" Ketika seseorang menutup ruang hatinya untukmu, yakinlah ada ruang hati lain yang menunggu untuk kau masuki. "

.

.

.

Jika Suatu Hari Nanti

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Waning : OOC, EYD, Typo, dll.

Genre : Romance, Drama, dll

.

.

.

CHAPTER 3

.

Be your friend

Keesokan harinya,

Kiba dan Sakura sudah tampak bersama seperti biasa. Tak tampak lagi cemberut di wajah Sakura. Dari kejauhan, Naruto tersenyum melihatnya.

"Sudah akur, nih?" tanya Naruto dengan ramah saat menghampiri dua sahabat tersebut.

"Ya, begitulah…" jawab Sakura enteng.

"Yokatta!"

"Kiba, Naruto, aku kekelas dulu ya, udah ditunggu Ino, nih."

Sakura berlari meninggalkan mereka. Naruto tersenyum melihat rambut Sakura yang bergerak lincah mengikuti langkah gadis itu. Ia merasa ada yang aneh pada diri Sakura. Sepertinya gadis itu sedang menjaga jarak dengannya.

"Apa Sakura selalu bersikap seperti itu?" tanya Naruto pada Kiba.

Alis Kiba terangkat. "Maksud kamu?"

"Selalu apatis dengan cowok yang baru ia kenal?" tanya Naruto menjelaskan.

Kiba tersenyum mendengarnya. "Dia memang sedikit aneh, kok!"

"Aneh?"

"Ya… Dia gadis aneh yang menyenangkan."

"Oh ya?"

Kiba mengangguk.

"Apa boleh aku jadi sahabatnya, seperti dirimu?" tanya Naruto dengan wajah serius.

Kiba terdiam. Ia tak menyangka Naruto akan bertanya seperti ini.

"Kenapa, Kiba? Kamu keberatan? Kamu takut perhatian Sakura akan terbagi padaku?" tanya Naruto menyelidik.

"Nggak gitu, Nar?" Kiba tergagap. "Sakura berhak untuk berteman dengan siapa pun. Dan aku nggak boleh menghalangi hak Sakura untuk itu." Jelas Kiba dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Nggak usah khawatir, Kiba! Aku nggak akan ngambil Sakura dari kamu." Naruto tersenyum saat mengucapkan kalimat tersebut. "Tapi jangan salahkan aku, kalo suatu saat nanti Sakura jatuh cinta sama aku."

Naruto menepuk pundak Kiba dan melangkah pergi, meninggalkan Kiba yang terpaku mendengar ucapan Naruto barusan.

O

O

O

"Lagi apa, Sakura?" tanya Naruto menghampiri Sakura yang tampak asyik melahap ice cream di taman.

"Udah tau lagi makan ice cream, masih nanya…" jawab Sakura cuek.

Naruto mengarahkan kameranya pada Sakura.

KLIK!

"Kamu apa-apaan, sih? Sembarangan ambil foto orang!" Sakura sewot karena Naruto mengambil fotonya tanpa izin.

"Sorry, bukanya nggak mau izin, tapi ekspresi kamu tadi bagus banget. Jadi sayang banget kalo dilewatin. "Lebih baik diabadikan," jelas Naruto.

"Tapi lain kali, izin dulu, kek" Sakura sewot.

"Siap bos!" Naruto berlagak layaknya polisi yang sedang hormat pada komandannya. Sakura tertawa kecil melihatnya. Baru kali ini ia bisa cepat dekat dengan orang lain. Padahal biasanya dia butuh waktu yang lama untuk bisa seperti itu.

"Jadi kita berteman, nih?" tanya Naruto menggoda, lalu menghempaskan pantatnya duduk di samping Sakura.

"Heh? Bukannya sejak awal kita memang berteman?"

Naruto mengangguk "Iya."

"Kalo kita duduk sebangku, itu sebutanya apa?"

"Teman sebangku…."

"Berarti kita udah jadi teman, kan?"

Naruto tersenyum mendengarnya. Ia tak menyangka Sakura punya pemikiran sendiri tentang dirinya. Ia juga tak menyangka kalau Sakura sudah menganggapnya sebagai teman.

"Maksudku, berteman dekat. Sahabat gitu?"

Sakura menanggapi dengan senyuman. "Kamu nggak ke kantin, Naruto?" tanya sakura mengalihkan perhatian.

"Udah sih, tapi kalau kamu mau ditemani ke kantin, aku bersedia, kok" jawabnya Naruto enteng.

Sakura tersenyum "Baiklah." Kemudian keduanya beranjak menuju kantin.

Dari jauh, sepasang mata menatap mereka dengan tersenyum. Namun dalam hatinya ia sangat takut untuk kehilangan sesuatu. Pemuda itu senang Sakura bisa membuka diri pada orang lain selain dirinya. Tapi seperti yang dikatakan oleh Naruto tadi, ia takut perhatian Sakura akan terbagi.

O

O

O

"Asyik nih, ada yang punya temen baru!" goda Kiba saat ia main ke kamar Sakura pada malam harinya, tentunya tak ketinggalan anjing kesayangannya Akamaru.

"Maksudnya?" tanya Sakura penasaran.

"Aku lihat tadi kamu sama Naruto ditaman…"

"Kamu cemburu, ya?" sela Sakura

Kali ini ganti Sakura yang menggoda Kiba.

"Hah! Cemburu? Yang bener aja!" elak Kiba. "Sorry ya, kalo aku harus cemburu sama kamu! Kayak nggak ada cewek lain aja."

"Oh…"

"Aku kan masih normal. Masih banyak cewek di luar sana."

"Kalo gitu, maksud kamu jika ada cowok yang mau sama aku, berarti cowok itu nggak normal. Gitu?"

Kiba mengangguk.

"Sialan!" Sakura melempar bantal pada Kiba. Tapi dengan sigap Kiba menangkapnya.

"Lalu arti kalimat yang terakhir apa?"

"Oh itu, maksudnya, kalo udah nggak ada cewek yang mau sama aku, baru aku akan milih kamu. Gimana?"

"Jadi, aku hanya jadi pilihan yang terakhir?" ada nada khawatir dalam suaranya.

"Gimana, ya…"

"Gimana apanya?"

"Bukan maksud aku untuk jadiin kamu pilihan terakhir, tapi dalam hidupku nggak ada istilah sahabat jadi cinta. Sahabat ya sahabat, cinta ya cinta" jelas Kiba.

Mendadak Sakura merasa sesuatu menyesaki dadanya. Ia memaksakan sebuah senyuman.

O

O

O

Sakura tampak tak bersemangat di kelas. Ia masih memikirkan apa yang dikatakan Kiba semalam.

[ tapi dalam hidupku, nggak ada istilah sahabat jadi cinta. Sahabat ya sahabat, cinta ya cinta.]

"Eh, ada tamu istimewa tuh dateng!" seru salah seorang teman sekelas Sakura.

"Tamu istimewa?" gumamnya.

Ia penasaran dengan pemberitahuan dari teman sekelasnya itu. Saat itu bel masuk belum berbunyi, dan suasana di luar kelas sangat gaduh. Terlebih di depan ruang kepala sekolah, banyak anak kumpul di sana seperti semut mengerumuni gula.

"Siapa sih yang datang?" tanya Sakura lebih pada dirinya sendiri.

Sakura memutuskan untuk keluar kelas dan melihat kegaduhan itu.

"Emang ada apa sih?" Sakura mencolek bahu Shion.

"Itu, si Hinata!" jawab Shion antusias.

"Hinata?" tanya Sakura. "Dia udah balik?"

"Tuh, nyatanya dia ada di ruang kepala sekolah!"

"Oh… makasih ya, Shion!" ucap Sakura kemudian kembali ke kelas.

'Hinata udah balik.' Batinnya. Sakura menggigit bibir bawahya. Sakit memang. Tapi akan ada yang lebih sakit lagi dari pada ini.

"Hei!" Kiba mengagetkan Sakura dari belakang.

"Ihh Kibaaa!" seru Sakura.

"Kamu ngapain ngelamun di sini? Kayak orang kurang kerjaan aja."

Sakura mencoba tersenyum pada Kiba. "Nggak kok! Aku nggak ngelamun."

"Dasar rambut gulali tukang boong!" Kiba menjitak kepala Sakura kemudian berlari menjauh.

"Kiba rese! Awas kamu, ya!"

Sakura berkejaran dengan Kiba di lapangan basket. Itu adalah pemandangan yang umum bagi seluruh penghuni KSHS. beberapa dari mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahg mereka yeng kekanak-kanakan.

Tiba-tiba saja Kiba berhenti di dekat ruang kepala sekolah. Ia melihat sosok yang tak asing berdiri di depannya. Sakura juga menghentikan langkahnya di belakang Kiba.

"Hinata-chan…" gumam Kiba lirih.

Gadis itu berjalan mendekati Kiba dengan senyum mengembang.

"Hai, Kiba-kun!" sapa Hinata.

Perasaan Kiba campur aduk. Ia tak tahu apa yang terjadi padanya saat ini, tepatnya setelah bertemu Hinata. Spontan Kiba menghampiri Hinata yang berjalan ke arahnya dan memeluk gadis itu.

Sakura melihatnya tak percaya. Ia tak menyangka Kiba akan berbuat demikian.

TBC

Nona Fergie Kennedy : Arigatou atas koreksinya senpai, udah diperbaiki chap 2 nya kog, iya senpai Kiba jadi orang ketiga, ini chap 3 nya pendek dikit, capek juga jadi author, tapi tetep semangat… :D

Shinn Kazumiya : Salam kenal juga senpai, arigatou ya atas sanjungannya, ini udah saya perbaiki chap 2 nya, ini chap 3 nya gimana menurut senpai? , oh kalo genre angst/drama itu gag boleh sad ending ya, tolong kasih tau dong tentang genre-genre…

ARIGATOU

VVVVV

VVVV

VVV

VV

V

REVIEW

Tidak terima flame

Matur nuwun