the Last 2%

a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae.

.

Jaejoong, Yunho, Changmin, Siwon, Junsu, Go Ahra, and others.

YUNJAE.

T-M Rated.

Drama/Romance.

WARNING! GENDERSWITCH! Typos everywhere! Out of Character!

.

I write because i want, not for amaze people.

.

DON'T LIKE, DON'T READ! Told ya before!

.

.

[ © Sebuah remake dari novel milik Kim Rang dengan judul yang sama(2006), cerita sepenuhnya milik Kim Rang hanya beberapa yang saya ubah termasuk casts dan latar untuk keperluan cerita. ]

.

.

.

.

Bagian Keempat.

.

.

.

Jaejoong merasa tidak seharusnya ia melakukan ini. Kalau saja ayahnya tahu, pasti beliau akan memasukan Yunho ke karung dan menyeretnya keluar.

Ia sadar betul yang dilakukannya ini tidak benar.

Ia membiarkan seorang pria masuk ke apartemennya. Pria yang memang berniat bermalam di apartemennya, bukan sekedar mampir.

Jaejoong merasa ada yang tidak beres dengan otaknya, tapi.. Siapa yang mampu menolak pria seperti Yunho? Selain tampan, pria itu juga seksi, penuh kehangatan, dan kelebihan lain yang rasanya sulit Jaejoong hitung.

Yunho selalu berhasil membuatnya meleleh.

Jaejoong benar-benar terpana dengan kalimat Yunho tadi, "Aku tidak ingin pergi, karena aku adalah pria yang akan kau nikahi."

Ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Semua hasil perbuatannya sendiri dan Jaejoong merasa yakin untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

"Tenanglah, aku akan berusaha mengendalikan diriku."

Jaejoong mempercayai kata-kata Yunho dan membiarkan pria itu masuk ke dalam apartemennya.

Ia tiba-tiba merasakan situasi yang aneh. Untuk menetralkan rasa gugup itu, Jaejoong mencoba mengambil sebotol air dari kulkas dan meminumnya.

"Kamarku sempit, tidak banyak yang bisa dilihat." Sebelum Yunho kecewa, Jaejoong sudah terlebih dulu memberitahunya.

"Rapi dan bersih." Yunho berusaha tak memasukkan makna kalau ia peduli pada ukuran kamar Jaejoong.

"Kau yakin akan bermalam disini?"

"Ya."

"Seperti yang kau lihat, aku hanya punya satu tempat tidur dan.. Jelas kita tidak bisa berbagi tempat tidur itu." tegas Jaejoong berusaha menekankan bahwa ia memang mengijinkan Yunho bermalam di kamarnya, tapi bukan berarti tidur di satu ranjang yang sama.

Rasanya Jaejoong tak bisa mempercayai siapa-siapa, termasuk dirinya sendiri.

"Aku akan tidur di lantai saja." jawab Yunho.

"Kau pasti tidak akan nyaman jika tidur di lantai." Jaejoong mengatakannya tanpa alasan. Ia merasa salah bicara lagi.

"Maksudku, kau terbiasa tidur di kasur empuk.. Pasti aneh jika tidur di lantai.. Bukan berarti aku mengajakmu tidur bersama."

Dua kali Jaejoong menegaskan hal itu. Entah kenapa.

"Sediakan saja selimut, aku tidak apa.. Kalau begitu, aku mandi dulu."

"Apa?" Entah bagaimana Jaejoong terkejut dan sempat berpikir kalau Yunho mengajaknya mandi bersama.

Yunho menatap bingung pada gadis itu.

"Ah, ini..." Jaejoong buru-buru mengambil sebuah sikat gigi baru dari atas kulkas dan memberikannya pada Yunho.

"Terima kasih."

"Ohya, di kamar mandi kau bisa pakai handuk yang hijau."

"Baiklah."

Yunho mulai membuka jas-nya, sedikit ragu karena Jaejoong terus menatap dengan mata bulatnya.

"Karena aku mau mandi, jadi aku harus melepas pakaianku."

"Semuanya?"

"Maksudmu?"

"Ah, tidak. Tidak.. Lepas saja." Jaejoong mengayun-ayunkan tangannya sendiri.

'Kim Jaejoong, jangan sampai bertindak bodoh, kumohon..'

Jaejoong mengambil jas Yunho dengan hati-hati dan memperlakukannya seperti barang berharga. Ketika menggantungnya di lemari, Jaejoong menghela nafas.

Mendengar helaan nafas Jaejoong, Yunho melepaskan dasinya pelan-pelan dan penuh keraguan. Ia yakin, Jaejoong tak sengaja menghela nafas berat seperti tadi. Selesai dengan dasi, Yunho membuka kancing kemejanya.

Sosok Yunho yang ada di hadapan Jaejoong kini terlihat begitu liar. Dasi terbuka namun masih ada di sekitar pundaknya, kemeja putih yang kancingnya dibuka perlahan-lahan.

Jaejoong kembali menghela nafas, padahal Yunho baru melepas tiga kancing saja.

Yunho menyerahkan dasinya pada Jaejoong lalu mulai membuka kancing lengan kemejanya dan melipatnya ke atas. Akhirnya Jaejoong bisa melihat lengan Yunho. Besar dan terlihat begitu kuat, membuat wanita itu terpana.

"Aku mandi dulu."

"Ah, aku punya kaus ukuran besar! Kau mau pinjam? Sayang kalau kemeja mahalmu harus basah." Di balik kata-katanya, Jaejoong menyimpan sebuah keinginan untuk melihat tubuh Yunho lebih jelas.

"Oke, aku pinjam dulu." Yunho sama sekali tidak menolak.

Dalam hati, Jaejoong merasa senang dan langsung memberi kaus besar yang aslinya milik kakak Jaejoong—Tapi ia membawanya ke Seoul.

Jaejoong benar-benar ingin melihat Yunho berganti pakaian di hadapannya. Dan seolah mengerti keinginan Jaejoong, Yunho kembali melanjutkan membuka kancing kemejanya satu per satu.

Setiap Yunho membuka satu kancing, Jaejoong menahan nafasnya. Setelah kancing terakhir, pria tinggi itu segera melepas kemejanya, Jaejoong menatap tanpa berkedip.

'Ya Tuhan.. Apa yang dia lakukan sampai badannya sebagus itu?' batinnya takjub.

Yunho memberikan kemejanya pada Jaejoong dan langsung memakai kaus yang dipinjamkan Jaejoong.

Wanita itu berpura-pura tak melihat meski sebenarnya ia memperhatikan segala gerak-gerik Yunho. Kaus milik kakak Jaejoong terlihat pas di tubuh Yunho. Jaejoong menyukai hal itu.

Yunho pun masuk ke dalam kamar mandi tanpa melepas celana, dan entah kenapa Jaejoong merasa kecewa.

'Apa yang ku pikirkan?!' Jaejoong tiba-tiba tersadar, sejak tadi ia bertingkah seperti orang mesum.

Ia merasa harus mencari kegiatan lain untuk mengalihkan pikirannya dari Yunho, tapi saat mengambil botol minuman di kulkas, ia kembali melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup.

Membayangkan apa yang kira-kira sedang Yunho lakukan. Mencuci rambutnya kah? Atau menggosok bagian tubuhnya?

Jaejoong kembali menggeleng. Ia rasa otaknya mulai aneh.

.

.

.

Akhirnya ia berniat untuk membuat kopi demi menghilangkan kegugupannya.

Ia sibuk meracik ini-itu dan menyalakan mesin pembuat kopi namun akhirnya ia berjengit kaget saat sepasang lengan melingkari pinggangnya.

"Sedang apa?"

"Ng? Ah, a-aku membuat kopi." Jaejoong memalingkan wajahnya saat tahu itu Yunho.

Merasakan tubuh mereka sedekat ini membuat sekujur tubuh Jaejoong terasa panas.

Tapi sepertinya ia harus kecewa karena Yunho hanya memeluknya sesaat dan kemudian melepasnya. Entah kenapa.

Pria itu berdiri tak jauh darinya dan melihat sekeliling. Jaejoong melirik dari ujung matanya.

Yunho terlihat begitu segar dengan rambut basah dan harum sabun. Sangat menggoda.

"Sudah kubilang, kamarku kecil... Nanti kalau uangku sudah cukup, mungkin aku akan membeli unit yang lebih besar.. Lagipula aku memang butuh tempat tinggal yang bisa memuat banyak buku-buku." Jaejoong melirik setumpukan buku di sudut kamarnya.

Yunho tersenyum mendengar itu.

"Aku akan mencarikannya untukmu."

"A-apa?"

"Aku akan mencari rumah ideal itu untukmu."

"Rumah?"

"Iya."

"Ke...napa?"

"Karena itu akan menjadi tanggung jawabku nanti, saat kau sudah benar-benar menjadi milikku." Pria itu kembali mendekati Jaejoong, memberi tatapan terdalamnya untuk wanita itu.

"Maksud..mu?" nafas Jaejoong tercekat saat Yunho kembali merengkuh pinggangnya, mengehentak agar tubuh mereka menempel erat.

Jaejoong meleleh hanya karena tatapan Yunho.

"Tentu saja saja maksudku.. Aku ingin menikahimu." Bersamaan dengan kalimat itu, Yunho mendekatkan wajahnya pada Jaejoong. Jaejoong merasakan nafas hangat Yunho saat pria itu mengecup mulai dari bibir atasnya. Menekan pelan tanpa paksaan disana.

Jaejoong memejamkan matanya. Ya Tuhan.. Akhirnya ia bisa merasakan ciuman ini lagi, rasanya Jaejoong ingin menjerit senang.

Ia menyentuh lengan Yunho yang melingkar posesif di pinggangnya, dan bersamaan itu, Yunho mulai menggerakkan bibirnya untuk melumat bibir Jaejoong yang terasa manis sekaligus adiktif.

Tangan Yunho pun mulai membelai punggung Jaejoong sementara wanita itu melenguh nyaman dalam kuasa Yunho.

Mereka sedang terbuai dalam sebuah ciuman manis penuh kerinduan saat bel berbunyi menginterupsi kegiatan itu.

Ding Dong..

Jaejoong membuka lebar matanya dan melepas bibir Yunho seraya mengumpulkan nyawanya kembali. Suara Changmin memanggil namanya dari luar.

'Dia lagi?!'

Seperti terkena aliran listrik, Yunho dan Jaejoong menatap ke arah pintu.

"Jaejoongie!"

Changmin terus memanggilnya. Tidak salah lagi, bocah itu pasti mau meminta nasi dan kimchi.

"Sstt... Kumohon kau jangan bersuara. Sedikitpun jangan." Jaejoong memperingatkan Yunho kemudian melangkah mendekati pintu.

"Jaejoongie!"

"Apa?"

"Buka pintunya."

"Tidak bisa, aku sedang mandi." Tidak mungkin kan ia membiarkan Changmin masuk sementara Yunho ada disini?

Kalau tahu ada lelaki di kamarnya, Changmin pasti akan langsung menghubungi orang tuanya.

"Kau punya sisa nasi atau yang lain juga boleh."

Ah, sesuai dugaan.

"Tidak ada, aku tadi memesan Jjajangmyeon!"

"Serius? Ramyeon juga tidak ada?" Changmin terus bicara dan Jaejoong mulai merasa terganggu.

"Tidak ada.. Aduh, aku lelah sekali. Kurasa aku harus tidur setelah ini, tolong jangan berisik ya, Changmin-ah!"

"Ish.. Kau ini wanita atau bukan sih? Nasi saja tidak punya."

"Aku wanita! Sudah ya, Changmin.. Aku sedang tidak pakai baju."

"Ya sudah, mandi lalu istirahatlah."

Jaejoong menghela nafas lega saat mendengar pintu kamar sebelah ditutup.

Yunho menatap Jaejoong, "Siapa?"

"Temanku." Jaejoong menjawab pelan sambil menuangkan kopi ke cangkir.

"Teman?"

"Ya, temanku dari Chungnam.. Kami berteman sejak di sekolah dasar."

Yunho duduk, "Kalian tinggal di tempat yang sama?"

"Yang ada di sebelah kamarku ini adalah kamar Changmin, namanya Shim Changmin."

Jaejoong pun akhirnya membawa dua cangkir itu ke meja, kemudian duduk di hadapan Yunho.

"Sepertinya kau jadi tidak nyaman karena aku."

"Tidak. Bukan begitu. Hanya saja... Aku tidak pernah membawa pria ke dalam kamar seperti ini."

"Kau tidak punya kakak atau adik laki-laki mungkin?"

"Aku punya tiga kakak laki-laki, dua sudah menikah dan satu belum. Tapi karena tempat ini kecil, jadi mereka tidak pernah kesini."

"Kau punya tiga kakak laki-laki?"

"Iya, banyak ya? Kakakku yang pertama bekerja sebagai guru sekolah, lalu kakak kedua dan ketiga ada di militer. Mereka berdua lulusan akademi militer."

Yunho mengangguk. "Oh.."

"Kau sendiri? Punya saudara? Uhm, tidak temasuk kakak sepupu ya.."

Yunho terkekeh kecil, "Aku punya adik perempuan."

"Jadi kau anak pertama?"

"Iya."

'Eomma pernah bilang kalau beliau tidak akan mengizinkanku menikah dengan anak pertama.'

Pikiran Jaejoong kembali melayang pada ucapan ibunya dan pernyataan Yunho. Jaejoong adalah anak bungsu sekaligus anak perempuan satu-satunya, ditambah ibunya selalu protektif padanya, beliau pernah mengatakan pada Jaejoong untuk tidak menikahi anak laki-laki pertama karena beliau tidak ingin putri satu-satunya dibawa sang suami. Jaejoong menghela nafas.

Diam-diam ia ingin percaya tentang ucapan Yunho soal 'Pernikahan'. Yunho mengatakan hal itu berulang kali dan lagi, memang hanya Yunho yang ingin Jaejoong jadikan pendampingnya.

Tapi... Mungkinkah?

"Ohya, sibuk apa saja kau hari ini?" tanya Jaejoong berusaha membuat dirinya lupa akan kata-kata ibunya.

"Masih seperti kemarin, membantu kakak sepupuku.. Hari inipun aku bertemu dengan orang banyak."

"Orang banyak?"

"Iya."

"Perempuan juga?"

"Tentu saja."

"Jadi kau bertemu dengan banyak perempuan?"

"Iya. Bahkan sebelum datang kesini aku sempat mengantar seorang perempuan sampai stasiun Jeoncheol."

"Mengantar? Satu mobil dengan seorang wanita?"

Yunho mengangguk lalu menyeruput kopinya.

"Dan kalian duduk bersebelahan?" Jaejoong memberi penekanan pada kalimatnya.

"Ya."

Setelah mendengar itu, raut wajah Jaejoong berubah kesal. Ia tak suka dengan pengakuan ini.

"Entah bagaimana, tapi di desa kami orang yang sembarangan bertemu dengan wanita disebut ddongkae(Anjing liar—Semacam sebutan untuk lelaki hidung belang.)"

Yunho awalnya bingung dengan kata 'ddongkae' tapi begitu mengerti bahwa yang Jaejoong maksud adalah 'Lelaki kurang ajar' ia pun tertawa.

"Astaga, kau cemburu?"

Jaejoong melirik tajam pada Yunho. "Siapa yang cemburu?"

"Ahaha.. Tapi kau menyebutku seperti itu karena aku bertemu banyak wanita kan? Itu artinya kau cemburu."

"Ishh! Tidak lucu. Jangan tertawa."

"Astaga, Jaejoong-ah.. Kau terlihat sangat lucu jika sedang cemburu seperti ini."

"Oh ya? Kalau begitu terus saja tertawa."

"Baiklah kalau kau tidak cemburu, jadi nanti kalau aku duduk bersebelahan dengan wanita lain di dalam mobilku tidak apa-apa kan?" Yunho menggoda Jaejoong.

"Lakukan saja kalau kau mau dipanggil ddongkae!"

Yunho mencoba menghentikan tawanya karena Jaejoong terlihat kesal. Wanita itu berjalan menuju lemari gesernya dan mengambil selimut.

"Yunho, karena aku harus menulis, kau tidur duluan saja." Jaejoong mengucapkannya tanpa ekspresi.

Ketika ia merapihkan selimut, Yunho yang berdiri di sampingnya sambil memperhatikan betapa telatennya perempuan itu. Yunho tersenyum simpul.

"Sudah siap, tidurlah..."

"Terima kasih."

Setelah Yunho masuk ke dalam selimutnya, Jaejoong beranjak menuju meja dan menyalakan laptopnya.

"Kau tidak takut?" tanya Jaejoong.

Yunho mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat Jaejoong, "Apa?"

"Takut aku akan menerkammu." Jaejoong menjawabnya tanpa menoleh dari laptop.

"Tidak."

"Aku takut. Aku takut akan melakukan itu."

Mendengar jawaban Jaejoong, Yunho terkekeh kecil. Jaejoong memang wanita yang begitu jujur dan Yunho sangat menyukai itu.

"Kau ingin lampunya dimatikan?" Jaejoong menyalakan lampu belajarnya lalu berjalan untuk mematikan lampu kamar.

Kamar sepi setelah Jaejoong kembali ke depan laptop, ia bertanya-tanya apakah Yunho sudah terlelap.

Harusnya wanita itu bisa melanjutkan naskahnya saat suasana sudah tenang seperti ini, tapi mengingat kalau ada Yunho di kamar ini juga membuatnya tidak bisa fokus pada laptopnya, dan nyatanya.. Tak ada satu kata pun yang berhasil ia ketik disana.

Ia juga bertanya, apa Yunho juga tak tenang seperti dirinya? Apa Yunho juga merasakan apa yang saat ini ia rasakan?

Berkali-kali Jaejoong mencoba fokus, tapi berkali-kali juga pikirannya melayang entah kemana.

'Apa yang sebaiknya harus ku lakukan?' batinnya bingung.

Tubuh Jaejoong menegang saat ia mendengar suara dari arah belakang.

Yunho belum tidur?

Mau apa dia?

Ia sempat berpikir bahwa pria itu akan ke kamar mandi sebelum sadar bahwa suara langkah Yunho justru mendekat ke arahnya.

Tentu saja ia semakin tegang sekaligus cemas.

"Ini yang sedang kau persiapkan untuk untuk kompetisi itu?"

Jaejoong tersentak saat tahu Yunho sudah ada di sampingnya sambil menatap monitor.

Ia hampir tak bisa menjawab dan kehilangan pikiran saat aroma tubuh Yunho yang begitu menggoda mengganggunya.

'Kenapa aroma tubuh pria ini enak sekali?' batinnya kacau. Rasa-rasanya aroma tubuh Yunho membuat suatu sisi aneh dalam diri Jaejoong bangkit.

Jaraknya dan Yunho begitu dekat, dengan tubuhnya yang besar, Yunho memeluk Jaejoong dari belakang. Pria itu menempelkan wajahnya ke sisi kanan wajah Jaejoong. Jantung Jaejoong tentu saja nyaris keluar begitu Yunho membuat posisi ini.

"Apa aku boleh melihatnya?"

"Apa? Oh.. Ini? Tidak boleh." jawab Jaejoong sambil berusaha menutupi layar laptopnya.

"Tidak boleh?"

"Walau ini hanya naskah, aku tidak bisa mempercayai siapa-siapa."

"Karena teman yang mencuri idemu itu?"

"Ya!"

"Setidaknya beritahu aku judulnya."

"A Late Autumn."

"A Late Autumn? Sepertinya menarik."

"Ya.. Drama romantis."

"Kalau begitu sesuai judulnya. Aku ingin membacanya, tapi sepertinya aku harus menahan diri."

"Maaf ya.. Aku tidak membiarkanmu membacanya sekarang. Nanti saja kalau sudah ku serahkan, aku akan memberikannya padamu."

"Baiklah, aku akan menunggu." Yunho tersenyum lembut.

Karena jarak mereka sangat dekat, nafas Jaejoong sering kali tertahan.

"Aku tidak akan mengganggumu lagi kalau begitu." Yunho meletakkan kedua tangannya di bahu Jaejoong. Hal itu berhasil membuat Jaejoong merinding.

"Aku tidur ya." Yunho pun kembali masuk ke dalam selimutnya.

Sekalipun lelaki itu tak mengganggunya, Jaejoong tetap tak bisa berkonsentrasi. Ia merasa tak ada gunanya terus menatap skenario yang tak ada kemajuan sejak tadi itu.

Akhirnya, ia memutuskan untuk menutup laptop, mematikan lampu belajarnya dan beranjak tidur.

"Aku juga mau tidur saja, aku tidak bisa berkonsentrasi." Jaejoong berhati-hati melangkah menuju tempat tidurnya, berusaha tak menginjak Yunho.

"Kenapa?"

"Alasan yang memalukan sebenarnya, tapi tentu saja karenamu."

"Aku mengganggumu?"

"Aku tidak bisa fokus. Apalagi aroma tubuhmu itu." Mendengar jawaban itu, Yunho bangun.

"Tidurlah!"

Nada tegas dari Jaejoong membuat Yunho pelan-pelan berbaring kembali.

"Jangan bangun. Jangan melakukan apa-apa. Dan, jangan bersuara sedikitpun. Karena... Kalau kau melakukan itu semua... Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan."

Jaejoong memberi peringatan pada Yunho, lalu menenggelamkan dirinya di dalam selimut.

'Tidur. Aku mohon.. Tidur saja.'

Jaejoong berusaha tidur. Ia pun mulai berhitung, satu ekor domba, dua ekor domba, tiga ekor domba.. Lima belas ekor singa, enam belas ekor serigala.. Dua puluh serigala lapar.. Dua puluh satu rubah lapar..

Tiba-tiba ia membuka selimutnya, bangun dan turun dari tempat tidur, lalu berjalan menuju kulkas untuk mengambil segelas air.

Tak ada tanda-tanda kalau Yunho sudah tertidur.

"Ternyata hanya aku yang merasa 'lapar' disini.." Jaejoong tidak peduli suaranya terdengar atau tidak, tapi ia terus menggerutu sambil naik ke atas tempat tidurnya, berusaha kembali menenggelamkan diri di dalam selimutnya.

Namun Yunho bangun.

"Kau punya cotton bud?"

"Cotton bud?"

Yunho yang tiba-tiba bangun membuat Jaejoong bertanya-tanya kenapa tiba-tiba ia mencari cotton bud di tengah malam seperti ini.

Jaejoong menyalakan lampu mejanya dan mencari apa yang Yunho minta di dalam laci. Ketika mencari, jari Jaejoong justru tertusuk sebuah jarum rajut.

Merasa barang itu cukup berguna, ia mengambil jarum itu dan memberikan cotton bud pada Yunho.

"Perlu ku bantu?"

"Tidak."

Yunho menolak dengan tegas, sementara Jaejoong belum habis pikir kenapa Yunho tiba-tiba ingin membersihkan telinganya.

Setelah selesai, Yunho kembali berbaring dan menghela nafas.

Helaan nafas Yunho terdengar begitu jelas, Jaejoong merasa suhu tubuhnya meningkat seperti seorang pasien yang butuh perawatan.

Ini siksaan.

Di dekatnya ada seorang laki-laki sehat yang hanya bisa dipandangi saja, tidak lebih.

Ini benar-benar siksaan.

Aneh rasanya ketika wanita dan pria berada di kamar yang sama namun tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Jaejoong merasakan jelas suhu tubuhnya meningkat. Untuk tetap menjaga kesadarannya, ia menusuk pahanya sendiri dengan jarum rajut yang diambilnya tadi. Tapi itupun tak berguna.

Ia berusaha memejamkan matanya saat mendengar suara dari arah Yunho.

Pria itu menuju kamar mandi, entah kenapa. Dan suara air tiba-tiba terdengar. Yunho mandi lagi?

Jaejoong menunggu pria itu selesai, tapi ia justru sudah terlelap ketika Yunho keluar dari kamar mandi.

.

Keinginan untuk tidur di tempat Jaejoong mucul tiba-tiba. Awalnya Yunho hanya berniat mengembalikan belanjaan, tapi saat melihat Jaejoong lagi, ia jadi tidak ingin membiarkan wanita itu pergi.

Meski tahu Jaejoong tidak akan membiarkannya masuk, Yunho mencoba peruntungannya dengan menyuarakan pikirannya jelas-jelas. Dan ternyata Jaejoong mengabulkan keinginannya. Meski harus tidur di lantai, rasa senang itu tak sedikitpun berkurang.

Ia senang karena sudah tahu perasaan Jaejoong sekarang.

Wanita itu secara terang-terangan menunjukkan kecemburuannya dengan mengatainya ddongkae.

Sebenarnya menjelang malam, Yunho merasa senang sekaligus tersiksa karena harus menahan diri untuk tidak menyentuh Jaejoong. Terutama saat Jaejoong mengucapkan kalimat dengan konteks bahwa wanita itu tergoda oleh aroma tubuhnya.

Yunho sudah siap menyerangnya saat itu, tapi Jaejoong dengan tegas memintanya tidur. Jadilah ia terjebak dalam siksaan yang lebih hebat.

Jaejoong yang tak jauh darinya, suara nafas Jaejoong yang terdengar jelas, juga setiap kali wanita itu bergerak. Semua tidak membuat perasaan Yunho menjadi lebih baik.

Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Membasahi kepalanya dengan air dingin selama yang ia bisa. Dan ketika kembali Jaejoong sudah terlelap sesuai harapannya.

Ia bersyukur.

Jika Wanita itu kembali terbangun, Yunho tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yunho menatap Jaejoong yang sedang tertidur lalu mengecup dahinya pelan dan lembut.

Setelah menunggu reaksi Jaejoong selama beberapa saat, Yunho kembali berbaring, Jaejoong tampak tertidur lelap.

Yunho sadar, ia takkan bisa tidur malam ini.

.

.

.

Alarm ponsel Jaejoong berbunyi.

Merasa kurang puas dengan tidurnya ia menggerutu sambil mencari ponselnya untuk mematikan alarm dan kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.

Tapi kemudian ia ingin buang air kecil. Bagaimanapun juga, ini rutinitas pagi kan?

Akhirnya ia bangun dan turun tempat tidurnya, tak sengaja menginjak kaki Yunho di bawah sana.

"Omo! Maaf!"

Jaejoong hampir lupa kalau Yunho menginap di kamarnya semalam.

"Tidak apa-apa.. Tidurmu nyenyak?" Yunho memposisikan dirinya untuk duduk di hadapan Jaejoong yang masih terduduk di tepian ranjangnya.

Jaejoong mengangguk, "Apa sakit?" ia melirik kaki Yunho yang baru saja terinjak.

"Tidak." Jawab Yunho sambil membelai rambut turun ke wajah Jaejoong dengan begitu lembut. Untuk sesaat, Jaejoong kehilangan kata-kata.

"Pasti badanmu sakit semua karena tidur di lantai."

"Tidak apa-apa. Lagipula aku tidak tidur."

"Tidak tidur? Kenapa?"

"Sibuk memandangimu yang sedang tidur."

"A-aku? Ke..napa?"

"Karena ingin, rasanya sayang kalau aku hanya tertidur."

Jaejoong tersenyum geli dengan jawaban cheesy Yunho.

Mereka hanya saling melempar senyum sampai Yunho membuka mulutnya, "Morning kiss?"

Jaejoong mengangguk pelan, Yunho pun segera menncium bibir menggoda milik Jaejoong. Hanya menempelkan lembut dengan sedikit lumatan.

Karena posisi Yunho yang terduduk di lantai, Jaejoong harus menunduk untuk tetap membiarkan bibirnya dimanja oleh pria itu.

"Good morning.." ucap Yunho setelah melepas ciuman manisnya.

"Morning.."

Mereka tersenyum.

"Ah, tunggu sebentar!" Jaejoong langsung berdiri dan menuju kamar mandi. Meski atmosfer yang terjalin sudah sangat sempurna, tapi tetap saja ia tak bisa menahan untuk ke kamar mandi.

Setelah selesai, Jaejoong berjalan ke pintu kamarnya, saat ia membuka pintu, botol-botol susu yang baru sudah ada disana.

Ia menuangkannya ke gelas tepat saat Yunho keluar dari kamar mandi.

"Minumlah." Jaejoong menoleh pada Yunho dan memberikan salah satu gelas itu.

"Kau mau sarapan?" tanya Jaejoong.

"Kau mau membuatkannya untukku?"

"Tentu saja."

"Oke, aku akan memakan apapun yang kau berikan."

Jaejoong membuka kulkas dan mendapati katsu ayam, telur dan kimchi.

"Sepertinya aku hanya bisa membuat sarapan yang biasa-biasa saja."

"Tidak masalah." Yunho memperhatikan gerak-gerik Jaejoong dengan penuh minat.

Wanita itu mulai mencuci beras dan memasukannya ke dalam mesin penanak nasi, lalu ia mengeluarkan katsu dari freezer dan memasukannya ke dalam microwave.

Ia memasak sup telur di sebuah panci kecil kemudian menggoreng katsu yang sudah keluar dari microwave.

Jaejoong meletakkan nasi yang sudah matang, katsu ayam yang sudah dipotong-potong, sup telur, dan lembaran rumput laut, dan tentu saja kimchi yang menjadi makanan pendamping. Hm, tidak begitu buruk.

"Mari makan."

Yunho mulai menyantap makanannya.

Ia berharap bisa duduk berhadapan dengan Jaejoong setiap hari dan menikmati sarapan bersama seperti saat ini. Ia ingin bersama Jaejoong setiap hari, bukan hanya hari ini.

"Aku tidak punya banyak makanan, tapi aku berusaha menyiapkan yang terbaik untukmu."

"Ini enak kok."

"Syukurlah kalau kau suka. Oh ya, coba makan rumput lautnya seperti ini..." Jaejoong meletakkan selembar rumput laut di telapak tangannya, diatasnya ia taruh sedikit nasi dan kimchi, menggulungnya lalu menyuapinya untuk Yunho.

"Bagaimana?"

"Iya, enak."

Mereka tertawa bersama, saat...

"Kau sudah masak kan? Ayo barter dengan—"

Jaejoong lupa mengunci kembali pintunya setelah mengambil susu tadi. Jadilah Changmin sudah berdiri di depan pintunya dengan sepiring telur goreng.

Lelaki tinggi itu terdiam melihat ada seorang pria duduk di depan Jaejoong.

Jaejoong, Yunho, dan Changmin hanya saling bertukar tatapan tanpa bisa berkata apa-apa.

"Siapa dia?" tanya Changmin.

"Oh.. Ini.." Jaejoong menjawab dengan terbata-bata. Melihat pakaian yang digunakan Yunho, tatapan Changmin beralih pada tempat tidur dan melihat selimut yang berantakan di lantai.

"Kalian tidur bersama?"

"Itu..." Jaejoong merasa keringat dingin mengalir di tubuhnya, ia segera bangkit dari duduknya. Sementara Changmin sudah mengambil ponsel dari sakunya

"Kau menghubungi siapa?"

"Rumah Beras."

"Jangan!" Jaejoong segera merebut ponsel Changmin.

"Kembalikan."

"Tidak mau!"

"Kembalikan! Kau memasukkan seorang pria ke dalam kamar!"

"Lalu kenapa? Aku hanya membiarkannya menginap satu malam saja!"

"Sama saja!"

"Annyeonghaseyo, namaku Yunho, Changmin-sshi."

Yunho menyela pertengkaran Jaejoong dan Changmin.

Changmin menoleh, menatap Yunho sambil bertanya-tanya darimana orang ini tahu namanya.

"Aku dengar kau teman baik Jaejoong." sambung Yunho inosen.

"Aku lebih seperti penjaganya. Penjaganya. Dan aku tidak akan memaafkanmu." Changmin mengatakannya dengan begitu tajam.

"Aku akan mengambil alih tugas itu, mulai sekarang." Jawab Yunho sambil terus menatap Changmin.

"Apa?"

"Mulai sekarang, aku yang akan menjaga Jaejoong."

Changmin tersenyum sinis, "Siapa bilang, huh?"

"Aku sendiri."

"Tunggu! Tunggu dulu! Kalian berdua. Aku bisa menjaga diriku sendiri, oke? Pertama-tama, sebaiknya duduk dulu. Changmin.. Duduklah dan makan. Kau juga, Yunho."

"Kau menyuruhku duduk? Di situasi seperti ini bahkan kau masih bisa makan?" Teriak Changmin.

"Memangnya kenapa? Kau berlebihan sekali! Memangnya aku merebut suami orang? Memangnya aku masih di bawah umur? Kenapa tingkahmu menyebalkan sekali sih?!"

"Bicara saja terus! Aku pasti akan melaporkan pada kakak-kakakmu!"

"KAU MENYEBALKAN!"

"KAU MESUM!"

"Yah! Memangnya apa yang ku lakukan sampai kau mengataiku mesum?!"

"Kami tidak melakukan apa-apa." Lagi-lagi tanpa diminta, Yunho menyela pertengkaran Jaejoong dan Changmin.

"Bagaimana aku bisa percaya kata-katamu, huh?" sindir Changmin.

"Aku sendiri juga tidak mempercayai diriku sendiri yang berhasil menahan diri." jawab Yunho santai dengan senyum lebar.

Baik Changmin dan Jaejoong menatap pria itu dengan tatapan bingung.

"Senang bertemu denganmu, Changmin-sshi." Yunho mengulurkan tangan yang kemudian disambut oleh Changmin.

"Mari kita makan bersama." Yunho kembali duduk sementara Changmin menatap bergantian antara Yunho, Jaejoong dan meja makan sebelum kemudian pergi.

Jaejoong menggerutu sambil menatap Changmin yang menghilang di balik pintu.

Jaejoong baru saja berniat meminta maaf pada Yunho tapi Changmin kembali dengan membawa sebuah kursi.

"Ku pikir kau pergi."

"Kalian berdua punya kursi masing-masing, lalu aku harus makan sambil berdiri?" Changmin membuka kursi lipatnya lalu duduk.

"Beri aku nasi."

"Ambil saja sendiri."

"Aku tamu disini."

"Ishh! Kau ini benar-benar!" Jaejoong melirik tajam pada Changmin kemudian memberi semangkuk nasi dan sup.

"Seingatku kau bilang tidak punya nasi. Dan sekarang.. Kau bahkan menyiapkan katsu ayam?"

"Jadi kau cemburu karena aku punya katsu?"

"Aku tidak bilang begitu. Changmin-ah, tolong betulkan pintu kamarku, ayo barter tisu dengan makanan. Karena Siwon aku sampai tidak makan nasi berhari-hari jadi tolong siapkan makanan untukku." Changmin berusaha meniru gaya bicara Jaejoong.

"Ishhh." Jaejoong yang kesal segera menyumpal mulut Changmin dengan sepotong katsu.

"Makan!"

Changmin pun mengalah, ia menggerutu sambil makan.

"Sebenarnya aku agak curiga saat kau tidak mau membuka pintu dengan alasan sedang mandi."

"Aku kan sudah bilang, tidak ada yang terjadi di antara kami. Sepanjang malam sama sekali tidak terjadi apa-apa." sergah Jaejoong dengan nada jengkel luar biasa.

Tapi nada bicara Jaejoong terdengar aneh bagi Yunho dan Changmin yang menatapnya seketika itu juga.

"Dari nada bicaramu, sepertinya kau kecewa."

"Apa? Bukan. Bukan itu maksudku." Segera saja ia merona malu. Yunho tertawa kecil namun kemudian suara dering ponsel mengganggu aktifitas sarapan mereka.

"Maaf, ponselku." Yunho mengangkat ponselnya memberi isyarat bahwa suara itu dari ponselnya, ia beranjak bangun dan agak menjauh dari sepasang sahabat itu.

"Hai, Steve? How are you?"

Yunho bicara dengan bahasa inggris yang lancar. Changmin hanya terdiam memandangi Yunho yang sedang berbicara kemudian menatap Jaejoong.

'Ada seorang pria dari Amerika yang selama di Korea, tinggal di sebuah hotel.' Changmin kini mengerti kalau yang dibicarakan Jaejoong tempo hari adalah Yunho.

"Jadi kau mendapat ide cerita yang bagus ketika menginap di hotel?" Changmin meledek sambil menunjuk sosok Yunho dengan dagunya.

"Diam kau."

"Jadi kau ingin menikahinya?"

"Sudah! Diam."

"Pria itu tingginya hampir sepertiku, sangat tampan dan pandai berciuman, huh?"

"Tutup mulutmu!"

"Oke, terus saja berkhayal dengan Bi Rain-mu itu."

Changmin membalik badannya dan kembali menatap Yunho yang masih sibuk menelpon.

"Dia orang Korea?" tanyanya lagi.

"Ya, tapi kewarganegaraannya Amerika."

"Jadi.. Bagaimana rasanya berciuman dengannya? Enak? Cinta pada pandangan pertama?"

"Shim Changmin! Tutup mulutmu!" Ucap Jaejoong dengan suara pelan namun tajam.

Yunho kembali bergabung dengan Jaejoong dan Changmin.

"Di desa kami, pria yang tidak bertanggung jawab setelah menghabiskan malam bersama dengan seorang wanita disebut—"

"Ddongkae." Yunho memotong kalimat Changmin.

"Kau sudah tahu rupanya."

"Tentu saja.. Aku yang mengajarinya."

Changmin menatap Jaejoong yang menjawab dengan bangga lalu kembali meneruskan makannya.

.

.

.

Yunho memasuki ruangannya dan mendapati Ilwoo disana.

"Ternyata kau tidak kembali ke hotel semalam."

"Hyung mencariku ke hotel?"

"Iya, tadinya.. Aku dan Sooyoung ingin mengajakmu minum."

"Maaf hyung, aku pergi ke suatu tempat."

Ilwoo menyipitkan matanya, "Aku datang hampir tengah malam dan kau belum juga kembali, lagipula sepertinya hari ini kau memakai baju yang kau pakai kemarin."

"Aku tidur di luar, hyung."

"Di mana?"

"Rumah seorang wanita."

"Wanita? Siapa?"

Yunho tersenyum simpul, "Wanita yang ku sukai."

"Wow.. Bagaimana kalau kau memperkenalkannya padaku?"

Ilwoo duduk di sofa dengan nyaman. Ia ingin sekali mendengar dari Yunho tentang siapa wanita itu, dan apa saja yang terjadi pada mereka.

"Hyung.. Ini urusan pribadiku, kan?"

"Aku bukannya ingin ikut campur, hanya ingin tahu siapa wanita itu."

"Tidak sekarang. Aku hanya bisa no comment."

"Baiklah, aku tidak akan bertanya apa-apa lagi.. Tapi kau harus ingat, kalau kau sudah sampai bermalam di rumah seorang wanita, itu artinya kau sudah cukup serius padanya dan akan menjalani hubungan itu sampai akhir kan?"

"Tentu saja."

"Tentu saja? Memangnya berapa lama kau mengenalnya?"

"Dua minggu."

"Maksudmu.. Dalam waktu dua minggu, kau sudah yakin dengan keputusanmu? Kau paham kan.. Yang ku maksud 'sudah cukup serius' disini adalah... Pernikahan."

"Aku paham, hyung. Hyung sendiri yang pernah bilang kalau hyung bahkan ingin menikahi hyongsunim setelah tiga puluh menit bertemu dengannya."

"Hei, situasinya jelas beda. Ini sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan situasi yang kau alami. Bukankah kau juga bilang kalau Sooyoung adalah wanita yang tidak tergantikan?"

"Begitu juga dengan Jaejoong-ku, tak ada yang bisa menggantikannya, hyung. Sekalipun aku membandingkannya dengan hyongsunim."

"Jaejoong-mu? Namanya Jaejoong?"

"Ya, Kim Jaejoong."

"Hm, nama yang bagus.. Tapi aku yakin tidak ada yang bisa menggantikan Sooyoung."

Yunho terkekeh, tentu saja Ilwoo akan berpikir seperti itu sebagai seorang suami.

"Ya, tapi bagiku.. Jaejoong lebih spesial."

Entah kenapa, Yunho merasa tidak mau kalah dari Ilwoo.

"Jaejoong sendiri menganggapmu spesial?"

"Sepertinya."

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku mohon, berhentilah bertanya, hyung... Hyung bilang hanya ingin tahu satu hal saja." Yunho tertawa kecil karena Ilwoo begitu semangat memberondongnya dengan pertanyaan.

"Tunggu. Yang ini pun aku harus tahu. Apa Jaejoong tahu pekerjaanmu? Apa dia tahu kalau kau adalah Direktur Walden Pictures?"

"Dia tidak tahu, dan untuk saat ini aku tidak ingin memberitahunya."

"Baiklah kalau begitu." Ilwoo bangkit dari duduknya.

"Sampai kapan kau akan menyembunyikannya?" sambung Ilwoo.

"Sampai aku merasa kalau dia siap, hyung."

"Kalau Sooyoung tahu, dia pasti akan kecewa." Ilwoo mendadak terkekeh geli.

"Memangnya kenapa?"

"Karena dia tidak ingin kau menikah, dia ingin kau tua sendirian."

"Ya Tuhan."

"Baiklah, jadilah anak yang baik kalau begitu. Ohya, tadi kudengar dari yang lain kalau hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan sekretaris Song, tolong berikan ini padanya." Ilwoo menyerahkan sebuah amplop bermotif bunga, ah.. Pasti voucher makan.

"Baiklah, nanti akan kuberikan padanya."

Ilwoo pun meninggalkan ruangan Yunho setelah berpamitan, dan lewat interphone, Yunho memanggil sekretaris Song.

Wanita itu masuk dan segera membereskan cangkir kopi yang tadi disediakan untuk Ilwoo.

"Terima kasih sudah membantuku, sekretaris Song.. Oh iya, selamat ulang tahun pernikahan."

Sekretaris Song terkejut dengan ucapan atasannya itu. "Bagaimana sajangnim bisa tahu?"

Yunho hanya tersenyum lalu menyerahkan amplop tadi.

"Ini hadiah, pergilah makan bersama suami anda."

"Terima kasih, sajangnim."

Wanita itupun keluar dengan wajah gembira.

Ini memang semacam etika di Walden Group, mereka memperlakukan karyawan sebagai keluarga dan lagi, Yunho sendiri sadar betul kalau Walden Korea bukanlah kantornya, jadi ia harus menjaga nama baik Ilwoo yang membawanya kesini dengan terus bersikap baik pada karyawan karena semua yang ada disini adalah pinjaman saja.

Yunho duduk di kursinya dan menatap monitor komputer diatas meja.

Ia mencari naskah berjudul 'A Late Autumn' diantara deretan naskah yang sudah masuk ke email Walden Korea. Tapi nihil.

Sepertinya Jaejoong belum mengirim naskah itu.

Ah iya, ia ingat semalam Jaejoong bilang tidak bisa berkonsentrasi karena dirinya kan?

Menghabiskan malam di tempat tinggal Jaejoong menjadi malam terberat sekaligus berkesan bagi Yunho.

Direktur muda itu menyeruput kopinya saat sadar ponselnya berdering.

Jaejoong.

Ia segera mengangkat panggilan itu.

"Jaejoong?"

[Iya.. Ini aku. Kau dimana?]

Mendengar suara Jaejoong yang bersemangat membuat suasana hati Yunho semakin membaik.

"Aku sudah di kantor."

[Oh.. Sudah sampai rupanya. Syukurlah. Apa kau sibuk?]

"Tidak. Ada apa?"

[Maaf kalau kau cukup bingung menjalani pagi ini.]

"Sebaliknya, tadi pagi itu cukup menyenangkan bagiku."

[Benarkah? Aku takut kau terbebani. Ohya, aku akan pergi ke Chungnam hari ini.]

"Chungnam?"

[Iya, kakakku yang ketiga sedang mendapat libur dari kesatuan militernya. Karena sudah lama sekali tidak bertemu denganku, dia memintaku pulang. Aku baru akan berangkat.]

"Berapa lama kau disana?"

[Aku akan pulang lusa.]

"Kau akan menghubungiku kalau sudah kembali ke Seoul kan?"

[Apa kau akan menungguku?]

"Tentu saja."

[Baiklah, aku akan menghubungimu. Tapi, selama aku tidak ada, jangan bertingkah seperti ddongkae ya.]

Mendengar itu, Yunho tertawa.

"Tenang saja.. Hati-hati ya.. Cepatlah kembali."

Setelah menutup sambungan, Yunho merasa hampa. Jaejoong hanya akan meninggalkan Seoul selama dua hari, tapi ia cukup tahu jika Seoul baginya tidak akan seru tanpa adanya wanita itu.

Tiba-tiba saja ia merasa kesepian, padahal baru beberapa detik. Ia pun berjalan menuju ke luar ruangannya.

"Sekretaris Song."

"Ya, sajangnim?"

"Chungnam.. Ada di daerah mana?"

"Chungnam? Di Jeollanam-do."

"Jeollanam-do? Apa itu jauh?"

"Hmm.. Jeollanam-do ada di pantai barat, kalau sajangnim lewat tol mungkin sekitar dua atau tiga jam."

"Dua jam? Oke."

Yunho buru-buru melangkah menuju lift, dan ketika lift terbuka di lantai satu, Yunho mencoba menghubungi Jaejoong.

[Halo.]

"Jaejoong? Aku akan menjemputmu sekarang."

[Aku kan sudah bilang tadi. Aku akan ke Chungnam.]

"Aku akan mengantarmu kesana."

[Kau bahkan tidak mengenal jalanan Seoul, aku bisa naik bus. Kau tidak perlu datang kesini.] tolak wanita itu lembut.

"Aku sudah di jalan. Tunggu aku."

Jaejoong berusaha mencegah Yunho datang, tapi Yunho bersikeras dan segera menutup sambungan.

Direktur muda itu tampak begitu terburu-buru di lobi hingga nyaris menabrak Ahra.

"Maaf."

"Ah, tidak apa-apa sajangnim. Kelihatannya anda buru-buru."

"Iya."

"Apakah malam ini sajangnim akan pulang larut juga?"

"Ada apa, Penulis Go?"

"Saya ingin mentraktir anda makan malam karena saya merasa tidak enak sudah merepotkan kemarin."

"Tidak perlu, lagipula hanya sampai stasiun saja."

"Jangan begitu, sajangnim. Kalau tidak keberatan tolong luangkan waktu."

"Saya harus pergi sekarang. Kita bicarakan lagi lain waktu."

"Kalau sajangnim tidak keberatan, tolong beritahu saya kalau sudah kembali."

Ahra pantang menyerah, sebenarnya ia ingin bicara lebih banyak dengan Yunho. Tapi pria itu sudah terlanjur keluar gedung.

"Dia kan tinggal di Amerika, apa yang membuatnya sibuk sekali di Korea ya?" gumam Ahra sambil melihat Yunho yang sudah menaiki mobilnya.

.

.

.

Yunho tidak begitu mempedulikan Ahra karena ingin cepat sampai di tempat Jaejoong dan menikmati waktu bersama perempuan itu di jalan. Sekalipun perjalanan mereka mungkin cukup jauh, Yunho yakin bisa kembali ke Seoul dengan selamat.

Yunho tiba di depan gedung apartemen Jaejoong, melihat sosok perempuan yang dicintainya itu tengah berdiri membawa sebuah tas yang tidak begitu besar.

"Kau benar-benar datang?" Sapa Jaejoong takjub.

"Aku sudah bilang kan?"

Yunho mengambil tas Jaejoong dan meletakkannya di jok belakang, lalu membukakan pintu untuk Jaejoong.

"Jangan-jangan kau tidak pernah bisa berhenti memikirkanku ya?" goda Jaejoong saat Yunho sudah kembali ke kursinya di balik kemudi, mulai menyalakan mesin Benz-nya.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Sudah kuduga." Jaejoong tersenyum kecil.

"Bagaimana caranya kau pulang nanti?"

"Ada GPS, lagipula papan petunjuk jalan juga ada."

"Tapi sepertinya aku tidak akan tega melihatmu pergi sendirian."

"Kalau begitu, pulanglah bersamaku."

"Itu tidak mungkin kan?"

Yunho terkekeh. Tak lama meninggalkan gedung apartemen Jaejoong, mereka sudah memasuki tol.

"Ohya, kapan deadline lomba penulisan skenario itu?"

"Empat hari lagi, aku akan menyelesaikannya di Chungnam dan langsung mengirimkannya."

"Jangan sampai lupa. Kau harus segera mengirimkannya."

"Jangan khawatir, aku bahkan membawa laptop-ku."

"Bagus!"

"Tapi terima kasih sudah mengingatkannku."

"Karena menurutku, sayang sekali kalau kau melewatkan lomba ini."

Jaejoong mengangguk setuju. Tangan Jaejoong menyentuh sedikit dashboard mobil itu.

"Yunho, rasanya aku sudah terbiasa dengan mobilmu ini."

"Hm?"

"Maksudku rasanya aku semakin nyaman dengan mobil ini, bukannya sombong tapi sejak bertemu denganmu, kau selalu menjemput dan mengantarku dengan mobil ini.. Rasanya seperti tuan putri." Jelas Jaejoong polos.

"Bagiku, kau memang tuan putri."

Jaejoong tertawa kecil mendengar itu, "Ayahku pasti akan senang sekali mendengarnya. Karena selama ini, beliau selalu memanggilku dengan panggilan itu. Tapi, kurasa semua ayah akan menganggap anak perempuan mereka sebagai tuan putri. Mm.. Sebentar lagi kita akan sampai di tempat peristirahatan Haengdam-do. Di sana kita bisa melihat laut."

"Oh ya?"

"Kita harus berfoto bersama disana! Sebenarnya lebih bagus pemandangan di malam hari.. Disana indah sekali. Disana ada resort Ocean Park, waktu menginap disana bersama keluargaku, aku benar-benar kagum pada pemandangan malam disana."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita menginap disana?"

Jaejoong melirik Yunho, "Kau pasti akan menunggu sesuatu terjadi kan?"

Yunho tertawa karena pikirannya terbaca jelas oleh perempuan di sampingnya ini.

Karena keluar kota di hari kerja, jalan yang mereka lalui tidak terlalu padat. Tidak perlu waktu lama sampai mereka tiba di tempat peristirahatan Haengdam-do. Yunho segera turun dari mobil dan membawa Jaejoong ke tepi pantai.

"Benar kan yang ku katakan? Ini indah!" Jaejoong mencoba bicara di tengah hembusan angin pantai yang cukup kuat.

"Iya, ayo berfoto!" Ajak Yunho sambil mengeluarkan ponselnya. Tangannya yang semula tertaut erat dengan tangan Jaejoong ia tarik, Jaejoong kini berada di pelukan pria itu.

Membelakangi laut, Yunho mengambil beberapa foto sambil memeluk erat tubuh Jaejoong. Ia bahkan menyempatkan mengambil satu pose mencium pipi Jaejoong sebagai foto terakhir.

"Yunho, jangan begini.. Kita di tempat umum." Pipi Jaejoong merona manis.

Yunho jadi semakin gemas.

.

.

Jaejoong meminta foto-foto itu saat mereka menunggu makan siang di salah satu sudut kafeteria di tempat peristirahatan itu.

Menunggu dua mangkuk udon hangat.

"Pemandian air panas di Chungnam bagus sekali! Kau harus mencobanya! Tapi, apa kau sudah pernah ke pemandian air panas?"

"Pernah. Waktu aku ke Jepang. Aku hanya mencoba karena kebetulan ada."

Jaejoong tersenyum lebar, "Kapan-kapan.. Ayo kita pergi bersama."

"Tentu. Aku tidak akan menolak ajakanmu."

"Ohya, Yunho.. Apa kau berencana kembali ke Amerika? Kapan?"

"Seharusnya sekarang aku sudah disana, tapi ku undur lagi, karena rasanya aku tidak sanggup pergi dan meninggalkanmu."

Jaejoong tersenyum senang, Yunho selalu membuatnya meleleh.

"Ada apa tiba-tiba ingin tahu, hm?" Yunho balik bertanya.

"Ah, tidak... Aku hanya berpikir, jika nanti kau kembali ke Amerika, apa yang akan ku lakukan?"

Yunho menggenggam tangan kanan Jaejoong.

"Kau tidak ingin aku kembali kesana?"

"...Iya, aku pasti akan merindukanmu.. Lalu..."

"Lalu?"

"Aku pasti akan merasa sedih jika kau pergi."

Yunho pun membelai wajah Jaejoong yang kini terlihat sedih.

"Rasanya... Kita berdua tidak boleh berpisah..." gumam Jaejoong.

"Tentu. Karena kita saling mencintai." Jaejoong menatap Yunho, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena inilah pertama kalinya mereka bicara soal perasaan masing-masing.

Ya, mereka sama-sama tahu kalau mereka saling mencintai. Meski belum ada ungkapan cinta yang terucap jelas.

Setelah menyelesaikan makan siang, mereka pun beranjak untuk kembali meneruskan perjalanan ke rumah orang tua Jaejoong di Chungnam.

.

.

Mereka sampai di dekat rumah dengan petunjuk dari Jaejoong.

"Turunkan aku disini saja, yang di depan itu toko milik keluarga kami. Kau lihat? Rumahku yang menempel dengan toko beras itu."

Yunho menghentikan mobilnya. Karena ingin membukakan pintu untuk Jaejoong, ia melepas seat-beltnya tapi Jaejoong mencegah.

"Aku turun sendiri saja. Hampir semua orang disini mengenalku. Aku tidak ingin jadi pusat perhatian."

"Kenapa? Memangnya kau tidak ingin memperkenalkanku pada mereka?"

"Tentu saja aku ingin, tapi aku sendiri pun belum tahu banyak tentangmu. Lagipula kalau sudah melihatmu, mereka tidak akan melepasmu begitu saja."

"Maksudmu?"

"Mereka akan terus menanyaimu ini-itu, pokoknya merepotkan. Jadi, aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman, sebaiknya aku turun sendiri dan kau kembali ke Seoul sebelum hari semakin sore. Kau yakin bisa kembali sendiri?"

"Tentu saja, lagipula aku bukan bocah kan?"

Jaejoong terkekeh.

"Harusnya tadi aku pergi sendiri saja. Maaf sudah merepotkanmu, aku jadi agak khawatir."

"Tenang saja, tidak ada yang perlu kau khawatirkan."

"Kalau sudah sampai di Seoul, langsung hubungi aku ya?"

"Pasti."

"Hati-hati di jalan."

"Oke."

Sebelum turun dari mobil, Yunho menarik Jaejoong dan menciumnya tepat di bibir.

Seperti biasa, ciuman yang manis namun menggetarkan.

Yunho melepasnya.

"Kau ini... Bagaimana kalau ada yang melihat? Ini daerah kekuasaan ayahku." Jaejoong panik dengan pipi merona.

"Kau akan memikirkanku, kan?"

Jaejoong tersenyum, "Walaupun kau larang pun, aku tetap akan memikirkanmu."

"Boleh aku menciummu lagi?"

"Ishh.. Tidak!" Kali ini Jaejoong kembali galak, seperti orang tua yang memarahi anaknya.

Jaejoong baru akan turun saat Yunho kembali menariknya dan menangkup wajahnya untuk meminta satu ciuman lagi. Melumat lembut bibir ceri milik wanitanya itu.

"Kalau aku tidak menciummu sekali lagi, aku pasti akan menyesal. Jaga dirimu baik-baik."

"Iya, kau juga."

Jaejoong akhirnya turun dan menatap mobil Yunho yang perlahan menjauh, ada sedikit rasa tidak rela sebenarnya.

Dan saat mobil Yunho sudah tak terlihat, Jaejoong berbalik menuju Rumah Beras.

"Appa.." sapa Jaejoong saat melihat ayahnya sedang bermain catur dengan Shim ahjussi, ayah Changmin.

"Omo! Tuan putriku sudah datang." dengan begitu hangat, kedua pria lanjut usia itu menyambut kedatangan Jaejoong.

"Jaejoongie, kau baik-baik saja?" tanya Shim ahjussi.

Jaejoong mengangguk.

"Bagaimana keadaan Changmin?"

"Dia juga baik, ahjussi. Ohya, appa.. Eomma dimana?"

"Ada di sebelah, sedang menggiling cabai. Kau datang lebih cepat, apa tidak macet?"

"Tadi ada seorang teman yang kebetulan mau pergi dan lewat Chungnam, jadi aku memintanya mengantarku kesini."

"Ohya? Baguslah." Ayah Jaejoong membuka kulkas dan memberi kaleng minuman dingin pada putrinya itu.

"Ohya, kenapa oppa memaksaku pulang, appa?"

"Oh itu..."

"Jaejoongie! Kau sudah sampai?"

Tiba-tiba saja Kim eomma muncul dari belakang rumah.

"Iya, eomma.."

"Aigoo.. Tuan putri kami sudah sampai."

Sambil tersenyum, ayah Jaejoong memperhatikan anak dan istrinya yang sedang berpelukan.

"Mana oppa, eomma?"

"Begitu sampai rumah, dia langsung pergi ke pemandian karena ingin berendam."

"Lalu, kenapa oppa memintaku pulang?"

"Oh itu..."

Ayah dan ibu Jaejoong saling bertatapan dengan ragu. Akhirnya Ibu Jaejoong membuka pembicaraan.

"Dia ingin menjodohkanmu dengan temannya."

"Apa?"

.

.

.

.

.

to be Continued

.

Bagian keempat!

Maaf kalo masih ada typo.

Ternyata chapter ini udah sampe di pertengahan cerita, jadi saya ralat.. Mungkin fic ini gak ampe 20 chapter hehehe.. :D

Maaf ya buat yang minta update kilat, bukannya gak mau, tapi emang proses ngetiknya lama banget, susah nyari waktu kosong selain weekend.

Makasih banyak juga buat semua apresiasinya, cerita bagus ini sepenuhnya punya Kim Rang bukan milik saya, jadi kalo ada cacat berarti itu dari saya. XD

Buat yang nunggu NC atau bahkan nikahannya YunJae, sabar yaa.. Muehehe..

Makasih udh mau baca ampe chapter ini, temen-temen...

So, see ya in the next chap! ^^

.。.:*・° .。.:*・° .。.:*・° .。.:*・°

Special thanks to :

Han Yura || HunHanCherry1220 || mimimi || ruixi1 || puspita || dianavl || noona || ClouDyRyeoRez || Lee Muti || Shallow Lin || PURPLE-KIMlee || mrs jang || akiramia44 || Gu gu || aismamangkona || Jiy || MYunjae || zhaf || JYuly || irna lee 96 || riii-ka || yla yunjae || mrspark6002 || she3nn0 || birin rin || michomichobaby || MaxMin || 909596 || TitaniumSP || Chotie04 || ShinJiWoo920202 || YunjaeDDiction || Lilin Sarang Kyumin || rikurijung || cindyshim07 || Park FaRo || tinaYJS || Park July || Lawliet Jung || ajid yunjae || meybi || Eun Kyang Kyang || Pumpkins yellow || MyBabyWonKyu || Anggunyu || yoon HyunWoon || Jung Jaehyun || jongindo || farla 23 || triloveyunjae || Dewi15 || azahra88 || BaBYunJae || sasya || yuu || cha yeoja hongki || nimahnurun || antarijoongie || ayudessy1222 || mayaseoulyewookkyu || dienha || kmskjw21 || beta shipper yunjae || littlecupcake noona || Risza || BaekXoLove614 || Ai Rin Lee || cho ri rin || iche cassiopeiajaejoong || aiska jung || JungKimCaca || cristiyunisca || BibiGembalaSapi || yunjae || yuniA || firaamalia25 || zaladevita || Lollyglory || kaihun07 || yunbb || KimRyeona19 || pie choco || justfera02 || sucirahmay || chanbaekyu || jeje || my a23 || alfi rivai || and all Guests also Silent Readers.

.

Hugs and Kisses for u all~ :*

.

.

Sign,

Cherry YunJae.