Disclaimer : Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata [Eyeshield 21] ~ Yuki Kure [La Corda d'Oro]
Pairing : Akaba Hayato x Tsukimori Len
Genre : Yaoi, romance, drama
Author : Dhansai-Hime
Warning : AU (Alternative Universe), Crossover, OOC (Out Of Character ), typo(s), EYD tidak sempurna, Yaoi scene
Summary :Setelah di chapter pertama keduanya tampak adem ayem saja berinteraksi yang ala kadarnya (?), kini di chapter kedua aku bakal kasi sedikit konflik ringan saja, supaya kokoro kalian kuat. Seperti apa konfliknya? Baca saja yah (^-^)/
CHAPTER 2 : IS THIS A KISS ? ================
Violis berbakat, Tsukimori Len, baru saja keluar dari kamar mandi dan kini ia memasuki kamar 'bersama' nya dengan pemain Ameto di Tokyo University, Akaba Hayato.
"Kenapa berantakan sekali?" ujarnya saat melihat kamar bagai bahtera usai terkena badai. Dan sang rekan kamar cuma terdiam saja sambil masih memeluk gitar kesayangannya.
"Bukankah kau punya ruangan musik utkmu sendiri? Kenapa kini di kamar? Berisik." ketusnya tak peduli seraya menendangi buku-buku not milik si surai api yang berada di 'wilayah'nya.
Melihat sikap Len yang sewenang-wenang pada kertas musiknya, Akaba bereaksi. "Hei.. heii.. apa yang kamu lakukan, hoi? Di mana sopan santunmu?" ia menatap tajam pada Len.
"Apa kau tak punya etika?" ujarnya sambil berdiri dengan menatap tajam pada si rambut biru.
Akaba benar-benar ingin marah tapi ia berusaha menahan amarahnya.
"Tak perlu menatap begitu padaku." Ohoho~ sang Violis memberi perlawanan awal. "Kau jelas tau siapa yang patut disalahkan saat ini." Hmm~ Len masih saja menyingkirkan lembaran-lembaran kertas di area-nya dan menendangnya ke wilayah Akaba.
"Kalau kau tak mau kertas ini rusak di kakiku, lekaslah punguti." sambung tuan surai biru itu datar. Ia toh merasa benar. Ini adalah batas wilayahnya, maka kalau diterjang, ia berhak membuang benda asing yang bukan miliknya.
Jreng.. jreeeng! Tentunya si tuan merah takkan diam begitu saja , bukan?
"Kau ini.." ucap si surai merah mulai geram, serta sambil bangkit dari tempat duduknya. Naahh~ apa kubilang? Dia pasti takkan menerima hal demikian. Errmmhh~ harga diri lelaki? Atau sayang pada kertas-kertas tersebut? Kalian pasti sudah bisa menebaknya, fufufu~
Namun, saat hendak mendekati si Violis tuk mencengkram kerah bajunya, tiba-tiba kaki Akaba terpeleset kertas yang bertebaran di lantai dan ia jatuh menimpa Len. Nah..nah... senjata makan majikan, donk? Uhuk!
Tapi, persoalannya ternyata tak hanya itu. Berkat gaya jatuh yang sungguh tak elit demikian, bibir mereka malah saling menempel. Gosh!Ala sinetron? Ummhh, semoga saja tidak.
Dan untungnya, meski beradu mulut, mereka tidak sampai beradu gigi yang pstinya bisa menyebabkan kejadian anarkis dari benturan tersebut. Berterimakasihlah pada lengan kekar Akaba yang buru-buru menyangga tubuhnya sehingga terhindarlah 'tabrakan maut' itu. Pffttt.
Sang Violis kepala biru kaget tiba-tiba dirinya diterjang pemain Ameto berbodi jangkung nan tegap. Karena tak siap, ia pun jatuh ke kasur dengan Akaba menindihnya. Tidak... tidak... kalian tak perlu memotretnya untuk kalian koleksi difolder Boys Love kalian. Cukup imajikan saja semanis mungkin. Fuu~
"Emmpphhh!" Akibatnya bibir mereka saling menempel walau si Atlet sudah berusaha menahan tubuhnya. Setidaknya Akaba sudah melakukan pengereman.
Hei! Apa tadi?! Bibir saling menempel?! Sebentar! Maksudnya.. maksudnyaaa... mereka.. berciuman? [baru sadar?] Ah ok..ok.. keduanya pasti takkan mau mengakui itu disebut berciuman. Tapi, dari sudut pandang manapun, itu kan disebut berciuman. Ah ok, mencium dengan tak disengaja. Baiklah, tak perlu diperdebatkan.
Kembali ke Len. Ia tak mengira mereka jatuh bersama dengan posisi... eerrmmhh.. yang memalukan begitu, menurutnya loh! Kalau menurutku sih itu manis banget. Maka, lekas saja ia dorong dada Akaba untuk segera menjauh darinya.
Blushing? Oh pasti! Sedingin-dinginnya seorang Tsukimori, ia tetap saja blushing dengan kejadian semacam itu.
Tuan Atlet pun segera bangkit sambil mengusap bibirnya.
"Kauuuu..." hanya itu yang terucap dari bibir si surai merah.
Ia menarik dan hembuskan napasnya, "Huufftt...haaaa..".
Kemudian menatap manik mata si biru, "Ok mulai saat ini aku minta padamu untuk bersikap sopan dan jangan sombong." ucap Akaba sambil balikkan badan, dan mulai memunguti kertas yang berserakan, lalu menaruhnya di atas ranjang.
Seusai itu, ia duduk di atas ranjang seraya bersandar pada tembok. "Ingat kata-kataku tadi." sambungnya tanpa ekspresi.
Akaba berusaha menenangkan dirinya dengan memainkan gitarnya.
Yah~ ia harus bisa tenang dan bersikap dewasa serta ia pun tak mau memikirkan tentang ciuman yang terjadi tadi, karena baginya itu hanya sebuah kecelakaan, walau diakuinya akibat kejadian itu jantungnya berdegup kencang.
"Humpphh!" Tsukimori mendengus menanggapi ucapan-ucapan rekan sekamarnya. Ia bisa saja membalas dengan kalimat pedasnya seperti yang biasa, tapi saat ini ia sedang malas. Ia sedang memfokuskan diri untuk menenangkan hatinya atas kejadian barusan.
Tanpa sadar, ia menyentuh bibirnya. Hmm, bibir yang tadi ditempel oleh bibir sang Atlet. Namun ia langsung tarik lagi tangannya, takut bila Akaba melihat perbuatannya. Alangkah lebih memalukan lagi, bukan , bila si rekan malah memergokinya tengah bengong sambil memegangi bibir, seolah ia sedang mereka-ulang kejadian tadi saja.
Karena itu, Len lekas merebahkan tubuhnya di kasur dan balikkan badan memunggungi si surai api. Ia tak mau si merah itu melihatnya blushing. [tapi kami melihatnya, Len.]
Menatap tingkah teman sekamarnya, membuat si kepala merah ingin sedikit menggodanya. Yah..sedikit moduslah ~paham, kan maksud modusnya? Come on~
"Hei... Len kenapa kau memunggungi aku? Apa kau sedang bayangin kejadian yang tadi? Atau masih menikmati sisa kecupanku?" ujar sang Atlet dengan nada menggoda.
Sang Gitaris malahan memainkan lagu romantis tuk memancing Violis tampan di depannya, agar membalikkan badan.
Ternyata pancingan si bocah merah berhasil, sebab si kepala biru telah membalikkan badan walau dengan wajah yang cemberut bagai anak bebek yang kehilangan induknya. Tunggu, memangnya anak bebek kalau kehilangan induknya, kelihatan cemberut manyun, gitu? Entahlah! Belum pernah jadi bebek, hahaii~ coba saja kalian bayangin tuh wajah pasti bikin kalian ngakak [hehehe..].
Ya, pasti dong Tsukimori yang cetar kerennya itu langsung balik badan dengan muka yang-oh ayolaah, dia tidak sejelek anak itik. Dia adalah angsa! Angsa yang cantik, anggun dan angkuh! [Nah, sekarang authornya mulai plin plan, ahaha].
"Apa maksud ucapanmu, heh? Jangan merasa terlampau kegirangan hanya karena sudah bisa menempelkan bibirmu seperti tadi. Itu hanya me-nem-pel, bukan apa-apa yang perlu kuanggap penting untuk kuingat." Hoaawwhh, kini seorang Len bisa berurai kalimat sepanjang itu. Saluutt.
Usai mengatakan sindiran pedas untuk menimpali godaan dari si merah, sang Violis kembali membalikkan badan seperti semula dengan diiringi decak kesal. "Tsk!"
"Hahahah..." Ulala~ si surai merah tertawa saat mendengar ucapan dan mimik wajah si biru.
"Ayolah~ jika kau tak merasa menikmatinya, kenapa berkata seperti itu, heh? Katakan aja yang sejujurnya kalau kau menginginkannya lagi, maka akan kuberikan dan kali ini dengan penuh kelembutan." pancing si Atlet agar laki-laki yang ada di hadapannya kembali membalikkan badan dan perlihatkan wajah masamnya. Ayolah... setampan apapun dia akan terlihat jelek kalau sudah pasang tampang masam, betul gak?
Sambil tetap asik memainkan gitarnya, kali ini dengan lagu bernada riang, dan ohohoh~...ternyata sang Violis pun berbuat persis seperti yang Akaba mau dan duduk di sisi ranjangnya dengan tatapan tajam, siap untuk mengatakan sesuatu.
"Dengar, merah..." Len mulai mengkumandangkan suara dinginnya. "...kalaupun aku ingin sebuah ciuman, aku akan mencarinya dari orang lain yang lebih memikat di mataku. Dan tadi itu, bukan aku yang nyosor, kan? Berarti aku sama sekali TAK menginginkannya!" sahutnya tegas, menohok jlebb sang pemain Ameto. Ahaa!
"Satu lg...," tambah si kepala biru. "...jangan pernah dekat-dekat aku sesudah ini. Bau nafasmu tak enak!" Naahhh! Komplit sudah Critical Shot dari si biru. Hahay.So, merah.. sebaiknya kau berhati-hati bila menggodanya. Pffftt..
Dan kali ini karena sudah malas diganggu melulu tidurnya, sang Tsukimori pun memilih keluar kamar, dan singgah di sofa untuk...tidur!
"Hahahahahah... oiiiii~... bocah biru bermuka itik... kau SUNGGUH lucu dengan mulut pedasmu..." demikian teriakan si merah dari kamar dengan nada mengejek.
Merasa teman sekamarnya terkena pancingan, sang Atlet pun keluar dari kamar dengan bermaksud mengganggunya, ini akan menjadi hal yang menarik karena sang Gitaris memang suka menggoda orang yang jutek padanya. Nah lhoooo...
Sesampai di ruang tv, dengan isengnya si tukang jail ambil sebuah bantal sofa lalu melempar kearah si tuan jutek dan tepat mengenai dadanya.
Kaget dan marah itu pasti dan memang itu yang Akaba inginkan karena ia ingin melihat wajah itik si tuan pemalas. Oh maaf Len, maksudku wajah angsa yang manis. [takut di bully Len-lova] fufufu~
Len memang kaget dan ingin rasanya meluapkan amarahnya. Tapi ia urung melakukannya. Karena, seolah Akaba sengaja ingin melihatnya marah. Dan pria biru itu takkan mudah menuruti kemauan si merah. Wohohoho~
Bantal yang mendarat di dadanya, akhirnya ia pakai sebagai guling untuk ia dekap. "Terimakasih bantalnya. Kau sungguh perhatian padaku. Tapi maaf, kalau kau bertingkah laiknya gaki, aku tak bisa menemanimu main-main. Carilah gaki lainnya yang selevel denganmu, karena levelku sudah jauh di atas gaki." woaahh! Pedaaass!
Usai berucap demikian, sang Violis pun kembali ke posisi tidurnya, dan tak lupa... membelakangi pemain Ameto yang sedang duduk di dekatnya.
Mendengar dan melihat semua ucapan dan tingkah si bocah biru tentu saja membuat si merah makin gemes tuk mancing emosi laki-laki yang ada di hadapannya.
"Ooooiiiii... sapa yang kau bilang gaki? Kalau sikapmu saat ini lebih mirip seperti bocah berumur belasan tahun -nah lho-" ucap sang Atlet dengan nada mengejek.
"Ayooolah, apa otakmu tak berjalan girnya sehingga kau berkata tanpa berpikir kalau apa yang kamu lakuin saat ini sama persis dengan anak TK yang ngambek karena tak dibeliin permen loli ama ortunya -yah makin pedes nih -" ucap sang Gitaris dengan suara agak kencang.
Sudah bisa ditebak oleh Akaba, laki-laki yang ada di depannya itu langsung balikkan badannya dan melemparkan bantal sofanya ke arah lelaki yang sudah memancing emosinya.
Dan dengan cekatan pemain Ameto ini menangkap bantal itu sambil tertawa yang bermaksud mengejek. Tentu saja sang Violis pun berdiri dan mendekati pria itu dengan muka angsanya lalu berkata...
"Sepertinya kau tidak menyukai kehadiranku di sini. Baiklah, aku akan pergi kalau memang aku mengganggu." demikianlah ucapan Len pada akhirnya untuk mengakhiri perdebatan konyol yang malas ia perpanjang. Ini toh bukan kebiasaan sang Violis untuk banyak berdebat.
Usai mengucapkan kalimat tersebut dengan nada datar, ia pun beranjak ke kamar untuk berganti baju. Ia memilih baju kasual yang dirangkapkan dengan blazer karena udara bulan ini masih terbilang dingin.
Setelah berganti baju, si kepala biru berjalan keluar kamar untuk mencapai pintu keluar. Nah, bagaimana sikap sang rekan kos-nya bila melihat begitu?
Yah, aku sih tidak bisa menyalahkn sikap si biru karena ia tak ingin terlibat perkelahian konyol antar sesama penghuni rumah. Ia anak tunggal dan tak terbiasa berbasa-basi dengan orang lain.
"Hei.. heeii... tunggu dulu. Kamu mau kemana?" tanya si merah dengan sedikit kaget saat melihat rekan sekamarnya akan pergi dari tempat kost tersebut.
Kepala merah tetap mengejar Len. "Jika kau marah atas sikapku yang barusan dan juga kata-kata kasarku padamu, dari lubuk hati terdalam aku minta maaf, Len. Maaf yah." ucap sang Atlet dengan nada tegas -ah sepertinya lebih mirip nada memohon- sambil berdiri dan berjalan mendekati sang Violis lalu ulurkan tangan ke arah lelaki yang sudah ada di depan pintu keluar.
Akaba merasa menyesal atas apa yang telah ia lakukan pada Len dan juga jika sosok yang ada di depannya pergi maka ia akan merasa kesepian di rumah ini, -itu pasti- .
Sang Violis menghentikan langkahnya karena lengannya ditahan atlet Ameto itu.
"Hmm?" diliriknya tangan Akaba yang sedang mencekal lengan kurusnya. "Umm, aku ingin minum kopi. Kau mau ikut?" Haha! Bukannya memberikan kalimat pedas seperti sebelumnya, Len malah menawarkan pergi bersamanya untuk minum kopi.
"Mau tidak? Kenapa kau malah bengong gitu?" si biru memandangi lekat si merah di sebelahnya. Mukanya masih tetap sedatar ciri khasnya.
Ahaaa, nah nah Tuan Hayato yang hebat, apakah kau ingin pergi dengan Tsukimori yang cetar membadai ini? Akaba, buruan pinjam sisirnya Koutaro gih, uehek! [dicekik fans Akaba].
"Haaah..." awalnya cuma kata itu yang terucap disertai mulut menganga Akaba, karena sejak tadi ia berpikir bila teman sekamarnya itu akan pergi dan tak kembali ke rumah kost ini. Sampai ia ngesot mengiba, kan? [hush ngawur!]
Setelah sadar dari keterkejutannya, si merah nan tampan ini -yailah- pun berkata, "Baiklah, aku ikut denganmu, tapi maaf untuk yang tadi yah " ucap si Atlet ameto dengan senyum menggodanya. Menggoda? Pada siapa? [sudahlah diam saja author!]
Akhirnya mereka berdua pun keluar menuju sebuah cafe kopi di kota itu, di dalam hatinya Akaba sebenarnya tertarik pada laki-laki yang kini menjadi teman sekamarnya. Tapi~ akankah sang Gitaris bisa menaklukan hati sang Violis ? Coba kita lihat saja nanti cara apa yang bakal digunakan sang atlet tuk menaklukan hati si surai biru.
=================TBC Next Chapter==========================
Nah, usai memaparkan ciuman pertama mereka [maji ka?] ,chapter berikutnya bakal lebih panas. Tunggu, panas seperti apa nih? Pasti itu yang ada di pikiran kalian. Xixixi~ Pokoknya next chapter bakal lebih greget dan siapkan saja kipas angin [authornya semakin ambigu].
~See ya on chapter 3 !~ [dadah-dadah kece]
