisa tahu nomorku?"

[Waktu tasmu tertinggal, aku menyimpan nomormu.]

"K-kau menyimpannya? Untuk apa?"

[Karena ingin. Maaf aku tidak sopan.]

"Ah, tidak... Tidak ada yang perlu dimaafkan."

'Aku justru bersyukur.'

"Mm... Ada apa tiba-tiba menghubungiku?"

[Aku ingin mengajakmu makan malam bersama.]

"Makan? Maksudmu.. Kau mengajakku bertemu?"

Nada suara Jaejoong meninggi, semua orang langsung memperhatikannya. Jaejoong lupa kalau saat ini ia ada di tempat umum.

[Iya.. Aku ingin bertemu denganmu.]

Jaejoong nyaris saja berteriak senang mendengar kalimat itu. Yunho bilang ia ingin bertemu dengannya.

[Tapi kalau kau sedang sibuk—]

"Tidak.. Tidak.. Aku tidak sedang sibuk."

Yunho tak ada di hadapannya, tapi ia bicara sambil menggoyang-goyangkan tangannya.

[Jadi kau menerima undangan makan malamku?]

"Iya."

Jaejoong senang setengah mati. Tapi ia menahannya, ia harus menjaga tingkah lakunya.

[Kalau begitu, tolong beritahu alamatmu. Aku akan mengirimkan mobil kesana.]

"Mobil? Mobil apa?"

[Mobil untuk menjemputmu, Jaejoong-sshi.]

'Mobil?'

"Sepertinya tidak perlu."

[Sudahlah, tolong beritahu saja alamatmu.]

"Sungguh tidak apa-apa. Aku bisa naik subway."

[Aku akan mengirimkan mobil.]

Karena Yunho terus memaksa, Jaejoong tidak memiliki pilihan lain selain memberitahu alamatnya. Dia sudah menolak dua kali, tapi di kali ketiga Jaejoong tahu ia akan bisa menang.

[Kita bertemu nanti.]

"Baiklah."

Setelah Yunho menutup sambungan, Jaejoong buru-buru pulang dan mulai bersiap-siap. Sebenarnya dia masih punya banyak waktu, lebih dari dua jam sampai mobil yang dikirim Yunho memjemputnya. Tapi, karena terlalu bersemangat dan tidak sabar, Jaejoong sedang tak menjadi dirinya sendiri.

Ia terlalu senang.

.

.

.

.

.

to be Continued.

.

.

Bagian kedua!

Gomawo buat semua respon positifnya... ({})

Ini udah edit, tapi kalo masih ada kesalahan saya minta maaf...

Susah juga nyempetin nulis waktu kuliah tetep aktif gini, tapi saya usahain ngetik setiap ada waktu kosong.

Setiap baca review kalian, saya jadi semangat buat ngetik, berusaha buat update cepet meski susah.. Maklum yeh.

..

Disini Ahra udah nongol, tapi seperti ff sebelumnya, saya gak akan bikin salah satu dari YunJae ngelirik orang ketiga. Karena saya gak suka itu :D

Ok, see ya in the next chap! :)))))

.。.:*・° .。.:*・° .。.:*・° .。.:*・°

SPECIAL THANKS TO :

Han Yura || LEETEUKSEMOX || Gu gu || an sari 397 || jonggiebear || MyBabyWonKyu || jjbear || Shim shia || Lilin Sarang Kyumin || rinrin muetz || ruixi1 || devimalik || ayudessy1222 || Yunjae yewonkyu || michomichobaby || Park July || akiramia44 || birin rin || meybi || Jung Jaehyun || jongindo || azahra88 || Pusphita94 || my yunjaechun || Ai Rin Lee || gwansim84 || yoon HyunWoon || tri loveyunjae || Pumpkins Yellow || mandakyumin || Ryani51 || littlecupcake noona || shanzec || sari || alby || risza || aismamangkona || rikurijung || kiimnensi || iche cassiopeiajaejoong || Park FaRo || Rly C Jaekyu || Dhea Kim || Ky0k0 || cho ri rin || dreamers girl || irna lee 96 || Anggunyu || Himawari23 || Shen || miracle || Lawliet Jung || Rahma94 || BaekXoLove614 || Iizuka myori || bambidola || dokbealamo || YunjaeDDiction || bebe fujo || Suchan || yunia || Mrspark6002 || park yooki || MYunjae || ShinJiWoo920202 || chanbaekyu || miu sara || ClouDyRyeoRez || Rly C Jaekyu || CassYJ.

Dan buat para Guests serta Silent readers

.

Hugs and kisses for u all~ :*

.

.

.

Sign,

Cherry YunJae.