REUNION
(EVERLASTING LOVE)
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance, Family, Friendship
WARNING!
BOYS LOVE
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
Whenever love went wrong, ours would still be strong because we'd have our own EVERLASTING LOVE
.
.
Sudah beberapa hari Hyukjae absen datang ke studio karena kedatangan Donghae dan anak-anaknya dari London yang sangat tiba-tiba. Teman sialannya itu, datang tanpa memberitahu dan di hari pertama mereka bertemu kembali dia langsung—memaksa—menumpang di rumah Hyukjae tanpa tahu malu. Yang lebih sialan lagi adalah, dia sengaja menitipkan kedua anaknya dan pergi bekerja tanpa memikirkan Hyukjae yang sebenarnya harus bekerja juga. Akhirnya, setelah seminggu absen datang ke studio Hyukjae bisa hadir hari ini karena Donghae kebetulan sedang libur jadi dia bisa menjaga anak-anak di rumah sementara Hyukjae pergi bekerja.
Hyukjae bukannya tidak suka dengan kehadiran Donghae di rumahnya, kalau tidak suka mana mungkin Hyukjae menerima Donghae menumpang di rumahnya padahal ia sendiri tahu Donghae berbohong soal tidak punya rumah. Baiklah, tidak sepenuhnya bohong. Donghae memang belum punya rumah di Korea, tapi dia bisa saja mencari apartemen sementara sebelum menemukan rumah baru dan bukannya menumpang di rumah Hyukjae. Jujur saja, Hyukjae senang dengan kehadiran Donghae dan anak-anaknya di rumah karena dengan begitu Jisung jadi tidak kesepian lagi dan ada yang menjaganya saat Hyukjae sedang berpegian seperti sekarang ini. Masalahnya adalah, Lee Donghae sialan itu semakin tua semakin mesum dan selalu berbicara sembarangan di depan anak-anak. Sikapnya sama sekali tidak berubah, dia masih bertingkah seperti anak-anak dan suka sekali mengganggu Hyukjae kapanpun dan dimanapun. Jadinya, Hyukjae seperti sedang mengurus empat anak. Jeno, Haru, Jisung dan Donghae. Melelahkan.
"Kudengar Donghae sudah kembali dari London. Benarkah?"
Jantung Hyukjae hampir saja melompat keluar saat mendengar suara Choi Siwon yang tiba-tiba menggelegar di tengah keheningan. Hyukjae baru saja masuk ke ruangannya dan menggantungkan mantelnya, lalu tiba-tiba ia melihat Siwon sedang berdiri di depan pintu ruangannya dengan senyum ceria seperti biasanya. Sebenarnya dia datang dari mana? Bikin kaget saja! Tanpa permisi, Siwon masuk ke ruangan Hyukjae dan duduk di sofa dengan elegan khas seorang direktur. Hyukjae bingung, bagaimana bisa Siwon tahu soal kepulangan Donghae? Hyukjae pikir, Donghae belum memberi tahu siapapun soal kepulangannya.
"Bagaimana kau tahu?"
"Ah, aku melihatnya di media. Sepertinya ada mengikuti kalian dan melihat kalian sedang berjalan-jalan membawa anak-anak. Foto-fotonya tersebar di media."
Lagi-lagi penguntit. Hyukjae menghela nafas panjang, ternyata penggemar fanatiknya belum juga berhenti mengikutinya. Mungkin lain kali ia harus lebih berhati-hati saat pergi dengan anak-anak. Tapi kenapa? Hyukjae bukan lagi seorang idola, seharusnya penggemar yang selalu mengikutinya itu mulai berhenti mengikutinya kemanapun dan memberinya sedikit ruang untuk bergerak lebih bebas.
"Oh. Ya, dia memang sudah pulang dan menumpang di rumahku untuk sementara waktu sampai dia menemukan rumah baru."
"Wah, pasangan fenomenal kita telah kembali rupanya. Langsung serumah? Hebat! Bagaimana? Setelah bertemu pasti kalian menghabiskan malam yang panas, kan? Apa lagi, kalian langsung serumah begitu bertemu. Ceritakan padaku detailnya!"
Malam yang panas? Omong kosong macam apa ini? Donghae dan Hyukjae justru menghabiskan waktu dengan berdebat sepanjang hari dan ketika mereka punya waktu untuk bermesraan, anak-anak selalu datang mengganggu. Entah itu lapar, entah itu ingin dibacakan cerita, entah itu ingin ditemani main game dan masih banyak lagi gangguan yang sering ditimbulkan oleh mereka bertiga. Apakah yang begitu bisa di sebut malam panas? Malam panas omong kosong! Yang ada mereka harus terus menjaga sikap karena ada anak-anak di sekitar mereka.
"Malam panas omong kosong!"
"Minimalnya kalian berciuman, kan?"
Berciuman? Bahkan berinteraksi dengan akur saja mereka tidak bisa karena Donghae terus mengajaknya berdebat soal hal-hal sepele, bagaimana mau berciuman? Ah, benar! Hyukjae pernah menciumnya saat sarapan pagi, tapi hanya sekedar kecupan dan itupun dilakukan karena terpaksa. Sedikit terpaksa, karena sejujurnya Hyukjae juga berdebar saat mencium Donghae duluan.
"Berhenti berbicara omong kosong, Choi Sajang-nim! Ngomong-ngomong kenapa kau datang kesini? Bukankah kau sibuk? Kudengar kau menambah pusat perbelanjaan baru."
"Ah, aku mau menyampaikan pesan Youngwoon Hyung dan Jungsoo Hyung. Anak mereka berulangtahun minggu depan, dia ingin kita semua datang. Sekalian reuni, kita sudah lama tidak berkumpul bersama."
"Oh, ulangtahun Jeongin yang kesepuluh. Kebetulan Donghae sedang ada disini, wah sepertinya kita akan berkumpul lagi. Tapi, Heechul Hyung dan Hangeng Hyung ada di China. Apa mereka akan datang?"
Siwon mengangguk ragu, ia sendiri tidak yakin apakah mereka akan datang atau tidak karena Heechul memberikan jawaban yang ambigu saat di telepon.
"Entahlah, Heechul Hyung hanya mengatakan tunggu saja. Tapi, Kyuhyun dan Sungmin Hyung tidak akan datang. Kau tahu sendiri, Sungmin Hyung kabur dari istrinya dan menikah diam-diam dengan Kyuhyun. Aku juga tidak tahu mereka tinggal dimana, terakhir kudengar mereka tinggal di Barcelona."
"Lucu."
Tidak ada angin dan tidak ada yang melawak tapi tiba-tiba Hyukjae terkikik geli. Membuat Siwon yang duduk di sampingnya menaikan alisnya, bingung. Entah kenapa, Hyukjae merasa lucu dengan keadaan mereka sekarang, bersama-sama sekian puluh tahun dan berakhir dengan menikahi satu sama lain. Kalau di pikir-pikir lagi, hal itu lucu sekali.
"Apanya? Apanya yang lucu? Aku tidak sedang melawak."
"Kita. Kita semua lucu. Kita selalu bersama-sama selama bertahun-tahun dan akhirnya kita menikahi satu sama lain. Bukankah itu sangat lucu?"
Karena Hyukjae tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, Siwon pun ikut tertawa meski kurang paham dengan apa yang Hyukjae katakan. Memangnya apa yang lucu? Apa yang perlu ditertawakan? Saling mencintai dan menikahi orang yang dicintai bukanlah hal yang lucu.
"Tapi kau dan Donghae tidak menikahi satu sama lain. Jadi, menurutku ini tidak lucu. Kenapa kita tertawa?"
"Auh, dasar brengsek! Perusak suasana! Pulang sana! Kau pikir jika bukan karena aku yang meyakinkan Kibum untuk kembali padamu kau bisa menikahinya?"
"Kerutan di wajahmu akan bertambah kalau kau sering marah-marah. Sudah ya, aku pulang. Semoga berhasil dengan Donghae, bye."
"Dasar brengsek."
Hyukjae menghempaskan tubuhnya ke kursi, entah kenapa ia jadi sangat kesal saat Siwon menyinggung soal hubungannya dengan Donghae yang tidak berakhir dengan bahagia. Kalau diingat-ingat lagi, kisah cinta teman-temannya berakhir dengan bahagia. Lalu, kenapa hanya Hyukjae dan Donghae yang gagal? Padahal mereka adalah pasangan yang fenomenal dulunya. Yeongwoon yang menikahi Jungsoo dan sekarang hidup bahagia dengan anak semata wayangnya Kim Jeongin, Hangeng yang menikahi Heechul dan tidak kalah bahagia karena mereka juga punya anak laki-laki yang super mirip dengan Heechul Han Junhui, Jongwoon yang menikahi Ryeowook dan tidak bisa berhenti bermesraan meski Kim Jongwook anaknya sedang ada di sekitar mereka, Kyuhyun yang nekat membawa Sungmin kabur dari istrinya dan sepertinya mereka sudah hidup bahagia entah dimana, Shindong yang menikahi Nari dan selalu terlihat bahagia kapanpun mereka bersama dengan anak perempuannya Shin Nahee, dan terakhir Siwon yang menikahi Kibum dan semakin terlihat sempurna dengan hadirnya Choi Kiwon di antara mereka. Semua berakhir dengan bahagia, hanya Hyukjae saja yang mengalami kisah cinta tragis dengan Donghae. Setelah sekian lama bersama dan selalu mesra kapanpun dimanapun akhirnya malah berpisah dan menikah dengan orang lain. Ironis.
"Ah, sialan! Pagi-pagi begini aku jadi kesal gara-gara Choi Siwon sialan itu."
.
.
"Jisung! Daddy akan benar-benar marah kalau kau tidak memakan sayuranmu."
Sejak pagi tadi setelah di tinggal Hyukjae bekerja, suasana rumah tidak jauh-jauh dari kata heboh. Anak-anak yang tidak henti-hentinya berlarian mengitari rumah, Donghae yang tidak berhenti berteriak-teriak mengingatkan anak-anaknya agar makan dengan tenang dan seisi rumah yang kacau karena anak-anak menghamburkan makanan yang dibuatkan Donghae hari ini. Anak-anak yang biasanya makan dengan tenang dan bersikap sangat manis kini berubah menjadi liar dan membuat Donghae ingin menangis. Donghae tidak mengerti bagaimana bisa Hyukjae menghadapi ketiga bocah hyperactive itu sehingga mereka bisa mematuhi kata-kata Hyukjae dengan baik.
Anak-anak tidak mau menyantap makan malamnya dan malah menjadikannya sebagai mainan. Mereka bertiga berlarian kesana kemari dan tertawa terbahak-bahak sambil saling melemparkan sayuran yang seharusnya mereka makan, bahkan Jeno yang biasanya bersikap tenang kini sama aktifnya dengan kedua adiknya. Donghae sudah lelah marah-marah dan menyuruh mereka duduk dengan tenang, semakin Donghae marah semakin mereka cekikikan senang. Akhirnya Donghae menyerah dan membiarkan bocah-bocah aktif itu mengotori seisi rumah, terserah! Donghae sudah lelah, jadi ia memilih untuk diam saja sambil memperhatikan bocah-bocah itu berlari kesana kemari, memastikan bahwa mereka tidak ada yang terluka.
"Aku pulang."
"Hyukjae!"
Suara Hyukjae terdengar bagaikan air sejuk di tengah gurun pasir yang panas. Tanpa mempedulikan anak-anak yang semakin lincah berlarian, Donghae langsung bangkit dari sofa dan menerjang Hyukjae yang baru pulang dari studio. Rasanya bahagia sekali melihat Hyukjae pulang di saat yang tepat, Donghae memeluk Hyukjae dengan erat tanpa mempedulikan Hyukjae yang mulai meronta minta dilepaskan. Donghae tidak peduli, ia hanya ingin menyalurkan rasa bahagianya melihat Hyukjae sudah sampai di rumah. Akhirnya, akhirnya penderitaannya akan segera berakhir!
"Ada apa?"
"Anak-anak berubah menjadi setan! Mereka tidak mau makan dan malah terus bermain. Lihat, mereka juga membuat seisi rumah berantakan."
Hyukjae mendesah pelan, "Aku sudah bisa menduga kejadian seperti ini akan terjadi. Makanya aku pulang cepat, padahal pekerjaanku belum selesai."
Kedua alis Donghae bertaut, ia bingung karena reaksi Hyukjae yang tampak biasa saja. Hyukjae bahkan hanya menghela nafas pendek tanpa ada raut wajah marah sedikitpun, bukankah seharusnya di saat seperti Hyukjae marah dan frustasi? Kenapa dia tenang sekali? Hyukjae menaruh tasnya dan menggulung lengan sweaternya dengan santai lalu mulai memunguti sayur-mayur yang dilemparkan anak-anak barusan tanpa banyak bicara. Setelah seisi rumah mulai kembali seperti semula, barulah Hyukjae memanggil anak-anak ke ruang tengah. Untuk dimarahi, mungkin? Entahlah, Donghae hanya diam memperhatikan Hyukjae dari sofa ruang tengah. Ia ingin tahu, bagaimana cara Hyukjae menghadapi anak-anak yang tiba-tiba menjadi hyperactive itu.
"Jeno, Haru, Jisung kemari sayang."
"Mom!"
Tanpa di perintah dua kali, anak-anak itu meninggalkan mainannya dan langsung menghambur ke pelukan Hyukjae. Donghae tidak mengerti, kenapa mereka bisa mematuhi perintah Hyukjae begitu saja? Saat Hyukjae tidak ada tadi, anak-anak itu sulit sekali dikendalikan bahkan Donghae harus memanggil mereka berkali-kali baru mereka mau mendengarkan Donghae.
Menyebalkan!
"Kenapa tidak makan dan malah menjadikan makanan sebagai mainan?"
Hyukjae menatap ketiga bocah yang sekarang duduk berjajar itu dengan lembut dan bertanya dengan nada yang tak kalah lembut. Donghae pikir, Hyukjae akan memarahi mereka tapi ternyata Hyukjae hanya menanyakan alasan kenapa mereka tidak mau makan dengan nada yang lembut.
"Kami tidak mau makan kalau tidak ada mommy."
Haru menjawab dengan suara yang di buat lucu sambil mengangkat bahunya, membuat Donghae berdecih melihat tingkah anak perempuannya itu. Tadi saat Hyukjae tidak ada, gadis kecil tidak pernah bersuara semanis itu.
"Begitu?"
Lagi-lagi Donghae melihat Hyukjae menghela nafas, sepertinya dia mulai lelah dengan sikap anak-anak. Tapi anehnya, Hyukjae tidak menunjukan tanda-tanda akan meledak. Hyukjae justru tersenyum sambil mengelus kepala Haru, dia juga melakukan hal yang sama pada Jisung dan Jeno sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Lain kali, meskipun mom tidak ada di rumah kalian tidak boleh nakal dan dengarkan apa kata daddy. Ah, dan jangan membuang-buang makanan. Makanan itu untuk di makan, bukan dijadikan mainan dan di buang-buang. Tuhan tidak suka dengan anak yang suka membuang-buang makanan, kalian tahu? Anak yang suka membuang-buang makanan dan menjadikannya sebagai mainan harus di hukum dan tidak akan dapat hadiah saat natal nanti. Kalian mau di hukum? Kalian tidak mau dapat hadiah natal?"
Meskipun masih terasa canggung karena anak-anak yang tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan mom selama seminggu belakangan ini tapi Hyukjae mulai terbiasa dan tidak keberatan dengan hal itu, kadang ia juga memanggil dirinya sendiri mom tanpa sadar saking terbiasanya.
"Maaf."
Mereka bertiga menunduk sambil menggeleng hampir bersamaan. Wah, luar biasa! Donghae benar-benar kehilangan kata-katanya, anak-anak benar-benar patuh pada Hyukjae bahkan tanpa dimarahi mereka mengangguk dan menyesali perbuatan mereka. Donghae tersenyum melihat anak-anak memeluk Hyukjae dan mengucapkan kata maaf dengan wajah penuh penyesalan. Entahlah, semakin hari Donghae semakin yakin untuk mendapatkan kembali cinta Hyukjae.
"Sekarang naik ke atas dan mandi. Setelah itu langsung tidur, hm?"
"Baik, mom."
"Anak pintar."
Sekali lagi Donghae di buat takjub oleh Hyukjae. Lagi-lagi anak-anak menuruti perintah Hyukjae tanpa membantah, apa ini? Konspirasi? Kenapa anak-anak hanya patuh pada Hyukjae?
"Aku benar-benar kehilangan kata-kata! Bagaimana bisa anak-anak itu begitu patuh padamu dan selalu membantahku? Aku bahkan memarahi mereka tapi mereka malah semakin senang dan menghiraukan aku!"
"Anak-anak seusia mereka memang begitu. Kau tidak tahu? Mereka sedang dalam fase senang bermain. Kalau kau ingin membuat mereka patuh padamu, jangan pernah bertindak kasar. Daripada memarahinya, kau lebih baik membuat mereka merenungi perbuatan mereka sendiri dengan cara memberitahu mereka dimana letak kesalahan mereka."
Hyukjae menjawab pertanyaan Donghae tanpa mengalihkan pandangannya dari washtafel, ia sibuk mencuci semua piring kotor yang di tinggalkan anak-anak tadi tanpa banyak bicara dan hanya menjawab pertanyaan Donghae seperlunya saja.
"Oh."
Sepertinya Donghae baru tahu ada cara-cara tertentu untuk menghadapi anak-anak. Lihat? Donghae memang tidak salah menginginkan Hyukjae kembali kepadanya. Hyukjae lebih cocok jadi ibunya anak-anak karena dia lebih paham bagaimana cara menghadapi anak-anak. Donghae mendekati Hyukjae yang sedang mencuci piring, kemudian ia menarik lengan Hyukjae dan membuatnya jatuh dipangkuan Donghae yang sedang duduk di meja makan.
"Mau apa? Ada anak-anak di sini! Lepaskan!"
Hyukjae membulatkan matanya dan langsung meronta, ketika merasakan lengan Donghae melingkar di pinggangnya dan mengunci pergerakannya. Sial! Hyukjae kembali terhimpit di antara Donghae dan meja makan. Posisinya sedikit membuatnya tidak nyaman karena ia duduk dipangkuan Donghae dan Donghae memeluk pinggangnya dengan erat, membuat Hyukjae tidak bisa bergerak.
"Akhir-akhir ini sikapmu mulai melunak, kau juga sepertinya mulai terbiasa dengan panggilan mom. Kenapa semakin hari kau semakin manis di mataku?"
"Lepas!"
Bukannya melepaskan Hyukjae, Donghae justru mengangkatnya ke meja makan membuat posisi Hyukjae sedikit lebih tinggi darinya. Seringaian tercetak jelas di bibir Donghae saat menyadari anak-anak tidak ada di sekitar mereka, dengan begitu Donghae bisa melanjutkan aksi gagal tadi malam. Perlahan Donghae mulai mendorong Hyukjae dan membuatnya berbaring di meja makan sambil mengecupi seluruh wajah Hyukjae.
"Lepas sebelum aku benar-benar marah, Lee Donghae!"
"Marah saja. Mau kau marah, tersenyum, sedih atau bahagia kau sama manisnya di mataku."
"Aku tidak main-main."
"Aku juga."
Sebelum Hyukjae kembali mengeluarkan kalimatnya, Donghae mengadukan bibir tipis mereka dan mulai berani memagut bibir tipis Hyukjae saat di rasa Hyukjae tidak melakukan perlawanan sama sekali. Sweater merah yang digunakan Hyukjae hari ini memudahkan Donghae untuk meraba bagian dalam tubuh Hyukjae tanpa harus repot-repot memereteli kancing. Donghae mengelus perut rata Hyukjae dan merambat naik ke atas untuk mencapai sesuatu yang akan membuat Hyukjae melenguh erotis sambil terus berpagutan, semakin lama ciuman itu semakin dalam dan tanpa sadar Hyukjae mengangkat punggungnya untuk memudahkan Donghae melepaskan sweaternya dan—
"Kalian sedang apa?"
Haru datang.
Gagal lagi.
Donghae menggeram saat Hyukjae kembali mendorong tubuhnya dengan kasar hingga membuat pinggangnya terantuk washtafel. Kenapa anak-anak selalu datang di saat seperti ini? Kali ini Haru datang di saat Donghae sedang tinggi-tingginya. Ingatkan Donghae untuk mengungsikan anak-anaknya ke rumah Donghwa akhir pekan nanti, agar Donghae bisa menggarap Hyukjae dengan tenang.
"Apa lagi? Bukankah tadi kalian sudah di suruh tidur?"
Donghae mengacak rambutnya frustasi, saking frustasinya ia jadi membentak Haru tanpa sadar. Kenapa anak-anaknya senang sekali datang di saat ayahnya sedang dalam keadaan yang tinggi?
"Daddy kenapa marah?"
"Pinggang daddy sakit!"
Sementara Donghae bergulingan di lantai karena frustasi, Hyukjae sibuk membenahi penampilannya yang kacau dan menarik sweaternya yang tadi di angkat Donghae. Tanpa menghiraukan Donghae yang mengaduh kesakitan karena pinggangnya yang terantuk washtafel, Hyukjae menghampiri Haru dan berjongkok di hadapan gadis kecil itu.
"Ada apa, sayang?"
"Bacakan cerita!"
Bacakan cerita? Di saat seperti ini? Ya Tuhan! Kalau Donghae tidak ingat bahwa Haru adalah anaknya, Donghae mungkin sudah meneriakinya sekarang. Sebelum Hyukjae mengiyakan keinginan Haru dan kabur seperti kemarin, Donghae bangun dari lantai dan mendorong tubuh Hyukjae ke samping agar menjauh dari Haru. Donghae berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Haru, sama seperti yang Hyukjae lakukan barusan.
"Haru sayang, bisakah kau langsung tidur saja? Mom sedang sibuk hari ini. Hm?"
"Sibuk apa? Ngomong-ngomong kalian sedang apa di meja makan?"
Tercemar sudah mata polos Haru, dia pasti melihat adegan tidak senonoh tadi. Donghae hanya bisa mendengus pasrah saat Haru menatapnya dengan penuh tanda tanya, ia benar-benar harus memikirkan jawaban yang tepat agar Haru tidak salah pengertian. Apa yang harus Donghae katakan? Apakah ada kata-kata yang lebih sopan dari kata 'meniduri' atau 'membuat anak'?
"Daddy dan mommy sedang—sedang, hm—olahraga!"
"Memangnya ada olahraga yang bertindihan begitu?"
"I—tu—itu olahraga yang hanya dilakukan oleh orang dewasa dan tidak boleh di contoh anak-anak."
"Oh. Hanya olahraga? Itu artinya mom tidak sibuk. Jadi, mom bisa membacakan cerita untukku."
"Sudahlah, terserah kau saja."
Donghae menyerah! Menyerah! Ia tidak bisa melawan anak-anaknya! Bahkan anak-anaknya lebih pintar berdebat daripada Hyukjae. Donghae meninggalkan Haru menuju ruang tengah dan menghempaskan tubuhnya di sofa dengan wajah yang di tekuk.
Gagal lagi!
Gagal terus!
Bagaimana bisa Donghae membuat Hyukjae menjadi miliknya kembali jika anak-anaknya terus menganggu kegiatan intim mereka. Benar-benar membuat frustasi!
"Ah, sial!"
Hyukjae yang melihat Donghae tidak henti-hentinya mengumpat dan tampak frustasi di sofa hanya bisa terkikik geli, sejak kemarin Donghae berusaha menyentuhnya tapi anak-anak selalu datang di saat yang tidak tepat dan mengacaukan semuanya. Jujur saja, Hyukjae juga sudah mulai terbuai tadi, tapi Haru tiba-tiba datang dan membuyarkan segalanya.
Lain kali saja ya, Lee Donghae...
Pada akhirnya, malam ini Donghae tidur sendirian karena Hyukjae tidur di kamar Haru. Apa yang bisa Donghae lakukan selain mengumpat dan berteriak frustasi? Donghae benar-benar mengharapkan akhir pekan segera datang dan langsung mengungsikan anak-anak ke rumah pamannya. Donghae membutuhkan waktu berdua dengan Hyukjae, bukan hanya sekedar untuk melakukan hubungan intim tapi Donghae juga perlu waktu berdua untuk membicarakan masalah mereka dan menjelaskan semua yang terjadi di masa lalu.
"Kenapa belum tidur?"
Senyum Donghae kembali mengembang saat mendengar suara Hyukjae. Rasa kesalnya hilang begitu saja saat Hyukjae berbaring di sampingnya sambil menghadap ke arahnya, tidak seperti kemarin-kemarin yang selalu memunggunginya.
"Tidak bisa tidur jika kau tidak ada di sampingku."
"Berhenti merayu! Oh, ngomong-ngomong tadi Siwon ke studio."
Donghae membelalakan matanya tidak suka, sejak dulu Siwon adalah gangguan terbesar dalam hubungan mereka. Selama Kibum tidak ada, Siwon selalu menempel pada Hyukjae dan itu membuatnya gerah!
"Mau apa? Merayumu?"
"Kau benar-benar belum berubah! Dia datang untuk menyampaikan pesan Youngwoon Hyung dan Jungsoo Hyung, minggu depan anak mereka ulangtahun dan mereka ingin kita semua datang."
"Hanya itu?"
"Memangnya mau apa lagi?"
"Dia tidak merayumu, kan? Tidak menyentuhmu? Tidak menatapmu dengan tatapan mesum?"
"Memangnya dia sama denganmu? Dia hanya mencintai Kibum! Sudahlah, tidur sana!"
Hening.
Setelah berdebat suasana menjadi hening, mereka saling bertatapan tanpa arti. Hanya menyelami rasa rindu lewat tatapan mata dan tanpa sepatah katapun.
"Kembalilah padaku."
Donghae tiba-tiba menarik Hyukjae semakin mendekat padanya dan mengelus wajah Hyukjae penuh perasaan, ia benar-benar ingin laki-laki manis di hadapannya ini kembali padanya. Kembali mengisi hari-harinya dengan senyumnya yang ceria.
"Aku perlu alasan."
"Alasan?"
"Alasan kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau menikahi orang lain? Dan kenapa aku harus kembali padamu?"
"Aku tidak tahu harus menjelaskannya dari mana dan aku juga tidak tahu, apakah aku punya cukup alasan untuk meyakinkanmu untuk kembali padaku."
"Kalau begitu biar saja terus seperti ini sampai kau memberiku alasan. Jangan memintaku kembali sampai kau punya alasan yang kuat."
Hyukjae tersenyum tipis sebelum menyamankan dirinya di pelukan Donghae. Biarlah terus seperti ini, karena Hyukjae juga tidak punya alasan kenapa harus kembali pada seseorang yang telah meninggalkannya duluan, tapi di sisi lain Hyukjae tidak bisa melupakan seseorang yang pernah meninggalkannya itu dan cenderung takut kehilangan lagi.
Bagaimana ini? Aku tidak bisa menentukan perasaanku sendiri.
.
.
Pagi ini berbeda dengan pagi sebelumnya, Donghae terbangun dalam keadaan Hyukjae yang masih berada dalam pelukannya. Laki-laki manis itu meringkuk sambil memeluk Donghae, wajahnya damai sekali saat tidur. Donghae memeluk Hyukjae semakin erat sambil memejamkan matanya, menikmati hangatnya tubuh Hyukjae. Donghae tidak percaya bisa melakukan hal ini lagi dengan Hyukjae, rasanya seperti mimpi bisa terbangun dan langsung di sambut oleh wajah manis Hyukjae.
"Sesak!"
Pekikan Hyukjae membawa Donghae kembali ke alam sadarnya, Donghae membuka matanya dan melepaskan pelukannya saat Hyukjae mulai meronta. Saking senangnya, ia tidak sadar memeluk Hyukjae terlalu erat. Jadilah Hyukjae bangun dan Donghae tidak bisa menikmati wajah damainya saat tertidur.
"Kau kesiangan. Kau tidak ke studio? Ini sudah jam sembilan lewat."
"Jam sembilan? Anak-anak belum mandi dan sarapan!"
Saking nyamannya tidur di pelukan Donghae, Hyukjae yang biasanya bangun pagi-pagi jadi kesiangan dan tidak menyiapkan sarapan untuk anak-anak. Hyukjae langsung meninggalkan tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi, sebelum anak-anak berdemo karena kelaparan. Donghae berdecak, tahu begitu ia tidak akan memberitahu Hyukjae jam berapa sekarang. Setelah sekian lama, Donghae baru bisa memeluk Hyukjae lagi dan semua kacau karena Donghae yang tidak sengaja memberitahu Hyukjae bahwa dia kesiangan.
"Mau mandi bersama?"
"Boleh, tapi setelah keluar dari kamar mandi kau hanya tinggal nama. Mau?"
"Tidak, terima kasih!"
Semakin hari ancaman Hyukjae semakin beragam, membuat Donghae bergidik ngeri. Sama sekali tidak ada romantis-romantisnya, padahal semalam mereka tidur sambil berpelukan. Donghae berdecih sebelum turun dari tempat tidurnya dan mandi di kamar mandi yang ada di lantai bawah. Hari ini sebaiknya tidak berdebat dan harus bersikap manis pada Hyukjae agar dapat kesempatan seperti kemarin, tentunya dengan mengungsikan anak-anak ke tempat yang jauh terlebih dahulu. Di hari pertama Donghae berusaha menyentuh Hyukjae, Jeno yang datang menganggu. Di hari kedua ada Haru yang tiba-tiba ingin tidur dengan Hyukjae, jika dibiarkan terus-menerus maka di hari ketiga Jisung yang akan datang dan Donghae akan mendapat payung cantik karena tiga kali gagal menyentuh Hyukjae. Tidak bisa dibiarkan! Malam ini Donghae harus bisa menyentuh Hyukjae! Jika sampai gagal lagi, maka bisa di pastikan Donghae akan benar-benar karatan.
Kenapa kedengarannya horror sekali?
"Pagi, dad!"
"Pagi, buddy."
Donghae menyambut sapaan Jisung yang sedang bermain game di ruang tengah bersama Jeno dengan lesu. Pagi ini ia tidak bertenaga sama sekali karena semalam, untuk kedua kalinya ia gagal menyentuh Hyukjae! Donghae menatap tajam Haru yang sedang di pangku Hyukjae, rambut panjangnya sedang di sisir oleh Hyukjae dan diikat menjadi dua bagian. Merasa di perhatikan oleh ayahnya, gadis kecil itu memeletkan lidahnya ke arah ayahnya. Haru terkikik senang saat melihat reaksi ayahnya yang tampak semakin kesal.
"Kenapa, sayang? Jangan banyak bergerak, mom belum selesai mengikat rambutmu."
"Daddy marah."
"Kenapa marah?"
Hyukjae mengalihkan pandangannya pada Donghae yang duduk di sofa dengan mata yang masih menatap Haru dengan tajam.
"Daddy iri karena tidak bisa memeluk mom seperti ini."
Melihat wajah ayahnya yang kusut, Haru semakin senang menganggu ayahnya. Donghae tidak percaya, kenapa bisa ia menciptakan monster evil seperti Haru? Dia bahkan meledek ayahnya dengan sengaja mengecup bibir merah Hyukjae dan memeluknya dengan erat. Apa-apaan ini? Ia bersaing dengan anaknya sendiri untuk mendapatkan perhatian Hyukjae? Kepala Donghae tiba-tiba bedenyut sakit dan lehernya seperti terkilir saat melihat betapa menyebalkannya wajah Haru yang sedang meledeknya itu.
"Lee Donghae, matamu bisa mengeluarkan laser jika terus melotot seperti itu! Kau membuat Haru takut."
"Takut? Dia meledekku!"
"Kau mau berdebat pagi-pagi?"
"Dari pada berdebat pagi-pagi, lebih baik kita making out pagi-pagi. Bagaimana?"
"Tidak bisakah kau tidak berbicara hal-hal seperti itu depan anak-anak?"
"Bicara apa?"
Haru menyela pembicaraan orangtuanya, ia melihat Hyukjae dan Donghae bergantian. Rasa penasarannya sangat besar, jadi ia selalu ingin tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Donghae dan Hyukjae. Terlebih ketika ia mendengar sesuatu yang asing, ia semakin ingin tahu.
"Haru, sana main dengan Oppa dan Jisung. Mom akan memotong buah-buahan untukmu."
"Okay!"
Setelah Haru turun dari pangkuannya, Hyukjae menyeret Donghae ke kamar terdekat karena tidak mungkin mereka berdebat di hadapan anak-anak.
"Harus berapa kali aku mengatakan padamu agar menjaga cara bicaramu di depan anak-anak? Kau tidak tahu? Rasa penasaran anak-anak sangat besar dan apa yang mereka dengar dari orangtuanya akan terus mereka ingat. Kau ingin anak-anak mengatakan hal-hal mesum?"
"Semua tidak akan seperti ini jika kau mau kembali padaku dan berhenti menolak saat akan kusentuh."
"Memangnya aku pernah menolakmu?"
"Ah, jadi kau tidak menolak?"
"M—maksudku—aku—bukan begitu!"
"Benarkah?
Donghae maju selangkah demi selangkah untuk memojokan Hyukjae ke pintu. Lagi-lagi, Donghae menunjukan seringaian berbahayanya pada Hyukjae. Pandangan matanya fokus pada satu titik, yaitu bibir merah Hyukjae. Dan, oh! Leher putihnya yang terekspose juga menggoda Donghae. Pagi-pagi begini, Hyukjae hanya menggunakan kaos tipis berwarna hitam dengan kerah yang rendah, menampilkan leher jenjang Hyukjae yang putih. Sebelum mengecup leher putih Hyukjae, Donghae mengelusnya terlebih dahulu agar Hyukjae melenguh sexy dan membangkitkan gairahnya.
"Mom! Buahnya mana?"
Lagi-lagi gagal! Donghae akan benar-benar mendapat payung cantik! Suasana sudah mendukung dan lagi-lagi gadis kecil itu menganggu acaranya! Haru menggedor pintu dengan brutal seolah-olah akan meruntuhkannya. Dari mana Haru tahu ayahnya ada di kamar? Bukankah tadi matanya fokus ke layar televisi? Donghae memijat pelipisnya yang tiba-tiba berkedut, sakit. Kehadiran anak-anak benar-benar membuatnya gila.
"Aku harus menyiapkan buah untuk anak-anak."
"Aku bisa gila!"
"Mau bagaimana lagi?"
Hyukjae mengendikan bahunya acuh sebelum mentertawakan Donghae yang tampak sangat menderita itu.
Aku benar-benar bisa gila!
.
.
ooODEOoo
Akhir pekan yang di tunggu-tunggu datang juga! Setelah seminggu direcoki oleh anak-anak,dan akhirnya! Akhirnya Donghae bisa mengungsikan anak-anak di tempat yang jauh! Setelah tiga kali gagal menyentuh Hyukjae, Donghae membawa anak-anak ke rumah Donghwa. Usaha keempat kalinya tidak boleh gagal atau Donghae akan benar-benar karatan dan masuk rumah sakit karena darah tinggi. Semoga dengan begini, acaranya dengan Hyukjae tidak gagal lagi jadi ia tidak perlu masuk rumah sakit karena darah tinggi.
"Kalian bertiga jangan nakal. Kalau ada apa-apa telepon mom, okay?"
"Tidak! Kalau ada apa-apa bilang pada paman Donghwa dan jangan menelepon ke rumah sampai besok pagi. Dad akan menjemput kalian besok pagi."
"Kenapa? Dad mau olahraga dengan mom?"
Donghwa memelototi Donghae, ia benar-benar terkejut karena Haru mengucapkan kata yang frontal dan tidak senonoh untuk anak seusianya. Sebenarnya bagaimana cara Donghae mendidik anak perempuannya? Kenapa Haru bisa berkata sevulgar itu? Lee Donghae benar-benar cari mati!
"Kau gila? Kenapa mengajarkan anak-anak yang tidak-tidak?"
Tanpa basa-basi lagi, Donghwa memiting leher Donghae setelah membawa anak-anak masuk ke dalam. Tidak bisa dibiarkan! Bagaimana bisa otak polos keponakannya tercemar karena Donghae yang tidak bisa menjaga kata-katanya di depan anak-anak!
"Aku sudah sering memberitahunya agar tidak bicara yang aneh-aneh di depan anak-anak tapi dia terus melakukannya, Hyung."
Hyukjae seperti senang mengompori Donghwa dan membuat Donghae semakin menderita karena Donghwa memiting lehernya lebih kuat lagi.
"Hyung, sakit! Aku bisa mati! Hyung, lepaskan! Leherku terkilir!"
"Sekali lagi aku mendengar Haru, Jeno atau Jisung berkata tidak senonoh, maka siap-siap saja kau masuk liang lahat lebih cepat!"
"Sakit, Hyung!"
Donghae memegangi lehernya yang berdenyut sakit, tidak di sangka tenaga kakaknya masih sama seperti dulu.
"Kalau begitu, kami pamit pulang. Aku titip anak-anak, maaf merepotkanmu Hyung."
"Pulanglah, pastikan kalian menyelesaikan masalah kalian dengan baik. Dan Hyukjae, pastikan mulut anak ini tidak mengucapkan kata-kata aneh di depan anak-anak."
"Pasti, Hyung."
Setelah berpamitan pada Donghwa, Hyukjae tidak bisa berhenti mentertawakan Donghae yang meringis kesakitan sambil memegangi lehernya. Donghae bahkan tidak bisa menoleh dengan benar karena rasa sakit yang berlebihan di lehernya.
"Sakit?"
"Apa penting bertanya seperti itu? Jelas saja sakit! Semua gara-gara kau!"
"Kenapa kau selalu menyalahkan aku? Apa menyalahkanku adalah hobimu sekarang?"
"Hyukjae sayang, aku akan benar-benar mati di sini kalau kau terus mengajakku berdebat!"
Meski lehernya sedang sakit, Donghae tetap berusaha menoleh pada Hyukjae. Ia ingin Hyukjae berhenti mengajaknya berdebat sebelum mereka mengalami kecelakaan lalu lintas. Hyukjae hanya terkekeh melihat Donghae meringis kesakitan, kini Donghae hanya mampu fokus ke jalanan dan tidak bisa menoleh dengan benar.
"Mau sampai kapan kau tidur? Sudah sampai!"
Donghae membangunkan Hyukjae yang terlelap sepanjang jalan tadi, membuat Donghae semakin kesal saja. Seharusnya Hyukjae menghibur Donghae di jalan, bukannya malah tertidur dan membiarkan Donghae kesakitan sendiri sepanjang jalan.
"Galak sekali!"
"Semua karena leherku sakit! Cepat ambilkan kompres!"
Sambil menunggu Hyukjae kembali dari dapur, Donghae mengistirahatkan tubuhnya di karpet. Ia berbaring di depan televisi sambil meresapi rasa sakit di lehernya, kakaknya benar-benar tidak tahu diri! Kenapa memiting lehernya di saat yang tidak tepat? Bagaimana kalau Donghae gagal lagi menyentuh Hyukjae karena lehernya yang sakit?
"Apa rasanya sesakit itu? Berlebihan sekali. Jangan berbaring, duduk saja jadi aku bisa mengompres lehermu."
Donghae diam saja saat Hyukjae meledeknya, ia tidak mau buang-buang tenaga hanya untuk berdebat dengan Hyukjae. Donghae memejamkan matanya saat Hyukjae menempelkan handuk hangat di lehernya. Rasanya hangat dan nyaman, di tambah hembusan nafas Hyukjae yang menyapa tengkuknya membuat Donghae semakin rileks dan perlahan rasa sakit itu mulai menghilang. Entah sengaja atau tidak, Hyukjae mulai menyentuh leher Donghae dengan telapak tangannya. Donghae merasakan handuk hangat itu tidak lagi menempel dilehernya dan digantikan dengan elusan telapak tangan Hyukjae yang sensual. Apa ini? Hyukjae menggodanya? Menantangnya?
Challengeaccepted!
Jemari Donghae mencengkram pergelangan Hyukjae dan tanpa basa-basi lagi ia menarik Hyukjae agar duduk di pangkuannya. Donghae menyandarkan punggungnya di sofa belakangnya sambil terus menatap Hyukjae dengan seduktif, suasana seperti ini sulit sekali didapatkan saat ada anak-anak di sekitar mereka.
"Apa yang kau lakukan, Hyukjae?"
"Membuatmu rileks, kau bilang lehermu sakit."
"Damn! Why are you act like innocent? You tease me, huh? Let's do it like usual, rough and sexy!"
"Do it!"
Tidak ada yang lebih sexy dari Hyukjae saat ini! Apa lagi saat Hyukjae bertingkah sok polos tapi jemarinya tidak berhenti menggerayangi kemeja Donghae. Lihat? Setelah anak-anak tidak ada, Hyukjae menjadi sosok yang berbeda. Donghae tersenyum puas, akhirnya ia bisa melihat sisi Hyukjae yang satu ini. Sisi dimana Hyukjae menjadi lebih agresif. Dengan senang hati, Donghae melucuti semua kain yang menempel di tubuh Hyukjae dan membaringkannya di atas karpet bulu. Bibir tipis Donghae mulai bergerilya di sekitar leher Hyukjae, mengecupinya dengan perlahan tanpa melewatkan sesentipun.
"I miss you so bad! I miss everything about you, especially your moan."
"Ngh..."
Hyukjae tidak bisa menjawab kalimat Donghae, ia hanya sibuk mendesahkan nama Donghae dan menarik rambutnya, memberikan reaksi pada setiap cumbuan Donghae di bibir dan lehernya. Bibir tipis Donghae semakin turun kebawah, menyusuri setiap lekukan tubuh Hyukjae yang sempurna dengan lidah basahnya. Bagaimana bisa tubuh Hyukjae masih seindah dulu? Masih seputih dan semulus dulu.
"Just do it! Don't tease me."
"Bad Hyukjae! Impatient."
Semua yang dilakukan Donghae hanya membuat Hyukjae semakin terbuai dan melupakan daratan. Sentuhannya, kecupannya dan bisikannya membuat Hyukjae ingin lebih dan lebih lagi. Selama sepuluh tahun Hyukjae tidak merasakan sensasi sehebat ini, sensasi yang hanya mampu diberikan Donghae seorang.
"Ugh! So good!"
Erangan Hyukjae menandakan bahwa sesuatu telah memasukinya dan membuatnya sesak. Sakit tapi menyenangkan, tidak ada yang bisa memberinya sensasi sehebat ini selain Donghae. Sepanjang malam, Hyukjae di buat mendesah dan menjerit oleh Donghae. Tidak ada istirahat, mereka melakukannya terus-menerus seolah tidak ada hari esok. Setidaknya, mereka harus memanfaatkan momen ini karena mereka tidak bisa mendapatkan momen seperti ini saat ada anak-anak di sekitar mereka.
"Lelah?"
Nafas keduanya memburu, entah sudah berapa kali mereka mencapai puncak. Penampilan Hyukjae sudah tidak karuan, rambut yang lepek dan berantakan serata mata yang sudah sulit terbuka dengan lebar.
"No! Lakukan lagi."
"Okay, aku tidak akan berhenti meski kau memohon padaku."
Dan akhirnya, mereka melakukannya seharian penuh sampai keduanya benar-benar merasa kelelahan.
.
.
Berantakan!
Hanya satu kata itu yang bisa mendeskripsikan suasana rumah Hyukjae sekarang. Semalam, pasangan fenomenal itu mengacaukan seisi rumah dengan melakukannya di setiap sudut rumah tanpa henti dan berakhir di kamar Haru. Baik Donghae maupun Hyukjae sama-sama tidak mengerti kenapa mereka bisa berakhir di kamar Haru? Yang mereka ingat hanyalah bagaimana liarnya mereka tadi malam hingga tidak bisa membedakan mana kamar anak-anak dan mana kamar mereka.
"Donghae, bereskan kamar Haru sebelum kita menjemput anak-anak."
"Kenapa aku?"
"Kau membuatku sulit bergerak! Cepat mandi dan bereskan kamar ini!"
"Baiklah."
Hyukjae tersenyum malu-malu setelah Donghae masuk ke dalam kamar mandi, ia memegangi perutnya dan merasakan sensasi penuh yang luar biasa menyenangkan! Masih dengan senyum yang terukir di wajah manisnya, Hyukjae kembali membaringkan dirinya di tempat tidur sambil membayangkan kejadian semalam. Malu sekali, tapi rasanya sungguh luar biasa! Ah, Hyukjae jadi bertingkah seperti saat mereka melakukannya untuk pertama kalinya dulu.
"Kenapa senyum-senyum? Mandi sana!"
Suara Donghae membuyarkan lamunan Hyukjae. Hyukjae berdecih sambil memandangi Donghae dari atas ke bawah.
God, damn it! Lee Donghae so freaking hot!
"Kau pikir aku bisa turun sendiri? Gendong aku sampai ke kamar mandi!"
Suasana seperti ini rasanya seperti bulan madu, hanya ada mereka berdua tanpa anak-anak yang biasa mengganggu acara mereka. Begitu keluar dari kamar mandi, Hyukjae melihat Donghae sedang membereskan kamar Haru yang berantakan karena ulah mereka berdua. Melihat Donghae yang begitu serius dengan pekerjaannya, membuat Hyukjae tersenyum. Apa yang dilihatnya sekarang adalah bagian dari impiannya dulu. Tapi kemudian, senyum itu hilang dari wajah Hyukjae saat tiba-tiba kenyataan menampar Hyukjae dengan sangat keras. Kenyataan bahwa hubungan mereka saat ini adalah hubungan tanpa status yang tidak jelas. Hyukjae sendiri tidak mengerti, kenapa ia mau tidur dengan Donghae padahal status hubungan mereka tidak jelas. Di bilang kekasih, bukan. Karena Hyukjae belum memberi jawaban yang pasti pada Donghae. Di bilang teman biasa juga bukan, karena mereka melakukan hal-hal yang tidak dilakukan teman biasa pada umumnya. Lalu apa? Hubungan macam apa ini?
"Aku sudah membereskan kamar Haru dan mengganti seprainya dengan yang baru. Kenapa diam saja? Cepat pakai baju, kita harus menjemput anak-anak sebelum mereka meruntuhkan rumah Donghwa Hyung. Aku tidak bisa menggarapmu sekarang meskipun aku tergoda, karena anak-anak sedang menunggu."
Oh benar, Hyukjae belum beranjak dari tempatnya. Ia masih berdiri di depan pintu kamar mandi sambil memperhatikan Donghae dan lupa kalau ia harus buru-buru karena kemarin mereka sudah berjanji pada anak-anak akan menjemput mereka pagi-pagi. Tapi hei! Hyukjae tidak bermaksud menggoda Donghae!
"Memangnya aku bilang sesuatu? Dasar sialan!"
"Lalu kenapa diam saja di depan pintu kamar mandi dan tidak buru-buru memakai baju? Mengundangku? Menggodaku?"
"Auh, kau memang brengsek!"
"Si brengsek yang membuat Hyukjae mendesah semalaman."
"Kau—ah! Sudahlah!"
Pada akhirnya, mereka tetap tidak bisa akur dan terus berdebat soal hal-hal yang sepele. Entah itu menghabiskan malam yang romantis atau panas, akhirnya mereka akan tetap berdebat dan bertengkar konyol. Apa? Bulan madu? Hyukjae menarik kembali kata-katanya barusan. Bulan madu macam apa yang diakhiri dengan berdebat setelah saling mendesahkan nama masing-masing? Hyukjae mengumpat dalam hati sambil memakai baju karena tidak bisa membalas argumen Donghae, bagaimana mau di balas? Yang dikatakannya memang benar. Hyukjae selalu mengatainya brengsek dan sialan tapi semalam ia mendesahkan nama Donghae tanpa henti. Memalukan!
"Nanti sore ulangtahunnya Jeongin, kan? Mau beli hadiah sekalian? Kita beli sesuatu di Hyundai department store, jadi kita bisa dapat diskon dari Siwon."
"Terserah."
Sebenarnya Hyukjae lupa soal ulangtahun Jeongin, tapi ia terlalu gengsi untuk bereaksi karena masih marah pada Donghae. Hyukjae mengalihkan pandangannya ke jendela dan tidak mau menatap Donghae sedikitpun, argumen saat di rumah tadi membuat suasana hatinya jadi buruk. Donghae sialan itu menghancurkan imajinasinya soal bulan madu yang romantis!
"Kali ini kau marah kenapa lagi?"
Pertanyaan retoris! Hyukjae benci mendengarnya, untuk apa bertanya jika Donghae sudah tahu jawabannya! Hyukjae tidak menjawab pertanyaan Donghae dan tetap fokus menatap keluar jendela.
"Hyukjae?"
Meskipun Donghae terus-terusan memanggil namanya dan mulai menggerayangi pahanya, Hyukjae tetap tidak bergeming dan berpura-pura tidak merasakan apapun meskipun sebenarnya ia mulai berdebar. Saat lampu merah, tangan Donghae berhenti menggerayangi pahanya. Tapi sialnya, Donghae menarik tengkuk Hyukjae dengan paksa dan melumatnya sebentar karena lampu sudah berubah menjadi hijau.
"Kau sudah gila?"
"Jangan marah terus. Hari ini kita jangan berdebat, okay? Di pesta nanti akan ada member yang lain dan anak-anak, jadi kita usahakan untuk tidak berdebat."
"Memangnya aku sudah gila? Kalau kau tidak memulainya, kita tidak akan berdebat terus-menerus!"
"Dad! Mom!"
Hyukjae menghentikan kalimatnya saat mendengar suara anak-anak sambil menggedor-gedor kaca jendela mobil mereka. Sudah sampai rupanya, gara-gara sibuk berdebat dengan Donghae, Hyukjae sampai tidak menyadari mereka sudah memasuki pekarangan rumah Donghwa.
"Kalian telat! Katanya pagi-pagi ini sudah mau siang!"
Jisung merajuk sambil menggoyang-goyangkan tangan Hyukjae, bocah itu tidak suka menunggu karena menunggu adalah pekerjaan yang membosankan.
"Maaf, jalanan macet. Sebagai permintaan maaf, mom akan mengajak kalian bertiga ke Hyundai department store! Kalian boleh membeli apapun yang kalian mau!"
"Wah, memangnya boleh?"
Haru memekik kegirangan sambil melompat-lompat. Sejak ia sampai di Korea, ini adalah acara belanja pertamanya dan Haru tidak sabar untuk menguras habis isi dompet ayahnya. Sementara Jeno hanya tersenyum di pangkuan ayahnya, reaksinya datar tidak seperti Haru dan Jisung yang mulai melompat-lompat kegirangan.
"Hari ini, kalian boleh menguras isi dompet ayah kalian!"
"Kenapa?"
Jisung memandangi Hyukjae, bingung. Biasanya, Hyukjae selalu menyuruh Jisung untuk berhemat tapi kali ini Jisung diperbolehkan untuk membeli apapun yang ia mau. Hari yang istimewa!
"Karena, kita akan datang ke ulangtahun seseorang. Jadi, pastikan kalian memilih hadiah yang bagus dan beli mainan yang kalian mau sesuka kalian."
Mata Hyukjae memincing, ia bahagia sekali melihat raut wajah Donghae yang mulai pucat karena sebentar lagi tagihan credit cardnya akan menggunung. Balas dendam, sukses! Hyukjae memang tidak bisa membalas kata-kata Donghae tadi pagi, tapi ia bisa membalas Donghae dengan memanfaatkan anak-anak.
Habislah kau hari ini, Lee Donghae!
.
.
TBC
Hai~~~
NC...saya deg-degan ngetiknya...setiap sepuluh menit sekali liat kanan-kiri takut ada yg baca. saya ngetik di kantor jadi bener-bener was-was pas ngetik bagian NCnya hahahah. saya sengaja gak nulis NCnya vulgar krn ini bukan fanfic pwp ^^ genrenya family jadi saya mendeskripsikannya seperlunya saja ^^ tapi meskipun begitu, saya tetep naikin ratenya ke M krn menurut saya ini udh bukan bacaan anak 15th kebawah ^^ saya gak tau next chap bakal ada NC yg full apa ngga...tergantung situasinya ya heheh..
okay, karena saya ada waktu luang saya akan balas review di sini krn ada banyak pertanyaan dan ada yg minta di bales reviewnya heheh ^^
okay, here we go !
.
.
Q: jisung engga kaget apa tau ayahnya suka sama paman2? kan berarti dia 'gay'. Apa masih terlalu kecil umur jisung jadi gapaham gituan?
A: Yap! krn Jisung msh terlalu kecil utk memahami apa kata ayahnya ^^
.
Q: aku mohon semoga gak ada org ke3 lagi di antara mereka.
A: orang ketiga gak bakalan ada, di sini saya bakal fokus di cerita masa lalu mereka. kenapa mereka tiba2 pisah dan alasan Donghae kenapa dia ninggalin Hyukjae. ^^ orang ketiganya paling numpang lewat aja gak akan ngusik cerita inti ^^
.
Q: ini enggak angst kan?
A: ngga ini cerita fluffy sampe end hahah...yah di kasih tau deh kkkkk ^^ ini fanfic permintaan maaf krn saya bikin readers nangis di fanfic Brother in Law heheh
.
Q: moment haehyuk lovey dovey dibanyakin lagi dong
A: yoi pasti hahah...makin kesini bakal di tambahin terus momen haehyuknya ^^
.
untuk kartikawaii, makasih loh review2nya di fanfic saya yg lain maaf saya gak bisa bales tapi saya baca kok ^^ makasih banyaaaaaaaaaakk ^^
untuk nanaxzzz, ini di bales review kamu sayang ^^ mau di bales apa? heheh thanyou ya reviewnya ^^ love you~~ ^^
untuk LeeHerieun, yay si kakak cantik yg selalu support ^^ makasih yaaaa ^^
.
untuk yang lainnya, kl mau di bales reviewnya, ngacung aja hehehe saya gak bisa bales semuanya krn keterbatasan waktu ^^ tapi saya selalu baca semua review kalian ^^ makasih ya...selalu jadi penyemangat loh ^^
last, Review? ^^
.
.
With Love,
Milkyta Lee
