-the Last 2%-

a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae.

.

Jaejoong, Yunho, Changmin, Siwon, Junsu, Go Ahra, and others.

YUNJAE.

M-NC 21 Rated.

Drama/Romance.

[WARNING! GENDERSWITCH! NO CHILDREN UNDER 17! Chapter ini mengandung konten dewasa, bahasa tidak mendidik, dan mengandung unsur seksual! Nekat baca, resiko tanggung sendiri! Typo bertebaran! ]

.

I write because i want, not for amaze people.

.

DON'T LIKE, DON'T READ! Told ya before!

.

.

[ © Sebuah remake dari novel milik Kim Rang dengan judul yang sama(2006), cerita sepenuhnya milik Kim Rang hanya beberapa yang saya ubah termasuk casts dan latar untuk keperluan cerita. ]

.

.

.

.

Bagian Ketujuh.

.

.

.

Karena Yunho tiba-tiba berteriak, terlebih lagi yang ia teriakkan adalah keinginannya untuk bercinta, orang-orang yang sedang berjalan di sekitar mereka berhenti dan memandang. Ada beberapa anak muda yang melintas sambil berkata "Hebaat..." dengan tatapan sinis.

Jaejoong mengubur wajahnya yang memerah di balik punggung Yunho dan langsung mengencangkan kedua lengannya yang sedari tadi melingkar di leher pemuda Jung itu.

"Kau sudah bosan hidup?!" Jaejoong menggertakkan giginya setelah berteriak pada Yunho, lalu turun dari punggung pria itu dan berlari menuju unit apartemennya.

Tanpa menoleh sama sekali, Jaejoong berdiri di depan gedungnya dan menghela nafas, Yunho pun mendekatinya.

"Kenapa kau langsung pergi begitu saja?"

"Apa maksudmu tadi? Kau membuatku malu setengah mati."

"Kau kan tadi yang memintaku untuk bicara lebih keras."

"Aaaa... Aku malu sekali."

Jaejoong mengipas-ngipaskan tangan ke wajahnya yang terasa memanas, sementara Yunho menghapus keringat di dahi Jaejoong dengan tangannya.

"Yang tadi… yang tadi itu… kau serius? Itu permintaanmu?"

Jaejoong memelankan suaranya. Khawatir ada orang lain atau mungkin satpam yang memergoki mereka.

"Iya, aku sungguh-sungguh. Itu permintaanku. Dan, kau sudah berjanji akan mengabulkan keinginanku."

Yunho sengaja memberi penekanan pada bagian Jaejoong sudah berjanji akan mengabulkan keinginannya.

"Iya, aku mengerti. Aku memang sudah berjanji. Tapi… tadi, ketika aku hampir menang, aku berniat memintamu untuk menyiapkan lagi makanan seperti tadi. Kenapa kau malah meminta hal yang seperti ini? Kau malah berniat memakanku? Maksudku, tolong batalkan permintaan itu."

Karena terburu-buru bicara, bahasa Jaejoong jadi berantakan, ia berniat meralatnya tapi Yunho terlanjur tertawa.

"Benar. Aku memang akan memakanmu."

Sambil tersenyum, Yunho meraih tangan Jaejoong dan berbisik.

"Aku ingin menghabisimu sebagai makananku."

Jaejoong hanya mampu meneguk ludah.

"Kita ke hotel saja." Yunho tersenyum melihat ekspresi Jaejoong.

"Ho-hotel? Untuk apa?"

"Tentu saja untuk menyantapmu. Kau kan sudah berjanji."

"Eh? Ng—itu... Pertama-tama, biarkan aku mandi dan ganti baju dulu. Bajuku basah sekali."

"Bagaimanapun, kita tidak akan memerlukan baju nanti." Mendengar jawaban itu, Jaejoong tercekat, sementara Yunho tersenyum nakal.

"Ke-kenapa tidak di tempatku saja?" tanya wanita itu semakin gugup.

"Aku tadi dengan jelas menyebut tempat tidurku. Lagipula bagaimana kalau nanti Changmin tiba-tiba masuk?"

"Oh iya." Jaejoong hanya bergumam kecil tak mampu menyembunyikan kegugupannya.

"Kita ke hotel saja."

"Kau akan membiarkanku terlihat seperti ini?"

"Bajumu bisa dicuci di hotel, nanti." Yunho terlihat sangat tidak sabar dan segera membawa Jaejoong menuju mobilnya.

Berbeda dengan biasanya, sepanjang perjalanan menuju hotel Arizona, semua lampu lalu lintas berwarna hijau. Seolah mereka bersekongkol dan bertepuk tangan.

.

.

.

Yunho dan Jaejoong masuk ke dalam hotel dengan baju yang basah karena keringat.

Setelah mengambil kunci di meja informasi, mereka langsung menuju kamar Yunho.

Detak jantung Jaejoong semakin cepat seiring lift yang melewati lantai demi lantai. Ia terus berpikir apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya.

Sampai Yunho membuka pintu kamarnya pun, Jaejoong tak bisa menghilangkan rasa gugup dan cemasnya.

Apa ia harus benar-benar menepati janjinya? Dan bercinta dengan Yunho?

'Aku sudah dua puluh delapan tahun.'

Jaejoong mengingatkan dirinya sendiri yang merasa sudah cukup umur untuk bertanggung jawab atas tubuhnya. Ia ingin terlihat tenang, tapi siapa juga yang bisa tenang di situasi seperti ini kan?

Jaejoong merasa sangat khawatir.

Tapi tiba-tiba ia mengingat pengakuan Yunho tadi.

Lelaki itu mengatakan kalau ia mencintai Jaejoong.

Cinta. Bercinta dengan orang yang dicintai. Jaejoong menginginkan Yunho sebagai cinta pertamanya dan berharap lelaki itulah yang menemaninya di sisa hidupnya.

Jaejoong bingung, kenapa Yunho terlihat begitu tenang? Bagaimana cara pria itu mengendalikan dirinya sendiri?

Saat pintu kamar itu terbuka, Yunho segera merengkuh pinggang Jaejoong yang sejak tadi terlihat hanya berdiri ragu.

"Selamat datang."

"Kamarmu bagus sekali." tanpa alasan, Jaejoong berdiri di tengah ruangan sambil memperhatikan seisi kamar itu.

Ini memang bukan pertama kalinya Jaejoong masuk tapi, ternyata tak ada yang berubah.

"Kau mau makan dulu?" tawar Yunho sambil melepas kausnya.

Jaejoong terpana menatap tubuh Yunho dan seakan tak mendengar pertanyaan lelaki itu.

Yunho menaruh kausnya di atas meja dan bertanya-tanya kenapa Jaejoong memandangnya seperti itu sampai kemudian sebuah smirk terpatri di bibirnya.

"Suka dengan apa yang kau lihat?"

Jaejoong segera saja salah tingkah.

"Haha... Baiklah, kau mau makan apa?"

"Ng... Dalam situasi seperti ini, makanan apa yang enak?" Yunho tertawa mendengar jawaban Jaejoong.

Wanita itu terlihat gugup luar biasa hingga Yunho memutuskan untuk mendekati kekasihnya itu dan memeluk pinggangnya.

"Apa kau tidak ingin menepati janjimu?"

Mata Jaejoong menyipit, "Kau mesum."

"Siapa? Aku? Memangnya aku kenapa?"

"Kau pasti sengaja mengajak taruhan basket karena tahu aku akan kalah kan?"

"Kalau aku tidak melakukannya, aku tidak tahu kapan kau akan mengizinkanku."

Jaejoong berusaha menatap hal lain selain Yunho saat pria itu mencoba mencium pipinya.

"Ng… Apa yang sebaiknya harus ku makan dalam keadaan gugup seperti ini? Obat penenang?"

"Bagaimana kalau wiski?"

"Tidak. Aku tidak mau melakukannya dalam keadaan mabuk."

"Aku juga. Baiklah, tunggu disini."

Yunho beranjak dan mengambil sekotak cokelat.

Dé javu.

Waktu itu Yunho juga berhasil membuatnya tenang dengan sekotak cokelat.

Jaejoong pun tanpa ragu mengambil sebutir cokelat dari kotak itu, sementara Yunho beranjak.

"Baiklah, aku mandi dulu." ucap lelaki itu.

"Aku tidak tahu apakah aku akan melarikan diri atau tidak."

"Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau melakukan itu."

"Aku gugup sekali."

"Cokelat itu pasti membantu."

Yunho memberi kecupan singkat di bibir Jaejoong kemudian segera masuk ke kamar mandi.

Jaejoong sempat terkaget memang, tapi rasa gugupnya kembali hinggap tak terkendali.

"Cokelat-cokelat ini harus membuatku tenang." Jaejoong meletakkan tangannya di dada dan menunggu nafasnya terurai.

"Kalau tahu begini, harusnya aku minum obat penenang dulu tadi."

Wanita itu jadi berpikir, apa ada orang yang benar-benar meminum obat penenang untuk menghilangkan kegugupannya di situasi seperti ini?

Jaejoong diam-diam melirik ke arah tempat tidur. Kasur Yunho terlihat lembut, empuk, dan nyaman. Wajah Jaejoong memerah dan panas memikirkan apa yang akan terjadi nanti di sana.

Ia mencoba duduk di tepi ranjang sambil menyentuh lembutnya sprei yang terpasang di tempat tidur itu.

'Apa aku harus mensugesti diriku sendiri bahwa saat ini aku adalah seorang tentara yang mengemban tugas?'

Jaejoong sibuk dengan pikiran-pikirannya sampai Yunho keluar dari kamar mandi.

Jaejoong meneguk kasar ludahnya sendiri saat melihat Yunho hanya memakai bathrobe berwarna putih.

Sepertinya lelaki itu tidak menggunakan apa-apa lagi di balik bathrobe-nya.

Jaejoong semakin tegang namun sekaligus mengagumi bentuk tubuh Yunho yang begitu menggoda.

"Jaejoongie, cepat mandi... Taruh bajumu di luar, aku akan meminta pihak hotel untuk mencucinya."

"Eh? Lalu aku harus pakai apa?"

Yunho membuka pintu kamar mandi lebar-lebar, "Masih ada bathrobe disini."

"Baiklah... Ng... Aku ingin berendam sebentar, bolehkah?"

"Tidak. Awas saja kalau kau melakukannya."

"Kenapa?"

"Aku tidak mau kau membuang banyak waktu."

Jaejoong tercekat dengan jawaban itu, ia pun memutuskan untuk segera masuk ke kamar mandi.

"Baiklah, aku mandi dulu."

Tak lama setelah Jaejoong masuk ke kamar mandi, gadis itu menaruh pakaiannya di lantai tepat di depan pintu kamar mandinya.

Yunho sudah menghubungi meja informasi agar pakaian mereka bisa di cuci.

Pemuda Jung itu baru saja menenggak sebotol air saat pintu kamarnya di ketuk ringan.

Ia berpikir itu pasti petugas laundry-nya, tapi ia terkejut saat menemukan Go Ahra setelah membuka pintu.

"Maaf, saya datang tanpa memberitahu dulu."

"Penulis Go? Ada urusan apa datang kesini?"

"Ini." Ahra mengeluarkan saputangan dari dalam tasnya. Sambil menyodorkan saputangan itu, ia memperhatikan Yunho.

"Ah, ini sebenarnya tidak usah dikembalikan juga tidak apa-apa."

"Tentu saja saya harus mengembalikannya, karena terlihat mahal sekali. Sajangnim pasti terkejut karena saya tiba-tiba datang seperti ini."

"Ah, iya. Sedikit."

"Saya minta maaf karena langsung datang. Kebetulan hotel ini satu arah dengan tempat tujuan saya, jadi saya mampir."

"Oh, begitu. Terima kasih."

"Sepertinya sajangnim sedang mandi."

"Oh... ya..."

Yunho menerima saputangannya sambil berpikir bagaimana caranya membuat Ahra pergi. Di saat yang bersamaan, staf hotel datang untuk mengambil baju yang akan di cuci.

"Saya datang untuk mengambil baju kotornya, Pak."

"Tunggu sebentar."

Yunho sempat berpikir untuk dengan sopan meminta Ahra pergi ketika ia mengambil baju kotor itu. Tanpa Yunho sadari, Ahra masuk ke dalam kamarnya, wanita itu seenaknya masuk tanpa meminta izin dari Yunho.

Yunho tentu saja tidak nyaman dengan sikap Ahra yang sudah berdiri di tengah-tengah kamar sambil memandang sekeliling.

"Penulis Go."

Yunho segera saja memanggilnya. Ahra menoleh dan tersenyum.

"Sajangnim, saya ingin membayar kebaikan anda beberapa waktu yang lalu, bagaimana kalau saya traktir minum?"

Ahra tidak akan melewatkan kesempatan ini. Sebenarnya ia sempat agak malu saat Yunho memperhatikan penampilannya di depan pintu tadi. Tapi Ahra tak terlalu memikirkannya, ia berharap ada hal lebih baik yang terjadi setelah ini. Apalagi, ia memang berniat menyerahkan tubuhnya pada Yunho.

"Mari kita minum bersama."

"Tidak perlu."

"Tolong jangan menolak permintaan saya, sajangnim."

"Maaf, saya tidak sedang sendiri."

"Maaf?"

Ahra jadi menyadari suara yang sejak tadi sempat ia dengar. Suara itu berasal dari kamar mandi.

"Ah! Sajangnim sedang ada tamu rupanya, omo... Maafkan saya. Tadi saya pikir sajangnim sedang sendirian... Maafkan kesalahan saya."

Yunho tak memberi jawaban apa-apa dan ini menegaskan kalau Ahra memang salah.

Ahra segera berjalan menuju pintu dengan raut malu. Tanpa menunda-nunda, Yunho segera membukakan pintu.

"Maafkan saya, sajangnim."

"Tidak apa."

"Kalau begitu, lain kali–"

"Hati-hati di jalan."

Yunho segera menutup pintu. Jika yang datang bukanlah Go Ahra, tentu saja Yunho tidak akan bersikap seperti ini, ia hanya merasa tak punya pilihan lain. Apalagi mengingat hubungan Jaejoong dan Ahra yang kurang baik, ia tak ingin mereka bertemu di tempat ini.

Yunho juga tidak bisa menoleransi Ahra yang seenaknya masuk ke dalam kamar membuat Yunho menerka-nerka apa yang ada di pikiran wanita itu sampai berani bersikap tidak sopan. Yunho cukup yakin kalau Ahra datang bukan hanya sekedar ingin mengembalikan saputangannya. Pasti ada maksud lain di balik itu.

"Siapa yang datang?" tanya Jaejoong saat keluar dari kamar mandi.

"Staf hotel yang mengambil baju kotor."

"Oh, aku mendengar suara orang mengobrol. Lalu kapan mereka akan mengembalikan bajuku?"

"Mungkin besok siang."

Yunho membuka kulkas dan menyodorkan sekaleng jus yang baru saja ia buka.

"Terima kasih."

Sambil meminum jus jeruk pemberian Yunho, Jaejoong duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambut, Yunho mengambil hairdryer dan membantu Jaejoong mengeringkan rambutnya.

"Apa kau pernah mengeringkan rambut wanita?"

"Tidak. Ini pertama kalinya. Hanya untukmu, Jaejoongie."

Jaejoong tidak tahu Yunho sengaja atau tidak, tapi mendengar kata 'Pertama kali' membuatnya tersenyum sendiri.

"Jadi, aku satu-satunya wanita yang pernah masuk ke kamarmu?"

"Tentu saja."

Jaejoong puas mendengar jawaban Yunho, mereka berdua tersenyum sambil bertukar pandang di pantulan cermin.

"Aku sedang menetapkan hatiku, aku harus membuatnya tenang."

"Kenapa?"

"Karena... Aku tidak tahu apa yang akan dan bisa ku lakukan setelah ini, tapi aku akan mencobanya untukmu."

"Ohya? Aku jadi berharap."

"Jangan. Sudah ku bilang kan... Aku sedang menenangkan hatiku dulu."

"Iya, aku mengerti."

Setelah rambutnya kering, Jaejoong menggulung kabel hairdryer yang digunakannya lalu memasukannya ke dalam laci, dan berjalan menuju sofa. Awalnya ia berniat menuju tempat tidur tapi karena tidak percaya diri, ia mengurungkan niatnya.

Jaejoong berdehem lalu berjalan mondar-mandir di sekitar sofa. Melihat kekasihnya itu cemas, Yunho meminta Jaejoong untuk mencoba tenang.

"Kau mau nonton TV?" tawar Yunho.

"Aku sedang tidak ingin menonton apa-apa."

"Kalau begitu, makan cokelat saja."

"Tidak mau. Aku sudah sikat gigi."

"Bagaimana kalau jus?"

"Sudah cukup."

"Air dingin?"

"Tidak."

"Kau tidak lapar?"

"Tidak."

"Butuh wiski?"

"Tolong jangan membuatku semakin gugup dan lakukan sesuatu." Jaejoong menggertakkan giginya. Yunho yang sejujurnya sudah menunggu daritadi pun tersenyum, ia mendekati Jaejoong dan memeluknya dari belakang.

"Kalau begitu, ayo kita mulai sekarang." bisiknya lirih dan begitu menggoda.

Yunho menuntun langkah Jaejoong menuju tempat tidurnya.

Jaejoong tak menolak. Sebaliknya, ia menjadi begitu penurut setelah menerima bisikan Yunho tadi.

'Ya Tuhan...'

Jaejoong berkata pada dirinya sendiri bahwa saat ini ia harus berusaha tenang, sementara Yunho membaringkannya ke atas kasur empuk.

Sang pria menyentuh bahunya lembut, dan hal itu membuatnya perlahan merasa lebih tenang.

Yunho menahan tubuh Jaejoong dibawah tubuhnya, lelaki itu menatap lapar pada wanita dibawahnya.

"Kau cantik." tanpa menunggu apa-apa, Yunho memberi sebuah kecupan manis yang menjadi appetizer untuk menu utamanya malam ini.

Yunho membawa tangannya mengusap rambut halus Jaejoong dan turun ke pipi wanita itu.

Rasanya Jaejoong seperti makhluk paling sempurna yang pernah ada, ia tak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak menyentuh Jaejoong.

Perlahan namun pasti, ciuman lembut itu berubah menjadi semakin menuntut, mereka saling berpagutan dengan ritme yang tercipta sendiri.

Jaejoong tak bisa menahan lengannya yang akhirnya mengalung di leher Yunho.

Ia tak ingin pasif, dibalasnya ciuman Yunho sebisa mungkin. Dan gerakan demi gerakan sekecil apapun yang Jaejoong lakukan semakin membakar Yunho.

"Nhh.." Jaejoong memejamkan mata saat Yunho menempelkan bibirnya menyusuri tepi rahangnya. Rasanya begitu menggelitik terutama ketika Yunho juga mengecupi lehernya pelan.

Yunho sendiri sangat suka merasakan bagaimana suara desahan Jaejoong keluar dan menimbulkan getaran halus di leher yang tengah ia sentuh itu.

Kaki kanan Jaejoong terperangkap di antara kedua kaki Yunho, wanita itu sengaja menggesek paha dalam Yunho dengan lututnya.

Pernahkah Yunho mengatakan kalau Jaejoong begitu sulit diabaikan? Begitu menggoda? Begitu menggairahkan?

Yunho melepas bathrobe Jaejoong, wanita itu tak menggunakan apa-apa di balik jubah mandi berwarna putih itu, jadi dengan mudah mata laparnya menikmati tubuh indah milik kekasihnya itu.

Jaejoong memperhatikan Yunho yang sedang terpesona pada lekuk tubuhnya.

Ah, tatapan itu. Jaejoong bahkan berpikir mungkin saja ia bisa mendapat orgasme-nya hanya karena ditatap oleh Yunho.

"Ke-kenapa?" tanyanya ragu dengan suara yang tak stabil.

Yunho tersenyum lalu menangkupkan tangan kanannya di payudara kiri Jaejoong yang terasa begitu lembut.

"Mmhh..."

"Tidak ada. Hanya mengagumi keindahanmu."

Tubuh Jaejoong menggeliat pelan saat Yunho memberi sebuah remasan lembut di dadanya.

Kakinya terangkat hingga lutut kanannya tak sengaja menyentuh bagian inti milik Yunho.

Jaejoong cukup kaget, bagian itu terasa keras, kaku, dan... panas.

Yunho sedikit menggeram saat sentuhan tak sengaja itu terjadi. Kulit lembut Jaejoong menyentuh kejantanannya yang hanya terhalang bathrobe sialan itu.

"Apa itu sakit?" tanya Jaejoong dengan polos, habisnya... kejantanan Yunho terasa sangat keras saat ini dan justru tak sengaja tersentuh lututnya.

"Tidak. Sentuhlah aku sebanyak yang kau mau." jawab Yunho menggoda Jaejoong.

"Bolehkah?" kali ini Jaejoong mengerjap, berpura-pura polos sepertinya.

"Kau tahu? Sepertinya aku akan membuatmu menjerit sepanjang malam ini."

Yunho tak ingin berlama-lama lagi, ia kembali membawa Jaejoong pada ciuman hebat yang tak terkendali sementara tangannya sibuk menelusuri tubuh Jaejoong tak terkecuali secuil pun.

Panas mendera tubuh keduanya, seperti tak sabar ingin menemukan oase yang bisa menghilangkan dahaga mereka saat ini, keduanya berlomba saling mengaitkan lidah dan sesekali mengubahnya menjadi ciuman panas dan lumatan.

Tangan Jaejoong juga membelai dada Yunho yang keras dan begitu sempurna.

Jaejoong memutus ciuman mereka untuk mengagumi tubuh Yunho yang terlihat karena bathrobe-nya tersingkap.

Disentuhnya dada hingga abs yang terbentuk sempurna di tubuh pria itu. Yunho sendiri juga mengagumi bagaimana tubuh Jaejoong terlihat begitu indah terbentuk dengan sepasang payudara kenyal, pinggang kecil dan pinggul yang terbentuk layaknya pahatan seorang seniman.

"Yunho... Kau begitu—"

"Indah."

Mereka saling memuji satu sama lain dengan mata berkelip penuh hasrat.

Yunho pun kembali mencium Jaejoong, dan berusaha menanggalkan bathrobe dari tubuhnya. Jaejoong juga membantu Yunho membuka bathrobe-nya agar mereka sama tanpa melepas pagutan dan kecupan-kecupan panas mereka.

"Amhhh... Uhh.."

Jaejoong merapatkan mata saat Yunho perlahan turun untuk mengeksplorasi seluruh tubuhnya.

Menghisap leher putih, bahu, dan sekitar tulang selangka milik Jaejoong.

Pria itu tak membiarkan tubuhnya berhenti bekerja, sementara bibirnya sibuk menyusuri setiap lekuk tubuh atas milik Jaejoong, tangannya membelai lembut paha wanita itu.

Yunho bersumpah akan memberikan Jaejoong kenikmatan yang sesungguhnya.

"Nghhh!" Tubuh Jaejoong sedikit berjengit ketika jari Yunho sampai di pusat gairahnya, menekan klitorisnya pelan, ditambah lidah pria itu yang bermain di sekitar dadanya, sama sekali tak membuat keadaan menjadi baik, tapi Jaejoong menyukainya.

Dipeluknya tubuh Yunho agar wajah pria itu semakin terbenam di dadanya bersamaan dengan masuknya dua jari Yunho ke dalam tubuh Jaejoong.

"Unghhh... Yunho..."

Kaki Jaejoong menggeliat resah hanya karena dua jari. Dan Yunho merasa takjub, Jaejoong sudah sangat basah di bawah sana.

Rasanya kewanitaan Jaejoong begitu hebat melingkupi jarinya dengan erat. Basah, sempit, dan panas.

Tubuhnya semakin tegang saat membayangkan bagaimana jika kejantanannya lah yang ada di dalam sana.

Tak sabar, Yunho menggerakkan jarinya keluar masuk di kewanitaan Jaejoong.

Wanita itu merintih pelan merasakan bagaimana kedua jari Yunho membuatnya semakin basah sekaligus melayang.

Yunho menghisap puncak payudara Jaejoong dan membuat Jaejoong semakin mengerang tak terkendali, jantung mereka berdetak dengan irama yang sama, sentuhan kulit dan darah yang berdesir serta suara desah dan erangan seperti sebuah alunan musik indah bagi keduanya.

Yunho melepas jari-jarinya karena tak lagi bisa menahan saat suara desahan Jaejoong terus menggodanya.

Lelaki itu mengecup singkat bibir Jaejoong sebagai permintaan izin agar ia bisa segera mendapat main course-nya.

Jaejoong menatap Yunho dengan kedua bola mata polosnya yang berwarna kecokelatan.

"Lakukan saja apa yang kau inginkan, aku milikmu." jawab Jaejoong seolah mengerti.

Yunho tersenyum, segera ia kecup lagi bibir itu dan membawa Jaejoong kembali pada ciuman panjang, berusaha mengalihkan perhatian Jaejoong dari sakit yang mungkin akan dirasakannya.

Yunho sempat menggesek pelan kejantanannya di bibir kewanitaan Jaejoong dan membuat wanita itu melenguh dalam ciumannya.

Tapi karena tak bisa lagi mengendalikan diri, ia segera menenggelamkan kejantanannya ke bagian terdalam milik Jaejoong.

"Uhnggh!" Tubuh Jaejoong menegang karena merasakan sesuatu menembus tubuhnya, ia tak sengaja melepas ciuman mereka dan meremas bahu Yunho sambil menggigit bibirnya sendiri.

Yunho menatap wajah Jaejoong, sedikit tak tega.

"Sakit?"

"Ungh... Tidak apa..." Jawab Jaejoong mencoba membuat Yunho tak khawatir.

Kaki Yunho mencoba menahan agar kedua paha Jaejoong berjauhan, dan ia kembali meneruskan penetrasi ke dalam tubuh Jaejoong.

"Hnghh!" Jaejoong menggeliat saat kejantanan Yunho melesak begitu dalam dan menyentuh bagian paling sensitif miliknya.

"Uhh... Yunho... Yunhoh..."

Yunho menggertakkan giginya menahan kenikmatan saat kejantanannya sempurna dilingkupi hangat kewanitaan Jaejoong.

Segera saja ia menarik kejantanannya lagi dan membuat gerakan keluar masuk yang pelan.

Jaejoong menggeliat resah, sentuhan Yunho membuatnya semakin haus.

"Ahh... Yunho..." bibirnya terus bergerak menyebut nama kekasihnya itu tanpa henti.

Yunho mulai menaikkan tempo tusukannya lebih cepat, jari-jari tangan kanannya bertautan dengan jari-jari Jaejoong, wanita itu meremas kuat tangannya seolah melampiaskan berbagai rasa yang menderanya.

Sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menahan pinggul Jaejoong yang menerima sentakan demi sentakan kuat darinya.

"Mhhh..."

"Lagi... Yunho... Lebih keras... Ahh."

Tubuh wanita itu tersentak setiap kali Yunho bergerak ke depan, menusuk kejantanannya sedalam yang ia bisa.

Semakin lama, gerakannya pun semakin cepat, keras dan tanpa ampun.

Jaejoong menjerit sesekali karena Yunho begitu hebat.

Dan beberapa sentakan, tubuh Jaejoong mengejang dengan wajah mendongak, wanita itu meneriakkan nama Yunho saat orgasme menjemputnya.

Yunho sendiri tak lagi mampu menahan ejakulasi saat kewanitaan Jaejoong berkontraksi menjepit kuat kejantanannya. Ia hampir mengeluarkan kejantanannya dari dalam sana namun Jaejoong menahannya.

"Di dalam... Ku mohon..."

"Arghh... Jaejoong-ah!" Yunho tak mampu menahan lagi dan melepaskan cairannya begitu saja di dalam sana.

Tak ada satupun dari mereka yang bergerak ataupun bernafas untuk beberapa detik sampai denyut nikmat itu memudar.

"Nggh..." Jaejoong merintih pelan saat Yunho menarik keluar miliknya dari Jaejoong lalu berbaring di sebelah wanita itu.

Nafas keduanya tak beraturan, saling memburu dengan hawa panas yang menguar.

Jaejoong membuka matanya yang sejak tadi terpejam dan menatap Yunho.

Pria itu menarik Jaejoong ke dalam pelukannya, ada sensasi yang lain saat dada telanjang mereka bertemu, Jaejoong suka itu.

"Terima kasih, Kim Jaejoong." Tanpa jeda, Yunho memberi kecupan bertubi-tubi di wajah Jaejoong, membuat wanita itu geli.

"Yunho-yah... Aku mencintaimu..." Ucap wanita itu dengan nafas terengah.

Jaejoong menangkup pipi Yunho dan mengecup singkat bibir hati milik direktur muda itu.

Yunho kembali mendekap erat Jaejoong.

"Aku juga sangat mencintaimu, Kim Jaejoong."

.

.

.

Jaejoong bangun dari tidurnya cukup awal, setelah beberapa kali mengerjap karena silau, ia akhirnya menemukan Yunho.

Ia menatap pria yang terlelap di sampingnya itu.

Bahkan ketika tidur pun, Yunho terlihat begitu mempesona.

Dahi yang membuatnya terlihat kharismatik, hidung yang terpahat rapi, rahang tegas, dan bibir yang menggoda. Tak ada yang bisa dikeluhkan dari penampilan pria ini.

Memikirkan hal yang dilakukannya bersama Jaejoong semalam membuat wajah Jaejoong bersemu merah. Ia menatap pria yang membuatnya tak berdaya dan berteriak tak karuan semalam, wanita itu menatap Yunho tanpa berkedip.

Ketika Yunho meneriakkan namanya semalam, Jaejoong ingin terus memeluknya.

Selama beberapa saat, Jaejoong terus memperhatikan Yunho yang sedang tidur, sampai akhirnya pelan-pelan ia turun dan memakai bathrobe-nya dan masuk ke kamar mandi.

.

.

Jaejoong keluar dari kamar mandi dan mendekati pintu geser balkon yang menjadi tempat asalnya sinar matahari pagi. Cuaca hari ini cukup menyenangkan.

Ia merasa segar karena bisa melihat langit biru di pagi hari. Ingin rasanya mengajak Yunho berjalan-jalan keluar sana. Ada pemandangan yang menarik saat Jaejoong melihat jalan setapak yang tak jauh dari hotel, ada pasangan tua yang berjalan sambil berpegangan tangan. Rambut mereka sudah memutih tapi tak tampak raut lelah sama sekali dari pasangan itu.

Jaejoong tersenyum, ia tak bisa menebak umur mereka tapi semakin dilihat, pemandangan itu terasa sangat menyenangkan.

Ia sendiri juga ingin Yunho terus ada meski usianya bertambah, seperti ayah dan ibunya juga yang menjalani masa tua bersama-sama.

Wanita itu sibuk menatap ke bawah sana dan tak sadar kalau Yunho sudah bangun, pria itu memeluk pinggangnya dari belakang dan memberi sebuah ciuman di pelipis Jaejoong.

"Tidurmu nyenyak?"

"Nyenyak, bagaimana denganmu?" Jaejoong mengusap punggung tangan Yunho yang ada di perutnya.

"Aku juga." kata Yunho sambil mencium rambut Jaejoong.

"Lihat itu. Kau lihat pasangan tua itu?" Jaejoong menunjuk pasangan tua yang sedang ia amati sejak tadi.

Yunho mengangguk.

"Menurutmu, mereka sudah berapa tahun bersama? Lima puluh? Atau Enam puluh tahun?"

"Sepertinya memang sangat lama, kakek nenekku juga sudah lebih dari enam puluh tahun bersama."

"Terus bersama dan saling mencintai selama lebih dari setengah abad... Sepertinya bukan hal yang mudah untuk dijalani ya?"

"Betul, pasti sulit sekali."

"Lalu, kakek dan nenekmu sendiri, pasti mereka menikah karena ingin terus bersama."

"Tentu saja."

"Ayah dan ibuku juga begitu... Aku juga... Ingin merasakannya. Setiap hari memulai hari dengan bertemu orang yang ku cintai, sarapan bersama, jalan kaki bersama, mendiskusikan sebuah masalah bersama, sesekali bertengkar, lalu ketika sudah memiliki anak... bersama-sama menjaga dan merawat mereka, dan tidur di tempat tidur yang sama. Sepertinya menyenangkan jika bisa melakukan hal itu, padahal sebenarnya tak ada yang istimewa tapi aku ingin sekali merasakannya."

Yunho mempererat pelukannya, udara pagi yang menyentuh kulit dan kehadiran Jaejoong membuatnya merasa begitu nyaman dan tenang.

Ia yakin, ini adalah pagi terindah yang pernah ia dapat di tiga puluh dua tahun hidupnya.

"Ya, aku juga ingin merasakannya, terlihat bahagia dan sempurna."

Jaejoong tersenyum.

"Bagaimana kalau kita jalan-jalan juga?" Ia berbalik dan sedikit kaget saat menemukan Yunho hanya memakai celananya.

"Juga? Kau mau berjalan-jalan tanpa bajumu?"

Jaejoong baru ingat itu.

Yunho kembali memeluk kekasihnya dan mencium lembut bibir manis itu.

"Ada hal penting yang harus kita lakukan sebelum jalan-jalan."

"Apa?"

"Olahraga pagi."

"Olahraga pagi?"

"Iya, olahraga pagi di atas tempat tidur." Yunho mengecup hidung Jaejoong dan segera mengangkat tubuh wanita itu untuk kembali ke ranjangnya.

.

.

.

Yunho tersenyum memperhatikan daftar judul skenario yang lolos ke babak kedua. Skenario Jaejoong termasuk di dalamnya.

Ia sebenarnya tidak peduli, tapi kali ini Ahra kembali memberi nilai tiga.

Untuk pertama kalinya, Yunho merasa tenang karena akhirnya ia bisa membaca skenario milik Jaejoong.

Yunho meletakkan skenario itu di mejanya dan memandang halaman pertamanya.

Dia berpikir harus mencari tahu berapa nilai yang pantas Jaejoong terima. Apakah memang nilai tiga seperti yang diberikan Ahra, atau nilai rata-rata delapan seperti yang diberikan oleh penilai lain.

Yunho mencoba netral, ia tentu akan memberikan penilaian tersendiri tanpa memikirkan bahwa skenario itu adalah buatan wanita yang ia cintai.

Pria Jung itu tersenyum melihat nama Kim Jaejoong yang tercetak di skenario itu.

Awalnya, ia kembali ke Korea hanya untuk membantu Ilwoo. Ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan wanita yang ingin dinikahinya.

Ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan wanita yang membuat hatinya tergerak dalam waktu singkat. Apalagi, dari awal ia memang tak berniat mencari wanita disini.

Tapi, nyatanya ia justru bertemu dan langsung jatuh cinta pada Jaejoong di tempat yang kalau dipikir-pikir tidak begitu istimewa.

Wanita itu cantik, jujur dan selalu memiliki pemikiran baik di dalam kepalanya. Yunho bersyukur bisa bertemu Jaejoong.

'Yunho-yah... Aku... Mencintaimu...'

Jaejoong mengatakannya saat berada di pelukan Yunho.

Yunho kembali tersenyum membayangkan malam yang ia habiskan bersama Jaejoong. Dibandingkan malam-malam yang pernah dilaluinya, malam itu adalah malam termanis dan terindah.

Ia ingat bagaimana kulit halus lembut Jaejoong saat di pelukannya, suara desahan menggoda milik Jaejoong, dan panasnya tubuh Jaejoong.

Membayangkan semua itu membuat Yunho menghela nafas. Bahkan, sebelum bercinta dengan Jaejoong malam itu, Yunho sudah berkeinginan untuk memiliki Jaejoong. Sekarang keinginan itu semakin besar.

Memikirkannya saja membuatnya tak bisa tidur tenang.

Yunho jadi harus menahan diri, padahal ia ingin sekali menghabiskan setiap malam bersama Jaejoong. Ia merasa sekarang tempat tidurnya terlalu besar untuk dirinya sendiri.

Yunho membutuhkan Jaejoong.

Hanya Jaejoong.

Lelaki itu membiarkan dirinya terus merasa tidak nyaman dengan hanya membayangkan aroma tubuh Jaejoong yang tertinggal di tempat tidurnya.

"Jaejoongie.."

Ia hanya mampu menyebut nama itu berkali-kali untuk meredam hasratnya sendiri.

.

.

.

Membayangkan kembali apa yang di lakukannya dengan Yunho membuat tubuh Jaejoong gemetar, ia bisa merasakan darahnya berdesir halus.

Rasanya seperti demam, ia bahkan mengeluarkan kata-kata yang kacau saat bebicara.

Setibanya di kamar, Jaejoong bertanya-tanya apakah Changmin mencoba mencarinya. Jaejoong sendiri sudah menyiapkan alasan kalau-kalau Changmin bertanya.

Tapi, sudah empat hari berlalu dan Changmin sama sekali tak terlihat. Di hari kelima, tiba-tiba ponsel Jaejoong berbunyi di tengah malam.

Malam itu Changmin menghubunginya. Suaranya terdengar lirih dan tidak sehat. Changmin memintanya membawakan obat atau makanan.

Jaejoong bingung kenapa Changmin memintanya membawakan obat, karena tidak biasanya flu menyerang di tengah musim panas seperti ini.

Ternyata Changmin sakit parah. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Untuk saat ini, Jaejoong hanya bisa memberinya obat seadanya dan menempelkan handuk lembap di dahi Changmin. Sekitar tiga puluh menit kemudian, panas Changmin turun, namun naik lagi.

Karena mereka berdua sama-sama tidak memiliki termometer, Jaejoong tidak bisa tahu pasti berapa suhu tubuh Changmin saat ini. Tapi, kalau perkiraannya benar, suhu tubuh Changmin saat ini di atas tiga puluh derajat.

Jaejoong kembali ke kamarnya untuk membawa semua es yang dimilikinya dan langsung membasahi handuk lagi, kemudian memerasnya dan meletakkannya di dahi Changmin. Alih-alih turun, suhu tubuh Changmin semakin meningkat.

"Kita ke rumah sakit saja, kau harus masuk UGD."

Walau tak sanggup banyak bergerak, tapi Changmin menolak tawaran Jaejoong, "Aku tidak apa-apa."

Changmin jauh dari kondisi baik-baik saja, tapi tidak berhenti berkata bahwa ia baik-baik saja.

"Aku telepon 119 saja ya?"

"Tidak perlu. Itu akan sangat merepotkan."

"Tapi kau sakit!"

"Aku akan baik-baik saja."

Sekalipun tak berhenti mengatakan bahwa ia baik-baik saja, tapi nyatanya Changmin harus berkali-kali ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.

"Yaah! Kali ini aku benar-benar akan menghubungi 119."

"Tidak perlu! Aku baik-baik saja."

"Lalu kalau kau baik-baik saja, untuk apa memanggilku kesini?"

Mendengar Jaejoong berteriak, Changmin memandang wanita itu.

"Berbaringlah, aku bantu dengan handuk ini." lanjut Jaejoong.

"Jaejoongie..."

"Apa?"

"Apa yang harus aku lakukan?" Changmin bertanya dengan suara seperti menahan tangis.

Dulu waktu SD, Changmin pernah kabur dari rumah sehingga orang tuanya memukulinya berkali-kali saat ia kembali. Tapi saat itu Changmin sama sekali tidak menangis. Lalu, tiba-tiba sekarang Jaejoong melihat Changmin sedang menahan tangisnya.

"Changmin-ah... Kau kenapa?" Jaejoong yang terkejut mendekati dan duduk di dekat Changmin. Changmin sendiri segera menyandarkan kepala di bahu Jaejoong.

"Hei, apa yang terjadi padamu? Ada apa?"

Tak ada jawaban, Changmin hanya diam.

"Kau dipecat? Menjual mobil diam-diam?"

Changmin menggeleng.

"Lalu apa? Kau sakit? Kanker? Kau akan mati?"

"Bukan itu."

"Kalau bukan, lalu kenapa? Jangan buat aku takut."

"Rasanya sedih."

"Kenapa? Siapa yang membuatmu sedih? Katakan padaku."

"Tidak ada. Cukup tenangkan aku."

Changmin tidak mengatakan apa-apa sampai akhir. Ia hanya terdiam.

Suhu tubuhnya kembali naik dan ia pun berbaring. Sepanjang dini hari, Jaejoong merawat Changmin dengan baik.

Saat pagi menjelang, Jaejoong membawa Changmin ke klinik yang ada di lantai satu apartemen mereka. Jaejoong juga menyiapkan susu untuk Changmin agar pria itu cepat sembuh.

Selama tiga jam, Changmin terus meninum susunya dan setelah suhu tubuhnya turun, mereka keluar karena Changmin bilang ia lapar, Jaejoong mengajaknya makan di sebuah restoran.

.

.

Mereka berjalan pulang saat Changmin menghentikan langkah.

"Aku ingin mengajakmu ke taman."

"Taman? Untuk apa? Kau kan harus istirahat."

"Aku ingin membuat sebuah pengakuan."

"Pengakuan? Ternyata kau benar-benar dalam masalah ya?"

"Iya."

"Masalah besar?"

"Iya."

"Kau akan meminjam uang dariku? Atau... Kau membunuh orang?"

"Sudah, ayo ke taman dulu. Akan ku ceritakan semuanya."

"Baiklah, ayo."

Mereka duduk di sebuah bangku taman, taman terlihat begitu sepi, hanya beberapa orang yang lewat.

"Ada apa?"

"Aku tidak tahu, kau akan membenciku atau tidak setelah mendengar ini."

"Aish... Jangan membuatku takut, katakan saja."

"Tapi... Ku mohon, aku mohon kau jangan menceritakannya pada siapapun. Siapapun."

Jaejoong jadi berdebar-debar.

"Apa... Kau benar-benar membunuh orang?"

Changmin terdiam.

"A-aku saat ini sedang menyukai seseorang."

Jaejoong menyipitkan matanya, "Apa? Lalu di mana masalah besarnya? Kalau kau mau membuat sebuah pengakuan, lakukan dengan be—"

"Orang itu laki-laki."

Jaejoong berhenti berkata.

"Apa?"

"Laki-laki."

Changmin menghela nafas dalam lalu mengulang kembali jawabannya. Jaejoong menatap Changmin, bingung, selama beberapa saat. Rautnya mempertanyakan maksud Changmin dan mencoba memastikan kalau ia tak salah dengar.

Tapi setelah Changmin mengulang kata-kata tadi, ternyata ia tak salah dengar. Jaejoong terkejut.

Jaejoong tak percaya, dan untuk beberapa saat ia tak tahu harus mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Changmin.

"Laki-laki... Orang yang ku cintai itu laki-laki." Changmin mengulang kata-katanya sekali lagi.

"Ja-jadi... Maksudmu kau... Gay?" tanya Jaejoong hati-hati.

"Iya." jawab Changmin dengan berat hati, "Begitulah."

"Kau serius?"

Hanya itu yang bisa ditanyakan Jaejoong. Ia sempat ingin menuduh Changmin berbohong, tapi kalau dipikir-pikir, jika Changmin berbohong untuk apa pria itu sampai mengajaknya ke taman. Bagaimanapun, Jaejoong sulit mempercayai ucapan tadi, Changmin... gay? Tidak mungkin.

"Sunbae... Waktu itu kau pernah pacaran dengan sunbae kan?"

"Itulah kenapa kami putus. Karena aku mengatakan yang sebenarnya."

Jaejoong kehilangan kata-katanya. Sebenarnya masih ada kemungkinan satu persen kalau Changmin berbohong dan ia berharap Changmin akan tertawa sambil berkata "Aku bohong." tapi hal itu tak juga terjadi.

Dalam situasi seperti ini, Jaejoong tak tahu apa yang harus dilakukan. Changmin adalah anak tunggal. Orang tuanya pernah berkata kalau mereka berharap kalau Changmin bisa menikah dengan wanita yang cantik, masih perawan dan juga seksi. Tapi Changmin... mencintai laki-laki.

"Se-sejak kapan?"

"Sekolah menengah, waktu itu aku mulai merasa aneh. Lama-lama aku curiga dan semakin yakin waktu kuliah. Aku lebih menyukai laki-laki daripada perempuan. Aku tidak bisa merasakan apa-apa saat melihat perempuan cantik, tapi aku bisa berdebar-debar jika melihat laki-laki. Berkali-kali aku mencoba untuk tidak mempercayainya, tapi waktu aku mencoba berpacaran dengan perempuan... aku tidak berhasil. Bagaimana ini? Rasanya begitu menyiksa." Changmin menjelaskan dengan suara bergetar.

Jaejoong bisa merasakan kebingungan yang dialami Changmin. Pasti selama ini ia tak nyaman dan gelisah. Meski ia sudah berusaha keras menjadi normal tapi nyatanya ia tak bisa.

Apalagi ia sangat diharapkan oleh keluarganya, ia pasti menyesal. Belum lagi ia harus menjalani hari tanpa mengatakannya pada siapapun, dan hanya memendamnya sendiri. Changmin benar-benar melalui masa yang sulit. Jaejoong ikut merasa sesak.

Tapi, tentu saja pengakuan itu berefek besar.

Jaejoong merasa Changmin terlihat berbeda sekarang. Jaejoong membenci itu. Meski ia tahu Changmin terluka, tapi ia pun lebih terluka mengetahui hal ini.

"Aku benci kau!" seru Jaejoong seketika bangkit dari duduknya dengan mata berkaca-kaca.

"Kau brengsek." wanita itu tertunduk, suaranya terisak saat mengucapkan kalimat itu.

"Ya. Aku pasti menjijikan sekali bagimu."

"Bagaimana mungkin hal itu terjadi?"

"Maafkan aku." Changmin pun tertunduk menyesal.

"Bagaimana mungkin kau bahkan tidak menyukaiku dan justru menyukai orang lain, huh?"

Jaejoong menarik-narik jaket Changmin. Ia memilih untuk tidak menyebut 'laki-laki lain' tapi 'orang lain'. Ia tak ingin menambah luka Changmin. Pasti hal ini juga lah yang menyebabkannya demam tinggi.

Jaejoong jadi teringat bagaimana pria itu hampir menangis di malam sebelumnya, Changmin memikul sebuah beban berat dan ia masih berusaha menahan tangis.

Jaejoong tidak mungkin tega menghinanya dan bertanya mengapa ia menyukai laki-laki.

"Apa yang salah dengan matamu? Bagaimana bisa kau mengabaikan wanita cantik dan lebih mencintai orang lain? Apa kau juga tidak pernah merasakan apa-apa saat melihatku?"

"Maaf, aku tidak mengacuhkanmu karena mencintai orang lain." Changmin menyentuh tangan Jaejoong yang masih mencengkram jaketnya.

"Kau sadar kan aku hanya menyebut 'orang lain'?"

"Iya, aku tahu."

"Aku tidak ingin cemburu pada laki-laki, itu akan melukai harga diriku."

"Iya, aku tahu."

"Tapi... aku tetap tidak suka. Aku sakit hati."

"Aku tahu."

"Maaf, Changmin-ah... Tapi rasanya aku tidak akan bisa memandangmu seperti sebelumnya."

"Iya."

"Aku harus pergi." Jaejoong pun beranjak dan Changmin hanya mengangguk.

Bisa Changmin dengar pekikan Jaejoong yang terlihat sangat kesal.

"Brengsek! Bagaimana bisa dia lebih menyukai orang lain, bukan aku?!"

Changmin tersenyum tipis mendengarnya.

"Jaejoongie!" panggil Changmin sebelum wanita itu jauh.

"Apa?" Jaejoong menoleh.

"Terima kasih."

"Untuk apa... Tapi dengar! Jangan sekalipun kau melirik Yunho!"

Changmin pun tertawa geli dan membiarkan Jaejoong kembali berbalik pergi.

Changmin tak tahu, Jaejoong sengaja berjalan lebih cepat untuk menutupi airmatanya. Airmata yang mengalir tanpa henti setalah sempat ia tahan-tahan sejak tadi.

Bagaimana bisa kenyataan tentang Changmin, sahabat baiknya... terasa begitu menyedihkan?

.

.

.

Seminggu berlalu sejak pengakuan Changmin. Jaejoong belum bisa menghilangkan kebimbangannya. Ia akan terlihat senang dan gembira saat sedang berkencan dengan Yunho. Tapi jika tiba saatnya sendiri, seringkali Jaejoong bertanya apa yang sedang Changmin lakukan di kamar sebelah?

Persahabatan mereka terlalu erat, karena itu Jaejoong sudah menganggap Changmin bukanlah orang lain. Beban Changmin adalah bebannya juga.

Ia mencoba sebaik mungkin mengembalikan hubungan mereka seperti semula, ia bahkan sampai berpura-pura tidak mendengar apa-apa dari Changmin di hari itu. Tapi tetap saja sulit.

Ia tak tahu kapan akan menerima kenyataan bahwa Changmin 'lain' dari orang-orang di sekitarnya. Memikirkannya saja membuat kepalanya sakit.

.

.

Menyelesaikan pekerjaan dan mengkhawatirkan Changmin membuatnya terlambat tidur. Kondisinya saat ini tidak terlalu baik.

Jaejoong kembali menenggelamkan diri di dalam selimut dan bangun agak siang.

Ketika membuka pintu untuk mengambil botol susu, ia bertemu dengan Changmin yang baru saja pulang kerja.

Suasana yang cukup aneh membuat Jaejoong membalik badannya. Begitu juga dengan Changmin yang pura-pura tidak melihat Jaejoong.

Siapapun pasti akan tertawa melihat tingkah mereka, tapi tidak bisa dipungkiri kalau hubungan mereka saat ini memang sedang aneh.

Jaejoong mengambil susu dan baru akan masuk ke kamar saat ia merasa menyesal. Ia menoleh untuk memastikan apa Changmin sudah masuk ke kamarnya atau belum.

Tapi ternyata Changmin pun sedang menatapnya. Untuk kedua kalinya, mereka bertemu tatap.

"Kau baru pulang?" Changmin mengangguk.

"Sudah sarapan?"

"Aku baru saja membelinya." pria itu mengangkat plastik berisi sarapannya.

"Apa itu?"

"Roti panggang, mau?"

"Kau punya lebih?"

"Aku beli dua tadi. Kau makan saja satu."

Changmin berjalan ke arah Jaejoong dan memberikan satu roti panggangnya. Masih hangat. Roti panggang kesukaan Jaejoong, berisi beberapa sayuran dan telur lalu diolesi saus tomat dan ditaburi gula.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Meski Changmin memberi roti dan Jaejoong menerimanya, tetap saja suasana aneh itu terasa.

Jaejoong tersenyum canggung. Kemudian mereka masuk ke kamar masing-masing.

Menerima pemberian dari Changmin membuat Jaejoong mempertimbangkan untuk membalasnya dengan sekaleng jus. Mungkin dengan begitu, suasana bisa mencair pelan-pelan.

Baru saja wanita itu mengambil sekaleng jus jeruk saat ponselnya berbunyi.

"Siapa?" tanyanya sambil melihat nomor asing yang tertera di layar ponselnya.

"Halo."

[Benarkah ini Kim Jaejoong-nim?]

"Iya, saya sendiri."

[Annyeonghaseyo. Saya perwakilan dari tim lomba skenario yang di selenggarakan Walden Korea.]

"Walden Korea? Ah... Iya! Iya!" Suara Jaejoong terdengar sedikit melengking setelah sadar siapa yang ada di ujung sambungan ini.

[Di lomba yang kami selenggarakan, apakan benar anda mengumpulkan naskah berjudul A Late Autumn?]

"Iya, benar."

Jaejoong belum tahu apa tujuan lawan bicara yang saat ini menghubunginya, tapi wanita di seberang sambungan ini berhasil membuatnya gugup.

Kegugupan Jaejoong terdengar jelas dari nada bicaranya. Ia mencoba menebak-nebak karena sudah hampir dua bulan berlalu sejak pengumpulan naskah itu. Kalau sampai mereka memintanya mengumpulkan lagi dengan kasus yang sama, sepertinya tidak mungkin.

Ia mencoba menenangkan diri dan berpikir kemungkinan bahwa dirinya terpilih menjadi pemenang.

[Apakah A Late Autumn adalah hasil karya anda sendiri, Kim Jaejoong-nim?]

"Iya, betul. Itu hasil karya saya, Kim Jaejoong. Tidak salah lagi. Kalau boleh tahu, kenapa menanyakan hal itu?"

[Karya Kim Jaejoong-nim, A Late Autumn, dinominasikan sebagai pemenang.]

"A-apa? Jadi skenario saya menang?" Jaejoong sangat terkejut.

[Belum pemenang, baru di nominasikan.]

"Di nominasikan? Maksudnya?"

Sebenarnya Jaejoong tahu apa yang dimaksud dengan nominasi, tapi ia sedang tidak bisa berpikir jernih.

[Ada prosedur yang harus dilalui terlebih dahulu. Kami harus memastikan beberapa hal.]

"Seperti apa?"

[Seperti, apakah A Late Autumn adalah karya asli Kim Jaejoong-nim atau bukan. Lalu apakah skenario itu sudah pernah di publikasikan dalam bentuk film dalam dan luar negeri, atau dalam bentuk novel, drama, dan beberapa media lain. Hal-hal tersebut harus kami periksa lagi.]

"Itu benar-benar karya asli saya!"

[Saya mengerti. Karena itu, kami mohon anda datang ke Walden Korea hari ini untuk menjalani beberapa prosedur pemeriksaan sebagai formalitas. Ketika kami tidak menemukan masalah, kami akan memutuskan anda sebagai pemenang.]

"Hari ini? Paling lambat jam berapa?"

Jaejoong bertanya sambil menahan agar jantungnya tidak keluar dari tempatnya karena terlalu senang. Ia sampai merasa sedikit sakit karena jantungnya berdetak sangat kencang.

Setelah tahu harus datang jam berapa, selama beberapa saat Jaejoong hanya diam untuk menormalkan detak jantungnya dan bernafas dengan baik.

Ia berusaha berjalan menuju pintu dan bersamaan ketika ia membuka pintu, wanita itu segera meneriakkan nama Changmin berkali-kali.

"Ada apa?" Changmin membuka pintunya sedikit.

"Aku... Ada..."

Jaejoong tak mampu berkata-kata.

"Ada apa? Kau sakit?"

Jaejoong menggeleng.

"Skenarioku... di nominasikan sebagai pemenang." suara wanita itu bergetar.

Changmin melotot, "Kau serius? Di nominasikan?" Pria itu segera mendekati dan mengguncang tubuh Jaejoong. "Kau serius?"

"To...long beri aku air. Rasanya aku sulit bernafas."

"Tunggu sebentar." Changmin buru-buru masuk.

Nyatanya, Jaejoong sampai harus minum obat penenang dari Changmin karena begitu kaget. Dan mereka baru kembali berbicara lima menit setelah Jaejoong tenang.

"Kau benar-benar menang?"

"Tadi mereka menghubungiku. Aku belum menang, baru di nominasikan."

"Maksudnya?"

"Mereka harus memeriksa keaslian skenarioku terlebih dulu apakah itu plagiat atau bukan. Kalau tidak ada masalah, baru aku dinobatkan sebagai pemenang."

"Kalau begitu... Kau pasti menang! Kau kan tidak pernah mencontek karya orang lain. Kau pasti menang."

"Menurutmu begitu?"

"Tentu saja! Aigoo.. Selamat, Kim Jaejoongie!"

"Aku masih gugup. Rasanya seperti bermimpi."

"Tentu saja! Aku pun kaget! Kau sudah memberi tahu Yunho?"

"Belum. Tadi bernafas saja sulit, jadi aku belum menghubunginya."

"Kau harus memberitahunya, cepat."

Pria itu segera mencari ponsel Jaejoong dan meletakkannya di tangan sang pemilik.

Jaejoong tak tahu, berapa kali ia menelan ludah sebelum akhirnya menghubungi Yunho.

[Jaejoongie?]

"Yu-Yunho... Aku aku... Skenario.. lomba menulis skenario waktu itu. Maksudku, tadi ada yang menghubungiku dan mengatakan kalau skenarioku yang waktu itu dinominasikan sebagai pemenang."

Airmata Jaejoong menetes begitu saja.

[Benarkah? Aigoo! Selamat Jaejoongie... Aku tahu kau pasti bisa!] Suara Yunho terdengar begitu bersemangat.

[Kalau begitu, aku akan kesana sekarang.]

"Ti-tidak. Jangan sekarang. Aku harus ke kantor Walden Korea karena mereka perlu memeriksa beberapa hal. Sekarang stastusku hanya di nominasikan, tapi... Bagaimana kalau tiba-tiba dibatalkan?"

[Mana mungkin? Hal seperti itu tidak akan terjadi.]

"Benarkah?"

[Tentu saja. Tidak ada hal seperti itu, tenang saja... Kau hanya tinggal maju selangkah lagi.]

"Aku senang sekali sampai sulit bernafas."

[Tenangkan dirimu dulu, sayang. Setelah kau tenang, cepatlah datang kesini.]

"Kesini? Aku tidak bisa menemuimu sekarang, Yunho-yah."

[Oh iya, benar! Kau harus ke Walden Korea.] Yunho meralat kata-katanya.

"Aku akan menghubungimu lagi kalau sudah kembali. Eh... Tidak, aku akan menemuimu di hotel."

[Baiklah.]

Setalah mengakhiri percakapannya denga Yunho, Jaejoong mengusap airmatanya dan tersenyum pada Changmin.

"Aku memberimu kehormatan untuk menjadi orang pertama yang memeluk penulis ini."

Changmin terkekeh dan segera memeluk Jaejoong.

"Kau menyebalkan... Tapi, selamat ya Jaejoongie..."

"Terima kasih, Changmin-ah."

.

.

.

Jaejoong berhadapan dengan gedung Walden Korea. Ia masuk dan meminta salah satu wanita di kantor itu menunjukkan dimana ia bisa menemui panitia penyelenggara lomba skenario yang diikutinya.

Karena ternyata mereka sedang rapat, jadi Jaejoong menunggu di depan ruangan yang tertulis sebagai ruang tim produksi.

Sekarang ia merasa lebih tenang meski tetap berdebar-debar. Ia melirik jam yang tertera di ponselnya saat pintu ruangan terbuka dan seorang pria masuk diikuti pria lain.

"Nanti kalau tanggal dan jam acara pemberian penghargaan sudah pasti, akan kami beritahukan kembali." Pernyataan itu direspon oleh pria yang keluar pertama tadi.

"Baik."

Jaejoong mengamati mereka. Pria pertama seperti baru saja memenangkan sesuatu dan pria satunya sepertinya pegawai Walden Korea.

Saat Jaejoong bertanya-tanya apa yang dimenangkan pria pertama, pria yang satunya menatapnya.

"Kim Jaejoong-sshi?"

"Iya, saya." Jaejoong bangun dari duduknya.

"Silakan masuk, maaf sudah membuat anda menunggu lama."

Tanpa sepengetahuan pria itu, Jaejoong menarik nafas dalam-dalam lalu ikut masuk ke dalam ruangan tadi.

Ia kaget saat melihat Ahra ada di sana, wanita itu terlihat begitu sombong dan sempat melirik Jaejoong sambil meremas sebuah kertas yang ada di dekatnya.

'Kenapa perempuan itu ada disini?'

Pria tadi mempersilakan Jaejoong untuk duduk dan memberi kartu namanya. Rupanya pria ini adalah ketua tim produksi Walden Korea.

"Saya adalah pihak yang bertugas di bagian produksi segala hal tentang Walden Korea, dan perkenalkan yang disana adalah penulis skenario Walden Korea sekaligus anggota tim penilai naskah lomba—"

"Kami sudah saling kenal." Sela Ahra.

"Oh benarkah?"

"Kami pernah berada di kelas yang sama."

Sama seperti sebelumnya, Ahra menjawab tanpa melihat pada Jaejoong.

"Oh begitu." Ketua tim mengangguk.

"Selamat." ucap Ahra dengan nada datar.

"Terima kasih, tapi... Kau menjadi salah satu penilai?"

"Iya."

"Oh..."

Entah kenapa Jaejoong mencelos mendengarnya.

Ternyata tidak hanya menyiapkan skenario untuk film milik Walden tapi Ahra juga menjadi salah satu juri lomba menulis skenario. Jaejoong tidak tahu kalau langkah Ahra sudah semaju itu.

Tapi, ada satu hal yang membuatnya bertanya-tanya. Jika Ahra menjadi bagian tim penilai, bagaimana mungkin naskahnya bisa menang? Ia yakin Ahra tidak akan memberi nilai bagus untuknya. Tentu saja yang memberi keputusan memang bukan hanya Ahra tapi tetap saja ia tak menduga akan menjadi yang di nominasikan.

Bisa jadi juga sih Ahra memberi nilai bagus untuknya demi menebus kesalahan waktu itu tapi tetap saja Jaejoong tidak senang bertemu dengan Ahra. Tidak sedikitpun.

"Ada beberapa hal yang harus kami periksa."

"Baik."

"Skenario milik Kim Jaejoong belum di publikasikan online maupun offline, baik di dalam dan luar negeri, dalam bentuk drama ataupun media lainnya, lalu apakah anda bisa memastikan kalau skenario itu bukan hasil menjiplak atau plagiarisme?"

"Tentu saja bisa."

"Setelah acara pemberian penghargaan, kami akan mempublikasikan naskah skenario anda melalui situs resmi kami. Bisakah anda memastikan tidak akan ada masalah yang timbul sesudah itu?"

"Tentu."

"Mohon anda pahami, kalau nantinya diketahui bahwa skenario anda adalah hasil plagiarisme, sebelum atau sesudah produksi film anda, Penulis Kim Jaejoong, akan di denda dan harus bertanggung jawab sepenuhnya."

"Saya mengerti."

"Silakan baca ini dengan seksama kalau sudah, silahkan tanda tangan di sebelah sini." Ketua tim menyodorkan satu lembar dokumen pada Jaejoong.

Dokumen itu berisi hal-hal yang tadi ditanyakan pada Jaejoong. Dan, juga diberitahukan kalau akan ada beberapa hal yang harus ia tanda tangani lagi, seperti kontrak, dan lain sebagainya.

Sesudah membaca dengan hati-hati, Jaejoong meminjan pulpen dan menandatanganinya.

"Terima kasih."

Ketua tim memuji Jaejoong. Wanita itu tersenyum cerah sementara Ahra masih menatapnya sombong.

"Kira-kira, apa saya boleh membaca skenario lain yang juga menang?"

"Akan saya kirim setelah acara penghargaan."

"Terima kasih."

Pintu ruangan terbuka dan dua orang pria berjas rapi masuk.

"Sajangnim." Ketua tim produksi segera berdiri mengikuti Ahra yang sudah lebih dulu memberi hormat.

Jaejoong pun ikut berdiri dan membalik badannya untuk mengetahui siapa gerangan yang datang.

Seorang pria tinggi tampan dengan jas licin berwarna abu-abu dan di belakangnya, seorang pria berjas hitam.

Tunggu, pria berjas hitam itu... Yunho?

Jaejoong terbelalak menyadari bahwa yang berdiri di ruangan itu adalah benar-benar Yunho.

Jung Yunho.

'Yunho? Kenapa dia bisa berada disini?'

.

.

.

.

to be Continued

.

Bagian ketujuh!

Maaf atas keterlambatannya.

Juga typo yang senantiasa(?) bertebaran :D

Fyi, itu bagian NC gak ada di novel aslinya. Dan soal Changmin, udah kejawab kan?

Gak kerasa udah masuk chapter-chapter akhir. Sekali lagi maaf buat ketidaksempurnaan saya dalam me-remake novel ini.

Juga makasih banyak buat kalian yang mau nunggu, baca, & ngasih semangat buat saya.

Okesip, kira-kira gimana reaksi Jaejoong karena ketemu Yunho di kantor Walden?

Tunggu chapter depan ya.

;D

Hugs and kisses for u all, guys... :*

.

.

.

Sign,

Cherry YunJae.