the Last 2%
a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae.
.
Jaejoong, Yunho, Changmin, Siwon, Junsu, Go Ahra, and others.
YUNJAE.
T-M Rated.
Drama/Romance.
WARNING! GENDERSWITCH! Typos everywhere! Out of Character!
.
DON'T LIKE, DON'T READ! Told ya before!
.
.
[ © Sebuah remake dari novel milik Kim Rang dengan judul yang sama(2006), cerita sepenuhnya milik Kim Rang hanya beberapa yang saya ubah termasuk casts dan latar untuk keperluan cerita. ]
.
.
.
.
Bagian Kesembilan.
.
.
.
Jaejoong menangis dalam frustasi dan kemarahannya.
Dengan penuh emosi dia menyalakan ponselnya. Ingin rasanya menghubungi Yunho dan menanyakan banyak hal.
'Kenapa Yunho lebih percaya Go Ahra? Kenapa Yunho mencurigaiku?'
Jaejoong ingin meneriaki pertanyaan itu. Dan setelahnya, mungkin ia akan merasa lebih lega.
Begitu ponselnya menyala, dia memperhatikan foto yang dijadikannya sebagai wallpaper. Foto dirinya bersama Yunho saat di tempat peristirahatan Haengdam-do waktu itu. Foto ketika Yunho mencium pipinya.
Melihat foto itu, perlahan kemarahannya mereda.
Yunho adalah pria yang mengantarkannya sampai Chungnam, karena tidak ingin Jaejoong pergi sendiri. Yunho juga tidak mengizinkannya naik bus, padahal pria itu sendiri tak hafal jalanan di Korea.
Ketika Jaejoong bilang ingin bermain, pria itu rela meluangkan waktunya untuk menemani. Ketika Jaejoong mengatakan kalau dia ingin jalan-jalan, Yunho datang dengan membawa makanan.
Jaejoong kembali mengingat-ingat satu persatu hal yang pernah di lakukan Yunho untuknya.
Lelaki itu datang dengan kakak iparnya saat Jaejoong mengatakan akan menemui pria lain. Yunho bahkan menurutinya untuk bermain ice skating meski puluhan pasang mata memperhatikan. Yunho adalah pria yang selalu ada untuknya.
'Kenapa aku sebodoh ini?'
Jaejoong menyesal. Bagaimana mungkin ia membiarkan masalah kecil menjadi besar. Setelah di pikir-pikir, semua terjadi karena Ahra.
Seandainya saja mereka tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan perempuan rubah itu, tidak akan ada emosi yang tersulut, dan semuanya pasti bisa diselesaikan dengan baik.
Jaejoong terlanjur melukai Yunho karena tak mau mendengar penjelasannya.
Ia menyesali segalanya kini.
Padahal, siapa lagi yang bisa mencintainya seperti Yunho? Siapa lagi yang bisa ia percaya selain Yunho?
"Sekarang apa yang harus ku lakukan?"
Jawabannya jelas, ia harus menyampaikan permintaan maaf pada kekasihnya itu. Bertengkar dengan Yunho pun tak menghasilkan apa-apa selain kesedihan, jadi ia tak berani membayangkan bagaimana kalau sampai ia benar-benar di tinggalkan oleh pria itu.
Jaejoong membuka ponselnya kembali setelah berpikir lama. Membuka foto-foto yang ada di memori ponselnya karena berniat mengirim satu foto mereka sambil meminta maaf.
Wanita itu sedikit bingung saat mendapati sebuah foto Yunho yang sepertinya diambil dari kejauhan. Gambarnya pun tidak terlalu bagus.
Dahi Jaejoong berkerut.
"Kapan aku mengambil foto ini?"
Ada dua foto dengan latar yang sama. Ia mencoba memperbesar gambar itu dan ternyata benar Yunho.
Lelaki itu tampak memakai mantel menutupi jasnya dan kacamata hitam.
Jaejoong melotot saat menyadari sesuatu.
"Ini!"
Ia ingat kalau foto itu adalah foto yang ia ambil di bandara saat akan menjemput Siwon. Jadi orang yang sempat ia pikir selebritis di bandara itu adalah Yunho.
Jaejoong tak percaya.
Apa boleh ia yakin kalau ini semacam takdir?
Jaejoong tak lagi bisa menahan diri untuk tidak menemui Yunho. Tak peduli pada matahari yang bahkan belum mengintip, Jaejoong berlari ke luar gedung apartemen dan segera memberhentikan sebuah taksi menuju hotel Arizona.
Di dalam kepalanya kini ada ribuan hal, tapi hanya satu yang terlihat jelas. Ia harus bertemu dengan Yunho secepatnya.
Hanya itu.
.
.
.
Sesampainya di Arizona, Jaejoong yang tak sabar menunggu lift datang akhirnya menggunakkan tangga darurat. Ia terus berlari tanpa sadar menuju lantai sepuluh. Tak peduli nafasnya yang nyaris habis, Jaejoong hanya ingin bertemu dengan Yunho secepatnya.
Hanya perlu beberapa ketukan ringan sampai pintu kamar itu terbuka.
"Jaejoong..."
"Yunho, maafkan aku." penampilan Jaejoong berantakan dengan nafas terengah, tapi ia tetap berusaha bicara.
Yunho pun segera memeluknya erat tanpa menunggu apa-apa lagi.
"Kenapa kau datang? Bahaya. Kenapa tidak menghubungiku? Aku pasti akan langsung datang."
Jaejoong pun membalas pelukan Yunho erat dan kembali meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi.
"Ini. Lihat ini."
Masih dalam pelukan Yunho, Jaejoong menunjukkan foto yang tadi ia temukan di ponselnya.
"Yunho, ini fotomu. Aku pasti menyakitimu saat aku marah-marah tadi. Waktu ponselku menyala, aku melihat foto ini, aku sadar kalau aku salah. Lalu aku berniat mengirim foto kita sebagai tanda permintaan maaf. Tapi, waktu aku mencari fotonya, aku menemukan foto ini. Aku mengambilnya saat menjemput Siwon di bandara secara tak sengaja karena ku pikir ada selebritis yang datang. Tapi ternyata... Itu kau?"
Jaejoong sendiri masih takjub sambil menunjukkan foto tadi. Yunho sedikit heran namun sekaligus tak percaya.
"Mungkin ini terdengar aneh, tapi sekarang aku semakin yakin kalau kau adalah orang yang ku tunggu-tunggu. Aku yakin kita memang di takdirkan untuk bersama." Yunho menghela nafas lega mendengar itu lalu kembali memeluk erat kekasihnya.
"Jadi kau baru sadar? Aku bahkan sudah tahu sejak pertama melihatmu. Aku yakin kau takdirku." bisik Yunho.
"Maafkan aku, aku terlambat menyadarinya."
"Aku yang minta maaf. Aku akan memperjelasnya untukmu sekarang."
"Aku yang minta maaf."
"Tidak. Aku yang minta maaf."
"Aku ya—"
Kata-kata Jaejoong tertahan karena Yunho segera memberinya sebuah ciuman.
Siapapun yang melihat mereka pasti akan langsung tahu seberapa kuat hasrat keduanya.
Sampai akhirnya, Yunho membawa tubuh Jaejoong masuk ke dalam kamarnya tanpa melepas ciuman mereka.
Blam!
Pintu pun tertutup rapat.
.
.
.
Kamar mereka hening dan damai, hanya ada suara deru nafas yang saling bersahutan kasar.
Yunho kembali membawa tubuhnya ke atas tubuh Jaejoong dan masih menciumnya.
Tapi kemudian Jaejoong menahan sedikit bahu pria diatasnya itu dan menatapnya penuh cinta.
"Maafkan aku karena sudah salah paham."
"Aku juga minta maaf karena mencugiraimu. Tapi aku sudah dengar penjelasan Changmin-sshi, aku menyesal sudah salah paham."
"Changmin? Dia bilang apa?"
"Hmm... Rahasia."
Mata Jaejoong menyipit.
"Sepertinya aku tahu rahasia itu. Changmin jarang bicara banyak pada orang lain, tapi kalau sampai dia bicara tentang rahasianya padamu, berarti kau bukan lagi 'orang lain' baginya."
"Ya... Kurasa aku juga akan cepat akrab dengannya."
"Terdengar bagus, tapi jangan akrab dengan berlebihan."
Yunho tertawa.
"Aku akan menceritakan apa yang dikatakan oleh Penulis Go. Aku sama sekali tidak membaca skenariomu itu sebelum masuk ke babak final. Waktu aku tahu skenariomu benar-benar lolos dari semua babak penyisihan, aku baru membacanya. Dan aku tidak memberimu nilai sempurna. Aku memberimu nilai delapan puluh lima. Tidak benar kalau semua juri memberimu nilai rendah dan hanya aku yang memberi nilai sempurna. Semuanya perlu perhitungan, tapi sayangnya dia tidak berpikir seperti itu. Menurutku, tidakanmu menamparnya itu bagus. Apalagi karena dia bilang kau menjual tubuhmu. Aku tidak suka itu."
Yunho memang bicara dengan nada merendahkan, tapi dia berusaha untuk tidak menjadi kambing hitam dengan berkata bahwa Ahra-lah juri yang memberinya nilai paling rendah. Lagipula, tujuannya membicarakan ini untuk memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi dengan Jaejoong, bukan untuk membuat keduanya—Ahra dan Jaejoong makin membenci.
"Lalu, alasan kenapa aku tidak memberitahu bahwa aku adalah bagian dari Walden sejak awal adalah demi kepentingan kita bersama. Waktu pertama kali makan bersama, kau menceritakan kalau kau akan ambil bagian di kompetisi itu. Jadi aku pikir lebih baik aku tidak membahasnya. Kupikir kalau kau tahu saat itu kau akan terbebani. Tapi karena menutupinya pun justru aku yang terbebani sendiri."
"Aku mengerti."
"Sebelum kau bercerita tentang Penulis Go, aku sudah mengenalnya. Jadi, waktu kau cerita tentang hubungan kalian, aku terkejut. Hal itu membuatku makin tak ingin mengungkapkan bahwa aku adalah orang dari Walden. Karena aku ingin menjaga sikap agar aku bisa terus netral."
"Aku paham."
"Kita baik-baik saja kan? Aku sudah memastikannya untukmu. Kau sudah lega?"
"Sudah... Dan aku akan terus mempercayaimu." Jawab Jaejoong manis, membuat Yunho tak tahan ingin mencium dahi wanitanya itu.
"Waktu aku tidak bisa menghubungimu, lalu waktu aku datang ke kamarmu tapi tidak ada respon, apa kau tahu betapa khawatirnya aku?"
"Aku juga. Aku juga sangat frustasi."
"Seharusnya kau mengatakannya padaku."
Yunho menghujani bibir manis Jaejoong dengan kecupan-kecupan ringan nan lembut.
"Aku tahu. Aku menyesal. Tidak hanya padamu, tapi juga pada Changmin yang ikut terseret."
"Padahal kalau kau tahu aku menyusun rencana perayaan kemenanganmu, kau pasti tidak akan mengabaikanku."
"Memangnya kau menyusun rencana apa?"
"Makan malam bersama, lalu menjelaskan kesalahpahaman, dan bercinta. Aku masih punya satu hal penting lagi sebenarnya."
"Huh? Memang bagimu apa lagi yang lebih penting dari bercinta?"
"Tidak sekarang. Aku akan katakan nanti."
"Aigoo... Katakan. Katakan padaku... Kumohon..."
"Hmmm... Baiklah, setelah kita 'bermain' satu kali lagi."
Yunho baru saja akan menyambar bibir Jaejoong lagi saat ponselnya berbunyi. Jaejoong jadi ikut bertanya-tanya, siapa gerangan yang menelpon sepagi ini.
Apalagi mengganggu saat-saat berharga mereka.
Yunho pun akhirnya mengangkat tubuh dan menerima panggilan itu.
Dari Ilwoo.
"Yeobseyo?"
[Yunho-yah... Ini aku.]
"Ya, hyung?"
[Ada masalah.]
"Masalah? Ada apa?"
[Banyak komentar yang masuk ke situs resmi kita. Mereka memprotes dan mengatakan kalau Samak adalah hasil jiplakan. Situs resmi kita jadi tidak bisa diakses karena hang. Kau bisa ke kantor sekarang? Aku butub bantuanmu.]
"Baik, hyung."
Dengan raut bingung, Yunho menutup telepon dan menatap Jaejoong.
"Maaf. Aku harus ke kantor sekarang juga."
"Sekarang? Ada apa?"
"Aku akan lebih paham situasinya kalau sudah mendengar langsung. Maaf."
"Tidak apa. Cepatlah pergi, aku juga harus pulang."
"Jangan! Jangan pulang! Tunggu aku disini, oke?"
"Jangan? Oh... Baiklah, aku akan menunggumu disini."
"Ya, tunggu aku. Dan ingat, jangan coba-coba memakai bajumu sampai aku kembali."
"Aish... Kau kembali jam berapa? Aku tidak mau menunggu lama tanpa memakai baju." Jaejoong setengah berteriak pada Yunho yang ada di kamar mandi untuk membasuh wajah.
"Aku tidak akan lama." sahut lelaki itu yang keluar dan segera menyambar satu stel jasnya.
Jaejoong turun dari ranjang sambil menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut.
"Baiklah. Jangan membuatku menunggu lama. Karena aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan." Ia membelai lembut dada sampai bahu Yunho dengan tatapan menggoda.
"Jaejoongie... Tolong jangan lakukan ini." desah Yunho frustasi.
"Baiklah. Cepat berangkat." Jaejoong menyudahi keisengannya dan mengecup bibir Yunho sebelum lelaki itu selesai berpakaian dan keluar dari kamar.
.
.
.
Masalahnya ternyata kompleks.
Sesudah konferensi pers Samak digelar, media yang meliput dan mengunggah berita tentang film produksi Walden itu. Sejak saat itu, banyak komentar yang masuk dan menyebutkan kalau film itu hasil plagiat dan akhirnya banyak yang memprotes karya itu.
Karya asal yang dijiplak mencapai empat karya. Karya-karya itu diunggah ke dunia maya oleh empat penulis tanpa nama dan Samak dibuat dengan menggabung-gabungkan semua karya itu.
Belum dipahami bagaimana skenario Samak bisa menyebar, tapi skenario itu semakin menjadi bahan perdebatan ketika ada yang membuat perbandingan antara Samak dan keempat karya itu.
Waktu Yunho tiba di Walden, situasi belum berubah. Situs mereka masih belum bisa diakses dengan baik, tapi banyak orang masih tetap melayangkan protes mereka lewat dunia maya dan juga telepon.
Segera para staf Walden Korea mencoba membandingkan dan menemukan perbedaan, tapi sepertinya tuduhan plagiarisme tidak terelakkan.
Dalam naskah yang dimiliki penulis A, hanya diotak-atik sedikit. Lalu sebuah adegan diambil dari karya B. Perubahan hanya dilakukan pada baju yang digunakan oleh karakter dalam cerita itu. Tidak salah lagi, Samak adalah skenario yang dibuat dengan menggabungkan beberapa bagian kecil dari empat karya itu.
Masalah ini tidak bisa dianggap enteng, karena Samak adalah karya besar yang akan mereka rilis diantara karya lain di Walden. Dan saat ini, karya tersebut sedang diperdebatkan apakah benar atau tidak merupakan hasil plagiarisme. Tentu saja ini tidak bisa ditoleransi. Sebenarnya karya itu akan dijadikan langkah besar, tapi dengan adanya isu plagiarisme ini, ada kemungkinan efeknya akan buruk.
Kesamaan yang ditemukan cukup banyak. Hal ini membuat semakin banyak protes yang diterima dan suasana Walden Korea menjadi tidak enak. Tidak hanya suasana Walden Korea saja, raut wajah Ilwoo pun berubah, ia tampak sangat kesal.
"Apa yang sebaiknya kita lakukan?"
"Pertama-tama, sebaiknya kita mendengar masukan legal dari konsultan kita, kemungkinan apa saja yang bisa muncul karena masalah ini. Lalu, sehubungan dengan isu plagiarisme, kami akan mengajak para penulis asli karya itu untuk bertemu dan semuanya akan kami lakukan secara transparan."
"Baiklah."
"Aku tidak pernah menyangka masalah seperti ini akan muncul."
"Apa komentar Penulis Go?"
"Tentu saja dia membantah."
"Apa dia sudah tiba?"
"Dia sedang dalam perjalanan. Bagaimana menurutmu?"
"Kalau memperhatikan dan membaca isi forum, sepertinya semakin banyak orang yang membuat perbandingan. Tuduhan plagiarisme ini semakin tidak terhindarkan."
"Aku juga berpikir begitu. Dalam situasi seperti ini, penulis yang bersangkutan harus menulis surat permintaan maaf atau kita harus mulai dari awal lagi. Sepertinya kita tidak punya cara lain."
Ilwoo menyampaikannya dengan raut wajah serius dan berhati-hati.
"Penulis asli bisa saja menolak kontrak yang kita ajukan. Tentu saja kita harus melakukan revisi dan melakukan koordinasi lebih lanjut. Tapi dalam situasi yang seperti ini, kita harus mengganti penulis dan mulai dari awal lagi. Kalau tetap menggunakan penulis yang sama, kita harus memberi pengawasan yang lebih ketat."
"Tentu saja."
Ilwoo mengangguk setuju. Di saat yang sama, sekretarisnya masuk.
"Tim produksi dan Penulis Go sudah datang, sajangnim."
"Biarkan mereka masuk."
Sekretaris Ilwoo membuka pintu. Tim produksi dan Ahra melangkah masuk. Ahra terlihat cemas. Ahra tak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi dan membuatnya dihubungi dini hari. Apalagi beberapa jam sebelumnya konferensi pers baru digelar.
Kali ini Ahra menghindari tatapan Ilwoo dan Yunho. Ia tak berani membalas tatapan mereka.
"Apakah anda sudah sempat melihat komentar-komentar yang masuk ke situs kita?"
Ahra berusaha menyembunyikan rasa malunya dan menatap Ilwoo.
"Sudah, tapi saya tidak pernah menjiplak."
Ahra sampai memohon agar mereka mempercayainya, tapi dalam situasi ini, sangat sulit mempercayai wanita itu.
"Tentu saja selalu ada kemungkinan cukup besar bahwa pemikiran kita hampir sama atau bahkan benar-benar sama dengn pemikiran orang lain. Tapi rasanya, situasi ini terlalu menyimpang."
Ilwoo lantas menyodorkan kertas berisi komentar-komentar yang mereka terima.
"Silakan anda baca."
Selain memuat komentar-komentar yang mereka terima lewat situs Walden, kertas itu juga memuat perbandingan karya asli dan skenario milik Ahra.
"Silakan anda membaca dengan seksama."
Yunho mengatakan dengan nada tegas dan memaksa. Ahra yang tidak berani membaca isi kertas yang disodorkan Ilwoo menatap Yunho dengan penuh penyesalan, lalu mengalihkan pandangannya ke kertas itu.
Setiap Ahra membalik halaman baru, wajahnya semakin terlihat serius. Setelah ia selesai membaca halaman terakhir dan meletakkannya, semua orang yang ada di ruangan Ilwoo memperhatikannya.
"Bagaimana?"
"Saya tidak bisa mempercayainya. Memang terlihat mirip, tapi saya tidak pernah... saya tidak pernah memplagiat karya orang-orang ini. Maksud saya, ini semua hanya kebetulan saja."
Ahra melemparkan protes, tapi kata-katanya sama sekali tidak meyakinkan.
"Terlalu banyak bagian yang sama, untuk sekedar dibilang kebetulan."
"Anda tidak mempercayai saya?"
Jawab Ahra pada Ilwoo dengan sebuah pertanyaan.
"Sulit rasanya mempercayai anda untuk sekarang ini."
"Sajangnim!"
"Sebaiknya, Penulis Go segera meminta maaf pada semua penulis itu." Perkataan Yunho membuat Ahra semakin tegang.
"Meminta maaf? Memangnya saya salah apa sampai harus meminta maaf? Meminta maaf artinya saya mengakui kalau saya menjiplak. Direktur Jung Yunho, saya tidak pernah menjiplak. Memangnya saya kurang percaya diri sampai harus menjiplak karya penulis kelas tiga yang tidak ternama seperti mereka?"
"Saya juga mempertanyakan hal yang sama. Saya ingin tahu apa yang membuat anda tidak percaya diri sampai-sampai harus menjiplak karya mereka."
"Direktur Jung Yunho, tolong jangan hina saya." Ahra terlihat tak mampu lagi menahan emosinya.
"Mereka bukan penulis kelas tiga yang tidak ternama, karena mereka sudah jelas punya banyak pembaca terutama yang senang membaca novel. Jumlah pembaca mereka paling sedikit adalah lima puluh ribu orang, bahkan bisa mencapai dua ratus ribu orang. Sudah jelas mereka penulis ternama. Penulis kelas satu."
Ketua tim produkai yang duduk di samping Ahra juga mengutarakan kekecewaanya karena tak menyangka Ahra akan melakukan hal serendah ini.
Melihat Ahra yang seperti menggigil cemas, semua orang di ruangan menatapnya dengan cara yang tak menyenangkan.
"Nanti kami akan mengadakan rapat dengan penulis-penulis asli karya tersebut. Bagaimana kalau anda juga hadir?"
"Saya tidak mau." Ahra menolah Ilwoo dengan kasar.
"Tadinya saya pikir tidak ada salahnya kalau Penulis Go bertemu dengan mereka untuk mengklarifikasi atau mencari solusi bersama-sama. Tapi kalau anda menolak hadir, saya tidak bisa memaksa. Berarti anda mengakui kalau anda telah melakukan penjiplakan. Tolong beritahu saya kalau anda sudah selesai menulis surat permintaan maaf anda."
"Anda meminta saya menulis surat permintaan maaf?" Ahra tercekat dan menatap tidak percaya pada Ilwoo.
"Saya tidak mau menulis surat permintaan maaf itu. Untuk apa? Saya sudah sampaikan tadi kalau saya tidak menjiplak. Saya tidak akan mengakui. Saya tidak bisa mengakuinya."
Ilwoo memandang Yunho lewat ekor matanya, bertanya apa sebaiknua yang harus ia lakukan saat ini. Sebuah masalah muncul, dan ada pihak yang tidak mau mengakui kesalahannya. Dalam situasi seperti ini, ketika Go Ahra tetap pada pendiriannya dan tidak mau mengakui kesalahannya, hanya ada satu cara yang bisa mereka lakukan.
"Penulis Go?" panggil Yunho sambil menatap dingin pada Ahra.
"Apakah anda tidak mau mengklarifikasi kesalahan anda?"
"Apa? Saya tidak pernah menjiplak. Samak adalah hasil karya saya sendiri."
"Kalau begitu, saya akan meminta urusan ini ditangani secara hukum. Kalau terbukti anda melakukan penjiplakan, anda harus memenuhi kewajban anda pada Walden Korea, sesuai dengan yang tertera di surat kontrak yang kita tandatangani bersama. Ada lagi, sebelum prosedur hukum dimulai, sekalipun nantinya anda mengatakan yang sebenarnya, anda tetap harus membayarkan kompenasasi kepada kami atas kerugian yang anda sebabkan. Sekian. Terima kasih."
Ahra seperti tersambar petir, wajahnya berubah semakin pucat.
Sementara Ilwoo bangkit dari duduknya. Artinya sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Setelah Ilwoo kembali ke mejanya, Yunho dan ketua tim produksi juga berdiri.
Yunho baru akan keluar dari ruangan itu ketika Ahra berkata lirih.
"Saya akan menulis surat permintaan maaf itu."
.
.
.
Ketika bel kamar berbunyi, Jaejoong berlari ke arah pintu dan melepas tali ikatan bathrobe-nya karena ia pikir Yunho-lah yang datang.
Jaejoong yakin Yunho akan terkejut melihat dirinya. Tapi setelah membuka pintu, Jaejoong langsung menalikan kembali bathrobe-nya. Aigoo! Yang datang bukan Yunho, tapi perempuan!
Perempuan yang terlihat begitu elegan dengan harum parfum mahal yang menguar kemana-mana. Rambut cokelat panjangnya dibiarkan melewati bahu dengan begitu anggun. Inilah pertama kalinya Jaejoong tak sengaja menunjukan tubuhnya pada seorang perempuan.
"Omo!"
Jaejoong dan perempuan itu sama-sama terkejut. Jaejoong langsung membalikan badan dan merapikan gaun mandinya.
'Ah! Memalukan sekali!'
Dengan wajah memerah, Jaejoong kembali membalik badan dan menatap perempuan itu. Ia sedikit memiringkan kepalanya.
'Siapa perempuan ini?'
"Maaf, anda siapa?"
"Oh, saya baru tiba dari China, dan saya mencari Jung Yunho-sshi. Dia ada di dalam?"
Jaejoong memandang Luhan dari ujung kepala sampai ujung kaki.
'Siapa sebenarnya perempuan ini?'
Mereka saling bertatapan. Cara mereka menatap sama sekali bukan karena saling bermusuhan. Tapi juga bukan tatapan bersahabat. Masing-masing dari mereka punya satu pikiran yang sama: Perempuan di hadapannya sangat cantik.
"Jadi, Yunho-sshi belum kembali rupanya."
Walaupun mengetahui bahwa Yunho tak ada di kamar, sepertinya Luhan tak ingin pergi Ia membuat Jaejoong harus mengulang perkataannya.
"Kira-kira jam berapa dia akan kembali?"
"Sepertinya tak lama lagi, tapi kalau boleh saya tahu, anda siapa?"
"Saya seseorang yang dikenal baik oleh Yunho-sshi. Anda..."
"Saya juga orang yang dikenal baik olehnya."
Cara Jaejoong menjawab pertanyaan dengan nada datar membuat Luhan tersenyum.
"Baiklah. Tolong sampaikan pada Yunho-sshi kalau Luhan datang mencarinya."
Jaejoong pun memandang Luhan yang akhirnya pergi.
Setelah menutup pintu, ia masih tak berhenti bertanya-tanya. Bagaimana Yunho bisa mengenal wanita cantik nan elegan itu. Tapi hal itu menjadi hal kedua yang dipikirkannya, karena ia masih malu dengan apa yang ia lakukan saat membuka pintu tadi.
Bel kembali berbunyi.
Lagi-lagi Jaejoong mengira kalau Yunho lah yang datang. Tapi nyatanya ia kembali menemukan seorang wanita asing berdiri di depan begitu membuka pintu.
Lagi, wanita yang terlihat anggun, namun bersemangat dan begitu cantik.
'Siapa lagi ini?'
"Maaf, anda siapa?"
"Saya mencari Jung Yunho." Kata Heechul sambil terus menyunggingkan senyum manis.
"Dia sedang tidak ada. Belum kembali."
Jaejoong memberi tatapan yang sama seperti tatapannya pada Luhan tadi.
"Oh, kalau begitu, tolong sampaikan kalau aku datang dari Jepang untuk mencarinya. Namaku Heechul."
Heechul terlihat begitu bersahabat pada Jaejoong dan memberinya senyuman terbaik sebelum kemudian pergi.
Jaejoong mulai curiga.
'Tadi Luhan dari China, lalu sekarang Heechul dari Jepang, ada apa ini? Dia punya pacar di seluruh dunia?'
Jaejoong mulai berprasangka buruk pada Yunho dan mengira kalau Luhan dan Heechul adalah pacar gelapnya.
'Bagaimana mungkin?!'
Jaejoong mulai tidak bisa menahan emosinya ketika bel kembali berbunyi.
Kali ini Jaejoong mengintip sebelum membuka pintu. Perempuan lagi!
Jaejoong pun memikirkan cara supaya bisa mengusir perempuan ketiga ini. Ia menemukan sebuah botol wiski dan cara ini seharusnya berhasil.
Jaejoong pun membuka berpura-pura tak tahu siapa yang datang.
"Kau darimana saja?"
"Omo!"
Benar saja. Perempuan itu langsung pergi karena melihat Jaejoong.
Melihat perempuan ketiga itu pergi, Jaejoong membanting pintu.
'Aaargh! Aku bisa gila!'
Ia tak pernah menyangka kalau Yunho adalah pria semacam itu. Bukan hanya menduakan, ini tiga! Ah, bahkan empat! Pria itu memiliki kekasih dimana-mana.
Awas saja kalau dia kembali nanti.
Baru saja Jaejoong menenggak wiski-nya saat bel kembali berbunyi.
"Siapa?!"
"Ini aku, Jaejoongie..."
Ternyata Yunho.
'Oke! Aku ingin mendengar penjelasannya!'
Seperti tadi, Jaejoong membuka pintu sambil membawa botol wiski. Senyum lebar Yunho menghilang saat melihat Jaejoong.
"Jaejoongie, kau kenapa?"
"Jelaskan sekarang! Aku sedang marah padamu!"
"Ada apa?"
"Sebelum kau datang, ada tiga perempuan yang datang mencarimu. Luhan dari China, Heechul dari Jepang, dan ada satu lagi yang lari karena aku membuka pintu sambil membawa botol ini."
"Tunggu... Tunggu! Siapa? Luhan? Heechul? Kau serius? Ya Tuhan!" Yunho menepuk dahi sambil menggelengkan kepalanya.
"Cepat katakan padaku siapa mereka!"
Jaejoong berteriak sementara Yunho tertawa sambil mengambil botol itu dari tangan Jaejoong dan meletakkannya di meja.
"Iish! Aku bertanya, siapa mereka?!"
"Kapan mereka datang? Sudah lama?"
"Tidak, baru saja. Belum ada lima menit."
"Astaga, mereka benar-benar."
Yunho tersenyum dan tiba-tiba mengalihkan tatapannya pada pintu.
"Yunho! Lihat akuu... Jawab dulu, siapa mereka?"
"Sebentar. Aku akan memperkenalkan mereka. Ssst!" Yunho meletakkan telunjuknya di depan bibir dan mengendap menuju pintu.
Saat Yunho membuka pintu dengan tiba-tiba, ketiga wanita yang tadi mendatangi Jaejoong berdiri dengan posisi yang cukup aneh disana.
Mereka seperti sedang mencuri dengar.
Jaejoong melotot dan semakin bingung.
"Omo!"
"Omo... Kau mengagetkanku!"
Yunho tersenyum.
"Annyeonghaseyo, hyongsunim."
Ketiga wanita itu tersenyum malu dan menatap pada Yunho dan Jaejoong bergantian.
"Kakak ipar tertua datang juga rupanya."
Wajah Jaejoong memucat saat Yunho memanggil wanita yang bernama Heechul tadi sebagai kakak ipar tertua. 'Ya Tuhan!'
"Maafkan kami, Yunho-yah. Kami ke sini karena kami dengar kau sudah punya kekasih, dan kami ingin bekenalan."
Sooyoung, sang kakak ipar tertua meminta maaf.
"Bahkan Hyongsunim juga sampai datang?" tanya Yunho.
"Minggu depan aku ada acara di sini. Dan, aku mendengar dari Ilwoo ajubeonim—ipar laki-laki bahwa kau sudah punya kekasih, jadi Sooyoung unnie mengajakku kesini." Luhan tak mau mengaku dan malah menuduh Sooyoung.
"Bukan aku, tapi Dongseo—ipar perempuan yang menyuruhku ikut." bela Sooyoung.
"Iya tapi itu kan karena unnie bilang kalau unnie penasaran."
"Luhan yang meminta, dia meminta kami menilai kekasihmu."
"Unnie..."
"Aku sih hanya ikut saja." Potong Heechul yang cari aman.
Yunho hanya tersenyum melihat keributan ini.
"Bagaimana kalian bisa tahu kalau Jaejoong sedang ada disini?"
"Tentu saja aku bertanya pada Ilwoo. Bisa saja kekasihmu sedang menunggu dengan cemas di hotel, dan sepertinya memang benar."
Yunho langsung menoleh dan merengkuh pinggang Jaejoong. Membawa kekasihnya itu merapat padanya.
"Jaejoongie... Dua orang ini, Choi Sooyoung dan Kim Heechul adalah kakak iparku. Dan yang ini adalah Luhan, adik iparku. Kau ingat dia? Yang membuatmu kesal karena begitu cantik, kejadian waktu di restoran itu." tunjuk Yunho pada Sooyoung.
Ah, Jaejoong ingat.
Benar, wanita cantik ini yang dibawa Yunho saat ia sendiri bertemu dengan Seunghyun.
Karena tadi emosinya sedang tersulut, ia tak sempat memperhatikan Sooyoung. Tapi setelah diperhatikan, Jaejoong baru sadar.
"Annyeonghaseyo... Saya Kim Jaejoong. Saya benar-benar minta maaf, karena saya pikir Yunho punya kekasih gelap."
Jaejoong benar-benar merasa malu, terutama pada Luhan, bukan... Tapi pada Sooyoung, ah semuanya.
Ketiga wanita, istri pada pemimpin Walden itu tertawa dan menyalami Jaejoong.
"Senang bertemu denganmu. Maafkan keisengan kami tadi. Tapi kau lucu sekali tadi."
Wajah Jaejoong bersemu merah lagi karena kata-kata Heechul.
"Ku pikir tadi kau bahkan hendak membunuhku." Sooyoung melirik botol wiski yang ada di atas meja.
"Maaf... Saya benar-benar minta maaf."
Mereka pun tertawa.
"Ku dengar, kau pemenang kompetisi menulis skenario itu. Selamat ya..."
"Terima kasih."
"Ehem... Ladies." Yunho memeluk Jaejoong karena tak menemukan cara lain untuk memisahkan kekasihnya dari para wanita Walden itu.
"Aku akan mendengar pendapat kalian tentang Jaejoong lain kali. Seperti yang Ilwoo hyung katakan, Jaejoong sudah lama menungguku dan dia sudah kedinginan."
"Aku tahu... Atau jangan-jangan kau yang kepanasan." Sindir Heechul.
Dan melihat Jaejoong yang malu-malu, ketiga wanita itu jadi gemas.
"Aku menyiapkan sesuatu untuk kalian."
Luhan menarik tangan Jaejoong dan memberi sebuah paperbag.
"Ini apa?"
Ketiga wanita itu tersenyum lalu Luhan mendekati Jaejoong dan berbisik.
"Ini akan sangat berguna untukmu, unnie. Kami pergi dulu. Selamat menikmati hari yang indah."
Tak lama, mereka pun berpamitan dan pergi dari kamar Yunho.
"Akhirnya... Hanya tinggal kita berdua." Yunho yang memang sudah kepanasan sejak tadi segera menarik Jaejoong ke dalam pelukannya dan menghujaninya ciuman-ciuman lembut.
"Maaf membuatmu menunggu lama."
"Sudah. Jangan ingatkan aku soal menunggu tadi itu. Rasanya malu sekali."
"Memangnya kenapa?"
"Tadi waktu bel berbunyi, ku pikir itu adalah kau. Jadi aku membuka tali gaun mandiku dan membuka pintu. Setelah sadar itu bukan kau, tentu saja aku buru-buru menalikannya kembali."
Yunho pun tertawa terbahak-bahak.
"Yah.. Setidaknya itu lebih baik, dibanding staf hotel yang datang." Jawab Yunho.
"Tetap saja rasanya malu setengah mati. Lalu, kalau boleh tahu, apa yang terjadi di kantor?"
"Kita bicarakan nanti saja ya? Aku sedang tidak ingin membicarakan tentang pekerjaanku."
"Baiklah. Oh ya Yunho, apa kakak dan adik iparmu sudah dari dulu begitu? Maksudku... eksentrik seperti itu?"
Yunho lagi-lagi tertawa.
"Semua wanita Walden begitu. Tapi menurutku, kau yang terbaik diantara mereka."
"Maksudmu?"
"Ah, kita bicarakan itu juga nanti. Omong-omong, paperbag itu... isinya apa?"
"Itu dia... Aku juga penasaran."
"Jangan-jangan adik iparku memberi bom. Soalnya dia agak aneh."
Jaejoong mengintip isi paperbag itu sekilas dan...
"Isinya bukan bom."
"Lalu?"
Jaejoong bingung bagaimana mengatakannya.
Tapi kemudian ia membukanya perlahan.
Yunho terbelalak melihat paperbag lain di dalamnya yang bertuliskan 'Victoria's Secret' dan satu kotak kondom.
Yunho mendesah frustasi.
"Mereka bersekongkol rupanya. Tapi... tidak buruk juga. Aku harus ke kamar mandi, dan sebelum aku keluar, kau harus sudah memakainya."
Jaejoong melotot.
"Kau serius?"
Tak ada jawaban. Hanya suara pintu kamar mandi yang tertutup.
.
.
.
Dan sampai matahari meninggi, tak ada aktifitas lain yang mereka lakukan selain bergumul di atas ranjang.
Dengan peluh dan deru nafas bersahutan.
Yunho mendekap Jaejoong dan menyelimuti tubuh telanjangnya. Tak terasa sudah nyaris tiga jam mereka tak beranjak dari ranjang.
"Yunho..." Panggil Jaejoong lembut.
"Apa?"
"Kau suka?"
"Apanya? Lingerie-nya atau dirimu?"
"Dua-duanya."
"Suka. Rasanya sangat enak."
"Seperti apa? Madu?"
Yunho pun tertawa mendengar pertanyaan-pertanyaan Jaejoong. Ia mengusap pipi Jaejoong dengan jari-jarinya. Juga menautkan jari-jari tangan kiri mereka sambil berdekapan.
"Jaejoongie... Kau tahu apa itu dua persen terakhir untuk merubah cinta menjadi sempurna?"
"Eh? Apa? Dua persen? Kecil sekali."
"Ya, dua persen yang kelihatannya sepele. Tapi hal itu bisa membawa kita pada kebahagiaan seutuhnya dan bisa berubah menjadi sesuatu yang sangat bermakna."
"Apa itu?"
Yunho sempat mengangkat tubuhnya dan mengambil sesuatu dari bawah bantal.
Jaejoong bingung awalnya, tapi kemudian matanya melebar saat Yunho menunjukan sebuah cincin dari kotak yang ia ambil di bawah bantalnya.
"Pernikahan. Hari ini, besok, dan selamanya... menyambut pagi dengan orang yang kita cintai."
Sementara memperhatikan raut terkejut Jaejoong, Yunho bicara nyaris seperti bisikan.
"Maukah kau menikah denganku, Kim Jaejoong? Maukah kau menyambut pagi bersamaku, selamanya?"
Mata Jaejoong berkaca-kaca. Ia menutup mulutnya sendiri lalu segera memeluk Yunho erat.
"Tentu saja. Tentu saja aku mau."
Jaejoong mengulang jawabannya agar Yunho tahu betapa bahagianya ia saat ini.
Yunho pun tak mampu menyembunyikan senyum bahagianya.
"Terima kasih, sayang."
Pria itu melonggarkan pelukan Jaejoong dan mengecup bibir ceri kesukaannya lalu memasangkan cincin itu di jari manis Jaejoong.
Akhirnya, cincin berlian itu menemukan pemiliknya. Ia bersinar cantik di jemari Jaejoong.
"Aku mencintaimu, Kim Jaejoong..."
"Aku juga mencintaimu, Jung Yunho-ku."
Mereka kembali larut dalam sebuah ciuman manis sarat dengan cinta dan perasaan bahagia yang tak tertandingi.
Rasanya Jaejoong begitu berdebar, tak sanggup mengungkapkan betapa senangnya ia hari ini.
.
.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Kim Appa.
[Appa, aku ingin memperkenalkan seorang laki-laki pada kalian. Aku akan datang besok.]
.
.
.
.
to be Continued.
.
Bagian kesembilan!
Yeay! Chapter depan, chapter terakhir! Dan ada tambahan satu epilog.
Akhirnya saya bisa juga sampai sini. Hehe.. Ini update-an kilat buat kalian, readers setia yang masih mau nunggu fanfic ini.
Maaf kalo lagi-lagi masih ada typo.
Makasih banyak buat semangatnya, jadi saya berhasil sampe ke bagian ini! hehe..
Tunggu lanjutannya minggu depan ya...
Oke, see ya in the next chap! :))
.
.
.
Hugs and kisses for u all, guys. :*
Sign,
Cherry YunJae.
