Wanita

4

Disclaimer ©Masashi Kishimoto

Story©NadyaA

Rated: T mungkin? :D

Genre: Nggak tau -''

Warning: Alur berantakan, Alur (super) kecepetan, Nggak nyambung, OOC, Garing -,- ,Misstypo(s), Dan banyak kesalahan lainnya ! ^^

Special Thanks To:

Namikaze Akane, U. Icha-chan, Chen, Pertiwivivi2, Shin Ayumi, Amanda WaCha-chan, Kagamine MiCha, MinaKushiLovers, Uzumaki Dobe-chan, AnnisaIP

Terima kasih untuk review dan semangatnya!

Cerita ini kupersembahkan untuk para pereview dan pembaca lainnya.

DLDR! and RnR?

Happy Reading Minna!

Arigatou ~(^,^)~

Kushina Uzumaki terduduk diam di sofa ruang tengah kediaman Namikaze. Manik violetnya bergulir mengikuti arah gerak sang suami. Kushina mendengus. Sudah satu jam lebih suami tercintanya itu berjalan mondar-mandir di hadapannya. Diusapnya perutnya yang sudah membuncit dengan perlahan.

''Ayahmu itu kenapa-ttebane?''

Kushina mulai khawatir akan keadaan suaminya. Sungguh, Minato berjalan tak tentu arah secara terus-menerus. Kanan, kiri, depan, belakang. Kushina sampai pusing dibuatnya. Ia mulai berpikir apakah kepala Minato terbentur sesuatu di kantor Hokage ketika ia bekerja, sehingga ia berubah menjadi aneh seperti ini?.

''Minato…,''

Merasa risih melihat pergerakan sang suami ditambah rasa pusing yang mulai datang, Kushina mengulurkan tangannya. Menghentikan gerakan Minato secara tiba-tiba, nyaris membuat pria berambut kuning itu terjungkal ke depan. Kushina mendengus kesal.

''Hentikan sikap konyol itu, Minato,''

Kushina menatap Minato lekat-lekat. Sedangkan yang ditatap hanya memandang balik-keheranan. Secara perlahan, hokage keempat itu melangkahkan kakinya. Pandangannya masih tetap terkunci pada sang istri. Kushina hanya bisa mengerutkan alisnya. Bertambah bingung dengan sikap sang suami.

''Kau itu kenap—''

Perkataan Kushina terpotong kala Minato tiba-tiba saja mencium dahinya lama. Setelahnya ia mengusap rambut kemerahan Kushina dan memandang istrinya dengan tatapan khawatir.

''Ada apa denganmu, Kushina?''

Kushina mendengus lagi. Didorongnya pundak sang suami pelan-meski bagi Minato itu tidak bisa dibilang pelan.

''Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu-ttebane!''.

Minato menaikkan sebelah alisnya-merasa bingung dengan pernyataan Kushina. Mengerti akan arti tatapan yang ditujukan padanya oleh sang suami, Kushina mendengus kesal.

''Kau itu kenapa? Berjalan kesana-kemari seperti orang sakit perut-ttebane?!''.

Bukannya menjawab, Minato justru memeluk Kushina. Membuat Kushina sedikit kesulitan untuk bernapas

''Aku khawatir,'' bisiknya pelan.

Kushina bertambah heran. Ia benar-benar khawatir sekarang. Apakah suaminya ini sedang tertimpa masalah yang serius?. Atau ada yang mengancam?. Apakah ada permasalahan desa?. Peperangan?. Pemberontakan?. Penyera—

Pikiran Kushina terputus begitu saja ketika dirasanya napasnya semakin sesak. Ditepuknya perlahan punggung Minato.

''Hei, Minato, lepaskan aku!''

''Tidak mau,''

Kushina bertambah panik dibuatnya. Ia benar-benar butuh pasokan udara!. Tak bisakah suaminya ini mengerti?!.

''Minato! Kau mau membunuhku-ttebane?!''

Minato mengernyitkan alisnya bingung.

''Aku hanya memelukmu, hime.., apa yang membuatmu berpikir bahwa aku mau membun—''

''Aku tidak bisa bernapas!''. Kushina akhirnya berteriak.

Minato pun segera melepaskan pelukan (maut) nya. Dan saat itu juga, Kushina meraup seluruh udara yang bisa dihirup olehnya pada waktu itu juga. Sebanyak-banyaknya. Peluh tampak menetes perlahan dari keningnya. Kushina tampak berusaha mengatur napasnya.

Setelah tenang dan napasnya sudah teratur, Kushina menatap raut khawatir suaminya lekat-lekat. Mencoba mencari penjelasan atas apa yang sedang terjadi saat ini. Tapi pada akhirnya, ia tak dapat menangkap dengan jelas apa yang sedang dipikirkan suaminya itu. Wajah Minato yang tampak absurd membuat Kushina menyerah.

''Baiklah, Minato, apa yang membuatmu khawatir?''. Kushina bertanya dengan nada lembut. Ia menatap suaminya dalam-dalam.

Begitu juga dengan Minato, ia menatap intens istrinya itu. Tangan kanannya masih tetap menggenggam erat pergelangan tangan Kushina. Lalu seakan tanpa beban, Minato menjawab dengan enteng.

''Kau,''

Kushina menaikkan sebelah alisnya.

''Aku?''. Ia menunjuk dirinya sendiri.

Minato mengangguk kecil. ''Iya, kau, Kushina-hime,''

''A—aku?. Apa dariku yang membuatmu khawatir?''. Raut wajah Kushina menunjukkan kebingungan.

Minato tidak menjawab. Masih tetap memegang pergelangan tangan Kushina, ia menundukkan wajahnya. Membuat beberapa helai dari jambangnya terjatuh turun, menutupi sebagian wajahnya. Lalu diciumnya perlahan perut Kushina yang telah membuncit.

''Ini yang membuatku khawatir,''.

Minato mengangkat kepalanya. Menatap wajah istrinya yang memerah, lalu mengalihkannya lagi, kembali pada perut Kushina. Diusapnya dengan lembut dan perlahan.

''Jagoan kecilku sebentar lagi akan lahir,'' Minato melanjutkan.

Kushina mendengus geli. Dirinya yang mau melahirkan, kenapa justru Minato yang jadi gelisah?.

Diusapnya rambut kuning milik suaminya.

''Terima kasih sudah mau mengkhawatirkan keadaanku,'' Kushina tersenyum lembut.

''Apapun untuk Kushina-chan, aku bersedia melakukan apapun asal kau bisa bahagia,''. Minato tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi.

''Gombal,''. Kushina mendengus- entah sudah yang keberapa kalinya.

Suasana berubah menjadi hening. Minato menatap Kushina dengan pandangan yang sulit diartikan. Kushina yang ditatap seperti itu jadi gelagapan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah pot bunga di seberang, menghindari tatapan mata suaminya.

Minato menggenggam pergelangan tangan Kushina semakin erat. Lalu mendekatkan wajahnya dengan tampang serius. Kushina-meskipun tidak menatap ke arah Minato- mulai merasa panik ketika dirasanya wajah sang suami yang semakin mendekat.

''A—apa?!''. Kushina bergerak mundur, sampai punggungnya menabrak sandaran kursi di belakangnya. Ia berusaha menarik-melepaskan- pergelangan tangannya dari genggaman Minato. Tapi semua sia-sia saja. Wanita berambut merah itu semakin panik ketika ia melihat seringai tampan-cieh!- di wajah suaminya.

Wajah Minato semakin dekat. Sekarang hanya terpaut jarak sekitar sekepal tangan diantara Kushina dan Minato. Kushina semakin gelagapan dibuatnya. Ia bisa merasakan hembusan napas hangat milik suaminya.

''A—apa yang kau laku—''

CUP~

Minato mencium dahi istrinya. Kushina mematung.

''Huwaaa!'' Kushina berteriak kaget. Ia kembali berusaha melepaskan diri dari Minato. Takut jantungnya meledak kalau berada di dekat Minato terus. Kushina kembali mematung kala dilihatnya sang suami yang kembali mendekati dirinya. Innernya berteriak panik, tapi tubuhnya membeku di tempat, tak bisa bergerak. Keringat mulai mengucur dari dahinya. Minato semkain dekat, mendekat, mendekat, dan—

''Aduh!''

Minato mengaduh kesakitan. Sesuatu telah menginjak kakinya dengan keras, sampai-sampai rasanya tulang kakinya remuk seketika. Ia melirik ke bawah sana, dan ia mendapati kaki putih sang istri tengah berada di atas kakinya. Lalu secara perlahan, ditolehnya wajah sang istri yang sedang memasang tampang memerah, duduk merapat di sisi kursi menjauhi dirinya. Minato menyeringai.

''A—apa yang mau kau lakukan?!''. Kushina merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia jadi panik? Biasanya dia akan menghajar suaminya itu kalau berani berbuat macam-macam. Tapi sekarang? Sekadar menolak saja tak bisa.

Minato tertawa kecil, ia mengulurkan tangannya. Mencubit pelan hidung Kushina.

''Aku hanya mau bilang, jangan mendengus terus,''. Kushina menaikkan sebelah alisnya.

''Kalau mendengus, lama-lama kau jadi seperti sapi peliharaan Teuchi-san,'' Minato menambahkan.

Kushina cemberut. ''Biarkan saja!''.

Minato tersenyum. Lalu suasana kembali hening.

''Apa kau sudah siap?'' Minato bertanya pelan.

Kushina yang duduk di sebelahnya, menyandarkan kepalanya di bahu Minato.

''Asal ada kau, aku selalu siap,''. Ia tersenyum tipis.

Minato tertawa, lalu mengusap rambut istrinya perlahan.

''Baiklah, Kushina..,''

.

.

.

Siang ini matahari bersinar terik, Kushina mengeluh. Sepanjang perjalanan, ia tak henti-hentinya mengomel . Minato yang ada di sebelahnya pun hanya tersenyum samar, sambil sesekali menanggapi ocehan istri tercintanya itu.

''Minato-sama!,'' sebuah suara yang sepertinya milik seorang perempuan di telinga keduanya terdengar. Kushina yang awalnya memasang sikap siaga akan kemungkinan wanita-wanita yang mencari perhatian atau menggoda suaminya, kembali bernapas lega setelah mengenali suara ini.

Minato menolehkan kepalanya, lalu mendengus.

''Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, Uchiha,'' Minato menekankan kata 'Uchiha'.

Mikoto Uchiha hanya tertawa, ''Baiklah, baiklah, Yondaime-sama,'' Mikoto tersenyum jahil.

Minato menatap malas ke arahnya, sementara Kushina langsung menghambur-memeluk sahabat terdekatnya itu.

''Mikoto, waaah, kangennya~'' Kushina berujar riang.

Mikoto hanya meringis, lalu diliriknya sang Hokage Keempat yang sedang sibuk mendengus kesal dan menyumpah-serapah.

''Hei, seorang hokage harus sabar, loh~'' goda Mikoto.

Minato berniat untuk tidak menghiraukan perkataan sahabat istrinya itu, tapi kegiatannya langsung terhenti ketika ia disuguhi deathglare yang indah dari istrinya. Minato tertawa canggung. Sedangkan Mikoto tersenyum kecil melihat tingkah dua sahabat sejak kecilnya itu.

''Hei, ngomong-ngomong, kalian mau ke mana?'' Mikoto mencoba mencairkan suasana. Serentak, Minato dan Kushina-yang sibuk bertatap ria- menoleh kepadanya.

''Ke Uchiha,'' Minato menjawab. Ambigu.

Melihat wajah Mikoto yang tampak kebingungan, Kushina cepat-cepat menjelaskan.

''Ke rumah Uchiha, ke rumahmu,'' Kushina meringis.

Mikoto mengernyit. ''Ke rumahku? Ada apa? Apa ada masalah?,'' Wanita berambut hitam itu memerhatikan dua sahabatnya.

Kushina mengangkat bahu. ''Kalau kau ingin tahu alasannya, durian di sebelah sana bisa membantu,'' Kushina menunjuk Minato dengan sadis. Acuh tak acuh.

Minato yang dikatai durian hanya menghela napas, lalu menyeringai.

''Kau bilang aku durian pun, nyatanya kamu tetap mencintaiku,''. Ucapan Minato sukses membuat wajah Kushina terasa mendidih. Mikoto kembali tertawa melihat tingkah dua sahabatnya yang tak berubah banyak semenjak kecil. Lantas, ia menoleh kepada Minato.

''Baiklah Durian-sama, bisa jelaskan?''. Minato kembali menghela napas, mencoba bersabar dengan sebutan 'Durian' yang dilontarkan dua orang wanita yang paling dekat dengannya.

''Begini, aku harus menjalankan rapat dan mengatur misi rahasia seharian penuh ini. Jadi aku tak bisa pulang siang ini dan bukan sesuatu yang mustahil kalau aku akan pulang larut malam. Itu artinya, aku terpaksa meninggalkan Kushina sendirian di rumah,''. Minato melirik Kushina sekilas, lalu melanjutkan.

''Ia sedang hamil, dan sebentar lagi akan melahirkan. Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja, karena itu, tak ada salahnya kalau aku membawanya untuk ada bersamamu sementara, sampai aku bisa kembali lagi. Aku ingin Kushina berada dalam keadaan yang aman,'' Minato menjelaskan.

Mikoto mengangguk kecil, sementara Kushina mengerucutkan bibirnya-merasa suaminya sedang menggodanya. Minato tertawa dibuatnya, lalu mencubit pipi Kushina gemas, membuat sang pemilik mengaduh pelan.

''Baiklah, kalau begitu, Kushina bisa ke rumahku bersamaku, kebetulan juga Fugaku-kun sedang ada misi, jadi aku sendirian. Sementara kau bisa berangkat bekerja saat ini juga, Durian-sama,'' Mikoto berkata setengah mengusir.

''Baiklah, baiklah. Jaga himeku baik-baik ya, aku akan sangat khawatir kalau sampai melihatnya terluka barang sedikit saja,'' Minato berkata setengah bercanda. Kushina mendengus lagi.

''Hei, sudah kubilang kan, jangan mendengus terus. Kau jadi seperti sapi, Kushina,''. Kushina memelototi Minato, sementara yang dipelototi hanya tertawa kecil.

Pandangannya beralih kepada Mikoto Uchiha. ''Baiklah, aku memercayakan Kushina kepadamu, nyonya Uchiha,'' Minato menyeringai.

''Baiklah, Durian-sa—''

''Sekali lagi kau memanggilku dengan sebutan itu, aku akan menghukummu,''. Minato memicing.

''Kau tidak akan bisa, Fugaku akan melindungiku,'' Mikoto tersenyum manis.

''Oh, aku akan menitipkan hukuman itu pada Fugaku,'' Minato menyeringai misterius.

''Itu tidak akan terjad—''

''Ah ya, hampir aku lupa, hukuman itu akan dilakukan pada malam hari. Fugaku akan dengan senang hati menerimanya dan melakukannya padamu,'' Minato tersenyum licik, berkata dengan penuh penekanan.

Mengerti akan maksud perkataan Minato, Mikoto langsung meneguk ludahnya susah payah. Kalau sampai hal itu terjadi, ia tak akan bisa melarikan diri, dan habislah ia. Suaminya itu bisa menjadi sosok yang berbeda kalau sudah berurusan dengan hukuman itu.

''Baiklah Duri—, maksudku, Minato, kau boleh pergi sekarang,'' –sekali lagi— Mikoto berkata setengah mengusir.

''Aku berangkat….., baik baik sama Mikoto ya, Nona Sapi,'' Minato meringis, lalu menghilang secepat kilat dengan Hiraishin no Jutsunya sebelum kepalanya menerima lemparan kasih sayang berupa sandal ninja dari Kushina.

.

.

.

''Akhirnya sampai juga-dattebane!''.

Kushina melempar tubuhnya ke atas sofa kediaman Uchiha. Mikoto Uchiha, sahabat terdekat wanita berambut merah itu hanya bisa menatap horror ke arah Kushina.

''Hei, hei, kau itu sedang hamil, mau melahirkan. Tindakanmu itu mengerikan, kau tahu?,''. Kushina hanya meringis mendengarnya.

''Baiklah, baiklah. Gomen telah membuatmu khawatir,''. Mikoto tersenyum, lalu meletakkan anak keduanya-Uchiha Sasuke- yang tengah terlelap dalam gendongannya ke kamar di lantai dua. Setelahnya ia kembali ke ruang tengah.

''Kushina, aku akan memasak makan siang untuk kita, kau di sini dulu, ya?''

''Eh, aku akan membantu,'' Kushina berusaha bangkit tetapi tubuhnya sudah ditahan oleh sahabatnya.

''Tidak usah, aku bisa sendiri kok, lagipula kamu hamil. Nanti kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana? Kau tunggu di sini saja, ya?'' Mikoto memohon seperempat memelas.

Setelah berpikir cukup lama, Kushina akhirnya mengangguk juga.

''Baiklah kalau begitu, gomen ne, Mikoto..,''

Mikoto tersenyum lembut,'' Daijoubu,''

Wanita berambut hitam sepunggung itu beranjak ke dapur, meninggalkan Kushina yang tengah asyik membaca buku-buku dan majalah milik Mikoto di ruang tengah. Belum lama kemudian, kepala milik istri dari Fugaku Uchiha itu menyembul dari balik dinding pemisah dapur.

''Hei, apakah kau tidak pernah berpikir untuk punya anak lagi?''. Wanita bermata onyx itu bertanya sembari memotong bumbu-bumbu dan sayuran.

Kushina menghentikan kegiatan membacanya, lalu mengendikkan bahunya sekilas.

''Aku sudah pernah mengatakannya tetapi Minato tidak mau,'' Ia mendengus.

Mikoto tertawa pelan, tetapi cukup keras untuk bisa didengar Kushina yang sedang berada di ruang tengah.

''Bersabarlah, Durian-sama memang sedikit keras kepala dan….., pemalu?'' Mikoto berkata dengan ragu. Sedetik kemudian ia mengendikkan bahu dan melanjutkan acara memasaknya.

''Entahlah, Durian kuning itu bilang kalau dia tak akan melakukannya dalam jangka waktu yang lama. Katanya ia masih belum siap untuk membagi kasih sayangnya kepada dua orang, '' Kushina menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang ada di tangannya.

Mikoto tertawa lagi, ''Sepertinya kau harus bersabar, Kushina. Aku yakin Durian itu pada akhirnya akan memenuhi permintaanmu,'' Mikoto bergumam.

Kushina menghela napas,'' Yah, kuharap begitu. Hanya mempunyai satu anak tidak akan menjadi sesuatu yang baik untuk kesehatan psikologis Naruto,'' Ia mendesah lelah.

Mikoto tersenyum simpul. ''Dasar Durian-sama,'' Ia bergumam pelan lalu memasukkan potongan sayuran beserta bumbunya ke dalam air yang mendidih. Tanpa tahu sesosok—bukan, dua sosok pria tengah mengawasi kediamannya dengan tatapan serius.

Seorang pria yang memakai jubah putih dengan gambar kobaran api berwarna merah di bagian ujung bawahnya hanya mendengus kesal.

''Dia telah melanggar,'' gumamnya.

Lantas pria berjubah itu menoleh kepada rekan—sahabat— yang berdiri dengan tangan yang dimasukkan ke saku celana di sebelahnya.

''Kau ingat penawaranku soal misi hukuman minggu lalu?'' Pria berjubah menatap rekannya itu.

Pria berambut raven yang berdiri di samping pria berjubah itu menyeringai sadis.

''Hn,'' Ia menyahut singkat.

Pria berjubah itu tersenyum puas. ''Bagus, aku ingin kau melakukan misi itu padanya,''

''Malam ini juga,'' Pria berambut kuning dengan jubah bergambar kobaran api di ujung bawahnya berkata dengan penuh penekanan. Tak lupa dengan wajah yang sadis.

Pria bermata onyx di sebelahnya menyeringai licik. Sekilas, matanya berubah menjadi merah dengan tiga tomoe di tengahnya, secara tidak langsung menunjukkan betapa sadisnya dia kalau sudah menyangkut pelaksanaan misi khusus tingkat tinggi yang ditawarkan padanya minggu lalu. Seolah-olah korban misinya nanti bisa mati kelelahan kalau sudah dihadapkan dengannya.

Lalu dengan seringai yang bertambah sinis dan sadis, pria berambut raven dan bermata onyx dengan pakaian jounin itu menjawab dengan pasti akan titah yang diberikan kepadanya.

''Dengan senang hati,'' Hatinya bersorak sadis.

''Aku mengandalkanmu dalam pelaksanaan penyerangan hukuman balas dendam kepada Mikoto Uchiha kali ini,'' Pria berjubah dengan rambut kuning itu menyeringai puas.

''Hn,'' Pria dengan tatapan dingin manyahut.

''Baiklah, kita harus segera pergi dari sini, Uchiha,'' Pria berambut kuning berujar tenang.

Lalu tanpa banyak bicara, dua sosok pria pengintai tersebut melesat pergi, menghilang, meninggalkan kompleks kediaman Uchiha dengan seringai licik di wajah masing-masing.

.

.

.

''Tadaima~!''

Suara teriakan seorang bocah laki-laki terdengar nyaring dari pintu masuk kediaman keluarga kepala klan Uchiha. Mendengar suara itu, Mikoto dan Kushina segera menghentikan kegiatannya masing-masing dan menyahut secara serentak,

''Okaeri!''

Tak lama kemudian terdengar suara bergedebuk yang berisik. Disusul dengan suara lantai kayu yang dipijak dengan tempo yang cepat, mendekat. Kushina terheran-heran dibuatnya. Setelahnya, tampaklah seorang bocah laki-laki berumur 5 tahun dengan senyum mengembang di wajahnya. Membuatnya tampak imut, lucu, dan unyu.

''Sudah kuduga! Suara itu! Kushina baa-chan!'' Itachi tersenyum riang, lalu berlari ke arah Kushina yang sedang duduk memperhatikannya. Bocah berambut hitam itu melepaskan tas selempangnya asal, lalu cepat-cepat duduk di sebelah Kushina.

''Hei, Itachi-kun,'' Kushina tersenyum kecil sembari menepuk kepala bocah di sebelahnya.

''Itachi, kau main dengan Kushina baa-chan dulu ya, kaa-san sedang memasak makan siang untuk kita,'' Mikoto berkata setengah berteriak dari arah dapur.

''Ha'i, kaa-san!,'' Itachi menyahut dengan riang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah perut Kushina.

Melihat tingkah Itachi itu, Kushina hanya tertawa kecil. ''Ada yang membuatmu bingung, Itachi-kun?''. Kushina mengelus kepala Itachi perlahan.

Bocah bermata onyx itu menatap Kushina dengan serius, lalu memfokuskan penglihatannya kembali pada perut Kushina. Disentuhnya perlahan dengan jari telunjuknya. Bibirnya tampak mengerucut—pose berpikir khas Itachi kecil yang sangat disukai Kushina. Kushina tertawa melihatnya.

''Ada apa, hm?'' Ia bertanya dengan lembut.

Itachi menatap Kushina dengan polos. ''Kapan adiknya lahir?''

Kushina mengangkat alisnya bingung-sekaligus geli. ''Ada apa memangnya?''

Itachi mengusap perlahan perut Kushina. ''Sasuke akan segera mendapat teman baru kalau adik ini lahir. Dia tak akan kesepian ketika aku sedang pergi belajar di akademi,''

Kushina hanya tersenyum lembut mendengarnya. Pemikiran yang sangat dewasa.

''Adiknya akan lahir sebentar lagi, dalam waktu dekat ini,'' Kushina tersenyum lebar. Di usapnya perlahan perut besarnya. Iya kan, Naruto?.

Mendengar jawaban Kushina, Itachi tersenyum antusias. ''Benarkah?!. Adiknya akan segera lahir?! Yeeey!'' Itachi bersorak riang.

''Kalau begitu, kapan waktu tepatnya, Kushina baa-chan?'' Itachi menampakkan senyum riangnya. Senyum khas anak-anak.

Kushina tampak mengernyit. Bukan karena pertanyaan Itachi, tetapi ia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Firasatnya mengatakan kalau sebentar lagi sesuatu akan terjadi.

''Apakah sore? Siang? Minggu depan? Kapan?!'' Itachi masih sibuk berceloteh.

''Berapa lama lagi? Aku harus menunggu sampai kapan?'' Bocah kecil itu melanjutkan celotehannya.

''Apakah dalam hitungan detik? Menit? Jam? Hari? Minggu? Bulan?''

''Kapan? Kapan?''

Merasa tak ada jawaban, Itachi memutuskan untuk menolehkan kepalanya—bermaksud protes karena pertanyaannya tak dijawab.

''Kushina baa-chan?!'' Itachi bergumam pelan.

Dilihatnya Kushina yang sedang tertunduk memegangi perutnya. Wanita berambut merah itu tengah meremas ujung bajunya kuat-kuat.

''Ukh..,'' rintihan kesakitan lolos dari bibir Kushina.

Sebagai anak yang tanggap, Itachi segera berlari memanggil ibunya di dapur.

''Kaa-san!'' Itachi berteriak panik.

Mikoto yang sedang memasak sampai terlonjak kaget dibuatnya. ''Ada apa, Itachi? Bukankah kaa-san sudah memberitahumu untuk jangan berteri—''

''Kushina baa-chan!'' Tak mempedulikan teguran ibunya, Itachi menarik pergelangan tangan Mikoto yang sedang kebingungan.

Mendengar nama 'Kushina' , otaknya langsung memasang status siaga. Dicengkeramnya erat kedua bahu anak sulungnya itu.

''Katakan, ada apa?'' Mikoto berusaha bersikap tenang.

Itachi yang sedang panik lantaran melihat keadaan Kushina yang berubah drastis hanya meneguk ludahnya pelan.

''A—aku tidak tahu! Kushina baa-chan tadi memegangi perutnya!'' Itachi bercerita.

Medengarnya, Mikoto langsung saja melesat menuju ke ruang tengah. Pikirannya mulai panik sekarang. Makan siang yang setengah jadi di dapurnya ditinggalkan begitu saja.

Betapa terkejutnya Mikoto ketika melihat keadaan di ruang tengahnya. Di atas lantai, dilihatnya Kushina yang sedang mencengkeram erat ujung baju terusan miliknya. Sahabatnya itu tampak sedang menahan tubuhnya dengan berpegangan erat pada sofa yang ada di sana. Rintihan sakit bertambah sering terdengar, lolos dari bibir Kushina yang mati-matian digigit-menahan rintihan sakitnya. Wajahnya tampak pucat dan kesakitan, bahkan bisa terlihat dengan jelas kalau wanita itu menangis. Peluh tampak membanjiri wajah cantiknya. Mikoto dapat melihat sedikit air di beberapa bagian lantai dan juga baju Kushina.

Celaka! Air ketubannya sudah pecah!

''Mi—mikoto. A—aku—'' Kushina berusaha menahan tangisnya.

''J-jangan banyak bicara. Sekarang kau tenanglah, dan atur napasmu. Aku akan segera memanggil bantuan, mengerti?'' Mikoto berkata dengan nada setengah panik.

Kushina hanya mengangguk lemah sembari menahan sakit yang terus mendera tubuhnya. Setelahnya Mikoto segera keluar rumah mencari bantuan dari beberapa anggota klan Uchiha yang lewat.

.

.

.

''Minato-senseeeiii!''

Minato Namikaze mengehentikan kegiatannya sejenak. Ia berani bersumpah kalau tadi baru saja ada yang memanggilnya.

BRAKKKKK!

Pintu kantornya dibuka—didobrak— dengan keras. Ia hanya bisa menautkan kedua alisnya.

Tampaklah ketiga muridnya yang masuk ke dalam kantornya dengan napas terengah-engah.

''Hei, berapa kali sudah kubilang, ketuk dulu sebelum mas—' ' Ucapannya terpotong begitu saja.

''K—Kushina-sensei ada di rumah sakit sekarang!'' Obito berteriak kencang.

Seketika itu juga Minato bangkit berdiri dari duduknya. Ia menatap horror ketiga muridnya.

''Jangan bercan—''

''Kami tidak bercanda! Obito sendiri yang mengantarnya! Mikoto baa-chan berteriak meminta bantuan tadi!'' Rin berkata kesal. Bagaimana mungkin sensei nya ini bisa mengatai dirinya dan rekan-rekannya bercanda di tengah situasi genting seperti ini?!.

''A—apa yang terjadi padanya?'' Minato bertanya panik.

Kakashi mendengus, memikirkan senseinya yang jadi lambat berpikir dalam situasi seperti ini.

''Tentu saja—''

''MELAHIRKAN!'' Teriak ketiganya bersamaan.

Saat itu juga, Minato sudah lenyap dari tempatnya.

To Be Continued

Maaf, saya minta maaf karena updatenya lama. m-_-m

Saya harap, readers sekalian masih sabar yaa.

Sesuai apa yang diminta, ceritanya saya buat TBC.

Saya mau tanya lagi, sebaiknya fic ini diteruskan sampai gimana?.

Naruto lahir?. Atau Naruto besar?. Atau bagaimana?. Tolong sarannya ya? :*.

Oke, cukup sekian dulu dari sayanya. Maaf kalau chapter kali ini kurang memuaskan ^^Y

Saya belum bisa update cepet-cepet, ini saja diketik waktu istirahat sekolah T^T

Oh, satu lagi. Mungkin chapter-chapter berikutnya quotes tidak akan selalu muncul. Saya lagi kesulitan untuk menyambungkan quotes yang ada dengan cerita yang akan dibuat. Gapapa kan? Maaf kalau nggak sesuai harapan, tapi nanti saya usahakan keluar sesekali, maklum, masih labil, hoho ^.^] #plak

Terima kasih untuk reviewnya,semangatnya, kritik dan sarannya, favoritenya, dan juga follownya.

Seriously, I love you all! Muach! #tebar flying kiss #readers kabur

Oke, terima kasih untuk semuanya.

Dan jangan lupa,

Review nya ya…

Flame juga boleh kok..,

Arigatou ^^

29 Oktober 2013

NadyaA