" Ketika seseorang menutup ruang hatinya untukmu, yakinlah ada ruang hati lain yang menunggu untuk kau masuki. "

.

.

.

Jika Suatu Hari Nanti

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Waning : OOC, EYD, Typo, dll.

Genre : Romance, Drama, dll

.

.

.

CHAPTER 4

.

Secret admirer

Kelas sudah tampak penuh. Namun, Naruto masih tak tampak batang hidungnya. Dikelas, sesekali Sakura memandang bangku milik Naruto yang berada di sebelahnya.

'Naruto kemana, ya?' tanya Sakura dalam hati.

Sebuah kekhawatiran terbersit dalam pikiran Sakura. Sejak hari itu, dimana hatinya hancur memandang Kiba yang nyata-nyata memeluk Hinata di depannya, sejak itu juga ia merasa Naruto lelaki yang baik. Berutung Naruto sigap dengan menarik tangan Sakura dan setengah menyeretnya menuju kantin dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata. Jika tidak ada Naruto, entah apa yang akan terjadi, mungkin Kiba akan bertanya-tanya melihatnya menangis saat itu. Menangisi sesuatu yang nggak boleh Kiba tahu.

"Forehead, Naruto nggak masuk ya?" tanya Ino yang tiba-tiba duduk di samping Sakura, di bangku yang biasa ditempati Naruto.

Sakura mengangkat bahu.

"Kamu kenapa, Ra?" tanya Ino khawatir.

"Heh?" jawab Sakura seolah tersadar Ino sedang bertanya padanya.

"Kamu lagi ngelamunin apa sih, Ra?" Ino mulai sewot. "kok kayaknya nggak minat banget jawab pertanyaanku."

Sakura nyengir kuda. "Hehehe… gomen Ino! Bukannya bengong, emang lagi nggak fokus aja!"

"Yee… itu sih sama aja!"

"Minggir dong, Ino! Aku mau duduk, nih!" kedatangan Naruto tak disadari oleh Ino maupun Sakura.

"Kirain kamu nggak masuk, Naruto!" sahut Ino kemudian bangkit dari bangku Naruto dan kembali ke bangkunya.

Sepeninggal Ino, Sakura dan Naruto sama-sama terdiam. Keduanya terlihat canggung.

Hingga akhirnya bel sekolah tanda pelajaran pertama akan dimulai berbunyi, keduanya masih tetap diam.

"Ohayo!" sapa Kurenai-sensei, guru biologi di kelas Sakura.

"Ohayo, sensei!" jawab anak-anak dengan koor.

"Buka buku paket kalian halaman 270!" perintah Kurenai-sensei. Hari ini kita akan membahas mengenai penyakit leukimia.

Seisi kelas melaksanakan perintah guru cantik bermata ruby itu.

"Diantara kalian, siapa yang tahu, berapa banyak sel darah putih yang ada dalam tubuh penderita leukimia?" tanya Kurenai-sensei.

Naruto mengangkat tangannya.

"Ya kamu!" tunjuk Kurenai-sensei pada Naruto.

"Lebih dari 200.000, sensei!" jawab Naruto pasti.

"Yap, kamu benar!"

Sakura memandang ke arah Naruto dan dia (Naruto) membalasnya dengan senyuman.

X

X

X

Saat istrahat, Sakura masih berdiam di bangkunya. Ia tak beranjak kemanapun. Kiba juga tidak mendatanginya seperti biasa, seperti saat Hinata belum kembali ke sekolah ini. Sedangkan Naruto, sejak lonceng berbunyi sudah kabur entah kemana.

"Nggak istirahat, Ra?" tanya Ino.

Sakura menggeleng lemah.

"Nunggu Kiba, ya?"

Sakura hanya mengangkat bahu tanpa bersuara.

"Kamu kenapa sih, Ra?"

Lagi-lagi Sakura hanya menggeleng, kali ini dia tersenyum pada Ino.

"Ikut aku ke kantin aja, yuk!" Ino menarik tangan Sakura dan dia tidak menolak. Keduanya berjalan menuju kantin.

Saat melewati kelas Kiba, matanya menangkap sosok yang ia rindukan, Kiba. Ia melihat Kiba yang asyik berduaan dengan seseorang disampingnya. Ia tidak bisa melihat jelas siapa orang itu, namun instingnya mengatakan orang itu Hinata.

'Hinata… ya pasti itu Hinata'. Batin Sakura yang masih saja fokus pada Kiba.

Dugg!

"Aww.." Sakura mengusap pelipisnya.

Karena terlalu fokus pada Kiba, gadis itu tidak melihat jalan. Hingga akhirnya ia bertabrakan dengan seseorang.

"Aduh, sakit!" erang Sakura.

"Kamu nggak papa kan, Ra?" tanya Ino melihat pelipis Sakura sedikit memar.

"Sakura, kalau jalan lihat depan dong, sakit, Ra?" Naruto memeriksa pelipis Sakura lalu mengajaknya ke ruang UKS.

Ini adalah kedua kalinya ia bertabrakan dengan Naruto dengan permasalahan yang sama, Kiba.

Sakura cemberut "Nggak papa kok, Naruto, ntar juga sembuh," tolaknya sambil sesekali melirik Kiba dengan ujung matanya.

"Tapi tetep harus diobatin Ra, biar nggak makin memar."

Sakura tak menjawab.

"Sakura, kamu dengar aku, kan?" Naruto membuyarkan lamunan Sakura.

"Heh… iya… apa…?" Sakura terbata.

Naruto hanya senyum melihatnya.

"Kamu kenapa sih, Ra?" bisik Ino bertanya. "Dari tadi aku lihat kok nggak konsen, jelas-jelas Naruto segede itu ditabrak juga,"

Sakura memutar pandangan pada Ino yang berada di sebelahnya dengan kening berkerut.

"Lain kali, kalo jalan hati-hati, ya!" pesan Naruto dengan mengacak-acakk rambut Sakura, kemudian melangkah pergi.

X

X

X

Sakura melangkah gontai. Hatinya terasa dicabik-cabik. Belum cukup Kiba menyakitinya dengan bermesraan di dalam kelas di depan matanya, kini ia tambah dengan kebersamaannya bersama Hinata di kamar yang selama ini hanya dirinyalah satu-satunya cewek yang diperbolehkan masuk ke sana.

"Semua sudah berubah, Kiba sudah menemukan seseorang yang ia sayang. Dan orang itu bukan aku." Sakura duduk di sebuah ayunan di taman kompleks rumahnya.

Sakura menghela napas panjang. Ia menutup mata sembari menghirup udara malam yang mulai dingin.

'Sudah saatnya aku melupakan Kiba,' janjinya dalam hati. Sakura tersenyum. Perlahan, ia membuka matanya. Samar ia melihat sosok orang yang sedang berdiri di depannya sambil tersenyum.

"Naruto!"

"Hai, Sakura!" sapa Naruto dengan ramah.

"Hai…" balas Sakura ragu. "Ngapain di sini?" tanya Sakura penasaran.

Lagi-lagi Naruto hanya tersenyum, kemudian duduk di ayunan di samping Sakura.

"Niatnya tadi sih maen ke rumah kamu" jawabnya enteng.

Sakura mengerutkan kening "Ke rumah aku?"

Naruto mengangguk. "Ya… ke rumah Sakura" matanya melebar meyakinkan. "Tiba-tiba aku kangen kamu." Jelasnya.

Sontak Sakura menoleh dan memandangnya tak percaya. Mata mereka bertemu, saling menatap. Sakura dapat merasakan desiran lembut di hatinya ketika melihat blue saphire Naruto dan senyumnya yang mempesona.

"Nggak usah bercanda deh!" pinta Sakura dengan tertawa kecil.

"Aku nggak bercanda," balas Naruto yang masih tak mengalihkan pandangannya pada Sakura Haruno. "Aku serius. Aku beneran kangen sama kamu."

"Kamu kok diem, Ra?" tanya Naruto lirih.

Sakura tersenyum simpul. "Aku nggak tahu harus ngomong apa."

"Nggak usah dipikirin, Ra!"

Kening Sakura berkerut. "Maksud kamu?"

"Aku memang suka sama kamu. Sejak awal kita bertemu saat pertama kali aku menginjakkan kaki ke sekolah kita. Kamu pasti masih mengingatnya, bukan?"

Sakura mengerjap.

"Tapi aku nggak pernah mengharap balasan darimu," Naruto menatap Sakura sekilas. "Aku bahagia dengan perasaanku, aku bahagia bisa melihatmu selalu tersenyum, selalu tertawa, nggak murung seperti sekarang." Lanjutnya.

"Aku nggak mau egois, Ra. Aku tahu, perasaan nggak bisa dipaksakan, aku hanya ingin semuanya mengalir apa adanya. Dan untuk perasaan kamu ke aku, biar Kami-sama yang menentukan!" Naruto mengayunkan ayunannya perlahan.

"Aku tahu apa yang membuatmu akhir-akhir ini terlihat murung dan nggak bersemangat. Sakura, satu yang pasti, life must go on! Ketika seseorang menutup ruang hatinya untukmu, yakinlah ada ruang hati lain yang menunggu untuk kau masuki."

X

X

X

Esok paginya di sekolah. "Naruto…" seru Sakura di koridor sekolah.

Naruto menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, "Ya," jawabnya.

Sakura setengah berlari menghampiri Naruto. "Makasih yang semalem," ucap Sakura lirih. Kali ini wajahnya terlihat lebih segar dan bersemangat.

"Dan.."

"Dan apa, Sakura" Naruto mengangkat alisnya.

"Dan kejujuran kamu, tentang yang kamu rasakan," Sakura tersenyum kecil. "Tapi untuk saat ini, seperti kata kamu, terkadang manusia sendiri sulit untuk bisa membaca perasaannya, begitu juga aku. Aku masih nggak tahu perasaanku seperti apa. Kita serahkan saja pada waktu, cepat atau lambat, semuanya akan terungkap."

"Aku paham maksud kamu kok!"

Sakura tersenyum, lalu keduanya berjalan beriringan menuju kelas mereka.

Naruto mengacak rambut Sakura lembut.

Kiba yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Ada perasaan aneh menjalar di hatinya.

TBC

Shinn kazumiya : Arigato senpai atas pujiannya, jadi malu… :D

N makasih atas pengetahuannya..

The kidSNo OppAi : ini udah lanjut, tunggu chapter selanjutnya lagi ya… :D

Nona fergie kennedy : Gini senpai, awalnya (Naruto suka Sakura, Sakura suka Kiba, Kiba pacarnya Hinata, KibaHina sama-sama suka), Awalnya tapi, untuk kedepannya tunggu aja…

Gag suka kenapa senpai, sama Naruto?

Ok still write..

Nokia 7610 : ini udah lanjut, no problemo, it 's up to you, thank you…

VVVVV

VVVV

VVV

VV

V

REVIEW

Matur nuwun

# dwidimas10 .id on facebook, if you want to know me…