-the Last 2%-
a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae.
.
Jaejoong, Yunho, Changmin, Siwon, Junsu, Go Ahra, and others.
YUNJAE.
T-M Rated.
Drama/Romance.
WARNING! GENDERSWITCH! Typos everywhere! Out of Character!
.
I write because i want, not for amaze people.
.
DON'T LIKE, DON'T READ! Told ya before!
.
.
[ © Sebuah remake dari novel milik Kim Rang dengan judul yang sama(2006), cerita sepenuhnya milik Kim Rang hanya beberapa yang saya ubah termasuk casts dan latar untuk keperluan cerita. ]
.
.
.
.
Bagian Keenam.
.
.
.
"Aku paham.. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Percayalah padaku." ucap Yunho.
.
.
Acara mereka dilanjutkan dengan makan malam yang sangat menyenangkan.
Setelah makan malam, mereka kembali ke arena es dan melakukan beberapa putaran hingga tak terasa malam makin merambat naik.
Yunho mengantar Jaejoong pulang sampai ke depan pintu apartemennya.
Pria bermarga Jung itu sedang memberi Jaejoong sebuah Long Kiss Goodnight saat Changmin keluar dari lift dan sedikit tercekat.
"Kalian boleh saja berpacaran, tapi kurasa keterlaluan juga kalau harus bermesraan di tengah jalan begini." sindir pria raven itu.
Yunho sendiri segera pamit untuk pulang pada keduanya setelah sadar bahwa ini memang sudah larut malam.
"Kau berlebihan sekali, kami kan hanya menempelkan bibir." Jawab Jaejoong setelah memberi senyuman terbaik untuk mengantar Yunho ke lift.
Changmin mendecih, "Dengan suara kalian yang seperti sedang bercinta itu.. 'Hanya menempelkan bibir'?"
"Ishh.. Terserah."
"Kalian baru pulang dari kencan?"
"Iya, kami main ice skating." Ledek Jaejoong.
"Sepertinya aku pernah mengajakmu, dulu."
"Itu kan dulu. Kau sendiri yang bilang tidak bisa skating, jadi kita tidak pernah bisa pergi."
"Iya.. Iya.. Ya sudah, cepat buka pintunya, aku mau masuk."
"Kenapa ke kamarku? Pulang ke kamarmu! Aku masih harus membaca buku-bukuku." cegah Jaejoong saat melihat Changmin justru hendak masuk ke kamarnya.
Pasti mencari makanan.
"Kau kenapa? Apa setelah kau punya kekasih, aku dibuang begitu saja?"
"Aishh.. Sudah! Mau masuk atau tidak?!"
Changmin menggerutu sambil masuk ke kamar Jaejoong.
"Jadi, malam ini dia tidak tidur disini?" Changmin menunjuk ke arah pintu yang tertutup.
"Kau akan melaporkanku ke Rumah Beras kan?"
"Kau benar-benar menyukai pria itu?" tanya Changmin penasaran.
"Iya."
"Kenapa?"
"Kau tidak perlu alasan ketika menyukai dan mencintai seseorang. Itu terjadi begitu saja."
"Benar juga, terjadi begitu saja." Changmin mengiyakan ucapan Jaejoong, tidak seperti biasanya.
Changmin mengeluarkan kantung kecil dari barang bawaannya.
Sekumpulan tutup botol.
"Ini.. Hadiahnya piala dunia kan? coba kau cari."
"Omo! Bagaimana kau nendapatkan sebanyak ini?"
"Tadi sebelum pulang, aku makan-makan bersama teman kantor. Jadi aku membawa pulang semuanya untukmu."
"Terima kasih!"
Jaejoong meletakkan tutup botol itu di samping laptopnya.
"Uhmm.. Changmin-ah... Menurutmu Yunho tampan tidak? Aku ingin mendengarnya dari sudut pandang pria."
"Menurutku... Tampan."
"Dia juga sangat baik hati."
"Iya, dia baik."
"Tapi dia punya penyakit yang cukup kronis." celetuk Jaejoong.
"Penyakit? Apa? Diabetes? Kanker? Dia tidak terlihat seperti orang sakit."
Jaejoong tersenyum.
"Aku tadi bertanya padanya menurutnya wanita yang cantik itu yang seperti apa, lalu dia menjawab wanita cantik itu yang sepertiku."
"Oh, ternyata penyakitnya memang cukup kronis." Sindir Changmin.
"Dan tadi aku memintanya untuk tetap sakit seperti itu saja, hebat kan?"
"Ya... Ya... Nikmati saja."
"Aku memang menikmatinya."
"Hm, jadi kau sudah pernah tidur dengannya?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Changmin, Jaejoong justru mengalihkan pandangan dan menghela nafas. Karena penasaran, Changmin segera menangkup wajah Jaejoong agar menatapnya.
"Katakan padaku. Jujur, apa kau sudah tidur dengannya?"
"Belum. Tapi aku ingin."
Changmin segera melepas tangannya dan mendorong dahi Jaejoong.
"Sejak kapan kau tidak punya rasa malu dan secara terang-terangan bilang kalau kau ingin tidur dengan seseorang?"
"Karena bukan denganmu."
"Maksudmu?"
"Karena aku tidak ingin tidur denganmu."
"Ck. Lama-lama kau semakin tidak beres."
"Tidak beres bagaimana? Pria boleh tidur dengan perempuan mana saja, tapi kami wanita, tidak bisa sembarangan. Maksudku seharusnya pria juga hanya boleh tidur dengan wanita yang dia sukai saja."
"Hei, pria juga tidak akan langsung menelanjangi diri dan tidur dengan sembarang perempuan kan?"
"Sudahlah. Bagaimanapun juga pria lebih mungkin melakukan itu."
"Aku tidak setuju."
"Kenapa? Bahkan buktinya ada."
"Siapa?"
Jaejoong ingin menjawab dengan lantang kalau buktinya adalah kakaknya sendiri.
"Kau tidak perlu tahu dan tidurlah!"
"Tidak bisa. Berikan aku bir. Ayo minum bersama dulu."
"Tidak mau. Aku harus belajar untuk menyelesaikan pekerjaanku."
"Satu kaleng saja."
"Tidak mau."
"Argh! Brengsek!"
Changmin pun mengumpat dan membuat Jaejoong kaget.
"Yahh! Apa kata-katamu itu untuku?!"
"Bukan. Rasanya aku ingin bunuh diri."
"Ada apa? Katakan padaku."
"Tidak perlu."
"Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau sedang ada masalah. Ayo... kita minum dulu."
"Sudahlah."
Dengan raut frustasi, Changmin keluar dari kamar Jaejoong.
'Kenapa tidak ada angin tidak hujan, dia menyebut tentang bunuh diri? Apa dia iri karena aku sudah punya pacar?'
Jaejoong pun berusaha tak terlalu memikirkannya dan segera kembali pada buku-bukunya.
.
.
.
Jaejoong menerima telepon dari Seunghyun, teman dekat Yoochun, lima hari setelah menerima liburnya.
Seunghyun sepertinya masuk ke dalam golongan pria yang tidak bisa berbasa-basi. Pertama kali berbicara dengan Jaejoong, dia langsung menggunakan banmal—bahasa informal dan mengatakan "Hai, aku Seunghyun, teman Yoochun."
'Memangnya dia pernah bertemu denganku? Memang sih teman oppa, tapi rasanya tidak pantas kalau langsung menggunakan banmal padaku.'
Sejak Yoochun kembali bertugas di pangkalan militernya, setiap hari dia selalu menghubungi Jaejoong, memohon agar Jaejoong mau menurutinya dan bertemu dengan Seunghyun. Yoochun tak ingin hubungannya dengan Kahi berakhir.
Mendengar permohonan kakaknya itu setiap hari membuat Jaejoong terpaksa menyerah dan mengiyakan permintaan itu.
Jaejoong tidak mau hubungan Yoochun dan Kahi rusak.
Tapi Seunghyun sama sekali tidak meninggalkan kesan yang baik di mata Jaejoong.
Ia tak habis pikir, bagaimana seseorang yang belum pernah bertemu dan baru pertama kali berbicara, menggunakan banmal.
Ia pernah bertanya pada Yoochun tentang darimana kakaknya itu bisa bertemu dengan Seunghyun. Tapi bukannya menjawab, Yoochun malah mengingatkan Jaejoong untuk bertemu pria itu.
"Seunghyun-sshi, sebaiknya kita bertemu dimana?"
Jaejoong berusaha menahan rasa kesalnya dan bertanya dengan nada datar pada Seunghyun.
[Di Gangnam saja ya?]
"Baik."
Seunghyun memberitahu kalau ada sebuah restoran di dekat stasiun gangnam. Setelah memberitahukan nama restoran yang dimaksud, Seunghyun memberi peringatan agar Jaejoong tidak datang terlambat.
[Aku paling tidak suka dengan orang yang tidak bisa menepati janji.]
Jaejoong hanya mampu menggerutu dalam hati saat mendengar itu.
Ia menelpon kakaknya setelah selesai dengan Seunghyun.
"Apa-apaan sih! Pria bernama Seunghyun itu benar-benar tidak punya sopan-santun dari awal!" keluhnya.
[Itu karena dia anak paling terakhir.]
"Aku juga anak terakhir, tapi appa bahkan tidak pernah mengajari kita untuk berlaku tidak sopan."
[Maksudmu apa?]
"Baru menelponku untuk pertama kalinya, dia sudah menggunakan banmal. Belum lagi dia bilang dia tidak suka orang yang tidak menepati janjinya. Dia juga bilang aku harus datang tepat waktu."
[Dia menggunakan banmal karena kau adalah adikku. Dan soal orang yang tidak menepati janji.. Semua orang juga tidak suka. Kau juga kan?]
"Iya, tapi tetap saja dia orang asing untukku, karena kami belum pernah bertemu. Bicara lebih sopan pada orang yang belum pernah ditemui kan bagian dari sopan santun. Lagipula dia bisa kan bilang 'Tolong jangan datang terlambat'."
[Tolonglah aku. Sekali ini saja... Hari ini tolong temui dia.]
"Baiklah.. Tapi hanya hari ini, aku tidak mau melihat tingkah konyolmu lagi."
[Jaejoongie..]
"Sudah, ya."
Dengan langkah malas, Jaejoong keluar kamar untuk menepati janjinya bertemu Seunghyun. Ia masih di depan pintu dan menghubungi Yunho.
"Ini aku. Kau pasti sedang sibuk. Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu. Karena, bagaimanapun aku harus memberitahumu."
[Tidak apa-apa. Ada masalah apa?]
"Aku sedang dalam perjalanan menemui seorang pria. Kenapa aku harus bertemu dengannya, akan ku jelaskan nanti karena ceritanya panjang sekali."
[Pria? Siapa?]
"Teman kakakku."
[Tidakkah menurutmu kau harus memberitahuku dulu kenapa kau harus bertemu dengan teman kakakmu?]
Suara Yunho berubah dan terdengar seperti orang frustasi.
"Aku ingin menceritakannya padamu, tapi ceritanya panjang sekali. Lalu karena kesal padanya, aku sengaja berangkat lebih awal jadi aku benar-benar tidak bisa memberikan penjelasanku sekarang."
[Kalian akan bertemu dimana?]
"Di Gangnam."
[Gangnam sebelah mana?]
"Restoran Runiseu yang ada di dekat stasiun Gangnam."
[Baiklah.]
Yunho menutup telepon.
Jaejoong menatap ponselnya dan menggerutu sendiri. Tapi ia tidak bisa menyalahlan Yunho yang sepertinya marah mendengar ceritanya bahwa ia akan bertemu dengan pria lain.
Ya, kalau diingat lagi, ia pernah meminta Yunho untuk tidak bertemu dengan wanita lain tapi apa yang dilakukannya sekarang?
"Kurasa aku yang pantas disebut ddongkae."
Jaejoong tak pernah berurusan dengan pria seperti Yunho, tapi mengakhiri pembicaraan secara sepihak dan langsung menutup telepon... sepertinya Yunho memang marah. Kata-kata Jaejoong pasti membuatnya tak nyaman.
"Bagaimana bisa aku menjelaskannya sekarang? Aishh... Rasanya ingin mati saja, ini semua karena Kim Yoochun!"
Tidak ada gunanya Jaejoong terus mengeluh, ia sudah terlanjur berjanji. Mau mati atau hidup, ia harus bertemu dengan pria itu. Cukup satu kali saja.
.
.
Syukurlah—Jaejoong tidak tahu kenapa ia harus bersyukur, tapi nyatanya... Ia sampai di Lunice dua puluh lima menit lebih awal dan langsung duduk di salah satu sudut.
Sambil menanti kedatangan Seunghyun, Jaejoong sempat mempertimbangkan untuk menghubungi Yunho dan menjelaskan sedikit kenapa ia harus menemui pria itu. Namun, ia mengurungkan niat itu karena menurutnya akan lebih baik kalau dia menghubungi Yunho nanti saja. Apalagi Jaejoong tidak ingin di tengah-tengah pembicaraannya dengan Yunho, Seunghyun datang. Kalau itu terjadi, keadaan hanya akan semakin runyam karena cerita Jaejoong terputus.
Jaejoong sudah menunggu cukup lama. Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
"Halo?"
[Ini Seunghyun, kau dimana?]
"Di Runiseu."
[Oh, kau sudah sampai?]
"Bukannya anda bilang tidak suka orang yang tidak bisa menepati janji?"
Tiba-tiba seorang pria berdiri di depan mejanya. Mendongakkan dagu dan sesuai dengan yang Yoochun katakan, pria ini cukup tinggi, matanya tajam dan alisnya tebal.
"Jaejoong?"
"Iya."
"Annyeong."
Seunghyun tersenyum, memamerkan gigi putih cemerlangnya lalu duduk di depan Jaejoong.
"Kau datang cepat."
"Saya pernah dengar kalau datang awal di pertemuan pertama itu lebih baik."
Jaejoong mencoba menyampaikan maksudnya tapi Seunghyun hanya mengangkat bahu.
"Aku juga sebenarnya sudah datang dari tadi, yang penting kan aku tidak telat."
"Bagaimanapun, meski saya adik dari teman anda, bicara dengan banmal di pertemuan pertama tentu kurang sopan."
"Setelah bertemu langsung denganmu sepertinya kata Yoochun benar. Kamu perempuan yang sulit diajak bicara."
"Bukan masalah saya yang sulit diajak bicara, tapi anda tidak pernah tahu kapan anda akan membuat merasa seseorang kehilangan kesabaran dan juga merasa tidak nyaman."
"Tenang saja, aku tidak akan membuatmu merasa seperti itu."
Seunghyun menyunggingkan sebuah senyum.
Jaejoong lagi-lagi gagal mengutarakan maksudnya. Perempuan itu sedikit bernafas lega karena Seunghyun tidak seburuk dan sesombong seperti saat pertama kali di telepon.
Pria itu cukup berteman meski tetap menyebalkan.
"Pesan saja yang kau suka, ku dengar dari Yoochun kau sangat suka makan."
"Iya."
Seunghyun lagi-lagi tersenyum.
Jaejoong sadar, Seunghyun tidak buruk rupa, sebaliknya... Pria itu cukup tampan. Tapi entah kenapa, ia tak bisa melihat Seunghyun sebagai seorang pria.
Bukan berarti ia menganggap Seunghyun adalah perempuan. Hanya saja, ia berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Yunho.
Mungkin kalau Jaejoong belum pernah bertemu Yunho, ia bisa mempertimbangkan Seunghyun.
Tapi, hei... Jaejoong bahkan sama sekali tidak menyesal karena mengenal Yunho lebih dulu.
"Memangnya Yoochun bilang apa sampai kamu akhirnya mau bertemu denganku? Dia cerita apa saja tentangku?"
"Dia cerita tentang sesuatu yang penting."
"Seperti apa?"
"Oppa mengatakan bahwa ia sempat tidak sadarkan diri sesudah minum terlalu banyak dan ketika bangun, ada seorang wanita tanpa busana di sampingnya. Lalu supaya Seunghyun-sshi tidak mengadukan kejadian itu pada Kahi unnie, Seunghyun-sshi meminta untuk dipertemukan dengan saya. Apakah bertemu perempuan dengan cara seperti itu menyenangkan?" Jaejoong sama sekali tidak bisa menahan-nahan kekesalannya dan melontarkannya lewat kata-kata sinis begitu saja.
Perempuan itu menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Wajah Seunghyun memerah.
"Yoochun bilang begitu?" Tanyanya dengan nada tak percaya.
"Karena usia kami hanya berbeda satu tahun, kami biasa bercerita tentang apa saja tanpa ragu."
"Ah, kamu salah paham... Aku minta dipertemukan denganmu karena menurutku kau cantik. Dia pernah memperlihatkan fotomu, dan dia bilang baginya kau adalah wanita tercantik setelah Kahi. Karena itu aku penasaran. Dan setelah bertemu langsung... Ternyata memang sangat cantik."
"Dia bilang seperti itu? Hoo... Aku bahkan lebih cantik dari Kahi unnie.." Jawaban Jaejoong membuat Seunghyun tertawa.
"Memang. Kamu memang lebih cantik."
"Lalu... Tentang oppa saya yang tidur dengan pelayan bar itu, anda tidak akan mengadukannya pada Kahi unnie kan?"
"Aku kan juga laki-laki. Mana mungkin aku melakukan hal memalukan seperti itu."
"Apa saya bisa mempercayai anda?"
"Tentu, aishh.. Aku tidak tahu apa saja yang Yoochun katakan padamu."
Jaejoong melirik pria itu.
Saat Seunghyun juga menatapnya, perempuan itu membuka mulutnya.
"Anda juga melakukan hal yang sama di kamar lain. Tidur dengan pelayan bar juga kan?"
Kali ini wajah Seunghyun memerah, ia tak tahu harus menjawab apa setelah mendengar kalimat itu.
"Yoochun! Aishh.. Aku bisa gilaa!"
Jaejoong tidak menyangka lalau yang baru saja dikatakannya benar. Ternyata pria di depannya ini melakukan hal seperti itu.
"Tanpa peduli hal itu, apakah anda tidak malu dengan berpikir untuk benar-benar menjalin hubungan dengan adik dari teman anda sendiri?"
Di saat yang sama, seorang pelayan datang dan siap mencatat pesanan mereka berdua. Tanpa melihat menu, Jaejoong memesan sup kentang, rib steak, salad dengan potongan daging ayam dan saus nanas, kentang manis isi, dan jus kiwi.
Sementara Seunghyun yang kehilangan selera makan membolak-balik menu dengan dahi berkerut dan pada akhirnya sembarang menunjuk satu menu, lalu mengembalikan buku menu pada sang pelayan.
Tatapan Jaejoong mengikuti arah dimana pelayan itu pergi, tapi matanya justru menatap seseorang yang tak asing masuk ke dalam restoran itu.
Itu Yunho!
Tapi.. Bersama seorang perempuan?!
Jaejoong terus memandangi Yunho dengan penuh rasa tidak percaya.
Yunho sendiri justru hanya melempar senyum pada Jaejoong.
Jaejoong bisa merasakan darahnya mulai mendidih di dalam dirinya. Apalagi dia sudah mengatakan pada Yunho kalau dia akan menceritakan alasan kenapa ia harus bertemu dengan teman kakaknya itu. Sekarang, kenapa dia tiba-tiba muncul dengan wanita lain?
Jaejoong memasang tatapan tajamnya seolah siap memangsa siapa saja yang ada di hadapannya. Namun Yunho tidak memedulikannya dan terus bercakap-cakap dengan wanita yang duduk di hadapannya. Percakapan itu tampak seru, Jaejoong jadi semakin penasaran, siapa sebenanya wanita itu?
Ia terus menatap Yunho bahkan sampai saat pelayan mengantar sup kentangnya. Tak peduli dengan rasa yang sedikit asin, Jaejoong memakan sup kentangnya tanpa melepas tatapan dari sang direktur Walden Pictures.
"Kalau bicara soal laki-laki, setiap kali minum, memang selalu ada kemungkinan terjadi hal seperti itu. Karena ketika mabuk, laki-laki pasti hilang kesadaran, Yoochun juga pasti begitu, aku sendiri juga... Tidak bisa mengingat banyak."
"Saya paham tentang tindakan yang terjadi karena mabuk, seperti muntah sembarangan di jalan atau bahkan tertidur di trotoar. Tapi bagaimana mungkin seseorang bisa melupakan sensasi sebuah malam yang 'panas'?"
Seunghyun langsung gugup mendengar argumen Jaejoong, tapi ia berusaha menyembunyikannya.
"Ya... Semua orang kan bisa saja lupa, itu kesalahan. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan kan?"
"Dan ada orang yang hidupnya langsung berakhir setelah terjangkit AIDS karena kesalahannya itu."
Serangan Jaejoong membuat Seunghyun tak mampu berkata lagi.
Jaejoong berada di dalam situasi dimana ia tak bisa menerima argumen atau pembenaran seperti apapun. Semua itu karena ia sedang memandang ke arah Yunho yang datang dan mengobrol seru dengan perempuan lain.
"Kau keterlaluan ya..." lirih Seunghyun.
"Ohya, apa oppa sudah memberitahu anda kalau sekarang ini ada penyakit baru yang sulit dicegah dan mudah sekali menular, bahkan penyakit ini tidak bisa sembuh meski dengan pengobatan teratur."
Wajah Seunghyun pucat pasi.
"Kau tidak serius kan? Kau sebenarnya tidak mau bertemu denganku tapi memaksakan diri dan sekarang memojokkanku?" tanya Seunghyun dengan nada dingin.
"Saya memang tidak mau bertemu dengan anda, dan saya memang memaksakan diri. Tapi apa gunanya memojokkan orang yang mengetahui kelemahan kakak saya? Anda salah menilai saya."
Jaejoong terus menggenggam pisau steak-nya, mencoba menahan diri agar tidak menyerang lelaki di hadapannya karena saat ini emosinya sedang meluap-luap.
"Tadi saya sudah bilang kan kalau emosi anda bisa tersulut kapan saja jika sedang bersama saya?" lanjut Jaejoong.
"Ternyata Yoochun benar, kau seperti tipe yang suka bersenang-senang di atas penderitaan orang lain."
"Tidak sampai seperti itu!"
"Oke. Oke. Tapi aku kan tetap teman kakakmu, jangan siksa aku seperti itu dong. Aku tidak akan memintamu jadi kekasihku kok, entah rasanya sudah tidak berminat. Sekarang biarkan hari ini terasa menyenangkan, oke?"
Cara Seunghyun mengucapkan ketidaktertarikannya untuk mengajak Jaejoong menjalin hubungan lebih dari teman membuat harga dirinya terluka. Tapi, yang membuat Jaejoong lebih terluka sebenarnya bukanlah kata-kata itu, melainkan Yunho yang sejak tadi tak lepas dari tatapannya.
"Baiklah. Mari menikmati menu hari ini. Tapi seandainya saya tidak dipaksa datang kesini karena anda adalah orang yang mengetahui rahasia kakak saya, mungkin saya tidak akan menyerang anda seperti ini. Saya tidak biasa melakukan hal seperti ini."
Jaejoong kembali memandangi Yunho yang sedang memotong-motong daging steak dan menukarnya dengan piring wanita itu. Ia ingat pernah terkejut karena lelaki itu juga melakukan hal yang sama saat mereka kencan di hotel Arizona.
Rasanya begitu panas, seperti baru saja menelan habis satu gelas wiski bersuhu empat puluh lima derajat. Ternyata Yunho juga memberi perlakuan khusus itu pada wanita lain. Jaejoong tak bisa menyembunyikan kemarahannya dan hanya menggigit satu tulang rib steak-nya.
"Kau juga makan tulang?"
"Tidak." Jaejoong meletakkan tulangnya.
"Kau pasti sengaja supaya aku tidak menyukaimu, tapi menurutku kau itu lucu."
"Saya tahu itu."
Mendengar jawaban Jaejoong, Seunghyun terbahak-bahak.
"Seunghyun-sshi yang akan membayar semua makanan ini kan?"
"Iya. Tadinya sih aku ingin membayar milikku saja, tapi nanti kau akan menganggapku aneh lagi."
"Mungkin. Dan mungkin juga anda jadi tidak pantas disebut pria."
"Omong-omong, kau sudah punya kekasih? Kata Yoochun belum."
"Ada."
"Ada? Lalu buat apa aku bertemu denganmu? Apaan sih, ini menyebalkan."
"Saya memang tidak pernah bilang padanya kalau saya punya kekasih. Tapi, mau saya bilang atau tidak, tidak ada hubungannya. Karena dia akan tetap membuat saya menemui anda dan menjadikan saya sebagai jaminan untuk hal yang berhubungan dengan skandal di bar itu."
"Jangan sebut itu sebagai skandal, aku kan tidak sadar." Seunghyun mengamati sekitar dan merasa malu sendiri.
"Apa kakakmu juga tahu kalau kau selicik ini?" tanya Seunghyun.
"Seunghyun oppa..."
"Aigoo! Tiba-tiba kau memanggilku oppa? Menyeramkan."
"Ck. Anda berlebihan sekali."
"Tapi, jujur.. Kau benar-benar menarik. Ini pertama kalinya aku bertemu wanita sepertimu. Kau beda, dan cukup menyenangkan. Aku cukup heran ketika kakakmu bilang kalau kau sering tidak bisa mengendalikan diri, sekarang aku tahu kenapa. Tapi aku senang kok bertemu denganmu."
'Kau bisa saja senang, tidak sadar kan kalau aku sedang berusaha keras untuk terlihat tenang?' pikir Jaejoong sambil mengunyah salad-nya.
Ketika pelayan datang untuk mengambil piring yang kotor, ponsel Jaejoong berbunyi. Yunho menghubunginya.
Ia segera mengalihkan pandangan pada Yunho yang juga sedang menatapnya. Mereka saling bertatapan beberapa saat sampai akhirnya Jaejoong memasukan ponselnya ke dalam tas. Yunho terlihat tidak senang dengan hal itu.
"Siapa? Kenapa tidak diangkat?", tanya Seunghyun penasaran.
"Saya tidak harus menerimanya sekarang. Lagipula, tidak sopan kalau saya mengangkatnya saat saya sedang bicara dengan anda."
Seunghyun tersenyum tipis.
"Baru kali ini aku bertemu dengan wanita sepertimu, kau membuatku tidak bisa melakukan apa-apa selain menurutimu."
"Semoga anda tidak tersinggung, lagipula hanya untuk hari ini saja."
"Jadi, aku tidak boleh bertemu denganmu lagi?"
Jaejoong menatap Seunghyun.
"Saya tahu tentang skandal anda dengan wanita bar itu, dan anda pikir saya mau datang lagi?"
"Su...sudah sudah. Iya, aku mengerti, tidak perlu bicara soal itu lagi."
"Baiklah. Saya akan melupakannya."
Ponsel Jaejoong kembali berbunyi. Dan karena yakin itu dari Yunho, ia berusaha mengabaikannya.
Saat melihat Yunho tak memegang ponselnya, Jaejoong sedikit kaget, dan memutuskan untuk mengambil ponselnya sendiri.
"Halo."
[Ini aku.]
"Ada apa?" ternyata kakaknya.
"Bukankah kau bilang menerima telepon di hadapanku itu tidak sopan?"
"Maaf, tapi ini Yoochun oppa."
[Hei, sedang apa?]
"Menurutmu? Aku sedang bertemu dengan temanmu. Kami bahkan sudah makan."
[Bagaimana? Dia baik kan? Dia tidak berbuat yang tidak-tidak kan?]
"Tanya saja sendiri."
Jaejoong menyerahkan ponselnya pada Seunghyun.
"Yahh! Kim Yoochun! Tunggu aku. Aku pasti akan membunuhmu."
Seunghyun langsung meneriaki nama kakaknya untuk menakut-nakuti. Sementara tatapan Jaejoong kembali tersita pada Yunho. Ia hanya mampu memandangi pria itu tanpa tahu harus berbuat apa.
"Dia seperti lebah berumur seratus tahun yang langsung menyengat lawannya. Ini pertama kalinya aku bertemu orang seperti dia."
Seunghyun bicara dengan raut ketakutan. Segera saja Jaejoong menatap tajam seolah akan mencabik-cabik pria itu.
"Sudahlah, nanti saja kita bicarakan. Adikmu pasti akan lebih marah lagi nanti."
Seunghyun pun mengakhiri percakapannya dan mengembalikan ponsel Jaejoong.
"Ayo pulang, saya harus belajar." ajak Jaejoong setelahnya.
"Belajar? Kau ada ujian?"
"Bukan, saya harus belajar supaya bisa menyelesaikan pekerjaan saya.
"Tidak mau minum teh dulu?" Seunghyun memelas.
"Anda kurang pantas berpura-pura sedih begitu."
"Tapi aku memang sedih."
"Jelas ada kelainan pada diri anda, padahal baru saja anda mengatakan kalau saya ini lebah berumur seratus tahun."
"Bukan kelainan! Ini karena aku senang bertemu dengan wanita sepertimu."
"Tapi saya benar-benar harus pergi sekarang."
Benar-benar harus pergi, ya... Karena ia tak tahan melihat Yunho dan wanita itu.
"Oppa boleh menghubungimu lagi kan?" goda Seunghyun.
"Untuk apa? Tidak perlu."
"Kenapa kau kasar sekali?"
"Memang. Juga jangan kirimi saya pesan yang isinya menanyakan kabar saya atau semacamnya."
"Kau tidak berperasaan."
Setelahnya, Jaejoong segera meminta tagihannya pada salah seorang pelayan.
"Baiklah, ayo kita pergi."
Sebelum keluar dari restoran bersama Seunghyun, Jaejoong sempat melirik ke arah Yunho.
"Sampai bertemu lagi."
"Seandainya saja kau bukan adik Yoochun."
"Kenapa? Anda akan memukul saya?"
"Tidak. Aku akan menculikmu!"
"Menculik saya? Lalu?"
"Yah... Akan kubuat kau menghilangkan kebiasaan burukmu itu."
Jaejoong tersenyum mendengar keluhan Seunghyun.
"Sebenarnya anda orang yang baik. Kalau saja anda tidak terlibat dalam skandal wanita bar itu, mungkin saya akan memberi anda kesempatan."
"Tadi kau menghinaku dan sekarang memuji?"
"Saya serius.. Karena sejak awal anda sudah menggunakkan banmal, saya agak risih. Tapi setelah bertemu langsung, ternyata tidak buruk juga."
Jaejoong mengatakannya dengan tulus. Apa yang disampaikan ayahnya ternyata benar, tidak boleh menilai orang begitu saja jika belum pernah bertemu langsung.
Di luar kebiasaan Seunghyun yang minum-minum dan akhirnya tidur dengan pelayan bar, sebenarnya pria itu baik.
"Terima kasih."
"Tidak perlu berterima kasih. Semoga anda bertemu dengan wanita yang baik."
"Mau ku antar?"
Jaejoong baru akan menolak tawaran itu saat Yunho keluar dari restoran. Perempuan yang ada di samping Yunho mengamit erat lengannya. Jaejoong geram.
Kemarahannya seakan bisa meledak kapan saja. Yang semakin membuat kesal adalah, perempuan itu sangat cantik.
Jaejoong membalik badannya dan menarik tangan Seunghyun lalu berjalan menuju halte bus.
"Tolong antarkan saya sampai halte saja. Eh, bukan... tolong antarkan saya sampai masuk ke dalam bus. Bagaimana?"
"Oke. Aku memang harus melakukannya kok."
Jaejoong pun menyeret Seunghyun sampai di halte.
'Jangan menoleh! Jangan menoleh!' Tapi seberapa pun besarnya Jaejoong ingin tidak menoleh, akhirnya ia menoleh juga dan mencari Yunho. Yunho mempersilakan perempuan itu masuk ke dalam mobilnya.
'Oh my!'
Tangannya gemetar. Jaejoong kehilangan seluruh energinya. Di saat ia merasa kemarahannya memuncak, ponselnya berbunyi. Ia mengeluarkan ponsel itu dan melihat nama Yunho tertera di display-nya.
Jaejoong menggenggam dan terus memandangi layar ponselnya. Dia lalu mengabaikan telepon dari Yunho sampai akhirnya ponsel itu berhenti bergetar.
"Bus-mu nomor berapa?"
"5263."
"Itu datang."
Seunghyun menunjuk bus yang dimaksud dengan jarinya. Ponsel Jaejoong kembali bergetar. Sesuai dugaannya: Yunho.
Angkat? Tidak? Angkat? Tidak? Kali inipun Jaejoong tidak mengangkat ponselnya. Ia hanya memilih untuk diam dan berharap kemarahannya akan mereda nantinya.
Seolah tidak mempedulikan bahwa di dalam bus ada banyak orang, Jaejoong akhirnya berteriak sekuat tenaga.
"Jangan telepon-telepon aku lagi! Dasar ddongkae!"
Seunghyun yang berdiri di samping Jaejoong tentu saja kaget bukan main. Begitupun orang-orang yang ada di dalam bus.
"Kau ini kenapa?" tanya Seunghyun heran.
Jaejoong tak peduli dengan pertanyaan itu dan akhirnya memilih untuk segera duduk sementara Seunghyun akhirnya turun sebelum bus berangkat.
Seunghyun sudah memilih keputusannya sendiri setelah bertemu dengan Jaejoong di makan malam hari ini.
Ia tidak akan mau bertemu dengan Jaejoong lagi.
.
.
.
Dengan raut sedih, Jaejoong turun dari bus dan langsung berjalan menuju apartemennya.
Ia mengangkat bahu dan mendapati Yunho disana.
Menatapnya dengan begitu tajam.
"Ada apa?"
"Siapa orang itu?"
"Kau tidak perlu tahu."
Jaejoong menjawab singkat lalu masuk ke dalam gedung tempat tinggalnya. Langkahnya diikuti oleh Yunho yang masih tampak marah.
Jaejoong yang tak ingin satu lift dengan Yunho buru-buru menekan tombol untuk menutup pintu lift tapi nyatanya, Yunho berhasil ikut masuk dan berdiri di sampingnya.
"Kau sendiri yang bilang kalau sebaiknya kita tidak bertemu dengan sembarang orang." Yunho mengatakannya dengan nada mengeluh.
"Yang tadi itu bukan sembarang orang, lagipula aku kan sudah bilang kalau aku akan menjelaskannya nanti padamu."
"Aku tidak butuh nanti. Aku butuh saat ini."
"Jadi karena aku tidak memberitahumu, kau datang dengan perempuan lain kesana?"
"Makan sendiri itu membosankan."
Yunho mengucapkannya dengan intonasi yang membuat Jaejoong bingung.
"Iya, pasti lebih enak ketika kau makan sambil menatap wanita secantik itu." balas Jaejoong sinis
Begitu pintu lift terbuka, Jaejoong langsung keluar. Tentu saja Yunho masih mengikuti. Jaejoong melangkah cepat, ia ingin cepat-cepat membuka pintu kamar dan masuk. Tapi Yunho justru menarik tangannya.
"Sebenarnya siapa laki-laki itu?"
"Kau tidak perlu tahu! Aku sudah malas menjelaskannya padamu!"
"Aku akan mendengar penjelasanmu."
Yunho mengucapkannya dengan begitu tegas dan itu membuat dirinya terlihat berbeda di mata Jaejoong.
"Kalau begitu, kau duluan. Siapa perempuan itu?"
"Kau duluan."
"Tidak mau!"
Mereka terus beradu mulut sampai Changmin membuka pintu dan keluar dari kamarnya.
Sambil berkacak pinggang, ia memandangi Yunho dan Jaejoong.
"Kalian tahu tidak kalau suara kalian terdengar sampai ke mana-mana? Lebih baik kalian masuk dan lanjutkan adu mulut kalian di dalam."
"Annyeonghaseyo." Yunho menyapa Changmin.
"Annyeong. Sebaiknya kalian masuk."
"Jaejoong tidak mengizinkanku masuk."
"Ck. Kalau kalian terus berdiri disana, dalam waktu setengah menit semua orang di gedung ini akan keluar dari kamar mereka. Sebaiknya kalian masuk kalau masih tahu malu."
Jaejoong menuruti perkataan Changmin. Membuka pintu dan membiarkan Yunho masuk duluan.
"Jaejoong, pelan-pelan..."
Wanita itu baru saja akan masuk saat Changmin memperingatinya. Jaejoong masuk dengan wajah yang tak bersahabat.
"Aku akan pergi setelah kau mengatakan siapa pria itu."
Yunho terus berdiri dan mencecar Jaejoong agar memberitahunya tentang pria asing itu.
"Teman kakakku."
"Teman kakakmu? Kenapa kau harus bertemu dengannya? Dan kenapa kau harus makan malam bersamanya?"
"Karena tidak ada hal lain yang bisa ku lakukan selain itu."
"Asal kau tahu... Alasanmu tidak masuk akal. Karena aku yakin kau punya alasan kenapa harus menemui pria itu. Sekarang katakan."
"Memang... Memang ada alasannya. Tapi, Yunho... Kenapa kau datang seperti itu dan membawa perempuan?"
"Karena aku marah. Kau tidak memberi penjelasan terlebih dahulu. Juga karena aku penasaran pada pria yang kau temui itu."
"Sepertinya akan lebih baik kalau aku tidak memberitahumu dulu tadi."
"Kalau kau lakukan itu, berarti kau yang ddongkae."
"Tidak. Itu kau!"
"Oke. Karena kita berdua ddongkae, sekarang jelaskan padaku."
Yunho tak menyerah dan terus menuntut penjelasan.
"Mm.. Itu..."
Jaejoong ingin sekali menceritakannya dari awal tapi kalau dia melakukan itu, sama saja ia membuka rahasia pribadi Kim Yoochun. Dan ini juga berhubungan dengan nama keluarganya yang bisa tercoreng.
Sebenarnya hal itu tidak perlu dibahas, apa yang bisa dibanggakan dari seorang pria yang meniduri sembarang wanita? Ditambah lagi pria itu punya wanita yang akan segera dinikahinya.
Ketika Jaejoong sibuk dengan pemikirannya, Changmin tiba-tiba masuk dengan membawa tiga kaleng bir.
Dia duduk di atas tempat cuci piring dan membuka salah satu dari tiga kaleng yang dibawanya tadi.
Changmin muncul di saat Jaejoong berada dalam kebingungannya dan berusaha membuat suasana menjadi lebih baik.
"Sebaiknya kalian bertengkar dengan kepala dingin."
Changmin memberikan kaleng yang sudah dibukanya tadi pada Yunho.
Yunho tak menolak dan langsung menenggaknya.
Jaejoong pun ikut membuka kalengnya dan menenggak seperti Yunho.
"Apa yang terjadi?"
"Yunho makan malam dengan perempuan lain tepat di depan hidungku."
"Jaejoong juga makan malam bersama pria lain." Yunho mengatakan sambil meletakkan kaleng birnya
"Jadi kalian bertengkar karena itu?"
"Cepat katakan siapa pria itu?" tanya Yunho lagi.
"Siapa dia?" Changmin ikut bertanya.
'Aish... Seandainya aku bilang kalau yang ku temui itu orang dari penerbitan dan kami bertemu untuk membicarakan pekerjaan, pasti jadinya tidak begini. Kenapa aku tidak bisa berbohong?'
"Jawab. Kenapa kau tidak menjawab?" Changmin mendesak Jaejoong.
"Karena... Kalau aku menceritakannya dari awal, aku akan membuka aib dan kesalahan besar seseorang. Jadi aku tidak bisa menceritakannya."
"Seseorang? Siapa yang kau maksud?"
"Kim Yoochun."
"Memangnya Yoochun hyung melakukan kesalahan apa?" tanya Changmin.
"Tindakan yang tidak benar dan melanggar moral."
"Jaejoong, yang harus menerima penjelasanmu itu aku, bukan Changmin."
Jaejoong mengatupkan rahangnya.
"Itulah kenapa aku tidak bisa memberi penjelasan padamu. Karena kalau aku menceritakannya, aku jadi harus membeberkan aib Kim Yoochun. Dan karena itu urusan pribadinya, tidak mungkin aku menceritakannya sembarangan."
"Orang tadi itu... Kim Yoochun?"
"Bukan, orang tadi adalah teman Kim Yoochun. Kim Yoochun itu kakakku."
"Jadi apa masalahnya?"
"Oke! Aku akan jelaskan. Tapi kalian harus tutup mulut."
Keduanya mengangguk setuju.
"Jadi... Waktu itu dia mendapat libur satu hari setelah selesai pelatihan. Dia tidak perlu kembali ke kamp. dan pergi minum-minum. Keesokan harinya saat dia bangun, ada perempuan di sampingnya yang tidur tanpa busana."
"Tapi... Yoochun hyung sudah punya kekasih kan?"
"Iya, perempuan yang ada di sampingnya itu adalah pelayan bar. Dia tidak ingat apa-apa. Menurutku tidak masuk akal. Sepanjang malam bergulingan tanpa mengingat apa-apa. Maksudku, tidak ada yang dia lakukan selain bergulat dengan perempuan itu sepanjang malam. Bagaimana bisa tidak mengingat apa-apa? Padahal pasti ada sensasi tersendiri kan kalau tubuh bergerak saat itu? Aku harus dengar pendapat kalian, Yunho... Kalau hal itu terjadi padamu, apa kau juga tidak akan ingat? Lalu, Changmin-ah.. Memangnya hal itu tidak menjijikan?"
Pertanyaan Jaejoong membuat situasi menjadi aneh.
"Tanpa busana, bergulat, sensasi saat tubuh bergerak. Kau menggunakan kata-kata yang apa adanya ya... Semuanya tergambar jelas, bagaimana bisa kau bicara seperti itu di depan dua orang pria?" tukas Changmin dan Yunho mengangguk setuju.
"Aa... Ehem ehem... Itulah kenapa aku bertemu dengan teman Yoochun oppa yang bernama Seunghyun oppa. Karena Yoochun oppa memintaku menemuinya. Seunghyun oppa mengancam akan membeberkan aib itu pada pacar Yoochun oppa kalau dia tidak mau membuatku menemuinya. Sebenarnya Seunghyun oppa hanya ingin bertemu sekali saja tapi Yoochun oppa kelewat takut kalau Kahi unnie sampai tahu. Tadi aku bicara banyak dan berhasil tahu kalau dia juga melakukan hal yang sama dengan Yoochun oppa. Bagaimana mungkin hal sekotor itu bisa terjadi?"
Jaejoong yang heran mengerutkan dahinya. Ia menekankan kata 'kotor' dan itu membuat Yunho dan Changmin sama-sama memikirkan jawabannya.
"Jadi aku menemui pria itu untuk menyelamatkan nyawa Yoochun oppa. Aku juga sebenarnya tidak ingin bertemu tapi aku terpaksa. Lalu Yunho malah muncul dengan perempuan lain. Karena kesal, aku bahkan sampai menyerang Seunghyun oppa bertubi-tubi untuk meluapkan kemarahanku. Sudah kan? Sekarang Yunho... Jelaskan siapa perempuan itu, dan bagaimana kalian bisa bertemu?"
Jaejoong menatap tajam pada Yunho tapi lelaki itu justru menggenggam tangannya.
"Kakak iparku."
"Siapa? Kakak ipar?"
"Iya, dia istri dari kakak sepupuku. Waktu tadi kau bilang akan bertemu pria lain, aku marah dan segera menjemput kakak iparku. Aku hanya ingin membalasmu."
Mendengar jawaban jujur Yunho bahwa perempuan itu adalah kakak iparnya, membuat Jaejoong tetap merasa tersaingi. Habisnya, perempuan itu cantik sekali.
"Kakak iparmu terlihat sangat muda, berapa umurnya?"
"Dia tujuh tahun lebih tua darimu."
"Apa? Apa yang dia makan sampai bisa secantik itu?"
Yunho tersenyum, "Kakak iparku memang cantik... Tapi entah kenapa bagiku kau yang paling cantik." Yunho menggapai pinggang ramping Jaejoong dan memeluknya.
Changmin mulai merasa canggung dengan perubahan atmosfer ini. Ia meletakkan kalengnya dan menatap kedua orang itu.
"Aku sebenarnya tidak ingin bertemu dengan Seunghyun oppa, tapi ini harus..."
"Aku mengerti."
"Meski dia kakak iparmu, tapi apa tidak berlebihan kalau kau harus memotongkan daging untuknya?" Jaejoong merengek seperti anak kecil.
"Aku tidak akan melakukannya lagi."
Yunho membawa Jaejoong agar menatapnya.
Oke, situasi ini semakin membingungkan bagi Changmin. Ia pun bangkit dari duduknya.
"Drama apa ini? Apa kalian lupa kalau ada aku?"
Tapi kelihatannya Yunho dan Jaejoong sibuk di dunia mereka sendiri.
Changmin hanya memutar bola matanya jengah. "Kalau aku terus berada disini, berarti aku abnormal." pria tinggi itu pun keluar dari kamar Jaejoong.
"Hei... Bagaimana kalau aku tidur disini?" bisik Yunho pada Jaejoong.
"Changmin pasti akan langsung melaporkanku ke rumah beras."
"Jadi, aku masih harus menunggu?"
Yunho menatap bibir Jaejoong sambil menggerakkan jarinya untuk mengusap pipi halus kekasihnya itu.
Jaejoong memberi sebuah senyuman sebagai jawaban.
Dan Yunho segera menggapai bibir Jaejoong, menciumnya sedalam mungkin.
Membuat Jaejoong hanya bisa menutup mata dengan dahi mengernyit karena Yunho membuat sebuah kontak yang terlalu intim.
Jaejoong mengalungkan lengannya di leher Yunho dan menikmati saat Yunho mendekapnya lebih erat dan melesakkan lidahnya lebih dalam.
Changmin kembali dan mendapati sepasang kekasih itu sedang berciuman.
Kaget, ia segera menutup pintu dari luar dan bersandar di balik pintu kamar Jaejoong itu.
"Manusia... Cepat sekali berubah."
Ia menggeleng pelan sambil kembali ke kamarnya.
Dalam hati, ia berjanji tidak akan melaporkan Jaejoong kalau malam ini Yunho menginap.
.
.
.
Sekretaris Yunho masuk setelah mengetuk pintu sambil membawa secangkir teh dan sebuah dokumen.
"Sajangnim, ini daftar skenario yang lolos penilaian awal dan juga skenario final Samak."
"Terima kasih."
Yunho menerima dokumen itu dan segera membukanya. Seolah mengerti apa yang dicari atasannya itu, sekretaris Song berujar pelan.
"A Late Autumn lolos penilaian awal, sajangnim."
Yunho mengangkat wajah untuk menatap sekretarisnya.
"Di sini..."
Sekretaris Song langsung membalik beberapa halaman dan menemukan halaman yang sudah ia tandai sebelumnya.
"Oh, terima kasih." ucap Yunho lagi.
Sekretaris Song tersenyum, "Ceritanya sangat bagus."
"Anda sudah membacanya?"
"Karena sajangnim sepertinya sangat perhatian, setelah mencetaknya saya membaca sinopsisnya, dan karena menurut saya ceritanya bagus, saya membacanya sampai habis."
"Benar-benar bagus?"
"Iya, sajangnim. Tapi sayang, penulis Go memberikan nilai yang tidak begitu baik."
Yunho langsung memperhatikan nilai yang diberikan untuk A Late autumn. Dan sesuai apa yang dikatakan sekretarisnya. Juri lain memberikan nilai yang cukup bagus. 8, 8.5, bahkan ada yang memberi nilai 9. Hanya Penulis Go yang memberi nilai 3. Perbedaan nilai yang jauh itu jadi cukup mencolok.
"Sepertinya skenario ini lolos karena nilai yang pas di rata-rata. Padahal harusnya nilai untuk skenario ini bisa lebih tinggi."
"Hmm..."
Penilaian dari Penulis Go memang membuat nilai rata-rata skenario milik Jaejoong jadi cukup jatuh. Tapi ia cukup bersyukur karena skenario itu lolos di penilaian awal.
"Menurut anda, bagaimana skenario itu secara obyektif?"
"Ceritanya bagus, tidak terlalu berat dan masih terselip humor ringan, tapi akhir cerita tetap bisa membuat penontonnya meneteskan airmata."
Yunho merasa sangat puas dengan jawaban itu.
"Saya masih punya salinannya, sajangnim mau membacanya?"
"Tidak. Tidak perlu. Nanti saja kalau skenario itu sudah lolos sampai final."
"Sepertinya sajangnim tidak ingin banyak ikut campur."
"Tentu saja."
Setelah itu, sekretaris Song pun segera pamit keluar ruangan.
Kalau saja Yunho bisa memberi tahu Jaejoong bahwa naskahnya lolos penilaian awal, pasti dia akan sangat senang sekali. Sayangnya dia tidak bisa melakukan hal itu.
Sebenarnya ia ingin membaca naskah Jaejoong, tapi ia menahan diri.
Ia tak ingin muncul kabar kalau ia lebih memperhatikan naskah A Late Autumn. Kalau kabar itu terdengar, tim penilai pun pasti akan lebih memperhatikan skenario itu dan mungkin akan tetap memasukannya ke final tanpa mempertimbangkan banyak hal karena memandang status Yunho.
Ia tak ingin hal itu terjadi.
Yunho kembali memperhatikan judul naskah Jaejoong selama beberapa saat lalu tatapannya beralih pada dokumen naskah akhir untuk film Samak.
Sepengetahuan Yunho, skenario ini dibuat selama enam bulan, dikerjakan dengan seksama untuk memberikan hasil yang terbaik.
Sebuah karya yang memuaskan dan memiliki daya tarik tinggi.
Selera orang dalam menilai suatu naskah tentu berbeda-beda, tapi dari pengalaman yang Yunho dapat setelah memeriksa ribuan naskah, hanya ada puluhan saja yang bisa dijadikan film.
Delapan puluh persen cerita yang sudah difilmkan oleh Walden selalu sukses meski dua puluh persennya tidak berhasil karena ada masalah seperti naskah tak sesuai harapan, atau pertimbangan biaya produksi juga.
Tapi Yunho merasa kalau Samak tidak akan masuk ke dalam dua puluh persen itu karena secara pribadi, Yunho merasa baik tema, karakter, dan lika-liku cerita Samak menarik sekali.
Yunho membaca naskah Samak sampai selesai dan puas dengan hasilnya.
Karena akan makan siang dengan Ilwoo, Yunho segera keluar dari ruangannya.
Yunho memilih untuk menggunakkan tangga menuju dua lantai di atasnya, tempat dimana ruangan Ilwoo berada.
Dia membuka pintu namun menahan diri untuk segera masuk saat mendengar dua orang yang sedang berdiskusi disana.
"Tidakkah anda memberi nilai terlalu rendah?"
Ternyata ketua tim produksi yang bertanya tentang hal itu.
"Oh ya? Saya tidak suka genre-nya. Lagipula ceritanya terlalu pasaran."
Dan yang menjawab pertanyaan ketua tim produksi adalah Ahra.
"Menurut saya tidak begitu, mungkin kita tidak akan merasakan efeknya jika hanya satu kali membaca, tapi kalau di revisi pasti kualitasnya akan meningkat sampai seratus persen. Lagipula alur ceritanya menarik dan tetap memberi unsur komedi yang tidak garing. Itu sempurna kan?"
"Naskah seperti itu sempurna? Semuanya kan hanya permainan kata."
"Sepertinya anda benar-benar tidak menyukai drama-romantis. Kalau dibanding dengan naskah anda memang tidak sebanding, tapi bagaimana bisa anda mengatakannya hanya permainan kata saja?"
"Bagaimanapun skenario itu bukan selera saya. Jadi, menurut saya ceritanya tidak menyenangkan dan saya tidak bisa memberi nilai tinggi."
"Tapi kalau diproduksi menjadi film, pasti akan mendapat banyak respon positif."
"Sepertinya ketua sangat menyukai skenario itu sampai sudah berpikir sejauh itu untuk menjadikannya film."
Kali ini nada suara Ahra sangat tak enak di dengar.
"Kalau saya ada di tim penilai, saya pasti akan memberi nilai delapan. Memang ada yang harus di revisi di sana-sini, tapi saya tetap bisa merasakan atmosfer drama yang kental dan menarik. Setiap adegan rasanya tidak boleh terlewatkan."
"Menurut pengamatan saya... A Late Autumn kurang bagus."
Ahra mengucapkan kata 'Kurang bagus' dengan nada iri. Padahal sebenarnya ia sama sekali tak membaca skenario itu.
"Bagaimanapun juga, mari kita terus lakukan yang terbaik, penulis Go."
"Tentu saja, itu kan suatu keharusan."
Di saat yang hampir bersamaan, Yunho membuka pintu dan masuk, Ahra dan ketua tim produksi bangun dan memberi salam.
"Oh.. Apa kabar sajangnim."
"Kabar saya baik." Yunho juga memberi salam pada mereka berdua.
"Penulis Go..."
"Ya, sajangnim?"
"Saya sudah membaca skenario akhir Samak."
"Ohya? Lalu bagaimana menurut sajangnim?"
"Luar biasa mengagumkan."
"Terima kasih." Ahra tersenyum gembira.
"Kita akan bekerja sama dengan sutradara Song Myeongjun. Semoga penulis Go bisa bekerja sama dengan beliau. Sesudah proses casting selesai, rencananya juga akan ada konferensi pers."
Yunho mengangguk mendengar penjelasan dari ketua tim produksi.
"Beberapa bagian yang bisa membangkitkan emosi sepertinya akan lebih baik kalau dikerjakan di Amerika, walau sedikit."
"Omo! Benarkah?"
"Ya, karena itu... Mohon kerja samanya dengan baik, Penulis Go."
"Baik, sajangnim. Omong-omong, apa sajangnim sudah makan siang?"
"Belum."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan bersama? Kebetulan saya dan ketua tim juga akan makan siang."
"Tadinya saya berniat makan bersama hyung."
"Tapi... Ibu Direktur sedang datang."
"Hyongsunim datang? Kalau begitu sebaiknya saya tidak mengganggu mereka. Mari makan bersama."
Ahra merasa senang karena Yunho tidak menolak ajakannya.
"Penulis Go, ketua tim... Apakah kalian suka fugu?"
"Fugu? Tentu saja. Shabu-shabu fugu dan sashimi fugu enak sekali."
"Baiklah, menu kita siang ini fugu."
Mereka pun menuju restoran yang ditunjukkan Yunho.
.
.
.
"Sajangnim sudah membaca naskah-naskah yang lolos penilaian awal?" Ahra membuka percakapan.
"Belum, saya hanya akan menyeleksi naskah yang lolos ke final saja, anda sendiri bagaimana Penulis Go?"
"Saya membaca semua, dan dari semua skenario yang lolos penilaian awal, empat diantaranya bertema drama, saya tidak terlalu menyukai genre itu jadi saya tidak bisa memberi nilai tinggi untuk mereka."
"Tapi penulis Go tidak memberikan nilai rendah pada semuanya. Hanya satu skenario yang anda beri nilai rendah sekali." bantah ketua tim.
"Karena menurut saya, itu adalah skenario paling jelek."
"Kalau menurut saya, justru skenario itu yang paling bagus."
"Kalau boleh tahu, judulnya apa?" celetuk Yunho.
"A Late Autumn, bahkan dari judulnya sudah terasa menarik."
"Benar, padahal yang paling susah menentukan judul, tapi judul ini terdengar menarik dan membuat penasaran." Yunho mengeluarkan argumen.
"Kalau begitu selera saya dan dengan sajangnim sangat berbeda."
Ahra, dan ketua tim saling beradu argumen.
"Menurut anda, apa yang membuat skenario itu tidak menarik?"
Awalnya Yunho akan berpura-pura tidak paham dan terus berpura-pura, tapi karena yang memulai bicara adalah Ahra, ia jadi inging bertanya.
"Ceritanya tidak terkesan nyata. Terlalu dibuat-buat. Sepertinya si penulis tidak banyak berpikir dan hanya sembarang menulis saja."
"Mana mungkin?"
"Tentu saja dia berpikir, tapi menurut saya sudut cerita yang digunakan tidak terlalu bagus." Ahra mencoba meralat ucapannya tadi.
Yunho tidak tahan mendengar kritik demi kritik yang disampaikan Ahra. Dia begitu marah rasanya tapi tentu ia harus menahannya.
"Saya jadi ingin membacanya. Karena penulis Go sepertinya benar-benar tidak menyukai skenario itu."
Yunho terdengar agak kasar sehingga membuat Ahra bingung.
"Bukankah sajangnim bilang hanya akan memeriksa naskah yang lolos ke final?"
"Sepertinya naskah itu akan lolos ke final, karena tim penilai sangat menyukainya."
Ahra tampak tidak senang mendengar kata-kata ketua tim produksi.
"Kalau begitu saya akan membacanya nanti."
Yunho sendiri justru memasang senyum senang.
.
.
.
Mereka segera kembali ke kantor setelah selesai makan siang. Yunho tiba-tiba ingin menghubungi Jaejoong karena ingin tahu apakah wanita itu menyukai fugu.
"Sedang apa?"
[Sedang mengerjakan naskahku.]
"Untuk buku cerita bergambar itu?"
[Iya. Aku harus menulis naskah ini dengan benar, supaya nanti lebih mudah mengerjakannya. Tapi kepalaku sampai sakit sekali.]
"Susah ya? Kalau begitu... sebaiknya bagaimana? Apa akan membantu kalau ku ajak makan malam?"
[Makan malam? Makan apa?]
"Kau suka fugu?"
[Fugu? Ikan berduri yang bisa menggembung itu?]
"Benar."
[Aku belum pernah makan, jadi sepertinya agak takut memakannya. Kenapa ingin makan fugu?]
"Tadi siang menu makan siangku fugu, karena menurutku enak, jadi aku ingin mengajakmu."
[Tadi makan bersama siapa?]
"Orang kantor."
[Baiklah kalau begitu. Dan... kalau kau tidak sibuk, bagaimana kalau kita jalan-jalan malam ini?]
"Ke mana?"
[Di dekat sini ada taman. Cukup sepuluh menit saja untuk ke sana. Kita bisa jogging atau sekedar jalan-jalan. Kepalaku pusing. Aku butuh penyegaran. Mau temani aku?]
"Tentu saja. Nanti aku temani."
.
.
.
Memikirkan bisa bertemu Jaejoong nanti malam saja sudah membuat Yunho senang.
Yunho memajukan jam pulang kantornya agar bisa kembali ke hotel lebih awal untuk berganti pakaian. Sebelum pulang, ia sudah menghubungi pihak hotel untuk menyiapkan keranjang piknik yang kini dibawanya menuju tempat Jaejoong.
"Ini apa?" tanya Jaejoong sambil memandang keranjang piknik itu.
"Makan malam untukmu."
"Oh ya? Aku jadi penasaran."
"Ada lagi."
Yunho membuka bagasi dan mengeluarkan bola basket.
"Bola basket? Untuk apa?"
"Ayo kita olahraga sesudah makan nanti."
"Tapi aku tidak suka olahraga."
"Bagaimanapun kau harus olahraga." Yunho menyerahkan bola itu pada Jaejoong.
"Siap?" Yunho menyodorkan lengannya pada jaejoong, yang langsung balas menggandengnya sambil tersenyum.
"Kita berjalan kaki saja. Jaraknya tidak jauh."
"Oke."
Mereka baru akan berjalan menuju taman ketika ada seseorang yang memanggil Jaejoong. Ternyata Changmin. Yunho dan Changmin tampak sudah nyaman satu sama lain dan saling memberi salam.
"Baru pulang kerja?"
"Iya. Mau kemana?"
"Jalan-jalan"
"Ngomong-ngomong kau punya nasi? Tadi pagi aku sudah menghabiskan nasi sisaku dan langsung sedang malas memasak nasi."
"Aku sedang tidak ada nasi."
"Makan ini saja."
Yunho mengeluarkan sandwich ukuran besar dari keranjang piknik yang dibawanya dan memberikannya kepada Changmin. Changmin tidak menolak dan langsung menerimanya.
"Apa lagi yang ada di dalam situ?"
"Jangan serakah. Ini makan malamku. Yunho menyiapkan ini semua untukku."
Jaejoong mengatakan dengan bangga dan itu membuat Changmin menjulurkan lidahnya.
"Ya sudah. Hati-hati. Aku naik dulu."
"Kau tidak mau bergabung dengan kami?"
"Aku tidak mau mengganggu kalian."
"Akupun hanya berbasa-basi." Jaejoong menjulurkan lidahnya pada Changmin,yang sebelum naik kekamarnya memberi senyum pada Yunho.
.
Selama perjalanan menuju taman, Yunho tidak melepaskan tangan Jaejoong sama sekali. Setelah cukup lama mencari, akhirnya mereka pun menemukan tempat yang tepat untuk menggelar keranjang piknik mereka meski hari sudah cukup gelap.
"Duduklah."
"Mari makan."
Yunho menyiapkan segalanya di hadapan Jaejoong.
"Wuah... Bagaimana kau menyiapkan ini semua?"
"Di hotel."
"Wah! Sempurna!"
"Cepat makan."
"Tapi aku agak malu karena banyak orang yang sedang memperhatikan kita."
"Abaikan mereka. Cukup lihat aku dan jangan pedulikan orang lain."
Jaejoong tersenyum.
"Terima kasih, dengan cara itu aku jadi bisa makan. " Wanita cantik itu mengambil suapan pertamanya.
"Hmm... Enak."
Benar-benar enak. Karena semua disiapkan hotel, makanan yang Yunho bawa pun tentunya menjadi bagian dari menu hotel itu. Jaejoong tidak bisa menggambarkan betapa enaknya makanan yang sedang dilahapnya itu. Garam dan merica yang sedang ditabur diatas potongan daging ayam panggang itu membuat rasanya semakin sempurna.
Yunho yang khawatir kalau Jaejoong tersedak akhirnya menyodorkan segelas teh.
"Pelan saja, nanti kau tersedak."
"Uhm? Ini teh apa?"
"Rooibos."
Teh itu wangi, tapi rasanya tidak terlalu manis malah cenderung tawar tapi sangat enak dan membuat Jaejoong merasa nyaman.
"Hehe... Aku makan banyak sekali ya?"
"Aku justru senang melihatmu makan banyak." Yunho tersenyum tulus sambil sesekali membersihkan tepi bibir Jaejoong.
"Kau juga harus makan ini... Rasanya enak sekali." Jaejoong menyuapi Yunho sepotong sushi dan membiarkan pria itu mengunyahnya.
"Sepertinya kalau aku sedang kehilangan nafsu makan, aku harus piknik lagi seperti ini. Bukan. Seandainya saja aku bisa piknik setiap hari bersamamu."
"Aku juga berpikir seperti itu."
Yunho membelai pipi Jaejoong dengan tangannya dan pelan-pelan menuju bibir Jaejoong. Tak lama, tangannya beralih membelai tengkuk Jaejoong.
Jaejoong sendiri hanya bisa terdiam menelan ludahnya ketika merasakan tangan Yunho yang meremas pelan tengkuknya. Seketika Jaejoong menarik tangan Yunho.
"Jangan pancing aku, Yunho-sshi..." ucap Jaejoong mengundang senyum dari Yunho.
.
.
Setelah selesai makan, Yunho berhasil memaksa Jaejoong untuk bermain basket bersamanya.
"Ayo kita bertanding."
"Aku tidak bisa main."
"Tidak ada alasan. Ayo bermain sampai dua puluh poin saja."
"Baiklah. Baiklah. Karena aku tidak bisa main, kalau aku berhasil memasukan bola ke ring-mu, nilaiku empat." Jaejoong memberi isyarat angka empat dengan jari-jarinya.
"Mana ada poin empat?"
"Di desaku ada!"
Yunho tersenyum geli, "Baiklah. Bagaimana kalau yang kalah harus memenuhi permintaan yang menang. Apapun." tawar Yunho.
"Oke."
Jaejoong segera menuruti kemauan Yunho namun tatapan Yunho justru seperti berkata 'Hati-hati dengan ucapanmu.'
Dengan kesepakatan itu, sebuah pertandingan kecil dimulai.
Jaejoong yang pertama membawa bola namun segera direbut oleh Yunho dan dengan mudah, pria itu mendapat skor pertamanya dengan three-point.
Jaejoong menggerutu tapi segera mengambil bola yang masih menggelinding lalu membuat skor pertamanya juga tanpa mempedulikan teriakan Yunho.
Well, sejak awal ia memang tak berniat mengikuti peraturan.
Jaejoong menjulurkan lidahnya, meledek Yunho saat berhasil mencetak skor.
Yunho hanya tersenyum mengejek dan mulai serius dengan pertandingan ini.
Lima menit.
Jaejoong baru saja mendapat empat poin sementara Yunho sudah mendapat poin ke lima belasnya.
"Sebaiknya kau lebih waspada, nona cantik." ledek Yunho.
Jaejoong yang kesal kembali berusaha merebut bola.
.
.
"Huahhh!"
Bola basket itu terpantul kuat. Yunho melakukan selebrasi sementara Jaejoong terduduk diatas lapangan basket itu.
Bisa tebak siapa yang menang?
Tentu saja Jung Yunho yang terhormat.
Memang pada dasarnya sulit bagi Jaejoong mengalahkan Yunho dengan pengalamannya yang tak seberapa. Apalagi Yunho begitu tangguh, tentu saja Jaejoong semakin susah mengalahkan pria itu.
"Kau senang sekali eoh?" sindir Jaejoong.
"Tentu saja. Karena kau jadi harus mengabulkan permintaanku."
Yunho berlutut di samping Jaejoong.
"Memangnya apa yang kau inginkan?"
"Masih rahasia."
"Jangan-jangan kau berharap aku berteriak 'Aku mencintaimu Yunhooo...' di tengah jalan?"
"Hmm... Aku tidak keberatan kalau kau melakukan itu."
"Memangnya aku tidak punya malu?"
"Kenapa? Kurasa, aku bisa melakukan hal itu."
Jaejoong menatap terkejut pada Yunho.
"Jadi, kau bisa berteriak 'Aku mencintaimu Kim Jaejoong...' seperti itu?"
"Bisa."
"Maksudmu... Kau mencintaiku?"
"Memangnya kau baru tahu?"
Yunho bertanya balik. Detak jantung Yunho menjadi lebih cepat. Dengan wajah tenang, Yunho menyingkirkan anak rambut yang ada di wajah Jaejoong.
"Ku pikir... Kau sudah tahu."
"Kan baru hari ini kau mengatakan kalau kau mencintaiku."
"Seharusnya tanpa ku katakan pun, kau bisa tahu. Karena nyatanya... Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku."
Jaejoong merasakan suhu tubuhnya meningkat. Dadanya terasa panas.
"Jadi... Jadi... Kau juga tahu kalau aku mencintaimu?" Jaejoong bertanya dengan suata bergetar.
"Iya. Aku tahu. Karena kau juga sama sekali tidak bisa menyembunyikan cintamu padaku."
Tidak menyembunyikan cinta.
Yunho menatap Jaejoong dengan teduh lalu mengecupnya.
"Kita akan ditangkap kalau terlihat berciuman disini." sergah Jaejoong.
"Kau benar."
Yunho mengajak Jaejoong untuk berdiri.
"Aku... gemetar... aku sampai tidak bisa berdiri."
Yunho tersenyum dan menunjuk punggungnya. "Naik."
Jaejoong memandang punggung Yunho yang lebar dan mulai naik keatasnya. Yunho membawa Jaejoong di punggungnya dan berjalan menuju tempat mereka tadi.
Yunho menurunkan Jaejoong untuk merapikan barang-barang mereka dengan memasukkannya kedalam keranjang, kemudian Jaejoong kembali naik ke punggung Yunho.
"Kau bisa terus menggendongku begini sampai kamarku."
"Bisa."
"Tapi aku berat."
"Tidak masalah."
"Kalau aku memang berat, bilang aku."
"Berat."
"Aaaahh! Sudah... aku mau turun."
"Aku bercanda. Bercanda..."
Yunho tertawa.
"Jadi apa permintaanmu? Kau ingin aku melakukan apa untukmu?"
"Kau ingin aku mengatakannya sekarang?"
"Iya. Katakan saja."
"Kau akan mengabulkan apa saja?"
"Iya, iya. Karena aku akan mengabulkannya, lebih baik kau katakan, sekarang. Semua akan aku kabulkan kecuali kalau kau memintaku untuk berteriak di tengah balai kota."
"Aku ingin bisa merasakan aromamu ditempat tidurku."
"Kau ingin merasakan aroma apa?" Jaejoong bertanya karena kali ini dia benar-benar tidak mengerti.
"Aku ingin merasakanmu di tempat tidurku."
"Aku tidak bisa mendengarmu. Bisa bicara lebih keras? Ingin merasakan apa di atas tempat tidurmu?"
Yunho menghentikan langkahnya dan mulai berteriak di keramaian.
"Aku ingin melakukannya denganmu, Jaejoong! Aku ingin bercinta denganmu!"
.
.
.
.
to be Continued.
.
Bagian keenam!
Seperti biasa, saya minta maaf banget karena typos yang masih bertebaran.
I'll give a special thanks to ma bestfriend, Han Yoora yang udah bersedia bantu ngetik saat saya capek... Sumpeh kamu ngebantu banget, beib! Makasih banyak! :*
Terus buat AliveYJ & jeng Zhie makasih banyak buat koreksinya, pelajaran penting tuh buat saya karena emang semua yang kalian koreksi murni cacat dari saya. :D
Terus soal kakak Jaejoong itu, saya bukan salah tulis. Jadi kakak pertama Jaejoong adalah Dongwook, kakak kedua adalah Hyunjoong, & kakak terakhir itu Yoochun.
Sekali lagi saya minta maaf karena ketidaksempurnaan saya dalam me-remake novel ini. *bows*
Tapi saya bakal tetep berusaha lanjutin ini fic ampe abis.
Gomawo buat kalian yang masih bersedia baca ampe chapter ini.
See ya in the next chap! :*
.。.:*・° .。.:*・° .。.:*・° .。.:*・°
SPECIAL THANKS TO :
All GUESTS || iasshine || mrs jang || Han Yoora || nimahnurun || shallow lin || mimimi || yoon HyunWoon || yunjaeddiction || MyBabyWonKyu || akiramia44 || rinie moet || BaekXoLove614 || jaena || ClouDyRyeoRez || Lia || alby chun || shipper89 || jongindo || Shannelle Antoinette || dheardd94 || Risza || ajid yunjae || Jung Jaehyun || AliveYJ || rinayunjaerina || sugar day || leeyeol || jaejae || michomichobaby || gwansim84 || Dewi15 || azahra88 || mz6 || lipminnie || Zhie Hikaru || miu sara || Moet Rinie || Park FaRo || aiska jung || okoyunjae || kimmy ranaomi || lee minji elf || Lawliet Jung || dianavl || meyy-chaan || iche cassiopeiajaejoong || BibiGembalaSapi || ayudessy1222 || JonginDO || casshipper jung || april archuleta 2 || riii-ka || aismamangkona || Pumpkins yellow || MYunjae || cho ri rin || Lee Muti || Iizuka myori || jaeromone || meirah 1111 || Ai Rin Lee || fane || bambidola || meybi || cha yeoja hongki || Mily1909 || 1234 || puspita94 || irna lee 96 || Lilin Sarang Kyumin || sasya || vermilion || shanzec || KimRyeona19 || Park July || chanidoojoncute || yuu || triloveyunjae || sucirahmay || Shin Kisaragi || Dhea Kim || chanbaekyu || JungKimCaca || Michelle Jung || Mami Fate Kamikaze || nanda YunJae || Eun Kyang Kyang || rikuri jung || littlecupcake noona || mrspark6002 || IchankYJ || Sayuri Jung || jaena || alwaysyunjae || Lollyglory || wieyunjae || ShinJiWoo920202 || dreamers girl || HunHanCherry1220 || she3nn0 || rrrrrrrrrrr || kichan || Nana || Kirena L || Yanie || AyuCloud69 || maya kyuminnie || lee eun san || Rly C Jaekyu || cassieswift || cristiyunisca.
Ada yang belom kesebut? ;)
.
.
Sign,
Cherry YunJae.
