REUNION
(EVERLASTING LOVE)
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance, Family, Friendship
WARNING!
BOYS LOVE
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
Whenever love went wrong, ours would still be strong because we'd have our own EVERLASTING LOVE
.
.
Menempuh perjalanan selama hampir sebelas jam tidaklah mudah bagi anak-anak seusia Jeno dan Haru, terlebih ketika musim dingin seperti ini. Begitu sampai di Seoul, mereka berdua terus merengek karena lelah dan lapar. Bukan hanya anak-anak saja yang merasa lelah, Donghae pun sama. Apa lagi, dia harus menjaga dua anak dan membawa barang-barang mereka yang tidak sedikit sendirian. Melihat Haru yang hampir menangis, Donghae pun sama frustasinya dan ingin menangis. Perjalanan dari London ke Seoul benar-benar membuatnya lelah dan frustasi.
Saat Haru mulai tenang dan tidur di pangkuan Donghae, kini giliran Jeno yang merengek dan rewel. Biasanya, Jeno tidak banyak bicara dan tidak pernah rewel tapi hari ini dia jadi ikut-ikutan seperti adiknya. Sudah hampir limabelas menit Donghae menunggu di bandara tapi kakaknya belum juga datang menjemput. Jika dalam tigapuluh menit Donghwa tidak juga datang, maka Donghae akan benar-benar menjadi gila!
"Sebentar lagi paman datang, berhenti merengek. Kau mau apa?"
"Aku lapar, dad."
Donghae melirik jam tangannya sekilas, ternyata memang sudah waktunya si kembar untuk makan. Pantas saja mereka berdua rewel dan terus menangis.
"Tunggu sebentar lagi sampai paman datang, Okay? Kau mau makan apa?"
"Hm, cake! Strawberry cake yang besar! Dad bilang, dad punya sahabat di Seoul yang membuka café kue. Aku mau kesana sekarang!"
Donghae termenung mendengar ucapan anak sulungnya. Setahun yang lalu Donghae pernah menceritakan soal Hyukjae pada Jeno, tidak di sangka Jeno masih mengingat ceritanya soal Hyukjae yang punya café dan menjual berbagai kue yang enak. Tapi masalahnya sekarang, Donghae tidak tahu apakah Hyukjae masih membuka cafénya atau tidak. Mungkin saja kan, setelah Hyukjae menikah dia menutup usahanya dan fokus bekerja di tempat lain, berbahagia dengan keluarga kecilnya. Donghae mendesah palan, ia benar-benar tidak menginginkan hal itu terjadi. Bukannya tidak suka melihat Hyukjae bahagia, hanya saja Donghae ingin menjadi orang yang membahagiakannya, bukan orang lain.
"Anak pintar, kau mengingat semua cerita daddy soal paman Hyukjae."
"Karena dad bilang, dia adalah orang yang sangat dad cintai dan satu-satunya orang yang bisa membuat dad bahagia."
"Benar, dia orang yang paling berharga untuk dad. Setelah paman kalian yang lelet itu datang, kita akan mencari tahu keberadaannya."
Karena tangan kanannya sedang memangku Haru, Donghae meraih Jeno dengan tangan kirinya kemudian mengecup puncak kepala anak sulungnya berkali-kali, membuatnya terkikik geli dan melupakan rasa laparnya tadi.
"Lee Donghae!"
Donghae menoleh ke arah kakaknya yang berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Memasuki usia kepala empat, tidak membuat ketampanan kakaknya berkurang sedikitpun. Donghwa masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, hanya saja berat badannya sedikit naik dan membuatnya sangat lelet.
"Hyung! Kau mau membuatku gila? Aku hampir menangis karena anak-anak rewel!"
"Maaf, aku sibuk di restoran. Oh, ngomong-ngomong bukankah kau akan mengadakan pameran foto di London tahun depan? Kenapa tiba-tiba pulang?"
Donghwa membawa sebagian barang-barang Donghae sambil memangku Jeno yang mulai terkulai lemas di bahunya. Matanya perlahan mulai tertutup dan akhirnya ia terlelap tidur.
"Batal, sebagai gantinya aku akan mengadakan pameran di sini. Kenapa tiba-tiba pulang? Entahlah, aku tidak tahu. Aku hanya merindukannya dan kali ini aku tidak akan menyerah padanya meski aku harus melewati banyak masalah. Selama sepuluh tahun, aku tidak bisa berhenti memikirkannya dan aku merasa bersalah karena meninggalkanya begitu saja tanpa perpisahan yang layak. Aku masih mencintainya bahkan setelah sepuluh tahun berlalu aku masih sangat mencintainya dan terus merindukannya."
Donghwa mengembuskan nafasnya, ia tahu siapa yang di maksud adiknya dan kemana arah pembicaraan ini mengarah. Selama di London, Donghae selalu meneleponnya dan menceritakan soal kegundahan hatinya yang tidak bisa berhenti memikirkan Hyukjae. Apa mau di kata? Sejak awal Donghae memang tidak mencintai istrinya, di dalam hatinya hanya ada Hyukjae seorang. Kalau saja ibunya tidak memaksa Donghae untuk hidup normal dan mempunyai anak, mungkin hingga saat ini Donghae sedang berbahagia dengan Hyukjae.
"Lalu bagaimana dengan anak-anak?"
"Mereka mengerti. Hyung, di jaman seperti sekarang hal seperti itu bukan hal yang tabu lagi. Di London ada banyak orang sepertiku, jadi tidak sulit memberi pengertian pada Jeno dan Haru soal keadaanku dan Hyukjae. Ngomong-ngomong, apa Hyukjae masih membuka cafénya?"
"Masih, tapi sekarang bukan Hyukjae yang mengelolanya. Hyukjae sibuk sebagai produser musik, jadi urusan café dia serahkan sepenuhnya pada kakaknya. Kenapa?"
"Jeno ingin makan kue di sana."
"Oh."
Diam-diam, Donghae merasa lega dan membuatnya tersenyum tanpa sadar. Donghae lega, ternyata Hyukjae tidak pergi kemanapun. Mungkin dengan begini, Donghae tidak akan kesulitan mencari Hyukjae. Yang jadi masalah sekarang adalah, bagaimana jika ternyata Hyukjae sudah melupakannya dan hidup bahagia bersama orang lain?
"Bagaimana rumah tangganya?"
"Soal itu lebih baik kau tanyakan saja sendiri padanya. Aku tidak tahu banyak soal rumah tangganya. Nah, sudah sampai."
Ternyata hanya perlu menempuh waktu kurang dari tigapuluh menit untuk sampai di café milik Hyukjae. Sepuluh tahun berlalu dan café ini sudah banyak berubah, terlihat lebih klasik dan santai. Donghae melangkah masuk dengan langkah yang ragu, ia menuntun kedua anaknya yang terlihat masih mengantuk.
Bagaimana kalau Hyukjae tidak suka dengan kedatanganku?
Hanya satu pertanyaan itu yang terus berputar-putar di kepala Donghae. Café Hyukjae hari ini cukup ramai, mungkin karena ini sudah masuk jam makan malam dan hari ini kebetulan akhir pekan. Jadi, ada banyak orang yang datang kemari untuk menghabiskan waktunya bersama pasangan mereka. Donghae membawa kedua anaknya duduk di meja paling pojok, sementara Donghwa memesan cake strawberry ukuran medium untuk Jeno dan Vanilla untuk Haru. Matanya tidak bisa berhenti mengawasi meja kasir, berharap Hyukjae tiba-tiba muncul di sana. Namun tidak ada tanda-tanda Hyukjae di sana, Donghae hanya melihat Sora yang sedang berinteraksi dengan kakaknya.
"Hei, itu Hyukjae datang dengan Jisung anaknya."
Nafas Donghae tercekat saat mengikuti arah pandangan kakaknya dan melihat Hyukjae berdiri di pintu masuk sambil menuntun anak laki-laki yang mungkin seumuran dengan anak-anaknya. Entah sengaja atau tidak, tiba-tiba saja Hyukjae melihat ke arah Donghae hingga pandangan mereka tidak sengaja beradu dan waktu seolah-olah berhenti saat mereka saling memandang ke dalam mata masing-masing.
"Hyukjae."
.
.
Akhir pekan kali ini Hyukjae memilih menemani Jisung seharian di rumah. Setelah pulang dari rumah sakit, Jisung jadi sedikit lebih manja dan maunya ditemani terus. Seharusnya, Hyukjae datang ke studio untuk menyelesaikan lirik lagu yang sudah ia tulis tapi karena Jisung merengek minta ditemani, Hyukjae terpaksa membatalkan niatnya pergi ke studio dan menemani Jisung menggambar di rumah. Hyukjae tidak tahu, sebenarnya apa yang sedang di gambar Jisung, bocah itu hanya mencampurkan seluruh warna crayonnya dan jadilah sebuah gambar—yang katanya—robot itu.
"Kau tidak lapar?"
Setelah sekian jam, Hyukjae baru sadar Jisung belum makan apapun. Hyukjae sebenarnya membuatkan bubur untuk Jisung, tapi Jisung tidak mau memakannya. Di paksa pun Jisung tetap tidak akan makan, yang ada dia akan menangis dan tidak akan berhenti sampai dia lelah.
"Lapar."
"Mau makan apa? Biar ayah buatkan."
"Aku mau makan cake di tempat bibi Sora."
Hyukjae mendesah pelan, akhir pekan café pasti sangat ramai. Entah di mulai sejak kapan, tapi belakangan ini Hyukjae tidak terlalu suka dengan tempat yang terlalu ramai. Tapi mau bagaimana lagi? Menolak permintaan Jisung sama dengan bunuh diri. Jisung sama sepertinya, jika ada keinginan maka harus di dapat secepat mungkin dan tidak bisa dilarang.
Kebiasaan Hyukjae menghindari tempat ramai mungkin di mulai sejak Donghae mengiriminya pesan singkat dan mengajaknya mengakhiri hubungan cinta mereka. Setelah Donghae mengiriminya pesan singkat seperti itu, Donghae tidak pernah menghubunginya lagi dan itu membuat Hyukjae sangat frustasi hingga tidak bisa berhenti menangis dan hanya mengurung diri di kamar. Cengeng? Memang. Hyukjae tidak memungkiri bahwa kenyataan Donghae meninggalkannya adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Setahun setelah Hyukjae berpisah dengan Donghae, Hyukjae mendapatkan kabar yang membuat hatinya kembali porak poranda. Hyukjae mendapat kabar bahwa Donghae menikah di London dan akan menetap di sana bersama istrinya. Apa lagi yang bisa dilakukan Hyukjae selain memendam kesedihannya? Karena tidak tahan dengan beban yang diberikan Donghae padanya, Hyukjae akhirnya mengikuti kemauan sang ibu untuk menikah dengan gadis pilihan ibunya. Tidak ada gunanya kabur atau menolak, toh Donghae sudah meninggalkannya. Untuk apa lagi?
"Ayah!"
"Hm?"
"Cafénya terlewat."
Terlewat beberapa meter.
Sial!
Hyukjae mengutuk dirinya sendiri yang telah berani-beraninya melamun sambil mengendarai mobil. Bagaimana jika Jisung terluka karena kecerobohannya? Hyukjae buru-buru memutar arah, untung terlewatnya tidak begitu jauh sehingga Hyukjae tidak perlu memutar arah terlalu jauh juga. Hyukjae melirik Jisung yang duduk di kursi belakang dari kaca spion, bocah itu sedang mengerucutkan bibirnya sambil menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi dia bertingkah seperti orang dewasa.
"Maaf, ayah melamun."
"Ayah akhir-akhir ini sering melamun bahkan saat memasak dan sarapan. Apa ayah merindukan paman itu?"
Pertanyaan Jisung seperti bola yang menghantam kepalanya dan membuatnya sadar bahwa sejak tadi, ia tidak berhenti memikirkan Donghae. Hyukjae tidak langsung menjawab pertanyaan anaknya, ia berpikir sejenak. Sebegitu besarkah rasa rindunya pada Donghae hingga membuatnya hampir kehilangan akal sehatnya dan melamun sambil berkendara?
"Hm, mungkin hanya sedikit."
Hyukjae tersenyum sambil melepas sabuk pengaman anaknya, lalu menuntunnya masuk ke dalam café. Seperti dugaan Hyukjae, hari ini café sangat ramai bahkan hampir tidak ada kursi kosong di sana. Mata Hyukjae tidak sengaja melihat ke meja paling pojok, biasanya di sana kosong.
Ya, biasanya.
Tapi tidak dengan hari ini, Hyukjae yakin ia tidak sedang melamun atau mengigau. Mata Hyukjae benar-benar melihat Donghae dan dua anak kecil yang sebaya dengan Jisung sedang duduk di sana. Hyukjae mematung saat matanya beradu pandang dengan mata Donghae, ia seperti terkunci dan tidak bisa bergerak saat Donghae bangkit dari kursinya dan semakin intens menatapnya.
"Donghae?"
.
.
ooODEOoo
Pertemuan kembali setelah sepuluh tahun tidak berjumpa dalam situasi yang berbeda. Donghae dan Hyukjae saling memandang tidak percaya, sosok yang selama sepuluh tahun di rindukan kini berdiri di hadapan masing-masing. Donghae meninggalkan kursinya, lalu memberanikan diri melangkah mendekati Hyukjae yang masih mematung di tempatnya. Tanpa berkata apa-apa lagi Donghae langsung memeluk Hyukjae, tidak peduli pada puluhan pasang mata yang mulai memandangi mereka dengan tatapan heran. Rasa rindu yang terpendam selama sepuluh tahun mengalahkan segalanya, yang ada dipikiran mereka masing-masing hanyalah bagaimana mempercayai kenyataan bahwa kini mereka saling berhadapan bahkan saling berpelukan setelah sepuluh tahun tidak berjumpa.
"Hyukjae, aku merindukanmu."
Mendengar Donghae mengucapkan kata rindu berulang-ulang membuat Hyukjae yakin bahwa sosok yang sekarang sedang memeluknya nyata dan yang sedang ia alami sekarang bukanlah mimpi.
"A—ku—aku—juga. Kenapa kau ada di sini?"
Hyukjae melepaskan pelukan Donghae dan menatap Donghae dengan takjub. Sudah sepuluh tahun dan Donghae tidak berubah sama sekali, meski sudah berumur Donghae tetap terlihat tampan dan semakin berkharisma. Rindu di hatinya semakin membuncah saat melihat Donghae tersenyum dengan nyata di hadapannya.
"Bisa kalian bicara sambil duduk? Orang-orang merasa terganggu karena acara reunian kalian di depan pintu masuk!"
Suara Sora membuat kontak mata Donghae dan Hyukjae terputus, Donghae kembali ke mejanya sesuai perintah Sora dan Hyukjae mengikutinya di belakang sambil menuntun Jisung yang masih memandangi Donghae dengan tatapan heran. Mungkin Jisung merasa familiar dengan wajah Donghae, tapi dia lupa dimana pernah melihatnya.
"Kalian bicaralah dengan nyaman, aku akan meninggalkan kalian. Jika sudah selesai bicara, telepon aku dan aku akan segera menjemputmu."
Donghwa berpamitan pulang, meninggalkan Donghae dan Hyukjae yang masih saling mencuri pandang dengan canggung. Begitu juga dengan anak-anak yang merasa asing dengan satu sama lain. Jisung menatap bingung Haru yang juga sedang menatapnya. Namun tak lama setelah saling menatap bingung, mereka saling melemparkan senyum. Sementara itu, Jeno hanya diam bersembunyi di balik punggung ayahnya sambil mencengkram kuat kemeja ayahnya. Jeno memang tidak terbiasa dengan orang asing, ia akan bersembunyi di balik punggung ayahnya saat ada orang asing di sekitarnya. Jika Haru adalah anak yang mudah bergaul maka Jeno adalah kebalikannya, ia tidak suka berada dikeramaian dan jarang sekali bicara sama persis seperti ayahnya sewaktu kecil dulu.
"Anakmu?"
Hyukjae membuka pembicaraan karena hening terus menyelimuti suasana. Donghae melirik Jeno dan Haru sekilas, kemudian mengangguk canggung. Rasanya aneh sekali memperkenalkan anak-anaknya pada Hyukjae, entah kenapa.
"Ya, kembar. Lee Jeno dan Lee Haru. Dan dia, anakmu?"
"Ya, Lee Jisung. Beri salam pada paman, Jisung."
"Oh! Paman yang ada di foto bersama ayah!"
Jisung tiba-tiba memekik girang sambil bertepuk tangan, membuat Jeno dan Haru yang sedang sibuk dengan kuenya menatap Jisung, kaget.
"Jisung kenal paman?"
"Ya, ayah bilang paman adalah orang yang ayah—"
Hyukjae membekap mulut anaknya sebelum bocah kecil itu mengatakan semuanya pada Donghae.
"Jisung, ajak Haru dan Jeno bermain di belakang bersama bibi. Kau punya banyak mainan yang di simpan di sini, bukan? Tunjukan pada mereka dan bermainlah dengan tenang, jangan bertengkar. Hm?"
"Okay!"
Setelah anak-anak pergi, suasana canggung kembali menyelimuti. Mereka hanya saling berdeham pelan dan mengalihkan pandangan mereka ke sembarang arah. Lama tidak bertemu, mau saling bertatapan pun jadi aneh dan canggung. Padahal dulu mereka pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar saling tatap-tatapan.
"Anak-anakmu bisa Bahasa Korea?"
"Tentu, saat di rumah mereka menggunakan Bahasa Korea. Hanya saat berkomunikasi di luar saja mereka menggunakan Bahasa Inggris."
"Oh."
Hening lagi. Baik Donghae maupun Hyukjae, sama-sama tidak tahu mau memulai pembicaraan dari mana. Donghae mencuri pandang ke arah Hyukjae, kemudian ia berdeham lebih kencang. Entah apa tujuannya, ia hanya ingin mendapatkan perhatian Hyukjae yang teralih ke samping. Hyukjae seperti tidak mau memandangnya dan itu membuat Donghae sedikit kesal.
"Berapa usia anakmu?"
Konyol.
Pertanyaan konyol. Untuk apa Donghae menanyakan pertanyaan soal anak-anak? Seharusnya mereka membicarakan soal mereka. Soal masa lalu mereka yang belum selesai.
"Lima tahun. Anak-anakmu?"
"Enam tahun."
"Oh, lebih tua dari Jisung setahun. Tentu saja, kau menikah lebih dulu. Bagaimana kabar istrimu?"
Bodoh.
Sekarang Hyukjae melontarkan pertanyaan bodoh. Untuk apa bertanya soal istri saat mereka sedang berdua? Bukankah tujuan mereka menjauhkan anak-anak adalah untuk membicarakan masalah mereka?
"Oh, aku bercerai dengannya. Sudah lama, sekarang aku tidak tahu dia ada dimana. Menanyakan kabar anak-anakpun tidak pernah, kami sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi. Dia bahkan sudah menjadi orang asing untuk anak-anakku. Istrimu, bagaimana?"
"Oh, dia meninggal tak lama setelah melahirkan Jisung."
"Wah, jadi kau membesarkan Jisung sendirian?"
"Ya. Jadi, kapan kita akan selesai dengan pembicaraan ini dan mulai membicarakan masalah yang lebih penting?"
Donghae mendengus, Hyukjae memang perusak suasana! Sejak dulu tidak pernah berubah. Memangnya semudah itu membicarakan masalah mereka? Setidaknya mereka harus berbasa-basi dan membangun suasana yang mendukung sebelum membicarakan masalah yang sensitif itu. Jika langsung berbicara mengenai pokok masalahnya langsung, bisa dipastikan mereka akan bertengkar hebat.
"Aku masih mencintaimu."
Sesuai perintah Hyukjae, Donghae langsung membicarakan inti masalah mereka. Lihat, reaksinya berlebihan padahal Hyukjae sendiri yang meminta Donghae agar langsung membicarakan inti masalah. Mata Hyukjae membola sempurna, Hyukjae memandangi Donghae dengan tatapan yang sulit di percaya. Setelah sepuluh tahun tidak bertemu, Donghae langsung mengatakan bahwa ia masih mencintai Hyukjae.
"Gila."
"Benar! Aku gila karena selama sepuluh tahun ke belakang aku tidak bisa berhenti memikirkanmu! Kenapa kau menanamkan cintamu begitu dalam hingga membuatku tidak bisa melupakanmu?"
Hyukjae menghembuskan nafasnya, ia tidak percaya dengan perkataan Donghae barusan. Apa katanya? Cinta? Dia bahkan meninggalkan Hyukjae duluan. Apanya yang cinta? Siapa yang dulu menyerah dan pergi ke London tanpa memperjuangkan cinta mereka?
"Lalu semua itu salahku? Bukankah kau yang meninggalkan aku duluan? Sekarang, kenapa semua itu salahku padahal kau yang meninggalkan aku duluan dan menikah dengan orang lain! Dan semua itu masih salahku?"
Sebenarnya Donghae tidak ada maksud untuk menyalahkan Hyukjae, ia hanya ingin membuat Hyukjae mengerti bahwa selama ini Donghae masih terus mencintainya. Hanya saja, Donghae terlalu bodoh untuk berkata-kata manis dan akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Padahal, bukan itu maksudnya.
"Bukan begitu maksudku. Aku—"
"Sudahlah, kita bicarakan ini nanti. Ini sudah waktunya Jisung untuk tidur."
Hyukjae memotong kalimat Donghae, ia sudah tidak tahan melanjutkan pembicaraan ini yang semakin lama semakin membuatnya kesal. Hyukjae tidak mau meledak di tempat umum seperti ini, ada banyak orang yang akan memandangi mereka jika mereka mulai bertengkar.
"Kalau begitu bawa aku pulang bersamamu."
"Apa?"
"Donghwa Hyung bilang, dia tidak bisa menjemputku karena ada urusan mendadak di restoran. Aku harus pulang kemana? Aku belum punya rumah di sini. Kau tega membiarkan aku dan anak-anak menginap di hotel? Barang-barangku semua ada di mobil Donghwa Hyung. Aku harus bagaimana?"
Bohong. Tapi Donghae tahu, Hyukjae tidak akan menolak permintaan Donghae jika menggunakan alasan anak-anak.
"Demi anak-anak, aku mohon. Lagi pula, dulu kita pernah satu apartemen bahkan satu kamar dan satu kamar man—"
"Lee Donghae! Terserah! Cepat bawa anak-anak ke mobil sebelum aku melemparkan kue ini ke wajahmu."
Mendengar kata anak-anak di sebut, Hyukjae jadi tidak tega untuk menolak. Meskipun Hyukjae tahu Donghae sedang berbohong, ia tidak menolak permintaan Donghae. Entah apa maksudnya, mungkin Hyukjae hanya merindukannya dan ingin berbicara lebih banyak lagi dengannya.
"Maaf, karena aku belum mengurus surat ijin mengemudi di sini jadi kau yang harus menyetir."
"Lalu memangnya kenapa? Aku biasa menyetir sendiri."
"Karena sudah ada aku di sini, nanti aku yang akan mengantarmu kemanapun."
"Memangnya kau siapa?"
"Lee Hyukjae!"
"Apa!"
Jisung, Jeno dan Haru saling memandang saat melihat orangtua mereka saling berteriak dan saling memelototi. Ini pertama kalinya mereka melihat ayahnya berteriak seperti itu. Sebelumnya, baik Jisung maupun si kembar tidak pernah melihat ayahnya melotot apa lagi sampai berteriak seperti itu jadi mereka cukup terkejut saat ayah mereka saling berteriak tiba-tiba.
"Kenapa kalian saling berteriak dan melotot? Kalian bertengkar? Bukankah ayah bilang, bertengkar itu tidak baik?"
"Oh, Daddy always told me about that too."
Donghae dan Hyukjae saling pandang, mereka baru ingat ada anak-anak duduk di kursi belakang dan tidak seharusnya mereka berdebat di hadapan anak-anak. Jeno bahkan tampak terkejut karena teriakan ayahnya tadi, padahal ia sudah hampir terlelap sebelum ayahnya berteriak heboh memanggil nama Hyukjae.
"Maaf, sayang. Dad tidak sengaja, itu karena calon ibu kalian selalu membuat dad marah."
Calon ibu?
Kening Hyukjae berkedut menahan marah. Bahkan setelah sepuluh tahun, Donghae masih belum berubah dan selalu berkata seenaknya. Jika tidak ada anak-anak di sini, Hyukjae ingin sekali memukul Donghae dengan gitarnya agar dia sadar dan tidak bicara sembarangan lagi.
"Kalau begitu ayo minta maaf dan berpelukan, setelah itu berjanji tidak akan bertengkar lagi."
Jisung benar-benar mengingat semua pesan Hyukjae dengan baik, selain semakin kritis ternyata Jisung juga semakin dewasa dan dapat memahami pesan-pesan moral yang disampaikan Hyukjae padanya.
"Ayah sedang menyetir, sayang. Nanti saat sampai di rumah ayah akan melakukannya."
"Janji itu harus di tepati, yang tidak menepati janji itu pengecut dan pengecut itu seperti ayam."
Kali ini Haru menimpali, diiringi dengan anggukan Jeno. Baiklah, Donghae juga ternyata berhasil menanamkan pesan moral pada anak-anaknya dengan baik. Karena tidak mau bertengkar di hadapan anak-anak lagi, Donghae dan Hyukjae saling membuang muka demi menghindari pertengkaran. Mereka sama-sama mengunci mulut masing-masing hingga sampai di tempat tujuan, rumah Hyukjae.
"Kau bisa menggendong mereka berdua? Aku bisa membantu setelah membawa Jisung masuk duluan."
Donghae mengangguk, sambil menggendong Haru tapi kemudian Haru bangun dan memaksa turun dari pangkuan ayahnya. Gadis kecil itu mengikuti Hyukjae masuk sambil memegang ujung jaket Hyukjae, seperti magnet gadis kecil itu tiba-tiba menempel akrab pada Hyukjae. Padahal, mereka baru bertemu kurang dari sehari. Donghae berdecih sambil meraih Jeno ke dalam pangkuannya, ia memperhatikan Haru yang tiba-tiba menempel pada Hyukjae seperti lem dari belakang.
"Haru, lepaskan dulu ikatan rambutmu sebelum tidur."
Setelah membaringkan Jeno di samping Jisung, Donghae menghampiri Haru yang duduk di sofa dengan wajah mengantuk. Donghae ingat pesan pelayannya waktu di London, ikatan rambut Haru harus di lepas sebelum tidur agar rambut panjang Haru tidak kusut. Tapi masalahnya, Donghae tidak mengerti bagaimana melepaskan kunciran rambut Haru, ia sedikit kesulitan karena sepertinya ikat rambut Haru melilit dengan kuat di rambutnya, selama ini Donghae selalu mengandalkan pelayannya untuk mengurus rambut panjang Haru. Sekarang saat tidak ada pelayan, Donghae harus melakukan ini sendiri dan itu merepotkan.
"Dad! You hurt me!"
Haru memekik kesakitan saat Donghae menarik rambutnya dengan tidak sabar. Hyukjae yang menyaksikan hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, ayah macam apa Donghae itu sebenarnya? Hyukjae menghampiri Haru, kemudian memangkunya. Mengambil alih Haru sebelum Donghae menarik rambut Haru lebih kasar lagi.
"Minggir, biar aku yang melakukannya. Bodoh! Bisa mengikat tapi tidak bisa melepasnya."
"Bukan aku yang mengikatnya!"
"Lalu siapa? Ah, pacarmu?"
"Pelayan!"
"Kenapa kalian bertengkar lagi?"
Lagi-lagi mereka lupa dengan keberadaan anak-anak di sekitar mereka. Donghae dan Hyukjae menghembuskan nafas hampir bersamaan, benar-benar harus ekstra sabar dan menahan marah agar tidak bertengkar dan tidak membuat anak-anak terkejut.
"Maaf, sweetheart."
Sementara Hyukjae sibuk melepas kunciran rambut Haru, Donghae sibuk memperhatikan wajah Hyukjae yang sangat serius. Rambut cokelat terangnya yang tertata rapi, bibir merahnya, mata sipitnya dan kulit putihnya. Semua, Donghae merindukan semua yang ada pada Hyukjae.
"Haru sepertinya ketiduran. Aku akan membawanya ke kamar tamu di sebelah kamar Jisung."
Donghae mengikuti langkah Hyukjae yang tiba-tiba beranjak ke lantai atas tanpa pemberitahuan, membuat lamunan Donghae buyar semua.
"Lalu aku tidur dimana?"
"Terserah."
"Kalau begitu aku akan tidur di kamarmu, bersamamu, satu selimut denganmu!"
Hyukjae menutup pintu kamar dengan sangat perlahan setelah membaringkan Haru. Setelah pintu benar-benar tertutup, ia menginjak kaki Donghae dengan sekuat tenaga.
"Tidur di sofa!"
"Hei! Sakit! Aku tidak mau tidur sendirian! Cukup sudah selama sepuluh tahun aku tidur sendirian!"
"Mau aku usir?"
"Kau tega mengusir anak-anak?"
"Aku mengusirmu, bukan anak-anak!"
Sepuluh tahun tidak bertemu, seharusnya mereka menghabiskan waktu dengan berbicara soal perasaan masing-masing dan bukannya bertengkar seperti sekarang. Donghae dan Hyukjae menghentikan pertengkaran mereka sebelum mereka saling berteriak lagi dan membangunkan anak-anak, mereka duduk di sofa dengan posisi saling memunggungi.
"Aku ingin tidur denganmu."
"Tidak."
"Aku mohon."
"Tidak."
"Ah, memangnya kenapa? Aku 'kan hanya ingin tidur denganmu bukan menidurimu!"
"Sekali lagi bicara kotor, kau akan benar-benar tidur di luar, Lee Donghae."
Donghae berdecih sambil memasang wajah mengolok. Kata-kata Hyukjae sok ketus tapi Donghae tahu, sebenarnya dia juga merindukan Donghae.
"Bicaramu sok ketus, padahal dulu kau suka sekali saat aku bicara kotor padamu."
"Sudahlah, berdebat denganmu tidak akan ada habisnya. Terserah kau mau tidur dimana, aku lelah."
Jika Hyukjae sudah berkata pasrah begitu, artinya Hyukjae sudah mau menerima Donghae tidur di kamarnya. Donghae tersenyum sambil mengikuti langkah Hyukjae ke kamarnya. Hyukjae benar-benar tidak mengusirnya, bahkan ia melepaskan pakaiannya dan menggantinya dengan piyama di hadapan Donghae tanpa malu sedikitpun. Luar biasa. Melihat hal itu, Donghae tidak bisa berhenti tersenyum. Hari ini benar-benar luar biasa, keputusannya pulang ke Korea benar-benar tepat!
Hyukjae berbaring di tempat tidur, memunggungi Donghae. Sudah malam, Hyukjae lelah jika harus terus berdebat dengan Donghae dan akhirnya ia biarkan saja manusia menyebalkan itu tidur di sampingnya. Hyukjae menaruh guling di tengah-tengah mereka, mengisyaratkan agar Donghae tidak mendekatinya.
"Aku benar-benar merindukanmu. Maafkan aku, hm?"
Tapi memang pada dasarnya Donghae bodoh. Tanpa mengerti maksud Hyukjae, Donghae menyingkirkan guling yang memberinya jarak itu dan tangannya mulai berani memeluk pinggang Hyukjae, merengkuhnya dengan erat seolah tidak akan melepaskannya lagi.
"Ganti bajumu, kau bau. Aku menyimpan pakaianmu di lemari paling bawah, tidak tahu apakah masih muat atau tidak. Dulu kau sering sekali meninggalkan pakaianmu di rumahku. Merepotkan."
Donghae turun dari tempat tidur tanpa membantah, ia tidak bisa berhenti tersenyum saat mendengar nada bicara Hyukjae yang lebih lembut. Setidaknya, tidak seketus tadi. Lihat? Donghae benar. Jika Hyukjae sudah tidak ada perasaan apa-apa padanya, untuk apa menyimpan semua pakaian lamanya? Entah Donghae harus menyebutnya ini perasaan macam apa yang jelas Donghae senang. Itu saja. Donghae kembali ke tempat tidur dan mendekati Hyukjae setelah berganti pakaian dengan kaos dan celana pendek, ia memeluk Hyukjae dan menghirup aroma Hyukjae yang masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Aroma yang selalu Donghae rindukan setiap malam, akhirnya tercium nyata sekarang.
"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu."
Tak bisakah kita memulainya lagi dari awal?
.
.
Pagi-pagi sekali Donghae mencium aroma masakan, ia membuka matanya dengan perlahan dan mendapati Hyukjae sudah tidak ada di sampingnya. Donghae menggeliat sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar Hyukjae sebelum beranjak dari tempat tidur yang nyaman itu, mata Donghae berhenti di satu titik saat ia melihat bingkai foto besar tergantung manis di tembok. Donghae baru sadar ternyata yang di katakan Jisung benar, ia tersenyum puas melihat foto yang tergantung di kamar Hyukjae. Foto dirinya dan Hyukjae saat liburan di Swiss.
"Kau tidak akan bangun? Anak-anak sudah duduk di meja makan menunggu ayahnya turun. Cepat mandi dan jangan membuat anak-anak menunggu!"
Donghae tidak dapat menyembunyikan senyumnya saat Hyukjae datang ke kamar dan membangunkannya seperti seorang istri sungguhan.
Apa ini? Kenapa rasanya sangat berlebihan?
Saking senangnya, Donghae bergulingan di tempat tidur hingga terjungkal dan kesadarannya kembali seketika.
"Ah, mandi. Iya benar, mandi."
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih sepuluh menit, Donghae bergegas turun untuk sarapan. Donghae melihat Jisung, Jeno dan Haru sudah rapi duduk manis di meja makan. Sepertinya, Hyukjae memandikan mereka bertiga. Oh, bahkan rambut panjang Haru sudah terikat rapi. Seperti yang sudah Donghae duga sebelumnya, Hyukjae memang calon istri yang sempurna untuknya.
"Biasanya Jeno akan menangis saat di mandikan, sepertinya dia sangat tenang hari ini. Kau memang ibu yang baik."
"Berhenti mengatakan omong kosong di depan anak-anak, Donghae."
Hyukjae berkata tanpa menoleh sedikitpun pada Donghae, ia sibuk menata meja dan menyiapkan alat makan anak-anak.
"Ah, semalam kalian belum baikan. Sekarang lakukan! Peluk dan minta maaf."
Hyukjae mengumpat dalam hati, ternyata Jisung masih ingat dengan kejadian semalam. Hyukjae menghela nafas panjang, ia melirik Donghae dengan ekor matanya sekilas. Jika bukan karena anak-anak yang meminta, Hyukjae lebih suka menendangnya dari pada memeluknya. Tapi, karena tidak mau memberikan contoh buruk pada anaknya, Hyukjae mengajak Donghae berdiri berhadapan dan memeluknya. Tidak lupa, ia juga mengucapkan kata maaf dengan senyum yang sedikit terpaksa.
"Now, ppoppo."
"Haru!"
"Kenapa? Dad selalu mengajarkan itu padaku dan Oppa."
"Tapi, Haru. Itu karena kau dan—"
Sebelum Donghae sempat menyelesaikan kalimatnya, Hyukjae menarik kerah kemejanya dan mencium bibir Donghae sekilas. Hanya sekilas dan beberapa detik saja.
"Nah, sekarang Jisung dan Haru sebaiknya makan dengan tenang seperti Jeno."
Donghae masih mematung di tempatnya, ia tidak percaya dengan apa yang Hyukjae lakukan barusan. Sungguh luar biasa! Hyukjae menciumnya duluan! Morning kiss dari Hyukjae! Demi Tuhan, apakah ini mimpi? Donghae mengedipkan matanya, tak lama kemudian senyuman manis mengukir wajah tampannya. Hari ini akan jadi hari yang paling bersemangat!
Aku tahu kau masih ada rasa padaku, dasar bodoh!
Setelah acara sarapan yang sedikit heboh itu selesai, Donghae berencana membawa anak-anaknya untuk pulang. Tapi saat sudah sampai di pintu depan, Haru tiba-tiba menangis sambil memegangi tangan Jisung. Gadis kecil itu bilang, ia tidak mau pulang dan ingin terus bermain dengan Jisung. Sebenarnya, bukan masalah jika hanya Haru yang menangis tapi masalahnya sekarang adalah ketiga anak itu menangis. Bahkan Jeno menangis sambil memeluk Hyukjae dengan erat, ia semakin mengeratkan pelukannya di leher Hyukjae saat Donghae mencoba meraihnya. Percuma, apapun yang mereka lakukan, hanya membuat anak-anak semakin histeris. Donghae tidak habis pikir, kenapa anak-anaknya tiba-tiba lengket pada Hyukjae?
"Haru dan Jeno boleh tinggal di sini, kalian boleh main dengan Jisung tapi hari ini kalian harus pulang dan bertemu dengan nenek dulu. Setelah betemu dengan nenek, kalian boleh main lagi kesini. Bagaimana?"
Akhirnya Hyukjae harus angkat bicara karena Donghae sudah menyerah membujuk kedua anaknya, ia hanya duduk di sofa dengan wajah frustasi.
"Aku ingin tinggal di sini."
Jeno berbisik sangat pelan di pelukan Hyukjae, tapi Hyukjae masih bisa mendengarnya dengan cukup jelas. Sejujurnya Hyukjae tidak bisa menolak permintaan Jeno, bocah kecil yang sama persis dengan ayahnya itu bahkan memandanginya dengan mata yang sendu dan berkaca-kaca. Mata yang mengingatkan Hyukjae pada Donghae ketika dia sedang merajuk. Bagaimana Hyukjae bisa menolak? Tapi mengingat Donghae dan otaknya yang tidak jauh-jauh dari hal mesum, Hyukjae harus berpikir dua kali untuk mengijinkan mereka tinggal bersamanya di sini.
"Kalian ingin tinggal di sini? Baiklah, kita tinggal di sini!"
"Lee Donghae!"
"Jangan berteriak di depan anak-anak. Kau sendiri yang bilang, bukan?"
Anggaplah ini pemaksaan, tapi hanya ini cara satu-satunya agar Donghae bisa mendapatkan Hyukjae kembali. Kenapa? Toh dari dulu Donghae memang suka memaksa Hyukjae dan Hyukjae biasanya tidak keberatan. Hyukjae hanya akan mengomel tapi pada akhirnya ia kalah dan menyerah pada Donghae.
"Kenapa kau selalu memaksa?"
"Aku hanya tidak ingin mengecewakan anak-anakku."
"Lihat dirimu, kau memanfaatkan anak-anak demi kepentinganmu sendiri."
"Kau merasa aku penting?"
"Berhentilah, Lee Donghae."
Donghae mengendikan bahunya acuh, ia sedang buru-buru sekarang dan tidak punya waktu lebih untuk berdebat dengan Hyukjae. Nanti malam saja di lanjutkan debatnya, kalau perlu berdebat langsung di tempat tidur sambil olah raga. Donghae berjongkok, mensejajarkan tinggi badannya dengan Haru dan Jeno yang sudah turun dari pangkuan Hyukjae.
"Sekarang daddy harus pulang untuk mengambil semua barang-barang kita dan berisap-siap ke galeri. Kalian baik-baik di sini dengan calon ibu dan jangan bertengkar dengan Jisung, Okay?"
Hyukjae mengerutkan keningnya, bingung. "Galeri?"
"Ya, aku harus ke galeri dan menyiapkan pameran foto."
"Oh."
Benar, Donghae adalah seorang fotografer, Hyukjae hampir saja lupa kalau profesi Donghae sekarang adalah fotografer profesional yang sibuk. Pekerjaannya sehari-hari sibuk di galeri mengurusi pameran, bahkan kadang ia masih harus keluar negeri untuk mengadakan pameran yang lainnya.
"Kau jangan khawatir, aku tidak akan tinggal di sini selamanya. Aku akan pindah jika aku sudah mendapatkan apartemen baru dan pelayan untuk mengurus Haru dan Jeno. Kecuali jika kau bersedia menikah denganku."
"Berhentilah mengatakan omong kosong. Calon ibu? Sekali lagi kau mengatakan hal-hal seperti itu, maka akan ada sesuatu yang mendarat di keningmu!"
"Apa? Bibirmu? Aku tidak keberatan. Ah, kau memang selalu tahu isi pikiranku, baguslah kalau kau mengerti. Aku pergi, calon ibu. Jaga anak-anak dengan baik."
"Hei, kau dasar brengsek!"
Sialan! Sampai kapan kau akan bertingkah seperti anak-anak? Bodoh! Dasar lee Donghae bodoh!
.
.
"Lee Donghae benar-benar sialan."
Hyukjae tidak henti-hentinya mengumpat pelan sambil memperhatikan anak-anak yang sedang bermain di ruang tengah sejak siang tadi, mereka bermain dengan tenang dan saling berbagi. Setidaknya, anak-anak akur dan tidak berebut jadi Hyukjae masih bisa bernafas dengan lega. Sebenarnya hari ini Hyukjae harus ke studio musik untuk mengawasi jalannya recording, tapi Donghae sialan itu malah meninggalkan anak-anaknya di rumah dan membuat Hyukjae tidak bisa pergi kemanapun. Lagi-lagi Hyukjae tidak datang ke studio, ia jadi merasa tidak enak hati pada rekan-rekannya.
"Mom, lapar."
Mom? Siapa?
Hyukjae melihat ke kiri dan ke kanan saat Jeno tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan mom sambil menatap lurus ke arahnya.
"Sayang, panggil aku paman."
Tidak salah lagi, pasti Donghae yang sudah mendoktrin anak-anaknya agar memanggilnya seperti itu. Hyukjae geram dan ingin sekali menghajar Donghae tapi berhubung orangnya sedang tidak ada, ia tetap berusaha menyembunyikan kemarahannya di hadapan anak-anak dan tetap tersenyum manis. Tidak mungkin juga kan, melampiaskan kemarahannya pada anak-anak.
"Dad bilang aku harus memanggilmu mom, dad juga menyuruh Jisung dan Haru untuk melakukannya."
Jisung dan Haru mengangguk bersamaan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
Bahkan Jisung juga? Mati kau, Lee Donghae!
"Mom, lapar."
Jeno mengulangi kalimatnya saat melihat Hyukjae malah melamun dan bukannya menyiapkan makan malam. Perutnya sudah berbunyi sejak tadi, tanda ia benar-benar kelaparan.
"Oh, sudah saatnya makan malam. Kalau begitu, berhenti dulu mainnya dan kita siap-siap makan."
Hyukjae beranjak dari tempat duduknya sambil menahan marah, rasanya aneh sekali saat anak-anak tiba-tiba memanggilnya mom.
"Daddy, datang!"
"Daddy!"
Di tengah-tengah acara makan malam, akhirnya objek yang membuat Hyukjae marah datang juga. Hyukjae mencengkram sendoknya sambil menatap Donghae tajam seolah-olah ia akan melemparkan sendok yang ada di tangannya ke wajah Donghae, tapi niat itu Hyukjae urungkan karena ada anak-anak yang sedang melihat mereka sekarang. Jadi Hyukjae hanya menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menekan rasa marah dan kesalnya sementara waktu. Setidaknya sampai anak-anak tertidur, baru Hyukjae akan menghajar Donghae.
"Kalau sudah selesai cepat masuk kamar dan jangan lupa cuci tangan dan kaki kalian."
"Iya."
Anak-anak menjawabnya serempak sambil turun dari kursi dan bergegas naik ke lantai atas. Hyukjae tersenyum puas karena anak-anak mendengarkan kata-katanya dengan patuh. Sekarang, urusannya tinggal dengan Donghae. Setelah Hyukjae selesai membersihkan meja makan dan mencuci semua piring kotor, akan Hyukjae pastikan mulut Donghae tidak akan pernah mengatakan hal yang sembarangan lagi.
"Kenapa hari ini acuh sekali padaku?"
Donghae menghampiri Hyukjae yang sedang sibuk mencuci piring, dengan berani ia merengkuh pinggang ramping Hyukjae dengan kedua tangannya dan mengistirahatkan dagunya di bahu Hyukjae. Padahal, Donghae hanya meninggalkan Hyukjae beberapa jam saja tapi rasa rindunya sudah berlebihan seperti ini.
"Lepaskan sebelum aku marah."
"Aku benar-benar ingin minta maaf padamu. Aku tidak pernah bermaksud meninggalkanmu, sungguh."
"Lepas!"
Hyukjae membalikan tubuhnya dengan maksud agar Donghae melepaskan rengkuhannya, tapi yang terjadi justru wajah mereka berdua saling berhadapan hampir tanpa jarak sama sekali. Mata Hyukjae berkedip beberapa kali saat melihat Donghae menyeringai, baiklah sekarang Hyukjae mulai takut dengan seringaian itu. Apa lagi sekarang posisi Hyukjae sama sekali tidak menguntungkan, ia terhimpit di antara tubuh Donghae dan meja cuci piring di belakangnya.
"Aku merindukanmu."
Jemari Donghae mengelus lembut tengkuk Hyukjae, ia berbisik di telinganya dengan suara rendah. Sengaja, untuk menggoda Hyukjae. Hanya beberapa centi lagi hingga bibirnya menyentuh bibir tipis Hyukjae dan—
"Dad?"
Hyukjae mendorong Donghae menjauh dari tubuhnya, ia mengatur nafasnya yang tiba-tiba memburu seperti habis berlari marathon. Sementara Donghae hanya menggeram kesal saat melihat anaknya berdiri di depan meja makan dengan wajah super lugu. Tidak tahukah Jeno? Ayahnya sedang sibuk merayu calon ibunya.
Sial!
"Ya, jagoan?"
"Piyamaku dimana?"
"Di kamar, sayang. Tadi ayahmu baru saja menaruh koper kalian di kamar Jisung."
Tanpa menghiraukan Donghae yang mulai mengumpat, Hyukjae menuntun Jeno naik ke lantai atas. Untung saja Jeno datang, jadi hari ini ia selamat.
Menghindariku? Lihat saja besok, Lee Hyukjae! Aku akan membuatmu kembali padaku.
.
.
TBC
Hai~ ^^
Anehkah? maaf ya saya gak tau kenapa nulis beginian kkkkkk
terima kasih buat yang review kemaren ^^ maaf gak bisa bales satu2 tapi kl bener2 ada yang pengen di tanyain main aja ke twitter saya ^^ saya selalu ada di twitter jadi pasti balas mention ato DM kalian ^^
kl masih ada yg pengen lanjut ff aneh ini, saya bakal lanjut mungkin seminggu sekali update kl ada waktu luang di kantor saya bakal update rutin ^^
okay, last...
review?
thanks a lot~~~ LOVE YOU GUYS ^^
.
.
With Love,
Milkyta Lee
