Wanita

3

Disclaimer ©Masashi Kishimoto

Story©NadyaA

Rated: T mungkin? *digeplak

Genre: Nggak tau -''

Warning:Chapter yang ini mungkin agak hancur, Alur berantakan, Alur (super) kecepetan, Nggak nyambung, OOC, Garing -,- ,Misstypo(s), Dan banyak kesalahan lainnya ! ^^

DLDR! and RnR?

Happy Reading Minna!

Arigatou ~(^,^)~

Wanita itu rapuh

.

.

.

''Minato!'' Kushina berlarian di sepanjang koridor rumah. Menimbulkan bunyi bergedebuk yang sukses membuat Minato Namikaze nyaris tersedak kopi yang sedang disesapnya. Manik sapphirenya menatap horror pada sang istri yang hanya bisa meringis.

''Jangan berlari, Kushina. Kau ini, membuat khawatir saja. Ingatlah, kau sedang hamil!,'' Minato berjalan mendekat ke arah Kushina, lalu mengusap perlahan perut istrinya yang sekarang bertambah besar.

Kushina menggembungkan pipinya, ''Aku mencarimu-ttebane!''

Minato tersenyum lalu mengecup pipi Kushina.

''Ada apa kau mencariku, hm?''

Raut wajah Kushina seketika berubah murung.

''Aku takut,'' Ditundukkannya wajahnya dalam-dalam.

Mengerti akan kondisi sang istri yang dalam waktu dekat ini akan segera melahirkan, Minato menarik Kushina ke dalam pelukannya.

''Aku mengerti, ''

Lantas Kushina melepaskan diri dari rengkuhan Minato.

''Bagaimana kalau aku gagal-ttebane?''

''Bagaimana kalau aku tidak kuat?''

''Bagaimana kalau aku tidak mampu?''

''Bagaimana kalau aku melakukan kesalahan?''

''Bagaimana kalau persalinannya tidak lancar?''

''Bagaimana kalau—''

Ucapan Kushina terhenti, sebab bibirnya terkunci oleh jari telunjuk Minato yang memang diletakkan di bibirnya untuk menghentikan racauannya. Minato tersenyum lembut, lantas mengangkat wajah Kushina dengan perlahan—memaksa untuk menatap matanya.

''Dengarkan aku,'' Minato menatap iris violet milik Kushina dalam-dalam.

''Aku akan selalu ada di sampingmu,''

Minato menyisipkan helaian rambut merah Kushina ke belakang telinganya.

''Aku akan selalu ada untukmu,''

Minato menangkup wajah Kushina dengan lembut.

''Aku akan selalu mendampingimu,''

Minato membelai pipi Kushina perlahan.

''Dan aku tahu kau pasti bisa,''

Lantas Minato kembali merengkuh Kushina dan mengecup puncak kepalanya perlahan.

Tetapi Kushina kembali melepaskan diri.

''Kau itu hanya bisa membuatku bertambah panik-ttebane!'' Kushina berseru dengan wajah cemberut.

Minato hanya tertawa,

''Sudah, sekarang, aku harus berangkat kerja,''

Minato mengusap rambut Kushina, lalu-sekali lagi- mengecupnya.

''Jangan pulang terlalu malam, atau kau akan tahu akibatnya!'' Kushina mengancam.

Minato tertawa canggung. Masih terekam dengan jelas di benaknya bagaimana dompetnya yang selalu gemuk, seketika itu juga langsung mengempis akibat-kau-tahu-apa-karena dirinya pulang larut malam. Dan melupakan hal yang penting.

''Baiklah, baiklah,''

Minato menggunakan sandal ninjanya.

''Jaga dirimu baik-baik, Kushina!,''. Lantas, Yondaime Hokage itu melangkahkan kakinya menuju kantor Hokage, meninggalkan sang istri yang kini tengah mengandung 8 bulan.

Minato menghela napasnya, lalu berdo'a dalam hati.

''Semoga hari ini aku selamat,''

.

.

.

Wanita itu memang rapuh

.

.

.

Minato Namikaze sedang bergelut dengan tumpukan dokumen di kantornya ketika pinta kantornya-secara tiba tiba- diketuk dengan keras. Mengernyitkan alisnya, hokage muda itu pun akhirnya bergumam

''Masuk,''

Dan pintu kantornya pun terbuka. Menampakkan Kushina yang berdiri mematung di ambang pintu.

Minato yang semula mengernyitkan alis, sekarang tersenyum lega melihat kedatangan sang istri di kantornya.

''Kushina? Kemarilah, jangan berdiri di depan pintu..,''

Dengan langkah ragu, Kushina melangkahkan kakinya-mendekat ke arah suaminya. Lantas dengan cepat menarik kursi yang ada, lalu meposisikan tubuhnya untuk duduk di samping suaminya. Sementara Minato kembali melanjutkan pekerjaannya.

Tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan dokumen yang ada, Minato memulai pembicaraan.

''Ada apa kemari? Ini siang hari, harusnya kau beristirahat, Kushina,''

Kushina yang sedari tadi duduk gelisah, kini mendengus sebal.

''Kau tidak senang kalau istrimu ini datang menjengukmu-ttebane?''

Minato tertawa pelan-masih tetap menatap dokumennya,'' Tidak, tentu saja tidak, aku senang kau datang kemari,''

Kushina mengambil sepotong kue yang –memang- disediakan di meja kerja milik Minato. Memakannya dengan lahap. Sedangkan Minato? Hah, dia sudah tenggelam dalam pekerjaannya.

''Minato?''

''Hm?''

''Kau sudah makan?''

''Hm….,''

Kushina menggembungkan pipinya. Apakah suaminya mulai tertular trademark Uchiha?. Hah, yang benar saja.

''Sudah kenyang?

''Ya,'' Minato menjawab singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen yang ada.

''Mau makan lagi?''

''Tidak,''

''Uhmm, butuh bantuan?''

''Tidak,''

''Mau kuambilakn minum?''

''Tidak,''

''Dokumennya banyak ya?''

''Ya,''

Kushina mengernyitkan alisnya. ''Apa setiap hari seperti ini?''

''Ya,''

Menyentuh tumpukan kertas sekilas, ''Apa kau lelah?''

''Bisa jadi,'' *Hah? Kok jadi Indonesia Pintar? Ya! Ya! Tidak! Bisa Jadi!#Dilempar

Kushina menggembungkan pipinya-lagi-. Jawaban macam apa itu?. Singkat, padat, dan ambigu.

Kushina benar-benar yakin kalau suaminya itu memang tertular trademark Uchiha. Ia mencatat dalam hati, 'Minato tidak boleh sering-sering berada di dekat Fugaku' –kalau ia tidak mau suaminya benar-benar 'terinfeksi' trademark klan Uchiha yang terkenal itu.

''Kau ini jadi seperti Fugaku,''

''Biar saja,'' Minato mencoba berkonsentrasi pada pekerjaannya, meski pada akhirnya tetap saja ia merasa terganggu.

''Memang apa bagusnya jawaban pendek macam itu-ttebane?!''

''Hn,''

''Lebih bagus juga trademark milkku-ttebane!'' Kushina berapi-api.

''Hn,''

''Bisa tidak sih, ganti jawaban lain?!'' Kushina mulai merasa sebal.

''Hm,''

What the what!

Sebenarnya apa yang terjadi pada suaminya ini?. Kushina hampir gila dibuatnya. Dia meminta jawaban yang lebih panjang, bukannya –aaaah! Sudahlah!.

''Kau ini jadi memakai trademark Fugaku kenapa sih?,''

''Hmm,''

''Kau ini, haaaah!. Panjangkan jawabanmu sedikit kenapa?!''

''Hmmm,''

Perempatan siku-siku mulai muncul di dahi Kushina. Wanita berambut merah ini menggembungkan pipinya-entah sudah yang keberapa kalinya-.

''Hei!''

''Hn,''

''Minato!''

''Hn?''

Kushina benar-benar jengkel sekarang.

''Nikah saja sana sama Fugaku!,'' ujarnya sewot.

Berkonsentrasi pada pekerjaannya, Minato hanya menanggapi dengan asal.

''Hn,''

Demi apapun!. Sejak kapan Minato jadi MAHO?!. Kushina sampai terheran-heran dibuatnya.

Masih menggembungkan pipinya, Kushina mencubit lengan Minato keras-keras. Membuat pemilik lengan meringis kesakitan.

''Ada apa sih?!'' Merasa sedikit frustasi dengan ocehan Kushina, Minato meninggikan nada bicaranya tanpa sadar.

''Kalau bicara tatap orangnya-ttebane!''Tak mau kalah, nada bicara Kushina juga mulai meninggi.

''Kau lihat kan? Aku ini sedang bekerja, Kushina,''Mencoba bersabar, Minato mencoba menahan nada suaranya.

''Setidaknya ladeni dulu istrimu ini, aku ini butuh teman-ttebane!,''

''Temanmu itu kan banyak, Kushina!''. Minato yang pada dasarnya memang kurang peka terhadap perasaan wanita menjawab apa adanya.

''Aku ingin bersamamu-ttebane!''

''Kau sudah bersamaku setiap hari,''

''Apa salahnya?!. Aku tidak bisa tenang, Minato!. Aku butuh seorang pendengar yang baik!. Aku butuh tempat curhat!. Dan ketika aku mempercayaimu? Kau malah menghindar?!''

Minato menghela napas panjang.

''Kushina, aku sedang sibuk. Permasalahan desa terus bertambah saat ini, Kau lihat tumpukan kertas itu? Aku harus menyelesaikannya. Nanti dirumah akan kudengarkan ceritamu, ya?'' Minato menepuk kepala Kushina perlahan.

Tetapi Kushina menepisnya dengan kasar. Minato sempat kaget dibuatnya.

Kushina bangkit dari tempat duduknya, meski sedikit kepayahan akibat perutnya yang sudah besar.

''Jadi, bagimu kertas-kertas bodoh dan dokumen-dokumen sialan itu lebih penting daripada aku? Begitu?!''

''Bukan begi—''

''Baiklah kalau begitu, jika memang sampah bodoh itu lebih penting dariku..,''

''Aku tidak—''

''Kenapa kau memilih menikah denganku?''

Pertanyaan terakhir yang keluar dari bibir Kushina sukses membuat Minato membeku seketika.

Pertanyaan ini.., apa jangan-jangan—

''Kita berpisah saja kalau begitu—''

DEG!

Jantung Minato seakan berhenti berdetak.

Kami-sama, Kushina benar-benar kecewa sekarang.

''Kamu nikah saja sama kertas!''

Lantas Kushina berjalan cepat ke arah pintu, lalu menutupnya keras-keras tanpa mempedulikan Minato yang masih terduduk cengo di tempatnya—tanpa sempat mencegah Kushina.

Otaknya masih berpikir keras dengan perkataan Kushina.

Apa dia bilang?

Menikah? Dengan kertas?

Ada-ada saja!

Tak mau ambil pusing, Minato kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Yang ia pikirkan sekarang, adalah Kushina butuh waktu untuk menyendiri.

Ia tahu kalau hati istrinya itu sekarang tengah dilanda rasa gundah dan perasaan yang tak tenang. Tentu dengan kondisi seperti itu, ditambah dengan keadaan hamil, istrinya itu benar-benar membutuhkan tempat untuk bersandar.

Menenangkan pikiran, Hokage keempat itu melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk. Mempercayai pemikiran yang ada di kepalanya. Sebab ia tahu, Kushina memiliki sesuatu yang membuat Minato mencintainya. Minato tahu Kushina pasti bisa menyelesaikannya.

.

.

.

Kushina Uzumaki melangkah tak tentu arah meninggalkan ruang kerja suaminya. Napasnya memburu tak teratur menahan rasa kesal yang sedari tadi terus mendesak dalam dadanya. Ia mengusap ujung matanya kasar. Kesal, kecewa, dan marah.

Kejadian ini terulang lagi.

Minato lagi-lagi mengabaikan dirinya yang-jujur- saat ini sedang butuh teman curhat, hanya karena pekerjaannya. Huh, sepertinya memang benar. Laki-laki itu bermulut manis, melontarkan janji palsu yang bikin PHP.

Kushina berhenti di tengah padang rumput dekat gerbang keluar-masuk Konoha. Ia mengistirahatkan tubunya sejenak, duduk di bangku panjang dekat sungai kecil. Menghirup udara segar yang ada dalam-dalam, lalu menghembuskannya keras-keras.

Bagaimana sekarang?

Kushina benar-benar tak tahu langkah apa yang harus diambil. Perasaannya bertambah gundah dan saat ini, satu-satunya tempat kepercayaannya untuk menumpahkan segala rasa yang ia miliki sedang mengabaikannya.

Demi apa?

Sungguh, Kushina bingung sekarang. Ingin bercerita, kepada siapa?. Ingin menangis, untuk apa?. Ingin berteriak, memangnya perempuan macam apa dia?. Mau bunuh diri? Hanya orang bodoh yang akan melakukannya hanya karena masalah sepele macam ini.

Kushina benar-benar bimbang. Beberapa minggu belakangan, perasaannya tak menentu. Gundah, takut, khawatir, tak menentu. Ia tak tahu apa yang harus diperbuat. Kondisi ini sungguh membingungkan. Rasanya seperti tersesat di lorong yang sempit, bertemu gamabunta yang sedang tidur, pergi ke pemandian air panas di tengah gurun, terlempar ke luar desa, lalu makan dango yang paling maniiis. Karena Minato punya banyak tingkah menyebalkan untuk harimu. Baiklah, abaikan yang barusan.

Intinya, Kushina benar-benar bingung sekarang. Tersekap dalam kegelapan perasaannya sendiri. Dan tak ada seseorang yang mendengar keluh kesahnya, memberinya semangat dan motivasi.

Menanggung semuanya sendiri. Dalam keadaan hamil tua, pikirannya terbagi antara anaknya, persalinannya, dan labirin perasaannya sendiri.

Sekarang ia ada di sini. Di tengah pedang rumput. Hanya ditemani burung-burung yang sesekali melintas, dan juga bisikan angin. Sendirian.

Sendiri. Tanpa seorangpun yang bisa jadi penopang dirinya.

Meski begitu, Kushina tetap menenangkan perasaan yang bergejolak. Di tengah alam yang rindang dan tenang seperti ini, setidaknya ia bisa menguatkan dirinya. Mengatasi perasaannya sendiri.

.

.

.

Tapi kuat

.

.

.

''Tadaima!''

Minato mengernyitkan alis. Tidak ada yang menyambutnya. Kemana istrinya?.

Dan lagi, kenapa rumahnya jadi sepi seperti kuburan?.

Melepas sepatu ninjanya, Minato melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah perlahan.

Pertama ruang tengah, kosong. Kedua ruang makan, kosong-tidak ada makanan. Ketiga dapur, sepi-tidak ada suara yang biasa ditimbulkan istrinya ketika memasak. Dan tujuan terakhirnya—

-Kamar. Satu-satunya tempat yang memungkinkan bagi istrinya berada untuk saat ini.

''Kushina?''

Minato menghela napas lega ketika dilihatnya sang istri yang sedang tertidur di kamar. Wajahnya terlihat lelah. Dengan lembut, Minato menyampirkan selimut di tubuh istrinya, membelai kepalanya pelan, lalu mengecup pipinya lembut.

''Aku pulang,'' Minato berbisik.

Merasa tak ada jawaban dari Kushina, Minato memutuskan untuk mengganti baju ninjanya dengan baju rumah. Oh, sebelumnya mandi dulu. Lalu merapikan peralatannya sebentar, dan menempatkan tubuhnya berbaring di sebelah Kushina.

Iris biru langit milik Minato nyaris bersembunyi di dalam kelopak mata, ketika dirasanya sebuah sodokan-yang tidak bisa dibilang pelan- di daerah tulang rusuknya. Matanya kembali terbuka, lalu bangkit untuk duduk –memeriksa apa gerangan yang menginterupsi tidurnya barusan.

Dilihatnya sang istri yang sekarang tengah menatapnya. Minato tersenyum lembut.

''Hei, sudah bagun?''

Di luar dugaan, Kushina justru bangkit dari tidurnya, lalu-berusaha- mendorong Minato. Meski pada akhirnya, usahanya tak membuahkan hasil.

Minato kebingungan dibuatnya.

''ada ap—''

''Tak usah sok baik, sekarang kau pergi dari sini,''

Jawaban Kushina sukses membuat Minato membelalakkan matanya.

''Hei hei, kau tak serius tentang—''

''Kita kan sudah berpisah, sekarang kau tidur saja sana sama Fugaku atau dokumen dan kertas bodoh mu itu!''

Minato melongo. Hei, ayolah. Tidak mungkin kan, Kushina serius dengan perkataannya.

''Cium saja sana Fugaku, lalu peluk dan temani dia curhat!'' Kushina menggembungkan pipinya.

Minato hanya tertawa pelan mendengar perkataan Kushina.

''Nanti aku dimarahi Mikoto lho..,''

''Biar saja, itu kan, deritamu,''. Kushina mengomel.

''Hei, tidak bisa begitu, dong..,''

''Ya sudah, kalau begitu, peluk saja kertas-kertas itu, atau cium, atau belai, atau apapun terserahmu, sana! Sudah kusiapkan kertas di pojok!''

Minato kembali tertawa, lalu-sedikit memaksa- ia menarik pergelangan tangan Kushina. Mendekatkan wajahnya, membuat Kushina terdiam seketika.

''Marah karena tadi siang, hime?''

Kushina mengalihkan pandangannya. Entah karena kesal atau karena menyembunyikan sesuatu(?). Kau tahu apa maksudku.

''Sekarang kau dengarkan aku,''

Minato menangkup wajah kushina, memaksa untuk menatapnya-entah sudah keberapa kali untuk hari ini.

''Aku tahu kau memang sedang dalam perasaan yang tak tentu. Meski aku tak tahu pasti itu kenapa, moodswing mungkin?.''

''….''

''Aku tahu setiap wanita butuh seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya dalam keadaan bimbang, menopangnya ketika ia rapuh''

''…..'' Kushina menundukkan kepalanya.

''Maaf kalau aku belum bisa menjadi laki-laki yang seperti itu'' Sekali lagi, Minato menuntun pandangan Kushina kearahnya.

''Maaf kalau aku menyakiti perasaanmu tadi,''

''Maaf kalau akau belum bisa menjadi suami yang baik dan sempurna,''

''...''

Minato tersenyum-lagi.

''Aku bekerja bukan hanya untuk desa, Kushina,''

''….''

''Ini untukmu, juga Naruto. Aku ingin yang terbaik saat kelahirannya nanti. Maka dari itu aku harus bekerja lebih keras,''

Kushina mematung.

''Kuharap kau tidak serius soal berpisah. Tapi kalau kau memang benar-benar ingin berpisah—''

''Tidak!''. Kushina memeluk Minato.

''Aku tidak serius soal itu.''Kushina bergumam.

Minato tertawa kecil, lalu mengusap puncak kepala Kushina.

''Aku percaya,''

Kushina lalu menatap Minato.

''Maafkan aku,''. Kushina berujar pelan.

''Aku selalu memaafkanmu, Minato. Lagipula, soal masalah tadi siang, lupakan saja. Aku pada akhirnya bisa bertahan sendiri. Yang kubutuhkan hanyalah penenangan diri,''

''Aku hanya emosi saat itu, aku kesal, aku bimbang, aku bingung, aku gundah, aku kecewa, aku hanya ingin—''

''Mengutarakan semuanya padaku. Tapi yang ada aku malah sibuk bekerja, lalu setelah itu kau berlari dan memilih duduk sendiri di padang rumput,''Minato memotong perkataan Kushina.

Kushina menatap Minato heran. ''Kau menguntitku ya?,''. Matanya memicing.

Minato tertawa, lalu mencubit hidung Kushina gemas. Membuat pemiliknya cemberut.

''Aku tahu semua tentangmu, Kushina,''

''Tapi kau mengabaikanku, tidak menyusulku atau apa pun,''

''Itu karena aku tahu,''

Minato menggenggam tangan Kushina erat.

''Kau itu kuat. Aku yakin kau bisa melewatinya. Itulah salah satu faktor yang membuatku suka,cinta, dan sayang padamu,''

Kushina bersemu merah ketika Minato menariknya, lalu memeluknya lagi. Dan tak lupa, kecupan kecil di kepala.

Lama dalam hening, sampai Kushina tiba-tiba melepaskan diri dari pelukan Minato.

''Aku minta maaf, aku istri yang buruk, aku calon ibu yang belum siap, aku terlalu rapuh, selalu merepotkan, membuatmu kesulitan, menyusahkanmu, manja, banyak maunya, berprasangka buruk padamu, selalu meny—''

Minato meletakkan jari telunjuknya di bibir Kushina.

''Diamlah. Itu semua membuatku semakin mencintaimu setiap waktu yang kulewati bersamamu bertambah,''

Minato mendekatkan diri pada Kushina—

''Aku mencintaimu selalu,''

-Lalu mengecup dahinya lama.

Tak bisa dipungkiri, wajah Kushina sudah memerah sekarang.

Tak mau ketahuan memerah di dalam pelukan Minato, Kushina melepaskan diri lalu berlari panik menjauhi Minato.

''Kau itu bukannya menjadi penopangku saat aku rapuh, yang kau lakukan justru membuat pertahananku hancur dan runtuh, bodoh!''

Kushina berteriak dari jauh.

Minato tertawa kecil, lalu bangkit dari duduknya, mengejar Kushina, lalu memeluknya ketika ia berhasil menangkapnya.

Keduanya tertawa senang di ruang tengah yang telah menjadi saksi kebahagiaan keluarga kecil ini.

.

.

.

Itulah yang membuatku menyukaimu, semakin mencintaimu,dan bertambah sayang padamu.

.

.

.

Kau tahu Minato? Berkatmu aku jadi kuat. Menyelesaikan peperangan batinku sendiri, meski secara tak langsung, kau mengirimkan energi cinta dan kepercayaan yang selalu menjadi penopang di saat akau butuh.

.

.

.

Wanita itu rapuh, tapi kuat

..::OWARI::..

Atau To Be Continued mungkin? Enaknya bagaimana?

Huwaaaaa! Apa ini?!

Hai! Akhirnya saya bisa update juga, ''

Maaf kalau fic yang ini jelek. Saya buatnya terburu-buru, mengingat dikejar waktu try out mendatang.

Maaf juga kalau ceritanya nggak nyambung samasekali dengan quotesnya, saya lagi error.

Idenya juga pasaran ya?. Habis mau gimana? Ide yang ada di kepala saya menguap begitu saja - -''

Maaf banget kalau cerita yang ini banyak kesalahan. Juga amburadul nggak karuan.

Ini nggak pake plot-lagi-, ditambah cara penulisan yang brutal. Jadi apa ini?.

Oh iya, terima kasih yang sudah follow, fave, review, dan jug abaca fict ini ya.,

Saya sangaaaat senang mendapat itu semua!.

Maaf kalau saya belum bisa menulis fict yang bagus dan memuaskan, saya juga lagi belajar sekarang ini.

Sekali lagi saya minta maaf untuk fict yang saya post kali ini akan hancur berantakan dan tak berbentuk.

Saya harap, readers semua bisa mengerti

Oh iya, mau tanya. Arti dan penjelasan Canon dan AU itu apa ya?. Saya akan sangat berterimakasih kalau ada yang mau menjawab.

Arigatou buat semuanya!.

Terakhir, Review please?

Flame juga bakal diterima kok,

Sekali lagi, arigatou! ^^

8 Oktober 2013,

NadyaA