the Last 2%

a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae.

.

Jaejoong, Yunho, Changmin, Siwon, Junsu, Go Ahra, and others.

YUNJAE.

T-M Rated.

Drama/Romance.

WARNING! GENDERSWITCH! Typos everywhere! Out of Character!

.

DON'T LIKE, DON'T READ! Told ya before!

.

.

[ © Sebuah remake dari novel milik Kim Rang dengan judul yang sama(2006), cerita sepenuhnya milik Kim Rang hanya beberapa yang saya ubah termasuk casts dan latar untuk keperluan cerita. ]

.

.

.

.

Bagian Kedelapan.

.

.

.

Jaejoong cukup yakin dengan apa yang dilihatnya saat ini. Penampakan yang sempurna. Walau begitu, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Memastikan apakah benar yang ia lihat saat ini adalah Yunho. Hasilnya tetap sama. Pria itu memang Yunho. Jung Yunho.

Jaejoong bingung. Dan, Yunho yang sedang menatap dirinya kebingungan saat ini, justru tersenyum padanya. Dia tetap tidak memahami situasinya saat ini. Jaejoong tetap dalam kebingungannya.

Yunho, sedang apa kau disini?

Ia bertanya hanya dengan menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Tapi yang ditanya tak memberi jawaban apa-apa kecuali tersenyum.

"Perkenalkan. Beliau adalah penulis yang kita nominasikan sebagai pemenang, Kim Jaejoong."

Ketua tim berdiri di samping Yunho dan menjelaslan siapa Jaejoong. Orang itu menjulurkan tangannya menunjuk Jaejoong dengan sopan.

"Senang bertemu dengan anda, Penulis Kim."

"Ya, annyeonghaseyo." Jawab Jaejoong yang menyambut tangan pria itu sambil terus menatapnya.

"Kim Jaejoong, beliau adalah Direktur Walden Korea, Jung Ilwoo."

'Jadi dia direktur Walden Korea?!'

"Annyeonghaseyo, sajangnim." Jaejoong membungkuk pada Ilwoo

"Terima kasih karena sudah ikut berpartisipasi dalam kompetisi ini."

"Saya yang harusnya berterima kasih karena sudah dipilih."

Yunho tampak terus tersenyum. Setelah berkenalan dengan Ilwoo selesai, Yunho maju satu langkah.

Ketua tim memperkenalkan Yunho, "Dan beliau adalah Direktur Walden Pictures, Jung Yunho."

'apa?!'

Mulut Jaejoong hampir menganga.

"Wa-Walden Pictures... Perusahaan film yang ada di Amerika itu?"

Karena kaget setengah mati, ia berkata seolah-olah tidak pernah mendengar nama perusahaan itu. Orang-orang di dalam ruangan hanya mampu tersenyum melihat Jaejoong yang kebingungan.

"Iya, betul. Beliau adalah Direktur Walden Pictures. Kau tahu kalau Walden Pictures adalah afiliasi dari Walden Group kan? Kampungan sekali." Jaejoong tak mengacuhkan Ahra yang baru saja menghinanya.

Yunho menggenggam tangan Jaejoong dengan kedua tangannya. Hal itu membuat suasana ruangan menjadi berubah. Dan perubahan mencolok terlihat di wajah Ahra yang segera menatap sinis.

"Selamat, Penulis Kim Jaejoong."

Yunho berbicara pada Jaejoong dengan cukup formal. Dia terlihat ingin membedakan urusan pribadi dan pekerjaan. Menyadari hal tersebut, Jaejoong segera merubah sikap dan berterima kasih. Kali ini urusan pekerjaan. Walau tentu saja sikap Yunho yang menggenggam erat—dan lama tangan Jaejoong seperti ini terlihat jauh dari urusan pekerjaan.

"Direktur Jung, mari kita menuju konferensi pers." Yunho langsung melepas tangan Jaejoong setelah mendengar ajakan Ilwoo.

"Penulis Kim, kita akan bertemu lagi di acara penyerahan penghargaan nanti."

Jaejoong hanya bisa mengiyakan perkataan Ilwoo.

Sebelum keluar dari ruangan itu, Yunho berbisik pada Jaejoong, "Aku akan menghubungimu nanti malam."

Setelah Ilwoo dan Yunho keluar dari ruangan, Jaejoong membalik badannya dan tanpa disadarinya, langsung berhadapan dengan Ahra. Ahra pun segera memberi tatapan marah pada Jaejoong.

'Tidak mungkin, apa yang terjadi di antara mereka? Benar-benar menyebalkan' itu isi kepala Ahra.

"Sepertinya Penulis Kim dan Direktur Jung Yunho sudah saling kenal?" Tanya ketua tim yang segera dihujani tatapan tajam dari Ahra.

"Ah, ya. Sedikit. Tapi... Beliau benar-benar Direktur Walden Pictures?"

"Iya. Anda tidak tahu?"

"Saya... yang saya tahu hanya beliau tinggal di Amerika saja... Rasanya seperti baru saja kena tipu."

"Kena tipu?"

"Ah... bukan. Saya membicarakan hal lain. Mmm... Apakah semuanya sudah selesai? Saya boleh pergi?"

"Oh ya. Silakan. Nanti kami akan beritahukan lagi lebih lanjut tentang hari dan jam acara penyerahan penghargaan."

"Baik, saya pergi dulu."

Jaejoong memberi salam pada ketua tim. Sementara ia hanya menunduk ragu pada Ahra lalu keluar dari ruangan dan berjalan cepat menuju lift seperti dikejar sesuatu. Di tengah perjalanannya menuju lift, Jaejoong mendengar ada suara yang memanggilnya.

Ahra.

"Ada apa?"

"Ada yang ingin kutanyakan."

"Apa?"

"Kau dan Direktur Jung Yunho sudah kenal lama?" Ahra bertanya dengan agresif. Ia tampak benar-benar ingin tahu.

"Kenapa kau ingin tahu?" Jaejoong mengerutkan dahinya dan bertanya balik pada Ahra dengan nada yang sama.

"Karena aku tidak mau kau merasa sakit dan terluka."

"Memangnya kenapa? Jangan berputar-putar.. Langsung katakan apa yang ingin kau tahu." Kata Jaejoong tak sabar.

"Aku dan Direktur Jung... Sedang menjalin hubungan." kata Ahra kasar sambil menatap Jaejoong.

"Apa? Kau menjalin hubungan dengannya?"

"Iya."

"Oh... tentu saja. Tentu saja kau menjalin hubungan dengannya. Kau sedang menyiapkan skenario dan beliau adalah Direktur Walden Pictures. Tentu saja kalian menjalin hubungan setiap hari di kantor."

"Kau bodoh sekali."

"Apa? Bodoh?"

"Karena kau tidak paham apa yang kumaksud."

"Yang mana? Aaa... Kalian berdua pacaran maksudnya?"

Ahra tersenyum sinis dan sombomg karena akhirnya Jaejoong mengerti.

Jaejoong kehilangan kata-kata. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya Ahra inginkan. Pacaran? Siapa yang pacaran dengan siapa? Jaejoong merasa kesal. Jaejoong yakin sekali kalau Yunho berbeda dengan Siwon, jadi pria itu tidak mungkin melakukan hal seperti ini.

'Pikirkan baik-baik, Jaejoong. Jangan sampai kau tertipu kata-kata perempuan rubah ini.' Ia merasa muak melihat wajah Ahra.

Tentu saja Jaejoong lebih memilih mempercayai Yunho. Sampai sekarang, pria itu terus menunjukkan ketulusan hatinya pada Jaejoong. Hal itu membuat Jaejoong yakin kalau Yunho tidak mungkin mempermainkannya.

Meski Jaejoong belum tahu banyak tentang Yunho, tapi dalam hatinya, ia tahu harus mempercayai Yunho.

Jadi, Ahra pacaran dengan Yunho?

Terserah.

"Kau lucu sekali." Melihat Jaejoong tertawa, ekspresi Ahra berubah.

"Kenapa kau tertawa, huh?"

"Kata siapa kau pacaran dengan Yunho?"

"Apa?"

"Kau pikir Yunho mau pacaran denganmu?"

"Kau tidak percaya dengan apa yang ku katakan rupanya."

"Bukan aku tidak percaya. Tapi... sulit memang mempercayaimu lagi. Kau tahu sendiri sebabnya. Lagipula sepertinya... kau terobsesi dengannya dan ingin sekali berpacaran dengannya. Yah... Yunho memang bukan pria biasa."

Ahra marah.

Tapi bagi Jaejoong itu sangat lucu.

"Kau terlambat, Ahra-yah... Aku sudah lebih dulu menangkapnya. Dan, kau tidak tahu seberapa dalamnya hubungan kami."

"Dalam?" Ahra melotot.

"Ya, Cinta kami... sangat dalam."

"Menurut siapa, eoh?" teriak Ahra.

"Kau sudah melihatnya sendiri kan? Apa kau masih tidak sadar kalau kami saling mencintai?"

"Bagaimana bisa aku sadar?"

"Ckck. Ternyata kau memang tidak mengerti cinta."

"Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan?!"

"Cinta itu tidak bisa disembunyikan. Yunho sendiri yang mengajarkan ini padaku. Dia bahkan bilang bahwa dia pun tak bisa menyembunyikan cintanya padaku."

Ahra terdiam kaku. Rautnya mengeras.

"Aku sudah pernah masuk ke dalam kamar hotel Direktur Jung Yunho!" Kata Ahra dengan nada tegas, tapi Jaejoong terlihat santai.

"Ohya? Lalu apa yang kau lakukan disana? Aku bahkan sudah tidur disana."

"Apa?!" seru Ahra.

Perubahan raut wajah Ahra membuat Jaejoong semakin yakin kalau ucapan wanita itu tadi adalah omong kosong saja.

"Perempuan murahan!"

Jaejoong tersenyum, "Ahra-yah, aku tahu kalau kau sangat menginginkan Yunho, tapi maaf... sudah ada yang memilikinya."

Kemarahan Ahra semakin memuncak. Tapi ia tak kehabisan akal.

"Oh... Jadi karena itu Direktur Jung memberi nilai bagus untuk skenariomu."

Jaejoong tercekat, kata-kata Ahra menyulut emosinya.

"Apa?" tanya Jaejoong dengan ekspresi datar.

"Para juri memberikan nilai rendah untukmu, tapi Direktur Jung menjadi satu-satunya yang memberi nilai tinggi untukmu. Aneh kan? Bagaimana mungkin skenario yang tidak lolos di babak pertama bisa masuk final? Ternyata karena Direktur Jung nilaimu jadi naik. Sebenarnya tak ada yang menarik dengan skenariomu. Siapa sangka ternyata kau punya hubungan lebih dengan Direktur Jung. Jadi kau menjual tubuhmu supaya dapat nilai tinggi?"

Jaejoong langsung menampar Ahra sekuat tenaga.

"Kau pikir apa yang kau lakukan, sialan!" Ahra hendak membalas Jaejoong. Tapi dengan cepat, Jaejoong memelintir pergelangan tangannya.

"Akh! Lepaskan!"

"Dengar aku baik-baik! Aku pasti akan menanyakan hal ini pada Yunho. Kalau ternyata yang kau katakan ini tidak benar, aku akan melakukan berbagai cara untuk membuat hidupmu menderita!"

"Kau mengancamku?"

"Ya. Aku mengancammu!"

"Oke. Lakukan saja. Kau pikir Direktur Jung orang bodoh yang mau mengakuinya? Kalau berita ini tersebar tentu saja ia akan malu."

Mereka saling tatap untuk beberapa saat sampai Jaejoong melepas tangan Ahra.

"Memang dia akan malu. Tapi kalau berita ini tersebar, pasti sumbernya adalah dari mulutmu! Kau juga tidak akan bisa selamat."

Jaejoong menatap Ahra seperti akan membunuhnya. Ahra pun segera berbalik menuju ruangannya. Jaejoong sendiri menatap Ahra dan bersumpah.

"Aku akan mencari tahu. Aku akan memastikan kata-katamu itu."

Sebelum masuk ke ruangan rapat, Ahra menghentikan langkah dan menoleh untuk melihat Jaejoong. Ia berusaha menyembunyikan rasa bingungnya.

.

.

Jaejoong keluar dari gedung Walden dengan pikiran kosong. Ia tak mampu berpikir. Tentang Yunho yang tiba-tiba muncul dan diperkenalkan sebagai Direktur Walden Pictures, lalu tentang Ahra yang menjadi salah satu juri di kompetisi menulis skenario itu. Dia bahkan tidak bisa membayangkan Yunho memanfaatkan jabatannya di Walden Group untuk memberi nilai bagus pada skenarionya.

Yang didengarnya dari Ahra hari ini sangat mengejutkannya.

Jika semua yang di katakan perempuan itu benar, tentunya Jaejoong harus menanggung malu yang luar biasa besar.

Jaejoong sendiri memiliki banyak pertanyaan tentang Yunho. Seperti, kenapa pria itu tidak mengatakan apa-apa, kenapa Yunho tidak bercerita kalau sebenarnya dia adalah bagian dari Walden Group. Lalu kenapa Yunho tidak berkomentar apa-apa waktu Jaejoong bilang ingin menang di kompetisi itu.

Kenapa Yunho menyembunyikan itu semua?

Wanita itu mencoba mengingat-ingat lagi apa yang terjadi. Tapi tetap saja membingungkan.

Ketika diberitahu kalau skenarionya di nominasikan sebagai pemenang, tentu saja Jaejoong tidak merasakan apa-apa selain senang. Tapi sekarang, kebahagiaan itu terasa seperti tertutupi sesuatu yang kotor.

Jaejoong mengeluarkan ponselnya. Menghubungi Yunho sepertinya adalah cara paling tepat untuk mengetahui hal yang sebenarnya. Baru akan menekan nomor Yunho, Jaejoong menjauhkan ponselnya.

Ragu.

Apakah ia bisa percaya sepenuhnya pada Yunho, yang mungkin akan mengatakan kalau apa yang dikatakan Ahra salah.

Bisa jadi juga Yunho tidak ingin mengatakan bahwa skenarionya buruk, karena itu ia menggunakan pengaruhnya di perusahaan untuk memenangkan karya Jaejoong.

Kalau benar itu yang terjadi, berarti Yunho sama saja merendahkan Jaejoong.

Jaejoong bingung memikirkan kemungkinan ini dan itu. Tak tahu mana yang harus ia percaya.

Tidak mungkin Jaejoong meminta bukti hasil penilaian milik Yunho. Dan kenyataan itu membuatnya makin kesal.

Setelah sampai di kamarnya, Jaejoong hanya terduduk lesu di tepi ranjang.

Terus seperti itu sampai malam menjelang. Ia merasa sangat tidak baik saat ini.

.

.

Ponsel Jaejoong berbunyi. Yunho.

Jaejoong melirik layar ponselnya. Tertulis nama Yunho disana. Ia memutuskan untuk tidak mengangkatnya. Banyak sekali yang ingin disampaikan dan ditanyakannya, sampai ia tak tahu harus memulai dari mana.

Apalagi Jaejoong tidak bisa menerka-nerka jawaban apa yang akan Yunho berikan.

Bukan.

Lebih tepatnya, Jaejoong takut mendengar jawaban Yunho. Saat ini, terlalu banyak hal di pikirannya. Penampilannya pun berantakan.

Jaejoong yakin jika ia mengangkat panggilan itu, ia akan marah-marah. Ia tak ingin melakukannya dan memilih untuk tidak mengangkat telepon itu sementara berusaha meredam kekecewaannya.

.

.

.

Setelah konferensi pers untuk film Samak selesai, Yunho buru-buru meninggalkan tempat acara. Langkahnya sempat dihentikan Ahra.

"Ada apa Penulis Go?'

"Ada yang ingin saya bicarakan."

"Dengan saya?"

"Iya. Sebentar saja."

"Tentu saja."

Mereka pun mencari tempat yang tidak banyak dilalui orang.

"Apa yang ingin anda bicarakan?"

"Tentang Penulis Kim Jaejoong tadi. Dia adalah teman saya."

"Iya. Saya tahu."

"Sajangnim tahu? Bagaimana—"

"Jaejoong sendiri yang bercerita. Lalu, ada apa?"

"Tadi Jaejoong sempat bilang kalau dia punya hubungan dengan sajangnim. Apa itu benar?"

"Ya, benar."

Yunho memberi jawaban dengan tegas dan jelas tanpa ragu.

"Apa ada masalah?" tanya Yunho.

"Ah, bukan... Tapi, apa sajangnim tahu kalau Jaejoong sudah punya kekasih?"

"Kekasih?"

"Iya. Hubungan mereka sudah berjalan sangat lama sekali. Tapi saya tidak tahu apa boleh menceritakan ini." Seperti sebelumnya, Ahra dan sandiwaranya.

"Saya... saya khawatir kalau sajangnim akan terluka karena Jaejoong."

"Kekasih yang seperti apa maksud anda?"

"Ah, sepertinya Jaejoong menyembunyikannya. Sepengetahuan saya, mereka bahkan punya rencana untuk menikah secepatnya, karena sudah lama sekali menjalin hubungan. Jadi, saat saya dengan bahwa sajangnim punya hubungan dengannya, saya sangat kaget. Apalagi sajangnim belum lama ada di Korea, jadi bagaimana mungkin bisa memiliki hubungan yang cukup dalam dengan Jaejoong, dalam waktu singkat."

Ahra bercerita seolah-olah ia peduli.

"Menurut saya, dua setengah bulan sudah cukup."

"Maksudnya?"

"Waktu yang cukup untuk bisa memiliki sebuah hubungan yang dalam. Nyatanya, hal itu terjadi."

Yunho tampak tak ragu menjawab pertanyaan Ahra, sementara Ahra menatap bingung.

"Tapi, maksud saya... Jaejoong sudah berkencan cukup lama dengan Changmin. Dan sepertinya ia menyembunyikan fakta ini dari sajangnim, menurut saya dia tidak tulus dan—"

"Sebaiknya anda berhenti bicara." Yunho memotong kalimat Ahra.

Ahra pun tertegun.

"Saya cukup tahu Changmin-sshi. Mereka berdua bukanlah sepasang kekasih. Mereka hanya teman biasa. Dan sebelumnya, Jaejoong memang tidak tahu kalau saya adalah bagian dari Walden Group."

"Sajangnim, sepertinya anda salah paham."

"Kalau anda bicara lebih lanjut lagi, saya tidak bisa menoleransi. Sebaiknya anda berhenti." sahut Yunho dengan nada kesal.

"Saya akan menganggap percakapan ini tak pernah terjadi. Dan saya juga akan menganggap kejadian ketika anda mencuri skenario Jaejoong dulu itu juga tidak terjadi."

Seketika Ahra pucat pasi.

"Siapa yang mengarang cerita seperti itu?!" Teriak Ahra coba menyangkal.

Tapi tak ada yang mendengarnya, terutama Yunho yang sudah terlebih dulu pergi. Tanpa salam.

Ahra menatap tak percaya pada kepergian Yunho.

Ia kesal, namun tak bisa disangkal juga kalau ia sedikit menyesal.

Ia ingin memiliki Yunho, tapi nyatanya Yunho sudah dimiliki oleh orang lain, teman lamanya sendiri.

Ia tak menyangka kalau kebohongan yang sudah dirancang baik itu mampu dihancurkan Yunho hanya dalam waktu tiga menit saja. Ia tak tahu kalau ternyata Yunho juga mengenal Changmin.

Ahra menyesal. Yang ada di pikirannya saat ini bukan hubungan Yunho dan Jaejoong atau kecemburuannya, tapi bagaimana caranya membereskan masalah akibat kebohongannya. Ahra hanya bisa menghela nafas.

.

.

Sementara Ahra menyesali perbuatannya, Yunho sedang dalam perjalanan menuju apartemen Jaejoong.

Setelah konferensi pers berakhir, lelaki itu terus mencoba menghubungi kekasihnya tapi tak juga ada respon.

Yunho sempat berpikir kalau Jaejoong pulang ke Chungnam untuk merayakan kemenangannya bersama keluarga. Tapi kemudian ia menyangkal, mana mungkin Jaejoong meninggalkan Seoul tanpa memberitahunya. Apalagi, Yunho sudah berjanji akan menghubunginya, harusnya Jaejoong menunggu.

Tapi, setelah beberapa kali mencoba dan Jaejoong tidak juga mengangkat telepon darinya, Yunho bukan lagi merasa aneh. Ia justru merasa cemas.

Jaejoong pasti marah padanya karena masalah identitas aslinya.

.

.

Sesampainya di gedung tempat Jaejoong tinggal, Yunho langsung menuju unit milik Jaejoong.

Ia berencana untuk memberikan ucapan selamat dan merayakan kemenangan Jaejoong dengan mentraktirnya makanan enak.

Yunho juga akan menjelaskan alasannya menyembunyikan fakta bahwa dirinya adalah bagian dari Walden agar Jaejoong tidak salah paham.

Yunho menekan bel kamar dengan gugup. Ia berharap kekasihnya itu membuka pintu dengan senyum lebar.

Ding dong~

Ding dong~

Sudah dua sampai tiga kali Yunho menekan bel kamar Jaejoong tapi tak ada tanda-tanda orang di dalam.

Ketika Yunho menekan bel kamarnya sekali lagi, Jaejoong meremas bantalnya dan kembali mengubur dirinya dalam-dalam di balik selimut. Ia jadi kesal karena matanya tak kunjung terpejam.

Jaejoong tak peduli dengan suara bel, karena untuk sementara ini ia tak ingin bertemu dengan siapapun.

Ia sama sekali tak berniat membukakan pintu. Meski yang datang itu Yunho.

Jaejoong menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, meringkuk dan diam saja untuk menciptakan tanda bahwa tidak ada siapa-siapa di kamar itu, tapi bel itu masih saja berbunyi. Jaejoong menyumpal telinganya. Tapi usahanya tidak berhasil, ia tetap mendengar suara bel itu sampai akhir. Jaejoong tak bergerak.

Setelah menunggu beberapa saat, bel tidak lagi berbunyi. Jaejoong membuka selimutnya.

Ia tak tahu apakah yang datang tadi itu adalah Yunho. Setelah keluar dari selimutnya, ia keluar menuju balkon kamar untuk melihat ke bawah. Bisa ia lihat Yunho dan mobilnya di bawah sana.

Ternyata memang Yunho. Dan akhirnya Benz hitam itu pergi.

"Yunho..."

Jaejoong tahu, tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Ingin rasanya mengejar Yunho, tapi ia menggeleng pelan dan mengurungkan niatnya. Ia sedang tidak ingin bertemu dengan pria itu.

Jaejoong menghela nafas panjang.

"Apa yang harus ku lakukan?"

Benar. Jaejoong menyadari kesalahannya, tapi itu semua terjadi karena ia tak tahu harus berbuat apa.

Situasinya rumit dan semuanya menjadi satu. Jaejoong tidak tahu langkah apa yang harus diambilnya.

Walau saat itu sudah beranjak tengah malam, Jaejoong keliar dari kamarnya untuk bertemu Changmin. Ia merasa tidak bisa menemukan jawaban jika terus berpikir sendiri, ia harus mendiskusikan masalah ini dengan seseorang agar ia bisa mendapat keputusan.

Jaejoong menekan bel kamar Changmin. Dan sahabat baiknya itu segera membukakan pintu dengan wajah khas bangun tidur.

"Ada apa?"

"Kau sudah tidur?"

"Ya."

"Bisa main sebentar denganku? Tiga puluh menit saja."

"Aku sedang tidak ingin main."

"Iya, aku tahu... Aku tahu ini sudah terlalu malam, tapi tolong bantu aku. Aku butuh pendapatmu."

"Masuklah."

"Kau tidak mau keluar saja? Aku ingin bicara di tempat terbuka."

"Memangnya ada apa? Jangan bilang kau mau membuat pengakuan kalau sebenarnya kau menyukai wanita?"

Jaejoong sedang dalam mood yang tak enak untuk membalas candaan itu.

"Sudah lewat tengah malam, Jaejoongie... Aku malas keluar."

"Ya sudah... Di kamarmu saja."

"Masuklah." ajak Changmin.

Jaejoong masuk ke kamar Changmin yang sangat rapi itu dan duduk di tepian ranjang.

"Kau punya bir?"

"Ada, tapi cuma satu kaleng."

"Kita bagi dua ya?"

"Baiklah."

Changmin pun mengeluarkan bir dari dalam kulkas dan menyiapkan dua gelas kosong.

"Ada apa?" tanyanya begitu menyodorkan satu gelas milik Jaejoong.

"Aku sedang mengalami sesuatu... yang membuatku putus asa."

"Ceritalah."

"Seperti yang kau tahu, aku dinominasikan sebagai pemenang dan karena harus memeriksa dan memastikan beberapa hal, mereka memintaku untuk datang, jadi aku kesana tadi siang."

"Lalu?"

"Aku bertemu Ahra disana. Dia yang menulis skenario untuk film yang diproduksi Walden Pictures dan ternyata ia menjadi salah satu juri penilai lomba waktu itu."

"Ahra si pencuri itu?"

"Iya, dan kau tahu aku bertemu siapa lagi disana?"

"Siapa?"

"Yunho."

Changmin terdiam sesaat, "Yunho? Bagaimana bisa? Dia juga menang?"

"Tidak. Dia adalah Direktur Walden Pictures."

"Direktur Walden Pictures?"

"Iya, yang membuat film tooth itu."

"Wah! Kalau begitu Yunho orang kaya kan?"

"Sepertinya."

"Yah! Kau seharusnya senang karena tak perlu memikirkan apa-apa lagi dan hidup enak. Wahh... Wanita tercantik di Chungnam akhirnya berjodoh dengan seorang pria kaya raya!"

"Apa aku harus mengatakannya dengan sombong begitu?"

"Maaf. Lalu, apa masalahnya? Kalau aku jadi kau, aku pasti akan senang sekali."

"Yunho juga menjadi juri di kompetisi itu. Ahra bilang juri lain tidak terlalu suka dengan skenarioku dan memberi nilai rendah. Dan, hanya Yunho yang memberikan nilai tinggi. Lalu seharusnya aku tidak bisa lolos babak pertama, tapi karena Yunho menggunakan posisinya, aku sengaja dimenangkan."

"Siapa yang bilang padamu? Perempuan pencuri itu? Ahra?"

"Iya."

"Ck. Kau kan bisa bertanya langsung pada Yunho."

"Buat apa aku bertanya kalau sudah jelas dia akan bilang tidak?"

"Kalau dia bilang tidak, berarti memang tidak."

"Belum tentu. Kau tahu betapa malunya aku? Betapa frustasinya aku memikirkan ini? Aku ingin menang marena kemampuanku sendiri, bukan karena Yunho. Rasanya harga diriku diinjak-injak. Dan lagi, Yunho sama sekali tidak pernah bicara soal dia adalah orang dari Walden Group. Itulah kenapa aku makin curiga padanya."

"Ternyata bagaimanapun kau memang wanita."

"Apa maksudmu? Jadi kau meremehkan wanita, begitu?"

"Untuk apa kau terlalu memikirkannya? Kalau dia bilang tidak ya artinya tidak. Kau percaya saja dengan apa yang dikatakannya. Kalau kau percaya, kau pasti akan baik-baik saja. Tidak ada gunanya kau frustasi seperti ini. Memangnya kau lebih percaya siapa? Ahra si perempuan pencuri itu atau Yunho?"

"Tentu saja Yunho. Aku ingin sekali mempercayainya... Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian. Memangnya kau pikir Walden itu perusahaan mainan? Memangnya membuat film hanya mengeluarkan seribu atau dua ribu won? Yang aku dengar bahkan pembuatan film bisa sampai mengeluarkan ratusan juta won. Lalu menurutmu, demi orang yang dicintainya, meski sebenarnya skenarionya kurang bagus, dia akan rela mewujudkannya dalam bentuk film?"

"Aku... masih belum tahu apakah skenarioku nanti akan dijadikan film atau tidak."

"Kenapa kau tidak percaya diri seperti ini? Meski tidak dijadikan film pun, kompetisi yang sudah diadakan juga bukan sekedar main-main kan?"

Satu persatu kata-kata Changmin menohoknya.

"Bagaimana mungkin kau mencintai seseorang tanpa kepercayaan?"

"...Sepertinya aku memang harus bertanya pada Yunho."

"Setuju. Kau harus bertanya langsung supaya lega."

"Aku hanya perlu percaya pada apa yang dikatakannya kan?"

"Iya."

"Aku... Sebenarnya takut kalau dia mengatakan bahwa ia memang memanfaatkan jabatannya."

"Kalaupun begitu, mintalah penjelasan. Dengarkan dengan baik, setelah itu, belum terlambat kalau kau ingin mundur."

Jaejoong menghela nafas.

Changmin pun segera merangkul Jaejoong.

"Apa kau sudah tidak jijik padaku jadi kau mencariku untuk berdiskusi?"

"Jijik? Aku masih membencimu, tahu?"

"Kau masih sangat membenciku?"

"Bagaimanapun aku pasti akan tahu. Orang-orang terdekat kita juga pasti akan tahu."

"Kau benar. Maafkan aku."

"Tidak perlu minta maaf, yah... Meski kalau dipikir-pikir orang yang kau buat menderita banyak juga."

Changmin tersenyum, "Bagaimanapun, terima kasih karena kau tidak membuangku seperti sampah."

"Sampah? Siapa bilang? Aku tidak mungkin menganggapmu seperti itu."

"Jadi, kita tetap berteman kan?"

Jaejoong ikut merangkul Changmin, "Tentu saja! Lagipula aku juga berterima kasih karena kau selalu berhasil membuatku bertahan."

Mereka tersenyum bersama.

"Baiklah. Sebaiknya kau kembali ke kamar dan temui Yunho besok. Aku juga harus tidur." Pria tinggi itu mengacak rambut Jaejoong dan segera bangkit.

Jaejoong yang setuju pun segera melangkah menuju pintu dan keluar.

"Hei, Jaejoongie... Kau tidak akan membuangku kan?"

"Aish... Kenapa berpikir seperti itu? Memangnya kau makanan kadaluarsa?"

Changmin tertawa mendengar jawaban itu namun tawanya terhenti saat melihat seseorang di depan pintu kamar Jaejoong.

Yunho.

Berdiri di depan pintu kamar Jaejoong dengan raut datar dan sulit terbaca. Tidak seperti Yunho yang ramah biasanya.

Jaejoong berbalik mengikuti arah tatapan Changmin dan terkejut.

Ia tak menyangka Yunho akan kembalo mencarinya selarut ini. Ia jadi merasa bersalah.

Ah, Jaejoong lupa kalau Yunho berbeda dengan pria biasa. Tentu saja lelaki ini tidak akan menyerah. Setelah semua kesalahan yang ia perbuat terhadap Yunho, Jaejoong jadi tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran pria itu saat ini.

"Yu-Yunho..."

"Annyeonghaseyo, Yunho-sshi."

Yunho pura-pura tak mendengar salam yang diberikan Changmin, dilayangkannya tatapan dingin pada Jaejoong sebelum mendekatinya.

"Bisa kita bertiga bicara sebentar di dalam?"

Jaejoong menatap Changmin sesaat dan sahabatnya itu mengiyakan karena pertimbangan kalau sampai terjadi keributan di lorong apartemen tentu akan jadi tidak enak. Mereka bertiga pun masuk ke kamar Changmin.

"Kenapa kau terus mengabaikan teleponku?" Tidak hanya rautnya, nada bicara Yunho pun begitu dingin dan sinis.

"Itu..."

"Tadi aku juga datang. Ku pikir kau tidak ada, tapi ternyata kau sedang bersama Changmin sampai dini hari begini?" Yunho berusaha menekan amarahnya.

"Yunho..."

"Kau tahu betapa cemasnya aku?"

Jaejoong berusaha menjelaskan tapi Yunho terus saja memotongnya. Nada bicara Yunho sungguh membuat hati Jaejoong dan Changmin tidak enak.

"Dengarkan aku—"

"Kau tahu apa yang ku dengar hari ini? Kalian bukan sekedar teman, kalian punya hubungan khusus dan sudah lama berkencan. Tentu saja aku tidak mempercayainya. Tapi melihay kalian masih bersama sampai dini hari begini, apakah mungkin bagiku untuk tidak marah?"

Yunho memandang keduanya bergantian. Satu kata saja keluar entah dari Jaejoong atau Changmin, pasti Yunho akan mengamuk. Pria itu sedang tidak bisa dibantah atau dilawan.

"Apa aku boleh tahu, apa yang kalian lakukan sampai dini hari seperti ini?"

Yunho bertanya dengan geram. Bukan. Itu bukan pertanyaan. Tapi perintah yang mutlak harus dijawab.

"Dan kalau kau tidak keberatan, boleh aku tahu siapa yang bilang padamu kalau aku dan Changmin punya hubungan lebih dari teman?"

Jaejoong balik bertanya tapi Yunho sepertinya tak berniat menjawab.

"Aku mencoba menghubungimu berkali-kali sampai aku datang kesini. Tapi kau pura-pura tak ada di kamar? Dan hebatnya, sampai dini hari seorang perempuan yang sudah punya pasangan berduaan dengan seorang pria di kamar? Sepertinya kau yang harus memberi penjelasan lebih dulu." ucap Yunho penuh penekanan. Ia kehilangan kesabaran.

Jaejoong tentu saja terkejut, ia berniat meminta maaf setelah menyadari kesalahannya. Tapi Alih-alih melakukan itu, Jaejoong justru merasa marah karena kecurigaan Yunho.

Tangannya terkepal begitu saja menahan perasaan marah.

"Aku akan menjelaskannya tapi kau harus diam dan dengarkan baik-baik. Jangan bicara sepatah kata pun."

Dibanding biasanya, ini pun pertama kalinya Jaejoong bicara dengan nada dingin.

"Sepertinya kau lebih percaya pada orang yang mengatakan bahwa kami bukan sekedar teman. Dan sepertinya aku tahu siapa orang itu. Ahra kan?"

Yunho diam mendengarkan sambil menatap lurus pada wanitanya itu.

"Hari ini Ahra mengatakan padaku kalau kalian berdua juga punya hubungan lebih. Dia bahkan bilang sudah pernah menginjak kamar hotelmu. Aku menahan diriku, aku tidak akan membiarkannya menghinaku. Aku juga! Aku juga bilang kalau orang yang kau cintai adalah aku, Kim Jaejoong. Kita saling mencintai. Dan karena emosiku tidak bisa ku tahan lagi, aku mengatakan padanya bahwa aku sudah pernah bercinta denganmu. Kalau bertanya kenapa aku melakukannya, Itu karena kau adalah milikku. Aku tidak akan membiarkanmu diambil oleh orang lain!" Jaejoong menjelaskan sambil menahan airmatanya.

"Kalian berdua tidur bersama?"

"Silakan lapor pada Rumah Beras kalau kau mau, Changmin-ah. Aku tidak peduli." Balas Jaejoong dingin.

"Kau—"

"Diam!" perintah Jaejoong pada diperintah hanya mampu terdiam akhirnya.

"Aku merasa tak perlu menutupi apa-apa dari Ahra. Tapi kau... sepertinya lebih percaya pada apa yang dikatakannya dan mencurigaiku? Apa kau sama sekali tidak mempercayaiku? Bahkan saat Ahra bilang dia pernah tidur denganmu, aku tidak akan percaya. Tapi ternyata kau lah yang tidak mempercayaiku."

"Aku hanya ingin tahu apa yang kalian lakukan sampai dini hari begini." bantah Yunho.

"Ahra juga bilang hal lain. Tentang skenarioku yang sebenarnya tidak menarik di mata juri lain, tapi dengan kedudukanmu, kau membuatnya menjadi pemenang. Dia menghinaku karena aku rela menjual tubuhku untuk membayar apa yang telah kau lakukan. Dia bilang aku menjual tubuhku! Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menamparnya. Kalau saja kau bukan Direktur Walden, kalau saja kau tidak muncul tiba-tiba tadi siang dan mengatakan kalau kau adalah Direktur disana... Ah, tidak. Kalau saja kau mengatakannya sejak awal, mungkin aku tidak akan sebingung ini."

Jaejoong mengeratkan kepalan tangannya.

"Rasanya sakit. Karena aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan ketika berhadapan denganmu, jadi aku lebih memilih untuk menghindar dan mencari waktu untuk berpikir. Aku tidak ingin marah-marah dengan alasan yang tidak jelas. Aku berniat meminta maaf padamu karena tahu bahwa aku salah. Aku meminta pendapat Changmin tentang masalahku karena dia satu-satunya yang bisa ku ajak bicara saat ini. Aku mengerti kalau aku salah dan aku berniat menemuimu besok untuk meminta maaf... Tapi kau... Justru lebih mempercayai Ahra dan mencurigaiku?"

"Aku—"

"Aku tidak ingin mendengarmu. Aku percaya padamu, Yunho. Tapi tidak sebaliknya. Jadi tidak ada yang perlu kita bicarakan." Jaejoong melangkah melewati Yunho untuk kembali ke kamarnya.

Pria yang berstatus sebagai kekasihnya itu sempat mengikuti dan menarik lengan Jaejoong, berusaha menahannya.

"Aku tidak ingin mendengar apapun. Silakan pergi. Mulai sekarang, aku tidak ingin membicarakan apa-apa lagi denganmu.

Pintu kamar Jaejoong pun tertutup.

"Jaejoongie! Jaejoongie!" Yunho bersikeras menekan bel dan memukul pintu kamar itu tapi Jaejoong kembali mengacuhkannya.

Ia terus mengetuk pintu itu sampai beberapa penghuni kamar lain keluar dan memprotes.

Merasa tak ada gunanya tetap berada disana, Yunho tak punya pilihan lain selain pergi.

Ia mengutuk dirinya sendiri yang telah berburuk sangka pada Jaejoong.

Tidak mendengarkan penjelasan wanitanya itu dan berakhir dengan kesalahpahaman.

Sungguh ia menyesal.

Namun saat Yunho melangkah hendak pergi, Changmin menahannya dengan sebuah panggilan.

"Yunho-sshi! Bisa bicara sebentar? Ada yang ingin ku sampaikan."

Yunho pun menatap bingung pada Changmin.

.

.

.

.

To be Continued

Bagian kedelapan!

Iya, chapter ini emang sengaja pendek. Hehe.

Maaf buat typo yang masih berkeliaran(?) :D

Cuma pengen ngebahas konfliknya aja.

Ohya buat yang nanya ChangKyu, MinSu, atau YooSu, maaf banget karena ff ini fokus ama YunJae aja.

Dan juga saya minta maaf karena kemarin banyak yang ketipu soal notif tentang chapter 9. Sebenernya itu bukan Chapter 9, tapi chapter 8 yang gak sengaja saya Upload dua kali gegara jaringan.

Btw, ini chapter 9 aslinya! Hehe..

Makasih banyak buat yang masih bersedia baca ampe chap ini. :D

See ya in the next chap!

..:*° ..:*° ..:*° ..:*

SPECIAL THANKS TO :

Han Yoora || yla || rinie moet || rinayunjaerina || leeyeol || Dewi15 || shipper89 || shallow lin || miu sara || BibiGembalaSapi || YunjaeDDiction || mrspark6002 || Natsume Yuka || she3nn0 || Ai Rin Lee || Risza || Jaeromone || 1234 || aismamangrona || meirah 1111 || nabratz || birin rin || my yunjaechun || meybi || azahra88 || Lia || mrs jang || Park FaRo || mimimi || ClouDyRyeoRez || ayp || Mily 1909 || fivah || Dhea Kim || KimRyeona19 || AyuClouds69 || irna lee 96 || Lilin Sarang Kyumin || deveena || Park July || gwansim84 || sasya || yoon HyunWoon || Jung Jaehyun || okoyunjae || bee || GaemCloudOkta || akiramia44 || Lollyglory || wieyunjae || JungKimCaca || Lawliet Jung || BenHan || ayudessy1222 || Cho ririn || Casshiper Jung || Cristiyunisca || sucirahmay || MeChwangie || Phoenix Emperor Nipple Jae || lipminnie || raraSparcloudy || sugar day || nimahnurun || Ega EXOkpopers || cooly224 || iche cassiopeiajaejong || puspita94 || anna yanna || JYuly || yuu || maya kyuminnie || JonginDO || Michelle Jung || Mami Fate Kamikaze || yunjaeyoomin || rikurijung || Nana || shanzec || ajid yunjae || Lee Muti || OishiPillows || ShinJiWoo 920202 || nur anna 98 || devita zala || Bear || Chanbaekyu || cha yeoja hongki || kaihun70 || MyBabyWonKyu || Dani Oktavian || yunbb || Adamas Azalea || Cassieswift || ulpaawilliam Kato || Chanidoojooncute || Zhie Hikaru || HunhanCherry1222 || Rly C Jaekyu || jung sister

.

.

.

Hugs and kisses for u all, guys! :*

Sign,

Cherry YunJae.