REUNION

(EVERLASTING LOVE)

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae

Genre: Romance, Family, Friendship

WARNING!

BOYS LOVE

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANKYOU ^^


.

.

Whenever love went wrong, ours would still be strong because we'd have our own EVERLASTING LOVE

.

.


Sudah beberapa hari ini Hyukjae tidak berbicara dengan Donghae dan bersikap dingin padanya. Entah kenapa setelah insiden Sagan datang ke rumahnya, Hyukjae merasa tiba-tiba kesal saat melihat Donghae. Melihat wajahnya hanya membuat Hyukjae merasa marah dan merasa dikhianati, meski Hyukjae selalu berusaha bersikap seperti biasa tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya pada Donghae. Seharusnya, Donghae menceritakan secara detail bagaimana hubungan Donghae dan Sagan, bagaimana mereka menikah dan bagaimana mereka bercerai. Hyukjae tahu Donghae tidak pintar bicara, tapi apa susahnya berkata jujur? Kenapa tidak sejak awal Donghae mengatakan bahwa rumah tangganya dengan Sagan tidak harmonis itu sebabnya mereka bercerai. Dan soal kehamilan Sagan yang ternyata sebuah kesalahan, kenapa Donghae tidak menceritakan itu pada Hyukjae? Lihat, kalau diingat-ingat lagi ada banyak hal yang Donghae sembunyikan dari Hyukjae itu sebabnya ia marah dan merasa kesal tiap kali berdekatan dengan Donghae. Bukan karena Hyukjae membencinya, Hyukjae hanya merasa kecewa karena Donghae tidak jujur padanya. Kalau saja Donghae berkata jujur sejak awal, mungkin Hyukjae tidak akan merasa kecewa seperti ini.

Jujur saja, kalaupun Donghae menceritakan kejadian yang sebenarnya dan bicara jujur soal hubungannya dengan Sagan, Hyukjae tidak akan marah. Meski kecewa, Hyukjae akan berusaha mengerti dan memaklumi. Tapi Donghae malah berbohong dan menutupi kejadian sebenarnya, justru itu yang membuat Hyukjae marah dan tidak bisa mengerti kenapa Donghae bersikap seperti itu. Memangnya dia anak-anak? Remaja? Donghae sudah menjadi seorang ayah, seharusnya dia mulai berubah menjadi sedikit lebih dewasa. Seharusnya dia tahu, ada beberapa masalah yang memang harus diceritakan pada pasangan agar bisa mencari jalan keluarnya bersama.

"Bisa kita bicara?"

Hyukjae meletakan cangkir kopinya di meja makan dan melangkah pergi dari dapur begitu mendengar suara Donghae. Anak-anak baru saja berangkat ke sekolah di antar oleh Yoon Ahjumma dan hari ini Hyukjae tidak pergi ke studio, jadi hanya ada mereka berdua di rumah. Percuma, datang ke studio dan membuat lagu dengan suasana hati seperti ini hanya akan membuat karyanya hancur, bisa-bisa Hyukjae malah membuat lirik lagu yang isinya makian. Kalau hal itu sampai terjadi, maka tamatlah riwayatnya sebagai produser dan penulis lirik yang dijuluki jenius oleh musisi seantero Korea Selatan.

"Sudah seminggu kau mengabaikan aku. Kalau kau marah, aku lebih suka kau memaki dari pada diam seperti ini!"

Benar, seminggu sudah Hyukjae bersikap dingin pada Donghae dan hanya bicara seperlunya saat ada anak-anak di sekitar mereka. Tidak peduli mereka sedang bertengkar atau saling mengabaikan, Hyukjae tidak akan pernah menunjukan pertengkaran mereka di hadapan anak-anak karena Hyukjae tahu hal seperti itu tidak baik untuk perkembangan mental anak-anak.

Hari ini Hyukjae tidak mau berdebat dengan Donghae, ia terlalu lelah dan tidak tahu harus berkata apa. Rasa kecewanya terlalu mendominasi hingga membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Jadi, Hyukjae memutuskan untuk istirahat di kamar saja demi menghindari pertengkaran dengan Donghae. Sialnya, saat Hyukjae hendak penutup pintu kamarnya jemari Donghae memegangi kusen pintu dan hal itu jelas saja membuat jari Donghae terluka karena Hyukjae menutupnya dengan sekuat tenaga. Sial! Donghae benar-benar nekat! Kenapa dia malah melukai dirinya sendiri hanya demi berbicara dengan Hyukjae. Benar-benar kekanakan.

"Kau marah karena Sagan?"

Tanpa mempedulikan kelima jarinya yang terluka, Donghae terus menatap Hyukjae dan berusaha bicara padanya. Rasa sakit di kelima jarinya tidak sebanding dengan sakit di hatinya yang di abaikan Hyukjae selama berhari-hari. Ia mendorong pintu agar kembali terbuka lebar dan memperlihatkan sosok Hyukjae yang masih membuang muka, seperti tidak sudi melihatnya.

"Aku tidak marah karena Sagan atau siapapun itu, aku kecewa padamu karena kau tidak jujur padaku. Baiklah aku tahu, aku memang bukan siapa-siapa. Bukan kekasihmu atau istrimu atau apapun itu, aku hanya mantan kekasihmu. Tapi meski begitu, tidak bisakah kau jujur padaku dari awal soal hubunganmu dengan Sagan? Oh, apa jangan-jangan maksud dari perkataanmu waktu itu soal kau yang mengkhianatiku adalah ini? Kau berselingkuh? Kenapa kau tidak mengatakan alasanmu meninggalkanku karena kau selingkuh saat kita masih berhubungan? Benar begitu?"

"Bukan begitu! Aku bisa jelaskan semuanya!"

Di luar kesadarannya, Donghae membentak Hyukjae. Ini pertama kalinya Donghae membentak Hyukjae dan Hyukjae benar-benar kaget di bentak seperti itu. Rasa frustasi Donghae membuat emosinya tidak stabil hingga membuatnya berteriak sekencang itu pada Hyukjae. Tapi sungguh, Donghae tidak berniat membentaknya tadi. Donghae hanya ingin Hyukjae berhenti mengabaikannya dan mendengarkan dulu penjelasannya.

Hyukjae mundur beberapa langkah hingga kakinya menabrak tempat tidur, ia duduk dengan lemas di samping tempat tidur sambil menahan airmata, bentakan Donghae barusan membuatnya sedikit kaget. Bertahun-tahun saling kenal, baru kali ini Hyukjae mendengar bentakan Donghae yang sekencang itu. Kalau memang bukan seperti itu kejadiannya, Donghae tidak perlu membentaknya. Bagaimana Hyukjae mau mendengarkan Donghae, kalau Donghae tidak bisa bersikap tenang dan malah membentaknya seperti itu.

"Terserah. Pergilah, aku tidak mau melihatmu."

"Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku—aku hanya emosi dan merasa tertekan dengan perubahan sikapmu yang seperti ini. Seminggu yang lalu kau masih memelukku dan mengucapkan kata-kata yang menenangkan, lalu keesokan harinya kau tiba-tiba mengabaikan aku. Kau tahu betapa frustasinya aku karena perubahan sikapmu yang tiba-tiba itu? Kau membuatku gila!"

"Jadi sekarang kau menyalahkanku? Lagi-lagi kau menyalahkanku! Kenapa selalu aku yang salah dan kau yang benar? Kenapa?"

Donghae berjongkok di hadapan Hyukjae yang sedang duduk di pinggir tempat tidur, ia meraih kedua tangan Hyukjae dan menggenggamnya erat. Jika terus mengedepankan emosi, masalah mereka tidak akan selesai. Jangankan selesai, menjelaskan duduk perkaranya saja akan sulit jika mereka terus emosi dan saling menyalahkan.

"Aku tidak menyalahkanmu. Sebenarnya, aku ingin menjelaskannya padamu tapi aku sedang menunggu waktu yang tepat dan bukan seperti ini."

"Kalau begitu jelaskan sekarang. Beritahu aku alasanmu sekarang, jadi kita tidak perlu seperti ini lagi."

Donghae menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Akhirnya, ia tetap harus menjelaskan semuanya pada Hyukjae. Meskipun takut akan kehilangan Hyukjae, Donghae tetap harus menjelaskan kejadian yang sebenarnya agar hubungan mereka tidak terus salah paham. Jika hari ini Donghae kehilangan Hyukjae, maka Donghae akan berlapang dada menerima semua itu karena bagaimanapun semua ini adalah kesalahan Donghae dan Hyukjae berhak melakukan apapun padanya.

"Setelah aku menjelaskannya, mungkin kau akan semakin marah padaku dan berakhir meninggalkan aku. Tapi, meskipun begitu aku akan tetap menceritakan semuanya padamu."

Sekali lagi Donghae menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya, ia berdiri dari posisi berjongkoknya dan mengambil tempat duduk di samping Hyukjae. Mungkin ini akan jadi pembicaraan terakhir mereka, Donghae tidak tahu. Tapi yang jelas ia harus menceritakan semuanya pada Hyukjae dari awal hingga akhir.

"Kau benar, aku memang mengkhianatimu duluan. Aku memang si bodoh yang selalu berpikir pendek. Kau ingat? Tiga tahun setelah Super Junior bubar, kita mengadakan reuni pertama kita sebagai orang biasa."

Hyukjae mengangguk, ia ingat waktu itu mereka mengadakan reuni yang sayangnya tidak bisa dihadiri Hyukjae karena Hyukjae punya urusan yang lebih penting pada saat itu. Jika Hyukjae menghadiri acara reuni itu, maka Hyukjae akan berada dalam masalah besar.

Donghae melanjutkan kalimatnya, "Saat itu, aku punya kejutan besar untukmu. Kau selalu bilang padaku kalau kau ingin di lamar di depan semua member dan dinyanyikan lagu Marry U, kau juga bilang kalau kau ingin menikah di tempat yang indah dan hanya dihadiri oleh keluarga dan member Super Junior saja. Aku mengingat semua tentang impian pernikahanmu dan aku mulai sadar sudah saatnya aku meresmikan hubungan kita dengan sumpah sehidup semati. Aku ingin melakukan semua yang kau katakan, aku menyiapkan semuanya sesuai dengan impianmu tapi sayangnya kau tidak datang ke acara reuni itu dan tiba-tiba tidak bisa dihubungi sama sekali. Ponselmu tidak aktif dan kau juga tidak ada di rumah, aku mencarimu kemana-mana dengan perasaan panik dan kalang-kabut seperti orang gila. Sehari, dua hari, tiga hari kau tidak ada kabar. Di hari keempat aku masih mencarimu tapi tidak juga menemukanmu, akhirnya aku berakhir di sebuah bar dan mabuk-mabukan karena frustasi. Aku tidak peduli pada apapun, aku hanya terlalu frustasi karena tidak bisa menemukanmu dimanapun itu sebabnya aku minum sampai mabuk dan hangover."

Jantung Hyukjae berdegup kencang, ia merasa pembicaraan ini mulai membuatnya sesak. Sungguh, Hyukjae tidak tahu kelalaiannya menghubungi Donghae bisa membuat hubungannya dengan Donghae sehancur ini. Untuk yang satu itu, Hyukjae akui itu memang kesalahannya.

"Aku mabuk dan tidak sengaja bertemu dengan Lee Sagan."

Donghae melanjutkan kalimatnya dengan terputus-putus saat menyebutkan nama Sagan. Lee Sagan, akhirnya Hyukjae bisa mengingat wanita itu! Benar, wanita itu pernah membantu mereka membuat Music Video di London beberapa tahun silam. Ah, pantas wajahnya familiar. Tempo hari ketika dia datang, Hyukjae tidak bisa mengenalinya karena penampilannya sudah berubah banyak. Rambut pirang yang terlalu mencolok, make up serta pakaiannya yang sedikit berlebihan membuatnya sedikit berbeda.

"Aku bertemu dengannya dan menceritakan semua yang aku alami padanya. Aku yakin saat itu aku hanya mengobrol biasa dengannya, aku memang merasa nyaman saat bicara dengannya tapi bukan berarti aku ada perasaan padanya. Aku merasa nyaman karena dia mendengarkan semua keluh kesahku dengan sabar, tapi entah kenapa aku bisa berakhir di ranjang dengannya. Aku tidak mengingat apapun, bagaimana dan kenapa kami bisa sampai ke ranjang. Yang aku tahu, saat aku membuka mata di pagi hari, dia sudah ada disampingku dan itu membuatku sangat frustasi. Aku tidak bisa berpikir jernih saat itu, jadi aku meninggalkannya begitu saja tanpa minta maaf."

Kepala Hyukjae seperti baru saja tertimpa sesuatu yang berat, ia merasa pusing dan ingin menangis mendengar penjelasan Donghae soal hubungannya dengan Sagan.

"Sebulan setelah kejadian itu, Sagan tiba-tiba datang padaku menunjukan hasil pemeriksaan dokter yang menunjukan bahwa dia hamil dan di saat yang bersamaan aku mendapat kabar dari Youngwoon Hyung bahwa ternyata kau ada Ilsan bersama keluargamu karena ayahmu sakit, itu sebabnya kau tidak bisa dihubungi. Aku bingung dan hampir gila, kabar seperti datang di saat aku sudah melakukan kesalahan yang fatal! Kau harus tahu, betapa depresinya aku saat itu!"

Airmata Hyukjae turun begitu saja, membasahi kedua pipinya. Ya benar, saat itu Hyukjae memang berada di Ilsan karena ayahnya tiba-tiba sakit parah dan semua itu terjadi karena Hyukjae bersikeras menolak wanita pilihan ayahnya. Waktu itu, kedua orangtua Hyukjae menginginkan Hyukjae menikah dengan seorang wanita dan mengakhiri hubungannya dengan Donghae tapi cinta Hyukjae pada Donghae terlalu besar hingga dengan berani ia menolak keinginan kedua orangtuannya dan tetap berusaha mempertahankan hubungannya dengan Donghae meski ditentang oleh kedua orangtuanya. Karena tidak tahan dengan desakan orangtuanya, Hyukjae memilih pergi dari rumah dan menginap di rumah Junsu selama beberapa hari. Pikirannya kacau dan kalut itu sebabnya ia tidak menghubungi Donghae, ia bahkan tidak tahu ponselnya mati karena baterainya habis. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara mempertahankan hubungannya dengan Donghae, jadi ia tidak sempat memikirkan hal yang lain dan hanya fokus pada satu hal. Untuk yang satu itu, Hyukjae akui dirinya memang bersalah tapi apa yang dilakukan Donghae benar-benar keterlaluan! Menghamili orang di saat mereka masih berhubungan? Bukankah itu sudah kelewat batas?

"Aku berniat menolak Sagan pada saat itu, tapi dia terus datang padaku dan mendesakku untuk menikahinya. Dia bilang, dia tidak mau perutnya semakin membesar tanpa seorang suami, dia bahkan mengancam akan menggugurkan kandungannya jika aku tidak mau menikahinya. Aku memang brengsek, tapi aku tidak sekejam itu hingga tega membunuh janin tidak berdosa hanya karena keegoisanku. Aku tidak punya pilihan lain selain menikahinya dan terpaksa mengakhiri hubungan kita karena aku tidak mau menyakitimu lebih jauh lagi. Maafkan aku."

"Kau tahu kenapa aku tiba-tiba menghilang pada saat itu?"

"Karena ayahmu sakit?"

"Bukan. Aku menghilang karena aku sedang memperjuangkan cinta kita, aku pergi dari rumah saat aku tahu orangtuaku sedang berusaha memisahkan kita dan mencoba menikahkan aku dengan orang yang tidak aku cintai. Aku begitu mencintaimu hingga aku berani menentang kedua orangtuaku dan pergi meninggalkan rumah karena aku tidak mau berpisah denganmu, saat itu aku menginap di tempat Junsu dan tidak sempat menghubungimu karena aku terlalu kacau. Pikiranku tak tentu arah, aku tidak bisa berpikir jernih karena yang ada dipikiranku saat itu hanyalah bagaimana cara mempertahankan hubungan kita. Tapi ternyata usahaku sia-sia, setelah menentang kedua orangtuaku mati-matian demi mempertahankan hubungan kita, aku malah mendapat pesan singkat darimu yang isinya permintaan putus. Kau bilang, kita tidak bisa bersama lagi karena kita sudah tidak cocok satu sama lain."

Hyukjae menelan ludah, menahan mati-matian tangisnya yang akan pecah. Nafasnya pendek-pendek, ia benar-benar merasa sakit dan sesak di dadanya. Selama ini Hyukjae selalu menahan diri agar tidak terlalu emosional, tapi khusus hari ini ia menunjukan airmatanya dan menangis di hadapan Donghae.

"Kau tahu bagaimana hancurnya aku setelah menerima pesan singkat itu? Aku bahkan tidak bisa makan dan tidur dengan benar karena tidak bisa berhenti memikirkanmu. Kenapa di saat aku sedang berusaha mempertahankan hubungan kita, kau malah pergi meninggalkan aku? Bahkan kau hanya mengirimiku pesan singkat. Aku memang bersalah, aku akui itu. Aku tidak bisa menghubungimu, tapi tidak bisakah kau bersabar sebentar saja? Tidak bisakah kau menunggu sedikit lebih lama? Aku benar-benar hancur dan terpuruk karenamu!"

"Hyukjae—"

"Saat kau mengakhiri hubungan kita, aku pulang ke rumah dan mendapat kabar ayahku terkapar sakit di Ilsan jadi aku menyusulnya kesana. Aku tidak mau membuat ayahku semakin menderita, itu sebabnya aku menikahi gadis yang diinginkan ayah. Lagi pula, kau sudah pergi meninggalkan aku jadi untuk apa lagi memperjuangkan hubungan kita yang sudah tidak artinya lagi."

Hyukjae beranjak dari tempat tidur dan mengambil kotak obat di sudut ruangan, dengan telaten ia membalut jemari Donghae yang tadi terjepit pintu. Dasar bodoh! Hanya demi bebicara dengan Hyukjae, dia sampai melukai dirinya sendiri.

"Aku akan pergi ke rumah orangtuaku untuk menenangkan diri, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Pikiranku sedang kacau total, jadi aku tidak akan membuat keputusan apa-apa karena keputusan yang di buat saat marah tidak akan menghasilkan apa-apa. Jangan mencariku dengan alasan apapun, kita akan bertemu lagi saat perasaan kita sama-sama sudah tenang. Sementara aku pergi, tolong jaga anak-anak."

Setelah selesai membalut luka di tangan Donghae, Hyukjae mengambil kopernya dan memasukan pakaiannya dengan sembarangan ke dalam koper. Kali ini Hyukjae benar-benar butuh waktu sendiri untuk berpikir. Berpikir, akan di bawa kemana hubungan mereka setelah pertengkaran ini. Sementara itu Donghae hanya mampu terdiam sambil memandangi punggung Hyukjae yang bergetar.

Akankah kita kembali bersama seperti dulu?

.

.


Rumah tanpa Hyukjae adalah nereka! Ne-ra-ka! Donghae tidak bisa mengendalikan anak-anak dan itu membuatnya hampir gila! Baru tiga hari Hyukjae pergi tapi Donghae merasa Hyukjae sudah pergi selama bertahun-tahun, rasa rindunya membuncah hingga membuatnya frustasi. Bangun tanpa wajah manis Hyukjae benar-benar terasa mimpi buruk yang berkepanjangan. Terlebih ketika Donghae bangun ia malah mendengar jeritan Haru atau tangisan Jisung, bukannya suara lembut Hyukjae atau belaian tangannya yang halus. Jika hal ini terus dibiarkan, Donghae bisa-bisa mati berdiri karena frustasi.

Pagi ini, Donghae memandikan Jeno dan Jisung karena Yoon Ahjumma sibuk di dapur membuat sarapan. Acara mandi mereka pun terasa seperti siksaan untuk Donghae, Jeno dan Jisung berlari kesana kemari sambil saling melemparkan mainan dan sesekali menyemprotkan air dari shower membuat sisi kamar mandi basah. Donghae mungkin menghabiskan waktu duapuluh menit hanya untuk memandikan Jeno dan Jisung, setelah selesai dengan anak laki-laki penderitaan Donghae masih belum selesai karena ia masih harus memandikan Haru dan siksaan kembali berlanjut. Gadis kecil itu tidak ada bedanya dengan anak laki-laki, dia menyiramkan air kemana-mana hingga membuat kacau seluruh isi kamar mandi dan yang jelas membuat Donghae ikut basah kuyup.

Ya Tuhan, inikah hukuman karena aku mengkhianati Hyukjae?

"Dad, tolong bawa mom pulang atau Haru akan pergi dari rumah!"

Donghae mendesah pelan. Itu adalah ancaman Haru yang kesekian kalinya, Donghae sudah bosan mendengarnya. Lagi pula, Haru mau minggat kemana? Memangnya dia tahu jalan? Atau punya kerabat di Korea selain rumah paman dan neneknya? Gadis kecilnya ini benar-benar bertingkah seperti aktris di drama.

"Memangnya Haru mau pergi kemana?"

"Ke kamar Oppa dan Jisung!"

Dang it! She's so adorable!

Kabur ke kamar kakaknya mana bisa di sebut pergi dari rumah, bukankah kamar kakaknya juga ada di dalam rumah? Donghae terkekeh mendengar jawaban gadis kecilnya, setidaknya di rumah yang terasa seperi neraka tanpa Hyukjae ini ia masih bisa tertawa karena tingkah anak-anak yang kadang sangat menggemaskan.

"Dad akan menjemputnya, dengan syarat Haru tidak boleh nakal dan memakan semua sayuran yang buat oleh Yoon Halmoni. Okay?"

"Hm, akan Haru pikirkan dulu soal itu."

Haru mengangkat bahunya dan berlalu begitu saja meninggalkan ayahnya yang sedang memutar bola matanya. Sayur? Hell no! Vegetables is Haru's number one enemy!

Donghae berdecih melihat tingkah anaknya, menggemaskan tapi sedikit menyebalkan. Dia keras kepala, sama seperti Donghae. Masih dalam keadaan yang basah kuyup, Donghae mendadak teringat pada Hyukjae yang entah sedang apa di rumah orangtuanya. Baru tiga hari tapi Donghae sudah sangat merindukannya, tapi dengan begini setidaknya Donghae masih bisa bernafas lega. Ya, setidaknya Hyukjae tidak langsung meninggalkannya dan justru memberi waktu untuk kembali merenungkan perbuatan mereka di masa lalu. Donghae mengerti, keputusan yang Hyukjae buat ini demi kebaikan mereka berdua agar lebih baik ke depannya dalam menjalani hubungan yang lebih serius. Pernikahan bukan hal yang main-main, itu sebabnya Donghae tidak mau gagal untuk kedua kalinya.

Terkadang, Youngwoon dan Jongwoon ada benarnya juga. Diam tidak menyelesaikan masalah. Seharusnya, sejak dulu Donghae tidak menutup-nutupi apapun dari Hyukjae. Apapun masalahnya, seharusnya dibicarakan dan di selesaikan bersama. Kita berbagi cinta, maka sudah seharusnya kita berbagi masalah dan mencari solusinya bersama.

"Kau mau sampai kapan duduk di situ? Kau bisa kena demam!"

Suara Yoon Ahjumma menyadarkan Donghae. Ah, benar! Donghae sudah duduk di kamar mandi berpuluh-puluh menit, melamun dengan baju yang basah kuyup. Sepertinya Donghae sudah tidak tahan lagi, ia benar-benar harus menjemput Hyukjae sekarang juga sebelum berubah jadi orang gila sungguhan. Apapun yang terjadi, Donghae tetap akan membawa Hyukjae pulang.

"Donghae-ssi! Ponselmu berdering."

Hyukjae kah?

Donghae melangkah terburu-buru dari kamar mandi, ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas dan—

Heechul-ee Hyung Calling.

Calon besan ternyata. Semangat Donghae merosot, ia pikir hari ini akan mendengar suara Hyukjae.

"Ada apa, Hyung?"

"Kau di rumah? Aku dan Junhui akan berkunjung ke sana. Calon istrimu yang merepotkan itu menyuruhku mengunjungi kalian dan melihat keadaan kalian. Kalian kenapa? Bertengkar? Hyukjae kabur dari rumah?"

"Aku di rumah, datanglah nanti aku jelaskan semuanya di rumah."

"Siapkan makanan! Kalau aku sampai dan tidak ada makanan, kau tahu apa yang akan aku lakukan padamu!"

"Apa?"

"Memakanmu, brengsek!"

"Auh, horror! Baiklah, aku tahu."

Ancaman Heechul adalah perintah tidak terbantahkan, ibu-ibu galak itu akan benar-benar memakan Donghae kalau Donghae tidak menyiapkan apa yang dia mau. Donghae meninggalkan ponselnya dan berganti pakaian, sial! Sepertinya Donghae mulai merasa tidak enak badan. Mungkin karena Donghae terlalu lama melamun di kamar mandi dalam keadaan basah kuyup.

"Donghae-ssi, Heechul-ssi sudah datang."

Datang? Secepat itu? Ah, seperti biasanya Kim Heechul bisa datang kapanpun dia mau. Baru saja menelepon dan sekarang sudah ada di dalam rumahnya. Kalau begitu, untuk apa repot-repot menelepon kalau ternyata sebenarnya Heechul sudah dalam perjalanan menuju rumahnya.

Orang aneh.

"Kau baru mandi?"

"Tidak, tadi memandikan Haru dan dia membuat kekacauan. Hangeng Hyung, mana?

"Kembali ke Beijing untuk mengurus kepindahan kami kesini. Setelah kupikir-pikir lagi, tinggal di Korea lebih nyaman. Lagi pula, Hangeng akan melanjutkan pekerjaannya di sini bekerja sama dengan Siwon."

"Oh, perusahaannya bergerak di bidang fashion, kan? Bekerja sama dengan Siwon akan menghasilkan banyak keuntungan, dia CEO yang sukses."

"Maka dari itu kami memutuskan pindah, lagi pula Junhui jadi bisa bertemu dengan calon suaminya setiap saat."

Di bahas lagi. Donghae tersenyum canggung saat mendengar Heechul membahas hubungan Jeno dan Junhui, mereka masih anak-anak apa perlu hubungan mereka di anggap serius? Saat besar nanti bagaimana kalau mereka jatuh cinta pada orang lain? Takdir siapa yang tahu. Lagi pula, cinta mereka sekarang ini hanya bisa di sebut cinta monyet, bukan hal yang seharusnya di anggap serius.

"Ngomong-ngomong, kau dan Hyukjae kenapa?"

"Sebentar."

Donghae memandangi Junhui yang masih duduk di samping ibunya, menyimak pembicaraan mereka. Pembicaraan mereka mungkin tidak baik di dengar anak-anak seusia Junhui.

"Junhui, sambil menunggu Jeno pulang sekolah kau bisa main di kamarnya dulu. Di sana ada konsol game terbaru milik Jeno, kau boleh memainkannya."

"Aku tidak menunggunya! Tapi, konsol game terbaru? Okay!"

Mata Junhui berbinar saat mendengar kata terbaru. Bagi Junhui, apapun yang terbaru selalu menarik minatnya. Tanpa bertanya lagi dimana letak kamar Jeno, ia sudah berlari ke lantai dua dengan penuh semangat.

"Dia benar-benar mirip denganmu."

"Tentu saja aku yang mengandung dan melahirkannya! Aku bahkan tersiksa selama sembilan bulan dan sekarang aku tidak bisa topless lagi untuk pemotretan karena ada garis melintang di perutku."

"Sudah tua masih mau topless? Apa yang mau di lihat?"

"Auh, kau memang brengsek! Jadi, kau dan Hyukjae kenapa? Dia sampai menyuruhku kemari untuk melihatmu dan anak-anak padahal aku di sini sedang liburan!"

Gaya bicara Heechul masih sama seperti dulu, santai tapi blak-blakan. Kehadiran Heechul sedikit memberi udara untuk Donghae karena akhirnya ada juga yang bisa di ajak bicara, setidaknya dengan bicara pada Heechul ia akan merasa lebih baik. Cara bicara Heechul memang sangat santai, tapi ia adalah teman terbaik untuk di ajak bicara. Apapun masalahnya, Heechul selalu memberi solusi atau paling tidak dia akan menjadi pendengar yang baik.

Donghae ingat saat dulu ia terjebak masalah dengan Sagan, Heechul adalah orang yang selalu ada di sampingnya dan mendengarkan keluh kesahnya. Heechul bahkan menginap beberapa hari di tempat Donghae, untuk sekedar menemani Donghae minum. Donghae juga ingat, saat itu Heechul sampai bertengkar dengan Hangeng karena Heechul terus bersama Donghae sampai lupa pulang ke Beijing.

"Aku bertengkar hebat dengannya, tapi aku lega karena aku sudah menceritakan semuanya pada Hyukjae. Hubungan kami penuh dengan kesalahpahaman karena kami berdua sama-sama memendam masalah. Hyukjae pergi ke rumah orangtuanya, dia bilang akan kembali setelah pikirannya tenang."

"Jadi?"

"Jadi, ya hubungan kami masih belum jelas. Hyukjae mungkin masih marah, tapi dia tidak memutuskan apa-apa karena dia bilang keputusan yang di ambil saat marah itu tidak relevan dan tidak akan menghasilkan apa-apa."

"Hyukjae jauh lebih dewasa dari sebelumnya, tidak bisakah kau seperti dia? Kau sudah tua, masih saja bertindak sembarangan dan keras kepala! Bodoh! Aku tidak tahu harus bicara apa, yang jelas aku berharap hubungan kalian kembali seperti semula karena Hyukjae sudah melakukan hal ekstrim demi mempertahankan hubungan kalian!"

"Hal apa?"

"Itu—aduh, mulutku! Kau tanyakan saja padanya nanti."

Hal apa lagi? Ah, kenapa Hyukjae suka sekali membuatnya takut dan cemas? Apa jangan-jangan Hyukjae mengancam orangtuanya demi mempertahankan hubungan mereka? Tapi setahu Donghae, Hyukjae bukan anak yang seperti itu. Jadi, tidak mungkin! Mungkin Heechul hanya melebih-lebihkan, dia memang seperti itu dari dulu. Hiperbola!

"Daddy!"

Donghae meirik jam tangannya saat melihat Jeno dan kedua adiknya berlarian ke arahnya. Oh, sudah pukul sebelas rupanya. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, rasanya baru tadi Donghae memandikan Haru dan sekarang dia sudah ada di hadapannya dengan wajah berseri-seri.

"Heechul Samchon! Datang dengan Junhui Hyung?"

Melihat Heechul duduk dengan elegan di ruang tengah, membuat Jeno kehilangan minat untuk menyapa ayahnya terlebih dahulu. Jeno yakin, Heechul pasti datang dengan pujaan hatinya dan itu membuat rasa lelah Jeno hilang entah kemana.

"Hm, dia menunggu di kamarmu. Uh, kau sama persis dengan ayahmu! Tapi aku harap kau tidak sebodoh ayahmu."

Tanpa melepaskan sepatunya, Jeno langsung melesat ke kamarnya diikuti oleh Haru dan Jisung yang tidak kalah antusias. Sementara Heechul dan anak-anak bermain di lantai dua, Donghae membereskan tas dan sepatu Jisung yang berserakan di ruang tengah. Seperti biasa, Donghae akan memeriksa isi tas anak-anaknya untuk mengeluarkan kotak bekal mereka. Tapi hari ini sepertinya ada yang aneh, Donghae hanya menemukan dua kotak bekal, ia tidak menemukan kotak bekal berwarna kuning milik Jisung. Di tangannya saat ini hanya ada kota bekal berwana merah muda dan biru, sementara yang kuning hilang.

Apa Jisung menghilangkannya? Ini pertama kalinya terjadi.

Donghae menghampiri Jisung ke kamarnya untuk menanyakan perihal kotak bekalnya yang hilang. Saat Donghae masuk, bocah itu sedang memandangi keluar jendela sambil senyum-senyum. Biasanya dia akan ikut heboh bersama Haru tapi hari ini dia memandangi keluar jendela dan betingkah aneh.

"Jisung."

"Ya?"

"Kotak bekalmu mana? Daddy tidak menemukannya di tasmu, kau menghilangkannya?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Janji tidak akan marah bila Jisung memberitahunya?"

"Tentu."

Jisung mendesah pelan sebelum memulai kalimatnya, mata sipitnya memandangi Donghae dengan serius.

Ada apa dengannya?

"Tadi ada murid baru di kelasku dan dia lupa membawa bekal makanan, jadi aku memberikannya. Oh, bahasa Koreanya juga aneh! Lebih aneh dari Jeno Hyung dan Haru Noona! Tapi dia manis, sama seperti Junhui Hyung."

Apa lagi ini? Jisung juga jatuh cinta? Ya Tuhan! Anak-anaknya masih terlalu kecil untuk jatuh cinta. Ada apa sebenarnya dengan anak-anaknya ini? Kenapa mereka mudah sekali jatuh cinta? Sekarang, jangan sampai Haru seperti Jisung atau Jeno. Bisa repot urusannya.

"Siapa namanya?"

"Sandeul! Cho Sandeul."

Donghae dan Heechul saling bertukar pandang.

Cho Sandeul? Jangan-jangan…

.

.


ooODEOoo


Tiga hari sudah Hyukjae meninggalkan rumah, ia mulai merindukan teriakan anak-anak. Di rumah orangtuanya sepi sekali, anak laki-laki Sora sudah masuk sekolah menengah jadi dia tidak banyak berceloteh seperti anak-anak di rumah. Hyukjae bosan, rutinitasnya selama tiga hari terasa sangat datar dan biasa-biasa saja. Baru tiga hari, tapi Hyukjae sudah merasa khawatir pada anak-anak karena biasanya anak-anak akan berubah menjadi sangat aktif saat Hyukjae tidak ada di rumah.

Apakah Donghae baik-baik saja?

Apakah anak-anak makan dengan benar?

Apakah mereka tidur dengan nyenyak?

Hanya segelintir pertanyaan itu yang terus berputar-putar di kepalanya. Sejujurnya, Hyukjae ingin sekali pulang dan bertemu dengan anak-anak tapi kemarahannya pada Donghae belum juga mereda jadi ia terpaksa menahan rindu pada anak-anak demi menghindari pertengkaran dengan Donghae. Biar saja mereka bertemu nanti, saat emosi mereka sama-sama sudah reda dan tidak ada lagi kemarahan yang tertinggal.

Malam ini Hyukjae tidak bisa tidur karena mendadak memikirkan Sagan, ia merasa sedikit simpati pada Sagan karena bagaimanapun dia dan Hyukjae sama-sama disakiti oleh orang yang sama. Bedanya, Hyukjae terus dihujani kata maaf dari orang itu sementara Sagan diabaikan olehnya. Hyukjae beranjak dari tempat tidurnya dan memakai jasnya, ia tidak tenang dan merasa harus menemui Sagan. Jika Donghae tidak mau meminta maaf padanya maka Hyukjae yang akan melakukannya. Mungkin tidak sepenuhnya minta maaf untuk Donghae, Hyukjae hanya akan menemuinya dan memberinya penjelasan tentang kejadian yang sebenarnya karena menurut Hyukjae, Sagan juga perlu tahu yang sebenarnya.

Mencari Sagan bukanlah hal yang sulit, Hyukjae hanya perlu menanyakannya pada beberapa rekannya di studio dan dalam waktu kurang dari duapuluh menit, ia sudah mendapatkan alamat hotel tempat Sagan menginap. Sagan adalah sutradara Music Video yang terkenal, temannya juga banyak di Korea jadi saat Hyukjae menanyakan keberadaan Sagan, ada banyak orang yang tahu dimana dia berada. Saat di perjalanan, Hyukjae sempat ragu dan dilema apakah ia harus benar-benar bertemu dengan Sagan dan bicara padanya? Atau biarkan saja Sagan terus salah paham? Ada begitu banyak pertanyaan berkecamuk di kepala Hyukjae, tapi setelah sampai di depan pintu kamar hotel Sagan, Hyukjae kembali yakin dirinya memang harus bicara pada Sagan dan menyelesaikan kesalahpahaman ini secepatnya. Egois dan mau menang sendiri, tidak ada gunanya.

"Kau? Mau apa kau kemari?"

"Bisa kita bicara di luar sebentar? Ada yang ingin aku bahas denganmu."

"Membahas soal kedatanganku ke rumahmu tempo hari? Lupakan, aku minta maaf karena sudah membuat keributan tapi aku tidak mau membahas itu lagi."

"Aku akan membahas soal kita."

"Kita?"

"Kau, aku dan Donghae."

Sagan tampak berpikir sejenak, tapi tak lama kemudian ia mengambil tasnya dan mengikuti langkah Hyukjae ke basement dan masuk ke mobilnya. Sepanjang perjalanan, mereka sama-sama bungkam karena tidak tahu mau bicara apa. Mereka sama-sama canggung dan tidak punya topik pembicaraan yang menarik. Lagi pula untuk apa mereka membicarakan hal menarik kalau pada akhirnya mereka akan bertengkar.

"Kita bicara di sini saja supaya nyaman. Kau tidak keberatan?"

Meluruskan kesalapahaman di kedai kecil pinggir jalan, boleh juga. Setidaknya jika hal-hal tidak diinginkan terjadi, mereka tidak perlu saling melempar piring dan gelas mahal. Mau saling berteriak dan memakipun tidak akan menjadi pusat perhatian, paling mereka hanya di usir oleh pemilik kedai. Sagan mengangguk setuju dan masuk ke dalam kedai kecil itu mendahului Hyukjae, ia juga memesan Soju untuk mereka berdua. Mengobrol tanpa ditemani segelas Soju, akan sangat hambar.

"Aku akan langsung ke point utama pembicaraan kita."

"Kau tidak minum dulu?"

"Sejak punya anak aku hampir tidak pernah minum lagi."

"Ayah yang baik."

"Well, kau bisa memanggilku ibu yang baik mulai sekarang."

"Terserah."

Hyukjae mendengus, wanita di hadapannya ini tampak tidak tertarik berbicara dengan Hyukjae. Meski begitu, Hyukjae tetap akan membicarakan masalah ini dengan Sagan karena Hyukjae yakin di balik wajahnya yang sok tegar itu Sagan pasti merasakan sakit yang sama dengan Hyukjae. Ayolah, mana ada wanita yang hatinya benar-benar sekuat baja? Kalau ada pun itu terdengar sangat mengerikan dan tidak masuk akal.

"Donghae adalah orang yang bodoh dalam berkata-kata, aku yakin kau juga pasti sudah tahu soal itu. Dia selalu bingung bagaimana mengungkapkan perasaannya pada orang lain, itu sebabnya banyak orang yang sering salah paham padanya. Aku di sini bukan datang untuk meminta maaf atas namanya, aku hanya ingin menjelaskan duduk perkara masalah kita bertiga."

Mendengar nada bicara Hyukjae yang semakin serius, Sagan meletakan gelasnya dan mulai menyimak kata-kata Hyukjae dengan seksama. Matanya menatap lurus ke arah Hyukjae, memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir Hyukjae.

"Dia tidak pernah punya niat untuk menyakiti siapapun. Kalau saja pada waktu itu aku tidak membuatnya cemas, kau tidak perlu terseret ke dalam masalah kami berdua. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, yang jelas Donghae tidak pernah punya niat untuk menyakitimu. Dia hanya terlalu bodoh untuk berkata-kata dan mengungkapkan sesuatu, dia diam bukan berarti tidak peduli. Saat dia diam, artinya dia sedang bingung dengan perasaannya sendiri dan tidak tahu cara menjelaskan bagaimana perasaannya. Jika dia memang berniat menyakitimu, dia tidak mungkin menikahimu dan mempertahankan rumah tangga kalian sampai empat tahun lamanya. Kau hanya terseret masalah kami berdua, kau pantas mendapatkan laki-laki yang lebih dari Donghae. Aku tidak akan memintamu untuk memaafkannya karena dia pantas kau benci, tapi aku harap rasa bencimu itu tidak membuatmu menutup hati pada orang yang mungkin mencintaimu dengan sepenuh hati."

Sagan berdecih, "Kau menyebalkan!"

Matanya mulai berkaca-kaca dan suaranya bergetar. Hyukjae diam memandangi Sagan, bingung. Ia tidak paham kenapa Sagan tersenyum sementara airmatanya mulai mengalir membasahi kedua pipinya.

"Kau sangat menyebalkan! Kau menemuiku hanya karena ingin membuat perasaanku lebih baik? Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Kenapa kau harus besikap baik padaku? Aku merebut kekasihmu dan kau masih baik padaku, kau bahkan berharap untuk kebahagiaanku. Dasar bodoh!"

"Apa maksudmu?"

"Sebenarnya aku tahu Donghae mabuk berat karena sedang bermasalah denganmu, aku juga tahu kau kabur dan menginap di rumah Junsu. Aku tahu semuanya tapi aku berpura-pura tidak tahu apa-apa dan menjadi pendengar yang baik untuknya saat dia mabuk."

Nafas Hyukjae tercekat, bagaimana bisa Sagan tahu soal itu? Seingatnya, hanya Junsu dan beberapa member Super Junior saja yang tahu masalah ini.

"Bagaimana kau tahu?"

"Aku dan Junsu sering datang ke bar yang sama. Saat dia mabuk, dia tidak sengaja menceritakan semua masalahmu padaku itu sebabnya aku tahu kenapa hubungan kalian jadi salah paham. Beberapa hari kemudian aku bertemu dengan Donghae di bar, dia dalam keadaan mabuk berat dan terus menyebut namamu. Aku benci mendengarnya memanggil namamu dengan menderita! Aku selalu menyukai dan mencintainya tapi di matanya hanya ada kau seorang, tidak ada ruang untuk orang lain! Karena itu, aku membawanya ke hotel dan memaksanya untuk meniduriku. Kupikir, dengan cara seperti itu aku bisa mendapatkannya. Tapi sial, dia tidak bergeming sedikitpun! Bahkan setelah dia tahu aku hamil, dia tetap bersikukuh tidak mau menikahiku karena dia hanya mencintaimu seorang. Aku harus mengancamnya dulu baru dia mau menikahiku, itupun dengan berbagai macam syarat yang membuatku terlihat rendah di matanya."

"Lee Sagan, kau—"

"Setelah melahirkan anaknya, aku pikir dia akan luluh dan bersedia menerimaku. Tapi apa? Dia malah semakin mengabaikan aku dan hanya peduli pada anaknya! Aku selalu berusaha jadi istri yang baik untuknya tapi dia terus menolak kehadiranku! Aku lelah diabaikan, maka dari itu aku pergi dari rumah dan menggugat cerai! Cinta kalian terlalu kuat untuk aku hancurkan, itu sebabnya aku menyerah. Kau harus tahu, aku tidak terseret ke dalam masalah kalian, tapi akulah penyebab masalah itu."

Hening.

Hanya terdengar sama-samar suara angin yang berhembus dan isakan kecil Sagan. Hyukjae mendadak merasa sakit kepala, penjelasan Sagan membuat Hyukjae semakin kalut dan tidak bisa berpikir jernih. Dunia seperti sedang mempermainkannya dan membuat kisah cinta Hyukjae terombang-ambing tak tentu arah.

"Jangan meninggalkannya, dia tidak salah apapun. Semua ini terjadi karena keegoisanku. Besok pagi aku akan berangkat ke California dengan calon suamiku, sampaikan salamku untuk anak-anak. Aku harap kau bisa menyelesaikan masalahmu dengan Donghae dan hidup bahagia dengannya. Maafkan aku."

Sagan pergi begitu saja meninggalkan Hyukjae dan pikirannya yang kacau balau. Jadi selama ini mereka bertengkar, memaki dan saling membenci tanpa tahu masalah yang sebenarnya? Hyukjae mendesah pelan, ia meneguk segelas Soju untuk sekedar meluruskan pikirannya.

Kita bertiga sama-sama bodoh…itu sebabnya kita bertiga terjebak di situasi seperti ini…

.

.


Pagi-pagi sekali Hyukjae sudah bangun, ia merasa sedikit berat di kepalanya. Ah, iya benar semalam ia minum sampai mabuk. Berawal dari satu gelas dan satu gelas berikutnya hingga akhirnya bergelas-gelas. Terbangun dalam keadaan yang pusing begini membuat Hyukjae sadar yang semalam itu bukanlah mimpi, semalam ia benar-benar menemui Sagan dan tabir misteri masalah mereka akhirnya terungkap semua. Hyukjae tidak mengerti, bagaimana bisa ia terjebak di situasi serumit ini? Hubungannya dengan Donghae sangat rumit dan banyak masalah. Tapi meskipun begitu, Hyukjae tidak ingin menyalahkan siapapun. Baginya, semua punya salah masing-masing dan itu sebabnya mereka terjebak di situasi yang rumit ini. Tiga orang bodoh yang terjebak di situasi rumit.

Hyukjae bangun, kemudian memeluk kedua lututnya. Menenggelamkan wajahnya di antara lututnya. Jadi bagaimana sekarang? Hyukjae bingung, akan bagaimana hubungannya dengan Donghae setelah ini. Haruskah berakhir saja? Atau haruskah di lanjutkan lagi? Kalau berakhir, mampukah Hyukjae hidup tanpa Donghae? Kalau berlanjut, akankah mereka berakhir dengan bahagia? Semua pertanyaan yang ada di benak Hyukjae hanya membuat kepalanya tambah sakit! Hyukjae tidak ingin memikirkannya, tapi pertanyaan itu terus muncul di dalam benaknya seolah menghantuinya.

"Mom!"

Suara yang sangat familiar itu menyapa gendang telinga Hyukjae dengan lembut. Suara gadis kecilnya, Haru. Hyukjae mengangkat kepalanya dan merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan Haru, betapa ia merindukan gadis kecilnya. Haru berlari dan langsung menerjang Hyukjae hingga membuat Hyukjae terjerembab ke kasur, tak lama Jeno dan Jisung datang bergabung dengan Haru untuk memeluknya dan menciuminya dengan sedikit brutal. Senyum Hyukjae terukir dengan manis, rasanya bahagia sekali bisa mendengar suara anak-anak lagi. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada memeluk dan mendengar suara anak-anaknya.

"Mom, Haru merindukan mom! Selama mom tidak ada, dad terus memaksa Haru makan sayur. Mom harus tahu betapa menderitanya Haru saat mom tidak ada!"

"Jeno hampir gila karena dad tidak bisa membaca dongeng dengan benar, mom."

"Jisung tidak mau tidur dengan dad lagi saat hujan, daddy lebih penakut dari Jisung!"

Tawa Hyukjae meledak begitu mendengar keluh kesah anak-anaknya, baru empat hari dan anak-anak sudah merasa menderita karena Donghae. Saat seperti ini adalah saat-saat yang paling dirindukan Hyukjae, saat dimana anak-anaknya bercerita soal apa yang mereka rasakan dan berceloteh soal ini dan itu.

"Hai."

Hyukjae mengalihkan pandangannya ke pintu dimana Donghae sedang berdiri di sana sambil bersandar pada kusen pintu dengan tangan yang terlipat di dada. Tidak ada reaksi apapun dari Hyukjae, ia hanya diam memandangi laki-laki yang sangat ia rindukan itu. Mata hazelnya, bibir tipisnya, suara lembutnya dan sorot matanya yang lembut. Hyukjae merindukan semua yang ada pada Donghae.

"Aku merindukan calon istriku."

Hyukjae tersenyum tipis tapi masih tetap diam, bahkan saat Donghae menghampirinya ke tempat tidur dan bergabung bersama anak-anak, Hyukjae diam saja dan membiarkan Donghae memeluknya. Laki-laki yang selama empat hari ini ia rindukan kini ada di hadapannya, berada dalam rengkuhannya dengan senyum hangat seperti biasanya. Ada satu hal yang baru Hyukjae sadari, cinta Donghae kepadanya tidak pernah berubah meskipun banyak hal buruk menimpa hubungan mereka berdua. Ruang di hati Donghae masih menjadi miliknya meski mereka pernah berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

"Bukankah aku bilang jangan datang menemuiku sampai aku sendiri yang pulang ke rumah?"

"Aku bilang, aku merindukanmu! Anak-anak juga."

"Keras kepala! Sudut bibirmu, kenapa?"

Sudut bibirnya? Donghae menyentuh sudut bibirnya dengan telunjuk dan ia langsung meringis begitu merasakan ada luka di sudut bibirnya. Sepertinya tadi baik-baik saja, kenapa baru terasa sakit setelah Hyukjae bertanya?

"Di hajar oleh ayahmu."

"Apa?"

"Aku di hajar karena aku bilang, aku akan menikahimu tidak peduli meski banyak yang akan menentang. Setelah berkata begitu aku di hajar sampai begini, tapi tidak masalah! Karena ayahmu bilang, sudah seharusnya aku menikahimu dan membuatmu bahagia. Sebagai ayah dia tidak membahagiakanmu, itu sebabnya dia memintaku untuk segera menikahimu karena akulah kebahagiaanmu."

"Oh ya Tuhan! Lihat dirimu, kenapa percaya diri sekali? Kau pikir aku sudah memaafkanmu? Kau pikir kau bisa mendapatkan aku dengan mudahnya?"

"Menantangku? Okay, baiklah!"

Tanpa pikir panjang, Donghae menerjang Hyukjae hingga posisinya kini berada di atas Hyukjae. Jelas saja hal itu mengundang kebingungan untuk ketiga anak di bawah umur yang sekarang sedang duduk di pinggir tempat tidur, memperhatikan mereka berdua. Jeno, Haru dan Jisung memandangi kedua orang dewasa di hadapan mereka dengan wajah bingung dan alis bertaut. Mau apa mereka?

"Kalian sedang apa?"

Donghae dan Hyukjae mengalihkan pandangan mereka pada Jeno yang memandangi mereka dengan alis berkerut. Ah, sial! Donghae baru sadar ada anak-anak di sini. Hormonnya jadi tidak terkontrol karena berhari-hari tidak bertemu Hyukjae, sampai-sampai ia hampir menyerang Hyukjae dan lupa dengan kehadiran anak-anak di antara mereka.

"Membuat adik untuk kalian."

Jawaban—sok—polos Donghae mengundang tatapan mematikan dari Hyukjae, ia langsung menendang Donghae agar menyingkir dari atas tubuhnya dan segera memberi penjelasan pada Jeno yang sekarang mulai penasaran dengan apa yang di katakan ayahnya barusan.

"Jangan dengarkan dad! Dia bohong!"

"Wah, adik baru? Tapi Haru dan Jisung sudah cukup merepotkan, Jeno belum mau punya adik lagi. Lain kali saja ya, mom?"

"Jeno sayang, bawa adik-adikmu keluar dan temui bibi Sora di meja makan. Kalian suka kue bukan? Bibi Sora pasti sedang membuat kue yang enak sekarang. Sana, cepat turun."

Tanpa di perintah dua kali, Jeno mengangguk dan membawa kedua adiknya keluar kamar. Setelah anak-anak keluar, tatapan mata Hyukjae yang tadi lembut berubah menjadi garang. Ia menatap sengit Donghae yang masih bergulingan di lantai sambil memegangi selangkangannya. Lee Donghae benar-benar tidak bisa dewasa.

"Kau sedang apa di situ? Bangun!"

"Kau—kau sungguh—kau menendang di tempat yang akurat, sayang. Auh, rasanya sakit hingga berdenyut."

Apa? Kenapa? Memangnya Hyukjae menendang apa? Salah siapa hilang kendali saat ada anak-anak di sekitar mereka. Lagi pula, Hyukjae belum memaafkannya kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti tidak terjadi apapun dan langsung menerjangnya?

"Salah sendiri!"

"Kau tidak termaafkan karena menendang sesuatu yang memberimu kenikmatan!"

Donghae kembali berdiri dan kembali menerjang Hyukjae. Kesempatan yang bagus karena sekarang tidak ada anak-anak di sekitar mereka, jadi Hyukjae tidak punya alasan untuk menolak sentuhannya kali ini.

"Mau apa?"

"Menggarapmu, aku sudah tidak tahan."

"Dasar brengsek! Kita baru saja bertengkar dan kau menginginkannya di saat seperti ini? Pergi kau!"

"Tidak, sebelum aku mendapatkanmu kembali! Let's have a quick sex."

"Sialan!"

.

.

TBC


Okay, akhirnya bisa update...baru sembuh~ YAY! ^^

Maaf ya kalau aneh atau ada typo...ngetik pas sakit dan baru post sekarang, tanpa di edit T_T

Oh, iya buat Hein-Zhouhee1015, makasih loh udah sempetin review meski lewat PM heheh maaf loh gak pernah di bales...tapi beneran deh makasih banyak udah di sempet-sempetin review ^^ love you~~ ^^

Readers yang lain juga maksih, makasih, makasih sudah sempet2in review...bener2 semangat buat saya...sampe lagi sakitpun saya ingin ngetik dan cepet2 post FF ini huhu *hugs* makasih juga yang selalu kasih saran...selalu di tampung dan di pakai bahan evaluasi ^^

Oke lah, saya gak akan banyak curhat untuk chapter ini..nunggu review kalian aja, jadi saya bisa evaluasi dimana kekurangan saya dan mencoba lebih baik lagi di chapter berikutnya...oh,biasanya sya cuma bikin FF 5chapter aja, tapi yang ini kayanya bakal lebih sedikit deh entahlah hahah gimana respon kalian terhadap FF ini aja ^^

Okay last, review please?

Thankyou and always love you guys~ !^^

.

.

With Love,

Milkyta Lee