the Last 2%
a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae.
.
Jaejoong, Yunho, Changmin, Siwon, Junsu, Go Ahra, and others.
YUNJAE Slight!WonJae.
T-M Rated.
Drama/Romance.
WARNING! GENDERSWITCH! Typos everywhere! Out of Character!
.
DON'T LIKE, DON'T READ! Told ya before!
.
.
[ © Sebuah remake dari novel milik Kim Rang dengan judul yang sama(2006), cerita sepenuhnya milik Kim Rang hanya beberapa yang saya ubah termasuk casts dan latar untuk keperluan cerita. ]
.
.
.
.
Bagian Ketiga.
.
.
.
'Kenapa aku merasa sangat bersemangat?'
Jaejoong sibuk memilih sederetan baju di lemarinya yang kira-kira cocok ia pakai untuk makan malam bersama Yunho nanti.
Walaupun sudah sedikit melupakan, sebenarnya Jaejoong tetap menunggu saat ia bisa bertemu dengan pria itu lagi.
Rasanya tak sabar ingin melihat wajah Yunho. Belakangan, saat menonton Televisi, Jaejoong justru teringat akan desahan menggoda milik Yunho. Setiap ia pergi ke supermarket, ia akan teringat pada Yunho jika melihat deretan kotak cokelat.
Rindu.
Ya, Jaejoong merindukan Yunho.
Ia sendiri tak mengerti bagaimana bisa ia merindukan orang yang baru saja ia temui satu kali. Tapi ia sadar betul kalau yang ia rasakan ini adalah rindu.
Jaejoong menatap cermin, mengoleskan sedikit lip-balm tanpa bisa menghentikan debaran menggila di dadanya.
'Ok, stop.. Kau harus bisa mengendalikan dirimu sendiri nanti, Kim Jaejoong.' sugestinya dalam hati.
Jaejoong memang tipe yang sangat jujur dalam berekspresi, karena itu ia merasa susah sekali mengendalikan dirinya sendiri. Ia ingin sekali bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik untuk beberapa situasi, tapi Jaejoong terlahir seperti ini, ia tidak bisa berpura-pura di hadapan orang lain.
Sebenarnya ia sedikit khawatir kalau Yunho memandangnya sebagai wanita gampangan karena tanpa ragu menerima undangan makan malam itu. Tapi Jaejoong sudah terlanjur tenggelam dalam rasa senangnya sendiri.
'Hmhh..'
Jaejoong yang sedang mengganti baju tiba-tiba teringat akan suara desahan saat Yunho menciumnya.
'Jaejoong-ah..' Juga suara seksi dari bibir menggoda Yunho ketika pria itu menempelkan bibir di tengkuknya.
"Omo!" Jaejoong memejamkan mata lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia bisa merasakan wajahnya yang tiba-tiba panas. Tak habis pikir, kenapa harus teringat hal semacam itu di saat seperti ini.
'Tidak, tidak boleh. Hanya makan malam. Tidak lebih!'
Karena Jaejoong yakin, jika nanti mereka berciuman lagi, ia tak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri lagi.
Jaejoong berjanji, ia hanya akan makan malam dan langsung pulang. Tapi, memikirkan hal itu, ia jadi merasa konyol.
Memangnya Yunho akan mengajak lagi? Mereka kan memang hanya akan makan malam.
Gadis itupun menertawakan dirinya sendiri.
.
.
.
Singkatnya, Jaejoong dijemput oleh seorang pria paruh baya dengan sebuah Mercedes Benz S-Class hitam mengkilap menuju hotel Arizona.
Si sopir tidak mengucapkan sepatah kata pun sampai akhirnya mereka tiba di hotel Arizona. Inilah pertama kalinya Jaejoong bertemu sopir yang tak banyak bicara, jadi ia pun ikut tutup mulut.
Sebenarnya Jaejoong ingin sekali bertanya Yunho bekerja dimana, karena tentu saja sebuah Mercedes Benz mewah lengkap dengan seorang sopir pasti bukan milik orang sembarangan. Tapi Jaejoong tidak ingin terlihat seperti orang yang ingin tahu segalanya.
'Yunho pernah bilang kalau ia tinggal di Amerika, tapi ia juga punya mobil dan sopir.. Tinggal di Amerika artinya ia bisa kembali setiap saat.'
Jaejoong tak tahu kapan Yunho akan kembali ke Amerika, tapi memikirkannya saja sudah membuat Jaejoong sedih. Yunho memang tinggal di sana kan? Jadi dia bisa kembali kapan pun. Dan jika nanti Yunho kembali ke Amerika... Jaejoong hanya bisa menghela nafas.
Mereka pun sampai di depan hotel Arizona. Pintu mobil dibukakan oleh si sopir tanpa suara, Jaejoong benar-benar merasa seperti tuan putri malam ini.
"Silahkan, Direktur sudah menunggu di restoran itu." ajak si sopir.
Jaejoong sedikit kaget saat mendengar panggilan si sopir itu.
'Direktur?'
Berjalan diiringi sang sopir, Jaejoong baru saja membatin bahwa steak di restoran ini pasti sangat enak sampai ia melihat sosok Yunho di pintu masuk.
Pria itu menggunakkan stelan jas formal licin berwarna hitam.
Mereka bertemu di jarak yang sangat dekat.
Dan setelah meminta sang sopir meninggalkan mobil untuknya, Yunho mengajak Jaejoong ke sebuah sudut dimana kursi dan meja tertata rapi.
Mereka duduk berhadapan, "Bagaimana perjalananmu ke sini? Cukup nyaman?"
Jaejoong tersenyum, "Bagaimana mungkin tidak nyaman? Aku duduk di dalam sebuah Benz mahal." Mendengar jawaban itu, Yunho tertawa kecil.
Gadis itu memperhatikan sekitar, banyak orang yang terlihat datang dengan pakaian kasual, sementara Jaejoong datang dengan sebuah dress berwarna hitam.
"Apa aku salah kostum?"
"Sama sekali tidak, kau terlihat sangat cantik dan anggun dengan dress itu. Lagipula kostum kita jadi cocok kan?"
Jaejoong sedikit tersipu.
Yunho dan Jaejoong memesan makanan setelahnya dan mereka sedikit berbincang ringan sambil menunggu pesanan datang.
"Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja?"
"Tentu saja, kau sendiri? Masih tinggal disini?" Jaejoong balik bertanya.
Yunho mengangguk.
"Wah, kau pasti kaya sekali! Selain tinggal di hotel mewah, kau juga memiliki Benz." Kata Jaejoong berhati-hati karena takut menyinggung Yunho.
"Tidak seperti itu, hanya sepantasnya saja."
Jaejoong tidak tahu apa yang dijadikan tolak ukur 'pantas' oleh Yunho.
"Oh ya, apa kau terkejut karena aku menghubungimu?"
"Ya, bisa dibilang begitu." Sebenarnya lebih tepat disebut 'Senang' dibanding 'Kaget'. Tapi Jaejoong tak ingin terlalu memperlihatkannya.
"Waktu itu aku ada urusan mendadak, jadi tidak bisa menemuimu lagi."
"Ohya, katanya kau membayar isi kulkas-ku, kenapa kau melakukan itu?"
"Tidak ada alasan khusus.."
"Sebenarnya, aku kaget saat menemukan tas-ku tergantung di pintu dan kosong. Ku pikir kau meminta ganti rugi dari cokelat yang sudah ku makan."
Jaejoong berhasil membuat Yunho tertawa.
"Hahaha... Jaejoong-sshi, kau benar-benar menyenangkan." jawabnya tak sesuai dengan topik yang dibahas Jaejoong.
Jaejoong hanya terdiam menatap pria itu sampai berhenti tertawa.
"Ah, maaf.. Omong-omong, kegiatanmu sehari-hari apa?" Yunho menghentikan tawa itu dan berusaha kembali berbincang.
"Aku menulis."
"Oh.. Penulis ya.."
Mendengar kata 'Penulis', Jaejoong merasa malu. Karena dia sama sekali tidak terkenal dan belum punya karya tulis yang bisa dibanggakan sama sekali.
"Tapi aku tidak terkenal.." lirih Jaejoong.
Ia merasa sedikit malu saat memberi jawaban itu, tapi tak sedikitpun Yunho memberi tatapan merendahkan pada perempuan di depannya itu.
"Menulis novel?" Sebaliknya, Yunho justru terlihat tertarik. Ia mengiris steak-nya sambil terus berbincang.
"Tidak, aku lebih banyak bergerak di drama atau film. Sekarang ini aku juga sedang menulis alur cerita untuk buku cerita bergambar..."
"Drama atau film?" Ulang Yunho.
"Iya, menurutku... Membuat naskah untuk drama dan film itu menantang sekali. Dan, saat ini aku masih terus mencoba mengerjakan sesuatu. Tapi untuk pemasukan, aku bekerja untuk buku cerita bergambar itu."
Yunho mengangguk paham. Ia baru tahu kalau Jaejoong ingin menulis skenario film atau drama.
"Apa saat ini kau sedang mempersiapkan skenario untuk drama atau film?" tanya Yunho.
"Ya, sedang ada lomba menulis skenario dan aku berniat mengirimkan skenarioku nanti."
Saat Jaejoong akan mengiris daging steak-nya, Yunho mengambil piring Jaejoong dan menukar dengan miliknya. Nafas Jaejoong tercekat, Yunho perhatian sekali.
"Kau tidak perlu begini."
"Sudahlah, selamat makan."
"Terima kasih." Jaejoong mulai menyantap daging yang sudah diiris rapi oleh Yunho tadi.
"Oh ya, lomba skenario itu.. Siapa yang mengadakannya?"
"Walden Korea. Awalnya mereka hanya menangani distribusi film asing saja, kali ini mereka akan memproduksi film mereka sendiri jadi mereka membuat lomba menulis skenario itu. Kau tidak pernah mendengar Walden group di Amerika?"
Saat Jaejoong menyebut 'Walden Korea' rasanya Yunho senang setengah mati.
"Sepertinya aku belum pernah mendengarnya." Jawab Yunho pura-pura tidak tahu.
"Seperti yang ku bilang tadi, Walden Korea adalah perusahaan multinasional berskala besar."
Mendengar Jaejoong semangat bicara sendiri, Yunho hampir tertawa. Tahu tapi memilih untuk berpura-pura tidak tahu, atau sebaiknya ia mengaku saja kalau memiliki hubungan dengan Walden Korea?
Ah, tidak. Yunho lebih senang menutup mulutnya.
"Ohya, Yunho-sshi.. Kau tinggal di Amerika, jadi sedang ada bisnis apa di Korea? Kudengar tadi sopirmu memanggilmu 'Direktur'.."
"Sebenarnya yang sedang menjalankan bisnis itu kakak sepupuku, aku hanya kemari untuk membantunya, dan mobil serta sopir tadi itu hanya pinjaman dari kakak sepupuku."
"Ooh.. Kapan kau kembali ke Amerika?"
"Entah, aku belum tahu."
Sebenarnya ingin sekali Jaejoong berkata 'Tinggalah di Korea saja.' tapi tentu saja tidak mungkin ia mengatakan hal semacam itu. Memangnya ia siapa?
"Omong-omong, usiamu berapa?"Jaejoong mengalihkan topik.
"Uhm, 32.. Kenapa?" Jawab Yunho.
"32?"
'Empat tahun diatasku..'
"Aku 28 tahun..."
Yunho terkejut lalu mengamati wajah Jaejoong, "28? Kau 28 tahun?!"
"Iya... Kenapa? Aku terlihat lebih tua dari itu ya?" Jaejoong memasang wajah cemberutnya.
"Bukan.. Bukan itu maksudku! Bahkan ku pikir kau masih di awal dua puluhan."
Mendengar itu membuat Jaejoong ingin tersenyum, "Banyak yang bilang aku ini baby face." katanya menyombong, tapi kalimatnya itu membuatnya jadi merasa tidak enak sendiri.
"Aku hanya bercanda." lanjut Jaejoong.
Yunho pun justru tertawa.
Makan malam ini begitu menyenangkan. Hidangan yang disajikan pun sangat enak. Sejujurnya, Jaejoong tak peduli dengan rasa makanan yang baru saja dihabiskannya, yang terpenting adalah ia bisa bicara dan menatap Yunho.
"Kau mau jalan-jalan?" Pertanyaan Yunho datang di saat yang tepat, karena sebenarnya Jaejoong merasa sangat kenyang dan ia perlu sedikit menggerakkan tubuhnya. Ia jadi ingat ada sebuah jalan setapak di dekat hotel ini.
Dan setelah mengajukan idenya, Yunho mengajak Jaejoong menuju jalan setapak itu.
.
Mereka berjalan di bawah temaram lampu-lampu taman di sisi kanan-kiri. Belum ada pembicaraan yang terbuka setelah mereka meninggalkan restoran, hingga Yunho memutuskan untuk membuka mulut.
"Apa kau pernah memikirkanku?" tanyanya, membuat Jaejoong berdebar-debar.
Langkah keduanya terasa ringan, sengaja berlama-lama mengambil langkah agar bisa saling menatap.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Jaejoong terkejut akan jawabannya sendiri. Sementara bagi Yunho, jawaban Jaejoong terdengar menakjubkan.
"A-ah itu.. Maksudku... Anu.. Aishh.. Bodoh sekali aku..." Jaejoong tiba-tiba merasa bodoh dan ingin sekali menggigit lidahnya sendiri, namun Yunho menggenggam tangannya.
"Aku juga.. Aku merindukanmu.."
Jaejoong mendadak tersenyum manis mendengar hal itu, ditambah lagi Yunho menggenggam erat tangannya.
"Mm.. Maaf, tapi apa ini tidak terlalu berlebihan?" Tanya Jaejoong hati-hati sambil menatap pada tangan Yunho yang menggenggamnya erat.
"Kenapa memangnya? Kita kan akan menikah."
Mata Jaejoong melebar saat mendengar itu. "Eh? Waktu itu kan aku sudah bilang padamu. Aku hanya bicara sembarangan.. Kau masih mengingatnya sampai sekarang?"
"Tentu saja.. Mana mungkin aku melupakan kalimat yang diucapkan oleh wanita yang sangat ingin ku nikahi." Jawab Yunho santai. Raut Jaejoong seolah berkata 'Kau ini sedang bercanda atau apa sih?'
"Saat jalan-jalan seperti ini, kakak sepupuku selalu menggenggam erat tangan istrinya.. Aku juga ingin sekali merasakan hal itu dan ternyata rasanya memang menyenangkan."
"Kau tidak pernah melakukan itu? Memangnya kau tidak punya kekasih di Amerika?"
Yunho menggeleng.
"Omo! Bagaimana mungkin perempuan disana mengacuhkanmu? Kalau aku jadi mereka, aku bahkan akan segera menangkapmu."
Yunho lagi-lagi tertawa kecil mendengar komentar Jaejoong.
"Uhmm.. Kalau boleh jujur.. Sebenarnya aku gugup sekali karena tidak pernah berkencan seperti ini."
"Ohya? Kencan seperti ini?" Yunho mengulang bagian kalimat yang tak ia mengerti.
"Iya.. Maksudku.. Makan malam bersama orang yang tidak sepenuhnya ku kenal.. Lalu jalan kaki sambil bergandengan tangan seperti ini."
"Aku juga gugup."
"Benarkah? Kau juga?"
Yunho mengangguk, "Ini pertama kalinya aku mengajak seorang perempuan yang belum terlalu ku kenal, makan malam."
"Tidak mungkin..." Jaejoong menyipitkan matanya seolah berkata 'Jangan bercanda'.
Jaejoong mulai melangkah lagi, tapi Yunho tak bergerak dari posisinya dan justru menarik Jaejoong mendekat
"Kenapa?" tanya Jaejoong.
Tiba-tiba saja Yunho melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jaejoong.
"A-apa yang kau lakukan?" Bersentuhan langsung dengan Yunho membuat Jaejoong tidak bisa berkata apa-apa. Kedekatan fisik ini membuat Jaejoong tergagap.
"Aku hanya ingin memelukmu." Bisik Yunho.
Ingin rasanya Jaejoong berteriak.
Suara itu. Suara Yunho mampu membuatnya meleleh.
"Ma-maaf... Kau membuatku bingung." Jaejoong mengatakannya dengan suara seolah-olah ia akan pingsan. Yunho menempelkan wajahnya di leher Jaejoong sehingga ia bisa merasakan jelas hembusan nafas Yunho.
"Aku tidak akan melakukan hal lain. Hanya ingin memelukmu sebentar saja."
'Padahal kalau kau mau melakukan lebih pun tidak apa-apa.' Pikir Jaejoong.
Jaejoong mencoba untuk tidak pingsan di tempat. Ia masih berada di dalam pelukan erat Yunho saat melihat pasangan lain yang mendekat sambil berpegangan tangan.
"Y-Yunho-sshi.. Ada yang datang." Jaejoong berusaha mendorong tubuh Yunho, tapi alih-alih bergerak, Yunho makin mempererat pelukannya. Membiarkan pasangan itu berlalu sambil menatap kemesraan mereka.
"I can't let you go." Bisik lelaki itu lagi.
Jaejoong sama sekali tak menangkap maksudnya. Ia hanya mencoba tetap diam.
"What should i do to keep hugging you this way?"
Jaejoong tetap mematung dan membiarkan Yunho mencium pipinya. Apa sebenarnya yang dikatakan Yunho?
"Ayo, kuantar pulang." Ucap pria itu tiba-tiba setelah melepas pelukannya. Yunho mengucapkannya dengan nada memaksa, jadi Jaejoong sama sekali tak bisa menolak.
Seperti yang dilakukan oleh sopirnya tadi, Yunho membukakan pintu untuknya. Tapi kali ini Jaejoong tak duduk di kursi belakang. Ia duduk di samping kursi kemudi. Di samping Yunho.
Di dalam mobil, Jaejoong hampir-hampir tak bisa menghilangkan pikirannya tentang kemungkinan Yunho mengajaknya menikah. Yang bertanya maupun yang seharusnya memberi jawaban sepertinya sama-sama kehilangan akal sehat hanya karena mereka bertemu untuk kedua kalinya.
"Seperti apa jalan ceritanya?"
Yunho bertanya di tengah-tengah usaha Jaejoong memberi panduan menuju tempat tinggalnya karena Yunho tak begitu paham jalanan Seoul.
"Apanya?"
"Skenario yang sedang kau kerjakan."
"Oh.. Itu rahasia~"
"Rahasia?" Yunho membeo.
"Aku tidak ingin menceritakannya sembarangan, karena aku pernah punya pengalaman buruk."
"Oh ya?"
Jaejoong tersenyum, "Ku rasa, kau tidak akan tertarik mendengar cerita tentang bagaimana temanku menyakitiku."
"Tapi aku ingin mendengarnya."
"Apa kau akan mengerti?" tanya Jaejoong.
"Tentu saja."
"Uhm..Beberapa tahun lalu, ada perlombaan menulis skenario yang rencananya akan ku kumpulkan. Ah, di depan belok kiri, di persimpangan itu."
"Oke, lalu?" Yunho bertanya sambil pelan-pelan berpindah jalur.
"Ketika belajar membuat skenario, aku punya dua teman baik, kami bertiga sama-sama menyiapkan dengan baik untuk mengikuti lomba itu. Nama perusahan yang mengadakan lomba itu apa ya? Hmm.. Kalau tidak salah, Hageo. Oke, lalu sambil terus mengerjakan skenario masing-masing, kami saling berbagi cerita tentang skenario kami siapa tahu ada ide lain yang bisa muncul. Lalu, salah satu dari kami menang, tentu saja aku kalah."
"Lalu?"
"Skenario temanku yang menang itu dijadikan film. Tapi saat aku pergi menontonnya, ternyata film itu dibuat berdasarkan skenario buatanku."
Jaejoong terdiam sesaat, "Dan tiba-tiba temanku itu tidak bisa dihubungi. Aku berusaha menghubungi perusahaan yang membuat film itu dan memprotes mereka, tapi mereka malah memintaku membawa bukti dan mengancam akan menuntutku jika aku bicara sembarangan. Belum lama ini aku bertemu lagi dengannya, dia sama sekali tak meminta maaf. Bagaimana bisa dia begini terhadap temannya sendiri? Mengkhianati kepercayaanku begitu saja."
"Oh, jadi idemu dicuri?"
"Iya, dia mencuri karyaku dan kau tahu apa yang lebih lucu? Dia sekarang terkenal dan menjadi salah satu penulis skenario ternama. Memang dia punya kemampuan, tapi tetap saja aku tidak menyukainya."
"Sepertinya temanmu itu tidak begitu sulit untuk dibenci."
"Tepat sekali! Nanti di depan belok kanan."
"Oke."
"Sebenarnya ini memalukan, tapi.. Kami memulai bersama-sama dan semuanya berhasil kecuali aku. Junsu sedang menggarap mini drama, dan Ahra juga pasti sibuk."
"Ahra?"
"Hum? Oh.. Orang yang mencuri naskahku itu namanya Go Ahra."
"Go Ahra?"
Yunho terkejut karena beberapa jam yang lalu ia baru saja bertemu Go Ahra di kantor. Go Ahra yang sedang menyelesaikan naskah Samak dengan dana dari Walden itu?
"Aku tinggal di gedung itu."
Yunho melihat gedung yang ditunjuk oleh Jaejoong lalu memarkirkan mobilnya.
"Terima kasih sudah mengantarku, tapi bagaimana caranya kau akan pulang?"
"Itulah gunanya GPS."
"Kalau begitu hati-hati.."
Ketika Jaejoong membuka pintu mobil, Yunho menahannya. Ia bergegas turun lalu membukakan pintu itu untuk Jaejoong.
"Aku akan mengantar ke unit apartemen-mu."
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Aku tidak akan meminta lebih dari itu."
"Bukan. Maksudku bukan itu..." Perdebatan kecilpun terjadi diantara mereka.
" siapa di apartemenmu? Orang tuamu?"
"Tidak.. Aku tinggal sendirian."
"Lalu apa masalahnya?"
"Kalau aku mengajakmu naik... Aku.. Aku takut akan terjadi sesuatu." Jaejoong menjawab dengan lugu dan itu membuat Yunho tertawa.
"Ish.. Jangan tertawa! Itu tidak lucu dan aku serius!"
"Baiklah.. Baiklah.. Aku pergi saja kalau begitu." Yunho menjawab sambil menahan tawanya.
Pria itu pun akhirnya merangkul bahu Jaejoong agar mendekat padanya, memberi satu kecupan manis di bibir Jaejoong, lalu melepasnya.
"Selamat tidur."
"Uhm... Kau harus hati-hati." Pipi Jaejoong bersemu manis.
Yunho pun mengangguk, ia kembali ke dalam mobil dan segera pergi.
Jaejoong mematung di tempat. Ia hanya bisa memandangi mobil Yunho sampai tak terlihat lagi.
Ia merasa membiarkan Yunho pergi begitu saja adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan selama dua puluh delapan tahun ini
.
.
.
.
"Changmin!"
Jaejoong memanggil Changmin dari depan pintu. Changmin terlihat baru selesai mandi dengan sebuah handuk kecil yang menggantung di lehernya.
"Aku kehabisan tisu, kita barter ya? Ku tukar dengan yoghurt, aku malas keluar untuk membeli lagi."
"Tukar saja." Jawab Changmin.
Jaejoong meletakkan yoghurt yang ia bawa ke atas meja dan menuju jendela kecil Changmin untuk mengambil satu roll tisu.
Changmin duduk di depan meja makan sambil mengeringkan rambutnya.
"Kau shift malam?" Tanya Jaejoong.
"Ya."
"Sudah sarapan?"
"Di kantor."
"Itu yoghurt-nya, sudah ku tukar dengan ini."
"Bawa saja lagi yoghurt-mu, kan hanya satu rol tisu."
"Kau yakin?" Tanpa menunggu kata-kata Changmin lagi, Jaejoong kembali mengambil botol yoghurt itu.
"Kalau begitu aku kembali dulu."
"Tadi aku memasak ramyeon, bawa saja bungkusnya. Ada dua."
Sambil berjalan menuju pintu, Jaejoong membawa bungkus ramyeon yang ditunjuk Changmin. Belum sempat keluar, Jaejoong berbalik dan menatap Changmin.
"Kau akan langsung tidur?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku... Agak bosan."
"Bukannya kau sedang menulis skenario?"
"Sudah ku kirim draft-nya tinggal menunggu yang harus ku revisi."
"Kalau begitu, buatkan kopi untukku."
Jaejoong tersenyum lalu segera menuju mesin pembuat kopi milik Changmin. Sebenarnya milik Jaejoong, hadiah dari undian, tapi ia menjualnya pada Changmin seharga sepuluh ribu won saja.
"Uhm.. Changmin-ah.."
"Apa?"
"Begini... Ada seorang pria. Dia tinggal di Amerika. Selama di Korea, ia tinggal di sebuah hotel bintang lima dan bertemu dengan seorang wanita. Ketika wanita itu terlibat masalah, pria ini membantunya seperti seorang pahlawan."
Awalnya Jaejoong tidak ingin cerita, tapi melihat Changmin, ceritanya pun mengalir begitu aaja. Ia berkisah seolah yang diceritakannya adalah film atau komik yang pernah ia baca.
"Masalah seperti apa?"
"Mantan kekasih wanita itu datang untuk mencari dan bertemu si wanita."
Jaejoong baru akan melanjutkan ceritanya, namun Changmin yang semula sibuk mengeringkan rambut tiba-tiba menatap terkejut pada Jaejoong.
"Siwon datang mencarimu sampai ke hotel?" Tatapan mata Changmin menyeramkan. Jaejoong lebih memilih untuk menghindari tatapan itu.
"Benar kan?" Tanya Changmin lagi.
"I..ya.."
"Lalu apa yang dilakukannya?"
"Uhm.. Begini.. Waktu itu Siwon menghubungiku, karena aku tidak menghubunginya lagi padahal aku mengajaknya menemaniku di hotel. Aku tak habis pikir, kenapa aku mengajaknya bersamaku? Aku pura-pura tidak tahu dan aku tidak bilang kalau aku tahu dia menduakanku. Jadi aku mengatakan padanya kalau aku sedang bersama dengan seorang pria."
"Tunggu! Tunggu! Hentikan dulu ceritamu." Changmin menatap Jaejoong penuh tanda tanya.
"Ke-kenapa?"
"Jadi sebenarnya kau berencana pergi bersama si bajingan itu?"
"Siapa bilang?" Oh my.. Jaejoong keceplosan.
"Tadi kau bilang Siwon menghubungimu karena kau tidak menghubunginya lagi padahal kau mengajaknya pergi ke hotel bersamamu."
"Aku bilang begitu?"
"Jaejoong!"
"Tapi... Akhirnya kan aku tidak jadi pergi bersamanya. Kenapa kau galak sekali sih?"
"Kau pikir aku senang begini? Aku sudah susah mengurus diri sendiri, ditambah lagi aku harus mengurusimu." Changmin tiba-tiba bicara dengan nada tinggi.
"Kau berpikir begitu?"
"Lalu, kau pikir apa yang aku pikirkan, huh?"
"Ya sudah! Minum saja kopimu sendiri!" Jaejoong sudah berancang-ancang keluar tapi Changmin menahannya.
"Lalu kau mau pergi begitu saja tanpa memberitahu apa yang terjadi di hotel itu?"
"Kau tidak perlu tahu!"
"Aku akan menghubungi Rumah Beras."
"Kau jahat!"
"Kalau begitu kau harus cerita apa yang terjadi!"
"Memangnya apalagi? Aku hanya berpura-pura datang dengan seorang pria dan bermesraan di kamar hotel. Menjelang tengah malam, dia malah datang ke hotel."
"Kenapa kau tidak menghubungiku?"
"Kau sedang ke Busan."
Jawaban Jaejoong membuat Changmin menggerutu sendiri, "Lalu apa lagi yang terjadi?"
"Tidak ada, aku menutup rapat pintuku dan diam saja seperti orang mati, lalu dia pergi."
"Benar tidak ada yang terjadi?"
"Tentu saja! Kalau aku membuka pintu, kami hanya akan bertengkar dan mempermalukan diri sendiri kan?"
"Benar hanya itu yang terjadi?" Changmin masih curiga.
"Iya!" Jaejoong menegaskan, Changmin pun mulai rileks setelah sempat bersitegang dengan sahabatnya ini.
"Lalu, apa yang kau maksud dengan pria dari Amerika yang tinggal di hotel itu?"
"Oh.. Itu..." Jaejoong merasa kalau ia harus mengatakan yang sejujurnya tentang apa yang terjadi hari itu pada Changmin, tapi ia takut pria berwajah kekanakkan itu melapor pada orang tuanya.
"Aku kan pernah bilang, aku bisa menulis lancar di hotel itu. Ketika aku sedang berbaring, ada ide menarik yang melintas di otakku dan ku kerjakan. Ceritanya ada seorang wanita yang dikhianati kekasihnya, mantan kekasihnya datang untuk mencari wanita itu karena sebelumnya ia berpura-pura menghabiskan waktu dengan pria lain. Lalu pria Amerika itu menyelamatkan wanita tadi, Bagaimana menurutmu? Bagus kan?"
Jaejoong bercerita seakan bukan ia yang mengalaminya.
"Kau tidak berbakat menulis cerita tentang cinta. Tulis saja tentang sejarah atau cerita detektif saja sekalian, lagipula kenapa tiba-tiba kau ingin membuat cerita seperti itu?"
"Entah, aku hanya merasa itu cukup menarik, iya kan? Aku menggambarkan pria dari Amerika itu tampan dan tinggi, bukan hanya tampan, tapi benar-benar tampan. Tingginya juga sepertimu dan tubuhnya atletis, ia baik dan juga ramah. Lalu, pria itu juga pandai berciuman, wanita itu sampai sesak nafas dibuatnya, dan sepertinya pria itu jatuh cinta pada pandangan pertama kepada si wanita."
Changmin mendecih pelan, "Tidak ada pria macam itu di dunia ini." sinisnya.
"Ada!" Jaejoong menatap tajam pada Changmin seolah akan menjadikan 'Bi Rain' sebagai jawaban lagi.
"Sepertinya aku sudah bilang, kalau Bi Rain mau menikahimu, dia pasti sudah gila."
"Kenapa kau merusak suasana sih?" gerutu Jaejoong kesal sambil menatap tajam pada Changmin yang terlihat acuh tak acuh.
"Ceritamu sudah selesai?"
"Uhm.. Ketika wanita itu meninggalkan hotel, dia berpikir tidak akan bertemu dengan pria itu lagi. Tapi ternyata mereka bertemu kembali."
"Bagaimana caranya?"
"Pria tu menghubungi sang wanita karena ia tidak berhasil mengeluarkan wanita itu dari dalam pikirannya."
"Lalu?"
"Mereka bertemu."
"Kemudian?"
"Mereka saling mengungkapkan cinta."
"Ah, tidak seru! Mana kopiku?"
Changmin memotong cerita Jaejoong.
"Ishh.. Itu romantis! Apa saat pacaran dengan sunbae dulu kau juga semenyebalkan ini?"
"Iya." Changmin menjawab tanpa ragu. Jaejoong pun memberikan cangkir milik pria kelebihan kalsium itu.
"Cepat minum dan tidur sana!"
"Araa.."
Jaejoong pun beranjak, "Ohya, satu lagi."
"Apaa?"
"Pria itu tidak hafal jalanan Seoul, tapi dia rela mengantar wanita itu pulang dengan mobilnya, lalu sesampainya di tempat tinggal si wanita–"
"Bi Rain memelukmu?"
"Bukan!"
"Lalu apa?"
"Pria itu ingin mengantar sampai ke depan pintu kamar si wanita."
"Ah, pria seperti itu hanya ada di film-film, mana mungkin ada pria sebaik itu kecuali dia gila."
"Gila?"
"Ya, contohnya Bi Rain.. Kalau dia melakukan itu padamu, hanya ada dua kemungkinan yang ada... Ia gila sampai-sampai mau peduli pada wanita sepertimu.. Atau dia memang benar-benar jatuh cinta padamu."
Jaejoong termenung namun akhirnya ia diusir Changmin dan keluar dari kamar itu sambil membawa satu roll tisu yang menjadi alasan utama ia ke kamar Changmin.
'Kalau bukan gila, berarti ia benar-benar mencintaimu.' Jaejoong tak hentinya tersenyum.
"Berarti dia benar-benar menyukaiku?" Suasananya hati Jaejoong pun membaik.
'Tapi kenapa dia belum menghubungiku lagi?'
Selama empat hari berikutnya, Jaejoong hanya bisa berkali-kali menatap ponselnya yang tidak berdering sama sekali.
.
.
.
.
Lift yang dinaiki Yunho berhenti dan terbuka di lantai lima. Di hadapannya berdiri Ahra yang akan memasuki lift itu. Ahra yang melihat Yunho di dalam lift tersenyum lalu membungkuk hormat.
"Annyeonghaseyo, sajangnim."
Setelah memberi salam, Ahra berdiri di sebelah Yunho.
"Annyeonghaseyo, penulis Go. Anda baru akan pulang kantor?"
"Saya kan tidak berkantor disini, saya baru selesai mendiskusikan revisi skenario samak dengan Ketua Tim Produksi."
"Oh, semuanya lancar?"
"Iya."
Ahra memperhatikan Yunho dari ujung matanya.
Lift pun berhenti di lantai satu, Yunho keluar terlebih dahulu diikuti Ahra.
"Sajangnim akan pulang?"
"Iya, hati-hati di jalan, penulis Go."
Yunho membungkuk sopan dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di luar gedung.
.
.
Ahra buru-buru mengikuti Yunho. Sejak pertama kali bertemu dengan lelaki itu di ruangan Ilwoo, ia terus berharap supaya bisa bertemu lagi. Setiap hari ia menginjakkan kaki di kantor Walden Korea tapi yang ditemuinya hanyalah Ilwoo. Ia bahkan sampai berpikir kalau Yunho sudah kembali ke Amerika dan besok sore ia berencana mengunjungi hotel tempat Yunho menginap.
Tapi hari ini tanpa disangka-sangka, ia justru bertemu dengan Direktur Walden Pictures itu di lift kantor. Ia tak akan membiarkan Yunho pergi begitu saja setelah menanti pertemuan seperti ini.
Bagaimanapun caranya, Ahra ingin menegaskan keberadaannya pada Yunho.
"Maaf sajangnim.. Anda akan menuju daerah mana?" Ahra memberanikan bertanya saat Yunho hendak menaiki mobilnya.
"Saya mau ke daerah Sin Jeongdong."
"Boleh saya ikut sampai stasuun Jeoncheol?"
"Boleh, silahkan." Ahra langsung masuk ke dalam mobil yang segera bergerak meninggalkan kantor Walden.
"Anda mau pulang?" Basa-basi Yunho tanpa mengalihkan tatapan dari jalanan yang terhampar.
"Oh, bukan. Saya mau ke toko buku, ada beberapa buku yang harus saya cari."
"Pasti anda sering membaca buku ya?"
"Tuntutan pekerjaan, daripada orang lain, saya harus lebih banyak membaca."
Yunho hanya mengangguk mengisyaratkan bahwa ia setuju dengan pendapat itu.
"Ohya, saya dengar sajangnim sudah memiliki calon istri, kapan acara pernikahannya akan digelar?"
"Calon istri?"
"Iya, beberapa pegawai kantor membicarakannya."
Yunho tersenyum sekilas, "Itu hanya rumor.."
Dalam hati Ahra tentu saja senang bukan , sebenarnya rumor soal calon istri Yunho itu hanya buatannya agar lebih leluasa bertanya pada pria perfeksionis ini.
"Penulis Go sendiri? Sudah menemukan calon suami?"
Ahra sempat terkejut mendengarnya. "Ah, belum.. Karena selama ini selalu sibuk untuk bidang ini, saya jadi tidak sempat berdekatan dengan pria manapun."
"Sayang sekali, padahal saya pikir pasti banyak yang mengejar anda.. Yah, anda cantik dan pintar." Komentar Yunho lagi-lagi hanya sekedar basa-basi.
Ahra tersenyum.
"Kita sudah sampai di stasiun Jeoncheol." Yunho menepikan mobilnya sementara Ahra menoleh ke luar. Ah, benar.. Kenapa cepat sekali?
Wanita itu pun keluar dari mobil dan Yunho hanya melihatnya.
"Hati-hati di jalan, penulis Go."
"Terima kasih sudah mengantarkan saya, kalau tidak keberatan, lain kali saya akan mentraktir anda, sajangnim."
"Baiklah, selamat malam." Yunho menunduk sesaat untuk mengucapkan salam lalu kembali mengendarai Benz-nya.
Sementara Ahra tersenyum menatap kepergian Yunho dengan beberapa ide yang terlintas di otak liciknya.
.
.
.
Jaejoong berjalan sambil sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
Ia sedang mengobrol dengan sang Chief Editor tempatnya bekerja di sebuah kolom chat.
Siang tadi Jaejoong mendapat panggilan menulis untuk buku cerita bergambar lagi setelah karya terakhirnya diterbitkan.
Kali ini ia harus menulis cerita tentang Dae Joyeong.
Awalnya Jaejoong akan menolak, karena menulis sejarah Dae Joyeong sama saja ia harus mempelajari tentang kerajaan kuno Goguryeo. Apalagi Chief Editor hanya memberi waktu dua bulan untuk mempelajarinya.
Tapi begitu melihat nominal royalti yang akan ia dapat tidaklah sedikit, Jaejoong menjadi lebih bersemangat.
Mengerjakan buku cerita bergambar adalah pengalaman pertama bagi Jaejoong, apalagi dengan cerita yang berhubungan dengan sejarah. Tapi, hasil perjuangannya membuat dirinya sebagai penulis dan juga pihak penerbit merasa puas. Dan, di luar dugaan, buku karya Jaejoong bahkan sempat dicetak beberapa kali dan royalti kembali mengalir.
Karya pertama Jaejoong adalah cerita tentang raja Sejong.
Menulis kisah tentang Lee Sunsin, Raja Sejong, Sin Saimdang, lalu Yi I mengharuskannya mempelajari Dinasti Joseon dengan benar. Dan kali ini ia harus mempelajari tentang pendiri kerajaan Balhae, Dae Joyeong dari Goguryeo.
Chief Editor pun meminta supaya ia bisa menyelesaikan naskah cerita itu secepatnya, karena nantinya cerita Jaejoong harus diberikan pada pihak pembuat ilustrasi juga dan prosesnya tidaklah sebentar.
Begitu menginjakkan kaki di toko buku, Jaejoong menyimpan ponselnya dan meminta staf toko buku membantunya mencari buku yang ada di daftar. Setiap ia masuk ke toko buku, ia selalu berharap bisa membawa seluruh buku yang ada disana jadi ia bisa membacanya dirumah kapanpun ia mau.
Ia membawa beberapa tumpukan buku ke sudut yang sepi lalu duduk disana. Masih banyak waktu jadi sepertinya duduk-duduk sambil menbaca beberapa buku adalah pilihan yang tepat.
Belum lama duduk, ada seorang wanita yang hampir saja jatuh karena tersandung kakinya. Jaejoong berniat meminta maaf, tapi begitu melihat siapa orang itu, Jaejoong segera menghela nafas.
Itu Go Ahra.
"Oh, Jaejoong.. Kau sedang mencari buku?"
"Ya, seperti yang kau lihat.. Kau sendiri?"
"Aku juga perlu membeli beberapa buku. Ohya, apa kabar?"
"Baik.. Kau?"
"Tentu saja sangat baik.."
Ahra menjawab dengan wajah sombong. Sudah jelas mereka sama sekali tak senang bertemu satu sama lain. Walau saling memandang ketika berbicara, tapi tetap saja mereka terasa berjauhan.
"Belakangan ini kau sibuk apa?" tanya Jaejoong.
"Aku sedang menyelesaikan skenario untuk Walden Korea."
"Oh ya? Aku juga sepertinya akan mendaftat kompetisi menulis skenario yang diadakan Walden Korea itu."
Jaejoong merasa sedih mendengar jawabannya sendiri yang dipenuhi rasa iri. Saat ini Ahra sedang sibuk mengerjakan skenario untuk Walden Korea, sementara ia masih ikut lomba pembuatan skenario. Bagaimana mungkin bisa dibandingkan?
"Aku sudah dengar tentang perlombaan itu, sepertinya sudah ribuan yang masuk."
Mendengar jawaban Ahra, Jaejoong merasa ingin segera mengakhiri obrolan ini tapi wanita itu terus saja berbicara seolah menyemangati Jaejoong dan entah kenapa itu hanya membuat emosi Jaejoong tersulut.
"Sedang mencari buku apa?" tanya Ahra.
"Aku akan menulis cerita untuk buku cerita bergambar. Jadi aku sedang mencari buku-buku yang berhubungan dengan cerita yang akan kutulis."
"Buku cerita bergambar? Ooh.." Jaejoong tahu kalau nada bicara Ahra ditujukan untuk merendahkan dirinya. Ia ingin sekali melempar satu buku paling tebal ke wajah wanita itu.
"Apa judul skenario yang akan kau kumpulkan untuk lomba itu?"
"Judul? Kenapa?"
'Kenapa? Kau mau mencuri judulku?'
"Tidak apa-apa, aku punya kenalan yang menjadi salah satu juri disana mungkin aku bisa memintanya membaca karyamu dengan baik. Siapa tahu bisa membantumu."
'Cih! Tidak mungkin!'
"Tidak perlu. Aku ingin berhasil dengan kemampuanku sendiri. Menurutku sebaiknya kita mengerjakan sesuatu dengan kemampuan kita saja, supaya di kemudian hari tidak timbul masalah. Pasti aka ada masa-masa sulit, tapi itu akan berlalu. Bisa saja kau punya banyak pengalaman, tapi ikut campur dalam keputusan pemenang... Bukankah itu hal yang tidak baik?"
Jaejoong berusaha menyindir Ahra.
"Memangnya kau tahu apa sampai bisa bicara seperti itu?" Decih Ahra.
"Kau tahu. Aku tahu. Junsu tahu. Changmin tahu. Bahkan Tuhan pun tahu. Sudahlah, aku masih punya urusan." akhirnya Jaejoong justru beranjak meninggalkan Ahra yang menggerutu sambil menatap tajam pada kepergiannya.
'Kim Jaejoong, lihat saja nanti.. Aku tidak tahu sehebat apa naskahmu, tapi aku tidak akan membiarkanmu menjadi pemenang. Jadi, teruslah menulis untuk buku cerita bergambar itu, selamanya..'
.
.
.
Sudah nyaris tiga jam Jaejoong sibuk dengan buku-buku disana. Dan ia merasa harus segera pulang saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Ia selesai membayar buku-bukunya dan berjalan pulang.
Ingat bahwa di apartemen ia tak mempunyai makanan, sebenarnya ia berniat membeli tteokpoki, tapi setelah mempertimbangkan lagi, ia tak ingin makan sendirian. Mungkin Changmin masih punya makanan kan?
Jaejoong sampai di depan kompleks apartemennya dengan kepayahan membawa tujuh buah buku tebal, saat menyadari seorang pria berdiri di hadapannya, bersandar di sebuah mobil.
"Yunho-ssi!"
Jaejoong memekik senang saat bertemu lelaki itu lagi.
"Aku mengkhawatirkanmu." wajah pria itu terlihat begitu cemas.
"Ada apa?" Tanya Jaejoong.
"Aku terus menghubungimu, tapi sepertinya ponselmu mati."
"Astaga!"
Ya, Jaejoong baru ingat. Sepertinya ponselnya memang mati karena lowbatt, tadi sore ia buru-buru keluar dengan ponsel yang dayanya tak cukup terisi.
"Maaf, aku sedang di toko buku sejak tadi."
Yunho menatap belanjaan Jaejoong.
"Kau membeli banyak buku?"
"Iya, karena diminta untuk membuat naskah buku cerita bergambar lagi, jadi aku harus belajar lagi."
Yunho mengangguk, sementara Jaejoong menggigit bibir karena rasa lapar semakin menggerogotinya.
"Kau sudah makan malam?" tanya Jaejoong.
"Belum, apa kau juga belum makan malam?"
"Iya, ayo.. Ku traktir kali ini.. Tapi jangan protes ya." Jaejoong segera mengajak Yunho berbalik arah sambil membawa kantung belanjaan yang penuh dengan buku, namun Yunho segera mengambilnya.
"Tidak usah.. Ini berat." tolak Jaejoong.
"Justru karena itu sebaiknya taruh di mobil saja." Pria itu meletakkan kantung belanjaan Jaejoong di dalan mobilnya.
Jaejoong tak berhasil mengambil belanjaannya kembali dari Yunho.
"Mau kemana?" tanya Yunho, Jaejoong pun jalan mendahului menuju sebuah gang, berjalan sedikit lalu masuk ke sebuah kedai.
Yunho sempat menatap kagum pada kedai kecil itu. Dan mereka pun segera memesan.
"Dua tteokkpoki, dua odeng, dan satu sundae."
Jaejoong membawa sendiri makanan yang telah dipesan menuju ke sebuah meja. Keduanya duduk nyaman, saling berhadapan dengan makanan di atas meja.
"Sudah berapa lama kau menunggu?" tanya Jaejoong sambil menyodorkan gelas plastik pada Yunho.
"Dua setengah jam—Kurasa..."
"Omo! Dua setengah jam?"
"Aku tidak bisa menghubungimu, jadi ku pikir terjadi sesuatu."
"Ah, aku jadi tidak enak. Maafkan aku."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, lagipula aku juga tidak memberitahumu dulu kalau ingin datang. Aku terus menduga-duga apa yang terjadi padamu."
"Sepertinya ponselku memang mati karena kehabisan baterai."
Yunho mengangguk, entah mengapa Jaejoong merasa senang karena ada yang mengkhawatirkannya.
"Oh iya.. Aku mau memamerkan sesuatu."
"Silahkan.. Aku akan memberi ucapan selamat."
"Pekerjaan yang akan ku kerjakan ini royaltinya banyaaaak sekali." Jaejoong tertawa kecil, rautnya terlihat begitu bahagia dan itu membuat Yunho tersenyum senang.
"Benarkah? Kalau begitu kau harus benar-benar berjuang." Pria itu menyemangati Jaejoong, memberi ucapan serta senyuman tulus yang begitu teduh.
"Ternyata buku yang kubuat sebelumnya sangat laris, jadi royaltiku kali ini naik.. Kau ingin tahu berapa yang ku akan ku terima?"
"Berapa?"
"Sebanyak ini..." Jaejoong merentangkan tangannya, membuat Yunho tertawa akan tingkah polos wanita yang disukainya itu.
"Tidak ada penulis yang menerima sebanyak itu, artinya aku sudah masuk ke jajaran penulis kelas A, kan?"
Yunho mengangguk setuju, "Kau benar.. Selamat ya."
"Tapi, sepertinya akan sulit mempelajari Goguryeo."
"Goguryeo?"
"Iya, kali ini aku harus membuat cerita tentang Dae Joyeong, pendiri kerajaan Balhae. Apa kau tahu?"
"Ya, sedikit."
"Aku harus menulis mulai dari kelahiran Dae Joyeong, kehancuran Goguryeo, sampai bagaimana Dae Joyeong mendirikan kerajaan Balhae. Karena itu aku harus mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang Goguryeo."
Yunho mendengarkan cerita Jaejoong dengan seksama sambil mengangguk sesekali.
"Ohya, Yunho-ssi.. Ada apa tiba-tiba ingin menemuiku? Apalagi beberapa hari tidak ada pesan atau telpon darimu." Jaejoong memelankan nada suaranya di kalimat terakhir.
"Aku merindukanmu."
Jaejoong menatap Yunho, ia senang sekali mendengar itu dari pria yang mencuri perhatiannya.
"Kau menungguku menghubungimu?"
Jaejoong baru saja menyumpit sepotong tteok, tapi ia segera menatap Yunho.
"Iya." Jawabnya malu. "Apa Yunho-ssi juga menunggu?"
Yunho tersenyum sesaat, "Tentu, karena aku berharap kau menghubungiku terlebih dahulu.. Kupikir kau sama sekali tidak merindukanku."
Merekapun tertawa.
"Ah, aku salut pada wanita lain yang bisa menutupi perasaan mereka, aku jelas-jelas selalu menyuarakan apapun yang ada di pikiranku, tidak menarik ya?"
"Menurutku tidak begitu, aku justru tertarik pada apapun yang ada padamu.. Dan lagi kau sangat cantik."
Jaejoong lagi-lagi tak tahu harus bersikap seperti apa. Ia tak mampu menatap mata Yunho.
"Jaejoong-ah... Setiap memikirkanmu, rasanya ada yang salah dengan tubuhku."
"Eh? Kenapa?"
"Entah, rasanya tiba-tiba ingin bertemu denganmu.. Bahkan kadang aku bisa mendengar suaramu."
Jaejoong teringat pada kata-kata Changmin tempo hari. Yunho hanya menatapnya dengan tatapan hangat dan kini dada Jaejoong berdebar.
Apa ini artinya ia tak bertepuk sebelah tangan?
"Kau sedang berusaha memamerkan keahlianmu padaku ya?" tanya Jaejoong.
"Keahlianku?"
"Maksudku.. Kau sedang merayuku."
"Haha.. Kalau memang aku sedang merayumu, apa itu berhasil?"
Mereka tertawa.
Jaejoong memang terlihat tertawa, tapi jauh di dalam dirinya, ia sedang mencoba untuk mengendalikan diri. Saat ini ia merasa sesak dan jantungnya berdetak keras. Tapi rasanya begitu bahagia.
.
.
Setelah menghabiskan makanan, mereka berjalan keluar dari kedai untuk kembali ke apartemen Jaejoong.
"Kau suka olahraga?" Yunho menggandeng tangan Jaejoong erat.
"Mmm.. Tidak terlalu. Aku tidak jago olahraga."
"Olahraga bisa membuatmu sehat."
"Saat ini aku belum bisa melakukannya, tapi kurasa nanti-nanti aku akan melakukannya. Yunho-ssi sendiri?"
"Panggil aku 'Yunho' saja mulai sekarang."
"Eh? Bolehkah?"
Yunho mengangguk.
"Ayo olahraga bersamaku." ajak pria itu.
"Sekarang?"
"Tidak. Nanti. Lain kali."
"Uhmm.. Akan ku pikirkan."
"Oke, aku akan menjemputmu."
"Ku bilang.. Aku akan memikirkannya."
"Tidak. Aku akan menjemputmu." Yunho memang keras kepala, ia bersikukuh mengajak Jaejoong.
"Aku antar sampai depan pintu kamar."
Tadinya Yunho hanya berniat mengantar sampai depan gedung apartemen. Tapi ia merasa ingin menemani Jaejoong naik lift sampai ke depan pintu kamarnya.
Ia ingin memastikan wanita itu sampai dengan selamat ke kamarnya.
Jaejoong menggeleng pelan. "Kau bisa pulang sekarang."
"Kenapa? Kau takut terjadi sesuatu?"
"Ya."
"Aku akan berhati-hati supaya tidak ada sesuatu yang terjadi."
"Bagaimana caranya?"
"Uhm.. Dengan tidak melakukan apa-apa." Yunho menggendikan bahunya.
"Kau yakin?"
Yunho tertawa kecil melihat ekspresi Jaejoong. Akhirnya, mereka menaiki lift bersama menuju lantai dimana unit Jaejoong berada.
"Aku tidak akan mengizinkanmu masuk ke kamarku." Sebenarnya, Jaejoong tak hanya memperingati Yunho, tapi juga dirinya sendiri.
"Iya, aku paham."
"Ayahku selalu bilang, aku tidak boleh memasukkan sembarang pria ke tempat tinggalku, kecuali pria itu adalah pria yang akan ku nikahi."
Ada yang salah dengan kata-kata Jaejoong. Ia mengucapkan seolah-olah itu adalah syarat untuk Yunho.
"Jadi maksudku—" Jaejoong baru saja mau meralat ucapannya.
"Ayah juga mengajarkan hal yang sama pada adik perempuanku." sela Yunho.
"Oh.." Jaejoong lega karena itu artinya Yunho tidak salah menangkap maksudnya. Ia sangat bersyukur.
Sesampainya di depan pintu kamarnya, Jaejoong mulai melepas genggaman tangan Yunho dengan tidak rela. Tindakannya itu justru terlihat seperti akan mengajak Yunho masuk.
Direktur Walden Pictures itu tertawa kecil.
"Terima kasih sudah menemaniku, hati-hati ya."
"Arasseo.. Selamat tidur."
Yunho memberi sebuah kecupan manis di pipi Jaejoong sebelum wanita itu membuka pintu kamarnya.
Jaejoong menatapnya seolah berkata 'Kenapa kau melakukan itu?'.
"Iya, maaf.. Aku janji akan berhati-hati supaya tidak terjadi apa-apa." Yunho meletakkan tangan kanan di dada kirinya, bersumpah pada Jaejoong.
"Bukan, aku justru takut aku sendiri yang melanggar."
Yunho menatap tak percaya pada wanita itu. Ups, sepertinya Jaejoong salah bicara.
"Ah, bercanda.. Sudah sana.. Hati-hati ya!" Jaejoong buru-buru masuk ke kamarnya karena malu.
Jantungnya berdetak cepat, bahkan setelah ia berhasil menutup pintu kamarnya sendiri dan terpisah dari pria itu.
Tak ada yang dilakukan Jaejoong selain bersandar di pintu itu sambil menetralkan detak jantungnya.
Benar kan? Berdekatan dengan Yunho sungguh berbahaya. Ia bisa kehilangan akal sehat.
Jaejoong bahkan sempat berpikir ingin merasakan ciuman hangat Yunho lagi tadi.
Ia tak mengerti, tapi tubuhnya selalu terasa aneh jika di dekat Yunho.
Saat ia menggerutu karena menyesal dengan keputusannya sendiri, bel kamarnya berbunyi. Ia terkejut.
"Siapa?"
"Aku."
Yunho.
Dengan hati berdebar, Jaejoong membuka pintu dan Yunho berdiri di hadapannya dengan kantung belanjaan yang ia tinggal di mobil Yunho.
"Oh.. Maaf."
Jaejoong segera mengambil kantung belanjaan itu.
"Terima kasih, selamat malam." ia tersenyum sebelum menutup pintu itu, namun Yunho menahannya.
Jaejoong menatap penuh tanya pada Yunho. Jantungnya berdegup cepat.
"Aku tidak akan pergi."
"A-apa?"
Dengan penuh keyakinan, Yunho menatap Jaejoong.
.
"Aku tidak akan pergi, karena aku adalah pria yang akan kau nikahi."
.
.
.
.
to be Continued
.
Bagian ketiga!
Maaf buat lambatnya update, weekend ini saya gak sempet ngetik.
Buat pertanyaan ini fic ampe berapa chapter, saya juga belom tau.. Tapi mungkin bakal belasan atau bisa jadi sampe dua puluh.. Moga saya kuat nerusin ya ;)
Terus buat NC-nya.. Sabar yaa.. Ini masih tahap momen2 gregetnya YunJae karena baru kenal.
Dan soal Ahra, mian ada antagonis di fic ini, karakter Ahra disini emang nyebelin banget.. Tapi percaya deh, kalian bakal greget liat sikap Yunho ke Ahra karena Ahra juga objek penting buat nunjukin perjuangan Yunho dapetin Jaejoong #elahh!
Okesip, ini udah edit tapi kalo masih ada salah saya mohon maap ya...
Gomawo buat semua yang masih minat baca ampe chap ini :*
Maap saya belon bisa balesin review tapi kalo ada yang nanya saya jawab kok ^_^
So..
See ya in the next chap!
.
.
.
Sign,
Cherry YunJae.
