Wanita
5
Disclaimer ©Masashi Kishimoto
Story©NadyaA
Rated: T (?)
Genre: Nggak tau -''
Warning: Alur berantakan, Alur (super) kecepetan, Nggak nyambung, OOC, Garing -,- ,Misstypo(s), Dan banyak kesalahan lainnya ! ^^
Special Thanks To:
Namikaze Akane, U. Icha-chan, Chen, Pertiwivivi2, Shin Ayumi, Amanda WaCha-chan, Kagamine MiCha, MinaKushiLovers, Uzumaki Dobe-chan, AnnisaIP, Ymd, Moku-chan, Nitya-chan, aiko, Sera Uchiha
Terima kasih untuk review dan semangatnya!
Cerita ini kupersembahkan untuk para pereview dan pembaca lainnya.
DLDR! and RnR?
Happy Reading Minna!
Arigatou ~(^,^)~
''U-waa! I-ittai~''
Kushina menggenggam erat apapun yang bisa digenggamnya. Sakit yang terus mendera menjalar sampai ke ubun-ubun. Ia bahkan tak tahu apakah ia bisa bertahan atau tidak. Peluh terus menetes, semakin deras. Tubuhnya bergetar hebat, saat ini yang bisa ia lakukan hanya menggigit bibir bawahnya keras-keras. Menangis? Entahlah, yang bisa ia rasakan saat ini hanya satu.
Sakit yang sangat.
Biwako dan Taji- dua orang yang membantu persalinan Kushina- kini sedang sibuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan. Taji menyiapkan peralatan dan hal lainnya, sementara Biwako sudah bersiap pada posisi di depan kedua kaki Kushina.
''Bersabarlah, Kushina,'' Biwako bergumam. Istri dari hokage ketiga itu berkonsentrasi penuh pada daerah persalinan. Ia mengamati baik-baik saluran melahirkan (?) yang nanti akan menjadi jalan keluar bayi pasangan Minato-Kushina itu.
''Uuukhh,'' Kushina kembali mengerang. Ia merasakan kontraksi yang tak kunjung henti datang menghampiri. Ia memejamkan matanya kuat-kuat, mencoba menetralisir sakit yang dirasakan olehnya.
''M-minato.., mana Minato?'' Kushina bergumam antara hidup dan mati. Rasanya ia tak kuat lagi menahan derita ini. Ia bisa merasakan kalau tubuhnya sekarang sudah seperti orang yang mandi keringat. Rasanya syaraf-syaraf pada tubuhnya putus secara bersamaan.
Biwako tak menggubris pertanyaan Kushina. Kedua tangannya sudah bersiap menangani. Taji juga sudah selesai menyiapkan kebutuhan yang diperlukan. Biwako menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri.
''Baiklah, Kushina. Sekarang atur napasmu, lalu dorong. Semakin cepat semakin baik,'' Ujarnya.
Kushina mengangguk lemah. Dicengkramnya pegangan kayu di sebelahnya. Ia menghirup napas dalam-dalam, mecoba mengatur napasnya, lalu mulai mendorong bayinya keluar sekuat tenaga.
''Uu-uunghh~, ukh.., hngg!. Hah..hah..,''
''Bagus, Kushina. Terus lakukan itu,mengerti?'' Biwako member pengarahan.
''Uuuukhhh!''
''Terus, dorong Kushina!''
''A—aku tidak bisa!'' Kushina nyaris putus asa ketika merasa sakit yang semakin menderanya.
''Uuwaaah!''
''Berjuanglah! Kau pasti bisa!'' Keringat tampak menetes di wajah Biwako.
''A—aku, Ungghhh! Ugh!''
''Sedikit lagi! Ujung kepalanya sudah mulai kelihatan!''
''U—uhh~''
''I-ittai-ttebane! UUUkhhk!'' Kushina semakin mencengkeram pegangannya kuat-kuat.
''Uwah!''
''Mi—mina—Ukh!''
''Hei, biarkan aku masuk!''
Kushina menaikkan sebelah alisnya. Suara gaduh terdengar dari luar ruangannya. Sayup-sayup teriakan terdengar nyaring.
''Kau tidak boleh masuk Durian! Persalinan Kushina sudah sampai tengah-tengah. Kau akan mengganggu kalau masuk di saat seperti ini!'' Terdengar suara Mikoto.
''Dia istriku! Aku berhak menemaninya!''
Setelahnya pintu terbuka dengan keras dan Minato berlari ke arahnya.
''M-Minato! Unghhh!'' Kushina menutup sebelah matanya. Ia berani bersumpah kalau rasa sakit yang mendera semakin bertambah.
Tak menghiraukan keberadaan makhluk kuning yang tiba-tiba masuk, Biwako tetap memberi instruksi kepada Kushina.
''Ayolah, kepalanya sudah kelihatan. Ganbatte Kushina!''
''Ganbatte Kushina-san!'' Taji ikut menyemangati.
''U-uukkkH! Uwaaakhh!'' Kushina kembali mendorong. Ia mencengkeram erat tangan milik suaminya yang sekarang sedang berdiri di sebelahnya. Ia bisa merasakan aliran energi yang jadi penyemangatnya. Tangan suaminya itu mengusap kepalanya perlahan. Lalu berbisik lembut.
''Aku tahu kau pasti bisa, hime..,''
Setelahnya Kushina mendapat keyakinan. Ada Minato di sampingnya, maka ada penopang untuknya. Ia kembali membulatkan tekad. Air matanya mengalir deras. Wajahnya sudah basah dengan keringat dan tubuhnya masih bergetar hebat. Digenggamnya semakin erat tangan Minato.
''U-UUkkhhh!''
Minato menatap khawatir ke arah istrinya. Ia tak pernah melihat Kushina sampai sebegitu kesakitannya.
''A-ano, Biwako-san, apa Kushina baik-baik saja?'' tanyanya ragu.
''Wanita itu kuat! Dia akan baik-baik saja,''
''Tapi..,''
''Diam dan perhatika saja istrimu! Laki-laki pasti pingsan kalau merasakan sakit seperti ini, tapi perempuan tahan!'' Biwako berteriak kesal.
Minato kembali memusatkan perhatiannya kepada Kushina. Dilihatnya sang istri yang sedang berjuang keras melahirkan buah hatinya.
''Naruto, cepatlah lahir! Kushina, bertahanlah!'' Minato menyemangati.
''Uuukh! Uuuuuh! Uwaaah!''
''Sudah terlihat! Sedikit lagi, Kushina!'' Biwako tetap berkonsentrasi.
Sedikit lagi? Dari tadi sedikit lagi tapi tak selesai-selesai-ttebane!
''Berjuanglah!'' Taji kembali menyemangati.
''UUUHHH! UWAAAAAKHHHHH!'' Kushina berteriak kencang. Air matanya semakin menderas. Rambut merahnya sudah kusut, berantakan.
''Ahk! A—akukhhh, I—ittai! Unggghh!'' Minato mencoba menenangkan Kushina.
''Dengarakan aku, dorong sekuat tenaga agar ini cepat berakhir, Kushina,'' Minato mencoba member instruksi dengan lembut di telinga Kushina.
Minato menarik napas dalam-dalam, digenggamnya erat tangan Minato, yang digenggam balik oleh Minato.
''Mi—Mina—Uwaaakh! Ahk! UUkkhhh~~~'' Air mata kesakitan kembali menderas membasahi pipi Kushina. Wanita berambut merah itu menarik napas sedalm-dalam nya, lalu mendorong kuat-kuat.
''UUnngghhhhh!''
''AAAAAAKKHHH!''
''Oeeeee! Oeeee!''
''Taji! Air hangat!''
''Ha'i!''
Suara tangisan bayi terdengar. Menggema ke seluruh ruangan. Minato tempak terdiam, matanya membulat tak percaya.
''Sudah lahir..,'' Gumamnya pelan.
''Aku sudah menjadi ayah!'' Minato berujar senang. Air mata kebahagiaan tampak mengalir dari kedua mata sebiru lautan miliknya.
Tampaklah Kushina yang sedang berusaha mengatur napasnya. Air mata masih mengalir meski tak sederas tadi. Cengkeramannya pada Minato perlahan mengendur. Wanita itu menggerakkan kepalanya perlahan pada sudut ruangan, Biwako sedang menggendong sesosok bayi mungil dengan Taji di belakangnya. Senyum kebahagiaan terpancar di wajah perempuan paruh baya itu.
''Lihatlah! Bayi laki-laki yang sehat! Betapa lucunya dia~'' Biwako bergumam riang. Ia melangkah pelan melewati Minato.
''Naruto~'' Minato bergumam, ia menggerakkan tangannya untuk mengusap putra pertamanya yang baru lahir. Tapi tangannya tak sampai, ditepis duluan oleh Biwako.
''Jangan disentuh! Ibunya harus melihat dulu!'' Biwako berkata ketus. Setelahnya ia berjalan meninggalkan Minato yang sedang melongo, cemberut, begitu saja.
''Ini, Kushina,'' Biwako meletakkan Naruto di sebelah Kushina. Wanita yang sekarang sudah menjadi ibu itu menatap Naruto dengan bahagia.
''Naruto.., akhirnya kita bisa bertemu,'' Diusapnya perlahan surai kuning milik Naruto.
Biwako kembali membawa Naruto dalam gendongannya. Lalu berjalan keluar ruang persalinan, mengurus Naruto ke tahap yang lebih lanjut.
''Kalian akan punya banyak waktu nanti,'' Biwako tersenyum, lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Merupakan kebahagiaan besar bagi Minato dan Kushina ketika mendapati anak pertama mereka lahir dengan selamat. Minato bersyukur bisa membangun keluarga kecil yang hangat. Anak dan istrinya selamat. Ia tahu dan bahagia untuk sekadar mengetahuinya.
Melupakan rasa kesal yang sempat datang menghampiri dirinya tadi, Minato berjalan mendekati istrinya. Kushina tampak kacau, tetapi pancar kebahagiaan tidak bisa disembunyikan. Tangis istrinya itu sudah mereda, meskipun napasnya masih agak tersengal. Minato tersenyum lembut.
''Apakah kau baik-baik saja, Kushina?'' Minato bertanya penuh perhatian.
''Hm..,'' Kushina bergumam pelan, memejamkan matanya.
Iris violetnya kembali tampak ketika dirasanya sesuatu yang hangat tengah mengecup dahinya. Didapatinya sosok sang suami yang tengah mengecupnya, memejamkan matanya.
''Arigatou. Hontou ni arigatou, Kushina,'' Minato tersenyum lebar.
''Minato..,'' Kushina bergumam pelan.
Minato tersenyum samar, lalu mendekatkan wajahnya pada Kushina. Sembari membelai lembut rambut merah istrinya. Kushina memejamkan matanya. Ia bisa merasakan hembusan napas hangat Minato yang menerpa wajahnya. Ia tidak menolak. Semua normal, wajah keduanya semakin mendekat. Minato membabat jarak yang memisahkan ia dan Kushina. Keduanya tersenyum. Inilah wujud kebahagiaan mereka. Mendekat dan semakin mendekat—
2 cm
1cm
0.5 cm
0.05 cm
0.005 cm
0.0005 cm
0.25 cm
Dan—
''Dunia serasa milik berdua~''
Keduanya membuka mata secara serentak. Untuk beberapa saat mereka terpaku. Membeku dalam posisi yang tidak berubah. Refleks keduanya kembali bekerja tatkala sesosok—bukan, dua sosok—bukan, tiga, eh.., empat, lima, enam, tujuh, dela—EH?!. Kushina cepat-cepat mendorong bahu suaminya menjauh, ia cepat-cepat memasang senyum manis untuk menutupi rasa gugupnya. Sementara Minato memasang wajah kalem, berdiri tenang di sebelah istrinya.
Saat itulah keduanya menyadari kebodohan. Mereka bermesraan di dalam ruangan rumah sakit. Romantis dan bersikap tidak biasa di depan seluruh teman dan kolega, beserta bocah-bocah kecil yang masih di bawah umur. Serta Hokage ketiga dan seorang sannin mesum berdiri di antaranya.
Dengan pintu yang samasekali TIDAK tertutup semenjak Biwako meninggalkan ruangan.
Minato bersumpah akan menendang wanita tua itu kalau saja dirinya tidak ingat bahwa ia adalah seorang hokage, panutan dan contoh bagi warga Konoha.
Minato menghela napas perlahan. ''Apa-apaan ini?!''
Jiraiya tersenyum (mesum) . ''Tak usah berpura-pura, Minato,''
''Lanjutkan sajalah, iya kan, Kushina?''. Pria berambut putih panjang jabrik itu hanya cengengesan ketika mendapat deathglare terbaik dari Kushina.
''Hokage-sama, anda telah melakukan hal yang melanggar hukum,'' Mikoto berkata jahil. Ia memasuki ruangan, diikoti rombongan warga dan kolega di belakangnya.
''Bagaimana rasanya, Kushina?'' Mikoto bertanya sembari meletakkan sekeranjang buah-buahan di meja kecil dekat tempat Kushina berbaring.
''Buruk,'' Kushina mendengus. ''Apalagi dengan kedatangan durian kuning yang masuk mendobrak begitu saja,'' Kushina berkata setengah menyindir. Minato tertawa mendengarnya.
''Baiklah, baiklah. Yang jelas, aku sudah melarangnya tadi,'' Mikoto mengerling.
Fugaku yang sedari tadi hanya berdiri diam mematung memilih berjalan mendekati Minato, sahabat kuningnya.
''Selamat,'' Ucapnya datar.
Minato meringis. ''Arigatou,'' ia membalas.
Setelahnya ruangan itu dipenuhi orang yang silih berganti datang menghampiri sang hokage muda yang katanya paling tampan dan jenius. Ada yang sekedar memberi ucapan selamat, member do'a dan hadiah selamat, modus menjabat tangan hokage-Kushina sempat merasa panas melihatnya, modus mengerling nakal kepada Minato—Kushina bertambah panas, modus merangkul Minato—Kushina sudah mendidih, modus memeluk Minato—Kushina sudah menggeram, sampai ada yang berani datang untuk menggoda Minato-kali ini Kushina memberi 'hadiah' untuk yang melakukannya.
''Akhirnya…,'' Kushina mengusap peluh yang menetes dari keningnya. Sungguh, ia merasa gerah. Bayangkan saja, sebuah ruangan di rumah sakit, baru saja melahirkan, dan setelahnya ruang yang nyaman dan tenang itu secara bergilir dipenuhi puluhan—atau bahkan ratusan— orang yang datang menyambangi. Ditambah dengan kelakuan mereka yang modus menggoda suamimu. Demi apa?.
Demi ramen.
Demi duren.
Demi seringai aneh Jiraiya,
Demi dango.
Dan demi wajah tampan Gamabunta.
Menyebalkan. Menyesakkan. Dan Membuat hatimu panas!.
Hatinya kembali damai tatkala sesosok bocah laki-laki berwajah imut datang menghampiri. Bocah itu menarik ujung baju Mikoto keras, membuat sang ibu hanya geleng-geleng kepala.
''Ada apa, Itachi?'' Mikoto mensejajarkan, merunduk, menyesuaikan tingginya dengan sang anak.
Itachi kecil menatap Mikoto dengan pandangan penuh harap. ''Kaa-san, mana adiknya?'' tanyanya polos.
Mikoto menaikkan sebelah alisnya, menolehkan kepalanya ke arah Kushina. Wanita berambut merah itu tertawa pelan melihat tingkah polos anak sulung sahabatnya itu.''Naruto-kun sedang dirawat, sebentar lagi dia akan dibawa ke sini,'' Kushina menjelaskan.
Itachi mengangguk perlahan. Dan benar saja, Naruto benar-benar dibawa masuk ke dalam kamar Kushina. Bayi kecil dengan surai kuning yang masih tipis itu tampak menggeliat nyaman ketika sampai di pelukan Kushina. Bibir mungilnya tampak menggumam dan pipi tembam dengan tiga garis tipis melintang miliknya tampak bergerak pelan. Matanya perlahan terbuka, dan tampaklah iris sebiru laut di baliknya. Benar-benar imitasi dari Minato.
Kushina tersenyum lembut ketika jari telunjuknya digenggam erat oleh jari-jari mungil yang terasa hangat baginya. Disentuhnya perlahan pipi tembam Naruto, lalu dikecupnya lembut dahi sang bayi yang masih sedikit berkerut.
''Selamat datang di keluarga kami, pangeran kecilku,'' Kushina bergumam pelan.
Itachi yang melihatnya langsung naik ke kursi di sebelah ranjang Kushina dengan antusias. Mata onyx nya menatap dengan lebar, berbinar-binar. Ia tersenyum lebar sembari memperhatikan 'teman Sasuke' yang selalu ia nantikan.
''Boleh kusentuh?'' Itachi bertanya penuh harap.
Kushina meringis melihatnya, ditepuknya perlahan kepala Itachi. ''Tentu saja boleh,''
Itachi tersenyum senang. Perlahan, didekatkannya jari telunjuk mungilnya kepada sang bayi. Dengan tampang serius, bocah jenius itu menyentuhkan jarinya ke hidung mungil Naruto. Naruto tampak menggeliat kecil, lalu menutup kedua matanya lagi. Itachi tertawa pelan.
''Lucu,'' Ia bergumam dengan suara khas anak-anak.
Setelahnya ia menurunkan tubuhnya kembali ke posisi semula, ia menatap ibunya lalu berganti ke ayahnya. Mikoto yang merasa diperhatikan oleh anak sulungnya menatap balik dengan penuh kebingungan.
''Ada apa, Itachi?''
Itachi menatap ibunya. Lalu berganti ke Naruto.
''Kaa-san suka Naruto, kan?''
Mikoto kebingungan dengan perkataan anaknya. Tetapi ia lebih memilih untuk mejawab pertanyaan anaknya dengan jujur saja.
''Iya, kaa-san suka anak yang lucu seperti Itachi, Sasuke, dan Naruto,''Mikoto menjawab sembari tersenyum lembut. Ia mengusap pelan pipi Naruto yang sedang berada dalam pelukan Kushina.
''Kalau begitu…,'' Itachi berkata dengan tampang serius yang kelewat imut.
Mikoto dan Kushina hanya memperhatikan Itachi. Menunggu kelanjutan kalimat dari bocah Uchiha itu.
''Buat lagi saja, kaa-san! Itachi nggak akan mengganggu kok! Aku berjanji akan tidur semalaman seperti apa yang dikatakan tou-san!'' Ujar Itachi bersemangat.
Mikoto menatap horror ke arah suaminya. Ia tak habis pikir suaminya itu memberi 'peraturan' untuk hal yang tidak seharusnya bagi Itachi.
''Ehmm, kurasa pembicaraan ini mulai Itachi sudah mulai mengantuk. Gomen ne. Kushina. Sepertinya aku harus pulang sekarang, lagipula kasihan Sasuke, dia kutitipkan di rumah kaa-san,''Mikoto memaksakan seulas senyum. Sekaligus mengalihkan perhatian, dan menghindar dari topik pembicaraan yang 'membahayakan' itu.
Mendengarnya Kushina hanya mengangguk,''Daijoubu, Mikoto, hati-hati di jalan, maaf sudah merepotaknmu hari ini,'' Kushina melambaikan tangannya kepada Mikoto yang sudah mulai melangkah, diikuti oleh suaminya.
''Jaa ne!'' Mikoto tersenyum manis, lalu menggandeng Itachi yang masih kebingungan karena penyataannya untuk pulang.
Di ambang pintu, Minato menjabat tangan Fugaku sembari berbisik.
''Aku mengandalkanmu dalam misi khusus ini, kawan Uchiha..,'' Minato menepuk bahu Fugaku perlahan.
Suami dari Mikoto Uchiha itu menyeringai kejam.
''Hn,'' Setelahnya ia berjalan mengikuti langkah sang istri dan buah hatinya yang makin menjauh.
Minato tersenyum puas,ia menutup pintu, lalu berjalan mendekati anak dan istrinya.
Hokage keempat itu mengecup lembut puncak kepala istrinya, merengkuhnya, lalu mengusap kepala anaknya perlahan.
''Selamat datang di dunia kecil kita, anakku. Kau akan hidup bahagia bersama kaa-san dan tou-san,'' Minato berkata dengan lembut. Seulas senyum terpatri di wajahnya, bersama sang istri, ia akan memulai kehidupan baru sebagai keluarga kecil yang beberapa saat lalu mendapat satu anggota baru.
Sebagai keluarga kecil yang hangat
To Be Continued
Omake~
Mikoto yang sedang menggendong Sasuke yang tertidur, berjalan pelan menuju rumahnya merasakan aura berbahaya dari belakangnya. Ia dapat merasakan gelagat aneh dari suami yang sedang menggendong anak sulungnya yang telah tertidur pulas itu. Hari ini suaminya itu lebih sering menyeringai dan menatap sadis ke arahnya.
Kami-sama, apakah aku berbuat kesalahan?
Mikoto mendesah pasrah ketika ia sampai di rumahnya. Wanita berambut hitam sepunggung itu meletakkan kedua anaknya yang tengah tertidur pulas ke kamarnya masing-masing. Ia terkejut ketika mendapati suaminya tengah duduk di ruang tengah yang baru saja selesai dibersihkan oleh pembantu yang tadi dipanggil. Fugaku tampak duduk tenang sembari menatapnya dengan seringai Uchiha terpampang jelas menantang di wajahnya. Laki-laki yang masih mengenakan seragam Jounin dengan lambang pasukan keamanan khusus Konoha di lengan kanan itu tampak berjalan mendekat ke arahnya.
Mikoto bergerak mundur. Ia bisa merasakan aura intimidasi yang kuat dari suaminya. Fugaku tampak berjalan tenang, mendekati Mikoto yang terus berjalan mundur menjauhi dirinya.
''A—ada apa, Fugaku-kun?'' Mikoto bertanya dengan gugup.
BRUK!
Langkahnya terhenti ketika dirasanya punggung miliknya menabrak dinding di belakangnya.
Mati aku! . Mikoto berteriak panik di dalam hati.
Fugaku berhenti beberapa cm di depannya. Suaminya itu tampak memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
''Aku di beri misi,'' Ujarnya datar.
Mikoto yang mengira suaminya marah karena ia berbuat kesalahan kembali bernapas lega. Ia merenggangkan kepalan tangannya dan mulai bergerak mendekati suaminya.
''Berapa hari? Apakah akan lama?''
Mendengar pertanyaan istrinya membuat Fugaku tersenyum samar.
''Tidak, hanya satu hari,'' jawabnya singkat.
Mikoto kembali bertanya. ''Apakah misi yang berbahaya?''.
Fugaku menyeringai. ''Misi khusus yang sepertinya menarik untuk dilakukan,'' ujarnya santai.
Mikoto meneguk ludahnya ketika seringai tampan kembali terlukis di wajah suaminya. Ia mengurungkan niatnya untuk melangkahkan kakinya maju. Wanita itu kembali mengubah haluan langkahnya. Ia kembali mundur dan betapa menyesalnya dirinya ketika melakukan kesalahan yang sama lagi.
BRUK!
Punggungnya menabrak dinding yang tadi sempat ditabraknya. Suaminya itu kembali mendekatkan diri.
''S—sebenarnya, misi macam apa yang kau terima?'' Mikoto mulai panik.
''Ini misi khusus dalam jangka waktu satu hari satu malam yang ditawarkan padaku minggu lalu.''
Oh tidak! Apakah misi ini…, Mikoto mulai waspada.
''Ini misi langsung dari Yondaime Hokage Durian-sama untuk menghukum orang yang telah melanggar perjanjian dengannya. Dan aku, dengan senang hati menerima dan akan melakukannya,'' Fugaku menyeringai, kakinya tetap melangkah perlahan mendekati Mikoto.
Mikoto merinding ketika Fugaku berbisik sadis di telinganya. ''Sebagai awalan, bagaimana kalau kau kulatih siang ini untuk menerima hukumanmu nanti? Hm?''. Mikoto meneguk ludahnya susah payah.
Durian sialan!. Ini namanya penyalahgunaan kekuasaan!. Aku bersumpah akan—
Pemikiran Mikoto terputus begitu saja ketika ia merasa kakinya tak lagi memijak tanah. Ia menatap horror pada Fugaku yang dengan santai menggendongnya bridal style.
''Fugaku-kun! A—apa yang kau lakuk—HUWAAAAAAAA!''
Fugaku tersenyum miring. Dengan santai ia melompat dengan cepat, begitu saja meninggalkan ruang tengah.
''Kau akan menyukai hukumanmu,''
''KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!''
OMAKE OWARI~
Minna, ini sudah cukup kilatkah updatenya? Gomen kalau kurang memuaskan!
Marilah kita berdo'a untuk keselamatan Mikoto Uchiha… 3:D
Saya ingin menebus kesalahan saya yang selalu update lama, jadi mumpung ada waktu, saya tulis fic ini di hari Minggu. :D
Anggap saja sebagai hadiah awal bulan :P
Scene melahirkannya nggak bener dan gaje? Terkesan cepat? Saya juga mengakuinya. Yah, maafkan saya, namanya juga saya. Nggak tau orang melahirkan itu gimana. Jadi ya begitulah, nulisnya setengah asal, hoho! *ditendang.
Maaf kalau di chap ini semua tambah OOC, maaaaffff banget!
Kalau ada kesalahan atau kekurangan, segera kasih tau yaaa?
Kalau ada pertanyaan, pernyataan, atau yang lainnya baik tentang saya ataupun fic ini atau yang lainnya, PM saja yah.., saya usahakan balas kok, paling kalau belum sempat juga dibalas 1 bulan kemudian, hehe #Plak!
Oke, ini balasan review buat yang nggak log in, maaf baru sekarang nulisnya, baru kepikiran sih.. ^^Y
Buat yang log in, saya usahakan balas lewat PM
Okay, here we go..
~Chapter 1
U. Icha-Chan: Uhmm, arigatou atas dukungan dan semangatnya! Makasih juga buat mirai ochanya yap! Nama account Icha-chan apa? Kepo neh, jadinya. Oke, ini dilanjut! :D
~Chapter 2
Chen: Nyahahaha*ketawa jahat. Ide yang bagus tuh, Minato dapat hajaran sayang tiap hari, biar makin langgeng XD Oke, ini udah di TBC in, makasih banyak buat sarannya!
U. Icha-chan: hehe, Arigatou! Semoga tetap suka ya~
~Chapter 4 (harusnya 3 XD)
MinaKushiLovers: iyaaa makasihh, eh? Ceritanya so sweet? Masa sih? :D Ini udah TBC kok
Chen: Begitukah? Syukurlah kalau Chen bisa ngerti :D Siap kapten!
~Chapter 5 (Harusnya 4 -_-)
Ymd: Sampai Naruto besar? Diusahain deh, doakan saja nggak males haha! #plak!. Update kilat? Umm, nggak janji ya…, tapi selalu diusahakan kok! Arigatou ^^Y
Aiko: Oke deh, terima kasih semangat dan motivasinya. Saya gak akan bosen update kok! Selama ad ide, bakal di update!
Okeh, segitu dulu yah!
Terima kasih buat para pereview! Love you all! :D
Reviewnya selalu ditunggu ya~
Kalau flame sih, nggak di tunggu. Tapi boleh aja kok kalau mau XD
Arigatou gozaimashu!
3 November 2013,
NadyaA
