REUNION
(EVERLASTING LOVE)
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance, Family, Friendship
WARNING!
BOYS LOVE
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
Whenever love went wrong, ours would still be strong because we'd have our own EVERLASTING LOVE
.
.
Sesi percintaan Donghae dan Hyukjae di ranjang masih juga belum berakhir, padahal matahari sudah menampakan wujudnya. Awalnya, Donghae hanya menginginkan quick morning sex tapi Hyukjae malah mengerang dan terus meminta. Donghae bisa apa? Kalau Hyukjae sudah meminta dengan wajah yang pasrah maka Donghae tidak akan bisa menolak. Apa yang dilakukan Donghae sekarang hanyalah memenuhi keinginan Hyukjae, yang terus mengerang keenakan.
Sudah hampir jam delapan pagi dan Donghae masih belum selesai menggarap tubuh porselen Hyukjae. Entah sudah berapa ronde mereka habiskan, yang jelas erangan dan lenguhan Hyukjae tidak sekeras saat mereka memulainya. Hyukjae hanya bisa memekik pelan saat titik terdalamnya tersentuh oleh milik Donghae yang tidak bisa di bilang kecil itu. Nafasnya mulai pendek-pendek dan mulai merasa kesulitan mendesah karena posisinya yang di himpit dalam keadaan telungkup.
"Kalau kau terus menyentuhnya, kita tidak akan berhenti dan—ngh! Di sana!"
"Selama kau masih mengerang aku tidak bisa berhenti, sayang."
"Kau yang membuatku mengerang! Oh, shit! You touch it again!"
"Berhenti mengomel dan desahkan namaku saja, sayang."
Entah akan sampai kapan mereka dalam posisi saling menindih, posisi mereka sudah berubah beberapa kali tapi pada akhirnya Donghae tetap mendominasi dan menindih tubuh Hyukjae. Sudah saatnya anak-anak untuk mandi namun Donghae masih bergerak maju mundur di atas tubuh Hyukjae. Well, sepertinya anak-anak akan kesiangan hari ini karena orangtua mereka sedang asik sendiri.
"Kau sungguh tidak akan berhenti?"
"Sekali lagi, sampai aku keluar."
"Lakukan dengan cepat!"
"Mana bisa cepat-cepat! Sensasinya tidak akan terasa! Kenapa kau terus mengajakku berdebat padahal kita sedang bercinta!"
"Kau menyalahkanku lagi?"
"Sayang, aku—aku—ugh, sampai!"
Bahkan ketika mereka bercinta pun, mereka masih berdebat dan tetap saling menyalahkan. Berkali-kali mereka bercinta dan berkali-kali pula mereka berdebat. Oh, ini adalah hari pertama Hyukjae pulang ke rumah dan Donghae sudah menggarapnya dengan brutal. Dengan segala bujuk rayu Donghae dan—sedikit—paksaan, akhirnya Hyukjae mau kembali ke rumah. Ah, Hyukjae bertingkah seperti istri yang sedang merajuk padahal sebenarnya tanpa di jemput Donghae pun ia sudah ingin pulang. Tapi bagi Hyukjae yang tidak pernah di perlakukan romantis oleh Donghae, terlalu mainstream kalau ia pulang sendiri. Hyukjae ingin Donghae datang menjemputnya, merayunya dan mengatakan kata-kata manis. Cheesy? Who's care? Hyukjae tidak mendapatkan semua itu dari Donghae karena terpisah selama sepuluh tahun! Meski usia mereka sudah tidak muda lagi, Hyukjae tetap ingin cinta mereka terus muda agar mereka terus saling mencintai dan tidak pernah bosan pada satu sama lain.
Hubungan Donghae dan Hyukjae mulai kembali membaik, kemarin Hyukjae sudah menceritakan semuanya pada Donghae tanpa terlewat satu katapun ia menyampaikan apa yang ia dengar dari Sagan. Donghae merasa menyesal pada Sagan tapi Donghae tidak bisa memaafkan perbuatan Sagan yang telah memporak-porandakan hubungannya dengan Hyukjae. Meski marah dan tidak bisa memaafkan semua perbuatan Sagan, Donghae tetap berterimakasih padanya karena telah melahirkan Jeno dan Haru. Tanpa adanya Sagan di kehidupan Donghae, maka tidak akan ada si kembar yang sekarang menjadi bagian penting dalam hidup Donghae.
Sekarang, yang bisa Donghae lakukan hanya berharap semoga Sagan bisa hidup lebih baik lagi setelah berpisah dengannya dan semoga yang kemarin itu adalah pertemuannya yang terakhir dengan Sagan. Jahat memang, tapi tidak bertemu satu sama lain adalah jalan yang terbaik agar kemarahan di hati Donghae tidak meledak dan semakin menjadi-jadi.
"Sedang memikirkan apa?"
Hyukjae membenahi posisinya dan bersandar di dada Donghae yang masih berbaring di tempat tidur, jarinya membentuk pola acak di dada Donghae. Akhirnya setelah entah berapa ronde, mereka berhenti juga dan mulai mengatur nafas masing-masing.
"Aku memikirkanmu yang masih belum memberiku jawaban."
"Jawaban apa?"
"Maukah kau kembali padaku dan menikah denganku?"
"Aku sudah kembali padamu, tapi soal menikah biar aku pikirkan dulu."
"Kau mempermainkan aku?"
"Sudahlah, aku tidak mau berdebat denganmu. Kita turun? Aku mau memasak untuk bekal anak-anak ke sekolah."
"Oh, benar! Ada yang ingin aku ceritakan padamu soal Jisung."
Tiba-tiba saja Donghae teringat pada kejadian kotak bekal Jisung yang hilang. Sebenarnya, bukan masalah hilangnya kotak bekal tapi mengenai nama anak yang di sebut Jisung waktu itu sangat familiar di telinga Donghae. Di banding Donghae, Hyukjae mungkin lebih tahu mengenai hal ini. Cho Sandeul, nama itu mengingatkan Donghae pada seseorang tapi ia tidak yakin apakah dugaannya benar atau itu hanya kebetulan saja.
"Ada apa?"
"Saat kau tidak ada di rumah, Jisung menghilangkan kotak bekalnya. Aku pikir dia meninggalkannya di sekolah tapi saat aku tanyakan padanya, dia bilang kotak itu dia berikan pada teman barunya yang tidak membawa bekal makanan."
"Lalu masalahnya dimana?"
"Nama anak itu, Cho Sandeul. Kau ingat? Kyuhyun sering mengatakan pada kita bahwa dia menyukai Sandeul dari grup B1A4 karena dia mirip dengan Sungmin Hyung dan itu juga yang membuat Kyuhyun bertekad ingin menamai anaknya kelak dengan nama Sandeul."
"Iya, lalu?"
"Kau ini bodoh atau bagaimana? Ada anak bernama Cho Sandeul di Korea! Satu kelas dengan Jisung! Bukankah itu artinya Kyuhyun ada di Korea sekarang?"
"Ah—Lalu?"
"Lalu, kita harus mencarinya! Dasar bodoh! Bukankah member yang lain bilang Kyuhyun hilang begitu saja? Kalau dia memang berada di Korea, kita harus mencarinya! Bagaimanapun kita berteman sudah seperti keluarga, kita harus memastikan keadaan mereka."
"Kau mengataiku bodoh? Kalau begitu kenapa kau mau menikah dengan orang bodoh? Kau lebih bodoh lagi! Sialan!"
"Itu karena kau terus bertanya sesuatu yang tidak penting!"
"Aku tidak mau menikah denganmu, sialan!"
"Kau harus, bodoh!"
Berdebat lagi dan lagi. Sepertinya, hubungan mereka tidak akan lengkap tanpa dihiasi perdebatan konyol mereka berdua. Apapun bisa jadi bahan debat untuk mereka, bahkan saat sedang romantis pun mereka selalu berakhir dengan berdebat dan saling memaki.
"Bisakah mom dan dad tidak berteriak-teriak pagi-pagi begini? Berisik!"
Kata-kata Jisung barusan membuat hyukjae menghentikan omelannya, ia tertohok mendengar Jisung berkata demikian. Sebelumnya, Jisung tidak pernah bicara pada Hyukjae dengan nada dan wajah sedingin itu. Apa-apaan ini? Jisung adalah anaknya, tapi cara bicaranya benar-benar mirip dengan Heechul. Singkat dan menusuk. Setelah mengatai orangtuanya berisik, Jisung kembali ke kamarnya dan masuk ke dalam selimut tebalnya tanpa mempedulikan Hyukjae yang masih bengong karena cara bicaranya tadi.
"Apa-apaan tadi itu?"
"Wah, titisan Kim Heechul. Kau yakin Jisung anakmu, kan? Kenapa cara bicaranya semakin lama semakin mirip Heechul Hyung."
"Sudahlah, kita turun."
Hyukjae turun dari tempat tidur, beriap-siap ke dapur untuk memasak sebelum mereka kembali berdebat dan membuat keributan lagi. Sudah sekitar empat atau lima hari Hyukjae tidak memasak untuk mereka, meskipun kemampuan memasak Hyukjae masih jauh di bawah Ryeowook tapi ia bisa memastikan masakan yang ia buat sehat untuk anak-anak dan tidak kekurangan gizi apapun.
Seperti biasanya, Hyukjae menyiapkan tiga kotak bekal makanan untuk anak-anaknya. Biru milik Jeno, merah muda milik Haru dan Kuning milik Jisung. Sudah hampir kesiangan, Jeno dan Haru sudah bersiap-siap berangkat setelah mengambil kotak bekal mereka masing-masing tapi Jisung masih diam saja mengaduk-ngaduk makanannya dengan wajah yang lesu dan tidak bersemangat. Hyukjae pikir anaknya itu sakit tapi saat ia menyentuh keningnya, suhu tubuhnya normal dan Jisung tidak sedang flu. Ada apa sebenarnya? Jisung yang biasanya sangat aktif jadi pemurung dan hal itu membuat Hyukjae sangat khawatir, ia takut ada hal buruk yang menimpa Jisung.
"Jisung, kau kenapa sayang? Tidak suka makanannya?"
Jisung menggeleng, ia meraih tasnya dengan malas-malasan mengikuti kedua kakaknya yang sudah jalan duluan dan sedang menunggu di mobil.
Bahkan setelah mobil yang mengantar anak-anak sudah hilang dari pandangannya, Hyukjae tetap merasa khawatir pada Jisung. Hyukjae membesarkan Jisung sendiri, ia tahu setiap detail tentang Jisung dan sikapnya yang seperti tadi itu adalah yang pertama kalinya selama lima tahun. Mungkin hanya mood-swing anak-anak saja tapi sungguh, ini yang pertama kali untuk Hyukjae sehingga membuat rasa khawatirnya sedikit berlebihan.
"Kau kenapa?"
"Jisung bertingkah aneh, tadi saat dia masuk ke kamar kita dia tiba-tiba marah-marah dan sekarang dia tidak memakan sarapannya. Dia terus tertunduk lesu dan tidak bersemangat, apa terjadi sesuatu saat aku tidak ada di rumah?"
"Tidak ada, apa mungkin dia bertingkah aneh karena temannya yang bernama Sandeul itu?"
"Antar aku ke sekolah Jisung sekarang!"
Donghae mengangguk, "Okay, tapi biarkan aku sarapan dan berganti baju dulu."
"Ganti baju saja, kau bisa sarapan di mobil nanti."
"Kau suapi?"
"Ya."
"Okay, call!"
.
.
Donghae tetap lah Donghae, kapanpun dan dimanapun tetap berusaha memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Awalnya Hyukjae benar-benar hanya ingin menyuapinya, tidak ada maksud untuk menggoda atau apapun itu. Hyukjae memasukan beberapa kentang goreng ke dalam mulut Donghae, namun Donghae dengan sengaja mengulum jari-jari Hyukjae sehingga membuat Hyukjae melenguh. Hell, mata bening Donghae tetap fokus pada jalanan tapi tangan dan mulutnya tidak berhenti menggoda Hyukjae. Yang lebih parahnya lagi, saat Hyukjae berusaha menarik jemarinya Donghae malah menggigitnya dan membuat Hyukjae memekik kesakitan. Tidak ada raut wajah rasa bersalah, Donghae malah memandang Hyukjae dengan senyum yang mengerikan. Tangan kiri Donghae kembali menggerayangi paha Hyukjae dan terus naik hingga ke selangkangannya. Sial! Ini masih di jalan raya dan Donghae malah berbuat mesum.
"Tidak bisakah kau mengontrol hormonmu saat di jalan? Kau cari mati?"
"Aku cari kepuasan."
"Sialan! Fokuskan pandanganmu pada jalanan dan berhenti menggerayangiku!"
Hyukjae menarik jemarinya dengan paksa dan menepis tangan Donghae yang sedari tadi menekan selangkangannya. Nafas Hyukjae sedikit terengah dan keringat mulai bercucuran dari pelipisnya, padahal pendingin di mobil Donghae berfungsi dengan baik. Hyukjae benci mengakuinya, tapi dia benar-benar terangsang karena ulah Donghae barusan. Karena ini masih di jalan raya, Hyukjae terpaksa menahan hasratnya dan menundanya sampai mereka sampai ke rumah nanti.
"Bukankah itu Jisung?"
Suara Donghae membuat Hyukjae tersadar, mobil yang mereka kendarai sudah berhenti di depan taman kanak-kanak tempat Jisung bermain dan menuntut ilmu. Sejenak, Hyukjae melupakan hasratnya yang sudah di ujung tanduk dan mengikuti arah pandang Donghae. Dari luar pagar sekolah, Hyukjae bisa melihat Jisung sedang duduk di ayunan dengan seorang anak laki-laki berambut cokelat madu. Jisung dan anak itu tidak sedang dalam obrolan seru, mereka saling membuang wajah tapi jemari kecil mereka bertaut dengan erat. Hyukjae penasaran, apa yang sedang Jisung lakukan? Ia turun dari mobil tanpa menunggu Donghae dan melangkah terburu-buru menghampiri anaknya di halaman sekolah.
"Jisung."
Mata kecil Jisung yang sembab menoleh ke arah Hyukjae, ia memandangi Hyukjae dengan tatapan yang belum pernah Hyukjae lihat sebelumnya. Degup jantung Hyukjae tiba-tiba menjadi lebih cepat saat melihat wajah anaknya yang kacau, ia takut ada sesuatu yang buruk menimpa anaknya.
"Kau kenapa? Dan siapa anak ini?"
"Sandeul, temanku."
Saat Hyukjae berjongkok di hadapan Jisung, ia menyadari bukan anaknya saja yang menangis tapi anak laki-laki yang duduk di samping Jisung pun menangis dan sama kacaunya dengan Jisung. Oh, Hyukjae ingat tentang anak bernama Sandeul ini. Kalau tidak salah, dia anak yang diceritakan Donghae kemarin.
"Kalian kenapa menangis? Kalian bertengkar?"
Jisung menggeleng, ia semakin mengeratkan tautan jemarinya dengan Sandeul.
"Sandeul baru beberapa bulan pindah kemari, tapi dia sudah mau pindah lagi minggu depan. Sandeul mau pindah ke tempat yang jauh supaya tidak ada orang jahat menemukan keluarganya."
"Kau menyukai Sandeul? Makanya kau tidak mau dia pergi, benar begitu?"
Lagi-lagi Jisung mengangguk, kali ini disertai dengan airmatanya yang mengalir deras. Di kedua pipi putihnya. Akhirnya Hyukjae tahu penyebab perubahan sikap Jisung yang tiba-tiba, ternyata dia hanya sedang gelisah. Hyukjae memangku Jisung dan duduk di ayunan, ia menatap Sandeul dengan perasaan yang tidak tentu. Hyukjae tahu betul bagaimana perasaan mereka berdua saat ini, meskipun mereka masih anak-anak , mereka pasti merasakan sakit yang sama dengan orang dewasa saat mengalami yang namanya perpisahan.
"Jadi, kenapa Sandeul harus pindah?"
Bocah bermata cokelat gelap itu memandang Hyukjae dengan tatapan sendu, Hyukjae yakin Sandeul juga merasa sangat sedih karena harus berpisah dengan Jisung.
"Ibu bilang, ada orang jahat yang berusaha mencelakai ayah jadi kami harus cepat-cepat pindah dari sini."
"Siapa nama ayahmu?"
Donghae yang baru saja tiba langsung bergabung dengan obrolan Hyukjae dan Sandeul, tidak peduli dengan wajah bingung Sandeul.
"Dia ayahnya Jisung, kau tidak usah takut."
Mendengar penjelasan Hyukjae, Sandeul mengangguk kooperatif.
"Nama ayahku, Cho Kyuhyun."
Donghae dan Hyukjae saling saling bertukar pandang. Dugaan Donghae selama ini ternyata benar, Sandeul adalah anaknya Kyuhyun. Lalu, apa maksudnya orang jahat mengejar-ngejar mereka? Apa ada banyak hal buruk yang menimpa keluarga mereka sehingga mereka harus segera pergi meninggalkan Korea? Sepertinya Donghae harus bertemu dengan Kyuhyun langsung untuk memastikan keadaan mereka yang sebenarnya.
"Sebelum kau datang ke Korea, kau tinggal dimana?"
"Barcelona, tapi kemudian ayah mengajak pindah kemari karena ayah ingin menemui sahabat-sahabatnya di sini tapi baru beberapa minggu tinggal di sini ayah dan ibu tiba-tiba berubah pikiran dan mengajak kembali ke Barcelona."
"Dimana rumahmu? Biar paman antar pulang hari ini. Kami berdua ini, sahabatnya ayah dan ibumu."
"Tapi hari ini ayah akan datang menjemput."
"Benarkah?"
"Hm."
Bagus, kalau memang benar Kyuhyun akan datang menjemput Sandeul hari ini maka Donghae dan Hyukjae ada kesempatan bertemu dengannya. Di antara semua member, hubungan Kyuhyun dan Sungmin memang yang paling rumit, bahkan di bandingkan dengan hubungan Donghae dan Hyukjae pun hubungan mereka tetap yang paling rumit. Lihatlah sekarang, Kyuhyun dan Sungmin bahkan tidak bisa hidup dengan tenang dan tidak bisa bertemu dengan sahabat karena ada seseorang yang mengejar-ngejar mereka.
Bel berbunyi, tanda jam istirahat anak-anak sudah berakhir dan saatnya mereka kembali ke kelas. Jisung turun dari pangkuan Hyukjae dan menuntun Sandeul kembali ke kelas setelah berpamitan pada ayah dan ibunya. Setelah anak-anak masuk kembali ke kelas, tinggal lah Donghae dan Hyukjae berdua di taman yang cukup luas itu. Mereka berdua duduk di ayunan yang tadi di pakai Jisung dan Sandeul, tangan Donghae menggengam tangan Hyukjae sambil memandangi langit yang cerah.
"Ternyata ada kisah cinta yang lebih rumit dari kisah kita."
Hyukjae menghembuskan nafas berat, sebenarnya kisah cinta Kyuhyun dan Sungmin tidak akan serumit sekarang seandainya dulu Sungmin tidak mengambil keputusan yang gegabah dan terburu-buru. Tapi, apa yang sudah terjadi tidak bisa di ulang lagi, disesali pun percuma karena penyesalan sedalam apapun tidak akan mampu merubah apa yang sudah terjadi sebelumnya.
Sekarang, yang Hyukjae pikirkan adalah bagaimana cara menuntaskan hasratnya yang tadi sempat tertunda. Sial! Hari ini Donghae memakai kemeja putih yang terlihat pas di badannya dan celana jeans ketat yang membuat sesuatu di selangkangannya terlihat jelas. Hyukjae membuang nafas frustasi, ia menarik tangannya yang sedari tadi di genggam Donghae untuk menutupi wajahnya yang tiba-tiba memanas.
"Semua gara-gara kau!"
"Apa salahku? Aku tidak pernah menjadi orang ketiga di antara Kyuhyun dan Sungmin Hyung, kenapa kau tiba-tiba menyalahkan aku?"
"Pokoknya, semua ini gara-gara kau! Dasar sialan!"
"Kau ingin ribut denganku? Kenapa tiba-tiba aku yang salah?"
"Bodoh, kau memang bodoh! Maksudku yang ini!"
Dengan mengkesampingkan rasa malunya, Hyukjae menarik tangan Donghae untuk menyentuh selangkangannya sebelum merebut kunci mobil Donghae kabur dari taman bermain. Hyukjae masuk ke dalam mobil dengan nafas yang tersengah-engah dan wajah yang merah sempurna. Meski bukan pertama kalinya Hyukjae bersikap agresif pada Donghae, tapi rasanya tetap malu sekali!
Di dalam mobil, Hyukjae mengipasi wajahnya yang terasa panas dengan tangan. Sekarang Donghae pasti sedang berpikir yang macam-macam soal Hyukjae! Hyukjae memekik kesal, ia menyesal telah memancing Donghae dengan cara seperti tadi. Malam ini, Hyukjae pasti tidak akan baik-baik saja.
Oh, my hole...
"Malu setelah menggodaku?"
Donghae masuk ke dalam mobil di belakang kemudi dan langsung menunjukan senyum berbahayanya. Parkiran yang sepi. Well, setidaknya menuntaskan hasrat di tempat seperti ini lumayan juga. Tanpa banyak bicara, Donghae menurunkan jok mobil yang di duduki Hyukjae agar sesi bercinta mereka sedikit lebih nyaman.
"Kau yang memancingku duluan, harus kau ingat aku tidak akan berhenti meski kau memohon."
"Lakukan dengan cepat, ini tempat umum!"
"Kau tahu aku tidak bisa melakukannya dengan cepat, aku perlu menikmati sensasinya."
Tanpa menunggu kalimat selanjutnya, Donghae langsung meraup bibir tipis Hyukjae dan melumatnya dengan sedikit kasar. Tidak ada waktu, Donghae tidak bisa melakukannya dengan bertele-tele karena ini tempat umum dan siapa saja bisa memergoki mereka. Jemari Donghae masuk ke dalam kemeja Hyukjae, ia mengusap pelan perut Hyukjae sebelum akhirnya naik ke puncak dada Hyukjae. Senyum Donghae semakin terkembang lebar saat menyaksikan Hyukjae melenguh pasrah, ia semakin gencar mengusap puncak dada Hyukjae karena hanya dengan begitu ia bisa mendengar erangan frustasi dari bibir tipis Hyukjae.
Jari-jari lentik Hyukjae tidak mau kalah, ia melepaskan kancing teratas kemeja Donghae dan menggerayangi dada Donghae dengan penuh afeksi. Sebelah tangannya merayap membuka sabuk dan kancing celana Donghae, tangannya masuk dan meraba sesuatu hingga membuat Donghae menggeram dalam ciumannya. Biasanya, Hyukjae tidak banyak membalas sentuhan Donghae tapi kali ini entah kenapa ia juga ingin meraba dan menyentuh seluruh lekuk tubuh Donghae.
"Cukup."
"Kenapa?"
Nafas Hyukjae masih belum teratur ketika Donghae melepaskan tautan mereka secara tiba-tiba, Ia menatap mata bening Donghae yang berkilat penuh dengan nafsu.
"Kau sudah membuatnya berdiri, kita lakukan sekarang sebelum ada yang memergoki kita."
Secara perlahan, Donghae menuntun miliknya agar masuk ke dalam lubang Hyukjae. Sensasi penyatuan mereka selalu terasa nikmat hingga membuat keduanya lupa diri, tanpa menunggu penyesuaian dari Hyukjae, Donghae langsung bergerak dengan cepat.
"Ngh—Donghae, terlalu cepat."
"God damn it! I really like your hole, baby"
Nafas keduanya beradu dan tidak teratur, semakin lama Donghae semakin mempercepat gerakannya hingga membuat mobil yang mereka tumpangi bergoyang seirang dengan pergerakan mereka.
"Stop! Itu, Kyuhyun baru turun dari mobilnya!"
Di tengah-tengah pergerakan mereka yang semakin liar, Hyukjae tiba-tiba mendorong dada Donghae menjauhkan bibirnya dari puncak dada Hyukjae yang sedang ia hisap.
"Sebentar, sayang!"
"Kita akan kehilangan Kyuhyun!"
Donghae menghentikan gerakan maju mundurnya dan menatap Hyukjae, jengah. Bahkan Donghae belum mencapai puncaknya tapi Hyukjae sudah menginterupsinya. Dengan sangat terpaksa, Donghae menyingkir dari tubuh Hyukjae dan kembali mengancingkan celananya.
"Sampai di rumah nanti, kau tidak akan aku lepaskan!"
Setelah berkata begitu, Donghae turun dari mobil diikuti oleh Hyukjae yang masih sibuk mengancingkan kemeja birunya. Kenapa Kyuhyun harus datang di saat yang tidak tepat? Menganggu klimaksnya yang sudah di ujung tanduk! Sial!
"Cho Kyuhyun! Tunggu!"
Mendengar namanya di sebut, laki-laki berkaca mata itu menoleh. Mata hitamnya langsung menangkap sosok Donghae dan Hyukjae yang sedang berlari menghampirinya. Kyuhyun mematung, ia tidak menyangka bisa bertemu dengan mereka lagi setelah sekian lama.
"Hyung."
"Ternyata benar kau!"
"Kau sedang apa di sini?"
"Aku jelaskan nanti. Sekarang, kami perlu bicara denganmu ikutlah denganku sebentar."
Kyuhyun hanya mengangguk dan kembali ke dalam mobilnya setelah memastikan Sandeul duduk dengan nyaman di kursi belakang. Sebenarnya, saat melihat keadaan Donghae dan Hyukjae yang sedikit berantakan tadi, Kyuhyun bisa langsung tahu apa yang telah dilakukan mereka berdua di dalam mobil sebelum mereka turun dan menghampirinya. Kyuhyun tersenyum miring lalu berdecih, sudah sekian lama tapi pasangan yang satu itu tetap sama mesumnya.
"Jadi, saat aku datang tadi kalian sedang melakukannya? Sudah tua masih saja seperti dulu."
Sudah sepuluh tahun dan Kyuhyun masih saja menyebalkan seperti dulu, gaya bicaranya yang hampir mirip dengan Heechul itu sama sekali tidak berubah. Membuat jengah saja. Donghae mempersilahkan Kyuhyun masuk, sementara Hyukjae langsung ke dapur untuk menyiapkan kudapan setelah sebelumnya membantu anak-anak berganti pakaian.
"Berhenti membahas kami, bocah! Aku mengajakmu kemari untuk membicarakan soal dirimu."
"Aku seorang ayah sekarang! Berhenti memanggilku bocah! Ngomong-ngomong, kenapa kita harus bicara di rumahmu?"
Awalnya Donghae memang ingin mengajak Kyuhyun berbicara di café terdekat saja tapi melihat ada anak-anak dan situasi Kyuhyun yang tidak memungkinkan, akhirnya Donghae mengajak Kyuhyun ke rumah saja. Bicara di rumah lebih nyaman dan anak-anak bisa bermain dengan puas di rumah.
"Bicara di rumah akan lebih nyaman, anak-anak bisa bermain dan tidak lepas dari pengawasan kita. Jadi, kenapa kau harus kembali lagi ke Barcelona minggu depan padahal kau baru tinggal beberapa minggu di sini?"
Kyuhyun mendesah, ia sudah tahu akan kemana arah pembicaraan ini.
"Ada banyak hal yang tidak bisa aku jelaskan, tapi yang jelas kami kabur dari orangtua Sungmin yang masih saja mengejar kami dan menginginkan perpisahan kami."
"Kau tahu? Jisung menyukai Sandeul, kalau kau memisahkan mereka dengan cara seperti ini maka kau menyakiti Jisung dan Sandeul sekaligus. Di samping itu, kau juga membuat member yang lain khawatir! Kau menghilang begitu saja tanpa memberi kabar apapun, kau tahu betapa khawatirnya Jungsoo Hyung padamu? Dia tidak bisa berhenti mencemaskanmu selama ini!"
Kyuhyun diam sejenak, mencerna semua kata-kata Donghae barusan. Benar, selama ini Kyuhyun menetap di tempat yang jauh tanpa memberi kabar apapun pada teman-temannya. Tapi mau bagaimana lagi? Kyuhyun punya kewajiban untuk melindungi keluarganya, untuk saat ini keutuhan rumah tangganya dengan Sungmin jauh lebih penting dari apapun. Sebenarnya Kyuhyun bukan menghindari masalah, berkali-kali ia mencoba bicara dengan keluarga Sungmin agar merelakan mereka bersama tapi pembicaraan mereka tidak pernah mencapai kesepakatan dan malah berahir dengan adu mulut. Terus beradu mulut dan silang pendapat dengan keluarga Sungmin hanya membuatnya lelah dan frustasi, itu sebabnya Kyuhyun dan Sungmin memilih pergi ke tempat yang jauh demi menghindari perdebatan dengan keluarga Sungmin.
"Sudah sepuluh tahun. Dari pada menghindar, lebih baik kau coba bicarakan lagi masalah ini dengan orangtua Sungmin Hyung."
Kyuhyun membenarkan letak kacamatanya, kemudian ia mulai menatap Donghae dengan serius. Mungkin sudah saatnya Kyuhyun berhenti bersembunyi dan mulai menceritakan semua masalahnya pada teman-temannya yang selama ini selalu mencemaskan keadaannya. Mereka harus tahu, situasi Kyuhyun tidak semudah yang mereka bayangkan.
"Sudah aku lakukan, semua hanya sia-sia. Bahkan kehadiran Sandeul pun tidak membuat hati mereka melunak. Apapun yang aku lakukan hanya sia-sia dan percuma."
"Bagaimana dengan Sungmin Hyung?"
"Sekarang dia sedang ada di rumah orangtuanya. Entahlah, dia bilang akan mencoba meyakinkan orangtuanya sekali lagi. Oh, sudah sore aku harus membawa Sandeul pulang atau Sungmin akan kelabakan mencarinya. Terima kasih atas undangannya ke rumahmu, lain kali aku akan berkunjung lagi dengan Sandeul."
"Minggu depan sebelum kau kembali ke Barcelona luangkan waktumu sebentar untuk datang ke acara ulangtahun si kembar. Aku benar-benar berharap kau datang karena ada sesuatu yang penting."
Tidak ada jawaban yang pasti dari Kyuhyun, ia hanya mengangguk sambil tersenyum ambigu.
.
.
ooODEOoo
Niat dan rencana Donghae untuk menikahi Hyukjae sudah matang, berkali-kali ia pikirkan dan berkali-kali pula ia merasa yakin bahwa Hyukjae adalah pendamping hidup yang tepat untuknya. Semua impian Hyukjae soal lamaran dan pernikahan yang indah akan Donghae wujudkan, lebih dari itu Donghae juga sudah menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan bulan madu mereka nanti. Semua sudah tersusun rapi di benak Donghae, tinggal menunggu waktu yang tepat dan mengeksekusi rencananya.
Sebenarnya kalau boleh jujur, Donghae sama sekali tidak percaya diri dengan semua rencananya. Semua memang sudah terencana dan tersusun rapi, tapi isi hati Hyukjae siapa yang tahu? Sudah berkali-kali Donghae memintanya untuk menikah dengan Donghae tapi Hyukjae selalu punya alasan untuk menolak Donghae. Ya, meskipun lamaran Donghae yang sebelum-sebelumnya bisa di bilang tidak resmi karena tidak ada cincin dan event, tapi setidaknya Donghae serius dan tulus meminta Hyukjae untuk menikah dengannya.
Donghae mendesah pelan sambil memandangi sebuah cincin perak. Cincin yang nantinya akan melingkar di jari manis Hyukjae itu, tampak berkilauan di bawah sinar lampu. Rasa cemas dan rasa tidak percaya diri terus saja menghantui Donghae, ia benar-benar takut jika saja Hyukjae menolak lamarannya nanti.
"Hah!"
Tidak, desahan itu bukan berasal dari Donghae. Pandangan Donghae beralih pada sosok mungil di sampingnya, sejak tadi hanya Jeno yang menemaninya di kamar. Bocah kecil itu ikut mendesah saat sang ayah mendesah, ia menirukan semua gerak-gerik ayahnya yang sedang bimbang itu.
"Kenapa ikut mendesah?"
"Jeno memikirkan Junhui Hyung. Dia manis tapi galaknya minta ampun, bicaranya tidak pernah pelan dan selalu berteriak-teriak."
"Daddy sudah pernah bilang padamu sebelumnya, tapi kau membantah dan ingin terus mendekatinya. Dengar ya, saat kau dewasa nanti kau akan menemui banyak orang yang lebih menarik dari Junhui. Kau tampan sama seperti daddy, kau tidak akan kesulitan mendapatkan siapapun yang kau mau. Tinggal tunjuk dan orang itu akan langsung bertekuk lutut di hadapanmu."
"Benarkah? Lalu, kenapa sampai sekarang daddy selalu gagal melamar mom? Kalau mom saja menolak dad, bagaimana dengan orang lain? Perlu daddy tahu, aku jauh lebih tampan dari daddy."
Menohok! Kata-kata Jeno barusan benar-benar menohok dan menusuk tepat ke jantungnya. Kenapa gaya bicara Jeno sedikit demi sedikit mulai seperti Junhui? Menyebalkan! Donghae menutup kotak cincin yang sedari tadi di pandanginya, ia melirik Jeno dan memincingkan matanya seolah sedang mengeluarkan laser.
"Kau menyebalkan!"
"Ngomong-ngomong, kenapa orang dewasa harus menikah dan kenapa sebelum menikah harus melakukan lamaran?"
Donghae tersenyum, pembicaraannya dengan Jeno kali ini seperti obrolan ayah dan anak sungguhan. Sejak dulu inilah yang selalu ia impi-impikan, berbicara serius dengan anaknya tentang pernikahan. Meski usia Jeno baru enam tahun—ah, dia akan berulangtahun yang ke tujuh minggu depan—tapi obrolan seperti ini benar-benar membuat Donghae merasa jadi ayah yang sesungguhnya.
"Dengan menikah, kau bisa memiliki orang yang kau sayangi seutuhnya. Hubungan kalian terikat oleh janji suci dan tidak ada seorangpun yang bisa memisahkan kalian kecuali kematian. Hm, kenapa harus melamar? Itu karena kau harus meminta orang yang kau sayangi untuk hidup denganmu, meminta seseorang untuk menjadi bagian dalam hidupmu tentu harus dengan cara yang manis. Kau harus menyentuh hatinya dan bukan hanya sekedar berjanji akan membahagiakannya, buktikan bahwa kau laki-laki yang pantas untuknya."
"Jeno tidak mengerti."
Jeno meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, penjelasan ayahnya barusan membuatnya bingung. Kata-kata ayahnya barusan terlalu sulit untuk di pahami anak seusia Jeno.
"Intinya, kalau kau benar-benar mencintai orang itu dan takut kehilangan dirinya maka kau harus mengikatnya dengan cara menikahinya."
"Oh, begitu."
"Kalian sedang apa? Sudah saatnya makan malam."
Donghae dan Jeno menoleh ke arah pintu hampir bersamaan saat mendengar suara lembut Hyukjae. Mereka berdua tersenyum, Jeno langsung menghambur memeluk kaki Hyukjae sambil menatapnya dengan tatapan penuh arti yang tidak dapat dipahami Hyukjae. Tidak mau kalah, Donghae mencuri sebuah kecupan singkat dari bibir Hyukjae hingga membuat Hyukjae membulatkan matanya kaget. Perlakuan mereka berdua hari ini sungguh tidak biasa.
"Kenapa kalian jadi seperti ini? Jangan bilang kalian habis melakukan kenakalan?"
"Kau selalu berprasangka buruk, kau bisa tambah keriput kalau terus berpikiran buruk."
"Sialan! Sebelum mengatai orang keriput, sebaiknya kau berkaca!"
Melihat kedua orang dewasa dihadapannya berdebat, Jeno hanya bisa menghembuskan nafas.
"Mulai lagi."
Tanpa mempedulikan perdebatan mereka, Jeno melenggang pergi menuju meja makan karena perutnya sudah mulai bergemuruh minta di isi. Melihat dad dan mom berdebat tidak akan membuat Jeno kenyang, yang ada Jeno akan semakin lapar dan bonus kepalanya menjadi pusing bila terus menyaksikan perdebatan orangtuanya.
"Mom dan dad mana?"
Jeno mengangkat bahu acuh saat Haru menanyakan keberadaan orangtua mereka.
"Berdebat, seperti biasanya."
"Haru tidak mengerti, kenapa orang dewasa sering berdebat dan bertengkar tapi pada akhirnya mereka menikah? Seperti mom dan dad."
"Heechul Samchon bilang, hal-hal seperti itu hanya di mengerti oleh orang dewasa. Anak-anak seperti kita hanya tahu main dan bersenang-senang."
Jisung menjawab pertanyaan Haru tanpa mengalihkan pandangannya dari hidangan yang ada di piringnya. Setelah bertemu dengan Heechul, Jisung belajar banyak hal darinya itu sebabnya Jisung tidak banyak komentar saat melihat kedua orangtuanya berdebat dan saling memelototi seperti mau menerkam satu sama lain. Yang ia tahu dari Heechul, hal-hal seperti itu biasa dilakukan orang dewasa saat mereka jatuh cinta dan mulai hidup bersama. Entahlah, Jisung juga kurang paham maksudnya apa, yang jelas berdebat dan bertengkar itu bagian dari cinta.
"Lalu, apa mereka akan baik-baik saja? Dulu Haru sering melihat dad bertengkar dengan mom, lalu mom meninggalkan Haru dan Oppa."
"Tidak tahu, tapi seharusnya mereka baik-baik saja."
Diam-diam Donghae dan Hyukjae yang sudah turun ke lantai dasar sejak beberapa menit yang lalu, memperhatikan obrolan ketiga anak-anak mereka. Meskipun hanya perdebatan kecil, Hyukjae jadi merasa tidak enak karena menunjukan rasa kesalnya di depan anak-anak. Hyukjae tahu, Jeno dan Haru pasti masih memiliki rasa trauma akibat pertengkaran Donghae dan Sagan dulu. Seharusnya Hyukjae mengerti dan tidak berdebat dengan Donghae dihadapan anak-anak karena bagaimanapun, hal-hal seperti itu tidak baik untuk perkembangan mental anak-anak seusia mereka.
"Sudah saatnya kita berhenti berdebat karena hal-hal kecil."
"Aku tidak pernah mengajakmu berdebat, sayang. Sepertinya kita harus menunjukan pada mereka bahwa hubungan kita harmonis, jadi mereka tidak akan mencemaskan hubungan kita lagi."
Hyukjae berdecih, ia tahu akan kemana arah obrolan ini.
"Jika yang kau maksud harmonis adalah menunjukan hal-hal mesum, maka lupakan!"
Aku selalu memimpikan hal-hal seperti ini terjadi di kehidupan kita...
.
.
Tanggal 18 Juli, hari ini adalah hari ulangtahun si kembar yang ketujuh. Awalnya Donghae berniat merayakannya di rumah saja dengan calon keluarga kecilnya, tapi kemudian rencana itu berubah karena tiba-tiba saja Donghae memikirkan sesuatu tentang hubungannya dengan Hyukjae. Sudah saatnya Donghae melamar Hyukjae dengan sungguh-sungguh, sesuatu yang tidak pernah terjadi sepuluh tahun yang lalu akan terjadi hari ini. Hari dimana Hyukjae akan menjadi miliknya yang utuh.
Tidak ada yang aneh hari ini, Donghae dan Hyukjae menghias rumah mereka bersama-sama dan meniup balon bersama anak-anak. Meski jantung Donghae terus bergemuruh karena memikirkan soal rencananya melamar Hyukjae, tapi ia tetap berusaha bersikap normal seolah tidak terjadi apapun.
"Ah! Daddy! Haru memecahkan balonnya lagi!"
Jeritan Jeno membuyarkan lamunan Donghae, balon yang ada di tangannya juga hampir meledak karena gas yang berlebihan. Ini sudah yang keempat kalinya Jeno menjerit karena Haru tidak henti-hentinya memecahkan balon dan tertawa senang melihat ekspresi Jisung yang terkejut.
Donghae menghembuskan nafasnya, anak-anaknya tidak berhenti saling berebut dan meneriaki karena balon.
"Memangnya kenapa? Ini juga ulangtahun Haru!"
"Kau memecahkan balon yang berwarna merah! Itu untuk Junhui Hyung! Gadis nakal!"
"Ah, Hyung dan Noona kenapa ribut sekali?"
Lagi-lagi Donghae hanya bisa menghembuskan nafasnya ketika melihat anak-anak malah semakin ricuh berdebat. Donghae meletakan balon yang ada di tangannya dan mulai menyandarkan kepalanya di bahu Hyukjae yang juga merasa pusing melihat anak-anak berdebat. Donghae melirik Hyukjae sekilas, ia merasa Hyukjae seperti tidak bersemangat sejak tadi pagi dan wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Kau sakit?"
"Akhir-akhir ini aku sering lembur di studio, jadi aku sering cepat lelah dan kadang tidak enak badan."
"Kau di kamar saja dan tidak usah ikut menyambut tamu nanti malam, istirahat saja."
Hyukjae bangkit dari kursi dan menuju ke dapur, ia ingat sedang memanggang biskuit di oven dan sudah saatnya di angkat.
"Sudahlah, aku akan baik-baik saja. Siapkan balonnya dan aku akan menyiapkan kue tart dan biskuitnya."
Tak lama setelah Hyukjae beranjak dari sofa, Donghae mengikutinya ke dapur membiarkan anak-anak berargumen soal balon merah. Tidak tahu kenapa, ia hanya ingin terus berada di dekat Hyukjae. Akhir-akhir ini Hyukjae seperti menjadi candunya, aroma tubuhnya selalu membuat Donghae ketagihan dan ingin terus-menerus menghirupnya. Donghae memeluk Hyukjae dari belakang saat laki-laki manis pujaan hatinya itu sedang sibuk menata biskuit panas yang baru keluar dari oven, seperti biasa ia akan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hyukjae dan menghirup aroma tubuh Hyukjae.
"Menyingkirlah, atau kau akan terluka karena biskuit panas ini."
"Akhir-akhir selalu ingin berada di dekatmu, kau semakin hari semakin mempesona di mataku."
"Jangan merayu!"
Hyukjae menggeliat, melepaskan rengkuhan Donghae dan berbalik agar bisa menatap wajah tampan Donghae. Hyukjae memasukan sepotong biskuit yang sudah dingin ke dalam mulut Donghae kemudian mengecup bibir Donghae sekilas.
"Enak?"
"Kecupanmu? Atau biskuitnya?"
"Menurutmu lebih enak mana?"
"Biskuitnya."
"Sialan!"
Mata mereka berdua bertemu, selang beberapa detik kemudian mereka tertawa renyah bersama. Entah apa yang mereka tertawakan, hanya saja hal-hal kecil seperti ini membuat hati keduanya menjadi lebih hangat dan dinding pemisah di antara mereka perlahan mulai sirna.
Tapi di saat romantis seperti ini, otak mesum Donghae tetap bekerja. Melihat anak-anak sibuk dengan balon, Donghae semakin menghimpit Hyukjae di antara meja makan sehingga tidak ada jarak di antara mereka. Donghae tersenyum sebelum menempelkan bibirnya di bibir tipis Hyukjae, ia melumatnya dan menghisapnya sambil memejamkan mata. Tangannya yang sedari tadi menganggur, ia pakai untuk meraba bagian dalam tubuh Hyukjae. Di mulai dari perutnya lalu naik ke puncak dada Hyukjae yang langsung menimbulkan lenguhan manja dari Hyukjae. Perlahan, Donghae mulai melepas celemek yang di pakai Hyukjae dan menaikan kaos tipis Hyukjae hingga sebatas dada. Jari-jemari Donghae semakin leluasa mengelus seluruh lekuk tubuh Hyukjae, namun saat bibirnya sampai pada leher Hyukjae dan tangan yang satunya hendak melepas celana pendek yang dikenakan Hyukjae, pergerakannya tertahan karena tiba-tiba Hyukjae menjauhkan tangan Donghae dan menatapnya dengan nafas yang terengah-engah. Donghae panik, ia menghentikan aksinya dan mulai memperhatikan wajah Hyukjae yang semakin pucat.
"Kau baik-baik saja? Apa aku keterlaluan?"
"Aku baik-baik saja, hanya merasa sedikit pusing. Tolong kau selesaikan biskuitnya, aku akan istirahat sebentar di kamar."
Donghae tidak menjawab Hyukjae, ia hanya mengangguk panik dan pandangannya tidak lepas dari punggung Hyukjae yang mulai menjauh dari jarak pandangnya.
"Apa mom baik-baik saja? Sepertinya dia sakit."
Jisung menatap Donghae dengan raut wajah cemas, sedari tadi perasaan Jisung memang tidak enak karena melihat wajah pucat Hyukjae.
"Mom tidak apa-apa, hanya kelelahan saja. Setelah istirahat sebentar, dia akan sembuh. Nah, sekarang sebaiknya Jisung bantu dad menyelesaikan membuat biskuit ini."
"Haru mau ikut bantu!"
Haru berlari ke arah meja makan, meninggalkan Jeno yang masih sibuk meniup balon-balon berwarna merah yang katanya dia siapkan untuk Junhui.
"Okay!"
Donghae mengangguk dan membantu gadis kecilnya naik ke kursi agar bisa mencapai meja makan. Tapi memang dasar Haru, ia tidak bisa duduk tenang di kursi seperti Jisung dan malah naik ke atas meja. Haru duduk di atas meja dengan nyaman sambil menyusun biskuit mentah yang telah Donghae bentuk di loyang, sesekali ia memasukan potongan biskuit yang sudah matang ke dalam mulutnya. Haru bertepuk tangan senang saat melihat hasil karyanya, ia menata biskuit-biskuit itu dengan rapi dan mengundang anggukan puas dari Donghae. Saking senangnya, Haru tidak sengaja menendang adonan biskuit yang terletak tepat di sebelah kaki kanannya hingga tumpah dan mengenai tangan Jisung. Jisung mendengus tidak suka melihat tangannya lengket karena adonan biskuit yang di tendang Haru, ia berdiri dan melempar Haru dengan tepung yang kebetulan ada di sekitarnya.
"Noona tidak mau diam!"
"Aku 'kan tidak sengaja!"
"Noona membuat Jisung lengket!"
"Aku bilang, aku tidak sengaja!"
Lagi-lagi mereka berdebat dan bertengkar. Donghae mengabaikan Haru dan Jisung yang mulai saling melempar tepung, ia lebih memilih memanggang biskuit yang telah di tata Haru tadi sebelum biskuit itu di lempar dan di jadikan senjata oleh mereka berdua.
Like parent, like childs...
"Apa keluarga kalian selalu sejorok ini? Apa-apaan ini semua? Kau menghancurkan dapur dan membuat seisi rumah berantakan! Dimana Hyukjae?"
Suara Heechul membuat semua orang yang ada di ruangan itu membeku. Jeno menghentikan aktifitasnya meniup balon dan langsung berdiri menghampiri Junhui yang sedang bergelayut manja di belakang Heechul, sementara Haru dan Jisung menghentikan aksi lempar-lemparannya saat seluruh tubuh mereka hampir tertutupi oleh tepung.
"Hyung, kau datang? Oh, ada Junhui dan Hangeng Hyung juga."
"Dimana Hyukjae? Ya Tuhan, kalian benar-benar membuat kacau seisi rumah! Tiga jam lagi pesta di mulai dan kalian malah membuat kacau rumah!"
"Tadi dia mengeluh tidak enak badan, sekarang dia di kamar sedang istirahat."
Nalurinya sebagai ibu rumah tangga langsung muncul begitu melihat rumah yang berantakan. Heechul meletakan barang bawaannya di sofa dan langsung membereskan kekacauan yang di buat Donghae serta anak-anaknya. Selesai dengan barang-barang yang tadi berhamburan di setiap sudut rumah, Heechul langsung menggendong Haru dan Jisung yang hampir mirip dengan biskuit itu menuju kamar mandi. Seperti saat memandikan Junhui ketika anak semata wayangnya itu seusia Haru dan Jisung, Heechul memandikan mereka dengan telaten dan cekatan, menggosok setiap lekuk dan lipatan memastikan tidak ada kotoran yang tertinggal di tubuh mereka.
Tugas Heechul selesai, rumah yang tadinya kacau sudah rapi dan tinggal menghiasnya, anak-anak yang tadinya kacau dan kotor sudah kembali bersih dan wangi. Heechul tersenyum puas dengan hasil kerjanya, meskipun sedikit pemalas dan jarang sekali menyentuh dapur, Heechul tetaplah seseorang yang suka kebersihan dan telaten mengurus anak-anak.
"Aku akan melihat Hyukjae ke kamarnya, kau dan Hangeng mulailah menghias rumah ini."
Heechul naik ke lantai dua dengan perasaan yang kacau, saat mendengar Hyukjae tidak enak badan perasaannya mendadak tidak enak.
Jangan-jangan dia—
.
.
ooODEOoo
Sejak kemarin sore, sebenarnya Hyukjae memang sudah merasa tidak enak badan tapi ia tetap memaksakan diri untuk datang ke studio dan menyelesaikan rekaman yang telah terjadwal. Sebagai produser, Hyukjae tidak bisa melalaikan tugasnya hanya karena pusing sedikit jadi ia tetap datang dan menyaksikan jalannya rekaman hingga selesai. Hyukjae masih terbaring lemah di atas tempat tidur padahal pesta akan di mulai kurang dari dua jam lagi, apa daya? Badannya benar-benar lemas dan Hyukjae merasa perutnya seperti di aduk-aduk, ia tidak punya energi sedikit pun.
Hyukjae bangkit dari tempat tidur dengan maksud meraih gelas yang berisi air hangat dan kotak obat yang terletak di meja nakas di sampingnya, tapi sialnya ia benar-benar lemah hingga tidak sengaja menjatuhkan kotak obat itu ke lantai. Hyukjae mendengus, di saat seperti ini hal-hal bodoh malah terjadi dan tenaganya semakin terkuras.
"Kau sedang apa?"
"Heechul Hyung."
Heechul langsung menghampiri Hyukjae dan membereskan isi kotak obat yang tercecer di lantai, kemudian ia duduk di samping Hyukjae sambil membenahi posisi Hyukjae agar nyaman.
"Kau kenapa?"
"Sejak kemarin aku merasa tidak enak badan."
"Sudah ke dokter?"
Telapak tangan Heechul menyentuh dahi Hyukjae untuk memastikan suhu tubuhnya. Beberapa detik kemudian, alis Heechul bertaut heran. Aneh, suhu tubuh Hyukjae normal tapi ia mengeluh tidak enak badan.
"Belum, rencananya baru besok setelah pesta ulangtahun si kembar selesai."
"Kau yakin kau baik-baik saja?"
"Hm. Hyung, aku hanya kelelahan saja. Tidak usah cemas."
"Aku tahu, tapi bagaimanapun kau harus tetap ke dokter untuk di periksa."
"Yang lain sudah datang, Kyuhyun dan Sungmin Hyung juga datang. Kau sudah merasa lebih baik?"
"Ya, aku sudah merasa lebih baik. Kalian tunggu di bawah, sebentar lagi aku menyusul."
Setelah Donghae dan Heechul menutup pintu kamar, Hyukjae bangkit dari tempat tidur sambil memegangi kepalanya yang sedikit berat. Inginnya, Hyukjae berbaring saja di tempat tidur dan beristirahat lebih lama lagi tapi ia juga tidak mungkin membiarkan Donghae menyiapkan pesta ulangtahun anak-anak sendirian. Sekali lagi, atau entah yang keberapa kalinya Hyukjae membuka laci di lemarinya dan memperhatikan sebuah benda dengan tatapan berharap. Benda yang selama dua minggu belakangan ini menjadi pusat perhatiannya itu tergeletak manis di laci lemarinya, entah apa yang akan Hyukjae lakukan pada benda kecil itu.
Hyukjae berganti pakaian dengan setelan semi formal dan mematut dirinya di cermin untuk memastikan penampilannya tidak kacau, ia tersenyum mendapati setelan lamanya masih terasa pas di tubuh rampingnya. Wajahnya sedikit pucat, tapi tidak masalah yang penting Hyukjae tidak terlihat berantakan. Kaki jenjang Hyukjae melangkah menuruini setiap anak tangga dengan perlahan, belakangan ini Hyukjae harus ekstra hati-hati menjaga tubuhnya. Matanya langsung menangkap wajah tampan Donghae yang sedang tersenyum gembira bersama anak-anaknya, tak lama pandangan mereka bertemu dan pandangan Donghae seolah mengisyaratkan Hyukjae agar segera turun dan bergabung bersama mereka. Hyukjae menghampiri Donghae dan anak-anak langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan, dalam hitungan ketiga si kembar diikuti oleh Jisung meniup lilinnya setelah menyanyikan lagu selamat ulangtahun untuk si kembar yang sekarang berusia tujuh tahun.
"Semoga Jeno dan Haru jadi anak yang semakin pintar dan selalu menyayangi daddy."
Hyukjae tersenyum penuh arti saat melihat Donghae berjongkok dan mengecup kening si kembar bergantian. Hati Hyukjae seperti menghangat melihat adegan di depannya. Interaksi Donghae dan anak-anak memang selalu membuat Hyukjae terharu dan membuatnya semakin jatuh cinta pada laki-laki bermata sendu itu.
"Haru akan semakin menyayangi daddy asalkan daddy memberikan kartu kredit daddy yang berwarna hitam itu."
Haru tersenyum sampai lesung pipinya yang hanya akan terlihat saat ia tersenyum lebar itu terbentuk dengan sempurna, celotehnya soal kartu kredit tadi langsung mengundang tawa dari semua orang yang ada di pesta itu. Tidak di sangka, Haru dan Hyukjae punya hobi yang sama yaitu, menguras habis isi dompet Donghae.
"Kau benar-benar akan membuat daddy bangkrut, sayang. Sekarang, potong kuenya dan berikan pada mom dan dad."
Jeno dan Haru memotong kuenya tapi alih-alih memberikannya pada Donghae atau Hyukjae, Jeno malah menarik Junhui dan memberikan potongan kue pertamanya pada bocah yang berambut hitam legam itu. Donghae dan Hyukjae berdecih di waktu yang hampir bersamaan, sulit di percaya cinta Jeno pada Junhui ternyata melebihi cintanya pada kedua orangtuanya. Pandangan Hyukjae beralih pada Haru, gadis kecil itu menarik ujung jas Hyukjae agar berjongkok. Ah, rupanya gadis kecil ini ingin Hyukjae menerima potongan kue pertamanya. Hyukjae menerima kue itu dengan senang hati tapi kemudian ia menyadari sesuatu, pandangan mata Haru tidak lepas dari sosok Kiwon. Mata bening Haru terus mencuri pandang pada Kiwon yang ada di pangkuan Kibum. Hyukjae mengerti, Haru mungkin ingin memberikan sepotong kue untuk Kiwon juga, hanya saja dia terlalu malu untuk melakukannya sendiri.
Hyukjae memotong sepotong kue lagi dan memberikannya pada Haru.
"Berikan ini pada Kiwon."
Mata Haru membulat, "Malu, mom!"
Dengan desakan Hyukjae akhirnya Haru menghampiri Kiwon dan memberikan kue itu padanya dengan malu-malu. Gadis kecil kesayangan Donghae itu bertingkah seperti gadis yang sedang jatuh cinta, membuat Donghae berdecih sambil memutar kedua bola matanya.
"Baiklah, aku mengerti. Anak-anakku tidak ada yang menyayangiku!
Donghae merajuk, tampaknya dia kesal dengan tingkah anak-anaknya yang tidak memberikannya sepotong kue pun. Hyukjae yang melihat itu, menghampiri Donghae dan mengecup bibirnya singkat sebelum memberikan sepotong kue padanya.
"Kau hanya perlu sepotong kue dariku."
Dan sorak-sorak dari semua orang ada di rumagan itu langsung menggelegar begitu melihat aksi Lovey-Dovey Donghae dan Hyukjae. Sepertinya, pasangan fenomenal ini telah benar-benar kembali.
"Ah, aku tidak tahan melihat semua ini. Yang ulangtahun anak-anak tapi malah orangtuanya yang asik sendiri."
Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan. Ucapannya barusan kontan saja mengundang tatapan tidak suka dari Donghae yang kebetulan mendengarnya, bocah sialan! Masih saja bicaranya pedas.
"Apa? Ada yang salah? Sudahlah, aku mau bermain game dengan Sandeul saja."
Donghae berdecih menyepelekan ucapan Kyuhyun barusan.
"Kau pikir anakmu peduli padamu? Lihat, dia sedang sibuk dengan Jisung!"
Mata Kyuhyun terpejam kesal, ia melihat anaknya sedang duduk di tepi kolam berenang sambil bermain PSP dengan Jisung. Kedua anak itu tampaknya tidak peduli dengan pesta dan lebih suka menghabiskan waktu berduaan. Mereka tertawa dan saling memandang, seolah mereka sedang berada di dunianya sendiri.
"Sekarang, sementara anak-anak berpesta sendiri, aku ingin perhatian semua orang."
Hyukjae dan semua orang langsung mengalihkan pandangannya pada Donghae. Bingung dan berdebar, hanya itu yang bisa Hyukjae rasakan saat Donghae menggenggam tangannya dan menatapnya dengan intens. Tidak dapat Hyukjae pungkiri, tatapan Donghae padanya selalu berhasil membuatnya terpana dan tidak bisa berpaling.
"Aku Lee Donghae, ingin mengatakan pada sesuatu yang penting pada Lee Hyukjae dihadapan semua orang. Aku memang tidak bisa menyusun kata romantis dan tidak bisa membuat event semewah dan seromantis member lainnya, tapi aku di sini berdiri dihadapanmu dan semua orang ingin mengatakan dengan tulus dan sungguh-sungguh bahwa aku sangat mencintaimu. Kita pernah bersama-sama selama hampir limabelas tahun, berpisah selama sepuluh tahun dan sekarang kita kembali bertemu. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu tidak hanya selama limabelas tahun atau duapuluh tahun saja, aku ingin bersamamu selama sisa hidupku. Lee Hyukjae, mau kah kau menikah denganku dan menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?"
Hyukjae hanya bisa membelalakan matanya ketika melihat Donghae tiba-tiba berlutut dan menyerahkan sebuah cincin perak padanya. Hal yang pernah Hyukjae bayangkan dan selalu menjadi impiannya kini terwujud, Donghae benar-benar melakukan semua ini untuknya. Jujur saja, Hyukjae benar-benar terharu melihat Donghae mempersiapkan semua ini untuknya tapi bayangan tentang sebuah benda yang ada di laci lemarinya tiba-tiba hadir dan membuat Hyukjae berbalik menghindari tatapan Donghae.
"Aku tidak bisa."
Setelah berkata demikian, Hyukjae berlari kembali ke kamarnya. Semua orang saling bertukar pandang, bingung. Mereka semua tidak mengerti ada apa sebenarnya? Bukankah selama ini Hyukjae bersedia kembali pada Donghae? Lalu kenapa lamaran Donghae di tolak?
"Dasar bodoh! Aku tidak bisa menolakmu karena kau membuatku begini!"
Lagi-lagi semua orang yang di ruangan itu di buat bingung sekaligus tercengang oleh kelakuan Hyukjae yang tiba-tiba kembali dari kamarnya dengan sebuah testpack di tangannya. Hyukjae melemparkannya ke arah Donghae yang masih berlutut, kemudian ia menarik lengan Donghae agar berdiri.
"Aku tidak bisa menolak untuk menikahimu karena aku perlu ayah untuk anak di dalam kandunganku."
"A—Ap—apa? Apa maksudnya?"
"Saat kabur dari rumah, aku melakukan hal yang sama dengan Heechul Hyung. Aku ingin sempurna untukmu, aku ingin terus bersamamu karena cintaku padamu lebih besar dari apa yang kau bayangkan. Kau tahu betapa sakitnya melakukan semua ini? Aku mengambil resiko besar ini dan melupakan harga diriku sebagai laki-laki hanya karena aku mencintaimu. Aku tidak punya alasan untuk menolakmu."
"Jadi—jadi, hal ekstrim yang pernah Heechul katakan padaku itu adalah ini?"
Masih dengan tampang bodoh dan kagetnya, Donghae menatap semua orang yang ada di ruangan itu bergantian. Hatinya senang sampai rasanya meledak-ledak saking bahagianya, isi kepalanya tiba-tiba campur aduk dan tidak tentu. Semua ini bahkan terlalu sulit untuk di percaya.
"Dasar lamban!"
Hyukjae merebut cincin yang ada di genggaman Donghae dan memakainya sendiri di jari manisnya. Kemudian, Hyukjae menarik wajah Donghae agar menghadap ke arahnya dan langsung melumat bibir Donghae, tidak peduli pada anak-anak yang sedang memperhatikan mereka.
"Aku mencintaimu, Lee Donghae sialan! Karena kau sudah membuatku jadi seperti ini, kau harus membuat pesta pernikahan yang mewah untukku! Aku ingin menguras habis seluruh tabunganmu!"
"Lakukan! Lakukan sesukamu, aku tidak membutuhkan apapun selain dirimu dan anak-anak."
Benar, kau hanya membutuhkan aku karena aku sendiri pun hanya membutuhkanmu untuk selalu berada di sisiku...
.
.
ooODEOoo
"Jadi, sekarang kau punya orangtua yang lengkap lagi. Bergembiralah, bocah!"
"Aku sangat gembira, terima kasih."
Jeno tersenyum hangat pada Junhui, bukan semata-mata karena ia benar-benar berterimakasih pada Junhui tapi lebih karena ia bahagia melihat Junhui tersenyum padanya meski hanya sekilas. Tanpa permisi, Jeno membuat Junhui menghadap ke arahnya dan jemari mungilnya menarik dasi kupu-kupu yang di pakai Junhui hingga membuat wajah Junhui sejajar dengan wajahnya. Perlahan, Jeno mulai mengeliminasi jarak di antara mereka dan bibir mungil mereka berdua bertemu.
Mata bulat Junhui semakin melebar saat merasakan hembusan nafas Jeno yang hangat. Junhu berusaha munduru untuk melepaskan bibir mereka yang masih menempel, tapi sialnya Jeno malah semakin menarik kuat dasinya hingga membuatnya semakin membungkuk dan bibir mereka berdua pun semakin menempel erat.
"Kalau kita sudah dewasa nanti, kau harus manu menikah denganku karena aku sudah menciummu. Daddy bilang, kau harus menikah dengan orang yang telah menciummu. Mengerti?"
"Bocah sialan! Ibu...!"
.
.
"Tidak bisakah kau tetap di sini saja dan terus bersekolah denganku?"
Suara Jisung bergetar saat mengucapkan kalimatnya, ia benar-benar sedih karena Sandeul benar-benar harus pergi setelah pesta ulangtahun kedua kakaknya selesai. Setelah bergembira bersama dan menghabiskan waktu bermain game, akhirnya Sandeul mengatakan kalimat perpisahan pada Jisung. Bagi Jisung yang sebelumnya tidak pernah punya teman dekat, perpisahan adalah hal yang paling menyakitkan. Jisung menarik tangan Sandeul dan membuat jemari mereka bertaut dengan erat, pandangannya masih tidak lepas dari sosok dihadapannya. Mengukir wajah manis itu dalam ingatannya agar abadi.
"Kalau begitu, tidak apa-apa kau pergi asal kau berjanji akan kembali menemuiku. Janji?"
Sandeul mengangguk, ia menautkan jari kelingking mereka. Hati sandeul tak kalah hancurnya, bertahun-tahun ia hidup hanya dengan orangtuanya saja dan tidak pernah punya teman. Sekarang, saat Sandeul memiliki teman sebaik Jisung orangtuanya malah menyuruhnya kembali pindah ke luar negeri dan meninggalkan semua kebahagiaannya di sini.
"Kau juga harus berjanji padaku, kau tidak akan menyukai orang lain selain aku."
"Janji."
.
.
"Terima kasih kuenya dan selamat, Noona akan punya ibu baru."
"Ya, sama-sama. Terima kasih juga, Kiwon."
Tidak ada obrolan lagi setelah itu, mereka berdua hanya tertunduk malu sambil memainkan jari. Untuk pertama kalinya Haru bersikap malu-malu dihadapan seseorang, biasanya Haru akan lari kesana kemari dan berteriak-teriak heboh mengejar Jisung tapi kali ini, Haru sedikit lebih tenang dari biasanya.
"Noona cantik."
Sebuah kecupan mendarat di pipi putih Haru, kecupan spontan dari Kiwon itu langsung membuat seluruh wajah Haru merona merah.
"Kiwon juga."
"Hm? Sama? Maksudmu aku sama cantik denganmu?"
"Bukan! Maksudnya, kau juga tampan."
Haru tersenyum canggung menunjukan lesung pipinya. Tatapan polos Kiwon membuat Haru salah tingkah dan bingung.
"Besok daddy akan mengajakku ke kebun binatang, Noona mau ikut? Daddy bilang, ajakan seperti di sebut ajakan kencan dan Noona tidak bisa menolaknya."
"Kencan? Seperti yang biasa dilakukan mom dan dad?"
"Ya."
"Baiklah kalau begitu."
.
.
END
BIG THANKS TO:
Lee Haerieun, Miss Chocoffee,
nurul. , lee ikan, abilhikmah, akuu, HHSHelviJjang, haeveunka, depi rizqhadiechipie, Hein-Zhouhee1015, ren, ahahyuk, dekdes, HAEHYUK IS REAL, Kei Tsukiyomi, FishyHaeHyuk, Haehyuk, Tina KwonLee, dewinyonyakang, Lala, eun143, Namekeysha nada, DIAHDEGA, chowlee794, jewel0404, haehyuk86 ,RieHaeHyuk , fitri, haehyukkie, Min Hwa, LS-snowie, nanaxz, dirakyu, hyuk, Etoilepolarise, kartikawaii, RoostafaElf, Yewook Turtle, guest, aiyu kie, hyunraa1202, nyukkunyuk, Reezuu608, BabyBuby, haehyukkies, bubbleshae, wildapolaris, nurulsaputri26, lee ahra, Aimikka Cloudy, Eunhyukkee04, ranigaem1, babyhyukee, Kha, nemonkey, Polarise437, Bluerissing, mizukhy yank eny, faridaanggra, yungyung
.
.
Hai, akhirnya bisa update...ada typo ya? maaf gak di edit krn saya update dan ngetik buru-buru takut gak sempet lagi ^^
Maaf ngaret dan gak sesuai janji, saya ada beberapa alasan kenapa fanfic ini ngaret ^^
Pertama, akhir tahun saya sibuk buat laporan di kantor dan gak punya waktu luang. saya terlalu sibuk sampai sakit jadi pas libur pun saya nginep di rumah sakit krn terlalu capek ^^
Kedua, adik saya kecelakaan motor jadi beberapa hari ke belakang saya sibuk ngurusin dia.
ketiga, ibu saya meninggal.
Jadi, pikiran saya selama beberapa minggu ke belakang kacau banget dan berimbas ke fanfic...maaf kl chapter ini kurang bagus atau gak bagus sama sekali tapi saya udah berusaha semampu saya buat gak nyampur adukin urusan pribadi ke fanfic. meskipun saya sibuk dan banyak musibah tapi saya tetep update fanfic ini sampai selesai krn saya ngerasa tanggung jawab sama kalian dan fanfic ini ^^ untuk itu, terima kasih sama semua readers yang review dan selalu menyemangati saya...itu berarti banget ^^
Oh, iya maaf juga belum nyantumin thanks to...insya allah besok saya cantumin thanks to nya krn sekarang waktu saya mepet gak bisa ngetik nama kalian satu2...maaf dan makasih pengertiannya ^^ sekali lagi makasih buat semua yg udah review meskipun gak bisa nyebutin namanya satu2 saya bener2 berterimakasih sama kalian ^^
See ya in next fanfic ^^
Last, review? thanks~ ^^
.
.
With Love,
Milkyta Lee
