" Ketika seseorang menutup ruang hatinya untukmu, yakinlah ada ruang hati lain yang menunggu untuk kau masuki. "

.

.

.

Jika Suatu Hari Nanti

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Waning : OOC, EYD, Typo, dll.

Genre : Romance, Drama, dll

.

.

.

CHAPTER 5

.

Jealous

"Kamu kok diem aja sih, Ra?" tanya Kiba bingung memandang Sakura. Sedari berangkat sekolah, Sakura terus mematung, nggak seperti biasanya.

"Kamu nggak sakit, kan?" Kiba menempelkan telapak tangannya di kening Sakura.

"Apaan sih, Kiba?" tanya Sakura seraya menyingkirkan tangan Kiba.

"Aku Cuma mau mastiin aja kalo kamu itu baik-baik aja! Eh malah sewot!" gerutunya.

"Maksudnya?" suara Sakura naik.

"Ya gak biasanya, Sakura, biasanya kamu kan cerewet kayak nenek-nenek."

Sakura cemberut, ia paling tidak suka Kiba mengatainya nenek-nenek karena itu berarti dirinya sudah peyot dan ompong. Sakura mendesah.

"Oiya, akhir-akhir ini aku perhatiin kamu bahagia banget, Ra!" Kiba mengalihkan pembicaraan.

"Oh ya?" tanya Sakura dengan tampak innocentnya "Kamu masih sempat perhatiin aku?"

Kiba mengangguk cepat, "Iya lah, biasanya juga gitu."

"Masak sih?"

"Bener. Kamu kelihatan bahagia banget sejak ketemu sama Naruto."

Sakura menangkap nada aneh dalam ucapan Kiba.

'Apa Kiba cemburu karena aku terlalu dekat dengan Naruto?' batin Sakura menduga-duga.

"Maksud kamu apa, Kiba?" tanya Sakura berusaha memancing jawaban Kiba.

"Nggak ada maksud. Cuma aku juga ikut seneng aja, kalo kamu bisa bahagia sama Naruto," jawab Kiba.

Dada Sakura bergemuruh. Ia kaget mendapatkan jawaban yang tak terduga dari Kiba.

"Biar kamu ada temannya kalo aku lagi jalan sama Hinata-chan."

Sakura menghentikan langkahnya, sebuah palu raksasa menghantam dada Sakura dan menghancurkannya seketika, mendadak tenggorokannya tercekat. Sesuatu menyesaki pelupuk matanya.

"Biar kamu nggak jealous terus kalo lihat aku lagi kencan sama Hinata-chan," lanjut Kiba seakan tak mengerti.

Airmata Sakura hampir tumpah. Rasanya ia tak dapat membendung airmata itu lagi. Namun tiba-tiba…

"Ohayo, Kiba!" sapa Naruto baru datang.

"Eh, Naruto!" balas Kiba.

"Boleh pinjam Sakura, nggak?"

Dengan airmata yang menggenang, Sakura menyadari kalau Kiba sedang menatapnya dengan tersenyum.

"Sakura bukan mainan, Naruto!" jelas Kiba. "Tapi kalo kamu mau jagain dia, kamu boleh kok terus ada disamping dia!"

Refleks Sakura menatap ke arah Kiba. Buliran bening meluncur dengan indah di pipi halusnya. Namun, sebelum Kiba sempat melihat airmata itu, Naruto sudah menutup pandangan Kiba dengan tubuhnya.

"Kita pamit dulu ya, Kiba!" ucap Naruto pada Kiba.

Kiba hanya mengangguk.

"Yuk, Sakura!" lanjut Naruto pada Sakura seraya menuntun gadis itu.

Naruto dan Sakura berjalan menjauhi Kiba. Lengan Naruto terus melingkar di bahu Sakura. Seakan-akan ia ingin melindungi gadis itu dengan segenap kemampuannya. Sedangkan Kiba, dari kejauhan pemuda itu masih memperhatikan punggung Naruto dan Sakura. Dari pandangannya, ada sesuatu yang terlihat sangat dipaksakan dalam hatinya.

X

X

X

"Kalau aku perhatikan, kelihatanya Naruto suka sama Sakura deh, Kiba-kun," ucap Hinata saat berada di kantin bersama Kiba.

Kiba hanya terdiam mendengarnya. Ia masih terlihat asyik dengan takoyaki yang sedang di santapnya.

"Dan aku perhatikan juga ada seseorang yang nggak rela kalo Sakura disukai oleh Naruto," lanjut Hinata.

Ucapan Hinata kali ini membuat Kiba urung menyuapkan takoyaki ke mulutnya.

"Aku males berdebat,Hinata!"

"Ngaku aja deh Kiba-kun, kalo sebenernya kamu juga suka sama Sakura!" Hinata mendesak.

Kiba hanya terdiam.

"lebih baik kamu jujur dari sekarang, sebelum semuanya terlanjur. Sebelum…"

Hinata tak bisa melanjutkan kata-katanya. Kecupan yang mendarat di bibirnya membuatnya terkunci. Seluruh penghuni kantin menyaksikan apa yang telah dilakukan Kiba pada Hinata. Dan Sakura pun melihatnya. Karena setelah dari UKS dia mengajak Naruto ke kantin karena merasakan perutnya sangat lapar. Sebelum Sakura melihat dan mendengar sesuatu yang membuat airmatanya mengalir lagi, buru-buru ia mengajak Naruto pergi.

X

X

X

"Ini rumahku, Sakura-chan!" beritahu Naruto pada Sakura begitu mereka sudah berada di halaman rumah Naruto.

"Boleh kan aku manggil kamu Sakura-chan?" lanjut Naruto.

"Um, boleh kok." jawab Sakura.

Lamat-lamat Sakura mengamati bangunan mungil yang berdiri di depannya itu. Suasananya sangat teduh, banyak tanaman rindang di sekitar rumah itu. Yang pasti, dapat membuat hati siapa saja yang awalnya galau menjadi tenang.

"Rumah kamu nyaman banget, Naruto!" komentar Sakura tanpa mengalihkan pandangannya. "Rasanya tenang banget."

"Masuk yuk!" ajak Naruto sambil mengulurkan tangannya pada Sakura.

Sesaat, Sakura hanya terdiam. Ia hanya memandangi tangan Naruto yang menyentuh pergelangan tangannya.

"Naruko-nee mungkin ada di dalam. Dia pasti seneng banget bisa ketemu sama kamu," lanjut Naruto

"Tadaima!" seru Naruto seraya mengajak Sakura memasuki rumahnya.

"Okaeri, eh ada tamu rupanya," sapa seorang wanita mirip Naruto, namun versi wanita dan lebih dewasa, saat keduanya masuk ke ruang tengah." Ini pasti Sakura," tebak wanita itu.

Sakura terbelalak kaget kenapa wanita itu mengenalinya, karena seingatnya dia belum pernah bertemu dengannya, ini adalah kali pertama. Sakura tersenyum canggung.

"Naruto sering cerita tentang kamu, Ra." Lanjut Naruko seakan tahu pikiran Sakura.

"Kenalin Sakura-chan, ini Naruko-nee, nee-chanku dan satu-satunya keluarga yang aku punya." Senyum Naruto makin mengembang. Naruko yang berdiri di depannya pun juga ikut tersenyum lebar.

Naruko sangat ramah, terlihat dari nada bicaranya yang lembut dan sering diselingi tawa. Benar-benar mirip dengan Naruto. Dari Narukolah Sakura tahu kalau ternyata Naruto sama dengannya, ibunya telah lama meninggal sejak ia kecil dan ayahnya meninggalkan mereka dengan menikahi perempuan lain di luar kota.

Sakura miris mendengarnya, jauh di dalam hatinya ia bersyukur masih memiliki papa yang sangat sayang padanya.

"Minuman datang!" seru Naruto dari dapur menghentikan obrolan antara Sakura dan Naruko.

Mengetahui kedatangan Naruto, dengan cepat Sakura mengusap pipinya yang basah karena airmata. Ia terharu mendengar cerita Naruko tentang keluarga mereka. Ia membingkai sebuah senyum yang dipaksakan.

Tapi usaha Sakura terlambat, karena Naruto telah mengetahuinya sejak dari dapur tadi.

TBC

Shinn Kazumiya : Arigato atas pujiannya…

Ia senpai, akan saya usahakan…

Still Write :D

Riyuzaki namikaze : gomen tapi itulah karya saya…

The KidSNo OppAi : ini udah lanjut…

VVVVV

VVVV

VVV

VV

V

REVIEW

MUNKIN JUGA FAV

Hehehe… :D

.

Matur Nuwun