-the Last 2%-
a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae.
.
Jaejoong, Yunho, Changmin, Siwon, Junsu, Go Ahra, and others.
YUNJAE.
T-M Rated.
Drama/Romance.
WARNING! GENDERSWITCH! Typos everywhere! Out of Character!
.
I write because i want, not for amaze people.
.
DON'T LIKE, DON'T READ! Told ya before!
.
.
[ © Sebuah remake dari novel milik Kim Rang dengan judul yang sama(2006), cerita sepenuhnya milik Kim Rang hanya beberapa yang saya ubah termasuk casts dan latar untuk keperluan cerita. ]
.
.
.
.
Bagian Kelima.
.
.
.
"Menjodohkanku dengan temannya? Siapa?"
"Pokoknya kakakmu hanya bilang seperti itu, temui saja dia dulu."
"Aku? Kenapa aku harus menurutinya?" Jaejoong melotot, tentu saja ia menolak mentah-mentah hal itu.
"Kakakmu bilang dia orang yang baik, sepertinya memang cocok denganmu."
"Tidak, eomma. Aku tidak ingin buru-buru menikah. Lagipula banyak wanita di umur dua puluh delapan pun masih fokus pada karir mereka.. Appa, apa aku harus cepat-cepat menikah?"
"Tidak. Kau tidak harus cepat menikah, tapi teman kakakmu ini orangnya baik sekali, otaknya cerdas, lulusan yang sama dengan kakakmu, dan ayahnya punya klinik jadi hidupnya terjamin. Paling tidak kau kenalan saja dulu."
"Dan lagi, yang terpenting dia itu maknae di keluarganya, jadi eomma tidak harus khawatir kalau kau akan dibawa." sambung Kim eomma.
Sepertinya orangtua Jaejoong pro sekali pada pria itu. Meski mungkin dia adalah pria baik-baik, tapi tetap saja Jaejoong tidak suka dijodoh-jodohkan seperti ini.
"Aku tidak mau, appa.. eomma.. Aku tidak suka. Pokoknya aku tidak mau. Apa kalian akan tetap memaksaku?"
Abeoji menghela nafas sambil tersenyum maklum, "Ya sudah kalau kau tidak suka, kau tidak perlu menemuinya.. Bicarakan saja pada kakakmu." jawab Abeoji.
"Yah! Mana bisa begitu? Meski sekarang umur dua puluh delapan tidak tergolong perawan tua, tapi tetap saja tidak boleh bersantai-santai. Lagipula kau kan belum bertemu orangnya, bagaimana bisa kau bilang tidak suka?" Eomma melirik Abeoji yang terlalu cepat luluh pada sang tuan putri.
"Aku tidak suka tentara. Sampai kapanpun pasti mereka akan pindah-pindah tempat. Belasan bahkan puluhan kali. Hyunjoong oppa bahkan sudah pindah lima kali. Aku tidak mau."
Dahi kedua orang tua Jaejoong mengernyit, susah sekali membujuk anak perempuannya ini.
"Meski pindah-pindah tapi kan dia punya penghasilan tetap, setidaknya hidupmu terjamin. Kenapa kau keras kepala sekali?" Eomma tak juga berniat menyerah.
"Shirreo! Apa eomma dan appa menyuruhku pulang karena ini? Kalau iya, aku akan kembali ke Seoul sekarang juga."
Abeoji segera menahan tangan putrinya yang hendak pergi.
"Dia kan sudah bilang tidak suka, kenapa kau masih memaksanya?" sergah abeoji membela Jaejoong.
Eomma menghela nafas, "Aku hanya ingin memastikan yang terbaik untuk putriku, apa itu salah? Lagipula aku tidak ingin dia dapat anak sulung."
"Sudahlah, Jaejoong bukan sampah yang harus cepat-cepat dititipkan pada orang lain, kau kan juga perempuan, pasti mengerti perasaan Jaejoong." Abeoji menekan kata-katanya.
"Ya sudah, yang bersikeras menjodohkanmu kan kakakmu, bicaralah baik-baik dengannya." Sambung abeoji pada Jaejoong.
"Iya, bicarakan saja nanti.. Eomma sedang memasak daging, kau mau makan?" eomma beranjak.
"Tidak. Aku tidak berselera makan, lagipula tadi aku sudah makan udon di tempat peristirahatan."
"Mana cukup kalau hanya makan mie? Kau harus makan lagi."
"Baiklah, eommaaa.."
Eomma pun segera kembali ke dapur. Hanya tinggal abeoji dan Jaejoong kini di ruang tamu.
"Kalau kau tidak mau, tidak usah menemuinya.. Turuti saja kata hatimu."
Jaejoong mengangguk pelan, ia ragu harus mengatakan hal ini atau tidak.
"Sebenarnya, aku sedang menyukai seseorang, appa.."
"Oh ya? Lalu? Seperti apa dia?"
"Dia orang Korea, tapi tinggal di Amerika."
"Amerika?" Wajah abeoji terlihat begitu kaget.
"Bagaimana kau bisa mengenalnya? Lalu, kalau kau menikahinya.. Kau akan tinggal disana?"
"Appa.. Kami belum bicara sampai ke sana, tapi... Aku benar-benar menyukainya. Jadi sekarang ini aku tidak mau dijodohkan dengan siapa-siapa."
Abeoji tersenyum.
"Appa mengerti. Kau tidak perlu bertemu dengannya. Tapi kalau kau pindah ke Amerika.. Appa dan eomma pasti akan merindukanmu."
"Eiihh.. Appa.. Kami sama sekali belum membicarakan pernikahan."
"Oh begitu... Lalu, kapan appa bisa bertemu dengannya?"
"Ku harap appa bersabar karena aku sendiri pun belum terlalu mengenalnya."
"Jadi kau... benar-benar sedang menjalin hubungan dengannya?"
"Iya... Sebenarnya tadi dia yang mengantarku kesini." Jaejoong tersenyum.
"Apa? Kenapa kau tidak bilang?"
"Aku takut appa marah, karena aku belum bercerita sama sekali."
"Marah? Aigoo.. Di luar dugaanku, kau memang sudah pantas menikah rupanya. Kau sudah dewasa."
Abeoji sedikit tersenyum pahit mendengar cerita Jaejoong. Ia tak menyangka putrinya benar-benar sedang menjalin hubungan dengan seorang pria.
"Appa, kumohon jangan beritahu ini pada eomma dulu ya? Kalau eomma tahu, beliau pasti akan menanyaiku macam-macam."
"Iya, tenang saja.. Pergilah mandi setelah kau makan."
"Mandi? Aku jauh-jauh kesini bukan untuk mandi.. Aku ingin membantu kalian."
"Appa dan eomma sedang tidak perlu bantuanmu."
"Tapi appa senang kan aku pulang?"
"Tentu saja."
Eomma membawa sup dan tersenyum melihat Jaejoong memeluk abeoji.
"Kau terlihat senang sekali, Tuan putri." ucap eomma.
.
Meski sebenarnya tidak terlalu lapar, tapi Jaejoong menghabiskan semangkuk sup dari eomma-nya. Karena kakaknya belum juga pulang, akhirnya ia menyalakan laptopnya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya abeoji.
"Hum? Baik, appa.. Sekarang ini aku masih kerja untuk buku cerita bergambar yang royaltinya banyak sekali."
"Oh ya?"
"Aku juga sedang menyelesaikan naskah untuk aku ikut sertakan di lomba menulis skenario. Setelah selesai, aku akan langsung mengirimkannya. Paling lambat, aku harus sudah mengirimkannya besok, semoga saja aku berhasil."
"Tentu saja, kau pasti bisa."
"Iya, aku ingin menyusul Junsu yang sedang menyelesaikan mini serinya."
"Mini seri yang akan disiarkan?" celetuk eomma.
"Iya, eomma.." Jaejoong menghela nafas.
"Aku sendiri yang tertinggal, padahal kami memulai bersama. Junsu bahkan ke Jeju untuk menyelesaikan skenarionya, Ahra juga sekarang sukses."
"Ahra? Maksudmu Ahra yang berbuat curang itu?"
"Iya, sekarang ini dia sedang membuat naskah film. Jadi... Hanya aku yang tidak punya apa-apa." jelas Jaejoong lemas.
Abeoji menggenggam tangan putrinya yang kini terlihat putus asa.
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, tuan putri. Ada orang yang mendapat kesuksesannya dengan cepat, ada juga yang lambat. Kau tidak perlu memikirkan kenapa teman-temanmu lebih cepat berhasil di bandingkan dirimu. Semua ada waktunya. Kau tinggal menunggu sambil tetap berusaha."
"Tapi rasanya aku hampir mati karena ini terlalu lama."
"Eii.. Kau tidak akan mati seperti itu, kalau kau mengerjakan semuanya dengan terburu-buru pun tidak akan ada gunanya." eomma kembali membuka mulut.
"Sudah berapa kali eomma bercerita padamu? Ketika lahir, entah kenapa kau tidak bisa minum susu, waktu itu segala cara sudah kami coba tapi tetap susah menyusuimu, rasanya sakit sekali. Lalu nenekmu bilang kalau nantinya anak ini akan menjadi orang yang tidak akan mudah menyerah ketika menginginkan sesuatu. Kau tidak boleh menyerah."
"Tidak, eomma. Tentu saja aku tidak akan menyerah. Hanya saja.. Aku merasa kecewa sekaligus iri."
Eomma tersenyum, "Kalau eomma menjadi dirimu, eomma juga pasti akan kecewa. Tapi kau tidak boleh iri, rayakan saja."
"Benar, masing-masing manusia berusaha menjalani hidup mereka dengan baik dengan cara mereka sendiri-sendiri. Kalau ada temanmu yang berhasil, tentu saja kau harus memberinya ucapan selamat. Karena saat itu, tanpa kau sadar, kau juga membawa keyakinan kalau suatu saat nanti akan ada waktu yang tepat untuk keberhasilanmu sendiri. Masih banyak waktu, appa akan menunggu saat kau bisa berhasil, jadi tidak perlu mengkhawatirkan apapun, kau mengerti?"
Jaejoong mengangguk dan tersenyum menatap kedua orang tuanya. Ia tidak akan melupakan mereka atau siapapun yang ada di Chungnam. Karena mereka semualah yang selalu memberinya pelajaran dan menyemangatinya.
"Baiklah, aku harus melanjutkan skenarioku karena harus ku kirim besok."
"Kerjakanlah." eomma mengusap kepala Jaejoong.
Abeoji dan eomma memandang Jaejoong yang sedang duduk di depan laptopnya dengan penuh rasa bangga. Mereka berusaha memahami perasaan Jaejoong yang sedang putus asa. Jaejoong seperti berusaha sendirian di saat teman-temannya sudah mencapai keberhasilan masing-masing. Bagaimanapun juga, rasa sakit yang dirasakan orang tua saat melihat anaknya putus asa tentu lebih besar. Tapi mereka tetap berusaha mendukung Jaejoong.
.
.
Dua jam berlalu.
Selama Jaejoong mengetik, orangtuanya sama sekali tidak beranjak dari sisinya.
Anak bungsu keluarga Kim itu berhasil menyelesaikan revisi terakhirnya saat sang kakak tiba di rumah.
"Aku pulang! Woah! Kau sudah datang, Joongie?"
Jaejoong hanya melirik tajam dengan ekspresi galak pada kakaknya itu.
"Hei, kau sudah lama sekali tidak bertemu denganku.. Sekarang kau bahkan tidak memberi salam padaku?"
"Renungi dulu kesalahanmu." jawab Jaejoong pada Yoochun, kakaknya.
"Memangnya aku kenapa?"
"Aku sudah tahu kalau kau menyuruhku bertemu dengan temanmu."
Dan Yoochun memberi jawaban yang sama seperti eomma tadi, bahwa temannya itu adalah lelaki yang baik.
"Pokoknya aku tidak mau!"
"Aku kan sudah bilang, dia itu—"
"Terserah! Pokoknya tidak mau! Appa juga sudah bilang, kalau aku tidak mau ya tidak perlu menemuinya. Sudah, aku tidak mau membicarakannya lagi. Keputusanku tidak boleh di ganggu gugat!"
"Ck! Ayo bicara denganku." Yoochun mengajak Jaejoong untuk mengikutinya.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan! Aku tidak mauuu."
"Ada! Sudah, ikut saja!"
Yoochun pun membawa adiknya keluar rumah, tepatnya di halaman rumah mereka.
Sebuah pembicaraan empat mata.
"Kenapa harus disini?" tanya Jaejoong ketus.
"Karena di dalam berbahaya."
Jaejoong mengernyit bingung, apa maksud kakaknya dengan 'bahaya'? Apanya?
"Kumohon, kau harus bertemu dengannya, Joongie.."
"Aku sudah bilang tidak mau. Kenapa kau bilang 'harus'? Ada apa sebenarnya?"
Yoochun terdiam dengan ekspresi bingung, Jaejoong semakin curiga.
"Kalau kau tidak memberitahuku apa alasannya, aku akan tetap pada keputusanku. Kau berhutang padanya huh?"
Yoochun berkali-kali menoleh, takut diawasi dari jauh.
"Bukan! Kau harus janji, tidak memberitahu apapun yang ku katakan pada siapa-siapa."
"Benar dugaanku. Ada apa sebenarnya sih?"
"Mm.. Jadi... Sebenarnya waktu itu setelah pelatihan selesai, aku keluar dengan yang lain dan minum-minum."
"Lalu?"
"A-aku tidak tahu berapa banyak yang ku minum. Pokoknya sampai aku tidak sadarkan diri.. Hari berikutnya, saat bangun.. Ada seorang wanita di sebelahku."
"Apa? Siapa dia?!" Jaejoong mendadak tegang.
"Di-dia.. Pekerja bar itu."
"Jadi kau menidurinya?!"
"Iya."
Jaejoong menyipitkan matanya, "Kau benar-benar gila, menjijikan." sindirnya.
"Aish.. Dengar dulu. Aku benar-benar tidak sadar waktu itu. Sepertinya aku pingsan. Aku sendiri juga kaget setengah mati, bagaimana bisa perempuan itu ada disana tanpa menggunakkan apa-apa.. Argh! Rasanya aku akan gila."
"Tanpa apa-apa? Maksudmu kalian berdua telanjang?"
"I..ya.."
"Tuhan." Jaejoong menghela nafas.
"Aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi dan temanku itu tahu tentang hal ini."
"Bagaimana bisa kau tidak ingat?! Kalian melakukannya, paling tidak kau ingat saat membawanya ke kamar. Kahi unnie harus tahu ini."
Yoochun melotot saat Jaejoong menyebut nama kekasihnya.
"Yah!"
"Oke, appa juga harus tahu. Appa..."
Yoochun segera membekap mulut adiknya dengan panik.
"Bisakah kau diam dulu?!"
"Lepaskan aku! Lalu, jangan bilang kau menjual adikmu dan tidak mau berterus terang pada Kahi unnie?"
"Siapa yang menjualmu? Akupun tidak ingat apa-apa! Bagaimana aku harus berterus terang?"
"Astaga.. Kau benar-benar keterlaluan, Kim Yoochun.. Bagaimana bisa kau tidak mengingatnya? Maksudku.. Paling tidak kau bisa merasakan saat tubuh kalian bersentuhan kan?"
Yoochun terdiam, ia juga berpikir begitu sebenarnya. Ia benar-benar tidak mengingat sensasi seks malam itu.
"Tapi... Kau pakai kondom kan?"
"Ishh.. Jangan keras-keras. Kenapa kau bersikap seperti ini pada kakakmu sendiri?"
"Justru karena kau kakakku! Kondom bahkan hanya bisa melindungi sampai enam puluh persen saja, apalagi baru-baru ini muncul pernyakit baru yang sulit diobati dan mudah menular, lagipula.. Wanita yang kau tiduri itu kan kerja di bar, bisa jadi dia sudah tidur dengan banyak pria sebelumnya."
Yoochun pucat seketika. "Se-serius? Penyakit?"
"Jadi kau tidak memakai kondom?!"
Yoochun semakin pucat.
"Kau tidak bercinta dengan Kahi unnie setelahnya kan?" tanya Jaejoong lagi.
"Kurasa sebaiknya aku mati saja."
Jaejoong menepuk jidatnya sendiri, "Kugali lubang besar untukmu, kalau begitu."
"Arghhh! Aku bisa gila!"
Yoochun mencoba menjambak rambutnya sendiri.
"Kau benar-benar sulit dipercaya." tukas Jaejoong dengan nada prihatin sambil menggelengkan kepalanya.
"Suruh saja temanmu itu tutup mulut dengan cara lain dan bilang kalau aku tidak mau menemuinya."
"Dia pasti tetap akan menghubungimu, Joongie.." Jawab Yoochun dengan wajah memelas.
"Huh?"
"Karena aku sudah terlanjur memberi nomor ponselmu padanya."
"Apa?! Kubunuh kau!"
.
.
.
Ahra merapikan rambutnya sekali lagi, sudah nyaris dua jam ia berdiri di lobi hotel Arizona demi menunggu kedatangan Yunho.
Dan wanita itu tersenyum saat mendapati sosok yang ia tunggu di kejauhan.
Ia memulai akting dengan berusaha berjalan se-natural mungkin.
Sesuai rencananya, ia berpura-pura kaget dan menyapa direktur muda itu.
"Omo, sajangnim!"
Yunho sontak menoleh dan mendapati sosok familiar itu. "Penulis Go? Sedang ada acara disini?"
"Iya, tadi saya ada janji disini. Sajangnim sendiri?"
"Saya menginap disini."
"Oh iya.. Saya baru ingat. Sajangnim baru kembali dari kantor?"
"Iya."
"Uhm.. Belum sempat makan malam kan? Bagaimana kalau makan malam bersama saya? Untuk membayar hutang budi beberapa hari yang lalu."
Mata Ahra berbinar.
Yunho terdiam ragu.
Ini jelas akan membuat Yunho tercap sebagai 'ddongkae' dan lagi, Ahra bukan sembarang wanita, jadi dia merasa tidak nyaman.
Meski memang Yunho belum bisa membuktikan kalau bawahannya ini adalah 'Go Ahra' yang sama dengan yang dimaksud Jaejoong tapi ia tetap merasa harus berhati-hati.
Ah iya, bukankah ini kesempatan bagus untuk mengorek informasi langsung?
"Baik." Jawab Yunho final.
Ia menjaga sopan santun dan ia rasa, tak ada salahnya untuk menyetujui ajakan ini.
Ahra mengajaknya ke sebuah restoran masakan China. Sejujurnya, Yunho tidak suka masakan China—terlalu banyak minyak katanya.
Tapi saat Ahra bertanya tentang kenapa Yunho hanya makan sedikit, pria itu hanya menjawab kalau ia tidak terlalu lapar.
Mereka terdiam sesaat hingga Yunho yakin ini saat yang tepat untuk bertanya.
"Penulis Go, naskah terdahulu anda—"
"Sajangnim tinggal sendirian?"
Sepertinya wanita itu tidak mendengar Yunho, juga karena Yunho mengucapkannya dengan nada ragu.
"Ya."
"Di Amerika juga?"
Yunho mengangguk.
"Omo! Apa anda tidak merasa repot karena tidak ada yang mengurusi?"
"Tidak juga.. Karena sudah lama, jadi sudah biasa."
"Tapi, bukankah lebih menyenangkan kalau ada seseorang yang bisa menemani sarapan bersama dan memasangkan dasi untuk sajangnim?"
"Seseorang yang bisa menemani sarapan dan memasangkan dasi?"
Pikiran Yunho melayang pada Jaejoong. Ia mengira-ngira, seperti apa rasanya kalau setiap hari bisa bangun dari tempat tidur yang sama, lalu sarapan bersama, dan sebelum berangkat kerja... Jaejoong memasangkan dasi untuknya. Saat pulang kerja, disambut oleh ciuman manis dari wanita itu.
Pasti akan sangat menyenangkan. Ia akan menjadi orang paling bahagia. Yunho benar-benar ingin selalu di dekat Jaejoong.
Membayangkan hal itu saja membuatnya tersenyum.
Ahra merasa senang saat melihat senyum Yunho. Ia tidak tahu kalau saat ini Yunho justru membayangkan sosok wanita lain. Bukan dirinya.
"Orang tua sajangnim tidak ingin anda cepat menikah?"
"Tidak. Nenek saya yang terus memaksa."
"Wah, kalau begitu anda harus cepat menikah ya."
"Saya juga ingin seperti itu."
Ya, Yunho ingin menikah. Dan bukan hanya untuk perintah neneknya, ia ingin menikah demi kebahagiaannya sendiri.
Ia hanya ingin menikahi Jaejoong.
Dan berikutnya, pembicaraan membosankan mengalir. Mereka bicara banyak hal tapi entah mengapa Ahra terus membawa topik 'Pernikahan' ke dalam pembicaraan mereka.
Yunho tidak nyaman sejujurnya. Ia hanya terus diberondong dengan pertanyaan ini-itu dan hanya bisa menjawab 'Ya' dan 'Tidak'.
Sampai saat ini, di antara seluruh orang yang pernah makan malam bersamanya, sembilan puluh persen adalah orang-orang yang menyenangkan dan sepuluh persennya adalah orang-orang yang berhasil membuatnya terjebak dalam situasi aneh.
Ahra masuk ke dalam kelompok sepuluh persen itu.
Ahra sendiri sudah menyiapkan hari ini sejak lama. Ia bahkan membeli baju baru tanpa berpikir harganya hanya demi terlihat cantik di depan Yunho.
Jadi ia bertekad untuk tidak melepaskan lelaki ini.
'Aku harus bisa masuk ke kamarnya. Lebih baik lagi kalau dia yang menawarkan, dan seandainya terjadi hal itu...' Ahra pun berharap.
Sejak awal bertemu untuk makan malam ini, Yunho terus bersikap sopan, tapi Ahra sangat berharap lelaki ini bisa sedikit lebih agresif.
Ahra benar-benar berharap bisa masuk ke kamar Yunho. Jelas apa yang ia harapkan. Meski kecil kemungkinannya, tapi jika mereka bisa minum sebotol wine, di bawah pengaruh alkohol pasti semua akan terasa lebih mudah.
Wanita itu terus saja mencari cara supaya bisa masuk ke kamar Yunho.
Dan seperti yang direncanakannya, Ahra menyenggol gelas berisi minumannya sendiri sehingga seluruh isi gelas tumpah membasahi bajunya sendiri.
Ia langsung bangkit dari duduk dan berpura-pura tidak sadar akan apa yang terjadi. Yunho ikut berdiri.
"Astaga!" pekik Ahra.
Yunho memberikan serbet dari meja dan memberikannya pada wanita itu. Tapi percuma, karena pakaian Ahra berwarna putih, noda itu tercetak jelas. Bahkan handuk basah yang diberi oleh salah seorang pelayan pun tidak berguna.
"Sepertinya harus dicuci."
"Iya, sepertinya begitu, kalau tidak bisa hilang, saya terpaksa membuangnya." kata Ahra dengan raut sedih.
"Anda tidak punya pakaian ganti?" tanya Yunho.
"Tidak."
"Hmm.. Mungkin bisa meminta jasa hotel untuk mencucinya... Tapi, tunggu sebentar.."
Yunho melangkah keluar restoran itu sementara Ahra menyunggingkan senyum penuh kemenangan meski pakaiannya basah sampai bagian terdalam.
Kalau pihak hotel mencuci pakaiannya, artinya ia harus melepas seluruh pakaian dan menunggu di suatu tempat sampai semuanya selesai diurus. Dan satu-satunya tempat yang bisa dipakai untuk menunggu satu sampai dua jam hanyalah kamar Yunho.
Ahra tersenyum penuh arti membayangkan hal-hal yang selanjutnya akan terjadi.
Yunho kembali ke dalam restoran, membayar makanan lalu menghampirinya.
"Mari kita keluar."
"Ah, baik.."
Ahra berjalan di belakang Yunho sambil menahan malu karena roknya basah dan penuh noda. Tentu akan berbeda rasanya jika saja Yunho mau meminjamkan jasnya. Membayangkan hal ini membuat Ahra melempar tatapan datar pada punggung dingin Yunho.
Tidak apa, yang penting bisa masuk kamar Yunho kan?
Tapi Yunho ternyata tidak melangkah menuju lift. Ia justru melangkah keluar. Ahra mengernyit, menebak apa yang ada di pikiran direktur muda ini. Ia merasa tak nyaman saat banyak yang menatapnya dan ia merasa semakin curiga.
Kecurigaan Ahra terbukti saat melihat mobil Yunho yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Anda bisa menggunakan mobil saya untuk pulang."
Ahra kehilangan kata-katanya.
Ia pikir Yunho keluar dari restoran untuk meminta tolong agar pihak hotel mencuci pakaiannya dan ia bisa menunggu di kamar pria itu.
Tapi ternyata, Yunho justru memanggil sopirnya.
"Maafkan sa—"
Ahra tak tahu harus bereaksi seperti apa. Yunho langsung membukakan pintu mobil untuknya. Menandakan kalau pria itu tak ingin berlama-lama lagi.
"Tidak apa. Tadi saya sudah coba menanyakan ke pihak hotel, kalau dicuci disini, pakaian anda baru bisa diambil besok."
'Hotel sialan!'
"Ah, ya.. Maaf saya sudah merepotkan."
"Tidak apa-apa. Pak Lee, tolong antarkan nona Go sampai ke rumahnya."
"Baik, sajangnim."
"Terima kasih, sajangnim. Semoga kita bisa—"
Ahra tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Yunho tidak mendengarkannya dan langsung menutup pintu mobil.
Wanita itu memandangi Yunho yang ada di luar mobil. Tapi sang sopir pun terlihat tak peduli dan segera menjalankan mobil. Ahra semakin kesal karena saat menoleh ke belakang, Yunho sudah masuk ke dalam hotel.
Misinya gagal.
Ia sudah membayangkan kemungkinan yang hebat, tapi yang ia dapat hanya kekecewaan, malu, dan rok mahal yang kotor.
'Menyebalkan! Bagaimana bisa dia tidak menyadari semua tanda yang ku berikan?'
Ahra menggertakkan giginya menahan marah.
'Oke, lihat saja nanti.. Aku belum menyerah!'.
.
.
.
Di hari terakhir pengumpulan naskah, sampai beberapa saat menjelang tengah malam, Yunho masih ada di ruang kerjanya.
Menunggu.
Ia membuka page milik Walden Korea dan menemukan naskah 'A Late Autumn' di antara naskah-naskah lain.
Ada.
Jaejoong tidak terlambat mengumpulkannya.
Saat ia akan mengunduh berkas itu supaya bisa di-print, ponselnya berbunyi.
"Yeobseyo?".
[Yeobseyo! Ini aku.. Kau sudah tidur?]
Yunho tersenyum, "Belum."
[Sedang dimana? Di hotel?]
"Aku masih di kantor. Kau sendiri?"
[Aku juga masih di Chungnam, aku akan kembali ke Seoul besok.]
"Kalau begitu, ku jemput besok."
[Tidak perlu.. Aku akan pergi bersama kakakku.]
"Tapi, aku ingin menjemputmu."
[Jangan. Jangan datang. Selama aku disini, aku sempat bertengkar dengan kakakku.]
"Bertengkar? Kenapa?"
[Ya. Begitulah.. Aku belum bisa menceritakan sekarang. Oh ya, aku sudah mengirimkan skenarioku. Dan, tadi waktu mengirim, rasanya berdebar-debar sekali.] Jaejoong terkikik di ujung sambungan, membuat Yunho tersenyum.
"Tenang saja, kau pasti berhasil."
Hanya mendengar suara Jaejoong saja, Yunho senang.
Setiap bertemu dan mendengar suaranya, Yunho berpikir 'Aku ingin selalu bersama dengan seseorang yang bisa membuatku senang dan nyaman seperti ini.'
Seandainya Jaejoong tahu kalau saat ini Yunho sedang mengunduh naskahnya. Tapi sepertinya belum saatnya Jaejoong tahu. Akan muncul kesalahpahaman kalau nantinya Jaejoong menang dan tahu kalau Yunho adalah salah satu orang penting di Walden Korea.
Pasti Jaejoong akan berpikir kalau kemenangannya bukanlah dari kemampuannya sendiri. Alasan lain, kalau ternyata naskah Jaejoong tidak menang, dia tidak ingin niat baiknya maupun Jaejoong menanyakan apa penyebab kekalahan itu.
Kalau kali ini Jaejoong terpilih sebagai pemenang, Yunho ingin hal itu terjadi karena kemampuan Jaejoong menciptakan naskah yang mengagumkan. Dan, walaupun naskah itu buatan Jaejoong, tidak pernah sedikitpun terlintas di kepala Yunho untuk bermurah hati memberikan nilai bagus.
[Kalau begitu, selamat tidur.]
"Hubungi aku begitu kau sampai di Seoul."
[Tentu. Jangan tidur terlalu malam, mengerti?]
"Aku mengerti."
Setelah mengakhiri percakapannya dengan Jaejoong, Yunho menggerakan mouse-nya untuk mengunduh naskah Jaejoong.
Ia terkejut saat membaca keterangan di layar komputernya.
File tidak ditemukan.
"Tidak ditemukan?"
Aneh.
Pria itu segera me-refresh page itu dan 'A Late Autumn' milik Jaejoong hilang dari daftar naskah yang sudah terkumpul.
Dahi Yunho berkerut. Dia mencoba me-refresh lagi, tapi sama saja. Tertulis keterangan kalau file tidak ditemukan dan nomor pendaftaran Jaejoong pun hilang.
Hal seperti ini bisa disebabkan karena kesalahan sistem atau... Ada yang secara sengaja membuka page dan menghapusnya.
Yunho segera menghubungi tim produksi.
[Tim produksi disini.]
"Ini Jung Yunho. Apa hari ini tim produksi lembur?"
[Betul, sajangnim. Kami sedang mencetak semua naskah yang masuk.]
"Baiklah."
Yunho memutuskan sambungan dan bergegas menuju ruang tim produksi.
.
Karena datang tiba-tiba, staf tim produksi yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka segera membalik badan dan memberi salam pada Yunho. Ketua tim mendekati Yunho yang belum sempat berkata apa-apa.
"Sajangnim belum pulang?"
"Apa ada masalah dengan sistem pengumpulan naskah kita?"
"Sistem? Sepertinya tidak ada. Ada masalah apa?"
"Tadi saya menemukan sebuah naskah yang kelihatan menarik, tapi waktu saya mencoba mengunduhnya, naskah itu hilang."
"Rasanya tidak mungkin. Sebentar. Chanyeol-sshi! Apa ada masalah dengan sistem kita?"
"Tidak ada, pak ketua. Semua berjalan dengan baik-baik saja."
"Seperti yang sajangnim dengar sendiri, tidak ada masalah."
"Tidak mungkin. Karena tadi saya melihat naskah itu hilang begitu saja."
"Aneh. Kami disini tidak menghapus nomor ataupun naskah sama sekali. Tapi mungkin saat ini sedang di-print. Saya akan mencoba mencarinya, boleh saya tahu judulnya, sajangnim?"
"A Late Autumn, nomor pendaftarannya 2026."
"A Late Autumn. Baiklah. Semuanya! Coba cari naskah dengan judul A Late Autumn."
"Baik, ketua." Semua staf tim produksi berusaha mencari naskah Jaejoong.
Tapi nihil.
"Tim produksi bertanggung jawab atas pengumpulan naskah kan?" tanya Yunho.
"Benar, sajangnim."
"Selain tim produksi, siapa yang bisa mengoperasikan sistemnya?"
"Selain kami... Sepertinya tidak ada... Oh iya! Penulis Go. Karena beliau juga bagian dari tim penilai yang akan menilai naskah-naskah yang masuk."
"Tim penilai.. Penulis Go?"
Go Ahra.
"Tapi saya rasa tidak mungkin Penulis Go atau orang lain dari tim penilai menghapusnya. Begitu juga dengan tim saya disini."
"Tentu saja. Mungkin ada kesalahan teknis saja. Tapi karena tadi saya melihat dengan mata kepala sendiri, saya tidak bisa tinggal diam begitu saja. Penulis itu bisa saja mengerjakan naskah itu selama dua bulan lebih, dan kalau hilang karena kesalahan kita, rasanya tidak nyaman. Saya akan mencari tahu lebih lanjut. Tolong selidiki juga kalau ada nomor pendaftaran lain yang hilang, pasang pengumuman di page kita."
"Pengumuman apa, sajangnim?"
"Kalau batas akhir pengumpulan naskah di perpanjang dua puluh empat jam."
"Ba-baik sajangnim."
Yunho tampak tidak senang dan keluar dari ruangan tim produksi, kembali ke ruangannya.
"Penulis Go dan tim penilai lainnya menjadi administrator dan bisa memberikan nilai?" gumamnya.
Mendengar nama 'Penulis Go', tiba-tiba kecurigaan Yunho muncul. Tapi dia tidak bisa meneruskan kecurigaannya itu karena masih belum yakin. Ia juga tidak tahu apakah Ahra tahu kalau Jaejoong juga terdaftar sebagai salah satu peserta kompetisi menulis skenario yang diadakan oleh Walden Korea.
Lagipula, Ahra sudah tidak lagi berada di gedung kantor ini. Sebenarnya mungkin saja Ahra yang menghapus dari rumahnya, tapi kalau memang benar begitu, Yunho tak bisa mengerti kenapa Ahra melakukan hal sejauh itu.
Mereka—Jaejoong dan Ahra sudah lama tidak bertemu, jadi sepertinya hubungan mereka akan lebih seperti tidak saling kenal dan mengacuhkan satu sama lain. Jadi untuk apa Ahra bersusah payah mem-block Jaejoong?
Tapi tim produksi bilang tidak ada masalah dengan sistemnya.
Yunho masih duduk di kursinya dan memikirkan bagaimana caranya mencari tahu penyebab hilangnya naskah Jaejoong.
Ia menahan dirinya untuk menghubungi Jaejoong. Tidak mungkin kan ia langsung menelpon Jaejoong dan mengatakan padanya kalau naskah yang sudah dikumpulkannya hilang. Yunho masuh belum ingin mengatakan kalau ia punya hubungan dengan Walden Korea.
Yunho geram karena tak juga menemukan cara yang tepat untuk membuat naskah itu kembali.
.
Direktur Walden Pictures itu pulang ke hotel pukul tiga dini hari dan sebelum pukul delapan pagi sudah kembali ke kantornya lagi karena tidak bisa tidur nyenyak.
Ketika sekretaris Song tiba, Yunho memintanya menghubungi Jaejoong.
"Jangan bilang kalau saya yang memintanya. Bilang saja dari Walden Korea dan sampaikan kalau ada masalah dari sistem kita jadi naskahnya tidak bisa diterima dengan benar. Lalu.. Sampaikan juga kalau hari ini dia harus mengirimkannya lagi."
"Baik, sajangnim."
"Kalau Kim Jaejoong sudah kembali mengirimkan naskahnya, tolong segera unduh dan print."
"Baik, sajangnim."
Sesuai perintah Yunho, sekretaris Song segera menghubungi Jaejoong.
"Yeobseyo? Bisa bicara dengan Kim Jaejoong?"
[Iya, saya sendiri.]
"Annyeonghaseyo. Saya dari Walden Korea, apakah betul anda mengikuti kompetisi yang kami adakan?"
[Iya, betul.]
"Maaf saya mengganggu, tapi silahkan kunjungi situs kamu kembali untuk membaca pengumuman bahwa sedang terjadi masalah dengan sistem kami."
[Masalah? Kenapa?]
"Ada kesalahan pada sistem kami jadi beberapa naskah yang sudah dikumpulkan menghilang."
[Omo!]
"Untuk mencegah kemungkinan skenario Kim Jaejoong-sshi menghilang, tolong kirimkan kembali naskah anda hari ini. Maaf atas ketidaknyamanan ini."
[Hari ini?]
"Ya, lebih cepat lebih baik."
[Sebenarnya saya sedang ada di desa dan baru akan menuju Seoul. Mungkin saya baru bisa mengirimnya lagi tiga jam kedepan karena saat ini saya tidak terhubung dengan internet, apa tidak apa-apa?]
"Sedang di desa?" Sekretaris Song melirik atasannya karena tak tahu harus menjawab apa.
Yunho memberi secarik kertas pada sekretaris Song.
"Baiklah kalau begitu, tolong kabari saya jika anda sudah selesai megirimkannya lagi. Anda punya kertas?"
Sekretaris Song pun memberikan nomor pribadinya.
"Baik. Tolong kabari saya nanti."
Setelah menutup sambungan, sekretaris Song menghela nafas karena ia ikut gugup.
"Dia bilang nanti akan mengabari saya, sajangnim."
"Bagus, terima kasih. Jangan katakan hal ini pada siapapun. Cukup kita berdua saja."
"Baik, sajangnim. Jangan khawatir."
.
Sekitar tiga jam berikutnya, Jaejoong mengabari sekretaris Song kalau dia sudah mengunggah naskahnya kembali. Hal yang pertama di lakukan sekretaris Song adalah mencetaknya karena sepertinya ini hal penting untuk ditekturnya.
Sementara, Yunho tengah menghadiri rapat saat ini. Ia menjelaskan alasannya memperpanjang waktu pengumpulan skenario, yang diputuskannya sendiri tanpa mendiskusikannya dengan Ilwoo. Sambil memberi penjelasan, Yunho sempat mencuri pandang untuk memperhatikan ekspresi Ahra dan tim juri yang lainnya. Ia tak bisa menahan kecurigaannya pada mereka.
Bisa saja Yunho salah lihat, tapi ketika ia menceritakan perihal naskah yang hilang, raut wajah Ahra berubah. Sinar matanya terlihat aneh. Wanita itu terlihat tegang.
"Skenario itu tidak dikerjakan dalam waktu yang singkat. Tidak peduli mengagumkan atau tidak, adanya kasus skenario hilang bisa menjadi skandal bagi kita. Kita harus melakukan sesuatu agar ini tidak terjadi lagi." jelas Yunho.
Menanggapi itu, ketua tim produksi menjawab, "Kemarin saya menemukan adanya masalah dengan server yang kita gunakan, tapi saat ini masalah itu sudah teratasi."
Yunho melirik Ahra.
Wanita itu harus banyak-banyak bersyukur karena Yunho mengurangi kecurigaannya setelah mendengar penjelasan ketua tim produksi.
"Baiklah, kapan penilaian akan dimulai?" tanya Ilwoo.
"Saat ini seluruh naskah sedang dalam proses pencetakkan jadi penilaian baru bisa dilakukan besok, sajangnim."
"Ada berapa orang yang akan ikut sebagai penilai?"
"Semula ada enam orang, tapi karena naskah yang masuk lebih banyak dari perkiraan, jadi saya berniat memasukkan tiga orang lagi, sajangnim." Jelas ketua tim penilai.
Ilwoo menoleh pada Yunho yang duduk di sebelahnya, "Bagaimana menurut pendapat anda, direktur Jung Yunho?"
Yunho berhasil menahan diri untuk tidak mengatakan bahwa ia ingin bergabung dengan tim juri.
"Saya hanya akan menilai naskah yang masuk ke seleksi terakhir." ucapnya final, setidaknya ia tak harus ikut campur tentang seleksi awal. Kalau naskah Jaejoong berhasil masuk ke seleksi akhir, berarti itu berkat usaha Jaejoong sendiri.
"Baiklah kalau begitu. Kita tidak perlu menambah beban kerja Yunho. Untuk tim juri, harap bekerja dengan baik dan berdiskusi satu sama lain untuk memutuskan dengan benar siapa yang akan lolos dari penyisihan." Ilwoo menjadi orang pertama yang bangkit dari duduknya, tanda rapat sudah selesai. Yang lain pun ikut bangkit dan meninggalkan ruangan setelah ditektur Walden Korea itu beranjak.
Yunho sendiri sempat memperhatikan layar laptop Ahra saat lewat untuk keluar dari ruang rapat itu.
Kecurigaannya kini menjadi-jadi karena melihat wanita itu membuka page milik Walden yang berisi naskah-naskah yang sudah terkumpul.
Yunho bergegas, hendak menemui sekretaris Song secepatnya.
.
"Bagaimana? Ada kabar?"
"Ini, sajangnim." Sekretaris Song memberikan skenario milik Jaejoong yang sudah ia print.
"Bagus.. Terima kasih banyak, sekretaris Song."
Wanita itu mengangguk, "Oh iya, tadi ponsel sajangnim sempat berbunyi, mohon di cek." ucap sekretaris itu sambil melihat pada ponsel Yunho yang tergeletak di atas meja kerjanya sendiri.
"Baiklah, terima kasih.. Anda boleh kembali."
Sekretaris Song tersenyum lalu membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan direkturnya itu.
Yunho sendiri segera menelpon balik nomor yang tadi menghubunginya.
Jaejoong.
"Yeobseyo? Jaejoong?"
[Hei.. Aku sudah pulang.]
"Kau sudah sampai di apartemen?"
[Iya.. Oh ya.. Sempat ada kejadian tadi.]
"Kejadian? Ada apa?"
[Waktu aku berangkat, pihak Walden menghubungiku untuk mengirim kembali naskah skenarioku, mereka bilang skenario yang ku kirim hilang. Saat aku buka homepage Walden, memang ada pemberitahuan seperti itu. Tapi yang membuatku merasa aneh, bagaimana pihak Walden tahu nomorku? Ah, sudahlah.. Kau sudah sarapan?]
Jaejoong bertanya pada Yunho setelah bicara panjang lebar.
"Sekarang waktunya makan siang kan?" Yunho tersenyum tipis.
[Oh ya?! Kalau begitu... Sudah makan siang?]
"Belum. Kau sendiri?"
[Aku baru makan ramyeon.]
"Ramyeon? Jangan menyebutnya makanan. Kau mau makan siang bersamaku?"
[Tidak bisa. Aku harus mulai membaca buku-bukuku supaya cerita untuk buku bergambar itu selesai.]
"Oh, begitu.. Apa malam ini kau juga akan sibuk membaca?"
[Apakah kau ingin mengajakku bertemu?]
"Tentu saja."
[Hmm.. Kalau kau menunjukkan niat baikmu, aku bisa meluangkan waktu.] Jaejoong terdengar sedang bermain-main.
"Baiklah."
[Eh? Memangnya bagaimana kau menunjukkan niat baikmu?]
Yunho lagi-lagi tersenyum, "Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan."
Bohong jika Jaejoong tidak meleleh, meski Yunho terdengar sedang menggombal saat ini.
[Astaga, kenapa kau begitu baik hati, tuan Jung Yunho?]
Senyum Yunho semakin lebar mendengar jawaban Jaejoong, "Hanya untukmu."
Jaejoong pun tertawa kecil.
[Nanti malam ku hubungi lagi ya? Sekarang aku harus kembali pada buku-bukuku.]
"Aku mengerti, jangan terlalu memaksakan diri, oke?"
[Iya. Kau juga, jangan terlalu lelah bekerja.]
"Tentu."
Setelah sambungan ditutup, Yunho baru mulai menyentuh skenario di hadapannya tapi kemudian pintu ruangannya di ketuk.
Sekretaris Song lagi.
"Maaf, sepertinya ada kesalahan teknis lagi, sajangnim."
"Ada apa?"
"Naskah yang baru saja saya berikan, naskah milik Kim Jaejoong hilang lagi."
Dahi Yunho mengernyit. "Tapi anda sudah mengunduh berkasnya kan?"
"Sudah, sajangnim.. Saya sudah menyimpannya di komputer saya kalau-kalau sajangnim butuh salinannya."
Yunho mengangguk.
Naskah Jaejoong hilang lagi? Padahal di rapat, tim produksi sudah meyakinkan kalau hal ini tidak akan terjadi lagi. Tapi kali ini apa?
Yunho berpikir sesaat sambil mengusap dahinya.
"Sekretaris Song."
"Ya, sajangnim?"
"Bisa tolong bantu saya mencari tahu berapa banyak naskah yang hilang kemarin?"
"Baik, akan saya periksa sekarang."
Setelah memberi salam, wanita itu kembali keluar. Meninggalkan Yunho yang menatap bingung pada naskah milik Jaejoong yang ada di tangannya.
Yunho tak mengerti kenapa naskah ini bisa hilang lagi.
Merasa tak bisa berdiam diri saja, Yunho bangun dan segera keluar ruangan.
Ia mendatangi meja milik Sekretaris Song yang sedang mengutak-atik komputer.
"Sudah ditemukan?"
Sekretaris Song menggeleng.
"Saya sudah menanyakannya pada tim produksi tapi belum ada jawaban. Menurut pengamatan saya sendiri, hanya ada satu naskah yang hilang kemarin, karena yang lain masih lengkap."
"Maksud anda... Skenario yang sama sudah hilang sebanyak dua kali?"
"Sepertinya begitu, sajangnim."
"Oke. Saya mengerti."
Yunho meninggalkan sekretaris Song dan segera menuju ruangan tim produksi.
Ia ingin menanyakan langsung apakah ada yang dengan sengaja menghapus naskah Jaejoong sampai dua kali dan apakah naskah itu hilang bukan karena kesalahan sistem.
Bagaimanapun, Yunho merasa aneh karena hanya satu judul naskah saja yang hilang dan sudah sebanyak dua kali.
Direktur Walden Pictures itu memasuki ruangan sambil berusaha menekan emosinya dalam-dalam saat melihat para staf sedang menikmati makan siang mereka.
"Oh? Sajangnim tidak makan siang?"
Ahra lah yang bertanya.
Meski tak ingin mencurigai siapapun, tetap saja Yunho tak bisa memandang wanita itu seperti yang lain. Ahra adalah kandidat kuat pelaku penghapusan naskah itu.
"Belum sempat, penulis Go. Menjadi salah satu anggota tim juri sekaligus menyelesaikan naskah film Samak pasti membuat anda sibuk sekali."
"Tidak juga, Saya mengerjakannya dengan senang hati. Bagaimana kalau kita makan siang bersama, sajangnim?" Jawab Ahra sambil tersenyum lebar.
"Dibanding makan siang, ada hal yang lebih penting yang harus dibicarakan."
"Ada apa, sajangnim?" sahut ketua tim.
"Baru saja ada naskah yang hilang." Yunho memperhatikan setiap wajah yang ada disana.
Bisa ia lihat senyum di wajah Ahra menghilang, wanita itu terdiam.
"Lagi?" Ketua tim segera menghampiri komputernya untuk memeriksa.
"Sepertinya benar-benar ada yang salah dengan sistem kita." celetuk Ahra dengan nada yang membuat Yunho semakin curiga. Yunho lalu memberikan naskah milik Jaejoong yang ia bawa dan memberikannya pada ketua Tim Produksi.
"Ini naskah yang sempat hilang kemarin dan tadi. Untungnya tadi saya sempat mencetaknya sebelum hilang."
Ahra melirik naskah yang diberikan oleh Yunho pada ketua tim produksi.
"Oh iya. Kemarin sajangnim sempat bilang kalau judulnya A Late Autumn. Saya tidak mengerti kenapa naskah ini bisa hilang padahal tadi saya sempat memeriksa lagi dan ada." Jelas ketua tim dengan ekspresi bingung.
"Anda tadi sempat melihatnya?"
"Iya, saya yakin sekali dengan apa yang saya lihat, bahkan tadinya saya berniat mencetaknya dan segera menyerahkannya pada sajangnim, maafkan saya."
"Tidak apa-apa. Tolong pastikan kalau skenario ini akan ikut dinilai."
"Tentu saja, sajangnim."
"Itu.. Skenario apa?" Ahra tiba-tiba bertanya sambil mendekati kedua pria itu, ketika melihat judul awal naskah, wanita itu terlihat sangat terkejut.
"A Late Autumn, dari judulnya sepertinya ceritanya cukup bagus." ucap ketua tim.
"Bisa jadi. Skenario ini sudah hilang sebanyak dua kali. Saya tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan Walden Korea. Penulis Go, tolong ikut berikan nilai untuk skenario ini seadil mungkin."
"T-tentu saja."
"Baiklah, saya harus kembali. Maaf sudah mengganggu makan siang kalian semua.."
Yunho berpamitan dan segera berbalik meninggalkan ruangan itu.
Sejak masuk tadi, ia terus memperhatikan gerak-gerik Go Ahra. Wanita itu terlihat gugup dan makin pucat saat Yunho mengabarkan adanya naskah yang hilang.
Ya, Yunho tidak bodoh untuk menyadari perubahan ekspresi itu.
.
.
.
"Aku ingin skating!"
Jaejoong langsung mengajak Yunho untuk skating saat mereka bertemu.
"Aku sudah terlalu banyak membaca bukubsampai kepalaku sakit, jadi aku ingin melakukan sesuatu yang bisa mendinginkan kepalaku.. Bagaimana?"
"Oke.. Tentu saja apapun yang kau inginkan."
Jaejoong tersenyum lebar saat mendengar jawaban Yunho. Mobil Benz itupun segera melaju menuju tempat ice skating di sekitar apgujeong. Meski sudah cukup malam tapi saat mereka memasuki ruangan ice skating ternyata cukup penuh dengan orang-orang.
"Wahh.. Sejuk.." Jaejoong merentangkan tangannya sambil menghirup aroma dingin dari es yang menguap di udara.
Mereka pun segera memasuki pintu arena, meminta petugas memberikan dua pasang sepatu untuk mereka.
Keduanya duduk bersebelahan sambil memakai sepatu mereka.
"Kau bisa bermain skating?" tanya Jaejoong.
"Sedikit, kau sendiri?"
"Aku juga. Setidaknya aku bisa berdiri sendiri, meski tidak jago tapi aku ingin menginjak es."
Yunho tersenyum, entah untuk ke berapa kalinya.
"Sini, ku bantu pakaikan."
Yunho yang selesai dengan sepatunya segera berjongkok di hadapan Jaejoong untuk membantu wanita itu memakai sepatunya.
Jaejoong terpana menatap Yunho.
Ia tak tahu harus berkata apa melihat Yunho yang bahkan rela mengikat tali sepatunya.
Beberapa orang yang hendak masuk dan keluar dari arena skating pun ikut terpana melihat adegan itu.
"Selesai."
"Yunho.. Apa kau selalu baik seperti ini?"
"Tidak juga."
"Lalu?"
"Aku hanya baik padamu karena aku tidak mau dibilang ddongkae jika baik pada semua wanita."
Jaejoong tertawa, "Sulit dipercaya.. Kau mengingat ucapanku?"
Yunho pun ikut tersenyum, mereka menuju arena skating sekarang.
"Omong-omong, kakimu kecil ya?"
"Iya." Jaejoong segera memperhatikan kakinya sendiri yang tentu terbalut sepatu.
"Di China, wanita yang cantik adalah wanita dengan ukuran kaki kecil. Kalau menurutmu wanita yang cantik itu seperti apa?" tanya Jaejoong sambil menatap Yunho.
"Wanita sepertimu."
Jaejoong terkekeh, "Aku memang berharap kau menjawab begitu, tapi aku tidak bisa menerima jawaban itu.. Jadi kalau yang seperti aku.. Apa menurutmu yang ceria dan bersahabat?"
"Iya, tepatnya wanita yang mudah membuatku jatuh cinta. Mudah mencuri perhatianku. Sepertimu."
"Kalau Changmin mendengar ini, pasti dia akan menganggapmu tidak sehat, tapi aku senang mendengarnya. Jadi kau boleh terus sakit seperti ini."
Yunho tertawa lalu mengangguk setuju.
Jaejoong mulai menginjak hamparan es.
Ia mencoba bergerak dengan Yunho di belakangnya.
"Yunho.. Kau tahu? Aku merasa sangat senang."
"Hm?"
"Ini pertama kalinya aku menyukai seseorang hanya dalam waktu singkat. Aku takut. Bagaimana kalau aku terbangun dan sadar jika semua yang ku alami ini hanya mimpi. Aku tidak tahu akan sesakit apa aku nantinya."
"Kalau begitu aku tidak akan membiarkanmu bangun." Jawab Yunho lembut.
Jaejoong tersenyum, rasanya sungguh bersyukur karena orang yang disukainya adalah seorang Jung Yunho.
"Kenapa?"
"Karena aku ingin terus membuatmu menyukaiku. Karena aku juga sangat menyukaimu."
Walau cara Yunho mengatakannya biasa-biasa saja, tapi rasanya Jaejoong lebih suka kalimat itu dibanding 'Aku mencintaimu'.
Yunho menggapai tangan Jaejoong dan segera membawannya berputar mengelilingi arena itu pelan-pelan.
Di putaran ketiga, Jaejoong membuka mulutnya.
"Apa akan berhasil?"
"Apanya?"
"Uhm.. Kompetisi itu, aku harap usahaku tidak sia-sia."
"Tenang saja, kau akan berhasil." Yunho mempererat genggaman tangannya seolah memberi bantuan semangat untuk Jaejoong.
Jaejoong membalas senyum Yunho lalu terdiam sesaat.
"Uhm.. Apa menurutmu akan baik-baik saja?"
"Tentu saja, aku kan sudah bilang."
"Bukan.. Maksudku... Kita."
"Kita?"
"Iya, kita.. Menurutmu apa kita akan baik-baik saja?"
"Menurutmu sendiri bagaimana?" Yunho balik bertanya.
"Aku harap kita akan baik-baik saja."
Yunho menyunggingkan senyumnya, "Kalau begitu percayalah kalau kita akan baik-baik saja.. Kemarilah." Yunho menarik Jaejoong ke dalam pelukannya, memberi sebuah dekapan hangat.
"Kita akan baik-baik saja, aku akan memastikannya untukmu" Yunho mengusap rambut panjang Jaejoong.
"Aku akan menjagamu." bisiknya di telinga Jaejoong, sebuah kalimat pendek yang mampu membuat hati Jaejoong menghangat. Rasanya begitu tenang.
Jaejoong tersenyum lega.
"Oh iya, kau ingat waktu aku pergi ke toko buku sebelum kau menginap di apartemenku?" Jaejoong melonggarkan pelukan Yunho untuk menatap lelaki itu.
"Iya, kenapa?"
"Aku bertemu dengan Ahra di toko buku itu."
"Ahra?"
"Iya, Go Ahra yang pernah ku ceritakan, yang berbuat curang itu."
"Oh.. Temanmu itu.. Ada apa?"
"Waktu itu, aku sempat tak sengaja memberitahunya kalau aku akan mengikuti kompetisi menulis skenario di Walden. Kau tahu dia bilang apa? Dia bilang saat ini sedang menyiapkan skenario untuk Walden Korea, jadi dia punya kenalan yang bisa dimintai tolong untuk membaca skenarioku, tapi karena takut hal buruk terjadi lagi, aku mengacuhkannya."
"Lalu?"
"Aku tahu harusnya aku tidak bersikap seperti itu karena bisa saja Ahra memang berniat membantuku. Tapi aku tidak bisa mempercayainya lagi. Ucapannya bahwa dia sedang sibuk dengan keberhasilannya itu membuatku bodoh. Aku iri.. Karena itu aku berusaha melawannya. Tapi itu salah."
Jaejoong sedikit tertunduk.
Yunho pun mengambil inisiatif untuk mengusap pipi wanita di pelukannya itu.
"Ah, maaf, Yunho.. Harusnya aku tidak seperti ini padamu, hanya saja kadang pikiran-pikiran ini menggangguku dan aku tidak tahu harus bagaimana."
"Aku mengerti."
Yunho kembali memeluk Jaejoong.
Mendengar semua itu, kini puzzle-puzzle masalah mulai terangkai jelas.
Siapa Go Ahra.
Apa yang dia lakukan pada Jaejoong.
Dan bagaimana naskah Jaejoong hilang dua kali.
Semuanya terangkai jelas.
"Aku paham.. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Percayalah padaku." ucap Yunho.
.
.
.
.
to be Continued.
.
Bagian kelima!
Maaf kalo masih ada typo seperti biasa -_-
Gimana Ahra-nya? hehe..
Saya ampe gegulingan nih gegara karakter Yunho yang so-damn-perfect di cerita ini.
Btw, kalian suka karakter siapa? Entah, tapi saya malah cinta banget karakter Changmin yang mulutnya sembarangan :)))
Makasih buat semua yang udah mau baca sampe chapter ini. Sekali lagi, cerita ini milik Kim Rang, bukan milik saya.
Oh iya, buat Kirena L, saya udah dua tahunan gak maen fb jadi gimana kalo temenan di bbm aja? Nih pin saya 7415ACE8. :D
Buat zhaf, soal buku novel aslinya, udah ada di Gramedia atau Gunung Agung dari lama kok.. Silahkan kalo mau beli *sekalianpromo.
Buat cho ri rin, iya ini nama naskahnya saya ganti, gak ada alesan khusus sih sebenernya, cuma pengen aja.. Moga gak ganggu minat bacanya ya :D
Buat jeng Zhie, iya, Kim Rang itu aslinya orang Korea, dia juga yang bikin Vineyard Man yang di drama diperanin ama Yoon Eun Hye, bebs. :D
Okesip, ada pertanyaan lagi? :))
.。.:*・° .。.:*・° .。.:*・° .。.:*・°
SPECIAL THANKS TO :
All GUESTS || KimYunhoJungJonghyun || Park FaRo || hildaminnie || Risza || nimahnurun || aismamangkona || iche cassiopeiajaejoong || rinie moet || zhaf || YunjaeDDiction || shanzec || she3nn0 || Dewi15 || jaena || kimmy ranaomi || MyBabyWonKyu || ruixi1 || nabratz || Shin Kisaragi || Eun Kyang Kyang || michomichobaby || Cholee saranghae || ClouDyRyeoRez || Anggunyu || yoon HyunWoon || mimimi || Fitsoniaaa || akiramia44 || 909596 || ayudessy1222 || irna lee 96 || BibiGembalaSapi || Shallow Lin || birin rin || 1234 || Ai Rin Lee || Faul || JonginDO || meybi || azahra88 || ajid yunjae || mrspark6002 || Dhea Kim || sucirahmay || Park July || Kirena L || kmskjw21 || Rnye || wieyunjae || Ega EXOkpopers || puspita94 || meirah 1111 || lee minji elf || Jung Jaehyun || alby || CassieYJshipper || Jiy || Mami Fate Kamikaze || Lawliet Jung || gekacassieast || Lee Muti || Pumpkins yellow || Neng || Iizuka myori || KimRyeona19 || shim shia || rinayunjaerina || JungKimCaca || ViyaHyerin || Lollyglory || Lilin Sarang Kyumin || HunHanCherry1220 || cho ri rin || zaladevita || JYuly || sasya || MYunjae || rikurijung || Sayuri Jung || ShinJiWoo920202 || Zhie Hikaru || lipminnie || Adamas Azalea || cha yeoja hongki || cristiyunisca || bambidola || fivah || NishaRyeoseomnia || littlecupcake noona || Rly C Jaekyu || chanbaekyu || jaeromone.
Hugs and kisses for u all, guys :*
See ya in the next chap!
.
.
Sign,
Cherry YunJae.
